Anda di halaman 1dari 23

SYARAT – SYARAT TEKNIS

1. Uraian Pekerjaan 1.1 Pekerjaan yang akan dilaksanakan yaitu


Pembangunan Kantor Desa Engkersik Kecamatan
Sekadau Hilir Kabupaten Sekadau Propinsi
Kalimantan Barat.

1.2. Sarana Kerja


Untuk kelancaran pelaksanaan pekerjaan, kontraktor
harus menyediakan :

a. Tenaga kerja / Tenaga yang cukup memadai


dengan jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan.
b. Alat – alat bantu Pompa Air alat – alat pengangkut
dan peralatan lainnya yang dipergunakan untuk
kelancaran pekerjaan.
c. Penyediaan Bahan – bahan bangunan dalam
jumlah yang cukup untuk setiap pekerjaan yang
akan dilaksanakan tepat pada waktunya.

1.3. Cara Pelaksanaannya

Pekerjaan harus dilaksanakan dengan penuh dengan


keahlian, sesuai dengan ketentuan – ketentuan dengan
Rencana Kerja dan Syarat – syarat (RKS). Gambar
Rencana, Berita Acara Penjelasan serta mengikuti
petunjuk dan keputusan Konsultan Pengawas.

Jenis dan Mutu bahan yang digunakan dari Produlsi dalam


2. Jenis dan Mutu Bahan negeri sesuai dengan keputusan Menteri Perdagangan dan
Koperasi, Menteri Perindustrian dan Menteri Penerangan.

 Nomor : 472/KAB/XII/1990
 Nomor : 813/menpen/1980
 Nomor : 064/MENPEN/1980
 Tanggal : 23 Desember 1980

3.1. Dalam melaksanakan pekerjaan, kecuali bila ditentukan


3. Peraturan Teknis lain dalam Rencana Kerja dan Syarat – syarat (RKS) ini,
Pembangunan yang berlaku dan mengikat ketentuan – ketentuan dibawah ini
digunakan termasuk segala perubahan dan tambahan yaitu sebagai
berikut :

a. Peppres No.4 Tahun 2015 dengan lampirannya.


b. Peppres No.70 Tahun 2012 dengan lampiran –
lampirannya beserta perubhannya.
c. Peppres No. 54 tahun 2010 dengan lampiran –
lampirannya beserta perubahannya.
d. Peraturan umum tentang Pelaksanaan Pembangunan
1
di Indonesia atau Algement Voorwaarden Voor De Uit
Voering Bij Aanneming Va Openbare Warken (AV)
1941.
c. Keputusan – keputusan dai majeli Indonesia untuk
Abritasi Teknik Pembangunan Indonesia (DTPI).
d. Peraturan Beton Bertulang Indonesia (PBBI).
e. Peraturan Umum tentang Peraturan Instalasi Listrik
(PUIL) 1979 dan PLN setempat.
f. Peraturan Umum dan Dinas Keselamatan Kerja
Departemen Tenaga Kerja.
g. Peraturan Kontruksi Kayu Indonesia ( PKKI) 1961.
h. Peraturan Sement Portland Indonesia NI. 08.
i. Peraturan Muatan Indonesia.
j. Ketentuan dan Peraturan lain yang ditentukan oleh
jawatan / Instansi Pemerintah setempat yang
bersangkutan dengan permasalahan Bangunan.

3.2. Untuk melaksanakan Pekerjaan ini, berlaku dan


mengikat pula :

a. Gambar Bestek yang dibuat oleh Konsultan


Perencanan yang sudah disahkan oleh Pemberi
Tugas termasuk juga Gambar – Gambar detail
yang diselesaikan olah Kontraktor dan sudah
disahkan /setujui oleh Direksi.
b. Rencana Kerja dan Syarat – suarat (RKS).
c. Berita Acara Penjelasan Pekerjaan.
d. Surat Keputusan Kepala Unit tentang Penetapan
Pemenang Lelang.
e. Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).
f. Surat Penawaran beserta lampiran – lampirannya.
g. Jadwal Pelaksanaan (Time Schedulle) yang
disetujui oleh Direksi.

4.1. Kontraktor wajib meneliti semua Gambar dan Rencana


kerja dan Syarat – syarat (RKS) termasuk tambahan dan
4. Penjelasan Gambar RKS
perubahannya yang dicantumkan dalam Berita Acara
dan Gambar.
Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing).

4.2. Bila Gambar tidak sesuai dengan Rencana Kerja dan


Syarat – syarat (RSK), maka yang mengikat berlaku
adalah ketentuan yang ada dalam RKS. Bila suatu
Gambar tidak cocok dengan Gambar yang lain. Maka
Gambar yang mempunyai skala besar yang berlaku.

4.3. Bila perbedaan–perbedaan tersebut menimbulkan


keraguan sehingga dalam pelaksanaan menimbulkan
kesalahan, maka Kontraktor wajib menanyakan pada
Konsultan Pengawas, Direksi dan Kontraktor harus
mengikuti keputusan.

2
5.1. Dilapangan Kontraktor terlebih dahulu membersihkan
lokasi yang akan dibangun, membersihkan semua sisa –
5. Persiapan Lapangan.
sisa tebangan kayu dan tunggul – tunggul yang ada
harus di bersikan semua dan dikeluarkan dari lokasi
bangunan.

B. ADMINISTRASI
6. Jabwal Pelaksanaan 6.1. Sebelum memulai pekerjaan nyata dilapangan,
kontrator wajib membuat Rencana Kerja Pelaksanaan
dan bagian – bagian pekerjaan berupa Bart Card dan
Curva S yang telah mendapat persetujuan terlebih
dahulu dari Kepala Unit Kerja / Konsultan Pengawas.

6.2. Kontraktor wajib memberikan salinan Rencana Kerja


rangkap 4 (empat) kepada Direksi / Konsultan
Pengawas. Satu salinan Rencana kerja untuk ditempel
di bangsal kerja di lapangan yang selalu diikuti dengan
grafik kemajuan pekerjaan ( prestasi kerja ) dilapangan.

6.3. Konsultan Pengawas / Direksi akan menilai prestasi


pekerjaan kontraktor berdasarkan rencana kerja
tersebut.

7. Kuasa Kontrktor di 7.1. Dilapangan kontraktor wajib menunjuk seorang


lapangan kuasa kontraktor atau biasa disebut PELAKSANA
LAPANGAN yang cakap untuk memimpin pelaksanaan
dilapangan yang memdapat kuasa penuh dari
kontraktor,
7.2. Dengan adanya Pelaksana Lapangan, tidak berarti
bahwa kontraktor lepas Tanggung jawab sebagian
maupun keseluruhan kewajibanya.

7.3. Kontraktor wajib memberi tahu secara tertulis


kepada Direksi dan Konsultan pengawas, nama dan
jabatan Pelaksana Lapangan untuk dapat persetujuan.

7.4. Bila kemidian hari, menurut pendapat Direksi dan


konsultan pengawas , pelaksan lapangan kurang
mampu atau cakap memimpin pekerjaan, maka akan
diberitahukan kepada kontraktor secara tertulis untuk
mengganti Pelaksana Lapangan tersebut.
7.5 Dalam waktu 7 (tujuh) hari setelah dikeluarkannya
surat pemberitahuan. Kontraktor sudah menunjuk
Pelaksana yang baru atau kontraktror sendiri
( Penanggung Jawab / Direktur Perusahaan ) yang akan
memimpin Pelaksanaan Pekerjaan di lapangan.

3
8.1. Untuk menjaga kemungkinan diperlukan kerja diluar
8. Tempat tinggal (domisili) jam kerja (lembur) apabila terjadi hal – hal yang
Kontraktor. mendesak kontraktor atau pelaksana wajib
memberitahukan secara tertulis alamat lengkap domisili
/ lokasi temapt tinggal kepada Direksi / Konsultan
Pengawas.

8.2. Alamat Domisili / tempat tinggal kontraktor


atau Pelaksana Lapangan diharapkan untuk tidak
berpindah – pindah selama pekerjaan berjalan. Bila
terjadi perbahan alamat, kontraktor / pelaksana wajib
memberitahukan secara tertulis.

9.1. Kontraktor wajib menjaga keamanan dilapangan


terhadap barang – barang milik proyek, konsultan
9. Penjaga keamanan pengawas dan barang – abarang pihak ketiga yang ada
dilapangan pekerjaan dilapangan.

9.2. Bila terjadi kehilangan bahan – bahan yang telah


dipasang atau yang belum dipasang menjadi tanggung
jawab kontraktor dan tidak diperhitungkan dalam
pekerjaan tambahan.

9.3. Apabila terjadi kebakaran, kontraktor bertanggung


jawab atas akibatnya baik berupa barang – barang
maupun keselamatan jiwa, untuk itu kontraktor harus
menyediakan alat – alat pemadam kebakaran yang siap
dipakai dan ditempatkan pada tempat yang mudak
dijangkau.

10.1.Kontraktor diwajibkan menyediakan obat – obatan


10. Jaminan dan keselamatan menurut syarat – syarat pertolongan pertama pada
kerja kecelakaan (P3K) yang selalu dalam keadaan siap
digunakan dilapangan untuk mengatasi segala
kemungkinan musibah bagi semua petugas dan pekerja
dilapangan.
10.2. Segala hal menyangkut jaminan sosial dan
keselamatan para pekerjaan wajib diberikan kontraktor
sesuai dengan peraturan yang berlaku.

11.1. Situasi
11. Situasi dan ukuran a. Kontraktor wajib meneliti situasi tapak terutama
keadaan tanah bangunan, sifat dan luasnya
pekerjaan dan hal – hal lain yang dapat
mempengaruhi harga pengawaran.

b. Kelalaian atau kekurang telitian kontraktor


dalam hal ini dapat dijadikan alasan untuk
mengajukan tuntutan.

11.2. Ukuran

4
a. Ukuran satuan yang digunakan disini semuanya
dinyatakan dengan CM (sentimeter), kecuali
untuk ukuran baja ataupun pipa yang
deinyatakan dengan inchi atau milimeter.

b. Duga Lantai ( permukaan atas lantai) / peil


lantai ditetapkan ± 0,00 disesuaikan dengan
gembar kerja.

11.3. Memasang papan Pengawas ( Bowplank)

a. Pekerjaan prngukuran dan pemasangan


bowplank, dilaksanakan setelah pembersihan
lokasi selesai dilaksanakan.

b. Pembuatan dan pemasangan bowplank


termasuk pekerjaan kontraktor dinama
ditentukan letak bangunan diukur dibawah
pengawasan konsultan pengawas dengan titik
patok yang pancang kuat – kuat dan papan
duga terbuat dari papan kelas III dengan
ketebalan 2 cm diketam rata pada bidang sisi
atasnya dan yang tidak berubah oleh keadaan
cuaca. Pemasangan harus kuat dimana
permukaan depannya harus rata.

c. Pekerjaan pengukuran pemasangan bowplank


ini dilakukan oleh tenaga pembantu kontraktor
yang ahli dan mengerti cara mengukur
maupun pengukuran menurut situasi dan
kondisi tanah bangunan serta selalu berada
dilapangan.

12.1. Semua bahan bangunan yang didatangkan harus


12. Syarat – syarat memenuhi syarat yang telah ditentukan.
pemeriksaan Bahan
Bangunan 12.2. Konsultan Pengawas berwenang asal bahan
bangunan dan kondisinya kemudian kontraktor wajib
memberitahukannya.

12.3. Kontraktor wajib memperlihatkan contoh bahan


sebelum digunakan. Contoh – contoh ini harus
mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas /
Direksi.

12.4. Bahan bangunan yang di datang kontraktor


dilapangan pekerjaan, tetapi ditolak pemakaiannya
oleh konsultan pengawas, harus segera dikeluarkan
dan selanjutnya dibongkar atas biaya kontraktor
dalam waktu 2 x 24 jam, terhitung dari jam
penolakan.

5
12.5. Pekerjan atau bagian pekerjaan yang telah
dilakukan kontraktor tetapi ditolak oleh konsultan
pengawas, maka pekerjaan tersebut dihentikan dan
selanjutnya dibongkar atas biaya kontraktor dalam
waktu yang ditetapkan oleh konsultan pengawas.

13.1. Sebelum memulai pekerjaan selanjutnya yang


13. Pemeriksaan pekerjaan apabila pekerjaan ini telah selesai, akan tetapi belum
diperiksa oleh konsultan pengawas, kontraktor wajib
memintakan persetujuan kepada konsultan pengawas
menyetujui bagian pekerjaan tersebut, Kontraktor
dapat meneruskan pekerjaan.

13.2. Bila permohonan pemeriksaan ini dalam waktu 2


x 24 jam (dihitung dari diterinya surat permohonan
pemeriksaan, tidak terhitung hari Raya / Libur) tidak
dipehuhi oleh Konsultan Pengawas kontraktor dapat
meneruskan pekerjaanya dan bagian yang harusnya
diperiksa dianggap telah disetujui olah Konsultan
Pengawas, hal ini dikecualikan apabila Konsultan
Pengawas minta perpanjangan waktu.

13.3. Bila Kontraktor melanggar ayat – 1 pasal


ini, Konsultan Pengawas berhak menyuruh
membongkar bagian atau seluruh pekerjaannya untuk
diperbaiki. Biaya pembongkaran dan pemasangan
kembali menjadi tanggung jawab Kontraktor.

14.1. Tugas mengerjakan pekerjaan tambah / kurang


14. Pekerjaan Tambah Kurang diberitahukan secara tertulis dalam buku harian oleh
konsultan pengawas serta persetujuan Pemberi
Tugas.

14.2. Pekerjaan tambah / kurang berlaku bila memang


nyata – nyata ada perintah tertulis dari Konsultan
Pengawas atau persetujuan Pemberi Tugas.

14.3. Biaya pekerjaan tambah / kurang akan diperhitungkan


menurut harga satuan pekerjaan, yang dimasukan oleh
kontraktor sesuai AV 41 artikel 50 dan 51 yang
pembayarannya diperhitungkan bersama dengan
angsuran terakhir.

14.4. Untuk pekerjaan tambah / kurang yang harga satuanya


tidak tercantum dalam harga satuan yang dimasukkan
dalam penawaran harga satuanya akan ditentukan
lebih lanjut oleh konsultan pengawas bersama
kontraktor dengan persetujuan Pemberi Tugas.

14.5. Adanya pekerjaan tambahan tidak dapat dijadikan

6
alasan sebagai penyebab keterlambahan penyerahan
pekerjaan, tetapi Konsultan Pengawas / Bimbingan
Teknik Bangunan ( BTB ) dapat mempertimbangkan
perpanjangan waktu karena adanya pekerjaan
tambahan tersebut.

15.1. Pembersihan Lokasi


15. Pekerjaan Persiapan Kontraktor harus membersihkan halaman lokasi dari
Lapangan segala sesuatu yang dapat mengganggu kelancaran
pelaksanaan pekerjaan.

15.2. Pengadaan Listrik Sementara


Kontraktor diharuskan untuk menyediakan Listrik
sementara untuk pelaksanaan Pekerjaan atas biaya
kontraktor untuk keperluan Pekerjaan.

15.3. Pengadaan Air Sementara


Kontraktor diharuskan untuk menyediakan air
sementara untuk pelaksanaan Pekerjaan atas biaya
kontraktorbaik dengan sumur galian maupun dengan
pompa air serta mengalirkan ketempat – tempat yang
ditentukan oleh Direksi / Pengawas Lapangan.

15.4. Pembuatan jalan lingkungan sementara


Kontraktor diwajibkan membuat jalan lingkungan
sementara untuk mempermudah pengangkutan
material kelokasi kerja.

15.5. Penebangan Pohon – pohon dan semak – semak


Kontraktor harus menebang pohon – pohon dan semak
yang menggunggu kelancaran pekerjaan terutama
yang berada di posisi sita yang akan dibangun.

15.6 Papan Reklame


Kontraktor tidak diperkenankan menempel papan
reklame dalapm bentuk apapun didalam lingkungan
proyek ataupun pada batas tanah yang berbatasan
dengan kompleks kecuali mendapat persetujuan
tertulis dari Konsultan Pengawas / Direksi.

C. T E K N I S
15. Pekerjaan Tanah. 16.1. Kontraktor wajib meratakan tanah sekitar site apabila
permukaan tanah sekitar site tidak rata, dibuat
sedemikian rupa sehingga pada tanah yang dikupas /
dipotong didapat untuk mengisi bagian yang kosong
sehingga tidak diperlukan tanah datang untuk
timbunan.

7
16.2. Pekerjaan Galian

a. Pekerjaan galian tanah untuk Pondasi tidak boleh


dimulai sebeluh bowplank serta tinggi dasar ±
0,00 sumbu dinding dan tiang disetujui oleh
Direksi.

b. Pekerjaan galian tanah dilakukan untuk semua


pemasangan tongkat pondasi dan semua
pasangan lainnya didalam tanah seperti galian
untuk dan semua saluran saluran serta lain – lain
yang nyata – nyata harus dilakukan sesuai dengan
Gambar rencana dan tanah kelebihannya harus
digunakan untuk urugan kembali sebagai penutup
samping bangunan.

c. Semua unsur pengganggu yang terdapat atau


dekat dengan tanah galian seperti akar – akar dan
tunas pohon serta tunggul – tunggul, kayu –
kayuan, batu dan sebagainya harus dikeluarkan
dan disingkirkan.

d. Kontraktor harus menjaga agar galian tidak


tergenang air dengan jalan menimba , memompa
atau dengan cara lain yang dianggap baik atas
beban kontrakor.

e. Galian tanah tidak boleh dibiarkan terlalu lama,


sampai setelah galian disetujui oleh Direksi,
segera dimulai dengan pelaksanaan berikutnya.

17.1. Lingkup Pekerjaan Kayu

Pekerjaan kayu meliputi penyediaan tenaga kerja


yang terampil sesuai dengan jenis pekerjaan,
17. Pekerjaan Kayu penyediaan bahan yang cukup, peralatan tukang
baik yang mesinal maupun manual guna kelancaran
pekerjaan ini. Macam pekerjaan kayu yang akan
dilaksanakan dalam pekerjaan ini terdiri atas :
 Pekerjaan Struktur Bangunan Bawah
 Pekerjaan Rangka Badan
 Pekerjaan Rangka Kuda – Kuda dan Rangka
Atap
 Pekerjaan Plafond
 Pekerjaan Pintu, Jendela dan Ventilasi
 Pekerjaan Pelengkap dan Penujang

17.2. Persyaratan -bahan

a. Kayu yang dipakai harus sesuai dengan PPKI


8
1961 (NI-5) lampiran 1, kayu berkualitas baik,
kering tidak cacat, tidak pecah pecah, dan tidak
terdapat kayu muda (spint) sesuai pasal III
PPKI 1961 untuk kayu mutu A.
b. Selama pelaksanaan, mutu dan kekeringan kayu
harus dijaga dan penyimpanannya ditempat
yang kering, terlindung dari hujan dan panas
terutama kusen – kusen dan rangka pintu yang
telah selesai, kadar kayu yang diperkenan < 15
%.
c. Semua pekerjaan kayu yang akan difinish atau
diexpose harus diketam rata dan halus dengan
menggunakan mesin ketam, tidak ada lubang
ataupun mata kayu, kecuali bila ditentukan lain.

d. Semua ukuran yang tertera dalam Gambar


maupun tersebut dalam pasal ini adalah ukuran
jadi, yaitu ukuran setelah kayu dikerjakan /
dipasang dengan toleransi maksimal 3 mm tiap
permukaan kayu yang sudah dikerjakan.

17.3. Klasifikasi Bahan dan Macam Pekerjaan.


Klasifikasi bahan berdasarkan PPKI dan macam
pekerjaan untuk jenis pekerjaan kayu halus, dapat
dilihat dalam tabel ini.

PEKERJAAN KAYU KASAR


Kelas Kuat Jenis Kayu Penggunaan dan Bahan –
Kayu bahan ( cm ) Keterangan

1 2 3 4

Kelas - I Belian  Balok Keep  Bentuk dan ukuran lihat


pada Gambar

Kelas - II Mabang / a. Rangka kuda – kuda /  Bentuk dan ukuran lihat


meranti/ rangka kapspant pada Gambar
Dan sejenisnya b. Ramuan atap
 Pada bagian yang ditempal
c. Rangka Plafond
pafond diserut
 Sisi atas gording ditarah
d. Ikatan angin dan gording rata
Durian / a. Papan Bowplank/Acuan  Bidang atas mal diserut
Kelas – III Jelutung/ b. Bekesting / Mal Pondasi  Mal Pondasi diserut 3 sisi.
Sejenisnya.

9
PEKERJAAN KAYU HALUS

Kelas Kuat Jenis Kayu Penggunaan dan Bahan – Keterangan


Kayu bahan ( cm )

1 2 3 4
a. Setiap Pertemuan Sudut  Semuan sisi pekerjaan
Dinding harus diketam rata dan
Kelas - I Belian b. Struktur tiang pemikul halus
Kapspant  Dikerjakan oleh tenaga
c. Sengkang dan Rangka terampil dengan
badan WC menggunakan ketam mesin
d. Rangka Pagar Selasar  Ukuran sesuai dengan
Gambar.
Kelas – 1 Bengkirai/ a. Sengkang dan rangka  Semua sisi pekerjaan halus
Tekam/ badan harus diserut rata dan halus
Sejenisnya b. Balok Penutup  Dikerjakan oleh tenaga
c. Balok Gapit dan Konsul yang terampil dengan
d. Rangk adan Daun Pintu menggunakan ketam mesin
e. Rangka Panel Jendela  Ukuran sesuai dengan
Gambar
Mabang / a. Rangka Ventilasi  Papan diketam 3 sisi
Meranti dan b. Papan Sunscreen  Papan diketam 4 sisi

Kelas - II sejenisnya c. Papan Listplank  Papan diketam 4 sisi


d. Daun Ventilasi  Papan diketam 4 sisi
e. Konstruksi Stage  Papan diketam 3 sisi
f. Konstruksi Mebel dll Papan diketan 3 sisi diamril dan
divernis
Teripleks / a. Dinsing Palfond  Diamplas pada semua sisi
Sejenisnya b. Lemari Utama / Lemari bekas gergaji.
tanam

17.4. Syarat Pelaksanaan

A. Pekerjaan Struktur Bangunan Bawah.


1. Hubungan tiang tongkat dengan laci Dibuat
Sistem Lobang Laci.
2. Pemancangan dilakukan dengan hammer /
Penumbukan minimal seberat 50 kg.
3. Pemberhentian tumbukan pada tiang tongkat
hanya dilakukan setelah mendapat
persetujuan dari direksi / konsultan
pengawas.
4. Balok keep dipasang diatas pondasi dimana
hubungan balok keep dengan perkuatannya
menggunakan pasak kayu sehingga
kedudukan keep cukup kokoh.
5. Pada setiap sambungan balok keep harus
menggunakan sambungan bibir berkait,
sedangkan sambungan balok keep
memanjang dan melintang menggunakan
10
sambungan sambungan ekor burug dengan
panjang lidah sesuai Gambar dan diperkuat
dengan baut Ø. ½”.
6. Sebelum balok keep disambungan, terlebih
dahulu harus dicat dengan meni kayu pada
bagian lidah sambungannya.
7. Pelaksanaan pekerjaan ini harus mendapat
persetujuan Konsultan Pengawas.

B. Pekerjaan Rangka Badan

1. Pekerjaan rangka badan terdiri atas rangka,


tiang dan sengkang dengan menggunakan
balok kayu ukuran 8/8 cm yang terdiri kayu
belian dan kayu kelas – I jenis bengkirai
atau tekam atau sejenisnya.
2. Rangka badan dari jenis kayu belian
dikerjakan hanya pada pertemuan dinding,
dan pada daerah yang memikul kuda –
kuda, seluruh rangka badan WC serta tiang
pagar selasar. Sedangkan daerah lain
menggunakan kayu kelas – I jenis tekam
atau bengkirai atau sejenisnya.
3. Bahan tersebut diatas sebelum terpasang
harus mendapat persetujuan Pengawas dan
semua ukuran tiang maupun sengkang
harus sentris serta bahan dalam keadaan
sudah diserut rata.
C. Pekerjaan Rangka Kuda – kuda dan atap.
1. Pekerjaan ini meliputi pekerjaan kuda –
kuda , gording pemasangan rangka atap,
dan penutup atap serta papan perabung /
bubungan kayu kelas – II.
2. Rangka kuda – kuda dan rangka penutup
atap semuanya dikerjakan dengan
menggunakan kayu kelas – II jenis mabang
atau sejenisnya dan dikerjakan oleh tenaga
yang berpengalaman.
3. Sebelum rangka kuda – kuda di pasang,
terlebih dahulu harus distel ditempat semua
terutama hubungan pen dan lubangnya
harus pas (tidak longgar) dan semua plat
begel, baut mur dan ringnya harus dengan
ulir yang bait. Besar Lubang bor dengan
diameter baut harus sama besar
diameternya ( lihat pasal 14 .PPKI 1961).
4. Balok Gording dipasang setelah rangka
kuda – kuda terpasang dengan posisi /
pada tempat sesuai dengan Gambar.
Pemasangan balok gording harus rata air
pada bidang atasnya dengan cara diketam
atau ditarah agar kedudukan atap seng
11
benar – benar rata dan rapih.
5. Pemasangan penutup atap dilakukan
setelah kedudukan rangka atap disetujui
oleh Konsultan Pengawas.
6. Bahan Penutup atap yang digunakan yaitu
atap genteng metal.
7. Pemasangan papan perabung dengan
bentuk seperti pada Gambar kerja dan
harus dilaksanakan oleh tukang yang
terampil hingga hasil pemasangannya tidak
terdapat kebocoran maupun ada bagian
celah.

D. Pekerjaan Plafond.
1. Pekerjaan ini meliputi pemasangan rangka
dan penutup plafond triplek serta
pemasangan lis/parit.
2. Sebelum pemasangan lembaran-lembaran
plafond, kedudukan strutur kerangka harus
kuat hubungannya ditahan dengan baik
oleh struktur atap [kuda- kuda] dan letak;
pola serta ukuran- ukurannya sudah sesuai
dengan gambar.
3. Kayu-kayu kerangka diserut rata pada sisi
yang akan ditempati plafond kerangka kayu
harus datar pada semua arah dan tidak
melengkung.
4. Lembaran plafond harus diserut rata pada
empat sisinya harus diberi nat 4 mm serta
pada bagian pinggir pertemuan dinding
diberi lis papan lap profil pada satu
sudutnya sesuai dengan Gambar.
5. Plafond reng lat dengan menggunakan kayu
kelas I yang telah diketam halur minimal
pada 3 sisi diamplas kemudian di vernis
dengan warna clear.
6. Kontrator harus bertanggung jawab atas
kerapian dan kesempurnaan ini, apabila ada
pekerjaan yang tidak sesuai dengan
Gambar kerja, maka kontrator harus
memperbaiki atas beban biaya kontraktor
kecuali bila ada ketentuan lain dari
pengawas.

E. Pekerjaan Pintu, Jendela dan Ventilasi


1. Semua pintu- pintu ini dibuat dengan
bentuk Panel terdiri dari bahan kayu kelas 1
sejenis tekam/ bengkirai, kecuali untuk
pintu WC/ toilet menggunakan belian.
2. Untuk rangka jendela menggunakan kayu
kelas 1 jenis tekam/ bengkirai, ataupun
sejenisnya dengan ukuran dan tebal rangka
12
sesuai dengan Gambar kerja.
F. Pekerjaan Lantai
Lantai menggunakan lantai beton tumbuk
campuran 1 : 3 : 5dengan ketebalan 8 cm pada
bagian finishing atasnya di pasang keramik
dengan ukuran 30 x 30.

G. Pekerjaan Dinding
Dinding menggunakan Plesteran batako
sedangkan pengisinya menggunakan spesi
semen.

H. Pekerjaan Pelengkap dan Penunjang.


Yang dimaksud dengan pekerjaan Pelengkap
disini adalah Pekerjaan kayu guna kelengkapan
sebagai sarana penunjang dan pelengkap
keberadaan bangunan.

Hal – hal lain yang belum diuraikan diatas disesuaikan


dengan bentuk dan ukuran seperti pada Gambar rencana
dan petunjuk konsultan pengawas / Direksi lapangan.

18.1. Lingkup Pekerjaan.

Pekerjaan ini meliputi Pekerjaan lantai Beton Tumbuk


dan Tangga serta semua pekerjaan yang
berhubungan dengan ini termasuk pekerjaan besi
18. Pekerjaan Beton beton dan pekerjaan bakesting / acuan seperti yang
ditunjuk Direksi / Konsultan Pengawas.
18.2. Persuaratan Bahan

A. Semen Portland
1. Semen yang dipakai harus portland cement
yang telah disetujui oleh Direksi Proyek, dan
memenuhi syarat S.400 menurut standart
Semen Indinesia (NI-8-1972)
2. Untuk seluruh pekerjaan beton harus
menggunakan mutu semen yang baik dari
suatu jenis merk atas persetujuan Konsultan
Pengawas / Direksi Lapangan.
3. Semen yang telah mengerah sebagian /
seluruhnya tidak diperkenankan untuk
dipergunakan.

4. Penyimpanan Portland Cement harus


diusahakan sedemikian rupa sehingga bebas
dari kelembaban dimana gudang tidak
terkena air , ditempatkan pada tempat yang
di tinggikan minimal 30 cm dari lantai. Tidak
boleh ditumpuk sampai tingginya 2 meter
13
sesuai syarat penumpukan semen dan setiap
pengiriman semen baru harus dipisahkan
dari semen yang lama dan diberi tanda
dengan maksud agar pemakaian semen
dilakukan menurut urutan pengirimannya.

B. Pasir

1. Pasir harus bersih dari bahan organis,


lumpur, zat – xat alkali dan subtansi yang
merusak beton. Pasir tidak boleh
mengandung segala jenis subtansi tersebut
lebih dari 5 %.
2. Pasir laut tidak boleh digunakan untuk
beton.

C. Batu Split / Koral beton

1. Agregat kasar untuk beton harus terdiri dari


butir – butir kasar, keras, tidak berpori dan
bentuk kubus serta tidak terpengarus oleh
cuaca. Bila ada butir – butir yang pipih,
jumlah beratnya tidak melebihi 20 % dari
jumlah berat seluruhnya. Ukuran terbesar
Agregat beton adalah 2,5 cm.

2. Tidak mengandung lumpur lebih dari 1 %


dan juta tidak mengandung zat yang dapat
merusak beton sesuai dengan ketentuan –
ketentuan yang tertera dalam PBI 1971
serta harus sesuai dengan spesifikasi
agregat kasar menurut ASTM C-33.

D. Air
1. Air yang digunakan untuk adukan dan
merawat beton harus air bersih, tidak
mengandung minyak, asam alkali dan bahan
organis lainnya yang dapat merusak mutu
beton maupun mempengaruhi daya lekat
semen dan harus memenuhi NI-4 Pasal 10.

2. Bila dianggap perlu Konsultan Pengawas /


Direksi dapat meminta pada Kontrktor untuk
memeriksa mutu air di Laboratorium atas
biaya Kontraktor.

18.3. Macam Pekerjaan Beton.

a. Pekerjaan Lantai Beton


 Bekesting
14
 Lantai Beton Tumbuk Setebal 8 cm
 Keramik / Porselin ukuran 30 x 30

b. Komposisi adukan Beton.


Komposisi adukan beton dibuat berdasarkan
perbandingan volume dengan macam campuran
dan pekerjaan seperti disebut pada tabel dibawah
ini :

Perbandingan Pekerjaan
 Lantai Beton Tumbuk
 Saluran Beton
1 Pc : 3 Ps : 5 Kr  Jalan Rabat Beton

c. Acuan Bekesting.
1. Cetakan harus menghasilkan konstruksi akhir
yang mempunyai bentuk ukuran dan batas –
batas yang sesuai dengan yang ditunjuk oleh
Gambar maupun petunjuk Konsultan
Pengawas / Direksi Lapangan.
2. Papan Bekesting yang digunakan adalah kayu
kelas III.

d. Pengadukan.
1. Pencampuran harus dilakukan dengan sebaik
mungkin dan rata.
Kontraktor harus mengadakan peralatan dan
perlengkapan yang mempunyai ketelitian
cukup untuk menetapkan dan mengawasi dari
masing – masing bahan pembentukan beton
perlengkapan – perlengkapan tersebut dan
cara pekerjaanya harus mendapat persetujuan
dari Konsultan Pengawas / Direksi Lapangan.
2. Lama pencampuran / pengadukan beton
dilakukan hingga campuran beton tersebut
betul – betul homogen hingga menghasilkan
adukan dengan susunan dengan kekntalan
dan warna yang merata / seragam. Beton
harus seragam dalam komposisi dari adukan
ke adukan. Pengadukan yang berlebihan
(lamanya) yang membutuhkan penambahan
air untuk mendapatkan konsistensi beton yang
dikehendaki, tidak dibenarkan.
3. Pengangkutan Adukan.
Pengangkutan adukan beton dilakukan dengan
gerobak dorong atau alat bantu lainnya
ketempat pengecoran harus diatur
sedemikian rupa, sehingga waktu
pengangkutan harus diperhitungkan dengan

15
sermat sehingga waktu antara pengangkutan
dan pengecoran tidak lebih dari 1 jam dan
tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan
yang mencolok antara beton yang sedah di cor
dengan yang akan dicor.

e. Pengecoran.
1. Pengecoran lantai dapat dilakukan setelah
bekesting terpasang dengan baik yaitu rapat
dan kokoh sehingga terjadi perubahan
bentuk.
2. Pengecoran lantai dilaksanakan setebal 8 cm
kemudian difinishing dengan keramik /
porselin ukuran 30 x 30.

18.4. Benda – benda yang tertanam dalam beton.

a. Semua angker – angker, baut – baut , pipa


dan sebagainya yang diperlukan tertanam
dalam beton , harus terikat dengan baik pada
cetakan sebelum beton dicor.

b. Benda – benda tersebut diatas harus dalam


keadaan bersih dari karat dan kotoran lain pada
waktu beton di cor.

18.5. Perawatan dan Perlindungan

a. Beton dilindungi dari hujan lebat, aliran air dan


dari kerusakan yang disebabkan oleh peralatan.
b. Beton harus dilindungi dari pengaruh panas
sehingga tidak terjadi penguapan yang terlalu
cepat.
c. Tidak diperbolehkan mengecor pada waktu
turun hujan lebat kecuali pada tempat yang
terlindung.
d. Persiapan perlindungan atas kemungkinan
datangnya hujan harus diperhatikan supaya
jangan sampai adukan rusak yang sebelum
mengikat rusak oleh air.
e. Semua beton yang telah mengeras harus dalam
keadaan basah selama paling sedikit 7 hari
dibasahi dengan air / direndam terus menerus.
f. Sesudah beton dicor dan difinishing maka
permukaan yang tidak ditutup oleh cetakan
harus dijaga terhadap kehilangan
kelembabannya dengan menjaga agar tetap
basah secara terus menerus selama 7 hari.
g. Air yang dipergunakan untuk perawatan bersih
dan sama sekali bebas air dari unsur – unsur
kimia yang mungkin perubahan warna pada
beton.
16
19. Pekerjaan Dinding 19.1. Lingkup Pekerjaan.
Plesteran Semen
Termasuk dalam pekerjaan dinding dan plesteran
dalam pasal ini yaitu terdiri dari :

a. Dinding Batako
b. Plesteran Penutup / Finishing
c. Plesteran tutup kolong

19.2. Persyaratan Bahan.

a. Semen portland harus memenuhi NI-8 (dipilih


dari satu produk untuk seluruh pekerjaan )
b. Pasir harus memenuhi NI-3 pasal 14 ayat 2..
c. Air Harus memenuhi NI-3 pasal 10

19.3. Penggunaan Plesteran.

Pemakain plesteran (adukan) harus disesuaikan


dengan perbandingan campuran adukan, yang
dipergunakan seperti yang ditunjukan dalam tabel
dibawah ini :

No. Perbandingan Pekerjaan


1 1 Pc : 3 Ps  Untuk Dinding Batako
( 1 Zak Semen : 0,096 M3 Pasir )  Untuk Finishing Plestaran

19.4. Syarat – syarat Pelaksanaan


a. Pekerjaan ini dilaksanakan sesuai dengan
standard spesifikasi dari bahan dan campuran
yang digunakan sesuai dengan petunjuk dari
Konsultan / Direksi Lapangan.
b. Pekerjaan Plesteran dapat dilaksanakan bilamana
bidang yang dikerjakan telah disetujui oleh
Konsultan Pengawas / Direksi Lapangan. Dan
dalam melaksanakan pekerjaan ini harus
mengikuti pula petunjuk dari dari Gambar
arsitektur, terutama pada Gambar detail dan
Gambar potongan mengenai ukuran tebal / tinggi
peil dan bentuk profil.
c. Semua jenis adukan tersebut, masing – masing
harus disiapkan sedemikian rupa sehingga selalu
dalam keadaan baik dan mengering.
d. Plesteran yang retak, bergelembung / cembung,
terjadi pengotoran atau perubahan warna , tidak
akan diterima. Plesteran harus dibersihkan dan
diganti dengan adukan plesteran yang sesuai
dengan spesifikasi dan mendapat persetujuan
dari Konultan Pengawas / Direksi Laoangan.

17
e. Untuk Pengecoran Lantai Beton Tumbuk dan
Finishing lantai beton tumbuk terdiri dari 2 lapis ,
tebalnya tidak kurang dari 1 cm, kecuali
ditentukan lain atau lebih spesifik.

1. Lapisan Pertama tebalnya ± 8 cm , yaitu


Cor beton tumbuk dengan campuran 1 : 3:
5.
2. Lapisan finishing dengan keramik/ porselin.

f. Untuk plesteran dinding semen simpai


pemasangan anyaman 90° dan posisi plate
simpai harus kuat dan kencang, Pengadaan
plate simpai harus berkualitas baik, tidak
berkaran dan masih dalam kemasan Roll.
g. Pemasangan Beton Cycloop [tidak digunakan]
h. Kelembaban plesteran harus dijaga sehingga
pengeringan berlangsung wajar dan tidak terlalu
tiba – tiba , dengan membasahi di permukaan
plesteran setiap kali terlihat kering dan
melindungi dari terik panas matahari langsung
dengan bahan penutup yang dapat mencegah
penguapan air secara cepat.

20.1. Bahan.

20. Pekerjaan Kaca. a. Semua kaca yang digunakan adalah kaca


kualitas baik dengan ketentuan dapat
menahan beban angin sebesar 122 kg/cm².
b. Semua jenis kaca yang digunakan harus yang
disetujui Konsultan Pengawas.
c. Tebal kaca bening dan buram / embun setebal
sesuai dengan bidang frame/bingkainya.

20.2. Macam pekerjaan.

a. Lingkup pekerjaan adalah pengadaan bahan,


alat pemotong, pembersih, penggosok tepi, dan
tenaga kerja untuk memasang kaca.
b. Pemasangan kaca pada rangka jendela dan
pada tempat yang ditunjuk pada Gambar.

20.3. Cara Pelaksanaan.

a. Alur kayu harus dibersihkan, diplamur,diplamur


dan dicat minyak sebelum kaca dipasang.
b. Kaca harus dipotong menurut ukuran kosen,
dengan kelonggaran cukup, sehingga pada
waktu kaca memuai tidak pecah.
18
c. Kaca dipasang dikukuhkan dengan memakai list
kaca dengan cara dipaku.
d. Kaca yang telah dipasang harus dapat tertanam
rapat dan kokoh pada rangka terutama pada
sudut – sudutnya.
e. Setelah selesai dipasang, kaca harus
dibersihkan dan yang retak dan terdapat
goresan – goresan harus diganti.

21.1. Lingkup Pekerjaan

21. Pekerjaan Pengecatan Termasuk dalam pekerjaan pengecatan ini meliputi


penyediaan tenaga kerja, bahan – bahan, peralatan
termasuk alat bantu dan alat angkut yang diperlukan
mencakup pekerjaan persiapan permukaan yang
akan di cat.

21.2. Standard Pengerjaan (Mock Up)


a. Sebelum pengecatan dimulai, Kontraktor harus
melakukan pengecatan pada satu bidang untuk
tiap warna dan jenis cat yang akan digunakan.
Bidang-bidang tersebut akan menjadi contoh
pilihan warna, texture, material dan cara
pengerjaanya. Bidang –bidang yang akan
dijadikan sebagai Mock Up ini akan ditentukan
oleh Konsultan Pengawas/Direksi Lapangan.
b. Jika masing-masing bidang tersebut telah
disetujui oleh Direksi Lapangan / Konsultan
Pengawas atau Pemberi Tugas, maka akan
dipakai sebagai standard minimal keseluruhan
pekerjaan pengecatan.

21.3. Bahan.
a. Pengertian cat disini tidak terbatas pada cat
emulsi, enamel, vernis dan pelapis – pelapis lain
yang sebagai cat dasar, cat perantara dan car
akhir.
b. Untuk cat tembok, digunakan cat produksi dari
dalam negeri berkualitas baik, sedangkan untuk
pekerjaan cat kayu dan cat besi digunakan cat
sintetik berkualitas baik yang telah disetujui oleh
Pengawas / Direksi / Pemberi Tugas.
c. Pelamur dan dempul untuk pekerjaan cat
tembok dan kayu digunakan merk cat yang
dipilih.
d. Untuk plitur maupun vernish yang akan
digunakan harus mendapat persetujuan
Konsultan Pengawas / Direksi Lapangan dan
tidak diperkenankan untuk dicampur dengan
oker warna.

19
e. Cat yang digunakan masih berada dalam kaleng
yang masil disegel, tidak pecah atau tidak bocor
dan mendapatkan persetujuan dari konsultan
pengawas / Direksi Lapangan.
f. Kontraktor bertanggung jawab, bahwa warna
dan bahan cat adalah tidak palsu dan sesuai
dengan spesifikasi atau brosur pabrik.
g. Bahan pengecatan terdiri dari :
1. Cat Tembok : Plamur dan cat tembok
2. Cat Kayu : Meni,Plamur, dan cat
kayu / minyak
3. Cat Residu.

h. Warna.

1. Selambat-lambatnya 1 (satu) bulan


sebelum pekerjaan pengecatan dilakukan,
Kontraktor harus mengajukan daftar dahan
kepada Konsultan Pengawas / Direksi
Lapangan / Pemberi Tugas untuk melilih
warna dan menyetujuinya.
2. Segera setelah Pemberi tugas menentukan
warna pilihan, Kontraktor menyiapkan
bahan dan bidang pengecatan (Mock Up)
untuk dijadikan contoh atas biaya
Kontraktor.

21.4. Cara Pelaksanaan.

a. Pekerjaan Persiapan.
1. Sebelum pekerjaan pengecatan
dilaksanakan, pekerjaan plafond dan lantai
harus sudah selesai dikerjakan.
2. Selanjutnya diadakan persiapan sebagai
berikut :

 Dicat setelah disetujui oleh Direksi


Lapangan.
 Bagian yang retak-retak , pecah atau
kotoran yang menempel harus
dibersihkan.
 Menunggu bagian yang akan dicat kering
bila bagian yang akan di cat masih basah
atau lembab.
 Menyiapkan dan mengadakan
pengecatan untuk contoh warna.
3. Kontraktor harus mengatur sedemikian rupa,
sehingga terdapat urutan – urutan yang
tepat untuk memulai pekerjaan dari cat
dasar sampai pengecatan selanjutnya.
4. Pekerjaan pengecatan harus dikerjakan

20
tenaga yang ahli / terampil dan semua
pekerjaan pengecatan harus mengikuti
petunjuk dari Konsultan Pengawas / Direksi
Lapangan dan petunjuk dari Pabrik pembuat
Cat tersebut.

b. Pengecatan Dinding dan Plafond


1. Dinding baru yang akan dicat harus
mempunyai cukup waktu utnuk mengering.
Setelah permukaan dinding kering maka
persiapan dilakukan dengan membersihkan
permukaan dinding tersebut terhadap
perkristalan / pengapuran (efflorescene)
yang biasa terdapat pada tembok baru, yaitu
dengan aplas kemudian dengan lap sampai
benar-benar bersih.
2. Setelah permukaan kering kemudian
diamplas dengan halus, kemudian diamplas
dengan lapiasan pertama dengan campuran
15 %.

3. Bagian-bagian masih kurang baik, diberi


deco plamur lagi dan setelah kering
diamplas.
4. Pengecatan terakhir kali (2 atau 3 kali)
sampai mencapai warna yang dikehendaki.
5. Pekerjaan pengecatan dikerjakan dengan
Roller.

c. Cat Kayu.
1. Semua permukaan kayu yang berhubungan
dengan plesteran dan semua sambungan
antar kayu diberi cat meni.
2. Permukaan kayu yang akan dicat harus
diplamur bila pada bagian kayu tersebut
terdapat lubang, retak atau celah kemudian
barulah diamplas.
3. Permukaan kayu yang kecil harus diberi 2
lapisan plamur yang tipis.
4. Setelah permukaan kayu diamplas dan rata
kemudian dicat dasar 2 (dua) kali, kemudian
diplamur 1 (satu) kali dan diamplas lalu dicat
untuk terakhir sebanyak 2 (dua) kali dengan
cat penutup yang mengkilap.
5. Kayu yang telah dicat, bila terdapat goresan
ataupun cacat-cacat lainnya harus dicat
kembali.

22.1. Lingkup Pekerjaan.


22. Pekerjaan Penggantung Pekerjaan ini meliputi penyediaan tenaga kerja ,
21
dan Pengunci. bahan dan alat – alat untuk kelancaran pelaksanaan
pekerjaan ini.
22.2. Persyaratan Bahan
a. Harus sesuai dengan persyaratan NI-3 1970
pasal 4 serta instruksi Pabrik dan Produsen.
b. Sebelum pemasangan alat perlengkapan yang
akan dipakai dalam pekerjaan ini sedapat
mungkin hasil dari satu perusahaan, dengan
kualitas baik.
c. Sebelum pemasangan alat – alat penggantung
dan pengunci, kontraktor harus memberikan /
memperlihatkan contohnya kepada direksi
lapangan untuk memdapat persetujuan.
d. Semua anak kunci harus dilengkapi dengan plate
pengenal terbuat dari logam yang mana tertera
nomor pengenal serta harus diserahkan pada
direksi lapangan / Pemberi tugas.
e. Bahan Pengunci, Penggantung Handle dan slot
yang akan dipasang terlebih harus mendapat
persetujuan Pengawas Lapangan / Pemberi
Tugas.

22.3.Macam Pekerjaan.
a. Memasang kunci gembok pada semua pintu
kelas.
b. Memasang 4 (empat) buah engsel pada setiap
daun pintu dan 2 (dua) buah pada setiap daun
jendela.
c. Memasang slot pada setiap daun pintu ganda
pada bagian atas dan bawah.
d. Pada setiap Jendela Jungkit dilengkapi dengan
kait angin (raam skar), slot dan handle jendela..

JENIS / UKURAN PENGGUNAAN KETERANGAN

Kunci Genbok + Plate Besi Semua Pintu Sesuai dengan Gambar kerja
Engsel 4” Semua Pintu Dari bahan Tembaga/Kuningan
Engsel 3” Semua Jendela Jungkit Dari bahan Tembaga/Kuningan
Handle Jendela Semua Jendela Jungkit Warna Antik
Slot 5” Semua Daun Pintu 2 Daun Dipasang atas dan bawah
Slot 2” Semua Daun Jendela Dipasang bawah kiri dan kanan
Kait Angin Semua Jendela Jungkit Dipasang kiri dan kanan jendela

22.4. Cara Pelaksanaan.

a. Semua pemasangan harus rapih, pintu-pintu


dan jendela ditutup dan dibuka dengan mudah.
b. Sebelum pemasangan pekerjaan semua kunci-
kunci harus diminyaki sehingga dapat bekerjan

22
dengan baik.

23.1. Segala kerusakan yang timbul akibat adanya


23. Pekerjaan pelaksanaan pekerjaan yang telah dikerjakan,
Penyelesaian, misalnya kerusakan jalan akibat mobilisasi
Pembersihan dan kendaraan maupun kerusakan – kerusakan lain yang
pekerjaan Penutup nyata-nyata akibat pelaksanaan pekerjaan ini, yang
dipandang perlu adanya perbaikan menjadi
tanggung jawab atas biaya Kontraktor.

23.2. Setelah seluruh pekerjaan selesai 100% pada saat


sebelum penyerahan pertama, segala kotoran,
potongan – potongan kayu dan lainnya. Harus
disingkirkan dan dibuang atau dibakar sesuai dengan
petunjuk Konsultan Pengawas.

23.3. Pemborong harus melaksanakan pekerjaan yang


diborong ini, harus dilaksanakan pelaksana
berpengalaman dan pekerja / ahli sesuai dengan
bidang masing – masing pekerjaan.

23.4. Harga yang ditawarkan dalam pelelangan


merupakan biaya lumpsum dan sudah termasuk
pajak-pajak, keuntungan, asuransi pelaksanaan
(CAR) dan biaya perincian yang berhubungan
langsung dengan pelaksanaan pekerjaan ini.

23