Anda di halaman 1dari 17

ISSN: 1907-5545

Terakred itasi - Sertifikat Kepala P2MI- L1PI


Nomor : 417 / AU/ P2MI- L1 PI/ 04/ 20 12
JURNAL
IRIGASI
Vo!.7 No.1, Mei 2012

Halaman
Daftar lsi
Editorial ii
PENINGKATAN RESAPAN AIR TANAH DENGAN SALURAN RESAPAN DAN RORAK 1-15
UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS BELIMBING MANIS; STUDI KASUS DI KOTA
DEPOK (INCREASING SOIL WATER RECHARGE WI TH STORAGE CHANNEL AND "RORAK" TO
INCREASE STARFRUIT (AVERRHOA CARAMBOLA L) PRODUCTIVITY; CASESTUDY IN DEPOK)
Oleh:
Yanto Surdianto, Budi Indra Setiawan, Prastowo dan Satyanto Krido Saptomo
LAND GRADING DENGAN METODE PLANE OF BEST FIT UNTUK PENCETAKAN SAWAH 16 - 27
BARU (LAND GRADING USING PLANE OF BEST FIT METHOD FOR THE NEW COMPLETED
IRRIGATION)
Oleh:
Damar Susilowati, Subari, dan Muh ammad Muqorobin
PENGARUH PERLAKUAN PEMBERIAN AIR IRIGASI PADA BUDIDAYA SRI, PTT DAN 28 - 42
KONVENSIONAL TERHADAP PRODUKTIVITAS AIR ( THE EFFECT OF WATER SUPPLY
TREA TMENT FOR SRI. ICM AND CONVEN TI ONAL CULTIVATION TOWARDS WATER
PRODUCTIVITY)
Oleh :
Subari, Marasi Deon Joubert, Hanhan Ahma d Sofiudd in dan [oko Triyono
PENDUGAAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN NANAS (ANANAS COMOSUS L. MERR) 43 - 51
MENGGUNAKAN MODEL CROPWAT (ESTI MA TING WA TER REQUIREMENTS OF PINEAPPLE
USING CROPWAT MODEL)
Oleh:
Ahmad Tusi, Bustomi Rosadi, dan Maru li Triana
LAPISAN KEDAP BUATAN UNTUK MEMPERKECIL PERKOLASI LAHAN SAWAH TADAH 52 - 58
HUJAN DALAM MENDUKUNG IRIGASI HEMAT AIR (ARTIFICIAL IMPERVIOUS/HARDPAN
LA YER FOR REDUCING RAIN FED PADDY FIELD'S PERCOLATION RELATED TO WATER
SA VING IRRIGATION)
Oleh:
Asep Sapei dan Muham ma d Fauzan
PENGARUH KUALITAS SEDIMEN DASAR TERHADAP KARAKTERISTIK LINGKUNGAN 59 - 73
KEAIRAN, STUDI KASUS; SALURAN TARUM BARAT (THE EFFECT OF BOTTOM SEDIMENT
QUALITY ON TO WA TER ENVIRONMENT CHARACTERISTIC, CASE STUDY: WEST TARUM
CANAL)

Oleh:
Moelyadi Moelyo, [anuar Tisa dan Bambang Priadie

[urnal lriqa si - Vol. 7, No.1 , Mei 2012


PENINGKATAN RESAPAN AIR TANAH DENGAN SALURAN RESAPAN DAN RORAK
UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS BELIMBING MANIS
(STUDI KASUS DI KOTA DEPOK)
[INCREASING SOIL WA TER RECHARGE WITH STORAGE CHANNEL AND "RORA K" TO
INCREASE STARFRUIT (AVERRHOA CARAMBOLA L) PRODUCTIVITY
(CASE STUDY IN DEPOK)]
Oleh:
Vanto Surdia nt oo, Budi Indra Setiawarro, Prastowo -»dan Satyant o Kri do Saptom o»

MahasiswaS3 pada program Ilmu Keteknikan Pertanian SPs IPB


'J
Staf pengajar pada Departemen Teknik Sipil & Lingkungan IPB
U)

Komunikasi penulis, email: y.surdianto@yahoo.com


Naskah ini diterima pada 01 Desember 2012; revisi pada 03 [anuari 2012;
disetujui untuk dipublikasikan pada 28 Maret 2012

ABSTRA CT
Problem faced by star fruit farmers in Depok, West Java, is water availability relying only on rainfed.
Therefore, research related to water conservation technique for optimum utilization ofrain water and runoff
at the starfruit orchard was conducted. The objectives of the research were: 1) The relationship
between rainfall, evapotranspiration with starfruit productivity, 2) To find out the effects ofsoil
water absoption on starfruit productivity, and 3) To develope water balance analytical model without
runoff for sweet starfruit orchard. In this experiment the water table was approximately 16 m from soil
surf ace, no irrigation was used and water storage canals equipped with silt pits were constructed so that
runoff component and contribution of water capillarity movement were zero. The research results showed
that: 1) The rainfall and evapotranspiration had influence on the starfruit productivity; 2) The relatively
high rainfall followed by hig h soil water content at the rooting zone, ranging from 0,429 to 0,458 m3jm3,
enabled the star fruit to have year-round production with four times harvesting; 3) The water balance
analytical model without runoff could nicely simulate the soil water content at the rooting zone with R2 of
0,83.
Keyword: Rain, Inf iltra tion, Soil Wa ter, Starfruit, Productivity, Model

ABSTRAK
Permasalahan yang dihada pi oleh petani belimbing man is di kota Depok adalah masalah air, yang hanya
mengandalkan air hujan. Karena itu, penelitian yang menyangkut teknik konservasi air untuk
memanfaatkan air hujan dan aliran permukaan secara optimal telah dilakukan. Penelitian bertujuan
untuk 1) mengetahui hub ungan curah hujan, epavotranspirasi dengan produktivitas belimbing manis 2)
mengetahui efek resapan air ta nah terhadap produktivitas belimbing manis dan 3) mendapatkan model
analisis kesetimbangan air tanpa aliran permukaan di kebun belimbing manis. Dalam penelitian ini dibuat
saluran peresapan air ya ng dilengkapi rorak, tidak ada irigasi, dengan tinggi muka air tanah di atas 16 m
dari permukaan tanah, seh ingga komponen aliran permukaan dan kontribusi pergerakan kapiler dari air
bawah tanah menjadi tidak ada (nol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Curah hujan dan
evapotranspirasi berp engaruh terhadap peningkatan produktivitas belimbing; 2) Curah hujan yang relatif
tingggi diikuti oleh tingginya kadar air tanah di zona perkaran dengan kisaran 0,429-0,458 m 3jm3 ,
tanaman belimbing dapat berpro duksi 4 kali panen dalam setahun; 3) Model zorro dapat digunakan
untuk memprediksi ka da r air tanah di zona perakaran dilihat dari kinerja yang relatif baik dengan
koefisien derminasi (r 2) mencapai 0,83.
Kata kunci: Huj an, In filt r a si, Air Tanah, Be limbing, Produktivitas, Model

Jurnal Irigasi - Vol.7, No.1, Mei 2012 1


/

I PENDAHULUAN permukaan adalah saluran peresapan dan rorak.


Saluran peresapan adalah salur an yang dibuat
/ Belimbing man is (Averr hoa carambofa L)
pada lahan untuk me nahan aliran permukaan
merupakan ta na ma n buah tropik dengan
agar meresap ke dalam tanah. Saluran peresapan
kandungan gizi yang eukup tinggi sebagi sumber
biasanya dilengkapi dengan rorak untuk
vitamin A dan C. Dibanding dengan tanaman buah
memaksimalkan resapan air dan menampung
tropik lainnya, belimbing manis mempunyai
sedimen. Struktur rorak dan saluran re sapan
keunggulan karena dap at berbuah sepanjang
hanya memanfaatkan ruang yang tersedia tanp a
tahun. Artinya, belimbing bukanlah buah
mengganggu fungsi utama lahan.
musiman asal kondisi lingkungan nya kondusif,
terutama ketersediaa n air yang eukup. Rorak adalah tempat pen ampungan da n
Belimbing manis ba nyak membutuhkan air peresapan air dibuat di bidang olah atau di
sepanjang hidupnya, tetapi kurang menyukai air saluran peresapan. Rorak memp erb esar
tergenang. Menurut Satyawibawa dan peresapan air ke dalam tanah dan menampung
Widyastuti, (1992) belimbing manis seperti tanah tererosi. Umumnya rora k berukuran
halnya apel dan [eruk, merupakan tanaman buah panjang 0,5 - 1 m, lebar 25 - 50 em dan dalam 25 -
yang perakarannya dangkaJ. 50 em. Yang harus diwaspadai dalam pen erapan
rorak dan teknologi pemanenan air lainnya
Kota Depok merupa kan salah satu sentra
adalah bahwa air hanya boleh tergenang
pengembangan belimbing manis di Indonesia
beberapa saat (Balittanah 2011). Apabiia
dengan potensi lahan ya ng relatifluas sekitar 135
penggenangan berlanjut, dikh aw at irk an akan
ha. Menurut Dinas Per ta nian Kota Depok (2007)
terjadi masalah berupa penyakit ya ng menyerang
produktivitas belimb ing manis di wilayah ini
melalui akar tanaman.
masih belum optimal dan masih bisa
ditingkatkan. Umumnya berproduksi 3 kali Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengetahui
setahun terutama pa da musim hujan dengan hubungan antara eurah hujan, evap ot ranspirasi
kapasitas produksi sekitar 90-185 dengan produktivitas belimbing manis. 2)
kgjpohonjtahun. Pada musi m kemarau tidak mengetahui sejauh mana efek resapan air tanah
berproduksi dan terjadi penurunan hasil sekitar terhadap produktivitas belimbing ma nis, dan 3)
30-50%. Tanaman belimbing manis di Kota mendapatkan model pengelolaan aliran
Depok banyak dibudi day akan di lahan kering, permukaan dalam kons ep keseti mbangan air di
yaitu di laban kebun se kita r pemukiman atau di kebun belimbing manis.
lahan pekarangan de nga n pengairan bersumber
dari air hujan. Sum ber air terdekat untuk II Tinjauan pustaka
memenuhi kebutuhan irigasi lokasinya eukup
2.1. Hubungan curah hujan dengan
jauh sekitar 1-2 km dari lokasi kebun. Sementara
produktivitas
itu, air yang tersedia lebi h diutamakan untuk
memenuhi kebutuha n ru ma h tangga, sehingga Faktor iklim sangat mene ntukan pertumbuhan
terjadi kompetisi pe ma kaian air dengan usaha dan produksi ta naman. Apabil a tanaman ditanam
pertanian. di luar daerah iklim nya, maka produktivitasnya
se ring kali tidak sesua i den gan yang diharapkan.
Permasalahan yang diha dapi oleh petani
Menurut Sutarno et al (199 7) studi tentang
belimbing manis di kota Depok ada lah
pe rilaku tanaman dalam hubungannya dengan
ketersediaan air, kare na han ya mengandalkan
perubahan-perubah an iklim disebut dengan
siraman air hujan, yang setiap ta hunnya tidak
fenolo gi. Untuk fakt or iklim yang dipergunakan
selalu sarna besarnya. Dist ribusi dan intensitas
dal am pen elit ian fenologi pada umumnya adalah
hujan yang tidak mer ata dan tidak menentu
eura h hujan, karena eura h hujan seeara langsung
menyebabkan terjadi kek urangan air pa da musim
atau tidak lang sung pen ting untuk pengaturan
kemarau dan keleb ihan air pada mus im huj an.
waktu dan ruang dalam pem bentukan bunga dim
Karena itu, diperlukan ti ndakan konservasi air
buah tanam an tr opis.
melalui pengelolaa n air hujan da n aliran
perrnukaan, agar tanam an belimbing terhindar Tan am an belimbing ban yak membutuhkan air
dari risiko kekeringa n has il akibat eekama n air. se panjang hid upn ya tet ap i kurang menyukai air
tergenang. Cura h hu jan ideal yang dibutuhkan
Teknik konservasi air yang dapat diterapkan
berkisa r 2000-2500 mm/tahun, dengan
dalam upaya pemanenan air hujan dan aliran

2 [u rna l Jrig asi - Vol. 7, No.l.Mei 201 2


komposisi bulan basah dan bulan kering adalah fotosintesis berjalan lebih cepat sehingga
5-7 bulan basah dan 4-6 bulan kering. Bila curah menghasilkan energi yang lebih banyak dan
hujan terlalu tinggi, menyebabkan gugurnya pertumbuhan berjalan cepat.
bunga dan buah, sehingga produksinya akan
2.3 Prinsip Dasar Konservasi Air
rendah °C (Direktorat Tanaman Buah 2004).
Demikian pula kekeringan menyebabkan Aliran permukaan merupakan komponen
penurunan laju fotosintesis dan distribusi penting dalam hubungannya dengan konservasi
asimilat terganggu, yang berdampak negatif pada air. Konservasi air pada prinsipnya adalah
pertumbuhan tanaman baik fase vegetatif penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah
maupun fase generatif. Pada fase generatif seefisien mungkin dan pengaturan waktu aliran
kekeringan menyebabkan terjadinya penurunan yang tepat, sehingga tidak terjadi banjir pada
produksi tanaman akibat terhambatnya musim hujan dan terdapat cukup air pada
pembentukan bunga, pembuahan terganggu, musim kemarau. Oleh sebab itu, tindakan-
gugur buah muda, dan bentuk buah kecil . [ika tindakan yang berhubungan dengan
kekurangan air dapat diatasi sedini mungkin pengendalian dan pengelolaan aliran permukaan
maka penurunan produksi dapat dihindari (Bray, dapat diformulasikan dalam strategi konservasi
1997). air. Namun dalam konteks pernanfaatan, Agus et
aJ. (2002) mengemukakan bahwa penggunaan air
2.2. Hubungan evap ot r a ns pirasi dengan
hujan yang jatuh ke permukaan tanah secara
produktivitas
efisien merupakan tindakan konservasi air.
Evapotranspirasi merupakan proses yang sangat
Konservasi air dapat dilakukan dengan
penting bagi tanaman. Metabolisme tanaman
mengurangi penguapan air melalui evaporasi
berlangsung jika evapotranspirasi terjadi.
dengan meningkatkan penutupan tanah dengan
Evapotranspirasi adalah proses gerakan air dari
mulsa (Abdurrahman dan Sutono 2002).
sistem tanah ke tanaman kemudian ke atmosfir
Selanjutnya Arsyad (2000) aliran permukaan
(transpirasi) dan gerakan air dari sistem tanah ke
hanya dapat diatur dengan memperbesar
permukaan tanah kemudian ke atmosfir
kamampuan tanah menyimpan air melalui
(evaporasi). Berbagai persamaan hubungan
perbaikan kapasitas infiltrasi tanah, dengan
evapotranspirasi dengan produksi telah
depresi-depresi dan tanaman penutup tanah
dikembangkan. Semakin besar evapotranspirasi
yang lebat atau sisa-sisa tanaman yang menutupi
akan menyebabkan se makin besar produksi.
tanah. Tetapi yang terpenting dalam hal ini
Pad a kondisi defisit a ir, penurunan produksi
adalah kapasitas infiltrasi.
berbanding lurus dengan penurunan
evapotranspirasi. Pro duksi maksimum Beberapa teknik konservasi air yang dapat
merupakan produksi ta naman pada kondisi diterapkan dalam upaya pemanenan air hujan
lingkungan yang optimum (Doorenbos dan dan aliran permukaan adalah pembuatan saluran
Kassam, 1979). peresapan, rorak, mulsa vertikal, embung, dan
sistem drainase. Beberapa hasil penelitian
Jackson · (1977) mengemukakan bahwa
menunjukkan efektivitas rorak sebagai bangunan
evapotranspirasi dipengaruhi oleh faktor
pemanen air, diantaranya ditunjukkan oleh
meteorologi, termasuk di dalamnya radiasi
kemampuannya dalam mengurangi aliran
surya, suhu, selisih tekanan uap, kecepatan angin
permukaan (Noeralam 2002; Tala'ohu et al,
dan turbulensi udara. Radiasi matahari
1992).
berhubungan dengan laju pertumbuhan tanarnan,
fotosintesis, pembukaan (reseptivitas) bunga, 2.4 Model Konsep Kesetimbangan Air
dan aktivitas lebah penyerbuk. Pembukaan bunga
Proses fisik yang dipertimbangkan di dalam
dan aktivitas lebah ditingkatkan oleh radiasi
konsep model kesetimbangan air tanah di dalam
matahari yang cerah (Guslim 2007). Suhu
zona perakaran tanaman ditunjukkan pada
berkorelasi positif dengan radiasi matahari,
Gambar 1. Kedalaman pengakaran maksimum
suhu tanah maupun ud a ra di sekitar tajuk
tanaman yang tumbuh di lapangan dianggap
tanaman.
sebagai ruang simpanan air tanah (soil water
Semakin tinggi suhu dan jumlah penyinaran reservoir). Reservoir tersebut dibagi ke dalam
matahari lebih banyak, semakin besar nilai dua lapisan (Panigrahi and Panda, 2003) yaitu:
evapotranspirasi. Dengan demikian proses (i) lapisan tanah aktif dimana terdapat akar dan

jurnallrigasi - Vol.7, No.1, Mei 2012 3


terjadi ekst raksi kel embaban dan drainase (ii) jelas dengan ukura n yang relatif dan ditentukan
lapisan tan ah pasif dimana hanya terjadi ole h laju pertumb uhan a kar. Ketika perakaran
drainase. Pad a period e aw al pertumb uhan mencapai kedala man maksimum, seluruh daerah
tanarnan, ke dua lap isan tersebut te rp isa h cukup perakaran diis i oleh lapisan aktif.

t
Keadalaman akar
Jt,.
Zone pe ra karan
aktif
'It
mak simum ~ 'It
~ - - - -- - -~ - - - - - ---

1 'V
pasif
. . .> . *.>.* >*..*.>* *.~.* *> .
Zone per akaran

_~
Gaya kapiler (GW)

Pengisian kem bali air tana h da a m


Muka air tanah

Gambar 1 Skema komponen kesetimbangan air ta na h di lapangan (Panigrahi dan Panda 2003 .)

Irigasi (I) dan huja n (P) merupakan air yang atas karena gaya kapiler (capilla ry rise) Cw.
masuk ke dalam zo ne perakaran. Sebagian (I) Evaporasi tanah dan tanaman akan m engurangi
dan (P) tersebut aka n hilang melalui aliran air di zona perakaran.
permukaan (Qr) dan perkolasi (P) yang secara Kesetimbangan air tanah pada zone peraka ran
bertahap akan men gisi water table (m uka air dinyatakan dalam bentuk persamaan se baga i
tanah) . Sebagian ai r te rseb ut akan bergerak ke berikut (Pereira dan Allen , 1999):

o = O/ + [P, - (Qr ), } + (I ,,); - (E Tc); - D p, + G W; (Pers1)


; ,- 1000(2r);

Keterangan, satu dengan ya ng lain sehingga m en gh asilka n


8; Kadar air tanah vo lume tri k di zona neraca a ir atau kesetimbangan air. Outp ut dari
perakaran pada hari ke i (m 3 jm 3 ) ; kesetimbangan air ada la h keadaan da ri sis tem
8i-l Kadar air ta na h vo lume trik pada ha ri ke i-1 ya ng ditinjau dalam bentuk p ernyataa n defisit
(m 3jm3 ) ; dan su rplu s. Defisit terjadi a pa bila kadar air
P; Presipitasi atau hu jan pad a hari ke i (mm) ; tanah berkurang sa m pa i di baw a h titik layu
Qr,; Limpasan permukaan ata u Runoff pada hari
perman en (Qw p), dan sebaliknya disebut surplus
ke i (mm);
bila berada di atas kap asitas lapan g (Qfe]. [umlah
In; Kedalaman bersih irigasi pad a hari ke i
(mm) ; dari p eriod e d efisit dan s urplus dipe nga ru hi oleh
ETc; Evapotranspirasi ta na ma n pada ha ri ke i curah huj an , kead aan air tana h, kedalaman
(mm); perakaran dan laju eva po tra nspirasi.
DP; Perkolasi ke bawah zona peraka ran pada
hari ke i (mm);
GW; Kontrib usi pe rgera ka n kapiler dari a ir III METODOLOGI
bawah ta na h pad a hari ke i (mm); 3.1 Tempat dan Wa k u Penelitian
Zn Kedalaman zo na pe ra ka ra n (m).
Pen elitian dilakukan di kebun belimbing manis
Masuknya air hujan da n iriga si ke la pisan
milik petani di Kelu rah a n Pasir Putih, Kecamatan
perakaran melalui pe ris ti wa ya ng disebut
Sawanga n, Kota Dep ok mula i bulan Maret 2010
infiltrasi. Aliran air masu k dan ke luar lapisan
sam pa i de nga n Mei 2011. Secara geografis lokasi
perakaran ini dinamaka n siklus air. Besaran ti ap
penelitian terletak pada koordinat antara
komponen si klus dapat diukur dan digabungkan
106 0 46'25 "- 106 0 47' 28 " BT dan 06 °22'25"-

4 [urnal lriq asi - Vol.7, No.l.Mei 2012


06°26'26" LS. Wilayah penelitian berada pada 3.4 Data yang diamati
ketinggian 80-110 m dpl dengan topografi
Data sekunder yang diperoleh seeara tidak
sebagian besar mempunyai relief berombak
langsung berupa eatatan maupun hasil penelitian
(32,18%).
dari pihak lain yang meliputi: 1) iklim sebelum
3.2 Bahan dan Alat penelitian: eurah hujan, suhu udara, kelernbaban,
radiasi matahari; 2) produksi dan produktivitas
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian
belimbing sebelum penelitian yang diperoleh
meliputi: pupuk, pestisida dan bahan-bahan
dengan eara mengutip data dan laporan dari
untuk analisis tanah dan tanaman di
instansi terkait. Data primer yang diperoleh
Laboratorium. Alat yang digunakan pada
seeara langsung melalui pengamatan dan
penelitian ini seperangkat komputer dengan
pengukuran langsung di lapangan yang meliputi:
menggunakan aplikasi Microsoft Office 2007 yang
iklim selama penelitian (eurah hujan, suhu udara,
dilengkapi dengan software Visual Basic Editor
kelernbaban, radiasi matahari eurah hujan},
(VBE), surfer v 9.9.785 untuk membuat peta
kadar air tanah dan produktivitas belimbing.
kontur kebun penelitian dan memetakan lokasi
saluran resapan dan rorak. Alat pendukung 3.5 Identifikasi dan Karakterisasi iklim
lainnya berupa Thermo Recorder TR-72U untuk
Identifikasi dan karakterisasi iklim dilakukan
mengukur suhu dan kelembaban setiap jam,
dengan menganalisis data eurah hujan selama 12
Tensiometer, Theodolite T200, ombrometer,
tahun (1989-2009). Data eurah hujan tersebut
meteran, tam bang, cangkul, pisau, kamera, dll.
berdasarkan rekaman data dari stasiun Pos
3.3 Pembuatan saluran resapan dan rorak Pengamatan Sungai Pasanggrahan Sawangan,
Depok, Dinas PU DKI Jakarta dari tahun 1989
Optimalisasi pemanfatan air hujan dan aliran
sampai 2009.
permukaan di kebun belimbing dengan eara
membuat saluran resapan yang dilengkapi Hubungan antara eurah hujan (sebagai faktor
dengan rorak. Saluran resapan dengan ukuran independen) dengan produktivitas (sebagai faktor
lebar 25 em dan dalam 20 em. Sedangkan rorak dependen) dianalisis seeara korelasi regresi
dibuat dengan ukuran 40 x 40 x 40 em. [umlah dengan fungsi matematis sebagai berikut (Gomez
rorakjlobang resapan sebanyak 57 buah dengan dan Gomez, 1983):
panjang saluran 271,277 m. Saluran resapan
Y=a+jJX ........................ (Pers 2)
tidak mengarah ke satu arah, tetapi dibuat
mengikuti ketinggian pemukaan tanah atau
Keterangan:
mengikuti aliran air yang terjadi di lapangan.
Y = produktivitas (variable dependen);
Pembuatan saluran resapan dan rorak dilakukan
X = eurah hujan (variable independen) ;
seeara bertahap sampai diyakini tidak terjadi
a = konstanta;
aliran permukaan yang mengalir ke luar kebun
penelitian maupun genangan air di permukaan J3 = kemiringan.
tanah. Selanjutnya posisi saluran resapan dan Hubungan produktivitas dengan
rorak dipetakan ke dalam peta kontur evapotranspirasi digunakan model persamaan
menggunakan program surfer v 9.9.785 sebagai berikut (Doorenbos J & Kassam, 1979):
(Gambar 2).
. (Pers 3)
/

Keterangan:
'S
Ym = produksi maksimum;
"
'0
Ya = produksi aktual;
'0 Eta = evapotranspirasi aktual
e. ETm = evapotranspirasi maksimum dan
J3 = faktor respon hasil terhadap stress air.
Parameter tersebut kemudian dioptimasi
menggunakan solver (Mikrosoft Excell 2007)
Gambar 2 Peta Kontur dan Posisi Rorak di Kebun Penelitian untuk mendapatkan kurva hubungan antara

jurnallrigasi - Vo!.7, No.1, Mei 2012 5


produktivitas belimbing dengan Keterangan:
evapotranspirasi. KAukur = kadar air tanah pengukuruan;
KAmodel = kadar air tanah model
3.6 Model pengelolaan aliran permukaan
dalam konsep kesetimbangan air (Zero Untuk melihat hubungan anta ra hasil mod el
runoff model in water balance) dengan hasil obervasi digunakan tol ok uku r
koefisien korelasi (r2 ) dengan persamaan sebaga i
Model dikembangkan dengan persamaan (1) .
berikut:
Dalam penelitian ini dib uat salur an peresapan air
yang dilengkapi lubang resapa nj ro rak untuk
menghilangkan runoff, tid ak ada irigasi dan
r2 = L (KA'k" - ""KA:;::XKAmode, - KA;::;) ...(Pers 7)
dilakukan di lahan kering pekarangan dengan ~L (KA'k" - KA'k" J(KA mode, - KA mode, J
tinggi muk a air tanah di atas 16 m sehingga
komponen Qr (RunoffJ dan GW (kontribusi
perge rakan kapiler da ri air bawah tanah) Estimasi volume aliran permukaan dengan
menjadi tidak ada (nol), mak a persamaan (1) metode SCS (Soil Conservation Service) (Stewart
menjadi: etal.1976):

(} =(} + [P - ETc-DP] .................(Pers 4) RO =(P - O,2 S/ I(P + 0,8S) ............................(Pers 8)


, ,- 1 1000(2r);

Keterangan :
Data cura h hujan merupakan data curah hujan
RO = Aliran permukaan;
harian yang terukur dalam obrometer.
P = Curah hujan (mm);
Sedangkan evapotrans pirasi adalah
S = Bilangan kurva (curve num ber) limpasan
evapotr aspirasi tanaman (ETc). Agar analisis
permukaan (mm)
hasil simulasi mendekatai kondisi ideal dengan
data hasil pengukuran dilapangan maka Besarnya S ditentukan dengan per sam aa n
ditambahakan fakto r koreksi untuk parameter sebagai berikut:
hujan (a) dan eva potranspirasi (b) maka ......................(Pers 9)
S = (25.400/CN) - 2 .54
persamaan (20) me njadi:
...............(Pers 5) Angka CN (curve number) adalah bervari asi dari 0
(} =(} + [aP -bETc-DP] sampai 100 yang dipengaruhi oleh kondisi grup
t ,-1 1000(2r),
hidrologi tanah AMC (antecedent moisture
content), penggunaan lahan dan cara bercocok
Faktor koreksi hujan (a) dan evapotranspirasi (b) tanam.
diperoleh de ngan memb andingkan da ta ha sil
simulasi dengan da ta obse rvasi pada waktu yang IV HASIL DAN PEMBAHASAN
sarna. Selanjutnya dilakukan minimalisasi 4.1 Krakteristik Iklim Lokasi Penelitian
terhadap deviasi dari model (error) dengan
menggunakan solver pada MS Excel 2007. Curah hujan merupakan salah satu faktor
Perhitungan neraca air disimulasikan dengan produksi yang mempengaruhi produktivitas
menggunakan pe mogra ma n komputer dalam tanaman belimbing. Curah hujan ideal yang
bahasa BASIC men ggunaka n fasilitas Visual Basic dibutuhkan berkisar anta ra 2000-2500
for Aplication (VBA) pada MS Excel 2007. mmjtahun (Direktorat Tanam an Buah, 2004).
Selanjutnya dilakukan validasi dengan Data curah hujan tahunan selama 12 tahun
menggunakan da ta hasil pengukuran langsung di (Gambar 3) menunjukkan bahwa lokas i
lapangan. Untuk menentukan besarnya penelitian mempunyai curah huj an tahunan ya ng
simpangan has il penguku ran terhadap hasil relative tinggi yaitu be rkisar antara 1.868,0-
simulasi sebagai informa si akurasi model 3.046,5 mmjtahun den gan rerata se besar
digunakan metode RSME (Root Mean Square 2.546,71 mmjtahun. Karena itu, pembuatan
Error) dengan persamaa n seb agai berikut: saluran res ap an yang dilengk api dengan rorak
sangat berguna untuk mengoptimalkan
pemanfaatan air huj an untuk menanggulangi
RSME = ~ {; (KA ukur - KA model Y (Pers 6) masalah kekurangan air di musim kemarau.

6 jurnallrigasi - Val. 7, No.l .Mei 2012


4000
E 3000
S
<:
'"
'5' 2000
:r:
..<:: 1000
...'"
::l
U
0
1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
Tahun

Gam bar 3 Kondisi curah hujan lokasi penelitian Kelurahan Pasir Putih Sawangan Depok

Kota Depok memiliki iklim yang eoeok untuk Hortikultura, 2004). Pola eurah hujan bulanan
tanaman belimbing ma nis. Curah hujan ideal selama 12 tahun terakhir di Kelurahan Pasir
yang dibutuhkan berkisar 1.500-3.000 mm Putih, Keeamatan Sawangan, Kota Depok, dapat
setahun dan suhu 25 -27 0 C sangat coeok untuk dilihat pad a Gambar 4.
belimbing (Ditjen Bina Produksi dan

Gambar 4 Pola Curah Hujan Bulanan Tahun 1998-2009 di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok

Berdasarkan Gambar 4 diketahui bahwa belimbing mengalami gejala kekeringan yang


Kelurahan Pasir Putih, Keeamatan Sawangan, ditunjukkan dengan gugurnya daun. Distribusi
Kota Depok mempunyai eurah hujan seeara eurah hujan dan evapotranspirasi mingguan rata-
temporal yang tidak me rata. Curah hujan rata di Kelurahan Pasir Putih, Keeamatan
terendah terjadi pad a bulan Agustus sebesar Sawangan, Kota Depok disajikan pada Gambar 5.
77.83 dan tertinggi pada bulan Februari sebesar
Tingginya evapotranspirasi pada bulan [uli-
358.42 mm. Berdasarkan peta zona agroklimat
September dipengaruhi oleh tingginya suhu dan
(Oldeman et al, 1975), termasuk ke dalam tipe
radiasi matahari. Perhitungan evapotranspirasi
iklim B2 yaitu, 7 - 9 bulan basah berurutan dan
yang digunakan adalah evapotranspirasi model
2 - 4 bulan kering.
Hargreaves. Hasil perhitungan tersebut
Faktor iklim yang paling berpengaruh terhadap merupakan evapotranspirasi potensial (ETp)
ketersediaan air yai tu eurah hujan dan bulanan selama 12 tahun mulai tahun 1998
evapotranspirasi. Tingg i hujan di bawah sampai dengan tahun 2009. ETp
evapotranspirasi merupakan periode kering. menggambarkan laju maksimum kehilangan air
Periode di mana eurah hujan lebih kecil dari suatu tanaman yang ditentukan oleh kondisi
evapotranspirasi poten sial terjadi selama 12 iklim. Diketahui bahwa ETp bulanan berkisar
minggu (3 bulan) ya itu ter jadi pada bulan [uli antara 101.5 mm/bulan sampai dengan 139.4
sampai dengan bulan September. Pada periode mm/bulan. ETp terbesar terjadi pada bulan
ini ada kemungkinan terjadinya kelangkaan atau September sedangkan ETp terendah terjadi pada
defisit air. Pada bu lan tersebut, tanaman bulan Februari.

Jurnal lriqasi - Vol.7, No.1, Mei 2012 7


16 ,0 ------------- -------- --------------------------- ---------------------------- --------
14,0 --- ------ ------------------ -- ------------ -------------- --- ------------- ---- -
12,0
10,0
8,0
6,0
4,0
2,0
0,0
1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 34 37 40 43 46 49 52

Minggu ke

Gambar 5 Dist ribusi curah hujan dan evapotranspirasi mingguan rata -rata di Kelurahan Pasir Putih,
Kecamatan Sawangan, Kota Depok

4.2. Produktivitas Belimbin g Kota Depok kgjpohon pada tahun 2005 menjadi 182
kgjpohon pada tahun 2010. Peningkat an
Cura h hujan merupakan salah sa tu faktor
produktivitas belimbing masih jauh dari yan g
produksi ya ng merupakan pensuplai kebutuhan
diharapkan oleh Dinas Pertanian Kota Depok
air pad a kebun belimbing di lokasi penelitian.
yang saat ini mengupayakan untuk meningkatkan
Selama ini curah hujan belum dim a nfaatkan
produktivitas belimbing menjadi lebih dari 200
secara optimal. Produktivitas belimbing di kota
kgjpohonjtahun. Produktivitas buah belimbing
Depok selama 6 tahun terakhir menunjukkan
di kota Depok disajikan pada Tabel 1.
tre nd yang te ru s meningkat yaitu se banyak 95,44

Tabel 1 Pro du k t ivit a s Buah Be limb ing Kota Depok

Tahun Huja n Kumulatif Produktivitas


(mmjtahun) (kgjpohonjtahun)
005 2.965,0 95,44
2006 2.255,0 128,00
2007 2.772,0 144,00
2008 2.320,0 159,00
2009 3.046,5 150,00
2010 3.727,9 182,00
Rerata 2847,7 143,07
Sumber: Disperta Kota Depok

Menurut Dinas Pertanian Kota Depok (2007) Panen raya terjadi pada bulan [anuari-Februari.
panen belimbing di Kota Depok umumnya terjadi Pola panen belimbing di Kota Depok disajikan
3 kali dalam setahun, yaitu pada bulan [an uari - pada Gambar 6.
Pebruari, Mei-Iuni, dan September-Oktober.

Okt I Nop I Des Peb I Mart I Apr! I Mei I Iuni I luli


/ //
Panen I Panen II Panen III

Gam bar 6 Pola Produksi Belimbing di Kota Depok

8 jurnaJ lriqa si - VoJ.7, No.l,Mei 2 012


Keterangan:
= Masa keluar bunga sampai dengan pembungkusan buah
= Masa pembungkusan buah
./ 7
Masa pembungkusan buah sampai dengan panen

4.3 Curah Hujan Selama Penelitian bertepatan dengan pembuatan saluran resapan
dan rorak. Peningkatan eurah hujan yang relatif
Data eurah hujan diperoleh dari pengukuran di
tinggi terjadi pada bulan Mei 2010 dan meneapai
lapangan, mulai bulan April 2010 hingga bulan
puneaknya pada bulan September 2010 berturut-
Mei 2011. Gambar 7 memperlihatkan terdapat
turut sebesar 299,5 rum/bulan dan 713,4
satu bulan kering dengan eurah hujan sebesar 66
mm/bulan,
mrri/bulan yaitu pada bulan April yang

800
700
E 600
E 500
'-' 400
::r::
u 300
200
100
o +-........-r-
Apr Mei [un [ul Agus Sep Okt Nap Des Jan Feb Mart Apr Mei
Bulan

Gambar 7 Pala curah hujan bulanan selama penelitian di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depak

4.4 Hubungan Curah Hujan dengan tersimpan dapat sampai beberapa puluh rum/jam
Produktivitas (Arsyad 2000). Kondisi tersebut mendorong
dilakukannya tindakan konservasi air dengan
Doorenboos dan Kassa m (1979) menyatakan
membuat saluran resapan yang dilengkapi rorak.
bahwa air hujan tidak se lamanya efektif dapat
dimanfaatkan tanaman, karena sebagian hilang Hasil penelitian menunjukkan bahwa
berupa limpasan permukaan (runoff), perkolasi produktivitas belimbing dengan perlakuan panen
dalam dan evaporasi. Aspek penting yang perlu air relatif tinggi, yaitu sebanyak 98,42
diperhatikan adalah sebanyak mungkin air hujan kg/pohori/panen sampai dengan 110,38
meresap ke dalam tanah un tuk ditahan di zona kg/pohou/panen dengan total sebanyak 416,25
perakaran untuk menanggulangi kekurangan air kg/pohon/tahun, di atas rerata produktivitas
di musim kemarau. belimbing Kota Depok enam tahun terakhir, yaitu
sebanyak 182 kg/pohori/tahun. Selama
Dalam konservasi tanah da n air, dua unsur siklus
penelitian dari bulan April 2010-Mei 2011 eurah
air yang memegang peranan penting yaitu, eurah
hujan di lokasi penelitian relatif tinggi dengan
hujan dan aliran permukaan. Hujan lebat terjadi
kisaran 146,2-713,4 mm/bulan, tidak terjadi
dalam waktu yang singkat menyebabkan
kemarau yang berkepanjangan dan tanaman
kondensasi, adsorpsi, pe rkolasi, evaporasi dan
tidak mengalami gejala kekeringan. Kadar air
transpirasi terjadi dalam jumlah yang sangat keeil
tanah di zona perakaran tanaman juga eukup
sebesar beberapa persepuluh rum/jam.
tinggi, yakni di atas kapasitas lapang, yaitu
sedangkan eurah hujan, aliran permukaan dan air
sebesar 0,458-0,429 m 3/m3 .

jurnallrigasi - Va!. 7, No.1, Mei 2012 9


Tabel2 Produktivitas buah belimbing dengan perlaku an panen air

Hujan Kumulat if Produktivitas KA Tana h


(mm )
[kg/ pc hon/ panen)
Panen 1 (Juni-September) 1.563,0 110,38
Panen 2 (Agustus-Desembe r) 1.768,8 107,41 0,429-0,458
Panen 3 (Nopember-Ma re t) 872 ,9 100,04
Panen 4 (Pebruari-Mei) 832 ,8 98,42
Total per tahun 416,25
Data Primer

Tabel 2 memp erlih atkan meningkatnya curah cekaman kekeringan pada tan am an terj adi
hujan diik uti denga n meningkatnya prod uktivitas karena suplai air yang tidak mencukupi.
buah beli mb ing. Data huj an yang digunakan yaitu
Evapotranspirasi merupakan proses yang sangat
hujan kum ulatif selama satu siklus produksi buah
penting bagi tanaman. Metabo lism e tanaman
belimbing sela ma 115 hari. Analisis regresi
berlangsung jika evapotranspi ra si ter jad i.
hubungan curah hujan dengan prod uktivitas
Evapotranspirasi adalah pr oses gerakan air dari
belimbing mem be ntuk persamaan regresi linier
sistem tanah ke tanaman kemud ian ke atmosfir
Y = O.OllX + 90.3 2 dengan koefiseien
(transpirasi) dan gerakan air dari sistem ta nah ke
determinasi R Square (r 2) sebesar 0.85 artinya
permukaan tanah kemudian ke atmosfir
85% produktiv itas belimbing pada perlakuan
(evaporasi). Doorenbos dan Kas sam (1979)
panen air dijelas ka n oleh curah hujan, sisanya
menyatakan bahwa penuruna n pr oduksi
15% dijelaskan oleh faktor lain. Nilai F sebesar
sebanding dengan penurunan eva potra ns pirasi.
11,30; p 0,002 art inya curah hujan berpengaruh
Data evapotranspirasi da n produktivitas
nyata terhadap peningkatan produktivitas
belimbing dapat dilihat pada Tabel 3.
belimbing. Hasil analisis regresi dapat dilihat
pada Gamba r 8. Tabel 3 Eva potra nspirasi dan pro duktivitas buah beli mbing
dengan perl aku an panen air
til 112
'S:
... s::
'" r-..
0
.-... ..s::
110
108
• Pan en
ET Kumulatif
(mm )
Pro duktivitas
(kg/ po hon/ pa nen)
0
":'::0. 106
:l ........
"001) 104 ke 1 (Juni-Sept) 409 .8 108.74
0..:.:: 102
0'::'-' 100 ke 2 (Agust -Des) 400.4 105.90
98
96
• ke 3 (Nop-Maret) 395 .6 104.46
600 900 1200 1500 1800 ke 4 [Peb-Mei] 371.2 97.16
Hujan Kumulatif (mm) Total setahun 1577 416.26
Dat a prim er
Gamba r 8 Kurva regres i korelasi a ntara produktivitas
belimbing dengan curah hujan pada perl akuan pan en air Tabel 3 memperlihatkan bahwa secara umum
4 .5 Hubungan Evapotranspiras i dengan produktivitas belimbing meningkat dengan
produktivitas meningkatnya eva pot ranspirasi. Data
eva potra nspirasi ya ng digunakan adalah data
Menurut Bray (1997) cekama n kekeringan yang eva potra nspirasi potensial kumulat if selama satu
biasa disebut drought stress pada ta na man dapat siklus produksi buah belimbing. ' Hubunga n
dise babkan dua hal ya itu (1) kekurangan suplai a nta ra eva potranspirasi dengan produktivitas
air di daerah pe rakaran, dan (2) permintaan air belimbing dalam bentuk grafik disaj ikan pa da
berlebihan oleh daun akib at laju evapotranspirasi Gambar9.
mele bihi laju abso rpsi air walaupun keadaan air
tanah te rse dia cukup. Pada lahan kering,

10 jurn allrigasi - Vol.7, No.l,Mei 2012


115 ketersediaan air dalam tanah berada dalam
110 • kondisi yang cukup bagi tanaman untuk tumbuh
105 ~ dan berproduksi.
100 ~.
95 Selain proses metabolisme, proses pembungaan,
90 dan pematangan biji atau buah juga sangat
85 +--r-----r---.---.----,-----, dipengaruhi oleh radiasi surya (intensitas dan
360 370 380 390 400 410 420 lama penyinaran), suhu udara dan kelembaban
nisbi serta angin. Kartasapoetra dan Gunarsi
ET (m m)
(1993) menyatakan bahwa radiasi matahari
Gambar 9 Gra fik Hubungan antara Produktivitas dengan merupakan faktor penting dalam metabolisme
Epavotranpirasi (13= 1,13) tanaman yang berklorofil, karena itu produksi
Analisi s regresi hubungan evapotranspirasi tanaman dipengaruhi oleh tersed ianya cahaya
dengan produktivitas belimbing membentuk matahari. Radiasi matahari yang dit an gkap
persa maan regresi linier Y = 0,299 X - 13,93 klorofil pada tanaman yan g mempunyai hijau
den gan koefiseien determinasi R Square (r 2) daun merupakan ener gi dalam pro ses
se besar 0,74 artinya 74% produktivitas fotosintesis. Hasil foto sintesis ini menj adi bahan
belimb ing pad a perlakuan panen air 85% utama dalam pertumbuhan dan pr oduksi
dijelaskan oleh evapotranspirasi, sisanya 15% tanaman. Selain men ingkatkan laju fotosintesis,
dijelaskan oleh faktor lain. Nilai F sebesar 5,56; p peningkatan cahaya mat ahari biasanya
0,81 art inya curah hujan berpengaruh terhadap mempercepat proses pembungaan dan
produktivitas belimbi ng. Dari hasil optimasi pembuahan
dip erol eh nilai ETm sebesar 410, 36 mm dengan Dibanding dengan tan am an buah tr opik lainn ya,
Ymaks se besar 108,89 kg /pohon/panen, belimbing manis mempunyai keun ggulan kar ena
Eva potranspirasi mempengaruhi kadar air dalam dapat berbuah sepanj an g tahun. Arti nya,
tan ah yang diperlukan tanaman untuk proses belimbing bukanlah buah musiman asal kondi si
metabolisme. Meningkatnya evapotranspirasi lingkungannya kondusif, terutam a kete rsediaan
akan meningkatkan proses metabolisme dalam air yang cukup.
tanaman, termasuk pembentukan bunga dan Pada Gambar 10 terlihat bahwa pada kondisi
buah. Evapotranspirasi yang tinggi tanpa cuk up air, dengan perlakuan teknik pan en air
diimbangi ketersediaa n air tanah yang cukup, tanaman belimbing dapat berbuah sepanjang
akan mempengaruhi pe rtumbuhan tanaman yang tahun dengan 4 kali panen dalam seta hun, yaitu
tumbuh di atasnya termasuk jumlah bunga dan pada bulan September, Nopember-Desember,
buah karena akan terjadi defisit air yang tidak Februari -Maret, dan Mei. Kad ar air tanah
mencukupi bagi keb utuhan tanaman (Fitter dan berada pada kisaran 0,429-0,458(m 3/m3) .
Hay, 1998). Selama penelitian tidak terjadi defisit Sebelum buah belimbing dip an en, tanaman sudah
air dan diasumsikan ba hwa ETa sarna dengan mengeluarkan bunga baru.
ETm. Kondisi ini menunjukkan bahwa

Des Jan Feb Mart Ap r l Me i [u n i


I I I I I I I I

Panen I
Panen IV

Gamba r 10 Pola produksi buah belimbing den gan te kni k panen air

Menurut Samson (1992) belimbing manis selalu dari dalam tanaman itu sendiri . Salah sa tu faktor
menghasilkan bunga dengan jumlah yang sangat luar yang menyebabkan gugur bunga dan buah
ban yak, tetapi bunga da n bu ah belimbing mudah antara lain yaitu kekurangan air. Kekeringan
gugur. Berbagai rangsangan yang menyebabkan menyebabkan penurunan laju fotosintesis dan
gugur bunga dan buah, yaitu faktor dari luar dan distribusi asimilat terganggu, yang berdampak

[urn al lriqa si - Vol. 7, No.1, Mei 2012 11


negatif pada pertumbuhan tanaman baik fase Untuk mengetahui perubah an kad a r air tan ah di
vegetatif ma upun fase ge neratif. Pada fase kebun belimbing a kiba t perl akuan teknik pa nen
generatif kekeringan menyeba bka n terjadinya air (sa luran resap an+rorak) dilaku kan simulasi
penurunan produksi tan am an akibat de nga n pem ogram an komp uter dalam ba hasa
terhambatnya pembentukan bunga, pembuahan BASIC men ggunakan fasilitas Visual Basic for
terganggu, gugur buah muda, dan bentuk bu ah Ap plica tios (VBA) pad a MS Excel 2007.
kedI (Odum , 1993). Data ya ng digun akan untuk simulasi yaitu, data
4.6 Model pengelolaan aliran permukaan eurah hu jan , evapo tra nspirasi, dan kedalaman
dalam konsep kesetimbangan air perak aran . Dat a eva potras pirasi yang digunakan
ada lah evapotra snpiras i yang te lah dikoreksi
Model pengelolaan aliran permukaan (Model den gan faktor tan am an. Merrit (2002)
Zoro) dikembangka n berd asarkan konsep menyat ak an bahwa nilai faktor tanaman (ke)
kesetimbangan air ya itu, se tia p perubahan kad ar untuk tanaman buah tropika (topica l fruit tress)
air dari suatu volume ta na h selama periode nilai ke 0.98. Dalam perhitun gan kesetimba nga n
tertentu perbedaannya harus sarna a nta ra jumlah air, kadar air tanah di zona perakaran pada
air yang ditambahkan de nga n jum lah air yang kondisi awal ditentukan berd asa rkan data
keluar dari tanah te rseb ut. Kon disi ini pengukuran lan gsung di lapa nga n dengan
menunjukkan ba hwa perubah an kadar air tanah men ggun akan tensiometer pada kedalaman 30
di dalam zone perakaran sa rna de ngan air yang em dari permukaan tan ah .
masuk dalam hal ini hujan dan gaya kapiler
(capillary rise), diku ran gi se mua kehilangan Tah ap awal dari simul asi adalah melakukan
melalui aliran permukaa n (runoff), perkolasi peng eeekan besar er ro r antara data hasil simulasi
dalam dan evapotranspirasi. Dalam model zorro, deng an hasil pengukuran. Validasi dilakukan
parameter Qr (runoff) tidak diperhitungkan untuk meng etahui nilai ke pereayaan dari hasil
karena dibuat sal uran pe re sapan air yang simulasi. Validasi mo del menggu nakan data
dilengkapi rorak sehi ngga ru noff menjadi tid ak eura h hujan, evapotrans pirasi da n data kadar air
ada (nol) . Penelitia n dilakuka n di lahan kering ta na h pada sa at pen elitia n, yaitu pada periode
pekarangan (tidak dilku kan irigasi) dengan tinggi anta ra tangg al 22 Septemb er 2010 sampai
muka air tanah di atas 16 m sehingga komponen den gan 31 Maret 2011. Nilai kadar air tanah
GW (kontribusi pergeraka n kap iler dari air harian di zone perakaran hasil simulasi dan hasil
bawah tanah) dan I (ir igas i) juga men jadi tidak pen gukuran serta dat a eura h hujan disajikan
ada (nol) . pad a Gambar 11.

_ Hujan
,-,
M
0,60 0 - - KA Model
E 0,50 - - KA Ukur
<,
M
20 - - Fe
,-, - - wp
S 0,40
40 E
..c
'"c 0.30 S
60 ::I:
'"
E- 0.20 u
;2 0.10 80
0,00 100
22-Sep-10 21-Nop-10 20-jan-ll 21 -Mar-ll
Ta ngga l

Gambar 1 1 Simulasi kadar air tanah hasil pengukuran dan mod el

Pada Gambar 11 terl ihat ba hwa polajgrafik kad ar evapotrans pirasi. Sebaliknya pada saat terjadi
air tanah hasil pe ngukura n dan has il simulas i huja n, kad ar air tan ah kern bali meningkat.
relatif sarna yaitu mengikuti po la eurah huj an .
Da ri hasil va lidasi (Gambar 12) diperoleh nilai
Pada periode tidak terjadi hu jan, kadar air tanah
tingkat kep ereaya an (R2) yang relatif tinggi yaitu
menurun seeara berta ha p, disebabkan
se besar 0.83 den gan persamaan Y = 0.938
penyerapan air oleh ta na man dalam bentuk
X = 0.025 da n nila i RSME sebesar 0.001. Nilai R2

12 jurnallrigasi - Vol.7, No.l.Mei 2012


yang relatif tinggi menunjukkan bahwa kinerja dibandingkan dengan nilai kadar air tanah hasil
model relatif valid dalam mensimulasikan kadar simulasi tanpa perlakuan teknik pan en air
air tanah di zona perakaran. Oleh karena itu, dengan memasukkan parameter aliran
model zoro dapat digunakan untuk memprediksi permukaan (Qr]. Nilai aliran permukaan dihitung
perubahan kadar air tanah harian di kebun dengan menggunakan metode SCS.
belimbing dengan teknik panen air (saluran +
Gambar 13 menunjukkan bahwa nilai kadar air
ro ra k).
tanah pada perlakuan panen air (dengan saluran
;:; 0,50
resapan+rorak) maupun tanpa perlakuan pan en
:3 r;;' 0,47 Y= 0,9389x + 0,0 253 air (tanpa saluran resapan+rorak) relatif tinggi
yakni di atas nilai kadar air tanah kapasitas
~
... M
E
.e. 0,44 lapang. Tingginya kadar air tanah tersebut
~ '-J 0,41 disebabkan oleh curah hujan yang relatif tinggi
o:l
::.:: 0,38 selama penelitian. Namun demikian , kadar air
0,35 tanah pada perlakuan panen air lebih tinggi
0,32 +----,----,-----,---,-----.-------, dibandingkan tanpa perlakuan panen air,
0,32 0,35 0,38 0,41 0,44 0,47 0,50 berturut-turut sebesar 0,399-0,458 m 3/m 3 dan
0,352-0,458 m 3/m 3 • Hal ini menunjukkan bahwa
Kadar Air Model (m 3/m3 )
perlakuan panen air (denga n sa luran
Gambar 12 Validasi kadar a ir tanah ha sil pengukuran resapan+rorak) efektif mengendalikan aliran
dan mod el permukaan dan dapat menampung cura h hujan.
Air hujan yang tertampung pada rorak dapat
Untuk mengetahui efektivitas teknik panen air menimbulkan aliran lateral (seepage) dan
dalam mengendalikan aliran permukaan, nilai menunda infiltrasi, sehingga ketersedi aan air
kadar air tanah hasil simulasi model zoro tanah dapat bertahan lebih lama.

o
~ ::::
- p

'11"'1111'" "1'11'1 '" 'I II 10


_ KAModel
_ _ KAUkur
- - Fe
_ _ wp
20
5..c E
E
'"
s:: '-J
<t::
1-
::c
u
;2

12-Dee-10 7-Jan-11

Tanggal

Gamba r 13 Kad ar air ta na h deng an perlakuan pan en air dan ta npa pa nen air

Model zorro ini sangat bermanfaat untuk digunakan untuk mempero leh gamba ran kada r
men entukan langkah se lanjutnya, tindakan air tanah pada berbagai keadaan. Di sa mping itu,
apa kah ya ng perlu dilakukan setelah mengetahui perlu dilakukan penelitian leb ih lanjut untuk
gambaran kadar air tanah disekitar perakaran melihat efektifitas teknik panen air dengan
secara keseluruhan. Namun demikian, model ini saluran resapan+rorak dalam mengendalikan
masih mempunyai be berapa kelemahan dan aliran permukaan pad a kondisi iklim yan g
diperlukan penelitia n leb ih lanjut terutama berbeda.
dalam teknik penguku ra n kadar air tanah di
lapangan. Untuk mengetahui kadar air tanah di V. KESIMPULAN
lapangan , dalam pe nelitian menggunakan
1. Peningkatan curah huj an diikuti oleh
tensiometer yang ditem patkan hanya pada satu
peningkatan produktivitas buah belimb ing.
ked alaman perkaran tanaman. Idealnya
Pola hubungan curah hu jan (x) den gan
tensiometer dipasang pada kedalaman yang
produktivitas buah belimbing (y) me mbentuk
berbeda pada areal tanah yang sarna, ini dapat

j urna l lrigasi - Va!. 7, No.1, Mei 2012 13


persamaa n re gresi linier Y = 0,011 X + 90,07; Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian dan
koefisien de te r minas i R Square (r 2 ) sebesar Pengembangan Tanah dan Agroklimat. Badan
0,85, nilai F 11,3 0; p 0,002. Curah hujan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
berpengaruh terhad ap peningkatan Departemen Pertanian.
produktivitas beli mbing.
Arsyad, S. 2000. Pengawetan Tanah dan Air.
2. Produktivitas beli mbing meningkat dengan Departemen Ilmu-Ilmu Tanah . Fakulta s
meningkatnya eva potra nspirasi, membentuk Pertanian. Institut Pertanian Bogor.
persamaan reg res i linie r Y = 0,299 X-13,93
Balai Penelitian Tanah. 2011. Tekn olog i Panen
dengan koefisien de te r minasi R Square (r 2)
Hujan dan Konservasi Air.
sebesar 74%, nilai se bes ar F 5,56; p 0,14 ,
Evapotranspirasi berpengaruh terhadap Bray, E., 1997. Plant responses to water deficit.
peningkatan pr oduktivitas belimbing. Trends in Plant Sci., 2, 48-54.
Diperoleh nila i ETm sebesar 410.36
Dinas Pertanian Kota Depok. 2007. Laporan
mm/periode pa ne n da n Ymaks sebesar 108,89
Tahunan Dinas Pertanian Kota Depok 200 7.
kg/pohon/panen,
Direktorat Tanaman Buah, Direktorat Bina
3. Curah hujan ya ng re lat if tinggi diik uti tingginya
Produksi. 2004. Standar Prosedu r Oprasional
resapan kadar air ta na h di zo na perkaran
(SPO) Bilimbing. Direktorat Tanaman Buah,
tanaman dengan kisaran 0,429-0,458 m 3/m 3 ,
Direktorat Bina Produksi Horti kultura,
dan tanaman belimbing dapat be rproduksi
Departemen Pertanian .
sepanjang ta hun dengan 4 kali panen dalam
setahun. Ditjen BPPHP Departemen Pert an ian. 2002.
Belimbing. Wahana Inform asi Tekno logi
4. Model zoro da pat digunakan untuk
Pasca Panen dan Pengolahan Hasil Pertanian.
memprediksi kadar air tanah di zona
No. 19. Subdit Teknologi Pen golahan Hasil
perakaran dengan pe rlakuan panen air dilihat
Hortikultura
dari kinerja ya ng sangat baik dan koefisien
derminasi r 2 cukup tinggi mencapai 0.83. Doorenbos, J dan A H. Kassam, 1979, Yield
Respon to Water. FAO Irrig ation and
5. Perlakuan pan en air (salur an resapan yang
Drainage Paper 33. Rome, Italy: 193.
dilengkapi rorak) memberikan pengaruh yang
positif terhada p kete rs ediaan air di zona Fitter, A.H dan R.KM. Hay. 1998. Fisiologi
perakaran ta na ma n belimbing. Kadar air Lingkungan Tanaman. Andayan i, S dan
tanah pada perlakua n panen air dan tanpa Purbayanti, E.D (ed. Terjem ah an). Gadjah
perlakuan panen air be rturut se besar 0.399 - Mada University Press. Yoyakarta. P.142-199
0.458 m 3/m3 dan 0.35 2-0.458 m 3/ m 3 •
Gomez, K. A dan AA Gomez . 1995. Prosedur
Statistik untuk Peneliti an Pertan ian. Edisi
DAFTAR PUSTAKA
Kedua. Universitas Ind on esia.
Abdurachman, A, dan Sutono. 2002.
Guslim, 2007. Agro klimatologi. USU Press.Medan,
Teknologi penge ndalian erosi lahan
berlereng. hIm. 103-145 dalam Jackson, I. J. 1977. Climate,Water, dan Agriculture
Abdurachman, A., Mappaona , dan Arsil in Tropik. Longman. London
Saleh (Eds.) Tekn ologi Pengelolaan Lahan
Kartasapoetra, Ance Gunarsih. 1993. Klimatologi
Kering: Menuju Pertanian Produktif dan
Pengaruh Iklim te rhadap Tanah
Ramah Lingkung an. Pusat Penelitian dan
Pengemba ngan Tana h dan Agroklimat. Merit, W.S. (2002) . The Biophysical Toolbox: A
Bogor. Biophysical Modeling Tool Develoved Within
th e IWARM-DSS. ICAM Working Paper
2001/0 1
Agus, F., E. Surrnaini, dan N. Sutrisno. 200 2.
Noeralam, A. 2002 . Teknik Pemanenan Air
Teknologi hema t air dan irigasi supl em en.
y ang Efektif dalam Pengelo laan Lengas
hIm. 239 - 264 dalam Abdurachman et al.
Tanah Pada Usaha Tani Lahan Kering .
(Eds.). Teknologi Pengelolaan Lahan
Deserta si. Progra m Pasca Sarjana. Institut
Kering. Men uju Pertan ian Produktif dan
Pertanian Bogor .

14 Jurnallrigasi - Vol.?, No.l,Mei 201 2


Noeralam. A, S. Arsyad, dan A. Iswandi. 2003. Samson, j.A. 1992. Averrhoa Carambola . L. Plant
Tekn ik Pengendalian Aliran Permukaan Yang Resources of South-East Asia 1/: Edible Fruits
Efektif Pada Usahatani Lahan Kering and Nuts. Bogor: Prosea Foundtion. p. 96 -98
Berlereng. Effective Technique. of Run Off
Satyawibawa, I., dan Y. E. Widyastuti. 1992. 13
Control on Sloping Upland Farming. jurnal
jenis Belimbing Manis . Penanaman dan Usaha
Tanah dan Lingkungan, Vol. 5 No.I , April
Penangkaran. Penebar Swadaya. jakarta.
2003: 13-16.
Stewart B.A., D.A Woolh iser, W.H. Wischmeier ,
Odum E,P, (1993). Dasar-dasar Ekologi.
L.H. Caro and M.H.Frere. 1976. Control of
jogjakarta. Gadjah Mada University Press.
water pollution from cropland. Vol. 2. An
Oldeman, L. R. 1975. An Agroclimate Map ofJava. overview. U.S. Department of Agriculture,
Central Research Insti tu te for Agricul ture Agricultural Research Service. Beltsville ,
Bogor . Maryland, USA.
Panigrahi B dan S. N. Panda. 2003. Field Test ofa Tala'ohu, S. H., A. Abdurachman, dan H. Suwardjo.
Soil Water Balance Simulation Model. 1992. Pengaruh tera s bangku, teras g ulud,
ELSEVIER. Agricultu ra l Water Management slot mulsa flemingia dan strip rumput
58 (2003) 223-240. terhadap erosi, hasil tanaman dan ketahanan
tanah Tropudult di Sitiung. Him. 79 - 89
Pereira, L.S. and R.G. Allen. 1999. Crop Water
dalam Prosiding Pertemuan Teknis Penelitian
Requirement. In. CIGR Handbook of
Tanah : Bidang Konserva si Tanah dan Air.
Ag ricultural Enginee ring Vol. I Land & Water
Bogor, 22 -24 Agustus 1989. Puslittanak.
Engi neering . Editors : van Lier, H.N., L.S.
Bogor.
Pereira, and F.R.Ste iner.. American Society of
Agricultural Engineering. Chapter 5.

jurnal Irigasi - Vol. 7, No.1, Mei 2 012 15