Anda di halaman 1dari 14

ACARA I

SALINITAS SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS ABIOTIK

I. TUJUAN
1. Mengetahui dampak salinitas terhadap pertumbuhan tanaman.
2. Mengetahui tanggapan beberapa macam tanaman terhadap tingkat salinitas yang
berbeda.

I. TINJAUAN PUSTAKA
Ilmu yang mempelajari tentang organisme dalam lingkungan hidupnya atau hubungan
timbal balik antar organisme dengan lingkungannya, baik lingkungan biotic maupun lingkungan
abiotik disebut ekologi. Suatu kesatuan ekologi yang lengkap dan dapat dikaji merupakan
ekosistem. Di dalam suatu ekosistem, komunitas, dan lingkungan saling mempengaruhi. Suatu
ekosistem terdiri atas produsen, konsumen, dan pengurai. Di dalam ekosistem terdapat factor
penentu suatu lingkungan, misalnya iklim, jenis tanah, salinitas air, serta kehadiran organisme
lain. hal tersebut terkait dengan kondisi, yaitu keadaan factor fisik yang dapat diukur di dalam
suatu lingkungan, misalnya suhu adalah factor fisik iklim, tetapi tinggi rendahnya suhu adalah
kondisi lingkungan tersebut (Godman, 2004).
Di dalam ekologi dikenal istilah factor-faktor pembatas. Factor pembatas adalah factor-
faktor yang membatasi perkembangan organisme. Dalam membahas factor pembatas maka akan
terkait hukum tertentu. Hukum yang terkait dengan factor pembatas adalah Hukum Liebig dan
Hukum Tolerance (by Shelford). Hukum minimum Liebig menyatakan bahwa pada dasarnya
agar organisme itu dapat hidup dan berkembang, mereka memerlukan bahan esensial untuk
pertumbuhan dan reproduksinya. Kebutuhan-kebutuhan minimum ini merupakan kebutuhan
dasar yang jumlahnya berbeda-beda tergantung jenis organisme dan keadaannya. Hukum Liebig
hanya berlaku untuk organisme waktu “steady state” (tidak ada perubahan fisiologi pada
tanaman). Adanya factor-faktor interaksi antara factor satu dengan factor yang lain. senyawa
kimia yang merupakan pembatas bagi tanaman akan tetap merupakan senyawa yang jumlahnya
sangat minim di alam. Sedangkan hukun=m toleransi Shelford menyatakan bahwa organisme
memiliki “limits of tolerance”, yaitu keadaan tertinggi atau terendah yang masih memungkinkan
organisme tumbuh dan berkembangbiak (Odum, 1984).
Salinitas alami adalah sebuah fenomena yang tersebar luas di bumi dan evolusi dari
kehidupan organisme dihasilkan pada sejumlah spesies yang menunjukkan mekanisme adaptasi
special untuk tumbuh pada lingkungan salin. Yang utama dari tumbuhan adalah sensitivitas
garam relative (Staples and Gary, 1984).
Menurut Tai (1985) cit. Kurniasih (2003). Pengaruh tidak langsung garam terhadap
pertumbuhan tanaman adalah rendahnya hasil fotosintesis, air, atau factor-faktor pertumbuhan
lainnya yang mencapai titik tumbuh dalam tanaman. Hal ini dapat terjadi karena terhambatnya
proses fotosintesis. Di samping itu, translasi fotosintesis dalam floem terhambat.
Kadar garam akan mempengaruhi proses fisiologis dan morfologis dalam hubungan
dengan keseimbangan air dalam tubuuh tanaman. Pengaruh tersebut dapat berupa pengurangan
ukuran dan jumlah daur serta penurunan jumlah stomata per unit daun yang akhirnya akan
menurunkan produksi tanaman. Secara umum tingkat salinitas tanah yang tinggi memiliki efek
fganda pada pertumbuhan, yaitu mengurangi potensi air pada jaringan karena meningkatnya
potensi osmotic pada media perakaran dan memberi efek racun secara langsung karena ion Na+
dan Cl- yang tinggi terakumulasi pada jaringan tanaman (Hidayat, 2003).
Terdapat beberapa jenis tumbuhan yang mampu hidup dengan baik pada habitat dengan
tingkat salinitas tinggi dan disebut sebagai tumbuhan halofit. Tumbuah tersebut beradaptasi
terhadap konsentrasi garam yang tinggi melalui beberapa mekanisme (Masaru et al, 2002 at
Sembiring, 2006). Adaptasi tumbuhan dengan habitatnya membuat tumbuhan dapat digolongkan
menjadi hidrofit, higrofit, xerofit, mesofit, dan halofit. Tumbuhan halofit merupakan tumbuhan
yang beradaptasi dengan lingkungan berkadar garam tinggi. Mekanisme yang dilakukan
tumbuhan halofit untuk beradaptasi adalah dengan meningkatkan tekanan osmosis dalam selnya
(Anonim, 2008).

II. METODOLOGI
Percobaan acara I yang berjudul salinitas sebagai factor pembatas abiotik dilakukan pada
hari rabu, tanggal 10 Maret 2010 di Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan Budidaya
Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Alat yang digunakan dalam percobaan acara I antara lain
timbangan analitik, gelas ukur, Erlenmeyer, alat pengaduk, peralatan tanam, dan penggaris.
Bahan yang digunakan adalah 3 macam benih tanaman, yaitu padi (Oryza sativa), keldelai
(Glycine max), serta ketimun (Cucumis sativus). Selain itu diperlukan pula kertas label dan
polybag.
Hal pertama yang harus dilakukan adalah menyiapkan polybag kemudian polybag diisi
dengan tanah kurang lebih 3 kg. bila ada kerikil, sisa-sisa akar tanaman lain dan kotoran harus
dihilangkan supaya tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Selanjutnya dipilih biji yang
sehat dari jenis tanaman yang akan diperlakukan, lalu ditanam lima biji ke dalam masing-
masing polybag. Penyiraman dilakukan setiap hari dengan air biasa. Setelah berumur 1 minggu,
bibit dijarangkan menjadi 2 tanamn per polybag, dipilih bibit yang sehat. Lalu dibuat larutan
NaCl dengan konsentrasi 2000 ppm dan 4000 ppm. Sebagai pembanding digunakan aquadest.
Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Masing-masing konsentrasi larutan garam tersebut
dituangkan pada tiap-tiap polybag sesuai perlakuan, sampai kapasitas lapang. Volume masing-
masing larutan untuk tiap-tiap polybag harus sama. Tiap polybag harus diberi label sesuai
dengan perlakuan dan ulangannya. Label harus mudah dibaca untuk mencegah tertukarnya
dengan perlakuan lain saat pengamatan. Pemberian larutan garam dilakukan setiap dua hari
sekali sampai 7 kali pemberian. Selang hari diantaranya tetap dilakukan penyiraman dengan air
biasa dan dengan volume yang sama. Percobaan dilaksanakan sampai tanaman berumur 21 hari,
kemudian dilakukan pemanenan. Akar diusahakan jangan sampai rusak atau terpotong.
Pada akhir percobaan, dihitung rerata tiga ulangan pada tiap perlakuan. Parameter yang
digunakan adalah tinggi tanaman, jumlah daun, berat segar, berat kering, dan panjang akar. Dari
tiap parameter akan dibuat data yang disajikan dalam bentuk grafik serta histogram. Grafik
terdiri dari tinggi tanaman vs hari pengamatan dan jumlah daun vs hari pengamatan. Sementara
histogram akan dibuat dari parameter berat segar, berat kering, dan panjang akar vs hari
pengamatan.

III.HASIL PENGAMATAN

Tabel Tinggi Tanaman (cm )


a. Tanaman Padi

Tinggi tanaman
Perlakuan
1 2 3 4 5 6 7 8

11,8 15,5 19,5


0 ppm
7 5 17,07 2 20,68 21,60 22,55 22,75
12,1 20,4
2000 ppm
5 19,9 20,3 5 20,75 22,3 24,15 24,15
12,4 16,7 18,5
4000 ppm
7 5 18,10 3 19,72 20,42 20,93 21,53

Tinggi tanaman
Perlakuan
1 2 3 4 5 6 7 8

16,9 22,3 24,9


0 ppm
7 8 3 28,28 30,17 34,77 38,60 40,05
17,4 21,4 23,7
2000 ppm
2 2 3 26,75 30,47 33,92 37,73 40,63
16,5 21,2 25,6
4000 ppm
0 0 7 29,05 32,08 36,10 38,45 40,25

b. Tanaman Kedelai

c. Tanaman Mentimun

Perlakuan Tinggi Tanaman


1 2 3 4 5 6 7 8

0ppm
8,27 9,37 9,62 9,72 10,00 11,03 11,13 14,47
2000ppm
8,43 9,38 9,47 9,70 9,82 10,57 10,73 11,52
10,1
4000ppm
8,88 9,85 3 10,27 10,43 11,10 11,43 11,78

Tabel Jumlah Daun


a. Tanaman Padi

Jumlah Daun
Perlakuan
1 2 3 4 5 6 7 8

0ppm
2 2 3 3 3 3 3 3
2000ppm
2 2 3 3 3 3 3 3
4000ppm
2 2 3 3 3 3 3 3

b. Tanaman Kedelai

Jumlah Daun
Perlakuan
1 2 3 4 5 6 7 8

0ppm
2 3 4 4 4 6 7 7
2000ppm
2 3 3 4 4 6 7 7
4000ppm
2 3 4 4 4 6 8 8

c. Tanaman Mentimun

Jumlah Daun
Perlakuan
1 2 3 4 5 6 7 8

0ppm
3 3 3 3 3 3 3 3
2000ppm
3 3 3 3 3 3 3 3
4000ppm
3 3 3 3 3 3 3 3
Tabel panjang akar
Perlakuan
Tanaman
0 ppm 2000 ppm 4000 ppm

Padi 7,72 5.20 5.60

kedelai 20.30 14.23 14.10

mentimun 13.97 14.28 10.05

Tabel Berat Basah


Perlakuan
Tanaman
0 ppm 2000 ppm 4000 ppm

Padi 0.25 0.25 0.28

Kedelai 2.28 2.29 2.46

Mentimun 2.55 2.57 2.75

Tabel Berat Kering


Perlakuan
Tanaman
0 ppm 2000 ppm 4000 ppm

Padi 0.13 0.12 0.30

Kedelai 0.46 2.45 0.63

Mentimun 0.43 0.33 0.36

IV.PEMBAHASAN
Percobaan kali ini bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari bagaimana tanggapan
tanaman terhadap keberadaan larutan garam dalam media tanam, dengan begitu, dapat dilihat
respon tanaman baik pertumbuhan dan perkembangan tanaman tersebut. Keberadaan larutan
garam tersebut sangatlah mempengaruhi tanaman karena tanaman merupakan organisme yang
bersifat holofitik, artinya tanaman memanfaatkan cairan untuk melarutkan unsur hara agar
tanaman dapat tumbuh. Tanaman akan kesulitan dalam menyerap larutan makanan, apabila
viskositas larutan yang diserap sama atau lebih besar daripada cairan di dalam tubuh tumbuhan
tersebut. Semakin banyak unsur atau senyawa yang terlarut dalam larutan tersebut, viskositas
larutan akan semakin besar. Semakin tingginya kadar garam yang terkandung di dalam larutan,
maka tekanan osmotik larutan di dalam tanah akan meningkat, sehingga ketersediaan air bagi
tanaman juga akan berkurang. Hal tersebut menyebabkan terhambatnya perkecambahan benih,
kualitas hasil, produksi, dan merusak jaringan tanaman. Pengaruh lain yang timbul adalah
menyebabkan penurunan potensial air serta berpengaruh terhadap metabolisme tanaman
terutama dalam proses fisiologi dan morfologi dalam hubungannya dengan keseimbangan air
dalam tubuh tanaman. Pada umumnya, unsur yang terlarut dalam larutan garam adalah garam
Natrium (NaCl).

Namun, tidak semua tanaman mendapat dampak yang buruk apabila berada dalam
keadaan kadar garam yang tinggi. Maka dari itu dikenal pula 3 klasifikasi tanaman yang
dibedakan berdasarkan tanggapan terhadap salinitas. Yang pertama adalah tanaman halofit yaitu
tanaman yang toleran terhadap salinitas yang tinggi, kedua adalah tanaman glikofit yaitu tanaman
yang rentan terhadap salinitas yang tinggi, dan ketiga adalah tanaman euhalofit yang tidak
terpengaruh oleh salinitas. Dengan mengetahui klasifikasi ketiga tanaman tersebut, dapat diteliti
termasuk jenis klasifikasi yang mana tiga tanaman yang dipakai dalam percobaan kali ini.
Dengan konsentrasi 0 ppm, 2000 ppm, dan 4000 ppm serta pengukuran dalam 8 hari diharapkan
sudah menunjukkan respon tanaman terhadap salinitas. Selanjutnya, pembahasan akan
ditekankan pada pembahasan grafik dan histogram dari hasil pengamatan terhadap tanaman padi,
kedelai, dan mentimun
Dari grafik tinggi tanaman padi didapatkan bahwa padi tumbuh
dengan normal walaupun dengan tiga perlakuan berbeda. Tidak terlihat
perbedaan yang signifikan terhadap tinggi tanaman padi dengan perlakuan
pemberian kadar garam berbeda. Padi dengan perlakuan pemberian kadar
garam 0 pmm, 2000 ppm, serta 4000 ppm tidak menampakkan perbedaan
fisik dari segi tinggi tanaman.
Dari grafik jumlah daun didapatkan hal yang sama dengan
pengamatan pada tinggi tanaman. Jumlah daun padi dengan perlakuan
pemberian kadar garam 0 ppm, 2000 ppm, serta 4000 ppm memiliki jumlah
daun yang sama. Pada hari pertama dan kedua memiliki 2 daun, selanjutnya
pada hari ketiga hingga ketujuh memiliki 3 daun. Dapat disimpulkan bahwa
perlakuan pemberian kadar garam yang berbeda kurang berpengaruh pada
parameter jumlah daun. Selain itu dapat dikatakan pula bahwa pada awal
perkembangan daun padi terlihat tumbuh paling pesat, selanjutnya setelah
daun tumbuh sempurna, padi mengalami pertumbuhan primer yaitu
pemanjangan batang.
Namun pada hari ke-4 terlihat gejala klorosis pada daun padi dengan
perlakuan 4000 ppm sementara pada daun padi dengan perlakuan 2000 ppm
kurang begitu terlihat gejala klorosis. Klorosis disebabkan karena padi
kekurangan unsure hara makro dan mikro esensial dari dalam tanah. Padi
mengalami kekurangan nutrient karena tingkat osmosis pada akar padi
meningkat sehingga unsure hara yang baru diserap keluar lagi bersama air ke
dalam tanah. Meningkatnya tekanan osmosis pada akar padi merupakan
mekanisme adaptasi terhadap kondisi lingkungan yang memiliki salinitas
atau kadar garam yang tinggi.
Jika dilihat dari segi panjang akar, padi dengan perlakuan 0 ppm
memiliki panjang akar yang tertinggi. Sedangkan padi dengan perlakuan
2000 ppm serta 4000 ppm memiliki akar lebih pendek namun dengan selisih
yang tidak terlalu jauh. Bila ditinjau dari pertumbuhan akar maka dapat
diketahui bahwa padi dengan perlakuan 0 ppm memiliki perkembangan yang
paling baik.
Melalui peninjauan dari setiap parameter dapat diambil kesimpulan
bahwa padi merupakan tanaman yang memiliki adaptasi cukup tinggi
terhadap lingkungan berkadar garam tinggi. Hal tersebut membuktikan
bahwa padi merupakan tanaman halofit. Walaupun pada pengamatan terlihat
beberapa gejala anomaly yang terjadi pada padi dengan perlakuan 2000 ppm
dan 4000 ppm tetapi tidak memberikan perbedaan yang cukup signifikan
dibandingkan padi dengan perlakuan 0 ppm.
Grafik tinggi tanaman kedelai menunjukkan tidak ada perbedaan yang
signifikan terhadap tinggi tanaman kedelai dengan perlakuan yang berbeda.
Dapat dilihat bahwa pada hari akhir pengamatan tidak mencapai 1 cm
perbedaan tinggi tanaman kedelai. Namun terlihat bahwa peningkatan tinggi
tanaman kedelai dengan perlakuan 0 ppm adalah yang paling teratur,
memiliki jarak peningkatan tinggi yang hampir sama setiap harinya.
Hal yang sama terjadi pada grafik jumlah daun. Tidak terlihat
perubahan yang signifikan antara jumlah daun kedelai 0 ppm, 2000 ppm,
den 4000 ppm. Kesemuanya memiliki rata-rata yang hampir sama. Namun
gejala klorosis seperti pada dau padi juga terlihat pada daun kedelai. Daun
yang diberikan perlakuan 2000 ppm serta 4000 ppm mulau menguning pada
akhir pengamatan. Hal ini juga disebabkan karena kedelai kekurangan
makro dan mikro nutrient dari dalam tanah.
Pada histogram panjang akar kedelai didapatkan bahwa kedelai
dengan perlakuan 0 ppm memiliki akar yang terpanjang sedangkan kedelai
dengan perlakuan 4000 ppm memiliki akar yang terpendek. Jarak panjang
akar yang dimiliki kedelai 0 ppm dan 4000 ppm sangat jauh berbeda, hampir
mencapai 6 cm. Hal tersebut menunjukkan bahwa kedelai dengan perlakuan
0 ppm memiliki pertumbuhan yang paling baik. Sedangkan yang diberikan
perlakuan salin mengalami penghambatan dalam pertumbuhan akar.
Secara teoritis sebenarnya kedelai termasuk ke dalam kelompok
tanaman glikofit, namun gejalanya tidak terlalu jelas terlihat pada perobaan
ini. Mungkin dikarenakan factor penyiraman yang kurang teratur.
Melalui grafik tinggi tanaman mentimun, didapatkan bahwa yang memiliki
pertumbuhan terpesat adalah mentimun dengan perlakuan 0 ppm. Sementara pada
mentimun dengan perlakuan 2000 ppm dan 4000 ppm terlihat pertumbuhan agak
mengalami hambatan namun perbedaannya tidak terlalu besar dan tidak mencapai
3 cm.

Dari grafik jumlah daun didapatkan bahwa jumlah daun pada mentimun
dengan perlakuan 0 ppm, 2000 ppm, dan 4000 ppm stabil dari hari ke hari. Pada
akhir pengamatan pun jumlah daun menunjukkan bahwa pengaruh salin tidak
terlalu besar. Tetapi daun tetap mengalami klorosis pada akhir pengamatan untuk
perlakuan 2000 ppm serta 4000 ppm.

Bila diamati dari histogram panjang akar mentimun, hampir semua tanaman
dengan perlakuan yang berbeda memiliki pertumbuhan yang hampir sama.
Pertumbuhan yang agak terhambat terlihat pada mentimun dengan perlakuan 4000
ppm. Seperti pada tanaman padi dan kedelai, pada pengamatan akar sangat terlihat
jelas perbedaan pertumbuhan anatara yang diberi salin dengan yang tidak.

Secara teori mentimun merupakan tanaman euhalofit. Gejala tersebut tidak


terlalu terlihat dengan jelas dari percobaan ini namun jumlah daun cukup
membuktikan bahwa mentimun merupakan tanaman euhalofit.
Pada histogram berat basah dan berat kering padi terdapat abnormalitas,
yaitu padi dengan berat basah terbesar adalah padi dengan perlakuan 4000 ppm,
begitu pula pada berat keringnya. Seharusnya padi dengan berat terendah adalah
4000 ppm karena memiliki tekanan osmotic yang tinggi. Hal tersebut mungkin
disebabkan karena pengaruh pemberian perlakuan yang kurang sesuai dan
kesalahan saat pemanenan sehingga ada akar yang tertinggal pada padi dengan
perlakuan 0 ppm serta 2000 ppm. Namun perbedaan berat basah dan kering dari
semua perlakuan tidak terlalu jauh berbeda.
Jika dilihat dari histogram berat basah dan berat kering kedelai didapatkan
bahwa perbedaan antara berat basah dan berat kering cukup besar. Terjadi pula
abnormalitas seperti pada tanaman padi, berat basah dan berat kering terbesar
justru adalah kedelai dengan perlakuan 4000 ppm. Namun perbedaan antara
ketiganya tidak begitu jauh.
Histogram berat basah dan berat kering mentimun menunjukkan bahwa
perbedaan berat basah dan berat kering mentimun sangat besar. Hal ini terjadi pada
setiap perlakuan. Gejala tersebut memberikan penjelasan bahwa mentimun
memiliki kemampuan menyerap air yang cukup besar dan tidak terpengaruh oleh
perlakuan salin yang diberikan. Terbukti bahwa mentimun adalah tanaman
euhalofit.
V. KESIMPULAN

1. Kadar garam (salinitas) memiliki pengaruh pertumbuhan tanaman, maka terdapat


3 klasifikasi tanaman berdasarkan respon terhadap salinitas yaitu golongan
halofit, glikofit, dan euhalofit.
2. Tanaman yang mampu beradaptasi pada lingkungan salin akan tumbuh dan
berkembang dengan baik.
3. Padi (Oryza sativa) termasuk tanaman golongan halofit sebab toleran terhadap
salinitas pada media tanamnya.
4. Kedelai (Glycine max) termasuk tanaman golongan glikofit sebab rentan terhadap
salinitas pada media tanamnya.
5. Mentimun (Cucumis sativus) termasuk tanaman golongan euhalofit sebab tidak
tepengaruhi salinitas pada media tanamnya.
I. DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008. Lingkungan Tanaman.<http://www.fp.elcom.umy.ac.id/pdf>

Godman, Arthur. 2004. Illustrated Science Dictionary. Gramedia Pustaka Utama.


Jakarta.

Hidayat. 2003. Kajian cengkaman lingkungan. Agr UMY No. X (1) :37.

Kurniasih, B. 2003. Pengaruh salinitas terhadap perkecambahan. Agr UMY No. X (1)
: 14-23.

Odum, E. P. 1984. Basic Ecology. Holt-Saunders ed. Japan. Japan

Sembiring, 2006. Adaptasi Varietas Padi pada Tanah Terkena Tsunami. BPPT :4.

Staples, R. C. and G. H. Toeniesen. 1984. Salinity Tolerance in Plants Stategnes for


Crop Improvement. A Wilei-Interscience Publication. John Wiley and Sons.
New York.