Anda di halaman 1dari 4

Psikologi Agama, Pentingkah???

Apa yang menarik dari Psikologi Agama? Untuk orang seperti saya, ketertarikan secara formal
mungkin diprovokasi oleh buku ’Psikologi Agama’ karya Jalaluddin Rakhmat, setelah sebelumnya
‘Psikologi Komunikasi’-nya membuat setiap mahasiswa dari macam-macam jurusan merasa telah
kuliah di fakultas psikologi.

Sudah ada tanpa bentuk

Keberadaan psikologi agama sudah saya pelajari secara non-formal ketika saya aktif di sebuah
organisasi ekstra kampus yang berbasis Islam. Saya sempat mampir di gerakan under ground yang
mengimpikan negara bersyariat Islam setelah empat tahun aktif di sebuah masjid kampus di
Bandung.

Saya berharap dapat menemukan pencerahan intelektual dan spiritual. Ternyata pola pikir
sebagian besar aktivisnya sama sekali tidak ilmiah. Salah satu indikator gampangnya adalah emoh
mengkaji filsafat dan pemikiran dari tokoh bermazhab lain. Mereka merasa cukup memamah ajaran
Islam dari guru ngajinya yang, secara kebetulan, juga anti filsafat.

Akibatnya bisa ditebak, mereka alergi dengan segala perbedaan pendapat, akhirnya mereka
minta saya tidak aktif di masjid kampus lagi. Cukup aneh. Karena secara keilmuan mereka pasti
pintar-pintar. Rata-rata juara umum di sekolahnya, atau malah di tingkat kabupaten atau propinsi.
Kehidupan mereka juga cukup baik. Mungkinkah ini masuk dalam kategori neurosis eksistensial? Kata
Maslow, karena kekosongan nilai, akhirnya mereka nyemplung sekalian dalam kajian (baca:
dogmatisasi) keagamaan yang, sekali lagi, tidak membuat mereka kritis.

Tipikal dua komunitas keagamaan saya tadi, harakah bawah tanah dan masjid kampus, kata
Jerrold M Post, bisa dikategorikan sebagai “luka narsistik”, yakni cermin budaya tidak terbuka
terhadap kritik diri. Mereka bersikap arogan dan merasa paling benar dan selalu melihat kesalahan
dari pihak lain. Hal ini tumbuh dari simplifikasi persoalan hidup keseharian karena ketiadaan
rasionalitas.

Tahun 1993, ketika saya mendapatkan ‘terang (hidayah)’ dari-Nya setelah intens mengaji
agama selama hampir setahun, sontak seluruh penampilan saya berubah. T-shirt bergambar pemain
basket NBA tersingkir oleh baju gamis dan celana panjang semata kaki. Semua kaset lagu-lagu Barat
berganti suara dengan lagu berbahasa Arab. Jenggot saya yang sangat irit tumbuhnya saya jaga betul
jangan sampai putus di tengah jalan. Tentu betapa senangnya saya ketika aktivitas sembahyang saya
berbuah pada “tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS Al-Fath [48]:
29).

Perubahan penampilan tentu juga beriringan dengan perubahan sikap terhadap lingkungan.
Saya masih ingat pernah mengisi kultum di langgar (mushalla) asrama saya yang isinya mengutuk
orang yang memakai celana pendek dan merokok. Saya selalu istigfar dan sinis melihat mereka yang
berpenampilan tidak se-islam seperti dalam imaji dan pahaman saya. Tiap ke kampus, saya cuek
bebek dengan dosen yang melihat saya dengan wajah masam karena saya selalu meninggalkan kuliah
untuk sembahyang dhuha.

Artinya, saya menemukan bahwa kesamaan nama agama tidak membuat diri kita ‘selamat’
dan dianggap saudara oleh sesama kita. Kadang kita merasakan tekanan mental saat berhadapan
dengan orang-orang yang secara formal menguasai berbagai ilmu-ilmu Islam namun sinis menatap
kita yang ‘di bawah kadarnya’. Saat itu yang jadi monsternya adalah saya. Nampaknya saya, seperti
kata David Lukoff, terkena delusi psikotis, yang egonya kegedean, merasa alim sendiri dan kagum
dengan wahamnya sendiri. Seolah-olah kita mandataris Tuhan yang berwenang memasukkan siapa
saja ke surga atau neraka sesuka kita. Padahal dalam banyak literatur saya temukan pepatah bahwa
orang berilmu itu seperti padi, semakin berisi semakin membawa kebijaksanaan, kedamaian, dan
kesejukan.

Penjelasan fenomena ambiguitas keagamaan itu saya tidak dapatkan dari para tokoh agama.
Apalagi pemikiran mereka berbeda-beda. Nah, psikologi agama menjelaskan semua itu.

Menjelaskan ketidaktahuan ‘agamawan’

Dengan demikian, belajar psikologi (agama) adalah belajar tentang kedirian (dan
keberagamaan) kita. Dan untuk kedirian manusia Indonesia ternyata berbeda dengan kedirian
manusia barat yang memang sejak lama berpisah dengan agama. Sehingga tidak heran banyak yang
bilang, belajar psikologi semacam melakoni berobat jalan.

Proses ‘berobat jalan’ itulah yang sempat saya rasakan dan menemukan kecocokan dalam
analisis dimensional CY Glock dalam ‘On the study of Religious Commitment’ (1662) bahwa ada lima
dimensi keberagamaan: ideologis (tentang apa yang harus dipercayai), ritualistis (tentang perilaku
khusus dalam agama), eksperiensial (tentang perasaan keagamaan), intelektual (tentang
pengetahuan keagamaan), dan konsekuensial (tentang efek ajaran agama dalam perialaku
kesehatian), yang kesemuanya saya lalui dalam berbagai varian dan kualitasnya.

Membongkar arogansi psikologi modern

Paul C. Vitz mengatakan bahwa psikologi agama membongkar keangkuhan psikologi modern
yang sekadar sebagai mesin pemberhalaan manusia sekuler, yang pada saat ini justru menjadi salah
satu problema kehidupan dan bukan solusi bagi problema itu sendiri. Psikologi modern sarat dengan
sifat dan kesan penyembahan diri, narsistis, dan destruktif.

Memang diakui psikologi modern banyak menyimpan masalah dalam menempatkan manusia
sebagai binatang istimewa. Sehingga menilai perilaku manusia cukuplah diwakili oleh monyet, kucing,
kelinci, dan sejenisnya. Kenyataannya problem psikis manusia tidak selamanya dirasakan oleh
binatang. Dengan demikian, psikologi agama membuat manusia menjadi lebih manusiawi.

Dalam terminologi formalnya, saya pinjam dari Zakiah Daradjat, psikologi agama adalah
kajian empiris tentang psikis manusia sehubungan dengan kesadaran agama (religious consciousness)
dan pengalaman agama (religious experience)-nya. Kesadaran agama hadir dalam pikiran dan
Pengalaman agama hadir dalam amaliah sebagai buah dari keyakinan keagamaan.

Sehingga, yang dijadikan objek studi psikologi agama adalah gejala-gejala psikis manusia
yang berkaitan dengan tingkah laku keagamaan dan proses hubungan antara psikis manusia dan
tingkah laku keagamaannya.

Henry Link, AA Brill, James maupun Carl Gustav Jung pun mengakui bahwa kebanyakan
kliennya yang memiliki problem kejiwaan hakikatnya sudah ada jawabannya di agama. Mereka juga
mengakui bahwa orang-orang yang religius cendrung berkepribadian kuat daripada orang yang
agnostik dan ateis.

Memahami, tidak menilai

Yang menarik dari psikologi agama adalah sikapnya untuk membatasi dari merambah terlalu
jauh pada bentuk dan ajaran agama/keyakinan tertentu. Sebagai cabang dari psikologi umum,
psikologi agama sekadar menggambarkan tingkah laku keagamaan sebagai ekspresi dari adanya
keyakinan agama.

Inilah yang menarik perhatian saya. Sebagai bagian dari sains, psikologi agama tidak
berpretensi menguliti setiap klaim kebenaran sebuah sistem keyakinan. Boleh dikata, tidak peduli.
Alat ukur psikologi agama dalam sebuah perilaku keberagamaan adalah kelaziman dan kenormalan
menurut pandangan awam. Dengan demikian pikiran, perasaan dan ekspresi seseorang bisa diukur.
Tentu dalam batasan normal.

Kenormalan yang dimaksud adalah dalam konteks kelompok. Menurut Ernest Becker, penulis
“Revolution in Psychiatry”, persoalan gangguan kejiwaan adalah ketidakmampuan menempatkan diri
dalam masyarakat, karenanya penyelesaiannya perlu dilakukan dalam konteks kelompok. Rumah
ibadah, katanya, bisa dijadikan sebagai pusat terapis. Dengan kata lain, sebuah kenormalan di satu
kelompok keagamaan bisa dinilai aneh bagi kelompok keagamaan lain. Misalnya, tatapan sinis
penganut Wahabi terhadap acara tawasul dan Tahlil. Sebaliknya, orang Nahdhiyin heran melihat
Persatuan Islam tidak memperingati Maulid Nabi.

Masalah kenormalan secara lahiriah juga sesuai dengan empat prinsip studi psikologi agama
menurut Theodore Flournoy: (1) prinsip menjauhkan studi dari transenden karena hal tersebut sulit
diukur; (2) prinsip mempelajari perkembangan bahwa setiap manusia akan mengalami perubahan
dalam pemahaman keagamaannya sesuai dengan usia; (3) prinsip dinamika, bahwa selalu ada refleksi
dan konflik dalam apa yang ia yakini; dan (4) prinsip perbandingan, bahwa ia akan selalu
membandingkan apa yang ia yakini dengan sistem keyakinan lain.

Akhirnya, apa manfaat yang bisa dirasakan oleh setiap pengkaji psikologi agama? Toleransi
akan keragaman dan empati yang meluas akan keberagamaan seseorang. Di saat yang sama kita
juga diajarkan bahwa hal-hal eksklusif yang kita terima dan rasakan belum tentu wah bagi orang lain.
Misalnya, di paragraf awal, saya menertawakan sikap konservatif dari teman-teman saya yang aktivis
masjid. Namun ternyata, bisa jadi sikap saya ini adalah selubung dari ketidaknyamanan saya dengan
penampilan keberagamaan ‘yang lain’. Bila saya ingin disebut moderat, tentu saya tidak perlu rusuh
dengan penampilan orang-orang yang doyan sama fesyen ala Pakistan dan Timur Tengah. Tidak
masalah orang mau berpakaian ala apa saja dan dengan apa saja selama ia merasa nyaman dan hal
tersebut tidak mengganggu ketertiban umum.

Kita perlu banyak berlapang dada, bahwa fenomena mistik dan pengalaman spiritual dinilai
benar hanya pada komunitas yang secara wacana telah menerimanya. Dan selama kita
menomorsatukan keawaman masyarakat, kita tidak akan terjebak pada kesalahpahaman. Inilah
pentingnya dakwah kultural.

Sehingga, bila kita temukan pengkaji psikologi agama yang masih punya klaim kebenaran,
merasa lebih benar dan alim sendiri dibandingkan yang lain, apalagi yang berbeda dengan
keyakinannya, maka bisa diduga ia tidak tuntas belajar, atau hanya memungut beberapa teori untuk
membentengi arogansinya. Dengan kata lain, ia mungkin ‘tidak selesai berobat jalan’.[andito]