Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN PRE DAN POST OPERASI

APENDIKTOMI PADA Sdr. S

DENGAN DIAGNOSA MEDIS APPENDICITIS

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Laporan Praktik Klinik Keperawatan Medikal


Bedah

Disusun oleh:

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA JURUSAN
KEPERAWATAN
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Di era globalisasi ini, seiring dengan majunya perkembangan


zaman banyak membuat pola hidup masyarakat menjadi berubah.
Masyarakat cenderung lebih memilih semua hal yang bersifat instan
dan kurang mengkonsumsi makanan yang mengandung serat ( sayur
dan buah – buahan ), sehingga angka kejadian Apendisitis meningkat (
Mahardiana, 2009 ).
Apendisitis merupakan peradangan akut sehingga memerlukan
tindakan bedah ( apendictomy ) segera untuk mencegah komplikasi
yang umumya berbahaya. Apendictomy merupakan jenis pembedahan
darurat abdomen yang paling sering dilakukan. Insiden tertinggi
apendictomy terjadi pada orang dewasa tetapi tidak menutup
kemungkinan dapat terjadi pada segala usia. Istilah usus buntu yang
dikenal di masyarakat awam adalah kurang tepat karena usus yang
buntu sebenarnya adalah sekum. Organ yang tidak diketahui
fungsinya ini sering menimbulkan masalah kesehatan ( Samsuhidajat
& Jong, 2008 ).
Insiden apendisitis di negara maju lebih tinggi dari pada di
negara berkembang. Namun, dalam tiga - empat dasawarsa terakhir
kejadiannya menurun secara bermakna. Hal ini di duga disebabkan
oleh meningkatnya penggunaan makanan berserat pada diit harian (
Santacroce, 2009 ).

B. Tujuan
1. Tujuan umum
Setelah membuat dan mempresentasikan makalah ini
diharapkan mahasiswa mengerti dan mengetahui tentang asuhan
keperawatan pada pasien dengan diagnosa medis Ulkus Diabetes.
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa memahami definisi apendisitis
b. Mahasiswa mengetahui patofisiologis apendisitis
c. Mahasiswa memahami pathway apendisitis
d. Mahasiswa mengetahui manifestasi klinis apendisitis
e. Mahasiswa mengetahui komplikasi apendisitis
f. Mahasiswa memahami penatalaksanaan medis
apendisitis
g. Mahasiswa memahami proses asuhan keperawatan
pada pasien dengan diagnosa medis apendisitis mulai
dari tahap pengkajian sampai tahap evaluasi.

C. Metode
Metode ini menggunakan metode studi dokumen.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian

Apendiks adalah ujung seperti jari-jari yang kecil panjangnya kira-kira 10


cm (4 inci), melekat pada seikum tepat dibawah katup ileosekal (Smeltzer,
Suzanne, C., 2008).
Apendiksitis adalah inflamasi atau peradangan apendiks, suatu bagian
seperti kantong yang non-fungsional terletak di bagian interior seikum (Ester
Monica, 2009)
Apendiksitis adalah peradangan dari apendiks vermiformis. Apendiksitis
merupakan penyebab nyeri abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini
dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih
sering menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer,
2008).
Apendiktomi adalah pembedahan untuk mengangkat apendiks, dilakukan
sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi. (Smeltzer Suzanne, C.,
2010).

B. Patofisiologi
Menurut (Mansjoer, 2008) Apendiksitis biasanya disebabkan oleh
penyumbatan lumen apendiks. Obstruksi tersebut menyebabkan mukus yang
diproduksi mukosa apendiks mengalami bendungan. Semakin lama mukus
tersebut semakin banyak, namun elastisitas dinding apendiks mempunyai
keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan tekanan intralumen.
Tekanan tersebut akan menghambat aliran limfa yang mengakibatkan edema
dan ulserasi mukosa. Pada saat itu terjadi apendiksitis akut fokal yang ditandai
dengan nyeri epigastrium. Bila sekresi mukus berlanjut, tekanan akan terus
meningkat. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena, edema bertambah
dan bakteri
akan menembus dinding sehingga peradangan yang timbul meluas dan
mengenai peritoneum yang dapat menimbulkan nyeri pada abdomen kanan
bawah yang disebut apendiksitis supuratif akut.
Apabila aliran arteri terganggu maka akan terjadi infark dinding apendiks
yang diikuti ganggren. Stadium ini disebut apendisitis ganggrenosa. Bila
dinding appendiks rapuh, maka akan terjadi prefesional disebut appendiksitis
perforasi. Bila proses berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan
akan bergerak ke arah apendiks hingga muncul infiltrat apendikularis.
Pada anak-anak, omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang
dengan dinding lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan
tubuh yang masih kurang, sehingga memudahkan untuk terjadi perforasi.
Sedangkan pada orang dewasa, apendiksitis mudah terjadi karena adanya
gangguan pembuluh darah.
C. Manifestasi klinik
1. Menurut Betz dan Cecily, 2009
a. Sakit, kram di daerah periumbilikus menjalar ke kuadran kanan bawah
b. Anoreksia
c. Mual
d. Muntah (tanda awal yang umum, namun kurang umum pada anak yang
lebih besar)
e. Demam ringan di awal penyakit dapat naik tajam pada peritonotis
f. Nyeri lepas
g. Bising usus menurun atau tidak ada sama sekali
h. Konstipasi
i. Diare
j. Disuria
k. Iritabilitas
l. Gejala berkembang cepat, kondisi dapat didiagnosis dalam 4 sampai 6
jam setelah munculnya gejala pertama.

2. Manifestasi klinis menurut Mansjoer, 2008


a. Nyeri pada kuadran bawah
Nyeri pada kuadran bawah biasanya disertai dengan demam ringan,
mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan. Bila apendiks terinflamasi
akan terasa nyeri tekan lokal pada titik McBurney (terletak diantara
umbilikus dan spinalis iliaka superior anterior bila dilakukan tekanan
atau palpasi). Nyeri tekan lepas dan spasme otot juga mungkin terjadi.
Nyeri dan nyeri tekan dapat terasa di daerah lumbal bila apendiks
melingkar di belakang seikum, nyeri pada defekasi menunjukkan
ujung apendiks berada didekat rektum, nyeri pada saat berkemih
menunjukkan bahwa ujung apendiks berada di dekat kandung kemih
atau ureter.
Pada bayi dan anak-anak, nyerinya bersifat menyeluruh, di semua
bagian perut. Pada orang tua dan wanita hamil, nyerinya tidak terlalu
berat dan di daerah ini nyeri tumpulnya tidak terlalu terasa. Bila usus
buntu pecah, nyeri dan demam bisa menjadi berat. Infeksi yang
bertambah buruk bisa menyebabkan syok.
b. Tanda rovsing
Tanda rovsing dapat timbul dengan melakukan palpasi pada
kuadran kiri bawah yang secara paradoksial menyebabkan nyeri yang
terasa di kuadaran kanan bawah. Apabila apendiks telah ruptur, nyeri
bisa menyebar, distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik dan
kondisi klien bisa memburuk.
Pada pasien lansia, tanda dan gejala apendiks bervariasi. Klien
mungkin tidak mengalami gejala sampai klien mengalami ruptur
apendiks.

D. Komplikasi
Menurut (Ester Monica, 2009)

1. Komplikasi utama apendiksitis adalah perforasi apendiks, yang dapat


berkembang menjadi peritonitis atau abses. Peritonitis dapat diketahui
dengan mengobservasi terhadap nyeri tekan abdomen, demam, muntah,
kekakuan abdomen, dan takikardi. Sedangkan abses pelvis atau lumbal
dapat diketahui dengan anoreksia, menggigil, demam, dan diaforesis.
Diare dapat menunjukkan abses pelvis. Tanda-tanda perforasi meliputi
meningkatnya nyeri, spasme otot dinding perut kuadran kanan bawah
dengan tanda peritonitis umum atau abses yang terlokalisasi, ileus,
demam, malaise, leukositosis semakin jelas. Bila perforasi dengan
peritonitis umum atau pembentukan abses telah terjadi sejak klien pertam
akali datang, diagnosis dapat ditegakkan dengan pasti.
2. Abses sub frenikus (abses di bawah diafragma). Abses sub frenikus dapat
diketahui dengan mengkaji adanya menggigil, demam, dan diaforesis.
3. Ileus (paralitik dan mekanis), hal ini dapat diketahui dengan mengkaji
bising usus.
4. Pielofleblitis. Pielofleblitis adalah trombofleblitis yang bersifat supuratif
pada sistem vena portal. Dernam tinggi, menggigil, ikterus yang samar-
samar, dan nantinya dapat ditemukan abses hepar, merupakan pertanda
telah terjadinya komplikasi ini. Pemeriksaan untuk menemukan
trombosis dan udara di vena portal yang paling baik adalah CT scan.
Pada beberapa keadaan apendisitis akut agak sulit didiagnosis sehingga
tidak ditangani pada waktunya dan terjadi komplikasi misalnya:
a) Pada anak, biasanya diawali dengan rewel, tidak mau makan, tidak
bisa melukiskan nyerinya, sehingga dalam beberapa jam kemudian
terjadi muntah-muntah, lemah dan letargi. Gejala ini tidak khas pada
anak sehingga apendiksitis diketahui setelah terjadi komplikasi.
b) Pada wanita hamil, biasanya keluhan utamanya adalah nyeri perut
mual dan muntah. Pada wanita hamil trimester pertama juga terjadi
mual muntah. Pada kehamilan lanjut seikum dengan apendiks
terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan di perut
kanan bawah tetapi ke regio lumbal kanan.
c) Pada usia lanjut, gejalanya sering samar-samar sehingga sering terjadi
terlambat diagnosis. Akibatnya lebih dari separuh penderita yang
datang mengalami perforasi.

E. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan apendiksitis menurut Mansjoer, 2008 adalah :
1. Sebelum operasi
a. Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi
b. Pemasangan kateter untuk kontrol produksi urin
c. Rehidrasi
d. Antibiotik dengan spektrum luas, dosis tinggi, dan diberikan secara
intravena
e. Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil,
largaktil untuk membuka pembuluh-pembuluh darah perifer, dan
diberikan setelah rehidrasi tercapai.
f. Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi.
2. Operasi
a. Apendiktomi dapat dilakukan di bawah anastesi umum atau spinal
dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi.
b. Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas, maka
abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotik.
c. Abses apendiks diobati dengan antibiotik IV, massanya mungkin
mengecil atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka
waktu beberapa hari.
3. Pasca operasi
a. Observasi TTV
b. Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi
cairan lambung dapat dicegah
c. Baringkan pasien dalam posisi semi fowler
d. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan,
selama pasien dipuasakan
e. Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi, puasa
dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal
f. Berikan minum mulai 15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi
30 ml/jam. Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari
berikutnya diberikan makanan lunak.
g. Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di
tempat tidur selama 2×30 menit
h. Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

F. Asuhan Keperawatan Teoritis


Menurut NANDA NIC NOC, 2013
1. Pengkajian
a. Riwayat Kesehatan
1) Identitas pasien
2) Keluhan utama
- Sebelum operasi
Klien mengeluhkan sakit/nyeri di epigastrium atau daerah
periumbilikalis kemudian menjalar ke bagian perut kuadran kanan
bawah, rasa sakit hilang timbul, mual dan muntah, diare/konstipasi,
tungkai kanan tidak dapat diluruskan, rewel dan menangis, lemah dan
lesu, serta suhu tubuh meningkat.
- Setelah operasi
Klien mengeluhkan nyeri di daerah luka operasi atau sekitar jahitan
post apendiktomi terutama bila digerakkan, haus dan lapar, takut
melakukan aktivitas, dan perdarahan.
3) Riwayat Penyakit
1) Penyakit Sekarang
Klien mengeluh nyeri di sekitar epigastrium yang menjalar ke perut
kanan bawah dengan skala 6. Sifat nyeri yang dirasakan dapat terus-
menerus, hilang atau timbul dalam waktu yang lama. Klien juga
mengeluh rasa mual dan muntah.
2) Penyakit Dahulu
Meliputi penyakit yang pernah diderita oleh klien seperti hipertensi,
operasi abdomen yang lalu, apakah klien pernah masuk rumah sakit,
obat-abatan yang pernah digunakan, apakah mempunyai riwayat
alergi dan imunisasi apa yang pernah dilakukan.
3) Riwayat Keluarga
Meliputi adanya anggota keluarga yang pernah menderita penyakit
seperti yang dialami klien maupun penyakit menurun.

b. Pengkajian Fisik dan Biologis


1) Pra Operasi
a) Status kesehatan umum
Kesadaran biasanya composmentis. Klien juga mungkin
mengalami anoreksia, mual, dan muntah.
b) Kepala dan leher Ekspresi
wajah kesakitan.
c) Thoraks dan paru
Pola pernafasan biasanya takipnea dan pernafasan dangkal. Kaji
juga bentuk thorak, ada tidaknya sumbatan jalan nafas, gerakan
cuping hidung maupun alat bantu nafas. Apakah ada ronkhi,
whezing, atau stridor.
d) Abdomen
Nyeri abdomen sekitar epigastrium dan umbilikus, yang
meningkat berat dan terlokalisasi pada titik Mc Burney. Meningkat
karena berjalan, bersin, batuk, atau nafas dalam (nyeri berhenti
tiba-tiba diduga perforasi atau infark pada apendiks). Keluhan
berbagai rasa nyeri atau gejala tidak jelas (sehubungan dengan
lokasi apendiks, contoh retrosekal atau sebelah ureter). Terdapat
juga gejala konstipasi pada awitan awal, diare (kadang-kadang),
dan distensi abdomen.
e) Ekstremitas
Apakah ada keterbatasan dalam aktivitas karena adanya nyeri yang
hebat, juga apakah ada kelumpuhan atau kekakuan.
f) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Adakah kebiasaan merokok, penggunaan obat-obatan, alkohol, dan
kebiasaan olahraga (lama dan frekuensinya), bagaimana status
ekonomi keluarga, kebiasaan merokok dalam mempengaruhi
lamanya penyembuhan luka.
g) Pola tidur dan istirahat
Kenyamanan dan pola tidur klien dapat terganggu karena adanya
nyeri dan juga adanya demam.
h) Pola aktivitas
Aktivitas akan terhambat karena keadaan malaise akibat dari nyeri
apendiks.
i) Pola hubungan dan peran
Dengan keterbatasan gerak kemungkinan penderita tidak bisa
melakukan peran, baik dalam keluarganya dan dalam masyarakat,
penderita juga mengalami emosi yang tidak stabil.
j) Pola penanggulangan stress
Kebiasaan klien yang digunakan dalam mengatasi masalah.
k) Pola tata nilai dan kepercayaan
Bagaimana keyakinan klien pada agamanya dan bagaimana cara
klien mendekatkan diri dengan Tuhan selama sakit.

2) Pasca Operasi
a) Status kesehatan umum
Kesadaran biasanya composmentis, ekspresi wajah menahan sakit/
tanpa sakit, ada/tidaknya kelemahan.
b) Integumen
Ada tidaknya edema, sianosis, pucat, pemerahan luka pembedahan
pada abdomen sebelah kanan bawah.
c) Kepala dan leher
Ekspresi wajah kesakitan pada konjungtiva, lihat apakah ada warna
pucat.
d) Thoraks dan Paru
Apakah bentuknya simetris, ada tidaknya sumbatan jalan nafas,
gerakan cuping hidung maupun alat bantu nafas, frekuensi
pernafasan biasanya normal (16 – 20 kali per menit). Apakah ada
ronkhi, whezing, stridor.
e) Abdomen
Pada post operasi biasanya sering terjadi ada tidaknya peristaltik
pada usus ditandai dengan distensi abdomen, tidak flatus dan mual,
apakah bisa kencing spontan atau retensi urine, distensi supra pubis,
periksa apakah produksi urine cukup, keadaan urine apakah jernih,
keruh atau hematuri jika dipasang kateter periksa apakah mengalir
lancar, tidak ada pembuntuan, serta terfiksasi dengan baik.
f) Ekstremitas
Apakah ada keterbatasan dalam aktivitas karena adanya nyeri yang
hebat, juga apakah ada kelumpuhan atau kekakuan.
g) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Adakah kebiasaan merokok, penggunaan obat-obatan, alkohol dan
kebiasaan olahraga (lama-frekuensinya), bagaimana status ekonomi
keluarga, kebiasaan merokok dalam mempengaruhi lamanya
penyembuhan luka.
h) Pola tidur dan istirahat
Insisi pembedahan dapat menimbulkan nyeri yang sangat hebat
sehingga dapat mengganggu kenyamanan pola tidur klien.
i) Pola aktivitas
Aktivitas dipengaruhi oleh keadaan dan malas bergerak karena rasa
nyeri luka operasi, aktiv itas biasanya terbatas karena harus bedrest
berapa waktu lamanya setelah pembedahan.
j) Pola hubungan dan peran
Dengan keterbatasan gerak kemungkinan penderita tidak bisa
melakukan peran baik dalam keluarganya dan dalam masyarakat,
penderita mengalami emosi yang tidak stabil.
k) Pola penanggulangan stress
Kebiasaan klien yang digunakan dalam mengatasi masalah.
l) Pola tata nilai dan kepercayaan
Bagaimana keyakinan klien pada agamanya dan bagaimana cara
klien mendekatkan diri dengan tuhan selama sakit.

3) Pemeriksaan Diagnostik
a) SDP : Leukositosis diatas 12.000/mm3 dan neutrofil meningkat
sampai 75%.
b) Urinalisis : normal, tapi eritrosit/ leukosit mungkin ada
c) Foto abdomen : Dapat menyatakan adanya pengerasan material pada
apendiks (fekalit), ileus terlokalisir.
d) Barium enema : apendiks terisi barium hanya sebagian.

2. Diagnosa Keperawatan yang Sering Muncul


Pre Operasi
a. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual.
b. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit.
c. Ansietas berhubungan dengan akan dilakukannya operasi.

Post Operasi
a. Nyeri berhubungan dengan adanya insisi bedah
b. Risiko Infeksi berhubungan dengan Prosedur invasif dan insisi Bedah
c. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan
pascaoperasi (puasa) dan status hipermetabolik
d. Kurang Pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurang sumber informasi.
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Hardhi. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Medis & NANDA
NIC NOC (Jilid 1). Jakarta. Medica Action Publishing
Ester, Monica. 2009. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.
Mansjoer, Arif. Dkk. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 2. Jakarta : Media
Aesculapius
Mardiana, Lina. 2009. Mencegah Dan Mengobati Kanker Pada Wanita Dengan
Tanaman Obat. Jakarta: Penebar Swadaya.
Santacroce R, Craig S. 2009. Appendicitis. Available from:
http://www.emedicine.com [Accessed on May, 30th 2010].
Sjamsuhidajat, Wim de Jong. 2008. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi II. Jakarta: EGC
Smeltzer & Bare . (2008). Textbook of Medical Surgical Nursing Vol.2.
Philadelphia: Linppincott William & Wilkins.
LAMPIRAN