Anda di halaman 1dari 11

Nutrition

Makalah alergi makanan


November 22, 2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Alergi merupakan salah satu jenis penyakit yang banyak dijumpai di masyarakat. Umumnya
masyarakat menganggap bahwa penyakit alergi hanya terbatas pada gatal-gatal di kulit. Alergi
sebenarnya dapat terjadi pada semua bagian tubuh, tergantung pada tempat terjadinya reaksi
alergi tersebut. Alergi merupakan manifestasi hiperresponsif dari organ yang terkena seperti
kulit, hidung, telinga, paru, atau saluran pencernaan. Pada hidung gejala alergi yang timbul
berupa pilek; pada paru-paru berupa asma; pada kulit berupa urtikaria/biduran, eksema, serta
dermatitis atopik; sedangkan pada mata berupa konjungtivitis. Gejala hiperresponsif ini dapat
terjadi karena timbulnya respon imun dengan atau tanpa diperantarai oleh IgE. Pada studi
populasi, penyakit alergi dapat timbul pada usia yang berbeda-beda, seperti alergi makanan dan
eksim terutama pada anak-anak, asma didapatkan pada anak dan dewasa, dan rinitis alergika
didapatkan pada dekade kedua dan ketiga.
Di Indonesia, prevalensi alergi pada anak-anak dan dewasa cukup tinggi. Penyakit alergi
akan timbul pada individu yang mempunyai kecenderungan yang didasari faktor genetik, yang
biasanya diwariskan dari kedua orangtua. Bila kedua orangtua menderita alergi kemungkinan
anak menunjukkan gejala alergi sekitar 50%, namun bila hanya salah satu yang menderita alergi
kemungkinannya hanya 25% (Alergi merupakan kepekaan tubuh terhadap benda asing (alergen)
di dalam tubuh. Reaksi setiap individu terhadap alergen berbeda-beda, sehingga individu yang
satu bisa lebih peka daripada individu yang lain. Untuk mencegah reaksi alergi, selain
menghindari kontak dengan alergen, masyarakat banyak menggunakan obat kimiawi karena
menganggap obat kimiawi cepat menyembuhkan serta mudah diperoleh. Seiring dengan
timbulnya kesadaran akan dampak buruk produk-produk kimiawi, timbul pula kesadaran akan
pentingnya kembali ke alam (back to nature). Masyarakat mulai beralih pada pengobatan alami
dengan menggunakan berbagai tanaman obat dalam mengobati penyakit alergi.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Dari Alergi Makanan?
2. Bagaimana Mekanisme Alergi Makanan (Immune-Mediated)?
3. Apa Saja Manifestasi Alergi Makanan?
4. Apa Saja Makanan Yang Menyebabkan Alergi dan Karakteristiknya?
5. Apa Saja Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kerentanan Terhadap Alergi Makanan?
1.3 Tujuan
1. Untuk Mengethui Pengertian Dari Alergi Makanan
2. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan mekanisme alergi makanan (Immune-mediated)
3. Untuk Mengetahui Bagaimana Manifestasi Alergi Makanan
4. Untuk Mengetahui Apa Saja Makanan Yang Menyebabkan Alergi dan Karakteristiknya
5. Untuk Mengetahui Apa Saja Factor Yang Berpengaruh Terhadap Kerentanan Terhadap Alergi
Makanan

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Alergi Makanan


Alergi makanan adalah reaksi alergi yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh kita keliru
merespons protein yang berasal dari makanan dan menganggapnya sebagai suatu ancaman. Salah
satu reaksi alergi yang muncul bisa berupa rasa gatal. Berdasarkan zat pemicu dan jangka waktu
munculnya gejala, alergi makanan terbagi menjadi tiga jenis, yaitu imunoglobulin E, non-
imunoglobulin E, dan gabungan keduanya.
Imunoglobulin E merupakan salah satu zat antibodi yang ada di dalam sistem kekebalan
tubuh kita. Alergi makanan yang dipicu oleh produksi zat ini merupakan jenis alergi makanan
yang paling umum terjadi dan gejalanya biasa akan muncul tidak lama setelah penderita
makan. Sedangkan untuk alergi makan yang dipicu oleh zat-zat antibodi selain imunoglobulin E,
rentang waktu munculnya gejala akan membutuhkan waktu yang lebih lama atau biasanya
berjam-jam setelah penderita makan. Jenis alergi makanan yang terakhir adalah kombinasi dari
imunoglobulin E dan non-imunoglobulin E. Orang yang menderita kondisi ini akan merasakan
gejala-gejala dari kedua jenis alergi makanan tersebut.
Ada sebuah pepatah Romawi Kuno yang mengatakan bahwa apa yang menjadi makanan bagi
seseorang bisa menjadi racun yang berbahaya bagi orang lain. Hal ini pun berlaku untuk
penderita penyakit alergi. Penyebab alergi makanan pada dasarnya memang tidak bisa
dipisahkan dari reaksi sistem kekebalan yang berlebihan, terhadap suatu komponen zat di dalam
makanan yang sebenarnya tidak berbahaya. Zat tersebut bernama alergen, komponen penyebab
alergi yang dapat menimbulkan reaksi walaupun dalam jumlah yang sangat kecil.

2.2 Mekanisme Alergi Makanan (Immune-Mediated)


Respon imun adalah respon yang ditimbulkan dari sel-sel dan molekul penyusun system
imunitas terhadap substansi asing (antigen), dapat juga diartikan sebagai respon tubuh dalam
urutan tahap yang kompleks untuk mengeliminasi antigen yang melibatkan berbagai macam sel
dan protein terutama sel markofag, sel limfosit, komplemen dan sitonin yang saling berinteraksi.
Secara mekanisme pertahanan tubuh terbagi menjadi dua yaitu :
A. Respon Imun Spesifik
1) Antibody- mediated immunity (Respon Imun Humoral)
Respon imun ini diperantai oleh anti-bodi yang dihasilkan oleh sel limfosit B. Bila sel
limfosit B dirangsang oleh antigen maka sel limfosit B akan menghasilkan antibody. Fungsinya
untuk mempertahankan tubuh terhadap infeksi bakteri, virus dan dapat menetralkan toksin dalam
respon humoral terdapat respon imun primer dan sekunder. Respon imun primer adalah respon
yang dilakukan saat pathogen pertama kali masuk ke dalam tubuh kemudian tubuh akan
membuat antibody untuk melawan pathogen tersebut dan sel memor akan mengingat jenis
pathogen tersebut, sedangkan respon imun sekunder adalah respon imun terhadap pathogen yang
masuk ke dalam tubuh untuk kedua kalinya sehingga respon imun lebih cepat dalam melawan
pathogen itu karena pathogen tersebut sudah dikenali melalui sel-sel memori.
Mekanisme imunitas yang diperantarai oleh anti-bodi yaitu sebagai berikut saat pathogen
masuk kedalam tubuh, masing-masing antigen mengaktifkan satu sel B. Sel B tersebut akan
membelah membentuk populasi sel yang besar semua klon sel tersebut mensekresikan antibody
yang spesifk terhadap pathogen yang menyerang setelah infeksi berakhir, sel B yang
mensekresikan antibodi akan mati sedangkan sel B memori telah mengingat pathogen yang
menginfeksi dan sel B akan bertahan. Antibodi tersusun atas suatu serum globulin yang di sebut
Immunoglobulin (Ig). Terdapat 5 jenis Immunoglobulin, yaitu:
 IgM, memiliki berat molekul yang besar. Sebagai antibody utama terhadap bakteri, sebagai
aglutinator dan pembentuk opsonin
 IgG, merupakan antibody dominan pada respon sekunder dan menyusun pertahanan yang penting
melawan bakteri dan virus. Satu-satunya antibody yang mampu melintas plasenta, oleh karena
itu paling banyak ditemukan pada bayi baru lahir.
 IgA, banyak terdapat pada cairan sekresi membrane mukosa dan serosa. Dapat melindungi
membrane seromukosa dari serangan bakteri dan virus.
 IgD, berfungsi untuk merangsang pembentukan antibody oleh sel plasma, kemungkinan bertindak
sebagai reseptor pada membrane sel.
 IgE, merespon alergi. Ketika dipicu oleh antigen, akan menyebabkan sel membebaskan histamine
dan zat kimia lainnya yang menyebabkan reaksi alergi.
2) Cell- mediated Immunity (Respon Imun Seluler)
Respon imun yang melibatkan sel limfosit T yang menyerang langsunng antigen.
Sekelompok T-limfosit tertentu dalam jaringan akan berkembang dan berdeferensu menjadi
beberapa subpopulasi. Sub populasi tersebut yaitu:
 Sel T pembantu (Helper-T4) berfungsi untuk menghasilkan interleukin-2 yang menyebabkan sel T
pembunuh lebih cepat berkembang baik dan T4 badan yang dihasilkan sangat diperlukan oleh
limfosit B untuk memproduksi antibody.
 Sel T pembunuh (Killer) berfungsi untuk menghancurkan antigen secara langsung dengan
mengikat diri dengan antigen membran pada mikroorganisme, kemudian mensekresikan suatu
zat limfotoksin dan menghasilkan suatu protein limfokin.
 T supresor (T8) berfungsi untuk mengurangi produksi antibody oleh sel plasma dengan cara
menghambat aktivitas T4 atau sel plasma serta mengurangi keaktifan dari sel T pembunuh.
 Sel T memori berfungs untuk mengingat antigen yang telah masuk ke dalam tubuh. Jika nanti
antigen masuk untuk kedua kalinya, akan terjadi respon sekunder yag lebih cepat dan lebih kuat.
B. Respon Imun Non-Spesifik
1) Pertahanan Mekanis
Kulit yang utuh tidak dapat ditempus oleh mikroorganisme karena epidermis dari berbagai
lapisan. Apabila kulit tergores atau lembab maka infeksi bakteri atau jamur akan lebih mudah
terjad. Meskipun selaput lendir (membrane mukosa) terdiri dari satu lapis tapi sulit ditembus
oleh mikroorganisme karena selaput lender akan mensekresi lender (mukosa yang lengket dan
akan menangkap miroorganisme).
2) Pertahanan Kimiawi
Suasana asam di kulit akan mengurangi pertumbuhan mikroorganisme. Asam lambung dapat
membunuh berbagai macam mikroorganisme dan melumpuhkan toksin. Flora mikroorganisme
yang normal di kulit dan selaput lender menekan pertumbuhan pathogen.
3) Sistem Komplemen
Termasuk protein serum dan protein yang terikat membrane yang berfungs baik dalam system
imun yang didapat maupun imunitas alamiah. Mempunyai pengaruh yaitu melisis sel, produksi
mediator yang berperan dalam inflamasi dan menarik fagosit, penguatan respon imun yang
diperantai antibody.
4) Interferon
Sekumpulan protein yang diproduksi dan disekresikan sejumlah sel misalnya makrofag, limfosit
yang terkena infeksi berbagai virus. Dapat merangsang jenis limfosit tertentu untuk langsung
membunuh dan menghancurkan sel-sel yang terinfeksi virus, juga sel-sel kanker jenis tertentu.
5) Fagositosis
Sel yang termasuk sel fagosit yaitu makrofag, neutrophil, dan eosinophil. Mekanisme fagositosis
yaitu mikroba menempelke fagosit, fagosit membentuk pseudopodium yang menelan mikroba
vesikula fagositik yang mengandung antigen vesikula fagositik bersatu dengan lisoson terjadi
fagolisosom dengan enzim hydrolase asam mikroba dibunuh oleh enzim dalam fagolisosom sisa
mikrob dikeluarkan lewat eksositosis.
6) Demam
Suatu keadaan dimana suhu tidak normal. Merupakan salah satu menifestasi sistemasik tubuh
terhadap radang.
7) Radang
Infeksi dalam masuk dan berkembangnya mikroorganisme di dalam tubuh, karena racun yang
dikeluarkan oleh mikroorganisme, infeksi dapat menimbulkan kerusakan sel-sel tubuh. Respon
terhadap kerusakan tersebut disebut radang. Gejala dari radang seperti panas, bengkak, merah
dan gangguang fungsi daerah yang terkena radang.

2.3 Manifestasi Alergi Makanan


Secara umum, istilah alergi dipakai dalam konteks reaksi hipersensitivitas yang disebabkan
oleh reaksi imun yang berakibat buruk terhadap jaringan atau mengganggu proses fisiologik
manusia. Reaksi imun tersebut dicetuskan oleh adanya kompleks biokimawi atau respon
inflamasi yang menghasilkan gejala klinis. Respons tersebut bergantung pada tingkat reaktivitas
reseptor jaringan yang terlibat dan sel efektor.
A. Jenis Alergi Makan Berdasarkan Manifestasi Klinis
Alergi makanan dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu, dengan keterlibatkan (diperantarai)
IgE, yang secara klinis dikenal sebagai alergi makanan jenis tetap (fixed atau immediate tipe)
dan tanpa keterlibatan (tidak diperantrai) IgE, yang secara klinis dikenal sebagai alergi makanan
jenis siklik atau cyclic atau delayed tipe. Alergi jenis makanan tetap yaitu alergi makanan jenis
ini melibatkan respons IgE yang memberikan gejala dalam waktu beberapa detik sampai
beberapa jam setelah kontak dengan alergen. Reaksi yang timbul cepat, jelas, dan seringkali
berat. Apabila terjadi sensivitasi, gejala akan selalu timbul jika individu tersebut terpajan alergen
yang sama.
Gejala yang timbul tidak ditentukan oleh kuantitas makanan yang dikonsumsi; jumlah
alergen yang minimal sekalipun dapat menimbulkan gejala. Alergi makanan jenis iklik tipe ini
pertama kali ditemukan oleh rinkle, berdasarkan pengamatan klinis terhadap hasil pengaturan
diet makanan pada penderita alergi. Pada jenis ini, gejala dapat timbul beberapa jam sampai
beberapa hari setelah mengonsumsi makanan. Jenis ini tidak melibatkan IgE dan mewakili 60-
80% dari seluruh kasus alergi makanan yang ditemukan dalam klinik sementara itu, boyles
menyatakan bahwa 95% kasus alergi makanan tergolong jenis siklik dan sisanya jenis tetap.
B. Manifestasi Alergi Makanan Pada Hidung, Telinga Dan Tenggorokan
Manifestasi alergi makanan tipe tetap (diperantarai IgE) dapat bermacam-macam, bergantung
pada tempat dan luas degranulasi sel mast atau basofil, mulai dari urtikaria akut sampai reaksi
anafilaktik yang fatal. Target organ yang sering terkena adalah kulit, saluran cerna, saluran napas
atas (telinga, hidung, dan tenggorokan) dan bawa ,secara reaksi sistemik.
 Telinga
Manifestasi alergi makanan pada telinga dapat mengenai tiga daerah anatomis telinga, yaitu
liang telinga, telinga tengah, dan telinga dalam. Gejala pada telinga luar dapat berupa otitis
eksterna kronik dengan penyempitan liang telinga, daun telinga yang kemerahan, atau kulit daun
telinga yang terkupas dan pecah-pecah. Pada telinga tengah, sering didapati keluhan rasa penuh,
terdengar bunyi “klik”, atau keluhan yang disebabkan oleh terganggunya Eustachian tube, seperti
otitis media rekuren, otitis media serosa kronik, atau otorea yang persisten setelah pemasangan
pipa ventilasi pada telinga tengah. Gejala pada telinga dalam dapat meliputi tinnitus, penyakit
meniere, dan gangguan keseimbangan, yang muncul hampir selalu persamaan dengan keluhan
rintis kronik.
 Hidung
Manifestasi alergi makanan pada hidung yang tersering adalah rintis alergi, yang dijumpai pada
70% anak penderita alergi makanan yang telah terbukti dengan tes provokasi makanan (double-
blind placebo controlled food challenge, DBPCFC). Sebagian besar dari anak-anak tersebut juga
menderita penyakit alergi lain, seperti alergi pada kulit dan saluran cerna. Gejala yang sering
ditemukan berupa hidung tesumbat, secret yang jernih dan encer, hidung gatal, bersin-bersin,
serta menurunnya ketajaman penciuman. Tidak jarang pula dijumpai allergic salute, rasa penuh
pada wajah dan sakit kepala akibat sinusitis, dan dapat juga berhubungan dengan polip nasi,
sinusisitis akibat jamur, atau infeksi sinus yang berulang.
 Rongga mulut
Keluhan yang umum dijumpai berupa rasa gatal dan bengkak pada bibir dan palatum, mulut
terasa kering, dan halitosis. Bernafas lewat mulut terusmenerus akibat obstruksi hidung yang
menetap karena alergi dapat mengakibatkan hipertrofi gingival serta bibir kering dan pecah-
pecah.
 Laringofaring
Dapat ditemukan keluhan suara serak yang hilang timbul, faringitis kronik, atau rasa ingin selalu
membersikan tenggorokan akibat secret hidung yang turun ke tenggorokan. Hal ini akan
menimbulkan hipertrofi kelenjar limfe submukosa pada dinging varing, yang disebut
cobblestone.Pada daerah laring dapat dijumpai edema epiglotis dan pita suara yang pucat disertai
sekret yang lengket dan kental. Juga dapat dijumpai nodul pita suara, polip, atau edema reinke.

2.4 Makanan Yang Menyebabkan Alergi Dan Karakteristiknya


Banyak jenis makanan menyebabka alergi, tetapi 90% alergi disebabkan oleh susu sapi,
kedelai, telur, gandum, kacang tanah,ikan, dan crustacea /udang /rajungan /kepiting. Alergi
makanan lainnya terjadi kurang dari 1 per 10.000 orang, dapat di anggap jarang. Tingkat alergi
berbeda antara dewasa dan anak-anak. Alergi kacang tanah kadang-kadang berkembang pada
masa anak-anak. Alergi telur terjadi pada 1 hingga 2% anak-anak dan menjadi kira-kira
2/3anak-anak pada usia 5 tahun. Senstivitas biasanya terjadi terhadap putih telurnya
dibandingkan terhadap kuning telurnya.
 Beberapa makanan sehari-hari yang dapat menyebabkan alergi adalah :
1. Susu Sapi
Fraksi protein susu utama ialah kasein (76%) dan whey ( mengandung alfa-laktabumin, beta-
laktoglobulin, albumen serum sapid an immunoglobulin sapi). Semua komponen yang terdapat
pada susu sapi itulah dapat menyebabkan reaksi alergi.Sedangkan sedikitnya 20% komponen
yang bias menimbulkan produksi antibody. Alergi terhadap protein susu bukanlah reaksi
Immunoglobulin E,biasanya adalah proctocilitis. Banya terjadi pada anak-anak. Beberapa orang
tidak dapat mentoleransi susu kambing maupun domba juga sapi, dan banyak juga yang tak
dapat metoleransi hail-hasil susu seperti keju. Sekitar 10% anak-anak yang alergi susu,juga
alergi terhadap daging hewan berkaki empat.
2. Telur
Dari beberapa jenis telur yang paling sering menimbulkan reaksi energy pada anak ialah telur
ayam. Di dalam telur mengandung putih dan kuning telur. Alergen utama putih telur ialah
ovalbumin. Putih telur lebih alergenik serta alergen dari pada kuning telurdan reaksi terhadap
kuning telur bias di sebabkan oleh karena kontaminasi proten.
3. Kacang Tanah
Untuk pemicu alergi kulit, harus berhati-hati terhadap kacang tanah sebagai alergen. Dari hari ke
hari, jumlah penderita alergi kulit disebabkan oleh jenis kacang ini pun lumayan bertambah. Jika
biasanya mengonsumsi kacang tanah dengan memanggangnya, maka ini akan lebih gampang
memicu alergi kulit. Jadi, untuk amannya silakan memilih untuk mengolahnya dengan cara
merebus.
4. Kerang
Banyak juga orang yang menggemari jenis makanan penyebab alergi kulit ini, apalagi mereka
yang sangat suka dengan seafood. Berbagai jenis kerang dapat dengan mudah memicu timbulnya
alergi pada kulit, seperti ruam kemerahan dan gatal-gatal. Sama seperti telur, efeknya pun dapat
kemudian menyebabkan penyakit eksim, terutama di bagian jari-jari kaki.
5. Udang
Tak hanya kerang, jenis makanan laut lainnya yang cukup populer menjadi makanan pemicu
alergi kulit adalah udang. Gejala yang paling umum terjadi adalah ruam pada kulit, gatal-gatal,
mata yang memerah, dan juga bengkak pada tubuh. Bahkan parahnya lagi, udang ini dapat
menyebabkan bersin, batuk hingga sesak nafas yang bisa makin buruk bila tak ditangani
secepatnya.

2.5 Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kerentanan Terhadap Alergi Makanan


Kejadian alergi makanan dipengaruhi oleh genetik, umur, jenis kelamin, pola makan, jenis
makanan awal, jenis makanan, dan faktor lingkungan. Penyakit alergi merupakan gangguan
kronik yang umum terjadi pada anak-anak dan dewasa. Berdasarkan hasil penelitian yang
dilaporkan oleh Oehling dalam Prawirohartono pada 400 anak umur 3-12 tahun didapatkan data
bahwa 60% penderita alergi makanan adalah perempuan dan 40% laki-laki.
Pola makan (eating habits) juga memberi pengaruh terhadap reaksi tubuh. Prevalensi alergi
makanan di Indonesia adalah 11%.1Prevalensi alergi makanan yang kecil ini dapat terjadi karena
masih banyak masyarakat yang tidak melakukan tes alergi untuk memastikan apakah mereka
positif alergi makanan atau tidak. Persepsi mereka, jika setelah makan makanan tertentu (telur,
kepiting, udang, dan lain-lain) mereka merasa gatal-gatal, maka mereka menganggap bahwa
mereka alergi terhadap makanan itu sehingga data yang ada tidak cukup mewakili. Disamping
itu, tempat untuk melakukan tes alergi masih’ belum banyak ditemukan.

 Berikut faktor yang mempengaruhi terjadinya alergi adalah penyebab dan pemicu alergi, yaitu :
1. Faktor genetik
Alergi dapat diturunkan dari orang tua atau kakek/nenek pada penderita . Bila ada orang tua,
keluarga atau kakek/nenek yang menederita alergi kita harus mewaspadai tanda alergi pada anak
sejak dini. Bila ada salah satu orang tua yang menderita gejala alergi maka dapat menurunkan
resiko pada anak sekitar 17 – 40%,. Bila ke dua orang tua alergi maka resiko pada anak
meningkat menjadi 53 – 70%. Untuk mengetahui resiko alergi pada anak kita harus mengetahui
bagaimana gejala alergi pada orang dewasa. Gejala alergi pada orang dewasa juga bisa mengenai
semua organ tubuh dan sistem fungsi tubuh.
2. Imaturitas usus (ketidakmatangan usus)
Secara mekanik integritas mukosa usus dan peristaltik merupakan pelindung masuknya alergen
ke dalam tubuh. Secara kimiawi asam lambung dan enzim pencernaan menyebabkan denaturasi
allergen.Secara imunologik sIgA pada permukaan mukosa dan limfosit pada lamina propia dapat
menangkal allergen masuk ke dalam tubuh. Pada usus imatur system pertahanan tubuh tersebut
masih lemah dan gagal berfungsi sehingga memudahkan alergen masuk ke dalam tubuh.
3. Pajanan alergi
Pajanan alergi yang merangsang produksi IgE spesifik sudah dapat terjadi sejak bayi dalam
kandungan. Diketahui adanya IgE spesifik pada janin terhadap penisilin, gandum, telur dan susu.
Pajanan juga terjadi pada masa bayi. Pemberian ASI eksklusif mengurangi jumlah bayi yang
hipersensitif terhadap makanan pada tahun pertama kehidupan. Pemberian PASI meningkatkan
angka kejadian alergi
4. Faktor pencetus
Yaitu dapat berupa faktor fisik seperti dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan
tertawa, menangis, berlari,olahraga.
5. Faktor gangguan kesimbangan hormonal
Berpengaruh sebagai pemicu alergi biasanya terjadi saat kehamilan dan menstruasi. Sehingga
banyak ibu hamil mengeluh batuk lama, gatal-gatal dan asma terjadi terus menerus selama
kehamilan. Demikian juga saat mentruasi seringkali seorang wanita mengeluh sakit kepala, nyeri
perut dan sebagainya.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1) Pengertian alergi makanan adalah reaksi alergi yang terjadi akibat sistem kekebalan tubuh kita
keliru merespons protein yang berasal dari makanan dan menganggapnya sebagai suatu
ancaman. Salah satu reaksi alergi yang muncul bisa berupa rasa gatal dan ruam pada kulit.
2) Mekanisme Alergi Makanan Immune-Mediated terbagi atas :
A. Respon Imun Spesifik
B. Respon Imun Non-Spesifik
3) Manifestasi Alergi Makanan terdir atas:
A. Jenis Alergi Makan Berdasarkan Manifestasi Klinis
B. Manifestasi Alergi Makanan Pada Hidung, Telinga Dan Tenggorokan
4) Makanan Yang Menyebabkan Alergi Dan Karakteristiknya adalah :
 Susu Sapi
 Telur
 Kacang tanah
 Kerang
 Udang
5) Factor Yang Berpengaruh Terhadap Kerentanan Terhadap Alergi Makanan
 Faktor genetic
 Imaturitas usus
 Pajanan alergi
 Faktor pencetus
 Faktor gangguan kesimbangan hormonal

3.2 Saran
Makalah ini membahas tentang Alergi Makanan yang merupakan salah satu materi dari mata
kuliah Imunologi Gizi, di harapkan setelah membaca makalah ini mahasiswa dapat memahami
tentang alergi makanan dalam mata kuliah imunologi gizi.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.alodokter.com/alergi-makanan
http://calistamanda.blogspot.co.id/2016/11/makalah-imunologi-manifestasi-alergi.html
https://halosehat.com/penyakit/alergi/makanan-penyebab-alergi-kulit
http://www.perbidkes.com/2015/09/makanan-penyebab-alergi-yang-wajib-di.html?m=1

Komentar

Postingan populer dari blog ini


Makalah Penentuan status gizi "Cairan, Jaringan & Tes Fungsional"
November 27, 2017
BAB I
PENDAHULUAN 1.1LATAR BELAKANG Cairan tubuh adalah cairan suspensi sel di
dalam tubuhmakhluk multiselular seperti manusia atau hewan yang memiliki
fungsi fisiologis tertentu. Cairan tubuh merupakan komponen penting bagi fluida
ekstraselular, termasuk plasma darah dan fluida transelular. Jaringan dalam biologi adalah
sekumpulan sel yang memiliki bentuk dan fungsi yang sama. Jaringan-jaringan yang
berbeda dapat bekerja sama untuk suatu fungsi fisiologiyang sama membentuk organ.
Jaringan dipelajari dalam cabang biologi yang dinamakan histologi, sedangkan cabang
biologi yang mempelajari berubahnya bentuk dan fungsi jaringan dalam hubungannya
dengan penyakit adalah histopatologi. Jaringan dimiliki oleh organisme yang telah memiliki
pembagian tugas untuk setiap kelompok sel-selnya. Organisme bertalus,
seperti alga ("ganggang") dan fungi ("jamur"), tidak memiliki perbedaan jaringan, meskipun
mereka dapat membentuk struktur-struktur khas mirip organ, seperti
BACA SELENGKAPNYA

Diberdayakan oleh Blogger


Gambar tema oleh Michael Elkan

MONIKAMONINGKA
Cantik
KUNJUNGI PROFIL
Arsip
Laporkan Penyalahgunaan
Nutrition