Anda di halaman 1dari 15

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN MENENGAH

TOPIK :
KEPEMIMPINAN TERHADAP PELAYANAN PRIMA

JUDUL :
OPTIMALISASI KEPEMIMPINAN VISIONER DI POLRES SORONG
GUNA MENDUKUNG PELAYANAN PRIMA KEPOLISIAN
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA KEPERCAYAAN MASYARAKAT

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kinerja sebuah organisasi / instansi Pemerintahan dapat dilihat dan
dinilai dari seberapa besar publik mempercayai mereka (public trust). Polri
merupakan salah satu institusi Pemerintah yang setiap hari bersinggungan
langsung dengan masyarakat. Untuk mengukur kinerja Polri salah satunya
dapat dilihat melalui hasil survey citra positif di mata masyarakat. Tren citra
positif Polri mengalami peningkatan sepanjang 2017. Hasil survei kompas
pada awal Juni 2016 Polri mendapat angka 63%, lalu di akhir 2016
meningkat jadi 71,77%. Survei terakhir 73% masyarakat Indonesia
menganggap Polri bisa dipercaya1. Hasil ini membuktikan bahwa Polri
berada dalam jalur yang tepat untuk mencapai visi Promoter bersama
Kapolri Jenderal Tito Karnavian, yang mana salah satu ujung tombaknya
adalah pelayanan kepolisian.
Tugas pokok Polri adalah memelihara kamtibmas, menegakan hukum
dan melindungi, mengayomi serta melayani masyarakat. Menjalankan
fungsi pelayanan, maka Polri dituntut untuk memberikan pelayanan yang
terbaik baik kebutuhan masyarakat. Pelayanan yang prima merupakan cita-
cita seluruh organisasi maupun perusahaan. Pelayanan yang dapat

1
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171229215847-20-265645/tingkat-kepercayaan-
publik-kepada-polri-masih-di-bawah-tni
2

memuaskan masyarakat disebut pelayanan prima (excellent service).


Namun demikian, upaya untuk mewujudkan pelayanan prima kepolisian
saat ini masih belum sesuai harapan dimana masih terdapat tindakan yang
tidak menunjukkan profesionalisme dan terkadang arogan sehingga jiwa
melayani personel belum tumbuh.
Untuk mencapai pelayanan prima kepolisian, maka peran seorang
pemimpin sangatlah besar. Seorang pemimpin harus memiliki strategi
dalam meningkatkan kinerja pimpinan dibawahnya untuk meningkatkan
kualitas kinerja personel dan organisasinya, strategi tersebut antara lain
menjaga dan mendorong motivasi personel untuk meningkatkan kualitas
personel dalam memberikan pelayan public. Oleh karena itu Kapolres
Sorong telah melakukan upaya untuk mengoptimalkan kepemimpinan di
wilayahnya yaitu dengan mengedepankan kepemimpinan visioner dimana
dengan kepemimpinan ini maka personel diberi arahan yang jelas untuk
meningkatkan kualitas layanan prima kepolisian. Namun demikian
penerapan kepemimpinan ini belum optimal akibat unsur pimpinan di Polres
Sorong belum memiliki kompetensi yang baik dan implementasinya yang
belum sesuai harapan. Maka penerapan kepemimpinan strategis di Polres
Sorong perlu lebih dioptimalkan agar dapat mendukung pelayanan prima
Kepolisian sehingga kepercayaan masyarakat meningkat.

B. Pokok Permasalahan
“Bagaimana mengoptimalkan Kepemimpinan Visioner di Polres
Sorong guna mendukung pelayanan prima Kepolisian dalam rangka
terwujudnya kepercayaan masyarakat?’’

C. Pokok-pokok Persoalan
1. Bagaimana penerapan kompetensi kunci kepemimpinan visioner di
Polres Sorong?
2. Bagaimana peran kepemimpinan visioner di Polres Sorong dalam
mendukung pelayanan prima Kepolisian?
3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Analisis Judul
Judul NKP: Optimalisasi kepemimpinan Visioner di Polres Sorong
guna mendukung pelayanan prima Kepolisian dalam rangka
terwujudnya kepercayaan masyarakat.
1. Variabel Judul
a. Variabel 1: “Optimalisasi kepemimpinan Visioner”
b. Variabel 2: “mendukung pelayanan prima Kepolisian”.
c. Variabel 3: “Terwujudnya kepercayaan masyarakat”.
2. Kata Kunci Variabel
a. Kata kunci variabel 1: “Kepemimpinan Visioner”.
b. Kata kunci variabel 2: “Pelayanan”.
c. Kata kunci variabel 3: “Kepercayaan masyarakat”.
3. Kriteria Kata Kunci
a. Kata kunci “Kepemimpinan Visioner”.
Menurut Daniel Goleman dalam Susi Purwoko (2006:65)
kepemimpinan visioner merupakan pola kepemimpinan yang
berusaha untuk menggerakkan orang-orang ke arah impian bersama
dengan dampak iklim emosi paling positif dan paling tepat digunakan
saat perubahan membutuhkan visi baru atau ketika dibutuhkan arah
yang jelas. Sedangkan Burt Nanus (1992) mengungkapkan ada
kompetensi kunci yang harus dimiliki kepemimpinan visioner dan
ada peran yang harus dimainkan. Kompetensi kunci nya adalah
komunikasi efektif, memahami lingkungan luar, mampu membentuk
dan mempengaruhi praktif organisasi, dan memiliki “ceruk” atau
imajinasi untuk mengantisipasi masa depan. Perannya adalah
sebagai direction setter, agent of change, spokesperson, dan coach.
b. Kata kunci “Pelayanan Prima”.
Pelayanan adalah setiap kegiatan yang menguntungkan dalam
suatu kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan
meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk secara fisik
(Sinambela, 2008, H.5). Sementara dalam KEPMENPAN Nomor 63
4

tahun 2003 (Sedarmayanti, 2009, h, 248) menjelaskan hal-hal yang


melekat dalam pelayanan prima adalah keramahan, kredibilitas,
kemudahan akses, penampilan fasilitas, dan kemampuan dalam
menyajikan pelayanan.
c. Kata kunci “kepercayaan masyarakat” diuraikan dengan
menggunakan pengertian dari Ba dan Pavlou (2002).
Kepercayaan adalah penilaian hubungan seseorang dengan
orang lain yang akan melakukan transaksi tertentu sesuai dengan
harapan dalam sebuah lingkungan yang penuh ketidakpastian.
Artinya kepercayaan masyarakat adalah penilaian masyarakat yang
penuh harapan kepada sesuai dalam sebuah lingkungan yang penuh
ketidakpastian.
B. Pokok Bahasan
Pelayanan prima Kepolisian merupakan salah satu cita-cita yang ingin
dicapai oleh Polri. Namun demikian hingga saat ini pelayanan prima
Kepolisian belum dapat dicapai, hal ini dapat dilihat masih tingginya aduan
masyarakat terhadap pelayanan Polri, sebagaimana dapat dilihat pada grafik
berikut ini:
Grafik 2.1. Data Pengaduan Masyarakat Terhadap Pelayanan Polri Pada Ombudsman RI
Tahun 2014 s/d Februari 2017

Sumber: Ombudsman RI, Tahun 2017, data diolah


Berdasarkan grafik 2.1 di atas, dapat dilihat bahwa pengaduan
masyarakat terhadap pelayanan kepolisian masih cukup tinggi yang artinya
jauh dari kata prima (excellent). Salah satu factor yang menyebabkan hal ini
adalah belum optimalnya penerapan kepemimpinan visioner dalam hal ini di
Polres Sorong akibat lemahnya kompetensi dan peran kepemimpinan
visioner yang diterapkan sebagaimana dijelaskan berikut ini:
5

1. Kondisi Faktual
a. Penerapan kompetensi kunci kepemimpinan visioner di Polres
Sorong
1) Masih ada pimpinan di Polres Sorong yang belum memiliki
kemampuan komunikasi yang efektif terutama dalam memotivasi
anggota untuk meningkatkan pelayanan kepolisian;
2) Belum memahami lingkungan eksternal dan kurang mampu
bereaksi terhadap kebutuhan personel dan masyarakat
sehingga belum mampu bereaksi secara tepat;
3) Kurang berperan dalam membentuk dan mempengaruhi praktik
organisasi terutama dalam mempertahankan kesempurnaan
pelayanan;
4) Belum memiliki “ceruk” (bentuk imajinatif) untuk mengantisipasi
masa depan, terutama perubahan layanan kepolisian yang
tuntutannya semakin besar.
b. Peran kepemimpinan visioner di Polres Sorong dalam
mendukung pelayanan prima Kepolisian
1) Direction setter (penentu arah), unsur pimpinan di Polres Sorong
kurang mampu berperan dalam mengarahkan personel untuk
mencapai target-target dalam pelayanan kepolisian;
2) Agent of change (agen perubahan), unsur pimpinan belum
menunjukkan perubahan besar dalam meningkatkan pelayanan
kepolisian;
3) Spokesperson (juru bicara), masih ada unsur pimpinan yang
belum mampu berbicara dengan baik di depan umum;
4) Coach (pelatih), unsur pimpinan belum efektif dalam
membimbing personel/bawahannya agar memberikan ketulusan
di setiap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
c. Implikasi
1) V1 terhadap V2: pelayanan prima Kepolisian tidak dapat diraih
2) V1 terhadap V3: kepercayaan masyarakat tidak terwujud
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
a. Faktor Internal
1) Kekuatan
6

a) Adanya figur pemimpin visioner yang ada pada diri Kapolri;


b) Tersedianya SOP pelayanan yang baku sebagai pedoman
pelaksanaan pelayanan kepolisian;
c) Meningkatnya indek tata kelola (ITK) Polri hasil dari
implementasi kepemimpinan visioner;
d) Terselenggaranya revolusi mental SDM Polri;
e) Adanya transparansi pelayanan publik
2) Kelemahan
a) Resistensi personel terhadap perubahan sehingga peran
kepemimpinan visioner kurang optimal;
b) Kesejahteraan SDM Polri yang masih rendah
mengakibatkan adanya pelanggaran dalam pelayanan
kepolisian;
c) Lemahnya kompetensi kunci kepemimpinan visioner yang
dimiliki oleh unsur pimpinan dan personel Polres Sorong;
d) Rumitnya birokrasi pelayanan kepolisian mengakibatkan
banyaknya aduan masyarakat;
e) Belum optimalnya peran kepemimpinan visioner terutama
dalam mendukung pelayanan prima kepolisian.
b. Faktor Eksternal
1) Peluang
a) Keinginan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan prima;
b) Adanya rencana pembangunan jangka panjang nasional
yang mampu mendukung penerapan kepemimpinan visioner
c) Masyarakat melakukan fungsi kontrol sosial terhadap
penyelenggaraan kepemimpinan visioner oleh Polri;
d) Adanya kemajuan IT untuk mendukung penerapan
kepemimpinan visioner sehingga Polri mampu mencapai
pelayanan Prima;
e) Adanya pernghargaan masyarakat terhadap kinerja Polri.
2) Ancaman
a) Keinginan masyarakat yang mau serba instan berakibat
pada terhambatnya pelayanan prima Kepolisian;
7

b) Adanya hubungan pertemanan/kekerabatan antara Polri dan


masyarakat;
c) Budaya disiplin masyarakat yang masih rendah;
d) Tingkat pendidikan masyarakat relative rendah;
e) Masih adanya image negative Polri di tengah-tengah
masyarakat.
3. Kondisi Ideal
a. Penerapan kompetensi kunci kepemimpinan visioner di Polres
Sorong
1) Pimpinan di Polres Sorong memiliki kemampuan komunikasi
yang efektif terutama dalam memotivasi anggota untuk
meningkatkan pelayanan kepolisian;
2) Telah memahami lingkungan eksternal dan mampu bereaksi
terhadap kebutuhan personel dan masyarakat sehingga mampu
bereaksi secara tepat;
3) Berperan dalam membentuk dan mempengaruhi praktik
organisasi terutama dalam mempertahankan kesempurnaan
pelayanan;
4) Memiliki “ceruk” (imajinasi) untuk mengantisipasi masa depan,
terutama perubahan layanan kepolisian yang tuntutannya
semakin besar.
b. Peran kepemimpinan visioner di Polres Sorong dalam
mendukung pelayanan prima Kepolisian
1) Direction setter (penentu arah), unsur pimpinan di Polres Sorong
mampu berperan dalam mengarahkan personel untuk mencapai
target-target dalam pelayanan kepolisian;
2) Agent of change (agen perubahan), unsur pimpinan membuat
perubahan yang visioner dalam meningkatkan pelayanan
kepolisian;
3) Spokesperson (juru bicara), pimpinan mampu berbicara dengan
baik di depan umum yang didukung kemampuan komunikasi;
4) Coach (pelatih), unsur pimpinan berperan aktif dan efektif dalam
membimbing personel/bawahannya agar memberikan ketulusan
di setiap pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
8

c. Kontribusi
1) V1 terhadap V2: pelayanan prima kepolisian diraih
2) V1 terhadap V3:. kepercayaan masyarakat terwujud
4. Upaya Pemecahan Masalah
Pemecahan maslah dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu penentuan
posis organisasi dan pendekatan manajemen strategic. Penentuan
posisi organisasi diperoleh dari hasil analisa EFAS-IFAS (hasil terlampir)
dengan melihat nilai masing-masing tabel. Berdasarkan hasil analisa
tersebut diperoleh posisi organisasi di kuadran II (Competitive). Setelah
itu pemecahan masalah dilakukan melaui pendekatan manajemen
strategic sebagai berikut:
a. Visi
Terwujudnya Kepemimpinan Visioner di Polres Sorong yang
efektif dalam mendukung pelayanan prima Kepolisian sehingga
kepercayaan masyarakat dapat diraih.
b. Misi
1) Terwujudnya penerapan kompetensi kunci kepemimpinan
visioner di Polres Sorong yang efektif;
2) Terwujudnya peran kepemimpinan visioner di Polres Sorong
dalam mendukung pelayanan prima Kepolisian.
c. Tujuan
1) Membentuk kompetensi kunci kepemimpinan visioner di dalam
diri unsur pimpinan di Polres Sorong;
2) Menerapkan peran kepemimpinan visioner di Polres Sorong
dalam mendukung pelayanan prima Kepolisian.
d. Sasaran
Sasaran NKP ini diperoleh dari hasil penjabaran tujuan yang
telah ditetapkan melalui analisis SFAS (data terlampir), yaitu:
1) Sasaran Jangka Pendek:
a) Meningkatkanya kompetensi kunci kepemimpinan visioner
b) Menguatkan peran kepemimpinan visioner;
c) Meningkatkan budaya disiplin masyarakat
d) Merubah image negative Polri
2) Sasaran Jangka Menengah:
9

a) SOP pelayanan sebagai pedoman umum pelayanan


b) Pelayanan publik yang transaparan
c) Melayani masyarakat dengan prima
d) Fungsi control sosial oleh masyarakat
3) Sasaran Jangka Panjang
a) Meningkatkan revolusi mental SDM Polri
b) Membuat pelayanan kepolisian berbasis IT
e. Strategi
1) Jangka Pendek (0-6 Bulan)
a) Strategi pemberdayaan Bagsumda unruk meningkatkan
kompetensi kunci kepemimpinan visioner
b) Strategi pemberdayaan unsur pimpinan untuk menguatkan
peran kepemimpinan visioner;
c) Strategi pemberdayaan Bhabinkamtibmas untuk
meningkatkan budaya disiplin masyarakat
d) Strategi kerjasama dengan satgas merubah image negative
Polri
2) Jangka Sedang (0-12 Bulan)
a) Strategi pemberdayaan tim internal untuk menguatkan SOP
pelayanan sebagai pedoman umum pelayanan
b) Strategi kerjasama pengawasan untuk mewujudkan
pelayanan publik yang transaparan
c) Strategi pemberdayaan seluruh personel untuk melayani
masyarakat dengan prima
d) Strategi kerjasama dengan FKPM dan tomas untuk
meningkatkan fungsi kontrol sosial oleh masyarakat
3) Jangka Panjang (0-24 Bulan)
a) Strategi pemberdayaan Bagsumda untuk meningkatkan
revolusi mental SDM Polri
b) Strategi kerjasama untuk membuat pelayanan kepolisian
berbasis IT
f. Kebijakan
1) Melaksanakan berbagai pelatihan dan pendidikan serta
bimbingan untuk meningkatkan kompetensi unsur pimpinan;
10

2) Melaksanakan penguatan peran kepemimpinan visioner dalam


mendukung pelayanan prima Kepolisian;
g. Action Plan
1) Jangka Pendek (0-6 Bulan)
a) Pemberdayaan Bagsumda unruk meningkatkan kompetensi
kunci kepemimpinan visioner.
(1) Program: pelatihan kompetensi kunci kepemimpinan
(2) Indikator: pimpinan dan personel memahami dan
menguasai kompetensi kunci kepemimpinan visioner
(3) Kegiatan:
(a) Melaksanakan pelatihan komunikasi dan
mengundang instruktur / orator tingkat nasional;
(b) Melakukan simulasi terhadap perubahan eksternal
dan memberi tugas unsur pimpinan untuk
memecahkan masalahnya;
(c) Melaksanakan pelatihan kepemimpinan secara
berkala disertai dengan target yang ingin dicapai.
b) Pemberdayaan unsur pimpinan untuk menguatkan peran
kepemimpinan visioner.
(1) Program: penguatan peran unsur pimpinan
(2) Indikator: peran kepemimpinan visioner mampu
berkontribusi terhadap pelayanan prima Kepolisian.
(3) Kegiatan :
(a) Pimpinan tertinggi di Polres memberikan arahan dan
petunjuk serta contoh untuk berperan sebagai
direction setter, Agent of change, Spokesperson,
dan coach bagi seluruh personel;
(b) Melakukan sosialisasi tentang nilai, prinsip, etika,
norma, serta filosofi yang termuat dalam
kepemimpinan an visioner.
c) Pemberdayaan Bhabinkamtibmas untuk meningkatkan
budaya disiplin masyarakat
(1) Program: sosialisasi kedisiplinan masyarakat
(2) Indikator: budaya disiplin masyarakat meningkat
11

(3) Kegiatan:
(a) Melakukan pelatihan penggalangan bagi personel
Bhabinkamtibmas agar mampu mengajak
masyarakat mamatuhi aturan;
(b) Melakukan sosialisasi secara intensif kepada
masyarakat.
d) Kerjasama dengan satgas merubah image negative Polri
(1) Program: peningkatan operasi berantas pungli
pelayanan kepolisian
(2) Indikator: citra Polri positif di mata masyarakat
(3) Kegiatan:
(a) Melakukan kegiatan bersama dalam OTT praktik
pungli.
(b) Meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan
Satgas
2) Jangka Sedang (0-12 Bulan)
a) Pemberdayaan tim internal untuk menguatkan SOP
pelayanan sebagai pedoman umum pelayanan
(1) Program: efisiensi pelayanan kepolisian
(2) Indikator: pelayanan kepolisian tidak berbelit-belit
(3) Kegiatan:
(a) Menginventarisir SOP pelayanan yang tidak efektif
dan berbelit-belit;
(b) Menyederhanakan SOP dan proses pelayanan
kepolisian;
(c) Membuat buku saku/pedoman pelayanan kepolisian
bagi masyarakat;
(d) Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat
tentang pelayanan kepolisian
b) Kerjasama pengawasan untuk mewujudkan pelayanan
publik yang transaparan
(1) Program: peningkatan pengawasan pelayanan
kepolisian
(2) Indikator: pelayanan kepolisian yang transparan
12

(3) Kegiatan:
(a) Membuka ruang bagi pengawas eksternal untuk
mengawasi pelaksanaan pelayanan kepolisian;
(b) Melaksanakan diskusi dan sharing tentang upaya
dalam mewujudkan pelayanan prima kepolisian;
(c) Meminta feedback terkait penerapan kepemimpinan
visioner di Polres Sorong.
c) Pemberdayaan seluruh personel untuk melayani masyarakat
dengan prima
(1) Program: penguatan pelayanan kepolisian
(2) Indikator: masyarakat terlayani dengan baik
(3) Kegiatan:
(a) Menekankan kepada personel untuk berperan
sebagai servant / pelayan ketika melayani
masyarakat;
(b) Meningkatkan pengendalian, supervisi, dan
bimbingan kepada personel.
d) Kerjasama dengan FKPM dan tomas untuk meningkatkan
fungsi kontrol sosial oleh masyarakat
(1) Program: penguatan sinergitas dengan FKPM dan
Tomas
(2) Indikator: meningkatnya fungsi kontrol sosial oleh
masyarakat
(3) Kegiatan:
(a) Membuat aplikasi panic button bagi masyarakat di
wilayah hokum Polres Sorong jika menemukan
pelanggaran dalam pelayanan kepolisian;
(b) Meningkatkan komunikasi dan koordinasi dengan
FKPM dan Tomas terkait kepmimpinan visioner Polri
dan pelayanan kepolisian.
3) Jangka Panjang (0-24 Bulan)
a) Pemberdayaan Bagsumda untuk meningkatkan revolusi
mental SDM Polri.
(1) Program: penguatan revolusi mental SDM Polri
13

(2) Indikator:.mental personel berubah lebih baik


(3) Kegiatan:
(a) Melaksanakan pelatihan mengenai kepemimpinan
visioner, yang diberikan oleh para pakar atau pun
praktisi dalam bidang kepemimpinan;
(b) Melaksanakan kebijakan reward and punishment
secara intensif dan konsisten;
(c) Melaksanakan binrohtal malalui kegiatan ESQ,
NAC, acara keagamaan maupun lainnya sehingga
mendukung perubahan mindset dan culture set
personel;
b) Kerjasama untuk membuat pelayanan kepolisian berbasis
IT.
(1) Program: pemanfaatan IT
(2) Indikator: pelayanan kepolisian berbasis IT
(3) Kegiatan:
(a) Membuat berbagai inovasi pelayanan kepolisian
yang berbasis IT dan android agar memudahkan
pelayanan bagi masyarakat;
(b) Membuat system terintegrasi dalam pelayanan
kepolisian sehingga memudahkan control;
(c) Memanfaatkan media social sebagai sarana
penyebaran informasi kepolisian kepada
masyarakat.
14

BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
1. Penerapan kompetensi kunci kepemimpinan visioner di Polres Sorong
belum berjalan secara efektif dan efisien, hal ini disebabkan masih
banyak unsur pimpinan yang belum memiliki kompetensi kunci
kepemimpinan visioner, yang terlihat dari: belum memiliki kemampuan
komunikasi yang efektif, Belum memahami lingkungan eksternal dan
kurang mampu bereaksi terhadap kebutuhan, Kurang berperan dalam
membentuk dan mempengaruhi praktik organisasi, dan Belum
memiliki “ceruk” (bentuk imajinatif) untuk mengantisipasi masa depan.
Oleh karena itu perlu langkah strategis dalam meningkatkan
kompetensi unsur pimpinan dan personel;
2. Peran kepemimpinan visioner di Polres Sorong belum mendukung
pelayanan prima Kepolisian disebabkan oleh unsur pimpinan belum
mampu berperan sebagai direction setter, agent of change,
spokesperson, dan coach. Oleh karena itu perlu upaya perbaikan
yang konkrit dan strategis agar penerapan kepemimpinan visioner
dapat lebih konsisten dan mendukung pelayanan prima kepolisian.
B. Rekomendasi
1. Merekomendasikan kepada Kapolda Up. Kabid Propam melakukan
pengawasan terhadap pelayanan kepolisian, melalui monitoring dan
lainnya, sehingga pelaksanaan tugas berlangsung secara mumpuni
dan benar, tanpa ada penyimpangan/pelanggaran
2. Merekomendasikan kepada Kapolda Up. Karo SDM untuk membuat
kurikulum khusus mengenai pelatihan kepemimpinan yang dapat
diikuti oleh pimpinan menengah (middle manager) di tingkat Polres
dan Jajaran guna memperoleh pimpinan Polri yang ideal

14
15

DAFTAR PUSTAKA

Republik Indonesia, Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian


Negara Republik Indonesia.

Kepolisian Negara Repubik Indonesia. Peraturan Kapolri Nomor 23 Tahun 2010


Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pada Tingkat Kepolisian
Resor dan Kepolisian Sektor

Laporan Kesatuan Polres Sorong Tahun 2017.

Ba, S., and Pavlou, P.A. (2002). Evidence of The Effect of Trust Building
Technologyin Electronic Markets: Price Premium and Buyer Behavior. MIS
Quarterly

Burt Nanus.1992 Visionary Leadership: Creating a Compelling Sense of


Direction for Your Organization. San Francisco, CA: Jossey-Bass
Publishers.

Goleman, dkk., 2006. Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi, alih


bahasa Susi Purwoko. Jakarta : Gramedia

Ratminto, dan Atik Septi Winarsih. 2005. Manajemen Pelayanan. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

Pearce and Robinson. 2013. Manajemen Strategis formulasi, implementasi dan


pengendalian. Edisi 12 Buku 1, Jakarta : Salemba Empat.

Rangkuti, Freddy. 2009. Analisis SWOT, Teknik Membedah Kasus Bisnis.


Jakarta : PT Gramedia.

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171229215847-20-265645/tingkat-
kepercayaan-publik-kepada-polri-masih-di-bawah-tni

https://ditlantas.jateng.polri.go.id/11-program-prioritas-kapolri-menuju-polri-
yang-profesional-modern-dan-terpercaya-promoter/