Anda di halaman 1dari 24

LEMBAGA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN POLRI

SEKOLAH STAF DAN PIMPINAN


`

Topik :
DEMOCRATING POLICING TERHADAP KEBIJAKAN GOOD GOVERNANCE

Judul :
OPTIMALISASI APLIKASI E-PENYIDIKAN PADA DITRESKRIMSUS POLDA JATIM
GUNA MENINGKATKAN KINERJA PENYIDIK
DALAM RANGKA TERWUJUDNYA POLRI YANG PROFESIONAL,
MODERN DAN TERPERCAYA (PROMOTER)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Adanya visi kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian saat ini
dengan semboyannya PROMOTER (profesional, modern dan terpercaya)
sebagai program unggulan bagi organisasi Polri, lahir dari banyaknya gejala
dalam masyarakat yang menunjukkan rendahnya kepercayaan publik terhadap
Polri baik dari segi kinerja maupun kultur. Hal tesebut dikarenakan masih
banyak sorotan masyarakat terhadap lemahnya kinerja anggota Polri, terutama
transparansi dalam proses penegakan hukum.
Masih banyaknya keluhan masyarakat terhadap kinerja penyidik sebagai
pembuktian yang ditujukan kepada insitusi Polri. Seperti halnya terjadi pada
penyidik Ditreskrimsus Polda Jatim, dimana adanya keluhan masyarakat pada
tahun 2016 sebanyak 111 keluhan dan tahun 2017 sebanyak 253 keluhan terkait
permohonan adanya kepastian hukum proses penyidikan perkara yang lambat.
Hal tersebut mengindikasikan adanya lambatnya proses penyidikan, dimana
pada umumnya terjadi dalam bentuk penundaan berlarut-larut.
Meskipun Ditreskrimsus Polda Jatim telah memberdayakan aplikasi e-
penyidikan yang merupakan inovasi dari Bareskrim dalam modernisasi
penyidikan yang dulunya hanya menggunakan tata naskah penyidikan secara
manual, namun penerapannya belum optimal. Masih terdapat penyidik minim
menginput data base perkembangan penyidikan kedalam aplikasi e-penyidikan.
Tentunya hal ini tidak sejalan dengan konsep Democratic Policing yang telah
digaungkan Kapolri, dimana paradigma pemolisian pada era demokrasi harus
mengacu pada orientasi utama penegakan hukum (rule of law) dan
penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM). Melalui aplikasi ini pimpinan

1
2

dan masyarakat dapat mengkontrol dan mengawasi kinerja penyidik dalam


penyidikan, karena sesuai Perkabareskrim nomor 3 tahun 2014 tentang SOP
pelaksanaan penyidikan tindak pidana pasal 3 salah satunya adalah transparan
yaitu proses dan hasil penyidikan terbuka dan dapat dimonitor. Lebih lanjut
dalam pasal 10 disebutkan untuk kepentingan tertib administrasi penyidikan
secara nasional dan kepentingan akses informasi publik penyidik wajib
menginput data administrasi penyidikannya.

B. Pokok Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas maka permasalahan
dalam penulisan NKP ini adalah “Apakah penerapan aplikasi e-penyidikan
pada Ditreskrimsus Polda Jatim dapat meningkatkan kinerja penyidik
sehingga Polri yang Promoter terwujud?”

C. Pokok-Pokok Persoalan
1. Bagaimana kemampuan penerapan aplikasi e-penyidikan pada
Ditreskrimsus Polda Jatim dalam meningkatkan kinerja penyidik?
2. Bagaimana pengelolaan aplikasi e-penyidikan pada Ditreskrimsus Polda
Jatim dalam meningkatkan kinerja penyidik?

D. Ruang Lingkup
Penulisan NKP ini dibatasi pembahasannya pada langkah Ditreskrimsus
Polda Jatim dalam mengoptimalkan e-penyidikan yang dikupas dari aspek
kemampuan penyidik dan pengelolaan aplikasi e-penyidikan guna meningkatkan
kinerja penyidik dalam rangka terwujudnya Promoter.

E. Maksud dan Tujuan


1. Maksud penulisan ini adalah untuk menggambarkan konsep upaya dalam
mengoptimalkan aplikasi e-penyidikan pada Ditreskrimsus Polda Jatim.
2. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan sumbangan pikiran
bersifat konseptual strategi dalam mengoptimalkan aplikasi e-penyidikan
pada Ditreskrimsus Polda Jatim bagi institusi Polri.

F. Metode dan Pendekatan


1. Metode yang diterapkan yaitu metode deskriptif-analisis yaitu
menganalisa dan menggambarkan kondisi faktual serta merumuskan
kondisi ideal hingga merumuskan langkah-langkah pemecahan persoalan.
3

2. Pendekatan dalam penulisan ini yaitu melalui pendekatan empiris,


didasarkan pada pengalaman di lapangan serta literatur yang ada.

G. Tata Urut
Agar terstruktur dan sistematis dalam penulisan ini maka
disusun berdasarkan :
1. BAB I PENDAHULUAN;
2. BAB II LANDASAN PEMIKIRAN;
3. BAB III KONDISI FAKTUAL;
4. BAB IV FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI;
5. BAB V KONDISI IDEAL;
6. BAB VI PEMECAHAN MASALAH;
7. BAB VII PENUTUP.

H. Pengertian-pengertian
1. Optimalisasi.
Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008:1.021) optimalisasi
Berasal dari kata optimal artinya terbaik atau paling menguntungkan. .
2. Aplikasi.
Menurut Ali Zaki dan Smitdev Community (2012) adalah komponen
yang berguna melakukan pengolahan data maupun kegiatan-kegiatan
seperti pembuatan dokumen atau pengolahan data.
3. Penyidikan.
Menurut Perkap No. 14 tahun 2012 tentang manajemen penyidikan
tindak pidana, pasal 1 yaitu serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan
menurut cara yang diatur dalam undang-undang untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang
tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.
4. Kinerja.
Menurut Kamus Bahasa Indonesia (2008:812) adalah sesuatu yang
dicapai; prestasi yang diperlihatkan; atau kemampuan kerja.
5. Penyidik.
Menurut pasal 1, angka 1, Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981
Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana adalah pejabat Polri
atau pejabat PNS tertentu yang diberi kewenangan khusus oleh undang-
undang untuk melakukan penyidikan.
4

BAB II
LANDASAN PEMIKIRAN

A. Teori/ Konsep Identifikasi Pokok Permasalahan dan Persoalan


1. Konsep Perkabareskrim Nomor 3 Tahun 2014 tentang standar
operasional prosedur pelaksanaan penyidikan tindak pidana.
Berdasarkan pasal 3 mengenai prinsip dan asas peraturan ini salah
satunya adalah transparan yaitu proses dan hasil penyidikan di
laksanakan secara terbuka dan dapat dimonitor dengan mudah oleh pihak
yang berkepentingan sehingga masyarakat dapat mengakses informasi
seluas-luasnya dan akurat. Lebih lanjut dalam pasal 10 disebutkan untuk
kepentingan tertib administrasi penyidikan secara nasional dan
kepentingan akses informasi publik maka penyidik wajib menginput data
administrasi penyidikannya.
Kegunaan dasar hukum tersebut di atas adalah sebagai pisau
analisis pokok permasalahan terhadap aplikasi e-penyidikan pada
Ditreskrimsus Polda Jatim.
2. Teori Kemampuan
Robbin (2007:57) menyatakan bahwa kemampuan berarti
kapasitas/ kuantitas seseorang individu untuk melakukan beragam tugas
dalam suatu pekerjaan. Lebih lanjut Robbin menyatakan bahwa
kemampuan (ability) berarti kapasitas/ kuantitas seorang individu untuk
melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan, dimana seluruh
kemampuan seorang individu pada hakekatnya tersusun dari
pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki..
Penggunaan teori tersebut di atas yaitu sebagai pisau analisis
pokok bahasan persoalan pertama yang akan dibahas pada Bab III dan
Bab V pada penulisan NKP ini.
3. Teori pengelolaan
Adisasmita (2011:22) mengemukakan bahwa, pengelolaan bukan
hanya melaksanakan suatu kegiatan, akan tetapi merupakan rangkaian
kegiatan yang meliputi fungsi-fungsi manajemen, seperti perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan secara efektif dan
efisien. Adapun Penggunaan teori tersebut yaitu sebagai pisau analisis

4
5

pokok bahasan persoalan kedua yang akan dibahas pada Bab III dan Bab
V pada penulisan NKP ini.

B. Teori/ Konsep Pengumpulan Data


Adapun teori untuk pengumpulan data, penulis menggunakan teori analisa
SWOT, sebagaimana Freddy Rangkuti (2004:19) menjelaskan bahwa analisa
SWOT merupakan sebuah konsepsi yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi.
Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan
(strength) dan peluang (opportunity), namun secara bersamaan dapat
meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (threats) secara
sistematis. Adapun kegunaan teori tersebut untuk mengidentifikasi dan
menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi di Bab IV pada penulisan NKP ini.

C. Teori/ Konsep Analisis Strategis dan Manajemen Strategis


1. Konsep Analytical Hierarchy Process IFAS, EFAS dan SFAS
Penggunaan Analytical Hierarchy Process (AHP) seagai analisis
strategi pemecahan masalah pada Bab VI. Sesuai materi kuliah AHP oleh
Setyo Riyanto, maka dilakukan IFAS (Internal Startegic Factors Analysis
Summary) dan EFAS (External Startegic Factors Analysis Summary),
masing-masing faktor internal / eksternal dilakukan pembobotan dan
peringkat, kemudian keduanya dikalikan diperoleh skor. Hasil jumlah
keseluruhan faktor-faktor internal dan eksternal selanjutnya dipetakan ke
situasi lingkungan eksternal-internal (position mapping). Dari keseluruhan
faktor internal/eksternal dipilih yang dapat dipengaruhi, selanjutnya
dinamakan faktor strategik kunci. Berikutnya dengan SFAS (Strategic
Factor Analysis Summary) diperoleh jangka waktu strategi yaitu jangka
pendek, jangka menengah dan jangka panjang.
2. Teori Manajemen Strategik
Manajemen strategik menurut Amin Widjaja Tunggal (2009:15)
adalah serangkaian keputusan dan tindakan manajerial yang
menghasilkan formulasi dan implementasi rencana, yang dirancang untuk
mencapai sasaran, dalam jangka waktu teratur. Hubungan penggunaan
teori ini adalah untuk membahas pencapaian strategi yang akan dibahas
pada Bab VI sebagai proses strategik yang melandasi upaya pemecahan
masalah.
6

BAB III
KONDISI FAKTUAL

A. Kondisi Kemampuan Penerapan Aplikasi E-Penyidikan Pada Ditreskrimsus


Polda Jatim dalam Meningkatkan Kinerja Penyidik
Adapun data penanganan perkara oleh penyidik Ditreskrimsus
berdasarkan Crime Total dan Crime Clearance periode tahun 2016 dan 2017
dapat dilhat pada tabel di bawah ini :
Tabel 3.1 Data Crime Total dan Crime Clearance Periode 2016-2017
KESATUAN TAHUN 2016 TAHUN 2017
NO
(SUBDIT) CT CC % CT CC %
1 SUBDIT I INDAGSI 64 32 50 53 26 49
2 SUBDIT II CYBER
68 60 88 51 30 59
CRIME
3 SUBDIT III
82 62 76 89 45 51
TIPIDKOR
4 SUBDIT IV
96 59 61 68 32 47
TIPIDTER
JUMLAH 310 213 69 261 133 51
Sumber : Laporan Tahunan Ditreskrimsus Polda Jatim tahun 2017
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa crime total 2 tahun terakhir
sebanyak 571 kasus dan crime clearance sebanyak 346 kasus, namun terdapat
terdapat 255 sisa kasus dalam proses penyelesaian, dan menjadi beban
pekerjaan pada tahun berikutnya, sehingga hal ini menjadikan adanya
pengaduan masyarakat terhadap kinerja penyidik sebagimana tabel di bawah ini:
Tabel 3.2 Data pengaduan Periode tahun 2016-2017
JML TINDAK DALAM
TAHUN PERSENTASE PERSENTASE
SURAT LANJUT PROSES
2016 111 86 77,5% 25 22,5%
2017 253 126 49,8% 127 50,2%
KENAIKAN 142 40 127,3% 102 72,7%
Sumber : Laporan Tahunan Ditreskrimsus Polda Jatim tahun 2017
Menguraikan data di atas terlihat bahwa sebanyak 111 pengaduan
masyarakat dari 310 total CT pada tahun 2016, serta sebanyak 253 komplain
masyarakat dari 261 total CT pada tahun 2017, dimana terdapat kenaikan
pengaduan masyarakat sebesar 142 terkait permohonan adanya kepastian
hukum proses penyidikan perkara, terlebih dengan minimnya perkembangan
data penyidikan pada aplikasi e-penyidikan yang turut serta menjadikan adanya
pengaduan masyarakat. Hal ini sebagimana gambaran input data penyidikan
sesuai tahapan yang dilakukan penyidik kurang intensif sesuai tabel dibawah ini :

6
7

Tabel 3.3. Penginputan Database E-Penyidikan tahun 2016 - 2017


TAHUN LP DATA KASUS PERSENTASE
2016 119 65 55 %
2017 203 183 90%
322 248 77 %
Sumber : Laporan Evaluasi Tahunan Ditreskrimsus Polda Jatim

Berdasarkan data tersebut di atas, terlihat bahwa laporan polisi yang


terdapat di dalam aplikasi e-penyidikan selama 2 tahun terakhir, baru sebatas
322 LP, dibandingkan data kasus yang diinput sebanyak 248 kasus, hal ini
menandakan selama ini administrasi penyidikan masih dilakukan secara manual,
serta tidak lepas dari belum memdainya kemampuan anggota Ditreskrimsus dari
aspek kuantitas dan kualitas.
1. Kuantitas
Adapun jumlah anggota Ditreskrimsus saat ini sebanyak 126
personil, sedangkan total penyidik sebanyak 45 personil. Dalam hal ini
masing-masing penyidik memiliki tanggung jawab untuk menginput data
kedalam aplikasi e-penyidikan. Sedangkan operator yang memasukkan
data perkembangan kasus ditunjuk penyidik pembantu.
2. Kualitas
Secara kualitas dilihat dari aspek pendidikan dan pelatihan terkait
penggunaan aplikasi e-penyidikan, belum seluruh personil Ditreskrimsus
telah mengikuti Dikjur dan pelatihan dibidang teknologi informasi, bahkan
pada tahun 2017 terdapat 5 personil penyidik melakukan pelanggaran
disiplin berupa absen dalam melaksanakan tugas. Hal ini tentunya
mempengaruhi kompetensi personil dari segi pengetahuan, keterampilan
dan sikap dalam pemanfaatan aplikasi e-penyidikan, terutama dalam
penginputan dan pemutakhiran data dalam administrasi penyidikan.

B. Kondisi pengelolaan aplikasi e-penyidikan pada Ditreskrimsus Polda Jatim


dalam meningkatkan kinerja penyidik
Adanya perubahan sistem laporan penyidikan dari konvensioal ke digital,
kegiatan administrasi lidik sidik secara online e-penyidikan. Maka setiap penyidik
harus siap merespon dengan cepat setiap laporan yang masuk, karena
masyarakat yang berperkara sangat mengharapkan adanya keterbukaan
informasi. Namun terdapat permasalahan yang ditemui terhadap pengelolaan
aplikasi e-penyidikan yaitu :
8

1. Perencanaan
Belum optimalnya input data menjadikan pimpinan maupun
masyarakat sulit memantau perkembangan kasus-kasus dan sulitnya
mencari kembali kasus yang telah bertahun-tahun dilaporkan dikarenakan
harus membuka kembali buku-buku catatan kepolisian, hal ini tidak lepas
dari minimnya kegiatan rapat koordinasi perencanaan penginputan yang
melibatkan seluruh anggota unit terkait, sesuai data berikut ini :
Tabel 3.4 Data Rapat Koordinasi Input Data Penyidikan
PELAKS
NO GIAT RAPAT PESERTA HASIL
2016 2017
1Perencanaan Pimpinan, Penyusunan
3X 2X
Peinginputan penyidik dan Rengiat
2 Perencanaan operator Penyusunan
Realisasi Rencana
2X 1X
pelatihan dan
sosialisasi
Sumber : Ditreskrimsus Polda Jatim
Berdasarkan tabel di atas, terlihat bahwa rapat koordinasi dalam
penentuan perencanaan penginputan, baik rencana kegiatan maupun
pelatihan dan sosialisasi penggunaan aplikasi tersebut sangat minim,
dengan alasan tidak adanya SOP.
2. Pelaksanaan
Adapun penggunaan aplikasi e-penyidikan bertujuan untuk
mengontrol dan mengawasi setiap pekerjaan yang dilakukan oleh
penyidik, sebagaimana instruksi Kabareksrim. Namun penggunaanya
tidak dilaksanakan secara optimal ditandai dengan :
a. Kegiatan pengumpulan dan penginputan data secara online tidak
didukung oleh seluruh anggota.
b. Informasi data sebagai keluaran dari pelaksanaan penanganan
perkara, belum digunakan secara optimal mengingat jaringan atau
aplikasi tersebut mudah overload dan diretas.
c. Opini negatif masyarakat terhadap penyidik berupa kebiasaan
lamanya yang enggan memberikan informasi penyidikan.
3. Pengawasan
Adapun pengawasan dilaksanakan oleh atasan penyidik dengan
didukung masyarakat, namun kegiatan pengawasan belum berjalan
sesuai target sebagaimana tabel dibawah ini :
9

Tabel 3.5. Data Laporan Pengawasan dan Pengendalian tahun 2017


NO KEGIATAN TARGET REALISASI
1 Pengecekan input data 40 3
2 Pengecekan catatan 40 3
3 Supervisi kontrol perkara 40 3
4 Monitoring distribusi informasi 40 2
Berdasarkan data di atas terlihat bahwa realiasi pengawasan dan
pengendalian sangat minim dihitung dalam 1 tahun terakhir, dimana
dalam target satu bulan 40 kali pengawasan (setiap minggu), hal ini
disebabkan :
a. Pimpinan maupun Pawassidik jarang mengontrol aplikasi e-
penyidikan secara langsung melalui komputer maupun
smartphone-nya, sehingga tidak diketahui sejauh mana kinerja
anggotanya.
b. Belum diberdayakannya pengawasan eksternal terhadap kinerja
penyidik, sehingga analisa dan evaluasi maupun gelar perkara
kurang mampu dilaksanakan.
.
C. Implikasi Terhadap Kondisi Faktual
1. Belum optimalnya e-penyidikan pada Ditreskrimsus Polda Jatim
berimplikasi terhadap kinerja penyidik, ditandai dengan terhambatnya
upaya pengungkapan tindak pidana akibat lemahnya kinerja penyidik
dalam menangani suatu perkara sesuai batas waktu yang telah
ditetapkan.
2. Belum optimalnya e-penyidikan pada Ditreskrimsus Polda Jatim
berimplikasi terhadap Polri yang Promoter belum terwujud ditandai
dengan belum terpenuhinya keinginan masyarakat berupa upaya cepat
atas pengaduan dan informasi yang diberikan, karena cara kerja yang
masih konvensional
10

BAB IV
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi baik secara internal dan


eksternal, maka penulis menggunakan teori analisa SWOT (sesuai pandangan Freddy
Rangkuti) meliputi faktor internal yaitu berisikan kekuatan dan kelemahan serta faktor
eksternal berisikan peluang dan ancaman yaitu sebagai berikut :

A. Faktor Internal
1. Kekuatan (Strenght)
a. Komitmen pimpinan untuk konsisten menggunakan aplikasi e-
penyidikan sebagai sarana pengawasan kinerja.
b. Adanya pelaksanaan analisa dan evaluasi maupun gelar perkara
secara berkala.
c. Adanya Pawassidik sebagai Perwira pengawas penyidikan yang
ikut berperan dalam memberikan asistensi dan mengontrol kinerja
penyidik.
d. Adanya pelatihan operator yang diselenggarakan hingga ke Sat
Reskrim Polres jajaran Polda Jatim.
e. Aplikasi dan software e-penyidikan.

2. Kelemahan (Weakness)
a. Belum adanya SOP penginputan data aplikasi e-penyidikan
sebagai pedoman penyidik maupun operator.
b. Kompetensi personil yang minim dalam menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi.
c. Rendahnya tingkat kedisiplinan sebagian anggota Ditreskrimsus
dalam menginput data penyidikan.
d. Dukungan Sarana dan prasarana yang sesuai spesifikasi.
e. Anggaran yang ada hanya untuk mendukung operasional
penyidikan.

10
11

B. Faktor Eksternal
1. Peluang (Oppurtunities)
a. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadi sarana
penyampaian informasi khususnya dalam penyidikan.
b. Era keterbukaan informasi merupakan hak masyarakat untuk
memperoleh informasi dari penyelenggara negara, karena e-
penyidikan mempermudah masyarakat mengetahui perkembangan
kasus.
c. Harapan masyarakat terhadap penegakan hukum yang profesional
dan transparan terhadap Ditreskrimusus Polda Jatim.
d. Adanya pengawasan eksternal terhadap kinerja penyidik
Ditreskrimsus Polda Jatim, baik oleh masyarakat maupun lembaga
independen.
e. Kebijakan pemerintah dalam mewujudkan tatakelola organisasi
yang baik dan bersih.

2. Ancaman (Threats)
a. Masih adanya intervensi dari luar seperti politikus, pengusaha dan
pihak-pihak tertentu terhadap personil Ditreskrimsus Polda Jaim
dalam menangani perkara.
b. Rendahnya pemahaman hukum masyarakat.
c. Persepsi masyarakat terhadap kinerja penyidik belum mampu
mendukung keberadaan aplikasi e-penyidikan.
d. Jaringan aplikasi e-penyidikan mudah overload dan diretas.
e. Masih adanya berita negatif tentang penyidikan di media.
12

BAB V
KONDISI IDEAL

Meningkatnya penyidikan perkara setiap tahunnya, tidak lepas dari penyidikan


secara konvensional dalam arti lambatnya penanganan perkara adalah isu yang dialami
oleh semua organisasi peradilan di seluruh dunia. Hal tersebut dikemukakan oleh Dory
Reiling dalam Technology for Justice : How Information Technology Can Support
Judicial Reform. Reiling mengatakan bahwa ada tiga persoalan yang paling sering
dikeluhkan kepada lembaga peradilan, yaitu lambatnya penanganan perkara (delay),
sulit diakses (access), dan integritas aparatur.
Mengatasi hal tersebut maka standar penyidikan digitalisasi berbasis teknologi
informasi merupakan sarana penunjang penyidikan yang ada di kepolisian. Adanya
aplikasi e-penyidikan menjadi mandatori setiap penyidik agar penyidik, wajib untuk
mengisi data mengenai beban tanggung jawab kinerja yang telah diberikan kepadanya.
sebagaimana Perkap nomor 21 tahun 2011 tentang sistem informasi penyidikan
menjelaskan bahwa informasi penyidikan merupakan salah satu informasi yang dapat
diketahui oleh masyarakat guna mengikuti perkembangan proses penyidikan dan
sebagai fungsi kontrol atas kinerja penyidik, selain informasi yang dikecualikan untuk
dipublikasikan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Lebih lanjut dalam
pasal dua tujuan peraturan ini adalah sebagai pedoman dalam memberikan pelayanan
informasi penyidikan kepada masyarakat secara langsung dan transparan melalui surat,
sarana telekomunikasi berupa website, telepon, SMS, serta media cetak dan elektronik.
Kapolri juga telah mengamanatkan pengadopsian teknologi dalam kerja Polri
dalam kebijakan Promoternya, agar terbangun penyidik yang profesional, modern dan
terpercaya.

A. Kondisi Ideal Kemampuan Penerapan Aplikasi E-Penyidikan Pada


Ditreskrimsus Polda Jatim dalam Meningkatkan Kinerja Penyidik
Keberadaan personil atau anggota Direskrimsus menjadi penentu utama
keberhasilan tercapainya tujuan dalam pelaksanaan tugas, karena personil
merupakan unsur paling penting untuk mewujudkan kemampuannya.
Sebagaimana dijelaskan oleh Stephen P Robbins (2008:56) bahwa kemampuan
adalah kapasitas/ kuantitas dan kualitas seorang individu untuk melakukan
beragam tugas dalam suatu pekerjaan.

12
13

1. Kuantitas
Adanya jumlah anggota Ditreskrimsus yang mencukupi untuk input
data dalam aplikasi e-penyidikan, perlu ditingkatkan kemampuannya
melalui pemberian pelatihan peningkatan kemampuan operator, dan
penyidik agar mampu mensinkronisasi dan mengoperasikan teknologi
informasi dengan baik. Hal ini searah dengan pendapat Mangkuprawira
(2002:35) tentang arti pelatihan sebagai sebuah proses mengajarkan
pengetahuan dan keahlian tertentu serta sikap agar karyawan semakin
terampil dan mampu melaksanakan tanggung jawab dengan semakin
baik, sesuai dengan standar.
Melalui pelaksanaan pelatihan maka diharapkan dapat terwujud
personil Ditreskrimsus yang profesional, modern dan terpercaya, hal ini
tentunya akan berkontribusi terhadap kualitas berupa pengetahuan,
keterampilan dan sikap/ perilaku.
2. Kualitas
Kualitas akan berkaitan erat dengan kompetensi, sebagaimana
Watson Wyatt dalam Ruky (2003:68) menyatakan, kompetensi
merupakan kombinasi dari keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge),
dan perilaku (attitude) yang dapat diamati dan diterapkan secara kritis
untuk suksesnya sebuah organisasi dan prestasi kerja serta kontribusi
pribadi karyawan terhadap organisasinya. Untuk meningkatkan
kompetensi tentunya perlu dilakukan pelatihan-pelatihan agar terwujud
penyidik yang Promoter, sehingga dapat berkontribusi terhadap :
a.. Meningkatnya pengetahuan personil terkait sistem dan prosedur
yang berkaitan dengan penginputan database online sebagai
administrasi penyidikan berbasis aplikasi e-penyidikan.
b. Seluruh personil memiliki keterampilan dalam mengkompulir dan
menyusun data dan dokumen informasi penyidikan ke dalam
database berdasarkan jenis, waktu dan penyidik yang bertanggung
jawab menangani perkara.
c. Memiliki semangat kerja dan dedikasi untuk proaktif menerapkan
teknologi informasi dan komunikasi secara online, khususnya untuk
merubah administrasi penyidikan yang dilakukan secara manual
menjadi berbasis teknologi informasi.
14

B. Kondisi ideal pengelolaan aplikasi e-penyidikan pada Ditreskrimsus Polda


Jatim dalam meningkatkan kinerja penyidik
Keberadaan setiap database dalam aplikasi e-penyidikan tentunya dapat
mempermudah pimpinan dan masyarakat memperoleh dan mencari suatu
informasi data terkait Laporan Polisi, Tindak Pidana, Perkembangan Kasus dan
yang paling penting adalah untuk melakukan analisa dan evaluasi kinerja.
Oleh karena itu perlunya pimpinan mengembangkan pengelolaan aplikasi
e-penyidikan, karena sebagaimana Adisasmita (2011:22) mengemukakan
bahwa, pengelolaan bukan hanya melaksanakan suatu kegiatan, akan tetapi
merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi fungsi-fungsi manajemen, seperti
perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan secara
efektif dan efisien.
1. Perencanaan
Perencanaan menurut penulis merupakan suatu proses yang
meliputi upaya yang dijalankan guna mengantisipasi adanya
kecenderungan di masa mendatang dan penentuan sebuah langkah/
taktik yang tepat untuk merealisasikan target dari penyidikan. Oleh karena
itu dalam perencanaan penerapan e-penyidikan dapat dirumuskan melalui
kegiatan rapat koordinasi yang sudah terencana dengan baik melalui
penetapan SOP, baik berupa tujuan, sasaran dan pelibatan anggota
dalam input database, pelatihan dan sosialisasi.
2. Pelaksanaan
Untuk mendukung kelengkapan informasi database pada aplikasi
e-penyidikan, faktor penginputan data adalah mutlak dan wajib dilakukan
secara berkelanjutan. Mengingat keberadaan database dalam aplikasi ini
segala perihal mengenai urusan penyidikan dapat dimonitor dan
pencarian informasi dapat dilaksanakan dengan cepat, sehingga dapat
meningkatkan kinerja penyidik.
The Liang Giese (1997:191) menyatakan bahwa pelaksanaan
sebagai usaha-usaha yang dijalankan untuk melaksanakan semua
rencana dan kebijaksanaan yang telah dirumuskan dan ditetapkan. Oleh
karena itu diharapkan pelaksanaan penginputan dapat dilaksanakan
sesuai rencana melalui :
15

a. Adanya SOP kegiatan pengumpulan dan pendataan yang dapat


diaksanakan secara konsisten, terarah dan terpadu oleh seluruh
anggota.
b. Adanya fitur keamanan agar tidak mudah dihacker bagi
kepentingan pemutakhiran data yang harus dilaksanakan sesuai
kondisi riil kejadian perkara.
c. Penguatan keterbukaan informasi untuk meredam opini negatif dari
masyarakat terhadap pelaksanaan penyidikan.
3. Pengawasan
Mathis dan Jackson (2006:33) menjelaskan bahwa pengawasan
merupakan cara untuk memantau kinerja agar tercapai tujuan organisasi.
Maka pengawasan terhadap pengelolaan aplikasi e-penyidikan adalah
untuk mengukur dan mengkoreksi aktivitas-aktivitas yang telah dilakukan
antara lain :
a. Adanya peran para pimpinan yang dominan untuk mengontrol dan
mengecek input data laporan polisi, Surat Pemberitahuan
Dilakukan Penyidikan (SPDP), serta Surat Perintah Penyidikan
(SPRINDIK) yang dilaksanakan secara intensif dan proporsional,
melalui sarana komputer maupun smartphone yang dimilikinya,
sehingga dapat diketahui kinerja penyidik yang aktif maupun pasif
agar dapat mengarahkan kerjasama tim.
b. Adanya pelibatan pengawas eksternal untuk melakukan penilaian
kinerja penyidik, sehingga mampu menelaah dan memberikan
masukan kepada penyidik.

C. Kontribusi terhadap Kondisi Ideal


1. Optimalnya e-penyidikan pada Ditreskrimsus Polda Jatim berkontribusi
terhadap peningkatan kinerja penyidik, ditandai dengan adanya acuan
kecepatan/ target waktu untuk menangani perkara, serta sehingga dapat
memacu peningkatan prestasinya.
2. Optimalnya e-penyidikan pada Ditreskrimsus Polda Jatim berkontribusi
terhadap Polri yang Promoter terwujud ditandai dengan masyarakat
memiliki penilaian positif terhadap kinerja penyidik yang percaya atas
kinerjanya menangani perkara.
16

BAB VI
PEMECAHAN MASALAH

A. Analisis Faktor-Faktor Strategis


Untuk menentukan upaya pemecahan masalah maka penulis mengawali
dengan analisis faktor-faktor strategis melalui analisis EFAS-IFAS, untuk
mengetahui posisi organisasi.
1. Analisis EFAS (Eksternal Factor Analysis Summary)
Tabel 6.1 EFAS
No FAKTOR EKSTERNAL WEIGHT RATING SCORE
PELUANG
1 Perkembangan IT 0,098 6 0,59
2 Keterbukaan info 0,105 8 0,84
3 Harapan Masyarakat 0,107 7 0,75
4 Was eksternal 0,0084 7 0,59
5 Kebijakan pemerintah 0,106 6 0,64
Jumlah 0,50 3,40
ANCAMAN
1 Intervensi dr Luar 0,040 4 0,16
2 Pemahaman Hkm masy 0,074 3 0,22
3 Persepsi masy 0,098 2 0,20
4 Jaringan mudah diretas 0,162 2 0,32
5 Berita negatif 0,101 1 0,10
Jumlah 0,50 1,00
Total Skor 1,00 4,40

2. Analisis IFAS (Internal Factor Analysis Summary)


Tabel 6.2 IFAS
No FAKTOR EKSTERNAL WEIGHT RATING SCORE
KEKUATAN
1 Komitmen Pimpinan 0,104 8 0,83
2 Anev & Gelar berkala 0,099 8 0,79
3 Wassidik 0,087 7 0,61
4 Pelatihan operator 0,091 8 0,72
5 Aplikasi dan software 0,120 6 0,72
Jumlah 0,50 3,67
KELEMAHAN
1 Tidak adanya SOP 0,103 3 0,31
2 Kompetensi Pers 0,134 2 0,27
3 Tingkat kedisiplinan 0,092 3 0,28
4 Sarpras 0,079 4 0,32
5 Duk Gar 0,092 3 0,18
Jumlah 0,50 1,35
Total Skor 1,00 5,02

16
17

3. Posisi Organisasi
Gambar 6.1 Matrik Posisi Organisasi

B. Manajemen Strategik (Translation Process)


Proses manajemen strategik sebagai translation process, yang akan
diformulasikan kedalam pemecahan masalah, maka perlu menetapkan visi, misi,
tujuan, sasaran, strategi dan kebijakan.
1. Visi
Terlaksananya aplikasi e-penyidikan pada Ditreskrimsus Polda Jatim
untuk meningkatkan kinerja penyidik sehingga Polri yang Promoter tercapai.
2. Misi
a. Mewujudkan kemampuan penerapan aplikasi e-penyidikan pada
Ditreskrimsus Polda Jatim dalam meningkatkan kinerja penyidik.
b. Mengembangkan aplikasi e-penyidikan pada Ditreskrimsus Polda
Jatim dalam meningkatkan kinerja penyidik.
3. Tujuan
Guna tercapainya visi dan misi tersebut di atas, maka sebagai tujuan
yang akan dicapai yaitu sebagai berikut :
a. Tercapainya kemampuan penerapan aplikasi e-penyidikan pada
Ditreskrimsus Polda Jatim dalam meningkatkan kinerja penyidik.
b. Tercapainya pengembangan aplikasi e-penyidikan pada Ditreskrimsus
Polda Jatim dalam meningkatkan kinerja penyidik.
4. Sasaran
Untuk merumuskan sasaran perlu dianalisis melalui Strategic
Factor Analysis Summary (SFAS), agar dapat diketahui sasaran sesuai
jangka waktu.
18

Tabel 6.3 SFAS


FAKTOR STRATEGIK DURASI
No WEIGHT RATING SCORE
KUNCI JPD JMN JPJ
1 Berita negatif 0,04 1 0,04
2 Kompetensi Pers 0,05 2 0,10
3 Jaringan mudah diretas 0,08 2 0,15
4 Komitmen Pimpinan 0,17 8 1,35
5 Tidak adanya SOP 0,14 8 1,12
6 Keterbukaan info 0,07 8 0,57
7 Anev & Gelar secara berkala 0,14 8 1,14
8 Persepsi masy 0,07 2 0,14
9 Harapan Masyarakat 0,12 7 0,84
10 Was eksternal 0,12 7 0,86
Jumlah 1,00 6,30
Sesuai rumusan sasaran hasil penghitungan melalui analisis SFAS
tersebut di atas, maka dapat diketahui sasaran jangka waktu yaitu sebagai
berikut
a. Sasaran jangka pendek.
1) Mencegah berita negatif;
2) Meningkatkan kompetensi personil;
3) Meningkatkan keamanan jaringan;
4) Menumbuhkan persepsi positif masyarakat.
b. Sasaran jangka menengah.
1) Meningkatkan keterbukaan informasi;
2) Mewujudkan harapan masyarakat;
3) Meningkatkan pengawasan eksternal.
c. Sasaran jangka panjang.
1) Mengimplementasikan komitmen pimpinan;
2) Membuat SOP;
3) Meningkatkan gelar Anev kinerja secara berkala.

5. Strategi
Perumusan strategi diawali dengan menentukan posisi organisasi,
kemudian diformulasikan dengan Matriks TOWS (Terlampir), meliputi:
a. Strategi jangka pendek. (0 - 3 bulan).
1) Manajemen media terhadap kinerja penyidik dan proses
penyidikan.;
19

2) Pembinaan kemampuan SDM Ditreskrimsus Polda Jatim


untuk meningkatkan kompetensi dalam penggunaan e-
penyidikan;
3) Pemberdayaan pakar IT dalam rangka meningkatkan
keamanan jaringan;
4) Peningkatan kinerja penyidik guna menumbuhkan persepsi
positif masyarakat.
b. Strategi jangka menengah. (0 - 6 bulan).
1) Peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam setiap
penyidikan berbasis aplikasi e-penyidikan guna
meningkatkan keterbukaan informasi;
2) Pembinaan integritas penyidik dalam rangka mewujudkan
harapan masyarakat terhadap penegakan hukum yang
profesional;
3) Kerjasama dengan berbagai pihak guna mendukung
pengawasan eksternal.
c Strategi jangka panjang. (0 - 12 bulan).
1) Peningkatan penggunaan aplikasi e-penyidikan oleh seluruh
anggota Ditreskrimsus Polda Jatim dalam rangka
mengimplementasikan komitmen pimpinan;
2) Pemberdayaan unsur pimpinan dan satker lain untuk
membuat SOP;
3) Pemberdayaan peran Wassidik untuk melakukan gelar Anev
kinerja secara berkala.
6. Kebijakan
Meningkatkan kinerja penyidik dan kepercayaan masyarakat
terhadap Ditreskrimsus Polda Jatim melalui aplikasi e-penyidikan yang
mudah diakses.
7 Implementasi Strategi (Action Plan)
a. Strategi jangka pendek. (0 - 3 bulan).
1) Manajemen media terhadap kinerja penyidik dan proses
penyidikan.
a) Program : Pencegahan opini negatif masyarakat di
media.
20

b) Indikator : Terlaksananya kontrol opini masyarakat.


c) Kegiatan :
(1) Membuat mekanisme pengaduan masyarakat
terkait pelaksanaan penyidikan.
(2) Membentuk tim media sosial guna membentuk
opini dan sosialisasi aplikasi e-penyidikan
melalui media sosial.

2) Pembinaan kemampuan SDM Ditreskrimsus Polda Jatim


untuk meningkatkan kompetensi penggunaan aplikasi e-
penyidikan.
a) Program : Penguatan kompetensi personil dalam
penggunaan aplikasi e-penyidikan.
b) Indikator : Meningkatnya pengetahuan dan
keterampilan anggota.
c) Kegiatan :
(1) Menggelar pelatihan teknis dan pelatihan
peningkatan kemampuan sebagai operator dan
penyidik yang berbasis teknologi informasi.
(2) Membuat buku petunjuk teknis (manual book)
dan mewajibkan setiap anggota untuk
menggunakan aplikasi e-penyidikan.

3) Pemberdayaan pakar IT dalam rangka meningkatkan


keamanan jaringan.
a) Program : Peningkatan keamanan jaringan.
b) Indikator : Terjaminnya keamanan aplikasi e-
penyidikan.
c) Kegiatan :
(1) Menjalin kerjasama dengan pakar IT untuk
meningkatkan keamanan jaringan.
(2) Berkoordinasi dalam rangka memperbaharui
sistem yang ada di aplikasi e-penyidikan.

4) Peningkatan kinerja penyidik guna menumbuhkan persepsi


positif masyarakat.
21

a) Program : Penguatan kinerja penyidik.


b) Indikator : Meningkatnya dukungan dan kepercayaan
publik terhadap penyidik.
c) Kegiatan :
(1) Membuat target waktu dalam proses
penanganan perkara, serta melakukan input
data perkembangan penanganan perkara
secara berkala.
(2) Menyelenggarakan kegiatan operasional
penyidikan yang efektif dan efisien, serta
menetapkan skala prioritas penyidikan dan
melakukan Anev mingguan untuk melihat
sejauh mana perkembangan hasil penyidikan
setiap minggunya.

b. Strategi jangka menengah. (0 - 6 bulan).


1) Peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam setiap
penyidikan berbasis aplikasi e-penyidikan guna
meningkatkan keterbukaan informasi.
a) Program : Transparansi & keterbukaan informasi
penyidikan.
b) Indikator : Terciptanya transparansi dalam proses
penyidikan.
c) Kegiatan :
1) Menyusun rencana penyidikan, dan
memasukkan perkembangan perkara melalui
e-penyidikan hingga berkas dinyatakan
lengkap oleh JPU (P-21).
2) Melibatkan media dan LSM dalam penanganan
perkara dan menyediakan sarana khusus
masyarakat agar dapat mengetahui
perkembangan perkara secara real-time.
22

2) Pembinaan integritas penyidik dalam rangka mewujudkan


harapan masyarakat terhadap penegakan hukum yang
profesional.
a) Program : Penguatan integritas penyidik dalam
penegakan hukum yang profesional.
b) Indikator : Terpenuhinya ekspektasi masyarakat
terhadap penanganan perkara berbasis teknologi
informasi.
c) Kegiatan :
(1) Membuat pakta integritas sebagai perwujudan
tanggung jawab dan komitmen dalam
menangani perkara.
(2) Melakukan pembinaan mental dan rohani,
disertai penerapan reward and punishment.

3) Kerjasama dengan berbagai pihak guna mendukung


pengawasan eksternal.
a) Program : Penguatan pengawasan penyidikan oleh
pihak eksternal.
b) Indikator : Terselenggaranya pengawasan terhadap
kinerja penyidik.
c) Kegiatan :
(1) Kerjasama dengan media massa, LSM dan
masyarakat untuk membuka akses dan
partisipasi melakukan pengawasan terhadap
perkembangan kinerja penyidik.
(2) Menyediakan layanan pengaduan masyarakat
melalui SMS, Website, atau media sosial.

c. Strategi jangka panjang. (0 - 12 bulan).


1) Peningkatan penggunaan aplikasi e-penyidikan oleh seluruh
anggota Ditreskrimsus Polda Jatim dalam rangka
mengimplementasikan komitmen pimpinan.
a) Program : Akselerasi penggunaan aplikasi
e-penyidikan.
23

b) Indikator : Terlaksananya komitmen pimpinan.


c) Kegiatan :
(1) Memberikan petunjuk dan arahan dalam setiap
apel dan Anev mingguan terkait penggunaan
dan perkembangan e-penyidikan.
(2) Menganalisa peningkatan kuantitas informasi
yang masuk melalui traffic data yang terekam
dalam sistem e-penyidikan.

2) Pemberdayaan unsur pimpinan dan satker lain untuk


membuat SOP.
a) Program : Penyusunan SOP aplikasi e-penyidikan yang
mudah dipahami dan dilaksanakan.
b) Indikator : Tersusunnya SOP e-penyidikan.
c) Kegiatan :
(1) Membentuk kelompok kerja (Pokja)
penyusunan SOP aplikasi e-penyidikan yang
terdiri dari para perwira Ditreskrimsus, penyidik
senior, dan perwakilan Bidkum,Propam serta
Itwasda.
(2) Sosialisasi SOP kepada seluruh anggota
Ditreskrimsus dan para penyidik.

3) Pemberdayaan peran Wassidik untuk melakukan gelar Anev


kinerja secara berkala.
a) Program : Penguatan peran Wassidik.
b) Indikator : Terselenggaranya proses penyidikan yang
professional, modern dan terpercaya.
c) Kegiatan :
(1) Asistensi dan Anev penanganan perkara untuk
mengetahui perkembangan kasus serta
hambatan/ kesulitan yang dihadapi penyidik.
(2) Memberikan arahan, serta menyusun matriks
kontrol penanganan perkara dan anev
penanganan kasus tunggakan.
24

BAB VII
PENUTUP

A. Simpulan
Dari pembahasan permasalahan dan pokok-pokok persoalan di atas,
maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan yaitu sebagai berikut :
1. Kemampuan penerapan aplikasi e-penyidikan pada Ditreskrimsus Polda
Jatim dalam meningkatkan kinerja penyidik, sejauh ini belum optimal, hal
ini terlihat dari aspek kualitas SDM Ditreskrimsus yang belum memadai.
Maka sebagai upaya yang dilakukan yaitu penguatan kompetensi
personil, penguatan kinerja dan integritas penyidik, serta akselerasi
penggunaan aplikasi e-penyidikan.
2. Pengelolaan aplikasi e-penyidikan pada Ditreskrimsus Polda Jatim dalam
meningkatkan kinerja penyidik saat ini belum efektif terlaksana, terlihat
dari tidak adanya SOP, kegiatan pengumpulan dan input data secara
online tidak didukung oleh seluruh anggota, serta pengawasan internal
maupun eksternal yang kurang berjalan. Maka sebagai upaya yang
dilakukan yaitu penyusunan SOP aplikasi e-penyidikan, penguatan
keterbukaan informasi penyidikan, peningkatan keamanan jaringan,
pencegahan opini negatif melalui manajemen media, pemberdayaan
unsur pimpinan, serta penguatan pengawasan penyidikan oleh wassidik
dan pihak eksternal.

B. Rekomendasi
1. Mengajukan usulan kepada Kapolda Up. Itwasda, Kabidkum, Kabid
Propam, agar membentuk pokja penyusunan SOP penggunaan aplikasi
e-penyidikan sebagai standarisasi bagi seluruh jajaran.
2. Mengajukan usulan kepada Kapolda Up Kabid TI untuk melakukan
peningkatan keamanan jaringan serta pelatihan anggota Ditreskrimsus
berkaitan dengan aplikasi e-penyidikan untuk meningkatkan kemampuan.
3. Mengajukan usulan kepada Kapolda Up Kabid Humas untuk melakukan
manajemen media sebagai sarana mencegah opini negatif terkait proses
penyidikan.

24

Anda mungkin juga menyukai