Anda di halaman 1dari 24

MENGINTEGRASIKAN IMAN ISLAM DAN IHSAN DALAM MEMBENTUK

INSAN KAMIL

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam
yang di Doseni Oleh:

Bapak Agung Saefudi, S.Ag.

Di Susun Oleh:

Neng Fujisarah Medina

Witri Fujiyulianti

JURUSAN AKUNTANSI KARYAWAN

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS INFORMATIKA DAN BISNIS INDONESIA

BANDUNG

2017/2018

i
DAFTAR ISI

Cover ................................................................................................................................... i

Daftar Isi ............................................................................................................................. ii

Kata Pengantar ................................................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................... 1

I.1 Iman .................................................................................................................... 1

I.1.1 Deinisi Iman ............................................................................................... 1

I.1.2 Tingkatan Iman .......................................................................................... 2

I.2 Islam .................................................................................................................... 2

I.2.1 Definisi Islam ............................................................................................. 2

I.2.2 Poin-poin Islam .......................................................................................... 3

I.3 Ihsan .................................................................................................................... 5

1.3.1 Definisi Ihsan ............................................................................................ 5

I.3.2 Aspek Pokok dalam Ihsan .......................................................................... 5

I.3.3 Tingkatan Ihsan .......................................................................................... 8

I.4 Insan Kamil ......................................................................................................... 9

I.4.1 Definisi Insan Kamil .................................................................................. 9

I.4.2 Ciri-ciri Insan Kamil .................................................................................. 11

ii
BAB II ISI ........................................................................................................................... 14

II.1 Menelusuri Konsep dan Urgensi Iman Islam dan Ihsan dalalam Insan
Kamil ................................................................................................................ 14

II.1.1 Tingkatan Insan Kamil ............................................................................ 14

II.2 Mengapa Iman Islam dan Ihsan menjadi Persyaratan dalam membentuk
Insan Kamil ....................................................................................................... 15

II.3 Menggali Sumber Teologis Historis dan Filosofis tentang Iman Islam dan
Ihsan sebagai Pilar Agama Islam dalam Membentuk Insan Kamil .................. 15

II.4 Membangun Argumen Tentang Karakteristik Insan Kamil dan Metode


Pencapaiannya .................................................................................................. 16

II.5 Mendeskripsikan Tentang Esensi dan Urgensi Iman Islam dan Ihsan
dalam Membentuk Insan Kamil ....................................................................... 18

BAB III PENUTUP ............................................................................................................ 19

III.1 Kesimpulan ...................................................................................................... 19

III.2 Saran ................................................................................................................. 19

Daftar Pustaka .................................................................................................................... v

iii
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidata, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah Tugas Pendidikan Agama Islam Materi 4 yang berjudul
―MENGINTEGRASIKAN IMAN ISLAM DAN IHSAN DALAM
MEMBENTUK INSAN KAMIL.”

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu
kami menyampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenunya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapa memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah yang berjudul Mengintegrasikan


Iman Islam dan Ihsan dalam membentuk Insan Kamilini dapat memberikan manfaat
inspirasi terhadap pembaca.

Bandung, Oktober 2017

Penyusun

iv
BAB I
PENDAHULAN
I.1 Iman
I.1.1 Definisi Iman
Iman (Bahasa Arab : ‫ )اإلي مان‬secara etimologis berarti ‗Percaya‖.
Perkataan Iman (‫ )إي مان‬diambil dari kata kerja ‗aamana‘ (‫ – )أمه‬Yukminu‘
(‫ )ي ؤمه‬yang berarti ‗Percaya‘ atau ‗Membenarkan‘.
Perkataan Iman yang berarti ‗Membenarkan‘ itu disebutkan dalam Al-
Qur‘an, di antaranya dalam Surah At-Taubah ayat 62 yang artinya: “Mereka
bersumpah kepadamu dengan (nama) Allah untuk menyenangkan kamu,
padahal Allah dan Rasul-Nya lebih pantas mereka cari keridaan-Nya jika
mereka orang mukmin.”
Menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati,
diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan).
Dengan demikian, pengertian iman kepada Allah adalah membenarkan
dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan
dan kesempurnaanNya, kemudian pengakuan itu diikrarkan dengan lisan,
serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata.
Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman)
sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila
seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak
diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang
tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga
unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat
dipisahkan.
Beriman kepada Allah adalah kebutuhan yang sangat mendasar bagi
seseorang. Allah memerintahkan agar ummat manusia beriman kepada-Nya,
sebagaimana firman Allah yang artinya:
―Wahai orang-orang yang beriman. Tetaplah beriman kepada Allah
dan RasulNya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al Qur‘an) yang diturunkan

1
kepada RasulNya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa
ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-
rasulNya, dan hari kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat
jauh.‖ (Q.S. An Nisa : 136)
Ayat di atas memberikan penjelasan bahwa Bila kita ingkar kepada
Allah, maka akan mengalami kesesatan yang nyata. Orang yang sesat tidak
akan merasakan kebahagiaan dalam hidup. Oleh karena itu, beriman kepada
Allah sesungguhnya adalah untuk kebaikan manusia.

I.1.2 Tingkatan Iman


Dalam Islam dikenal beberapa tigkatan seseorang dalam keyakinan
beragama, diantaranya adalah:
1. Muslim: orang mengaku islam, kadar keimanannya termasuk yang
terendah, sebatas pengakuan Allah sebagai tuhan yang esa, belum ada
bedanya dengan iblis yang juga meyakini bahwa Allah adalah maha esa,
2. Mu'min: orang beriman, yang mengkaji syariat Islam sehingga meningkat
wawasan keislamannya,
3. Muhsin: orang yang memperbaiki segala perbuatannya agar menjadi lebih
baik,
4. Mukhlis: orang yang ikhlas dalam beribadah, hidupnya hanya untuk
mengabdikan kepada Allah,
5. Muttaqin: orang yang bertakwa, tingkatan ini adalah yang tertinggi di
antara tingkatan lainnya.

I.2 Islam
I.2.1 Definisi Islam
Islam (Arab: al-islām, ‫ )اإل س الم‬: "berserah diri kepada Tuhan")
adalah agama yang mengimani satu Tuhan, yaitu Allah. Dengan lebih dari
satu seperempat miliar orang pengikut di seluruh dunia, menjadikan Islam
sebagai agama terbesar kedua di dunia setelah agama Kristen. Islam memiliki

2
arti "penyerahan", atau penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan (Arab: ‫ هللا‬,
Allāh). Pengikut ajaran Islam dikenal dengan sebutan Muslim yang berarti
"seorang yang tunduk kepada Tuhan" atau lebih lengkapnya adalah Muslimin
bagi laki-laki dan Muslimat bagi perempuan. Islam mengajarkan
bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada manusia melalui para nabi
dan rasul utusan-Nya, dan meyakini dengan sungguh-sungguh
bahwa Muhammad adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus ke dunia
oleh Allah.
Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw
sebagai nabi dan rasul terakhir untuk menjadi pedoman hidup seluruh manusia
hingga akhir zaman.
Pengertian Islam secara harfiyah artinya damai, selamat, tunduk, dan
bersih. Kata Islam terbentuk dari tiga huruf, yaitu S (sin), L (lam), M (mim)
yang bermakna dasar ―selamat‖ (Salama)
Pengertian Islam Menurut Bahasa, Islam berasal dari kata aslama yang
berakar dari kata salama. Kata Islam merupakan bentuk mashdar (infinitif)
dari kata aslama ini.

I.2.2 Poin-poin Islam


Poin-poin Islam yang didasari oleh ayat-ayat AL-Qur‘an, sebagai
berikut:
1. Islam sebagai wahyu ilahi
Mengenai hal ini, Allah berfirman QS. 53 : 3-4 :
“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur‟an) menurut kemauan
hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang
diwahyukan (kepadanya).”
2. Diturunkan kepada nabi dan rasul (khususnya Rasulullah SAW)
Membenarkan hal ini, firman Allah SWT (QS. 3 : 84)
“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang
diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma`il,

3
Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa,
`Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan
seorangpun di antara mereka dan hanya kepada-Nya-lah kami
menyerahkan diri.”
3. Sebagai pedoman hidup
Allah berfirman (QS. 45 : 20):
“Al Qur‟an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi
kaum yang meyakini.”
4. Mencakup hukum-hukum Allah dalam Al-Qur’an dan sunnah
Rasulullah SAW
Allah berfirman (QS. 5 : 49-50)
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut
apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak
memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah
kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan
Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan
menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa
mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang
yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum)
siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang
yakin?”
5. Membimbing manusia ke jalan yang lurus.
Allah berfirman (QS. 6 : 153)
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus,
maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain),
karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang
demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”
6. Menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Allah berfirman (QS. 16 : 97)

4
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun
perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami
berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami
beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang
telah mereka kerjakan.”

I.3 Ihsan
I.3.1 Definisi Ihsan
Ihsan (Arab: ‫" ;ناسحا‬kesempurnaan" atau "terbaik") adalah seseorang
yang menyembah Allah seolah-olah ia melihat-Nya, dan jika ia tidak mampu
membayangkan melihat-Nya, maka orang tersebut membayangkan bahwa
sesungguhnya Allah melihat perbuatannya.
Ihsan adalah lawan dari isa'ah (berbuat kejelekan), yaitu seorang
manusia mencurahkan kebaikan dan menahan diri untuk tidak mengganggu
orang lain. Mencurahkan kebaikan kepada hamba-hamba Allah dengan harta,
ilmu, kedudukan dan badannya.
Ihsan itu ialah bahawa ―kamu menyembah Allah seolah-olah kamu
melihat-Nya,tetapi jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia
melihat kamu.‖
Ihsan juga adalah melakukan ibadah dengan khusyuk,ikhlas dan yakin
bahwa Allah senantiasa mengawasi apa yang dilakukannya. Hadist riwayat
muslim‖dari Umar bin Khatab ia berkata bahwa mengabdikan diri kepada
Allah hendaklah dengan perasaan seolah-olah anga melihat-Nya,maka
hendaklah anda merasa bahwa Allah melihatmu.‖

I.3.2 Aspek Pokok Dalam Ihsan


Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut
adalah ibadah, muamalah, dan akhlak. Ketiga hal inilah yang menjadi
pokok bahasan dalam ihsan.

5
1. Ibadah
Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan
menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan
sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan
syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan
mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat
pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa
yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh
bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia
sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba
merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan
inilah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan
sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang
diharapkan. Inilah maksud dari perkataan Rasulullah saw yang
berbunyi: “Hendaklah kamu menyembah Allah seakan-akan
engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka
sesungguhnya Dia melihatmu.”
Kini jelaslah bagi kita bahwa sesungguhnya arti dari ibadah itu
sendiri sangatlah luas. Maka, selain jenis ibadah yang kita
sebutkan tadi, yang tidak kalah pentingnya adalah juga jenis
ibadah lainnya seperti jihad, hormat terhadap mukmin, mendidik
anak, menyenangkan isteri, meniatkan setiap yangmubah untuk
mendapat ridha Allah, dan masih banyak lagi. Oleh karena itulah,
Rasulullah saw. menghendaki umatnya senantiasa dalam keadaan
seperti itu, yaitu senantiasa sadar jika ia ingin mewujudkan ihsan
dalam ibadahnya.
2. Muamalah
Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah swt. pada surah
An-Nisaa‘ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut, ―Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan

6
sesuatupun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak,
karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang
dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba
sahayamu.‖
Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah
beribadah kepada Allah dengan sikap seakan-akan kita melihat-
Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah melihat
kita. Kini, kita akan membahas ihsan dari muamalah dan siapa saja
yang masuk dalam bahasannya. Berikut ini adalah mereka yang
berhak mendapatkan ihsan tersebut:
a. Ihsan kepada kedua orang tua
b. Ihsan kepada karib kerabat
c. Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin
d. Ihsan kepada tetangga dekat, tetangga jauh, serta teman
sejawat
e. Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya
f. Ihsan dengan perlakuan dan ucapan yang baik kepada manusia
g. Ihsan dalam hal muamalah
h. Ihsan dengan berlaku baik kepada binatang
3. Akhlak
Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah
dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam
akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi
harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal
tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan
jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah
senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang
hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah.
Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku,

7
sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya
akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.
Jika kita ingin melihat nilai ihsan pada diri seseorang —yang
diperoleh dari hasil maksimal ibadahnya– maka kita akan
menemukannya dalam muamalah kehidupannya. Bagaimana ia
bermuamalah dengan sesama manusia, lingkungannya,
pekerjaannya, keluarganya, dan bahkan terhadap dirinya sendiri.
Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam
sebuah hadits, ―Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan
akhlak yang mulia.‖

I.3.3 Tingkatan Ihsan


Syaikh Shalih Alu Syaikh hafidzahullah memberikan penjelasan
bahwa inti yang dimaksud dengan ihsan adalah membaguskan amal.
Batasan minimal seseorang dapat dikatakan telah melakukan ihsan di
dalam beribadah kepada Allah yaitu apabila di dalam memperbagus
amalannya niatnya ikhlas yaitu semata-mata mengharap pahala-Nya
dan melaksanakan amalannya sesuai dengan sunnah Nabi shalallahu
„alaihi wa sallam. Inilah kadar ihsan yang wajib yang harus ditunaikan
oleh setiap muslim. Adapun kadar ihsan yang mustahab (dianjurkan) di
dalam beribadah kepada Allah memiliki dua tingkatan, yaitu :
1. Tingkatan muraqabah.
Yakni seseorang yang beramal senantiasa merasa diawasi dan
diperhatikan oleh Allah dalam setiap aktivitasnya. Ini berdasarkan
sabda Nabi shalallahu „alaihi wa sallam ‫ئن‬ ‫ه‬ ‫ا‬ ‫ئو‬ ‫( ي ا‬jika
kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu).
Tingkatan muroqobah yaitu apabila seseorang tidak mampu
memperhatikan sifat-sifat Allah, dia yakin bahwa Allah
melihatnya. Apabila seseorang mengerjakan shalat, dia merasa
Allah memperhatikan apa yang dia lakukan, lalu dia memperbagus

8
shalatnya tersebut. Hal ini sebagaimana Allah firmankan dalam
surat Yunus :
―Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca
suatu ayat dari Al-Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu
pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu
melakukannya‖ (Yunus: 61)
2. Tingkatan musyahadah
Tingkatan ini lebih tinggi dari yang pertama, yaitu seseorang
senantiasa memperhatikan sifat-sifat Allah dan mengaitkan seluruh
aktifitasnya dengan sifat-sifat tersebut. Inilah realisasi dari sabda
Nabi ‫أن‬ ‫و‬ ‫ا‬ („Kamu menyembah Allah seakan-akan
kamu melihat-Nya).Pada tingkatan ini seseorang beribadah kepada
Allah, seakan-akan dia melihat-Nya. Perlu ditekankan, bahwa yang
dimaksudkan di sini bukanlah melihat Zat Allah, namun melihat
sifat-sifat-Nya, tidak sebagaimana keyakinan orang-orang sufi.
Yang mereka sangka dengan tingkatan musyahadah adalah melihat
Zat Allah. Ini jelas merupakan kebatilan. Yang dimaksud adalah
memperhatikan sifat-sifat Allah, yakni dengan memperhatikan
pengaruh sifat-sifat Allah bagi makhluk. Apabila seorang hamba
sudah memiliki ilmu dan keyakinan yang kuat terhadap sifat-sifat
Allah, dia akan mengembalikan semua tanda kekuasaan Allah pada
nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Dan inilah tingkatan tertinggi
dalam derajat ihsan. (Lihat Syarh Arba‟in An-Nawawiyah li Syaikh
Shalih Alu Syaikh 32-33).

I.4 Insan Kamil


I.4.1 Definisi Insan Kamil
Insan kamil adalah konsep manusia paripurna. Manusia yang berhasil
mencapai puncak prestasi tertinggi dilihat dari beberapa dimensi.

9
Konsep Insan Kamil menurut Al-Qur‘an dan Hadist Nabi Muhammad
Saw disebut sebagai teladan insan kamil atau istilah populernya di dalam Q.S.
al- Ahdzab/33:21:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.
Perwujudan insan kamil dibahas secara khusus di dalam kitab-kitab
tasawuf, namun konsep insan kamil ini juga dapat diartikulasikan dalam
kehidupan kontemporer.
Allah SWT tidak membiarkan kita untuk menginterpretasikan tata
nilai tersebut semaunya, berstandard seenaknya, tapi juga memberikan kepada
kita, Rasulullah SAW yang menjadi uswah hasanah. Rasulullah SAW
merupakan insan kamil, manusia paripurna, yang tidak ada satupun sisi-sisi
kemanusiaan yang tidak disentuhnya selama hidupnya. Ia adalah ciptaan
terbaik yang kepadanya kita merujuk akan akhlaq yang mulia. Allah SWT
berfirman:
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlaq yang
mulia.” (QS. Al-Qolam:4)
―Sesungguhnya telah ada dalam diri Rasulullaah suri teladan yang
baik bagi kalian, yaitu orang-orangmengharapkan (keridhoan) Allah dan
(kebahagiaan) hari akhirat, serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-
Ahzab:21)“Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan
kitab yang menerangkan. Dengan kitab itu Allah menunjuki orang-orang
yang mengikuti keridaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu
pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya
yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan
yang lurus.” (Al Maidah 15-16).

10
I.4.2 Ciri-ciri Insan Kamil
Untuk mengetahui ciri-ciri Insan Kamil dapat ditelusuri pada
berbagai pendapat yang dikemukakan para ulama yang keilmuannya
sudah diakui, termasuk di dalamnya aliran-aliran. Ciri-ciri tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Berfungsi Akalnya Secara Optimal
Fungsi akal secara optimal dapat dijumpai pada pendapat kaum
Mu‘tajzilah. Menurutnya manusia yang akalnya berfunsi secara
optimal dapat mengetahui bahwa segala perbuatan baik seperti
adil, jujur, berakhlak sesuai dengan esensinya dan merasa wajib
melakukan hal semua itu walaupun tidak diperintahkan oleh
wahyu. Manusia yang berfungsi akalnya sudah merasa wajib
melakukan perbuatan yang baik. Dan manusia yang demikianlah
yang dapat mendekati tingkat insan kamil. Dengan demikian insan
kamil akalnya dapat mengenali perbuatan yang baik dan perbuatan
buruk karena hal itu telah terkandung pada esensi perbuatan
tersebut.
2. Berfungsi Intuisinya
Insan Kamil dapat juga dicirikan dengan berfungsinya intuisi
yang ada dalam dirinya. Intuisi ini dalam pandangan Ibn Sina
disebut jiwa manusia (rasional soul). Menurutnya jika yang
berpengaruh dalam diri manusia adalah jiwa manusianya, maka
orang itu hampir menyerupai malaikat dan mendekati
kesempurnaan.
3. Mampu Menciptakan Budaya
Sebagai bentuk pengamalan dari berbagai potensi yang
terdapat pada dirinya sebagai insan, manusia yang sempurna
adalah manusia yang mampu mendayagunakan seluruh potensi
rohaniahnya secara optimal. Menurut Ibn Khaldun manusia
adalah makhluk berfikir. Sifat-sifat semacam ini tidak dimiliki

11
oleh makhluk lainnya. Lewat kemampuan berfikirnya itu,
manusia tidak hanya membuat kehidupannya, tetapi juga menaruh
perhatian terhadap berbagai cara guna memperoleh makna hidup.
Proses-proses semacam ini melahirkan peradaban.
Tetapi dalam kacamata Ibn Khaldun, kelengkapan serta
kesempurnaan manusia tidaklah lahir dengan begitu saja,
melainkan melalui suatu proses tertentu. Proses tersebut sekarang
ini dikenal dengan revolusi.
4. Menghiasi Diri Dengan Sifat-Sifat Ketuhanan
Manusai merupakan makhluk yang mempunyai naluri
ketuhanan (fitrah). Ia cenderung kepada hal-hal yang berasal dari
Tuhan, dan mengimaninya. Sifat-sifat tersebut membuat ia
menjadi wakil Tuhan di muka bumi. Manusia seabagai khalifah
yang demikian itu merupakan gambaran ideal. Yaitu manusia yang
berusaha menentukan nasibnya sendiri, baik sebagai kelompok
masyarakat maupun sebagai individu. Yaitu manusia yang
memiliki tanggung jawab yang besar, karena memiliki daya
kehendak yang bebas.
5. Berakhlak Mulia
Insan kamil juga adalah manusia yang berakhlak mulia. Hal ini
sejalan dengan pendapat Ali Syari‘ati yang mengatakan bahwa
manusia yang sempurna memiliki tiga aspek, yakni aspek
kebenaran, kebajikan dan keindahan. Dengan kata lain ia memiliki
pengetahuan, etika dan seni. Semua ini dapat dicapai dengan
kesadaran, kemerdekaan dan kreativitas. Manusia yang ideal
(sempurna) adalah manusia yang memiliki otak yang briliyan
sekaligus memiliki kelembutan hati. Insan Kamil dengan
kemampuan otaknya mampu menciptakan peradaban yang tinggi
dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, juga memiliki

12
kedalaman perasaan terhadap segala sesuatu yang menyebabkan
penderitaan, kemiskinan, kebodohan, dan kelemahan.
6. Berjiwa Seimbang
Menurut Nashr, bahwa manusia modern sekarang ini tidak jauh
meleset dari siratan Darwin. Bahwa hakikat manusia terletak pada
aspek kedalamannya, yang bersifat permanen, immortal yang kini
tengah bereksistensi sebagai bagian dari perjalanan hidupnya yang
teramat panjang. Tetapi disayangkan, kebanyakan dari merekan
lupa akan immortalitas yang hakiki tadi. Manusia modern
mengabaikan kebutuhannya yang paling mendasar, yang bersifat
ruhiyah, sehingga mereka tidak akan mendapatkan ketentraman
batin, yang berarti tidak hanya keseimbangan diri, terlebih lagi bila
tekanannya pada kebutuhan materi kian meningkat, maka
keseimbangan akan semakin rusak.
Kutipan tersebut mengisyaratkan tentang perlunya sikap
seimbang dalam kehidupan, yaitu seimbang antara pemenuhan
kebutuhan material dengan spiritual atau ruhiyah. Ini berarti
perlunya ditanamkan jiwa sufistik yang dibarengi dengan
pengamalan syari‘at Islam, terutama ibadah, zikir, tafakkur,
muhasabbag dan seterusnya.

13
BAB II
ISI

II.1 Menelusuri Konsep dan Urgensi Iman Islam dan Ihsan dalam Membentuk Insan
Kamil
Menurut Ibn Araby, ada dua tingkatan menusia dalam mengimani Tuhan.
1. Tingkat insan kamil. Mereka mengimani Tuhan dengan cara penyaksian.
Artinya, mereka ― menyaksikan‖ Tuhan; mereka menyembah Tuhan yang
disaksikannya.
2. Manusia beragama pada umumnya. Mereka mengimami Tuhan dengan
cara mendefinisikan. Artinya, mereka tidak menyaksikan Tuhan. Tetapi
mereka mendefinisikan Tuhan. Mereka mendefinisikan Tuhan
berdasarkan sifat – sifat dan nama – nama Tuhan. ( Asma‘ul Husna )

II.1.1 Tingkatan Insan Kamil


Abdulkarim Al – Jilli membagi insan kamil atas tiga tingkatan.
1. Tingkat Pemula ( al – bidayah ). Pada tingkat ini insan kamil mulai
dapat merealisasikan asma dan sifat – sifat ilahi pada dirinya.
2. Tingkat menengah ( at – tawasuth ). Pada tingkat ini insan kamil
sebagai orbit kehalusan sifat kemanusiaan yang terkait dengan realitas
kasih Tuhan ( al – haqaiq ar – ramaniyyah ). Pengetahuan yang
dimiliki oleh insan kamil pada tingkat ini telah meningkat dari
pengetahuan biasa, karena sebagian dari hal – hal yang gaib telah
dibukakan Tuhan kepadanya.
3. Tingkat terakhir ( al – khitam ). Pada tinhgkat ini insan kamil telah
dapat merealisasikan citra Tuhan secara utuh. Iapun telah dapat
mengetahui rincian dari rahasia penciptaan takdir

14
II.2 Mengapa Iman Islam dan Ihsan Menjadi Persyaratan dalam Membentuk Insan
Kamil
Apakah anda percaya akan adanya Allah ? Mereka semua memberikan
jawaban yang sama kami percaya akan adanya Allah, kami percaya akan adanya
malaikat – malaikatnya dan seterusnya. Kemudian jika ditanya lebih lanjut
adakah manusia yang tidak percaya akan adannya malaikat, dan adakah
manusia yang tidak percaya adanya tuhan, dan serterusnya. Hampir semua
mahasiswa menjawab tidak ada seorang manusiapun yang tidak percaya akan
adanya Tuhan, tidak ada seorang manusiapun yang tidak percaya akan adanya
malaikat, dan seterusnya. Semua manusia percaya adanya Tuhan, dan
seterusnya.

II.3 Menggali Sumber Teologis, Historis dan Filosofis Tentang Iman Islam dan
Ihsan Sebagai Pilar Agama Islam dalam Membentuk Insan Kamil
1. Menggali Sumber Teologis, Historis, dan Filosofis Tentang Iman, Islam,
dan Ihsan sebagai Pilar Agama Islam
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan Umar Bin Khatab r.a diatas
kaum muslimin menetapkan adanya tiga unsur penting dalam agama islam
yakni, iman, islam, dam ihsan sebagai kesatuan yang utuh.
Akidah merupakan cabang ilmu agama untuk memahami pilar islam
dan akhlak merupakan cabang ilmu agama untuk memahami pilar ihsan.
2. Menggali Sumber Teologis, Historis, dan Filosofis Konsep Insan Kamil
Istilah Insan Kamil (manusia sempurna) pertama kali diperkenalkan
oleh syekh Ibn Araby ( abad ke – 14 ). Ia menyebutkan ada dua jenis
manusia, yakni insan kamil dan monster setengah manusia. Jadi, kata Ibn
Araby, jika tidak menjadi insan kamil, maka manusia menjadi monster
setengah manusia. Insan kamil adalah manusia yang telah menanggalkan
kemonsteranya. Konsekuensinya, diluar kedua jenis manusia ini da manusia
yang sedang berproses menanggalkan kemonsterannya dalam membentuk
insan kamil.

15
a. Konsep Manusia dalam Al-Quran.
Secara umum, pembicaraan tentang konsep manusia selalu berkisar
dalam dua dimensi, yakni dimensi jasmani dan rohani, atau dimensi lahir
dan batin.
b. Unsur –unsur Manusia Pembentuk Insan Kamil
Secara ringkas, Al – Ghazali ( dalam othman, 1987: 31-33)
menyebut beberapa instrumen untuk mencari pengetahuan yang benar serta
kapasitas untuk mencapainya. Pertama, panca indra. Panca indra memiliki
keterbatasan dan tidak bisa mencapai pengetahuan yanng benar, setelah
dinilai oleh akal. Kedua, akal. Dengan metode ini, dengan cara yang sama,
seharusnya orangpun menuilai tingkat kebenaran akal. Orang seharusnya
menggunakan cara yang sama dengan cara yang digunakan oleh akal ketika
menulai kekeliruan panca indra.
3. Nur ilahi. Ketika Al- Ghazali sembuh dari sakitnya ia menuturkan,
kesembuhannya dari sakit karena adanya nur ilahi yang menembus dirinya.
Kemudian Al- Ghazali mengungkapkan pandangannya tentang nur ilahi
sebagai berikut. Kapan saja Allah menghendaki untuk memimpin seseorang,
maka jadilah demikian. Dialah yang melapangkan dada orang itu untuk
berislam. ( QS: Al- An am/ 6:125. )

II.4 Membangun Argumen tentang Karakteristik Insan Kamil dan Metode


Pencapaiannya
1. Karakteristik insan kamil
Insan kamil bukanlah manusia pada umumnya. Menurut ibnu araby
meyebutkan adanya dua jenis manusia yaitu insan kamil dan monster
bertubuh manusia. Maksudnya jika tidak menjadi insan kamil, maka manusia
akan menjadi monster bertubuh manusia. Untuk itu kita perlu mengenali
tempat unsur untuk mencapai derajat insan kamil, diantaranya :
- Jasad
- Hati nurani

16
- Roh
- Sirr (rasa)

Untuk mencapai derajat insan kamil kita harus dapat menundukkan


nafsu dan syahwat hingga mencapai tangga nafsu muthama‘inah. Hal ini
dapat dilihat pada QS Al Fajr/89;27-30.
Yang artinya: ―hai jiwa yang tenang kembalilah kepada tuhanmu
dengan hati yang puas lagi diridhoinya. Maka masuklah kedalam jamaah
hamba-hambaku, masuklah kedalam surgaku.‖
Ayat di atas dengan jelas menegaskan bahwa nafsu muthma‘inah
merupakan titik berangkat untuk kembali kepada tuhan. Akan tetapi, dengan
modal nafsu muthama‘inah pun masih di perintah lagi oleh allah untuk
menaiki tangga nafsu diatasnya. Menurut imam ghazali ada 7 macam nafsu
sebagai proses taraqqi (menaik) yaitu :
1. Nafsu ammarah
2. Nafsu lawwamah
3. Nafsu mulhimah
4. Nafsu muthma‘inah
5. Nafsu radhiyah
6. Nafsu mardiyyah
7. Nafsu kamilah
2. Metode Mencapai Insan Kamil
cara konkret :
1. Memulai sholat jika tuhan yang akan disembah itu sudah dapat
dihadirkan dalam hati, sehingga ia menyembah tuhan yang benar-
benar tuhan.
2. Berniat sholat karna allah.
3. Selalu menjalankan sholat dan keadaan hatinya hanya mengingat
allah.

17
4. Shollat yang telah didirikannya itu dapat mencegah perbuatan keji
dan mungkar

II.5 Mendeskripsikan tentang Esensi dan Urgensi Iman Islam dan Ihsan dalam
membentuk Insan Kamil
Insan kamil merupakan tipe manusia ideal yang dikehendaki oleh tuhan.
Hal ini disebabkan, jika tidak menjadi insan kamil maka manusia itu hanyalah
monster bertubuh manusia.
Siapa dan bagaimana insan kamil itu ?
Dalam perspektif islam manusia memiliki 4 unsur yaitu : jasad, hati, roh
dan rasa. Yang berfungsi untuk menjalankan kehendak ilahi. Untuk
mengkokohkan keimanan akan menjadi manusia yang insan kamil maka
kaimanan kita harus mencapai tingkat yakin. Maka kita harus mengidentifikasi
yang mengacu pada rukun iman. Sedangkan untuk dapat beribadah secara
bersungguh-sungguh dan ikhlas, maka segala ibadah yang kita lakukan
mengacu pada rukun islam.
Kaum sufi memberikan tips untuk dapat menaiki tangga demi tangga,
maka seseorang yang berkehendak mencapai martabat insan kamil diharuskan
melakukan riyadhah (berlatih terus-menerus) untuk menapaki maqam demi
maqam yang biasa ditempuh oleh bangsa sufi dalam perjalanannya menuju
tuhan. Maqam-maqam yang dimaksud merupakan karakter-karakter inti yang
memiliki 6 unsur :
1. Taubat.
2. Wara‘.
3. Zuhud.
4. Faqir.
5. Sabar
6. Tawakkal.

18
BAB III
PENUTUP

III.1 Kesimpulan
Untuk menapaki jalan insan kamil terlebih dahulu kita perlu
mengingat kembali tentang 4 unsur manusia yaitu jasad atau raga, hati, roh
dan rasa. Keempat unsur manusia ini harus di fungsikan untuk menjalankan
kehendak allah. Hati nurani harus dijadikan rajanya dengan cara selalu
mengingat tuhan.
Jika sudah secara benar menjalankan 4 unsur tersebut, lalu
mengkokohkan keimanan, meningkatkan peribadatan, dan membaguskan
perbuatan, sekaligus menghilangkan karakter-karakter yang buruk.

III.2 Saran
Menyadari bahwa kami masih jauh dari kata sempurna, kedepannya
kami akan lebih focus dan detail dalam menjelaskan dalam makalah di atas
dengan sumber-sumber yang lebih banyak yang tentunya dapat di
pertanggung jawabkan.
Untuk saran berisi kritik atau saran kepada kami dapat bisa untuk
menanggapi terhadap kesimpulan dari bahasan makalah yang telah di
jelaskan. Untuk bagian akhir dari makalah adalah daftar pustaka. Pada
kesempatan lain akan saya jelaskan tentang daftar pustaka makalah.

19
DAFTAR PUSTAKA

AL-QUR‘AN yang ada Terjemahnya.


https://id.wikipedia.org/wiki/Iman
https://islamagamaku.wordpress.com/2009/07/25/pengertian-iman/
https://id.wikipedia.org/wiki/Islam
https://id.wikipedia.org/wiki/Ihsan
https://muslim.or.id/4101-meraih-derajat-ihsan.html
https://fixguy.wordpress.com/insan-kamil/
http://rizkiarahmayanti16.blogspot.co.id/2015/02/mengintegrasikan-iman-islam-dan-
ihsan.html