Anda di halaman 1dari 10

Prosiding Seminar Nasional Kulit, Karet dan Plastik Ke-5 ISSN : 2477-3298

Yogyakarta, 26 Oktober 2016

KAJIAN SPESIFIKASI TEKNIS DAN METODE UJI BANTALAN KARET (ELASTOMER)


UNTUK PERLETAKAN JEMBATAN

Ike Setyorini1,* dan Emy Sulistyo Astuti1


1
Balai Besar Kulit, Karet, dan Plastik
*E-mail: ike-setyorini@kemenperin.go.id

ABSTRAK

Tujuan dalam penulisan ini adalah untuk mengkaji dokumen SNI 3967:2013 Spesifikasi dan Metode Uji
Bantalan Karet (Elastomer) untuk Perletakan Jembatan dibandingkan dengan ISO 6446:1994 Rubber
products – Bridge bearings – Specification for Rubber Materials. Kajian ini dilakukan melalui studi literatur,
deskriptif analitis, dan komparatif terhadap spesifikasi dan metode uji dalam standar yang terkait.
Kesimpulan dari kajian ini adalah standar spesifikasi dan metode uji bantalan karet (elastomer) untuk
perletakan jembatan menurut SNI 3967:2013 perlu dikaji ulang terkait persyaratan wajib maupun
tambahan dan metode uji termutakhir yang digunakan baik SNI/SNI ISO maupun ISO.

Kata kunci: elastomer bantalan jembatan, spesifikasi, metode uji, SNI, ISO

Kajian Spesifikasi Teknis dan Metode Uji Bantalan Karet (Elastomer) untuk Perletakan Jembatan 197
ISSN : 2477-3298 Prosiding Seminar Nasional Kulit, Karet, dan Plastik Ke-5
Yogyakarta, 26 Oktober 2016

SPECIFICATIONS AND TEST METHODS RUBBER PADS (ELASTOMER) FOR BRIDGE


BEARINGS: A REVIEW

Ike Setyorini1,* dan Emy Sulistyo Astuti1


1
Center for Leather, Rubber and Plastics
*E-mail: ike-setyorini@kemenperin.go.id

ABSTRACT

The objective is to review SNI 3967:2013 Spesification for Plain and Laminated Elastomeric Bridge Bearings
compare with ISO 6446:1994 Rubber products – Bridge bearings – Specification for rubber materials. The
study was conducted through literature studies, descriptive and comparative to the specifications and test
methods in the relevant standards. The conclusion of this review is the standard specifications and test
methods rubber pads (elastomer) for bridge bearings according to SNI 3967: 2013 should be reviewed for
additional relevant statutory requirements and test methods are used in both the latest SNI / SNI ISO and
ISO.

Keywords: elastomer bridge bearing, spesifications, test methods, SNI, ISO

198 Kajian Spesifikasi Teknis dan Metode Uji Bantalan Karet (Elastomer) untuk Perletakan Jembatan
Prosiding Seminar Nasional Kulit, Karet dan Plastik Ke-5 ISSN : 2477-3298
Yogyakarta, 26 Oktober 2016

PENDAHULUAN
Jalan merupakan penghubung antar daerah yang mendukung seluruh mobilitas manusia. Sarana ini
mendukung kemajuan penyelenggaraan pemerintahan, sosial budaya, ekonomi dan pertahanan. Indonesia
merupakan negara dengan wilayah yang luas, memiliki banyak sungai dan kontur pegunungan sehingga
pembangunan infrastruktur jalan merupakan salah satu program utama pemerintah. Jembatan merupakan
salah satu bangunan pelengkap jalan yang penting. Jembatan secara umum adalah suatu konstruksi yang
berfungsi untuk menghubungkan dua bagian jalan yang terputus oleh adanya rintangan-rintangan seperti
lembah yang dalam, alur sungai, danau, saluran irigasi, jalan kereta api, jalan raya yang melintang tidak
sebidang dan lain-lain (Supriyadi dan Muntohar, 2000). Karena pentingnya fungsi jembatan, maka jembatan
harus mempunyai sistem konstruksi yang kuat dan tahan lama, serta tidak mudah rusak. Penggunaan
bantalan karet (elastomer) untuk perletakan jembatan merupakan bagian yang penting dalam konstruksi
suatu jembatan.
Bantalan karet (elastomer) untuk perletakan jembatan merupakan sebuah blok karet yang tervulkanisasi
dengan atau tanpa penguat internal yang ditempatkan di antara dek jembatan dan pilar jembatan dengan
tujuan untuk mengakomodir gerakan yang berpotensi bahaya dari dek jembatan sebagai akibat dari
ekspansi atau konstraksi panas, akibat dari lalu lintas, angin, maupun sebab lain (ISO 6446:1994). Fungsi
bantalan karet (elastomer) untuk perletakan jembatan adalah sebagai bantalan bagian jembatan yang
memiliki tugas untuk mentransfer tegangan dari struktur bagian atas jembatan ke struktur bagian bawah
jembatan yang dapat memberikan pergerakan pada bagian atas struktur jembatan. Bantalan karet
(elastomer) untuk perletakan jembatan juga berfungsi untuk mengakomodasi pergerakan translational dan
rotasional (Kaczinski, 2012).
Kualitas bantalan karet (elastomer) untuk perletakan jembatan sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat
elastomer dan bahan-bahan aditif yang digunakan agar diperoleh vulkanisat yang memenuhi persyaratan
standar yang telah ditentukan. Elastomer yang umum digunakan sebagai bantalan jembatan yaitu
polychloroprene (neoprene) dan natural rubber (karet alam). Ada 2 (dua) tipe bantalan jembatan yaitu
bantalan polos dan bantalan laminasi (karet dengan lapisan pelat baja atau fabric). Lapisan baja atau fabric
dilekatkan pada elastomer dan berfungsi untuk membantu menahan beban. Pemilihan material karet dan
baja sebagai bantalan jembatan berdasarkan sifat-sifat yang menguntungkan dari material tersebut. Karet
memiliki elastisitas yang tinggi sehingga ketika diberi tegangan tarik dan tegangan tarik tersebut
dihilangkan akan kembali ke bentuk semula. Karet juga memiliki kuat tarik dan kemuluran yang baik. Karet
dapat dianggap sebagai perangkat penyimpanan energi, mengubah kinetika energi dan menyimpannya
sebagai energi potensial, dan dengan demikian mampu menyimpan energi 150 kali lebih dari baja. Karet
dapat ditekan dengan energi tertentu menjadi lebih padat, sehingga dengan berat tertentu dapat memiliki
volume yang lebih kecil, memudahkan dalam transportasi. Karet dapat diatur sifat kekerasan, ketahanan
terhadap panas dan cuaca (ozon) dengan menambahkan bahan pengisi ataupun bahan aditif tertentu
dalam proses komponding. Dan yang lebih penting karet tidak bersifat korosif seperti baja sehingga dalam
aplikasinya sebagai bantalan jembatan tidak memerlukan perawatan khusus (Ciesielski, 2000).
Karet alam memiliki sifat yang lebih baik dari neoprene, yaitu neoprene terbukti lebih cepat menjadi kaku
secara signifikan dalam periode sekitar sepuluh tahun. Karet alam juga tahan terhadap suhu yang sangat
dingin sehingga dapat diaplikasikan pada daerah bersalju. Neoprene memiliki kuat tarik yang tinggi seperti
karet alam tetapi memiliki ketahanan yang lebih baik terhadap ozon dan cuaca (Chen, R, 1995). Produsen
bantalan jembatan mengevaluasi bahan yang digunakan berdasarkan kekerasan Shore A, tetapi parameter
ini bukan sebagai indikator terhadap nilai modulus geser. Menurut United States Steel Corporation (2007)
persyaratan teknis untuk bantalan karet (elastomer) untuk perletakan jembatan adalah sebagai berikut:
kekerasan 60 ± 5 shore A dan nilai modulus geser pada kisaran 0,55 – 1,25 Mpa (80-180 Psi).

Kajian Spesifikasi Teknis dan Metode Uji Bantalan Karet (Elastomer) untuk Perletakan Jembatan 199
ISSN : 2477-3298 Prosiding Seminar Nasional Kulit, Karet, dan Plastik Ke-5
Yogyakarta, 26 Oktober 2016

Standar Nasional Indonesia (SNI) yang telah ada dalam rangka menjamin kualitas bantalan karet
(elastomer) untuk peletakan jembatan dan berstatus valid, tercantum dalam Senarai BSN tahun 2014 kode
93.040: Konstruksi Jembatan yaitu SNI 3967:2013- Spesifikasi dan Metode Uji Bantalan Karet (Elastomer)
untuk Peletakan Jembatan; SNI 3966:2012- Cara Uji Kekakuan Tekan dan Kekakuan Geser Bantalan Karet
Jembatan; SNI 03-4816-1998- Spesifikasi Bantalan Karet untuk Perletakan Jembatan dan SNI 3045:1992-
Bantalan Karet Jembatan.
SNI 3967:2013 memuat spesifikasi dan metode uji bantalan karet (elastomer) tipe polos dan tipe berlapis
untuk perletakan jembatan. SNI 3967:2013 merupakan revisi dari SNI 3967:2008 untuk mengacu pada
AASHTO M251-06 Standard Spesification for Plain and Laminated Elastomeric Bridge Bearing, yang sudah
mengalami penyesuaian-penyesuaian dengan standar-standar terkait dan kondisi di Indonesia. SNI produk ini
masih bersifat sukarela dan belum diberlakukan sebagai SNI wajib. Akan tetapi apabila untuk kepentingan
ekspor terutama ke negara-negara empat musim, standar ini belum memuat parameter pengujian pada suhu
rendah. Produk bantalan karet (elastomer) untuk perletakan jembatan juga merupakan salah satu produk
yang dibahas sebagai isue harmonisasi standar produk di antara negara-negara ASEAN dengan standar ISO.
Standar ISO yang masih valid untuk bantalan jembatan adalah ISO 6446:1994 Rubber products – Bridge
bearings – Specification for rubber materials. Dalam suatu dokumen standar, metode uji yang diacu perlu
dimutakhirkan sesuai dengan dokumen yang masih valid. Tujuan dalam penulisan ini adalah untuk mengkaji
spesifikasi dan metode uji bantalan karet (elastomer) untuk perletakan jembatan dalam SNI 3967:2013
dibandingkan dengan ISO 6446:1994 melalui studi literatur, deskriptif analitis, dan komparatif.

PEMBAHASAN KAJIAN
Berdasarkan kajian terhadap dokumen SNI 3967:2013 dan ISO 6446:1994 dihasilkan kelompok data
spesifikasi mutu dan metode uji yang digunakan masing-masing standar pada Tabel 1. Pada kedua standar
ini spesifikasi produk bantalan karet berdasarkan jenis elastomer yang digunakan yaitu karet alam (NR) dan
karet sintetis (neoprene). Pada ISO 6446:1994 juga disertakan spesifikasi untuk karet sintetis yang berbeda
yaitu jenis EPDM, Isobutene-isoprene copolymer (IIR), dan Chloro- Isobutene-isoprene (CIIR) pada Tabel 2.
Perbedaan yang mendasar pada SNI 3967:2013 dan ISO 6446:1994 adalah penentuan persyaratan wajib dan
persyaratan tambahan (optional) produk bantalan karet (elastomer) untuk perletakan jembatan yang
ditunjukkan pada Tabel 1. Terdapat 4 (empat) persyaratan wajib pada dokumen SNI 3967:2013 yaitu kekerasan,
modulus geser minimum, kekuatan tarik minimum dan perpanjangan ultimit (putus) minimum. Persyaratan fisik
lainnya merupakan persyaratan tambahan. Sedangkan dalam dokumen ISO 6446:1994 persyaratan tambahan
yaitu parameter kekuatan sobek minimum dan penentuan retakan pada saat diberi beban tekan.
Masing-masing jenis elastomer dibedakan menjadi 3 (tiga) kelompok kekerasan. Spesifikasi SNI 3967:2013
menentukan spesifikasi 50, 60, dan 70 Shore A dengan metode uji SNI 06-4999-1999, sedangkan ISO 6446:1994
menentukan spesifikasi 50, 60, 70 IRHD (International Rubber Hardness Degree) dengan metode uji ISO 48.
Indonesia mempunyai standar penentuan kekerasan karet termutakhir yaitu SNI ISO 48:2012 (IDT-2010).
Parameter kekuatan tarik dan perpanjangan putus bantalan karet pada SNI 3967:2013 menggunakan
metode uji SNI 06-4966-1999. Saat ini telah terbit SNI ISO 37:2011 (IDT-2005), sedangkan ISO 37:2005 telah
direvisi menjadi ISO 37:2011.
Metode uji yang digunakan pada penentuan ketahanan pengusangan dipercepat bantalan karet SNI 3967:2013
yaitu SNI 06-6315-2000, sedangkan BSN telah menerbitkan standar termutakhir yaitu SNI ISO 188:2012 (IDT-2011).
Pada SNI 3967:2013 parameter pampat tetap setelah 22 jam pada 70oC menggunakan acuan metode uji SNI
06-4889-1998, BSN sudah menerbitkan SNI ISO 815-1:2011 (IDT-2008) dan ISO 815 sudah direvisi menjadi
ISO 815:2014.

200 Kajian Spesifikasi Teknis dan Metode Uji Bantalan Karet (Elastomer) untuk Perletakan Jembatan
Prosiding Seminar Nasional Kulit, Karet dan Plastik Ke-5 ISSN : 2477-3298
Yogyakarta, 26 Oktober 2016
Tabel 1. Persyaratan Mutu dan Acuan Metode Uji Bantalan Karet Jembatan pada SNI 3967:2013 dan ISO 6446:1994

No Parameter uji Satuan SNI 3967 : 2013 Standar uji ISO 6446 : 1994
Karet Alam Karet Sintetis Karet Alam Karet Sintetis Standar uji
Nominal kekerasan (Shore A) Nominal kekerasan (IRHD) (ISO)
50 60 70 50 60 70 50 60 70 50 60 70
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
I Persyaratan Wajib
1 Toleransi kekerasan (maks) *) ±5 ±5 ±5 ±5 ±5 ±5 SNI 06 – 4999 – ±5 ±5 ±5 ±5 ±5 ±5 ISO 48 : 2010
1999
2 Modulus geser (min) *) MPa 0,55 0,55 SNI 06 – 4966 – 0,65 1,00 1,35 0,65 1,00 1,35 ISO 1827 :
3 Toleransi modulus geser MPa - - - - - - 1999 ± 15 ± 15 ± 15 ± 15 ± 15 ± 15 2011
(maks), % [ASTM D412-06a
(2013)]
4 Kekuatan tarik (min) *) MPa 15,5 15,5 15,5 15,5 15,5 15,5 SNI 06 – 4966 – 15,5 15,5 15,5 13,5 13,5 13,5 ISO 37 : 2010
1999
5 Perpanjangan putus (min), % - 450 400 300 400 350 300 SNI 06 – 4966 – 450 400 300 400 400 300 ISO 37 : 2010
*) 1999
6 Ketahanan pengusangan dipercepat
6.1 Waktu pengusangan Jam 168 168 168 70 70 70 SNI 06 – 6315 – 168 168 168 70 70 70 ISO 188 :
dipercepat 2000 2011
6.2 Temperatur pengusangan °C 70 70 70 100 100 100 70 70 70 100 100 100
dipercepat
+15 +15 +15
6.3 Perubahan nilai kekerasan IRHD +10 +10 +10 +15 +15 +15 SNI 06 – 4999 – ±10 ±10 ±10 −3 −3 −3 ISO 48 : 2010
dibandingkan dengan 1999
sebelum pengusangan
dipercepat (maks)
6.4 Perubahaan nilai kuat tarik - -25 -25 -25 -15 -15 -15 SNI 06 – 4966 – -15 -15 -15 -15 -15 -15 ISO 37 : 2010
dibandingkan dengan 1999
sebelum pengusangan
dipercepat (maks), %
6.5 Perubahan nilai perpanjangan - -25 -25 -25 -40 -40 -40 SNI 06 – 4966 – -20 -20 -20 -40 -40 -40 ISO 37 : 2010
putus dibandingkan dengan 1999
sebelum pengusangan
dipercepat (maks), %
7 Pampat tetap setelah 22 jam - 25 25 25 35 35 35 SNI 06 – 4889 – 30 30 30 20 20 20 ISO 815-1 :
pada 70 °C (maks), % 1998 2014

Kajian Spesifikasi Teknis dan Metode Uji Bantalan Karet (Elastomer) untuk Perletakan Jembatan 201
ISSN : 2477-3298 Prosiding Seminar Nasional Kulit, Karet, dan Plastik Ke-5
Yogyakarta, 26 Oktober 2016
Tabel 1. Persyaratan Mutu dan Acuan Metode Uji Bantalan Karet Jembatan pada SNI 3967:2013 dan ISO 6446:1994 (lanjutan)

No Parameter uji Satuan SNI 3967 : 2013 Standa ISO 6446 : 1994
Karet Alam Karet Sintetis ruji KaretAlam KaretSintetis Standaruji
Normal kekerasan (IRHD) Nominal kekerasan (IRHD) (ISO)
50 60 70 50 60 70 50 60 70 50 60 70
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) (17)
8 Kekuatan rekat
8.1 Kekuatan reka tantara lapisan MPa 6,9 6,9 6,9 6,9 6,9 6,9 SNI 06 7 7 7 7 7 7 ISO 813 :
karet dengan pelat metal (min) – 4892 2010
8.2 Kekuatan rekat antara lapisan 5,2 5,2 5,2 5,2 5,2 – 1998 ISO 36 :
karet dengan pelat fabric (min) 5,2 2011
9 Ketahanan ozon
9.1 Konsentrasi pengozonan Pphm 25 25 25 100 100 100 SNI 06 25 | 25 | 25 | 25 | 25 | 25 | ISO 1431-1 :
– 4894 50 50 50 50 50 50 2012
9.2 Temperatur pengozonan °C 37,7 37,7 37,7 37,7 37,7 37,7 – 1998 40 40 40 40 40 40
9.2 Waktu pengozonan Jam 48 48 48 100 100 100 96 96 96 96 96 96
9.3 Regangan 20 % - Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak Tidak
retak retak retak retak retak retak retak retak retak retak retak retak

10 Low-temperature brittleness, - - - - - - - - No No No No No No ISO


grade 3,4,5 failur failur failur failur failur failur 812:2011
es es es es es es

11 Low-temperature hardness, - - - - - - - - 15 15 15 15 15 15 ISO 48:2010


grade 2-5, maximum increase
II PersyaratanTambahan
1 Kekuatan sobek (min) MPa - - - - - - - 6 6 6 6 6 6 ISO 34-1 :
2010
2 Determination of creep in - - - - - - - - No No No No No No ISO 8013 :
compression or shear (maks) failur failur failur failur failur failur 2011
es es es es es es
*) persyaratan wajib pada dokumen SNI 3967:2013

202 Kajian Spesifikasi Teknis dan Metode Uji Bantalan Karet (Elastomer) untuk Perletakan Jembatan
Prosiding Seminar Nasional Kulit, Karet dan Plastik Ke-5 ISSN : 2477-3298
Yogyakarta, 26 Oktober 2016

Pada penentuan parameter kekuatan rekat antara lapisan karet dengan bahan laminasi baik pelat baja
maupun fabric di SNI 3967:2013 menggunakan SNI 06-4892-1998. SNI ini mengacu pada ISO 813:1986
sedangkan standar ISO sudah terbit baru ISO 813:210. Sedangkan metode uji penentuan kuat rekat
bantalan karet jembatan dengan bahan laminasi menurut ISO 6446:1994 mengacu pada ISO 813 untuk
bahan laminasi pelat logam dan ISO 36 untuk bahan laminasi fabric.
Penentuan parameter ketahanan ozon meliputi konsentrasi, temperatur, waktu, dan regangan pada SNI 06-
4894-1998 mengacu pada ISO 1431-1-1989, sedangkan saat ini sudah terbit SNI ISO 1431-1:2012 (IDT-2012).
Untuk persyaratan kerapuhan dan pertambahan kekerasan pada berbagai suhu dingin diatur dalam ISO
6446:1994 sedangkan pada SNI 3967 tidak dipersyaratkan. Hal ini disesuaikan dengan kondisi iklim di
Indonesia. Akan tetapi jika untuk persyaratan mutu ekspor seharusnya dicantumkan pada parameter uji
namun dengan penandaan khusus boleh tidak dilakukan pengujian disesuaikan dengan kebutuhan.
Untuk bahan polimer alternatif yang disebutkan dalam ISO 6446:1994 dengan spesifikasi tertentu disajikan
pada tabel 2.

Tabel 2. Persyaratan Bahan Polimer Alternatif dalam ISO 6446:1994

No Parameter uji Satuan ISO 6446 : 1994 StandarUji


KaretSintetis (ISO)
EPDM IIR CIIR
Rentangkekerasan (IRHD)
60 – 75 55 – 65 55 – 65
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)
I PersyaratanWajib
1 Kekuatantarik (min) Mpa 15 16,5 16,5 ISO 37 : 2010
2 Perpanjanganputus
2.1 Pada 55 IRHD (min), % - - 600 500 ISO 37 : 2010
2.2 Pada 60 IRHD (min), % - 400 550 450 ISO 37 : 2010
2.3 Pada 65 IRHD (min), % - 350 550 400 ISO 37 : 2010
2.4 Pada 70 IRHD (min), % - 300 - - ISO 37 : 2010
3 Pampat tetap setelah 22 jam - 25 25 20 ISO 815-1 :
pada 70 °C (maks), % 2014
4 Ketahanan pengusangan dipercepat
4.1 Waktupengusangandipercepa Jam 70 70 70 ISO 188 : 2011
t
4.2 Temperaturpengusangandipe °C 100 100 100
rcepat
4.3 Perubahan nilai kekerasan IRHD ±10 ±10 ±10 ISO 48 : 2010
dibandingkan dengan
sebelum pengusangan
dipercepat (maks)
4.4 Perubahaan nilai kuat tarik - -15 -15 -15 ISO 37 : 2010
dibandingkan dengan
sebelum pengusangan
dipercepat (maks), %
4.5 Perubahan nilai perpanjangan - -40 -40 -40 ISO 37 : 2010
putus dibandingkan dengan
sebelum pengusangan
dipercepat (maks), %

Kajian Spesifikasi Teknis dan Metode Uji Bantalan Karet (Elastomer) untuk Perletakan Jembatan 203
ISSN : 2477-3298 Prosiding Seminar Nasional Kulit, Karet, dan Plastik Ke-5
Yogyakarta, 26 Oktober 2016

KESIMPULAN
Standar spesifikasi dan metode uji bantalan karet (elastomer) untuk perletakan jembatan menurut SNI
3967:2013 perlu direvisi dengan mengkaji metode uji dan diselaraskan dengan standar termutakhir yang
masih valid. Persyaratan teknis pada SNI 3967:2013 perlu dikaji ulang terkait jenis karet yang digunakan,
apakah dikhususkan untuk karet alam dan neoprene atau jenis polimer alternatif yang disebutkan dalam
ISO 6446:1994 yaitu EPDM, IIR, dan CIIR. Parameter yang dipersyaratkan diuji pada suhu dingin (kekuatan
sobek, penentuan retaan, kerapuhan, dan kekerasahan) perlu ditambahkan untuk mengantisipasi
keperluan ekspor.

UCAPAN TERIMA KASIH


 Seksi Standarisasi Balai Besar Kulit, Karet, dan Plastik (BBKKP) Yogyakarta
 Laboratorium Pengujian Komoditi Kulit, Karet, Plastik dan Sepatu BBKKP Yogyakarta

DAFTAR PUSTAKA
Supriyadi, B., & Muntohar, A.S.(2000). Jembatan.Beta Offset.Indonesia: Yogyakarta
Kaczinski, M.(2012). Steel Bridge Design Handbook: Bearing Design. HDR Engineering, Inc. Pittsburg
Ciesielski, A., 2000, An Introduction A Rubber Technology, Rapra Technology Limited, United Kingdom
Chen, R., and Yura, J.(1995). Wax Buil Up on the Surfaces of Natural Rubber Bridge Bearing. Texas Departement of
Transportation Research and Technology
United States Steel Corporation.(2007). Highway Structures Design Handbook, Michigan Univercity. United States
International Standard Organization. ISO 34-1.(2010) Rubber, vulcanized or thermoplastic - Determination of tear
strength - Part 1: Trouser, angle and crescent test pieces.
International Standard Organization. (2011). ISO 36: Rubber, vulcanized or thermoplastic - Determination of adhesion
to textile fabrics;
International Standard Organization. (2011). ISO 37: Rubber, vulcanized or thermoplastic - Determination of tensile
stress-strain properties;
International Standard Organization. (2010). ISO 48: Rubber, vulcanized or thermoplastic - Determination of hardness
(hardness between 10 IRHD and 100 IRHD);
International Standard Organization. 2011). ISO 188: (Rubber, vulcanized or thermoplastic - Accelerated ageing and
heat resistance tests;
International Standard Organization. (2011). ISO 812: Rubber, vulcanized or thermoplastic - Determination of low-
temperature brittleness;
International Standard Organization. (2010). ISO 813: Rubber, vulcanized or thermoplastic - Determination of adhesion
to a rigid substrate - 90 degree peel method;
International Standard Organization. (2014). ISO 815-1: Rubber, vulcanized or thermoplastic - Determination of
compression set - Part 1: At ambient or elevated temperatures;
International Standard Organization. (2012). ISO 1431-1: Rubber, vulcanized or thermoplastic - Resistance to ozone
cracking - Part 1: Static and dynamic strain testing;
International Standard Organization. (2011). ISO 1827: Rubber, vulcanized or thermoplastic - Determination of shear
modulus and adhesion to rigid plates - Quadruple-shear methods;
International Standard Organization. (1994). ISO 6446: Rubber products – Bridge bearing – Specification for rubber
materials;
International Standard Organization. (2012). ISO 8013: Rubber, vulcanized - Determination of creep in compression or
shear;

204 Kajian Spesifikasi Teknis dan Metode Uji Bantalan Karet (Elastomer) untuk Perletakan Jembatan
Prosiding Seminar Nasional Kulit, Karet dan Plastik Ke-5 ISSN : 2477-3298
Yogyakarta, 26 Oktober 2016

Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2013). SNI 3967 : Spesifikasi bantalan elastomer tipe polos dan tipe berlapis
untuk perletakan jembatan. Indonesia: Jakarta
Badan Standardisasi Nasional (BSN). (1999). SNI 06 – 4999: Penentuan Kekerasan karet vulkanisat dengan
menggunakan durometer shore. Indonesia: Jakarta
Badan Standardisasi Nasional (BSN). (1999). SNI 06 – 4966: Penentuan sifat-sifat tegangan dan tegangan dari karet
vulkanisat dan karet termoplastik. Indonesia: Jakarta
Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2000). SNI 06 – 6315 :Pengujian keusangan yang dipercepat atauketahanan
panas dari karet vulkanisat. Indonesia: Jakarta
Badan Standardisasi Nasional (BSN). (1998). SNI 06 – 4889: Penentuan pampatan tetap karet vulkanisat atau karet
termoplastik. Indonesia: Jakarta
Badan Standardisasi Nasional (BSN). (1998). SNI 06 – 4892: Penentuankuat rekat antara logam dengan karet vulkanisat
– Metode satu pelat. Indonesia: Jakarta
Badan Standardisasi Nasional (BSN). (1994). SNI 06 – 4894: Ketahanan karet vulkanisat atau karet termoplastik
terhadap keretakan oleh ozon (uji peregangan statik). Indonesia: Jakarta
Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2010). SNI ISO 37 :Karet, vulkanisatatautermoplastik – Penentuansifat-
sifattegangan-regangan. Indonesia: Jakarta
Badan Standardisasi Nasional (BSN). (2012). SNI ISO 48: Karet, vulkanisat atau termoplastik – Penentuan kekerasan
(kekerasan antara IRHD 10 dan IRHD 100). Indonesia: Jakarta
Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2011. SNI ISO 815-1 : Karet, vulkanisat atau termoplastik – Penentuan pampatan
tetap - Bagian 1 : Pada suhu kamar dan suhu yang dinaikkan. Indonesia: Jakarta
Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2010. SNI ISO 188 : Karet, vulkanisat atau termoplastik – Pengujian keusangan
yang dipercepat dan ketahanan panas. Indonesia: Jakarta
Badan Standardisasi Nasional (BSN). 2012. SNI ISO 1431-1 : Karet, vulknisat atau termoplastik – Ketahanan retak
terhadap ozon - Bagian 1: Pengujian regangan statis dan dinamis. Indonesia: Jakarta

Kajian Spesifikasi Teknis dan Metode Uji Bantalan Karet (Elastomer) untuk Perletakan Jembatan 205
ISSN : 2477-3298 Prosiding Seminar Nasional Kulit, Karet, dan Plastik Ke-5
Yogyakarta, 26 Oktober 2016

206 Kajian Spesifikasi Teknis dan Metode Uji Bantalan Karet (Elastomer) untuk Perletakan Jembatan