Anda di halaman 1dari 52

WRAP UP SKENARIO 2

BLOK KEDOKTERAN KOMUNITAS

WABAH CAMPAK DAN GIZI BURUK DI KABUPATEN ASMAT, PAPUA

Kelompok B-15
Ketua : Putri Pasya Permana 1102015139
Sekretaris : Raudina Fisabila M. 1102015191
Anggota : Melinda Rizki Purnama 1102015132
Nesya Iryani 1102014191
Putry Alfany Jayanti 1102014212
Monica Octafiani 1102015140
Muhamad Ilham Khatami 1102015149
Noura Alia 1102015168
Siti Hartina Rahmawati 1102015224

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


Jl. Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510
Telp. 021-4244574 Fax. 021-4244574
Daftar Isi

Daftar isi ...................................................................................................................2


Skenario ...................................................................................................................3
Kata Sulit .................................................................................................................4
Pertanyaan dan Jawaban ......................................................................................... 5
Hipotesis ..................................................................................................................7
Sasaran Belajar .........................................................................................................8
Hasil Sasaran Belajar ............................................................................................... 9
1. Memahami dan Menjelaskan gizi kurang, gizi buruk dan gizi lebih ..................... 9
2. Memahami dan Menjelaskan gaya hidup tidak sehat ............................................ 25
3. Memahami dan Menjelaskan kejadian luar biasa .................................................. 29
4. Memahami dan menjelaskan wabah ............................................................... 32
5. Memahami dan menjelaskan aspek sosial budaya masyakat dalam
mengakases pemanfaatan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan
kesehatan ................................................................................................................. 38
6. Memahami dan menjelaskan sistem rujukan kesehatan ................................... 45
7. Memahami dan menjelaskan pandangan Islam tentang kejadian luar biasa,
kesehatan dan berobat ........................................................................................... 49
Daftar Pustaka ........................................................................................................52

2
Skenario 2
WABAH CAMPAK DAN GIZI BURUK DI KABUPATEN ASMAT, PAPUA

Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek mengatakan, 71 orang


meninggal akibat wabah campak dan gizi buruk di Kabupaten Asmat, Papua.
“Update data yang meninggal kurang lebih 71 orang.” Kata Nila sesuai dengan
rapat terbatas mengenai penanggulangan imunisasi terhadap sekitar 13.300 anak di
Asmat. Namun, masih ada sejumlah distrik yang belum dapat dijangkau timnya
karena kendala geografis (Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2018/01/31
/15410691/menkes-71-orang-meninggal-dalam-kasus-gizi-buruk-dan-campak-di-
asmat).
Sebagian besar orang tua yang anaknya meninggal dan sakit karena terpapar
campak dan gizi buruk tinggal jauh dari pusat kesehatan yang ideal. Dari 71 anak
yang meninggal dunia karena campak dan gizi burul, 37 diantara mereka berasal
dari Distrik Pulau Tiga. Untuk menuju ke wilayah yang berbatasa dengan
Kabupaten Mimika hanya bisa dilalui melalui jalur sungai menggunakan perahu
bermotor. Perjalanan tesebut dapat memakan waktu antara dua hingga tiga jam.
Jangkauan ke pusat pengobatan sangat sulit karena masyarakat harus menggunakan
jalur laut dan sungai. Selain permasalahan geografis, ternyata warga suku asmat
biasa mengonsumsi air sungai untuk kebutuhan makan dan minum sehari-hari.
Sebagian warga tidak mempunyai jamban sehingga untuk buang air besar dan kecil
biasa mereka lakukan di pekarangan rumah mereka (Sumber:
http://www.bbc.com/Indonesia/Indonesia-42882847. 31 Januari 2018. Krisis
kesehatan di Asmat: ‘Saya minum air langsung dari sungai’).
Permasalahan gizi pada anak tidak hanya masalah gizi kurang dan buruk
saja seperti yang terjadi di Asmat. Tetapi juga masalah gizi lebih perlu diwaspadai,
Pertumbuhan obesitas pada anak di Indonesia meningkat tiga kali lipat. Kajian
Global Burden of diseases yang dipublikasikan jurnal ilmiah Lancet pada tahun
2014 menempatkan Indonesia di posisi 10 dalam daftar negara dengan tingkat
obesitas tertinggi di dunia. Penyebab gizi lebih pada anak ada bermacam-macam.
Pada umumnya dapat disebabkan karena energi makanan yang berlebih atau karena
pengeluraran energi yang kurang atau keduanya. Sebagaimana sering ditemukan
pada anak-anak dalam keluarga dengan sosioekonomi yang baik, serta gaya hidup
yang santai (sedentary life style). Anak dengan status gizi lebih berpotensi
mengidap berbagai jenis penyakit setelah dewasa, antara lain diabetes, penyakit
jantung dan kanker.

3
Kata Sulit
1) Kejadian Luar Biasa (KLB) : Kejadian kesakitan/kematian atau
meningkatnya suatu kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara
epidemiologis pada suatu penduduk dalam kurun waktu tertentu.
2) Wabah : Penyakit emnular yang terjangkit dengan cepat menyerang
sejumlah besar orang didaerah yang luas
3) Sedentary life style : Kebiasaan hidup seseorang dengan tidak banyak
melakukan aktivitas fisik

4
Pertanyaan
1. Bagaimana cara menanggulangi KLB?
2. Mengapa dapat terjadi KLB?
3. Apa saja kriteria KLB?
4. Apa perbedaan wabah dengan KLB?
5. Apa saja faktor penyebab gizi buruk?
6. Mengapa pada skenario wabah hanya terjadi pada anak-anak?
7. Apa saja faktor berperan pada obesitas?
8. Bagaimana pandangan Islam terhadap KLB?
9. Bagaimana pandangan Islam terhadap menjaga kesehatan dan berobat?
10. Siapa saja yang berperan dalam menanggulangi KLB?

Jawaban
1. Cara menanggulangi KLB
a. Penyelidikan epidemiologik
b. Penatalaksanaan penderita, meliputi pemeriksaan, pengobatan, perawatan
dan isolasi
c. Pencegahan dan pengebalan
d. Pemusnahan penyebab penyakit
e. Penanganan jenazah akibat wabah
f. Penyuluhan
2. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya KLB, diantaranya
adalah:
a. Turunnya sistem imunitas
b. Patogenitas penyakit
c. Faktor Lingkungan
d. Minimnya fasilitas kesehatan
e. Minimnya tingkat pengetahuan masyarakat
f. Minimnya penanggulangan penyakit KLB
g. Pelaksanaan program kesehatan belum berjalan dengan baik
3. Kriteria KLB
a. Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada/tidak
dikenal.
b. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun
waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan,
tahun)
c. Peningkatan kejadian penyakit/kematian, 2 kali atau lebih dibandingkan
dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
d. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali
lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam
tahun sebelumnya.
e. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua
kali lipat atau lebih dibanding dengan angka rata-rata per bulan dari tahun
sebelumnya.

5
4. Wabah harus mencakup:
a. Jumlah kasus yang besar.
b. Daerah yang luas
c. Waktu yang lebih lama.
d. Dampak yang timbulkan lebih berat
5. Faktor penyebab gizi buruk
a. Kurangnya asupan gizi
b. Akses menuju fasilitas kesehatan tidak memadai
c. Kurangnya pengetahuan orangtua
d. Rendahnya tingkat sosioekonomi keluarga
6. Wabah pada skenario hanya terjadi pada anak-anak karena rendahnya tingkat
pengetahuan serta sistem imunitas yang belum optimal.
7. Faktor yang berperan pada obesitas
a. Faktor genetik
b. Faktor lingkungan
1) Ketidakseimbagan pola makan, perilaku makan dan aktivitas fisik
2) Perubahan gaya hidup meliputi perilaku makan dan pola makan
8. Jika ada daerah yang terkena KLB, maka sebaiknya daerah tersebut diisolasi.
Tidak disarankan untuk masuk ke daerah tersebut, begitupula dengan
masyarakat yang sudah berada dalam daerah tersebut juga tidak disarankan
untuk keluar.
9. Sesungguhnya terdapat berbagai macam dalil dan keterangan yang berbeda-
beda tentang berobat. Akan tetapi berobat hukumnya berbeda- berbeda
menurut perbedaan kondisi. Ada yang haram, makruh, mubah, sunnah, bahkan
ada yang wajib.
10. Puskesmas, pemerintah, dinas kesehatan.

6
Hipotesis
Kejadian Luar Biasa (KLB) merupakan timbulnya atau meningkatnya
kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam kurun waktu dan
daerah tertentu yang dapat terjadi karena faktor turunnya imunitas, patofenitas
penyakit, faktor lingkungan serta program penanggulangan KLB belum terlaksana
dengan baik. Perbedaan KLB dengan wabah dilihat dari jumlah kasusnya yang
besar, meliputi daerah yang luas pada waktu yang lebih lama serta menimbulkan
dampak yang lebih berat. Contoh kasus KLB di Indonesia adala gizi kurang, gizi
buruk dan gizi lebih. Menurut pandangan islam terhadap KLB, Jika ada daerah
yang terkena KLB, maka sebaiknya daerah tersebut diisolasi. Tidak disarankan
untuk masuk ke daerah tersebut, begitupula dengan masyarakat yang sudah berada
dalam daerah tersebut juga tidak disarankan untuk keluar. Adapun untuk kesehatan
dan berobat, terdapat berbagai macam dalil dan keterangan yang berbeda- beda
tentang berobat. Akan tetapi berobat hukumnya berbeda- berbeda menurut
perbedaan kondisi. Ada yang haram, makruh, mubah, sunnah, bahkan ada yang
wajib.

7
Sasaran Belajar
LO 1 Memahami dan menjelasakan gizi kurang, gizi buruk dan gizi lebih
LO 2 Memahami dan menjelasakan gaya hidup tidak sehat
LO 3 Memahami dan menjelasakan kejadian luar biasa
LO 4 Memahami dan menjelaskan wabah
LO 5 Memahami dan menjelaskan aspek sosial budaya masyakat dalam
mengakases pemanfaatan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan
LO 6 Memahami dan menjelaskan sistem rujukan kesehatan
LO 7 Memahami dan menjelaskan pandangan Islam tentang kejadian luar biasa,
kesehatan dan berobat

8
LO 1 Memahami dan menjelasakan gizi kurang, gizi buruk dan gizi lebih
a) Gizi Kurang
Gizi kurang merupakan salah satu penyakit tidak menular yang terjadi pada
kelompok masyarakat tertentu di suatu tempat. Hal ini berkaitan erat dengan
berbagai faktor multidisiplin dan harus selalu dikontrol terutama pada
masyarakat yang tinggal di negara-negara berkembang (Depkes, 2000).
Gizi kurang bukanlah penyakit akut yang terjadi mendadak, tetapi ditandai
dengan kenaikan berat badan balita yang tidak normal pada awalnya atau tanpa
kenaikan berat badan setiap bulan atau bahkan mengalami penurunan berat
badan selama beberapa bulan.
Perubahan status gizi balita diawali oleh perubahan berat badan balita dari
waktu ke waktu. Bayi yang tidak mengalami kenaikan berat badan 2 kali selama
6 bulan, beresiko 12,6 kali lebih besar mengalami gizi kurang dibandingkan
dengan balita yang berat badannya terus meningkat. Bila frekuensi berat badan
tidak naik lebih sering, maka risiko akan semakin besar (Depkes, 2005).

b) Gizi Buruk
a. Definisi Gizi Buruk
Gizi kurang jika tidak segera ditangani dikhawatirkan akan berkembang
menjadi gizi buruk (Dewi, 2013). Gizi buruk dapat dikatakan merupakan
kurang gizi kronis akibat kekurangan asupan energi dan protein yang
berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Anak disebut mengalami gizi
buruk apabila berat badan anak dibanding umur tidak sesuai (selama 3 bulan
berturut-turut tidak naik) dan tidak disertai 14 tanda-tanda bahaya (Moehji,
2002).
Berdasarkan manifestasi klinisnya, gizi buruk terbagi menjadi tiga yaitu gizi
buruk karena kekurangan protein atau disebut kwashiorkor, akibat
kekurangan karbohidrat atau kalori atau yang dikenal dengan marasmus, dan
karena kekurangan kedua-duanya atau yang lebih dikenal dengan
marasmuskwashiorkor. Gizi buruk sangat rentan terjadi pada anak balita
(bawah lima tahu
Pengukuran gizi buruk ditentukan dengan menggunakan standar deviasi
(SD = skor Standard Deviasi atau Z-score). Berat badan menurut tinggi atau
panjang badan (BB/TB-PB) -2 SD menunjukkan bahwa anak berada pada
batas terendah dari kisaran normal, dan < -3SD menunjukkan sangat kurus
(severe wasting). Nilai BB/TB atau BB/PB sebesar -3SD hampir sama dengan
70% BB/TB atau BB/PB rata-rata (median) anak.
b. Diagnosis Gizi Buruk
Diagnosis ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala klinis serta pengukuran
antropometri. Anak didiagnosis gizi buruk apabila:

9
1. BB/TB < -3 SD atau <70% dari median (marasmus)
2. Edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh (kwashiorkor:
BB/TB >-3SD atau marasmik-kwashiorkor: BB/TB <-3SD
Jika BB/TB atau BB/PB tidak dapat diukur, gunakan tanda klinis berupa
anak tampak sangat kurus (visible severe wasting) dan tidak mempunyai
jaringan lemak bawah kulit terutama pada kedua bahu, lengan, pantat dan
paha; tulang iga terlihat jelas, dengan atau tanpa adanya edema (lihat
gambar)
Anak-anak dengan BB/U < 60% belum tentu gizi buruk, karena
mungkin anak tersebut pendek, sehingga tidak terlihat sangat kurus.
Anak seperti itu tidak membutuhkan perawatan di rumah sakit, kecuali jika
ditemukan penyakit lain yang berat.

10
c. Penilaian awal gizi buruk

Pada setiap anak gizi buruk lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis.
Anamnesis terdiri dari anamnesis awal dan anamnesis lanjutan.

Anamnesis awal (untuk kedaruratan):

1. Kejadian mata cekung yang baru saja muncul


2. Lama dan frekuensi diare dan muntah serta tampilan dari bahan muntah
dan diare (encer/darah/lendir)
3. Kapan terakhir berkemih
4. Sejak kapan tangan dan kaki teraba dingin.
5. Bila didapatkan hal tersebut di atas, sangat mungkin anak mengalami
dehidrasi dan/atau syok, serta harus diatasi segera.

Anamnesis lanjutan (untuk mencari penyebab dan rencana tatalaksana


selanjutnya, dilakukan setelah kedaruratan ditangani):

1. Diet (pola makan)/kebiasaan makan sebelum sakit


2. Riwayat pemberian ASI
3. Asupan makanan dan minuman yang dikonsumsi beberapa hari terakhir
4. Hilangnya nafsu makan
5. Kontak dengan pasien campak atau tuberkulosis paru
6. Pernah sakit campak dalam 3 bulan terakhir
7. Batuk kronik
8. Kejadian dan penyebab kematian saudara kandung
9. Berat badan lahir
10. Riwayat tumbuh kembang: duduk, berdiri, bicara dan lain-lain
11. Riwayat imunisasi
12. Apakah ditimbang setiap bulan
13. Lingkungan keluarga (untuk memahami latar belakang sosial anak)
14. Diketahui atau tersangka infeksi HIV

11
Pemeriksaan fisik

1. Apakah anak tampak sangat kurus, adakah edema pada kedua


punggung kaki. Tentukan status gizi dengan menggunakan BB/TB-PB
(lihat lampiran 5).
2. Tanda dehidrasi: tampak haus, mata cekung, turgor buruk (hati-hati
menentukan status dehidrasi pada gizi buruk).
3. Adakah tanda syok (tangan dingin, capillary refill time yang lambat,
nadi lemah dan cepat), kesadaran menurun.
4. Demam (suhu aksilar ≥ 37.5° C) atau hipotermi (suhu aksilar < 35.5°
C).
5. Frekuensi dan tipe pernapasan: pneumonia atau gagal jantung
6. Sangat pucat
7. Pembesaran hati dan ikterus
8. Adakah perut kembung, bising usus melemah/meninggi, tanda asites,
atau adanya suara seperti pukulan pada permukaan air (abdominal
splash)

d. Tatalaksana perawatan

Pada saat masuk rumah sakit

1. Anak dipisahkan dari pasien infeksi


2. Ditempatkan di ruangan yang hangat (25–30°c, bebas dari angin)
3. Dipantau secara rutin
4. Memandikan anak dilakukan seminimal mungkin dan harus segera
keringkan.

Demi keberhasilan tatalaksana diperlukan:

1. Fasilitas dan staf yang profesional (Tim Asuhan Gizi)


2. Timbangan badan yang akurat
3. Penyediaan dan pemberian makan yang tepat dan benar
4. Pencatatan asupan makanan dan berat badan anak, sehingga kemajuan
selama perawatan dapat dievaluasi
5. Keterlibatan orang tua.
6. Tanda defisiensi vitamin A pada mata:
a. Konjungtiva atau kornea yang kering, bercak Bitot
b. Ulkus kornea
c. Keratomalasia
7. Ulkus pada mulut
8. Fokus infeksi: telinga, tenggorokan, paru, kulit
9. Lesi kulit pada kwashiorkor:
a. hipo- atau hiper-pigmentasi
b. deskuamasi
c. ulserasi (kaki, paha, genital, lipatan paha, belakang telinga)

12
d. lesi eksudatif (menyerupai luka bakar), seringkali dengan infeksi
sekunder (termasuk jamur).
10. Tampilan tinja (konsistensi, darah, lendir).
11. Tanda dan gejala infeksi HIV

Catatan

a) Anak dengan defisiensi vitamin A seringkali fotofobia. Penting untuk


memeriksa mata dengan hati-hati untuk menghindari robeknya kornea.
b) Pemeriksaan laboratorium terhadap Hb dan atau Ht, jika didapatkan
anak sangat pucat.
c) Pada buku Pedoman TAGB untuk memudahkan penanganan
berdasarkan tanda bahaya dan tanda penting (syok, letargis, dan
muntah/diare/ dehidrasi), anak gizi buruk dikelompokkan menjadi 5
kondisi klinis dan diberikan rencana terapi cairan dan makanan yang
sesuai.

e. Tatalaksana umum

1) Penilaian triase anak dengan gizi buruk dengan tatalaksana syok pada
anak dengan gizi buruk.
2) Jika ditemukan ulkus kornea, beri vitamin A dan obat tetes mata
kloramfenikol/ tetrasiklin dan atropin; tutup mata dengan kasa yang telah
dibasahi dengan larutan garam normal, dan balutlah. Jangan beri obat
mata yang mengandung steroid.
3) Jika terdapat anemia berat, diperlukan penanganan segera
4) Penanganan umum meliputi 10 langkah dan terbagi dalam 2 fase yaitu:
fase stabilisasi dan fase rehabilitasi.

13
Alur pemeriksaan gizi buruk menurut kementrian kesehatan 2011

Alur pelayanan anak gizi buruk di Rumah Sakit/Puskesmas Perawatan


(KEMENKES,2011)

14
A. Hipoglikemia
Semua anak dengan gizi buruk berisiko hipoglikemia (kadar gula
darah < 3 mmol/L atau < 54 mg/dl) sehingga setiap anak gizi buruk harus
diberi makan atau larutan glukosa/gula pasir 10% segera setelah masuk
rumah sakit (lihat bawah). Pemberian makan yang sering sangat penting
dilakukan pada anak gizi buruk. Jika fasilitas setempat tidak
memungkinkan untuk memeriksa kadar gula darah, maka semua anak gizi
buruk harus dianggap menderita hipoglikemia dan segera ditangani sesuai
panduan.
Tatalaksana ipoglikemi

a) Segera beri F-75 pertama atau modifikasinya bila penyediaannya


memungkinkan.
b) Bila F-75 pertama tidak dapat disediakan dengan cepat, berikan 50
ml larutan glukosa atau gula 10% (1 sendok teh munjung gula dalam
50 ml air) secara oral atau melalui NGT.
c) Lanjutkan pemberian F-75 setiap 2–3 jam, siang dan malam selama
minimal dua hari.
d) Bila masih mendapat ASI teruskan pemberian ASI di luar jadwal
pemberian F-75.
e) Jika anak tidak sadar (letargis), berikan larutan glukosa 10% secara
intravena (bolus) sebanyak 5 ml/kg BB, atau larutan glukosa/larutan
gula pasir 50 ml dengan NGT.
f) Beri antibiotik.

Pemantuaan hipoglikemi

a) Jika kadar gula darah awal rendah, ulangi pengukuran kadar gula
darah setelah 30 menit.

15
b) Jika kadar gula darah di bawah 3 mmol/L (< 54 mg/dl), ulangi
pemberian larutan glukosa atau gula 10%.
c) Jika suhu rektal < 35.5° C atau bila kesadaran memburuk, mungkin
hipoglikemia disebabkan oleh hipotermia, ulangi pengukuran kadar
gula darah dan tangani sesuai keadaan (hipotermia dan
hipoglikemia).

Pencegahan
Beri makanan awal (F-75) setiap 2 jam, mulai sesegera mungkin atau jika
perlu, lakukan rehidrasi lebih dulu. Pemberian makan harus teratur setiap
2-3 jam siang malam.

B. Hipotermia

Diagnosis hipotermia : Suhu aksilar < 35.5° C


Tatalaksana hipotermia
a) Segera beri makan F-75 (jika perlu, lakukan rehidrasi lebih dulu).
b) Pastikan bahwa anak berpakaian (termasuk kepalanya). Tutup
dengan selimut hangat dan letakkan pemanas (tidak mengarah
langsung kepada anak) atau lampu di dekatnya, atau letakkan anak
langsung pada dada atau perut ibunya (dari kulit ke kulit: metode
kanguru). Bila menggunakan lampu listrik, letakkan lampu pijar 40
W dengan jarak 50 cm dari tubuh anak.
c) Beri antibiotik sesuai pedoman.

Pemantauan hipotermia
a) Ukur suhu aksilar anak setiap 2 jam sampai suhu meningkat menjadi
36.5° C atau lebih. Jika digunakan pemanas, ukur suhu tiap setengah
jam. Hentikan pemanasan bila suhu mencapai 36.5° C
b) Pastikan bahwa anak selalu tertutup pakaian atau selimut, terutama
pada malam hari
c) Periksa kadar gula darah bila ditemukan hipotermia

Pencegahan hipotermia
a) Letakkan tempat tidur di area yang hangat, di bagian bangsal yang
bebas angin dan pastikan anak selalu tertutup pakaian/selimut
b) Ganti pakaian dan seprai yang basah, jaga agar anak dan tempat tidur
tetap kering
c) Hindarkan anak dari suasana dingin (misalnya: sewaktu dan setelah
mandi, atau selama pemeriksaan medis)
d) Biarkan anak tidur dengan dipeluk orang tuanya agar tetap hangat,
terutama di malam hari
e) Beri makan F-75 atau modifikasinya setiap 2 jam, mulai sesegera
mungkin, sepanjang hari, siang dan malam.

C. Dehidrasi

16
Cenderung terjadi diagnosis berlebihan dari dehidrasi dan estimasi yang
berlebihan mengenai derajat keparahannya pada anak dengan gizi buruk.
Hal ini disebabkan oleh sulitnya menentukan status dehidrasi secara tepat
pada anak dengan gizi buruk, hanya dengan menggunakan gejala klinis
saja. Anak gizi buruk dengan diare cair, bila gejala dehidrasi tidak jelas,
anggap dehidrasi ringan.
Catatan: hipovolemia dapat terjadi bersamaan dengan adanya edema.

Tatalaksana dehidrasi
a) Jangan gunakan infus untuk rehidrasi, kecuali pada kasus dehidrasi
berat dengan syok.
b) Beri ReSoMal, secara oral atau melalui NGT, lakukan lebih lambat
dibanding jika melakukan rehidrasi pada anak dengan gizi baik.

1) Beri 5 ml/kgbb setiap 30 menit untuk 2 jam pertama


2) Setelah 2 jam, berikan resomal 5–10 ml/kgbb/jam berselang-
seling dengan F-75 dengan jumlah yang sama, setiap jam selama
10 jam. Jumlah yang pasti tergantung seberapa banyak anak
mau, volume tinja yang keluar dan apakah anak muntah.
3) Catatan: Larutan oralit WHO (WHO-ORS) yang biasa
digunakan mempunyai kadar natrium tinggi dan kadar kalium
rendah; cairan yang lebih tepat adalah resomal (lihat resep di
bawah).
c) Selanjutnya berikan F-75 secara teratur setiap 2 jam sesuai tabel 27
d) Jika masih diare, beri ReSoMal setiap kali diare. Untuk usia < 1 th:
50-100 ml setiap buang air besar, usia ≥ 1 th: 100-200 ml setiap buang
air besar.

Pemantauan dehidrasi
Pantau kemajuan proses rehidrasi dan perbaikan keadaan klinis
setiap setengah jam selama 2 jam pertama, kemudian tiap jam sampai 10
jam berikutnya. Waspada terhadap gejala kelebihan cairan, yang sangat
berbahaya dan bisa mengakibatkan gagal jantung dan kematian.
Periksalah frekuensi napas, frekuensi nadi, frekuensi miksi dan jumlah
produksi urin dan frekuensi buang air besar dan muntah
Selama proses rehidrasi, frekuensi napas dan nadi akan berkurang
dan mulai ada diuresis. Kembalinya air mata, mulut basah; cekung mata
dan fontanel berkurang serta turgor kulit membaik merupakan tanda
membaiknya hidrasi, tetapi anak gizi buruk seringkali tidak
memperlihatkan tanda tersebut walaupun rehidrasi penuh telah terjadi,
sehingga sangat penting untuk memantau
berat badan. Jika ditemukan tanda kelebihan cairan (frekuensi napas
meningkat 5x/menit dan frekuensi nadi 15x/menit), hentikan pemberian
cairan/ReSoMal segera dan lakukan penilaian ulang setelah 1 jam.
Pencegahan dehidrasi

17
Cara mencegah dehidrasi akibat diare yang berkelanjutan sama dengan
pada anak dengan gizi baik, kecuali penggunaan cairan ReSoMal sebagai
pengganti larutan oralit standar.
a) Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan pemberian ASI
b) Pemberian F-75 sesegera mungkin
c) Beri ReSoMal sebanyak 50-100 ml setiap buang air besar cair.

D. Gangguan Keseimbangan Elektrolit


Semua anak dengan gizi buruk mengalami defisiensi kalium dan
magnesium yang mungkin membutuhkan waktu 2 minggu atau lebih
untuk memperbaikinya. Terdapat kelebihan natrium total dalam tubuh,
walaupun kadar natrium serum mungkin rendah. Edema dapat diakibatkan
oleh keadaan ini. Jangan obati edema dengan diuretikum. Pemberian
natrium berlebihan dapat menyebabkan kematian.

Tatalaksana Defisiensi Elektrolit

a. Untuk mengatasi gangguan elektrolit diberikan Kalium dan


Magnesium, yang sudah terkandung di dalam larutan Mineral-Mix
yang ditambahkan ke dalam F-75, F-100 atau ReSoMal
b. Gunakan larutan ReSoMal untuk rehidrasi
c. Siapkan makanan tanpa menambahkan garam (NaCl).

E. Infeksi
Pada gizi buruk, gejala infeksi yang biasa ditemukan seperti demam,
seringkali tidak ada, padahal infeksi ganda merupakan hal yang sering
terjadi. Oleh karena itu, anggaplah semua anak dengan gizi buruk
mengalami infeksi saat mereka datang ke rumah sakit dan segera tangani
dengan antibiotik. Hipoglikemia dan hipotermia merupakan tanda infeksi
berat.
Tatalaksana Infeksi = Berikan pada semua anak dengan gizi buruk:
a) Antibiotik spektrum luas
b) Vaksin campak jika anak berumur ≥ 6 bulan dan belum pernah
mendapatkannya, atau jika anak berumur > 9 bulan dan sudah pernah
diberi vaksin sebelum berumur 9 bulan. Tunda imunisasi jika anak
syok.
Pilihan antibiotik spektrum luas
a) Jika tidak ada komplikasi atau tidak ada infeksi nyata, beri
Kotrimoksazol per oral (25 mg SMZ + 5 mg TMP/kgBB setiap 12
jam (dosis: lihat lampiran 2) selama 5 hari
b) Jika ada komplikasi (hipoglikemia, hipotermia, atau anak terlihat
letargis atau tampak sakit berat), atau jelas ada infeksi, beri:

18
a. Ampisilin (50 mg/kgBB IM/IV setiap 6 jam selama 2 hari),
dilanjutkan dengan Amoksisilin oral (15 mg/kgBB setiap 8
jam selama 5 hari) ATAU, jika tidak tersedia amoksisilin, beri
Ampisilin per oral (50 mg/kgBB setiap 6 jam selama 5 hari)
sehingga total selama 7 hari, ditambah:
b. Gentamisin (7.5 mg/kgBB/hari IM/IV) setiap hari selama 7
hari.

Catatan: Jika anak anuria/oliguria, tunda pemberian


gentamisin dosis ke-2 sampai ada diuresis untuk mencegah
efek samping/toksik gentamisin

c) Jika anak tidak membaik dalam waktu 48 jam, tambahkan


Kloramfenikol (25 mg/kgBB IM/IV setiap 8 jam) selama 5 hari.
a. Jika diduga meningitis, lakukan pungsi lumbal untuk
memastikan dan obati dengan Kloramfenikol (25 mg/kg setiap
6 jam) selama 10 hari
b. Jika ditemukan infeksi spesifik lainnya (seperti pneumonia,
tuberkulosis, malaria, disentri, infeksi kulit atau jaringan
lunak), beri antibiotik yang sesuai. Beri obat antimalaria bila
pada apusan darah tepi ditemukan parasit malaria. Walaupun
tuberkulosis merupakan penyakit yang umum terdapat, obat
anti tuberkulosis hanya diberikan bila anak terbukti atau sangat
diduga menderita tuberkulosis.
c.
Pengobatan terhadap parasit cacing
Jika terdapat bukti adanya infestasi cacing, beri mebendazol (100 mg/kgBB)
selama 3 hari atau albendazol (20 mg/kgBB dosis tunggal). Beri
mebendazol setelah 7 hari perawatan, walaupun belum terbukti adanya
infestasi cacing.

Pemantauan
Jika terdapat anoreksia setelah pemberian antibiotik di atas, lanjutkan
pengobatan sampai seluruhnya 10 hari penuh. Jika nafsu makan belum
membaik, lakukan penilaian ulang menyeluruh pada anak.

F. Defisiensi Zat Gizi Mikro


Semua anak gizi buruk mengalami defisiensi vitamin dan mineral.
Meskipun sering ditemukan anemia, jangan beri zat besi pada fase awal,
tetapi tunggu sampai anak mempunyai nafsu makan yang baik dan mulai
bertambah berat badannya (biasanya pada minggu kedua, mulai fase
rehabilitasi), karena zat besi dapat memperparah infeksi.
Tatalaksana
Berikan setiap hari paling sedikit dalam 2 minggu:

19
1. Multivitamin
2. Asam folat (5 mg pada hari 1, dan selanjutnya 1 mg/hari)
3. Seng (2 mg Zn elemental/kgBB/hari)
4. Tembaga (0.3 mg Cu/kgBB/hari)
5. Ferosulfat 3 mg/kgBB/hari setelah berat badan naik (mulai fase
rehabilitasi)
6. Vitamin A: diberikan secara oral pada hari ke 1 (kecuali bila telah
diberikan sebelum dirujuk), dengan dosis seperti di bawah ini :

Umur Dosis (IU)

<6 bulan 50.000 (1/2 kapsul biru)

6-12 bulan 100.000 (1 kapsul biru)

1-5 tahun 200.000 (1 kapsul merah)

Jika ada gejala defisiensi vitamin A, atau pernah sakit campak dalam 3 bulan
terakhir, beri vitamin A dengan dosis sesuai umur pada hari ke 1, 2, dan 15.
Pemberian makan awal (Initial refeeding)
Pada fase awal, pemberian makan (formula) harus diberikan secara hati-hati
sebab keadaan fisiologis anak masih rapuh.
Tatalaksana : Sifat utama yang menonjol dari pemberian makan awal
adalah:

1. Makanan dalam jumlah sedikit tetapi sering dan rendah osmolaritas


maupun rendah laktosa
2. Berikan secara oral atau melalui NGT, hindari penggunaan parenteral
3. Energi: 100 kkal/kgBB/hari
4. Protein: 1-1.5 g/kgBB/hari
5. Cairan: 130 ml/kgBB/hari (bila ada edema berat beri 100 ml/kgBB/hari)

20
6. Jika anak masih mendapat ASI, lanjutkan, tetapi pastikan bahwa jumlah
F-75 yang ditentukan harus dipenuhi. (lihat bawah)

Pemantauan
1. Jumlah makanan yang diberikan dan dihabiskan
2. Muntah
3. Frekuensi defekasi dan konsistensi feses
4. Berat badan.

c) Gizi lebih
Kegemukan dan obesitas terjadi akibat asupan energi lebih tinggi daripada
energi yang dikeluarkan. Asupan energi tinggi disebabkan oleh konsumsi
makanan sumber energi dan lemak tinggi, sedangkan pengeluaran energi yang
rendah disebabkan karena kurangnya aktivitas sik dan sedentary life style.
Kegemukan dan obesitas terutama disebabkan oleh faktor lingkungan.
Faktor genetik meskipun diduga juga berperan tetapi tidak dapat menjelaskan
terjadinya peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas. Pengaruh faktor
lingkungan terutama terjadi melalui ketidakseimbangan antara pola makan,
perilaku makan dan aktivitas sik. Hal ini terutama berkaitan dengan perubahan
gaya hidup yang mengarah pada sedentary life style.
Pola makan yang merupakan pencetus terjadinya kegemukan dan obesitas
adalah mengkonsumsi makanan porsi besar (melebihi dari kebutuhan),
makanan tinggi energi, tinggi lemak, tinggi karbohidrat sederhana dan rendah
serat. Sedangkan perilaku makan yang salah adalah tindakan memilih makanan
berupa junk food, makanan dalam kemasan dan minuman ringan (soft drink).
Selain pola makan dan perilaku makan, kurangnya aktivitas sik juga
merupakan faktor penyebab terjadinya kegemukan dan obesitas pada anak
sekolah. Keterbatasan lapangan untuk bermain dan kurangnya fasilitas untuk
beraktivitas sik menyebabkan anak memilih untuk bermain di dalam rumah.
Selain itu, kemajuan teknologi berupa alat elektronik seperti video games,
playstation, televisi dan komputer menyebabkan anak malas untuk melakukan
aktivitas fisik.
Pencegahan dan Penanggulangan kegemukan dan obesitas pada anak
sekolah merupakan suatu upaya komprehensif yang melibatkan stakeholder
yang ada di wilayah. Stakeholders mempunyai peran sesuai dengan tanggung
jawab dan kewenangan, melalui koordinasi dengan kepala Puskesmas.
Kegiatan Pencegahan dan Penanggulangan kegemukan dan obesitas pada
anak sekolah meliputi promosi, penemuan dan tatalaksana kasus yang dalam
pelaksanaannya melibatkan anak, orangtua, guru, komite sekolah dan
stakeholder.

A. Persiapan
1. Pertemuan koordinasi lintas sektor terkait 


21
2. Penyiapan tim tenaga pelaksana 

3. Pertemuan pembahasan perencanaan kegiatan
a. Penentuan jumlah sasaran 

b. Perhitungan kebutuhan logistik : timbangan, microtoise, formulir,
tabel imt, food model, materi kie, pencatatan dan pelaporan,dll 

c. Penyusunan jadwal kegiatan 

d. Penyusunan mekanisme kerja dan pembagian tugas serta

 tanggungjawab masing-masing sektor terkait 


B. Pelaksanaan
1) Pencegahan
Pencegahan dilakukan melalui pendekatan kepada anak sekolah beserta
orang-orang terdekatnya (orang tua, guru, teman, dll) untuk
mempromosikan gaya hidup sehat meliputi pola dan perilaku makan erta
aktivitas sik. Strategi pendekatan dilakukan pada semua anak sekolah baik
yang berisiko menjadi kegemukan dan obesitas maupun tidak.
 Usaha
pencegahan dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat dan
fasilitas pelayanan kesehatan. Lingkungan sekolah merupakan tempat
yang baik untuk pendidikan kesehatan yang dapat memberikan
pengetahuan, keterampilan serta dukungan sosial dari warga sekolah.
Pengetahuan, keterampilan serta dukungan sosial ini memberikan
perubahan perilaku makan sehat yang dapat diterapkan dalam jangka
waktu lama. Tujuan pencegahan ini adalah terjadinya perubahan pola dan
perilaku makan meliputi meningkatkan kebiasaan konsumsi buah dan
sayur, mengurangi konsumsi makanan dan minuman manis, mengurangi
konsumsi makanan tinggi energi dan lemak, mengurangi konsumsi junk
food, serta peningkatan aktivitas sik dan mengurangi sedentary life style.

Pola Hidup Sehat Cegah Kegemukan

A. Konsumsi buah dan sayur ≥ 5 porsi per hari


B. Membatasi menonton TV, bermain komputer, game/ playstation < 2
jam/hari Tidak menyediakan TV di kamar anak

C. Mengurangi makanan dan minuman manis
D. Mengurangi makanan berlemak dan gorengan
E. Kurangi makan diluar
F. Biasakan makan pagi dan membawa makanan bekal ke sekolah
 l
Biasakan makan bersama keluarga minimal 1 x sehari

22
G. Makanlah makanan sesuai dengan waktunya
H. Tingkatkan aktivitas fisik minimal 1 jam/hari
I. Melibatkan keluarga untuk perbaikan gaya hidup untuk pencegahan
gizi lebih
J. Target penurunan BB yang sehat
2) Penemuan dan Tata Laksana Kasus

Disamping kegiatan promosi peningkatan kesadaran gizi dan


pencegahan kegemukan dan obesitas pada anak sekolah, juga dapat
dilakukan kegiatan penemuan kasus kegemukan dan obesitas. Namun
untuk menghindari stigmatisasi anak di sekolah, penegakan diagnosis dan
penatalaksanaan selanjutnya dilaksanakan di Puskesmas/Fasilitas
Pelayanan Kesehatan lainnya.

A. Penemuan Kasus : dilaksanakan setiap tahun melalui kegiatan


penjaringan kesehatan di sekolah. Langkah-langkah kegiatan
a. Pengukuran Antropometri
i. Penimbangan Berat Badan
ii. Pengukuran Tinggi Badan 

Setelah dilakukan pengukuran antropometri oleh petugas gizi
atau tenaga kesehatan lainnya bersama guru UKS. Selanjutnya
data yang diperoleh dilaporkan ke Puskesmas, untuk
ditentukan status gizinya dan tindak lanjut. 

b. Penentuan Status Gizi (di Puskesmas)
i. Menghitung nilai IMT
ii. Membandingkan nilai IMT dengan Gra k IMT/U

 berdasarkan Standar WHO 2005
iii. Menentukan status gizi anak : 
 l Kurus : < - 2 SD
 l Normal
: - 2 SD s/d 1 SD 
 Gemuk : >1 s/d 2 SD l Obesitas : > 2 SD
c. Tindak lanjut :
 Kesimpulan hasil penjaringan kesehatan di
sekolah termasuk hasil pemeriksaan status gizi disampaikan
kepada orang tua dalam amplop tertutup melalui sekolah dengan
ketentuan sebagai berikut
i. Jika ditemukan anak sekolah dengan status gizi kurus, maka
anak dirujuk ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut
ii. Jika ditemukan anak sekolah dengan status gizi normal, maka
dianjurkan untuk melanjutkan pola hidup sehat
 l Jika
ditemukan anak sekolah dengan status gizi gemuk atau
obesitas, maka anak dirujuk ke puskesmas untuk pemeriksaan

23
lebih lanjut
iii. Pihak sekolah/UKS bertugas memberikan dukungan dan
motivasi agar anak melaksanakan pola hidup sehat sesuai
anjuran dari puskesmas, serta berusaha menyediakan
lingkungan yang kondusif untuk anak.
3) Tatalaksana kasus kegemukan dan obesitas di puskesmas
A. Melakukan assesment (anamnesa riwayat penyakit dan 
 penyakit
keluarga, pengukuran antropomentri dan status gizi, pemeriksaan sik,
laboratorium sederhana, anamnesa riwayat diet) 

B. Bila hasil assesment menunjukkan anak mengalami kegemukan dan
obesitas dengan komorbiditas (hipertensi, diabetes melitus, sleep
apnea, Blount disease dan lain-lain), maka dirujuk ke rumah sakit
untuk penanganan lebih lanjut. 

C. Bila hasil assesment menunjukkan anak mengalami kegemukan dan
obesitas tanpa komorbiditas maka dapat dilakukan tatalaksana
kegemukan dan obesitas di Puskesmas. 

D. Melakukan konseling gizi kepada anak dan keluarga agar
melaksanakan pola hidup sehat selama 3 bulan . 

E. Lakukan evaluasi pada 3 bulan pertama. 

1) Bila berat badan anak turun atau tetap maka dianjurkan untuk
meneruskan pola hidup sehat dan dilakukan evaluasi kembali
setiap 3 bulan
2) Bila berat badan anak naik , maka dilakukan kegiatan

24
LO 2 Memahami dan menjelasakan gaya hidup tidak sehat

Pola hidup sehat merupakan pola kebiasaan hidup yang berpegang pada
prinsip menjaga kesehatan. Pola hidup sehat mencakup pola makan, menjaga
kesehatan pribadi, istirahat yang cukup,dan aktif berolahraga. Orang yang
beperilaku hidup sehat antara lain memunyai ciri sebagai berikut:
mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang, mengonsumsi makanan berserat
tinggi sayuran,dan buah segar setiap hari, menghindari makanan yang
mengandung banyak lemak gula atau garam, mengonsumsi susu atau produk
dari susu setiap hari, tenang dan selalu berpikir positif, ada usaha menjaga
berat badan dalam batas normal, olahraga teratur, cukup istirahat, minum
air putih 1.52 liter perhari, tidak merokok.
Pengertian Perilaku

Dari segi biologis, perilaku adalah suatu kegiatan atau aktifitas organisme
(makhluk hidup) yang bersangkutan. Oleh sebab itu, dari sudut pandang biologis
semua makhluk hidup mulai dari tumbuh-tumbuhan, binatang sampai dengan
manusia itu berperilaku, karena mereka mempunyai aktivitas masing-masing.
Dari uraian ini dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud perilaku (manusia)
adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung

25
maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar. Skiner (1938) seorang ahli
psikologis, merumuskan bahwa perilaku merupakan respons atau reaksi
seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar).

Dilihat dari bentuk respons terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat dibedakan
menjadi dua:

1. Perilaku tertutup (covert behavior)


Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup
(covert). Misalnya : seorang ibu hamil tahu pentingnya periksa kehamilan,
seorang pemuda tahu bahwa HIV/AIDS dapat menular melalui hubungan
seks, dan sebagainya.
2. Perilaku terbuka (overt behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau
terbuka. Misalnya : seorang ibu memeriksa kehamilannya atau membawa
anaknya ke puskesmas untuk diimunisasi.

Perilaku Kesehatan Individu

Perilaku kesehatan individu pada dasarnya adalah suatu respons seseorang


(organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan. Batasan ini mempunyai 2 unsur
pokok, yakni respons dan stimulus atau perangsangan. Respons atau reaksi
manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi, dan sikap) maupun bersifat
aktif (tindakan yang nyata atau practice). Sedangkan stimulus atau rangsangan
terdiri 4 unsur pokok, yakni : sakit & penyakit, sistem pelayanan kesehatan,
makanan, dan lingkungan. Dari batasan ini perilaku kesehatan dapat
diklasifikasikan menjadi 4 kelompok :

1) Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (health maintenance) adalah perilaku atau


usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak
sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Oleh sebeb itu perilaku
pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek :
a. Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit bila sakit,
serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.
b. perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan
sakit.
c. perilaku gizi (makanan & minuman).
2) Perilaku Pencarian atau Penggunaan Sistem atau Fasilitas Pelayanan
Kesehatan atau sering disebut Perilaku Pencarian Pengobatan (health
seeking behavior) adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada
saat menderita dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari

26
mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar
negeri.
3) Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior), yakni respons seseorang
terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan, meliputi
pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek kita terhadap makanan serta unsur-
unsur yang terkandung di dalamnya/zat gizi, pengelolaan makanan, dll.
4) Perilaku Kesehatan Lingkungan adalah bagaimana seseorang merespon
lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial budaya dan bagaimana
sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. Seorang
ahli lain (Becker, 1979) membuat klasifikasi tentang perilaku kesehatan ini.
a. Perilaku hidup sehat adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan
upaya atau kegiatan seseorang untuk mempertahankan dan
meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini mencakup antara lain :
a) Menu seimbang
b) Olahraga teratur
c) Tidak merokok
d) Tidak minum-minuman keras dan narkoba
e) Istirahat yang cukup
f) Pengendalian stres
g) Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan
b. Perilaku sakit mencakup respon seseorang terhadap sakit dan
penyakit. Persepsinya terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab
dan gejala penyakit, pengobatan penyakit dan sebagainya, dsb.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior) mencakup :
a) Tindakan untuk memperoleh kesembuhan.
b) Mengenal/mengetahu fasilitas atau sasaran pelayanan
penyembuhan penyakit yang layak.
c) Mengetahu hak (misalnya : hak memperoleh perawatan
dan pelayanan kesehatan).
d)
Kosa & Robertson mengatakan bahwa perilaku kesehatan individu cenderung
dipengaruhi oleh kepercayaan orang yang bersangkutan terhadap kondisi
kesehatan yang diinginkan dan kurang berdasarkan pada pengetahuan biologi.
Memang kenyataannya demikian, tiap indivisu mempunyai cara yang berbeda
dalam mengambil tindakan penyembuhan atau pencegahan yang berbeda
meskipun gangguan kesehatannya sama. Pada umumnya tindakan yang diambil
berdasarkan penilaian individu atau mungkin dibantu oleh orang lain terhadap
gangguan tersebut. Penilaian semacam ini menunjukkan bahwa gangguan yang
dirasakan individu menstimulasi dimulainya suatu proses sosial psikologis.
Proses semacam ini menggambarkan berbagai tindakan yang dilakukan si
penderita mengenai gangguan yang dialami dan merupakan bagian integral

27
interaksi sosial pada umumnya. Proses ini mengikuti suatu keteraturan tertentu
yang dapat diklasifikasikan dalam 4 bagian, yakni :
1) Adanya suatu penilaian dari orang yang bersangkutan terhadap suatu
gangguan atau ancaman kesehatan. Dalam hal ini persepsi individu yang
bersangkutan atau orang lain (anggota keluarga) terhadap gangguan tersebut
akan berperan. Selanjutnya gangguan dikomunikasikan kepada orang lain
(anggota keluarga) dan mereka yang diberi informasi tersebut menilai
dengan kriteria subjektif.
2) Timbulnya kecemasan karena adanya persepsi terhadap gangguan tersebut.
Disadari bahwa setiap gangguan kesehatan akan menimbulkan kecemasan
baik bagi yang bersangkutan maupun bagi anggota keluarga lainnya.
Bahkan gangguan tersebut dikaitkan dengan ancaman adanya kematian.
Dari ancaman-ancaman ini akan menimbulkan bermacam-macam bentuk
perilaku.
3) Penerapan pengetahuan orang yang bersangkutan mengenai hal-hal yang
berhubungan dengan masalah kesehatan, khususnya mengenai gangguan
yang dialaminya. Oleh karena gangguan kesehatan terjadi secara teratur di
dalam suatu kelompok tertentu maka setiap irang di dalam kelompok
tersebut dapat menghimpun pengetahuan tentang berbagai macam
gangguan kesehatan yang mungkin terjadi. Dari sini sekaligus orang
menghimpun berbagai cara mengatasi gangguan kesehatan itu baik secara
tradisional maupun modern. Berbagai cara penerapan pengetahuan baik
dalam menghimpun berbagai macam gangguan maupun cara-cara
mengatasinya tersebut merupakan pencerminan dari berbagai bentuk
perilaku.
4) Dilakukannya tindakan manipulatif untuk meniadakan atau menghilangkan
kecemasan atau gangguan tersebut. Di dalam hal ini baik orang awam
maupun tenaga kesehatan melakukan manipulasi tertentu dalam arti
melakukan sesuatu untuk mengatasi gangguan kesehatan. Dari sini lahirlah
pranata-pranata kesehatan baik tradisional maupun modern.

28
LO 3 Memahami dan menjelasakan kejadian luar biasa
a. Definisi
Kejadian Luar Biasa (KLB) merupakan timbulnya atau meningkatnya
kejadian kesakitan dan/atau kematian yang bermakna secara epidemiologi pada
suatu daerah dalam kurun waktu tertentu, dan merupakan keadaan yang dapat
menjurus pada terjadinya wabah (Permenkes RI,2010).

b. Klasifikasi

Menurut Bustan (2002), Klasifikasi KLB dibagi menjadi:

1. Berdasarkan penyebab
a) Toxin:
1) Entero toxin, misal yang dihasilkan oleh Staphylococcus aureus,
Vibrio, Kholera, Eschorichia, Shigella.
2) Exotoxin (bakteri), misal yang dihasilkan oleh Clostridium
botulinum, Clostridium perfringens.
3) Endotoxin
b) Infeksi: virus, bakteri, protozoa, cacing.
c) Toxin biologis: racun jamur, aflatoxin, plankton, racun ikan, racun
tumbuh-tumbuhan.
d) Toxin kimia:
1) Zat kimia organik: logam berat (seperti air raksa, timah), logam-
logam lain cyanida, nitrit, pestisida.
2) Gas-gas beracun: CO, CO2, HCN, dan lain sebagainya.

2. Berdasarkan sumber
a) Sumber dari manusia: misalnya jalan napas, tangan, tinja, air seni,
muntahan seperti: Salmonella, Shigella, hepatitis.
b) Bersumber dari kegiatan manusia: misalnya toxin dari pembuatan tempe
bongkrek, penyemprotan pencemaran lingkungan.
c) Bersumber dari binatang: misalnya binatang peliharaan, rabies dan
binatang mengerat.

29
d) Bersumber pada serangga (lalat, kecoak): misalnya Salmonella,
Staphylococcus, Streptococcus.
e) Bersumber dari udara: misalnya Staphylococcus, Streptococcus virus.
f) Bersumber dari permukaan benda-benda atau alat-alat: misalnya
Salmonella.
g) Bersumber dari makanan dan minuman: misalnya keracunan singkong,
jamur, makanan dalam kaleng.

Faktor-faktor yang mempengaruhi


Menurut Notoatmojo (2003), faktor yang mempengaruhi timbulnya KLB
adalah:

1. Herd Immunity yang rendah


Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya KLB/wabah
adalah herd immunity. Secara umum dapat dikatakan bahwa herd immunity
ialah kekebalan yang dimiliki oleh sebagian penduduk yang dapat
menghalangi penyebaran. Hal ini dapat disamakan dengan tingkat
kekebalan individu. Semakin tinggi tingkat kekebalan seseorang, maka
semakin sulit orang tersebut terkena penyakit.

2. Patogenesitas
Patogenesitas merupakan kemampuan bibit penyakit untuk
menimbulkan reaksi pada pejamu sehingga timbul sakit.

3. Lingkungan Yang Buruk


Seluruh kondisi yang terdapat di sekitar organism, tetapi mempengaruhi
kehidupan ataupun perkembangan organisme tersebut.

Kriteria KLB
Berdasarkan Permenkes RI tahun 2010 suatu daerah dapat ditetapkan dalam
keadaan KLB apabila memenuhi salah satu kriteria dibawah ini, yaitu:
1. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau
tidak dikenal pada suatu daerah.
2. Peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama tiga kurun waktu
(jam, hari atau minggu) berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
3. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan
periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari atau minggu menurut
jenis penyakitnya.

30
4. Jumlah penderita baru dalam periode waktu satu bulan menunjukkan
kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan
dalam tahun sebelumnya.
5. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama satu tahun
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata
jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya.
6. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam satu kurun
waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan
angka kematian kasus suatu penyakit periode sebelumnya dalam kurun
waktu yang sama.
7. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu
periode menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih disbanding satu periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.

Langkah-langkah penyelidikan KLB

Penyelidikan KLB mempunyai tujuan utama yaitu mencegah meluasnya


(penanggulangan) dan terulangnya KLB di masa yang akan datang. Langkah-
langkah yang harus dilalui pada penyelidikan KLB, adalah:

1. Mempersiapkan penelitian lapangan.


2. Menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB.
3. Memastikan diagnosa etiologis.
4. Mengidentifikasikan dan menghitung kasus atau paparan.
5. Mendeskripsikan kasus berdasarkan orang, waktu, dan tempat.
6. Membuat cara penanggulangan sementara dengan segera (jika diperlukan).
7. Mengidentifikasi sumber penularan dan keadaan penyebab KLB.
8. Merencanakan penelitian lain yang sistematis.
9. Menetapkan saran cara pengendalian dan penanggulangan.
10. Melaporkan hasil penyelidikan kepada instansi kesehatan setempat dan
kepada sistim pelayanan kesehatan yang lebih tinggi.

Penanggulangan KLB/wabah

Berdasarkan Permenkes tahun 2010 penanggulangan KLB atau wabah terdiri


dari:

1. Penyelidikan epidemiologis.
2. Penatalaksanaan penderita (pemeriksaan, pengobatan, perawatan dan
isolasi penderita, tindakan karantina).
3. Pencegahan dan pengebalan.
4. Pemusnahan penyebab penyakit.
5. Penanganan jenazah akibat wabah.
6. Penyuluhan kepada masyarakat.

31
7. Upaya penanggulangan lainnya seperti :
a) Meliburkan sekolah untuk sementara waktu
b) Menutup fasilitas umum untuk sementara waktu
c) Melakukan pengamatan secara intensif/surveilans selama terjadi KLB
d) M elakukan evaluasi terhadap upaya penanggulangan secara
keseluruhan.

LO 4 Memahami dan menjelaskan wabah


Menurut UU No. 4 Tahun 1984, kejadian Luar Biasa (KLB) adalah
timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna
secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan
menjurus kepada wabah. Wabah adalah kejadian berjangkitnya penyakit
menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata,
melebihi dari keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat
menimbulkan petaka.

Bentuk wabah menurut sifatnya


1. Common Source Epidemic
Keadaan wabah dengan bentuk common source epidemic (CSE) adalah suatu
letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam
suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadinya dalam waktu yang relatif
singkat ( sangat mendadak ). Jika keterpaparan kelompok serta penularan
penyakit berlangsung sangat cepat waktu yang sangat singkat (point of
epidemic atau poit source of epidemic), maka resultan dari semua kasus atau
kejadian berkembang hanya dalam satu masa tunas saja. Pada dasarnya
dijumpai bahwa pada CSE kurva epidemic mengikuti suatu distribusi normal,
sehingga dengan demikian bila proporsi kumulatif kasus digambarkan
menurut lamanya kejadian sakit (onset) akan berbentuk suatu garis lurus.
Median dari masa tunas dapat ditentukan secara mudah dengan membaca
waktu dari setengah (50%) yang terjadi pada grafik. Dalam hal ini,
pengetahuan tentang median dari masa tunas dapat menolong kita dalam
mengidentifikasi agent penyebab, mengingat tiap jenis agent mempunyai masa
tunas tertentu. Point source epidemic dapat pula terjadi pada penyakit oleh
faktor penyebab bukan infeksi yang menimbulkan keterpaparan umum seperti
adanya zat beracun polusi zat kimia yang beracun di udara terbuka.

2. Propagated atau Progressive Epidemic

32
Bentuk epidemic ini terjadi karena adanya penularan dari orang ke
orang baik secara langsung maupun tidak langsung melalui udara, makanan
maupun vektor. Kejadian epidemi semacam ini relatif lebih lama waktunya
sesuai dengan sifat penyakit serta lamanya masa tunas. Juga sangat di
pengaruhi oleh kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masyarakat
yang rentan terhadap penyakit tersebut. Masa tunas penyakit tersebut di atas
adalah sekitar satu bulan sehingga tampak masa epidemi cukup lama dengan
situasi peningkatan jumlah penderita dari waktu ke waktu sampai pada saat di
mana jumlah anggota masyarakat yang rentan mencapai batas yang minimal.
Pada saat sebagian besar anggota masyarakat sudah terserang penyakit maka
jumlah yang rentan mencapai batas kritis, sehingga kurva epidemi mulai
menurun sampai batas minimal.
Penyebaran masalah kesehatan menurut Waktu, dapat dibedakan menjadi 4
macam, yaitu :
1. Penyebaran Satu Saat
Beberapa keadaan khusus yang ditemukan pada penyebaran penyakit pada
Satu Saat dibedakan menjadi 2, yaitu :
a. Point –Source Epidemic
Disebut juga Common Source Epidemic yaitu : Suatu keadaan wabah
yang ditandai oleh:
1) Timbulnya gejala penyakit (onset penyakit) yang cepat,
2) Masa inkubasi yang pendek
3) Episode penyakit merupakan peristiwa tunggal
4) Hilangnya penyakit dalam waktu yang cepat
Contoh : Peristiwa keracunan makanan. Muncul hanya pada waktu
tertentu saja

b. Contagious Diseases Epidemic


Disebut juga Propagated Epidemic, adalah : Suatu keadaan wabah yg
ditandai oleh :
a. Masa inkubasi yang panjang,
b. Tim bulnya gejala penyakit (onset penyakit) yang pelan,
c. Episode penyakit me rupakan peristiwa m ajem uk,
d. Waktu munculnya penyakit tidak jelas,
e. Hilangnya penyakit dalam waktu yang lama.
Contoh : Wabah penyakit menular.

2. Penyebaran Satu Kurun Waktu

33
Yaitu Perhitungan penyebaran masalah kesehatan yg dilakukan pd satu
kurun waktu tertentu atau disebut Clustering Menurut Waktu. Digunakan
untuk mencari Penyebab Penyakit.
3. Penyebaran Siklis
Disebut penyebaran secara siklis bila Frekuensi suatu masalah kesehatan
naik atau turun menurut suatu siklus tertentu, misalnya menurut kalender
tertentu (minggu, bulan, tahun); menurut keadaan cuaca tertentu (musim
hujan, musim panas); menurut peristiwa tertentu (musim panen, paceklik).
4. Penyebaran Sekular
Disebut penyebaran secara sekular apabila perubahan yang terjadi
berlangsung dalam waktu yang cukup lama, Misalnya lebih dari 10 tahun.

Perbedaan definisi antara Wabah dan KLB :


Wabah harus mencakup:
1. Jumlah kasus yang besar.
2. Daerah yang luas
3. Waktu yang lebih lama.
4. Dampak yang timbulkan lebih berat.

Ukuran – ukuran dalam epidemiologi


Proporsi adalah perbandingan yang pembilangnya merupakan bagian dari
penyebut. Proporsi digunakan untuk melihat komposisi suatu variabel dalam
populasi

Ratio adalah perbandingan dua bilangan yang tidak saling tergantung. Ratio
digunakan untuk menyatakan besarnya kejadian

34
Contoh: jumlah mahasiswa stikes = 100, ratio pria : wanita = 2 : 3. Berapa
jumlah masing2 mahasiswa?

Rate adalah perbandingan suatu kejadian dengan jumlah penduduk yang


mempunyai risiko kejadian tersebut. Rate digunakan untuk menyatakan
dinamika dan kecepatan kejadian tertentu dalam masyarakat

Contoh:
1. Campak → berisiko pada balita
2. Diare → berisiko pada semua penduduk
3. Ca servik → berisiko pada wanita

Pengukuran angka kesakitan/ morbiditas


1. Incidence rate
Incidence rate adalah frekuensi penyakit baru yang berjangkit dalam
masyarakat di suatu tempat / wilayah / negara pada waktu tertentu

35
2. Prevalence rate
Prevalence rate adalah frekuensi penyakit lama dan baru yang berjangkit
dalam masyarakat di suatu tempat/ wilayah/ negara pada waktu tertentu. Pr
yang ditentukan pada waktu tertentu (misal pada juli 2000) disebut point
prevalence rate. Pr yang ditentukan pada periode tertentu (misal 1 januari
2000 s/d 31 desember 2000) disebut periode prevalence rate.

3. Attack rate
Attack rate adalah jumlah kasus baru penyakit dalam waktu wabah yang
berjangkit dalam masyarakat di suatu tempat/ wilayah/ negara pada waktu
tertentu

Pengukuran mortality rate


1. Crude death rate (CDR)
CDR adalah angka kematian kasar atau jumlah seluruh kematian selama
satu tahun dibagi jumlah penduduk pada pertengahan tahun

2. Specific death rate (SDR)


SDR adalah jumlah seluruh kematian akibat penyakit tertentu selama satu
tahun dibagi jumlah penduduk pada pertengahan tahun

36
3. Case fatality rate (CFR)
CFR adalah persentase angka kematian oleh sebab penyakit tertentu, untuk
menentukan kegawatan/ keganasan penyakit tersebut

4. Maternal mortality rate (MMR atau angka kematian ibu/AKI)


MMR adalah jumlah kematian ibu oleh sebab kehamilan/ melahirkan/ nifas
(sampai 42 hari post partum) per 100.000 kelahiran hidup

5. Infant mortality rate (IMR atau angka kematian bayi/AKB)


IMR jumlah kematian bayi (umur <1tahun) per 1000 kelahiran hidup

6. Neonatal mortality rate (NMR atau angka kematian neonatal/AKN)


NMR adalah jumlah kematian bayi sampai umur < 4 minggu atau 28 hari
per 1000 kelahiran hidup

7. Perinatal mortality rate (PMR atau angka kematian perinatal/AKP)


PMR adalah jumlah kematian janin umur 28 minggu s/d 7 hari seudah lahir
per 1000 kelahiran hidup

37
LO 5 Memahami dan menjelaskan aspek sosial budaya masyakat dalam
mengakases pemanfaatan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan
Perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang
diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar
(Notoatmodjo, 2003). Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo
(2003), merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang
terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh karena perilaku ini terjadi
melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, dan kemudian organisme
tersebut merespons, maka teori Skinner ini disebut teori “S-O-R” atau Stimulus
– Organisme – Respon.
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku dapat
dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003):
- Perilaku tertutup (convert behavior). Perilaku tertutup adalah respon
seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup
(convert). Respon atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada
perhatian, persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap yang terjadi
pada orang yang menerima stimulus tersebut, dan belum dapat diamati
secara jelas oleh orang lain.
- Perilaku terbuka (overt behavior). Respon seseorang terhadap stimulus
dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka. Respon terhadap stimulus
tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan
mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.

Pendidikan kesehatan masyarakat

38
a. Pendidikan kesehatan bukan hanya pelajaran di kelas tetapi merupakan
kumpulan pengalaman dimana saja dan kapan saja sepanjang dapat
mempengaruhi pengetahuan sikap dan kebiasaan sasaran pendidikan
b. Pendidikan kesehatan tidak dapat secara mudah diberikan oleh
seseorang kepada orang lain karena pada akhirnya sasaran pendidikan
itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya sendiri.
c. Bahwa yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran
agar individu keluarga, kelompok dan masyarakat dapat mengubah
sikap dan tingkah lakunya sendiri.
d. Penddikan kesehatan dikatakan berhasil bila sasaran pendidikan (
individu),keluarga, kelompok, dan masyarakat) sudah mengubah sikap
dan tingkah lakunya sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Ruang Lingkup Pendidikan kesehatan masyarakat.


1. Dimensi sasaran
a. Pendidikan kesehatan individu dengan sasaran individu
b. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok
masyarakat tertentu
c. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas
2. Dimensi tempat pelaksanaan
a. Pendidikan kesehatan dirumah sakit dengan sasaran pasien dan
keluarga
b. Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasaran pelajar
c. Pendidikan kesehatan di masyarakat atau tempat kerja dengan
sasaran masyarakat atau pekerja
3. Dimensi tingkat pelayanan kesehatan
a. Pendidikan kesehatan promosi kesehatan ( health promotion)
missal ; Peningkatan gizi, perbaikan sanitasi lingkungan , gaya
hidup dan sebagainya
b. Pendidikan kesehatan untuk perlindungan khusus ( specific
Protection) missal : imunisasi
c. Pendidikan kesehatan untuk diagnosis dini dan pengobatan tepat
(early diagnostic and promt treatment) misal: dengan pengobatan
layak dan sempurna dapat menghindari dari resiko kecacatan
d. Pendidikan kesehatan untuk rehabilitasi misal: dengan memulihkan
kondisi cacat melalui latihan latihan tertentu

39
Metode Pendidikan Kesehatan Masyarakat
A. Metode pendidikan individual (perorangan)
a. Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling) yaitu; kontak
antara klien dengan petugas lebih intensif, setiap masalah yang
dihadapi oleh klien dapat dikoreksi dan dibantu penyelesaianya,
akhirnya klien tersebut akan dengan sukarela dan bedasarkan
kesadaran penuh pengertian akan menerima perilaku tersebut
(mengubah eprilaku)
b. Interview (wawancara); Yaitu merupakan bagian dari bimbingan
dan penyuluhan dan menggali informasi mengapa ia tidak atau
belum menerima perubhan untuk mengetahui apakah perilaku yang
sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pngertian dan
kesadara yang kuat apabila belum maka peru penyuluhan yang lebih
mendalam lagi.
B. Metode pendidikan kelompok
a. Kelompok Besar: Ceramah, seminar
b. Kelompok Kecil: diskusi kelompok, curah pendapat (brain
storming), bola salju (snow balling), kelompok kecil kecil (buzz
group), memainkan peranan (role play), permainan simulasi
(simulation game ).
C. Metode pendidikan massa
a. Ceramah umum (public speaking)
b. Pidato pidato diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik
baik TV maupun radio, pada hakikatnya adalah merupakan bentuk
pendidikan kesehatan massa
c. Simulasi dialog atar pasien dengan dokter atau petugas kesehatan
lainnya tentang suatu penyakit atau masalah kesehatan melalui tv
atau radio
d. Tulisan tulisan di majalah / Koran baik dalam bentuk artikel maupun
Tanya jawab / konsultasi tentang kesehatan
e. Bill board yang dipasang dipinggir jalan, spanduk dan poster

Alat bantu dan media pendidikan kesehatan masayarakat


a. Alat bantu (peraga) Alat alat yang digunakan oleh peserta didik
dalam menyampaikan bahan pendidikan /pengajaran. Macam macam
alat bantu pendidikan: Alat bantu lihat (visual body) seperti slide,
film, film strip
b. Alat bantu dengar (audio aids) seperti piringan hitam, radio, pita
suara
c. Alat bantu lihat dengar seperti televise

D. Media Pendidikan Kesehatan

40
Media pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu
pedidikan (audio visual aids) disebut media pendidikan karena alat alat
tersebut merupakan alat saluran (channel) untuk menyampaikan
kesehatan karena alat alat tersebut digunakan untuk mempermudah
penerimaan pesan pesan kesehatan bagi masyarakat atau klien .
berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan pesa kesehatan
(media) media ini dibagi menjadi 3: Cetak, elektronik. Media papan
(billboard)

Ilmu Perilaku Dan Perilaku Kesehatan


A. Konsep perilaku
Skinner ( 1938 ) seorang ahli perilaku mengemukakakn bahwa perilaku
adalah merupakan hasil hubungan antara perangsang ( stimulus) dan
tanggapan ( respon) ia membagi menjadi 2 yaitu

a. Respondent respons reflexive respons ialah yang ditimbulkan oleh


rangsangan tertentu .perangsangan semacam ini disebut elicting
stimuli, karena menimbulkan respon respons yang relative tetap
misalnya : makanan lezat menimbulkan keluarnya air liur , cahaya yang
kuat akan menimbulkan mata tertutup dll. Respondent respons ini
mencakup juga emosi respons atau emotional behavior. Emotional
respons ini timbul karena hal yang kurang mengenakan organism yang
ersangkutan. Misalnya menangis karena sedih / sakit . muka merah
sebaliknya hal hal yang mengenakan pun dapat menimbulkan perilaku
emosinal misalnya tertawa, berjingkat jingkat karena senang.

b. Operant respons atau instrumental respons adalah respons yang timbul


dan berkembang diikuti oleh perangsangan tertentu. Perangsangan
semacam ini disebut reinforcing stimuli atau reinforce, karena
perangsangan perangsangan tersebut memperkuat respons yang telah
dilakukan oleh organism. Oleh karena itu perangsangan yang demikian
itu mengikuti atau memperkuat sesuatu perilaku tertentu yang telah
dilakukan . Contoh : apabila memperoleh hadiah maka ia akan menjadi
lebih giat belajar atau akan lebih baik lagi melakukan perbuatan
tersebut. Dengan kata lain respons nya akan lebih intensif atau lebih
kuat lagi.

B. Perilaku kesehatan
Yaitu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan
penyakit , system pelayanan kesehatan makanan serta lingkungan .perilaku
kesehatan mencangkup 4 yaitu :
1. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit yaitu bagaimana
manusia merespon baik pasif maupun aktif perilaku terhadap sakit dan

41
penyakit ini dengan sendirinya sesuai dengan tingkatan tingkatan
pencegahan penyakit misalnya : Perilaku pencegahan penyakit ( health
prevention behavior) respon utuk melaakukan pencegahan penyakit
misalnya tidur dengan kelambu untuk mencegah gigitan nyamuk
malaria .imunisasi
2. Perilaku terhadap pelayanan kesehatan , baik pelayanan kesehatan
tradisional maupun modern. Perilaku ini mencakup respons terhadap
fasillitas pelayanan cara pelayanan, petugas kesehatan, dan obat obatan
yang terwjud dalam pengetahuan , persepsi, sikap dan penggunaan
fasilitas ,petugas dan obat obatan
3. Perilaku terhadap makanan ( nutrition behavior) yaitu respons seseorang
terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan , meliputi
pengetahuan ,persepsi, sikap dan praktek kita terhadap makanan serta
unsure unsure yang terkandung didalamnya
4. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan ( environmental health
behavior) adalah respon seseorang terhadap lingkungan sekitarnya
sebagai determinan kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini seluas
lingkup kesehatan lingkungan itu sendiri dengan bersih , pembuangan
air kotor dengan limbah dengan rumah yang sehat dengan pembersihan
sarang saranng nyamuk ( vector) dll

Klasifikasi perilaku
a. Perilaku kesehatan (health behavior) yaitu hal hal yang berkaitan
dengan memelihara , meningkatkan dan mencegah penyakit dengan
tindakan tindakan perorangan seperti sanitasi, memilih makanan dan
kebersihan
b. Perilaku sakit (illness behavior) yaitu tindakan seseorang dalam
menyikapi sakit dan kemampuan individu untuk mengidentifikasi
penyakit ,penyebab penyakit serta usaha usaha mencegah penyakit
tersebut.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior) yaitu tindakan seseorang
yang sedang sakit untuk memperoleh kesembuhan. Perilaku ini
disamping berpengaruh terhadap kesehatan /kesakitanya sendiri juga
berpengaruh terhadap kesehatan/kesakitanya sendiri juga berpengaruh
terhadap orang lain terutama anak anak yang belm mempunyai
kesadaran dan tanggung jawab terhadap kesehatanya.

Respon perilaku terhadap penyakit


a. Bentuk pasif : respon internal yang terjadi di dalam diri manusia
dan tidak secara langsung dapat terlihat oleh orang lain missal
tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan.
b. Bentuk Aktif : yaitu perilaku itu jelas dapat diobservasi secara
langsung misalnya pada kedua contoh diatas si ibu sudah membawa
anaknya ke puskesmas untuk imunisasi

42
Faktor faktor yang mempengaruhi

Teori Lawrence Green


Promosi kesehatan sebagai pendekatan kesehatan terhadap faktor perilaku
kesehatan, maka kegiatannya tidak terlepas dari faktor-faktor yang
menentukan perilaku tersebut. Dengan perkataan lain, kegiatan promosi
kesehatan harus disesuaikan dengan determinan (faktor yang mempengaruhi
perilaku itu sendiri). Dan menurut Lawrence Green perilaku ini ditentukan
oleh 3 faktor utama, yakni:
A. Faktor Pendorong (predisposing factors)
Faktor-faktor yang mempermudah atau mempredisposisi terjadinya
perilaku seseorang, antara lain pengetahuan, sikap, keyakinan,
kepercayaan, nilai-nilai, tradisi, dan sebagainya. Contohnya seorang ibu
mau membawa anaknya ke Posyandu, karena tahu bahwa di Posyandu akan
dilakukan penimbangan anak untuk mengetahui pertumbuhannya. Tanpa
adanya pengetahuan-pengetahuan ini ibu tersebut mungkin tidak akan
membawa anaknya ke Posyandu

B. Faktor pemungkin (enabling factors)


Faktor-faktor yang memungkinkan atau memfasilitasi perilaku atau
tindakan. Yang dimaksud dengan faktor pemungkin adalah sarana dan
prasarana atau fasilitas untuk terjadinya perilaku kesehatan, misalnya:
Puskesmas, Posyandu, Rumah Sakit, tempat pembuangan air, tempat
pembuangan sampah, tempat olah raga, makanan bergizi, uang dan
sebagainya. Contohnya sebuah keluarga yang sudah tahu masalah
kesehatan, mengupayakan keluarganya untuk menggunakan air bersih,
buang air di WC, makan makanan yang bergizi, dan sebagainya. Tetapi
apakah keluarga tersebut tidak mampu untuk mengadakan fasilitas itu
semua, maka dengan terpaksa buang air besar di kali/kebun menggunakan
air kali untuk keperluan seharihari, dan sebagainya.

C. Faktor penguat (reinforcing factors)


Faktor yang mendorong atau memperkuat terjadinya perilaku. Kadang-
kadang meskipun orang tahu dan mampu untuk berperilaku sehat, tetapi
tidak melakukannya. Contohnya seorang ibu hamil tahu manfaat periksa
hamil dan di dekat rumahnya ada Polindes, dekat dengan Bidan, tetapi ia
tidak mau melakukan periksa hamil karena ibu lurah dan ibu tokoh-tokoh
lain tidak pernah periksa hamil namun anaknya tetap sehat. Hal ini berarti
bahwa untuk berperilaku sehat memerlukan contoh dari para tokoh
masyarakat.

43
Perubahan perilaku
a. Teori Stimulus dan Transformasi
b. Teori teori belajar social ( social searching )
1) Tingkah laku sama ( same behavior )
2) Tingkah laku tergantung ( matched dependent behavior 0
3) Tingkah laku salinan ( copying behavior )
c. Teori belajar social dari bandara dan walter
1) Efek modeling ( modeling effect ) yaitu peniru melakukan tingkah
laku baru melalui asosiasi sehingga sesuai dengan tingkah laku model
2) Efek menghambat ( inhibition) dan menghapus hambatan (
dishinbition ) dimana tingkah laku yang tidak sesuai dengaan model
dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku yang sesuai dengan
tingkah laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul
tingkah laku yang dapat menjadi nyata
3) Efek kemudahan ( facilitation effect ) yaitu tingkah laku yang sudah
pernah dipelajari oleh peniru lebih mudah muncul kembali dengan
mengamati tingkah laku model.

Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Mengobati

Mayoritas masyarakat dengan pengetahuan kurang dan sedang (78%), sikap


yang sedang (8%) cenderung akan berobat ke puskesmas jika mereka telah
menderita atau merasakan matanya sakit seperti gatal, mata merah, belekan,
jika telah mengalami kebutaan, bila sudah tidak dapat bekerja , tidak dapat
mengenali seseorang dalam jarak dekat maupun jauh, dan tidak bisa berjalan
dengan baik. Mereka biasanya akan mengeluh sakit pada matanya sehingga
mereka baru memeriksakan sakitnya ke puskesmas. Berdasarkan teori perilaku
pencarian pelayanan kesehatan disebutkan bahwa perilaku orang yang sakit
untuk memperoleh penyembuhan mencakup tindakan- tindakan seperti
perilaku pencarian dan penggunaan fasilitas/tempat pelayanan kesehatan (baik
tradisional maupun modern). Tindakan ini dimulai dari mengobati sendiri
sampai mencari pengobatan di luar negeri
Masyarakat jika menderita sakit cenderung mengobati sendiri terlebih
dahulu dengan membeli obat di warung seperti tetes mata, salep di apotik tanpa
resep dari dokter, mereka hanya menanyakan kepada penjaga apotik obat mana
yang biasa digunakan untuk mata merah, padahal dengan mereka membeli obat
tanpa resep dokter belum tentu itu baik buat kesehatan mata, dan belum tentu
obat tersebut tidak menimbulkan efek samping jika mengabaikan aturan
pemakaian. Dan ada juga yang mengobati secara tradisional yaitu dengan
mengompres mata dengan air hangat, air sirih, air teh, daun kelor dan air
bambu. Di sisi lain masyarakat dengan pengetahuan baik (22%) dan bersikap
baik (92%) berperilaku langsung mengobati ke puskesmas atau rumah sakit.

44
Hal ini dikarenakan mereka mengetahui apa yang akan terjadi jika terlambat
dalam melakukan pengobatan, dan juga mereka memiliki dasar pengetahuan
yang baik tentang kesehatan, khususnya kesehatan mata. Sehingga jika
mengalami gangguan pada mata mereka langsung mengobati dengan rasional.

LO 6 Memahami dan menjelaskan sistem rujukan kesehatan


Sistem Rujukan adalah system yang dikelola secara strategis, pragmatis,
merata proaktif dan koordinatif untuk menjamin pemerataan pelayanan
kesehatan maternal dan neonatal yang paripurna dan komprehensif bagi
masyarakat yang membutuhkannya terutama bagi ibu dan bayi baru lahir,
dimanapun mereka berada dan berasal dari golongan ekonomi manapun, agar
dapat dicapai peningkatan derajat kesehatan ibu hamil dan bayi melalui
peningkatan mutu dan keterjangkauan pelayanan kesehatan maternal dan
neonatal di wilayah mereka berada.
Sesuai SK Menteri Kesehatan Nomor 23 tahun 1972 tentang system rujukan
adalah suatu system penyelenggaraan pelayanan yang melaksanakan
pelimpahan tanggung jawab timbal balik terhadap suatu kasus penyakit atau
masalah kesehatan secara vertical dalam arti dari unit yang berkemampuan
kurang kepada unit yang lebih mampu atau secara horizontal dalam arti unit-
unit yang setingkat kemampuannya.
Sistem rujukan upaya keselamatan adalah suatu sistem jaringan fasilitas
pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung
jawab secara timbal-balik atas masalah yang timbul baik secara vertikal
(komunikasi antara unit yang sederajat) maupun horizontal (komunikasi inti
yang lebih tinggi ke unit yang lebih rendah) ke fasilitas pelayanan yang lebih
kompeten, terjangkau, rasional dan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi.
(Kebidanan Komunitas: hal 207)

Rujukan dalam pelayanan kebidanan merupakan kegiatan pengiriman


orang sakit dari unit kesehatan yang kurang lengkap ke unit yang lebih lengkap
berupa rujukan kasus patologis pada kehamilan, persalinan dan nifas masuk
didalamnya, pengiriman kasus masalah reproduksi lainnya seperti kasus

45
ginekologi atau kontrasepsi yang memerlukan penanganan spesialis. Termasuk
juga didalamnya pengiriman bahan laboratorium.

Jika penderita telah sembuh dan hasil laboratorium telah selesai,


kembalikan dan kirimkan ke unit semula, jika perlu disertai dengan keterangan
yang lengkap (surat balasan).

Rujukan informasi medis membahas secara lengkap data-data medis


penderita yang dikirim dan advis rehabilitas kepada unit yang mengirim.
Kemudian Bidan menjalin kerja sama dalam sistem pelaporan data-data
parameter pelayanan kebidanan, terutama mengenai kematian maternal dan
pranatal. Hal ini sangat berguna untuk memperoleh angka-angka secara
regional dan nasional pemantauan perkembangan maupun penelitian.

Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari: rujukan internal dan
rujukan eksternal.
1) Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit
pelayanan di dalam institusi tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas
(puskesmas pembantu) ke puskesmas induk.
2) Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam
jenjang pelayanan kesehatan, baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan
ke puskesmas rawat inap) maupun vertikal (dari puskesmas ke rumah sakit
umum daerah).

Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari: rujukan medik dan
rujukan kesehatan.
1) Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya
penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk
pasien puskesmas dengan penyakit kronis (jantung koroner, hipertensi,
diabetes mellitus) ke rumah sakit umum daerah. Jenis rujukan medik:
a. Transfer of patient. Konsultasi penderita untuk keperluan diagnostik,
pengobatan, tindakan operatif dan lain-lain.
b. Transfer of specimen. Pengiriman bahan untuk pemeriksaan
laboratorium yang lebih lengkap.
c. Transfer of knowledge/personel. Pengiriman tenaga yang lebih
kompeten atau ahli untuk meningkatkan mutu layanan pengobatan
setempat. Pengiriman tenaga-tenaga ahli ke daerah untuk memberikan
pengetahuan dan keterampilan melalui ceramah, konsultasi penderita,
diskusi kasus dan demonstrasi operasi (transfer of knowledge).
Pengiriman petugas pelayanan kesehatan daerah untuk menambah
pengetahuan dan keterampilan mereka ke rumah sakit yang lebih
lengkap atau rumah sakit pendidikan, juga dengan mengundang
tenaga medis dalam kegiatan ilmiah yang diselenggarakan tingkat
provinsi atau institusi pendidikan (transfer of personel).

46
2) Rujukan Kesehatan adalah hubungan dalam pengiriman dan pemeriksaan
bahan ke fasilitas yang lebih mampu dan lengkap. Rujukan ini umumnya
berkaitan dengan upaya peningkatan promosi kesehatan (promotif) dan
pencegahan (preventif). Contohnya, merujuk pasien dengan masalah gizi
ke klinik konsultasi gizi (pojok gizi puskesmas), atau pasien dengan
masalah kesehatan kerja ke klinik sanitasi puskesmas (pos Unit Kesehatan
Kerja).

Alur rujukan kasus kegawat daruratan:


1. Dari Kader
Dapat langsung merujuk ke:
a. Puskesmas pembantu
b. Pondok bersalin atau bidan di desa
c. Puskesmas rawat inap
d. Rumah sakit swasta / RS pemerintah
2. Dari Posyandu
Dapat langsung merujuk ke:
a. Puskesmas pembantu
b. Pondok bersalin atau bidan di desa

Tugas Sistem Rujukan


Memeratakan pelayanan kesehatan melalui system jaringan pelayanan
kesehatan mulai dari Dati II sampai pusat karena keterbatasan sumber daya
daerah yang seyogyanya bertanggung jawab atas penyelenggaraan pelayanan
kesehatan bagi masyarakat di wilayahnya
Syarat Rujukan
1) Adanya unit yang mempunyai tanggung jawab baik yang merujuk maupun
yang menerima rujukan .
2) Adanya pencatatan tertentu :
A. Surat rujukan
B. Kartu Sehat bagi klien yang tidak mampu
C. Pencatatan yang tepat dan benar
D. Kartu monitoring rujukan ibu bersalin dan bayi (KMRIBB)
3) Adanya pengertian timbal balik antar yang merujuk dan yang menerima
rujukan
4) Adanya pengertian tugas tentang system rujuikan
5) Sifat rujukan horizontal dan vertical (kearah yang lebih mampu dan
lengkap).

Jenis Rujukan
1) Rujukan medis
a) Rujukan pasien
b) Rujukan pengetahuan

47
c) Rujukan laboratorium atau bahan pemeriksaan

2) Rujukan kesehatan
a) Rujukan ilmu pengetahuan, teknologi dan keterampilan, misalnya :
pengiriman dokter ahli terutama ahli bedah, kebidanan dan kandungan,
penyakit dalam dan dokter anak dari RSU Provinsi ke RSU Kabupaten.
b) Pengiriman asisten ahli senior ke RS Kabupaten yang belum ada dokter
ahli dalam jangka waktu tertentu.
c) Pengiriman tenaga kesehatan dari puskesmas RSU Kabupaten ke RS
Provinsi.
d) Alih pengetahuan dan keterampilan di bidang klinik, manajemen dan
pengoperasian peralatan.

3) Rujukan manajemen
a) Pengiriman informasi
b) Obat, biaya, tenaga, peralatan
c) Permintaan bantuan : survei epidemiologi, mengatasi wabah (KLB)

48
LO 7 Memahami dan menjelaskan pandangan Islam tentang kejadian luar biasa,
kesehatan dan berobat
Ada sebagian kecil kaum muslimin percaya bahwa wabah atau penyakit
menular tidak ada. Hal ini mereka dasarkan pada hadits:

‫ قَا َل ه َُري َرة َ أَبِي َعن‬: ‫ النَّبي قَا َل‬: َ‫ َعد َوى ل‬, َ‫ ِطيَ َرة َ َول‬, ‫صا ِل َح الفَأ َل َوأ ُ ِحب‬
َّ ‫ال‬

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: “Tidak ada penyakit menular
dan thiyarah (merasa sial dengan burung dan sejenisnya), dan saya menyukai
ucapan yang baik”
Hal ini tentu kelihatannya bertentangan dengan kenyataan yang ada di mana
kita melihat banyak sekali wabah dan penyakit yang menular, wabah ini bahkan
bisa merenggut nyawa sekelompok orang dengan cepat.
Perlu diketahui ada dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa Islam juga
mengakui adanya wabah penyakit menular.
Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َ‫صح َعلَى ُمم ِرض يُو ِرد ُ ل‬


ِ ‫ُم‬

“Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit”.2

Dan Sabda beliau,

‫اركَ ال َمجذُو ِم ِمنَ فِ َّر‬ َ َ ‫األ‬


َ ‫س ِد ِمنَ فِ َر‬

“Larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa”.3


Maka kompromi hadits ini:maksud dari hadits pertama yang menafikan
penyakit menular adalah penyakit tersebut tidak menular dengan sendirinya,
tetapi menular dengan kehendak dan takdir Allah. Berikut keterangan dari Al-
Lajnah Ad-Daimah (semacam MUI di Saudi):

49
‫هي الحديث في المنفية العدوى‬: ‫بنفسها تؤثر العدوى أن من الجاهلية أهل يعتقده كان ما‬، ‫عن النهي وأما‬
‫الواقية األسباب فعل باب من فإنه الطاعون بها وقع الذي البلد في الدخول‬.

Wabah yang dinafikan dari hadits tersebut yaitu apa yang diyakini oleh
masyarakat jahiliyah bahwa wabah itu menular dengan sendirinya (tanpa
kaitannya dengan takdir dan kekuasaan Allah). Adapun pelaranan masuk
terhadap suatu tempat yang terdapat tha’un (wabah menular) karena itu
merupakan perbuatan preventif (pencegahan). Hal ini diperkuat dengan hadits
bahwa Allah yang menciptakan pertama kali penyakit tersebut. Ia tidak menular
kecuali dengan izin Allah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu ,
bahwa seorang lelaki yang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bahwa onta yang berpenyakit kudis ketika berada di antara onta-onta yang sehat
tiba-tiba semua onta tersebut terkena kudis, maka beliau bersabda:

‫؟ األ َ َّو َل أَعدَى فَ َمن‬

“Kalau begitu siapa yang menulari (onta) yang pertama ?


1. HR. Muslim no. 2223
2. HR. Bukhari no. 5771 dan Muslim no. 2221
3. HR. Muslim: 5380
4. Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah no. 16453
5. Hr. Al-bukhari dan muslim
Hukum berobat
Para fuqoha’ (ahli fiqih) bersepakat bahwa berobat hukum
asalnya dibolehkan kemudian mereka berbeda pendapat (mengenai hukum
berobat, -ed) menjadi beberapa pendapat yang masyhur:

1. Pendapat pertama mengatakan bahwa berobat hukumnya wajib, dengan


alasan adanya perintah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk
berobat dan asal hukum perintah adalah wajibini adalah salah satu
pendapat madzhab Malikiyah, Madzhab Syafi’iyah, dan madzhab
Hanabilah
2. Pendapat kedua mengatakan sunnah/ mustahab, sebab perintah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berobat dan dibawa kepada
hukum sunnah karena ada hadits yang lain Rosululloh shallallahu ‘alaihi
wa sallam memerintahkan bersabardan ini adalah madzhab Syafi’iyah
3. Pendapat ketiga mengatakan mubah/ boleh secara mutlak , karena
terdapat keterangan dalil- dalil yang sebagiannya menunjukkan perintah
dan sebagian lagi boleh memilih, (ini adalah madzhab Hanafiyah dan
salah satu pendapat madzhab Malikiyah)
4. Pendapat kelima mengatakan makruh, alasannya para sahabat bersabar
dengan sakitnyaImam Qurtubi rahimahullah mengatakan bahwa ini
adalah pendapat Ibnu Mas’ud, Abu Darda radhiyallahu ‘anhum, dan
sebagian para Tabi’in

50
5. Pendapat ke enam mengatakan lebih baik ditinggalkan bagi yang kuat
tawakkalnya dan lebih baik berobat bagi yang lemah tawakkalnya,
perincian ini dari kalangan madzhab Syafi’iya

Kesimpulan dari berbagai macam pendapat


Sesungguhnya terdapat berbagai macam dalil dan keterangan yang berbeda-
beda tentang berobat, oleh karena itu sebenarnya pendapat- pendapat di
atas tidaklah bertentangan. Akan tetapi berobat hukumnya berbeda- berbeda
menurut perbedaan kondis. Ada yang haram, makruh, mubah, sunnah,
bahkan ada yang wajib

Berobat pada dasarnya dianjurkan dalam agama islam sebab berobat termasuk
upaya memelihara jiwa dan raga, dan ini termasuk salah satu tujuan syari’at
islam ditegakkan, terdapat banyak hadits dalam hal ini, diantaranya;

1. Dari Abu Darda berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


‘’Sesungguhnya Alloh menurunkan penyakit beserta obatnya, dan Dia
jadikan setiap penyakit ada obatnya, maka berobatlah kalian, tetapi
jangan berobat dengan yang haram.’’ (HR.Abu Dawud 3874, dan
disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih wa Dha’if al-Jami’ 2643)
2. Dari Usamah bin Syarik berkata, ada seorang arab baduwi berkata
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘’Wahai Rosululloh, apakah
kita berobat?, Nabi bersabda,’’berobatlah, karena sesungguhnya Alloh
tidak menurunkan penyakit, kecuali pasti menurunkan obatnya, kecuali
satu penyakit (yang tidak ada obatnya),’’ mereka bertanya,’’apa itu’’ ?
Nabi bersabda,’’penyakit tua.’’ (HR.Tirmidzi 2038, dan disahihkan oleh
al-Albani dalam Sunan Ibnu Majah 3436)

Berobat hukumnya berbeda-beda


1. Menjadi wajib dalam beberapa kondisi:
a. Jika penyakit tersebut diduga kuat mengakibatkan kematian, maka
menyelamatkan jiwa adalah wajib.
b. Jika penyakit itu menjadikan penderitanya meninggalkan perkara
wajib padahal dia mampu berobat, dan diduga kuat penyakitnya bisa
sembuh, berobat semacam ini adalah untuk perkara wajib, sehingga
dihukumi wajib.
c. Jika penyakit itu menular kepada yang lain, mengobati penyakit
menular adalah wajib untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.

51
Daftar Pustaka
Anonim. Pedoman Penanggulangan KLB-DBD bagi keperawatan di RS dan
Puskesmas
Ahmad, Jurnal. 2013. Konsep Kesehatan dalam Islam.
Hadinegoro, Sri Rezeki. 2011. Panduan Imunisasi Anak, ed.1. Ikatan Dokter
Anak Indonesia
Lukman Hakim, dkk., 2013, Faktor Sosial Budaya Dan Orientasi Masyarakat
DalamBerobat (Socio-Cultural Factors And Societal Orientation In
TheTreatment), Universitas Jember (UNEJ), Jember.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2011. Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta


Rajab, Wahyudin. 2008. Buku Ajar Epidemiologi Untuk Mahasiswa Kebidanan.
Jakarta : EGC
Yetti Wira Citerawati SY, 2012, Aspek Sosiobudaya Berhubungan Dengan
Perilaku Kesehatan,Universitas Brawijaya, Malang.

52