Anda di halaman 1dari 37

ASUHAN KEPRAWATAN INDIVIDU JIWA “RESIKO PRILAKU

KEKERASAN ” PADA NY. R DI RUANG UPIP


RSJD Dr. AMINO GONDOHUTOM
PROVINSI JAWA TENGAH

Disusun oleh :

Dede Bagus Nugroho

1708415

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2018
LAPORAN PENDAHULUAN

A. MASALAH UTAMA

Perilaku kekerasan.

B. PROSES TERJADINYA MASALAH

1. Pengertian
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik
terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan. Hal tersebut
dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah yang tidak
konstruktif (Towsend,1998).
Perilaku kekerasan adalah keadaan dimana individu-individu
beresiko menimbulkan bahaya langsung pada dirinya sendiri ataupun
orang lain (Carpenito, 2000)
Gejala klinis yang ditemukan pada klien dengan perilaku kekerasan
didapatkan melalui pengkajian meliputi :
a. Wawancara : diarahkan penyebab marah, perasaan marah, tanda-
tanda marah yang diserasakan oleh klien.
b. Observasi : muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara
tinggi, berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan
kehendak: merampas makanan, memukul jika tidak senang.
Tanda dan gejala:
Pada pengkajian awal dapat diketahui alasan utama klien dibawa ke
rumah sakit adalah perilaku kekerasan di rumah. Kemudian perawat
dapat melakukan pengkajian dengan cara observasi : muka merah,
pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi, berdebat, memaksakan
kehendak, memukul dan mengamuk.

2. Penyebab
Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan konsep diri:
harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian individu tentang
pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai
dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan
sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri,
merasa gagal mencapai keinginan.
Tanda dan gejala:
a. Perasaan malu terhadap diri sendiri
b. Rasa bersalah terhadap diri sendiri
c. Merendahkan martabat
d. Gangguan hubungan sosial
e. Percaya diri kurang
f. Mencederai diri

3. Akibat
Klien dengan perilaku kekerasan dapat melakukan tindakan-
tindakan berbahaya bagi dirinya, orang lain maupun lingkungannya,
seperti menyerang orang lain, memecahkan perabot, membakar rumah
dll. Sehingga klien dengan perilaku kekerasan beresiko untuk mencederai
diri orang lain dan lingkungan.
Tanda dan gejala:
Gejala klinis yang ditemukan pada klien dengan perilaku kekerasan
didapatkan melalui pengkajian meliputi :
a. Wawancara : diarahkan penyebab marah, perasaan marah, tanda-
tanda marah yang diserasakan oleh klien.
b. Observasi : muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara
tinggi, berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan
kehendak: merampas makanan, memukul jika tidak senang.
C. POHON MASALAH

Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Perilaku Kekerasan/amuk Core Problem

Gangguan Harga Diri : Harga Diri Rendah

D. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI

1. Masalah keperawatan:
a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
b. Perilaku kekerasan / amuk
c. Gangguan Harga Diri : Harga Diri Rendah
2. Data yang perlu dikaji pada masalah keperawatan perilaku kekerasan
a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Data Subyektif :
1) Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
2) Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya
jika sedang kesal atau marah.
3) Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
Data Objektif :
1) Mata merah, wajah agak merah.
2) Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak,
menjerit, memukul diri sendiri/orang lain.
3) Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
4) Merusak dan melempar barang-barang.
b. Perilaku kekerasan / amuk
Data Subyektif :
1) Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
2) Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya
jika sedang kesal atau marah.
3) Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
Data Obyektif:
1) Mata merah, wajah agak merah.
2) Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.
3) Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
4) Merusak dan melempar barang-barang.
c. Gangguan harga diri : harga diri rendah
Data subyektif:
Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu
terhadap diri sendiri.
Data obyektif:
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih
alternatif tindakan, ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Perilaku kekerasan
2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah

F. RENCANA TINDAKAN

1. Tindakan Keperawatan untuk Pasien


Tujuan tindakan :
a. Pasien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
b. Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda perilaku kekerasan
c. Pasien dapat menyebutkan jenis perilaku kekerasan yang pernah
dilakukannya
d. Pasien dapat menyebutkan akibat dari perilaku kekerasan yang
dilakukannya

e. Pasien dapat menyebutkan cara mencegah/mengontrol perilaku


kekerasannya
f. Pasien dapat mencegah/mengontrol perilaku kekerasannya secara
fisik, spiritual, sosial, dan dengan terapi psikofarmaka.

SP 1 Pasien : Membina hubungan saling percaya, identifikasi


penyebab perasaan marah, tanda dan gejala yang
dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan,
akibatnya serta cara mengontrol secara fisik I

ORIENTASI:

“Selamat pagi pak, perkenalkan nama saya .., panggil saya .., saya perawat yang dinas
di ruangan.......... ini, Nama bapak siapa, senangnya dipanggil apa?”

“Bagaimana perasaan bapak saat ini?, Masih ada perasaan kesal atau marah?”

“Baiklah kita akan berbincang-bincang sekarang tentang perasaan marah bapak”

“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang?” Bagaimana kalau 10 menit?

“Dimana enaknya kita duduk untuk berbincang-bincang, pak? Bagaimana kalau di


ruang tamu?”

KERJA:

“Apa yang menyebabkan bapak marah?, Apakah sebelumnya bapak pernah marah?
Terus, penyebabnya apa? Samakah dengan yang sekarang?. O..iya, apakah ada
penyebab lain yang membuat bapak marah”

“Pada saat penyebab marah itu ada, seperti bapak stress karena pekerjaan atau
masalah uang(misalnya ini penyebab marah pasien), apa yang bapak rasakan?”
(tunggu respons pasien)

“Apakah bapak merasakan kesal kemudian dada bapak berdebar-debar, mata melotot,
rahang terkatup rapat, dan tangan mengepal?”

“Setelah itu apa yang bapak lakukan? O..iya, jadi bapak marah-marah, membanting
pintu dan memecahkan barang-barang, apakah dengan cara ini stress bapak hilang?
Iya, tentu tidak. Apa kerugian cara yang bapak lakukan? Betul, istri jadi takut barang-
barang pecah. Menurut bapak adakah cara lain yang lebih baik? Maukah bapak belajar
cara mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa menimbulkan kerugian?”

”Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan, pak. Salah satunya adalahlah dengan
cara fisik. Jadi melalui kegiatan fisik disalurkan rasa marah.”
”Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu?”

”Begini pak, kalau tanda-tanda marah tadi sudah bapak rasakan maka bapak berdiri,
lalu tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan/tiupu perlahan –lahan
melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan. Ayo coba lagi, tarik dari hidung,
bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan 5 kali. Bagus sekali, bapak sudah
bisa melakukannya. Bagaimana perasaannya?”

“Nah, sebaiknya latihan ini bapak lakukan secara rutin, sehingga bila sewaktu-waktu
rasa marah itu muncul bapak sudah terbiasa melakukannya”

TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-bincang tentang kemarahan bapak?”

”Iya jadi ada 2 penyebab bapak marah ........ (sebutkan) dan yang bapak rasakan ........
(sebutkan) dan yang bapak lakukan ....... (sebutkan) serta akibatnya ......... (sebutkan)

”Coba selama saya tidak ada, ingat-ingat lagi penyebab marah bapak yang lalu, apa
yang bapak lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan jangan lupa latihan napas
dalamnya ya pak. ‘Sekarang kita buat jadual latihannya ya pak, berapa kali sehari
bapak mau latihan napas dalam?, jam berapa saja pak?”

”Baik, bagaimana kalau 2 jam lagi saya datang dan kita latihan cara yang lain untuk
mencegah/mengontrol marah. Tempatnya disini saja ya pak, Selamat pagi”

SP 2 Pasien: Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik ke-2

a. Evaluasi latihan nafas dalam


b. Latih cara fisik ke-2: pukul kasur dan bantal
c. Susun jadwal kegiatan harian cara kedua
ORIENTASI:
“Selamat pagi pak, sesuai dengan janji saya tiga jam yang lalu sekarang saya
datang lagi”

“Bagaimana perasaan bapak saat ini, adakah hal yang menyebabkan bapak
marah?”

“Baik, sekarang kita akan belajar cara mengontrol perasaan marah dengan
kegiatan fisik untuk cara yang kedua”

“sesuai janji kita tadi kita akan berbincang-bincang sekitar 20 menit dan
tempatnya disini di ruang tamu,bagaimana bapak setuju?”

KERJA
“Kalau ada yang menyebabkan bapak marah dan muncul perasaan kesal,
berdebar-debar, mata melotot, selain napas dalam bapak dapat melakukan pukul
kasur dan bantal”.

“Sekarang mari kita latihan memukul kasur dan bantal. Mana kamar bapak?
Jadi kalau nanti bapak kesal dan ingin marah, langsung ke kamar dan
lampiaskan kemarahan tersebut dengan memukul kasur dan bantal. Nah, coba
bapak lakukan, pukul kasur dan bantal. Ya, bagus sekali bapak melakukannya”.

“Kekesalan lampiaskan ke kasur atau bantal.”

“Nah cara inipun dapat dilakukan secara rutin jika ada perasaan marah.
Kemudian jangan lupa merapikan tempat tidurnya

TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak setelah latihan cara menyalurkan marah tadi?”

“Ada berapa cara yang sudah kita latih, coba bapak sebutkan lagi?Bagus!”

“Mari kita masukkan kedalam jadual kegiatan sehari-hari bapak. Pukul kasur
bantal mau jam berapa? Bagaimana kalau setiap bangun tidur? Baik, jadi jam
05.00 pagi. dan jam jam 15.00 sore. Lalu kalau ada keinginan marah sewaktu-
waktu gunakan kedua cara tadi ya pak. Sekarang kita buat jadwalnya ya pak,
mau berapa kali sehari bapak latihan memukul kasur dan bantal serta tarik nafas
dalam ini?”

“Besok pagi kita ketemu lagi kita akan latihan cara mengontrol marah dengan
belajar bicara yang baik. Mau jam berapa pak? Baik, jam 10 pagi ya. Sampai
jumpa&istirahat

SP 3 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal:

a. Evaluasi jadwal harian untuk dua cara fisik


b. Latihan mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik,
meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik.
c. Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal

ORIENTASI
“Selamat pagi pak, sesuai dengan janji saya kemarin sekarang kita ketemu lagi”

“Bagaimana pak, sudah dilakukan latihan tarik napas dalam dan pukul kasur
bantal?, apa yang dirasakan setelah melakukan latihan secara teratur?”

“Coba saya lihat jadwal kegiatan hariannya.”

“Bagus. Nah kalau tarik nafas dalamnya dilakukan sendiri tulis M, artinya
mandiri; kalau diingatkan suster baru dilakukan tulis B, artinya dibantu atau
diingatkan. Nah kalau tidak dilakukan tulis T, artinya belum bisa melakukan

“Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara bicara untuk mencegah marah?”

“Dimana enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau di tempat yang


sama?”

“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15


menit?”
KERJA
“Sekarang kita latihan cara bicara yang baik untuk mencegah marah. Kalau
marah sudah dusalurkan melalui tarik nafas dalam atau pukul kasur dan bantal,
dan sudah lega, maka kita perlu bicara dengan orang yang membuat kita marah.
Ada tiga caranya pak:

1. Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta
tidak menggunakan kata-kata kasar. Kemarin Bapak bilang penyebab
marahnya larena minta uang sama isteri tidak diberi. Coba Bapat minta uang
dengan baik:”Bu, saya perlu uang untuk membeli rokok.” Nanti bisa dicoba
di sini untuk meminta baju, minta obat dan lain-lain. Coba bapak praktekkan.
Bagus pak.”
2. Menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh dan bapak tidak ingin
melakukannya, katakan: ‘Maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang
ada kerjaan’. Coba bapak praktekkan. Bagus pak”
3. Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat
kesal bapak dapat mengatakan:’ Saya jadi ingin marah karena perkataanmu
itu’. Coba praktekkan. Bagus”
TERMINASI

“Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara


mengontrol marah dengan bicara yang baik?”

“Coba bapak sebutkan lagi cara bicara yang baik yang telah kita pelajari”

“Bagus sekal, sekarang mari kita masukkan dalam jadual. Berapa kali sehari
bapak mau latihan bicara yang baik?, bisa kita buat jadwalnya?”

Coba masukkan dalam jadual latihan sehari-hari, misalnya meminta obat, uang,
dll. Bagus nanti dicoba ya Pak!”

“Bagaimana kalau dua jam lagi kita ketemu lagi?”“Nanti kita akan
membicarakan cara lain untuk mengatasi rasa marah bapak yaitu dengan cara
ibadah, bapak setuju? Mau di mana Pak? Di sini lagi? Baik sampai nanti ya”
SP 4 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual

a. Diskusikan hasil latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik

dan sosial/verbal

b. Latihan sholat/berdoa

c. Buat jadual latihan sholat/berdoa

ORIENTASI

“Selamat pagi pak, sesuai dengan janji saya dua jam yang lalu sekarang saya
datang lagi” Baik, yang mana yang mau dicoba?”

“Bagaimana pak, latihan apa yang sudah dilakukan?Apa yang dirasakan setelah
melakukan latihan secara teratur? Bagus sekali, bagaimana rasa marahnya”

“Bagaimana kalau sekarang kita latihan cara lain untuk mencegah rasa marah
yaitu dengan ibadah?”

“Dimana enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau di tempat tadi?”

“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?

KERJA:

“Coba ceritakan kegiatan ibadah yang biasa Bapak lakukan! Bagus. Baik, yang
mana mau dicoba?

“Nah, kalau bapak sedang marah coba bapak langsung duduk dan tarik napas
dalam. Jika tidak reda juga marahnya rebahkan badan agar rileks. Jika tidak
reda juga, ambil air wudhu kemudian sholat”.

“Bapak bisa melakukan sholat secara teratur untuk meredakan kemarahan.”

“Coba Bpk sebutkan sholat 5 waktu? Bagus. Mau coba yang mana?Coba
sebutkan caranya (untuk yang muslim).”
TERMINASI

Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara yang ketiga
ini?”

“Jadi sudah berapa cara mengontrol marah yang kita pelajari? Bagus”.

“Mari kita masukkan kegiatan ibadah pada jadual kegiatan bapak. Mau berapa
kali bapak sholat. Baik kita masukkan sholat ....... dan ........ (sesuai kesepakatan
pasien)

“Coba bapak sebutkan lagi cara ibadah yang dapat bapak lakukan bila bapak
merasa marah”

“Setelah ini coba bapak lakukan jadual sholat sesuai jadual yang telah kita buat
tadi”

“Besok kita ketemu lagi ya pak, nanti kita bicarakan cara keempat mengontrol
rasa marah, yaitu dengan patuh minum obat.. Mau jam berapa pak? Seperti
sekarang saja, jam 10 ya?”

“Nanti kita akan membicarakan cara penggunaan obat yang benar untuk
mengontrol rasa marah bapak, setuju pak?”

SP 5 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan dengan obat

a. Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara mencegah marah yang
sudah dilatih.
b. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar
nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum
obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti
minum obat.
c. Susun jadual minum obat secara teratur
ORIENTASI

“Selamat pagi pak, sesuai dengan janji saya kemarin hari ini kita ketemu lagi”
“Bagaimana pak, sudah dilakukan latihan tarik napas dalam, pukul kasur bantal,
bicara yang baik serta sholat?, apa yang dirasakan setelah melakukan latihan
secara teratur?. Coba kita lihat cek kegiatannya”.

“Bagaimana kalau sekarang kita bicara dan latihan tentang cara minum obat
yang benar untuk mengontrol rasa marah?”

“Dimana enaknya kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau di tempat


kemarin?”

“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit”

KERJA (perawat membawa obat pasien)

“Bapak sudah dapat obat dari dokter?”

Berapa macam obat yang Bapak minum? Warnanya apa saja? Jam berapa Bapak
minum?

“Obatnya ada tiga macam pak, yang warnanya oranye namanya CPZ gunanya
agar pikiran tenang, yang putih ini namanya THP agar rileks, dan yang merah
jambu ini namanya HLP agar pikiran teratur dan rasa marah berkurang.
Semuanya ini harus bapak minum 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 sian g, dan jam
7 malam”.

“Bila nanti setelah minum obat mulut bapak terasa kering, untuk membantu
mengatasinya bapak bisa minum air putih yang tersedia di ruangan”.

“Bila terasa mata berkunang-kunang, bapak sebaiknya istirahat dan jangan


beraktivitas dulu”

“Nanti di rumah sebelum minum obat ini bapak lihat dulu label di kotak obat
apakah benar nama bapak tertulis disitu, berapa dosis yang harus diminum, jam
berapa saja harus diminum. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar? Di
sini minta obatnya pada suster kemudian cek lagi apakah benar obatnya!”
“Jangan pernah menghentikan minum obat sebelum berkonsultasi dengan dokter
ya pak, karena dapat terjadi kekambuhan.”

“Sekarang kita masukkan waktu minum obatnya kedalam jadual ya pak.”

TERMINASI

“Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara minum


obat yang benar?”

“Coba bapak sebutkan lagijenis obat yang Bapak minum! Bagaimana cara
minum obat yang benar?”

“Nah, sudah berapa cara mengontrol perasaan marah yang kita pelajari?.
Sekarang kita tambahkan jadual kegiatannya dengan minum obat. Jangan lupa
laksanakan semua dengan teratur ya”.

“Baik, Besok kita ketemu kembali untuk melihat sejauhma ana bapak
melaksanakan kegiatan dan sejauhmana dapat mencegah rasa marah. Sampai
jumpa”

2. Tindakan keperawatan untuk keluarga


Tujuan : Keluarga dapat merawat pasien di rumah

SP 1 Keluarga: Memberikan penyuluhan kepada keluarga tentang cara


merawat klien perilaku kekerasan di rumah

a. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien


b. Diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab, tanda
dan gejala, perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut)
c. Diskusikan bersama keluarga kondisi-kondisi pasien yang perlu segera
dilaporkan kepada perawat, seperti melempar atau memukul benda/orang
lain
ORIENTASI

“Selamat pagi bu, perkenalkan nama saya …, saya perawat dari ruang ..........
ini, saya yang akan merawat bapak (pasien). Nama ibu siapa, senangnya
dipanggil apa?” “Bisa kita berbincang-bincang sekarang tentang masalah yang
Ibu hadapi?” “Berapa lama ibu kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 30
menit?”“Di mana enaknya kita berbincang-bincang, Bu? Bagaimana kalau di
ruang tamu?”

KERJA

“Bu, apa masalah yang Ibu hadapi/ dalam merawat Bapak? Apa yang Ibu
lakukan? Baik Bu, Saya akan coba jelaskantentang marah Bapak dan hal-hal
yang perlu diperhatikan.”

“Bu, marah adalah suatu perasaan yang wajar tapi bisa tidak disalurkan dengan
benar akan membahayakan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan.

Yang menyebabkan suami ibu marah dan ngamuk adalah kalau dia merasa
direndahkan, keinginan tidak terpenuhi. Kalau Bapak apa penyebabnya Bu?”

“Kalau nanti wajah suami ibu tampak tegang dan merah, lalu kelihatan gelisah,
itu artinya suami ibu sedang marah, dan biasanya setelah itu ia akan
melampiaskannya dengan membanting-banting perabot rumah tangga atau
memukul atau bicara kasar? Kalau apa perubahan terjadi? Lalu apa yang biasa
dia lakukan?””

“Nah bu, ibu sudah lihat khan apa yang saya ajarkan kepada bapak bila tanda-
tanda kemarahan itu muncul. Ibu bisa bantu bapak dengan cara mengingatkan
jadual latihan cara mengontrol marah yang sudah dibuat yaitu secara fisik,
verbal, spiritual dan obat teratur”. Kalau bapak bisa melakukanya jangan lupa di
puji ya bu”
TERMINASI

“Bagaimana perasaan ibu setelah kita bercakap-cakap tentang cara merawat bapak?”

“Coba ibu sebutkan lagi cara merawat bapak”

“Setelah ini coba ibu ingatkan jadual yang telah dibuat untuk bapak ya bu”

“Bagaimana kalau kita ketemu 2 hari lagi untuk latihan cara-cara yang telah kita
bicarakan tadi langsung kepada bapak?”

“Tempatnya disini saja lagi ya bu?”

SP 2 Keluarga: Melatih keluarga melakukan cara-cara mengontrol


kemarahan

a) Evaluasi pengetahuan keluarga tentang marah


b) Anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan tindakan yang
telah diajarkan oleh perawat
c) Ajarkan keluarga untuk memberikan pujian kepada pasien bila pasien
dapat melakukan kegiatan tersebut secara tepat
d) Diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila pasien
menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan

ORIENTASI
“Selamat pagi bu, sesuai dengan janji kita 2 hari yang lalu sekarang kita ketemu lagi
untuk latihan cara-cara mengontrol rasa marah bapak.”
“Bagaimana Bu? Masih ingat diskusi kita yang lalu? Ada yang mau Ibu tanyakan?”
“Berapa lama ibu mau kita latihan?“Bagaimana kalau kita latihan disini saja?,
sebentar saya panggilkan bapak supaya bisa berlatih bersama”
KERJA
”Nah pak, coba ceritakan kepada Ibu, latihan yang sudah Bapak lakukan. Bagus
sekali. Coba perlihatkan kepada Ibu jadwal harian Bapak! Bagus!”
”Nanti di rumah ibu bisa membantu bapak latihan mengontrol kemarahan Bapak.”
”Sekarang kita akan coba latihan bersama-sama ya pak?”
”Masih ingat pak, bu kalau tanda-tanda marah sudah bapak rasakan maka yang
harus dilakukan bapak adalah.......?”
”Ya.. betul, bapak berdiri, lalu tarik napas dari hidung, tahan sebentar
lalu keluarkan/tiup perlahan –lahan melalui mulut seperti mengeluarkan kemarahan.
Ayo coba lagi, tarik dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah, lakukan
5 kali, coba ibu temani dan bantu bapak menghitung latihan ini sampai 5 kali”.
“Bagus sekali, bapak dan ibu sudah bisa melakukannya dengan baik”.
“Cara yang kedua masih ingat pak, bu?”
“ Ya..benar, kalau ada yang menyebabkan bapak marah dan muncul perasaan kesal,
berdebar-debar, mata melotot, selain napas dalam bapak dapat melakukan pukul
kasur dan bantal”.
1. “Sekarang coba kita latihan memukul kasur dan bantal. Mana kamar bapak? Jadi
kalau nanti bapak kesal dan ingin marah, langsung ke kamar dan lampiaskan
kemarahan tersebut dengan memukul kasur dan bantal. Nah, coba bapak lakukan
sambil didampingi ibu, berikan bapak semangat ya bu. Ya, bagus sekali bapak
melakukannya”. “Cara yang ketiga adalah bicara yang baik bila sedang marah.
Ada tiga caranya pak, coba praktekkan langsung kepada ibu cara bicara ini:
Meminta dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta tidak
menggunakan kata-kata kasar, misalnya: ‘Bu, Saya perlu uang untuk beli rokok!
Coba bapak praktekkan. Bagus pak”.
2. Menolak dengan baik, jika ada yang menyuruh dan bapak tidak ingin
melakukannya, katakan: ‘Maaf saya tidak bisa melakukannya karena sedang ada
kerjaan’. Coba bapak praktekkan. Bagus pak”
2. Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada perlakuan orang lain yang membuat
kesal bapak dapat mengatakan:’ Saya jadi ingin marah karena perkataanmu
itu’. Coba praktekkan. Bagus” “Cara berikutnya adalah kalau bapak sedang
marah apa yang harus dilakukan?
“Baik sekali, bapak coba langsung duduk dan tarik napas dalam. Jika tidak reda
juga marahnya rebahkan badan agar rileks. Jika tidak reda juga, ambil air
wudhu kemudian sholat”.
“Bapak bisa melakukan sholat secara teratur dengan didampingi ibu untuk
meredakan kemarahan
“Cara terakhir adalah minum obat teratur ya pak, bu agar pikiran bapak jadi
tenang, tidurnya juga tenang, tidak ada rasa marah”
“Bapak coba jelaskan berapa macam obatnya! Bagus. Jam berapa minum obat?
Bagus. Apa guna obat? Bagus. Apakah boleh mengurangi atau menghentikan
obat? Wah bagus sekali!”
“Dua hari yang lalu sudah saya jelaskan terapi pengobatan yang bapak
dapatkan, ibu tolong selama di rumah ingatkan bapak untuk meminumnya secara
teratur dan jangan dihentikan tanpa sepengetahuan dokter”
TERMINASI
“Baiklah bu, latihan kita sudah selesai. Bagaimana perasaan ibu setelah kita
latihan cara-cara mengontrol marah langsung kepada bapak?”
“Bisa ibu sebutkan lagi ada berapa cara mengontrol marah?”
“Selanjutnya tolong pantau dan motivasi Bapak melaksanakan jadwal latihan
yang telah dibuat selama di rumah nanti. Jangan lupa berikan pujian untuk
Bapak bila dapat melakukan dengan benar ya Bu!”
“ Karena Bapak sebentar lagi sudah mau pulang bagaimana kalau 2 hari lagi Ibu
bertemu saya untuk membicarakan jadwal aktivitas Bapak selama di rumah
nanti.”
“Jam 10 seperti hari ini ya Bu. Di ruang ini juga.”
SP 3 Keluarga: Menjelaskan perawatan lanjutan bersama keluarga

Buat perencanaan pulang bersama keluarga

ORIENTASI
“Selamat pagi pak, bu, karena ibu dan keluarga sudah menetahui cara-cara yang
sebelumnya telah kita bicarakanya. Sekarang Bagaimana kalau kita berbincang-
bincang tentang perawatan lanjutan untuk keluarga Bapak/Ibu. Apakah sudah
dipuji keberhasilannya?”

“Nah sekarang bagaimana kalau bicarakan jadual kegiatan dan perawatan


lanjutan di rumah, disini saja?”

“Berapa lama bapak dan ibu mau kita berbicara? Bagaimana kalau 30 menit?”

KERJA

“Pak, bu, jadual yang telah dibuat tolong dilanjutkan, baik jadual aktivitas
maupun jadual minum obatnya. Mari kita lihat jadwal Bapak!”

“Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan
oleh bapak selama di rumah. Kalau misalnya Bapak menolak minum obat atau
memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain, maka bapak konsul kan ke
dokter atau di bawa kerumah sakit ini untuk dilakukan pemeriksaan ulang pada
bapak.”

TERMINASI
“ Bagaimana Bu? Ada yang ingin ditanyakan? Coba Ibu sebutkan apa saja yang
perlu diperhatikan (jadwal kegiatan, tanda atau gejala, kontrol; ke rumah sakit).
Saya rasa mungkin cukup sampai disini dan untuk persiapan pulang pasien lainya
akan segera saya siapkan”
LAPORAN KASUS

A. PENGKAJIAN

1. Identitas Pasien
a. Nama : NY. R
b. Umur : 35 tahun
c. Jenis Kelamin : Perempuan
d. Alamat : Semarang
e. Agama : Islam
f. Pendidikan : STM
g. Pekerjaan : Tidak bekerja
h. Tgl. Dirawat : 19 April 2018
i. Tgl. Pengakajian : 20 April 2018
j. Ruang rawat : Ruang UPIP
k. No. CM : 00041892
l. Dx. Medis : Skizofrenia paranoid
m. Penanggung Jawab : NY. S (adik pasien)

2. Alasan Masuk
Pasien mengatakan 1 hari sebelum dibawah ke rsjd, pasien
mengamuk memukuli adiknya dan meminum minyak tanah, dibawah
kerumah sakit oleh adiknya.

3. Faktor Predisposisi
a. Gangguan jiwa di masa lalu
Pasien mengatakan sudah 5X lebih dirawat di RSJD yang sama,
yaitu mengamuk dan marah marah. Pengobatan sebelumnya kurang
berhasil karena sakitnya kabuh lagi
Sakit saat ini mengamuk memukuli adiknya dan meminum
minyak tanah. Perasaan marah muncul karena merasa adiknya selalu
ingin menyakitinya.
Masalah Keperawatan:
 Resiko tinggi kekerasan
 Resiko Bunuh Diri

b. Anggota keluarga dengan gangguan jiwa


Pasien mengatakan keluarganya tidak ada yang mengalami
ganguan kejiwaan.
c. Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan,
Pasien mengatakan bahwa dulunya pernah ditabrak sepeda motor

4. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda Vital : TD : 130/80 mmHg N : 80 x/menit
S : 37 oC, RR : 17 x/menit
b. Antopometri : BB : 65 kg TB: 160 cm
c. Pemeriksaan Head to Toe:
 Kepala : rambut hitam, berketombe
 Mata : ananemis, anikterik, mata sayu terdapat luka memar
 Hidung : bersih
 Mulut : gigi lengkap, bibir lembab, mulut dan gigi bersih
 Telinga : tidak ada nyeri tekan belakang telinga, tidak ada benjolan
 Leher : tidak ada benjolan
 Dada : bentuk dada datar, pernafasan seimbang kanan dan kiri
 Perut : perut datar, tidak ada lesi
 Ekstremitas atas : tidak tremor, kulit kering, tidak ada lesi, tidak
ada luka, tidak ada scabies
 Ekstremitas bawah : tidak oedema, kulit kering, tidak ada scabies
d. Keluhan Fisik : Pasien mengatakan badan merasa sehat, tidak ada
keluhan apa pun.
5. Psikososial
a. Genogram

Laki – laki Perempuan Pasien


Keterangan : Pasien adalah anak ke dua dari 3 saudara, belum
menikah, tinggal satu rumah dengan ayah ibu dan
adiknya. Komunikasi dalam keluarga berjalan baik,
namun bila ada masalah keluarga besar tidak pernah
bercerita dengan ayah ibu dan adiknya karena lebih
memilih untuk dipendam sendiri. Pola asuh dalam
keluarga adalah demokratis, seluruh anak dari orang
tua pasien mendapat kasih sayang yang sama.
Keluarga terdekat pasien adalah ibu, namun pasien
jarang bercerita tentang masalah pribadi karena
merasa malu.
Masalah Keperawatan:
 Koping keluarga tidak efektif : kompromi

b. Konsep Diri
1) Citra / gambaran tubuh : pasien mengatakan tubuhnya lengkap
dan berfungsi dengan baik
2) Identitas diri : pasien tahu nama sendiri dan seluruh
kelurga
3) Peran : pasien adalah seorang kaka dari
seorang adik,
4) Ideal diri : pasien mengatakan sebagai kaka
hharus bertanggung jawab terhadap
adiknya
5) Harga diri : pasien mengatakan merasa malu
dengan keadaanya, ingin sembuh
Masalah Keperawatan:
 Pengabaian unilateral
 Gangguan citra / gambaran tubuh
 Gangguan identitas pribadi
 Harga diri rendah kronik
 Harga diri rendah situasional

c. Hubungan Sosial
1) Orang yang berarti : keluarganya adalah orang – orang
yang berarti dalam hidup pasien.
2) Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat : pasien
mengatakan sebelum sakit aktif dalam kegiatan masyarakat
3) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : pasien
mengatakan bicara hanya bila perlu, memendam masalah sendiri
dan tidak bercerita dengan orang terdekat. Pasien terkadang
acuh pada lawan bicara.
Masalah Keperawatan :
 Kerusakan interaksi social

d. Spiritual
1) Nilai dan keyakinan : pasien beragama Islam, percaya dan
pasrah kepada Allah SWT, yakin bahwa semua sudah diatur.
Pasien ingin pulang ke rumah dan berharap keluarga dan
masyarakat mau menerima keadaanya. Pasien mengatakan ingin
berusaha memperbaiki diri dan tidak menyakiti orang – orang
disekitanya lagi.
2) Kegiatan ibadah : pasien mengatakan selalu sholat lima waktu
6. Status Mental
a. Penampilan : Pasien tampak bersih dan rapi dengan pakaian yang
sesuai, rambut rapi.
b. Pembicaraan : Cara bicara pasien pelan dan lambat, intonasi biasa
dan jelas.

c. Aktifitas motorik : pasien tampak lesu, namun dapat membantu


aktivitas ruangan seperti menyiapkan makan, membersihkan ruangan
setelah makan, mengambil linen.
d. Alam Perasaan : Pasien mengatakan sedih karena kangen dengan
anak dan istri, belum dijenguk semenjak masuk rumah sakit.
e. Afek : datar, pasien tampak tenang dan kooperatif.
f. Interaksi selama wawancara : pasien kooperatif saat diajak
bicara, selalu memandang lawan bicara, tak tampak marah.
g. Persepsi : pasien mengatakan tidak mendengar suara – suara apapun
h. Isi Pikir : Pasien menagtakan ingin pulang ke rumah untuk bertemu
Waham : curiga, pasien mengatakan curiga kepada adik akan
menyakiti dirinya.
Masalah Keperawatan:
 Perubahan proses piker

i. Arus Pikir : pasien mengerti dan memahami perbincangan


dengan perawat, tidak ada flight of idea, fokus pada topic
pembicaraana.
j. Tingkat kesadaran : pasien sadar dan kooperatif, pasien mampu
menyebutkan bahawa saat ini di RSJD. Pasien tahu hari ini tanggal
20 April 2018, pasien mengingat nama perawat yang berdinas di
ruang UPIP.
k. Memori
 Tidak ada gangguan daya ingat jangka panjang : pasien
menginat tanggal lahirnya sen diri 30 -08 -1982
 Tidak ada gangguan daya ingat jangka pendek : pasien
mengatakan bahwa yang mengantar pasien ke rumah sakit
adalah adiknya
 Tidak ada gagguan daya ingat saat ini : pasien mengatakan hari
ini tanggal 20 april 2018 hari jumat
l. Tingkat Konsentrasi dan berhitung : pasien mampu melakukan
hitungan sederhana.
m. Kemampuan penilaian : Pasien mengatakan mampu mengambil
keputusan sendiri seperti membantu menata kursi sebelum makan
dan merapikan meja makan setelah makan.

n. Daya Tilik Diri : Pasien menyadari bahwa saat ini sedang sakit
karena marah dan mengamuk.
7. Kebutuhan Perencanaan Pulang
a. Kemampuan klien memenuhi kebutuhannya :
Pasien dapat makan, mandi, toileting dan berpakaian secara
mandiri. Pasien tidak melukai teman sekamar atau pun petugas.
Bila pulang pasien akan dijemput keluarga dan pulang ke rumah
pasien.
b. Kegiatan hidup sehari – hari
Pasien dapat makan, mandi, toileting, dan berpakaian secara mandiri.
Selama di rawat pasien tidak mengalami penurunan nafsu makan,
makan selalu habis, berat badan tetap.
8. Mekanisme Koping
Pasien mengatakan bila ada masalah kadang cerita dengan ibu kadang
tidak.
9. Masalah Psikososial dan Lingkungan
Pasien mengatakan tidak ada gangguan dalam hubungan sosialisasi di
rumah karena selalu ikut kegiatan masyarakat seperti kerja bakti.
10. Aspek Medis
a. Diagnosa medic: skizofrenia paranoid
b. Terapi Medik : Risperidon 2 – 8 mg / hari
11. Analisa Data
No Data Masalah
1 DS: pasien mengatakan dirawat karena Resiko perilaku
mengamuk dan memukuli adiknya, pasien kekerasan
pernah dirawat dengan alasan yang sama.
DO:
 Pembicaraan : Cara bicara pasien pelan
dan lambat, intonasi biasa dan jelas

 Aktifitas motorik : pasien tampak lesu,


namun dapat membantu aktivitas
ruangan seperti menyiapkan makan,
membersihkan ruangan setelah makan,
mengambil linen.
 Alam Perasaan : Pasien tampak sedih
Afek : datar, pasien tampak tenang dan
kooperatif.
 Interaksi s elama wawancara :
pasien kooperatif saat diajak bicara,
selalu memandang lawan bicara, tak
tampak marah.

DS: pasien mengatakan merasa malu


dengan keadaannya saat ini dan ingin
kembali kerumah.
2 Gangguan konsep diri:
DO:
Harga diri rendah
 Pembicaraan : Cara bicara pasien pelan
dan lambat, intonasi biasa dan jelas
bicara lambat, tampak lesu, alam
perasaan sedih
.
3 DS : Pasien mengatakan memukuli
adiknya dan meminum minyak tanah Resiko mencederai diri,
DO : pasien bau minyak tanah saat orang lain dan
berbicara, pasien kooperatif, tidak lingkungan
mencederai teman sekamar atau pun
petugas.
:
12. Daftar Masalah Kepribadian:
a. Resiko perilaku kekerasan
b. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
c. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.

13. Pohon Masalah


Akibat
Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

Core Problem
Resiko Perilaku Kekerasan

Harga Diri Rendah


Sebab

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Resiko Perilaku Kekerasan


2. Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah
3. Resiko mencederai diri, orang lain, dan lingkungan
C. INTERVENSI KEPERAWATAN

N DiagnosaKep Sasaran Pertemuan


o erawatan 1 2 3 4 5
1 Resiko Pasien 1. Identifikasi 1. Evaluasi kegiatan 1. Evaluasi kegiatan 1. Evaluasi 1. Evaluasi
perilaku penyebab, latihan fisik 1,2.beri latihan fisik 1,2 & kegiatan kegiatan latihan
kekerasan tanda &gejala, pujian obat. Beri pujian. latihan fisik 1, fisik 1,2 & obat
PK yang 2. Latih cara 2. Latih cara 2 & obat & & verbal &
dilakukan, mengontrol PK mengontrol PK verbal. Beri spiritual. Beri
akibat PK dengan obat. secara verbal (3 pujian. pujian.
2. Jelaskan cara (jelaskan 6 benar: cara, yaitu: 2. Latih cara 2. Nilai
mengontrol jenis, guna, dosis, mengungkapkan, mengontrol kemampuan
PK: fisik, frekuensi, cara, meminta, menolak spiritual (2 yang telah
obat, verbal, kontinuitasminumob dengan benar) kegiatan) mandiri
spiritual. at) 3. Masukkan pada 3. Masukkan 3. Nilai apakah PK
3. Latihan cara 3. Masukkan pada jadwal kegiatan pada jadwal yang terkontrol
mengontrol jadwal kegiatan untuk latihan kegiatan untuk
PK fisik 1&2 untuk latihan fisik fisik, minum obat latihan fisik,
4. Masukkan dan minum obat dan verbal. minum obat,
pada jadwal verbal dan
kegiatan untuk spiritual.
latihan fisik
Harga diri Pasien 1. Identifikasi 1. Evaluasi kegiatan 1. Evaluasi kegiatan 1. Evaluasi kegiatan 1. Evaluasi kegiatan
rendah kemampuan pertama yang pertama dan pertama, kedua dan latihan dan
melakukan kegiatan telah dilatih dan kedua yang telah ketiga yang telah berikan pujian
dan aspek positif berikan pujian dilatih dan dilatih dan berikan 2. Latih kegiatan
pasien (buat daftar 2. Bantu pasien berikan pujian pujian dianjurkan
kegiatan) memilih kegiatan 2. Bantu pasien 2. Bantu pasien untuk sampai ta
2. Bantu pasien menilai kedua yang akan memilih kegiatan memilih kegiatan ke terhingga
kegiatan yang dapat dilatih ketiga yang akan empat yang akan 3. Nilai
dilakukan saat ini 3. Latih kegiatan di latih dilatih kemampuan yang
(pilih dari daftar kedua kedua (alat 3. Latih kegiatan 3. Latih kegiatan ke telah mandiri
kegiatan): buat dan cara) ketiga ( alat dan empat (alat dan cara) 4. Nilai apakah
daftar kegiatan 4. Masukkan pada cara) 4. Masukkan pada harga diri pasien
yangdapat dilakukan jadwal kegiatan 4. Masukkan pada jadwal kegiatan meingkat
saat ini untuk latihan : jadwal kegiatan untuk latihan : empat
3. Bantu pasien dua kegiatan untuk latihan : kegiatan masing2
memilih salah satu masing2 dua kali tiga kegiatan dua kali per hari
kegiatan yang dapat per hari masing2 dua kali
dilakukan saat ini per hari
untuk dilatih
4. Latih kegiatan yang
dipilh (alat dan cara
melakukannya)
5. Masukkan pada
jadwal kegiatan
untuk latihan dua
kali per minggu
D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

TGL/ Paraf
DX.KEP IMPLEMENTASI EVALUASI
JAM
20/4/1 Resiko perilaku Tanggal : Jumat , 20 April 2018, jam 10.00 Tanggal : Jumat, 20 April 2018 jam 10.30 WIB Dede
WIB S:
8 kekerasan
 “ Saya marah karena adik saya mau mengikat
10.00 1. Identifikasi penyebab, tanda & gejala, PK yang saya saat marah”
dilakukan, akibat PK  “ Saya bila marah mata melotot, dada terasa
2. Jelaskan cara mengontrol PK: fisik, obat, verbal, sesak dan berat, ingin memukul sesuatu.
spiritual. Saya kalau marah memukul adik saya”
3. Latihan cara mengontrol PK fisik 1&2  “Saya tahu yang saya lakukan salah karena
4. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan jadi berate dengan adik saya, dan badan saya
fisik
jadi sakit”
 “Saya senang bisa mempelajari cara
mengontrol marah dengan tarik nafas dalam
dan pukul bantal”
O:
 Klien mampu memulai pembicaraan,
berkomunikasi dengan nada cepat.
 Klien berbicara dan tidak marah.
 Klien mau duduk berdampingan dengan
perawat dan mengangguk untuk diajak
kontrak waktu interaksi selanjutnya
 Klien mampu melakukan cara mengontrol
PK fisik 1 dan 2
 Klien kooperatif
A:
 Pasien mengetahui cara – cara mengontrol
marah
 SP 1 teratasi, cara mengontrol marah dengan
cara fisik : tarik nafas dalam dan pukul bantal
dapat dilakukan
 P :
 Perawat : pertahankan SP 1 &lanjutkan SP 2
 Klien : Mengulang cara mengontrol marah
dengan fisik 1&2, dan belajar cara
mengontrol marah dengan obat.
TGL/
DX.KEP IMPLEMENTASI EVALUASI Paraf
JAM

21/4/18 Resiko Tanggal : sabtu 21 April 2018 jam Tanggal : sabtu 21 April 2018 jam 10.30 WIB Dede
10.00 WIB
10.00 perilaku
SP 2 : S:
kekerasan 1. Evaluasi kegiatan latihan fisik 1,2.  “ Saya sudah bisa mengulang cara mengontrol marah”
Beri pujian  “ Saya dapat mengontrol marah dengan minum obat”

2. Latih cara mengontrol PK dengan  “ Jika saya marah akan melakukan kegiatan fisik atau
obat. (jelaskan 6 benar: jenis, guna, minum obat.”
dosis, frekuensi, cara, kontinuitas O:
minum obat) Masukkan pada jadwal  Klien mampu memulai pembicaraan
 Ada kontak mata selama interaksi
 Klien kooperatif
A:
 SP 2 teratasi, cara mengontrol marah denganobat
P:
 Perawat : Pertahankan SP 2& lanjutkan ke SP3
Klien : Mengulang cara mengontrol marah dengan obat, dan

belajar cara mengontrol marah secara verbal


TGL/
DX.KEP IMPLEMENTASI EVALUASI Paraf
JAM

22/4/18 Resiko Tanggal : Minggu 22 April 2018 jam 10.00 Tanggal : Minggu 22 April 2018 jam 10.30 WIB Dede
WIB
16.00 perilaku
SP 3 : S:
kekerasan 1. Evaluasi kegiatan latihan fisik 1,2 & obat.  “ Saya sudah bisa mengulang cara mengontrol
Beri pujian. marah”
2. Latih cara mengontrol PK secara verbal (3  “ Saya dapat mengontrol marah dengan minum obat”
cara, yaitu: mengungkapkan, meminta,  “saya minum obat 2 Xsehari setalah makan”
menolak dengan benar)
3. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk
O:
latihan fisik, minum obat dan verbal.
 Klien mampu memulai pembicaraan
 Ada kontak mata selama interaksi
 Klien kooperatif
A:
 SP 3 teratasi, cara mengontrol marah denganobat
P:
 Perawat : Pertahankan SP 1, 2 ,3 & lanjutkan ke SP4
Klien : Mengulang cara mengontrol marah dengan cara

spiritual.
TGL/ Paraf
DX.KEP IMPLEMENTASI EVALUASI
JAM
20/4/1 Harga diri Tanggal : Jumat , 20 April 2018, jam 10.00 Tanggal : Jumat, 20 April 2018 jam 10.30 WIB Dede
WIB S:
8 rendah
SP 1  “saya memili melakukan kegiatan positif
13.00 1. Identifikasi kemampuan melakukan kegiatan berkenalan dengan teman satu ruangan”
dan aspek positif pasien (buat daftar kegiatan)  “saya masih merasa malu berkenalan”
2. Bantu pasien menilai kegiatan yang dapat  “saya mengingat nama orang yang tadi saya
dilakukan saat ini (pilih dari daftar kegiatan): ajak berkenalan”
buat daftar kegiatan yangdapat dilakukan saat O:
ini
 Klien hanya berkenalan dengan 1 orang saja
3. Bantu pasien memilih salah satu kegiatan yang
dapat dilakukan saat ini untuk dilatih  Klien mau berkenalan dan memasukan
4. Latih kegiatan yang dipilh (alat dan cara jadwal kegiatan berkenalan untuk hari
melakukannya) berikutnya.
5. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan  Klien dapat mengingat nama orang yang
dua kali per minggu diajak berkenalan
A:
 Klien mau berkenalan dengan teman satu
ruangan dan dapat bmemasukan kegitan
berkenalan kedalam jadwal harian. SP 1
teratasi
 P :
 Perawat : pertahankan SP 1 &lanjutkan SP 2
 Klien : Mengulang kegitan berkenalan lebih
dari 1 orang
TGL/ Paraf
DX.KEP IMPLEMENTASI EVALUASI
JAM
21/4/1 Harga diri Tanggal : Sabtu, 21 April 2018, jam 11.00 WIB Tanggal : sabtu, 21 April 2018 jam 11.30 WIB Dede
SP 2 S:
8 rendah
1. Evaluasi kegiatan pertama yang telah dilatih dan  “saya masih merasa malu untuk berkenalan
11.00 berikan pujian. dengan orang.”
2. Bantu pasien memilih kegiatan kedua yang akan  “Saya memilih kegiatan ke 2 berolahraga.”
dilatih.
3. Latih kegiatan kedua kedua (alat dan cara) Masukkan O:
pada jadwal kegiatan untuk latihan : dua kegiatan  Klien berkenalan dengan 3 orang.
masing2 dua kali per hari  Klien dapat mengingat nama orang yang
diajak berkenalan
 Klien memasukan jadwal kegiatan
berolahraga setelah jam makan pagio
A:
 Klien mau berkenalan dengan teman satu
ruangan dan dapat memasukan kegitan
berkenalan dan olahraga kedalam jadwal
harian. SP 2 teratasi
 P :
 Perawat : pertahankan SP 1,2 &lanjutkan SP
3
 Klien : Mengulang kegitan berkenalan lebih
dari 3 orang
 Melakukan olahraraga setelah jam makan
pagi sesuai jadwal harian.
TGL/ Paraf
DX.KEP IMPLEMENTASI EVALUASI
JAM
22/4/1 Harga diri Tanggal : Minggu, 22 April 2018, jam 11.00 WIB Tanggal : Minggu, 22 April 2018 jam 11.30 Dede
SP 3 WIB
8 rendah
1. Evaluasi kegiatan pertama dan kedua yang telah S:
11.00 dilatih dan berikan pujian  “saya sudah berkenalan dengan 6 orang.”
2. Bantu pasien memilih kegiatan ketiga yang akan di  “badan saya terasa bugar setelah olahraga.”
latih  “saya memilih kegiatan ketiga bercerita”
3. Latih kegiatan ketiga ( alat dan cara)
4. Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan : tiga O:
kegiatan masing- masing dua kali per hari  Klien berkenalan dengan 6 orang.
 Klien dapat mengingat nama orang yang
diajak berkenalan
 Klien berolahraga setelah jam makan pagi
A:
 Klien mau berkenalan dengan teman satu
ruangan dan dapat memasukan kegitan
berkenalan dan olahraga kedalam jadwal
harian. SP 3 teratasi
 P :
 Perawat : pertahankan SP 1,2 &lanjutkan SP
3
 Klien : Mengulang kegitan berkenalan lebih
dari 6 orang
 Melakukan olahraraga setelah jam makan
pagi sesuai jadwal harian.