Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH ANAJEMEN PENGGEMUKAN SAPI POTONG

MATA KULIAH TEKNOLOGI FEEDLOT


Dosen Pengampu :
Ir. Nur Rasminati, M.P.

oleh :
Nama : Ari Indrawati
NIM : 17022125

PROGRAM STUDI PETERNAKAN


FAKULTAS AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MERCU BUANA
YOGYAKARTA
2017
DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN JUDUL …………………………......................................... i


DAFTAR ISI ……………………………………………………………. vii
BAB 1 PENDAHULUAN …………..…………………………………... 1

Latar Belakang ………………………………………………….. 1

Tujuan …………………………………………………………… 2

Manfaat ………………………………………………………….. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………... 3

Eutanasia ...…………………………………………………….... 4

Nekropsi ...………………………………………………………. 5

Fiksasi .…….…………………………………………………...... 5

Larutan formalin 10% ……………………………………… 5

Larutan Posphat Buffer Saline - formalin (PBS-formalin) … 6

Larutan bouin ………………………………………………. 7

Pemotongan (Trimming) ...…………… ………………………… 7

Dehidrasi ………………………………………………………... 7

Penjernihan ……………………………………………………… 8

Infiltrasi Parafin …………………………………………………. 9

Pengeblokan …………………………………………………….. 10

Pemotongan ……………………………………………………... 11

Mikrotom geser (sliding microtome) ...……………………... 11

Mikrotom putar (rotary microtome) ...….…………………... 11

Mikrotom beku (freezing microtome) ...……………………. 12

Pengamatan dan evaluasi hasil preparat ………………………… 12

Pewarnaan ……………………………………………………..... 13
Alcian blue (AB) …………………………………………………. 13

Van gieson ………………………………………………………… 13

‘Azan’ azocarmine-anilin blue …………………………....... 14

Hematoksilin ……………………………………………….. 14

Eosin ……………………………………………………....... 14

Hematoksilin dan eosin …………………………………….. 15

Perekatan ………………………………………………………... 15

Pelarut .…………………………………………………………... 16

Reverse osmosis (RO) water ………………………………... 16

Akuades …………………………………………………….. 17

Pengamatan hasil preparat sebelum pewarnaan………….……… 17

Jaringan sobek (Separation) ……………………………....... 18

Jaringan pecah (Crackling) …………………………………. 18

Lipatan jaringan (Folding) ………………………………….. 18

Pewarnaan kurang (Stain precipitate) …………………......... 19

Potongan tidak teratur (Knife marks) ……………………….. 19

Jaringan berlubang ………………………………………….. 19

BAB III PELAKSANAAN ………………...………………………......... 20

Materi .…………………………………………………………. 20

Alat dan Bahan ……………………………………………... 20

Metode ………………………………………………………… 21

Metode pembuatan preparat jaringan di Laboratorium

Histologi dan Sel Fakultas Kedokteran UGM……………. 21

Metode pembuatan preparat jaringan di Laboratorium

Histologi NLAC …………………………………………. 23


BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ………………………………... 27

Pengamatan dan evaluasi hasil preparat ………………………. 37

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN…………………………............ 43

Kesimpulan ……......…………………………………………... 43

Saran …………………………………………………………… 43

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 44

LAMPIRAN …………………………………………………………….. 47
BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Usaha ternak sapi potong dewasa ini mempunyai kecenderungan semakin berkembang,
ditandai dengan semakin banyaknya masyarakat, wiraswasta dan Pemerintah Daerah yang
mengusahakan peternakan sapi potong. Perkembangan usaha yang pesat ini disebabkan prospek
usaha ternak sapi potong cukup menguntungkan terbukti dari kebutuhan akan konsumsi daging
sapi setiap tahun selalu meningkat. Sementara itu pemenuhan akan kebutuhan daging selalu
kurang, dengan kata lain permintaan daging sebagai konsumsi terus bertambah. Perlu diperhatikan
tiga hal pokok di dalam pelaksanaan usaha ternak agar dapat menjadi peternak sukses sehingga
kelangsungan usaha ternak tersebut dapat berjalan dengan baik. Ketiga hal tersebut yaitu breeding
(bibit/bakalan), feeding (pakan), dan management (manajemen). Hal-hal di atas tersebut perlu
diperhatikan karena ketiganya saling terkait satu sama lain dan saling melengkapi.
Usaha untuk meningkatkan pengadaan daging sapi dapat dilakukan dalam usaha feedlot.
Feedlot adalah pemeliharaan sapi di dalam kandang
tertentu, tidak diperkerjakan tetapi hanya diberi pakan dengan nutrien yang
optimal untuk menaikkan berat badan dan kesehatan sapi (Darmono, 1993).Usaha ternak sapi ng
akan berhasil apabila faktor penunjangnya (pakan)
Pakan merupakan salah satu unsur penting yang menunjang kesehatan, pertumbuhan dan
reproduksi ternak. Tujuan utama pemberian pakan adalah menjamin pertambahan bobot badan selama
pertumbuhan serta menjamin produksi yang paling ekonomis. Komposisi pakan beserta kebutuhan
kandungan nutrisi pakan sapi harus memiliki kualitas yang baik untuk menghasilkan komposisi pakan yang
optimum dengan biaya yang efisien (Taufiq dkk,2017).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Sapi Potong

Sapi potong atau disebut sapi tipe pedaging adalah salah satu jenis hewan ternak yang dipelihara
dengan tujuan pokoknya sebagai penghasil daging. Beberapa ciri-ciri dari sapi pedaging yaitu : memiliki
tubuh yang besar, mempunyai badan menyerupai bentuk persegi empat atau balok, kualitas dagingnya
maksimum dan mudah untuk dijual, memiliki laju pertumbuhan yang cepat, cepat dalam mencapai fase
dewasa dan mampu memberikan efisiensi pakan yang tinggi (Santosa,1995). Sapi potong juga termasuk
jenis sapi yang mampu dipelihara khusus untuk proses penggemukkan karena tingkat pertumbuhannya yang
cepat dan mempunyai kualitas daging cukup baik. Sapi-sapi tersebut pada umumnya dijadikan sebagai sapi
bakalan, kemudian dipelihara secara intensif dalam beberapa bulan kedepan sehingga mendapatkan
pertambahan bobot badan yang ideal untuk dipotong (Abidin, 2008) (Dijelaskan dalam jurnal Taufiq
dkk,2017)

Bahan Pakan
Bahan pakan adalah setiap bahan yang dikonsumsi, disukai, mampu untuk dicerna secara
menyeluruh atau hanya sebagian saja, tidak mengandung zat yang membahayakan bagi
pemakannya dan dapat memberikan manfaat bagi hewan ternaknya. Sapi membutuhkan pakan
pada setiap harinya sekitar 10% dari bobot badan hewan ternak itu sendiri, dan sekitar 1-2% dari
bobot badannya harus diberikan pakan tambahan. Pakan sapi terdiri dari beberapa jenis yaitu
hijauan, konsentrat dan pakan tambahan (Udin, 2015). Biaya pakan pada usaha peternakan sapi
potong dapat mencapai 60% dari total biaya pemeliharaan. Makin sulitnya penyediaan pakan yang
memadai baik secara kualitas maupun kuantitas antara lain disebabkan karena bersaingnya lahan dalam
penanaman pakan ternak dengan tanaman pangan. Pada pakan penguat juga terkendala dengan semakin
mahalnya harga pakan dikarenakan banyak komponen pakan yang masih harus diimpor.
Hijauan
Hijauan adalah salah satu jenis pakan didapatkan secara alamiah, seperti rumputrumputan.
Hijauan terkadang sudah cukup menjadi makanan yang baik bagi pertumbuhan sapi. Pakan dengan
jenis hijauan perlu disimpan sebagai cadangan makanan bagi hewan ternak pada saat musim
kemarau. Apabila hijauan tidak mencukupi dalam pembuatan ransum, makan dapat menggunakan
pakan berjenis konsentrat. Jenis pakan hijauan yang dapat dikatakan unggul yaitu rumput gajah,
rumput ilalang, rumput benggala, rumput setaria, rumput bede dan beberapa hijauan unggul
lainnya. Jenis pakan hijauan yang termasuk sebagai hasil limbah pertanian yaitu jerami jagung,
kacang panjang, jerami padi dan jerami kedelai. Limbah pertanian sangat bergantung kepada
budidaya pertanian terutama pertanian tanaman pangan (Taufiq dkk,2017). Limbah pertanian baik
dalam keadaan segar maupun keadaan kering seperti halnya jerami yang memiliki kekurangan
seperti lignoselulosa dengan kadar lignin dan silikat yang tinggi yang menyebabkan daya cernanya
rendah (Suwandyastuti, 1988). Limbah pertanian seperti jerami umumnya digunakan sebagai
pakan sumber serat dengan nilai nutrisi yang relatif rendah. Dalam kondisi ini pakan jenis
konsentrat dibutuhkan untuk tetap mempertahankan kualitas ransum (Antari dan Umiyasih, 2009).

Konsentrat
Konsentrat atau bisa disebut dengan makanan penguat adalah bahan pakan yang memiliki
kadar zat-zat yang makanan tinggi seperti protein ataupun karbohidratnya dan rendahnya serat
kasar (dibawah 18%). Konsentrat termasuk pakan yang mudah untuk dicerna karena terbuat dari
campuran beberapa bahan pakan yang terkandung sumber energi. Jenis pakan konsentrat lebih
baik digunakan saat kekurangan jenis pakan hijauan atau pada masa menjalani program
penggemukan hewan ternak saja. Pakan konsentrat dapat dibagi dua yaitu sebagai sumber protein
dan sumber energi. Contoh pakan yang dikategorikan sebagai jenis pakan konsentrat diantaranya
ada dedak padi, ampas tahu, ampas singkong, dan masih banyak lagi. Konsentrat terkadang
diberikan sebagai bahan pakan tambahan setelah sapi diberikan makanan rumput maupun hijauan
lainnya (Taufiq dkk,2017).

Pakan Tambahan
Pakan tambahan berguna menjadi penambah dari makanan pokok sapi dengan tujuan untuk
meningkatkan produktifitas hewan ternak dari segi kualitas produksinya. Zat aditif yang di berikan
kepada hewan ternak dapat digolongkan menjadi 4 jenis, yaitu vitamin, mineral, antibiotik dan
anabolik (hormonal) (Taufiq dkk,2017). Pakan tambahan yang sering diberikan oleh peternak
antara lain adalah dedak padi dan limbah ubi kayu seperti gabul/onggok dan kulit ubi kayu. Dedak
padi merupakan hasil ikutan pengolahan padi (Oriza sativa) menjadi beras yang sebagian besar
terdiri dari lapisan kulit ari. Penggunaan dedak padi sebagai pakan ternak telah banyak dilakukan
oleh peternak terutama di saat musim panen padi. Nutrisi yang terkandung di dalam dedak padi
adalah protein kasar (PK) sebesar 7,85%; lemak kasar (LK) sebesar 9,10% dan serat kasar (SK)
sebesar 16,75% (hasil analisa di Laboratorium Loka Penelitian Sapi Potong, 2003). Dilihat dari
kadar seratnya yang tidak terlalu tinggi maka dedak baik digunakan sebagai pakan tambahan
(penguat). Tanaman ubi kayu (Manihot utilissima) adalah komoditas tanaman pangan yang cukup
potensial di Indonesia selain padi dan jagung. Termasuk dalam famili Eupharbiceae. Banyak
dijumpai nama lokal dari ubi kayu antara lain singkong, kaspe, budin, sampen dan lain-lain.
Tanaman ubi kayu dapat tumbuh dengan mudah hampir di semua jenis tanah dan tahan terhadap
serangan hama maupun penyakit; pada umumnya diambil umbinya sebagai pangan sumber
karbohidrat yang utama (54,20%); industri tepung tapioka (19,70 %); industri pakan ternak
(1,80%); industri non pangan lainnya (8,50%) dan sekitar 15,80% diekspor (Mariyono dan
Krishna, 2008).
Nutrien Sapi Potong
Produktivitas ternak sapi potong sangat bergantung kepada nutrisi yang harus terpenuhi.
Rendahnya angka kebuntingan, service per conception yang tinggi, serta calving interval yang
panjang menjadi faktor penghambat dalam mencapai keberhasilan produksi ternak. Kesuburuan
ternak yang rendah dapat diakibatkan oleh asupan nutrisi yang kurang. Nutrisi pada ternak berasal
dari pakan yang diberikan, namun masih rendahnya kemampuan peternak untuk membiayai
kebutuhan ternaknya menjadi salah satu kendala. Evaluasi tentang baik buruknya nutrisi yang
diberikan pada ternak sapi dapat dilihat dari kadar kalsium dan fosfor dalam serum darah. Kadar
mineral normal dalam tubuh merupakan aspek penting dalam keseimbangan energi dan
metabolisme untuk meningkat fertilitas. Kekurangan mineral kalsium dan fosfor pada sapi menjadi
faktor yang menyebabkan rendahnya fertilitas pada sapi potong (Kaushik,2000).

Formulasi Pakan
Menurut Perry (2004) terdapat beberapa kebutuhan pokok agar dapat melakukan formulasi
pakan dengan komputer, antara lain fasilitas komputer yang memadai, sumberdaya manusia yang
terlatih, informasi kebutuhan nutrien ternak, informasi jenis bahan pakan yang tepat, informasi
komposisi bahan pakan dan informasi harga bahan pakan yang tersedia. Ada beberapa aplikasi
yang beredar dipasaran yang dapat digunakan untuk mencari komposisi formulasi pakan yang
optimal. Beberapa diantaranya adalah Winfeed, dan Feedsoft. Ada beberapa karakteristik dalam
aplikasiaplikasi tersebut : 1. Data yang dimasukkan adalah nama bahan, komposisi nutrisi bahan,
dan harga masing-masing bahan. 2. Dapat menggunakan batasan minimum atau maksimum jumlah
bahan. 3. Dapat menggunakan batasan minimum atau maksimum kandungan nutrisi. Dalam
penyusunan ransum khusus untuk melakukan proses penggemukkan sapi, kebutuhan pakan akan
dibagi menjadi dua, yaitu pakan tambahan(konsentrat) dan pakan hijauan. Masing-masing bagian
tersebut memiliki rasio sekitar 40 : 60. Perbandingan ini sangat sesuai dalam proses penggemukan
secara intensif terhadap sapi. Pengukuran ini berdasarkan kemampuan sapi. dalam mengkonsumsi
jumlah pakan berdasarkan bobot sapi tersebut. Hal yang dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kemampuan mengkonsumsi jumlah pakan berbobot Bobot (Kg)
Bobot Mengkonsumsi
Bobot
Pakan (% dari bobot
(Kg)
tubuh)
100-150 3,5
150-200 4
200-250 3,5
250-300 2,8
300-350 2,6
350-400 2,4
450-500 2
(Taufiq dkk, 2017).
BAB III
PELAKSANAAN
Materi
Daftar Pustaka

Abidin, Z., 2008. Penggemukan Sapi Potong. Jakarta: Agromedia.


Antari, R dan Umiyasih, U. 2009. 233 Profil Tata Laksana Pemeliharaan Dan Pakan Sapi Potong
Pembibitan Di Daerah Sentra Industri Tepung Tapioka Skala Rakyat: Studi Kasus Di Kecamatan Pundong,
Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner
2009
RISA ANTARI dan U. UMIYASIH
Darmono, 1993. Tata Laksana Usaha Sapi Kareman. Kanisius. Yogyakarta.
Kaushik, S., 2000. Feed Formulation, diet development and feed technology. CIHEAM, Issue 47,
pp. 43-51.
Mariyono dan N.H. Krishna. 2008. Pemanfaatan limbah pertanian untuk pakan ruminansia.
Seminar Intern Puslitbang Peternakan, Bogor.
Perry, T. W., Cullison, A. & Lowrey, R., 2004. Feeds and Feeding 6th Edition. New Jersey: Pearson
Education, Inc. Upper Saddle River.
Santosa, U., 1995. Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Jakarta: Penebar Swadaya.
Suwandyastuti ,S.N.O. 1988. Pemanfaatan limbah agro-industri untuk meningkatkan nilai nutrisi
jerami padi. Pros. Pertemuan Ilmiah Ruminansia. Puslitbang Peternakan, Bogor.
Taufiq, N.M., Dewi, C dan Mahmudy, W.F. 2017. Optimasi Komposisi Pakan Untuk
Penggemukkan Sapi Potong Menggunakan Algoritma Genetika. Jurnal
Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer e-ISSN: 2548-964X Vol.
1, No. 7.
Udin, 2015. Menjadi Kaya dengan Usaha Ternak Sapi Potong. [Online] Available at:
http://jualansapi.com/ternaksapi-menjadi-kaya-dengan-beternak-sapipotong. Diakses
tanggal 14 April 2018, Pukul 21.00 WIB.