Anda di halaman 1dari 14

Makalah Metodologi Penelitian

MUHAJIRIN
171050801018
KELAS 02

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penelitian pada hakekatnya dilakukan untuk pemecahan masalah. Artinya
pemecahan masalah menjadi referensi dasar dari suatu penelitian, apakah itu
penelitian dasar, penelitian terapan atau jenis penelitian yang lain. Penelitian
terapan mempunyai penekanan pada penyelesaian persoalan secara praktis.
Penelitian dasar juga bersifat penyelesaian, tetapi dalam pengertian yang berbeda.
Penelitian dasar menjawab persoalan-persoalan yang membingungkan yang
bersifat teoritis. Menurut Mantra (2004), ini pula alasannya mengapa dalam
usulan penelitian atau laporan hasil penelitian selalu didahului oleh pernyataan
mengenai latar belakang masalah.
Masalah penelitian berbeda dengan masalah-masalah lainnya. Tidak semua
masalah kehidupan dapat menjadi masalah penelitian. Masalah penelitian terjadi
jika ada kesenjangan (gap) antara yang seharusnya dengan kenyataan yang ada,
antara apa yang diperlukan dengan yang tersedia antara harapan dan kenyataan,
kelangkaan cara-cara untuk mengatasi suatu kejadian, atau ketiadaan informasi
yang sangat diperlukan untuk mengambil suatu keputusan.
Penelitian selalu dimulai dengan mengidentifikasi masalah yang hendak
diteliti. Masalah ini biasanya didahului dengan pertanyaan reflektif tentang isu-isu
yang sedang hangat dan kontroversial dan menuntut adanya jawaban atau
pemecahannya. Ada beberapa pertanyaan pemandu seperti: mengapa masalah
tersebut penting dijadikan sasaran penelitian? Bagaimanakah keadaan sosial di
sekitar peristiwa, fakta, gejala, yang hendak diteliti? Proses apa yang sebenarnya
sedang terjadi disekitar peristiwa tersebut? Perubahan atau perkembangan apa
yang sedang berlangsung pada waktu itu? Apa nilai tambah dari penelitian ini
dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya? Apa kontribusi penelitian
ini terhadap kondisi masyarakat sekarang ini dan di masa depan? Pertanyaan-
pertanyaan pemandu diatas diikuti pula dengan pertanyaan refleksif. Peneliti harus
terlibat secara langsung dan mengikuti prosesnya terus menerus. Peneliti harus
menjamin mendapatkan suatu pengetahuan atau teori baru dari masalah tersebut.
Justifikasi atas pentingnya masalah yang hendak diteliti biasanya
dilakukan dengan mengutip peneliti-peneliti lain dan para ahli seperti yang
terdapat dalam tinjauan pustaka atau penelitian sebelumnya. Lebih khusus lagi
peneliti harus mampu mengungkapkan kesenjangan antara apa yang ditulis oleh
para ahli dengan apa yang nyata, sehingga perlu penelitian lanjut yang lebih
mendalam. Justifikasi itu juga dapat bersumber dari pengalaman orang lain yang
dialami di lingkungan kerja. Masalah yang bersumber dari pengalaman pribadi
dapat pula dijadikan dasar untuk penelitian. Sumber lain juga berasal dari isu
hangat dalam masyarakat yang dimuat dalam media, baik media cetak atau media
elektronik. Bisa juga masalah lama yang hingga kini belum ada jawabannya.
Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Kalau masalah itu merupakan
kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, maka rumusan masalah
itu merupakan suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui
pengumpulan data. Namun demikian terdapat kaitan erat antara masalah dan
rumusan masalah, karena setiap rumusan masalah penelitian harus didasarkan
pada masalah. Seperti yang telah dikemukakan, rumusan masalah itu merupakan
suatu pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data.
Bentuk-bentuk rumusan masalah ini dikembangkan berdasarkan penelitian
menurut tingkat eksplanasi. Rumusan masalah terdiri atas rumusan masalah
deskriptif, rumusan rasalah komparatif, dan rumusan masalah asosiatif.

B. Rumusan Masalah
Dengan mengacu pada latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
makalah ini adalah sebagai berikut.
1. Apakah yang dimaksud masalah penelitian?
2. Bagaimanakah identifikasi masalah penelitian?
3. Bagaimanakah ciri-ciri masalah yang baik?
4. Bagaimanakah sumber masalah?
5. Bagaimanakah tips merumuskan masalah yang baik?
6. Bagaimanakah macam-macam bentuk pernyataan permasalahan?
7. Bagaimanakah bentuk-bentuk rumusan masalah?
C. Tujuan
Bertolak dari rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui pengertian masalah penelitian.
2. Untuk mengetahui identifikasi masalah penelitian.
3. Untuk mengetahui ciri-ciri masalah yang baik
4. Untuk mengetahui sumber masalah.
5. Untuk mengetahui tips merumuskan masalah yang baik.
6. Untuk mengetahui macam-macam bentuk pernyataan permasalahan.
7. Untuk mengetahui bentuk-bentuk rumusan masalah.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Masalah Penelitian


Ada beberapa pengertian masalah penelitian diantaranya sebagai berikut :
1). Masalah penelitian secara umum (Notoadmojo) :
Suatu kesenjangan (gap) antara apa yang seharusnya dengan apa yang
terjadi tentang suatu hal, atau antara kenyataan yang ada atau terjadi dengan yang
seharusnya ada atau terjadi serta harapan dan kenyataan.
2). Masalah penelitian menurut para ahli:
 Menurut Sukardi: adalah kesulitan yang dirasakan oleh orang awam
maupun para peneliti; permasalahan dapat juga diartikan sebagai sesuatu
yang menghalangi tercapainya tujuan
 Menurut Punaji setyosari : suatu masalah didefinisikan sebagai keadaan
atau kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Masalah sebagai gap
antara kebutuhan yangdiinginkan dan kebutuhan yang ada.
· Definisi masalah penelitian adalah suatu kondisi dimana terjadinya
kesenjangan antara yang diharapkan dengan fakta yang terjadi di lapangan.

B. Identifikasi Masalah Penelitian


Penelitian dianggap penting dan dapat dilakukan jika terdapat permasalahan
penelitian. Masalah diartikan sebagai suatu situasi dimana suatu fakta yang terjadi
sudah menyimpang dari batas-batas toleransi yang diharapkan. Masalah penelitian
juga dapat diartikan sebagai suatu persoalan atau kesenjangan yang mungkin
dapat menuntun peneliti untuk mencari jawaban atau solusinya. Adanya
kesenjangan tersebut menimbulkan pertanyaan lebih lanjut, yaitu mengapa
kesenjangan terjadi, dan dari pertanyaan inilah permasalahan penelitian dapat
dikembangkan. Pertanyaan selanjutnya ialah, apakah setiap kesenjangan d
apat dikembangkan menjadi permasalahan penelitian? Jawabannya ternyata tidak
semuanya. Ada kondisi-kondisi lain yang perlu dipenuhi. Dari uraian di atas dapat
dirangkum adanya suatu kondisi problematik tertentu, yang menandakan suatu
penelitian dapat dikembangkan, yaitu:
1. Adanya kesenjangan dari yang seharusnya (teori maupun fakta empirik
temuan penelitian terdahulu) dengan kenyataan sekarang yang dihadapi.
2. Dari kesenjangan tersebut dapat dikembangkan pertanyaan, mengapa
kesenjangan itu terjadi.
3. Pertanyaan tersebut memungkinkan untuk dijawab, dan jawabannya lebih
dari satu kemungkinan.
Identifikasi masalah perlu memperhatikan apakah masalah/fokus yang dipilih
cukup:
1. Esensial
Pentingnya nilai penelitian menduduki urutan paling utama diantara masalah-
masalah yang ada
2. Urgen
Masalah tersebut dianggap mendesak (urgen) untuk dipecahkan.
3. Bermanfaat
Memiliki kegunaan atau kebermanfaatan jika masalah penelitian
dipecahkan
C. Ciri-ciri Masalah yang Baik
1. Mempunyai nilai penelitian
a) Originalitas
b) Menyatakan hubungan antara dua variabel atau lebih
c) Merupakan hal yang penting
d) Dapat diuji
e) Dinyatakan dalam bentuk pertanyaan
2. Layak diteliti
a) Data dan metode tersedia
b) Alat tersedia
c) Biaya tersedia
d) Tidak bertentangan dengan hukum, adat, dan etika
3. Sesuai dengan kualifikasi si peneliti
a) Sesuai dengan kemampuan dan level ilmiah yang dimiliki si peneliti.
b) Menarik bagi si peneliti
D. Sumber Masalah
1. Pengamatan langsung
2. Bacaan
3. Pengetahuan yang sudah di miliki si peneliti
4. Perluasan penelitian sebelumnya
5. Pengalaman Pribadi
6. Kejadian-kejadian penting di masyarakat
7. Mata kuliah yang sedang diikuti
8. Diskusi, seminar, workshop, dll
9. Intuisi
E. Tips Merumuskan Masalah
1. Rumuskan masalah dalam bentuk pertanyaan
2. Rumuskan masalah secara tegas dan jelas
3. Rumusan masalah harus menunjukkan adanya data untuk memecahkan
masalah
4. Rumusan masalah merupakan dasar untuk membuat hipotesa
5. Rumusan masalah menunjukkan variabel-variabel yang akan ditelitin
6. Rumusan masalah tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit
F. Macam-macam Bentuk Pernyataan Permasalahan
Castette dan Heisler (1984, 11) menjelaskan bahwa secara keseluruhan ada 5
macam bentuk pernyataan permasalahan, yaitu:
1. bentuk satu pertanyaan (question);
2. bentuk satu pertanyaan umum disusul oleh beberapa pertanyaan yang
spesifik;
3. bentuk satu penyataan (statement) disusul oleh beberapa pertanyaan
(question).
4. bentuk hipotesis; dan
5. bentuk pernyataan umum disusul oleh beberapa hipotesis.
G. Bentuk-bentuk Rumusan Masalah
1. Rumusan Masalah Deskriptif
Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yang
berkenaan dengan pe rtanyaan terhadap keberadaan variabel mandiri, baik
hanya pada satu variabel atau lebih (variabel yang berdiri sendiri). Jadi dalam
satu penelitian ini peneliti tidak membuat perbandingan variabel itu pada
sampel yang lain, dan mencari hubungan variabel itu dengan variabel yang
lain. Penelitian semacam ini untuk selanjutnya dinamakan penelitian
deskriptif.
Contoh rumusan masalah penelitian deskriptif :
1) Seberapa baik kinerja Departemen Pendidikan Nasional ?
2) Bagaimanakah sikap masyarakat terhadap perguruan tinggi negeri
Berbadan Hukum ?
3) Seberapa tinggi efektivitas kebijakan Manajemen Berbasis Sekolah di
Indonesia ?
4) Seberapa tinggi tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan
pemerintah daeran di bidang pendidikan ?
5) Seberapa tinggi tingkat produktifitas dan keuntungan finansial Unit
Produksi pada sekolah-sekolah kejuruan ?
6) Seberapa tinggi minat baca dan lama belajar rata-rata perhari murid-
murid sekolah di Indonesia ?
Dari beberapa contoh diatas terlihat bahwa setiap pertanyaan penelitian
berkenaan dengan satu variabel atau lebih secara mandiri (bandingkan dengan
masalah komparatif dan asosiatif)
Peneliti yang bermaksud mengetahu kinerja Departemen Pendidikan
Nasional, sikap masyarakat terhadap perguruan tinggi berbadan hukum,
efektivitaas kebijakan MBS, tingkat produktifitas dan keuntungan finansial Unit
Produksi pada sekolah-sekolah kejuruan, minat baca dan lama belajar rata-rata per
hari murid-murid sekolah di Indonesia adalah contoh penelitian deskriptif.
2. Rumusan Masalah Komparatrif
Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah penelitian yang
membandingkan keberadaan satu variabel atau lebih pada dua atau lebih sampel
yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.contoh rumusan masalahnya adalah
sebagai berikut :
1) Adakah perbedaan prestasi belajar antara murid dari sekolah negeri swasta ?
(variabel penelitian adalah prestasi belajar pada dua sampel yaitu sekolah
negeri dan swasta)
2) Adakah perbedaan disiplin kerja guru antara sekolah di Kota dan di Desa ?
(satu variabel dua sampel)
3) Adakah perbedaan motivasi belajar dan hasil belajar antara murid yang
berasal dari keluarga guru, pegawai swasta dan pedagang ? (satu variabel tiga
sampel)
4) Adakah perbedaan daya tahan berdiri pelayan toko yang berasal dari sekolah
antara SD, SMP, dan SLTA ? (satu variabel untuk dua kelompok, pada tiga
sampel)
5) Adakah perbedaan daya tahan berdiri pelayan toko yang berasal dari Sekolah
Menengah Kejuruan dan Sekolah Menengah Atas ?
6) Adakah perbedaan produktifitas karya ilmiah antara Perguruan Tinggi Negeri
dan Swasta ? (satu variabel dua sampel)
3. Rumusan Masalah Asosiatif
Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yang
bersifat menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Terdapat tiga
bentuk hubungan yaitu hubungan simetris, hubungan kausal dan interaktif atau
resiprocal atau timbal balik.
a. Hubungan simetris
Hubungan simetris adalah suatu hubungan antara dua variabel atau lebih yang
kebetulan munculnya bersama. Jadi bukan hubungan kausal maupun
interaktif, contoh rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1) Adakah hubungan antara jumlah es yang terjual dengan jumlah kejahatan
terhadap murid sekolah ? (Variabel pertama adalah penjualan es dan kedua
adalah kejahatan) Hal ini berarti yang menyebabkan jumlah kejahatan
bukan karena es yag terjual. Mungkin logikanya adalah sebagai berikut
pada saat es banyak terjual itu pada musim liburan sekolah, pada saat
murid-murid banyak yang piknik ke tempat wisata. Karena banyak murid
yang piknuk maka disitu banyak kejahatan.
2) Adakah hubungan antara rumah yang dekat rek kereta api dengan jumlah
anak?
3) Adakah hubungan antara warna rambut dengan kemampuan memimpin
sekolah?
4) Adakah hubungan antara jumlah payunh yang terjual dengan jumlah murid
sekolah?
5) Adakah hubungan antara banyaknya radio di pedesaan dengan jumlah
penduduk yang sekolah?
Contoh judul penelitiannya adalah sebagai berikut :
1) Hubungan antara jumlah es yang terjual dengan jumlah kejahatan terhadap
murid sekolah
2) Hubungan antara rumah yang dekat rel kereta api dengan jumlah anak
3) Hubungan antara warna rambut dengan kemampuan memimpin sekolah
4) Hubungan antara banyaknya radio di pedesaan dengan jumlah penduduk
yang sekolah
b. Hubungan kausal
Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadi disini
ada variabel independen (variabel yang mempengaruhi) dan dependen
(dipengaruhi), contoh :
1) Adakah pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar anak ?
(pendidikan orang tua variabel dependen dan prestasi belajar variabel
independen)
2) Seberapa besar pengaruh kepemimpinan kepala SMK terhadap
kecepatan lulusan memperoleh pekerjaan ? (kepemimpinan variabel
independen dan kecepatan memperoleh pekerjaan variabel dependen)
3) Seberapa besar pengaruh tata ruang kelas terhadap efisiensi
pembelajaran di SMA ?
4) Seberapa besar pengaruh kurikulim, media pendidikan dan kualitas
guru terhadap kualitas SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah ?
(kurikulim, media dan kualitas guru sebagai variabel independen dan
kualitas SDM sebagai variabel dependen).
Contoh judul penelitiannya :
1) Pengaruh pendidikan orang tua terhadap prestasi belajar anak di SD
Kabupaten Alengkapura.
2) Pengaruh kepemimpinan kepala sekolah terhadap kecepatam lulusan
memperolah pekerjaan pada SMK di Provinsi Indrakila.
3) Pengaruh kurikulum, media pendidikan dan kualitas guru terhadap kualitas
SDM yang dihasilkan dari suatu sekolah.
c. Hubungan interaktif atau resiprocal atau timbal balik
Hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi. Di sini
tidak diketahui mana variabel independen dan dependen, contoh :
a) Hubungan antara motivasi dan prestasi belajar anak SD di Kecamatan A.
Disini dapat dinyatakan motivasi mempengaruhi prestasi tetapi juga prestasi
dapat mempengaruhi motivasi.
b) Hubungan antara kecerdasab dengan kekayaan. Kecerdasan dapat
menyebabkan kaya, demikian juga orang kaya dapat meningkatkan kecerdasab
karena gizi terpenuhi.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Mengidentifikasi masalah penelitian dilakukan untuk menentukan masalah
mana yang perlu segera dicari penyelesaiannya. Mengidentifikasi permasalahan-
permasalahan dapat dilakukan dengan cara mengelompokkan sekaligus
memetakan masalah-masalah tersebut secara sistematis berdasarkan keahlian
bidang peneliti.
Penelitian dilakukan karena ada masalah penelitian. Suatu masalah tidak
dapat dijadikan masalah penelitian kalau masalah tersebut dapat dijawab dengan
“yah” atau “tidak”. Masalah penelitian tidak pernah berdiri sendiri melainkan
selalu terkait, terdapat kontelasi dengan factor-faktor lain. Misalnya, latar
belakang politik, historis, ekonomi, social, dan budaya.
Masalah penelitian sccara umum dapat diartikan sebagi suatu kesenjangan
(Gap) antara yang seharusnya dengan apa yang terjadi tentang sesuatu hal, atau
antara kenyataan yang ada atau tetjadi dengan yang seharusnya ada atau terjadi
serta antara harapan dan kenyataan. Pada hakikatnya masalah penelitian adalah
segala bentuk pertanyaan yang perlu dicari jawabannya, atau segala bentuk
rintangan dan hambatan atau kesulitan yang muncul pada bidang tertentu.

B. Saran

Dalam merencanakan penelitian peneliti harus memiliki tanggung jawab untuk


membuat evaluasi sesuai dengan prinsip etika yang bisa diterima,
mempertimbangkan perlindungan subjek yang mungkin beresiko,bertanggung
jawab untuk menjamin perlakuan etik dalam penelitian,membuat persetujuan
yang jelas dengan peserta penelitian dan menghormati semua janji dan komitmen
dalam persetujuan, menentukan tidak adanya suatu yang tersembunyi atau
kecurangan,peneliti menghargai kebebesan individu untuk menolak berpartisipasi
dalam penelitian kapan saja,melindungi peserta dari ketidaknyamanan fisik dan
mental/bahaya yang muncul akibat prosedur penelitian,setelah data
dikumpulkan,peneliti menyampaikan informasi tentang penelitian pada peserta
untuk menghindari perbedaan pemahaman yang muncul, ketika menghasilkan
konsekuensi yang tidak diharapkan bagi peserta maka peneliti brtanggung jawab
mendeteksi dan mengoreksinya termasuk pengaruh jangka panjang.
.
DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:


Rineka Cipta.

Sudijono, A. (2006). Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada

Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan. Alfabeta : Bandung


Suryabrata, S. (2008). Metodologi Penelitian. Jakarta : Raja Grafindo Persada