Anda di halaman 1dari 24

Ilustrator by Timur Abimanyu, SH.

MH

FILSAFAT HUKUM DALAM PANCASILA DAN UUD 1945

Latar Belakang, Perkembangan Filsafat hukum dimulai dengan sejarah filsafat barat,
yang merupakan filsafat kuna dan terbagi dalam beberapa zaman seperti zaman
Filsafat Pra – Sokrates, tokoh pertamanya adalah Thales (+ 625 -545 SM) samapai
kepada zaman yang terakhir adalah Leukippos dan Demokritos, keduanya yang
mengajarkan tentang atom. Akan tetapi yang paling dikenal adalah Demokritos (+460-
370 SM) sebagai Filsuf Atomik. Dalam Perkembangan sejarah filsafat yang terkenal
dengan para ahli filsafat, seperti kaum sofis dan Sokrates, Protagoras dan ahli sofis
yaitu Gorglas yang terkenal diathena. Masih banyak lagi para ahli filsafat dari
beberapa periode seperti pada masa Filsafat pada abad Petengahan, filsafat masa
peralihan ke zaman modern dan Filsafat Modern. Perkembangan filsafat tersebut
adalah merupakan sebagai akar dari fisafat hukum yaitu pada era abad ke 19, dimana
filsafat hukum menjadi landasan ilmu-ilmu dibidang hukum, seperti Ilmu Politik, Ilmu
Ekonomi, dan lain-lainnya.

Berkaitan dengan sejarah perkembangan filsafat hukum, di Indonesia perkembangan


filsafat hukum dapat dilihat pada Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945, dimana
pembudayaan nilai dasar negara Pancasila sebagai ideologi nasional secara filosofis-
ideologis dan konstitusional adalah imperatif. Karenanya, semua komponen bangsa,
lebih-lebih kelembagaan dan kepemimpinan negara berkewajiban melaksanakan
amanat dimaksud.

Demi tegaknya sistem kenegaraan Pancasila, negara (i.c. Pemerintah) berkewajiban


mendidikkan dan membudayakan nilai dasar negara (ideologi negara, ideologi
nasional) bagi generasi penerus demi integritas NKRI. Pemikiran-pemikiran untuk
pelaksanaan pembudayaan nilai dasar negara Pancasila seyogyanya dikembangkan
secara melembaga, konsepsional dan fungsional oleh negara dengan mendayagunakan
semua kelembagaan dan komponen bangsa.

Tujuan dan Maksud, bertujuan untuk mengetahui secara mendalam filsafat Hukum
yang merupakan sumber dari sagal ilmu pengetahuan, dengan bercermin kepada
Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 yang merupakan proyeksi di unsur-unsur
filsafat hukum, dengan maksud untuk memperdalam nilai-nilai filsafat hukum yang
terkandung didalam nilai-nilai luhur Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945 yang
diselaraskan dengan kondisi dan sistim hukum di Negara Indonesa. Proyeksi nilai-nilai
luhur tersebut adalah sebagai realisasi dari filsafat hukum yang merupakan sumber
dari segala sumber Ilmu Pengetahuan di dunia.

Kerangka Teori dan Konseptual, dengan didasari oleh Kerangka teori dan konsep dari
filsafat hukum adalah Filsafat Kuna yaitu Thales dari Milotos yang difinisinya adalah :
“Bahwa asal mula segalanya dari air, yang dapat diamati dalam bentuk yang
bermacam-maca, tampak sebagai benda halus (uap), benda cair (air), dan sebagai
benda keras (es) ”.

Teori dan Konsep dari Filsafat Abad Pertengahan (Skolastik)bernama Johanes


Eriugena yaitu :
“Bahwa makin umum sifat sesuatu, makin nyatalah sesuatu itu, yang paling bersifat
umum itulah yang paling nyata, oleh karena itu zat yang sifatnya paling umum tentu
memiliki realitas yang paling tinggi dan zat yang demikian itu adalah alam semesta,
alam semesta keseluruhan realita, hakekat alam adalah satu, esa “.

Landasan Hukum, Nilai-nilai filsafat kuna sampai filsafat abad petengahan, Pancasila,
pasal yang terkandung didalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Ketetapam MPR
yang berkaitan dengan filsafat hukum Pancasila.

Metode Penelitian,didalam penulisan makalah ini, penulis hanya menggunakan data


primair yang terdiri dari bahan-bahan Pengetahuan lapangan yaitu data-data
kepustakan filsafat hukum, serta bahan Pengetahuan Hukum primair yaitu produk-
produk hukum undang-undang dan Ketetapan MPR yang terkait dengan filsafat
hukum sera bahan-bahan/artikel di internet : www. yahoo.com, www.google.com dan
media cetak lainya yang berkaitan dengan judul makalah penulis.

Perumusan Masalah, terdapat permasalahan pada pemahaman filsafat hukum


Pancasila yaitu : - Bagaimanakah pemahaman dari setiap warga negara terhadap
norma-norma hukum yang berlaku dan apa yang menyebabkan sering terjadinya
pelanggaran terhadap hukum ?

Asumsi sementara dari penulisan adalah sebagai berikut : - Pelanggaran terhadap


hukum yang sering terjadi adalah disebabakan kurangnya atau semakin pudarnya
tingkat pemahaman terhadap nilai-nilai luhur dari Pancasila dan Undang Undang
Dasar 1945, yang mengakibatkan moral dari pelaku pelanggaran terhadap hukum
tersebut semakin bertambah atau mungkin karena prodak hukum yang diberlakukan
mengadung unsur-unsur politis saja, yang mengakibatkan tingkat penjenjeraan pada
para pelaku elanggaran hukum tersebut semakin banyak.

Pengertian Filsafat, pengertian Filsafat adalah berasal dari kata Yunani yaitu Filosofia
berasal dari kata kerja Filosofein artinya mencintai kebijaksanaan, akan tetapi belum
menampakkan hakekat yang sebenarnya adalah himbauan kepada kebijaksanaan.
Dengan demikian seorang filsuf adalah orang yang sedang mencari kebijaksanaan,
sedangkan pengertian “ orang bijak” (di Timur) seperti di India, cina kuno adalah
orang bijak, yang telah tahu arti tahu yang sedalam-dalamnya(ajaran kebatinan), orang
bijak/filsuf adalah orang yang sedang berusaha mendapatkan kebijaksanaan atau
kebenaran, yang mana kebenaran tersebut tidak mungkin ditemukan oleh satu orang
saja.

Dengan difinisi yang bermacam-macam, terdapat satu difinisi filsafat yaitu “Usaha
manusia dengan akalnya untuk memperoleh suatu pandangan dunia dan hidup yang
memuaskan hati” ( difinisi ini sepanjang abad). Pertama-tama difinisi tersebut diatas
adalah terdapat kata-kata “ Dengan akalnya” mendapat tekanan artinya tidak dapat
disangkal, bahwa semua orang, melalui agama masing-masing, telah memiliki suatu
pandangan dunia dan hidup. Dari mana asal dunia dan manusia serta hidupnya,
bagaimana manusia harus hidup didalam dunia ini, semuanya itu telah diajarkan oleh
agama, baik oleh agama-agama dunia yang besar maupun agama-agama suku yaitu
dengan melalui wahyu. Bahwa difinisi tersebut diatas adalah menerima pandangan
dunia dan hidup orang lain, jika hal tersebut memuaskan dirinya, jika tidak
memuaskan ia akan berusaha terus, mengoreksi pandangan orang lain dan seterusnya.

Yang melatar belakangi filsafat kuna adalah rasa keingin tahuan dari manusia dan rasa
keingin tahuan manusia dari pertanyaan-pertanyaan yang tidak/ susah untuk mencari
jawabannya. Akan tetapi akal manusia tidak puas dengan keterangan dongeng atau
mite-mite dan mulai manusia mencari-cari dengan akalnya dari mana asal alam
semesta yang menakjubkan itu. Dan kemenangan serta jawaban tersebut diperoleh
secara berangsur-angsur, berjalan hingga berabad-abad lamanya. Berawal dari mite
bahwa pelangi atau bianglala adalah tempat para bidadari turun dari surge, mite ini
disanggah oleh Xenophanes bahwa :” pelangi adalah awan” dan pendapat Anaxagoras
bahwa pelangi adalah pemantulan matahari pada awan ( pendapat ini adalah pendapat
pemikir yang menggunakan akal). Dimana pendekatan yang rasional demikian
menghasilkan suatu pendapat yang dapat dikontrol, dapat diteli akal dan dapat
diperdebatkan kebenarannya.

Para pemikir filsafat yang pertama hidup dimiletos kira-kira pada abad ke 6 SM,
dimana pada abad tersebut tentang pemikiran mereka disimpulkan dari potongan-
potongan, yang diberitakan kepada manusia dikemudian hari atau zaman. Dan dapat
dikatakan bahwa mereka adalah filsafat alam artinya para ahli fikir yang menjadikan
alam yang luas dan penuh keselarasan yang menjadi sasaran para ahli filsafat tersebut
(objek pemikirannya adalah alam semesta). Tokoh pertamanya yang melakukan
penyelidikan adalah Thales (+ 625 -545 SM) dikuti dengan tokoh kedua yaitu
Anaximandros ( + 610-540 SM) dan ada juga tokoh lain yang bernama Pythagoras (+
580 – 500SM), Xenophanesa (+ 570-430SM), Herakleitosa (+ 540-475SM),
Parmenidesa (+540-475SM), Zeno (490 SM), Empedoklis (492-432 SM), Empedokles
(492-432 SM), Anaxagoras (499-420 SM) dan yang terakhir adalah Leukippos dan
Demokritos, keduanya yang mengajarkan tentang atom. Akan tetapi yang paling
dikenal adalah Demokritos (+ 460-370 SM) sebagai Filsuf Atomik.

Sejarah Filsafat Kuna, Para ahli filsafat tersebut diatas adalah sebagai pintu pemikiran
tentang filsafat yang mengenai alam semesta., 1. Filsafat Pra Sokrates adalah filsafat
yang dilahirkan karena kemenangan akal atas dongeng atau mite-mite yang diterima
dari agama, yang memberitahukan tentang asal muasal segala sesuatu. Baik dunia
maupun manusia, para pemikir atau ahli filsafat yang disebut orang bijak, yang
mencari-cari jawabannya sebagai akibat terjadinya alam semesta beserta isinya
tersebut. Sedangkan arti filsafat itu sendiri berasal dari bahasa yunani yaitu Filosofia
artinya bijaksana/pemikir yang menyelidiki tentang kebenaran-kebenaran yang
sebenarnya untuk menyangkal dongeng-dongeng atau mite-mite yang diterima dari
agama. Pemikiran filsuf inilah yang memberikan asal muasal segala sesuatu, baik
dunia maupun manusia, yang menyebakan akal manusia tidak puas dengan keterangan
dongeng atau mite-mite tersebut dengan dimulai oleh akal manusia untuk mencari-cari
dengan akalnya, dari mana asal alam semesta yang menakjubkan itu. Mite-mite
tentang pelangi atau bianglala adalah tempat para bidadari turun dari surge, mite ini
disanggah oleh Xenophanes bahwa :” pelangi adalah awan” dan pendapat Anaxagoras
bahwa pelangi adalah pemantulan matahari pada awan (pendapat ini adalah pendapat
pemikir yang menggunakan akal). Dimana pendekatan yang rasional demikian
menghasilkan suatu pendapat yang dapat dikontrol, dapat diteli akal dan dapat
diperdebatkan kebenarannya.

Para pemikir filsafat yang pertama hidup dimiletos kira-kira pada abad ke 6 SM,
dimana pada abad tersebut tentang pemikiran mereka disimpulkan dari potongan-
potongan, yang diberitakan kepada manusia dikemudian hari atau zaman. Dan dapat
dikatakan bahwa nereka adalah filsafat alam artinya para ahli fikir yang menjadikan
alam yang luas dan penuh keselarasan yang menjadi sasaran para ahli filsafat tersebut
(objek pemikirannya adalah alam semesta).
2.Filsafat Sokrates, Plato dan Aristoteles, a. Sokrates : Sokrates hidup pada tahun
kurang lebih tahun 469 – 399 SM dan Demokritos pada tahun + 460 – 370 SM yang
kedua hidup sejaman dengan Zeno yang dilahirkan pada tahun + 490 SM dan lain-
lainnya, serta disebut sebagai filsuf Pra Sokrates, dimana filsafat mereka tidak
dipengaruhi oleh Sikrates. Harus diketahui bahwa kaum sofis hidup bersama-sama
denga skrates. Diman hidup sokrates dan kaum sofis susah dipisahkan dan menurut
Cicero, difinisi Sokrates adalah memindahkan filsafat dari langi dan bumi artinya
sasaran yang diselidikinya bukan jagat raya melainkan manusia, dan bertujuan
menjadikan manusia menjadikan sasaran pemikiran filsuf tersebut.( pemikiran
sokrates adalah menjadi kritik kepada kaum sofis).

Sofis sebenarnya bukan suatu maszab melainakn suatu aliran yang bergerak dibidang
intelek, karena istilah sofis yang berarti sarjana, cendikiawan seperi Pythagoras dan
Plato disebut kaum sofis. Yang pada abad ke 4 para sarjana atau cendikiawan tidak
lagi disebut Sofis melainkan menjadi Filosofos, Filsuf dan sebutan sofis dikenakan
kepada para guru yang berkeliling dari kota kekota dan kaum sofis tidak menjadi
harum lagi, karena sebutan sofis menjadi sebutan orang yang menipu orang
lain/penipu karena para guru keliling tersebut dituduh sebagai orang yang meminta
uang bagi ajaran mereka. Akan tetapi pada masa Pemerintahan Perikles (Athena)
kaum sofis menjadi harum.

Protagoras (+ 480-411) memberi pelajaran di Athena dan inti sari filsafatnya adalah
bahwa manusia menjadi ukuran bagi segala sesuatu, bagi segala hal yang ada dan yang
tidak ada. Dan menurutnya Negara didirikan oleh manusia, bukan karena hokum alam.
Protagoras meragukan adanya dunia dewa, oleh karenanya dia disebut orang munafik.

Sokrates memungut biaya pengajaran dengan tujuan untuk mendorong orang supay
mengetahui dan menyadari sendiri dan dia juga menentang relativisme kaum sofis,
karena dia yakin bahwa kebenaran yang obyektif. Mengenai pemberitaannya yang
dipandang sebagai pemberitaan yang lebih dapat dipercaya adalah pemberitaan Plato
dan Aristotele. Sokrates melahirkan bermacam-macam orang atau ahli Politik, Pejabat,
tukang dan lain-lainya, dengan mencapai tujuan yaitu membuka kedok segala
peraturan atau hokum yang semu, sehingga tampak sifatnya yang semu dan mengajak
orang melancak atau menelusuri sumber-sumber hukum yang sejati (Dengan
Hipotese). Dan menurut sokrates bahwa alat untuk mencapai eudemonia atau
kebahagiaan adalah kebajikan atau keutamaan (arête), akan tetapi kebajikan atau
keutamaan tidak diartikan sacara moral. Sokrates terkenal dengan : Keutamaan adalah
pengetahuan” yaitu Keutamaan dibidang hidup baik tentu menjadi orang dapat hidup
baik.

Antisthenes adalah mengajar setelah kematian sokrates di gymnasium Kunosargos di


Athena (kunos = anjing) dan menaruh perhatian kepada etika. Dan menurutnya
manusia harus melepaskan diri dari segala sesuatu dan harus senantiasa puas terhadap
dirinya sendiri. Azasnya adalah bebas secara mutlak terhadap semua anggapan orang
banyak dan hukum-hukum mereka. Aristippos dari Kirene, pandangannya kebalikan
dari Antishenes, dimana satu-satu tujuannya perbuatan adalah kenikmatan (hedone),
sekalipun demikian tugas orang bijak bukan untuk dikuasai oleh kenikmatan
melainkan untuk menguasainya. Dengan demikian zaman sokrates adalah zaman yang
sangat penting sekali, karena merupakan zaman mewujudkan zaman penghubung,
yang menghubungkan pemikiran pra sokrates dan pemikiran Helenis. Misalnya
Aristippos menggabungkan diri dengan Demokritos, Antishenes menggabungkan diri
dengan Herakleitos dan kemudian ajaran ini timbul dalam bentuk lunak yaitu aliran
Stoa.

Plato : Adalah filsuf yunani petama yang berdasarkan karya-karyanya yang utuh.
Dilahirkan dari keluarga terkemuka dari kalangan politisi, semula ingin bekerja
sebagai seorang politikus, karena kematian Sokrate (muridnya selama 8 tahun), plato
memendamkan ambisinya tersebut. Kemudian Plato mendirikan sekolah akademi
(dekat kuil Akademos) dengan maksud untuk memberikan pendidikan yang instensip
dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Bahwa pembagian yang didasrkan atas patokan
lahiriah, dalam 5 kelompok yaitu karyanya ketika masih muda, karyanya pada tahap
peralihan, karyanya mengenai idea-idea, karyanya pada tahap kritis dan karyanya pada
masa tuannya, yang diantara buku-buknya adalah Aspologia, Politeia, Sophistes,
Timaios.(plato dapat dipandang sebagai monument atau tugu peringatan bagi sokrates.

Plato yakin bahwa disanping hal-hal beraneka ragam dan yang dikuasai oleh gerak
serta perubahan-perubahan itu tentu ada yang tetap, yang tidak berubah. Menurut plato
tidak mungkin seandainya yang satu mengucilkan yang lain artinya bahwa mengakui
yang satu, harus menolak yang lain dan juga tidak mungkin kedua-duanya berdiri-
sendiri, yang satu lepas daripada yang lain.Plato inin mempertahankan keduanya,
memberi hak berada bagi keduanya. Pemecahan palto bahwa yang seba berubah itu
dikenal oleh pengamatan dan yang tidak berubah dikenal oleh akal. Demikianlah palto
berhasil menjembatani pertentangan yang ada antara Herakleitos, yang menyangkal
tiap perhentian dan Parmenides yang menyangkal tiap gerak dan perubahan.Yang
tetap tidak berubah dan yang kekal itu oleh plato disebut “ Idea”.

Perbedaan antara sokrates dengan plato adalah dimana Sokrates mengusahakan adanya
difinisi tentang hal yang bersifat umum guna menetukan hakekat atau esensi segala
sesuatu, karena tidak puas dengan mengetahui, hanya tindakan-tindakan atau
perbuatan-perbuatan sutu persatu, sedangkan Plato meneruskan usaha itu secara lebih
maju lagi dengan mengemukakan, bahwa hakekat atau esensi segala sesuatu bukan
hanya sebutan saja, tetapi memiliki kenyataan, yang lepas daripada sesuatu yang
berada secara kongkrit yang disebut “Idea”, dimana Idea itu nyata ada, didalam dunia
idea (hanya satu yang bersifat kekal).

Pada akhirnya Plato menekankan kepada kebenaran yang diluar dunia ini, hal itu tidak
berarti bahwa ia bermaksud melarikan diri dari dunia. Dunia yang kongrit ini dianggap
penting, hanya saja hal yang sempurna tidak dapat dicapai didalam dunia ini. Namun
kita harus berusaha hidup sesempurna mungkin, yang tampak dalam ajarannya tentang
Negara yang adalah puncak filsafat Plato. Menurut Plato, golongan didalam Negara
yang idea harus terdiri dari 3 bagian yaitu : a.Golongan yang tertinggi terdiri dari para
yang memerintah (orang bijak/filsuf), b.Golongan pembantu yaitu para prajurit yang
bertujuan menjamin keamanan, c. Golongan terendah yaitu rakyat biasa, para petani
dan tukang serta para pedagang yang menanggung hidup ekonomi Negara.

Aristoteles : Dilahirkan di Stagerira Yunani utara anak seorang dokterpribadi raja


Makedonia dan pada umur kira-kira 18 tahun dikirim ke Athena untuk belajar kepada
Plato. Dan setelah Plato meninggal Aristoteles mendirikan sekolah di Assos( Asia
Kecil) pada tahun 342 SM kembali ke Makedonia untuk menjadi pendidik Aleksander
yang agung.

Ketika Aleksandra meninggal pada tahun 322 SM, Aristoteles dituduh sebagai
mendurhaka dan lari ke Khalkes sampai meninggal. Karyanya banyak sekali akan
tetapi sulit menyusun secara sistematis, ada yang membagi-bagikannya, ada yang
membagi atas 8 bagian yang mengenai Logika, Filsafat alam, psikologis, biologi,
metafisika, etika, politik dan ekonomi, dan akhirnya retorika dan poetika.Bukan saja
pengertian-pengertian, akan tetapi pertimbangan-pertimbangan dapat digabungkan-
gabungkan, sehingga menghasilkan penyimpulan. Penyimpulan adalah suatu
penalaran dengannya dari dua pertimbangan dilahirkan pertimbangan yang ketiga,
yang baru yang berbeda dengan kedua pertimbangan yang mendahuluinya.
Umpamanya manusia adalah fana, gayus adalah manusia, jadi gayus adalah fana. Cara
menyimpulkan ini disebut syllogisme (uraian penutup), suatu syllogisme terdiri dari
tiga bagian yaitu suatu dalil umum, yang disebut mayor (manusia adalah fana), suatu
dalil khusus, yang disebut minor (Gayus adalah manusia) dan kesimpulannya (Gayus
adalah fana), syllogisme mewujudkan puncak logika Aristoteles.

Para filsuf Elea (Parmenides, Zero) berpendapat bahwa gerak dan perubahan adalah
hayalan. Dimana Aristoteles menentang dimana “Yang Ada” secara terwujud “yang
ada” secara mutlak atau menjadi “ yang ada” secar terwujud, jikalau melalui sesuatu.
Seperti dengan Plato, Aristoteles mengajarkan dua macam pengenalan yaitu
pengenalan inderawi dan pengenalan rasional. Dan menurut Aristoteles, pengenalan
inderawi memberikan pengetahuan tentang bentuk benda tanpa materinya. Sedangkan
pengenalan rasional adalah pengenalan yang ada pada manusia tidak terbatas
aktivitasnya, yang dapat mengetahui hakekat sesuatu, jenis sesuatu yang bersifat
umum.

Filsafat Helenisme dan Romawi , Helenisme berasal dari bahasa yunani yaitu
Hellenizein adalah roh dan kebudayaan yunani, yang sepanjang roh dan kebudayaan
itu memberikan cirri-cirinya kepada para bangsa yang bukan yunani disekitar laut
tengah, mengadakan perubahan dibidang kesusasteraan, agama dan keadaan bangsa-
bangsa itu.Pada zaman ini ini ada perpindahan filsafat yaitu dari filsafat yang teoritis
menjadi filsafat yang praktis, yang makin lama menjadi suatu seni. Dimana orang
bijak adalah orang yang mengatur hidupnya menurut akal dan rasionya. Yang
termasuk aliran yang bersifat etis adalah aliran Epikuros dan Stoa, sedangkan yang
lainnya diwarnai oleh agama diantaranya Filsafat Neopythagoris, filsafat Plattonis
Tengah, filsafat Yahudi dan Neoplatonisme. 1.Epikuros (341-271SM) dilahirkan di
Samos mendapat pendidikan di Athena, dan filsafat yang mempengaruhi pikirannya
adalah Demokritos, 2. Stoa didirikan oleh Zeno dari Citium disiprus (336-264SM) dan
Zeno mengajarkan ajarannya di gang diantara tiang-tiang (Stoa poikila) sebutan Stoa
diturunkan daripada Stoa Poikila, 3. Skeptisisme dimana aliran yang menonjol adalah
aliran Pyrrho dari Elis ( 360-270SM) yang berpangkal kepada realitivisme.
Pengamatan memberikan pengetahuan yang sifatnya realtif, dimana manusi sering
keliru melihat dan mendengar, seandainya pengalaman manusi benar, kebenaran itu
hanya berlaku bagi hal-hal yang lahiriah saja, bukan bagi hakekatnya, 4.Filsafat
Platonis Tengah adalah factor agama mengambil tempat yang penting sekali (kira-kira
117 M) dan Noumenios (akhir abad ke 2 M). Ajarannya adalah Yang ilahi berada jauh
lebih tinggi daripada yang bendawi.Hakekatnya tidak dapat dikenal, namanya tidak
dapat diucapkan, sifat-sifatnya, tidak dapat dimengerti. Diantara yang ilahi dan dunia
ini terdsapat tokoh-tokoh setengah dewa, para demon, yang mempengaruhi jalannya
segala sesuatu didunia ini, 5. Filsafat Yahudi yaitu diantara bangsa yahuni yang
tersebar diluar tanah Palestina yaitu asia kecil, yunani, mesir dan disekitar laut tengah.
Dimesir pusat pemukiman Yahudi dikota Aleksandra (kira abad ke 2 SM) orang
yahudi dimesir ada 3 kelompok yaitu : a. Mereka yang setia pada ajaran nenek
moyang dengan mengharapkan Mesias,b. mereka yang jatuh kepada aliran ortodoks
seperti yang dipeluk oleh kaum Parisi dan 3. mereka yang mencoba mencampur
agama yahudi dengan filsafat Helenis.Membicarakan Philo dilahirkan di Alexsandra
dari keluarga imam adalah menyesuaikan agama yahudi dengan Helenisme. Agama
yahudi diseintesekan dengan filsafat yunani, menurutnya kitab perjanjian lama (kitab
agama yahudi bahkan juga terjemahan didalam bahasa yunani (y.i.Kitab Septuaginta)
diwahyukan oleh Allah dengan para nabi sebagai alat-alatnya, 6. Neoplatonisme pada
akhir dunia kuna kira-kira 5 abad sesudah Aristoteles, system ini dibentuk pada abad
kedua masehi dan bertahan sampai pada abad ke 6 M.. Dapat dipandang sebagai usaha
terakhir roh Yunani untuk menentang agama Kristen yang sedang tumbuh.

Yang ingin menghidupkan ajaran Plato demi keselamatan dunia, dengan memperkaya
segala yang terbaik dari segala sistim yang kemudian, disesuaikan dengan kebutuhan
zaman, dimana unsur-unsur yang dimasukan adalah ajaran plato, Aristoteles, Stoa dan
Philo. Pendiri Neoplatonisme adalah Ammonius Sakkas dari Aleksandra(175-242),
akan tetapi ajaran ini tidak diketahui karena tidak meninggalkan tulisan apapun.
Sedangkan penciptanya adalah Plotinos murid Ammorius.

Filsafat Patristik,Berasal dari kata latin yaitu Pater = bapa yang dimaksud adalah para
bapa gereja).Zaman meliputi zaman para rasul (abad pertama) mengambil sikap yang
bermacam-macam. Ada yang menolak filsafat yunani, karena dipandang sebagai hasil
pemikiran manusia semata-mata, akan tetapi ada juga yang menerima filsafat yunani,
karena perkembangan pemikiran yunani itu dipandang sebagai persiapan bagi injil.
(keduanya tetap menggema di zaman pertengahan).

Patristik Barat, Terdapat dua macam sikap terhadap filsafat yaitu aliran yang menolak
filsafat dan yang menerimanya, -Tertullianus (160-222), adalah menghasilkan karya
yang ortodok Nampak dia menolak filsafat. Bagi orang Kristen wahyu sudah cukup,
tiada hubungannya antara telogia dengan filsafat, antara Yerusalem dengan Athena,
antara gerja dengan akademi, antara Kristen dengan bidat, -Aurelius Augustinus (354-
430) dilahirkan di Thagaste di Numedia, ayahnya adalah seorang bukan Kristen dan
semasa hidupnya dia menuruti hawa nafsu, diombang-ambingkan dari Manikheisme
kedalam Skeptisisme dan Neoplatonisme yang akhirnya bertobat. Karena kesalehan
dan kecakapannya diangkat menjadi uskup di Hippo (392) dan membentuk “Filsafat
Kristen” berpengaruh pada abat pertengahan. Ajaran yang terpenting adalah
Confessiones (Pengakuan-pengakuan), De Trinitate (tentang Trinitas) dan De Civiate
Dei( tentang Negara Allah). Aliran ini adalah dibidang Teologis dan Filsafat,
pemikirannya bersifat filsafati semata-mata.(dia menetang aliran Skeptisisme, karena
Skeptisisme disebabkan karena adanya pertentangan batiniah), -Dionisios dari
Areopagos, artinya Dionisios adalah bertobat karena pemberitaan rasul Paulus di
Areopagos (kisah rasul 17:34), karyanya disebut Pseudo Dioysios Areopagita (abad ke
6 ada 4 buku dan 10 surat yang dikaitkan dengan nama tersebut). Yang menguraikan
teologi kristiani, yang mengenal Neoplatonisme dan menurutnya Allah adalah asal
segala yang ada, yang keadaannya transenden secara mutlak, sehingga tidak mungkin
memikirkan tentang Dia dengan cara yang benar, dan memberikan kepadaNya nama
yang tepat.

Sejarah Filsafat Abad Pertengahan, Filsafat pada abad pertengahan adalah suatu arah
pemikiran yang berbeda sekali dengan pemikiran dunia kuna, yaitu filsafat yang
menggambarkan suatu zaman yang baru sekali ditengah-tengah suatu rumpun bangsa
baru, bangsa eropa barat(disebut filsafat Skolastik).Sebagian soklastik
mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan abad pertengahan diusahakan disekolah-
sekolah dan ilmu terikat pada tuntutan pengajaran disekolah-sekolah. Skolastik timbul
di dibiara di Ballia Selatan tempat pengungsian ketika ada perpindahan bangsa-
bangsa. Pengaruh skolastik sampai ke Irlandia, Nederland dan Jerman dan kemudian
timbul disekolah kapittel yaitu sekolah yang dikaitkan dengan geraja.

Pelajaran sekolah meliputi tujuh kesenian bebas(Artes Liberales) yang dibagi menjadi
2 bagian yaitu Trivium, 3 matapelajaran bahasa, 4 mata pelajaran matematika, yang
meliputi ilmu hitung, ilmu ukur, ilmu perbintangan dan music, yang dimaksud bagi
mereka ingin belajar lebih tinggi teologia) atau ingin menjadi sarjana.

Awal Skolastik : Johanes Scotus Eriugena (810-870) dari irlandia adalah seorang yang
ajaib yang menguasai bahasa yunani dengan amat baik pada zaman itu dan menyusun
suatu sistim filsafat yang teratur serta mendalam pada zaman ketika orang masih
berfikir hany dengan mengumpulkan pendapat-pendapat orang lain, masih dikenal
pula tokoh-tokoh lain yaitu Augustinus dan Dionisios dan Areopagos. Pangkal
pemikiran metafisis adalah, makin umum sifat sesuatu, makin nytalah sesuatu itu,
yang paling bersifat umum itulah yang paling nyata.Oleh karena itu zat yang sifatnya
paling umum tentu memiliki realitas yang paling tinggi. Zat yang demikian adalah
alam semesta, alam adalah keseluruhan realita dan oleh karena hakekat alam adalah
satu,esa. Alam yang esa.

Pada abad ke 12, dimana persoalan-persoalan yang timbul pada abad ke 11 tetap
diteruskan pada abad ke 12 yaitu suatu usaha untuk mendapatkan suatu arah yang
tetap, dengan dimungkinkan adanya suatu penelitian yang lebih mendalam tentang
universalia dan akal. Anselmus dari Canterbury memberikan jawaban, yang ternyata
telah memberi arah kepada pemikiran filsafat selama dari 150 tahun. Sedangkan pada
persoalan kedua yaitu Universalia Abaelardus memberikan jawaban yang dalam
pokoknya diambil alih oleh semua tokoh Skolastik. Anselmus dari Canterbury(1033-
1109) dilahirkan di Aosta,Piemont, yang kemudian menjadi uskup di Canterbury,
pola-pola pemikiran berasal dari pemikir Skolastik, bahwa skolatikus pertama dalam
arti yang sebenarnya. Karya yang penting adalah” Cur dues homo” (mengapa Allah
menjadi manusia), Manologion, Proslogion. Pemikiran dialektika atau pemikiran
dengan akal diterima sepenuhnya bagi pemikir teologia, akan tetapi bukan dalam arti
bahwa hanya akalah yang dapat memimpin orang kepada kepercayaan melainkan
bahwa orang harus percaya dahulu supaya dapat mendapatkan pengertian yang benar
akan kebenaran. Nisbah antara iman dan pengetahuan dengan akal dirumuskan
demikian “ fides quaerens intelligam “ (iman berusaha untuk mengerti). Jadi pangkal
pemikirannya sama dengan Augustinus dan Johanes Scotus Eriugema yaitu bahwa
keberatan-keberatan yang diwahyukan harus dipercaya terlebih dahulu, sebab akal
tidak memiliki kekuatan pada dirinya sendiri, guna menyelidiki kebenaran-kebenaran
yang termasuk wahyu dan Petrus Abaelardus (1079-1142) dilahirkan di Le Pallet
dekat nantes, pandangannya tajam sekali dank arena wataknya yang keras sering
bentrok dengan para ahli piker dan para pejabat gerejani. Jasa-jasanya terletak dalam
pembaharuan metode pemikiran dan dalam memikirkan lebih lanjut persoalan-
persoalan dialektis yang actual. Metode yang dipakai adalah rasionalistis, yang
menundukkan iman kepada akal.Iman harus mau diawasi oleh akal. Yang wajib
dipercaya adala apa yang telah disetujui akal dan telah diterima olehnya.

Zaman Kejayaan Skolastik. (abad ke 12, Dalam abad ini ilmu pengetahuan
berkembang, hingga timbul harapan-harapan baru bagi masa depan yang cerah.
Metode yang dipakai Abaelardus ternyata membuka perspektif yang tidak terduga bagi
filsafat dan ilmu teologia dan membangkitkan studi dalam ilmu kemanusia dan ilmu
alam.

Macam-Macam Aliran Filsafat, Aliran filsafat Ini terlihat dengan jelas dari beberapa
zaman para ahli filsafat ini yaitu seperti :I. Aliran filsafat Kuna yang terdiri dari
beberapa maszab seperti 1. Filsafat Pra Sokrates, 2. Filsafat Sokrates, Plato dan
Aristoteles aliran ini dibagai lagi menjadi a.Kaum Sofis dan Sokrates, b.Plato dan c.
Aristoteles, 3. Filsafat Helenisme dan Romawi dan 4. Filsafat Patristik yaitu : a.
Patristik Timur dan b. Patristik Barat, II.Aliran Filsafat Abad Pertengahan yang terdiri
dari 1. Aliran Awal Skolastik, 2. Aliran Zaman Kejayaan Skolastik dan 3. Akhir
Skolastik, III. Aliran Filsafat Modern Dalam Pembentukannya. Yang terdiri dari : 1.
Renaissance, 2. Filsafat Dalam Abad ke 17 : a. Rasionalisme, Rene Descartes, Blaise
Pascal dan Baruch Spinoza, b. Empirisme, Thomas Hobbes, John Locke, c. Filsafat di
Jerman, G.W Leibbniz, Chistian Wolff dan 3. Filsafat Abad ke 18 : a.Pencerahan
(Aufklarung), b. Pencerahan di Inggris : George Berkeley, David Hume, c.Pencerahan
di Prancis : Voltaire, Jean Jacques Rousseau dan d.Pencerahan di Jerman : Immanuel
Kant dan IV.Aliran Filsafat Abad ke 19 dan abad ke 20
adalah 1.filsafat Abad ke 19 : a. Idealisme di Jerman : J.C.Fichte, FWI.Schelling,
GWF.Hegel, Arthur Schopenhauer, b. Positivisme : August Comte, John Stuar Mill,
Herbert Spencer dan c. Kemunduran Filsafat Hegel dan Timbulnya Materialisme di
Jerman : Ludwig Feuerbach, Karl Marx, Soren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche. 2.
Aliran Filsafat Abad ke 20 : a. Pramatisme : William James, John Dewey, b. Filsafat
hidup : Henri Bergonm, c. Fenomenologi : Edmund Husserl, Max Scheler, d.
Eksistensialisme : Martin Heidegger, Jean Paul Sartre, Karl Jaspers, Gabriel Marcel.

Dimana filsafat tersebut berkembang terus sampai mempunai cabang-cabang Ilmu


Pengetahuan yang salah satunya filsafat hukum dalam hal ini adalah filsafat hukum
yang terkandung didalam nilai-nilai luhur dari Pancasila dan Undang Undang Dasar
1945.

Ilmu Hukum Indonesia, Ilmu hukum Indonesia yang dibangun dari teori hukum
Indonesia dan filsafat hukum Indonesia jika ditopang dari bangunan kefilsafatan ilmu,
maka memiliki landasan ontologis dualisme (materialisme dan spiritualisme
sekaligus), landasan epistimologi rasionalisme, empirisme dan wahyu sekaligus, serta
landasan aksiologi nilai moral atau etika dan bahkan nilai keagamaan yang sakral.
Manusia yang hidup didalam masyarakat memerlukan perlindungan kepentingan, yang
tercapai dengan terciptanya pedoman atau peraturan hidup yang menentukan
bagaimana seharusnnya manusia itu betingkah laku dalam masyarakat agar tidak
merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Pedoman tersebut merupakan patokan atau
ukuran berperilaku atau bersikap dalam kehidupan bersama yang kemudian disebut
kaidah sosial, yang pada hakekatnya merupakan rumusan pandangan mengenai
perilaku atau sikap yang seharusnnya dilakukan atau tidak, yang dianjurkan maupun
yang dilarang untuk dijalankan.

Dengan kaidah sosial hendak dicegah gangguan-gangguan maupun konflik


kepentingan manusia, sehingga diharap manusia dapat terlindungi kepentingan-
kepentingannya.Kaidah keagamaan ditujukan kepada kehidupan beriman manusia
terhadap kewajibannya terhadap tuhan dan dirinya sendiri. Sumbernya adalah ajaran-
ajaran agama yang oleh pengikutnya dianggap sebagai perintah tuhan sehingga
sanksinya pun berasal dari tuhan. Kaidah kesusilaan berhubungan dengan manusia
sebagai individu yang bersangkutan dengan kehidupan pribadinya, terutama mengenai
nurani individu manusia tersebut dan bukan sebagai mahluk sosial atau sebagai
anggota masyarakat. Fungsinya untuk melengkapi ketidakseimbangan hidup pribadi
dan mencegah kegelisahan diri sendiri dengan tujuan agar terbentuk kebaikan ahlak
pribadi manusia serta menyempurnakannya agar tidak berbuat jahat. Kaidah
kesopanan didasarkan pada kebiasaan kepatutan atau kepantasan yang berlaku dalam
masyarakat. Ditujukan terhadap sikap lahir pelakunya yang konkrit demi
penyempurnaan/ketertiban masyarakat dan bertujuan menciptakan perdamaian, tata
tertib atau membuat sedap lalu lintas antar manusia yang bersifat lahiriah dengan
mementingkan yang lahir atau yang formal. Sanksinya bersifat tak resmi dari
masyarakat yang berupa celaan atau cemoohan. Ketiga kaidah sosial tersebut
dirasakan kurang memberikan perlindungan terhadap kepentingan manusia sehingga
manusia berharap kepada kaidah hukum untuk dapat melindungi lebih lanjut
kepentingan-kepentingannya. Kaidah hukum lebih ditujukan kepada sikap lahir
manusia dan bukan sikap batinnya. Pada hakekatnya apa yang dibatin, yang dipikirkan
manusia tidak menjadi soal asalkan secara lahiriah tidak melanggar kaidah hukum.
Asal kaidah hukum dari kekuasaan luar diri manusia yang memaksakan (heteronom)
dan masyarakat secara resmi diberi kuasa untuk menjatuhkan sanksi melalui alat-alat
negara. Jika kaidah keagamaan, kesusilaan dan kesopanan hanya memberikan
kewajiban-kewajiban (normatif) saja maka kaidah hukum selain membebani
kewajiban-kewajiban juga memberikan hak-hak (atributif). Menurut Satjipto Raharjo
(2000: 17) kaidah hukum merupakan resultan dari tegangan antara norma kesusilaan
dengan norma kebiasaan. Norma kesusilaan bersifat ideal sedangkan norma kebiasaan
bersifat empirik dan norma hukum berada diantara keduanya.
Hukum sebagai disiplin ilmu mengarahkan sasaran studinya terhadap kaidah atau
norma yang menghasilkan ilmu tentang kaidah hukum (norm wissenschaft), terhadap
pengertian-pengertian dalam hukum yang menghasilkan ilmu tentang pengertian
hukum (begriffen wissenschaft), dan terhadap kenyataan-kenyataan dalam hukum
yang menghasilkan ilmu tentang kenyataan hukum (sein wissenschaft). Bedasarkan
latar belakang masalah yang menunjukkan keterkaitan erat antara hukum dengan
masyarakat beserta sistem nilainya yang berlaku dan mengingat pula hukum sebagai
disiplin ilmu, maka yang menjadi permasalahn dalam tulisan ini adalah:
Bagaimanakah aspek ontologi dari bangunan ilmu hukum, terutama dalam konteks
keindonesiaan dengan pluralisme hukumnya? bagaimanakah dengan aspek
epistemologinya? bagaimana pula dengan aspek aksiologinya, terutama dalam
menjawab persoalan euthanasia?

B. Aspek Ontologis dari Ilmu Hukum


Disiplin ilmu hukum dalam mengarahkan sasaran studinya terhadap kaidah atau norma
(norm wissenschaft), maka akan dapat dibedakan antara kaidah dalam arti yang luas
dengan asas-asas hukum dan norma (nilai) yang merupakan kaidah dalam arti yang
sempit, serta peraturan hukum kongkrit.. Kaidah dalam arti yang luas adalah rumusan
pandangan masyarakat pada umumnya (bukan rumusan pandangan kelompok atau
individu) tentang apa yang baik yang seharusnya diperbuat dan apa yang buruk yang
seharusnya tidak diperbuat, sehingga berisi rumusan pandangan yang merupakan amar
makruf nahi mungkar.

Asas-asas hukum merupakan peraturan atau pedoman yang bersifat mendasar tentang
bagaimana seharusnya orang berperilaku dan pedoman tersebut berupa pikiran dasar
yang tersirat, berlaku umum, abstrak, mengenal pengecualian-pengecualian dan
merupakan persangkaan (presumption) serta bersifat ideal mengingat manusia akan
menemukan cita-citanya dengan asas hukum rersebut dan bersifat dinamis. Norma
atau kaidah dalam arti yang sempit adalah nilai yang dapat kita gali atau temukan dari
peraturan hukum kongkrit, sedangkan peraturan hukum kongkrit sendiri berupa pasal-
pasal suatu peraturan perundang-undangan.. Sebagai contoh peraturan hukum kongkrit
adalah Pasal 362 KUHP, maka asasnya adalah asas legalitas, norma atau nilai yang
dapat kita gali adalah bahwa perbuatan mencuri itu merupakan perilaku yang buruk
sehingga dilarang untuk dilakukan. Sasaran studi ilmu hukum terhadap pengertian
pengertian (begriffen wissenschaft) tidak diarahkan untuk mencari pengertian dari
hukum itu sendiri, melainkan mencari pengertian-pengertian dari konsep-konsep yang
terdapat dalam hukum baik itu konsep dasar (fundamental) maupun konsep-konsep
operasional sebagai tindak lanjut dari konsep dasar. Misalnya saja tentang pengertian
dari konsep peristiwa hukum, hubungan hukum, subyek hukum, manusia sebagai
subyek hukum, badan hukum, hak dan kewajiban serta demikian seterusnya yang
kemudian secara sistematik bangunan pengertian-pengertian tersebut akan membentuk
ilmu hukum. Sasaran studi ilmu hukum terhadap kenyataan-kenyataan yang terjadi di
masyarakat (sein wissenschaft) akan melahirkan ilmu-ilmu hukum baru yang bersifat
empirik yaitu sejarah hukum (terkait dengan kenyataan masyarakat di masa lampau),
sosiologi hukum (terkait dengan kenyataan masyarakat di masa kini), antropologi
hukum (terkait dengan nilai-nilai budaya masyarakat), psikologi hukum dan
perbandingan hukum (bukan merupakan ilmu namun hanya sekedar
memperbandingkan hukum yang masih berlaku dengan metodenya functional
approach). Selain kaidah sebagai sasaran studi ilmu hukum, sistem hukum dan
penemuan hukum juga menjadi sasaran yang penting untuk dikaji (Hartono, 1989: 13-
20). Sistem hukum adalah tatanan yang utuh yang didalamnya terdapat unsure-unsur
pembentuk sistem yang masing-masing saling berinteraksi untuk mewujudkan tujuan
dari sistem, serta tidak dikehendaki adanya konflik atau kontradiksi dalam diri sistem,
namun jika terjadi konflik maka akan diatasi oleh dan didalam sistem hukum itu
sendiri (Mertokusumo, 1999: 115).

Penemuan hukum adalah menemukan hukumnya atau peraturannya karena tidak jelas,
tidak lengkap atau tidak ada. Ketidak jelasan peraturan akan digunakan metode
interpretasi atau penafsiran dengan jalan menafsirkan bagian peraturan yang tidak jelas
(Loudoe; 1985: 124-125). Ketidaklengkapan atau ketiadaan peraturan hukum akan
digunakan metode argumentasi baik argumentum peranalogiam maupun argumentum
acontrario, serta metode konstruksi hukum (penyempitan maupun penghalusan
hukum) serta metode fiksi hukum, yaitu apa yang ada dianggap tiada dan sebaliknya
apa yang tiada dianggap ada (Scholten, 1992: 67).

C. Masa Proklamasi Kemerdekaan


Proklamasi Kemerdekaan Negara RI yang dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945
telah berhasil mendobrak sistem hukum kolonial dan menggantinya dengan sistem
hukum nasional. Terlepas pro dan kontra antara kubu yang berpendapat bahwa saat ini
kita telah memiliki sistem hukum nasional sendiri dan kubu yang berpendapat bahwa
kita belum memiliki sistem hukum nasional sendiri karena sistem hukum yang ada ini
masih merupakan warisan atau kelanjutan dari sistem hukum kolonial, maka penulis
berpendapat bahwa sistem hukum itu bersifat historisch bestimmt (dinamis terkait
dengan aspek-aspek kesejarahannya dan terikat dengan dimensi waktu dan
tempatnya). Kita tidak dapat membangun sistem hukum nasional yang sama sekali
baru karena sistem hukum itu bersifat given dan sistem hukum nasional yang telah
ada, yang merupakan kelanjutan dari sistem hukum kolonial secara step by step akan
dilakukan perbaikan-perbaikan dan perobahan-perobahan serta penyempurnaan-
penyempurnaan untuk diselaraskan dan diserasika dengan Grundnorm kita, karena
semenjak kemerdekaan RI kita telah mempunyai Undang-Undang Dasar Negara
sendiri yaitu UUD Negara RI Tahun 1945 yang di dalamnya memuat dasar Negara RI
yaitu Pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum dan dalam hirarki
peraturan perundang-undangan Negara RI menempati kedudukan sebagai grundnorm.
Demikian pula dalam operasionalisasi peraturan perundang-undangan warisan
kolonial yang masih berlaku karena ketentuan Pasal II Aturan Peralihan UUD Negara
RI Tahun 1945, terutama dalam pelaksanaannya di lembaga peradilan, hakim-hakim
Indonesia telah menyesuaikan peraturan-peraturan warisan kolonial Belanda yang
berjiwa materialistik, kapitalistik dan individualistik tersebut dengan Pancasila yang
berjiwa monodualistik (asas keseimbangan). Plularisme hukum sudah dikenal di
Indonesia sejak jaman kolonial Belanda. Bahkan dilegalkan dengan pasal 131 I.S.
(Indische Statsregeling) yang berisi ketentuan bahwa di Hindia Belanda (sekarang
Indonesia) berlaku 3 macam sistem hukum perdata yaitu: 1. Hukum perdata barat
(Eropa), 2 Hukum pertdata Islam dan 3. Hukum perdata Adat. Saat ini di masa
kemerdekaan plularisme hukum tersebut masih merupakan sebuah kenyataan yang
tidak dapat dipungkiri dan dalam pembangunan hukum sekarang yang bercorak
modern melalui peraturan perundang-undangan hukum barat, hukum adat maupun
hukum Islam saling berebut pengaruh untuk mewarnai pembangunan hukum nasional
tersebut dalam berbagai bidang melalui proses legislasi nasional Hukum barat yang
bercorak kapitalistik dan individualistik memiliki dasar ontologis monisme yaitu
materialisme,bahwa hakekat dari kenyataan yang ada yang beraneka ragam itu semua
berasal dari materi atau benda yaitu sesuatu yang berbentuk dan menempati ruang
serta kedudukan nilai benda/badan/materi adalah lebih tinggi daripada
roh/sukma/jiwa/spirit.
Hukum Islam yang memberikan kostribusi terhadap pembangunan hukum nasional
bukanlah hukum Islam yang bersifat universal (Rasyid, 1991 : 6) yang meliputi
peraturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia secara komprehensif,
melainkan sebatas hukum Islam yang menyangkut aspek keperdataan tertentu saja.
Itulah yang menjadi hukum yang hidup (living law) dan selebihnya seperti aturan-
aturan yang menyangkut aspek peribadatan dan lain sebagainya masih belum menjadi
hukum yang hidup dimasyarakat melainkan masih merupakan moral positif meskipun
masyarakat telah menjalankan secara nyata dalam kehidupannya sehari-hari.
Dasar ontologis dari hukum Islam bersifat monisme yaitu idealisme atau spiritualisme,
bahwa hakekat dari kenyataan yang ada yang beraneka ragam itu semua berasal dari
roh/sukma/jiwa (Fadjar; 2007: 1-2), yaitu sesuatu yang bersifat ghoib yang tidak
berbentuk dan tidak menempati ruang serta kedudukan nilai roh adalah lebih tinggi
daripada nilai benda/materi/badan.

Hukum adat yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan hukum nasional


adalah hukum adat yang diketahui sepanjang masih merupakan hukum yang
hidup(living law) dalam masyarakat dan yang masih sesuai dengan nilai-nilai
kemanusiaan yang adil dan beradab. Dasar ontologis dari hukum adat adalah bersifat
dualisme bahkan pluralisme, apalagi dengan mengingat sifat hukum adat itu yang
magis religius. Hakikat dari kenyataan yang ada sumber asalinya berupa baik materi
maupun rohani yang masing-masing bersifat bebas dan mandiri dan bahkan segala
macam bentuk merupakan kenyataan (Fadjar, 2007: 1-2). Hal tersebut berkaitan erat
dengan banyaknya wilayah atau daerah hukum adat (Rechtskringen) di Indonesia dan
bahkan menurut catatan Van Vollen Hoven terdapat 19 daerah hukum adat
(Mertokusumo, 1999: 126), sehingga keberadaan hukum adat sendiri di Indonesia
sudah bersifat pluralistik.
D. Aspek Epistemologis dari Ilmu Hukum
Epistemologi adalah yang terkait dengan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh
pengetahuan (Masruri dan Rosidy dalam Fadjar, 2007: 4) (Suriasumantri, 1990: 106).
Ia membahas tentang sumber, sarana dan tatacara menggunakan sarana tersebut untuk
mencapai pengetahuan ilmiah, serta tolok ukur bagai sebuah kebenaran dan kenyataan
ilmiah. Sarana ilmiah dalam epistemologi adalah akal atau akal budi, pengalaman atau
kombinasi diantaranya, serta intuisi (Fadjar, 2007: 4). Dalam konteks keindonesiaan
dengan plularisme hukumnya, aliran epistemologi yang dianut oleh hukum barat yang
positivistik dan menitik beratkan pada peraturan perundang-undangan (Mertokusumo,
1988: 165-167) menurut hemat penulis adalah idealisme atau rasionalisme dengan
menekankan peranan akal sebagai sumber pengetahuan. Aliran epistimologi yang
dianut oleh hukum adat yang bersifat riil, terang atau jelas dan kontan, serta menitik
beratkan pada kebiasaan atau perilaku masyarakat (die normatieve kraft des factischen
demikian kata Jellineck), menurut hemat penulis adalah realisme atau empirisme
dengan menekankan peranan indra dan pengalaman empirik (realitas) sebagai sumber
pengetahuan. Adapun aliran epistemologi dari hukum Islam menurut hemat penulis
tidak dapat dikatakan idealisme atau rasionalisme yang menekankan pada peranan
akal. Demikian pula tidak dapat dikatakan realisme atau empirisme yang menekankan
pada peranan indra dan pengalaman empirik (realitas), sebab Hukum Islam yang
berasal dari Ajaran Agama Islam bersumberkan kepada wahyu (lihat Anshari, 1987:
128-130) sebagai sumber pengetahuan, baik yang didasarkan kepada kitab suci Al-
Qur’an yang berkedudukan sebagai wahyu primer maupun Al-hadist yang
berkedudukan sebagai wahyu sekunder. Keduanya dalam agama Islam dikenal sebagai
sumber hukum atau dalil Naqli (Khallaf, 1980: 24-50). Disamping itu hukum Islam
juga mengakui peranan akal (al-ra’yu) sebagai sumber pengetahuan dan sekaligus
sebagai sumber hukum yang dalam agama Islam disebut sebagai sumber hukum atau
dalil Aqli, tetapi kedudukanya tergantung dari sumber hukum atau dalil Naqli, yakni
untuk menjelaskan sumber hukum Naqli tersebut apabila tidak ditemukan
kejelasannya. Dengan catatan sumber hukum Aqli tersebut yang berupa ijma’
(kesepakatan para ulama) dan qias (analogi) tidak boleh menyimpang dari ketentuan
sumber hukum Naqli (Khallaf: 65-75). Dan apabila dikaitkan dengan penggunaan
indra atau pengalaman empirik (realitas) sebagai sumber pengetahuan dalam hukum
Islam, maka menurut hemat penulis hal itu pun dijumpai seperti pada asas hukum
(kaidah ushul fiqih) al-aadatu al- muhakkamah (kebiasaan atau adat yang melembaga).
Ilmu pengetahuan yang diperoleh manusia melalui sarana akal atau akal budi, indra
atau pengalaman empirik (realitas) dan lain sebagainya, telah menghasilkan beberapa
metode ilmu pengetahuan yaitu metode induksi, deduksi, positivisme, kontemplatif
dan dialektika. Hukum sebagai ilmu pengetahuan dalam menyusun obyek atau bahan
ilmunya ke dalam struktur ilmu hukum yang konstruktif dan sistematis, juga
menggunakan metode-metode tersebut. Metode Induksi adalah metode berpikir dari
yang khusus kepada yang umum, sedangkan metode deduksi bersifat sebaliknya, yaitu
metode berpikir dari yang umum kepada yang khusus. Metode positivisme yang
dipelopori oleh August Comte berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang faktual
dan positif serta menolak diluar yang positif termasuk metafisika. Sedangkan metode
kontemplatif mengakui metode lain berupa intuisi dan perenungan mengingat
keterbatasan indra dan akal. Apabila ditarik ke dalam dunia peradilan yang dikuasai
oleh postulat keadilannya Aristoteles, bahwa peristiwa yang sama diperlakukan sama
(analogi) dan peristiwa yang tidak sama tidak diperlakukan sama (a contrario), maka
ada dua sistem untuk merealisir pokok pikiran tersebut yaitu sistem Anglo-Amerika
dan Sistem Eropa Kontinental. Sistem Anglo-Amerika mengikat hakim pada precedent
(The binding force of Precedent). Hakim Amerika akan berfikir secara induktif, yaitu
berfikir dari yang khusus kepada yang umum/ilmu pasti. Penemukan peraturan yang
dijadikan dasar putusannya dari deretan putusan-putusan sebelumnya (reasoning by
analogy, reasoning from case to case). Sedangkan Sistem Eropa Kontinental bertujuan
mewujudkan postulat kesamaan dengan mengikat hakim pada undang-undang, yaitu
peraturan yang sifatnya umum yang menentukan agar sekelompok peristiwa tertentu
yang sama diputus sama. Dalam hal ini hakim terikat pada jalan pikiran deduktif, yaitu
berpikir dari yang umum kepada yang khusus. Ia harus mengkonkritisasi peraturan dan
harus mengabstraksi peristiwa. Subsumpsie dan sillogisme atau dialektika merupakan
ciri khas dari cara berfikir deduksi. Dalam sillogisme atau dialektika bunyi pasal
undang-undang adalah premis mayor atau thesenya, fakta atau peristiwa atau kasus
konkritnya adalah premis minor atau antithesenya dan bunyi putusan hakim adalah
konklusi atau sinthesenya. Dengan demikian sillogisme atau dialektika hanyalah
memberi bentuk untuk membenarkan putusan, sedangkan untuk menemukan
putusannya diperlukan analogi dan acontrario (Mertokusumo, 1999: 167). Dalam
bagan siklus ilmu pengetahuan sebagaimana digambarkan oleh L. Wallace di dalam
bukunya The Logic of Science in Sociology,dikatakan bahwa ilmu pengetahuan selalu
berkembang karena dibantu oleh riset yang dilakukan secara terus menerus. Riset atau
penelitian tersebut memiliki dua ciri khas yaitu penggunaan logika dan pengamatan
empirik. Penggunaan logika meliputi baik logika deduksi maupun induksi. Logika
deduksi digunakan manakala hendak menyusun hipotesis, logika induksi digunakan
manakala hendak melakukan genaralisasi empirik dengan melakukan abstraksi,
sedangkan pengamatan empirik digunakan manakala hendak melakukan uji hipotesis
dengan melakukan observasi di lapangan.

E. Pancasila Sebagai Sistim Filsafat


Pancasila sebagai paham filsafat dalam kehidupannya manusia selalu menghadapi
persoalan-persoalan pokok manusia yang meliputi : hubungan manusia dengan dirinya
sendiri, orang lain atau sesama, alam sekitar, serta dengan Tuhan Sang penciptanya.
Sedangkan Pancasila sebagai Sistim Nilai yang pada hakikatnya adalah sifat atau
kualitas yang melekat pada suatu objek dan macam-macam nilai tersebut menurut
Walter G. Everet adalah nilai-nilai manusiawi menjadi 8 kelompok, yaitu :
1. Nilai ekonomis (ditunjukkan oleh harga pasar dan meliputi semua benda yang dapat
dibeli).
2. Nilai kejasmanian (mengacu pada kesehatan, efisiensi dan keindahan badan).
3. Nilai hiburan ( nilai-nilai permainan dan waktu senggang yang dapat menyumbang
pada pengayaan kehidupan ).
4. Nilai sosial ( berasal mula dari berbagai bentuk perserikatan manusia).
5. Nilai watak ( keseluruhan dari keutuhan kepribadian dan sosial yang diinginkan).
6. Nilai estetis ( nilai keindahan dalam alam dan dan karya seni).
7. Nilai intelektual ( nilai-nilai pengetahuan dan pengejaran kebenaran).
8. Nilai keagamaan (nilai-nilai yang ada dalam agama).Sedangkan menurut
notonagoro nilai tersebut dibagi menjadi 3, yaitu: 1. Nilai material, yaitu segala
sesuatu yang yang berguna bagi unsur jasmani manusia, 2. Nilai vital, yaitu segala
sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat mengadakan kegiatan atau aktivitas
dan 3.Nilai kerohanian, yaitu segala seuatu yang berguna bagi rohani manusia.

Menurut dasar kaedah nilai-nilai pancasila bersifat objektif dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Rumusan dari sila-sila pancasila itu sebenarnya hakikat maknanya yang terdalam
menunjukkan adanya sifat-sifat yang umum universal dan abstrak,karena pada
hakikatnya pancasila adalah nilai.
2. Inti nilai pancasila berlaku tidak terikat oleh ruang.
3. Pancasila yang terkandung dalam pembukaan UUD’45, menurut ilmu hukum
memenuhi syarat sebagi pokok kaidah negara yang fundamental, sehingga
merupakan suatu sumber hukum positif di Indonesia.

Pandangan berdasarkan Darmoduharjo nilai pancasila yang bersifat subjektif adalah :


1. Nilai-nilai pancasila timbul dari bangsa indonesia sendiri, sehingga bangsa
indonesia sebagai kuasa materialis.
2. Nilai pancasila merupakan filsafat bangsa Indonesia.
3. Nilai pancasila merupakan nilai-nilai yang sesuai dengan hati nurani bangsa
indonesia.

Dimana bentuk dan susunan pancasila tersebut adalah 1. Pancasila sebagai suatu
sistem nilai yang mempunyai ciri-ciri yaitu merupakan sebagai kesatuan yang utuh
dari setiap unsur pembentuk pancasila merupakan unsur mutlak yang membentuk
kesatuan, bukan unsur komplementer dan sebagai satu kesatuan yang mutlak, tidak
dapat ditambah atau dikurangi, dan 2. Susunan pancasila adlah susunan sila-sila
pancasila merupakan kesatuan yang organis, satu sama lain membentuk suatu sistem
yang disebut dengan istilah majemuk tunggal. Majemuk tunggal artinya pancasila
terdiri dari 5 sila tetapi merupakan satu kesatuan yang berdiri sendiri secara utuh.

Pancasila Sebagai Ideologi Negara, Pancasila adalah sebagai ideologi terbuka dan
dalam ideologi terbuka terdapat cita-cita dan nilai-nilai yang mendasar, bersifat tetap
dan tidak berubah. Pancasila dikatakan memiliki dimensi terbuka memiliki dimensi
identitas karena memiliki nilai-nilai yang dianggap baik, benar oleh masyarakat
Indonesia.Perbandingan antara ideologi liberalisme, komunisme, dan pancasila
Liberalisme ciri-cirinya adalah: memiliki kecenderungan untuk mendukung
perubahan, mempunyai kepercayaan terhadap nalar manusiawi, bersedia
menggunakan pemerintah untuk meningkatkan kondisi manusiawi, mendukung
kebebasan individu, bersikap embivalen terhadap sifat manusia.Liberalisme yang
menyuarakan kebebasan hak-hak manusia yang hampir tanpa batas ini berbeda dengan
UUD’45 . dalam UUD’45 juga menyuarakan hak azasi manusia tetapi juga
mencantumkan kewajiban- kewajiban warga negara.

Makna Sila-Sila Pancasila, Arti dan makna sila ketuhanan yang maha esa adalah
mengandung arti pengakuan adanya kuasa prima yaitu Tuhan Yang Maha Esa untuk
menjamin penduduk agar memeluk agama dan beribadat menurut kepercayaannya
masing-masing, tidak memaksa warga negara untuk beragama serta menjamin
berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama yang berorientasi pada alam
kehidupan beragama dan Negara memberi fasilitator bagi tumbuh kembangnya agama
dan iman warganya. Arti dan makna sila kemanusian yang adil dan beradab
menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk Tuhan, menjunjung
tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa serta mewujudkan keadilan dan
peradaban yang tidak lemah arti dan makna sila persatuan indonesia.

Pokok-pokok pikiran yang perlu dipahami antara lain : Nasionalisme, cinta bangsa dan
tanah air, menggalang persatuan dan kesatuan bangsa, menghilangkan penonjolan
kekuatan atau kekuasaan maupun warna kulit dan keturunan, menumbuhkan rasa
senasib sepenanggungan. Sedangkan arti dan makna sila kerakyatan yang dipimpin
oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan pada hakikatnya sila
ini adalah demokrasi.

Permusyawaratan artinya mengusahakan putusan bersama secara bulat, baru sesudah


itu diadakan tindakan bersama.Dalam melaksanakan keputusan dibutuhkan kejujuran
bersama arti dan makna sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
kemakmuran yang merata bagi seluruh rakyat dalam arti dinamis dan meningkat
seluruh kekayaan alam dan sebagainya dipergunakan bagi kebahagian bersama
menurut potensi masing-masing dengan melindungi yang lemah agar kelompok warga
masyarakat dapat bekerja sesuai dengan bidangnya. Tiga macam keadilan legalis,
yaitu keadilan yang arahnya dari diri pribadi ke seluruh masyarakat, keadilan
distributuf, yaitu keseluruhan masyarakat wajib memperlakukan manusia pribadi
sebagai manusia yang sama martabatnya dan keadilan komutatif, yaitu
memperlakukan warga lain sebagi pribadi yang sama martabatnya.

Pancasila Sebagai Pradigma Pembangunan Bangsa, Pancasila sebagai orientasi


pembangunan yang memberi orientasi untuk terbentuknya struktur kehidupan sosial
politik dan ekonomi yang manusiawi, demokratis dan adil bagi seluruh rakyat.
Pancasila sebagai kerangka acuan pembangunan Pancasila sebagai nilai- nilai dasar
yang menjadi referensi kritik sosial budaya dimaksudkan agar proses perubahannya
yang sangat cepat yang terutama diakibatkan oleh perkembangan teknologi yang luar
biasa yang terjadi dalam derap dan langkah pembangunan tetap dijiwai nilai-nilai
pancasila. Implementasi pancasila sebagai paradigma dalam berbagai bidang Pancasila
sebagai paradigma pembangunan pendidikan.

Pendidikan nasional harus dipersatuan atas pancasila. Tak sesogyanya bagi


penyelesaian- penyelesaian masalah-masalah pendidikan nasional dipegunakan secara
langsung sistem-sistem aliran-aliran ajaran, teori, filsafat, praktek pedidikan berasal
dari luar.Pancasila sebagai paradigma pembangunan ideologi Pengembangan pancasila
sebagai ideologi yang memiliki dimensi realitas, idealitas dan fleksibilitas
menghendaki adanya dialog yang tiada henti dengan tantangan-tantangan masa kini
dan masa depan dengan tetap mengacu kepada pencapaian tujuan nasional dan cita-
cita nasional indonesia.

Pancasila sebagai paradigma pembangunan politik untuk mengatasi permasalahan


politik, tidak ada jawaban lain kecuali bahwa kita harus mengembangkan sistem
politik yang benar-benar demokratis. Demokratisasi merupakan upaya penting dalam
mewujudkan civil society. Pancasila sebagai paradigma pembangunan ekonomi
nasional harus juga berarti pembangunan sistem ekonomi yang kita anggap paling
cocok bagi bangsa indonesi. Dalam penyusunan sistem ekonomi nasional yang
tangguh untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, sudah semestinya
pancasila sebagai landasan filosifinya.Pancasila sebagai paradigma pembangunan
sosial buadaya dalam kehidupan sosial buadaya masyarakat masing- masing melalui
pengembangan kehidupan yang bermakna dan kemampuan untuk memuliakan
kehidupan itu sendiri.

Pancasila sebagai paradigma pembangunan ketahanan nasional


Penyelenggaraan ketahanan nasional itu dengan sendirinya berbeda-beda sesuai
dengan letak dan kondisi geografisnya serta budaya. Bangsa.bangsa itu terpeliraha
persatuannya berkat adanya seperangkat nilai yang duhayati bersama oleh para
warganegaranya. Perangkat nilai bangsa yang satu berbeda dengan perangkat nilai
bangsa lain. Bagi bangsa indonesia perangkat nilai ,perangkat nilai itu ialah pancasila.
Pancasila sebagai paradigma pembangunan hukum terahadap sistim hukum menurut
wawasan pancasila yang merupakan bagian integral dari keseluruhan sistem
kehidupan masyarakat sebagai satu keutuhan dan karena itu berkaitan secara timbal
balik, melalui berbagai pengaruh dan interaksinya.

Pancasila sebagai paradigma pembangunan kehidupan beragama


Kita hidup dalam berbagai perbedaan, salah satunya ialah perbedaan dalam
beragama. Pada hakikatnya semua agama dianggap sama hanya cara beribahnya
berbeda satu dengan yang lain. Dengan adanya pancasila sebagai falsafah hidup
diharapkan tidak ada batasan pergaulan antar agama. Saling menghormati dan
menghargai satu sama lain, sehingga persatuan dan kesatuan tetap terjaga. Begitu
pula Pancasila sebagai paradigma pengembangan ilmu dan teknologi, Pancasila
mengandung hal-hal yang penting dalam pengembangan ilmu dan teknologi. Dari
sila 1 hingga 5 merupakan tolak ukur bagaimana manusia mengembangkan ilmu
dan teknologi tersebut.

Kesimpulan :
1. Pengertian Filsafat adalah berasal dari kata Yunani yaitu Filosofia berasal dari kata
kerja Filosofein artinya mencintai kebijaksanaan, akan tetapi belum menampakkan
hakekat yang sebenarnya adalah himbauan kepada kebijaksanaan. Dengan
demikian seorang filsuf adalah orang yang sedang mencari kebijaksanaan,
sedangkan pengertian “ orang bijak” (di Timur) seperti di India, cina kuno adalah
orang bijak, yang telah tahu arti tahu yang sedalam-dalamnya(ajaran kebatinan),
orang bijak/filsuf adalah orang yang sedang berusaha mendapatkan kebijaksanaan
atau kebenaran, yang mana kebenaran tersebut tidak mungkin ditemukan oleh satu
orang saja.
2. Para ahli filsafat tersebut diatas adalah sebagai pintu pemikiran tentang filsafat yang
mengenai alam semesta adalah Filsafat Pra Sokrates dan jaman Filsafat Sokrates,
Plato dan Aristoteles
3. Filsafat Helenisme dan Romawi, helenisme berasal dari bahasa yunani yaitu
Hellenizein adalah roh dan kebudayaan yunani, yang sepanjang roh dan
kebudayaan itu memberikan cirri-cirinya kepada para bangsa yang bukan yunani
disekitar laut tengah, mengadakan perubahan dibidang kesusasteraan, agama dan
keadaan bangsa-bangsa itu. Pada zaman ini ini ada perpindahan filsafat yaitu dari
filsafat yang teoritis menjadi filsafat yang praktis, yang makin lama menjadi suatu
seni. Dimana orang bijak adalah orang yang mengatur hidupnya menurut akal dan
rasionya. Yang termasuk aliran yang bersifat etis adalah aliran Epikuros dan Stoa,
sedangkan yang lainnya diwarnai oleh agama diantaranya Filsafat Neopythagoris,
filsafat Plattonis Tengah, filsafat Yahudi dan Neoplatonisme.
4. Sejarah Filsafat Abad Pertengahan, filsafat pada abad pertengahan adalah suatu arah
pemikiran yang berbeda sekali dengan pemikiran dunia kuna, yaitu filsafat yang
menggambarkan suatu zaman yang baru sekali ditengah-tengah suatu rumpun
bangsa baru, bangsa eropa barat(disebut filsafat Skolastik). Sebagian soklastik
mengungkapkan bahwa ilmu pengetahuan abad pertengahan diusahakan disekolah-
sekolah dan ilmu terikat pada tuntutan pengajaran disekolah-sekolah. Skolastik
timbul di dibiara di Ballia Selatan tempat pengungsian ketika ada perpindahan
bangsa-bangsa. Pengaruh skolastik sampai ke Irlandia, Nederland dan Jerman dan
kemudian timbul disekolah kapittel yaitu sekolah yang dikaitkan dengan geraja.
4 Macam-Macam Aliran Filsafat, yaitu : Aliran filsafat Kuna yang terdiri dari
beberapa maszab seperti 1. Filsafat Pra Sokrates, 2. Filsafat Sokrates, Plato dan
Aristoteles aliran ini dibagai lagi menjadi a.Kaum Sofis dan Sokrates, b.Plato dan c.
Aristoteles, 3. Filsafat Helenisme dan Romawi dan 4. Filsafat Patristik yaitu : a.
Patristik Timur dan b. Patristik Barat, Aliran Filsafat Abad Pertengahan yang terdiri
dari 1. Aliran Awal Skolastik, 2. Aliran Zaman Kejayaan Skolastik dan 3. Akhir
Skolastik, Aliran Filsafat Modern dan Aliran Filsafat Abad ke 19 dan abad ke 20.
5. Ilmu hukum Indonesia yang dibangun dari teori hukum Indonesia dan filsafat
hukum Indonesia jika ditopang dari bangunan kefilsafatan ilmu, maka memiliki
landasan ontologis dualisme (materialisme dan spiritualisme sekaligus), landasan
epistimologi rasionalisme, empirisme dan wahyu sekaligus, serta landasan aksiologi
nilai moral atau etika dan bahkan nilai keagamaan yang sakral. Manusia yang hidup
didalam masyarakat memerlukan perlindungan kepentingan, yang tercapai dengan
terciptanya pedoman atau peraturan hidup yang menentukan bagaimana
seharusnnya manusia itu betingkah laku dalam masyarakat agar tidak merugikan
orang lain dan dirinya sendiri. Pedoman tersebut merupakan patokan atau ukuran
berperilaku atau bersikap dalam kehidupan bersama yang kemudian disebut kaidah
sosial, yang pada hakekatnya merupakan rumusan pandangan mengenai perilaku
atau sikap yang seharusnnya dilakukan atau tidak, yang dianjurkan maupun yang
dilarang untuk dijalankan. Dengan kaidah sosial hendak dicegah gangguan-
gangguan maupun konflik kepentingan manusia, sehingga diharap manusia dapat
terlindungi kepentingan- kepentingannya. Kaidah keagamaan ditujukan kepada
kehidupan beriman manusia terhadap kewajibannya terhadap tuhan dan dirinya
sendiri.
6. Hukum sebagai disiplin ilmu mengarahkan sasaran studinya terhadap kaidah atau
norma yang menghasilkan ilmu tentang kaidah hukum (norm wissenschaft),
terhadap pengertian-pengertian dalam hukum yang menghasilkan ilmu tentang
pengertian hukum (begriffen wissenschaft), dan terhadap kenyataan-kenyataan
dalam hukum yang menghasilkan ilmu tentang kenyataan hukum (sein
wissenschaft).
7. Aspek Ontologis dari Ilmu Hukum, disiplin ilmu hukum dalam mengarahkan
sasaran studinya terhadap kaidah atau norma (norm wissenschaft), maka akan dapat
dibedakan antara kaidah dalam arti yang luas dengan asas-asas hukum dan norma
(nilai) yang merupakan kaidah dalam arti yang sempit, serta peraturan hukum
kongkrit. Kaidah dalam arti yang luas adalah rumusan pandangan masyarakat pada
umumnya (bukan rumusan pandangan kelompok atau individu) tentang apa yang
baik yang seharusnya diperbuat dan apa yang buruk yang seharusnya tidak
diperbuat, sehingga berisi rumusan pandangan yang merupakan amar makruf nabi
mungkar.
8. Penemuan hukum adalah menemukan hukumnya atau peraturannya karena tidak
jelas, tidak lengkap atau tidak ada. Ketidak jelasan peraturan akan digunakan
metode interpretasi atau penafsiran dengan jalan menafsirkan bagian peraturan
yang tidak jelas (Loudoe; 1985: 124-125). Ketidak lengkapan atau ketiadaan
peraturan hukum akan digunakan metode argumentasi baik argumentum
peranalogiam maupun argumentum acontrario, serta metode konstruksi hukum
(penyempitan maupun penghalusan hukum) serta metode fiksi hukum, yaitu apa
yang ada dianggap tiada dan sebaliknya apa yang tiada dianggap ada (Scholten,
1992: 67).

9. Masa Proklamasi Kemerdekaan, yang dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945


telah berhasil mendobrak sistem hukum kolonial dan menggantinya dengan sistem
hukum nasional. Terlepas pro dan kontra antara kubu yang berpendapat bahwa saat
ini kita telah memiliki sistem hukum nasional sendiri dan kubu yang berpendapat
bahwa kita belum memiliki sistem hukum nasional sendiri karena sistem hukum
yang ada ini masih merupakan warisan atau kelanjutan dari sistem hukum kolonial,
maka penulis berpendapat bahwa sistem hukum itu bersifat historisch bestimmt
(dinamis terkait dengan aspek-aspek kesejarahannya dan terikat dengan dimensi
waktu dan tempatnya). Kita tidak dapat membangun sistem hukum nasional yang
sama sekali baru karena sistem hukum itu bersifat given dan sistem hukum nasional
yang telah ada, yang merupakan kelanjutan dari sistem hukum kolonial secara step
by step akan dilakukan perbaikan-perbaikan dan perobahan-perobahan serta
penyempurnaan-penyempurnaan untuk diselaraskan dan diserasika dengan
Grundnorm kita, karena semenjak kemerdekaan RI kita telah mempunyai Undang-
Undang Dasar Negara sendiri yaitu UUD Negara RI Tahun 1945 yang di dalamnya
memuat dasar Negara RI yaitu Pancasila yang merupakan sumber dari segala
sumber hukum dan dalam hirarki peraturan perundang-undangan Negara RI
menempati kedudukan sebagai grundnorm.
10. Hukum Islam yang memberikan kostribusi terhadap pembangunan hukum nasional
bukanlah hukum Islam yang bersifat universal(Rasyid, 1991 : 6) yang meliputi
peraturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia secara komprehensif,
melainkan sebatas hukum Islam yang menyangkut aspek keperdataan tertentu saja.
Itulah yang menjadi hukum yang hidup (living law) dan selebihnya seperti aturan-
aturan yang menyangkut aspek peribadatan dan lain sebagainya masih belum
menjadi hukum yang hidup dimasyarakat melainkan masih merupakan moral
positif meskipun masyarakat telah menjalankan secara nyata dalam kehidupannya
sehari-hari.
11.Dasar ontologis dari hukum Islam bersifat monisme yaitu idealisme atau
spiritualisme, bahwa hakekat dari kenyataan yang ada yang beraneka ragam itu
semua berasal dari roh/sukma/jiwa (Fadjar; 2007: 1-2), yaitu sesuatu yang bersifat
ghoib yang tidak berbentuk dan tidak menempati ruang serta kedudukan nilai roh
adalah lebih tinggi daripada nilai benda/materi/badan.
12.Hukum adat yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan hukum nasional
adalah hukum adat yang diketahui sepanjang masih merupakan hukum yang
hidup(living law) dalam masyarakat dan yang masih sesuai dengan nilai-nilai
kemanusiaan yang adil dan beradab. Dasar ontologis dari hukum adat adalah
bersifat dualisme bahkan pluralisme, apalagi dengan mengingat sifat hukum adat
itu yang magis religius. Hakikat dari kenyataan yang ada sumber asalinya berupa
baik materi maupun rohani yang masing-masing bersifat bebas dan mandiri dan
bahkan segala macam bentuk merupakan kenyataan (Fadjar, 2007: 1-2). Hal
tersebut berkaitan erat dengan banyaknya wilayah atau daerah hukum adat
(Rechtskringen) di Indonesia dan bahkan menurut catatan Van Vollen Hoven
terdapat 19 daerah hukum adat (Mertokusumo, 1999: 126), sehingga keberadaan
hukum adat sendiri di Indonesia sudah bersifat pluralistik.
13.Epistemologi adalah yang terkait dengan cara ilmu memperoleh dan menyusun
tubuh pengetahuan (Masruri dan Rosidy dalam Fadjar, 2007: 4) (Suriasumantri,
1990: 106). Dalam konteks keindonesiaan dengan plularisme hukumnya, aliran
epistemologi yang dianut oleh hukum barat yang positivistik dan menitik beratkan
pada peraturan perundang-undangan (Mertokusumo, 1988: 165-167) menurut
hemat penulis adalah idealisme atau rasionalisme dengan menekankan peranan akal
sebagai sumber pengetahuan. Aliran epistimologi yang dianut oleh hukum adat
yang bersifat riil, terang atau jelas dan kontan, serta menitik beratkan pada
kebiasaan atau perilaku masyarakat (die normatieve kraft des factischen demikian
kata Jellineck), menurut hemat penulis adalah realisme atau empirisme dengan
menekankan peranan indra dan pengalaman empirik (realitas) sebagai sumber
pengetahuan. Adapun aliran epistemologi dari hukum Islam menurut hemat penulis
tidak dapat dikatakan idealisme atau rasionalisme yang menekankan pada peranan
akal.
14.Pancasila sebagai paham filsafat dalam kehidupannya manusia selalu menghadapi
persoalan-persoalan pokok manusia yang meliputi : hubungan manusia dengan
dirinya sendiri, orang lain atau sesama, alam sekitar, serta dengan Tuhan Sang
penciptanya. Sedangkan Pancasila sebagai Sistim Nilai yang pada hakikatnya
adalah sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek dan macam-macam nilai
tersebut menurut Walter G. Everet adalah nilai-nilai manusiawi menjadi 8
kelompok, yaitu : 1. Nilai ekonomis (ditunjukkan oleh harga pasar dan meliputi
semua benda yang dapat dibeli), 2. Nilai kejasmanian (mengacu pada kesehatan,
efisiensi dan keindahan badan), 3. Nilai hiburan ( nilai-nilai permainan dan waktu
senggang yang dapat menyumbang pada pengayaan kehidupan ), 4. Nilai sosial
( berasal mula dari berbagai bentuk perserikatan manusia), 5. Nilai watak
( keseluruhan dari keutuhan kepribadian dan sosial yang diinginkan), 6. Nilai estetis
( nilai keindahan dalam alam dan dan karya seni), 7. Nilai intelektual ( nilai-nilai
pengetahuan dan pengejaran kebenaran) dan 8. Nilai keagamaan (nilai-nilai yang
ada dalam agama).Sedangkan menurut notonagoro nilai tersebut dibagi menjadi 3,
yaitu: 1. Nilai material, yaitu segala sesuatu yang yang berguna bagi unsur jasmani
manusia, 2. Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk dapat
mengadakan kegiatan atau aktivitas dan 3.Nilai kerohanian, yaitu segala seuatu
yang berguna bagi rohani manusia.
15.Menurut dasar kaedah nilai-nilai pancasila bersifat objektif dapat dijelaskan sebagai
berikut: 1. Rumusan dari sila-sila pancasila itu sebenarnya hakikat maknanya yang
terdalam menunjukkan adanya sifat-sifat yang umum universal dan abstrak,karena
pada hakikatnya pancasila adalah nilai, 2. Inti nilai pancasila berlaku tidak terikat
oleh ruang, 3. Pancasila yang terkandung dalam pembukaan UUD’45, menurut
ilmu hukum memenuhi syarat sebagi pokok kaidah negara yang fundamental,
sehingga merupakan suatu sumber hukum positif di Indonesia.
Pandangan berdasarkan Darmoduharjo nilai pancasila yang bersifat subjektif adalah
1. Nilai-nilai pancasila timbul dari bangsa indonesia sendiri, sehingga bangsa
indonesia sebagai kuasa materialis, 2. Nilai pancasila merupakan filsafat bangsa
Indonesia dan 3.Nilai pancasila merupakan nilai-nilai yang sesuai dengan hati
nurani bangsa indonesia.
16.Pancasila adalah sebagai ideologi terbuka dan dalam ideologi terbuka terdapat cita-
cita dan nilai-nilai yang mendasar, bersifat tetap dan tidak berubah. Pancasila
dikatakan memiliki dimensi terbuka memiliki dimensi identitas karena memiliki
nilai-nilai yang dianggap baik, benar oleh masyarakat Indonesia. Perbandingan
antara ideologi liberalisme, komunisme, dan pancasila Liberalisme ciri-cirinya
adalah: memiliki kecenderungan untuk mendukung perubahan, mempunyai
kepercayaan terhadap nalar manusiawi, bersedia menggunakan pemerintah untuk
meningkatkan kondisi manusiawi, mendukung kebebasan individu, bersikap
embivalen terhadap sifat manusia.Liberalisme yang menyuarakan kebebasan hak-
hak manusia yang hampir tanpa batas ini berbeda dengan UUD’45 . dalam UUD’45
juga menyuarakan hak azasi manusia tetapi juga mencantumkan kewajiban-
kewajiban warga negara.
17.Makna Sila-Sila Pancasila, arti dan makna sila ketuhanan yang maha esa adalah
mengandung arti pengakuan adanya kuasa prima yaitu Tuhan Yang Maha Esa
untuk menjamin penduduk agar memeluk agama dan beribadat menurut
kepercayaannya masing-masing, tidak memaksa warga negara untuk beragama
serta menjamin berkembang dan tumbuh suburnya kehidupan beragama yang
berorientasi pada alam kehidupan beragama dan Negara memberi fasilitator bagi
tumbuh kembangnya agama dan iman warganya. Arti dan makna sila kemanusian
yang adil dan beradab menempatkan manusia sesuai dengan hakikatnya sebagai
makhluk Tuhan, menjunjung tinggi kemerdekaan sebagai hak segala bangsa serta
mewujudkan keadilan dan peradaban yang tidak lemah.
20.Pancasila Sebagai Pradigma Pembangunan Bangsa, Pancasila sebagai orientasi
pembangunan yang memberi orientasi untuk terbentuknya struktur kehidupan sosial
politik dan ekonomi yang manusiawi, demokratis dan adil bagi seluruh rakyat.
Pancasila sebagai kerangka acuan pembangunan Pancasila sebagai nilai- nilai dasar
yang menjadi referensi kritik sosial budaya dimaksudkan agar proses perubahannya
yang sangat cepat yang terutama diakibatkan oleh perkembangan teknologi yang
luar biasa yang terjadi dalam derap dan langkah pembangunan tetap dijiwai nilai-
nilai pancasila. Implementasi pancasila sebagai paradigma dalam berbagai bidang
Pancasila sebagai paradigma pembangunan pendidikan. Sumber Data : Gatot
http://www.infomediailmiah by Timoer’s.com
DAFTAR PUSTAKA

Al-Ahwani, Ahmad Fuad 1995: Filsafat Islam, (cetakan 7), Jakarta, Pustaka Firdaus
(terjemahan Pustaka Firdaus).
ANTARA di Jakarta, Jumat, sampah yang mengalir di sejumlah titik di Kali Ciliwung
dan Banjir Kanal Barat itu didominasi oleh benda berbahan plastik seperti
botol dan gelas bekas air mineral.
Arie Herlambang,Efektivitas Kanal Timur juga dipertanyakan di Pusat Kajian dan
Penerapan Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan
Teknologi (BPPT). Ia beralasan, aliran sungai-sungai di wilayah hilir Kanal
Timur sering terganjal air laut saat pasang naik. "Ancaman masuknya air laut
harus dicermati," kata Arie seraya mencontohkan banjir besar dua tahun lalu
terjadi justru di wilayah yang rencananya jadi muara Kanal Timur ini.
"Jangan sampai air pasang menahan laju air dari hulu. Kalau terjadi, ini
namanya memindah banjir ke timur,".
Allen, Linda. “ Capital Markets And Institutions “: A Global View.New York,
Brisbane, Singapore : Jhon Wiley & Sons’s, Inc., 1997.
Asmon, I.E.” Pemilikan Saham Oleh Karyawan: Suatu Sistem Demokrasi Ekonomi
Bagi Indonesia”, dalam Didik J.Rachbini, ed , Pemikiran Kea rah Demokrasi
Ekonomi. Jakarta, LP3ES, 1990.
ANTV, Tgl 8 Juni 2006, Kompas,Tgl 8 Juni 2006, Try Harijono, Jawa Pos,Tgl 2 Juni
2006, Surya, Tgl 10 Juni 2006, iit/ant., Marcilinus, anggota Ikatan Ahli
Geologi Indonesia dan Koran Tempo, tgl 16 Juni 2006.
Arsyad, Lincolin. “ Ekonomi Pembangunan”, Penerbit : Sekolah Tinggi Ilmu
Ekonomi YKPN, Edisi ke 4, tahun 2004.
Ary Ginanjar Agustian, 2003: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan
Spiritual ESQ, Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (edisi XIII),
Jakarta, Penerbit Arga Wijaya Persada.
----------2003: ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al Ihsan, (Jilid II), Jakarta,
Penerbit ArgaWijaya Persada.
Avey, Albert E. 1961: Handbook in the History of Philosophy, New York, Barnas &
Noble, Inc.
----------- Bertens.Dr.K. Sejarah Filsafat Yunani, Yogyakarta, 1975.
----------- Bertens. Dr.K Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta , 1976.
----------- Beerling,Dr.R.F.Filsafat dewasa ini, Jilid I, II, Jakarta, 1958.
Bochenski, J.M.Contemporary European Philosophy, translated bay D. Nichol and K.
Aschenbrenner, London and Berkeley, 1956.
Black and Daniel, “ Money and Bangkok”, Contemporary Pranctices, Politik and
Isues Business Publication INC.Plano, Texas 1991.
Beaver, William H. “ The Nature of Mandated Disclosure”, dalam Richard A. Posner
dan Kenneth E.Scott, ed, Economic of Corporation Law and Securities
Regulation.Boston, Toronto : Little Brown & Company, 1980.
Black, Henry Campbell.Black’s Law Dictionary, Sixt Edition.ST.Paul. Minn: West
Publishing Co, 1990.
Center for Civic Education (CCE) 1994: Civitas National Standards For Civics and
Government, Calabasas, California, U.S Departement of Education.
----------- Collins,J.A .History of Modern Eurapean Philosophy, Milwaukee, 1954.
Coffe, Jhon C.Jr.” Market Failure And The Economic Case For A Mandatory
Disclosure System”.Virginia Law Review, vol. 70, 1984.
Corgill, Dennis.S.” Insider Trading, Price Signals, and Noisy Information”. Indiana
Law Journal, vol. 71, 1996.
-----------Copleston,F.A. Historys of Philosophy, London.
Vol. I. Greece and Rome 1946.Vol II. Mediaevl Phalosophy, Augustine to
Scotus, 1950.Vol III . Ockham to Snarez, 1953.
Vol IV. Descartes to Leibniz, 1958.Vol V . Hobbes to home, 1959.
Vol VI. The French Englightenment to Kent, 1960.Vol VII. Fichte to
Nietzsche,1963.Vol VIII. Britis Empirism and the Idealist Movement in Great
Britain and Idealisme in Amirica, The Pragmatist movement, The Revolt
against Idealisme, 1967.
----------- Dirjarkara, Prof.Dr.N.Pertjikan Filsafat, Jakarta, 1966.
----------- Durant Wil, The Story of Philosophy, NewYork, 1952.
Friedman, W.”Teori Dan Filsafat Hukum (Judul Asli : “LegalTheory”).Penerjemah
Muhammad Arifin, Jakarta : CV.Rajawali. 1990.
Fadjar, ”beraneka ragam itu semua berasal dari materi atau benda yaitu
sesuatu yang berbentuk dan menempati ruang serta kedudukan nilai
benda/badan/materi adalah lebih tinggi daripada roh/sukma/jiwa/spirit”, 2007:
1-2.
----------- Fuller, B.A.G (Ph.D) History of Greek Philosophy, New York, 1923
------------ Gilson Etiene, History of Christian Philosophy in the Middie Ages, New
York, 1954.
Harold H. Titus. Living Issues in Philosophya, New York : Amirika Book Company,
Thirdd Edition 1959.
Hirschaberger,J.The History of Philosophy, translated by in Nineteenth Century, New
York, 1967.
Kartohadiprodjo, Soediman, 1983: Beberapa Pikiran Sekitar Pancasila, cetakan ke-4,
Bandung, Penerbit Alumni.
Kelsen, Hans 1973: General Theory of Law and State, New York, Russell & Russell.
Loewith,K.From hegel to Nietzsche, The revolution in Nineteenth Century,
New York, 1967.
Mertokusumo, ”Dengan kaidah sosial hendak dicegah gangguan-gangguan maupun
konflik kepentingan manusia, sehingga diharap manusia dapat terlindungi
kepentingan-kepentingannya”, 1999- 10, 1999-12, 1999: 167.
Mohammad Noor Syam, ” Pembudayaan Nilai Pancasila Sebagai Sistim Filsafat Dan
Idiologi Nasional”Laboratorium Pancasila,Universitas Negeri Malang (UM),
Malang, 30 November 2007
Masruri dan Rosidy dalam Fadjar, ”Epistemologi adalah yang terkait dengan cara ilmu
memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan”, 2007: 4.
McCoubrey & Nigel D White 1996: Textbook on Jurisprudence (second edition),
Glasgow, Bell & Bain Ltd.
Mohammad Noor Syam 2007: Penjabaran Fislafat Pancasila dalam Filsafat Hukum
(sebagai Landasan Pembinaan Sistem Hukum Nasional), disertasi edisi III,
Malang, Laboratorium Pancasila.
Murphy, Jeffrie G & Jules L. Coleman 1990: Philosophy of Law An Introduction to
Jurisprudence, San Francisco, Westview Press.
Nawiasky, Hans 1948: Allgemeine Rechtslehre als System der rechtlichen
Grundbegriffe, Zurich/Koln Verlagsanstalt Benziger & Co. AC.
Notonagoro, 1984: Pancasila Dasar Filsafat Negara, Jakarta, PT Bina Aksara,
cetakan ke-6.
Punadi Purbacaraka, Ridwan Halim.Filsafat Hukum Pidana.Jakarta :CV.Rajawali
1982.
Pound, roscoe.Pengantar Filsafat Hukum.Penerjemah : Muhammad Rajab. Jakarta :
Bhratara, 1972.
---------- Poedjowijatno, I.R, Pembimbing kearah Ilmu Filsafat, Jakarta, 1963.
Radhakrishnan, Sarpavalli, et. al 1953: History of Philosophy Eastern and Western,
London, George Allen and Unwind Ltd.
Rasyid, ”yang meliputi peraturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan
manusia secara komprehensif, melainkan sebatas hukum Islam yang
menyangkut aspek keperdataan tertentu saja. Itulah yang menjadi hukum yang
hidup (living law) dan selebihnya seperti aturan-aturan yang menyangkut
aspek peribadatan dan lain sebagainya masih belum menjadi hukum yang
hidup dimasyarakat”, 1991 : 6.
---------- Rudi T.Erwin. Tanya jawab Filsafat Hukum.Jakarta : Aksara Baru, 1982.
---------- Sutikno.Filsafat Hukum.Jakarta :CV.Prima,1973.
Suriasumantri, ”Hukum barat yang bercorak kapitalistik dan individualistik memiliki
dasar ontologis monisme yaitu materialisme,bahwa hakekat dari kenyataan
yang ada, 1990: 93.
Sumardjono, ”siklus ilmu pengetahuan sebagaimana digambarkan oleh L. Wallace di
dalam bukunya The Logic of Science in Sociology”, 1989: 3.
---------- Rupert, Lodge,F.R.S.The Great Thinkers, Boston, 1951.
----------Russel, Bertrant. A. History of Western Philosophy, London, 1947.
Sumardjono, ”siklus ilmu pengetahuan sebagaimana digambarkan oleh L. Wallace di
dalam bukunya The Logic of Science in Sociology”, 1989: 3.
Saptariani, N. Potret Perspektif Keadilan Gender dalam Pengelolaan SDA di
Indonesia. Jurnal Perdikan.
Soejono Soekanto, Mengenai Sosiologi Hukum, Bandung, PT. Citra Bakti, 1989.
Teguh Pudjo Mulyono, “Anlisis Laporan Keuangan untuk Perbankan”,
Penerbit Djambatan , Jakarta, 1999. UNO 1988: HUMAN RIGHTS,
Universal Declaration of Human Rights, New York, UNO
UUD 1945, UUD 1945 Amandemen, Tap MPRS – MPR RI dan UU yang
berlaku. (1966; 2001, 2003)
---------- Wright,W.K, A history of modern European Philosophy, New York, 1941.
Wiliam Zelernyer. Internasional to Bussines Law The Macmillan Company, New
York. London : Collier-Macmillan Limited, 1964.
Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New
York, Harvard College, University Press.
Zainuddi Ali, MA, Sosiologi Hukum. Penerbit : Yayasan Mayarakat
Indonesia Baru. Palu, Hal. 2.
--------- 2000: Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia (Wawasan Sosio-Kultural,
Filosofis dan Konstitusional), edisi II, Malang Laboratorium Pancasila.