Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MATAKULIAH PSIKOLOGI KOMUNIKASI

REVIEW DAN TRANSLATE BUKU

“INTRODUCING COMMUNICATION THEORY: ANALYSIS AND APPLICATION


Richard West, Lynn H. Turner”

OLEH:

KELOMPOK 1

NORA PRAMITA

RAHMAHDIANTI

SOCHA SAJATININGTRESNA KARDIADINATA

Dosen Pengampu:
Yanladila Yeltas Putra, S.Psi, MA

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI


JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2017
BAGIAN 5
TEORI INTERAKSI SIMBOLIK

Kasus : ‘Rogers Thomas’

Roger Thomas menatap cermin dan menegakkan dasinya. Dia melirik dirinya sekilas dan
memutuskan bahwa ia tampak sebaik yang dia bisa. Dia sedikit khawatir tentang pekerjaan
barunya, namun ia juga merasa senang. Dia baru saja lulus dari Carlton Tech di Omaha,
Nebraska, dengan gelar di bidang teknik, dan dia telah mendapat pekerjaan yang hebat di
Houston. Ini membuat banyak perubahan dalam hidupnya. Dia lahir dan dibesarkan di pusat
Nebraska, dan dia benar-benar tidak pernah berada di kota lebih besar dari Omaha sampai
wawancara pekerjaannya. Sekarang dia yang tinggal di Houston! Semua itu terjadi begitu cepat
Roger seperti merasakan kepalanya berputar.

Faktanya Roger adalah orang pertama di keluarganya yang lulus dari perguruan tinggi.
Keluarganya ialah seorang petani, dan meskipun ia tahu teknik merupakan sesuatu yang ia cintai
dan berprestasi pada bidang tersebut, ia merasa sedikit bingung tentang bagaimana berperilaku
selain dari bertani dan dalam kehidupan yang sama sekali baru. ini juga tidak membantu bahwa
ia begitu jauh dari rumah. Setiap kali ia merasa stres di Carlton, ia harus pulang untuk melihat
keluarganya. Yang akan membuatnya merasa lebih baik. Dia ingat suatu hari di tahun
pertamanya di Carlton ketika dia merasa mustahil untuk keluar dan tidak nyaman. Dia benar-
benar tidak tahu bagaimana harus bertindak sebagai seorang mahasiswa. Diakhir pekan ia pulang
ke rumah, dan berada di tempat yang akrab yang langsung memberikannya kepercayaan diri.
Ketika ia kembali ke Carlton pada hari Senin, ia merasa jauh lebih percaya diri.

Meskipun orang tuanya tidak kuliah, mereka menghormati pendidikan dan mengatakab
ini pada Roger. Mereka menyatakan bangga pada rogers dan prestasinya. Mereka juga
mengatakan kepadanya bagaimana saudara-saudaranya yang lebih muda mellihat dirinya. Hal ini
memberikan Roger kepercayaan diri, dan ia menyukai gagasan bahwa ia memberi jejak baru
untuk keluarganya. Juga, setiap kali ia mengunjungi rumah orang tuanya, ia menghargai kedua
orang tuanya; mereka begitu tenang dan menenangkan. Saat mereka pergi menunaikan tugas-
tugas mereka, mereka menunjukkan perdamaian dan harmoni yang Roger ingin temukan di
pekerjaan hidupnya. Setelah melihat mereka, ia selalu memiliki rasa diri yang baru.

Sekarang Roger memutuskan ia hanya harus membawa citra kedua orang tuanya di
pikirannya, karena ia harus menghadapi kantor barunya sendiri. Namun bahkan berpikir tentang
keluarganya membuatnya merasa sedikit lebih kuat. Dia tersenyum ketika ia sampai di kantor.
Dia disambut hangat oleh asisten kantor, yang menunjukkan dia ke ruang rapat. Dia menunggu
di sana dengan karyawan baru lainnya untuk bergabung dengannya. Pada pukul 09:05 mereka
semua berkumpul, dan bos mereka datang untuk memberikan mereka arahan. Sementara bos
berbicara, Roger memandang sekeliling pada rekan-rekannya.

Ada sepuluh karyawan baru, dan mereka tidak lebih berbeda. Roger adalah orang
termuda di ruangan dengan selisih lima tahun. Dia sedikit terkejut ketika ia menyadari bahwa
hanya ia dengan sedikit pengalaman. Dia mencoba menenangkan dirinya. Dia kembali berpikir
tentang orang tuanya yang merupakan kebanggaan dalam dirinya dan bagaimana saudara-
saudaranya melihat dia. Lalu ia teringat guru favoritnya mengatakan kepadanya bahwa dia
adalah salah satu mahasiswa teknik terbaik yang lulus dari Carlton. Ini membantu Roger, dan
setelah pimpinannya selesai berbicara, ia merasa siap untuk menghadapi tantangan pekerjaan.
Selama istirahat, ia bahkan memiliki kepercayaan diri untuk mulai berbicara dengan salah satu
rekan barunya. Dia memperkenalkan dirinya dan menemukan bahwa ia tidak memiliki
pengalaman kurang dari rekannya tersebut. Helen Underwood menjelaskan bahwa ia tinggal di
sebuah pertanian kota kecil di Texas, di mana ia bekerja untuk pemerintah. Setelah bekerja di
sana selama beberapa tahun, ia memutuskan untuk kembali ke sekolah dan mendapatkan gelar.
Roger kagum untuk bertemu orang lain yang datang dari latar belakang bertani. Helen
mengatakan kepada Roger dia benar-benar terkesan bahwa ia telah lulus dari Carlton. Dia tahu
itu memiliki reputasi yang mengagumkan, dan program magang yang terbaik di negeri ini. Roger
menjawab bahwa ia telah benar-benar beruntung untuk pergi ke sana dan telah bekerja magang
disana, di mana ia telah belajar banyak. Helen mengatakan bahwa ia gugup untuk memulai
pekerjaan di perusahaan ini, dan Roger tersenyum dan mengangguk. Percakapan ini membuatnya
merasa jauh lebih baik tentang tantangan yang ada di depannya. Bahkan meskipun Helen berusia
empat puluhan, mereka memiliki banyak kesamaan, dan mereka berada di situasi yang sama di
perusahaan. Roger berfikir mereka akan menjadi teman.
Dari kasus Roger tadi Roger melewati persiapan hari pertama pekerjaan barunya dan saat
ia berbicara dengan bos dan kolega barunya, ia terlibat dalam pertukaran dinamis simbol.

A. History of Symbolic Interaction Theory

Teori Interaksi Simbolik ini pertama kali dicetuskan oleh John Dewey dan William James
pada awal abad ke-20. Para pragmatis percaya bahwa realitas bersifat dinamis, sehingga pada
waktu itu bukanlah gagasan yang populer. Dengan kata lain, mereka memiliki keyakinan
ontologis yang berbeda daripada banyak intelektual terkemuka lainnya pada saat itu. Maka
gagasan baru muncul tentang struktur sosial dan mengatakan bahwa makna diciptakan dalam
interaksi. Mereka ialah aktivis, atau pengkritik teori, yang melihat ilmu pengetahuan sebagai cara
untuk memajukan pengetahuan dan meningkatkan masyarakat.

Interaksi simbolik berasal dari dua universitas yang berbeda: Universitas of Iowa dan
University of Chicago. Di Universitas of Iowa, Manford Kuhn dan mahasiswanya berperan
dalam menegaskan ide-ide asli dari teori dan menambahkan teori juga. Selain itu, kelompok
Iowa adalah memajukan beberapa cara-cara baru dalam memandang diri, tetapi pendekatan
mereka dipandang eksentrik; dengan demikian, sebagian besar prinsip-prinsip dan perkembangan
interaksi simbolik berasal dari Universitas of Chicago.

Berdua George Herbert Mead dan temannya John Dewey berada di fakultas di University
of Chicago (meskipun Mead tidak pernah menyelesaikan gelar doktornya). Mead pernah belajar
filsafat dan ilmu sosial, dan dia kuliah pada ide-ide yang membentuk inti dari universitas of
Chicago. Sebagai guru populer yang dihormati, Mead memainkan peran penting dalam
membangun perspektif Universitas of Chicago. Dia fokus pada pendekatan untuk teori sosial
menekankan pentingnya komunikasi untuk hidup dan sosial.

Pada dua universitas berbeda terutama pada metodologi (atau epistemologi). Mead dan
muridnya di Universitas Chicago, Herbert Blumer, berpendapat bahwa studi manusia tidak bisa
dilakukan dengan menggunakan metode yang sama sebagai studi tentang hal-hal lain. Mereka
menganjurkan penggunaan studi kasus, sejarah dan wawancara nondirective. Sekloah Iowa
mengadopsi lebih menggunakan metode kuantitatif dalam pendekatan untuk studi mereka. Kuhn
percaya bahwa konsep interaksi simbolik dapat dioperasionalkan, diukur, dan diuji. Untuk tujuan
ini, Kuhn mengembangkan teknik disebut " Twenty-statements Self-attitudes " kuesioner.
Seorang responden penelitian mengambil tes dengan dua puluh pernyataan, diminta untuk
mengisi dua puluh ruang kosong untuk menjawab pertanyaan, seperti pertanyaan Siapakah aku?.
Beberapa rekan Kuhn di Iowa menjadi kecewa dengan pandangan ini dan memisahkan diri untuk
membentuk universitas Iowa baru. Carl Couch adalah salah satu pemimpin sekolah baru ini.
Couch dan asosiasinya mulai mempelajari perilaku interaksi melalui rekaman video dari
percakapan, bukan hanya memeriksa tes dua puluh pernyataan.

Selain sekolah-sekolah utama Interaksi Simbolik, ada banyak variasi. Banyak teori lain
yang menekankan aspek yang sedikit berbeda dari interaksi manusia yang berhutang dengan
konsep pusat interaksi simbolik. Meskipun keragaman dalam ide, konsep sentral Mead tetap
relatif konstan dalam banyak interpretasi interaksi simbolik. Akibatnya, kami akan memeriksa
asumsi-asumsi dasar dan konsep-konsep kunci yang Mead dan blumer uraikan.

B. Tema-tema dan asumsi dari Teori Interaksi Simbolik

Interaksi simbolik didasarkan pada ide-ide tentang diri “self” dan hubungan diri dengan
lingkungan sosial. Ralph LaRossa and Donald C. Reitzes (1993) telah meneliti interaksi simbolik
sebagai studi tentang keluarga. Mereka mencatat ada tujuh asumsi penting seputar SI (interaksi
simbolik) dan asumsi-asumsi itu mencerminkan tiga tema utama:

1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia

Teori interaksi simbolik menyatakan bahwa individu membangun makna melalui proses
komunikasi karena makna tidak hanya sekedar pengaruh dari dalam untuk hal apapun.
Dibutuhkan konstruksi interpretatif antara orang-orang untuk membuat makna. Faktanya, tujuan
interaksi, menurut SI, adalah untuk menciptakan makna bersama. Hal ini terjadi karena tanpa
komunikasi yang memberikan arti (berarti) akan jadi sangat sulit, atau bahkan mustahil.
Bayangkan jika anda mencoba untuk berbicara dengan teman dan harus menjelaskan makna
tertentu dari perkataan anda sendiri untuk setiap kata yang anda gunakan, dan teman Anda harus
melakukan hal yang sama. Tentu saja, kadang-kadang kita beranggapan bahwa kita dan lawan
percakapan kita memahami sebuah arti hanya untuk menutupi kesalahpahaman ("Aku katakan
untuk bersiap-siap secepat yang kamu bisa." “Satu jam itu sudah cepat untukku bersiap-siap.”
“Tapi maksudku kamu punya waktu bersiap-siap selama 15 menit.” “Kamu gak bilang sih!”),
tetapi seringnya kita dapat mengandalkan orang yang memiliki makna umum dalam
percakapannya. Menurut LaRossa dan Reitzes, tema ini mendukung tiga asumsi utama dalam SI
(Interaksi Simbolik), yang di ambil dari Herbert Blumer’s (1969). Asumsi-asumsi ini meliputi:

 Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna dari orang lain bagi mereka
 Makna dibuat dalam interaksi diantara orang
 Makna di modifikasi sebagai sebuat proses interpretasi

1.1. Manusia bertindak terhadap orang lain berdasarkan makna dari orang lain bagi mereka
Asumsi ini menggambarkan perilaku sebagai putaran pikiran sadar dan perilaku
antara rangsangan dan tanggapan, tanggapan yang orang tunjukkan pada mereka terhadap
rangsangan tadi. Teori-teori interaksi simbolik seperti teori Hebert Blumer fokus dengan
makna di balik perilaku. Mereka mencari makna dengan memeriksa penjelasan
psikologis dan sosiologis untuk perilaku. Demikian, sebagai penelitian studi tentang
perilaku interaksi simbolik dari Roger Thomas (dari skenario awal kita), mereka melihat
ia membuat makna yang seimbang dengan kekuatan sosial yang membentuk dirinya.
Contohnya, Rogers memberikan makna pada pengalaman dari pekerjaan barunya dengan
menerapkan teknik interpretasi kesepakatan umum untuk hal-hal yang ia lihat. Ketika ia
mengetahui usia dari rekan kerjanya, ia percaya bahwa mereka memiliki lebih banyak
pengalaman daripada dirinya karena biasanya usia disamapan dengan keahlian.
Makna dimaksudkan untuk simbol adalah hasil dari interaksi sosial dan symbol dari
kesepakatan untuk menerapkan makna tertentu pada simbol-simbol tertentu. Sebagai
contoh, di Amerika Serikat kita umumnya mengasosiasikan cincin pernikahan dengan
cinta dan komitmen. Cicin tersebut adalah sebuah symbol dari ikatan hukum dan
emosional, dan demikian kebanyakan orang menanamkan symbol tersebut dengan sebuah
konotasi positif. Namun, beberapa orang melihat pernikahan sebagai sebuah institusi
yang menekan. Orang-orang itu akan mmberikan respon (tanggapan) negative terhadap
cincin pernikahan dan simbol lainnya dari apa yang mereka anggap sebagai situasi yang
rendah. Point yang dibuat oleh teori interaksi simbolik adalah bahwa cincin itu sendiri
memiliki makna yang tidak khusus; itu berarti dalam sebuah makna interaksi dan
menekankan sebuah kepentingan.
1.2. Makna dibuat dalam interaksi diantara orang
Mead menekankan dasar intersubjektif (makna yang lebih dari satu maksud) dari
makna. Menurut Mead, makna itu ada ketika orang berbagi interpretasi umum dari
pertukaran simbol-simbol dalam interaksi mereka. Blumer (1969) menjelaskan bahwa
ada tiga cara penghitungan untuk asal-usul makna. Salah satu pendekatan menganggap
makna sebagai suatu intrinsik. Blumer menyatakan, "demikian, kursi adalah kursi... jadi
makna berasal untuk berbicara, dari hal dan dengan demikian tidak ada proses yang
terlibat dalam pembentukannya; semua yang diperlukan adalah untuk mengenali makna
yang ada".
Pendekatan kedua dari asal makna melihatnya sebagai "membawa suatu hal oleh
seseorang untuk orang yang di maksud". (Blumer, 1969, hal. 4). Posisi ini mendukung
gagasan populer bahwa makna berada dalam orang, bukan di dalam benda. Dalam
perspektif ini, makna dijelaskan dengan mengisolasi unsur psikologis dalam individu
yang menghasilkan makna itu sendiri.
SI mengambil pendekatan ketiga untuk arti, melihatnya sebagai penyebab
terjadinya diantara orang-orang tersebut. Makna adalah "produk sosial" atau "kreasi yang
terbentuk di dalam dan melalui kegiatan ini telah mendefinisikan orang saat mereka
berinteraksi" (Blumer, 1969, hal. 5). Oleh karena itu, jika Roger dan Helen tidak berbagi
bahasa yang sama dan tidak setuju pada denotasi dan konotasi dari simbol-simbol yang
mereka tukarkan, tidak ada makna yang sama yang dihasilkan dari percakapan mereka.
Selanjutnya, makna yang diciptakan oleh Helen dan Roger sangatlah unik bagi mereka
dan hubungan yang mereka bangun. Lihat catatan penelitian untuk studi yang meneliti
asumsi pada SI.
1.3. Makna di modifikasi sebagai sebuah proses penafsiran
Blumer mencatat bahwa proses penafsiran ini memiliki dua langkah. Pertama,
pelaku menunjukkan hal-hal yang memiliki makna. Blumer berpendapat bahwa proses ini
berbeda dari pendekatan psikologis dan terdiri dari orang-orang yang terlibat dalam
komunikasi dengan diri mereka sendiri. Dengan demikian, Roger bersiap-siap untuk
bekerja di pagi hari, ia berkomunikasi dengan dirinya sendiri tentang wilayah yang
bermakna baginya.
Langkah kedua mencakup memilih, memeriksa, dan mengubah makna dalam
konteks yang mereka temukan sendiri. Ketika Roger berbicara dengan Helen, ia
mendengarkan komentarnya yang relevan dengan wilayah-wilayah yang telah ia
putuskan bermakna. Selanjutnya, dalam proses penafsirannya, Roger tergantung pada
makna sosial bersama yang diterima secara budaya. Dengan demikian, Roger dan Helen
mampu berkomunikasi dengan relatif mudah karena mereka berdua berasal dari budaya
yang sama.

2. Pentingnya self-concept

Tema kedua SI berfokus pada pentingnya konsep diri, atau pengaturan relatif stabil dari
persepsi bahwa orang-orang mengendalikan diri mereka sendiri. Ketika Roger (atau aktor sosial)
menanyakan pertanyaan, siapa saya? jawabannya berhubungan dengan konsep diri. Karakteristik
Roger mengakui tentang ciri-ciri fisik, peran, bakat, emosi, nilai-nilai, keterampilan sosial dan
batas, kecerdasan, dan sebagainya membuat konsep dirinya. Gagasan ini sangat penting untuk
interaksionisme simbolik. Selanjutnya, SI tertarik pada cara-cara orang mengembangkan konsep
diri. SI menggambarkan individu dengan diri yang aktif, didasarkan pada interaksi sosial dengan
orang lain. Tema ini menunjukkan dua asumsi tambahan, menurut LaRossa dan Reitzes (1993):

 Individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain


 Self-konsep memberikan motif penting untuk perilaku.

2.1. Individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain
Asumsi ini menunjukkan bahwa hanya melalui kontak dengan orang lain kita
mengembangkan rasa diri (diri sendiri). Orang tidak lahir dengan konsep diri; mereka
belajar mereka melalui interaksi. Menurut SI, bayi tidak memiliki rasa diri yang
individual. Selama tahun pertama kehidupan, anak-anak mulai membedakan diri dari
lingkungannya. Ini adalah pengembangan awal dari konsep diri. SI menyatakan bahwa
proses ini terus berlanjut melalui akuisisi bahasa dan kemampuan anak untuk merespon
orang lain dan menginternalisasi umpan balik yang ia terima. Roger memiliki rasa diri
karena kontak dengan orang tuanya dan guru dan rekan-rekan kuliahnya. Interaksi
mereka menceritakan siapa dia (Roger). Penelitian awal terhadap keluarga seperti Edgar
Burgess (1926) mencerminkan asumsi ini ketika mereka membahas pentingnya keluarga
sebagai lembaga sosialisasi. Selanjutnya, Burgess mencatat bahwa anak-anak dan orang
tua mungkin memiliki konsep diri atau gambar yang berbeda terhadap anak itu.
2.2. Self-konsep memberikan motif penting untuk perilaku
Gagasan bahwa keyakinan, nilai-nilai, perasaan, dan penilaian tentang diri
memengaruhi perilaku adalah prinsip utama dari SI. Mead berpendapat bahwa karena
manusia memproses diri, mereka menyediakan mekanisme interaksi diri. Mekanisme ini
digunakan untuk memandu perilaku dan menyalurkannya. Hal ini juga penting untuk
dicatat bahwa Mead melihat diri sebagai sebuah proses, bukan sebagai struktur. Orang
memiliki kekuatan diri untuk membangun tindakan dan respon mereka, bukan hanya
sekedar mengekspresikan. Jadi, misalnya, jika Anda merasa hebat tentang kemampuan
Anda dalam kursus teori komunikasi Anda, maka kemungkinan bahwa Anda akan
melakukannya dengan baik di kursus. Bahkan, ada kemungkinan bahwa Anda akan
merasa percaya diri dalam semua program Anda. Proses ini sering disebut self-fulfilling
prophecy, atau harapan diri yang menyebabkan seseorang untuk berperilaku sedemikian
rupa sehingga harapan dapat diwujudkan. Ketika Roger ingat pujian profesor nya
kemampuan mekanik-nya, ia menempatkan dirinya untuk membuat self-fulfilling
prophecy tentang penampilannya di pekerjaan barunya.

3. Hubungan antara individu dan masyarakat

Tema akhir berkaitan dengan hubungan antara kebebasan individu dan kendala sosial.
Mead dan Blumer mengambil posisi tengah pada pertanyaan ini. Mereka mencoba untuk
memperhitungkan kedua mengirim dan menukar dalam proses sosial. Asumsi yang berkaitan
dengan tema ini meliputi:

 Orang dan kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial


 Struktur sosial bekerja melalui interaksi sosial
3.1. Orang-orang dan kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial
Asumsi ini mengakui bahwa norma-norma sosial membatasi perilaku individu.
Misalnya, ketika Roger bersiap-siap untuk hari pertama di pekerjaan barunya, ia memilih
setelan jas biru, kemeja oxford putih, dan dasi merah anggur dan bergaris-garis biru. Dia
lebih suka celana jeans dan kemeja flanel, tapi ia memilih pakaian yang ia rasa sesuai
dalam konteks pekerjaan secara sosial. Selanjutnya, budaya sangat mempengaruhi
perilaku dan sikap yang kita nilai di konsep diri kita. Di Amerika Serikat, orang-orang
yang melihat diri mereka sebagai tegas cenderung bangga dengan atribut ini dan
mencerminkan baik pada konsep diri mereka. ini terjadi karena Amerika Serikat adalah
sebuah budaya individualistik yang menghargai ketegasan dan individualitas. Dalam
beberapa budaya Asia, kerjasama dan masyarakat sangat dihargai, dan kolektif lebih
penting daripada individu. Dengan demikian, orang Asia yang melihat dirinya sebagai
asertif mungkin merasa malu seperti konsep diri. Sebagai contoh, Mary Roffers (2002)
mencatat bahwa tugas kuliah untuk merancang situs pribadi sangat sulit bagi seorang
mahasiswa Hmong di kelasnya. Mahasiswa tersebut menjelaskan bahwa berbicara
tentang diri sendiri tidak disetujui dalam budaya-nya dan menempatkan informasi tentang
diri sendiri di website merasa tidak pantas.

3.2. Struktur sosial Bekerja Melalui Interaksi Sosial


Asumsi ini menengahi asumsi sebelumnya. SI menantang pandangan bahwa
struktur sosial tidak berubah dan mengakui bahwa individu dapat memodifikasi situasi
sosial. Misalnya, banyak tempat kerja AS telah dilembagakan "Jumat kasual," ketika
karyawan memakai pakaian kasual daripada khas, pakaian kantor yang ditentukan secara
sosial. Dengan cara ini, para peserta dalam interaksi memodifikasi struktur dan tidak
benar-benar dibatasi oleh itu. Dengan kata lain, teori SI percaya bahwa manusia adalah
pembuat pilihan. Dalam pembukaan kami skenario, Roger memilih untuk
memperkenalkan dirinya kepada Helen; ia tidak terikat untuk melakukannya oleh
kekuatan-kekuatan luar kendalinya. Dalam membuat pilihan, Roger diberikannya nya
individualitas dan menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya dibatasi oleh budaya atau
situasi.
Sebagai tinjauan, kita daftar tema yang mendasari teori SI dan asumsi-asumsi
yang mendukung:
TEMA
• Pentingnya makna bagi perilaku manusia
• Pentingnya konsep diri
• Hubungan antara individu dan masyarakat
ASUMSI
• Manusia bertindak terhadap orang lain atas dasar makna yang lain
miliki untuk mereka.
• Makna diciptakan dalam interaksi antara orang-orang.
• Makna dimodifikasi melalui proses penafsiran.
• Individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang
lain.
• Self-konsep memberikan motif yang penting untuk perilaku.
• Orang dan kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial.
• Struktur sosial yang bekerja melalui interaksi sosial.

Konsep Kunci

Sebelumnya kita menyatakan bahwa buku yang menguraikan pemikiran Mead berjudul Pikiran,
Diri, dan Masyarakat. Judul buku yang mencerminkan tiga elemen kunci dari Simbolik Interaksi.
Kami menjelaskan setiap elemen di sini, mencatat isu-isu penting bagaimana lainnya
berhubungan dengan dasar ini tiga. Ini akan menjadi jelas bahwa tiga konsep tumpang tindih
sampai batas tertentu.

1. Pikiran (mind)

Didefinisikan mead sebagai proses percakapan seseorang dengan sendirinya, tidak


ditemukan dalam diri individu; pikiran adalah fenomena sosial. Pikiran muncul dan berkembang
dalam proses social dan merupakan bagian integral dari proses social. Dan karakteristik istimewa
dari pikiran adalah kemampuan individu untuk “memunculkan dalam dirinya sendiri tidak hanya
satu respon saja, tetapi juga respon komunitas secara keseluruhan, itulah yang dinamakan
pikiran”. Bagi Mead, tindakan verbal merupakan mekanisme utama interaksi manusia.
Penggunaan bahasa atau isyarat simbolik oleh manusia dalam interaksi sosial mereka pada
gilirannya memunculkan pikiran (mind) dan “diri” (self). Hanya melalui penggunaan simbol
yang signifikan, khususnya bahasa, pikiran itu muncul, sementara hewan lebih rendah tidak
berfikir, karena mereka tidak berbahasa seperti bahasa manusia. Menurut teori interaksi
simbolik, pikiran mensyaratkan adanya masyarakat, dengan kata lain, masyarakat harus lebih
dulu ada, sebelum adanya pikiran. Dengan demikian pikiran adalah bagian dari proses sosial,
bukan malah sebaliknya, proses sosial adalah produk pikiran.

2. Diri (self)

Pada dasarnya diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri sebagai objek. Diri
adalah kemampuan khusus untuk menjadi subjek maupun objek, untuk mempunyai diri, individu
harus mencapai keadaan “diluar dirinya sendiri” sehingga mampu mengevaluasi diri sendiri,
mampu menjadi objek bagi dirinya sendiri. Dalam bertindak rasional ini mereka mencoba
memeriksa diri sendiri secara inpersonal, objektif dan tanpa emosi, Mead mengidentifikasi dua
aspek atau fase diri, yang ia namakan “I” dan “Me”. Mead menyatakan, pada dasarnya diri
adalah proses social yang berlangsung dalam dua fase yang dapat dibedakan, perlu diingat “I”
dan “ME” adalah proses yang terjadi didalam proses diri yang lebih luas. Bagian terpenting dari
pembahasan Mead adalah hubungan timbal balik antara diri sebagai objek dan diri sebagai
subjek. Diri sebagai objek ditujukan oleh Mead melalui konsep “Me”, sementara ketika sebagai
subjek yang bertindak ditunjukan dengan konsep “I”.

Analisis Mead mengenai “I” membuka peluang bagi kebebasan dan spontanitas. Ketika
“I” mempengaruhi “Me”, maka timbulah modifikasi konsep diri secara bertahap . ciri pembeda
manusia dan hewan adalah bahasa dan “symbol signifikan”. Symbol signifikan haruslah
merupakan suatu makna yang dimengerti bersama. Ia terdiri dari dua fase, “Me” dan “I”. dalam
kontek ini “Me” adalah sosok saya sendiri sebagai mana yang dilihat oleh orang lain, sedangkan
“I” adalah bagian yang memperhatiakan diri saya sendiri. Dua hal yang itu menurut Mead
menjadi sumber orisinallitas, kreativitas, dan spontanitas. Percakapan internal memberikan
saluran melalui semua percakapan eksternal. Andai diri itu hanya mengandung “Me”, hanya
akan menjadi agen masyarakat. Fungsi kita hanyalah memenuhi perkiraan dan harapan orang
lain. Menurut Mead, diri juga mengadung “I” yang merujuk pada aspek diri yang aktif dan
mengikuti gerak hati. Mead menyebutkan, bahwa seseorang itu dalam membentuk konsep
dirinya dengan jalan mengambil perspektif orang lain dan melihat dirinya sendiri sebagai objek.

3. Masyarakat (society)

Pada tingkatan paling umum, Mead menggunkan istilah masyarakat (society) yang
berarti proses social diri tanpa henti yang mendahului pikiran dan diri. Masyarat penting
peranannya dalam membentuk pikiran dan diri, ditingkat lain, menurut Mead, Masyarakat
mencerminkan sekumpulan tanggapan terorganisir yang diambil oleh individu dalam bentuk
“aku” (me). Konsep Mead tentang masyarakat juga menekankan pada kekhususan model praksis
manusia,di mana tanganlah yang menjembatani interaksi manusia dengan dunia interaksi antara
manusia dengan manusia lain, ia menekankan adanya keterkaitan antara pengalaman praktis
yang dijembatani oleh tangan.Pembicaraan dan tangan secara bersama-sama berperan dalam
pengembangan manusia social. Kerja sama manusia mengharuskan kita untuk memahami
maksud orang lain yang juga mengharuskan kita untuk mengetahui apa yang akan kita lakukan
selanjutnya. Jadi kerja sama terdiri dari membaca tindakan dan maksud orang lain serta
menanggapinya dengan cara yang tepat.
Herber menyebut gerak tubuh sebagai simbol signifikan. Gerak tubuh mengacu pada
setiap tindakan yang dapat memiliki makna. Biasanya gerak tubuh bersifat verbal atau
berhubungan dengan bahasa. Tetapi bisa juga berupa gerak tubuh non verbal. Ketika ada makna
yang dibagi, maka gerak tubuh menjadi nilai dari simbol-simbol yang signifikan. Oleh karena
itu, masyarakat terdiri atas sebuah jaringan interaksi sosial dimana anggota-anggotanya
menempatkan makna bagi tindakan mereka dan tindakan orang lain dengan menggunakan
simbol-simbol.

Integrasi, Kritik, dan Penutupan

Teori simbolik Interaksi telah menjadi kerangka teoritis yang kuat untuk lebih dari enam puluh
tahun. Ini memberikan wawasan mencolok tentang perilaku komunikasi manusia dalam berbagai
konteks. Teori ini dikembangkan dengan baik, dimulai dengan peran diri dan maju ke
pemeriksaan diri dalam masyarakat. Namun teori ini tidak tanpa kritik. Ketika Anda berpikir
tentang teori Mead, mempertimbangkan tiga bidang evaluasi: lingkup, utilitas, dan testability.
Cakupan

Beberapa kritikus mengeluh bahwa Teori Interaksi Simbolik terlalu luas untuk menjadi berguna.
Kritik ini berpusat pada kriteria evaluasi lingkup. Teori selimut terlalu banyak tanah, kritikus
menegaskan, untuk sepenuhnya menjelaskan meaningmaking tertentu proses dan perilaku
komunikasi. Hal ini membantu untuk memiliki teori yang menjelaskan berbagai perilaku
manusia, tetapi ketika teori dimaksudkan untuk menjelaskan semuanya, itu akan menjadi kabur
dan sulit untuk diterapkan. Ini adalah kritik dilontarkan terhadap teori: Akan mencoba untuk
melakukan terlalu banyak, dan ruang lingkup perlu halus. Menanggapi kritik ini, pendukung
menjelaskan bahwa Interaksi Simbolik tidak satu teori terpadu; bukan, itu adalah kerangka kerja
yang dapat mendukung banyak teori tertentu.

Kegunaan

Area kedua kritik menyangkut utilitas teori ini. Teori interaksi simbolik telah menyalahkan tidak
berguna seperti itu bisa karena dua alasan. Pertama, berfokus terlalu banyak pada individu, dan
kedua, mengabaikan beberapa penting konsep yang diperlukan untuk membuat penjelasan
lengkap. Dalam kasus pertama, kritikus mengamati bahwa fokus teori pada kekuatan individu
untuk menciptakan realitas mengabaikan sejauh mana orang hidup di dunia tidak membuat
mereka sendiri. Teori Interaksi Simbolik menganggap situasi seperti nyata jika aktor
mendefinisikannya sebagai nyata. Tapi Erving Goffman (1974) berkomentar bahwa gagasan ini,
meskipun benar, mengabaikan realitas fisik. Misalnya, jika Roger dan orang tuanya setuju bahwa
dia adalah seorang insinyur yang sangat baik dan bahwa dia melakukan pekerjaan yang baik di
barunya perusahaan, yang akan menjadi kenyataan bagi mereka. Namun itu tidak akan mengakui
fakta bahwa Bos Roger dirasakan keterampilan sebagai tidak memadai dan memecatnya.
Lainnya melawan dengan mengutip bahwa mereka mencoba untuk menapak jalan tengah antara
kebebasan memilih dan kendala eksternal. Mereka mengakui keabsahan kendala, tetapi mereka
juga menekankan pentingnya makna bersama. Terkait dengan ini adalah saran bahwa teori
mengabaikan konsep penting seperti emosi dan harga diri. Kritik amati bahwa itu tidak
menjelaskan dimensi emosional dari interaksi manusia. Selanjutnya, kritikus mencatat bahwa
Simbolik Interaksi membahas bagaimana kita mengembangkan konsep diri, tetapi tidak memiliki
banyak untuk mengatakan tentang bagaimana kita mengevaluasi diri kita sendiri. kekurangan-
kekurangan ini membuat teori kurang berguna dari yang seharusnya dalam menjelaskan diri.
Dengan mengacu pada kurangnya perhatian pada aspek emosional dari kehidupan manusia, teori
menanggapi bahwa meskipun Mead tidak menekankan aspek-aspek ini, teori itu sendiri dapat
menampung emosi. Bahkan, beberapa peneliti telah menerapkan teori emosi dengan sukses.
Misalnya, James Forte, Anne Barrett, dan Mary Campbell (1996) menggunakan perspektif
Interaksi Simbolik untuk memeriksa kesedihan. Studi mereka diperiksa utilitas dari perspektif
Interaksi Sosial dalam menilai dan intervensi dalam kelompok berkabung. Para penulis
menemukan bahwa Interaksi Simbolik adalah berguna model. Mengenai harga diri, interaksionis
simbolik setuju bahwa itu bukan Fokus dari teori. Tapi mereka menunjukkan bahwa ini bukan
cacat dalam teori; ini hanya di luar batas-batas apa yang Mead memilih untuk menyelidiki.

Testability

Berkenaan dengan testability, kritikus berkomentar bahwa ruang lingkup yang luas teori ini
menjadikan konsep yang jelas. Ketika begitu banyak konsep inti nominal (tidak langsung
diamati), sulit untuk menguji teori. Sekali lagi, respon terhadap kritik ini berpendapat bahwa
teori Mead adalah kerangka umum, tidak satu teori. Dalam lebih teori tertentu, seperti Teori
Peran, misalnya, konsep-konsep yang lebih jelas didefinisikan dan mampu pemalsuan,
memuaskan kriteria testability. Singkatnya, Interaksi Simbolik memiliki kritik, tetapi masih tetap
merupakan teori abadi. Mendukung penelitian di beberapa konteks, dan terus-menerus
disempurnakan dan diperpanjang. Selanjutnya, itu adalah salah satu alat konseptual terkemuka
untuk menafsirkan interaksi sosial, dan konstruksi intinya memberikan dasar bagi banyakteori
lain yang kita bahas dalam buku ini. Dengan demikian, karena Interaksi Simbolik Teori telah
mendorong banyak pemikiran konseptual, telah dicapai banyak teori apa yang bertujuan untuk
melakukan.