Anda di halaman 1dari 3

Rohingya, ASEAN dan UNHCR

Oleh : Sigit Riyanto


Dalam tiga tahun terakhir, ribuan warga Rohingya telah meninggalkan tempat asalnya di
Myanmar untuk mencari tempat pengungsian ke wilayah negara lain. Sebagian dari mereka
telah berada di wilayah Indonesia; sebagian yang lain berada di wilayah negara lainnya seperti
Thailand dan Malaysia. Sementara sebagian yang lain lagi dikhabarkan sedang berada di
perairan Asia Tenggara. Tampaknya fenomena ini akan terus berlanjut pada hari-hari
mendatang dan entah sampai kapan. Pemerintah Indonesia telah menyatakan kesiapannya
untuk menampung warga Rohingya demi pertimbangan kemanusiaan. Pada saat yang sama
Indonesia bersama-sama dengan Malaysia dan Thailand telah meminta masyarakat
internasional untuk ikut membantu mencari solusi persoalan warga Rohingya diaspora ini (
KOMPAS, 25 Mei 2015). Mengapa persoalan Warga Rohingya ini mengemuka ? Bagaimana
peran ASEAN ? Apa opsi untuk menyelesaiakn persoalan ini?

Pengungsi sebagai masalah kemanusiaan Global.


Dari waktu ke waktu, ada banyak orang-orang yang terpaksa meninggalkan tempat di
mana mereka biasanya tinggal dan mencari perlindungan ke tempat lain. Sudah sejak dulu ada
orang yang terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan mencari perlindungan di tempat lain.
Sejarah mencatat bahwa selalu terjadi perubahan dalam hal sebab-musabab, motif-motif, asal-
usul maupun korban-korban pengungsian itu. Mereka yang terpaksa meninggalkan tempat
tinggal asalnya dan mencari perlindungan di tempat lain ini sebagian berhasil meninggalkan
wilayah negaranya dan sebagian tetap berada di wilayah negaranya. Dua faktor utama yang
mendorong orang untuk pergi mencari tempat pengungsian ke negara lain adalah terjadinya
penindasan politik (persekusi) dan cengkeraman kemiskinan. Warga Rohingya telah mengalami
penindasan hak-hak asasi termasuk hak-hak politiknya ( persekusi ) puluhan tahun ; karena
penindasan itu mereka terperangkap dalam cengkeraman kemiskinan. Pengungsi bergerak
mencari perlindungan ke tempat lain, terutama dipicu oleh ketiadaan perlindungan nasional
karena berbagai alasan. Begitu pula sikap orang terhadap para pengungsi; dalam sejarah
tampak berubah-ubah karena berkaitan dengan berbagai motivasi. Masalah pengungsi
merupakan masalah kemanusiaan yang memiliki dimensi global dan bersifat lintas batas
teritorial negara sebagai suatu kesatuan yang mandiri dan berdaulat.

Perlu perhatian Internasional:


Di samping alasan-alasan tersebut di atas, ada berbagai alasan yang mendorong warga
Rohingya mencari tempat yang aman (safe heaven) di negara lain dan menarik untuk dicermati.
Pertama, adalah besaran masalah pengungsi. Dari waktu ke waktu jumlah warga Rohingya yang
mengungsi justru makin meningkat baik dalam hal jumlah maupun kompleksitas masalah yang
menyertainya. Kedua, adalah pertimbangan keamanan (security) baik yang bersifat internal
maupun eksternal. Beberapa negara yang menjadi penerima pengungsi harus menanggung
resiko berupa gangguan keamanan yang sangat serius. Kehadiran para pengungsi dapat
menimbulkan gangguan keamanan berupa meningkatnya tindakan kriminal, dan kegiatan lain
yang tidak menguntungkan negara penerima ( host State). Ketiga, kehadiran para pengungsi
telah membawa dampak negatif bagi negara tuan rumah berupa beban logistik dan akomodasi
yang harus disediakan.
Keempat, sejauh ini telah terjadi pelemahan komitmen dan berkurangnya semangat
untuk berbagi beban ( burden sharing) masyarakat internasional dalam menangani persoalan
yang muncul berkaitan dengan bertambahnya jumlah pengungsi Rohingya ini. Kelima, adalah
kebijakan pembatasan pengungsi yang dilakukan oleh negara-negara maju. Beberapa negara
maju yang secara tradisional menjadi tujuan untuk melakukan pemukiman ( resettlement) bagi
para pengungsi, kini melakukan kebijakan yang sangat ketat untuk menerima pengungsi bahkan
tidak mungkin menerima warga Rohingya.
Keenam, adalah permasalahan yang muncul karena adanya kekhawatiran terhadap
orang asing atau xenophobia. Permasalahan ini timbul karena konteks pengungsi dan pencari
suaka yang ada sekarang sering berkaitan dengan kejahatan lintas negara ( trans-national
organized crime), semisal perdagangan manusia ( human trafficking) dan penyelundupan orang
ke wilayah suatu negara ( people smuggling). Di samping itu, munculnya masalah kesulitan
ekonomi yang harus dihadapi oleh masyarakat dan pemerintah negara setempat juga menjadi
pertimbangan dan telah memberikan kontribusi penting bagi kebijakan terhadap pengungsi dan
pencari suaka.

Perlindungan sementara.
Sudah jamak diakui bahwa terdapat kerumitan dalam upaya penyelesaian masalah
pengungsi oleh masyarakat internasional. Sudah lama diwacanakan dan diupayakan menangani
persoalan pengungsi ini dengan pendekatan menangani akar masalahnya dan mencegah
terjadinya masalah tersebut. Perdebatan tentang upaya menangani “root causes” masalah
pengungsi, dan pencegahan terjadinya pengungsian telah dimulai sejak awal tahun 1980an.
Banyak pendapat yang mendukung argumentasi bahwa menangani penyebab terjadinya
pengungsian paksa merupakan cara terbaik untuk menyelesaikan konflik antara kepentingan
perlindungan hak-hak asasi pengungsi dengan kepentingan nasional. Namun demikian, dalam
upaya-upaya semacam itu terdapat hambatan yang sangat rumit baik dalam hal menyelesaikan
persoalan pelanggaran hak asasi dan konflik dengan kekerasan, maupun persoalan-persoalan
ekonomi yang menyertainya yang ada di negara asal pengungsi. Intervensi internasional
terhadap persoalan yang menjadi penyebab dan memicu pengungsian di suatu negara ternyata
tidak mudah dilaksanakan karena berbagai alasan.
Awalnya ada langkah-langkah ad hoc telah dilakukan oleh mayarakat internasional
melalui organisasi internasional yang relevan untuk membantu dan mengelola masalah
pengungsi ini yakni; Komisaris Tinggi PBB untuk urusan Pengungsi (UNHCR). Dengan
pertimbangan-pertimbangan tertentu warga Rohingya yang mencari perlindungan ke luar dari
wilayah Myanmar, diberi status sebagai orang yang berada dalam perlindungan sementara (
under Temporary Protection) oleh UNHCR dan disarankan untuk tidak dipulangkan ke tempat
asalnya. Namun demikian, pendekatan semacam itu tampaknya belum memadai dibandingkan
dengan kompleksitas masalah yang kini menyertai warga Rohingya ; sehingga perlu dievaluasi,
bahkan dipikirkan opsi lain yang lebih solutif.

Pendekatan Regional & Komprehensif.


Mencermati kompleksitas persoalan yang menyertai warga Rohingya tersebut, kini
saatnya ASEAN bekerjasama dengan UNHCR untuk memikirkan upaya penyelesaian jangka
panjang ( durable solution) bagi masalah ini. Salah satu alternatif yang mungkin dilakukan dalam
hal seperti ini adalah dengan memberdayakan pendekatan regional. Dalam hal ini kita dapat
merujuk pada pendekatan yang pernah dilaksanakan dengan skema The Comprehensive Plan of
Action for Indochinese Refugees, 1989-1997, sering disingkat dengan Comprehensive Plan Of
Action ( CPA ). Konsep CPA ini merupakan program yang dipuji sebagai model pelembagaan
solidaritas internasional dan pembagian beban ( burden sharing) dalam menyelesaikan masalah
internasional. CPA juga telah diakui sebagai pendekatan yang sukses dan dapat dijadikan
model dalam menangani permasalahan internasional berkaitan dengan keberadaan pengungsi
di suatu kawasan, karena dalam konsep CPA, di dalamnya terdapat kombinasi antara prinsip-
prinsip kemanusiaan dengan pragmatisme politik internasional.
Pendekatan regional untuk menangani persoalan warga Rohingya layak dan cukup
rasional dikemukakan, karena pada kenyataannya terjadinya proses pengungsian di suatu
wilayah negara serta semua permasalahan yang terkait di dalamnya dapat mempengaruhi
keseimbangan situasi di wilayah negara-negara lain yang berdekatan. Dengan demikian cukup
jelas bahwa memang ada kepentingan negara-negara di kawasan untuk menangani
permasalahan yang menjadi penyebab terjadinya pengungsian maupun urgensi kerjasama
untuk menangani persoalan pengungsi tersebut. Berdasarkan pertimbangan semacam itu,
penyelesaian persoalan pengungsi Rohingya dengan pendekatan kerjasama regional akan lebih
efektif. Keberhasilan pendekatan regional untuk membantu warga Rohingya mensyaratkan
dukungan negara asal , negara tempat pengungsi berada dan negara tujuan pemukiman. Dalam
pendekatan ini di juga terdapat tantangan dan kesempatan untuk mewujudkan kombinasi
antara mandat kemanusiaan UNHCR dan peran ASEAN sebagai organisasi Regional yang
sesungguhnya.

SIGIT RIYANTO, Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum UGM, Pejabat Pelindung pada
Komisaris Tinggi PBB urusan Pengungsi (UNHCR) Perwakilan Regional: Indonesia, Malaysia,
Singapura, Philippina, Timor Leste dan Brunai Darussalam, 2002-2006.