Anda di halaman 1dari 39

Pencegahan Penyalahgunaan NAPZA

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah HIV/AIDS.
Dosen:
Yuyun Sarinengsih, S. Kep., Ners.,M.Kep
Disusun:
Kelompok 3, Kelas A

AK.1.16.0
1. Dapid Arian
11
AK.1.16.0
2. Elih Nurul Hasanah
16
AK.1.16.0
3. Juliana Hidayati
27
AK.1.16.0
4. Lani Ana Fauziah
30
AK.1.16.0
5. Lisna Widiyanti
31
AK.1.16.0
6. Lisnasari
32
AK.1.16.0
7. M. Irsal
33
AK.1.16.0
8. M. Wisnu Suryaman
35
AK.1.16.0
9. N. Aneu Nuraeni
40
AK.1.16.0
10. Palma Alfira
42
AK.1.16.0
11. Tirta Budiman
51
PROGRAM STUDY S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BHAKTI KENCANA
BANDUNG
2018KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,


karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas
makalah yang berjudul “Pencegahan Penyalahgunaan NAPZA”.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat saran,
dorongan, serta keterangan-keterangan dari berbagai pihak yang merupakan
pengalaman yang tidak dapat diukur secara materi, namun dapat membukakan
mata penulis bahwa sesungguhnya pengalaman dan pengetahuan tersebut adalah
guru yang terbaik bagi penulis.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari masih terdapat banyak
kekurangan yang dibuat baik sengaja maupun tidak sengaja, dikarenakan
keterbatasan ilmu pengetahuan dan wawasan serta pengalaman yang penulis
miliki. Untuk itu kami mohon maaf atas segala kekurangan tersebut dan tidak
menutup diri terhadap segala saran dan kritik serta masukan yang bersifat
kontruktif bagi penulis.
Akhir kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Bandung, Mei 2018

Tim Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................... i

DAFTAR ISI.................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang...........................................................................1


1.2 Rumusan Masalah......................................................................2
1.3 Tujuan Penulisan........................................................................3
1.4 Manfaat Penulisan......................................................................3

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Definisi dan Penyalahgunaan NAPZA.......................................4

2.2 Golongan NAPZA......................................................................6

2.3 Rentang Respon.........................................................................11

2.4 Zat Adiktif yang Disalahgunkan................................................13

2.5 Efek yang Ditimbulkan .............................................................13

2.6 Faktor Resiko Penyalahgunaan NAPZA....................................14

2.7 Dampak Penyalahgunaan NAPZA.............................................16

2.8 Pencegahan NAPZA ..................................................................20

2.9 Penanggulangan Penyalahgunaan NAPZA................................23

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan.................................................................................32

3.2 Saran............................................................................................32

2
DAFTAR PUSTAKA 34BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lain) adalah bahan/zat/
obat yang bila mana masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tub
uh terumata otak/susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kese
hatan fisik, psikis dan fungsi sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (a
diksi) serta ketergantungan (dependensi) terhadap NAPZA. NAPZA sering di
sebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak, sehingga
menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.
Masalah penyalahgunaan narkoba merupakan masalah yang sangat
kompleks yang memerlukan upaya penanggulangan secara komprehensif
dengan melibatkan kerja sama multidispliner, multisektor, dan peran serta
masyarakat secara aktif yang dilaksanakan secara berkesinambungan,
konsekuen, dan konsisten. Meskipun dalam kedokteran sebagian besar
narkoba masih bermanfaat bagi pengobatan, namun bila disalahgunakan atau
digunakan tidak menurut indikasi medis atau standar pengobatan terlebih lagi
bila disertai peredaran di jalur ilegal akan berakibat sangat merugikan bagi
individu maupun masyarakat luas khususnya generasi muda. Indonesia saat
ini tidak hanya sebagai transit perdagangan gelap serta tujuan peredaran
narkoba, tetapi juga telah menjadi produsen dan pengekspor. (Kemenkes RI,
2014)
Jumlah kasus narkoba berdasarkan penggolongannya yang masuk dalam
kategori narkotika terus mengalami peningkatan dalam 5 tahun terakhir
sedangkan yang masuk dalam kategori psikotropika jumlah kasusnya kian
menurun, hal ini terlihat jelas pada tahun 2009 jumlah kasus psikotropika
8.779 kasus dan tahun 2010 jumlah kasus psikotropika menurun secara
signifikan menjadi 1.181 kasus.
Berdasarkkan Kemenkes (2014) dalam menangani penyalahguna
narkoba saat ini melibatkan berbagai sektor, antara lain Rumah Sakit
khususnya Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dan Rumah Sakit

1
Jiwa (RSJ), Panti Rehabilitasi Sosial Narkotika (PRSN), pesantren, lembaga
pemasyarakatan, dan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam
bidang penanggulangan masalah penyalahgunaan narkoba.
Dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang
narkotika yang mengamanatkan pencegahan, perlindungan, dan
penyalamatan bangsa Indonesia dari penyalahgunaan narkotika serta
menjamin pengaturan upaya rehabilitasi medis dan sosial bagi penyalahguna
dan pecandu narkotika, dimana pada pasal 54 menyebutkan bahwa “korban
penyalahguna dan pecandu narkotika wajib rehabilitas”. Undang-undang
tersebut juga sudah mengatur bahwa rehabilitasi adalah alternative lain dari
hukuman penjara. Rehabilitasi adalah upaya kesehatan yang dilakukan secara
utuh dan terpadu melalui pendekatan nonmedis, psikologis, sosial dan religi a
gar pengguna NAPZA yang menderita sindrom ketergantungan dapat mencap
ai kemampuan fungsional seoptimal mungkin. Tujuannya pemulihan dan pen
gembangan pasien baik fisik, mental, sosial dan spiritual. Sarana rehabilitasi
yang disediakan harus memiliki tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan
(Depkes, 2002)

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas, didapatkan rumusan masalah sebagai
berikut :
1. Jelaskan definisi dari NAPZA, serta penyalahgunaan NAPZA?
2. Apa saja dan bagaiman penggolongan NAPZA?
3. Bagaimana rentang respon dari penyalahgunaan NAPZA?
4. Apa saja zat adiktif yang disalahgunakan?
5. Bagaimana efek pada penyalahgunaan napza?
6. Jelaskan faktor risiko penyalahgunaan NAPZA!
7. Bagaimana dampak dari penyalahgunaan narkoba?
8. Jelaskan Pencegahan NAPZA!
9. Bagaimana Penanggulangan NAPZA?

1.3 Tujuan Penulisan

2
Tujuan Umum
Adapun tujuan umumnya adalah untuk memenuhi tugas hiv/aids
khususnya pada kasus penyalahgunaan NAPZA untuk memberi pengetahuan
kepada mahasiswa mengenai bagaimana asuhan keperawatan yang diberikan
untuk pasien dengan masalah tersebut.
Tujuan Khusus
a. Mahasiswa mampu menjelaskan definisi dari NAPZA, serta
penyalahgunaan NAPZA
b. Mahasiswa mampu menjelaskan Golongan NAPZA
c. Mahasiswa mampu menjelaskan rentang respon dari
penyalahgunaan NAPZA
d. Mahasiswa mampu menjelaskan zat adiktif yang disalahgunakan
e. Mahasiswa mampu menjelaskan efek pada penyalahgunaan
NAPZA
f. Mahasiswa mampu menjelaskan faktor resiko penyalahgunaan
NAPZA
g. Mahasiswa mampu menjelaskan dampak dari penyalahgunaan
narkoba
h. Mahasiswa mampu menjelaskan pencegahan penyalahgunaan
NAPZA
i. Mahasiswa mampu menjelaskan penanggulangan terhadap
NAPZA.

1.4 Manfaat Penulisan


Makalah ini sekiranya dapat dijadikan sebagai sumber pengetahuan
mengenai Pencegahan Penyalahgunaan NAPZA serta dapat menambah
wawasan mahasiswa keperawatan secara lebih dalam tentang asuhan
keperawatan khusus mengenai penyalahgunaan yang berhubungan dengan
obat-obatan terlarang/NAPZA.

3
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi NAPZA dan Penyalahgunaaan NAPZA


Napza adalah singkatan dari narkotika, psikotropika, dan bahan adiktif
lainnya, meliputi zat alami atau sintetis yang bila dikonsumsi menimbulkan
perubahan fungsi fisik dan psikis, serta menimbulkan ketergantungan (BNN,
2004)
NAPZA adalah zat yang memengaruhi struktur atau fungsi beberapa
bagian tubuh orang yang mengonsumsinya. Manfaat maupun risiko
penggunaan NAPZA bergantung pada seberapa banyak, seberapa sering, cara
menggunakannya, dan bersamaan dengan obat atau NAPZA lain yang di
konsumsi (Kemenkes RI, 2010).
Narkoba berasal dari bahasa Yunani, dari kata Narke, yang berarti beku,
lumpuh, dan dungu. Menurut Farmakologi medis yaitu “Narkotika adalah
obat yang dapat menghilangkan (terutama) rasa nyeri yang berasal dari
Visceral dan dapat menibulkan efek stupor (bengong masih sadar namum
masih harus digertak) serta adiksi (Derman Flavianus, 2006 : I)
NAPZA adalah kependekan dari Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan
Zat Adiktif lainnya. NAPZA adalah bahan / zat yang dapat mempengaruhi
kondisi kejiwaan / psikologi seseorang (pikiran, perasaan dan perilaku) serta
dapat menimbulkan ketergantungan fisik dan psikologi. Menurut Undang-
Undang No. 22 Tahun 1997 yang dimaksud NARKOTIKA meliputi :
1) Golongan Opiat : Heroin, Morfin, Madat, dll.
2) Golongan Kanabis : Ganja, Hashish.
3) Golongan Koka : Kokain, Crack.
Alkohol adalah minuman yang mengandung etanol (Etil-alkohol).
Psikotropika menurut Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997 meliputi :
ecstasy, shabu-shabu, Isd, obat penenang/obat tidur, obat anti depresi dan anti
psikosis. Zat Adiktif lain termasuk inhalansia (aseton, thinner car, lem atau
glue), nikotin (tembakau), kafein (kopi).

5
NAPZA tergolong zat psikoaktif. Yang dimaksud zat psikoaktif adalah
zat yang terutama berpengaruh pada otak sehingga menimbulkan perubahan
pada perilaku, perasaan, pikiran, persepsi, dan kesadaran.
Tidak semua zat psikoaktif disalahgunakan, misalnya : obat antipsikotik
dan obat anti depresi tidak mempunyai potensi disalahgunakan. Di Malaysia
dikenal dengan istilah dadah bagi semua zat yang penggunaannya adalah
melawan hukum. Sedangkan di Indonesia istilah itu disebut madat, yang
kurang tepat bila dipakai sebagai padanan kata dadah, karena madat adalah
candu, yang menurut UU nomor 22 tahun 1997 termasuk opiate, yaitu salah
satu jenis narkotika saja.
Sedangkan NARKOBA adalah kependekan dari Narkotik dan Obat
Berbahaya. Dikatakan kependekan mungkin kurang tepat karena :
1) Semua obat bisa berbahaya (insulin, pensilin, adrenalin)
2) Yang disalahgunakan tidak hanya obat, melainkan Ganja, ecxtasy,
heroin, kokain, tidak digunakan sebagai obat lagi.
3) Psikotropika, yang mempunyai UU tersendiri tidak tercermin
dalam akronim itu.
Zat psikotropika yang sering disalahgunakan (menurut WHO 1992)
adalah :
1. Alkohol (semua minuman beralkohol)
2. Opioida (heroin, morfin, pethidin, candu)
3. Kanabinoida (ganja = mariyuana, hashish)
4. Sedativa/hipnotika (obat penenang/obat tidur)
5. Kokain : daun koka, serbuk kokain, creck
6. Stimulansia lain, termasuk kafein, ecxtasy, dan shabu-shabu
7. Halusinogenika; Isd, mushroom, mescalin
8. Tembakau (mengandung nikotin)
9. Pelarut yang mudah menguap seperti : aseton, glue, atau lem.
10. Multiple (kombinasi) dan lain-lain, misalnya : kombinasi heroin
dan shabu-shabu, alkohol dan obat tidur.
Penyalahgunaan NAPZA adalah penggunaan NAPZA yang bersifat
patologis, paling sedikit telah berlangsung satu bulan lamanya sehingga

6
menimbulkan gangguan dalam pekerjaan dan fungsi sosial. Sebetulnya
NAPZA banyak dipakai untuk kepentingan pengobatan, misalnya
menenangkan klien atau mengurangi rasa sakit. Tetapi karena efeknya “enak”
bagi pemakai, maka NAPZA kemudian dipakai secara salah, yaitu bukan
utnuk pengobatan tetapi untuk mendapatkan rasa nikmat. Penyalahgunaan
NAPZA secara tetap ini menyebabkan pengguna merasa ketergantungan pada
obat tersebut sehingga menyebabkan kerusakan fisik (Sumiati, 2009).
Menurut Pasal 1 UU RI No.35 Tahun 2009 Ketergantungan adalah
kondisi yang ditandai oleh dorongan untuk menggunakan Narkotika secara
terus-menerus dengan takaran yang meningkat agar menghasilkan efek yang
sama dan apabila penggunaannya dikurangi dan/atau dihentikan secara tiba-
tiba, menimbulkan gejala fisik dan psikis yang khas.
Penyalahgunaan narkoba dapat dikategorikan sebagai kejahatan tanpa
korban (crime without victim). Pengertian kejahatan tanpa korban berarti
kejahatan ini tidak menimbulkan korban sama sekali, akan tetapi si pelaku
sebagai korban. Kejahatan yang secara kriminologi diartikan sebagai crime
without victim ini sangat sulit diketahui keberadaannya, karena mereka dapat
melakukan aksinya dengan sangat tertutup dan hanya diketahui orang-orang
tertentu, oleh karena itu sangat sulit memberantas kejahatan ini (Jimmy,
2015).

2.2 Golongan NAPZA


1. Narkotika
Narkotika dibedakan ke dalam golongan-golongan:
a. Narkotika Golongan I
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetah
uan, dan tidak ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat ti
nggi menimbulkan ketergantungan (contoh: heroin/putauw: Reaksi dari
pemakaian ini sangat cepat yang kemudian menimbulkan perasaan
ingin menyendiri untuk menikmati efek rasanya dan pada taraf
kecanduan pemakai akan kehilangan percaya diri hingga tak
mempunyai keinginan untuk bersosialisasi. Kokain : akan menimbulkan

7
paranoia (sejenis penyakit jiwa yang meyebabkan timbul ilusi yang
salah tentang sesuatu dan akhirnya bisa bersifat agresif akibat delusi
yang dialaminya), ganja: paranoid, muntah-muntah, kehilangan
koordinasi, kebingungan, meningkatkan nafsu makan, mata merah,
halusinasi).

b. Narkotika Golongan II
Narkotika yang berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakh
ir dan dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pe
ngetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatan ketergantunga
n (contoh: morfin, petidin).

8
c. Narkotika Golongan III
Narkotika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam ter
api atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai pote
nsi ringan mengakibatkan ketergantungan (contoh: kodein)

2. Psikotropika
Psikotropika dibedakan dalam golongan-golongan sebagai berikut:
a. Psikotropika Golongan I
Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu peng
etahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi ama
t kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan (contoh: ekstasi, shabu,
LSD).

9
Extasi

Shabu

LSD

b. Psikotropika Golongan II
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam te
rapi, dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat m
engakibatkan sindrom ketergantungan. (Contoh: Amfetamin : obat yang

10
bisa digunakan untuk mengobati gangguan hiperaktif atau disebut juga
dengan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD). Selain
gangguan hiperaktif dan narkolepsi, obat ini juga bisa digunakan oleh
penderita obesitas dalam menurunkan berat badan. Metilfenidat atau Rit
alin : Obat ini mempengaruhi zat kimia dalam otak dan saraf yang
berkontribusi terhadap impuls hiperaktif dan impuls kontrol.
Methylphenidate digunakan untuk mengobati gangguan kekurangan
fokus, attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan narkolepsi).

c. Psikotropika Golongan III


Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam
terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi
sedang mengakibatkan sidnrom ketergantungan (Contoh: Pentobarbita:
diindikasikan untuk perawatan Pra-anestesi, Antikonvulsan, Obat
penenang, Obat penenang, Flunitrazepam: obat jenis benzodiazepin
untuk mengobati keluhan tidur dan dalam frekuensi yang jarang sebagai
obat bius).

11
d. Psikotropika Golongan IV
Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas serta mempun
yai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan (Contoh: Di
azepam, Nitrazepam, Seperti Pil KB, Pil Koplo, Rohip, Dum, MG).
3. Zat Adiktif
Zat adiktif adalah suatu bahan atau zat yang apabila digunakan dapat meni
mbulkan kecanduan atau ketergantungan. Contohnya : rokok, kelompok
alkohol dan minuman lain yang memabukkan dan menimbulkan
ketagihan, thinner dan zat-zat lain (lem kayu, penghapus cair, aseton, cat,
bensin, yang bisa dihisap, dihirup, dan dicium, dapat memabukkan)
4. Zat Psikoaktif
Golongan zat yang bekerja secara selektif, terutama pada otak sehingga da
pat menimbulkan perubahan pada: perilaku, emosi, kognitif, persepsi.

2.3 Rentang Respon


Rentang respon ini berfluktuasi dari kondisi yang ringan sampai dengan
yang berat. Indikator dari rentang respon berdasarkan peilaku yang ditampakk
an oleh remaja dengan gangguan penggunaan zat adiktif. (AH Yusuf dkk,
2015)
Respon adaptif

Maladaptif Respon

Eks-perim Rekreasi- Situasiona Penyalah- Ketergan-t


ental onal l gunaan ungan

12
Ada beberapa tahapan pemakaian NAPZA yaitu sebagai berikut:
1. Tahap pemakaian coba-coba (eksperimental use)
Karena pengaruh kelompok sebaya sangat besar, remaja ingin tahu
atau coba-coba. Biasanya mencoba mengisap rokok, ganja, atau minum-
minuman beralkohol. Jarang yang langsung mencoba memakai putaw
atau minum pil ekstasi.
2. Tahap pemakaian sosial (social/recreational use)
Tahap pemakaian NAPZA untuk pergaulan (saat berkumpul atau
pada acara tertentu), ingin diakui/diterima kelompoknya. Mula-mula
NAPZA diperoleh secara gratis atau dibeli dengan murah. Ia belum secara
aktif mencari NAPZA.
3. Tahap pemakaian situasional (sitiational use)
Tahap pemakaian karena situasi tertentu, misalnya kesepian atau
stres. Pemakaian NAPZA sebagai cara mengatasi masalah. Pada tahap ini
pemakai berusaha memperoleh NAPZA secara aktif.
4. Tahap habituasi/kebiasaan (abuse)
Tahap ini untuk yang telah mencapai tahap pemakaian teratur
(sering), disebut juga penyalahgunaan NAPZA, terjadai perubahan pada
faal tubuh dan gaya hidup. Teman lama berganti dnegan teman pecandu.
Ia menjadi sensitif, mudah tersinggung, pemarah, dan sulit tidur atau
berkonsentrasi, sebab narkoba mulai menjadi bagian dari kehidupannya.
Minat dan cita-citanya semula hilang. Ia sering membolos dan prestasi
sekolahnya merosot. Ia lebih suka menyendiri daripada berkumpul
bersama keluarga.
5. Tahap ketergantungan (dependence use)
Ia berusaha agar selalu memperoleh NAPZA dengan berbagai cara.
Berbohong, menipu, atau mencuri menjadi kebiasaannya. Ia sudah tidak
dapat mengendalikan penggunaannya. NAPZA telah menjadi pusat
kehidupannya. Hubungan dengan keluarga dan teman-teman rusak.

13
2.4 Zat Adiktif Yang Disalahgunakan
Golongan Jenis
Opioida Morfin, heroin (puthao), candu, kodein, petidin
Kanabis Ganja (Mariyuana), minyak hasish
Kokain Serbuk kokain, daun koka
Alkohol Semua minuman yang mengandung ethyl alkohol,
Sedative-hipnotik Sedatin (BK), rohipnol, mogadon, dulomid, nipam
mandrax
MDA (Methyl Dioxy Amphetami Ekstasi
ne)
Halusinogen LSD, meskalin, jamur, kecubung
Solven & Inhalasi Glue (aica aibon), aceton, thinner, N2O
Nikotin Terdapat dalam tembakau
Kafein Terdapat dalam kopi

2.5 Efek yang Ditimbulkan


No Jenis Cara penggunaan Efek pada Tubuh
1 Opium, heroin, Dihirup melalui hidung, dis Merasa bebas dari rasa sak
morfin untikan melalui otot atau pe it, tegang, euphoria
mbuluh darah vena
2 Kokain Ditelan bersama minuman, Merasa gembira, bertenaga
diisap seperti rokok atau dis lebih percaya diri
untikan
3 Kanabis, mariyu Dicampur dengan tembakau Rasa gembira, lebih percay
ana, ganja a diri, relaks
4 Alkohol Diminum Bergantung kandungan alk
oholnya
5 Amfetamin Diisap, ditelan Merasa lebih percaya diri,
mengurangi rasa lelah, me
ningkatkan konsentrasi
6 Sedative Ditelan Merasa lebih santai, meny
ebabkan kantuk
7 Shabu-shabu Diisap Badan serasa lebih segara,
gembira, nafsu makan men
urun, lebih percaya diri
8 XTC Ditelan Meningkatkan kegembiraa
n, stamina meningkat
9 LSD Diisap atau ditelan Perasaan melayang (fly), m

14
uncul halusinasi yang bent
uknya berbeda pada tiap in
dividu

2.6 Faktor Risiko Penyalahgunaan NAPZA


Menurut Soetjiningsih (2004), faktor risiko yang menyebabkan
penyalahgunaan NAPZA antara lain faktor genetik, lingkungan keluarga,
pergaulan (teman sebaya), dan karakteristik individu.
1. Faktor Genetik
Risiko faktor genetik didukung oleh hasil penelitian bahwa remaja
dari orang tua kandung alkoholik mempunyai risiko 3-4 kali sebagai
peminum alkohol dibandingkan remaja dari orang tua angkat alkoholik.
Penelitian lain membuktikan remaja kembar monozigot mempunyai risiko
alkoholik lebih besar dibandingkan remaja kembar dizigot.
2. Lingkungan Keluarga
Pola asuh dalam keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap
penyalahgunaan NAPZA. Pola asuh orang tua yang demokratis dan
terbuka mempunyai risiko penyalahgunaan NAPZA lebih rendah
dibandingkan dengan pola asuh orang tua dengan disiplin yang ketat.
Fakta berbicara bahwa tidak semua keluarga mampu menciptakan
kebahagiaan bagi semua anggotanya. Banyak keluarga mengalami
problem-problem tertentu. Salah satunya ketidakharmonisan hubungan
keluarga. Banyak keluarga berantakan yang ditandai oleh relasi orangtua
yang tidak harmonis dan matinya komunikasi antara mereka.
Ketidakharmonisan yang terus berlanjut sering berakibat perceraian.
Kalau pun keluarga ini tetap dipertahankan, maka yang ada sebetulnya
adalah sebuah rumah tangga yang tidak akrab dimana anggota keluarga
tidak merasa betah. Orangtua sering minggat dari rumah atau pergi pagi
dan pulang hingga larut malam. Ke mana anak harus berpaling?
Kebanyakan diantara penyalahguna NAPZA mempunyai hubungan yang
biasa-biasa saja dengan orang tuanya. Mereka jarang menghabiskan
waktu luang dan bercanda dengan orang tuanya (Jehani, dkk, 2006).
3. Pergaulan (teman sebaya)

15
Di dalam mekanisme terjadinya penyalahgunaan NAPZA, teman
kelompok sebaya (peer group) mempunyai pengaruh yang dapat
mendorong atau mencetuskan penyalahgunaan NAPZA pada diri
seseorang. Menurut Hawari (2006) perkenalan pertama dengan NAPZA
justru datangnya dari teman kelompok. Pengaruh teman kelompok ini
dapat menciptakan keterikatan dan kebersamaan, sehingga yang
bersangkutan sukar melepaskan diri. Pengaruh teman kelompok ini tidak
hanya pada saat perkenalan pertama dengan NAPZA, melainkan juga
menyebabkan seseorang tetap menyalahgunakan NAPZA, dan yang
menyebabkan kekambuhan (relapse).
Bila hubungan orangtua dan anak tidak baik, maka anak akan
terlepas ikatan psikologisnya dengan orangtua dan anak akan mudah jatuh
dalam pengaruh teman kelompok. Berbagai cara teman kelompok ini
memengaruhi si anak, misalnya dengan cara membujuk, ditawari bahkan
sampai dijebak dan seterusnya sehingga anak turut menyalahgunakan
NAPZA dan sukar melepaskan diri dari teman kelompoknya.
4. Karakteristik Individu
a. Umur
Berdasarkan penelitian, kebanyakan penyalahguna NAPZA
adalah mereka yang termasuk kelompok remaja. Pada umur ini
secara kejiwaan masih sangat labil, mudah terpengaruh oleh
lingkungan, dan sedang mencari identitas diri serta senang
memasuki kehidupan kelompok. Hasil temuan Tim Kelompok Kerja
Pemberantasan Penyalahgunaan Narkoba Departemen Pendidikan
Nasional menyatakan sebanyak 70% penyalahguna NAPZA di
Indonesia adalah anak usia sekolah (Jehani, dkk, 2006).
b. Pendidikan
Menurut Friedman (2005) belum ada hasil penelitian yang
menyatakan apakah pendidikan mempunyai risiko penyalahgunaan
NAPZA. Akan tetapi, pendidikan ada kaitannya dengan cara
berfikir, kepemimpinan, pola asuh, komunikasi, serta pengambilan
keputusan dalam keluarga.

16
c. Pekerjaan
Hasil studi BNN dan Pusat Penelitian Kesehatan Universitas
Indonesia tahun 2009 di kalangan pekerja di Indonesia diperoleh
data bahwa penyalahguna NAPZA tertinggi pada karyawan swasta
dengan prevalensi 68%, PNS/TNI/POLRI dengan prevalensi 13%,
dan karyawan BUMN dengan prevalensi 11% (BNN, 2010).

2.7 Dampak Penyalahgunaan NAPZA


1. Terhadap kondisi fisik
a. Akibat zat itu sendiri
Termasuk di sini gangguan mental organik akibat zat, misalnya
intoksikasi yaitu suatu perubahan mental yang terjadi karena dosis
berlebih yang memang diharapkan oleh pemakaiannya. Sebaliknya
bila pemakaiannya terputus akan terjadi kondisi putus zat.
Contohnya:
1) Ganja: pemakaian lama menurunkan daya tahan sehingga
mudah terserang infeksi. Ganja juga memperburuk aliran darah
koroner.
2) Kokain: bisa terjadi aritmia jantung, ulkus atau perforasi
sekat hidung, jangka panjang terjadi anemia dan turunnya berat
badan.
3) Alkohol: menimbulkan banyak komplikasi, misalnya:
gangguan lambung, kanker usus, gangguan hati, gangguan pada
otot jantung dan saraf, gangguan metabolisme, cacat janin dan
gangguan seksual.
b. Akibat bahan campuran/pelarut: bahaya yang mungkin
timbul: infeksi, emboli.
c. Akibat cara pakai atau alat yang tidak steril: Akan
terjadi infeksi, berjangkitnya AIDS atau hepatitis.
d. Akibat pertolongan yang keliru: Misalnya dalam keadaan
tidak sadar diberi minum.

17
e. Akibat tidak langsung: Misalnya terjadi stroke pada
pemakaian alkohol atau malnutrisi karena gangguan absorbsi pada
pemakaian alkohol.
f. Akibat cara hidup pasien: Terjadi kurang gizi, penyakit
kulit, kerusakan gigi dan penyakit kelamin.
2. Terhadap kehidupan mental emosional
Intoksikasi alkohol atau sedatif-hipnotik menimbulkan perubahan
pada kehidupan mental emosional yang bermanifestasi pada gangguan
perilaku tidak wajar. Pemakaian ganja yang berat dan lama menimbulkan
sindrom amotivasional. Putus obat golongan amfetamin dapat
menimbulkan depresi sampai bunuh diri.
3. Terhadap kehidupan social
Gangguan mental emosional pada penyalahgunaan obat akan
mengganggu fungsinya sebagai anggota masyarakat, bekerja atau
sekolah. Pada umumnya prestasi akan menurun, lalu dipecat/dikeluarkan
yang berakibat makin kuatnya dorongan untuk menyalahgunakan obat.
Dalam posisi demikian hubungan anggota keluarga dan kawan dekat
pada umumnya terganggu. Pemakaian yang lama akan menimbulkan
toleransi, kebutuhan akan zat bertambah. Akibat selanjutnya akan
memungkinkan terjadinya tindak kriminal, keretakan rumah tangga
sampai perceraian. Semua pelanggaran, baik norma sosial maupun
hukumnya terjadi karena kebutuhan akan zat yang mendesak dan pada
keadaan intoksikasi yang bersangkutan bersifat agresif dan impulsif
(Alatas, dkk, 2006).
4. Terhadap Tingkah Laku
Menurut Prabowo, Eko 2014 menyatakan dampak narkoba sebagai
berikut:
a. Tingkah Laku Klien Pengguna Zat Sedatif Hipnotik
1) Menurunnya sifat menahan diri
2) Jalan tidak stabil, koordinasi motorik kurang
3) Bicara cadel, bertele-tele
4) Sering datang ke dokter untuk minta resep

18
5) Kurang perhatian
6) Sangat gembira, berdiam, (depresi), dan kadang bersikap
bermusuhan
7) Gangguan dalam daya pertimbangan
8) Dalam keadaan yang over dosis, kesadaran menurun, koma
dan dapat menimbulkan kematian.
9) Meningkatkan rasa percaya diri
b. Tingkah Laku Klien Pengguna Ganja
1) Kontrol didi menurun bahkan hilang
2) Menurunnya motivasi perubahan diri
3) Ephoria ringan
c. Tingkah Laku Klien Pengguna Alcohol
1) Sikap bermusuhan
2) Kadang bersikap murung, berdiam
3) Kontrol diri menurun
4) Suara keras, bicara cadel,dan kacau
5) Agresi
6) Minum alcohol pagi hari atau tidak kenal waktu
7) Partisipasi di lingkungan social kurang
8) Daya pertimbangan menurun
9) Koordinasi motorik terganggu, akibat cenerung mendapat
kecelakaan
10) Dalam keadaan over dosis, kesadaran menurun bahkan
sampai koma.
d. Tingkah Laku Klien Pengguna Opioda
1) Terkantuk-kantuk
2) Bicara cadel
3) Koordinasi motorik terganggu
4) Acuh terhadap lingkungan, kurang perhatian
5) Perilaku manipulatif, untuk mendapatkan zat adiktif
6) Kontrol diri kurang
e. Tingkah Laku Klien Pengguna Kokain

19
1) Hiperaktif
2) Euphoria, agitasi, dan sampai agitasi
3) Iritabilitas
4) Halusinasi dan waham
5) Kewaspadaan yang berlebihan
6) Sangat tegang
7) Gelisah, insomnia
8) Tampak membesar –besarkan sesuatu
9) Dalam keadaan over dosis: kejang, delirium, dan paranoid
f. Tingkah Laku Klien Pengguna Halusinogen
1) tingkah laku tidak dapat diramalkan
2) Tingkah laku merusak diri sendiri
3) Halusinasi, ilusi
4) Distorsi (gangguan dalam penilaian, waktu dan jarak)
5) Sikap merasa diri benar
6) Kewaspadaan meningkat
7) Depersonalisasi
8) Pengalaman yang gaib/ ajaib

2.8 Pencegahan NAPZA


1. Pencegahan primer
Pencegahan primer atau pencegahan dini yang ditujukan kepada
mereka, individu, keluarga, kelompok atau komunitas yang memiliki risiko
tinggi terhadap penyalahgunaan NAPZA, untuk melakukan intervensi agar
individu, kelompok, dan masyarakat waspada serta memiliki ketahanan
agar tidak menggunakan NAPZA. Upaya pencegahan ini dilakukan sejak
anak berusia dini, agar faktor yang dapat menghabat proses tumbuh
kembang anak dapat diatasi dengan baik. Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan dalam upaya pencegahan ini antara lain :

20
1) Penyuluhan tentang bahaya narkoba dan upaya-upaya pencegahan
yang bisa di lakukan.
2) Penerangan melalui berbagai media tentang bahaya narkoba.
3) Pendidikan tentang pengetahuan narkoba dan bahayanya.
4) Bisa juga di lakukan dengan metode yang sudah di
rekomendasikan oleh UNODC (United Nation Office on Drugs and
Crime) yaitu pencegahan penyalahgunaan narkoba dengan melalui
berbasis ilmu pengetahuan.
5) UNODC menunjukkan bahwa metode pencegahan penyalahgunaan
narkoba yang selama ini dilakukan seperti pencetakan booklet, buku,
poster maupun leaflet malah terkesan menyeramkan sehingga tidak
menarik perhatian masyarakat untuk tahu lebih banyak tentang
narkoba dan bahayanya. Ini karena materi, isi maupun testimony yang
ada di dalamnya kurang atau bahkan tidak tepat sebagai sarana untuk
menyadarkan ataupun mengingatkan masyarakat tentang bahaya
penyalahgunaan narkoba.

Berbagai sarana tersebut sangat kurang memberi dampak positif


bahkan tidak mempengaruhi perubahan perilaku masyarakat sama
sekali. Oleh karena itulah UNODC merekomendasikan strategi
pencegahan penyalahgunaan narkoba berbasis ilmu pengetahuan.
Metode kali ini mengutamakan kerjasama dengan keluarga, sekolah,
masyarakat ataupun komunitas tertentu untuk mengembangkan
program pencegahan yang menekankan pada aspek pendidikan
(edukasi).

2. Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan pada kelompok atau komunitas yang
sudah menyalahgunakan NAPZA. Dilakukan pengobatan agar mereka
tidak menggunakan NAPZA lagi. Pencegahan Sekunder adalah untuk
menginisiasi penyalahguna narkoba yang baru saja menggunakan atau
mencoba-coba. Mereka perlu disadarkan supaya nantinya tidak
berkembang menjadi pecandu karena efek adiktif dari narkoba yang
dikonsumsi. Pecegahan ini menitik beratkan pada mengarahkan

21
penyalahguna narkoba untuk melalukan pola hidup sehat dalam keseharian
mereka (healthy lifestyle). Selain itu juga dibantu agar mereka menjalani
terapi maupun rehabilitasi. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya
pencegahan ini antara lain :
1) Layananan informasi dan konsultasi
2) Konseling
3) Rujukan
4) Fasilitas dan penguatan kelompok
5) Pembinaan olahraga dan kesenian
6) Penerangan dan Pendidikan pengembangan individu
Yang tidak kalah penting adalah kebijakan untuk mendukung agar
para pecandu narkoba di kirim ke pusat rehabilitasi, bukan dihukum dan
mengirimnya ke dalam penjara.

3. Pencegahan tersier
Pencegahan tersier ditujukan kepada mereka yang sudah pernah
menjadi penyalahguna NAPZA dan telah mengikuti program terapi dan
rehabilitasi untuk menjaga agar tidak kambuh lagi. Sedangkan pencegahan
terhadap penyalahgunaan NAPZA yang kambuh kembali adalah dengan
melakukan pendampingan yang dapat membantunya untuk mengatasi
masalah perilaku adiksinya, detoksifikasi, maupun dengan melakukan
rehabilitasi kembali.
Dalam masa rehabilitasi para pecandu akan dipulihkan dari
ketergantungan sehingga mereka bisa hidup normal serta kembali
bersosialisasi dengan keluarga dan masyarakat. Adapun tahap-tahap dalam
pencegahan tersier ini, yaitu :
1) Tahap Menjauhkan diri. Bisa berlangsung selama 2 tahun sejak
tanggal penggunaan terakhir.
2) Tahap Konfrontasi. Berlangsung mulai akhir tahap 1 sampai
selama 5 tahun tidak menggunakan secara konsisten.
3) Tahap Pertumbuhan. Berlangsung selama 5 tahun atau lebih.

22
4) Tahap transformasi. Sudah melanjutkan gaya hidup yang baru yang
di temukan pada tahap pertumbuhan.

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam upaya pencegahan ini antara lain:


1) Konseling dan bimbingan sosial kepada pengguna dan keluarga
serta kelompok lingkungannya
2) Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi bekas pengguna agar
mereka tidak terjerat untuk kembali sebagai pengguna narkoba.

Selain pencegahan yang telah disebutkan, maka wahana yang paling


berpotensi untuk dapat menghindari penyalahgunaan narkoba adalah
dari lingkungan keluarga.

Ada Beberapa strategi sederhana yang dapat dilakukan orang tua dalam
upaya pencegahan narkoba diantaranya yaitu:

1) Orang tua harus memiliki pengetahuan secara jelas tentang narkoba


, agar dapat memberikan pengetahuan dan pembekalan pada anak
tentang ganasnya narkoba dan bagaimana cara menghindarinya.
2) Hindari kepercayaan diri yang berlebihan bahwa anaknya adalah
anak yang sempurna dan tidak punya masalah, ini perlu dilakukan
agar secepatnya dapat mendeteksi dini bila ada perubahan yang tidak
lazim pada anaknya.
3) Jangan segan mengawasi dan mencari penyebab terjadinya
perubahan tingkah dan perilaku pada anaknya.
4) Cek secara berkala kondisi kamar (bila anak memiliki kamar
pribadi), pakaian yang habis dipakai (isi kantong, aroma pakaian, dls)
tas sekolah dan atribut lainnya. (dalam melakukannya perlu strategi
yang baik agar tidak menimbulkan konflik dengan anaknya).
5) Orang tua sebaiknya dapat menjadi model dan contoh yang baik
bagi anaknya serta sekaligus juga dapat berperan sebagai sahabatnya.
(agar anaknya tidak segan mencurahkan segala isi hati, pendapat dan
permasalahan yang dihadapinya).
6) Menerapkan dan membudayakan delapan fungsi keluarga di dalam
kehidupan sehari-hari keluarga. Agar muncul rasa nyaman pada anak
ketika berada di lingkungan keluarganya.

23
2.9 Penanggulangan Penggunaan NAPZA
1. Pengobatan
Terapi pengobatan bagi klien NAPZA misalnya dengan
detoksifikasi. Detoksifikasi adalah upaya untuk mengurangi atau
menghentikan gejala putus zat, dengan dua cara yaitu:
a. Detoksifikasi Tanpa Subsitusi
Klien ketergantungan putau (heroin) yang berhenti
menggunakan zat yang mengalami gajala putus zat tidak diberi obat
untuk menghilangkan gejala putus zat tersebut. Klien hanya
dibiarkan saja sampai gejala putus zat tersebut berhenti sendiri.
b. Detoksifikasi dengan Substitusi
Putau atau heroin dapat disubstitusi dengan memberikan jenis
opiat misalnya kodein, bufremorfin, dan metadon. Substitusi bagi
pengguna sedatif-hipnotik dan alkohol dapat dari jenis anti ansietas,
misalnya diazepam. Pemberian substitusi adalah dengan cara
penurunan dosis secara bertahap sampai berhenti sama sekali.
Selama pemberian substitusi dapat juga diberikan obat yang
menghilangkan gejala simptomatik, misalnya obat penghilang rasa
nyeri, rasa mual, dan obat tidur atau sesuai dengan gejala yang
ditimbulkan akibat putus zat tersebut (Purba, 2008).
2. Rehabilitasi
Rehabilitasi adalah upaya memulihkan dan mengembalikan kondisi
para mantan penyalahguna NAPZA kembali sehat dalam arti sehat fisik,
psikologik, sosial, dan spiritual. Dengan kondisi sehat tersebut
diharapkan mereka akan mampu kembali berfungsi secara wajar dalam
kehidupannya sehari-hari. Menurut Hawari (2006) jenis-jenis rehabilitasi
antara lain:
a. Rehabilitasi Medik
Rehabilitasi medik ini dimaksudkan agar mantan
penyalahgunaan NAPZA benar-benar sehat secara fisik. Termasuk
dalam program rehabilitasi medik ini ialah memulihkan kondisi fisik

24
yang lemah, tidak cukup diberikan gizi makanan yang bernilai
tinggi, tetapi juga kegiatan olahraga yang teratur disesuaikan dengan
kemampuan masing-masing yang bersangkutan.
b. Rehabilitasi Psikiatrik
Rehabilitasi psikiatrik ini dimaksudkan agar peserta rehabilitasi
yang semula bersikap dan bertindak antisosial dapat dihilangkan,
sehingga mereka dapat bersosialisasi dengan baik dengan sesama
rekannya maupun personil yang membimbing atau mengasuhnya.
Termasuk rehabilitasi psikiatrik ini adalah
psikoterapi/konsultasi keluarga yang dapat dianggap sebagai
“rehabilitasi” keluarga terutama bagi keluarga-keluarga broken
home. Konsultasi keluarga ini penting dilakukan agar keluarga dapat
memahami aspek-aspek kepribadian anaknya yang terlibat
penyalahgunaan NAPZA, bagaimana cara menyikapinya bila kelak
ia telah kembali ke rumah dan upaya pencegahan agar tidak
kambuh.

c. Rehabilitasi Psikososial
Dengan rehabilitasi psikososial ini dimaksudkan agar peserta
rehabilitasi dapat kembali adaptif bersosialisasi dalam lingkungan
sosialnya, yaitu di rumah, di sekolah/kampus dan di tempat kerja.
Program ini merupakan persiapan untuk kembali ke masyarakat.
Oleh karena itu, mereka perlu dibekali dengan pendidikan dan
keterampilan misalnya berbagai kursus ataupun balai latihan kerja
yang dapat diadakan di pusat rehabilitasi. Dengan demikian
diharapkan bila mereka telah selesai menjalani program rehabilitasi
dapat melanjutkan kembali ke sekolah/kuliah atau bekerja.
d. Rehabilitasi Psikoreligius
Rehabilitasi psikoreligius memegang peranan penting. Unsur
agama dalam rehabilitasi bagi para pasien penyalahguna NAPZA
mempunyai arti penting dalam mencapai penyembuhan. Unsur
agama yang mereka terima akan memulihkan dam memperkuat rasa

25
percaya diri, harapan dan keimanan. Pendalaman, penghayatan dan
pengamalan keagamaan atau keimanan ini akan menumbuhkan
kekuatan kerohanian pada diri seseorang sehingga mampu menekan
risiko seminimal mungkin terlibat kembali dalam penyalahgunaan
NAPZA.
e. Forum Silaturahmi
Forum silaturahmi merupakan program lanjutan (pasca
rehabilitasi) yaitu program atau kegiatan yang dapat diikuti oleh
mantan penyalahguna NAPZA (yang telah selesai menjalani tahapan
rehabilitasi) dan keluarganya. Tujuan yang hendak dicapai dalam
forum silaturahmi ini adalah untuk memantapkan terwujudnya
rumah tangga/keluarga sakinah yaitu keluarga yang harmonis dan
religius, sehingga dapat memperkecil kekambuhan penyalahgunaan
NAPZA
f. Program Terminal
Pengalaman menunjukkan bahwa banyak dari mereka sesudah
menjalani program rehabilitasi dan kemudian mengikuti forum
silaturahmi, mengalami kebingungan untuk program selanjutnya.
Khususnya bagi pelajar dan mahasiswa yang karena keterlibatannya
pada penyalahgunaan NAPZA di masa lalu terpaksa putus sekolah
menjadi pengangguran; perlu menjalani program khusus yang
dinamakan program terminal (re-entry program), yaitu program
persiapan untuk kembali melanjutkan sekolah/kuliah atau bekerja

2.9 Peran dan Fungsi Perawat


Masalah penyalahgunaan NAPZA merupakan masalah global dan
memerlukan partisipasi aktif seluruh komponen bangsa dalam
penanganannya, termasuk tenaga kesehatan. Perawat sebagai bagian dari
tenaga kesehatan mutlak wajib melaksanakan fungsi dan perannya untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat termasuk penanganan
penyalahgunaan NAPZA.
1. Fungsi Perawat

26
a. Independent
Fungsi independent perawat adalah ”those activities that are
considered to be within nursing’s scope of diagnosis and treatment”.
Dalam fungsi ini tindakan perawat dalam penanganan klien
pengguna NAPZA tidak memerlukan perintah dokter. Tindakan
perawat bersifat mandiri, berdasarkan pada ilmu dan kiat
keperawatan. Dalam kaitan dengan penanggulangan penggunaan
NAPZA tindakan perawat diantaranya :
1) Pengkajian klien pengguna NAPZA.
2) Membantu klien pengguna NAPZA memenuhi kegiatan
sehari-hari.
3) Mendorong klien berperilaku secara wajar.
b. Interdependent
Fungsi interdependent perawat adalah ”carried out in
conjunction with other health team members”. Tindakan perawat
berdasar pada kerja sama dengan tim perawatan atau tim kesehatan
lain. Fungsi ini dilaksanakan dengan pembentukan tim yang
dipimpin oleh seorang dokter. Dan anggota tim kesehatan lain
bekerja sesuai kompetensinya masing-masing. Contoh tindakannya
adalah melakukan kolaborasi rehabilitasi klien pengguna NAPZA,
dimana perawat bekerja dengan psikiater, social worker, ahli gizi
juga rohaniwan,
c. Dependent
Fungsi dependent perawat adalah “the activities perfomed
based on the physician’s order”. Dalam fungsi ini perawat bertindak
membantu dokter dalam meberikan pelayanan medik. Perawat
membantu dokter memberikan pelayanan pengobatan atau
pemberian psikofarmaka dan tindakan khusus yang menjadi
kewenangan dokter dan seharusnya dilakukan oleh dokter. Contoh
pada tindakan detoksifikasi NAPZA.
2. Peran Perawat

27
Peran perawat ini diterjemahkan dalam perannya sebagai provider,
edukator, advokator, dan role model.
a. Provider/Pelaksana
Peran ini menekankan kemampuan perawat sebagai penyedia
layanan keperawatan (praktisi). Perawat baik secara langsung
maupun tidak langsung memberikan asuhan keperawatan kepada
klien dengan ketergantungan obat-obatan terlarang baik secara
individu, keluarga, atau pun masyarakat. Peran ini biasanya
dilaksanakan oleh perawat di tatanan pelayanan seperti rumah sakit
khusus ketergantungan obat, unit pelayanan psikiatri, puskesmas
atau di masyarakat. Untuk mencapai peran ini seorang perawat harus
mempunyai kemampuan bekerja secara mandiri dan kolaborasi,
memiliki pengetahuan tentang ilmu dan kiat keperawatan,
mempunyai pengetahuan tentang NAPZA, keterampilan, sikap
empati dalam memberikan asuhan keperawatan. Dalam menjalankan
peran sebagai care giver, perawat menggunakan metode pemecahan
masalah dalam bentuk asuhan proses keperawatan untuk membantu
klien mengatasi masalah kesehatannya.
b. Edukator/Pendidik
Peran ini menekankan kepada tindakan promotif. Perawat
melakukan pendidikan kesehatan tentang NAPZA dan dampaknya
bagi kesehatan kepada klien baik individu, keluarga atau kelompok
yang berada di bawah tanggungjawabnya. Untuk melaksanakan
peran ini, perawat harus mempunyai keterampilan dalam hubungan
interpersonal yang efektif, mengetahui prinsip yang dianut oleh
klien, mempunyai kemampuan proses belajar dan mengajar dan
mempunyai pengetahuan yang cukup tentang NAPZA.
c. Advokat.
Hal yang tidak pernah disadari adalah pengguna NAPZA
sebenarnya ”korban”. Langkah saat ini dimana menempatkan
pengguna napza sebagai kriminal sebenarnya sangat tidak tepat,
karena sebenarnya yang dibutuhkan oleh pengguna NAPZA adalah

28
akses terhadap layanan-layanan yang dapat membantu mereka pulih
dari kecanduannya.
Di Indonesia saat ini sudah ada peraturan yang menyebutkan
bahwa pengguna napza dapat dikirim ke panti rehabilitasi untuk
menjalani perawatan sebagai ganti hukuman kurungan. Namun
sayangnya, semenjak peraturan tersebut berlaku tahun 1997 (UU
no.22 tahun 1997 tentang narkotika & UU no.5 tahun 1997 tentang
psikotropika). Belum banyak yang dikirim ke panti rehabilitasi atas
perintah hakim di pengadilan. Hal ini terjadi terutama karena masih
kurangnya batasan antara pengguna dan pengedar di dalam UU
Narkotika yang sekarang berlaku.
Disinilah perawat harus mengambil peranan sebagai protector
dan advocat. Peran ini dilaksanakan dengan berupaya melindungi
klien, mengupayakan terlaksananya hak dan kewajiban klien, selalu
“berbicara untuk pasien” dan menjadi penengah antara pasien
dengan orang lain, membantu dan mendukung klien dalam membuat
keputusan serta berpartisipasi dalam menyusun kebijakan kesehatan
terutama program rehabilitasi pengguna NAPZA.
d. Role model
Keperawatan merupakan sebuah profesi dimana masyarakat
memandang perawat sebagai seorang tokoh yang dihargai, diangga
orang yang paling banyak tahu tentang kesehatan. Hal ini
menjadikan seorang perawat terikat oleh kode etik profesi dalam
menjalankanperannya baik di tatanan pelayanan maupun di
kehidupan sosial masyarakat. Adalah suatu keharusan sebagai
seorang perawat memberikan contoh hidup yang sehat.
Namun tanpa disadari perawat merupakan salah satu profesi
yang berpotensi tinggi mendorong seorang perawat menjadi
pengguna NAPZA. Hal ini karena pengetahuan yang dimilikinya
tentang obat-obatan dan kesempatan terbuka terhadap akses layanan
obat-obatan di tatanan pelayanan. Untuk itu diperlukan jiwa yang
kuat agar perawat terhindar dari mapraktik yang menjurus kepada

29
penyalahgunaan NAPZA. Hal ini mengingat masayarakat akan
memandang perawat adalah orang yang seharusnya bersih dari
segala kemungkinan terjadinya gangguan kesehatan.

2.10 Masalah Yang Sering Timbul


1. Ancaman kehidupan (kondisi overdosis)
a. Tidak efektifnya jalan napas (depresi system pernapasan) b
erhubungan dengan intoksikasi opioida, sedative hipnotik, alkohol.
b. Gangguan kesadaran berhubungan dengan intoksikasi sedat
ive hipnotik, alkohol
c. Gangguan keseimbangan cairan elektrolit berhubungan den
gan delirium tremens (putus zat alkohol)
d. Amuk berhubungan dengan intoksikasi sedative hipnotik
e. Potensial melukai diri/lingkungan berhubugan dengan intok
sikasi alkohol, sedative hipnotik
f. Potensial merusak diri/bunuh diri berhubungan dengan putus zat M
DMA (ekstasi).

2. Kondisi intoksikasi
a. Cemas berhubungan dengan intoksikasi ganja
b. Perilaku agresif berhubungan dengan intoksikasi sedative hi
pnotik, alkohol
c. Gangguan komunikasi verbal berhubugan dengan intoksika
si sedative hipnotik, alkohol, opionida
d. Gangguan kognitif berhubungan dengan intoksikasi sedativ
e hipnotik, alkohol, kanabis, opioida
e. Gangguan rasa nyaman, seperti mual/muntah berhubungan
dengan intoksikasi MDMA (ekstasi)
3. Sindroma putus zat (withdrawal)
a. Kejang berhubungan dengan putus zat alkohol, sedative hip
notik

30
b. Gangguan persepsi (halusinansi) berhubungan dengan putu
s zat alkohol, sedative hipnotik
c. Gangguan proses berpikir (waham) berhubungan dengan pu
tus zat alkohol, sedative hipnotik
d. Gangguan tidur (insomnia, hypersomnia) berhubungan den
gan putus zat alkohol, sedative hipnotik opioida, MDMA (ekstasi)
e. Gangguan rasa nyaman (mual, muntah) berhubugan dengan
putus zat alkohol, sedative hipnotik, opioida
f. Gangguan rasa nyaman (nyeri sendi, otot, tulang) berhubungan den
gan putus zat opioida.
g. Gangguan afektif (depresi) berhubungan dengan putus zat
MDMA (ekstesi)
h. Perilaku manipulative berhubungan dengan putus zat opioid
a
i. Terputusnya program perawatan (melarikan diri, pulang paksa) ber
hubungan dengan kurangnya system dukungan keluarga
j. Cemas (keluarga) berhubungan dengan kurangnya pengetahuan da
lam merawat pasien ketergantungan zat adiktif
k. Potensial gangguan nutrisi (kurang dari kebutuhan) berhubu
ngan dengan putus zat opioida.

4. Pascadetoksikasi (Rehabilitasi)
a. Gangguan pemusata perhatian berhubungan dengan dampa
k penggunaan zat adiktif
b. Gangguan kegiatan hidup sehari-hari (activity daily life-AD
L) berhubungan dengan dampak penggunaan zat adiktif
c. Pemecahan masalah yang tidak efektif berhubungan dengan
kurang pengetahuan, pola asuh yang salah, dan tidak mampu asertif
d. Gangguan konsep diri (harga diri rendah) berhubungan den
gan pemecahan masalah yang tidak adekuat sehingga melakukan pen
gguanaan zat adiktif

31
e. Potensial melarikan diri berhubungan dengan ketergantunga
n psikologis ganja dan alkohol

32
Potensial kambuh (relaps) berhubungan dengan kurang/tidak adanya system duku
ngan keluarga.BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Masalah penyalahgunaan narkoba / NAPZA khususnya pada remaja
adalah ancaman yang sangat mencemasakan bagi keluaga khususnya dan bagi
bangsa dan negara pada umumnya. Pengaruh narkoba sangatlah buruk, baik
dari segi kesehatan, maupun dampak sosial yang ditimbulkan.
Secara garis besar faktor yang menyebabkan terjadianya
penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja terdiri dari faktor internal dan
faktor eksternal yakni yang berasal dari dalam diri sendiri baik yang berasal
dari lingkungan.
Masalah pencegahan penggunaan narkoba bukanlah menjadi tugas
dari sekelompok orang saja, melainkan menjadi tugas kita bersama. Upaya
pencegahan penyarahgunaan narkoba yang dilakukan sejak dini sangatlah
baik, tentunya dengan pengetahuan yang cukup tentang penganggulangan
tersebut.
Peran orang tua dalam keluarga dan juga pendidik di sekolah
sangatlah besar bagi pencegahan penanggulangan terhadap narkoba.

3.2 Saran
Dalam mencegah penyalahgunaan narkoba pihak yang bertanggung
jawab bukan hanya pemerintah penegak hukum ataupun pelayanan kesehata
saja namun diharapkam peran orang tua dalam mengawasi dan membimbing
anggota keluarganya harus lebih baik, serta lebih meluangkan waktunya untuk
selalu berada disisi anak-anaknya dalam kondisi apapun, sehingga remaja
tidak terjerumus melakukan hal-hal yang menyimpang
33 terutama melakukan
penyalahgunaan narkoba.
Selain itu masyarakat hendaknya melakukan kegiatan yang positif dan
berguna agar remaja tidak terlibat dalam kasus penyalahgunaan narkoba serta
memperdalam iman dan taqwa guna ketahanan diri dari dalam menghadapi
dan memecahkan permasalahan hidup.

34
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan. 2002. Keputusan Menteri Kesehatan RI Tentang


Pedoman Penyalahgunaan Sarana Pelayanan Rehabilitasi
Penyalahgunaan dan Ketergantungan Narkotika, Psikotropika dan Zat
Adiktif Lainnya (Napza). Jakarta
Hawari, D. 2000. Penyalahgunaan dan Ketergantungan Naza (Narkotika, alkohol
dan zat adiktif). FKUI: Jakarta

35