Anda di halaman 1dari 3

PSIKOLOGI AGAMA (sebuah pengantar)

Posted by zaldy munir ⋅ September 17, 2008 ⋅ 2 Komentar


Filed Under Artikel, Berita, Budaya, Fokus Kajian, Info, Informasi, Opini, Politik

Oleh : Zaldy Munir

Pengertian Psikologi Agama

Pada suatu fase dalam pengkajian psikologi agama, seseorang dihadapkan kepada pertanyaan
tentang apakah yang dimaksud dengan kata-kata “psikologi” dan “agama.” Kedua kata tersebut
dipergunakan dengan berbagai macam makna. Ini tidak berarti tidak ada kendala yang tidak
teratasi dalam memahami kedua kata tersebut secara pasti. Namun perlu dikemukakan bahwa
penulis tertentu akan menjelaskan bagaimana dia digunakan kata-kata tersebut.

Kata “psikologi” sekarang dipergunakan secara umum untuk ilmu tentang tingkah-laku dan
pengalaman manusia. Ilmu ini telah berkembang pesat sejak awal abab [ke-20] ini, baik dalam
metode-metode penelitiannya maupun dalam cara-cara perkembangan terhadap hasil-hasil
penelitian-penelitian tersebut, yakni dalam “sistem konseptual”nya. Penelitian psikologi dapat
dianggap sebagai metode penelitian yang diarahkan kepada pemahaman terhadap apa yang
diperbuat, dipikirkan dan dirasakan oleh manusia.

Metode-metode ini mencakup metode-metode eksperimental pada leboratorium psikologik,


penggunaan metode-metode statistik (seperti “analisis faktor”), penggunaan berbagai tes
psikologik, berbagai penelitian dengan berbagai kuesyener yang dialamatkan kepada berbagai
kelompok masyarakat, kajian-kajian sejarah kasus terhadap orang-orang tertentu, dan
sebagainya. Kadang-kadang data untuk penlitian-penelitian oleh para ahli psikologi itu
ditemukan dalam bentuk cetakan (misalnya dalam berbagai otobiografi keagamaan), dan
kadang-kadang dia mengumpulkannya untuk diri sendiri.

Makna kata “agama” menimbulkan banyak kontroversi yang sering lebih besar daripada arti
penting permasalahannya. Kita hanya terkait dengan cara di mana kata tersebut dipergunakan:
tidak ada permasalahan sama sekali mengenai fakta atau nilai yang terkait dengannya.
Beberapa cara tertentu untuk mendefinisikan “agama” jelas tidak tepat karena cara-cara
tersebut ternyata tidak menjelaskan perbedaan antara kegiatan-kegiatan keagamaan dan
kegiatan-kegiatan bukan keagamaan, atau tidak memberikan di mana seharusnya kita
memperlakukannya dalam pembicaraan sehari-hari.

Namun definisi yang bersifat formal hanya merupakan salah satu cara untuk menunjukan
bagaimana kita bermaksud mempergunakan suatu kata. Bila kata tersebut (seperti “agama”)
merupakan nama suatu kelompok, kita dapat menunjukan maknanya dengan memberikan
contoh yang mewakili anggota-anggota kelompok itu. Kita dapat mengatakan, misalnya, bahwa
“agama” adalah nama suatu kelompok yang mencakup agama Kristen, agama Islam, agama
Yahudi, agama Budha, dan sebagainya.

Bagaimana pun juga, ini merupakan ancangan pertama untuk mejelaskan pengunaan kata
tersebut. Ia meninggalkan sejumlah ketidakpastian, sebab kita tidak mengetahui secara pasrti
apakah angota-anggota lain yang tercakup dalam kata-kata ”dan sebagainya” itu. Tentu saja
agama Hindu termasuk di dalamnya. Namun bagaimana halnya dengan Komunisme?
Pertanyaan ini tidak penting sekali: ia merupakan masalah yang dapat diputuskan orang
dengan cara apa saja. penggunaan yang biasa dari kata tersebut pada umumnya tidak
tepengaruh oleh pilihan kita. Yang penting hanyalah bahwa harus konsisten dengan
penggunaan kata-kata yang telah kita pilih itu. “Agama” merupakan kata yang secara khusus
cendrung digunakan dengan berbagai makna yang menyimpang sehingga menimbulan
pemikiran yang membingungkan.

Untuk menghindari kemungkinan terjadinya kebingungan semacam itu barangkali cukup alasan
untuk berusaha mendefinisikan “agama” dengan mempergunakan metode formal dari
Aristoteles. Di sini pun suatu pilihan harus ditentukan: definisi yang diberikan oleh orang lain
karena definisi-definisi itu mengikuti penggunaan-penggunaan kata yang berbeda-beda. Tidak
ada sebuah definisi pun bisa dianggap salah dalam pengertian bahwa ia mendefinisiskan suatu
penggunaaan di luar cakupan variasi makna yang ditemukan dalam bahasa sehari-hari. Kedua
definisi itu mempunyai tugas menjelaskan penggunaan istilah masing-masing sehingga setiap
perbadaan dalam cara mengunakan kata-kata tidak akan dianggap kesalahan karena
perbedaan mengenai faktanya.

Faktor-Faktor Sosial Dalam Agama

Aktor sosial dalam agama terdiri dari berbagai pengaruh terhadap keyakinan dan perilaku
keagamaan, dari pendidikan yang kita terima pada masa kanak-kanak, berbagai pendapat dan
sikap orang-orang di sekitar kita, dan berbagai tradisi yang kita terima dari masa lampau.
Mungkin kita cendrung menganggap faktor ini kurang penting dalam perkembangan agama kita
dibandingkan dengan penelitian para ahli psikologi. Tidak ada seorang pun di antara kita dapat
mengembangkan sikap-sikap keagamaan kita dalam keadaan terisolasi dari saudara-saudara
kita dalam masyarakat. Sejak masa kanak-kanak hingga masa tua kita menerima dari perilaku
orang-orang di sekitar kita dan dari apa yang mereka katakan berpengaruh terhadap sikap-
sikap keagamaan kita. Tidak hanya keyakinan-keyakinan kita yang terpengaruh oleh faktor-
faktor sosial, pola-pola eksperesi emosianal kita pun, sampai batas terakhir, bisa dibentuk oleh
lingkungan sosial kita.

Faktor-faktor sosial juga tampak jelas dalam pembentukan keyakinan keagamaan, tetapi secara
prinsip ia tidak melalui penampilan yang berlandasan penalaran sehingga keyakinan-keyakinan
seseorang terpegaruh oleh orang lain. Tidak diragukan sama sekali bahwa penalaran
memainkan peranan dalam intraksi timbal-balik di antara berbagai sistem keyakinan banyak
orang, tetapi peranan jauh lebih kecil dibandingkan dengan proses-proses psikologik lain yang
non-rasional. Tidak ada seseorang pun dapat beranggapan banwa cara untuk mengajarkan
tentang Tuhan kepada anak kecil adalah dengan mengemukakan argumen rasioanal mengenai
adanya Tuhan itu. Pengajaran harus dilakukan lebih dahulu, sedangkan saat bagi argumen-
argumen penegasan tentang kebenaran ajaran-ajaran agama yang diberikan oleh orang-orang
terhormat (terutama bila penegasannya diulang-ulang dan dengan penuh keyakinan) mungkin
berpengaruh yang didasarkan atas penalaran, adalah sugesti. Agar kita dapat memahami faktor
sosial dalam agama itu, kita harus menelaah psikologi segesti ini.

Konflik Moral

Ahli psikologi tidak mau membicarakan masalah-masalah filosofik yang berkaitan dengan
hakikat kewajiban-kewajiban filosofik yang berkaitan dengan hakikat kewajiban-kewajiban yang
disebabkan oleh hukum moral itu. Hukum moral bisa dianggap sebagai sistem tatanan sosial
yang dikembangkan oleh suatu masyarakat dan diteruskan kepada generasi-genarasi
berikutnya melalui proses pengkondisian sosial. Di pihak lain, ia juga dapat dianggap sebagai
sistem kewajiban yang mengikat manusia tanpa mempermasalahkan apakah sistem itu
bermanfaat atau tidak dilihat dari sisi sosial.

Sejumlah masyarakat menyatakan bahwa kewajiban-kewajiban ini dikendalikan secara intuitif;


sementara masyarakat-masyarakat lainnya berpendapat bahwa kewajiban-kewajiban itu bisa
didedukasikan dengan berbagai proses penalaran, dan masyarakat-masyarakat lainnya lagi
menganggpa kewajiban-kewajibab itu diwahyukan [oleh Tuhan] secara adikodrati. Apapun
jawaban yang bisa diberikan terhadap persoalan-persoalan etik ini, masalah yang penting bagi
ahli psikologi adalah bahwa konflik moral itu merupakan fakta psikologik yang benar-benar ada.

Agama dan Kebutuhan-Kebutuhan Manusia

Orang-orang yang berspekulasi tentang asal-usul agama sering mengemukakan gagasan


bahwa agama merupakan tanggapan terhadap kebutuhan-kebutuhan yang tidak sepenuhnya
terpenuhi di dunia ini. Kebutuhan dasar manusia primitif adalah keamanan terhadap berbagai
ancaman seperti kelaparan, penyakit, dan kehancuran oleh musuh-musuhnya. Banyak di antara
kehidupan sehari-hari dalam berburu, pertanian, dan sebagainya, diarahkan kepada upaya
untuk menghindari bahaya-bahaya ini, meskipun dia sama sekali tidak berhasil melenyapkan
bahaya-bahaya itu. Untuk mendukung kegiatan-kegiatan pengalaman ini dia menambahkan
beberapa sarana yang dipungut dari keyakinannya terhadap adanya dunia spiritual: [dalam
bentuk] perbuataan-perbuatan ritual dan doa-doa pengharapan, yang juga dianggap dapat
melindunginya.

Harapan untuk mendapatkan keamanan dengan menggunkan kekuatan-kekuatan spiritual ini


barangkali bisa diduga sebagai salah satu sumber sikap keagamaan. Ancaman-ancaman
terhadap seseorang anggota masyarakat berperadaban moderen tidak identik: rasa takut
kepada kelaparan jauh sekali, tetapi tara takut kepada penyakit tetap ada, meskipun ketakutan
kepada kehancuran melalui perang lebih besar daripada yang dirasakan sebelumnya.***