Anda di halaman 1dari 13

Teori akuntansi

January 18, 2015 | n2cs_novia

2 Votes

BAB 1
RERANGKA KONSEPTUAL

LO 1 PERAN RERANGKA KERJA KONSEPTUAL


Rerangka konseptual akuntansi bertujuan untuk menyediakan struktur teori akuntansi. Pada
tingkat teoritis tertinggi, rerangka konseptual menyatakan ruang lingkup dan tujuan pelaporan
keuangan. Pada tingkat konseptual mendasar berikutnya, kerangka konseptual mengidentifikasi
dan mendefinisikan karakteristik kualitatif informasi keuangan (seperti relevansi, keandalan,
komparatif, dan kemampuan dapat dimengerti) dan elemen dasar akuntansi (seperti aktiva,
kewajiban, ekuitas, biaya pendapatan, dan laba). Di tingkat operasional yang lebih rendah,
kerangka kerja konseptual sepakat dengan prinsip dan aturan pengakuan dan pengukuran elemen
dasar dan jenis informasi yang akan ditampilkan dalam laporan keuangan. Berikut ini adalah
struktur dari kerangka konseptual yang diilustrasikan dalam gambar:

Rerangka konseptual itu sendiri didefinisikan oleh FASB sebagai berikut:

… sebuah sistem koheren dari tujuan yang saling berkaitan dan fundamental yang diharapkan
dapat mengarah pada standar yang konsisten dan dapat mengatur sifat, fungsi dan batas-batas
akuntansi dan pelaporan keuangan.

Kata ‘sistem koheren’ dan ‘konsisten’ mencerminkan bahwa FASB membuat kerangka yang
teoritis dan tidak berubah-ubah, serta kata ‘mengatur’ menunjukkan pendekatan normatif dalam
penyusunannya. Namun meskipun IASB dan FASB telah berusaha untuk menyusun kerangka
konseptual tersebut, tidak semua akuntan memiliki pendapat yang sama terhadap kehadiran
kerangka konseptual ini. Beberapa akuntan berpendapat bahwa membuat teori yang berlaku
umum melalui sebuah kerangka konseptual tidak diperlukan. Mereka beralasan bahwa mereka
dapat tetap bertahan didalam pelaksanaan profesi akuntan tanpa sebuah teori yang terstruktur
secara formal.

Pernyataan tersebut memang benar adanya, namun muncul beberapa masalah terkait praktik
didalam akuntansi karena tidak adanya teori umum akuntansi yang terstruktur. Salah satunya
adalah, praktik akuntansi dinilai sangat tidak disiplin dan tidak konsisten. Tiap-tiap entitas
diperbolehkan untuk memilih metode akuntansinya sendiri. Maka dari itu, kerangka konseptual
membawa beberapa manfaat dan peran penting didalam akuntansi, diantaranya yaitu :
Persyaratan pelaporan dapat lebih konsisten dan logis, oleh karena berasal dari sebuah konsep
yang jelas, konsisten, dan terstruktur. Misalnya, kini seluruh entitas diharuskan menggunakan
nilai wajar dalam penilaian aset-nya, tidak lagi memakai kos historis aset tersebut.
Adanya aturan yang dijelaskan dalam kerangka konseptual memaksa pihak-pihak yang
bertanggungjawab harus membuat laporan yang sesuai dengan kerangka.
Pihak-pihak yang menyusun laporan keuangan dapat lebih bertanggung jawab terhadap apa yang
dibuatnya, karena seluruh persyaratan dalam membuat laporan keuangan telah tertera jelas
didalam kerangka.
Meminimalisir risiko dari over-regulation.
Baik akuntan maupun auditor dapat lebih memahami persyaratan laporan keuangan yang mereka
buat atau periksa.
Pengaturan persyaratan dapat lebih bersifat ekonomi, karena tiap isu-isu yang muncul tidak perlu
diperdebatkan kembali dari berbagai sudut pandang.

LO 2 TUJUAN KERANGKA KERJA KONSEPTUAL


Tujuan dari kerangka konseptual adalah untuk memberikan pedoman dalam penyusunan dan
penyajian laporan keuangan bertujuan umum. Lebih lanjut lagi, IASB dan FASB menjelaskan
tujuan utama pelaporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi keuangan yang berguna
kepada para pengguna, baik itu investor maupun kreditor. Informasi tersebut akan dipilih
berdasarkan kegunaannya dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. Tujuan tersebut dapat
tercapai dengan melaporkan informasi yang :
Berguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Berguna dalam menilai prospek arus kas.
Berisi tentang sumber daya perusahaan, klaim terhadap sumber daya tersebut dan perubahan
yang ada di dalamnya.

Dalam menyediakan laporan keuangan yang berguna, seorang akuntan harus memilih informasi
mana yang akan disajikan. Oleh sebab itu, penting untuk membangun kerangka kualitatif untuk
membuat informasi menjadi berguna. SFAC dan IASB menjelaskan mengenai karakteristik
kualitatif. Berikut adalah kerangka dari karakteristik kualitatif dalam akuntansi :

Kerangka IASB lalu dikembangkan lebih lanjut mengikuti jejak FASB. Pada periode 1987-2000,
FASB membuat tujuh pernyataan konsep yang mencakup topik-topik berikut:

Tujuan dari pelaporan keuangan oleh perusahaan bisnis dan organisasi non profit.
Karakteristik kualitatif informasi akuntansi yang berguna.
Unsur-unsur laporan keuangan.
Kriteria dalam pengakuan dan pengukuran unsur-unsur.
Penggunaan arus kas dan menyajikan informasi nilai dalam pengukuran akuntansi.
IASB hanya memiliki satu konsep laporan, yaitu kerangka atas penyusunan dan penyajian
laporan keuangan. IASB pada tahun 2001 menggambarkan konsep-konsep dasar laporan
keuangan yang disusun menyatakan bahwa kerangka:
Menentukan tujuan laporan keuangan
Mengidentifikasi karakteristik kualitatif yang membuat informasi dalam laporan keuangan
berguna
Mendefinisikan elemen dasar laporan keuangan dan konsep untuk pengakuan dan pengukuran
mereka dalam laporan keuangan.

IAS 1 penyajian laporan keuangan dan IAS 8 kebijakan akuntansi, perubahan estimasi akuntansi
dan menangani kesalahan dengan penyajian laporan keuangan dan membuat reverance untuk
kerangka. IAS 8 mengatur bahwa dalam ketiadaan standar IASB atau interpretasi yang secara
khusus berlaku untuk transaksi, bahkan atau kondisi lain, manajemen harus menggunakan
pertimbangan dalam mengembangkan sebuah penerapan akuntansi yang menghasilkan informasi
yang:
Relevan dengan keputusan ekonomi membuat kebutuhan pengguna
Handal, dalam laporan keuangan: setiapnya merupakan posisi keuangan, kinerja keuangan dan
arus kas entitas.
Mencerminkan substansi ekonomi dari transaksi.
Adalah netral, yaitu bebas dari bias.
Adalah tepat.
Lengkap dalam semua hal yang material

LO 3 PENGEMBANGAN KERANGKA KONSEPTUAL


Dalam pengembangannya, kerangka konseptual dipengaruhi beberapa isu,
Pengaturan Standar Berbasis Prinsip dan Berbasis Aturan.
IASB bertujuan untuk menciptakan standar yang bersifat berbasis prinsip yang akan mengacu
pada kerangka konseptual untuk lebih lanjut. Maka, konten yang terdapat di dalam kerangka
konseptual akan bersifat sebagai ide standar yang menjadi penyokong pengembangan standar
dan membantu pengguna untuk menginterpretasikan standar tersebut.
Namun, IASB sendiri memiliki beberapa peraturan yang cenderung bersifat berbasis aturan, dan
ini bertentangan dengan tujuan awalnya. Salah satunya adalah IAS 39 (Financial Instrument:
Recognition and Measurement). Menurut Christopher Nobes, pakar akuntansi dari University of
London, akan lebih baik jika alasan standar menjadi berbasis aturan karena mereka menjadi tidak
konsisten dengan kerangka konseptual yang dibuat oleh para pembuat standar. Perubahan ini
sendiri tentu akan membawa manfaat lebih banyak, karena dapat memperjelas komunikasi
mengenai peraturan dan meningkatkan ketelitian tanpa perlu peraturan yang lebih detail lagi
(karena sudah tercantum di standar). Lebih lanjut lagi, Nobes mengidentifikasi enam contoh
peraturan yang lebih bersifat berbasis aturan, yakni mengenai akuntansi sewa guna usaha,
akuntansi untuk manfaat karyawan, aset keuangan, hibah pemerintah, anak perusahaan dan
ekuitas.
Hal diatas adalah salah satu contoh perdebatan antara basis aturan dan basis prinsi. Jika dilihat
dari segi kelebihan dan kekurangannya, keuntungan basis aturan antara lain dapat meningkatkan
komparabilitas dan verifiabilitas untuk auditor dan para pembuat aturan. Selain itu, basis aturan
juga mampu mengurangi kesempatan terjadinya manajemen laba; walau mereka
memperbolehkan restrukturisasi khusus transaksi selama masih dalam koridor peraturan. Namun,
walau memiliki kelebihan-kelebihan seperti yang disebutkan diatas, sebuah studi yang dilakukan
oleh Securities and Exchange Commission (SEC) pada 2002 (atas perintah Sarbanes-Oxley Act)
merekomendasikan penggunaan basis prinsip, namun standar tersebut wajib memiliki
karakteristik:
Didasarkan pada kerangka konseptual yang sudah berkembang dan diaplikasikan secara
konsisten.
Mencantumkan dengan jelas tujuan dari standar.
Menyediakan detail yang cukup dan struktur yang bisa dioperasikan dan bisa diaplikasikan
secara konsisten.
Meminimalisir penggunaan pengecualian dari standar.
Menghindari penggunaan persentase tes (memerlukan perhatian khusus) yang membolehkan
rekayasa keuangan untuk mencapai kepatuhan teknis dengan menghindarkan maksud dari
standar itu sendiri.
Indonesia sendiri mengadopsi basis aturan dengan acuan besar adalah IFRS dan membuat basis
aturan yang lebih detail di PSAK. Adopsi ini baru dilakukan di tahun 2012, ketika terjadi
perubahan acuan peraturan dari GAAP ke IFRS.

Informasi Untuk Pengambilan Keputusan Dan Pendekatan Pengambilan Teori


Sudah umum diketahui bahwa data akuntansi digunakan untuk tujuan pengambilan keputusan
atau evaluatif dalam kaitannya dengan entitas tertentu. Informasi akuntansi untuk pengambilan
keputusan dimulai dengan fungsi stewardship. Di masa lalu, steward dalam perubahan nyata
harus menjelaskan kepada master. Dalam era Pacioli, akuntansi harus dibuat ‘diam’ setelah
sebuah usaha selesai. Sekarang, manajemen bertanggung jawab kepada pemegang ekuitas
perusahaan. Mereka yang memasok modal untuk usaha ingin tahu apa yang dilakukan oleh
manajer dengan sumber daya ekonomi yang dipercayakan kepada mereka. Informasi tentang
bagaimana manajer telah bebas dari tanggung jawab kepengurusan mereka digunakan oleh
pemegang ekuitas untuk mengevaluasi kinerja manajer dan perusahaan.

Salah satu alasan untuk penekanan ini, mungkin, perkembangan teori keputusan. Informasi untuk
pengambilan keputusan, bagaimanapun, tidak untuk menggantikan informasi yang berkaitan
dengan pengelolaan atau akuntabilitas. Informasi untuk pengambilan keputusan menyiratkan
lebih dari informasi tentang pendampingan. Pertama, para pengguna informasi keuangan
diperluas untuk mencakup semua penyedia sumber daya, penerima barang dan jasa dan pihak
yang melakukan pengamatan atau pengawasan fungsi. Kedua, informasi akuntansi dipandang
sebagai data input untuk prediksi model pengguna. Karena itu, kita harus mengajukan
pertanyaan: jenis informasi akuntansi apa yang relevan dengan prediksi pengguna kinerja masa
depan? Ketiga, sementara stewardship berkaitan dengan masa lalu untuk menilai apa yang telah
dicapai, prediksi berkaitan dengan masa depan.

THE DECISION THEORY PROCESS


Secara keseluruhan, dapat dipahami mengapa pengembangan kerangka konseptual di level
nasional menjadi sangat sulit. Godfrey berpendapat bahwa dalam pengembangannya, kerangka
konseptual harus lebih menitikberatkan pada rasionalisasi penggunaan masa kini dibanding
reafirmasi kerangka di aspek hukum, sosial dan ekonomi dalam fungsi akuntansi. Selain itu,
kerangka konseptual masa kini juga harus mencari lebih dalam pengembangan kerangka berbasis
konstitusi untuk akuntansi dibanding fokus pada konsep pondasi hal-hal sehari-hari. Karena, hal-
hal tersebut akan lebih sulit dibuat ketika terjadi perbedaan antarnegara.
Jones dan Wolnizer memberi saran agar kerangka konseptual harus memiliki peran yang penting
dalam mengemukakan persetujuannya dalam karakteristik ruang lingkup, tujuan, kualitatif, dan
pengukuran dari akuntansi yang terpengaruh dengan pengaturan standar. Walau demikian,
mereka juga berargumen mengenai konvergensi dengan kerangka IASB, bahwa hal ini akan
menurukan inisiasi dan inovasi dalam pengembangan kerangka konseptual itu sendiri, karena
negara tidak lagi bekerja secara independen.

Perkembangan Internasional: Kerangka Konseptual IASB Dan FASB


Pada Oktober 2004, FASB dan IASB menambahkan sebuah proyek bersama untuk agenda
mereka untuk mengembangkan peningkatan, kerangka konseptual umum. Kerangka yang
direvisi akan membangun kerangka IASB dan FASB yang ada dan mempertimbangkan
perkembangan selanjutnya dengan menerbitan kerangka kerja tersebut. Dewan menyatakan
bahwa kerangka tersebut adalah penting untuk memenuhi tujuan dewan dimana mengembangkan
standar yang berbasis prinsip, konsisten secara internal, dan memusatkan perhatian internasional.
Mereka mempertahankan bahwa standarts tersebut akan membuat pelaporan keuangan
menyediakan informasi penyedia modal harus membuat keputusan dalam kapasitasnya sebagai
penyedia modal. FASB menyatakan bahwa proyek ini akan melakukan hal berikut:
Fokus pada perubahan lingkungan sejak kerangka asli diterbitkan, serta kelalaian dalam
kerangka asli, untuk meningkatkan, melengkap, dan berfokus pada kerangka yang ada secara
efektif dan efisien.
Berikan prioritas untuk menangani dan membahas isu-isu tersebut dalam setiap fase yang
cenderung menghasilkan manfaat bagi dewan dalam jangka pendek; yaitu, isu lintas sektoral
yang mempengaruhi sejumlah proyek mereka untuk standar baru atau yang direvisi. Dengan
demikian, bekerja pada beberapa fase proyek akan dilakukan secara serentak dan dewan
berharap untuk mendapatkan keuntungan dari pekerjaan yang dilakukan pada proyek-proyek
lain.
Awalnya pertimbangan konsep berlaku untuk badan usaha swasta. Kemudian, dewan akan
bersama-sama mempertimbangkan penerapan konsep tersebut kepada sektor swasta tidak-untuk
organisasi nirlaba. Perwakilan dari sektor publik (pemerintah) dewan penetap standar sedang
memantau proyek dan, dalam beberapa kasus, mengingat potensi konsekuensi dari pembahasan
sektor swasta untuk entitas sektor publik.

IASB/FASB CONCEPTUAL FRAMEWORK PROJECT


Fase
Topik

A
Objective and Qualitative Characteristics

B
Elements and Recognition

C
Measurement

D
Reporting Entity

E
Presentation and Disclosure, including Financial Reporting Boundaries (Inactive)
F
Framework Purpose and Status in GAAP Hierarchy (Inactive)

G
Applicability to the Not-for-Profit Sector (Inactive)

H
Remaining Issues (Inactive)

Keputusan untuk menunda pertimbangan isu-isu sektor nirlaba telah diperdebatkan.


Di negara-negara seperti Australia dan Selandia baru, yang mengikuti pendekatan ‘sektor netral’
untuk masalah penetapan standar berkaitan dengan sektor nirlaba perlu ditangani pada saat yang
sama saat konsep dikembangkan untuk sektor nirlaba. Umpan balik dari pembuat standar
nasional telah menyarankan tiga daerah di mana dewan mengangkat isu-isu untuk sektor nirlaba.
Mereka adalah:
Penekanan cukup pada akuntabilitas dan pelayanan
Kebutuhan untuk memperluas identifikasi pengguna dan membentuk alternatif kelompok
pengguna utama
Ketidaktepatan fokus arus kas

Entitas VS Perspektif Kepemilikan


Sebagaimana dibahas dalam buku ini, entitas dan perspektif kepemilikan merupakan pendekatan
yang berbeda untuk pelaporan keuangan. Dewan merekomendasikan bahwa laporan keuangan
harus disiapkan dari perspektif entitas daripada perspektif pemilik atau kelompok pemilik
tertentu. Banyak responden setuju bahwa entitas berbeda dari pemiliknya, dengan demikian
menyetujui laporan dari perspektif entitas.

Kelompok Pengguna Utama


Dewan mengusulkan bahwa kelompok pengguna utama untuk pelaporan keuangan untuk tujuan
umum adalah penyedia modal saat ini dan penyedia modal potensial. Sebagian besar responden
setuju dengan pendekatan dewan bahwa penyedia modal saat ini dan penyedia modal potensial
entitas adalah kelompok pengguna utama. Dengan catatan bahwa memiliki kelompok primer
yang beragam bisa menyederhanakan hubungan antara entitas dan pengguna individu.

Kegunaan Keputusan & Stewardship


Menurut dewan, tujuan pelaporan keuangan harus cukup luas untuk mencakup semua keputusan
investor, pemberi pinjaman, dan kreditur lainnya dalam kapasitas mereka sebagai penyedia
modal, termasuk keputusan alokasi sumber daya serta keputusan yang dibuat untuk melindungi
dan meningkatkan investasi mereka. Banyak responden setuju dengan pandangan dewan.
Namun, banyak responden lain yang khawatir bahwa tujuan dari penatagunaan tidak cukup
ditekankan, sedangkan peran laporan keuangan dalam memberikan informasi untuk
memungkinkan pengguna untuk meramalkan arus kas masa depan lebih ditekankan.

LO 4 KRITIK TERHADAP KERANGKA KONSEPTUAL


Kerangka konseptual yang telah ada ternyata menuai kritik dari berbagai negara, Kritik-kritik
tersebut memiliki analisis yang menjelaskan alasan mereka mengeluarkan kritik. Pertama,
kerangka konseptual harus menggunakan pendekatan yang bersifat ilmiah, sehingga validasi
kerangka harus dapat dijelaskan secara logis dan empiris. Selanjutnya, pendekatan secara
profesional yang berfokus untuk menyarankan tindakan terbaik dengan melakukan tindakan yang
profesional. Sebenarnya, tujuan pembuatan kerangka konseptual adalah untuk menjawab segala
pertanyaan-pertanyaan mengenai standar akuntansi, sehingga menghindari terulangnya argumen
mengenai hal yang sama. Selain itu, kerangka konseptual juga memberikan arahan dan
keputusan bagi akuntan dalam menjelaskan informasi yang relevan untuk pembuatan keputusan
ekonomi. Untuk itu, persetujuan yang telah dibuat mengenai standar akuntansi seharusnya dapat
meminimalisasi ketidak-konsekuenan dan ketidaksamaan yang muncul dari penilaian-penilaian
yang berbeda.

Dopuch dan Sunder berpendapat bahwa kerangka konseptual yang dikeluarkan oleh FASB tidak
cukup membantu dalam menyelesaikan isu kontemporer pada pengukuran dan pengungkapan.
Menurut mereka, terdapat tiga isu yang masih ambigu:
Definisi beban masih terlalu umum sehingga sulit untuk menentukan posisi pajak yang
ditangguhkan.
Kerangka konseptual mendukung dua prinsip akuntansi yang bertolak belakang yaitu kos penuh
dan successful efforts. Pada prinsip successful efforts, perusahaan diperbolehkan untuk hanya
mengkapitalisasi beban-beban yang berkaitan dengan penemuan lokasi tambang minyak dan gas
alam yang berhasil, jika terjadi penemuan lokasi tambang yang tidak terdapat minyak dan gas
alam, maka beban tersebut dikurangi langsung terhadap pendapatan pada periode tersebut.
Sedangkan, untuk kos penuh, semua beban yang berkaitan dengan penemuan lokasi tambang
minyak dan gas alam baru (tanpa memperhatikan hasilnya) boleh dikapitalisasi.
Tidak menyelesaikan masalah estimasi.

Sebuah Disiplin yang Tidak Ilmiah


Stamp (1981):
“Sampai kami yakin dalam pikiran kita tentang sifat akuntansi, itu sia-sia untuk profesi yang
menginvestasikan sumber daya yang besar dalam mengembangkan kerangka kerja konseptual
untuk mendukung standar akuntansi.”

Stamp meyakini bahwa akuntansi lebih berpihak kepada hukum daripada physical science karena
profesi akuntansi dan hukum berhubungan dengan konflik yang terjadi diantara kelompok
pengguna ilmu tersebut dengan kepentingan dan tujuan yang bermacam-macam. Menurutnya,
hukum merupakan disiplin normatif yang penuh dengan konsep nilai sarat, dan akuntansi
berhadapan dengan kondisi pasar tidak sempurna dan bersifat subjektif sesuai dengan proses
pembuatan keputusan. Sedangkan yang dimaksud physical science adalah disiplin positif, hal
yang dapat dideskripsikan dan memiliki karakteristik bebas dari nilai konsep. Akuntansi positif
adalah penjelasan atau penalaran untuk menunjukkan secara ilmiah kebenaran pernyataan atau
fenomena akuntansi seperti apa adanya sesuai fakta. Teori ini bertujuan menjelaskan,
meramalkan, dan memberi jawaban atas praktik akuntansi. Di samping itu, teori ini juga
meramalkan berbagai fenomena akuntansi dan menggambarkan bagaimana interaksi antar-
variabel akuntansi dalam dunia nyata. Validitas teori akuntansi positif dinilai atas dasar
kesesuaian teori dengan fakta atau apa yang nyatanya terjadi (what it is). Sedangkan akuntansi
normatif adalah penjelasan atau penalaran untuk menjustifikasi kelayakan suatu perlakuan
akuntansi paling sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan, sehingga lebih menjelaskan praktik-
praktik akuntansi yang seharusnya berlaku (it should be).

Pendekatan akuntansi positif menghasilkan taksonomi akuntansi sebagai ilmu. Sedangkan


pendekatan akuntansi normatif menghasilkan taksonomi akuntansi sebagai seni. Hingga saat ini,
teori akuntansi positif masih dalam proses yang dapat dijadikan dasar dalam proses pembentukan
akuntansi menjadi ilmu.

Penilitian Positif
Tujuan utama dari dibuatnya kerangka konseptual adalah untuk menyediakan informasi
keuangan yang dapat membantu pengguna menentukan keputusan ekonomi. Namun, sekarang
riset pasar meragukan kemampuan data akuntasi yang dipublikasikan untuk mempengaruhi harga
saham. Beberapa teknik akuntansi digunakan untuk memanipulasi keadaan pasar. Tujuan dari
kerangka konseptual adalah untuk meyakinkan pengguna laporan keuangan dapat mendapatkan
informasi yang berguna untuk proses pengambilan keputusan.

Kerangka Konseptual sebagai Sebuah Dokumen Kebijakan


Sebuah cara yang dapat digunakan untuk melihat kerangka konseptual menjadi ilmiah adalah
dengan mempertimbangkannya menjadi sebuah dokumen kebijakan. Ijiri membedakan model
normatif dan kebijakan. Model normatif dibuat berdasarkan asumsi pasti mengenai tujuan yang
akan dicapai. Meskipun model normatif memiliki implikasi, namun tetap berbeda dengan
pertimbangan kebijakan yang melibatkan komitmen terhadap tujuannya. Ijiri juga
mengungkapkan bahwa dalam akuntansi, teori dan kebijakan bercampur menjadi satu, tidak
seperti ilmu pengetahuan lainnya. Menurut Tinker, terdapat cara lain untuk mengesahkan tingkat
teoritikal yaitu dengan pendekatan deskriptif. Teori deskriptif adalah usaha untuk menemukan
hubungan yang sebenarnya terjadi. Panalaran Induktif biasanya disebut dengan teori deskriptif.
Pendekatan deskriptif memiliki implikasi untuk menentukan apakah contoh kerangka konseptual
merupakan refleksi dari nilai profesional.

Buckley memiliki model kebijakan melalui pendekatan konstitusional, dimana prinsip-prinsip


yang berlaku berasal dari kebenaran, sama seperti cara FASB menentukan kerangka konseptual.
Pendekatan konstitusional sesuai dengan pernyataan bahwa akuntansi bergantung pada
kepercayaan di kejadian yang sebenarnya.
Chamber mengungkapkan:

semua yang kita miliki sebagai fundamental atau dasar adalah seperangkat proposisi yang lebih
atau kurang didirikan secara sewenang-wenang, atau yang mana adalag dogma biasa. Tidak ada
inti ide atau pengetahuan yang mengacu pada apakah dapat dinilai atau tidak proposisi yang
lebih baik untuk orang lain, kita hanya harus menerima mereka.

Kirk berpendapat bahwa standar yang dibuat berdasarkan konsensus adalah bagian dari
memeprcayai standar yang merupakan ketentuan dan terbentuk karena persetujuan. Beliau
mengembangkan bahwa sebuah kerangka konseptual disajikan untuk kepentingan publik karena
merupakan pendekatan konseptual. Sedangkan standar yang dibuat berdasarkan konsensus tidak
digunakan untuk kepentingan publik, karena merupakan pendekatan politik. Hal ini menjadi
masalah karena kepentingan publik diwakili oleh pengguna dengan kebutuhan yang
bertentangan. Sedangkan menurut pendapat Miller, standar yang dibuat menurut konsensus
hanya akan menghasilkan ketidakkonsistenan.

LO 5 KERANGKA KONSEPTUAL UNTUK STANDAR AUDIT


Teori audit awal menekankan peran logika dan konsep-konsep kunci seperti independensi
auditor dan pengumpulan bukti. Pada tahun 1990-an proses audit formal berada dibawah tekanan
oleh klien untuk biaya audit yang lebih rendah dengan nilai yang lebih besar. Ada pergeseran
penekanan utama dari pengujian substantif ke pertimbangan risiko audit, khususnya peran risiko
bisnis klien. Audit risiko bisnis menekankan dampak ancaman terhadap model bisnis klien dari
faktor eksternal dan risiko yang dihasilkan dari penipuan dan kesalahan dalam laporan keuangan.
Kritisan percaya bahwa audit risiko bisnis merupakan upaya untuk membenarkan pengurangan
pekerjaan audit dan konsultasi yang lebih besar. Perubahan legislatif sejak awal tahun 2000-an
telah membatasi kesempatan konsultasi bagi klien audit tetapi juga meningkatkan fokus pada
pengendalian internal audit klien.

TAMBAHAN :
Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual FASB (Financial Accounting Standard Board) telah
menerbitkan enam statement of financial accounting concept yang berhubungan dengan
pelaporan keuangan entitas bisnis, yaitu:
SFAC no. 1 “objective of financial reporting by business enterprises”, yang menyajikan tujuan
dan sasaran akuntansi.
SFAC no. 2 “qualitative caracteristics of accounting information”, yang menjelaskan
karakteristik yang membuat informasi akuntansi bermanfaat.
SFAC no. 3 “element of financial statement of business enterprises”, yang memberikan definisi
dari pos-pos yang terdapat dalam laporan keuangan seperti aktiva, kewajiban, pendapatan dan
beban.
SFAC no. 5 “recognition and measurement in financial statement of business enterprises”, yang
menetapkan kriteria pengakuan dan pengukuran fundamental serta pedoman tentang informasi.
SFAC no. 6 “element of financial statement”, yang menggantikan SFAC no. 3 dan memperluas
SFAC no. 3 dengan memasukkan organisasi-organisasi nirlaba.
SFAC no. 7 “using cash flow information and present value in accounting measurement”, yang
memberikan kerangka kerja bagi pemakaian arus kas masa depan yang diharapkan dan nilai
sekarang (present value) sebagai dasar pengukuran

IAI CHAPTER 1
Pada chapter ini, IAI memuat kerangka dasar penyusunan dan penyajian laporan keuangan yang
merumuskan konsep yang mendasari penyusunan dan penyusunan laporan keuangan bagi para
pengguna eksternal. Chapter ini juga mengidentifikasi para pengguna antara lain: investor,
karyawan, pemberi jaminan, pemasok dan kreditor usaha lainnya, pelanggan, pemerintah, dan
masyarakat. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bersifat umum. Sedangkan ruang
lingkup kerangka ini sendiri meliputi Tujuan Laporan Keuangan yaitu Menyediakan informasi
yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan
yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi.
Informasi yang disajikan dengan menggunakan asumsi dasar akrual dan kelangsungan usaha.
Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Dapat dipahami
Relevan: dapat membantu pengguna mengevaluasi peristiwa masa lalu, sekarang, maupun masa
depan, menegaskan, dan megoreksi hasil evaluasi pengguna masa lalu à prediktif dan konfirmatif
(materialitas).
Keandalan (reliable)
Penyajian jujur
Substantansi mengungguli bentuk
Netralitas
Pertimbangan sehat
Kelengkapan
Dapat dibandingkan
Untuk memenuhi karakteristik relevan dan andal, terdapat beberapa kendala antara lain: tepat
waktu, keseimbangan antara biaya dan manfaat, dan keseimbangan di antara karakteristik
kualitatif.

RINGKASAN MATERI

Rerangka konseptual
Berisi apa, mengapa dan bagaimana akuntansi itu diperlukan untuk menentapkan informasi apa
yang seharusnya disajikan untuk memenuhi kebutuhan stakeholder.

Pelaporan keuangan adalah laporan keuangan dan berbagai informasi tambahan sehingga
informasi tersebut dapat digunakan untuk mengambil keputusan. Misal, informasi dari
manajemen untuk melakukan ekspansi, rencana pembagian saham.

Tujuannya adalah memeberikan informasi yang lebih lengkap yang bias digunakan oleh para
pemakai laporan keuangan dalam mengambil keputusan.

Rerangka konseptual menurut FASB


Suatu rerangka konseptual yang digunakan sebagai standar pelaporan. Terdiri dari tujuan
pelaporan, karakteristik kualitatif, unsur – unsur laporan keuangan, bagaimana mengukur elemen
laporan keuangan, dan tambahan penilaian presentasi value akun.

Tujuan:
Tujuan untuk memprediksi arus kas dimasa yang akan datang
Sumberdaya dank lien serta perubahannya ( laporan posisi keuang dan laporan laba rugi)
Membantu kreditur dan investor potensial
Mengembalikan investasi kepada pihak luar

Persyaratan kualitatif yang harus dilakukan supaya laporan keuangan dapat digunakan:
Dapat dipahami (understandbility)
Relevan : sesuai dengan tujuan.

Elemennya:
time line (batasan waktu)
feedback value (hubungan timbal baik dimasa lalu),
prediktif value (prediksi kejadian dimasa yang akan datang)
Reliability : dapat diandalkan

Elemennya :
variability (mampu diuji kebenarannya),
representational (apa adanya),
neutrality (tidak berpihak satu orangpun syarat pengukurannya harus akurat)
.
Comparability : dapat dibandingkan dari beberapa orang.
Materiality : manajemen sumber daya manusia cukup signifikan dalam memepengaruhi
keputusan akuntansi.

Kerangka konseptual menurut IASB


Unsur laporan keuangan:
Posisi keuangan
Aktiva
Kewajiban
Ekuitas

Kinerja
Penghasilan
Beban

Aset tetap harus disusun karena kemungkinan manfaatnya dimasa yang akan datang berkurang.

Measurent (dapat diukur), diukur dengan alat pengukur yang sesuai dan dapat diandalkan.
Relevan: info yang sesuai dengan pengambil keputusan
Reliable:
Netral
Prudente: tidak boleh memberikan info yang terlalu optimis
Lengkap
Representasionally full
Substansial
Misal mengkredit rumah, kita dianggap telah memiliki rumah tersebut

Principle-based dan Role based standard


Principle based: berdasarkan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum
Role based: pembentukan standar yang dilakukan berdasarkan aturan-aturan yang berlaku
dipengaruhi regulasi unsure-unsur yang dominan (unsure politik)
USGAB menekankan pada role based
IAS menekankan pada principle

Kritik Terhadap Kerangka Konseptual


Adanya asumsi yang sama sehingga bersifat mekanis atau tidak sesuai dengan kenyataan
Pendefinisian kurang jelas jadi pemahaman tiap orang berbeda

Rerangka Konseptual untuk Auditing


Tidak hanya rerangka konseptual yang diperhatikan tetapi juga memperhatikan risiko bisnis. Di
sini lebih mengutamakan: bagaimana karakter bisnis dari organisasi klien atau bias membantu
jasa konsultasi dalam standart akuntansi (menjadi audit internal) yang tugasnya meyakinkan
bahwa laporan keuangan sudah sah

BAB 2
TEORI PENGUKURAN

Pengukuran adalah bagian penting dari penyelidikan ilmiah. Pengukuran dibuat, seperti yang
ditunjukkan dalam akuntansi, karena data quantitive dapat memberikan informasi lebih besar
daripada data kualitatif dalam banyak hal. Pengukuran atribut yang dilaporkan dalam laporan
akuntansi (seperti: aset, pendapatan, dan kewajiban) adalah fungsi penting dalam akuntansi, akan
lebih bermanfaat untuk menguji teori pengukuran dan untuk menguraikan sejumlah asumsi
pengukuran dasar akuntansi

LO 1 PENTINGNYA PENGUKURAN
Pengertian pengukuran menurut Campbell
Menurut Campbell, orang yang pertama menangani masalah pengukuran, definisi pengukuran
adalah: “penentuan angka-angka yang menggambarkan sifat-sifat sistem material dan bilangan-
bilangan didasarkan pada hukum yang mengatur tentang sifat-sifat”.

Pengertian pengukuran menurut Stevens


Menurut Steven, seorang ahli teori pengukuran ilmu sosial, pengukuran disebut sebagai:
“penentuan angka-angka yang ada kaitannya dengan objek-objek ataupun peristiwa-peristiwa
sesuai dengan peraturan”

Campbell, salah satu yang pertama membahas masalah pengukuran, pengukuran didefinisikan
sebagai “penempatan dari angka untuk mewakili variabel dari sistem materil selain angka, dalam
kebajikan hukum yang mengatur variabel ini. Stevens, seorang ahli teori di bidang pengukuran
dalam ilmu-ilmu sosial, menyebutkan pengukuran sebagai “penempatan dari angka ke objek atau
peristiwa menurut aturan. Campbell membuat perbedaan antara sistem dan variabel dari sistem
tersebut. “Sistem” dalam definisi Campbell adalah apa yang Stevens sebut “benda atau
peristiwa”. Ini dapat termasuk rumah, meja, orang, aset atau jarak tempuh. Properti adalah aspek-
aspek tertentu atau karakteristik dari sistem, seperti berat, panjang, lebar, atau warna. Yang
diukur sifat dan bukan sistem itu sendiri.
Proses pengukuran ini mirip dengan pendekatan untuk perumusan dan pengujian teori. Aturan
semantik (operasi) dirancang untuk menghubungkan simbol pernyataan untuk objek tertentu atau
kejadian. Ketika aturan semantic ditunjukkan bahwa hubungan dalam pernyataan matematis
berkorelasi dengan hubungan objek atau peristiwa maka pengukuran aspek tertentu dari objek
atau peristiwa telah dibuat. Dalam akuntansi kita mengukur laba dengan terlebih dahulu
menetapkan nilai untuk modal dan kemudian menghitung keuntungan sebagai perubahan modal
selama periode setelah akuntansi untuk semua peristiwa ekonomi yang mempengaruhi kekayaan
perusahaan.

LO 2 SKALA
Setiap pengukuran dibuat pada sebuah skala. Sebuah skala dibuat ketika aturan semantik
digunakan untuk menghubungkan pernyataan matematis terhadap objek atau peristiwa. Skala
menunjukkan informasi apa yang angka-angka wakili, sehingga memberikan makna pada angka.
Jenis skala yang dibuat tergantung pada aturan semantik yang digunakan. Menurut Stevens, skala
dapat digambarkan dalam istilah umum sebagai nominal, interval ordinal, atau rasio. Klasifikasi
ini memeriksa struktur skala dari kelompok matematika. Struktur matematika ditentukan dengan
mempertimbangkan jenis transformasi yang meninggalkan struktur skala invarian.

Skala nominal
Dalam skala nominal, nomor hanya diigunakan sebagai sebuah label. Contohnya adalah
penomoran pemain sepak bola.

Posted from WordPress for Novia BlackBerry.