Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

PERCOBAAN KE I

PEMBUATAN SIMPLISIA DAN SKRINING FITOKIMIA DARI DAUN SEREH


Cymbopogon winterianus

Disusun Oleh :

Nama : Vedy Trikuncahyo

NIM : 1606067126

Kelompok :

Hari, Tgl Praktikum : Kamis 26 April 2018

Dosen Pembimbing : Fara Azzahra, M.Farm., Apt

LABORATORIUM FITOKIMIA
AKADEMI FARMASI INDONESIA YOGYAKARTA
2018
HALAMAN PENGESAHAN DAN PERNYATAAN

Laporan Praktikum Fitokimia Percobaan Ke I dengan Judul Pembuatan Simplisia dan Skrining
Fitokimia Daun Sereh (Cymbopogon winterianus) adalah benar sesuai dengan hasil praktikum yang telah
dilaksanakan. Laporan ini saya susun sendiri berdasarkan data hasil praktikum yang telah dilakukan.

Yogyakarta, 24 Mei 2018

Dosen Pembimbing, Mahasiswa,

Fara Azzahra, M.Farm., Apt Vedy Trikuncahyo

Data Laporan

Hari, Tanggal Praktikum Hari, Tanggal Pengumpulan Laporan


Kamis, 26 April 2018 Kamis, 24 Mei 2018

Nilai Laporan

No. Aspek Penilaian Nilai


1. Ketepatan waktu pengumpulan (10)
2. Kesesuaian laporan dengan format (5)
3. Kelengkapan dasar teori (15)
4. Sistematika kerja (10)
5. Penyajian hasil (15)
6. Pembahasan (20)
7. Kesimpulan (10)
8. Penulisan daftar pustaka (5)
9. Upload data (10)
Total
LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA

PERCOBAAN I

PEMBUATAN DAN IDENTIFIKASI SIMPLISIA

A. Tujuan Praktikum
Melakukan pembuatan simplisia serta prosedur penapisan fitokimia untuk
mengidentifikasi kandungan zat aktif simplisia.
B. Dasar Teori
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipakai sebagai obat yang belum mengalami
pengolahan apapun juga atau yang baru mengalami proses setengah jadi, seperti pengeringan.
Simplisia dapat berupa simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia pelican/mineral
(Prasetya dan Inoriah, 2013).
Macam-macam pembuatan simplisia menurut Prasetya dan Entang Inoriah, 2013 :
1. Simplisia yang dibuat dengan cara pengeringan
Pembuatan simplisia dengan cara ini harus dilakukan dengan cara cepat, tetapii
pada suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan yang dilakukan dengan waktu lama
akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh kurang baik mutunya. Disamping itu
pengeringan dengan suhu tinggi akan mengakibatkan perubahan kimia pada kandungan
pada senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal tersebut, untuk bahan simplisia yang
merupakan perajangan perlu diatur perajangannya, sehingga diperoleh tebal irisan yang
pada saat pengeringan tidak megalami perubahan.
2. Simplisia yang dibuat dengan proses khusus
Pembuatan simplisia dengan cara penyulingan, pengentalan eksdat nabati,
pengeringan sari air dan proses khusus lainnya dilakukan dengan berpegang teguh pada
prinsip bahwa simplisia yang dihasilkan dengan memiliki mutu sesuai dengan
persyaratan.
3. Simplisia yang dibuat dengan proses fermentasi
Proses fermentasi dilakukan dengan seksama agar proses tersebut tidak
berkelanjutan kearah yang tidak diinginkan.
4. Simplisia yang pembuatannya memerlukan air
Pati, talk, dan sebagainya pada proses pembuatannya memerlukan air. Air yang
digunakan harus bebas dari pencemaran racun serangga (pestisida), kuman pathogen,
logam berat, dan lain-lain (Dinkes, 1985).

Tahap-tahap pembuatan simplisia :

1. Pemanenan menurut Sumarto dkk, 2012.


Peralatan dan tempat yang digunakan harus kering dan bersih. Penempatan
dalam wadah tidak boleh terlalu penuh sehingga tidak terjadi panas yang berlebihan.
2. Sortasi basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan-bahan
asing dari bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman
obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil, rumput, batang, daun, akar, yang telah
rusak, serta kotoran lain harus dibuang. Tanah mengandung bermacam-macam mikroba
dalam jumlah tinggi. Pembersiahan simplisia dari tanah yang terikat dapat mengurangi
jumlah mikroba awal (Prasetya dan Inoriah, 2013).
3. Pencucian bahan
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan kotoran yang lolos dari
tahap sortasi basah. Simplisia yang mengandung zat yang mudah larut didalam air yang
mengalir, pencucian dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin. Menurut Frazier,
1978 dalam Depkes 1985, pencucian sayur-sayuran satu kali dapat menghilangkan 25%
dari jumlah mikroba awal jika dilakukan pencucian sebanyak 3x, jumlah mikroa yang
tertinggal hanya 42% dari jumlah mikroba awal.
4. Perajangan
Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk mempermudah proses
pengeringan, pengepakan, dan penggilingan. Semakin tipis bahan yang dikeringkan,
semakin cepat penguapan air, sehingga mempercepat waktu pengeringan. Akan tetapi,
irisan yang terlalu tipis juga dapat menyebabkan berkurangnya atau hilangnya zat yang
mudah menguap, sehingga mempengaruhi komposisi, bau, dan rasa yang diinginkan
(Prasetya dan Inoriah, 2013).
5. Pengeringan
Tujuan pengeringan untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak,
sehingga dapat disimpan dalam waktuyang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air
dan menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan
simplisia. Sebelum tahun 1950, sebelum bahan dikeringkan, terhadap bahan-bahan
simplisia tersebut dahulu dilakukan proses stabilisasi yaitu proses enzimatik, yakni
dengan merendam simplisia dengan etanol 70% atau dengan mengaliri uap panas
(Prasetya dan Inoriah, 2013).
6. Sortasi kering
Sortasi kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses pengeringan.
Pemilihan dilakukan terhadap bahan-bahan yang terlalu gosong, bahan yang rusak
akibat terlindas roda kendaraan.
7. Pengepakan, pelabelan, dan penyimpanan
Setelah tahap pengeringan dalam sortasi kering selesai maka simplisia perlu
ditempatkan dalam suatu wadah tersendiri agar tidak saling bercampur antara simplisia
satu dengan yang lainnya (Anonim, 2000). Simplisia dikemas dengan memperhatikan
hal-hal berikut (Prasetya dan Inoriah, 2013).
 Bahan kemasan : plastik PP tebal (alumunium foil)
 Kapasitas kemasan: bulky (besar) atau eceran.
 Kemasan kedap air dan udara
 Label harus menarik dan informatik
 Penyimpanan harus bersih, tidak lembab, ventilasi cukup dan bebas dari hama

Salah satu pendekatan untuk penelitian tumbuhan obat adalah penapis senyawa kimia
yang terkandung dalam tanaman. Cara ini digunakan untuk medeteksi senyawa tumbuhan
berdasarkan golongannya. Sebagai informasi awal dalam mengetahui senyawa kimia apa yang
mempunyai aktivitas biologi dari suatu tanaman. Informasi yang diperoleh dari pendekatan ini
juga digunakan untuk keperluan sumber bahan yang mempunyai nilai ekonomi lain seperti
sumber tannin, minyak untuk industri, sumber gum, dan lain-lain. Metode yang telah
dikembangkan dapat mendeteksi adanya golongan senyawa alkaloid, flavonoid, senyawa
fenolat, tannin, saponin, kumarin, quinon, steroid,/terpenoid (Teyler V.E, 1988).

Penapisan kimia merupakan tahap awal dari pengujian secara kimia metode yang
digunakan harus bersifat sederhana, pengerjaannya cepat, menggunakan peralatan minimum,
menggunakan reagen yang selektif terhadap suatu golongan senyawa tertentu, memiliki limit
deteksi yang rendah dan memberikan informasi tambahan mengenai ada atau tidaknya gugus
fungsi tertentu (Harborne, 1984).

Penelitian mengenai bahan alam hayati terutama dalam hal untuk menentukan senyawa
yang memiliki bioaktifitas atau efek farmakologi yang dikenal dua pendekatan yaitu pendekatan
fitofarmakologi dan pendekatan skrinning fitokimia (Fransworth, 1966).

Metode yang digunakan untuk melakukan skrinning fitokimia harus memenuhi


beberapa persyaratan antara lain : (a) sederhana, (b) cepat, (c) dirancang untuk peralatan
minimal, (d) bersifat selektif untuk golongan senyawa yang dipelajari, (e) bersifat
semikuantitatif, (f) dapat memberikan keterangan tambahan ada/tidaknya senyawa tertentu
dari golongan senyawa yang dipelajari (Fransworth, 1966).

Uji metabolit sekunder

1. Identifikasi alkaloid dengan metode Culvenor-Fitzgerald (Harborne, 1987)


Sampel dicampur dengan 5 ml kloroform dan 5 ml amoniak kemudian
dipanaskan, dikocok, dan disaring. Ditambahkan 5 tetes H2SO4 2 N pada masing-
masing filtrate diambil dan diuji dengan pereaksi Meyer, Wagner, dan Dragendorf.
Terbentuknya endapan jingga, coklat, dan putih menunjukkan adanya alkaloid.
2. Identifikasi Saponin (Harborne, 1987)
Sampel dididihkan dengan 20 ml air dalam penangas air, filtrat dikocok dan
didiamkan selama 15 menit. Terbentuknya basa yang stabil berarti positif terdapat
saponin.
3. Identifikasi Flavonoid (Harborne, 1987)
Sampel dicampur dengan 5 ml etanol, dikocok, dipanaskan dan dikocok lagi
kemudian ditambahkan Mg 0,2 gram dan 3 tetes HCl pada masing-masing filtrat.
Terbentuknya warna merah pada lapisan etanol menunjukkan adanya flavonoid.
4. Identifikasi Steroid (Harborne, 1987)
Sampel diekstrak dengan etanol dan ditambahk 2 mL H2SO4 pekat dan 2 mL
asam asetat anhidrat. Perubahan warna dari ungu ke biru atau hijau menunjukkan
adanya steroid.
5. Identifikasi Tanin (Edeoga, 2005)
Sampel dididihkan dengan 20 mL air lalu disaring. Ditambahkann beberapa tetes
ferri klorida 1% dan terbentuknya warna coklat kehijauan atau biru kehitaman
menunjukkan adanya tannin.
6. Identifikasi Kuinon
Sebanyak 5 mL larutan percobaan yang diperoleh dari identifikasi flavonoid
terhadap ekastrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan beberapa
tetes larutan NaOH 1 N. Terbentuknya warna merah menunjukkan adanya senyawa
golongan kuinon (Djamil dan Anelia, 2009)
C. Alat dan Bahan
Alat
1. Tabung reaksi
2. Beaker glass
3. Pipet tetes
4. Spatula
5. Pengaduk
6. Pemanas
7. Corong
8. Penjepit

Bahan

1. Aqua destilata
2. Timbal(II) asetat
3. Kloroform
4. Isopropanol
5. Natrium sulfat anhidrat
6. Molish
7. Asam sulfat pekat
8. HCl 2 N
9. Pereaksi Meyer
10. Pereaksi Bouchardat
11. Pereaksi Dragendorff
12. Serbuk Mg
13. Amil alkohol
14. Etanol 96%
15. Asam sulfat 2 N
16. Asam asetat anhidrat
17. Besi(II) Klorida 1%
18. Pereaksi Stiasny
19. Natrium Asetat
20. NaOH 1 N
21. Amonia 10%
22. Petroleum eter
23. Kertas saring
D. Cara Kerja

Simplisia daun sereh perajangan

saponin alkaloid Flavonoid tanin

+air +air+HCl 2 N + air + air

Panaskan, dinginkan Panaskan 2 Didihkan, saring Didihkan,


Kocok kuat menit,dinginkan, dinginkan, saring
saring

Penambahan HCl 2N Filtrat + Mg + HCl (P) Filtrate + FeCl3

+ NaOH
Dragendorf Untuk identifikasi
Meyer
kuinon
E. Hasil
Skrining Fitokimia
Simplisia Cymbopogon winterianus
Bagian Folium
Uji kualitatif Cymbopogon winterianus
1. Saponin
Simplisia serbuk + aquadestilata dipanaskan, didinginkan, kocok kuat 10 detik. Hasil (+)
positif terdapat buih selama 15 detik setinggi 2 cm tidak hilang dengan penambahan HCl
2 N.
2. Alkaloid
Serbuk simplisia + 1 mL HCl + 9 mL aquadest dipanaskan, didinginkan, disaring
Filtrat + 2 gtt Mayer => bening, tidak menggumpal (-)
Filtrat + 2 gtt Dragendorf => warna kuning kecoklatan (-)
Hasil negatif (-), tidak terdapat alkaloid dalam daun sereh.
3. Flavonoid
Serbuk simplisia + aquadest dipanaskan + Mg + 2 gtt HCl(p) => bening (-)
Hasil negative (-), tidak terdapat flavonoid.
4. Tanin
Serbuk simplisia + Aquadest dipanaskan, didinginkan, disaring + FeCl3 => warna hijau
kehitaman (+)
Hasil (+) terdapat tanin.
5. Kuinon
Hasil Uji flavonoid + NaOH 1 N => warna bening (-)
Hasil (-) tidak terdapat kuinon

Simplisia Cymbopogon winterianus


Uji Hasil Pengujian
Alkaloid (-)
Flavonoid (-)
Tanin (+)
Kuinon (-)
Saponin (+)

F. Pembahasan
Pada praktikum kali ini mahasiswa melakukan prosedur penapisan fitokimia untuk
mengidentifikasi kandungan zat aktif simplisia. Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan
sebagai obat tradisional yang belum mengalami pengolahan apapun juga kecuali dinyatakan
lain merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia yang akan digunakan yakni daun sereh
(Cymbopogon winterianus) , daun yang masih hijau yang dirajang kecil-kecil.
Zat yang akan didentifikasi yakni zat metabolit sekunder. Metabolit sekunder meliputi
alkaloid,flavonoid,saponin,glikosida steroid,tannin,kuinon,kumarin dan minyak atsiri. Pengujian
seperti ini dinamakan screening fitokimia penapisan. Skreening fitokimia merupakan tahap awal
dalam pengujian farmakognosi dan merupakan analisa terhadap senyawa metabolit sekunder.
Tujuan dilakukannya screening fitokimia yakni mensurvei kandungan bioaktif dari
tanaman dan mengetahui komponen kimia pada tumbuhan secara kualitatif melalui pendekatan
fitofarmakologi dan pendekatan skrining fitokimia.
Keunggulan skrining fitokimia antara lain metodenya sederhana dan cepat, peralatan
yang digunakan sesedikit mungkin, selektif dalam mengidentifikasi senyawa-senyawa tertentu,
bersifat semikuantitatif (memiliki batas kepekaan untuk senyawa yang dipelajari) dan dapat
memberi informasi tambahan mengenai keberadaan senyawa tertentu dalam kelompok
senyawa yang diteliti. Didalam skrining fitokimia digunkan pereaksi spesifik. Untuk senyawa
fenol (struktur cincin aromatic mengandung penyulih hidroksil) seperti polifenol, flavonoid,
tanin dan kuinon yakni dengan menambahkan FeCI3 1%. Adanya kelompok fenol ditandai
dengan munculnya warna hijau, merah, ungu, atau hitam.
Pada pengujian simplisia daun sereh dilakukaan uji tanin terlebih dahulu menggunakan
pereaksi FeCI3 dengan hasil warna hijau kehitaman. Hasilnya positif adanya tanin. Tanin katekuat
dengan penambahan pereaksi Stiasny akan terbentuk endapan merah muda. Tanin galat dengan
penjenuhan dengan natrium asetan dan penambahan FeCI3 1% terbentuk warna biru tinta. Akan
tetapi tanin galat dan tanin katekuat tidak dipraktikkan. Hanya sekedar tanin saja.
Uji Saponin dengan penambahan air panas pada simplisia daun sereh kemudian dikocok
kuat-kuat selama 10 detik. Terbentuk buih 2 cm selama 15 detik kemudian tidak hilang dengan
penambahan HCI 2 N. Hal ini merupakan ciri dari saponin. Saponin terdiri dari sapogenin yaitu
bagian bebas dari glikosida yang disebut Aglicon. Sapogenin mengikat sakarida yang panjangnya
bervariasi dari monosakarida hingga mencapai 11 unit monosakarida. Karena sapogenin yang
bersifat lipofilik serta sakarida yang hidrofilik maka saponin bersifat amfifilik. Dengan demikian
saponin dapat membentuk busa dan merusak membrane sel karena membentuk ikatan dengan
lipid dari membran sel. Hal ini yang dijadikan dasar ada tidaknya saponin, dan simplisia sereh
positif terdapat saponin.
Uji alkaloid menggunakan 3 pereaksi khusus yakni Meyer, Bouchardat, dan Dragendorf.
Akan tetapi hanya dilakukan pada mayer dan dragendorf. Pada penambahan Meyer, larutan
berwarna kuning kecoklatan. Hasilnya (-) negatif karena ketika ditambah meyer seharusnya
terbentuk endapan menggumpal putih/kuning, dan ketika ditambah dragendorf akan terbentuk
warna merah/jingga.
Uji flavonoid yakni dengan menambahkan serbuk Mg dan HCl pekat dimana hasil
praktikum menunjukkan larutan jernih bening. Hasilnya negatif, seharusnya ada perubahan
warna menjadi merah, kuning, jingga pada lapisan amil alkohol.
Uji kuinon menggunakan larutan hasil flavonoid kemudian ditambah NaOH 1 N.
terbentuk warna merah menunjukkan adanya senyawa kuinon. Hasilnya negatif jernih bening.
Dn hasil skrining fitokimia di atas sesuai dengan skrining fitokimia menurut Fransisca dkk, 2016
dimana daun sereh mengandung positif tanin dan saponin sedangkan negatif (tidak
mengandung) alkaloid, kuinon, dan flavonoid.
G. Kesimpulan
Mampu melakukan penapisan fitokimia yakni mengidentifikasi alkaloid, flavonoid,
kuinon, saponin, dan tanin dari simplisia daun sereh didapat hasil positif mengandung saponin,
tanin sedangkan negatif kuinon, flavonoid, dan alkaloid. Hasil ini menunjukkan kesesuaian hasil
pada paper yang ada.
H. Daftar Pustaka
Edeoga, H.O, D.E. Okwu dan B.O mbaebie. 2005. Phytochemical Constituents of Some Nigerian
Medicinal Plants. African Journal of Biotechnology. 4 (7), PP 685-688.
http://www.academicjournals.org/AJB
Fransworth, N. 1996. Biological and Phitochemical Screening of Plants. Journal of
Pharmaceutical Science, 55 (3) : 256-264
Harborne. 1987. Metode Fitokimia. ITB : Bandung
Hosstettmann, K,dkk. 1995. Cara Kromatografi Preparatif. Penerbit ITB : Bandung
Prasetyo dan Inoriah, Entang. 2013. Pengelolaan Budidaya Tanaman Obat-obatan (Bahan
Simplisia). Badan Penerbitan Fakultas Pertanian UNIB : Bengkulu
Sumarto, Herawati Dian, dan Nuraida Lilis. 2012. Cara Produksi Simplisia yang Baik. Seafast
Center IP Bogor: Bogor