Anda di halaman 1dari 199

PENERAPAN MODEL GUIDED INQUIRY TERHADAP HASIL

BELAJAR FISIKA SISWA SMP PADA KONSEP TEKANAN.


(Kuasi Eksperimen di SMP Paramarta Unggulan – Tangerang Selatan)

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai
Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh

RIA SETYO RINI


107016301978

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015
KEMENTERIAN AGAMA Lle qq,ra;r FITK FR -AKD-OOS
- --_f fvlarer ZOrO - -- l
i

.n'.-i,r'.>,
Li'j, r
.
l'. FORM ,/ LrsL =41L - -:
! No. Revisr: oi---- -_---l
q"i$fl {
L ,,_ *.:J.,,
Jl. lr H JuandaNo95Ciputal 1541?-lndofiesta
__ LHut _-_ _ _: -.--.----" - ]
I
S{JRAT PERNYATAAN KA RYA SEI\DIRI I

Saya yang berlanda tangatt cli hawah irri,

Nanra : Ria Sctyo Rini

Tcrlpat, Tanggal i-ahir : .lakarta, 08 Dcsernbcr lc)88

NIM :107016i01978
Jurusan i Prodi : Pendidikan IPA / Fisika
.ludul Skripsi : PENCARIJIJ MODEL ("ittlDED INQ(tlRY
TERHADAP I'IASII, I]EI,A.IAR FISIKA SISWA
SMP PADA KONSEP ]'L,KANAN
Doscn Pcrlbirnbing : l. Dr, Sqi.1,o Milanto, M,Pcl

2, Diah Mulhayatialr, S.Si, M.Pd

Dengan irii rnenyatakan bahwa skripsi yang saya br-rat hrcnar-hcnar hasil kar"r-a

scncliri dan saya [rerlanggung"jawab sccara akademis atas apa yang saya tulis,
Pernyataan ini dihuat sebagai salah satu syarat Wisutla.

Jakarta. 26 .luni 201 1


Mahasiswa Ybs.

&ia-Lq1ye Bll
NIM. r07016301978
LEMBAR PENGESAHAN
SKRIPSI

PEI\TERAPAI\ MODEL GUIDED INQAIRY SEBAGAI UPAYA


MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS
SISWA

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK)


Universitas Islam Negeri ruf$ Syarif Hidayatullah Jakarta untuk memenuhi
salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan

Oleh:
RIA SETYO RIIYI
NIM: 107016301978

Dibawah bimbingan:

Pembimbing II

Diah Mulhayatiah. S.Si. M.Pd


NIP: 19682118 200303 1 004 Itl-IP: 19790309 200801 2 016
I,EM BAIT PIiNCIISA T I AN
PANITIAN MUNAQASAII

Skripsi yang berjudul "PENGARtIH N,{ODlil, Gt,tlDIiD INQ(itRl'


TERI.IADAP TIASII, BEI,A.}AR FISIKA SISWA SN,tP I'AI)Z\
KONSEP TEK/tNAN" clisusun oloh Ria Sctyo ttini. NIM 10701(r30197,3.
dialukarr kepada Fakultas Ilnru 'Tarbiyah dan Ki:guluan LJIN Syarif'
I-lidayatullah Jal<ar1a dinyatakan t,tj LLJS pada u.jian Mr-rnaqasah tanggal 26
.lurri 2014 drhadapan l)evvan Pcnguji, I(arcna itu, pcnulis hcrhak
ttrctttpcroleh gclar Sarjarra Penclidrkarr (S.Pcl) pacia hiriarrg Pcnrlirlrl<alr

Jakarta,26 Juni 2014

Panitia Ujian Munaqasah


Tanggal Tanda Tangan

Ketua Sidang/Kaprodi Pend.Fisika


Iwan Pennana Suwarna, M.Pd
NiP. 19780504 200901 I 013

Irenguji I
Irvan Permana Suwama, M.Pd

at f
NIP. 19780504 200901 I 013
26 fi^na't

Penguji Il
Hasian Pohan, M.Si
MP. 195207A1 879030 1 009

Mengetahui,
Dekan Fakultas flmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Strarif Hidayatul lah Jakarra

NrP. r989r02* I986CIt 2 0rlr


ABSTRAK

Ria Setyo Rini (107016301978). “Pengaruh Model Guided Inquiry Terhadap


Hasil Belajar Fisika Siswa SMP Pada Konsep Tekanan.” Skripsi, Program
Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hasil belajar fisika siswa SMP
dengan menggunakan model guided inquiry pada materi tekanan. Penelitian ini
dilaksanakan di SMP Paramarta Unggulan – Tangerang Selatan pada tahun
pelajaran 2013/2014. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen.
Siswa kelas VIII-U1 sebagai kelompok eksperimen yang menggunakan model
pembelajaran guided inquiry dan siswa kelas VIII-U4 sebagai kelompok kontrol
yang menggunakan model pembelajaran konvensional (model direct instruction).
Instrumen penelitian yang digunakan yaitu terdiri dari instrumen tes dalam bentuk
uraian untuk mengetahui penguasaan hasil belajar fisika siswa. Data instrumen tes
dianalisis menggunakan analisis statistik yaitu uji-t. Berdasarkan hasil
perhitungan menggunakan uji-t pada taraf signifikasi (α) = 0,05 didapatkan thitung ≥
ttabel yaitu 4,333 ≥ 2,01, sehingga hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif
(Ha) diterima, hal tersebut terlihat dari nilai posttest kelompok eksperimen 88,00.
Maka dapat disimpulkan terdapat peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa
dengan menggunakan model pembelajaran guided inquiry pada konsep tekanan.

Kata kunci : Guided Inquiry, hasil belajar fisika siswa, konsep tekanan.

i
ABSTRAK

Ria Setyo Rini (107016301978). “The Effects of Guided Inquiry Model Of


Physics Students Learning Outcomes At the Junior high pressure concept.”
Thesis, Physics Education Study Program, Departement of Natural Science
Education, Faculty of Tarbiyah and Teaching Science, State Islamic University of
Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.

This study aims to determine the effect of student learning outcomes junior
physics using guided inquiry model of material pressure. This study was
conducted in SMP Paramarta Featured - South Tangerang in the school year
2013/2014 . The research method used was quasi-experimental. Students of class
VIII - U1 as the experimental group using guided inquiry learning model and
students of class VIII - U4 as a control group using conventional learning models
(models of direct instruction). The research instrument used is composed of test
instruments in the form of descriptions to know the physics student learning
outcomes. Data were analyzed using analysis of test instruments , namely
statistical ttest. Based on calculations using t-test at the significance level ( α ) =
0.05 is obtained tcount ≥ ttable is 4,333 ≥ 2.01 , so the null hypothesis ( H0 ) is
rejected and the alternative hypothesis ( Ha ) is accepted , it is visible from the
posttest score group 88.00 experimentation. So we can conclude there are
significant physics students learning outcomes using guided inquiry learning
model on the concept of pressure.

Keywords : Guided Inquiry, physics student learning outcomes, the concept of


pressure.

ii
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, hamba mengucap syukur atas rahmat dan
hidayah yang telah Engkau berika. Alhamdulillah, karena atas ridho-Nya peneliti
dapat menyelesaikan skripsi ini engan baik. Shalawat dan salam senantiasa
dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.
Selesainya skripsi ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dukungan, do’a
dan partisipasi dari berbagai pihak. Peneliti ucapkan terima kasih yang sebesar-
besarnya kepada:
1. Ibu Dr. Nurlaela Rifa’i, MA, Phd selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan (FITK)
2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Sc Ketua Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan.
3. Bapak Iwan Permana Suwarna, M.Pd Ketua Prodi Pendidikan Fisika Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.
4. Bapak Dr. Sujiyo Miranto, M.Pd selaku pembimbing I dan Ibu Diah
Mulhayatiah, S.Si, M.Pd selaku pembimbing II yang telah meluangkan waktu
dan mencurahkan pikirannya untuk memberikan arahan, bimbingan, motivasi,
dan sabar dalam membimbing sehingga terselesaikannya skripsi ini.
5. Bapak/Ibu Dosen dan Staff di UIN Syarif Hidayatullah di Jurusan IPA yang
telah memberikan bantuan dan dukungannya.
6. Bapak Drs. Kusman selaku Kepala SMP Paramarta Unggulan_Tangerang
Selatan.
7. Ibu Tria, S.Pd selaku guru bidang studi. Atas bantuan, kebijakan dan sarannya
sehingga penelitian dapat dilakukan dengan baik.
8. Keluarga besar SMP Paramarta Unggulan yang telah banyak membantu dan
member dukungan.
9. Teruntuk kedua orang tua tercinta Ayahanda Kardiman dan Ibunda Karmi
yang selalu mencurahkan cinta, kasih saying, dan mengajari peneliti untuk

iii
selalu istiqomah di jalan-Nya. Hanya Allah SWT yang dapat membalas
semuanya.
10. Kakak, Adik, dan Keponakan tercinta Renny Purwaningsih, Muchlis,
Wulandari S Atmawijaya, Macica Anggraini, Dahlia Nur Triyani.
11. Sahabat-sahabat seperjuangan dibangku kuliah Jurusan Pendidikan IPA Prodi
Pendidikan Fisika 2007 Sutrisni, Abdul Muis, Ahmad Nazaruddin yang selalu
memberikan semangat, bantuan dan motivasi yang luar biasa. Teman-teman
seperjuangan yang tidak bias peneliti sebutkan satu-persatu namun tidak
mengurangi rasa persaudaraan kita. Semoga kita semua dapat menggapai
kesuksesan.
12. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.
Semoga Allah SWT memberikan balasan kepada semua pihak yang telah
membantu terselesainya skripsi ini. Semoga semua kebaikannya dijadikan
amal shaleh dan senantiasa diberikan kemuliaan, Aamiin.

Akhir kata peneliti mohon maaf atas segala kekurangan dan


ketidaksempurnaan tulisan ini. Semoga karya kecil ini bermanfaat bagi peneliti
khususnya dan pembaca umumnya.
Alhamdulillahirobbil ‘Alamiin

Jakarta, 26 Mei 2014


Peneliti

Ria Setyo Rini

iv
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
ABSTRAK ....................................................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................... iii
DAFTAR ISI .................................................................................................... v
DAFTAR TABEL ............................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. ix

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ............................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ...................................................................... 4
C. Pembatasan Masalah ..................................................................... 5
D. Perumusan Masalah ...................................................................... 5
E. Tujuan Penelitian .......................................................................... 5
F. Manfaat Penelitian ........................................................................ 6

BAB II DESKRIPSI TEORITIS, KERANGKA BERFIKIR, DAN


HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritis ........................................................................ 7
1. Model Pembelajaran Berbasis Inquiry .…………………………. 7
a. Jenis-jenis Model Inquiry .......................................................... 12
2. Model Pembelajaran Inkuiri terbimbing (guided inquiry) ……… 16
a. Pengertian Model Pembelajaran Guided Inquiry .…………….. 16
b. Tahap Pembelajaran Model Guided Inquiry .…………………. 17
3. Makna Belajar dan Hasil Belajar .................................................. 19
B. Kerangka Berpikir ...................................................................... 27
C. Hasil Penelitian yang Relevan ..................................................... 29

v
D. Tinjauan Konsep Tekanan ……………………………………... 33
E. Perumusan Hipotesis ..................................................................... 33

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Waktu dan Tempat Penelitian ......................................................... 34
B. Metode Penelitian ........................................................................... 34
C. Desain Penelitian.............................................................................. 34
D. Variabel Penelitian ………………………………………………... 35
E. Populasi dan sampel ......................................................................... 35
F. Teknik Pengumpulan Data .............................................................. 36
G. Prosedur Penelitian ......................................................................... 36
H. Instrumen Penelitian ....................................................................... 39
1. Instrumen Tes................................................................................... 38
a. Uji Validitas .................................................................................. 38
b. Reliabilitas ..................................................................................... 40
c. Taraf Kesukaran ........................................................................... 41
d. Daya Pembeda .............................................................................. 42
I. Teknik Analisis Data........................................................................ 44
1. Teknik Analisis Data Instrumen Tes................................................ 44
J. Hipotesis Statistik ............................................................................ 46

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian................................................................................ 47
1. Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol ......................... 47
2. Hasil Posttest Kelompok Eksperimen dan Kontrol ........................ 48
3. Rekapitulaisi Data Pretest dan Posttest Kelompok Eksperimen
dan Kontrol ..................................................................................... 48
4. Analisis Data Tes ………………………………………………… 50
a. Hasil Uji Prasyarat Analisis Hasil Belajar ................................... 50
1) Uji Normalitas ............................................................................ 50
2) Uji Homogenitas ........................................................................ 51

vi
b. Hasil Pengujian Hipotesis ............................................................. 52
5. Pembahasan ……………………………………………………… 53

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ……………………………………………………… 55
B. Saran …………………………………………………………….. 55

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 57

vii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Desain Penelitian ................................................................................. 35


Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen .............................................................................. 39
Tabel 3.3 Kriteria Reliabilitas .............................................................................. 40
Tabel 3.4 Kriteria Derajat (Taraf) Kesukaran) .................................................... 41
Tabel 3.5 Hasil Analisis Taraf Kesukaran Butir Soal .......................................... 42
Tabel 3.6 Kategori Daya Pembeda ...................................................................... 43
Tabel 3.7 Hasil Analisis Daya Pembeda Butir Soal ............................................ 43
Tabel 4.1 Pemusatan dan Penyebaran Data Pretest Kelompok
A dan B ……………………………………………………………... 47
Tabel 4.2 Pemusatan dan Penyebaran Data Posttest Kelompok A dan B ........... 48
Tabel 4.3 Tabel Rekapitulasi Data Hasil Pretest dan Posttest ………………… 49
Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Pengujian Normalitas Data
Kelompok A dan B …………………………………………………. 50
Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Pengujian Homogenitas Data Posttest
Kelompok A dan B …………………………………………………. 51
Tabel 4.6 Pengujian Hipotesis Penelitian ……………………………………… 52

viii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir ................................................................ 29


Gambar 2.2 Peta Konsep Tekanan ...................................................................... 33
Gambar 3.1 Prosedur Penelitian .......................................................................... 37

ix
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A. Perangkat Mengajar


Lampiran A.1 Silabus .......................................................................................... 61
Lampiran A.2 RPP Kelas Eksperimen ................................................................ 66
Lampiran A.3 RPP Kelas Kontrol ....................................................................... 87
Lampiran A.4 LKS ............................................................................................. 108

Lampiran B. Instrumen Penelitian


Lampiran B.1 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian .................................................... 119
Lampiran B.2 Pedoman Penskoran Skor ........................................................... 130
Lampiran B.3 Rekapitulasi Hasil Uji Coba Instrumen ...................................... 132
Lampiran B. 4 Validitas Instrumen .................................................................... 136
Lampiran B.5 Reliabilitas Instrumen ................................................................. 138
Lampiran B.6 Uji Taraf Kesukaran ................................................................... 140
Lampiran B.7 Uji Daya Pembeda ...................................................................... 142
Lampiran B.8 Instrumen yang Valid ................................................................. 146
Lampiran B.9 Pedoman Penskoran Skor ........................................................... 148
Lampiran B.10 Soal Instrumen .......................................................................... 152

Lampiran C. Data Hasil Penelitian


Lampiran C.1 Rekapitulasi Data Nilai Pretest dan Posttest .............................. 153
Lampiran C.2 Uji Normalitas Pretest dan Posttest ............................................ 157
Lampiran C.3 Uji Homogenitas Pretest dan Posttest ........................................ 175
Lampiran C.4 Uji Hipotesis Pretest dan Posttest ............................................... 179

Lampiran D. Surat-Surat …………………………………………………… 181

x
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan ilmu pengetahuan yang
memiliki peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Seperti yang diungkapkan oleh Wildan Yatim, “Teknologi baru bisa berkembang
jika IPA dulu yang diperkuat. Jika IPA ditahapakhirkan, kita tetaplah dalam tahap
perakitan seumur hidup”. IPA merupakan sudi mengenai alam sekitar, dalam hal
ini berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga
IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta,
konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan suatu proses
penemuan.1 Oleh karena itu, IPA diprogramkan untuk menanamkan dan
mengembangkan pengetahuan tentang berbagai jenis lingkungan alam dan
lingkungan buatan serta pemanfaatannya bagi kehidupan manusia.
I Made Alit M, Jenins, Whitefield & Conant dalam Zulfiani menyatakan
bahwa IPA/Sains merupakan rangkaian konsep dan skema konseptual yang saling
berhubungan dan dikembangkan dari hasil eksperimentasi atau observasi yang
sesuai untuk eksperimentasi atau observasi berikutnya.2 Melalui proses
pembelajaran IPA, siswa diharapkan dapat memahami fenomena yang terjadi di
alam sekitar, serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari menjadi
suatu produk yang bermanfaat. Di samping itu, dalam mempersiapkan diri
memasuki abad milenium III atau abad ke-21 yang sangat kompetitif, diperlukan
manusia-manusia yang unggul dalam bidang IPTEK, dan diyakini bahwa melalui
IPA dengan pembelajaran keterampilan prosesnya memiliki potensi dan peluang
paling besar untuk ikut andil dalam proses pengembangan manusia yang
berkualitas, terutama aspek intelektualnya.

1
Depdiknas, Kompetensi Supervisi Akademik: Stategi Pembelajaran MIPA (Jakarta, 2008),
h. 21
2
Zulfiani, dkk, Strategi Pembelajaran Sains (Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif
Hidayatullah, 2009), h. 46

1
2

Dalam praktik pendidikan sains, fisika merupakan salah satu cabang IPA
yang memiliki tujuan agar siswa memiliki kemampuan untuk memahami berbagai
macam gelaja alam, prinsip dan konsep IPA, serta keterkaitannya dengan
lingkungan, teknologi, dan masyarakat.3 Oleh karena itu, pembelajaran fisika di
sekolah harus benar-benar dikelola dengan baik agar tujuan pembelajaran dapat
tercapai. Dalam proses pembelajaran IPA, khususnya fisika, belajar akan lebih
bermakna manakala siswa mengalami apa yang dipelajarinya, bukan
mengetahuinya.4 Pengetahuan yang bermakna tidak cukup hanya melalui transfer
pengetahuan dengan cara mendengarkan ceramah guru dan membaca buku.
Pengetahuan bermakna diperoleh manakala siswa mampu berusaha sendiri untuk
mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya. Jerome
Bruner menyarankan agar siswa-siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi
secara aktif untuk memperoleh pengalaman dalam menemukan prinsip-prinsip.5
Namun, fakta yang ada di masyarakat saat ini adalah sebaliknya. Proses
pembelajaran kurang menitikberatkan pada penalaran dan pengembangan
intelektual siswa. Pengalaman belajar yang diperoleh di kelas tidak utuh dan tidak
berorientasi pada tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar.6
Kemampuan mental yang dikembangkan sebagian besar berpusat pada
pemahaman bahan pengetahuan dan ingatan.7 Dalam situasi demikian, biasanya
siswa dituntut untuk menerima apa-apa yang dianggap penting oleh guru dan
menghafalnya. Kegiatan pembelajaran di kelas hanya menjadi proses
menghafalkan kesimpulan hasil ilmuan terdahulu, bukan menarik kesimpulan dan
membuktikan sendiri suatu konsep. Kurangnya pengembangan kemampuan
berpikir inilah yang akan menjadikan siswa hanya sebagai subjek pembelajar yang
cenderung pasif dan kurang memahami esensi dari pembelajaran fisika itu

3
Depdiknas., Op. Cit., h. 22
4
Sofan Amri & Iif Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas,
(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2010), h. 21
5
Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar (Jakarta: Erlangga, 1996), h. 103
6
Depdiknas., Op. Cit., h. 21
7
Tonih Feronika & Baharudin Milama, Analisis Pemahaman Konsep Kimia dengan
Pembelajaran Hands-On Teknik Guided Worksheet Activity (Jakarta: Jurnal Edu Sains Center For
Science Education Jurusan Pendidikan Pendidikan IPA UIN Syarif Hidayatullah), vol. 3 No.2
Desember 2010, h.159
3

sendiri, sehingga secara tidak langsung akan menjadikan fisika hanya dikenal
sebagai serangkaian sejarah IPA. Oleh karena itu, penggunaan pendekatan,
strategi, dan metode pembelajaran yang tepat dan bervariasi sangatlah diperlukan
untuk pembelajaran fisika yang lebih baik.
Salah satu cara upaya untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang
aktif dan konstruktif dalam pembelajaran fisika siswa dan kemampuan dan
kemampuan berpikir kritis siswa pada mata pelajaran IPA adalah dengan
menerapkan model pembelajaran inkuiri. Dari berbagai model yang dikaji dalam
Models of Teaching, inkuiri merupakan salah satu model kognitif yang
diunggulkan untuk pembelajaran sains di sekolah.8 Dalam perspektif sains,
pembelajaran berbasis inkuiri melibatkan siswa dalam penyelidikan sains. Tujuan
utama inkuiri adalah penyelidikan yang aktif, baik untuk pengetahuan maupun
pemahaman untuk memenuhi keingintahuan siswa. Dari perspektif pedagogis,
pembelajaran berbasis inkuiri merujuk pada model konstruktivisme.9 Jerome
Bruner mengemukakan bahwa penggunaan metode inkuiri dalam proses
pembelajaran menghasilkan aspek-aspek yang baik. Pertama, meningkatkan
intelektual siswa, karena mereka mendapat kesempatan untuk mencari tahu dan
menemukan keteraturan dan aspek lainnya melalui observasi dan ekperimen
mereka sendiri. Kedua, siswa memperoleh keputusan intelektual karena mereka
berhasil dalam penyelidikan mereka. Ketiga, siswa dapat belajar bagaimana
melakukan proses penemuan. Keempat, belajar melalui inkuiri mempengaruhi
siswa untuk mengingat lebih lama.10 Inkuiri membekali siswa dengan beraneka
ragam pengalaman konkrit dan pembelajaran aktif yang mendorong dan
memberikan ruang dan peluang kepada siswa untuk mengambil inisiatif dalam
mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan
penelitian sehingga memungkinkan siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat.

8
Bruce Joyce, et all, Models Of Teaching (United State of America: A Pearson Education
Academy, 2000), Sixth edition, page. 161
9
Nuryani Y. Rustaman, Perkembangan Penelitian Pembelajaran Inkuiri Dalam Pendidikan
Sains: Makalah Seminar Nasional II Himpunan Ikatan Sarjana dan Pemerhati IPA Indonesia
(FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia, 2005)
10
Ratna Wilis Dahar, Loc., Cit.
4

Terdapat delapan macam model pembelajaran inkuiri, yaitu Guided


Inquiry, Modified Inquiry, Free Inquiry, Inquiry Role Approach, Invitiation Into
Inquiry, Pictorial Riddle, Synectic Lesson, dan Value Clarification.11 Namun,
dalam penelitian ini hanya akan diterapkan dua jenis model pembelajaran inkuiri,
yaitu model pembelajaran inkuiri terbimbing (Guided Inquiry). Model ini
merupakan dasar atau tahap awal dalam proses inkuiri, sehingga dianggap cocok
untuk diterapkan pada tingkat SMP/MTs.
Berdasarkan karakteristik model tersebut, salah satu konsep fisika yang
cocok adalah tekanan. Konsep tekanan merupakan salah satu konsep fisika yang
terdapat di kelas VIII tingkat SMP. Melalui penerapan model inkuiri pada konsep
tersebut, guru dapat mengembangkan kemampuan berpikir dan penalaran siswa
dengan ekperimen-eksperimen sederhana dan serangkaian pertanyaan yang
menstimulus rasa keingintahuan siswa, sehingga siswa akan merasa tertarik untuk
melakukan percobaan, pengamatan, dan dari hasil pengamatan serta
pemahamannya, dapat diterapkan kembali dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
demikian, pembelajaran inkuiri dapat menjadikan pelajaran fisika lebih menarik,
mudah dipahami, dan dapat meningkatkan hasil belajar dan pemahaman siswa
mengenai konsep-konsep fisika.
Berdasarkan hal tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian
terhadap model pembelajaran inkuiri tersebut, dengan judul penelitian “Pengaruh
Model Guided Inquiry Terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa SMP Pada Konsep
Tekanan” sebagai judul penelitian dan penyelesaian terhadap masalah yang
terjadi di dalam kelas.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan sebelumnya,
maka masalah pada penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1. Kurangnya variasi model pembelajaran yang dilakukan guru berdasarkan
karakteristik materi pelajaran yang diajarkan.

11
Moh. Amien, Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Dengan Menggunakan Metode
“Discovery” dan Inquiry” (Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1987), h.. 136
5

2. Proses pembelajaran tidak menitikberatkan pada penalaran dan pengembangan


intelektual siswa.
3. Siswa kurang dibekali oleh serangkaian pengalaman bagaimana menemukan
sebuah formulasi atau kebenaran melalui penyelidikan.

C. Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah yang telah
diiuraikan, batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Model pembelajaran yang diterapkan dalam penelitian ini dibatasi pada model
guided inquiry.
2. Hasil belajar fisika yang diukur dalam penelitian ini dibatasi pada hasil tes
kognitif saja. Ranah kognitif dinilai berdasarkan taksonomi Bloom yang telah
direvisi. Ranah kognitif yang akan diukur pada penelitian ini adalah mulai C1
sampai dengan C4. Hal ini berdasarkan telaah terhadap standar kompetensi dan
kompetensi dasar konsep fisika yang diterapkan, yaitu berada pada ranah
kognitif C1 sampai dengan C4.
3. Konsep fisika yang diberikan kepada selama eksperimen adalah konsep
tekanan yang diajarkan pada semester genap kelas VIII.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah di atas, rumusan masalah dalam penelitian
ini yaitu “Bagaimanakah pengaruh hasil belajar siswa menggunakan model guided
inquiry pada konsep tekanan?”

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model guided
inquiry terhadap hasil belajar siswa dalam pembelajaran pada konsep tekanan.
6

F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi berbagai pihak, baik yang
terlibat langsung dalam penelitian ataupun tidak. Adapun manfaat yang
diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan informasi dalam pemilihan model pembelajaran yang tepat untuk
mengembangkan kemampuan intelektual siswa.
2. Memberikan alternatif pilihan bagi guru untuk menggunakan model
pembelajaran yang lebih efektif dalam pembelajaran fisika.
3. Memberikan wawasan baru dalam bidang penelitian pendidikan dan model-
model pembelajaran untuk dapat diaplikasikan dalam proses pembelajaran di
sekolah.
BAB II
KAJIAN TEORITIS, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritis
1. Model Pembelajaran Berbasis Inkuiri
Fakta dilapangan menunjukkan bahwa pembelajaran IPA disekolah
menengah maupun di perguruan tinggi masih menggunakan model pembelajaran
yang bersifat informatif. Model pembelajaran seperti ini tidak mendukung
pengembangan keterampilan berpikir siswa, karena guru mengajarkan fakta-fakta,
rumus-rumus, hukum-hukum dan siswa menghapalkannya. Untuk itu para pakar
pendidikan IPA berupaya meningkatkan hasil pembelajaran IPA yang optimal,
dengan memperkenalkan dan menerapkan berbagai metode serta pendekatan
pembelajaran yang disesuaikan dengan karakteristik IPA. Dari berbagai model
pembelajaran yang dikembangkan dapat dilihat adanya perubahan dari
pembelajaran yang berpusat pada guru beralih ke pembelajaran yang
mengutamakan keterampilan-keterampilan berpikir pada siswa. Dewasa ini
banyak materi sekolah-sekolah dasar dan sekolah-sekolah menengah yang
berorientasikan pada penemuan (discovery) dan inkuiri (inquiry). Mengenai
istilah-istilah penemuan dan inkuiri ini, banyak diantara para ahli pendidikan yang
mengartikan sama, tetapi ada juga yang berbeda.
Kata “inquiry” dalam bahasa inggris berarti pertanyaan, pemerikasaan,
atau penyelidikan. Menurut Schmidt seperti yang dikutip Sofan Amri,
menyatakan bahwa inkuiri berasal dari bahasa inggris inquiry yang dapat
diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan
ilmiah yang diajukan. Pertanyaan ilmiah merupakan pertanyaan yang dapat
mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan.1

1
Sofan Amri & Iif Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam
Kelas: Metode Landasan Teoritik-Praktis dan Penerapannya. (Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya,
2010), cet ke-1, hal 85

7
8

Sund seperti yang dikutip Trianto, menyatakan bahwa inkuiri merupakan


perluasan proses discovery yang digunakan lebih mendalam. Inkuiri sebagai suatu
proses umum yang dilakukan manusia untuk mencari atau memahami informasi.2
Dimyati dan Mujiono menyatakan bahwa model pembelajaran inkuiri merupakan
pengajaran yang mengharuskan siswa mengolah pesan, sehingga memperoleh
pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai.3
Menurut B. Joyce and M. Weil, metode inkuiri merupakan sebuah metode
yang intinya melibatkan siswa ke dalam masalah asli dan menghadapkan mereka
dengan sebuah penyeledikan, membantu mereka mengidentifikasi konseptual atau
metode pemecahan masalah yang terdapat dalam penyelidikan, dan mengarahkan
siswa untuk mencari jalan keluar dari masalah tersebut.4
Sedangkan menurut Granger Meador dalam Inquiry Physics, menyatakan
bahwa inkuiri merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang dinamis, dimana
siswa dapat menjelajahi alam melalui pengamatan, mengajukan pertanyaan,
membuat penemuan, dan menguji hasil temuannya untuk mencari/mendapatkan
suatu penemuan baru.5 Selain itu, Beluga Whales dalam Science as Inquiry,
menyatakan bahwa inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang komples,
dimana siswa melibatkan diri mereka dalam proses penyelidikan, merumuskan
pertanyaan, dan memecahkan masalah, kegiatan seperti ini dilakukan untuk
mengasah keterampilan mereka agar hasil belajar mereka menjadi lebih baik.6
Dengan kata lain, inkuiri merupakan suatu proses untuk memperoleh dan
mendapatkan informasi dengan melakukan observasi atau eksperimen untuik
mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan
masalah dengan memggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis.

2
Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, (Jakarta: Kencana Prenada
Media Group, 2009), Cet.I, h. 135
3
Dimyati & Mujiono, Belajar dan Pembelajaran (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h. 173
4
Bruce Joyce, et all. Models Of Teaching, (United State of America: A Pearson
Education Academy, 2000), Sixth edition, page. 161
5
Granger Meador, Inquiry Physics: A modified Learning Cycle Curriculum (Bartlesville
High School, 2010), p. 6, diakses dari http://inquiryphysics.org pada tanggal 29 November 2011
6
National Science Foundation, Science as Inquiry (BSCS Center for Professional
Development, 2010), p. 23, diakses dari http://science.education.nih.gov pada tanggal 29
November 2011
9

Lebih jauh lagi, National Science Education Standard menyatakan bahwa


pengembangan profesionalisme bagi guru sains perlu memadukan pengetahuan
sains, pembelajaran, dan pengetahuan siswa. Selain itu, pengembangan
profesionalisme guru sains juga perlu menetapkan pengetahuan dalam pengajaran
sains melalui inkuiri atau penyelidikan. Berikut definisi inkuiri menurut National
Science Education Standard:
“Inquiry is a multifaceted activity that involves making observations, posing
questions, examining books and other sources of information to see what is
already known, planning investigations, reviewing what is already known in light
of experimental evidence, using tools to gather, analyze, and interpret data,
proposing answer, explanations, and predictions, and communication the result”7

Dari definisi tersebut inkuiri dapat diartikan sebagai proses yang bervariasi
dan meliputi kegiatan-kegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan yang
relevan, mengevaluasi buku dan siumber-sumber informasi lain secara kritism
merencanakan penyelidikan atau investigasi, mereview apa yang telah diketahui,
melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat untuk
memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi data, serta membuat prediksi
dan mengomunikasikan hasilnya.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa inkuiri
merupakan kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terkandung kegiatan ilmiah.
Kegiatan ilmiah tersebut adalah berupa pertanyaan ilmiah yang dapat
mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan sehingga
dengan berkemampuan mengajukan pertanyaan tersebut kita dapat memperoleh
informasi dengan melakukan observasi atau eksperimen untuk mencari jawaban
atau memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan brpikir kritis dan
logis, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh ilmuwan atau orang dewasa yang
memiliki motivasi tinggi.

7
National Research Council, Inquiry and the National Science Education Standard: A
Guide for Teaching and Learning, (Washington D. C: National Academy Press, 2000), p. 14
10

Menurut Carin seperti yang dikutip oleh Moh. Amien menyatakan bahwa
discovery adalah suatu proses mental dimana anak atau individu mengasimilasi
konsep dan prinsip-prinsip.8 Dengan kata lain, inkuiri merupakan suatu proses
untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi atau
eksperimen untuik mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap
pertanyaan atau rumusan masalah dengan memggunakan kemampuan berpikir
kritis dan logis. Menurut Sund seperti yang dikutip oleh Trianto, discovery adalah
proses mental, dan dalam proses itu individu mengasimilasi konsep dan prinsip-
prinsip Istilah asing yang sering digunakan untuk metode ini ialah discovery yang
berarti penemuan, atau inkuiri yang berarti mencari. Mengenai penggunaan istilah
discovery dan inkuiri para ahli terbagi ke dalam dua pendapat, yaitu :
1) Istilah-istilah discovery dan inkuiri dapat diartikan dengan maksud yang sama
dan digunakan saling bergantian atau keduanya sekaligus.
2) Istilah discovery, sekalipun secara umum menunjuk kepada pengertian yang
sama dengan inkuiri, pada hakikatnya mengandung perbedaan dengan inkuiri

Bagi seorang siswa untuk membuat penemuan-penemuan, ia harus


melakukan proses-proses mentalnya, misalnya mengamati, menggolongkan-
golongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, menarik kesimpulan, dan
sebagainya. Pengajaran inquiry harus meliputi pengalaman-pengalaman belajar
untuk menjamin siswa dapat mengembangkan proses-proses inquiry.
Inquiry dibentuk dan meliputi discovery, karena siswa harus menggunakan
kemampuan discovery dan lebih banyak lagi. Dengan kata lain, inquiry adalah
perluasan proses-proses discovery yang digunakan dalam cara yang lebih dewasa.
Sebagai tambahan pada proses-proses discovery, inquiry mengandung proses-
proses mentalnya yang lebih tinggi tingkatannya, misalnya merumuskan masalah,
merancang eksperimen, melakukan eksperimen, mengumpulkan data,
menganalisis data, dan menarik kesimpulan, mempunyai sikap-sikap objektif,
jujur, rasa ingin tahu, terbuka, dan sebagainya.

8
Moh Amien, Menajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan Menggunakan Metode
Discovery dan Inquiry (Jakarta: Depdikbud, 1987), h. 126
11

Pengajaran inquiry harus meliputi pengalaman-pengalaman belajar untuk


menjamin bahwa siswa dapat mengembangkan proses inquiry. Carin menekankan
pengajaran discovery dengan batas-batas tertentu untuk siswa sekolah dasar kelas
yang lebih rendah, kemudian mengenalkan inquiry kepada siswa yang lebih atas
kelasnya yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan intelektualnya.9
Pengajaran inkuiri terbentuk bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan
proses-proses mentalnya untuk melakukan beberapa prinsip.10 Apabila siswa
belum pernah mempunyai pengalaman belajar melalui kegiatan discovery -
inquiry, maka pada permulaan kegiatan belajar mungkin ia memerlukan struktur
yang cukup luas dalam pelajaran-pelajarannya. Setelah siswa memperoleh
beberapa pengalaman tentang bagaimana melakukan suatu penyelidikan, ia akan
dapat melakukan tugas-tugas dengan bentuk-bentuk pelajaran yang strukturnya
tidak begitu luas. Dalam hal ini istilah umum ”sifat menyelidiki” digunakan baik
untuk pendekatan mengajar dengan menggunakan metode discovery maupun
inquiry.
Discovery – inquiry tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual
tetapi seluruh potensi yang ada, termasuk pengembangan emosional dan
pengembangan keterampilan. Pada hakikatnya, discovery – inquiry ini merupakan
suatu proses. Proses ini bermula dari perumusan masalah, mengembangkan
hipotesis, mengumpulkan bukti, menguji hipotesis, dan menarik kesimpulan
sementara, menguji kesimpulan sementara supaya sampai pada kesimpulan yang
pada taraf tertentu diyakini oleh peserta didik yang bersangkutan.
Berdasarkan beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa inkuiri
merupakan kegiatan pembelajaran yang di dalamnya terkandung kegiatan ilmiah.
Kegiatan ilmiah tersebut adalah berupa pertanyaan ilmiah yang dapat
mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan sehingga
dengan berkemampuan mengajukan pertanyaan tersebut kita dapat memperoleh
informasi dengan melakukan observasi atau eksperimen untuk mencari jawaban
atau memecahkan masalah dengan menggunakan kemampuan brpikir kritis dan

9
Ibid, h 127
10
Oemar Hamalik, op.cit, h. 219
12

logis, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh ilmuwan atau orang dewasa yang
memiliki motivasi tinggi.
Menurut Roestiyah seperti yang dikutip Nunung Nurjannah, model
11
pembelajaran inkuiri memiliki beberapa keunggulan, yaitu: (1) Dapat
membentuk dan mengembangkan “self-consept” pada diri siswa, sehingga siswa
dapat mengerti tentang konsep dasar dan siswa memiliki ide-ide yang lebih baik,
(2) Membantu dalam menggunakan ingatan dan transfer pada situasi dan proses
belajar yang baru, (3) Mendorong siswa untuk berpikir dan bekerja atas
inisiatifnya sendiri, bersikap obyektif, jujur dan terbuka, (4) Mendorong siswa
untuk berpikir intuitif dan merumuskan hipotesisnya sendiri, (5) Memberi
kepuasan yang bersifat intrinsic, (6) Situasi proses belajar mengajar menjadi lebih
menarik, (7) Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan individu, (8) Memberi
kebebasan siswa untuk belajar sendiri, (9) Guru dapat menghindari cara-cara
belajar tradisional, (10) Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya
sehingga mereka dapat mengasimilasi dan mengakomodasi informasi.
Disamping memiliki keunggulan, model pembelajaran inkuiri juga
12
mempunyai kelemahan, diantaranya: (1) Guru akan sulit mengontrol kegiatan
dan keberhasilan peserta didik, (2) Perencanaan pembelajaran dengan model ini
sulit karena terbentur dengan kebiasaan peserta didik dalam belajar, (3) Dalam
mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang panjang, sehingga guru sulit
untuk menyesuaikan dengan waktu yang ditentukan. Selama kriteria keberhasilan
belajar ditentukan oleh kemampuan peserta didik dalam menguasai materi
pelajaran, model pembelajaran inkuiri akan sulit diimplementasikan oleh guru.

a. Jenis-jenis Model Inkuiri


Moh. Amin menguraikan tentang tujuh jenis inquiry sebagai berikut:
1) Guided Inquiry Lab. Lesson
Pada model inkuiri jenis ini, sebagian besar perencanaan dibuat oleh guru.
Guru memiliki peran penting untuk menyediakan kesempatan bimbingan atau
11
Roestiyah N.K, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: 2008), h. 76-77
12
Wina Sandjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), h. 206-207
13

petunjuk yang cukup luas kepada siswa. Dalam hal ini siswa tidak merumuskan
masalah, sementara petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan
mencatat diberikan oleh guru. Dapat dikatakan pula bahwa pembelajaran dengan
jenis metode ini merupakan tahap awal sebelum siswa diberikan model
pembelajaran inkuiri sesungguhnya.

2) Modified Inquiry
Model ini merupakan kolaborasi atau modifikasi dari dua pendekatan
inkuiri, yaitu inkuiri terbimbing (guided inquiry) dan inkuiri bebas (free inquiry).
Dalam metode ini siswa tidak dapat memilih atau menentukan masalah untuk
diselidiki secara sendiri, masalah yang akan diselidiki ditentukan oleh guru,
kemudian siswa diundang untuk memecahkannya melalui pengamatan, eksplorasi
atau melalui prosedur penelitian untuk memperoleh jawabannya. Biasanya
disediakan pula bahan atau alat-alat yang diperlukan. Pemecahan masalah
dilakukan atas inisiatif dan caranya sendiri secara kelompok atau perseorangan.
Guru berperan sebagai pendorong, narasumber, dan bertugas memberikan bantuan
yang diperlukan untuk menjamin kelancaran proses belajar siswa. Kegiatan-
kegiatan siswa ditekankan pada eksplorasi, merancang, dan melaksanakan
eksperimen. Pada waktu siswa melakukan proses belajar untuk mencari jawaban
dari masalah yang diajukan guru, bantuan yang dapat diberikan guru ialah dengan
teknik pertanyaan-pertanyaan, bukan berupa penjelasan. Guru hanya memberikan
pertanyaan-pertanyaan pengarah yang sifatnya mengarah kepada pemecahan
masalah yang perlu dilakukan siswa.
Dalam model ini guru membatasi memberi bimbingan agar siswa berupaya
terlebih dahulu secara mandiri, dengan harapan agar siswa dapat menemukan
sendiri penyelesaiannya. Namun, apabila ada siswa yang tidak dapat
menyelesaikan permasalahannya, maka bimbingan dapat diberikan secara tidak
langsung dengan memberikan contoh-contoh yang relevan dengan permasalahan
yang dihadapi, atau melalui diskusi dengan siswa dalam kelompok lain.13

13
Akhmad Sudrajat, Metode Pembelajaran Inkuiri, diakses dari
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/09/12/pembelajaran-inkuiri pada tanggal 03 2010
14

3) Free Inquiry
Dalam proses pembelajaran dengan jenis model ini, siswa melakukan
penelitian sendiri sebagai seorang ilmuwan. Kegiatan free inquiry dilakukan
setelah siswa mempelajarai dan mengerti bagaimana memecahkan suatu problema
dan telah memperoleh pengetahuan cukup tentang bidang studi tertentu serta telah
melakukan modified discovery-inquiry. Perbedaan dengan jenis inkuiri lain adalah
guru sama sekali tidak membantu siswa dalam merumuskan masalah serta
memecahkan masalah, dengan kata lain siswa bertindak mandiri sepenuhnya.
Dalam model ini siswa harus mengidentifikasi dan merumuskan macam problema
yang akan dipelajari atau dipecahkan.
Dalam model ini, bimbingan dari guru sangat sedikit diberikan atau
bahkan tidak diberikan sama sekali. Salah satu keuntungan belajar dengan model
ini adalah adanya kemungkinan siswa dalam memecahkan masalah open ended
dan mempunyai alternatif pemecahan masalah lebih dari satu cara, karena
tergantung bagaimana cara mereka mengkonstruksi jawabannya sendiri. Selain
itu, ada kemungkinan siswa menemukan cara dan solusi yang baru atau belum
pernah ditemukan oleh orang lain dari masalah yang diselidiki.

4) Invitation Into Inquiry


Dalam model pembelajaran jenis ini, siswa dilibatkan dalam proses
pemecahan problema sebagaimana cara-cara yang lazim dilakukan oleh para
ilmuwan. Suatu undangan (invitation) memberikan suatu problema kepada siswa,
dan melalui pertanyaan masalah yang telah direncanakan dengan hati-hati
mengundang siswa untuk melakukan beberapa kegiatan atau kalau mungkin,
semua kegiatan sebagai berikut : merancang eksperimen, merumuskan hipotesis,
menetapkan kontrol, menentukan sebab akibat, dan membuat grafik.
15

5) Inquiry Role Approach


Inquiry Role Approach merupakan kegiatan proses belajar yang
melibatkan siswa dalam tim-tim yang masing-masing terdiri atas empat anggota
untuk memecahkan invitation into inquiry. Masing-masing anggota tim diberi
tugas suatu peranan yang berbeda-beda sebagai berikut koodinator tim, penasihat
teknis, pencatat data dan evaluator proses.

6) Pictorial Riddle
Pembelajaran dengan menggunakan Pictorial Riddle adalah salah satu
teknik atau model untuk mengembangkan motivasi dan minat siswa di dalam
diskusi kelompok kecil maupun besar. Gambar atau peragaan-peragaan, atau
situasi yang sesungguhnya dapat digunakan untuk meningkatkan cara berfikir
kritis dan kreatif siswa. Suatu ridlle biasanya berupa gambar di papan tulis, papan
poster, atau diproyeksikan dari suatu trasparansi, kemudian guru mengajukan
pertanyaan yang berkaitan dengan ridlle.

7) Synectics Lesson
Pada dasarnya syntetics memusatkan pada keterlibatan siswa untuk
membuat berbagai macam bentuk metafora (kiasan) supaya dapat membuka
intelegensinya dan mengembangkan kreativitasnya. Hal ini dapat dilaksanakan
karena metafora dapat membantu dalam melepaskan “ikatan struktur mental”
yang melekat kuat dalam memandang suatu problema sehingga dapat menunjang
timbulnya ide-ide kreatif.

8) Value Clarification
Simon, Howe dan Kirschenbaun dalam Moh. Amien menyatakan bahwa siswa
yang dihadapkan pada proses-proses “value clarification’ di sekolah ternyata sikap
apatisnya, bertingkahnya, dan sikap suka menolak menjadi berkurang. Mereka
menjadi lebih bergairah, penuh semangat belajar/bekerja dan lebih kritis cara
berpikirnya. “value clarification” telah membawa siswa yang mempunyai
intelegensi rendah menjadi lebih berhasil studi di sekolahnya. Tujuan value
16

clarification adalah untuk membantu siswa dalam mengembangkan proses-proses


yang digunakan dalam menentukan nilai-nilai mereka sendiri.

2. Model Pembelajaran Inkuiri terbimbing (guided inquiry)


a. Pengertian Model Pembelajaran Guided Inquiry
Guided Inquiry atau inkuiri terbimbing merupakan salah satu metode
pembelajaran unkuiri dimana guru menyediakan bimbingan atau petunjuk yang
cukup luas kepada siswa.
Dalam model ini guru membimbing siswa melakukan kegiatan dengan
memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi. Guru mempunyai
peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap pemecahannya.
Model inkuiri terbimbing ini digunakan bagi siswa yang kurang berpengalaman
belajar dengan model inkuiri. Dengan model ini siswa belajar lebih beorientasi
pada bimbingan dan petunjuk dari guru hingga siswa dapat memahami konsep-
konsep pelajaran. Pada model ini siswa akan dihadapkan pada tugas-tugas yang
relevan untuk diselesaikan baik melalui diskusi kelompok maupun secara
individual agar mampu menyelesaikan masalah dan menarik suatu kesimpulan
secara mandiri. Petunjuk yang cukup luas tentang bagaimana menyusun dan
mencatat data diberikan oleh guru.14
Pada dasarnya, selama proses belajar berlangsung siswa akan memperoleh
pedoman sesuai dengan yang diperlukan. Pada tahap awal, guru banyak
memberikan bimbingan, kemudian pada tahap-tahap berikutnya, bimbingan
tersebut dikurangi, sehingga siswa mampu melakukan proses inkuiri secara
mandiri. Bimbingan yang diberikan dapat berupa pertanyaan-pertanyaan dan
diskusi multi arah yang dapat menggiring siswa agar dapat memahami konsep
pelajaran fisika. Di samping itu, bimbingan dapat pula diberikan melalui lembar
kerja siswa yang terstruktur. Selama berlangsungnya proses belajar guru harus

14
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), h. 109
17

memantau kelompok diskusi siswa, sehingga guru dapat mengetahui dan


memberikan petunjuk-petunjuk yang diperlukan oleh siswa.

b. Tahap Pembelajaran Model Guided Inquiry


Adapun tahapan dalam proses pembelajaran inkuiri terbimbing adalah
sebagai berikut:
1) Tahap pertama (penyajian masalah)
Pada tahap ini guru menunjukkan sebuah masalah (fenomena) kepada
siswa baik berupa demonstrasi, atau pertanyaan-pertanyaan yang menimbulkan
teka-teki. Aktivitas siswa pada tahap ini adalah:
a) Siswa memberi respon positif terhadap masalah yang dikemukakan oleh
guru.
b) Siswa mengidentifikasi masalah.
c) Siswa mengungkapkan ide awalnya.
2) Tahap kedua (pengumpulan dan verifikasi data)
Pada tahap ini siswa mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan
masalah (fenomena) yang diajukan. Siswa dapat menghubungkannya dengan
fenomena yang terjadi, kemudian membuat hipotesis. Aktivitas siswa pada
tahap ini adalah:
a) Siswa mengumpulkan informasi sambil berdiskusi untuk menjawab
permasalahan yang diajukan guru.
b) Siswa membuat dan mengemukakan hipotesis.
3) Tahap ketiga (melakukan eksperimen)
Pada tahap ini siswa melakukan percobaan berdasarkan petunjuk atau
arahan dari guru seperti yang terdapat dalam LKS yang telah disediakan oleh
guru, kemudian siswa menuliskan hasil eksperimennya dalam LKS sehingga
siswa dapat menjawab permasalahan yang diajukan guru diawal. Aktivitas
siswa pada tahap ini adalah:
a) Siswa melakukan percobaan berdasarkan petunjuk atau bimbingan dari
guru, alat dan bahan serta langkah-langkah percobaan dirumuskan oleh
guru.
18

b) Siswa melakukan pengamatan dan kerjasama dalam pengumpulan data.


c) Siswa mencatat data hasil percobaan.

4) Tahap keempat (merumuskan penjelasan)


Pada tahap ini siswa diminta mengolah dan menganalisis data hasil
eksperimennya. Aktivitas siswa pada tahap ini adalah:
a) Siswa mendiskusikan hasil penyelidikan secara berkelompok.
b) Siswa menganalisis data hasil percobaan.
c) Siswa merumuskan dan menarik kesimpulan hasil percobaan.

5) Tahap kelima (mengadakan analisis terhadap proses inkuiri)


Pada tahap ini siswa membuat dan mengemukakan kesimpulan yang
sekaligus dapat menjawab pertanyaan guru diawal. Aktivitas siswa pada tahap
ini adalah:
a) Siwa mempresentasikan hasil percobaan.
b) Siswa terlibat aktif dalam diskusi kelas sehingga dapat menganalisis pola
penemuan mereka.

Selain itu, David M. Hanson and Richard S. Moog membagi tahapan inkuiri
terbimbing ke dalam 5 (lima) tahapan, yaitu:15
a. Orientasi
Pada tahap ini guru menyiapkan siswa untuk belajar, yaitu memberikan
motivasi kepada siswa untuk beraktivitas, membangkitkan rasa keingintahuan,
dan membuat hubungan dengan pengetahuan sebelumnya.
Pada tahap ini juga dilakukan pengenalan terhadap tujuan pembelajaran da
kriteria keberhasilan guna memgokuskan siswa untuk menghadapi persoalan
penting dan menentukan tingkat penguasaan yang diharapkan.

15
David Hanson & Richard S. Moog, Process Oriented Guided Inquiry Learning, diakses
dari http://cetl.matcmadison.edu/efgb/3/3_3_3.htm pada tanggal 05 November 2011
19

b. Eksplorasi
Pada tahap ini, siswa mempunyai kesempatan untuk mengadakan
observasi, mendesain eksperimen, mengumpulkan, menguji, dan mennganalisa
data, menyelidiki hubungan, serta mengemukakan pertanyaan dan menguji
hipotesis.
c. Pembentukan konsep
Sebagai hasil eksplorasi, konsep ditemukan, dikenalkan, dan dibentuk.
Pemahaman konseptual dikembagkan oleh keterlibatan siswa dalam proses
penemuan, bukan penyampaian informasi melalui naskah atau ceramah.
d. Aplikasi
Apllikasi melibatkan penggunaan pengetahuan baru dalam latihan,
masalah, dan situasi penelitian lain. Latihan memberikan kesempatan bagi siswa
untuk membentuk kepercayaan diri pada situasi yang sederhana dan konteks yang
akrab. Pemahaman dan pembelajaran yang sebenarnya diperlihatkan pada
permasalahan yang mengharuskan siswa untuk mentransfer pengetahuan baru ke
dalam konteks yang tidak akrab, memadukannya pada cara yang baru dan berbeda
untuk memecahkan masalah-masalah nyata di dunia.
e. Penutupan
Tahap ini merupakan tahap terakhir pada proses inkuiri. Kegiatan ini
diakhiri dengan membuat validasi terhadap hasil yang diperoleh siswa, dan
melakukan refleksi terhadap apa yang mereka pelajari serta penilaian penampilan
mereka.

3. Makna Belajar dan Hasil Belajar


Proses belajar mengajar adalah suatu proses berlangsungnya kegiatan
belajar yang dilakukan oleh pelajar atau peserta didik dan kegiatan mengajar yang
dilakukan oleh pendidik atau pembimbing. Proses ini juga dapat dikatakan
sebagai proses “menerima – memberi” dalam arti peserta didik menerima
pelajaran dan pendidik memberi pelajaran.
Melalui proses belajar, seorang pelajar atau peserta didik yang tadinya
tidak tahu suatu hal menjadi tahu. Proses belajar ini sebenarnya merupakan
20

masalah yang kompleks karena proses belajar terjadi dalam arti seseorang yang
sedang melakukan kegiatan belajar tanpa dapat terlihat secara lahiriah (terjadi
dalam pikiran orang) yang disebut proses intern.16 Sedangkan proses ekstern
merupakan pencerminan terjadinya proses intern peserta didik yang merupakan
indikator yang menunjukkan apakah dalam diri seseorang telah terjadi proses
belajar atau tidak. Oleh karena itu, hal yang perlu dilakukan pendidik adalah
mengarahkan proses ekstern itu agar dapat mempengaruhi proses intern.
Proses belajar dikatakan tidak lepas dari pengajaran yang disesuaikan
dengan perkembangan dan situasi yang dialami oleh setiap individu. Bruner
mengatakan dalam Wasty bahwa belajar merupakan pengembangan kategori-
kategori dan pengembangan suatu sistem pengodean (coding). Berbagai kategori
saling berkaitan sedemikian rupa, hingga setiap individu mempunyai model yang
unik tentang alam. Bruner mengemukakan bahwa belajar melibatkan tiga proses
yang berlangsung hampir bersamaan. Ketiga proses itu adalah (1) memperoleh
informasi baru, (2) transformasi informasi, dan (3) menguji relevansi dan
ketepatan pengetahuan.17 Selain itu, belajar dapat didefinisikan sebagai proses
dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melaluilatihan atau pengalaman
(learning is defined as the process by which behavior originates or is altered
throught training or experiencing).18
Dalam Oemar Hamalik, William Burton memandang bahwa belajar adalah
suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan
lingkungan.19 Sebagaimana dikemukakannya bahwa : A good leraning situation
consist of a rich and varied series of learning experiences inufied around a
vigorous purpose and carried on in interaction with a rich, varied and
propocative environment. Hintzman dalam bukunya “The Psyhology of Learning
and Memory”, seperti yang dikutip Muhibin Syah berpendapat bahwa “Learning
is a change in organism due to experience which can affect the organism’s

16
Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa (Jakarta: Bumi Aksara:2009), h. 40
17
Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Edisi Baru (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003), h.
134 - 135
18
Ibid, hal. 103
19
Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 28
21

behavior”.20 Artinya, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri
organisme (manusia atau hewan) disebabkan oleh pengalaman yang dapat
mempengaruhi tingkah laku organisme tersebut.
Berbeda dengan pengertian belajar, pembelajaran memiliki arti yang lebih
luas. Pembelajaran dikatakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan
oleh pihak guru dan belajar dilakukan oleh peserta didik atau siswa. Konsep
pembelajaran menurut Corey adalah suatu proses seseorang secara disengaja
dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam
kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu.
Berdasarkan pengertian dari belajar dan pembelajaran, maka dapat
dikatakan bahwa proses belajar dan pembelajaran sangat mempengaruhi
perkembangan setiap individu dalam membangun aspek kognitif yang
dimilikinya. Aspek kognitif yang dimiliki setiap individu akan berbeda. Hal
tersebut dapat terjadi dikarenakan adanya faktor lingkungan sehingga mendorong
individu mempelajari proses perkembangan yang tengah dihadapi.
Didalam kelas perlu adanya aktivitas karena pada prinsipnya belajar
adalah berbuta untuk mengubha tingkah lakunya. Dengan kata lain, aktivitas
belajar adalah melakukan kegiatan belajar, tidak ada belajar jika tidak ada
aktivitas. Itulah sebabnya aktivitas merupakan prinsip atau asas yang sangat
penting di dalam interaksi belajar mengajar.
Dalam mempelajarai fisika, kemampuan berpikir yang runut selalu
memberikan gambaran bahwa keterampilan berpikir seseorang dapat dilatih dan
ditingkatkan. Ini berarti aktivitas belaar dapat menumbuhkan kemampuan berpikir
yang sistematis dan logis.
Dalam pembelajaran sains, diperlukan pemahaman yang lebih hakiki dari
pengertian sans dan makna pembelajaran sains. Sains yang semula diartikan
sebagai tubuh pengetahuan yang mendeskripsikan pengetahuan orang tentang
benda dan gejala alam, diartikan lebih jauh bahwa sains adalah proses sains
(science process), yaitu proses yang biasa dihunakan oleh pakar sains untuk

20
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru (Bandung: Remaja
Rosdakarya, 1997), h.90
22

menjalankan studinya di bidang ilmu pengetahuan alam. Belajar sains diartikan


sebagai belajar bagaimana orang mempelajari bend adan gejala alam, melakukan
proses ilmiah untuk menemukan fakta dan membangun konsep dan prinsip di
bidang sains.
Para penganut teorikonstruktivisme mempunyai pemahaman bahwa sains
adalah proses. Pembelajaran berbasis konstruktivisme merupakan pembelajaran
yang menjadikan siswa sebagai pusat kegiatan belajar untuk menemukan sendiri
konsep sains melalui akomodasi konsep lama dengan fenomena-fenomena baru
yang ditemukan dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran ini ditekankan bahwa
siswa belajar sains melalui keaktifan untuk membangun pengetahuannya sendiri,
membandingkan informasi baru dengan pemahaman yang telah dimiliki, dan
menggunakan semua pengetahuan atau pengalaman itu untuk bekerja melalui
perbedaan-perbedaan yang ada pada pengetahuan baru dan lama untuk mencapai
pemahaman baru.
Belajar dan berpikir merupakan dua proses yang tidak dapat dipisahkan.
Meskipun demikian, keduanya merupakan proses-proses yang berbeda. Belajar
pada hakikatnya merupakan proses mental yang tidak dapat dilihat. Belajar
dianggap sebagai proses perubahan perilaku sebagai akibat dari pengalaman dan
latihan. Banyak teori yang membahas tentang terjadinya perubahan perilaku.21
Keberhasilan proses pembelajaran dan keefektivan model yang diterapkan
guru dapat diukur melalui hasil belajar siswa. Diah Mulhayatiah menyatakan
bahwa hasil belajar merupakan semua efek yang dapat dijadikan sebagai indikator
tentang nilai dari pengggunaan metode di bawah kondisi yang berbeda.22
Belajar melibatkan tahap masukan, proses, dan keluaran. Belajar juga
merupakan proses yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang tadinya tidak
mampu menjadi mampu, dan sebagainya. Inilah yang disebut dengan hasil belajar,
yaitu perubahan perilaku yang menyatakan perbedaan dari masukan dan keluaran.

21
Zikri Neni Iska, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan (Jakarta: Kizi
Brother’s, 2008), h. 82 - 83
22
Diah Mulhayatiah., Hubungan Peningkatan hasil Belajar Siswa Ranah Kognitif dengan
Ranah Psikomotorik Melalui Model Pembelajaran Berbasis Laboratorium (Jakarta: Jurnal Edu
Sains Center for Science Education Jurusan Pendidikan IPA, Vol. 3 No. 1 Juni 2010), h. 35
23

Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar harus relatif menetap, bukan
perubahan yang bersifat sementara atau tiba-tiba terjadi kemudian cepat hilang
kembali, akan tetapi perubahan yang terjadi relatif permanen, yaitu berupa
perubahan tingkah laku, pengetahuan, dan keterampilan setelah melakukan proses
belajar.
Merrill, seperti yang dikutip Wasis D Dwiyogo mengemukakan teori yang
dinamakan Component Display Theory untuk memberi penjelasan tentang hasil
belajar. Menurut Merrill, hasil belajar pada dasarnya terdiri atas dua diemnsi,
yaitu dimensi isi dan dimensi unjuk kerja.23 Dimensi isi terdiri atas empat jenis,
yaitu: fakta, konsep, prosedur, dan prinsip. Fakta adalah suatu informasi yang
masing-masing berdiri sendiri seperti halnya nama, tanggal atau peristiwa. Nama
adalah simbol yang digunakan untuk menjelaskan suatu objek. Konsep adalah
suatu kelompok objek, peristiwa atau symbol yang semuanya mempunyai karak-
teristik dan dapat diidentifikasi dengan nama yang sama. Prosedur adalah urutan
tindakan langkah demi langkah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam usaha memecahkan masalah atau menghasilkan suatu produk tindakan itu
berurutan, misalnya langkah 1, 2, 3 dan seterusnya. Prinsip adalah suatu hubungan
sebab akibat atau saling berhubungan antar konsep yang digunakan untuk
menginterpretasikan keadaan.
Sementara itu, Horward Kingsley seperti yang dikutip Nana Sudjana
membagi tiga macam hasil belajar, yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b)
pengetahuan dan pengertian, dan (c) sikap dan cita-cita.24 Masing-masing hasil
belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum.
Sedangkan Gagne membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) informasi verbal,
(b) keterampilan intelektual, (c) strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) keterampilan
motoris.25

23
Wasis D Dwiyogo, Pembelajaran Visioner, h.25-26, diakses dari
http://ajte.education.ecu.edu.au/ISSUES/PDF/211/Westwood.pdf pada tanggal 10 November 2010.
24
Nana Sudjana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2009), cet.ke-14, hal.22.
25
Ibid.
24

Dimensi unjuk kerja terdiri atas tiga jenis, yaitu: mengingat, meng-
gunakan, dan menemukan. Mengingat adalah unjuk kerja untuk meng-ingat
informasi-informasi yang telah diperolehnya dalam memori jangka panjang.
Menggunakan adalah untuk kerja yang mempersyaratkan maha-siswa untuk
mengaplikasikan berbagai abstraksi dalam berbagai masalah. Menemukan adalah
unjuk kerja yang mempersyaratkan mahasiswa menemukan hal baru melalui
kegiatan analisis dan sintesis.26
Benyamin Bloom mengklasifikasikan kemampuan hasil belajar ke dalam
tiga ranah, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Ketiga
tingkatan itu dikenal dengan istilah Bloom’s Taxonomy (Taksonomi Bloom).
Pada penelitian ini, penulis hanya akan mengungkapkan hasil belajar pada ranah
kognitif saja dalam penerapan metode pembelajaran inkuiri (guided inquiry).
Ranah kognitif berikut ini merupakan ranah kognitif pada Taksonomi
Bloom yang sudah direvisi, yaitu meliputi kemampuan pengembangan
keterampilan intelektual (knowledge) dengan tingkatan-tingkatan sebagai
berikut:27
1. Menghafal/mengingat (Remember): menarik kembali informasi yang tersimpan
dalam memori jangka panjang. Mengingat merupakan proses kognitif yang
paling rendah tingkatannya. Untuk mengkondisikan agar “mengingat” bisa
menjadi bagian belajar bermakna, tugas mengingat hendaknya selalu dikaitkan
dengan aspek pengetahuan yang lebih luas dan bukan sebagai suatu yang lepas
dan terisolasi. Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: mengenali
(recognizing) dan mengingat (recalling).
1.1 Mengenali (Recognizing): mencakup proses kognitif untuk menarik
kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka panjang agar
dapat membandingkan dengan informasi yang baru.
1.2 Mengingat (Recalling): menarik kembali informasi yang tersimpan dalam
memori jangka panjang dengan menggunakan petunjuk yang ada.

26
Wasis D Dwiyogo., Loc. Cit.
27
Ari Widodo, Taksonomi Tujuan Pembelajaran (Bandung: Didaktis, 2005), h. 5
25

2. Memahami (Understand): mengkonstruk makna atau pengertian berdasarkan


pengetahuan awal yang dimiliki, atau mengintegrasikan pengetahuan yang baru
ke dalam skema yang telah ada dalam pemikiran siswa. Kategori memahami
mencakup tujuh proses kognitif: menafsirkan (interpreting), memberikan
contoh (exemplifying), mengklasifikasikan (classifying), meringkas
(summarizing), menarik inferensi (inferring), membandingkan (comparing),
dan menjelaskan (explaining).
2.1 Menafsirkan (interpreting): mengubah dari satu bentuk informasi ke bentuk
informasi yang lainnya, misalnya dari dari kata-kata ke grafik atau gambar,
atau sebaliknya, dari kata-kata ke angka, atau sebaliknya, maupun dari
kata-kata ke kata-kata, misalnya meringkas atau membuat parafrase.
2.2 Memberikan contoh (exemplifying): memberikan contoh dari suatu konsep
atau prinsip yang bersifat umum. Memberikan contoh menuntuk
kemampuan mengidentifikasi ciri khas suatu konsep dan selanjutnya
menggunakan ciri tersebut untuk membuat contoh.
2.3 Mengklasifikasikan (classifying): Mengenali bahwa sesuatu (benda atau
fenomena) masuk dalam kategori tertentu. Termasuk dalam kemampuan
mengkelasifikasikan adalah mengenali ciri-ciri yang dimiliki suatu benda
atau fenomena.
2.4 Meringkas (summarizing): membuat suatu pernyataan yang mewakili
seluruh informasi atau membuat suatu abstrak dari sebuat tulisan.
Meringkas menuntut siswa untuk memilih inti dari suatu informasi dan
meringkasnya.
2.5 Menarik inferensi (inferring): menemukan suatu pola dari sederetan contoh
atau fakta. Contoh: memprediksikan perkembangan suatu populasi dalam
sebuah komunitas berdasarkan data perkembangan populasi selama 10
tahun terakhir.
2.6 Membandingkan (comparing): mendeteksi persamaan dan perbedaan yang
dimiliki dua obyek atau lebih.
2.7 Menjelaskan (explaining): mengkonstruk dan menggunakan model sebab-
akibat dalam suatu sistem.
26

3. Mengaplikasikan (Applying): mencakup penggunaan suatu prosedur guna


menyelesaikan masalah atau mengerjakan tugas. Oleh karena itu
mengaplikasikan berkaitan erat dengan pengetahuan prosedural. Namun tidak
berarti bahwa kategori ini hanya sesuai untuk pengetahuan prosedural saja.
Kategori ini mencakup dua macam proses kognitif: menjalankan (executing)
dan mengimplementasikan (implementing).
3.1 Menjalankan (executing): menjalankan suatu prosedur rutin yang telah
dipelajari sebelumnya. Langkah-langkah yang diperlukan sudah tertentu
dan juga dalam urutan tertentu.
3.2 Mengimplementasikan (implementing): memilih dan menggunakan
prosedur yang sesuai untuk menyelesaikan tugas yang baru.
4. Menganalisis (Analyzing): menguraikan suatu permasalahan atau obyek ke
unsur-unsurnya dan menentukan bagaimana saling keterkaitan antar unsur-
unsur tersebut. Ada tiga macam proses kognitif yang tercakup dalam
menganalisis: menguraikan (differentiating), mengorganisir (organizing), dan
menemukan pesan tersirat (attributting).
4.1 Menguraikan (differentiating): menguraikan suatu struktur dalam bagian-
bagian berdasarkan relevansi, fungsi dan penting tidaknya.
4.2 Mengorganisir (organizing): mengidentifikasi unsur-unsur suatu keadaan
dan mengenali bagaimana unsur-unsur tersebut terkait satu sama lain
untuk membentuk suatu struktur yang padu.
4.3 Menemukan pesan tersirat (attributting): menemukan sudut pandang, bias,
dan tujuan dari suatu bentuk komunikasi.
5. Mengevaluasi: membuat suatu pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar
yang ada. Ada dua macam proses kognitif yang tercakup dalam kategori ini:
memeriksa (checking) dan mengritik (critiquing).
5.1 Memeriksa (Checking): Menguji konsistensi atau kekurangan suatu karya
berdasarkan kriteria internal (kriteria yang melekat dengan sifat produk
tersebut). Contoh: Memeriksa apakah kesimpulan yang ditarik telah sesuai
dengan data yang ada.
27

5.2 Mengritik (Critiquing): menilai suatu karya baik kelebihan maupun


kekurangannya, berdasarkan kriteria eksternal. Contoh: menilai apakah
rumusan hipotesis sesuai atau tidak (sesuai atau tidaknya rumusan
hipotesis dipengaruhi oleh pengetahuan dan cara pandang penilai).
6. Membuat/menghasilkan karya (create): menggabungkan beberapa unsur
menjadi suatu bentuk kesatuan. Ada tiga macam proses kognitif yang tergolong
dalam kategori ini, yaitu: membuat (generating), merencanakan (planning),
dan memproduksi (producing).
6.1 Membuat (generating): menguraikan suatu masalah sehingga dapat
dirumuskan berbagai kemungkinan hipotesis yang mengarah pada
pemecahan masalah tersebut. Contoh: merumuskan hipotesis untuk
memecahkan permasalahan yang terjadi berdasarkan pengamatan di
lapangan.
6.2 Merencanakan (planning): merancang suatu metode atau strategi untuk
memecahkan masalah. Contoh: merancang serangkaian percobaan untuk
menguji hipotesis yang telah dirumuskan.
6.3 Memproduksi (producing): membuat suatu rancangan atau menjalankan
suatu rencana untuk memecahkan masalah. Contoh: mendesain (atau juga
membuat) suatu alat yang akan digunakan untuk melakukan percobaan.
Penilaian terhadap hasil belajar penguasaan materi (kognitif) bertujuan untuk
mengukur penguasaan dan pemilihan konsep dasar keilmuan (content
objective) berupa meteri-materi esensial sebagai konsep kunci dan prinsip
utama.28 Dalam hal ini, peneliti membatasi ranah kognitif tersebut hanya
sampai kepada tingkat C4.

B. Kerangka Berpikir
Tujuan pendidikan sains adalah membantu siswa untuk mengembangkan
pengetahuan dan pemahaman serta mendorong siswa untuk mengembangkan
keterampilan untuk menyelidiki komponen-komponen kehidupan fisik, material,

28
Ahmad Sofyan, dkk., Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi (Jakarta:
Lembaga Penelitian UIN Jakarta, 2006), cetakan ke-1, h. 14
28

dan teknologi dari lingkungan mereka secara ilmiah. Untuk itu, setiap
pembelajaran dalam pendidikan sains harus menumbuhkan kualitas pemikiran
semacam kemandirian berpikir, keaslian ide, dan kebebasan berpikir. Hal tersebut
dapat meningkatkan kualitas pemikiran menjadi nilai-nilai sosial.
Dalam praktik pendidikan sains, fisika merupakan salah satu cabang IPA
yang memiliki tujuan agar siswa memiliki kemampuan untuk memahami berbagai
macam gelaja alam, prinsip dan konsep IPA, serta keterkaitannya dengan
lingkungan, teknologi, dan masyarakat.29 Oleh karena itu, pembelajaran fisika di
sekolah harus benar-benar dikelola dengan baik agar tujuan pembelajaran dapat
tercapai. Dalam proses pembelajaran IPA, khususnya fisika, belajar akan lebih
bermakna manakala siswa mengalami apa yang dipelajarinya, bukan
mengetahuinya.30 Pengetahuan yang bermakna tidak cukup hanya melalui transfer
pengetahuan dengan cara mendengarkan ceramah guru dan membaca buku.
Pengetahuan bermakna diperoleh manakala siswa mampu berusaha sendiri untuk
mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya. Jerome
Bruner menyarankan agar siswa-siswa hendaknya belajar melalui berpartisipasi
secara aktif untuk memperoleh pengalaman dalam menemukan prinsip-prinsip.31
Namun, fakta yang ada di masyarakat saat ini adalah sebaliknya. Proses
pembelajaran kurang menitikberatkan pada penalaran dan pengembangan
intelektual siswa. Siswa hanya dituntut untuk menghafalkan serangkaian
formulasi dan mampu mengerjakan soal-soal yang diberikan guru tanpa dibekali
serangkaian pengalaman bagaimana menemukan formulasi tersebut. Kurangnya
pengembangan kemampuan berpikir siswa akan menjadikan siswa hanya sebagai
subjek pembelajar yang cenderung pasif dan kurang memahami esensi dari
pembelajaran fisika itu sendiri, sehingga secara tidak langsung akan menjadikan
fisika hanya dikenal sebagai serangkaian sejarah IPA. Oleh karena itu,
penggunaan pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran yang tepat dan
bervariasi sangatlah diperlukan untuk pembelajaran fisika yang lebih baik.

29
Depdiknas, Kompetensi Supervisi Akademik: Stategi Pembelajaran MIPA (Jakarta:
2008), h. 22
30
Sofan Amri & Iif Khoiru Ahmadi. op.cit., h. 21
31
Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar (Jakarta: Erlangga, 1996), h. 103
29

Sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi permasalah tersebut, model


pembelajaran inkuiri dapat diterapkan untuk meningkatkan peran siswa selama
proses pembelajaran. Model guided inquiry inquiry dianggap sebagai model
inkuiri yang efektif dalam proses pembelajaran.
Dalam model guided inquiry ini guru membimbing siswa melakukan
kegiatan dengan memberi pertanyaan awal dan mengarahkan pada suatu diskusi.
Guru mempunyai peran aktif dalam menentukan permasalahan dan tahap-tahap
pemecahannya. Dengan demikian, metode pembelajaran guided inquiry dapat
digunakan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan
di kelas guna memberikan suatu inovasi dalam proses pembelajaran untuk
mengembangkan kemampuan intelektual dan kerja ilmiah siswa dalam
memperoleh pengetahuan.
Berdasarkan kerangka berpikir diatas, dapat dilihat pada gambar 2.1

Kesulitan siswa dalam


memahami pelajaran fisika

Pembelajaran dengan Model Guided


Discovery – Inquiry Learning

Pemberian Menghubungkan realitas yang Menyikapi


Konsep terjadi dalam kehidupan sehari-hari berbagai situasi
dengan topik pembelajaran

Mempertinggi pencapaian keterampilan


berpikir kritis siswa

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir

C. Hasil Penelitian yang Relevan


Kartini Herlina (2005), dalam penelitiannya yang berjudul “ Pembelajaran
Penemuan Terbimbing untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Fisika
Siswa Kelas II SMP Negeri Bandar Lampung, memberikan kesimpulan bahwa
30

penerapan pembelajaran penemuan terbimbing dapat meningkatkan aktivitas dan


hasil belajar siswa.
Asri Widowati (2007), dalam penelitiannya yang berjudul “Penerapan
Pendekatan Inquiry dalam pembelajaran sains sebagai upaya pengembangan cara
berpikir divergen, kesimpulan penelitian tersebut yaitu pembelajaran sains dengan
menerapkan pendekatan Inquiry memberikan prospek yang cukup baik bagi
pengembangan cara berpikir divergen yang merupakan unsur utama kreativitas
karena memungkinkan siswa untuk belajar aktif, belajar menemukan, belajar
memecahkan masalah, belajar menyelidiki, dan belajar menghayati.
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan oleh Wahyudin, dkk
(2010) dalam “Keefektifan Pembelajaran Berbantuan Multimedia Menggunakan
Metode Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Minat dan Pemahaman Siswa”,
menunjukkan bahwa peningkatan rata-rata hasil belajar pada siklus II cukup
signifikan karena secara individu siswa yang mencapai ketuntasan belajar
meningkat dari 13 siswa menjadi 38 siswa. Pemahaman siswa meningkat dari
60% siswa yang dinyatakan tidak paham pada siklus I menjadi 5% siswa yang
dinyatakan tidak paham untuk siklus II. Hasil analisis tanggapan siswa terhadap
pengajaran diperoleh rata–rata tanggapan siswa sebelum tindakan sebesar 72,90%.
Setelah tindakan, nilai rata–rata tanggapan siswa meningkat menjadi 76,81%.32
Penelitian tindakan kelas yang dilakukan oleh Siti Khoiriyah, yang
berjudul “Penerapan Pendekatan Konstruktivisme Melalui Strategi Inkuiri Pada
Materi Tumbuhan Berbiji Untuk Meningkatkan Keaktivan Siswa di MTs Al-
Asror, Gunung Pati, Semarang”, menunjukkan adanya peningkatan keaktivan dan
hasil belajar siswa dari siklus I-III. Pada siklus I, keaktivan dalam pengamatan
sebesar 29,27%, pada siklus II sebesar 58,67%, dan pada siklus III sebesar
80,49%. Rerata hasil belajar siswa pada siklus I sebesar 50,77 dan ketuntasan
68,29%, pada siklus II, rerata hasil belajar siswa sebesar 70,51 dan ketuntasan

32
Wahyudin, dkk., “Keefektifan Pembelajaran Berbantuan Multimedia Menggunakan
Metode Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Minat dan Pemahaman Siswa”, Jurnal Pendidikan
Fisika Indonesia Vol. 6, No. 1, Januari 2010, diakses dari
http://journal.unnes.ac.id/index.php/JPFI/issue/view/1/showToc pada tanggal 23 Juli 2011.
31

belajarn 87,80%.33
Penelitian Astri Setiawati yang berjudul “Implikasi Pendekatan Inkuiri
Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa SMA Negeri 2 Surakarta Tahun Pelajaran
2009/2010” (Skripsi), menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan
penggunaan pendekatan inkuiri terhadap hasil belajar siswa pada ranah afektif dan
psikomotor, dan metode yang paling efektif untuk diterapkan adalah metode
modified inquiry.34
Hasil reviu Rustaman tentang hasil kegiatan piloting di FMIPA berkenaan
dengan Follow Up Program IMSTEP JICA untuk pembelajaran biologi di SMP
dan SMA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil pengguasaan konsep yang
signifikan antara kelas eksperimen yang melaksanakan pembelajaran biologi
melalui inkuiri dengan yang kelas kontrol. Siswa di kelas eksperimen
menunjukkan penguasaan keterampilan proses yang lebih tinggi. Sementara itu,
hasil evaluasi kegiatan piloting Kimia di SMA menunjukkan bahwa pada konsep-
konsep yang relevan terjadi peningkatan yang berarti dan berbeda secara
signifikan antara siswa yang mengalami pembelajaran dengan model HOTS (High
Order Thinking Skills).35
Penelitian yang dilakukan oleh Kathy Cabe Trundle, et all., dalam “The
Effect of Guided Inquiry-Based Instruction on Middle School Students’
Understanding of Lunar Concepts”, menunjukkan bahwa dengan penerapan
metode guided inquiry, pemahaman konsep siswa meningkat secara signifikan
dibandingkan dengan siswa yang menggunakan metode konvensional (buku teks).
Siswa yang memperoleh pengajaran tata surya dengan metode guided inquiry,
mampu memberikan penjelasan ilmiah secara verbal maupun dengan gambar

33
Siti Khoiriyah, Penerapan Pendekatan Konstruktivisme Melalui Strategi Inkuiri Pada
Materi Tumbuhan Berbiji Untuk Meningkatkan Keaktivan Siswa di MTs Al-asror, Gunung Pati,
Semarang (Skipsi Pendidikan Biologi Universitas Negeri Semarang, 2006)
34
Astri Ismawati, “Implikasi Pendekatan Inkuiri Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa
SMA Negeri 2 Surakarta Tahun Pelajaran 2009/2010” (Skripsi Universitas Sebelas Maret
Surakarta, 2010), diakses dari http://biologi.fkip.uns.ac.id/wp-content/uploads/2010/10/10.015
pada tanggal 23 Juli 2011.
35
Nuryani Y. Rustaman, Perkembangan Penelitian Pembelajaran Berbasis Inkuiri dalam
Pendidikan Sains (Bandung: makalah dipresentasikan dalam Seminar Nasional II Himpunan
Ikatan Sarjana dan Pemerhati Pendidikan IPA Indonesia, 2005), diakses dari
http://www.freewebs.com/santyasa/Lemlit/PDF_Files pada tanggal 20 Januari 2011
32

mengenai fase-fase periode bulan, bumi, dan model matahari.36


Penelitian yang dilakukan oleh Remziye, et all., yang berjudul “The Effect
of Inquiry Based Science Teaching on Elementary School Student’s Science
Process Skills and Science Attitudes”, menunjukkan bahwa penggunaan metode
pembelajaran berbasis inkuiri berpengaruh secara signifikan terhadap aktivitas
dan kemampuan proses sains siswa.37
Penelitian yang dilakukan oleh Ibrahim Bilgin yang berjudul “The Effect
of Guided Inquiry Instruction Incorporating a Cooperative Learning Approach on
University Students’ Achievement of Acid and Bases Concepts and Attitude
toward Guided Inquiry”, menunjukkan bahwa kelas yang diterapkan metode
inkuiri terbimbing dengan pendekatan pembelajaran kooperatif memiliki
pemahaman konsep dan sikap yang lebih baik.38
Penelitian yang dilakukan oleh Abdi Rizak Mohammed, et all., yang
berjudul “Effect of Active Learning Variants on Student Performance and
Learning Perceptions”, menunjukkan bahwa aktivitas dan pemahaman berpikir
tingkat tinggi (high order thinking) siswa mengalami peningkatan sebesar 67%
setelah diterapkan variasi pembelajaran dengan menggunakan metode inkuiri
terbimbing.39
Yusran (2003) mengembangkan dan menerapkan pembelajaran berbasis
inkuiri pada konsep Fluida Tak Bergerak untuk meningkatkan penguasaan konsep
siswa SMA. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan penguasaan
konsep siswa yang terlibat dalam pembelajaran berbasis inkuiri lebih tinggi

36
Kathy Cabe Trundle, et all., “The Effect of Guided Inquiry-Based Instruction on Middle
School Students’ Understanding of Lunar Concepts”, (The Ohio State University: Research
Science Education, 2010), P. 19
37
Remziye, et all., The Effect of Inquiry Based Science Teaching on Elementary School
Student’s Science Process Skills and Science Attitudes (Bulgarian Juornal of Science Education
Policy, Volume 5, Number 1, 2011) diakses dari
http://www.learner.org/workshops/socialstudies/pdf/ pada tanggal 29 November 2011.
38
Ibrahim Bilgin., The Effect of Guided Inquiry Instruction Incorporating a Cooperative
Learning Approach on University Students’ Achievement of Acid and Bases Concepts and Attitude
toward Guided Inquiry (Scientific Research and Essay Vol. 4 (10), pp. 1038-1046, October 2009),
diakses dari http://academicjournals.org/sre pada tanggal 20 Januari 2011.
39
Abdi Rizak Mohammmed, et all., Effect of Active Learning Variants on Student
Performance and Learning Perceptions (International Journal for The Scholarship of Teaching
and Learning, Vol. 2, No. 2, July 2008), diakses dari http://www.georgiasouthern,edu/ijsoti pada
tanggal 20 Januari 2011
33

daripada siswa yang terlibat dalam pembelajaran biasa pada taraf signifikasi 5%,
dengan peningkatan rata-rata kelas eksperimen 21% dan kemas kontrol 13%.40

D. Tinjauan Konsep Tekanan


Dalam penelitian ini, konsep fisika yang akan diteliti adalah salah satu
konsep yang terdapat di kelasVIII semester genap, yaitu konsep tekanan. Berikut
adalah peta konsep tekanan.

GAYA

Berupa Dapat Mengubah Menimbulkan

Tarikan atau Bentuk Gerak


Dorongan pada

Ada yang dijelaskan dengan Zat Padat Zat Cair Zat Gas

Sentuh Tak Sentuh Hukum Newton


h tergolong di

Fluida Ruang Tertutup

mengikuti berlaku

Prinsip Archimedes Prinsip Pascal Hukum Boyle

Gambar 2.2 Peta Konsep Tekanan

E. Perumusan Hipotesis
Berdasarkan kajian teoretis dan kerangka pikir yang telah diuraikan, maka
hipotesis pada penelitian ini adalah “Terdapat Pengaruh Hasil Belajar Fisika
Siswa menggunakan Model Guided Inquiry Pada Konsep Tekanan”.
40
Nuryani Y. Rustaman., Loc. Cit
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap Tahun Ajaran 2013/2014
di SMP Paramarta Unggulan Kota Tangerang Selatan – Banten, tepatnya dimulai
pada tanggal 16 April 2014 sampai dengan 30 April 2014.

B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
eksperimen semu (quasi experiment), yaitu metode penelitian yang mempunyai
kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol
variabel-variabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen. Pemilihan
metode penelitian ini dikarenakan kelas yang dijadikan objek penelitian tidak
memungkinkan pengontrolan secara ketat. Jadi, penelitian harus dilakukan secara
kondisional dengan tetap memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi
validitas hasil penelitian.

C. Desain Penelitian
Penelitian ini termasuk ke dalam jenis penelitian korelasional, yaitu
penelitian yang bertujuan untuk mengetahui kemungkinan adanya hubungan
sebab-akibat berdasarkan pengamatan terhadap akibat yang ada sebagai hasil
perlakuan (treatment) yang berbeda (dalam hal ini model guided inquiry),
kemudian menduga faktor penyebab melalui pengumpulan data tertentu. 1 Desain
penelitian pada penelitian ini menggunakan pretest posttest control group.
Sebelum diberikan perlakuan, pada kedua kelas dilakukan pretest untuk

1
Gempur Santoso, Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif (Jakarta: Prestasi
Pustaka Publisher, 2007), h. 30

34
35

mengetahui sejauh mana kemampuan dasar siswa pada konsep yang bersangkutan
(tekanan). Kemudian, keduanya diberikan perlakuan yang berbeda, yaitu kelas
VIII-U1 diterapkan metode Guided Inquiry, sedangkan kelas VIII-U4 diterapkan
metode ceramah. Setelah diberikan perlakuan, pada kedua kelompok dilakukan
kembali posttest untuk mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap
konsep yang bersangkutan. Desain penelitiannya dapat digambarkan pada Tabel
3.1 berikut ini.
Tabel 3.1 Desain Penelitian
Kelompok Pretest Perlakuan Posttest
A TA OA TA
B TB OB TB

Pada Tabel 3.1 tersebut, XA adalah perlakuan (treatment) berupa


penerapan metode Guided Inquiry pada kelompok A sedangkan XB adalah
perlakuan (treatment) berupa penerapan metode ceramah pada kelompok B.

D. Variabel Penelitian
Penelitian ini bersifat Korelasi karena menentukan hubungan antara model
pembelajaran dengan kemampan berpikiri siswa. Oleh karena itu, variabel X pada
penelitian ini adalah model pembelajaran Guided Inquiry, sedangkan variabel Y
nya adalah hasil belajar fisika siswa.

E. Populasi dan Sampel


Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Paramarta
Unggulan dengan populasi sasarannya adalah seluruh siswa kelas VIII di sekolah
yang sama. Sampel penelitian ini ditentukan dengan teknik simple random
sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang dilakukan secara acak (dalam
hal ini dilakukan pengundian), sehingga semua kelompok mempunyai peluang
36

yang sama untuk dijadikan subjek penelitian.2 Berdasarkan teknik sampling


tersebut, diperoleh bahwa sampel penelitian ini adalah Kelas VIII-U1. Kelas VIII-
U1 ditetapkan sebagai kelompok A yang akan menggunakan model pembelajaran
guided inquiry, sedangkan kelas VIII-U4 ditetapkan sebagai kelompok B yang
akan menggunakan metode pembelajaran ceramah.

F. Teknik Pengumpulan Data


Terdapat dua buah data dalam penelitian ini. Data utama dalam penelitian
ini adalah kemampuan berpikir kritis fisika siswa yang diperoleh dari pelaksanaan
posttest yang berupa tes objektif dalam bentuk essay. Data pretest hanya
digunakan sebagai informasi awal pada kedua kelas yang akan diteliti. Data
pretest digunakan untuk mengetahui apakah kedua kelas tersebut sama atau tidak
dalam hal kemampuan kognitifnya. Data penunjang penelitian adalah data hasil
observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung, yaitu berupa
pedoman observasi aktivitas siswa untuk mengetahui tingkat ketercapaian proses
pembelajaran.

G. Prosedur Penelitian
Prosedur dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

2
W Gulo, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia, 2010),
h.81
37

Hasil observasi

Identifikasi masalah

Menemukan variabel
penelitian

Analisis
konsep

Penyusunan instrumen Penyusunan silabus, LKS, dan


RPP guided inquiry

Uji coba instrumen


Mempersiapkan media
pembelajaran
Analisis data hasil
uji coba instrumen

pretest

Penerapan
Model Guided Inquiry

posttest

Analisis data dan pembahasan

kesimpulan

Gambar 3.1 Prosedur Penelitian


38

H. Instrumen Penelitian
Instrumen utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen tes
berupa tes objektif dalam bentuk pretest dan posttest. Disamping itu, untuk
mendapatkan data penunjang kesimpulan yang diharapkan di akhir penelitian ini,
digunakan instrumen nontes berupa pedoman observasi aktivitas siswa untuk
mengetahui tingkat ketercapaian proses pembelajaran.
1. Instrumen Tes
Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes objektif
berupa soal essay. Pengujian instrumen tes ini harus memenuhi empat kriteria,
yaitu validitas, reliabilitas, taraf kesukaran, dan daya pembeda. Untuk mengetahui
pemenuhan keempat kriteria tersebut, maka instrumen yang digunakan dalam
penelitian ini harus melalui pengujian. Berikut ini adalah pengujian yang perlu
dilakukan berkaitan dengan kriteria yang harus dipenuhi oleh instrumen
penelitian.
a. Uji Validitas
Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan suatu instrumen.3 Suatu instrumen dikatakan valid apabila dapat
mengukur apa yang hendak diukur. Hal itu seperti yang dinyatakan oleh Anderson
seperti yang dikutip oleh Arikunto yang menyatakan bahwa, “a test is valid if it
measures what a purpose to measure” 4, dan dapat mengungkap data dari
variabel yang diteliti secara tepat
Pengujian validitas instrumen tes ini merupakan pengujian validitas setiap
butir soal tes. Pengujian validitas setiap butir soal dapat dihitung dengan
menggunakan teknik analisis point biserial yang dinyatakan dalam persamaan
berikut ini.5

3
Nuraida, Halid Alkaf, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Ciputat: Islamic Research
Publishing, 2009), h. 114
4
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2010), h.65
5
Anas Sudjiono, Pengantar Statistik Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000),
hal. 258.
39

dengan: rp.bis = indeks point biserial


Mp = Mean (rata-rata) skor yang dijawab betul oleh testee
(peserta tes) pada butir soal yang sedang dicari
korelasinya dengan tes secara keseluruhan.
Mt = Mean (rata-rata) skor yang dijawab salah oleh testee
(peserta tes) pada butir soal yang sedang dicari
korelasinya dengan tes secara keseluruhan.
SDt = Standar deviasi skor total.
p = proporsi testee yang menjawab betul terhadap butir
soal yang sedang diuji validitasnya.
q = proporsi testee yang menjawab salah terhadap butir
soal yang sedang diuji validitasnya.

Berdasarkan hasil uji coba instrumen, diperoleh 6 soal yang valid dari 10
soal yang diuji cobakan. Pemilihan soal ini didasarkan pada keterwakilan semua
indikator materi pembelajaran dengan perhitungan menggunakan ANATES.
Kisi-kisi instrumen dalam penelitian ini ditunjukkan pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen
Indikator
Jumlah
Pembelaja Indikator Pembelajaran Aspek Berpikir Kritis
Soal
ran
1 2 3 4 5
Menemuka Menjelaskan pengertian
1 - - - - 1
n tekanan.
hubungan Menyelidiki kaitan antara luas
antara permukaan benda dengan - - - 6 - 1
gaya, tekanan.
tekanan Menghitung besarnya tekanan
- - - - 3 1
dan luas yang diberikan suatu benda.
daerah Menentukan tekanan zat cair. - 4 - - - 1
40

yang Menyebutkan bunyi hukum


dikenai Pascal dan menjelaskan prinsip - - 5 - - 1
gaya mesin penghasil gaya hidrolik.
melalui Menyelidiki dan menentukan
percobaan prinsip hukum Archimedes
- - - - 2 1
serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
Jumlah Soal 1 1 1 1 2 6
16,7 16,7 16,7 16,7 33,3
Persentase Soal 100%
% % % % %

b. Reliabilitas
Reliabilitas adalah kestabilan skor yang diperoleh orang yang sama ketika
diuji ulang dengan tes yang sama pada situasi yang berbeda atau dari satu
pengukuran ke pengukuran lainnya. Reliabilitas instrumen uji coba hasil belajar
dihitung dengan rumus KR-20, yaitu:

( )( )

dengan: = koefisien reliabilitas internal seluruh item.


p = proporsi subjek yang menjawab item dengan benar
q = proporsi subjek yang menjawab item salah (q = 1 – p)
Σpq = jumlah hasil perkalian p dan q
k = banyaknya item
s = standar deviasi dari tes

Adapun kriteria reliabilitas menurut Gilford seperti yang dikutip oleh


Yanti Herlanti adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3 Kriteria Reliabilitas
Koefisien Korelasi Kriteria Reliabilitas
0,91 - 1,00 Sangat Tinggi
0,71 - 0,90 Tinggi
0,41 - 0,70 Sedang
41

0,21 - 0,40 Rendah


0,00 - 0,20 Kecil

Berdasarkan perhitungan menggunakan ANATES diperoleh bahwa nilai


reliabilitas instrumen tes ini adalah 0,72. Nilai ini termasuk kategori tinggi. Oleh
karena itu, dapat disimpulkan bahwa instrumen ini layak untuk digunakan dalam
penelitian.

c. Taraf Kesukaran
Tes yang baik adalah tes yang mempunyai taraf kesukaran tertentu sesuai
dengan karakteristik peserta tes. Taraf kesukaran suatu tes dapat dicari dengan
menggunakan rumus berikut ini.

dengan:
P = derajat kesukaran (degrees of difficulty)
B = bayaknya siswa yang menjawab soal itu dengan betul
JS = jumlah seluruh siswa seluruh tes.

Penentuan kriteria derajat kesukaran didasarkan pada ketentuan berikut


ini:
Tabel 3.4 Kriteria Derajat Kesukaran
Rentang Nilai Kategori
0,00 – 0,25 Sukar
0,26 – 0,75 Sedang
0,76 – 1,00 Mudah

Berikut kriteria tingkat kesukaran butir soal berdasarkan hasil analisis pada
10 soal yang diujicobakan.
42

Tabel 3.5 Hasil Analisis Tingkat Kesukaran Butir Soal


Kriteria No. Soal Jumlah
Mudah 4,5,7,9 4
Sedang 1,2,3,8,10 5
Sukar 6 1
Jumlah 10
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa terdapat 4 soal mudah, 5 soal sedang,
dan 1 soal sukar.

d. Daya Pembeda
Daya pembeda merupakan kemampuan suatu tes untuk membedakan
antara siswa yang berkemampuan tinggi dengan siswa yang berkemampuan
rendah. Untuk menentukan daya pembeda digunakan rumus:

dengan: D = daya pembeda (discriminating power)


BA = jumlah yang menjawab benar pada kelompok atas
BB = jumlah yang menjawab benar pada kelompok bawah
JA = banyaknya siswa kelompok atas
JB = banyaknya siswa kelompok bawah

Berikut ini adalah cara yang dapat digunakan dalam penentuan kelompok
atas dan kelompok bawah.
a. Menyusun lembar jawaban tes sesuai dengan urutan nilai dari yang terbesar
(disimpan paling atas) sampai yang terkecil (disimpan paling bawah).
b. Mengambil 27 % dari atas susunan lembar jawaban, jumlah ini akan menjadi
kelompok atas.
c. Mengambil 27 % dari bawah susunan lembar jawaban, jumlah ini akan menjadi
kelompok bawah.
43

d. Sisanya yakni bagian yang 46 % disisihkan, karena tidak perlu diikutkan dalam
analisis.

Penentuan kriteria daya beda soal didasarkan pada ketentuan berikut ini.
Tabel 3.6 Kategori Daya Beda
Rentang Nilai DB Kategori
< 0,00 drop
0,00 ≤ DB < 0,20 buruk
0,20 ≤ DB < 0,40 cukup
0,40 ≤ DB < 0,70 baik
0,70 ≤ DB ≤ 1,00 baik sekali

Berikut kriteria daya pembeda berdasarkan hasil analisis pada 40 soal yang
diujicobakan.

Tabel 3.7 Hasil Analisis Daya Pembeda Butir Soal

Kriteria No. Soal Jumlah


Drop 6 1
Buruk 4,7, 2
Cukup 3,9,10 3
Baik 1,2,5,8 4
Baik Sekali - -
Jumlah 10

Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa terdapat 2 soal yang memiliki


daya pembeda buruk, 3 soal dalam kategori cukup, dan 4 soal dalam kategori
baik.
44

I. Teknik Analisis Data


Terdapat pula dua buah teknik analisis data dalam penelitian ini, yaitu
teknik analisis data instrumen tes dan nontes. Data yang dihasilkan dari instrumen
tes akan dianalisis kenormalan dan kehomogenannya terlebih dahulu sebagai
prasyarat sebelum dilakukan pengujian hipotesis. Data yang dihasilkan dari hasil
pedoman observasi dan penilaian kinerja akan dianalisis secara deskriptif untuk
mengukur kualitas pembelajaran selama diberi perlakuan berupa penerapan
metode Guided Inquiry pada kelompok eksperimen.
1. Teknik Analisis Data Instrumen Tes
Teknik analisis data instrumen tes ini meliputi uji prasyarat hipotesis dan
pengujian hipotesis, yaitu sebagai berikut:
a. Uji Prasyarat Hipotesis
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, perlu dilakukan uji prasyarat
hipotesis, yaitu uji normalitas dan uji homogenitas.

1) Uji Normalitas
Uji normalitas seperti yang disyaratkan oleh uji t yang digunakan dalam
penelitian ini menggunakan rumus chi square (uji kai kuadrat), yaitu:6
( )

Simbol Oi pada persamaan tersebut menunjukkan frekuensi observasi


sedangkan simbol Ei menunjukkan frekuensi ekspektasi (harapan). Kriteria
pengujian nilai kai kuadrat adalah sebagai berikut.
a. jika X2hitung ≤ X2tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak (data terdistribusi
normal).
b. jika X2hitung X2tabel,, maka Hoditerima dan Ha ditolak (data tidak terdistribusi
normal).

6
Ibid., h. 298
45

2) Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kesamaan antara dua
keadaan atau populasi. Uji homogenitas dilakukan dengan melihat keadaan
kehomogenan populasi. Sedangkan uji homogenitas varians yang digunakan
adalah uji F, yaitu:

( )

Maksud dari setiap simbol pada persamaan uji F tersebut dijelaskan


sebagai berikut ini.
V1 = varians besar
V2 = varians kecil
S1 = deviasi standar data varians besar
S2 = deviasi standar data varians kecil

Kriteria pengujian uji F adalah sebagai berikut.


a. jika Fhitung < Ftabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak (data memiliki varians
homogen).
b. jika Fhitung > Ftabel,, maka Hoditerima dan Ha ditolak (data tidak memiliki
varians homogen)

b. Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan
uji-t, karena Penelitian ini bersifat aplikatif, yaitu menerapkan kemampuan
berpikir kritis fisika yang menggunakan metode guided inquiry. Uji t adalah tes
statistik yang dapat dipakai untuk menguji perbedaan atau kesamaan dua kondisi
atau perlakuan pada dua kelompok yang berbeda dengan prinsip membandingkan
rata-rata (mean) kedua kelompok atau perlakukan itu. Berikut adalah langkah-
langkah dalam uji-t:7

7
Ibid., h. 225-226
46

1.) Menentukan rata-rata (mean)


2.) Mencari standar deviasi

∑ ∑
√ ( )

3.) Mencari Standar Error mean


4.) Mencari dengan rumus:


dengan:
= rata-rata data
SD = standar deviasi

J. Hipotesis Statistik
Berikut adalah hipotesis statistik pada penelitian ini:
Ho : =
Ha :

Dimana :
Ho = hipotesis nol
Ha = hipotesis alternatif
= nilai rata-rata hasil belajar fisika siswa dengan model Guided Inquiry.
= nilai rata-rata hasil belajar fisika siswa dengan model direct instruction.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
1. Hasil Pretest Penerapan A (Guided Inquiry)dan Kelompok B
(Konvensional)
Berdasarkan analisis hasil pretest pada kelompok A (kelas VIII-U1) dan
kelompok B (kelas VIII-U4), diperoleh ukuran pemusatan dan penyebaran data
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol yang ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 4.1 Pemusatan dan Penyebaran Data Pretest Kelompok A dan B
Pemusatan dan Kelompok A Kelompok B
No.
Penyebaran Data (Guided Inquiry) (Konvensional)
1. Skor maksimum 58 67
2. Skor minimum 25 25
3. Rata-rata (Mean, X ) 32,60 44,33
4. Median (Median, Me) 26,30 42,00
5. Modus (Mode, Mo) 39,50 40,60
Deviasi Standar
6. 8,75 13,88
(Standar Deviation, S)
Berdasarkan tabel di atas, diketahui bahwa skor maksimum yang
diperoleh kelompok A adalah sebesar 58, sedangkan kelompok B adalah 67. Skor
minimun yang diperoleh kelompok A dan B sama,yaitu sebesar 25. Rata-rata
(mean) pada kelompok A adalah sebesar 32,60, sedangkan kelompok B adalah
44,33. Nilai tengah (median) pada kelompok A adalah 26,30, sedangkan
kelompok B adalah 42,00. Nilai yang paling banyak muncul atau modus (mode)
pada kelompok A adalah sebesar 39,50, sedangkan pada kelompok B adalah
40,60. Standar deviasi pada kelompok A adalah 8,75, sedangkan kelompok B
adalah 13,88.

47
48

2. Hasil posttest Penerapan Guided Inquiry (Kelompok A)


Berdasarkan analisis hasil posttest pada kelompok A (kelas VIII-U1) dan
kelompok B (kelas VIII-U4), diperoleh ukuran pemusatan dan penyebaran data
pada kelas eksperimen dan kelas kontrol yang ditunjukkan pada tabel berikut.
Tabel 4.2 Pemusatan dan Penyebaran Data Posttest Kelompok A dan B
Pemusatan dan Kelompok A Kelompok B
No.
Penyebaran Data (Guided Inquiry) (Modified Inquiry)
1. Skor maksimum 88 83
2. Skor minimum 71 67
3. Rata-rata (Mean, X ) 75,56 73,11
4. Median (Median, Me) 75,45 72,67
5. Modus (Mode, Mo) 74,76 73,80
Deviasi Standar
6. 4,53 4,11
(Standar Deviation, S)

Berdasarkan Tabel 4.2, diketahui bahwa skor maksimum yang diperoleh


kelompok A adalah sebesar 88, sedangkan kelompok B adalah 83. Skor minimun
yang diperoleh kelompok A adalah sebesar 71, sedangkan kelompok B adalah 67.
Rata-rata (mean) pada kelompok A adalah sebesar 75,56, sedangkan kelompok B
adalah 73,11. Nilai tengah (median) pada kelompok A adalah 75,45, sedangkan
kelompok B adalah 72,67. Nilai yang paling banyak muncul atau modus (mode)
pada kelompok A adalah sebesar 74,76, sedangkan nilai yang paling banyak
muncul pada kelompok B adalah sebesar 73,80. Standar deviasi pada kelompok A
adalah 4,53, sedangkan kelompok B adalah 4,11.

3. Rekapitulasi Data Hasil Pretest dan Posttest


Berikut ini adalah tabel rekapitulasi data yang diperoleh selama penelitian
berlangsung.
49

Tabel 4.3 Tabel Rekapitulasi Data Hasil Pretest dan Posttest


Kelompok A Kelompok B
Data
(Guided Inquiry) (Konvensional)
Skor maksimum 58 67
Skor minimum 25 25
Rata-rata (mean) 32,60 44,33
Pretest
Nilai tengah (median) 26,30 42,00
Modus (mode) 39,50 40,60
Standar Deviasi (SD) 8,75 13,88
Skor maksimum 88 83
Skor minimum 71 67
Rata-rata (mean) 75,56 73,11
Posttest
Nilai tengah (median) 75,45 72,67
Modus (mode) 74,76 73,80
Standar Deviasi (SD) 4,53 4,11
Tabel 4.3 menunjukkan rekapitulasi data hasil pretest dan posttest pada
kedua kelompok eksperimen yang diperoleh selama penelitian. Untuk data hasil
pretest, skor maksimum pada kelompok A (Guided Inquiry) adalah 58, skor
minimum sebesar 25, rata-rata kelas (mean) sebesar 32,60, Nilai tengah (median)
sebesar 26,30, Modus (mode) sebesar 39,50, dan standar deviasi sebesar 8,75.
Sedangkan pada kelompok B (Konvensional), skor maksimum yang diperoleh
siswa adalah sebesar 67, skor minimum sebesar 25, rata-rata kelas (mean) sebesar
44,33, Nilai tengah (median) sebesar 42,00, Modus (mode) sebesar 40,60, dan
standar deviasi sebesar 13,88. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sampel
pada kelompok A memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah dibandingkan
kelompok B, sehingga kelompok kelas tersebut (VIII-U1) dapat dijadikan sampel
untuk menggunakan model pembelajaran yang berbeda.1
Untuk data hasil posttest, skor maksimum pada kelompok A (Guided
Inquiry) adalah 88, skor minimum sebesar 71, rata-rata kelas (mean) sebesar
75,56, Nilai tengah (median) sebesar 75,45, Modus (mode) sebesar 74,76, dan
standar deviasi sebesar 4,53. Sedangkan pada kelompok B (Konvensional), skor
maksimum yang diperoleh siswa adalah sebesar 83, skor minimum sebesar 67,

1
Dalam hal ini metode guided dan modified inquiry
50

rata-rata kelas (mean) sebesar 73,11, Nilai tengah (median) sebesar 72,67, Modus
(mode) sebesar 73,78, dan standar deviasi sebesar 4,11.

4. Analisis Data Tes


Berdasarkan pengajuan hipotesis penelitian, analisis data hanya dilakukan
pada nilai hasil posttest yang diperoleh dari kelompok eksperimen, hal ini sesuai
dengan tujuan penelitian, yaitu menganalisis pengaruh hasil belajar fisika siswa
dengan model pembelajaran yang diterapkan adalah guided inquiry. Berikut
adalah analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini.
a. Uji Prasyarat Hipotesis
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, terlebih dahulu harus dilakukan
uji prasyarat hipotesis yang berupa uji normalitas dan uji homogenitas data.
Berikut adalah uji prasyarat yang dilakukan dalam penelitian ini.
1.) Uji Normalitas Data Posttest Kelompok A dan B
Dalam penelitian ini, uji normalitas diperoleh dengan menggunakan uji
variabel internal atau ratio. Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah
data berdistribusi normal atau tidak, dengan ketentuan bahwa data berdistribusi
normal bila memenuhi kriteria –ttabel ≤ thitung ≤ +ttabel diukur pada taraf
signifikansi dan tingkat kepercayaan tertentu.
Perhitungan lengkap uji normalitas data dapat dilihat pada lampiran C.2.
Berikut adalah rekapitulasi hasil pengujian normalitas data pada kelompok
eksperimen.
Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Pengujian Normalitas Data Kelompok A dan B
Data hasil posttest
Statistik Kelompok A Kelompok B
(Guided Inquiry) (Konvensional)
N 27 27
̅ 75,56 78311
SD 4,53 4,11
t hitung 4,2858 12,7251
t tabel 15,086
Kesimpulan Data terdistribusi normal
51

Dari tabel di atas, terlihat bahwa data terdistribusi normal dengan nilai
pada kelompok A (Guided Inquir) adalah sebesar 4,2858 dan pada
kelompok B (Konvensional) adalah sebesar 12,7251.

2.) Uji Homogenitas Data Posttest Kelompok A dan B


Setelah kelompok sampel penelitian tersebut dinyatakan berdistribusi
normal, selanjutnya di cari nilai homogenitasnya. Dalam penelitian ini, pengujian
homogenitas terhadap data dilakukan dengan menggunakan Uji F (Fisher).
Kelompok dinyatakan homogen apabila Fhitung ≤ Ftabel.
Perhitungan lengkap uji homogenitas data dapat dilihat pada lampiran C.3.
Berikut adalah rekapitulasi hasil pengujian homogenitas data pada kelompok
eksperimen.
Tabel 4.5 Rekapitulasi Hasil Pengujian Homogenitas Data Posttest
Kelompok A dan B
Data hasil posttest
Statistik Kelompok A Kelompok B
(Guided Inquiry) (Konvensional)
N 27 27
̅ 75,29 78,29
4,50 4,26
1,11
1,93
Kesimpulan Homogen

Dari tabel di atas, terlihat bahwa kelompok A dan B memiliki varians yang
homogen pada taraf signifikasi 5% ( ) dan derajat kebebasan dengan
nilai sebesar 1,11, sehingga dapat disimpulkan bahwa kelas sampel
penelitian berasal dari populasi yang homogen karena memenuhi kriteria
<
52

b. Pengujian Hipotesis
Berdasarkan uji prasyarat analisis statistik, diperoleh bahwa data
berdistribusi normal dan homogen. Oleh karena itu, pengujian hipotesis dapat
dilakukan dengan menggunakan rumus Uji t. Untuk menentukan nilai thitung
digunakan rumus berikut ini.

=

dengan:
= rata-rata data
SD = standar deviasi

Berikut adalah kriteria penentuan keputusan uji t.


i) jika thitung < ttabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak
ii) jika thitung > ttabel maka Ha diterima dan Ho ditolak.

Perhitungan lengkap hasil pengujian hipotesis data posttest kelompok


dapat dilihat pada lampiran C.4. Berdasarkan perhitungan tersebut, diperoleh nilai
thitung sebesar 4,333, sedangkan nilai ttabel pada taraf signifikansi 5% adalah 2,01.
Berikut adalah tabel pengujian hipotesis pada penelitian ini.
Tabel 4.6 Pengujian Hipotesis Penelitian

4,333 2,01
Kesimpulan : ≥
Ha diterima

Dari tabel pengujian hipotesis terlihat bahwa


pada taraf signifikasi 5%. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa “Terdapat pengaruh model Guided Inquiry terhadap hasil belajar fisika
siswa pada konsep tekanan”.
53

B. Pembahasan

Hasil pengujian hipotesis menyatakan bahwa terdapat perbedaan rerata


hasil belajar fisika pada kelompok A (guided inquiry) dengan kelompok B
(konvensional). Kelompok A memiliki rerata kelas sebesar 75,56, sedangkan
kelompok B sebesar 73,11. Hal tersebut menunjukkan bahwa rerata kelas
kelompok A lebih besar daripada kelompok B. Perbedaan tersebut signifikan
dilihat dari perolehan nilai thitung yang lebih besar dari ttabel pada taraf signifikansi
5% (4,333 > 2,01).
Guided inquiry dianggap sebagai model pembelajaran yang memiliki
karakteristik tertentu. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Sun and
Trowbridge (1973) yang dikutip oleh E. Mulyasa yang menyatakan bahwa
perbedaan mendasar dari metode guided inquiry dari model inquiry lainnya adalah
terletak pada kuantitas peran guru sebagai pembimbing.2 Pada model
pembelajaran guided inquiry, siswa menemukan jawaban terhadap suatu masalah
dibawah bimbingan intensif guru.3 Guru memberikan bimbingan yang cukup luas
kepada siswa dalam melakukan percobaan, menolong siswa untuk dapat
mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan berpikir dengan
memberikan pertanyaan-pertanyaan, dan membantu siswa untuk mendapatkan
jawaban atas dasar rasa keingintahuan mereka.4 Hal ini yang diduga menjadi salah
satu penyebab bahwa hasil uji hipotesis menyatakan bahwa rerata hasil belajar
fisika siswa mengalami peningkatan yang signifikan pada kelas eksperimen (VIII-
U1).
Model guided inquiry memiliki keunggulan tertentu dibandingkan dengan
model inquiry lainnya. Salah satu diantaranya adalah dalam hal mendorong siswa

2
E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, (Bandung:PT Remaja Rosdakarya, 2009), hal. 109
3
Sofan Amri & Iif Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam
Kelas, (Jakarta: Pustaka Publisher, 2010), hal. 89
4
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta:
Kencana, 2009), hal. 195
54

untuk berpikir inisiatif dan merumuskan hipotesisnya.5 Dalam pembelajaran


dengan model guided inquiry, siswa diberi dorongan untuk berpikir intuitif dan
merumuskan hipotesisnya sendiri. Guru berperan dalam memberikan bantuan
yang dibutuhkan untuk memastikan bahwa siswa melakukan penyelidikan dengan
tidak ada rasa putus asa atau mengalami kegagalan. Guru memberikan bantuan
dalam bentuk pertanyaan, pertanyaan, bimbingan, petujuk yang cukup serta
menyediakan sumber belajar yang dapat membantu siswa untuk memikirkan
hipotesis dan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan. Pertanyaan tersebut
diberikan sebagai stimulan bagi siswa untuk dapat memecahkan permasalahan
dalam penelitian.
Dalam penelitian ini, model guided inquiry memperlihatkan hasil yang
lebih baik, sehingga lebih baik untuk diterapkan. Dengan model guided inquiry,
guru dapat menciptakan kondisi pembelajaran yang bervariasi dan terencana
untuk memudahkan dalam mengarahkan dan membimbing siswa ke arah
pencapaian tujuan pembelajaran. Berdasarkan hasil penemuan tersebut, peneliti
menyatakan bahwa model pembelajaran guided inquiry dapat digunakan sebagai
salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas untuk
meningkatkan hasil belajar siswa, sehingga proses pembelajaran menjadi
bermakna, bukan hanya sekedar transfer pengetahuan.

5
Moh. Amien, Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam Dengan Menggunakan Metode
Discovery dan Inquiry, (Jakarta:DepartemenPendidikan dan Kebudayaan,1987), hal. 133
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat diambil kesimpulan
bahwa terdapat pengaruh hasil belajar fisika siswa menggunakan model
pembelajaran guided inquiry. Hasil tersebut diperoleh dari interpretasi nilai thitung
dengan ttabel yang menunjukkan bahwa thitung (4,333) lebih besar dari ttabel (2,01).
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa model pembelajaran yang tepat untuk
meningkatkan hasil belajar fisika siswa adalah model guided inquiry. Hal tersebut
terlihat dari rerata skor posttest dan pengamatan pada tingkat ketercapaian proses
pembelajaran (aktivitas siswa). Kelas yang diterapkan model guided inquiry
memiliki rerata skor posttest sebesar 75,56, sedangkan rerata skor pretest hanya
sebesar 73,11.

B. Saran
Terkait dengan perbaikan proses pembelajaran kedepannya, saran peneliti
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Model pembelajaran inkuiri merupakan metode pembelajaran aktif di sekolah
yang mampu mengaktifkan siswa dalam keterlibatannya dalam proses
pembelajaran. Oleh karena itu, model pembelajaran inkuiri sangat dianjurkan
untuk diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah, khususnya
pembelajaran sains.
2. Sebelum siswa melakukan percobaan, sosisalisasi tata tertib dan pengenalan
peralatan laboratorium serta cara penggunaannya perlu dilakukan guna
keamanan dan keselamatan di laboratorium, serta mendisiplinkan siswa.
Dalam hal ini, diharapkan intensitas kunjungan siswa ke laboratorium
ditingkatkannkarena pada dasarnya siswa senang dan terdorong motivasi
belajarnya ketika mereka belajar di laboratorium.

55
56

3. Pembagian waktu untuk tiap tahap pembelajaran harus benar-benar


diperhatikan karena metode inkuiri membutuhkan kecermatan guru dalam
memperhitungkan dan memprediksi aktivitas siswa selama proses
pembelajaran berlangsung.
DAFTAR PUSAKA

Abdi Rizak Mohammmed, et all. Effect of Active Learning Variants on Student


Performance and Learning Perceptions (International Journal for The
Scholarship of Teaching and Learning, Vol. 2, No. 2, July 2008), diakses
dari http://www.georgiasouthern,edu/ijsoti pada tanggal 20 Januari 2011
Ahmad Sofyan, dkk. Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi. Jakarta:
Lembaga Penelitian UIN Jakarta. 2006
Arikunto, Suharsimi. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi Cet. I.
Jakarta: Bumi Aksara.2010
Bilgin, Ibrahim. The Effect of Guided Inquiry Instruction Incorporating a
Cooperative Learning Approach on University Students’ Achievement of
Acid and Bases Concepts and Attitude toward Guided Inquiry (Scientific
Research and Essay Vol. 4 (10), pp. 1038-1046, October 2009), diakses
dari http://academicjournals.org/sre pada tanggal 20 Januari 2011
Bruce Joyce, et all, Models Of Teaching. United State of America: A Pearson
Education Academy, 2000.
Dahar, Ratna Wilis. 1996. Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga
David Hanson & Richard S. Moog, Process Oriented Guided Inquiry Learning,
diakses dari http://cetl.matcmadison.edu/efgb/3/3_3_3.htm pada tanggal
05 November 2011
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Model-model Pembelajaran IPA.
Bandung; Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Pusat
Pengembangan Penataran Guru IPA. 2000
Depdiknas. Kompetensi Supervisi Akademik: Stategi Pembelajaran MIPA.
Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan dan Kebudayaan. 2005
Dimyati & Mujiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta. 2009
Dwiyogo, Wasis. Pembelajaran Visioner, diakses dari
http://ajte.education.ecu.edu.au/ISSUES/PDF/211/Westwood.pdf pada
tanggal 10 November 2010

57
58

Gulo, W. Metodologi Penelitian. Jakarta : Gramedia. 2010


Herlanti, Yanti. Tanya Jawab Seputar Penelitian Pendidikan Sains. Jakarta:
Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2008
Ismawati, Astri. Implikasi Pendekatan Inkuiri Terhadap Hasil Belajar Biologi
Siswa SMA Negeri 2 Surakarta Tahun Pelajaran 2009/2010 (Skripsi
Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2010), diakses dari
http://biologi.fkip.uns.ac.id/wp-content/uploads/2010/10/10.015 pada
tanggal 23 Juli 2011
Kathy Cabe Trundle, et all. The Effect of Guided Inquiry-Based Instruction on
Middle School Students’ Understanding of Lunar Concepts. The Ohio
State University: Research Science Education. 2010
Khoiriyah, Siti. Penerapan Pendekatan Konstruktivisme Melalui Strategi Inkuiri
Pada Materi Tumbuhan Berbiji Untuk Meningkatkan Keaktivan Siswa di
MTs Al-asror, Gunung Pati, Semarang (Skipsi Pendidikan Biologi
Universitas Negeri Semarang, 2006
Meador, Greanger. Inquiry Physics: A modified Learning Cycle Curriculum.
Bartlesville High School, 2010), p. 6, diakses dari
http://inquiryphysics.org pada tanggal 29 November 2011
Moh. Amien, Mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dengan Menggunakan
Metode “Discovery” dan Inquiry”. Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. 1987
Mulhayatiah, Diah. Hubungan Peningkatan Hasil Belajar Siswa Ranah Kognitif
dengan Ranah Psikomotorik Melalui Model Pembelajaran Berbasis
Laboratorium (Jakarta: Jurnal Edu Sains Center for Science Education
Jurusan Pendidikan IPA, vol.3 No.1 Juni 2010
Mulyasa, E. Menjadi Guru Profesional: Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya. 2009
National Research Council, Inquiry and the National Science Education
Standard: A Guide for Teaching and Learning. Washington D. C:
National Academy Press. 2000
59

National Science Foundation, Science as Inquiry (BSCS Center for Professional


Development, 2010), p. 23, diakses dari http://science.education.nih.gov
pada tanggal 29 November 2011
Nuraida, Halid Alkaf. Metodologi Penelitian Pendidikan. Ciputat : Islamic
Research Publishing. 2009
Remziye, et all. The Effect of Inquiry Based Science Teaching on Elementary
School Student’s Science Process Skills and Science Attitudes (Bulgarian
Juornal of Science Education Policy, Volume 5, Number 1, 2011) diakses
dari http://www.learner.org/workshops/socialstudies/pdf/ pada tanggal 29
November 2011
Rustaman, Nuryani Y. Perkembangan Penelitian Pembelajaran Inkuiri Dalam
Pendidikan Sains: Makalah Seminar Nasional II Himpunan Ikatan
Sarjana dan Pemerhati IPA Indonesia FPMIPA Universitas Pendidikan
Indonesia, 2005.
Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana Prenada Media Group. 2008
Santoso, Gempur. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif . Jakarta:
Prestasi Pustaka Publisher. 2007
Slameto. Belajar dan faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta. 2010
Sofan Amri & Iif Khoiru Ahmadi. Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif
dalam Kelas. Jakarta: Prestasi Pustaka. 2010
Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya. 2009
Sudrajat, Akhmad. Metode Pembelajaran Inkuiri, diakses dari
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2011/09/12/pembelajaran-inkuiri
pada tanggal 03 April 2010
Sudijono, Anas. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
2000
Supartin. Studi Deskriptif Hasil Belajar Fisika. Jurnal Penelitian Pendidikan
Universitas Negeri Semarang. 2006
60

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung:


Remaja Rosdakarya. 1997
Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group. 2009
Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group. 2009
Wahyudin, dkk.Keefektifan Pembelajaran Berbantuan Multimedia Menggunakan
Metode Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Minat dan Pemahaman
Siswa. Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia Vol. 6, No. 1, Januari 2010,
diakses dari
http://journal.unnes.ac.id/index.php/JPFI/issue/view/1/showToc pada
tanggal 23 Juli 2011
Widowati, Asri. Peningkatan Kemampuan Divergent Thinking dengan
Menerapkan Pendekatan Modified Inquiry dalam Pembelajaran Sains
(Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Nomor 1, Tahun XI, 2008),
h. 116, diakses dari
http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/11108112120.pdf pada tanggal 29
November 2011
Zulfiani, dkk. Strategi Pembelajaran Sains. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN
Syarif Hidayatullah. 2009
Lampiran A.1 61

SILABUS IPA

Sekolah : SMP Paramarta Unggulan


Kelas : VIII
Mata Pelajaran : IPA
Semester : 2 (dua)

Standar Kompetensi : 5. Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam kehidupan sehari-hari

Materi Penilaian
Kompetensi Alokasi Sumber
Dasar Pokok/ Kegiatan Pembelajaran Indikator
Teknik Bentuk Contoh Waktu Belajar
Pembelajaran
Instrumen Instrumen
Gaya  Memetakan gaya-gaya  Melukiskan penjumlahan Tes tulis Tes uraian Bila A memiliki gaya 10 N 4 x 40‟ Buku siswa,
5.1 Mengidentifik
yang ada pada suatu gaya dan selisih gaya- dan B 20 N yang arahnya neraca
asi jenis-jenis
benda gaya segaris baik yang sama, Hitung resultan lengan dan
gaya,
penjumlahan  Menentukan jenis-jenis searah maupun gayanya ? neraca
gaya yang bekerja pada berlawanan. pegas, LKS
gaya dan
pengaruhnya suatu benda  Membedakan besar gaya
pada suatu  Menghitung resultan gesekan pada berbagai Tes unjuk Uji petik
gaya segaris yang permukaan yang berbeda kerja kerja produk Lakukan percobaan tentang
benda yang
searah kekasarannya yaitu pada gaya gesek pada
dikenai gaya
 Menghitung resultan permukaan benda yang permukaan licin dan
gaya segaris yang licin, agak kasar, dan permukaan kasar lalu
berlawanan arah kasar bandingkan hasil dari kedua
 Melakukan percobaan  Menunjukkan beberapa percobaan tsb.
gaya gesek pada contoh adanya gaya
62

Materi Penilaian
Kompetensi Alokasi Sumber
Dasar Pokok/ Kegiatan Pembelajaran Indikator
Teknik Bentuk Contoh Waktu Belajar
Pembelajaran
Instrumen Instrumen
permukaan yang kasar gesekan yang Tes tulis Tes isian Sebutkan contoh gaya
dan licin menguntungkan dan gesek yang menguntungkan
 Merumuskan adanya gaya gesekan yang dan yang merugikan dalam
gaya gesek yang merugikan kehidupan sehari-hari.
menguntungkan dan  Membandingkan berat
merugikan dalam dan massa suatu benda
kehidupan sehari-hari Tes tulis Tes uraian Apakah perbedaan berat
Mencari perbedaan berat dan massa suatu benda?
dan masa menggunakan
alat

5.2 Menerapkan
Hukum  Melakukan percobaan  Mendemonstrasikan hukum I Tes unjuk Uji petik Lakukan percobaan tentang 4x40‟ Buku siswa,
hukum
Newton hukum I, II, III Newton Newton secara sederhana kerja kerja Hukum I Newton LKS, buku
dengan menggunakan dan penerapannya dalam prosedur referensi
Newton untuk
alat-alat. kehidupan sehari-hari
menjelaskan
berbagai  Mendemonstrasikan hukum
 Mengaplikasikan hukum
peristiwa
newton dalam
II Newton dan Tes unjuk Lakukan percobaan tentang
dalam
kehidupan sehari-hari penerapannya dalam kerja Uji petik hukum II Newton.
kehidupan kehidupan sehari-hari kerja
sehari-hari  Mendemonstrasikan hukum prosedur
III Newton dan Tes tulis Berikan contoh penerapan
penerapannya dalam hukum Newton dalam
kehidupan sehari-hari Tes uraian kehidupan sehari-hari
63

Materi Penilaian
Kompetensi Alokasi Sumber
Dasar Pokok/ Kegiatan Pembelajaran Indikator
Teknik Bentuk Contoh Waktu Belajar
Pembelajaran
Instrumen Instrumen
 Studi pustaka untuk  Menunjukkan bentuk- Tes lisan Daftar Apakah yang kamu ketahui 4x40 „ Buku siswa,
5.3 Menjelaskan
mendeskripsikan bentuk energi dan pertanyaan tentang bentuk-bentuk buku
hubungan
pengertian energi dan contohnya dalam energi ? referensi,
bentuk energi
bentuk-bentuk energi kehidupan sehari-hari LKS
dan
perubahanny  Mengaplikasikan konsep Tes tulis Tes uraian
a, prinsip  Studi referensi untuk energi dan perubahannya Dalam rangkaian listrik
membadingkan dalam kehidupan sehari- tertutup dengan sebuah
“usaha dan
pengertia energi kinetik hari lampu terjadi perubahan
energi” serta
penerapanny dan energi pitensial  Membedakan konsep Tes tulis Tes uraian energi ....
a dalam energi kinetik dan energi
kehidupan  Mencari informasi potensial pada suatu Jelaskan perbedaan antara
tentang hukum benda yang bergerak energi kinetik dan energi
sehari-hari
kekekalan energi  Mengenalkan hukum Tes tulis Tes uraian potensial.
kekekalan energi melalui
 Melakukan percobaan contoh dalam kehidupan
untuk menemukan sehari-hari Jelaskan hukum kekekalan
hubungan antara daya, energi dan berikan
usaha dan kecepatan  Menjelaskan kaitan Tes tulis Tes uraian contohnya dalam
antara energi dan usaha kehidupan sehari-hari.

 Menunjukkan penerapan Tes tulis Isian


daya dalam kehidupan Apakah perbedaan antara
sehari-hari energi dan usaha ?

Daya merupakan kecepatan


dalam melakukan ......
64

Materi Penilaian
Kompetensi Alokasi Sumber
Dasar Pokok/ Kegiatan Pembelajaran Indikator
Teknik Bentuk Contoh Waktu Belajar
Pembelajaran
Instrumen Instrumen
 Melakukan percobaan  Menunjukkan Tes unjuk Uji petik Lakukan percobaan dengan 6x40‟ Buku siswa,
5.4 Melakukan
tentang pesawat penggunaan beberapa kerja kerja menggunakan alat-alat LKS, Alat-alat
percobaan
sederhana (Tuas, pesawat sederhana yang prosedur untuk menemukan konsep praktek
tentang
Katrol, bidang miring) sering dijumpai dalam dan produk pesawat sederhana
pesawat
kehidupan sehari-hari
sederhana
dan  Diskusi untuk misalnya tuas
memecahkan masalah (pengungkit), katrol
penerapanny
yang berhubunan tunggal baik yang tetap
a dalam
dengan pesawat maupun yang bergerak,
kehidupan
sederhana bidang miring, dan roda
sehari-hari
gigi (gear) Tes tulis Untuk memudahkan
Isian melakukan pekerjaan
 Menyelesaikan masalah digunakan ....
secara kuantitatif
sederhana yang
berhubungan dengan
pesawat sederhana
 Melakukan percobaan  Menemukan hubungan Tes unjuk Uji petik Lakukan percobaan untuk 8x 40‟ Buku siswa,
5.5 Menyelidiki
tentang tekanan sampai antara gaya, tekanan, kerja kerja menemukan konsep LKS, Alat-alat
tekanan pada
menemukan konsep dan luas daerah yang prosedur tekanan ! praktikum
benda padat,
tekanan dikenai gaya melalui dan produk
cair, dan gas
serta  Melakukan percobaan percobaan Tes isian
bejana berhubungan Tes tulis
penerapanny
a dalam  Melakukan percobaan  Mengaplikasikan prinsip Uji petik Sebutkan contoh peristiwa
tentang hukum pascal, bejana berhubungan kerja dalam kehidupan sehari-
kehidupan
hukum Archimides dalam kehidupan sehari- prosedur hari berdasarkan prinsip
sehari-hari
 Mencari informasi hari Tes unjuk bejana berhubungan.
melalui lingkungan alat- kerja Lakukan percobaan untuk
alat yang prinsip  Mendeskripsikan hukum Tes Uraian menemukan konsep hukum
65

Materi Penilaian
Kompetensi Alokasi Sumber
Dasar Pokok/ Kegiatan Pembelajaran Indikator
Teknik Bentuk Contoh Waktu Belajar
Pembelajaran
Instrumen Instrumen
kerjanya berdasarkan Pascal dan Hukum Pascal dan Hukum
hukum Pascal dan Archimedes melalui archimides.
Hukum Archimides percobaan sederhana Tes tulis
 Studi lapangan untuk serta penerapannya
menemukan konsep dalam kehidupan sehari- Tes isian Kelompokkan alat-alat yang
tekanan hari prinsip kerjanya
 Menunjukkan beberapa berdasarkan hukum Pascal
produk teknologi dalam ?
kehidupan sehari-hari Tes tulis
sehubungan dengan
konsep benda terapung, Tes uraian
melayang dan tenggelam Mengapa tanggul di tepi
 Mengaplikasikan konsep sungai pada bagian bawah
tekanan benda padat, dibuat agak lebih kuat dari
cair, dan gas pada pada bagian atas ?
peristiwa alam yang
relevan (dalam
penyelesaian masalah
sehari- hari)
Lampiran A.2

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen


Pertemuan 1

Sekolah : SMP Paramarta Unggulan


Mata Pelajaran : Fisika
Tingkat/kelas : SMP/VIII-U1
Semester/tahun : 2/2014
Alokasi waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi : Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam
kehidupan sehari-hari.
Kompetensi Standar : Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator : 1. Menjelaskan pengertian tekanan.
2. Menemukan hubungan antara gaya, tekanan dan luas
daerah yang dikenai gaya melalui percobaan.
3. Menjelaskan tekanan dalam zat cair.
4. Mengamati sifat tekanan dalam zat cair.
5. Mengaplikasikan konsep tekanan pada benda padat dan
cair pada peristiwa alam yang relevan (dalam
penyelesaian masalah sehari-hari)
1. Tujuan Pembelajaran :
a. Peserta didik dapat menjelaskan pengertian tekanan.
b. Peserta didik dapat menemukan hubungan antara gaya, tekanan dan luas
daerah yang dikenai gaya melalui percobaan.
c. Peserta didik dapat menjelaskan tekanan dalam zat cair.
d. Peserta didik dapat mengamati sifat tekanan dalam zat cair.
e. Peserta didik dapat mengaplikasikan konsep tekanan pada benda padat dan
cair pada peristiwa alam yang relevan (dalam penyelesaian masalah sehari-
hari)

66
67

2. Materi Pembelajaran
Tekanan zat padat serta hubungan antara gaya, tekanan, dan luas bidang yang
dikenai gaya.
 Tekanan dapat didefinisikan sebagai besarnya gaya yang bekerja tegak
lurus pada suatu bidang permukaan per satuan luas bidang permukaan.
Secara sistematis, tekaan pada zat padat dinyatakan sebagai:

P=

3. Metode Pembelajaran:
a. Metode Pembelajaran : Diskusi Kelompok dan Eksperimen
b. Model Pembelajaran : Guided Inquiry
4. Langkah-langkah Pembelajaran
Tahapan Kegiatan Pembelajaran Alokasi
Tahapan
Materi Guided Siswa Waktu
Pembelajaran Aktivitas Guru
Inquiry
Pembukaan  Motivasi dan  Salam pembuka  Siswa 5 menit
Apersepsi: dan do’a serta menjawab
 Guru mengabsen salam guru,
memberikan kehadiran siswa. berdo’a dan
pertanyaan  Guru aktif dalam
tentang menyampaikan pengabsenan.
materi indikator yang  Siswa
sebelumnya, akan dicapai pada mendengarkan
yaitu pertemuan ini. penjelasan guru.
menyelesaik
an masalah
secara
kuantitatif
sederhana
yang
berhubungan
dengan
pesawat
sederhana.
Inti Apersepsi:  Guru meminta  Masing-masing 10
- Guru seluruh siswa siswa memilih menit
memberi mengambil salah salah satu
pertanyaan satu nomor nomor kocokan
pembuka undian secara untuk
mengenai bergantian untuk menentukan
tekanan menentukan kelompok
secara umum kelompok
dan tekanan
68

zat padat.
 Guru menentukan  Siswa dengan
kelompok nomor kocokan
yang sma
membentuk
kelompok yang
terdiri dari 6
siswa. Terdapat
5 kelompok di
kelas VIII-U1.
 Setelah kelompok  Setiap
eksperimen kelompok
terbentuk, guru mendapatkan
memberikan LKS yang
Lembar Kerja berkaitan
Siswa yang dengan
berkaitan dengan hubungan gaya,
hubungan gaya, tekanan, dan
tekanan, dan luas luas daerah
daerah yang yang dikenai
dikenai gaya serta gaya serta
faktor-faktor faktor-faktor
yang yang
mempengaruhi mempengaruhi
tekanan. tekanan.
Menyajikan  Guru  Siswa 45
Pertanyaan memberikan mengidentifikas menit
pertanyaan i masalah dan
kepada siswa mengungkapka
penyebab utama n ide awal.
jejak kaki ayam
memiliki bekas
pijakan lebih
dalam daripada
kaki bebek ketika
berjalan di tanah
yang basah.
Mengumpulk  Guru meminta  Siswa
an siswa untuk mengumpulkan
(verifikasi) mengumpulkan informasi
data data sambil
berdiskusi
untuk
menjawab
permasalahan
yang diajukan
guru
sertamengemuk
akan hipotesis.
Melakukan  Guru  Siswa
69

eksperimen memberikan melakukan


arahan atau percobaan
petunjuk sesuai arahan
percobaan dan bimbingan
mengenai konsep dari guru,
tekanan zat padat, bekerja sama
hubungan antara dalam
gaya dan luas mengumpulkan
bidang tekan data serta
pada benda serta mecatat data
konsep tekanan hasil percobaan
zat cair.
Merumuskan  Guru  Siswa
penjelasan mengobservasi mengolah,
siswa jika mendiskusikan
terdapat hasil
pertanyaan atu penyelidkan
kesulitan secara
berkelompok.
Kegiatan Kesimpulan Membuat  Guru meminta  Siswa membuat 5 menit
Akhir materi yang kesimpulan siswa untuk dan
telah dipelajari mengemukakan mengemukakan
mengenai kesimpulan. kesimpulan
tekanan zat untuk
padat dan menjawab
tekanan zat pertanyaan guru
cair. diawal
pertemuan.
 Guru meminta 1  Perwakilan dari 10
orang perwakilan setiap kelompok menit
dari setiap mempresentasik
kelompok untuk an hasil
mepresentasikan percobaan di
hasil eksperimen depan kelas.
yang mereka
lakukan.
 Guru mengamati  Siswa terlibat
jalannya aktif dalam
presentasi diskusi kelas.
 Guru meluruskan  Siswa 5 menit
atau memperhatikan
mengklarifikasi kesimpulan dari
apabila ada guru
kesimpulan yang
kurang tepat dari
hasil kesimpulan
siswa
 Guru memberi  Siswa
penilaian positif termotivasi
berupa pujian untuk lebih
70

atau nilai plus dapat


terhadap aktifitas memahami
siswa konsep tekanan
dan tekanan zat
padat dalam
kehidupan
sehari-hari

5. Sumber Belajar
 TIM ABDI GURU. 2012. IPA TERPADU Untuk SMP/MTs Kelas VIII.
Jakarta: ERLANGGA
 Rahayu, Lusiana Dewi. 2012. Inovasi Guru Fiska Untuk SMP kelas VII,
VIII, IX. Jakarta : Jalur Mas Media.
6. Penilaian
a. Teknik : Tes Tertulis
b. Bentuk Instrumen : Lembar Kegiatan Siswa
c. Soal / Instrumen : Terlampir

Jakarta, 16 April 2014


Mengetahui,
Guru Pembimbing Mahasiswa,

Tria Permana Yudianti, S.Pd Ria Setyo Rini


NIP. NIM. 107016301978
71

Soal Apersepsi dan Kunci Jawaban


Perhatikan gambar berikut!

Fk
2,5 m

Sebuah bola dipindakan dari dasar lantai menggunakan bidang miring. Jika
gaya kuasa (Fk) dibuat setengah dari beban, maka panjang bidang miring
adalah ….

Kunci Jawaban:
Diketahui : Fb = Fb
Fk = Fb = 0,5 Fb
h = 2,5 m
Ditanya : s?
Jawab :
Dalam konsep bidang miring berlaku rumus
Fk . Lk = Fb . Lb
Akan tetapi lengan kuasa (Lk) diganti dengan panjang (s) dan lengan beban
(Lb) dengan tinggi (h) sehingga rumusnya menjadi
Fk . s = Fb . h
Karena yang ditanya panjang (s) bidang miring jika gaya kuasa (Fk) dibuat
setengah dari beban, maka
s=

s=

s=

s = 5 meter
Jadi, panjang bidang miring jika gaya kuasa (Fb) dibuat setengah dari
bebanadalah 5 meter.
72

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen


Pertemuan 2

Sekolah : SMP Paramarta Unggulan


Mata Pelajaran : Fisika
Tingkat/kelas : SMP/VIII-U1
Semester/tahun : 2/2014
Alokasi waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi : Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam
kehidupan sehari-hari.
Kompetensi Standar : Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan
gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari..
Indikator : 1. Mengamati posisi permukaan zat cair dalam
bejana berhubungan.
2. Menjelaskan pemanfaatan sifat permukaan zat
cair yang selalu mendatar dalam kehidupan
sehari-hari.
3. Mengamati tinggi permukaan zat cair dalam pipa
U.
4. Menjelaskan hubungan antara massa jenis dan
tinggi zat cair dalam pipa U.

1. Tujuan Pembelajaran :
a. Peserta didik dapat mengamati posisi permukaan zat cair dalam bejana
berhubungan.
b. Peserta didik dapat menjelaskan pemanfaatan sifat permukaan zat cair
yang selalu mendatar dalam kehidupan sehari-hari.
c. Peserta didik dapat mengamati tinggi permukaan zat cair dalam pipa U.
73

d. Peserta didik dapat menjelaskan hubungan antara massa jenis dan tinggi
zat cair dalam pipa U.
2. Materi Pembelajaran
 Prinsip Bejana Berhubungan
Bejana berhubungan erupakan suatu wadah atau bejana yang tidak memiliki
sekat atau saling berhubungan. Hukum bejana berhubungan adalah “Apabila
bejana berhubungan diisi dengan zat cair yang sejenis, dan dalam keadaan
seimbang, permukaan zat cair dalam bejana tu terletak pada suatu bidang
datar (sama tinggi)”. Bunyi hukum pokok hidrostatis dinyatkan sebagai
berikut “Semua titik yang terletak pada bidang datar di dalam satu jenis zat
cair mempunyai tekanan yang sama”. Hukum pokok Hidrostatis dapat
dituliskan dengan persamaan :
PA = PB
a g ha = g hb
a. ha = b . hb
3. Metode Pembelajaran
a. Metode Pembelajaran : Diskusi Kelompok dan Eksperimen
b. Model Pembelajaran : Guided Inquiry
4. Langkah-langkah Pembelajaran
Tahapan Kegiatan Pembelajaran Alokasi
Tahapan
Materi Guided Siswa Waktu
Pembelajaran Aktivitas Guru
Inquiry
Pembukaan  Motivasi dan  Salam pembuka  Siswa 5 menit
Apersepsi: dan do’a serta menjawab
 Guru mengabsen salam guru,
memberikan kehadiran siswa. berdo’a dan
pertanyaan  Guru aktif dalam
tentang menyampaikan pengabsenan
materi indikator yang  Siswa
sebelumnya, akan dicapai pada mendengarkan
yaitu pertemuan ini. penjelasan guru.
tekanan dan
tekanan zat
padat untuk
merecall
materi yang
telah
dipelajari
74

Inti Apersepsi:  Guru meminta  Siswa 5 menit


- Guru siswa berkumpul berkumpul
memberi dengan kelompok sesuai
pertanyaan pada pertemuan kelompok pada
pembuka pertama pertemuan
mengenai pertama
prinsip kerja Menyajikan  Guru  Siswa 50
bejana Pertanyaan memberikan mengidentifikas menit
berhubungan pertanyaan i masalah dan
kepada siswa mengungkapka
mengenai n ide awal.
permukaan zat
cair ketika
diletakkan pada
bidang datar,
pada keadaan
miring, dan pada
wadah yang
bentuknya tak
beraturan.
Mengumpu  Guru meminta  Siswa
lkan siswa untuk mengumpulkan
(verifikasi) mengumpulkan informasi
data data sambil
berdiskusi
untuk
menjawab
permasalahan
yang diajukan
guru
sertamengemuk
akan hipotesis.
Melakukan  Guru  Siswa
eksperimen memberikan melakukan
arahan atau percobaan
petunjuk sesuai arahan
percobaan dan bimbingan
mengenai konsep dari guru,
tekanan zat padat, bekerja sama
hubungan antara dalam
gaya dan luas mengumpulkan
bidang tekan data serta
pada benda serta mecatat data
konsep tekanan hasil percobaan
zat cair.
Merumuska  Guru  Siswa
n mengobservasi mengolah,
penjelasan siswa jika mendiskusikan
terdapat hasil
pertanyaan atu penyelidkan
75

kesulitan secara
berkelompok.
Kegiatan Kesimpulan Membuat  Guru meminta  Siswa membuat 5 menit
Akhir materi yang kesimpulan siswa untuk dan
telah dipelajari mengemukakan mengemukakan
mengenai kesimpulan. kesimpulan
tekanan zat untuk
cair dan menjawab
prinsip bejana pertanyaan guru
berhubungan. diawal
pertemuan.
 Guru meminta 1  Perwakilan dari 10
orang perwakilan setiap kelompok menit
dari setiap mempresentasik
kelompok untuk an hasil
mepresentasikan percobaan di
hasil eksperimen depan kelas.
yang mereka
lakukan.
 Guru mengamati  Siswa terlibat
jalannya aktif dalam
presentasi diskusi kelas.
 Guru meluruskan  Siswa 5 menit
atau memperhatikan
mengklarifikasi kesimpulan dari
apabila ada guru
kesimpulan yang
kurang tepat dari
hasil kesimpulan
siswa
 Guru memberi  Siswa
penilaian positif termotivasi
berupa pujian untuk lebih
atau nilai plus dapat
terhadap aktifitas memahami
siswa konsep tekanan
zat cair dan
prinsip bejana
berhubungan.
5. Sumber Belajar
 TIM ABDI GURU. 2012. IPA TERPADU Untuk SMP/MTs Kelas VIII.
Jakarta: ERLANGGA
 Rahayu, Lusiana Dewi. 2012. Inovasi Guru Fiska Untuk SMP kelas VII,
VIII, IX. Jakarta : Jalur Mas Media.
6. Penilaian
a. Teknik : Tes Tertulis
76

b. Bentuk Instrumen : Lembar Kegiatan Siswa


c. Soal / Instrumen : Terlampir

Jakarta, 22 April 2014


Mengetahui,
Guru Pembimbing Mahasiswa,

Tria Permana Yudianti, S.Pd Ria Setyo Rini


NIP. NIM. 107016301978
77

Soal Apersepsi dan Kunci Jawaban


Perhatikan gambar berikut!
D
C
A 5 cm B 5 cm 10 cm 10 cm

2cm 1 cm 1 cm 1 cm
2 cm 10 cm 2 cm 3 cm

Berdasarkan gambar diatas, yang memiliki tekanan terbesar dan terkecil


adalah titik …. Berikan penjelasanmu!

Kunci Jawaban:
Diketahui : AA = p x l = 2cm x 2cm = 4 cm2
AB = p x l = 10 cm x 1 cm = 10 cm2
AC = p x l = 2 cm x 1 cm = 2 cm2
AD = p x l = 3 cm x 1 cm = 3 cm2
Berdasarkan hubungan antara gaya, tekanan, dan luas daerah yang dikenai
gaya, yaitu

P=

Maka,
a. Tekanan terbesar adalah balok C karena untuk medapatkan tekanan
terbesar, luas permukaan (A) harus dibuat kecil. Semakin kecil luas
permukaan (A) sebuah benda, gaya yang diberikan pada benda sama,
maka tekanan yang dihasilkan pada benda tersebut besar.
b. Tekanan terkecil adalah balok B karena untuk medapatkan tekanan
terkecil, luas permukaan (A) harus dibuat besar. Semakin besar luas
permukaan (A) sebuah benda, gaya yang diberikan pada benda sama,
maka tekanan yang dihasilkan pada benda tersebut kecil.
78

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen


Pertemuan 3

Sekolah : SMP Paramarta Unggulan


Mata Pelajaran : Fisika
Tingkat/kelas : SMP/VIII-U1
Semester/tahun : 2/2014
Alokasi waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi : Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam
kehidupan sehari-hari.
Kompetensi Standar : Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan
gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari.
Indikator : 1. Menyebutkan bunyi hukum Pascal.
2. Menjelaskan prinsip mesin penghasil gaya
hidrolik.
3. Menyebutkan bunyi hukum Archimedes.
4. Menyelidiki dan menentukan besar gaya
angkat.
5. Menyebutkan pemanfaatan gaya Archimedes
dalam kehidupan sehari-hari.
1. Tujuan Pembelajaran :
a. Peserta didik dapat menyebutkan bunyi hukum Pascal.
b. Peserta didik dapat menjelaskan prinsip mesin penghasil gaya hidrolik.
c. Peserta didik dapat menyebutkan bunyi hukum Archimedes.
d. Peserta didik dapat menyelidiki dan menentukan besar gaya angkat.
e. Peserta didik dapat menyebutkan pemanfaatan gaya Archimedes dalam
kehidupan sehari-hari.
2. Materi Pembelajaran
a. Hukum Pascal
79

Prinsip Pascal dikemukakan oleh Blaise Pascal yang berbunyi : “Tekanan


yang diberikan pada suatu cairan dalam suatu ruang tertutup akan
diteruskan segala arah sama besar tanpa adanya pengurangan”. Alat
sederhana yang menerapkan prinsip Pascal adalah dongkrak hidrolik. Pada
dasarnya, dongkrak hidrolik terdiridari dua buah bejana yang berhubungan
yang disi dengan cairan. Berdasarkan prinsip Pascal, berlaku rumus:
P1 = P2
=
F1 . A2 = F2 . A1
b. Hukum Archimedes
Bunyi hukum Archimedes, “Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat
cair, baik sebagian atau seluruhnya akan mendapat gaya angkat (apung)
yang besarnya sama dengan zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut”.
Sebenarnya, ketika suatu benda tercelup ke dalam air, beratnya bukan benar-
benar hilang. Benda terasa lebih ringan apabila di dalam air karena benda
tersebut mendapat gaya dorong ke atas (FA). Jika kita anggap berat benda
yang hilang adalah berat benda dalam air, besar gaya ke atas yang dialami
oleh benda adalah:
Gaya ke atas = berat benda diudara – berat benda dalam air
FA = W U – W A
3. Metode Pembelajaran
a. Metode Pembelajaran : Diskusi Kelompok dan Eksperimen
b. Model Pembelajaran : Guided Inquiry
4. Langkah-langkah Pembelajaran
Tahapan Kegiatan Pembelajaran Alokasi
Tahapan
Materi Guided Siswa Waktu
Pembelajaran Aktivitas Guru
Inquiry
Pembukaan  Motivasi  Salam pembuka  Siswa 5 menit
dan dan do’a serta menjawab
Apersepsi: mengabsen salam guru,
 Guru kehadiran siswa. berdo’a dan
memberika  Guru aktif dalam
n menyampaikan pengabsenan.
pertanyaan indikator yang  Siswa
80

tentang akan dicapai pada mendengarka


materi pertemuan ini. n penjelasan
sebelumny guru.
a, yaitu
aplikasi
prinsip
Bejana
Berhubung
an dalam
kehidupan
sehari-hari.
Untuk
recall
materi
yang telah
dipelajari.
Inti Apersepsi:  Guru meminta  Siswa 10
- Guru siswa berkumpul berkumpul menit
memberi sesuai dengan sesuai dengan
pertanyaan kelompok pada kelompok
pembuka pertemun kedua pada
mengenai pertemun
prinsip kedua
hukum Menyajikan  Guru memberikan  Siswa 50
Pascal dan Pertanyaan pertanyaan kepada mengidentifikas menit
hukum siswa mengenai i masalah dan
Archimede prinsip kerja mengungkapka
s dalam hukum Pascal dan n ide awal.
kehidupan hukum Archimedes
sehari-hari Mengumpu  Guru meminta  Siswa
lkan siswa untuk mengumpulkan
(verifikasi) mengumpulkan informasi
data data sambil
berdiskusi
untuk
menjawab
permasalahan
yang diajukan
guru
sertamengemuk
akan hipotesis.
Melakukan  Guru memberikan  Siswa
eksperimen arahan atau melakukan
petunjuk percobaan percobaan
mengenai konsep sesuai arahan
tekanan zat padat, dan bimbingan
hubungan antara dari guru,
gaya dan luas bekerja sama
bidang tekan pada dalam
benda serta konsep mengumpulkan
81

tekanan zat cair. data serta


mecatat data
hasil percobaan
Merumuska  Guru  Siswa
n mengobservasi mengolah,
penjelasan siswa jika terdapat mendiskusikan
pertanyaan atu hasil
kesulitan penyelidkan
secara
berkelompok.
Kegiatan Kesimpulan Membuat  Guru meminta  Siswa membuat 5 menit
Akhir materi yang kesimpulan siswa untuk dan
telah mengemukakan mengemukakan
dipelajari kesimpulan. kesimpulan
mengenai untuk
tekanan dan menjawab
tekanan zat pertanyaan guru
padat. diawal
pertemuan.
 Guru meminta 1  Perwakilan dari 10
orang perwakilan setiap kelompok menit
dari setiap mempresentasik
kelompok untuk an hasil
mepresentasikan percobaan di
hasil eksperimen depan kelas.
yang mereka
lakukan.
 Guru mengamati  Siswa terlibat
jalannya presentasi aktif dalam
diskusi kelas.
 Guru  Siswa 5 menit
meluruskan atau memperhatik
mengklarifikasi an
apabila ada kesimpulan
kesimpulan dari guru
yang kurang
tepat dari hasil
kesimpulan
siswa
 Guru memberi  Siswa
penilaian positif termotivasi
berupa pujian untuk lebih
atau nilai plus dapat
terhadap memahami
aktifitas siswa konsep
hukum
Pascal dan
hukum
Archimedes.
82

5. Sumber Belajar
 TIM ABDI GURU. 2012. IPA TERPADU Untuk SMP/MTs Kelas VIII.
Jakarta: ERLANGGA
 Rahayu, Lusiana Dewi. 2012. Inovasi Guru Fiska Untuk SMP kelas VII,
VIII, IX. Jakarta : Jalur Mas Media.

6. Penilaian
a. Teknik : Tes Tertulis
b. Bentuk Instrumen : Lembar Kegiatan Siswa
c. Soal / Instrumen : Terlampir

Jakarta, 23 April 2014


Mengetahui,
Guru Pembimbing Mahasiswa,

Tria Permana Yudianti, S.Pd Ria Setyo Rini


NIP. NIM. 107016301978
83

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen


Pertemuan 4

Sekolah : SMP Paramarta Unggulan


Mata Pelajaran : Fisika
Tingkat/kelas : SMP/VIII-U1
Semester/tahun : 2/2014
Alokasi waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi : Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam
kehidupan sehari-hari.
Kompetensi Standar : Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan
gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari.
Indikator : a. Menunjukkan beberapa produk teknologi dalam
kehidupan sehari-hari.
b. Mengaplikasikan konsep tekanan pada benda
cair dan gas pada peristiwa alam yang relevan
(dalam pnyelesaian masalah sehari-hari)
1. Tujuan Pembelajaran :
a. Peserta didik dapat menunjukkan beberapa produk teknologi dalam
kehidupan sehari-hari
b. Peserta didik dapat mengaplikasikan konsep tekanan pada benda cair
dan gas pada peristiwa alam yang relevan (dalam pnyelesaian masalah
sehari-hari).
2. Materi Pembelajaran:
Aplikasi tekanan (produk yang sesuai dengan hukum Pascal) dalam
kehidupan sehari-hari.
3. Metode Pembelajaran
c. Metode Pembelajaran : Diskusi Kelompok dan Eksperimen
d. Model Pembelajaran : Guided Inquiry
84

4. Langkah-langkah Pembelajaran
Tahapan Kegiatan Pembelajaran Alokasi
Tahapan
Materi Guided Siswa Waktu
Pembelajaran Aktivitas Guru
Inquiry
Pembukaan  Motivasi  Salam pembuka  Siswa 5 menit
dan dan do’a serta menjawab
Apersepsi: mengabsen salam guru,
 Guru kehadiran berdo’a dan
memberika siswa. aktif dalam
n  Guru pengabsenan.
pertanyaan menyampaikan  Siswa
tentang indikator yang mendengarka
materi akan dicapai n penjelasan
sebelumny pada pertemuan guru.
a, yaitu ini.
prinsip
hukum
Pascal dan
hukum
Archimede
s. Untuk
recall
materi
yang telah
dipelajari.
Inti Apersepsi:  Guru meminta  Siswa 10
- Guru siswa berkumpul menit
memberi berkumpul sesuai dengan
pertanyaan sesuai dengan kelompok
pembuka kelompok pada pada
mengenai pertemun pertemun
aplikasi ketiga kedua
(penerapan Menyajikan  Guru  Siswa 50
) hukum Pertanyaan memberikan mengidentifikas menit
Pascal pertanyaan i masalah dan
dalam kepada siswa mengungkapka
kehidupan yang termasuk n ide awal.
sehari-hari produk-produk
berdasarkan
konsep tekanan,
prinsip hukum
Pascal dan hkum
Archimedes
dalam kehidupan
sehari-hari.
Mengumpu  Guru meminta  Siswa
lkan siswa untuk mengumpulkan
(verifikasi) mengumpulkan informasi
data data sambil
85

berdiskusi
untuk
menjawab
permasalahan
yang diajukan
guru
sertamengemuk
akan hipotesis.
Melakukan  Guru  Siswa
eksperimen memberikan melakukan
arahan atau percobaan
petunjuk sesuai arahan
percobaan dan bimbingan
mengenai konsep dari guru,
tekanan zat padat, bekerja sama
hubungan antara dalam
gaya dan luas mengumpulkan
bidang tekan data serta
pada benda serta mecatat data
konsep tekanan hasil percobaan
zat cair.
Merumuska  Guru  Siswa
n mengobservasi mengolah,
penjelasan siswa jika mendiskusikan
terdapat hasil
pertanyaan atu penyelidkan
kesulitan secara
berkelompok.
Kegiatan Kesimpulan Membuat  Guru meminta  Siswa membuat 5 menit
Akhir materi yang kesimpulan siswa untuk dan
telah mengemukakan mengemukakan
dipelajari kesimpulan. kesimpulan
mengenai untuk
tekanan dan menjawab
tekanan zat pertanyaan guru
padat. diawal
pertemuan.
 Guru meminta 1  Perwakilan dari 10
orang perwakilan setiap kelompok menit
dari setiap mempresentasik
kelompok untuk an hasil
mepresentasikan percobaan di
hasil eksperimen depan kelas.
yang mereka
lakukan.
 Guru mengamati  Siswa terlibat
jalannya aktif dalam
presentasi diskusi kelas.
 Guru  Siswa 5 menit
meluruskan memperhatik
86

atau an
mengklarifikas kesimpulan
i apabila ada dari guru
kesimpulan
yang kurang
tepat dari hasil
kesimpulan
siswa
 Guru memberi  Siswa
penilaian termotivasi
positif berupa untuk lebih
pujian atau dapat
nilai plus memahami
terhadap produk-
aktifitas siswa produk
dalam
kehidupan
sehari-hari
yang sesuai
dengan
hukum
Pascal.
5. Sumber Belajar
 TIM ABDI GURU. 2012. IPA TERPADU Untuk SMP/MTs Kelas VIII.
Jakarta: ERLANGGA
 Rahayu, Lusiana Dewi. 2012. Inovasi Guru Fiska Untuk SMP kelas VII,
VIII, IX. Jakarta : Jalur Mas Media.
6. Penilaian
a. Teknik : Tes Tertulis
b. Bentuk Instrumen : Lembar Kegiatan Siswa
c. Soal / Instrumen : Terlampir

Jakarta, 29 April 2014


Mengetahui,
Guru Pembimbing Mahasiswa,

Tria Permana Yudianti, S.Pd Ria Setyo Rini


NIP. NIM. 107016301978
Lampiran A.3

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol


Pertemuan 1

Sekolah : SMP Paramarta Unggulan


Mata Pelajaran : Fisika
Tingkat/kelas : SMP/VIII-U1
Semester/tahun : 2/2014
Alokasi waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi : Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam
kehidupan sehari-hari.
Kompetensi Standar : Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator : 1. Menjelaskan pengertian tekanan.
2. Menemukan hubungan antara gaya, tekanan dan luas
daerah yang dikenai gaya melalui percobaan.
3. Menjelaskan tekanan dalam zat cair.
4. Mengamati sifat tekanan dalam zat cair.
5. Mengaplikasikan konsep tekanan pada benda padat dan
cair pada peristiwa alam yang relevan (dalam
penyelesaian masalah sehari-hari)
1. Tujuan Pembelajaran :
a. Peserta didik dapat menjelaskan pengertian tekanan.
b. Peserta didik dapat menemukan hubungan antara gaya, tekanan dan luas
daerah yang dikenai gaya melalui percobaan.
c. Peserta didik dapat menjelaskan tekanan dalam zat cair.
d. Peserta didik dapat mengamati sifat tekanan dalam zat cair.
e. Peserta didik dapat mengaplikasikan konsep tekanan pada benda padat dan
cair pada peristiwa alam yang relevan (dalam penyelesaian masalah sehari-
hari)

87
88

2. Materi Pembelajaran
Tekanan zat padat serta hubungan antara gaya, tekanan, dan luas bidang yang
dikenai gaya.
 Tekanan dapat didefinisikan sebagai besarnya gaya yang bekerja tegak
lurus pada suatu bidang permukaan per satuan luas bidang permukaan.
Secara sistematis, tekaan pada zat padat dinyatakan sebagai:

P=

3. Metode Pembelajaran : Demonstrasi dan Ceramah


4. Langkah-langkah Pembelajaran
Tahapan Kegiatan Pembelajaran Alokasi
Materi
Pembelajaran Aktivitas Guru Siswa Waktu
Pembukaan  Motivasi dan  Salam pembuka  Siswa 5 menit
Apersepsi: dan do’a serta menjawab
 Guru mengabsen salam guru,
memberikan kehadiran siswa. berdo’a dan
pertanyaan  Guru aktif dalam
tentang menyampaikan pengabsenan.
materi indikator yang  Siswa
sebelumnya, akan dicapai pada mendengarkan
yaitu pertemuan ini. penjelasan
menyelesaik guru.
an masalah
secara
kuantitatif
sederhana
yang
berhubungan
dengan
pesawat
sederhana.
Inti Apersepsi:  Guru mengenalkan  Siswa 2 menit
- Guru materi mengenai mempelajari /
memberi tekanan dan mengamati
pertanyaan tekanan zat padat topik
pembuka hubungan
mengenai gaya,
tekanan tekanan, dan
secara umum luas daerah
dan tekanan yang dikeai
zat cair. gaya serta
89

factor-faktor
yang
mempengaru
hi tekanan.
 Guru meminta  Perwakilan 2 3 menit
perwakilan 2 orang orang siswa
siswa untuk maju didepan
membantu guru kelas.
melakukan
demonstrasi
sederhana didepan
kelas.
 Guru dibantu  Perwakilan 2 40
siswa melakukan orang siswa menit
demonstrasi membantu
sederhana dengan guru
menggunakan 2 melakukan
buah koin dan demonstrasi
plastisin (lilin sederhana
mainan). Koin didepan kelas.
diletakkan diatas
plastisin kemudian
diberi gaya dengan
posisi permukaan
yang berbeda
sehingga
menghasilkan
jejak koin pada
plastisin.
 Guru menjelaskan  Siswa
hasil demonstasi memperhatik
yang berkaitan an penjelasan
dengan konsep guru.
tekanan dan
faktor-faktor yang
mempengaruhi
tekanan.
 Guru meminta  Perwakilan
perwakilan salah salah seorang
seorang siswa siswa maju
yang berbeda ke depan
untuk membantu kelas.
guru melakukan
demonstrasi yang
berkaitan dengan
konsep tekanan zat
90

cair.
 Guru dibantu  Siswa
siswa melakukan mengamati
demonstrasi demonstrasi
sederhana dengan yang
menggunakan dilakukan
sebuah gelas yang guru dan
sudah diberi 3 salah seorang
lubang dengan perwakilan
ketinggian yang siswa.
berbeda.
Kemudian gelas
tersebut diisi air
dan setiap
lubangnya diberi
sumbat. Setelah air
menutupi ketiga
lubang tersebut,
kemudian ketiga
sumbat dilepas dan
terlihat bagaimana
pergerakan air
tersebut.
 Guru menjelaskan  Siswa
konsep yang memperhatik
berkaitan dengan an penjelasan
demonstrasi yang yang
telah dilakukan. diberikan
guru.
 Guru memberikan  Siswa
contoh soal memperhatik
mengenai konsep an penjelasan
tekanan zat padat contoh soal
dan zat cair yang
diberikan
guru.
 Guru memberikan  Siswa 20
tugas kompetensi mengerjakan menit
siswa yang tugas
berkaitan dengan kompetensi
tekanan zat padat, siswa yang
faktor-faktor yang diberikan
mempengaruhi guru.
tekanan zat padat,
serta tekanan pada
zat cair.
91

Kegiatan Kesimpulan  Guru membimbing  Siswa 5 menit


Akhir materi yang & memberi menyimpulk
telah dipelajari kesempatan an hasil
mengenai kepada siswa demonstrasi
tekanan dan untuk yang telah
tekanan zat menyimpulkan dilakukan
padat. hasil investigasi bersama
yang telah guru.
dilakukan.
 Guru meluruskan  Siswa 5 menit
atau memperhatik
mengklarifikasi an
apabila ada kesimpulan
kesimpulan yang dari guru
kurang tepat dari
hasil kesimpulan
siswa
 Guru memberi  Siswa
penilaian positif termotivasi
berupa pujian atau untuk lebih
nilai plus terhadap dapat
aktifitas siswa memahami
konsep
tekanan dan
tekanan zat
padat dalam
kehidupan
sehari-hari

5. Sumber Belajar
 TIM ABDI GURU. 2012. IPA TERPADU Untuk SMP/MTs Kelas VIII.
Jakarta: ERLANGGA
 Rahayu, Lusiana Dewi. 2012. Inovasi Guru Fiska Untuk SMP kelas VII,
VIII, IX. Jakarta : Jalur Mas Media.
6. Penilaian
a. Teknik : Tes Tertulis
b. Soal / Instrumen : Terlampir
92

Jakarta, April 2014


Mengetahui,
Guru Pembimbing Mahasiswa,

Tria Permana Yudianti, S.Pd Ria Setyo Rini


NIP. NIM. 107016301978
93

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol


Pertemuan 2

Sekolah : SMP Paramarta Unggulan


Mata Pelajaran : Fisika
Tingkat/kelas : SMP/VIII-U1
Semester/tahun : 2/2014
Alokasi waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi : Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam
kehidupan sehari-hari.
Kompetensi Standar : Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan
gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari..
Indikator : 1. Mengamati posisi permukaan zat cair dalam
bejana berhubungan.
2. Menjelaskan pemanfaatan sifat permukaan zat
cair yang selalu mendatar dalam kehidupan
sehari-hari.
3. Mengamati tinggi permukaan zat cair dalam pipa
U.
4. Menjelaskan hubungan antara massa jenis dan
tinggi zat cair dalam pipa U.

1. Tujuan Pembelajaran :
a. Peserta didik dapat mengamati posisi permukaan zat cair dalam bejana
berhubungan.
b. Peserta didik dapat menjelaskan pemanfaatan sifat permukaan zat cair
yang selalu mendatar dalam kehidupan sehari-hari.
c. Peserta didik dapat mengamati tinggi permukaan zat cair dalam pipa U.
94

d. Peserta didik dapat menjelaskan hubungan antara massa jenis dan tinggi
zat cair dalam pipa U.
2. Materi Pembelajaran
 Prinsip Bejana Berhubungan
Bejana berhubungan erupakan suatu wadah atau bejana yang tidak memiliki
sekat atau saling berhubungan. Hukum bejana berhubungan adalah “Apabila
bejana berhubungan diisi dengan zat cair yang sejenis, dan dalam keadaan
seimbang, permukaan zat cair dalam bejana tu terletak pada suatu bidang
datar (sama tinggi)”. Bunyi hukum pokok hidrostatis dinyatkan sebagai
berikut “Semua titik yang terletak pada bidang datar di dalam satu jenis zat
cair mempunyai tekanan yang sama”. Hukum pokok Hidrostatis dapat
dituliskan dengan persamaan :
PA = PB
a g ha = g hb
a. ha = b . hb
3. Metode Pembelajaran : ceramah
4. Langkah-langkah Pembelajaran
Tahapan Kegiatan Pembelajaran Alokasi
Materi
Pembelajaran Aktivitas Guru Siswa Waktu
Pembukaan  Motivasi dan  Salam pembuka  Siswa 5 menit
Apersepsi: dan do’a serta menjawab
 Guru mengabsen salam guru,
memberikan kehadiran berdo’a dan
pertanyaan siswa. aktif dalam
tentang materi  Guru pengabsenan.
sebelumnya, menyampaikan  Siswa
yaitu tekanan indikator yang mendengarkan
dan tekanan akan dicapai penjelasan
zat padat pada pertemuan guru.
untuk ini.
merecall
materi yang
telah dipelajari
Inti Apersepsi:  Guru  Siswa 2 menit
- Guru memberi mengenalkan mempelajari /
pertanyaan materi mengamati
pembuka mengenai materi tekanan
95

mengenai tekanan zat cair zat cair dan


prinsip kerja dan bejana bejana
bejana berhubungan berhubungan.
berhubungan  Guru meminta  Perwakilan 3 menit
perwakilan seorang siswa
seorang siswa maju didepan
untuk kelas.
membantu guru
melakukan
demonstrasi
sederhana
didepan kelas.
 Guru dibantu  Perwakilan 2 40
siswa orang siswa menit
melakukan membantu guru
demonstrasi melakukan
sederhana demonstrasi
dengan sederhana
menggunakan didepan kelas.
sebuah gelas
yang diganjal
dengan batu.
Permukaan air
akan terlihat
rata (datar).
 Guru  Siswa
menjelaskan memperhatika
hasil n penjelasan
demonstasi guru.
yang berkaitan
dengan konsep
bejana
berhubungan.
 Guru  Siswa
memberikan memperhatika
contoh soal n penjelasan
mengenai contoh soal
prinsip hukum yang diberikan
bejana guru
berhubungan.
 Guru  Siswa
memberikan mengerjakan
tugas tugas
kompetensi kompetensi
siswa yang siswa yang
berkaitan diberikan
96

dengan prinsip guru.


bejana
berhubungan.
Kegiatan Kesimpulan  Guru  Siswa 5 menit
Akhir materi yang membimbing menyimpulkan
telah dipelajari & memberi hasil
mengenai kesempatan investigasi
tekanan zat cair kepada siswa yang telah
dan prinsip untuk dilakukan.
bejana menyimpulkan
berhubungan. hasil
investigasi
yang telah
dilakukan.
 Guru  Siswa 5 menit
meluruskan memperhatika
atau n kesimpulan
mengklarifikas dari guru
i apabila ada
kesimpulan
yang kurang
tepat dari hasil
kesimpulan
siswa
 Guru memberi  Siswa
penilaian termotivasi
positif berupa untuk lebih
pujian atau dapat
nilai plus memahami
terhadap konsep
aktifitas siswa tekanan zat
cair dan
prinsip bejana
berhubungan.
5. Sumber Belajar
 TIM ABDI GURU. 2012. IPA TERPADU Untuk SMP/MTs Kelas VIII.
Jakarta: ERLANGGA
 Rahayu, Lusiana Dewi. 2012. Inovasi Guru Fiska Untuk SMP kelas VII,
VIII, IX. Jakarta : Jalur Mas Media.
6. Penilaian
a. Teknik : Tes Tertulis
b. Soal / Instrumen : Terlampir
97

Jakarta, April 2014


Mengetahui,
Guru Pembimbing, Mahasiswa,

Tria Permana Yudianti, S.Pd Ria Setyo Rini


NIP. NIM. 107016301978
98

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol


Pertemuan 3

Sekolah : SMP Paramarta Unggulan


Mata Pelajaran : Fisika
Tingkat/kelas : SMP/VIII-U1
Semester/tahun : 2/2014
Alokasi waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi : Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam
kehidupan sehari-hari.
Kompetensi Standar : Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan
gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari.
Indikator : 1. Menyebutkan bunyi hukum Pascal.
2. Menjelaskan prinsip mesin penghasil gaya
hidrolik.
3. Menyebutkan bunyi hukum Archimedes.
4. Menyelidiki dan menentukan besar gaya
angkat.
5. Menyebutkan pemanfaatan gaya Archimedes
dalam kehidupan sehari-hari.
1. Tujuan Pembelajaran :
a. Peserta didik dapat menyebutkan bunyi hukum Pascal.
b. Peserta didik dapat menjelaskan prinsip mesin penghasil gaya hidrolik.
c. Peserta didik dapat menyebutkan bunyi hukum Archimedes.
d. Peserta didik dapat menyelidiki dan menentukan besar gaya angkat.
e. Peserta didik dapat menyebutkan pemanfaatan gaya Archimedes dalam
kehidupan sehari-hari.
2. Materi Pembelajaran
a. Hukum Pascal
99

Prinsip Pascal dikemukakan oleh Blaise Pascal yang berbunyi :


“Tekanan yang diberikan pada suatu cairan dalam suatu ruang tertutup akan
diteruskan segala arah sama besar tanpa adanya pengurangan”. Alat
sederhana yang menerapkan prinsip Pascal adalah dongkrak hidrolik. Pada
dasarnya, dongkrak hidrolik terdiridari dua buah bejana yang berhubungan
yang disi dengan cairan. Berdasarkan prinsip Pascal, berlaku rumus:
P1 = P2
=
F1 . A2 = F2 . A1
b. Hukum Archimedes
Bunyi hukum Archimedes, “Sebuah benda yang dicelupkan ke dalam zat
cair, baik sebagian atau seluruhnya akan mendapat gaya angkat (apung)
yang besarnya sama dengan zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut”.
Sebenarnya, ketika suatu benda tercelup ke dalam air, beratnya bukan benar-
benar hilang. Benda terasa lebih ringan apabila di dalam air karena benda
tersebut mendapat gaya dorong ke atas (FA). Jika kita anggap berat benda
yang hilang adalah berat benda dalam air, besar gaya ke atas yang dialami
oleh benda adalah:
Gaya ke atas = berat benda diudara – berat benda dalam air
FA = W U – W A

3. Metode Pembelajaran : ceramah


4. Langkah-langkah Pembelajaran
Tahapan Kegiatan Pembelajaran Alokasi
Materi
Pembelajaran Aktivitas Guru Siswa Waktu
Pembukaan  Motivasi dan  Salam pembuka  Siswa 5 menit
Apersepsi: dan do’a serta menjawab
 Guru mengabsen salam guru,
memberikan kehadiran siswa. berdo’a dan
pertanyaan  Guru aktif dalam
tentang menyampaikan pengabsenan.
materi indikator yang  Siswa
sebelumnya, akan dicapai pada mendengarkan
yaitu aplikasi pertemuan ini. penjelasan
100

prinsip guru.
Bejana
Berhubungan
dalam
kehidupan
sehari-hari.
Untuk recall
materi yang
telah
dipelajari.
Inti Apersepsi:  Guru  Siswa 2 menit
- Guru mengenalkan mempelajari /
memberi materi mengenai mengamati
pertanyaan prinsip hukum materi hukum
pembuka Pascal dan Pascal dan
mengenai hukum hukum
prinsip Archimedes Archimedes.
hukum  Guru meminta  Perwakilan 2 3 menit
Pascal dan perwakilan 2 orang siswa
hukum orang siswa maju didepan
Archimedes untuk membantu kelas.
dalam guru melakukan
kehidupan demonstrasi
sehari-hari sederhana
didepan kelas.
 Guru dibantu  Perwakilan 2 40
siswa melakukan orang siswa menit
demonstrasi membantu guru
sederhana melakukan
berdasarkan demonstrasi
konsep hukum sederhana
Pascal dengan didepan kelas.
menggunakan
bambu yang
sekelilingnya
dilubangi
kemudian
diberikan
tekanan
menggunakan
siring.
 Guru  Siswa
menjelaskan memperhatika
hasil demonstasi n penjelasan
yang berkaitan guru.
dengan konsep
101

tekanan dan
faktor-faktor
yang
mempengaruhi
tekanan.
 Guru meminta  Perwakilan
perwakilan salah salah seorang
seorang siswa siswa maju ke
yang berbeda depan kelas.
untuk membantu
guru melakukan
demonstrasi yang
berkaitan dengan
prinsip hukum
Archimedes.
 Guru dibantu  Siswa
siswa melakukan mengamati
demonstrasi demonstrasi
sederhana yang
dengan dilakukan guru
menggunakan dan salah
gelas ukur yang seorang
diisi air, perwakilan
kemudian siswa.
kedalam air
dicelupkan beban
yang
digantungkan
dengan pegas,
akan terlihat zat
cair yang
tumpah.
 Guru  Siswa
menjelaskan memperhatika
konsep yang n penjelasan
berkaitan yang diberikan
dengan guru.
demonstrasi
yang telah
dilakukan.
 Guru  Siswa
memberikan memperhatika
contoh soal yang n penjelasan
berkaitan contoh soal
dengan konsep yang diberikan
yang sedang guru
102

dibahas.
 Guru  Siswa 10
memberikan mengerjakan menit
tugas tugas
kompetensi kompetensi
siswa yang siswa yang
berkaitan diberikan
dengan prinsip guru.
kerja hukum
Pascal dan
Archimedes.
Kegiatan Kesimpulan  Guru  Siswa 5 menit
Akhir materi yang membimbing & menyimpulkan
telah dipelajari memberi hasil
mengenai kesempatan investigasi
tekanan dan kepada siswa yang telah
tekanan zat untuk dilakukan.
padat. menyimpulkan
hasil investigasi
yang telah
dilakukan.
 Guru  Siswa 5 menit
meluruskan atau memperhatika
mengklarifikasi n kesimpulan
apabila ada dari guru
kesimpulan
yang kurang
tepat dari hasil
kesimpulan
siswa
 Guru memberi  Siswa
penilaian positif termotivasi
berupa pujian untuk lebih
atau nilai plus dapat
terhadap memahami
aktifitas siswa konsep hukum
Pascal dan
hukum
Archimedes.
5. Sumber Belajar
 TIM ABDI GURU. 2012. IPA TERPADU Untuk SMP/MTs Kelas VIII.
Jakarta: ERLANGGA
 Rahayu, Lusiana Dewi. 2012. Inovasi Guru Fiska Untuk SMP kelas VII,
VIII, IX. Jakarta : Jalur Mas Media.
103

6. Penilaian
a. Teknik : Tes Tertulis
b. Soal / Instrumen : Terlampir

Jakarta, April 2014


Mengetahui,
Guru Pembimbing Mahasiswa,

Tria Permana Yudianti, S.Pd Ria Setyo Rini


NIP. NIM. 107016301978
104

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol


Pertemuan 4

Sekolah : SMP Paramarta Unggulan


Mata Pelajaran : Fisika
Tingkat/kelas : SMP/VIII-U1
Semester/tahun : 2/2014
Alokasi waktu : 2 x 40 menit
Standar Kompetensi : Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam
kehidupan sehari-hari.
Kompetensi Standar : Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan
gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari.
Indikator : a. Menunjukkan beberapa produk teknologi dalam
kehidupan sehari-hari.
b. Mengaplikasikan konsep tekanan pada benda
cair dan gas pada peristiwa alam yang relevan
(dalam pnyelesaian masalah sehari-hari)
1. Tujuan Pembelajaran :
a. Peserta didik dapat menunjukkan beberapa produk teknologi dalam
kehidupan sehari-hari
b. Peserta didik dapat mengaplikasikan konsep tekanan pada benda cair
dan gas pada peristiwa alam yang relevan (dalam pnyelesaian masalah
sehari-hari).
2. Materi Pembelajaran:
Aplikasi tekanan (produk yang sesuai dengan hukum Pascal) dalam
kehidupan sehari-hari.
3. Metode Pembelajaran : ceramah
105

4. Langkah-langkah Pembelajaran
Tahapan Kegiatan Pembelajaran Alokasi
Materi
Pembelajaran Aktivitas Guru Siswa Waktu
Pembukaan  Motivasi dan  Salam pembuka  Siswa menjawab 5 menit
Apersepsi: dan do’a serta salam guru,
 Guru mengabsen berdo’a dan aktif
memberikan kehadiran dalam
pertanyaan siswa. pengabsenan.
tentang  Guru  Siswa
materi menyampaikan mendengarkan
sebelumnya, indikator yang penjelasan guru.
yaitu prinsip akan dicapai
hukum pada pertemuan
Pascal dan ini.
hukum
Archimedes.
Untuk recall
materi yang
telah
dipelajari.
Inti Apersepsi:  Guru  Siswa 2 menit
- Guru mengenalkan mempelajari /
memberi beberapa mengamati
pertanyaan produk yang materi beberapa
pembuka sesuai dengan produk yang
mengenai prinsip hukum disajikan guru.
aplikasi Pascal dalam
(penerapan) kehidupan
hukum sehari-hari.
Pascal dalam  Guru meminta  Perwakilan 5 3 menit
kehidupan perwakilan 5 orang siswa
sehari-hari orang siswa menyebutkan
untuk beberapa produk
menyebutkan yang berkaitan
beberapa dengan konsep
produk yang tekanan, prinsip
berkaitan hukum Pascal
dengan konsep dan Archimedes
tekanan, prinsip dalam kehidupan
hukum Pascal sehari-hari.
dan
Archimedes
dalam
kehidupan
sehari-hari.
106

 Guru  Siswa 60
menjelaskan memperhatikan menit
produk-produk penjelasan yang
apa saja yang diberikan guru.
berkaitan
dengan konsep
tekanan,
prinsip hukum
Pascal dan
Archimedes
dalam
kehidupan
sehari-hari.
 Guru meriview  Siswa dengan
kembali materi- antusias
materi yang memperhatiakn
sudah dan mengikuti
dijelaskan arahan dari
sebelumnya guru.
untuk
memperkuat
konsep yang
sudah
diajarkan.
Kegiatan Kesimpulan  Guru  Siswa 5 menit
Akhir materi yang memberikan mengerjakan
telah dipelajari tugas tugas
mengenai kompetensi kompetensi
tekanan dan siswa yang siswa yang
tekanan zat berkaitan diberikan guru.
padat. dengan prinsip
kerja hukum
Pascal dan
Archimedes.
 Guru  Siswa 5 menit
meluruskan memperhatikan
atau kesimpulan dari
mengklarifikas guru
i apabila ada
kesimpulan
yang kurang
tepat dari hasil
kesimpulan
siswa
 Guru memberi  Siswa
penilaian termotivasi
107

positif berupa untuk lebih


pujian atau dapat
nilai plus memahami
terhadap produk-produk
aktifitas siswa dalam
kehidupan
sehari-hari yang
sesuai dengan
hukum Pascal.
5. Sumber Belajar
 TIM ABDI GURU. 2012. IPA TERPADU Untuk SMP/MTs Kelas VIII.
Jakarta: ERLANGGA
 Rahayu, Lusiana Dewi. 2012. Inovasi Guru Fiska Untuk SMP kelas VII,
VIII, IX. Jakarta : Jalur Mas Media.
6. Penilaian
a. Teknik : Tes Tertulis
b. Bentuk Instrumen : Lembar Kegiatan Siswa
c. Soal / Instrumen : Terlampir

Jakarta, April 2014


Mengetahui,
Guru Pembimbing Mahasiswa,

Tria Permana Yudianti, S.Pd Ria Setyo Rini


NIP. NIM. 107016301978
Lampiran A.4

LEMBAR KEGIATAN SISWA I


MATA PELAJARAN FISIKA

Aktifitas 1

ANGGOTA KELOMPOK:
1. ………………………….. 4. …………………………..
2. ………………………….. 5. …………………………..
3. ………………………….. 6. …………………………..

A. POKOK MATERI
Tekanan pada zat padat, cair, dan gas

B. TOPIK
Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.

C. SASARAN
Siswa Kelas VIII-U1

D. TUJUAN
Mengetahui hubungan antara gaya, tekanan, dan luas bidang tekan yang
dipengaruhi gaya.

E. ALAT / BAHAN YANG DIGUNAKAN


1. Dua buah plastisin (lilin mainan)
2. dua buah koin uang logam Rp500 (koin)

F. PROSEDUR KERJA
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Letakan kedua koin tersebut pada masing-masing plastisin dengan posisi
seperti pada Gambar 11.1 (a).

3. Tekanlah kedua uang logam tersebut dengan gaya yang sama


4. Pindahkan kedua uang logam tersebut dari plastisin, lalu amati kedalaman
bekas uang logam itu.

108
109

5. Ulangi kegiatan di atas, tetapi posisi kedua uang logam sama dalam
keadaan berdiri, seperti pada Gambar 11.1 (b).

6. Tekanlah kedua uang logam tersebut dengan gaya yang berbeda.


7. Amati kembali kedalamam bekas kedua uang logam tersebut.

G. PERTANYAAN
1. Ketika kamu menekan kedua uang logam pada posisi yang berbeda
dengan gaya yang sama, uang logam pada posisi manakah yang bekasnya
lebih dalam? Mengapa demikian?

2. Ketika kamu menekan kedua uang logam yang posisinya sama, tetapi
dengan gaya yang berbeda, yang manakah bekas uang logam yang lebih
dalam? Mengapa demikian?

3. Uang logam manakah yang mendapatkan tekanan yang lebih besar?

4. Faktor-faktor apakah yang memengaruhi besarnya tekanan?

H. KESIMPULAN
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
110

LEMBAR KEGIATAN SISWA II


MATA PELAJARAN FISIKA

Aktifitas 1

ANGGOTA KELOMPOK:
1. ………………………….. 4. …………………………..
2. ………………………….. 5. …………………………..
3. ………………………….. 6. …………………………..

A. POKOK MATERI
Tekanan zat padat,cair dan gas

B. TOPIK
Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.

C. SASARAN
Siswa Kelas VIII-U1

D. TUJUAN
Menyelidiki tinggi permukaan air dalam bejana berhubungan

E. ALAT / BAHAN YANG DIGUNAKAN


1. Gelas, bejana berhubungan
2. Air

F. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Siapkan alat dan bahan.
2. silah gelas dengan air, kira-kira seperempatnya.
3. Letakkan gelas di atas meja, lalu amati permukaan airnya.
4. Miringkan gelas berisi air tersebut dengan cara mengganjal salah satu
sisinya, lalu amati kembali permukaan airnya.
5. Catat semua hasil pengamatanmu.
6. Isilah bejana berhubungan dengan air kira-kira tiga perempatnya.
7. Amati permukaan air pada setiap tabung bejana berhubungan.
8. Catat hasil pengamatanmu.
111

G. PERTANYAAN
1. Bagaimanakah permukaan air dalam gelas ketika gelas diletakkan
mendatar?

2. Bagaimanakah permukaan air dalam gelas ketika gelas diletakkan miring?

3. Bagaimanakah permukaan air dalam bejana berhubungan?

H. KESIMPULAN
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………
112

LEMBAR KEGIATAN SISWA III


MATA PELAJARAN FISIKA

ANGGOTA KELOMPOK:
1. ………………………….. 4. …………………………..
2. ………………………….. 5. …………………………..
3. ………………………….. 6. …………………………..

Aktifitas 1

A. POKOK MATERI
Tekanan zat padat, cair dan gas

B. TOPIK
Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.

C. SASARAN
Siswa Kelas VIII-U1

D. TUJUAN
Menyelidiki prinsip kerja hukum Pascal

E. ALAT / BAHAN YANG DIGUNAKAN


Bambu atau alat Pascal dan air

F. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Buatlah alat Pascal sederhana dengan menggunakan seruas bambu yang
ujungnya tertutup ruas dan di sekeliling ruas bambu diberi lubang sempit
pada ketinggian yang sama (apabila ada, gunakan alat Pascal). Perhatikan
Gambar 11.5.
113

2. Isilah alat Pascal penuh dengan air .


3. Berilah tekanan ke dalam zat cair dalam tabung Pascal, lalu amati
keluarnya air dari tabung Pascal..

G. PERTANYAAN
1. Ketika pengisap kamu dorong, berarti kamu telah member tekanan pada
zat cair dalam ruang Pascal. Ke manakah tekanan tersebut diteruskan?
Jelaskan jawabanmu!

2. Apakah air yang keluar dari lubang tabung Pascal itu merata? Jelaskan
mengapa hal itu bisa terjadi!

H. KESIMPULAN
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………
114

Aktifitas 2

A. POKOK MATERI
Tekanan zat padat, cair dan gas

B. TOPIK
Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.

C. SASARAN
Siswa Kelas VIII-U1

D. TUJUAN
Menyelidiki prinsip kerja hukum Archimedes

E. ALAT / BAHAN YANG DIGUNAKAN


1. Gelas ukur 1.000 mL,
2. beberapa benda padat,
3. air
4. neraca pegas

F. PROSEDUR PERCOBAAN
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Isilah gelas ukur dengan air kira-kira setengah gelas sampai pada skala
yang mudah dibaca. Catat volume air tersebut.
3. Ukurlah berat benda di udara dengan neraca pegas, kemudian catat
hasilnya pada bukumu.
4. Ukurlah berat benda di dalam air menggunakan neraca pegas dengan cara
memasukkannya secara perlahan ke dalam air sampai bendanya
tenggelam. Catat pula hasilnya.
5. Amati volume air ketika benda tersebut dimasukkan secara perlahan ke
dalam air. Catat volume air ketika benda sudah tenggelam seluruhnya.
6. Kerjakan kegiatan tersebut beberapa kali dengan benda yang berbeda-
beda. Gunakan tabel di bawah ini untuk mencatat semua hasil pengukuran.

G. HASIL PENGAMATAN

Berat benda Berat benda Gaya


No. Jenis Benda Volume diudara dalam air angkat
(Wu) (Wa) (FA)
1.
2
115

3
4.
5.

H. PERTANYAAN
1. Bandingkan antara berat benda di udara dan berat benda di dalam air.
Bagaimanakah hasilnya? Mengapa demikian?

2. Ketika benda dimasukkan secara perlahan ke dalam air, bagaimanakah


berat benda tersebut?

I. KESMPULAN
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………
116

LEMBAR KEGIATAN SISWA IV


MATA PELAJARAN FISIKA

ANGGOTA KELOMPOK:
1. ………………………….. 4. …………………………..
2. ………………………….. 5. …………………………..
3. ………………………….. 6. …………………………..

Aktifitas 1

A. POKOK MATERI
Tekana zat padat, cair dan gas

B. TOPIK
Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari.

C. SASARAN
Siswa Kelas VIII-U1

D. TUJUAN
1. Menunjukkan beberapa produk teknologi dalam kehidupan sehari-hari
sehubungan dengan konsep benda terapung, melayang dan tenggelam.
2. Mengaplikasikan konsep tekanan pada benda cair dan gas pada peristiwa
alam yang relevan (dalam penyelesaian masalah sehari-hari)

E. ALAT / BAHAN YANG DIGUNAKAN


NO.
NAMA ALAT / BAHAN JUMLAH
URUT
1. Dasar Statif 2
2. Batang Statif Pendek 1
3. Batang Statif Panjang 2
4. Klem Universal 2
5. Klem Bosshead 2
6. Selang Plastik 2
7. Selang Silikon 1
8. Gelas Beaker 1
9. Sumbat Karet Kecil 1 Lb 1
10. Sumat Karet tanpa Lb 1
11. Gelas Tiga Arah 2
117

12. Bola Gelas 2


13. Siring 50 ml 1
14. Bak Plastik 1
15. Labu Erlenmeyer 1
16. Air Bersih (disiapkan sendiri) Cukup

F. PERSIAPAN PERCOBAAN
1. Siapkan alat / bahan yang akan digunakan
2. Rakit dasar statif, batang statif pendek dan panjang, klem bosshead dan
universal serta siring 50 ml sesuai Gambar 1
3. Sambungkan ujung-ujung selang ke pipa gelas tiga arah, kemudian
masukkan bola gelas (kelereng) ke masing-masing gelas tiga arah.
Tutuplah rapat-rapat sumbat karet satu lubang dan sumbat karet tanpa
lubang pada gelas tiga arah sesuai Gambar 2

G. LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN
1. Jepitkan gelas tiga arah pada klem universal dan hubungkan rapat-rapat
sumbat karet 1 lubang pada ujung siring sehingga terbentuk rangkaian
sesuai Gambar 3
2. Letakkan bak plastic dan labu Erlenmeyer di atas bak plastik. Tuangkan
air 200 mL ke dalam gelas beaker dan atur (bila perlu geser klem bosshead
ke atas/bawah)
3. Tarik penghisap siring arah ke atas. Amati arah gerak kelereng (1) dan
arah aliran air dalam selang (a). catat hasil pengamatan ke dalam table.
4. Tekanlah penghisap dan amati arah gerak air di sepanjang selang (a).
amati pula gerak kelereng (1) dan (2)
5. Ulangi langkah (3) dan (4) beberapa kali untuk memastikan arah gerak
kelereng (1) dan (2) , arah gerak air dalam selang (a) dan (b)
6. Kemasi semua alat dan bahan yang telah dipakai dan diskusikan seluruh
isian table.

H. HASIL PENGAMATAN
Arah Gerakan
Penghisap Bola kelereng Bola kelereng Air dalam pipa Air dalam pipa
siring (1) (2) (a) (b)
Diam
Ke atas
Ke bawah
118

I. KESIMPULAN
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
Lampiran B.1

KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIAN

Sekolah : SMP Paramarta Unggulan


Kelas : VIII (delapan)
Kurikulum : KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan)
Jumlah Soal : 16 soal

Konsep : Tekanan zat padat, cair, dan gas


Jenis Instrumen : Tes uraian
Jumlah Soal : 16 soal
Standar Kompetensi : 5. Memahami peranan usaha, gaya, dan energi dalam kehidupan sehari-hari
Kompetensi Dasar : 5.5 Menyelidiki tekanan pada benda padat, cair, dan gas serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Indikator Indikator Aspek berpikir
Butir Soal Jawaban
Pembelajaran Soal Kritis
Menemukan Menjelaskan Memfokuskan 1. Kamu mungkin pernah Hasil jejak kaki yang ditinggalkan ayam
hubungan antara gaya, pengertian pertanyaan mengamati jejak-jejak kaki ayam pada tanah yang basah lebih dalam
tekanan dan luas tekanan. (C1) dan bebek yang berjalan pada dibandingkan dengan jejak kaki bebek.
daerah yang dikenai tanah yang basah. Walaupun Hal ini dikarenakan permukaan kaki ayam

119
120

gaya melalui berat kedua hewan itu sama, lebih kecil dan ramping dibandingkan
percobaan namun pengaruhnya terhadap kaki bebek yang memiliki permukaan
tanah tersebut berbeda. Hasil besar karena kaki bebek dilapisi selaput,
jejak kaki yang ditinggalkan sehingga permukaannya lebih besar
ayam lebih dalam dibandingkan daripada kaki ayam. Walaupun berat
dengan jejak kaki bebek. mereka sama, tapi karena perbedaan
Ternyata perbedaan tersebut permukaan kaki, maka hasil jejak yang
diakibatkan adanya pengaruh ditinggalkan ayam pada tanah yang basah
tekanan yang diterima tanah lebih dalam. Hal ini didefinisikan sebagai
akibat gaya yang diberikan oleh tekanan, yaitu perbandingan antara gaya
kaki bebek. Menurut analisamu, yang diberikan dengan luas bidang
pengertian tekanan yang permukaan benda.
dimaksudkan adalah ….
Menyelidiki menjawab 2. Pernahkah kamu Alat-alat yang kita digunakan untuk
kaitan antara pertanyaan memperhatikan alat pemotong memotong dalam kehidupan sehari-hari,
luas tentang alasan yang ada dirumah kita? Begitu seperti pisau dan kampak permukaannya
permukaan utama banyak peralatan untuk sengaja dibuat runcing untuk
benda dengan berdasarkan sebab memotong dalam kehidupan memudahkan kita dalam memotong.
tekanan. akibat sehari-hari yang kita gunakan. Berdasarkan konsep tekanan, tekanan
121

(C2) Jika kamu perhatikan peralatan pada sebuah benda dipengaruhi oleh gaya
tersebut, ternyata permukaan alat yang diberikan dan luas bidang
tersebut sengaja dibuat runcing. permukaan benda tersebut. Dengan
Apa penyebab utama peralatan demikian, dengan memperkecil luas
tersebut dibuat runcing? bidang tekan sebuah benda merupakan
upaya untuk memperbesar tekanan yang
terjadi pada benda. Hal ini dikarenakan
tekanan berbanding lurus dengan gaya
dan berbanding terbalik dengan luas
permukaan, sehingga dengan kita
memperkecil luas permukaan pisau, maka
akan semakin memudahkan kita untuk
memotong.
Menghitung Memilih kriteria 3. Sebuah meja massanya 2400 Diketahui :
besarnya untuk gram memiliki empat buah kaki massa = 2400 gram = 2,4 kg
tekanan yang mempertimbangk dengan salah satu luas permukaan gravitasi = 10 m/s2
diberikan
an penyelesaian kakinya 0,4 m2 diletakkan diatas luas permukaan = 0,4 m2
suatu benda.
(C4) lantai. Jika luas permukaan Ditanya :
tersebut dibuat setengah kali Tekanan jika luas diperkecil menjadi
122

semula, maka tekanan yang setengah dari semula?


diterima lanai adalah …. Jawab :
(percepatan gravitasi bumi 10 Berdasarkan konsep tekanan, maka
m/s2)
P= =

Karena meja memiliki empat buah kaki,


maka luas permkaan yang diketahui
disoal dikalikan empat. Sehingga

P=

karena luas permukaan diperkecil menjadi


setengah dari luas semula, maka

P=

=
123

= 30 N/m2
Jadi, tekanan yang diterima lantai jika
luas permukaan diperkecil menjadi
setengah dari luas semula adalah sebesar
30 N/m2.
Mengamati sifat Menjelaskan Menjawab 4. Tulislah sebuah pernyataan Karena pada saat kita menyelam, tekanan
tekanan dalam zat tekanan pertanyaan yang dapat menjelaskan air yang diakibatkan tarikan gaya
cair. dalam zat tentang fakta peristiwa berikut: gravitasi, tekanan air tersebut semakin
cair. (C3) Ketika berenang pada besar. Misalkan air di kolam telah dibagi
permukaan air, kita tidak akan menjadi 5 lapisan. Karena gaya gravitasi
merasakan perubahan drastis menarik ke bawah partikel-partikel pada
pada bagian tubuh kita, tapi lapisan 1, maka lapisan tersebut memiliki
pada saat kita menyelam suatu berat tertentu. Gaya berat dari
semakin dalam hingga lapisan 1 menekan ke bawah pada lapisan
menyentuh dasar kolam, telinga 2. Lapisan 2 ini memiliki gaya gravitasi
akan terasa sakit. Menurut pada partikel-partikelnya sendiri ditambah
analisa kalian, apa yang gaya dari berat lapisan 1. Oleh karena itu
124

menyebabkan hal tersebut tekanan pada lapisan 2 lebih besar


terjadi? daripada tekanan dalam lapisan 1. Lapisan
3 memiliki gaya gravitasi pada partikel-
partikelnya sendiri ditambah berat dua
lapisan pertama yang mendorong ke
bawah lapisan 3 tersebut. Akibatnya,
tekanan pada lapisan 3 lebih besar dari
lapisan manapun di atasnya. Lapisan
paling bawah atau kedalaman paling
dalam dari setiap fluida akan memiliki
tekanan paling besar karena lapisan itu
mendapatkan gaya dorong paling besar
dari lapisan di atasnya
Menentukan Mengobservasi 5. Kamu memiliki sebuah bejana Berdasarkan pengamatan yang telah
tekanan zat dan yang diberi tiga buah lubang dilakukan, kondisi bejana ketika ketiga
cair. mempertimbangk pada ketinggian yang berbeda, sumbat pada lubang dicabut, air akan
an suatu laporan lalu ketiga lubang tersebut memancur keluar secara bersamaan.
hasil observasi ditutup oleh sumbat. Kemudian Karena tekanan pada setiap lubang
(melaporkan bejana tersebut diisi air sampai berbeda, maka lubang dengan posisi
125

berdasarkan penuh. Menurut analisamu, pertama menekan lubang pada posisi


pengamatan) bagaimana kecepatan keluarnya kedua dan lubang pada posisi kedua
(C4) air dari ketiga lubang tersebut? menekan lubang pada posisi ketiga,
sehingga lubang pada posisi ketiga
memiliki tekanan paling besar (pancuran
air paling jauh). Oleh karena itu,
kecepatan keluarnya air paling besar
terjadi pada lubang dengan posisi ketiga,
kemudian lubang pada posisi kedua, dan
terakhir lubang pada posisi pertama
Mengamati tinggi Mengamati Mengidentifikasi 6. Pernahkah kalian mengamati Air sumur tidak pernah kering walaupun
permukaan zat cair posisi asumsi dan sumber air dirumah kita? setiap saat di pompa airnya. Hal ini
dalam pipa U permukaan zat mengkonstruk Beberapa rumah mungkin masih dikarenakan air selalu berhubungan dan
cair dalam
pernyataan menggunakan sumur. berkaitan antara satu tempat dengan
bejana
(C5) Perhatikan kondisi sumur tempat lainnya dan tidak dipengaruhi
berhubungan.
tersebut, keadaan sumur bentuk permukaan dasarnya atau bentuk
tersebut tidak pernah kering tabungnya. Sesuai dengan prinsip bejana
walaupun setiap saat dipompa berhubungan yang menyatakan bahwa
airnya. Menurut pedapatmu, permukaan air selalu rata.
126

bagaimana hal tersebut dapat


terjadi?

Menentukan Menentukan 7. Sebuah pipa U diisi dengan air Diketahui :ρ


air = 1000 kg/m3
posisi tindakan (memilih yang massa jenisnya 1000
permukaan 3
ρair = 1000 kg/m3
kriteria untuk kg/m . Salah satu kaki pipa U
zat cair pada mempertimbangk kemudian diisi degan gliserin hgliserin = 4 cm
pipa U an penyelesaian) yang massa jenisnya 1200 Ditanya : ∆h?
(C3) kg/m3. Jika tinggi gliserin 4 cm, Jawab :
maka selisih tinggi cairan di Berdasarkan konsep hukum bejana
kedua kaki pipa U itu adalah …. berhubungan, maka berlaku rumus :

ρair . g. hair = ρgliserin . g. hgliserin


karena gravitasi dibagian permukaan
bumi sama, maka

ρair . hair = ρgliserin .

hgliserin
1000 kg/m3. hair = 1200 kg/m3. 4 cm
127

hair =

= 4,8 cm
Selisih tinggi kedua kaki pipa U :

hair – hgliserin

= 4,8 cm – 4 cm
= 0,8 cm
Jadi nilai selisih antara kedua kaki pipa U
adalah 0,8 cm.
Menyebutkan dan Menyebutkan Menginduksi dan 8. Ketika kamu sedang menolong Dongkrak yang digunakan untuk
menjelaskan prinsip bunyi hukum mempertimbangk seseorang yang mengganti ban mengangkat dan mengganti ban mobil
hukum Pascal Pascal dan an hasil induksi mobilnya. Dengan merupakan pemindahan tekanan ke segala
menjelaskan
(menggeneralisasi menggunakan dongkrak, kamu arah sama besar dalam suatu cairan
prinsip mesin
kan dan meneliti) dapat mengangkat bagian merupakan prinsip yang mendasari alat-
penghasil gaya
(C6) belakang mobil hanya dengan alat hidrolik. Mesin hidrolik dapat
hidrolik.
satu tangan. Menurut analisamu, mengangkat benda-benda berat dengan
bagaimana prinsip kerja memanfaatkan prinsip hukum Pascal.
dongkrak sehingga dapat Prinsip kerja mesin hidrolik dapat
mengangkat beban berat? menghasilkan gaya yang besar hanya
128

dengan memberikan gaya yang sangat


kecil. Dengan kata lain, mesin hidolik
melipatgandakan gaya.
Menyelidiki dan Menyelidiki Menerapkan 9. Kita sering melihat kapal laut Dimisalkan balok baja (kapal laut) itu
menentukan besar dan prinsip / rumus yang sangat besar dapat menjadi mangkok besar dan berongga.
gaya angkat. menentukan (C4) terapung di atas air, tetapi batu Saat mangkok di letakkan di atas
prinsip hukum
kecil bisa tenggelam di dalam permukaan air, ia akan mendesak lebih
Archimedes
air. Menurut analisamu banyak air daripada koin. Mangkuk itu
serta
penyebab kapal laut dapat mendesak cukup banyak air untuk
penerapannya
teraung di atas air, sedangkan mengimbangi berat mangkuk baja
dalam
batu tidak! tersebut, dan mangkuk-mangkuk itu
kehidupan
sehari-hari. terapung. Hal ini dikarenakan setiap
benda yang berada dalam zat cair akan
selalu mendapatkan gaya angkat yang
besarnya sama dengan zat cair yang
dipindahkan. Kapal laut dapat terapung
dalam air karena bagian kapal laut diberi
rongga, sehingga massa jenis kapal laut
lebih kecil dari massa jenis air yang
129

mengakibatkan kapal laut dapatterapung.


Sedangkan batu tida terdapat koin
sehingga masa jenis batu lebih besar dari
massa jenis air.
Menyebutkan produk Mengaplikasik Merangkum 10. Jelaskan mengapa kamu Bendungan dirancang semakin bawah
yang sesuai dengan an konsep dengan setuju/tidak setuju dengan semakin tebal, karena bagian bawah
tekanan zat padat, tekanan benda mempertimbangk pernyataan tentang bagian bendungan memperoleh tekanan lebih
padat, cair,
cair, dan gas dalam an situasi lalu bawah sebuah bendungan yang besar daripada bagian atasnya. Jika bagian
dan gas pada
kehidupan sehari-hari. memutuskan dibuat lebih tebal daripada bawah bendungan dibuat lebih keil
peristiwa alam
(C3) bagian atasnya. daripada bagian atas, maka bendungan
tersebut akan runtuh karena tidak dapat
menahan tekanan hidrostatis pada dasar
bendungan.
Lampiran B.2

PEDOMAN PENSKORAN PER INDIKATOR

Indikator Skor Keterangan


Memenuhi semua atau hampir indikator berikut: 4 Kuat (Strong)
1. Memahami petunjuk, pernyataan, dan pertanyaan
dengan tepat.
2. Mengidentifikasi semua argument atau informasi
penting.
3. Merumuskan masalah atau pertanyaan dengan
bertanggung jawab, hati-hati, dan teliti.
4. Menentukan dan menerapkan konsep/ definisi/
teorema dalam menyelesaikan masalah.
5. Menunjukkan hasil utama dan prosedur dalam
mendapatkannya dan memberikan alasannya.
6. Bartanggung jawab, hati-hati, danmenghindari
ketidaktepatan dalam menarik kesimpulan.
7. Menentukan alternatif –alternatif cara lain dalam
menyelesaikan masalah
Memenuhi sebagian atau beberapa indikator berikut: 3 Dapat
1. Memahami petunjuk, pernyataan, dan pertanyaan Diterima
dengan tepat. (Acceptable)
2. Mengidentifikasi semua argument atau informasi
penting.
3. Merumuskan masalah atau pertanyaan dengan
bertanggung jawab, hati-hati, dan teliti.
4. Menentukan dan menerapkan konsep/ definisi/
teorema dalam menyelesaikan masalah.
5. Menunjukkan hasil utama dan prosedur dalam
mendapatkannya dan memberikan alasannya.
6. Bartanggung jawab, hati-hati, dan menghindari
ketidaktepatan dalam menarik kesimpulan.
7. Menentukan alternatif –alternatif cara lain dalam
menyelesaikan masalah
Memenuhi sebagian atau beberapa indikator berikut: 2 Tidak Dapat
1. Kurang tepat dalam memahami petunjuk, pernyataan, Diterima
dan pertanyaan dengan tepat. (Unacceptable)
2. Kurang mampu mengidentifikasi semua argument atau
informasi penting.
3. Kurang tepat dalam merumuskan masalah atau
pertanyaan dengan bertanggung jawab, hati-hati, dan
teliti.
4. Kurang tepat dalam menetukan dan menerapkan
konsep/ definisi/ teorema dalam menyelesaikan
masalah.

130
131

5. Menunjukkan sedikit hasil utama dan prosedur dalam


mendapatkannya dan jarang memberikan alasannya.
6. Tidak bartanggung jawab,dan tidak tepat dalam
menarik kesimpulan.
7. Kurang mampu dalam menentukan alternatif –
alternatif cara lain dalam menyelesaikan masalah
Memenuhi hampir semua indikator berikut: 1 Lemah
1. Memberikan petunjuk, pernyataan, dan pertanyaan (Weak)
dengan bias (prejudis).
2. Kurang mampu mengidentifikasi semua argument atau
informasi penting.
3. Tidak tepat dalam merumuskan masalah atau
pertanyaan dengan bertanggung jawab, hati-hati, dan
teliti.
4. Kurang mampu dalam menentukan dan menerapkan
konsep/ definisi/ teorema dalam menyelesaikan
masalah.
5. Tidak menunjukkan hasil utama dan prosedur dalam
mendapatkannya dan tidak memberikan alasannya.
6. Tidak bartanggung jawab, tidak tepat dalam menarik
kesimpulan.
7. Tidak mampu dalam menentukan alternatif –alternatif
cara lain dalam menyelesaikan masalah
Memenuhi semua indikator berikut: 0 Sangat
1. Memberikan petunjuk, pernyataan, dan pertanyaan Lemah (Very
dengan bias (prejudis). Weak)
2. Kurang mampu mengidentifikasi semua argument atau
informasi penting.
3. Tidak tepat dalam merumuskan masalah atau
pertanyaan dengan bertanggung jawab, hati-hati, dan
teliti.
4. Kurang mampu dalam menentukan dan menerapkan
konsep/ definisi/ teorema dalam menyelesaikan
masalah.
5. Tidak menunjukkan hasil utama dan prosedur dalam
mendapatkannya dan tidak memberikan alasannya.
6. Tidak bartanggung jawab, tidak tepat dalam menarik
kesimpulan.
7. Tidak mampu dalam menentukan alternatif –alternatif
cara lain dalam menyelesaikan masalah
Lampiran B.3 132

Rekapitulasi Hasil Ujicoba Instrumen Penelitian


Reliabilitas: 0,72
Tingkat
Butir Soal Validitas Daya Pembeda Keterangan
Kesukaran
1 Valid Sedang Baik digunakan
2 Valid Sedang Baik digunakan
3 Valid Sedang Cukup digunakan
4 Tidak Valid Mudah Buruk -
5 Valid Mudah Baik digunakan
6 Tidak Valid Sukar Drop -
7 Tidak Valid Mudah Buruk -
8 Valid Sedang Baik digunakan
9 Valid Mudah Cukup digunakan
10 Tidak Valid Sedang Cukup -
ttELlABIL]TAS TES

Rata2 =,3526
Simpang Baku= 5,86
KorefasiXY= 0,57
Rellabilitas Tes= 0,72
Nama berkas: E:\ \UJI COBA.AUR

No. UruL No. Subvek Kode/Nama Subyek Skor Ganjil Skor Genap Skor Total
1 I jose alnevo. t 18 15 34
2 1,9 segi putra. w 19 15 34
3 L4 prlska alviani 1,9 L4 33
5 dyah kurnia. s 1B L4 iz

5 11 nahwaniyah nu... L7 15 32
6 17 sahril- krisdi. . . 18 a4 3Z

7 21, tiara rahmasari 18 a4 32


B 15 rassya aliana. i a6 L4 30
9 20 sha11y maul-idea L6 13 29
10 ') brenda betania 15 13 zd
1L 6 fachrudin oktava 16 1,2 2B

a2 1,2 naila diyaul. a 13 t2 25


13 12 nauf al- mua'af a 15 10 25
L4 4 dimas rofie. c.n 1,2 1,2 Z+

15 7 gusti widya. k 1,6 I 214

16 9 mega millenia 18 6

77 10 nadila dwi. u 11 a2 23
1B 1B sawsan ghalib... L4 9 23
19 1 adj ieseptian 9 11 20
20 1,6 regiana inka. v L2 5 L7
21, 3 de1la agustina 9 7 76
22 )) yuliyanti 8 7 15

KELOMPOK UNGGUI, & ASOR

Kelompok Unggul
Nama berkas: Er\ \UJI COBA.AUR
1 2 345
No Url: No Subyek Skor
rode/Nama Subyek 1 2 345
1 B jose alnevo. t 34 4 4 334
2 1,9 segi putra. w 34 4 4 424
3 t4 priska alviani 33 4 4 444
4 5 dyah kurnia. s 32 3 4 444
5 11 nahwaniyah nu... 32 4 343
6 1,7 sahril krisdl. . . 32 4 2 344
Rata2 Skor 2 02 3,33 ) 50 3,50 3,83

Simpang Baku o ,47 1, 03 0, 55 0, 84 0 ,47

67 B 9 10
No Urt No Subyek Kode/Nama Subyek Skor 67 B 9 10
1 B jose alnevo. t 34 13 444
2 a9 segi putra. w 34 13 444
3 a4 priska alviani 33 13 441
4 5 dyah kurnia. s 32 13 441
5 11 nahwaniyah nu... 32 13 444
6 !7 sahril krisdi... 32 1,4 433
Rat.a2 Skor 1, oo 3,L7 4,oo 3,83 2,83
Simpang Baku 0,00 0,4L 0,00 0,41 7.,4'7

Kelompok Asor
Nama berkas: E, \ \UJI COBA.AUR

L2 34 5

No Urt No Subyek Kode/Nama Subyek Skor 1,2 34 5

1 10 nadila dwi. u 23 44 1,4 1

2 1B sawsan gha1ib... 23 2a 34 4

3 1 adj ieseptian 20 11 24 1

4 L6 regiana inka. v 17 11 31 2

5 3 del-l-a agustina 1,6 11 23 2

6 22 yuliyanti 15 1,2 11 2

Rata2 Skor 4,67 7,67 2, 00 2,83 2,00


Simpang Baku 1,2a 4,21 0, 89 1,47 1, 10
67 I 9 10
No Urt No Subyek Kode/Nama Subyek skor ot B 9 10
1, 10 nadila dwi. u 23 11 241
2 18 sawsan gha1ib... 23 13 221
3 1 adj ieseptian 20 24 113
4 1,6 regiana inka. v 1-7 1,4 421
5 3 de1la agustina L6 13 111
6 22 yuliyant.i 15 11 231
Rata2 Skor L,L7 2,67 1,50 2,a] 1,33
Simpang Baku 0,41, 1,3'7 0,55 7,7'7 0,82

DAYA PEMBEDA

Jumfah Subyek= 22
KIp atas/bawah (n) = 6

Butir Soaf= 10
Un: Unggul ; AS : Asor,' SB: Simpang Baku
Nama berkas: E: \ \UJI COBA. AUR

No No Btr Asli Rata2Un Rata2As Beda SB Un SB As SB Gab t DP (8)


1 1 3, 83 1,67 2,L7 O,4L 1,2L 0,52 4,75 54 ,1'7
2 2 1-,67 L,57 1,03 1 ,2L 0,65 2,56 41 ,5'7
3 3 3,50 2 ,00 1,50 0,55 0,89 0,43 3,50 37,50
4 4 3,50 2 ,83 0,67 0, 84 1,47 0,69 0,96 1,6,6'7
5 5 3, 83 2 ,00 1, 83 0 ,4L 1, 10 0,48 3 ,84 45,83
6 6 1,00 a,a'7 0,00 0 ,41 0,L'7 -4,L'l
l 1 3 ,7-7 2,67 0,50 0,41_ 1 21 0,58 0,85 1,2,50
B 8 4,00 1,50 2,50 0,00 0, 55 0,22 1... 62,50
9 9 3, 83 ) 11 1,67 0 ,47_ 4,17 0,51 3,30 41,,67
10 10 2 ,83 1,33 1,50 L,47 0 ,82 0,69 2,L8 31,50

TINGKAT KESUKARAN
Jumlah Subyek= 22
Butir Soal= 10
Nama berkas: E : \ \UJI_COBA.AUR

No Butir Baru No Butir Asl-i Tkt Kesukaran (t) Tafsiran


1 1 58,75 Sedang
2 ) 62,50 Sedang
3 3 68,75 Sedang
4 4 ,o 1, Mudah
5 5 aa oa Mudah
6 6 27 ,08 Sukar
7 7 72,92 Mudah
o 58,75 Sedang
9 9 75, 00 Mudah
10 10 52,08 Sedang

KORELAS] SKOR BUTIR DG SKOR TOTAL

Jumlah Subyek= 22
Butir Soal-= 10
Nama berkas: E, \ \UJ]-COBA. AUR

No Butir Baru No Butir Asl-i Korelasi Signifikansi


1 1 0,736 Sangat Signifikan
2 2 0,678 Signifikan
3 3 0 ,602 Signifikan
4 4 0,336
5 5 o ,684 Signifikan
6 5 -0,243
7 7 0,145
B o o,76L Sangat Signi-fikan
9 9 0,605 Signifikan
10 10 o ,449
Catatan: Bat.as signifikansi koefisien korel-asi sebagaai berikut:

df (N-2 ) 01
P=0 , 05 P=0, df (N-2 ) P=0, 05 P=0, 01
10 0,576 0,708 50 0,250 0,325
15 0,482 0,606 70 0,233 0,302
20 0,423 0,549 80 0,2L7 0,283
25 0, 381 O ,496 90 0 ,205 0,267
30 0,349 0,449 100 0,195 0,254
40 0,304 0,393 ].25 O,!74 0,228
50 0,273 0,354 >150 0,1-59 0,208

Blla koefisien = 0,000 berarti tidak dapat dlhitung.

REKAP ANAL]SIS BUTIR

Rata2= ,36
26
Simpang Baku= 5,85
KorelasiXY= 0,57
Reliabilitas Tes= 0,72
Butir Soaf= 10
Jumfah Subyek= 22
Nama berkas: E:\ \UJI CoBA.AUR

No No Btr Asli T DP (E) T. Kesukaran Korel-asi Sign. Korel-asi


1 1, 4 ,1,5 54,7'7 Sedang 0,735 Sangat Signifikan
2 2 2 ,56 4L, 67 Sedang o ,678 Signifikan
3 3 3,50 37 ,50 Sedang 0 ,602 Signifikan

4 4 0 ,96 1,6 ,5'7 Mudah 0,336


5 5 3 , 84 45,83 Mudah 0,684 Signlfikan
6 6 - -4 17 Sukar -6 )Aa.

7 '7 0 , 86 L2,50 Mudah o,L45


B 8 1. . . 62,50 Sedang 0,76a Sangat Signifikan
9 9 3, 30 4L,67 Mudah 0, 606 Signlfikan
10 10 2,L8 37 ,50 Sedang n /10

REL]ABII,]TAS TES
Rata2= 26,36
Simpang Baku= 5,86
KorefasiXY= 0,57
Reliabilitas Tes= 0,72
Nama berkas: E:\ \uJr CoBA.AUR

No. Urut No. Subyek Kode/Nama Subyek Skor Ganjil Skor Genap Skor ToLaf
1 I jose alnevo. t 18', 1,6 34

19 segi putra. w 19 15 34

3 1,4 priska alviani 1,9 1,4 2a

4 5 dyah kurnia. s 18 1,4 )z

5 11 nahwaniyah nu... 1,7 15 ?)

6 a7 sahri-1 krisdi. . . 1B 1,4

1 21, tiara rahmasari 1B 14


I l-5 rassya al-iana. i a6 L4 30
9 20 sha11y maulidea a6 13 29
10 2 brenda betania 15 13 28
11 5 fachrudin oktava 1-6 12 2B

1,2 !2 naifa diyaul. a 13 L2 25


13 13 naufal mua'afa 15 l-0 25
74 4 dimas rofie. c.n 72 1,2 24
15 gusti widya. k 15 B 24
16 9 mega millenia 18 6 24
77 10 nadifa dwi. u 11 L2 z)

1B 1B sawsan gha1ib... 1,4 9 23

19 1 adj ieseptian 9 11 20
20 L6 regiana inka. v t2 5 1,7

2L 3 del-1a agustj-na 9 7 L6
22 22 yuliyant.i a 7 15

KELOMPOK IINGGUL & ASOR

Kelompok Unggul
Nama berkas: E, \ \UJT_COBA. AUR
No Urt No Subyek Kode/Nama Subyek S;KOT I z3 45
1 B jose alnevo. t 344 43 34
2 a9 segi putra. w 344 44 ZA

3 L4 prlska alviani 22 A
44 44
4 5 dyah kurnia. s 52 J 44 44
5 11 nahwanlyah nu... 324 23 43
6 17 sahril krisdi. . . 324 23 44
Rata2 Skor 2 02 3,33 3,50 3,50 3, 83
Simpang Baku n.L1 1, 03 0, 55 0, 84 0 ,47

6 '78 9 10
No Urt . No Subyek Kode/Nama Subyek Skor 6 78 9 10
1 I jose alnevo. L 34 1 34 44
2 a9 segi putra. w 34 1 34 44
3 L4 priska alviani 33 1 34 4a
4 5 dyah kurnia. s 32 l- 34 4t
5 11 nahwaniyah nu... 32 1 34 aa

6 a7 sahril krisdi. . . 32 1 44 33
Rata2 Skor 1, 00 3,1,7 4,00 3, 83 2, 83
Simpang Baku 0,00 0,4L 0, 00 0, 4L 1,41

Kelompok Asor
Nama -berKas: Ei : \ \UJI_COBA.AUR

1 -5+ 5

No Urt No Subyek Kode/Nama Subyek Skor 1 2 34 5

1 10 nadila dwi. u 234 4 L4 1

2 1B sawsan gha1ib... 232 1 34 4

3 1 adj ieseptian 20 1 1 24 1

4 a5 regiana inka. v 1,7 1 1 31 2

5 a del-l-a agustina 16 1 1 23 2

6 )) yuliyanti 15 1 2 11 2

Rata2 Skor 1,,67 L, 5'7 2, 00 2,83 2, 00


Simpang Baku L ,21 L ,2L 0, 89 7,47 L, 10

5 10
No Urt No Subyek Kode/Nama Subyek Skor 6 7B 9 10
1 10 nadlla dwi. u 23 1 1,2 4a
2 18 sawsan ghaIib... 23 1 2') 21,
3 1 adj ieseptian 202 4\ 13
4 1,5 regiana j-nka. v 1,7 l- 47 2a
5 f
della agustina 1,6 1 31 11
6 22 yuliyanti 15 1 t2 31
Rata2 Skor L,L7 2,6'7 1,50 2,17 1,33
Simpang Baku o ,4L a ,37 0 , 55 L, 17 0 ,82

DAYA PEMBEDA

Jumlah Subyek= 22
K1p atas/bawah (n) = 0
Butlr Soal= 10
Un: Unggul,' AS: Asor,' SB: Simpang Baku
Nama berkas: E: \ \UJI COBA. AUR

No No Btr Asli Rata2Un Rata2As Beda SB Un SB As SB Gab t DP (?)


1 1 2 02 L,67 2,L7 0,4L 1, ,21, 0,52 4 ,1,5 54 , A'7

2 2 2 22 L, 67 1,67 1,03 ,21


1, 0, 65 2 ,56 4A,57
3 3 3,50 2 ,00 1,50 0,55 0,89 0,43 3,50 37 ,50
4 4 3,50 2 ,83 0,6'7 0, 84 1,, 47 0,69 0,96 a5 ,6'7
5 5 3, 83 2,00 1, 83 0 ,4L 1, 10 0,48 3,84 45 ,83
6 b 1,00 L,17 0,00 0 ,4L 0,L7 -4,17
7 1 3 ,1,7 2,67 0,50 0,4L 1 )1 0,58 0,86 72 ,50
B 8 4, 00 1,50 2,50 0, 00 0, 55 i))'1 62,50
9 9 ? o2 2,77 7-,67 O ,41 L, L7 0?51 3,30 4L, 67
10 10 a a2 1,33 1,50 L,4'7 0 ,82 0,69 2,78 37,50

TINGKAT KESUKARAN

Jumlah Subyek= 22
Butir Soal= 10
Nama berkas: E, \ \UJI_COBA. AUR

No Butir Baru No Butir Asli Tkt Kesukaran ( I ) Tafsiran


1, 1- 68,75 Sedang
2 2 62 ,50 Sedang
3 3 68,75 Sedang
4 4 79,L7 Mudah
5 5 '7) A) Mudah
6 6 27,08 Sukar
7 7 '7) A) Mudah
I o 68,75 Sedang
9 g '75,00 Mudah
10 10 52 ,08 Sedang

KORELASI SKOR BUTIR DG SKOR TOTAI,

Jumlah Subyek= 22
Butir Soal= 10
Nama berkas: Er\ \U.]I-COBA.AUR

No Butir Baru No But.ir Asli Korel-asi Signifikansi


1 1, 0,736 Sangat Signifikan
2 2 0,678 Signifikan
3 3 0,502 Signifikan
4 4 0,336
5 5 0 ,684 Signifikan
6 6 -0,243
7 7 0,145
I o 0,761, Sangat Signifikan
9 9 0,606 Signifikan
10 10 o ,41,9

Catatan: Batas signifikansi koefisien korelasi sebagaai berikut:


df (N*2 ) p=0,05 p=0,01 df (N-2 ) p=0, 05 p=0, 01
10 0,576 0,708 50 0,250 0,325
15 0,482 0,606 7O 0,233 0,302
20 0,423 0,549 80 0,2a7 0,283
25 0,381 0,496 90 0,205 0,257
30 0,349 0,449 100 0,195 0,254
40 0,304 0,393 1,25 0,474 0,228
50 0,273 0,354 >150 0,159 0,208

Bila koefisien = 0,000 berarti t.idak dapat dihitung.

REKAP ANALISTS BUTIR

KdLdz= zo t so

Simpang Baku= 5,86


KorefasiXY= 0,57
Relrabrlrtas Tes= 0,72
Butir Soal= 10
Jumlah Subyek= 22
Nama berkas: E:\ \UJI COBA.AUR

No No Btr Asli T DP(t) T. Kesukaran Korel-asi Sign. Korefasi


1 4 ,1-5 54 ,1-i Sedang 0,736 Sangat Signifikan
2 2 ,55 4I,67 Sedang 0,678 Signifikan
3 3 , 50 37 ,50 Sedang 0 ,602 Signifikan

4 0 ,96 16,67 Mudah 0,336


5 3 , 84 45,83 Mudah 0,684 Signifikan
6 -... -4,L7 Sukar -o ,243
7 0 ,86 12 ,50 Mudah 0,L45
B 1. . . 62,50 Sedang 0,76a Sangat Signifikan
9 9 3,30 4L,67 Mudah 0,606 Signifikan
10 10 2 , L8 37, 50 Sedang 0 ,4]-9
Lampiran B.8

SOAL UJI COBA HASIL BELAJAR FISIKA SISWA

Sebelum Anda memulai mengerjakan soal-soal dibawah ini,


mulailah dengan membacaBASMALAH…

1. Kamu mungkin pernah mengamati jejak-jejak kaki ayam dan bebek yang berjalan
pada tanah yang basah. Walaupun berat kedua hewan itu sama, namun pengaruhnya
terhadap tanah tersebut berbeda. Hasil jejak kaki yang ditinggalkan ayam lebih
dalam dibandingkan dengan jejak kaki bebek. Ternyata perbedaan tersebut
diakibatkan adanya pengaruh tekanan yang diterima tanah akibat gaya yang
diberikan oleh kaki bebek. Menurut analisamu, pengertian tekanan yang
dimaksudkan adalah ….
2. Pernahkah kamu memperhatikan alat pemotong yang ada dirumah kita? Begitu
banyak peralatan untuk memotong dalam kehidupan sehari-hari yang kita gunakan.
Jika kamu perhatikan peralatan tersebut, ternyata permukaan alat tersebut sengaja
dibuat runcing. Apa penyebab utama peralatan tersebut dibuat runcing?
3. Sebuah meja massanya 2400 gram memiliki empat buah kaki dengan salah satu luas
permukaan kakinya 0,4 m2 diletakkan diatas lantai. Jika luas permukaan tersebut
dibuat setengah kali semula, maka tekanan yang diterima lanai adalah ….
(percepatan gravitasi bumi 10 m/s2)
4. Tulislah sebuah pernyataan yang dapat menjelaskan peristiwa berikut:
Ketika berenang pada permukaan air, kita tidak akan merasakan perubahan drastis
pada bagian tubuh kita, tapi pada saat kita menyelam semakin dalam hingga
menyentuh dasar kolam, telinga akan terasa sakit. Menurut analisa kalian, apa yang
menyebabkan hal tersebut terjadi?
5. Kamu memiliki sebuah bejana yang diberi tiga buah lubang pada ketinggian yang
berbeda, lalu ketiga lubang tersebut ditutup oleh sumbat. Kemudian bejana tersebut
diisi air sampai penuh. Menurut analisamu, bagaimana kecepatan keluarnya air dari
ketiga lubang tersebut?
6. Pernahkah kalian mengamati sumber air dirumah kita? Beberapa rumah mungkin
masih menggunakan sumur. Perhatikan kondisi sumur tersebut, keadaan sumur
tersebut tidak pernah kering walaupun setiap saat dipompa airnya. Menurut
pedapatmu, bagaimana hal tersebut dapat terjadi?

146
147

7. Sebuah pipa U diisi dengan air yang massa jenisnya 1000 kg/m3. Salah satu kaki
pipa U kemudian diisi degan gliserin yang massa jenisnya 1200 kg/m3. Jika tinggi
gliserin 4 cm, maka selisih tinggi cairan di kedua kaki pipa U itu adalah ….
8. Ketika kamu sedang menolong seseorang yang mengganti ban mobilnya. Dengan
menggunakan dongkrak, kamu dapat mengangkat bagian belakang mobil hanya
dengan satu tangan. Menurut analisamu, bagaimana prinsip kerja dongkrak sehingga
dapat mengangkat beban berat?
9. Kita sering melihat kapal laut yang sangat besar dapat terapung di atas air, tetapi
batu kecil bisa tenggelam di dalam air. Menurut analisamu penyebab kapal laut dapat
teraung di atas air, sedangkan batu tidak!
10. Jelaskan mengapa kamu setuju/tidak setuju dengan pernyataan tentang bagian bawah
sebuah bendungan yang dibuat lebih tebal daripada bagian atasnya.

JUJURLAH PADA DIRI ANDA SENDIRI…!!!


Lampiran B.9

Kriteria Analisis Hasil Belajar Fisika Siswa

Kompetensi
Butir
Matematis Skor Keterangan
Soal
(Indikator)
Memfokuskan Nomor 1 4 Siswa dapat memfokuskan seluruh informasi
pertanyaan dengan baik tentang permasalahan dan
pengertian tekanan zat padat
3 Siswa memfokuskan sebagian (beberapa)
informasi tentang permasalahan dan pengertian
tekanan zat padat
2 Siswa kurang tepat memfokuskan seluruh
informasi tentang permasalahan dan pengertian
tekanan zat padat
1 Siswa memfokuskan seluruh informasi tentang
permasalahan dan pengertian tekanan zat padat
dengan bias (prejudis)
0 Siswa tidak dapat memfokuskan seluruh
informasi tentang permasalahan dan pengertian
tekanan zat padat
Menganalisis Nomor 2 4 Siswa dapat mengidentifikasi seluruh informasi
argumen yang tentang permasalahan hubungan antara gaya dan

dikemukakan luas bidang tekan terhadap hasil tekanan yang


terbentuk.
3 Siswa mengidentifikasi sebagian (beberapa)
informasi tentang permasalahan hubungan
antara gaya dan luas bidang tekan terhadap hasil
tekanan yang terbentuk.
2 Siswa kurang tepat mengidentifikasi seluruh
informasi tentang permasalahan hubungan
antara gaya dan luas bidang tekan terhadap hasil

148
149

tekanan yang terbentuk.


1 Siswa mengidentifikasi seluruh informasi
tentang permasalahan hubungan antara gaya dan
luas bidang tekan terhadap hasil tekanan yang
terbentuk dengan bias (prejudis)
0 Siswa tidak dapat mengidentifikasi seluruh
informasi tentang permasalahan hubungan
antara gaya dan luas bidang tekan terhadap hasil
tekanan yang terbentuk.
Memilih kriteria Nomor 3 4 Siswa dapat memilih kriteria penyelesaian dari
untuk seluruh informasi tentang permasalahan tekanan

mempertimbang zat padat dalam soal dengan cara menuliskan


yang diketahui (informasi) yang berhubungan
kan
dengan gaya dan luas permukaan.
penyelesaian
3 Siswa memilih kriteria penyelesaian sebagian
(beberapa) informasi tentang permasalahan
tekanan zat padat dalam soal dengan cara
menuliskan yang diketahui (informasi) yang
berhubungan dengan gaya dan luas permukaan.
2 Siswa kurang tepat memilih kriteria seluruh
informasi tentang permasalahan tekanan zat
padat dalam soal dengan cara menuliskan yang
diketahui (informasi) yang berhubungan dengan
gaya dan luas permukaan.
1 Siswa memilih kriteria penyelesaian dari
seluruh informasi tentang permasalahan tekanan
zat padat dalam soal dengan cara menuliskan
yang diketahui (informasi) yang berhubungan
dengan gaya dan luas permukaan dengan bias
(prejudis).
0 Siswa tidak dapat memilih kriteria penyelesaian
dari seluruh informasi tentang permasalahan
tekanan zat padat dalam soal dengan cara
150

menuliskan yang diketahui (informasi) yang


berhubungan dengan gaya dan luas permukaan.
Mengobservasi Nomor 4 4 Siswa dapat mengobservasi dan
dan mempertimbangkan hasil dari seluruh informasi

mempertimbang tentang pengertian tekanan zat cair.


3 Siswa mengobservasi dan mempertimbangkan
kan suatu
sebagian (beberapa) hasil dari seluruh informasi
laporan hasil
tentang pengertian tekanan zat cair.
observasi
2 Siswa kurang tepat mengobservasi dan
(melaporkan
mempertimbangkan hasil dari seluruh informasi
berdasarkan
tentang pengertian tekanan zat cair.
pengamatan) Siswa mengobservasi dan mempertimbangkan
1
hasil dari seluruh informasi tentang pengertian
tekanan zat cair dengan bias (prejudis)
0 Siswa tidak dapat mengobservasi dan
mempertimbangkan hasil dari seluruh informasi
tentang pengertian tekanan zat cair.
Mengidenifikasi Nomor 5 4 Siswa dapat mengidentifikasi dan mengkonstuk
asumsi dan pernyataan dari seluruh informasi tentang

mengkonstruk konsep bejana berhubungan.


3 Siswa mengidentifikasi dan mengkonstuk
pernyataan
sebagian (beberapa) pernyataan tentang konsep
bejana berhubungan.
2 Siswa kurang tepat mengidentifikasi dan
mengkonstuk pernyataan dari seluruh informasi
tentang konsep bejana berhubungan.
1 Siswa mengidentifikasi dan mengkonstuk
pernyataan dari seluruh informasi tentang
konsep bejana berhubungan dengan bias
(prejudis)
0 Siswa tidak dapat mengidentifikasi dan
mengkonstuk pernyataan dari seluruh informasi
tentang konsep bejana berhubungan.
151

Menerapkan Nomor 6 4 Siswa dapat menerapkan seluruh prinsip / rumus


prinsip / rumus tentang prinsip hukum Archimedes serta
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
3 Siswa menerapkan sebagian (beberapa) prinsip /
rumus tentang prinsip hukum Archimedes serta
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
2 Siswa kurang tepat dalam menerapkan prinsip /
rumus tentang prinsip hukum Archimedes serta
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
1 Siswa menerapkan seluruh prinsip / rumus
tentang prinsip hukum Archimedes serta
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
dengan bias (prejudis)
0 Siswa tidak dapat menerapkan prinsip / rumus
tentang prinsip hukum Archimedes serta
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Lampiran B.10 152

INSTRUMEN TES (POSTTEST)


HASIL BELAJAR FISIKA SISWA

Nama :
Kelas :

Sebelum Anda memulai mengerjakan soal-soal dibawah ini,


mulailah dengan membaca BASMALAH…

1. Kamu mungkin pernah mengamati jejak-jejak kaki ayam dan bebek yang
berjalan pada tanah yang basah. Walaupun berat kedua hewan itu sama,
namun pengaruhnya terhadap tanah tersebut berbeda. Hasil jejak kaki yang
ditinggalkan ayam lebih dalam dibandingkan dengan jejak kaki bebek.
Ternyata perbedaan tersebut diakibatkan adanya pengaruh tekanan yang
diterima tanah akibat gaya yang diberikan oleh kaki bebek. Menurut
analisamu, pengertian tekanan yang dimaksudkan adalah ….
2. Pernahkah kamu memperhatikan alat pemotong yang ada dirumah kita?
Begitu banyak peralatan untuk memotong dalam kehidupan sehari-hari yang
kita gunakan. Jika kamu perhatikan peralatan tersebut, ternyata permukaan
alat tersebut sengaja dibuat runcing. Apa penyebab utama peralatan tersebut
dibuat runcing?
3. Sebuah meja massanya 2400 gram memiliki empat buah kaki dengan salah
satu luas permukaan kakinya 0,4 m2 diletakkan diatas lantai. Jika luas
permukaan tersebut dibuat setengah kali semula, maka tekanan yang diterima
lanai adalah …. (percepatan gravitasi bumi 10 m/s2)
4. Kamu memiliki sebuah bejana yang diberi tiga buah lubang pada ketinggian
yang berbeda, lalu ketiga lubang tersebut ditutup oleh sumbat. Kemudian
bejana tersebut diisi air sampai penuh. Menurut analisamu, bagaimana
kecepatan keluarnya air dari ketiga lubang tersebut?
5. Pernahkah kalian mengamati sumber air dirumah kita? Beberapa rumah
mungkin masih menggunakan sumur. Perhatikan kondisi sumur tersebut,
keadaan sumur tersebut tidak pernah kering walaupun setiap saat dipompa
airnya. Menurut pedapatmu, bagaimana hal tersebut dapat terjadi?
6. Kita sering melihat kapal laut yang sangat besar dapat terapung di atas air,
tetapi batu kecil bisa tenggelam di dalam air. Menurut analisamu penyebab
kapal laut dapat teraung di atas air, sedangkan batu tidak!

JUJURLAH PADA DIRI ANDA SENDIRI…!!!


Lampiran C1 153

Analisis Tes Awal (Pretest) Hasil Belajar Fisika Siswa


Kelas Eksperimen

Indikator Soal
No. Responden Jumlah Skor
1 2 3 4 5 6
1 Ade Ayu Febriyanti 1 1 2 0 1 1 6 25
2 Ade Fitria Wulandari 1 1 2 1 1 1 7 29
3 Ahmad Farhandy 1 1 2 2 1 1 8 33
4 Aldila Fajar Imani 1 1 2 1 1 1 7 29
5 Amalia Sholiha 1 1 2 1 1 1 7 29
6 Ananda Sholehah 1 1 2 1 1 1 7 29
7 Bagas Prasetyo. W 1 1 2 2 1 1 8 33
8 Bagus Adi Pradana 2 1 2 1 1 1 8 33
9 Cia Ope Nina Tambak 1 1 2 2 1 0 7 29
10 Erna Saputri 1 1 2 1 1 1 7 29
11 Humairotul Afiah 1 1 2 1 1 1 7 29
12 Ikhsan Mubarok 4 3 2 3 1 1 14 58
13 Ilza Rizka Sufira 1 1 1 1 1 1 6 25
14 Merantina Aritaun 1 1 2 1 1 1 7 29
15 M. Akbar Ramadhan 1 2 2 1 1 1 8 33
16 Neti Tahiyatul 1 1 1 1 1 1 6 25
17 Nur Sahrin Pratama 3 1 2 3 1 2 12 50
18 Nurul Hidayah 2 1 2 1 1 2 9 38
19 Ranti Merliana 1 1 2 1 1 1 7 29
20 Rian Alip 1 1 2 2 1 4 11 46
21 Sausan Nurul Hanin 1 1 2 0 1 1 6 25
22 Shafira Miftahul Nikmah 1 1 2 1 1 1 7 29
23 Siti Akbarioni 1 1 2 1 1 1 7 29
24 Yehezkiel Immanuel. M 2 1 1 1 1 2 8 33
25 Yuliana Nur Fadillah 1 1 2 1 1 1 7 29
26 Yunita Anggraini 1 1 2 1 1 1 7 29
27 Zidan Aidil 3 1 2 4 1 2 13 54
Jumlah (x) 37 30 51 36 27 33 214
Jumlah Ideal (Y) 108 108 108 108 108 108
Presentase (%) per indikator 34.3 27.8 47.2 33.3 25 31
Rata-rata Presentase (%) 33.0 Sangat Rendah
154

A B C D E F G H I J K
1 Analisis Tes Akhir (Posttest) Hasil Belajar Fisika Siswa
2 Kelas Eksperimen
3
4
5 Indikator Soal
No. Responden Jumlah Skor
6 1 2 3 4 5 6
7 1 Ade Ayu Febriyanti 4 3 4 3 2 1 17 71
8 2 Ade Fitria Wulandari 4 3 4 4 2 4 21 88
9 3 Ahmad Farhandy 4 2 4 2 1 4 17 71
10 4 Aldila Fajar Imani 4 3 4 3 2 4 20 83
11 5 Amalia Sholiha 3 4 4 2 2 3 18 75
12 6 Ananda Sholehah 4 4 4 2 2 3 19 79
13 7 Bagas Prasetyo. W 4 3 4 2 1 4 18 75
14 8 Bagus Adi Pradana 4 3 4 2 1 3 17 71
15 9 Cia Ope Nina Tambak 3 3 4 2 3 2 17 71
16 10 Erna Saputri 4 4 4 1 2 3 18 75
17 11 Humairotul Afiah 4 3 4 3 2 4 20 83
18 12 Ikhsan Mubarok 4 3 4 3 1 4 19 79
19 13 Ilza Rizka Sufira 3 3 3 3 2 3 17 71
20 14 Merantina Aritaun 3 3 4 3 2 3 18 75
21 15 M. Akbar Ramadhan 4 2 4 2 1 4 17 71
22 16 Neti Tahiyatul 4 4 3 2 2 4 19 79
23 17 Nur Sahrin Pratama 4 2 4 2 1 4 17 71
24 18 Nurul Hidayah 4 4 4 1 2 3 18 75
25 19 Ranti Merliana 3 2 4 3 2 3 17 71
26 20 Rian Alip 4 3 4 2 1 4 18 75
27 21 Sausan Nurul Hanin 3 3 4 3 2 3 18 75
28 22 Shafira Miftahul Nikmah 4 2 4 3 2 3 18 75
29 23 Siti Akbarioni 4 4 4 3 2 4 21 88
30 24 Yehezkiel Immanuel. M 4 3 4 3 2 3 19 79
31 25 Yuliana Nur Fadillah 4 3 4 4 2 3 20 83
32 26 Yunita Anggraini 3 2 4 4 2 3 18 75
33 27 Zidan Aidil 4 3 4 3 2 2 18 75
34 Jumlah (x) 101 81 106 70 48 88 494
35 Jumlah Ideal (Y) 108 108 108 108 108 108
36 Presentase (%) per indikator93.5 75 98.1 64.8 44.4 81.5
37 Rata-rata Presentase (%) 76.2 Sedang
155

Analisis Tes Awal (Pretest) Hasil Belajar Fisika Siswa


Kelas Kontrol

Indikator Soal
No. Responden Jumlah Skor
1 2 3 4 5 6
1 agung prayitno 2 1 2 2 1 2 10 42
2 amelia febriyanti 1 1 1 1 1 1 6 25
3 arief 2 1 2 2 1 2 10 42
4 bagas sururi 2 1 1 1 1 2 8 33
5 berliana 2 2 1 1 1 2 9 38
6 dewi sekar 2 1 1 1 1 1 7 29
7 dwika 2 2 2 1 1 2 10 42
8 fadhiil ramadhan 2 2 2 1 1 2 10 42
9 fadli 2 1 1 2 1 2 9 38
10 farhan abdullah 2 2 2 1 1 2 10 42
11 ilham 2 1 1 1 1 2 8 33
12 karisma wijayanti 2 2 2 2 1 2 11 46
13 m.mirza 1 2 1 1 1 2 8 33
14 m.bilal sunaryo 2 2 2 2 1 2 11 46
15 m.dani ramadhan 3 2 2 2 2 2 13 54
16 m.rachmadzam 3 2 3 2 3 3 16 67
17 nabila vrisca 2 2 2 1 1 2 10 42
18 nailul husna 3 3 2 2 2 3 15 63
19 nur amalia 2 2 1 2 1 2 10 42
20 rachmaudina. A 2 2 1 2 1 2 10 42
21 rizky baninta 3 3 2 2 2 3 15 63
22 safira salsabella 2 1 1 1 1 2 8 33
23 shahnaz meutia 2 2 1 2 1 2 10 42
24 sherli vidi 2 1 1 1 1 1 7 29
25 tias 3 2 2 2 2 2 13 54
26 widiatmoko 2 3 3 2 3 3 16 67
27 zulfa wahida 3 2 3 2 3 3 16 67
Jumlah (x) 58 48 45 42 37 56 286
Jumlah Ideal (Y) 108 108 108 108 108 108
Presentase (%) per indikator 53.7 44.4 41.7 38.9 34.3 51.9
Rata-rata Presentase (%) 44.14 Sangat Rendah
156

Analisis Tes Akhir (Posttest) Hasil Belajar Fisika Siswa


Kelas Kontrol

Indikator Soal
No. Responden Jumlah Skor
1 2 3 4 5 6
1 agung prayitno 4 2 3 2 2 3 16 67
2 amelia febriyanti 4 3 4 3 1 2 17 71
3 arief 4 2 3 2 2 4 17 71
4 bagas sururi 4 3 3 3 2 1 16 67
5 berliana 3 4 3 2 3 3 18 75
6 dewi sekar 4 2 4 1 2 2 15 63
7 dwika 4 2 4 2 2 4 18 75
8 fadhiil ramadhan 4 3 4 2 3 3 19 79
9 fadli 3 3 4 2 3 2 17 71
10 farhan abdullah 4 2 2 1 2 3 14 58
11 ilham 4 3 2 3 2 4 18 75
12 karisma wijayanti 4 3 3 3 1 4 18 75
13 m.mirza 3 3 4 3 2 3 18 75
14 m.bilal sunaryo 3 2 4 3 2 3 17 71
15 m.dani ramadhan 4 2 4 2 3 4 19 79
16 m.rachmadzam 4 4 3 2 1 4 18 75
17 nabila vrisca 4 2 3 2 1 4 16 67
18 nailul husna 4 4 4 1 2 3 18 75
19 nur amalia 3 2 4 3 2 3 17 71
20 rachmaudina. A 4 2 4 2 1 4 17 71
21 rizky baninta 3 3 4 3 2 3 18 75
22 safira salsabella 4 2 4 3 2 3 18 75
23 shahnaz meutia 4 4 3 3 2 1 17 71
24 sherli vidi 4 3 4 1 2 3 17 71
25 tias 4 3 4 3 2 3 19 79
26 widiatmoko 4 3 4 4 2 3 20 83
27 zulfa wahida 4 3 4 3 2 4 20 83
Jumlah (x) 102 74 96 64 53 83 472
Jumlah Ideal (Y) 108 108 108 108 108 108
Presentase (%) per indikator
94.4 68.5 88.9 59.26 49.1 76.9
Rata-rata Presentase (%) 72.84 Sedang
Lampiran C.2

Uji Normalitas Data Pretest dan Posttest


Kelas Ekaperimen dan Kelas Kontrol

A. Rekapitulasi Data Pretest Kelas Eksperimen


Hasil pretest kelas eksperimen adalah sebagai berikut:
25 58 25 33 29
29 29 29 29 29
33 29 33 29 54
29 29 25 21
29 33 50 46
29 33 38 29
Dari tabel data diatas diperoleh nilai maksimum (Xmax) adalah 58 dan nilai
minimum (Xmin) adalah 25. Sehingga dapat dibuat sebuah tabel distribusi
frekuensi setelah terlebih dahulu menentukan nilai rentang (R), banyaknya kelas
(K) , dan panjang kelas (P). Nilai ketiganya diperoleh berdasarkan perhitungan
berikut ini:
1. Rentang (R):
R = Xmax – Xmin
= 58 – 25
= 33
2. Banyaknya kelas (K):
K = 1+3,3 log n
= 1+ 3,3 log 27
= 1+ 3,3 x 1,43
= 1+ 4,72
= 5,72 ≈ 6
Sehingga banyaknya kelas adalah 6
3. Panjang Kelas (P)

P=

157
158

= 5,5 ≈ 6
Sehingga panjang kelasnya adalah 2
Tabel Distribusi Frekuensinya adalah sebaai berikut :
Nilai
Interval Batas
No. F Tengah f . Xi
Kelas Kelas
(Xi)
1. 25-30 24,5 17 27,5 756,25 467,5 12856,25
2. 31-36 30,5 5 33,5 1122,25 167,5 5611,25
3. 37-42 36,5 1 39,5 1560,25 39,5 1560,25
4. 43-48 42,5 1 45,5 2070,25 45,5 2070,25
5. 49-54 48,5 2 51,5 2652,25 103 5304,50
6. 55-60 54,5 1 57,5 3306,25 57,5 3306,25
Jumlah 237 27 255 11467,5 880,5 30708,75

Berdasakan tabel distribusi frekuensi tersebut maka dapat ditentukan nilai


rat-rata (X), median (Me), modus (Mo), dan deviasi standar (S) dari nilai pretest
ini. Berikut ini adalah perhitungan unuk menentukan nilai-nilai tersebut.
a. Perhitungan Rata-rata (X)

X=

= 32,6
b. Perhitungan Median (Me)
Nilai median ditentukan dengan rumus statistic berikut ini:

Me = b + p [ ]

Keterangan :
b = batas bawah kelas median = 30,5
p = panjang kelas =6
n = banyaknya data = 27
159

F = nilai frekuensi kumulatif sebelum kelas median = 17


f = nilai frekuensi kelas median =5

berdasarkan data tersebut, maka dapat ditentukan nilai median dari hasil
pretest ini adalah sebagai berikut:

Me = b + p [ ]

= 30,5 + 2

= 30,5 + (6 x (-0,7))
= 30,5 + (-4,2)
= 26,3
c. Perhitungan Modus (Mo)
Nilai modus ditentukan dengan rumus statistic berikut ini:

Mo = b + p

= 30,5 + 6

= 30,5 + (6 x 1,5)
= 30,5 + 9
= 39,5

Keterangan :
b = batas bawah kelas median = 30,5
p = panjang kelas =6
= frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas sebelumnya =5-17= -12
= frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas sesudahnya = 5-1 = 4
160

d. Perhitungan Standar Deviasi (SD)

=√

=√

=√

=√

=√

=√
= 8,75
161

B. Rekapitulasi Data Posttest Kelas Eksperimen


Hasil posttest kelas eksperimen adalah sebagai berikut:
75 88 71 83 71
75 79 75 71 79
75 79 71 75 83
75 79 75 75 75
71 79 71 88 71
75 79
Dari tabel data diatas diperoleh nilai maksimum (Xmax) adalah 88 dan nilai
minimum (Xmin) adalah 71. Sehingga dapat dibuat sebuah tabel distribusi
frekuensi setelah terlebih dahulu menentukan nilai rentang (R), banyaknya kelas
(K) , dan panjang kelas (P). Nilai ketiganya diperoleh berdasarkan perhitungan
berikut ini:
1. Rentang (R):
R = Xmax – Xmin
= 88 – 71
= 17
2. Banyaknya kelas (K):
K = 1+3,3 log n
= 1+ 3,3 log 27
= 1+ 3,3 x 1,43
= 1+ 4,72
= 5,72 ≈ 6
Sehingga banyaknya kelas adalah 6
3. Panjang Kelas (P)

P=

= 2,83 ≈ 3
Sehingga panjang kelasnya adalah 3
162

Tabel Distribusi Frekuensinya adalah sebagai berikut :


Nilai
Interval Batas
No. F Tengah f . Xi
Kelas Kelas
(Xi)
1. 71-73 70,5 7 72 5184 504 36288
2. 74-76 73,5 10 73 5329 730 53290
3. 77-79 76,5 6 78 6084 468 36504
4. 80-82 79,5 0 81 6561 0 0
5. 83-85 82,5 2 82 6724 164 13448
6. 86-88 85,5 2 87 7569 174 15138
Jumlah 468 27 475 37451 2040 154668

Berdasakan tabel distribusi frekuensi tersebut maka dapat ditentukan nilai


rat-rata (X), median (Me), modus (Mo), dan deviasi standar (S) dari nilai pretest
ini. Berikut ini adalah perhitungan unuk menentukan nilai-nilai tersebut.
a. Perhitungan Rata-rata (X)

X=

= 75,56
b. Perhitungan Median (Me)
Nilai median ditentukan dengan rumus statistic berikut ini:

Me = b + p [ ]

Keterangan :
b = batas bawah kelas median = 73,5
p = panjang kelas =3
n = banyaknya data = 27
F = nilai frekuensi kumulatif sebelum kelas median =7
f = nilai frekuensi kelas median = 10
163

berdasarkan data tersebut, maka dapat ditentukan nilai median dari hasil
pretest ini adalah sebagai berikut:

Me = b + p [ ]

= 73,5 + 3

= 73,5 + (3 x 0,65)
= 73,5 + 1,95
= 75,45
c. Perhitungan Modus (Mo)
Nilai modus ditentukan dengan rumus statistic berikut ini:

Mo = b + p

= 73,5 + 3

= 73,5 + (3 x 0,42)
= 73,5 + 1,26
= 74,76

Keterangan :
b = batas bawah kelas median = 73,5
p = panjang kelas =3
= frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas sebelumnya =10-7= 3
= frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas sesudahnya = 10-6 = 4

d. Perhitungan Standar Deviasi (SD)

=√
164

=√

=√

=√

=√

=√
= 4,53
165

Uji Normalitas Posstest Kelas Eksperimen

Uji normalitas menggunakan rumus kai kuadrat (chi square), yaitu :

=∑

Keterangan :
= frekuensi observasi
= frekuensi ekspektasi (harapan)
Kriteria pengujian ilai didasarkan pada ketentuan berikut ini:
a. Jika hitung ≤ tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak (data berdistribusi
normal).
b. Jika hitung ≥ tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak (data tidak
berdistribusi normal).
Daftar frekuensi observasi ( ) dan frekuensi ekspektasi ( )
Nilai Luas tiap kelas Frekuensi Frekuesi
=∑
Z interval (L) observasi (fo) ekspektasi (fe)
-1,12 0,1950 7 5,3 0,57174
-0,45 0,0904 10 2,4 23,4109
+0,21 0,2246 6 6,1 -24,0006
+0,87 0,1292 0 3,5 3,5
+1,53 0,0487 2 1,3 0,37692
+2,19 0,1171 2 3,2 0,42684
Pengujian hipotesis normalitas dengan cara membandingkan hitung dengan
tabel

hitung dk = k – 1 = 6 – 1 = 5

tabel = 0,05 tabel = 0,01

4,2858 11,070 15,086

Dari tabel diatas terlihat bahwa hitung ≤ tabel, maka dapat disimpulkan
bahwa data tersebut berdistribusi normal.
166

C. Rekapitulasi Data Pretest Kelas Kontrol


Hasil pretest kelas kontrol adalah sebagai berikut:
42 46 33 29 54
25 33 46 42 67
42 42 54 33 67
33 38 67 63
38 42 42 42
29 42 63 42
Dari tabel data diatas diperoleh nilai maksimum (Xmax) adalah 67 dan nilai
minimum (Xmin) adalah 25. Sehingga dapat dibuat sebuah tabel distribusi
frekuensi setelah terlebih dahulu menentukan nilai rentang (R), banyaknya kelas
(K) , dan panjang kelas (P). Nilai ketiganya diperoleh berdasarkan perhitungan
berikut ini:
1. Rentang (R):
R = Xmax – Xmin
= 67 – 25
= 42
2. Banyaknya kelas (K):
K = 1+3,3 log n
= 1+ 3,3 log 27
= 1+ 3,3 x 1,43
= 1+ 4,72
= 5,72 ≈ 6
Sehingga banyaknya kelas adalah 6
3. Panjang Kelas (P)

P=

=7
Sehingga panjang kelasnya adalah 7
167

Tabel Distribusi Frekuensinya adalah sebagai berikut :


Nilai
Interval Batas
No. F Tengah f . xi
Kelas Kelas
(Xi)
1. 25-31 24,5 3 28 784 84 2352
2. 32-38 31,5 6 35 1225 210 7350
3. 39-45 38,5 9 42 1764 378 15876
4. 46-52 45,5 2 49 2401 98 4802
5. 53-59 52,5 2 56 3136 112 6272
6. 60-67 59,5 5 63 3969 315 19845
Jumlah 251 27 273 13279 1197 56497

Berdasakan tabel distribusi frekuensi tersebut maka dapat ditentukan nilai


rat-rata (X), median (Me), modus (Mo), dan deviasi standar (S) dari nilai pretest
ini. Berikut ini adalah perhitungan unuk menentukan nilai-nilai tersebut.
a. Perhitungan Rata-rata (X)

X=

= 44,33
b. Perhitungan Median (Me)
Nilai median ditentukan dengan rumus statistic berikut ini:

Me = b + p [ ]

Keterangan :
b = batas bawah kelas median = 38,5
p = panjang kelas =7
n = banyaknya data = 27
F = nilai frekuensi kumulatif sebelum kelas median = 3+6 = 9
f = nilai frekuensi kelas median =9
168

berdasarkan data tersebut, maka dapat ditentukan nilai median dari hasil
pretest ini adalah sebagai berikut:

Me = b + p [ ]

= 38,5 + 7

= 38,5 + (7 x 0,5)
= 38,5 + 3,5
= 42,00
c. Perhitungan Modus (Mo)
Nilai modus ditentukan dengan rumus statistic berikut ini:

Mo = b + p

= 38,5 + 7

= 38,5 + (7 x 0,3)
= 38,5 + 2,1
= 40,60

Keterangan :
b = batas bawah kelas median = 38,5
p = panjang kelas =7
= frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas sebelumnya = 9-6= 3
= frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas sesudahnya = 9-2 = 7

d. Perhitungan Standar Deviasi (SD)

=√
169

=√

=√

=√

=√

=√
= 13,88
170

D. Rekapitulasi Data Posttest Kelas Kontrol


Hasil pretest kelas kontrol adalah sebagai berikut:
67 75 75 71 79
71 75 71 71 83
71 67 79 75 83
67 71 75 75
75 79 67 71
67 75 75 71
Dari tabel data diatas diperoleh nilai maksimum (Xmax) adalah 83 dan nilai
minimum (Xmin) adalah 67. Sehingga dapat dibuat sebuah tabel distribusi
frekuensi setelah terlebih dahulu menentukan nilai rentang (R), banyaknya kelas
(K) , dan panjang kelas (P). Nilai ketiganya diperoleh berdasarkan perhitungan
berikut ini:
1. Rentang (R):
R = Xmax – Xmin
= 83 – 67
= 16
2. Banyaknya kelas (K):
K = 1+3,3 log n
= 1+ 3,3 log 27
= 1+ 3,3 x 1,43
= 1+ 4,72
= 5,72 ≈ 6
Sehingga banyaknya kelas adalah 6
3. Panjang Kelas (P)

P=

= 2,67 ≈ 3
Sehingga panjang kelasnya adalah 3
171

Tabel Distribusi Frekuensinya adalah sebaai berikut :


Nilai
Interval Batas
No. F Tengah f . Xi
Kelas Kelas
(Xi)
1. 67-69 66,5 5 68 4624 340 23120
2. 70-72 69,5 8 71 5041 568 40328
3. 73-75 72,5 9 74 5476 666 49284
4. 76-78 75,5 0 77 5929 0 0
5. 79-81 78,5 3 78 6084 234 18252
6. 82-84 81,5 2 83 6889 166 13778
Jumlah 444 27 451 34043 1974 144762

Berdasakan tabel distribusi frekuensi tersebut maka dapat ditentukan nilai


rat-rata (X), median (Me), modus (Mo), dan deviasi standar (S) dari nilai pretest
ini. Berikut ini adalah perhitungan unuk menentukan nilai-nilai tersebut.
a. Perhitungan Rata-rata (X)

X=

= 73,11
b. Perhitungan Median (Me)
Nilai median ditentukan dengan rumus statistic berikut ini:

Me = b + p [ ]

Keterangan :
b = batas bawah kelas median = 72,5
p = panjang kelas =3
n = banyaknya data = 27
F = nilai frekuensi kumulatif sebelum kelas median = 8+5=13
f = nilai frekuensi kelas median =9
172

berdasarkan data tersebut, maka dapat ditentukan nilai median dari hasil
pretest ini adalah sebagai berikut:

Me = b + p [ ]

= 72,5 + 3

= 72,5 + (3 x 0,056)
= 72,5 + 0,167
= 72,67
c. Perhitungan Modus (Mo)
Nilai modus ditentukan dengan rumus statistic berikut ini:

Mo = b + p

= 73,5 + 3

= 73,5 + (3 x 0,1)
= 73,5 + 0,3
= 73,80

Keterangan :
b = batas bawah kelas median = 72,5
p = panjang kelas =3
= frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas sebelumnya = 9-8 = 1
= frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi kelas sesudahnya = 9-0 = 9

d. Perhitungan Standar Deviasi (SD)

=√
173

=√

=√

=√

=√

=√
= 4,11
174

Uji Normalitas Posstest Kelas Kontrol

Uji normalitas menggunakan rumus kai kuadrat (chi square), yaitu :

=∑

Keterangan :
= frekuensi observasi
= frekuensi ekspektasi (harapan)
Kriteria pengujian ilai didasarkan pada ketentuan berikut ini:
a. Jika hitung ≤ tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak (data berdistribusi
normal).
b. Jika hitung ≥ tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak (data tidak
berdistribusi normal).
Daftar frekuensi observasi ( ) dan frekuensi ekspektasi ( )
Nilai Luas tiap kelas Frekuensi Frekuesi
=∑
Z interval (L) observasi (fo) ekspektasi (fe)
-1,61 0,1357 5 3,6639 0,4880
-0,88 0,2510 8 6,777 0,2207
-0,15 0,1594 9 4,3038 5,1270
+0,58 0,1859 0 5,0193 5,0190
+1,31 0,0744 2 2,0088 0,4900
+2,04 0,0330 2 0,8910 1,3803
Pengujian hipotesis normalitas dengan cara membandingkan hitung dengan
tabel

hitung dk = k – 1 = 6 – 1 = 5

tabel = 0,05 tabel = 0,01

12,7251 11,070 15,086

Dari tabel diatas terlihat bahwa hitung ≤ tabel, maka dapat disimpulkan
bahwa data tersebut berdistribusi normal.
Lampiran C.3

Uji Homogenitas

Untuk menguji homogenitas varians kedua data hasil posttest digunakan uji F (Uji
Fisher) berdasarkan rumus berikut:

Keterangan :
F = Nilai Uji F

= varians besar atau nilai kuadrat standar deviasi data kelompok yang
mempunyai deviasi terbesar ( )

= varians besar atau nilai kuadrat standar deviasi data kelompok yang

mempunyai deviasi terkecil ( )

Kriteria pengujian Uji F didasarkan pada ketentuan berikut ini:


a. Jika ≤ , maka Ha diterima da Ho ditolak (data memiliki varians
yang homogen)
b. Jika ≥ , maka Ha diterima da Ho ditolak (data memiliki varians
yang tidak homogen)
A. Tabel Distribusi Frekuensi Posstest
Tabel distribusi frekuensi posstest kelas control
Nilai
Interval Batas
No. F Tengah f . Xi
Kelas Kelas
(Xi)
1. 67-69 66,5 5 68 4624 340 23120
2. 70-72 69,5 8 71 5041 568 40328
3. 73-75 72,5 9 74 5476 666 49284
4. 76-78 75,5 0 77 5929 0 0
5. 79-81 78,5 3 78 6084 234 18252
6. 82-84 81,5 2 83 6889 166 13778
Jumlah 444 27 451 34043 1974 144762

175
176

Tabel distribusi frekuensi posstest kelas Eksperimen


Nilai
Interval Batas
No. F Tengah f . Xi
Kelas Kelas
(Xi)
1. 71-73 70,5 7 72 5184 504 36288
2. 74-76 73,5 10 73 5329 703 53290
3. 77-79 76,5 6 78 6084 468 36504
4. 80-82 79,5 0 81 6561 0 0
5. 83-85 82,5 2 82 6724 164 13448
6. 86-88 85,5 2 87 7569 174 15138
Jumlah 468 27 475 37451 2044 154668

B. Perhitungan Nilai Deviasi Standar


1. Kelas Kontrol

S=√

=√

=√

=√

=√

=√
= 4,11
177

2. Kelas Eksperimen

S=√

=√

=√

=√

=√

=√
= 4,53

C. Menentukan Nilai Fhitung untuk menguji homogenitas


Berdasarkan nila deviasi standar kedua data, maka nilai Fhitung-nya adalah :

= 1,2148

Ftabel diperoleh dari tabel distribusi F, dengan ketentuan sebagai berikut:


dk pembilang (kanan) = n – 1 = 27 – 1 = 26 (untuk varians terbesar)
dk penyebut (bawah) = n – 1 = 27 – 1 = 26 (untuk varians terkecil)
178

Berdasarkan ketentuan tersebut, diperoleh Ftabel derajat kebebasan 26;26


sebagai berikut:
Fhitung dk = k – 1 = 27 – 1 = 26
tabel = 0,05 tabel = 0,01
1,2148 1,93 2,55
Dari tabel diatas terlihat bahwa Fhitung ≤ Ftabel, maka dapat disimpulkan bahwa
kedua data memiliki varians yang homogen
Lampiran C.4

Uji Hipotesis Posttest

Karena kedua data yang telah diuji bersifat normal dan homogeny, maka
rumus Uji-t digunakan:

t=

keterangan :
= rata-rata data kelas kontrol
= rata-rata data kelas eksperimen
Dsg = nilai deviasi standar gabungan kelmpok eksperimen dan control
= jumlah data kelas kontrol
= jumlah data kelas eksperimen
Kriteria penentuan keputusan Uji-t adalah:
a. Jika thitung ttabel, maka Ha diterima Ho ditolak
b. Jika thitung ttabel, maka Ho diterima Ha ditolak
Langkah-langkah menentukan nilai thitung adalah sebagai berikut:
1. Menentukan nilai-nilai yang telah diketahui:
= 75,56 = 4,53
= 73,11 = 4,11
2. Menentukan nilai dviasi standar gabungan (dsg) dengan rumus berikut ini:

dsg = √

=√

=√

=√

=√
= 2,078

179
180

3. Menentukan nilai thitung berdasarkan rumus data yang telah diperoleh

t=

=

=

= 4,333
4. Menentukan nilai ttabel
Derajat kebebasan untuk mencari ttabel adalah :
dk = + - 2 = 27 + 27 – 2 = 52
pada taraf signifikasi nilai (ttabel = 0,05) untuk 52 adalah 2,01
5. Membandingkan nilai thitung dan ttabel
thitung ttabel = 0,05
4,333 2,01
Kesimpulan Ha diterima

6. Menarik kesimpulan
Dari tabel hipotesis terlihat bahwa thitung ttabel pada taraf signifikasi 5%,
dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa : terdapat pengaruh hasil belajar
fisika siswa dengan menggunakan model pembelajaran guided inquiry”
UJI REFERENSI

Nama : Ria Setyo Rini


NIM :107016301978

Program Studi / Semester : Pendidikan IPA-Fisika / XIV (Empat Belas)


Judul Skripsi : Penerapan Model Guided Inquiry Sebagai Upaya
Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis
Siswa

BAB I
Paraf pembimbing
No. Referensi
I II

2.
Depdiknas, Kompetensi Supervisi Akademik:
Stutegi Pembelajarun MIPA (Jakarta: 2008), h.
21
Zulfiani, dkk, Strategi Pembelajaran Sains
h
(Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syarif
Hidayatullah, 2009), h. 46 D-
Depdiknas, Kompetensi Supervisi Akademik
7-
J.

r
Stategi Pembelujoran MIPA (Jakarta: 2008), h
22
4. Sofan Amri &. Iif I(hoiru Ahmadi, Proses
Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas,

H
(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2Al0), h. 2l
5. Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar (Jakarta: \L--.,-
Erlangga, 1996),h. 103 /
6. Puskur, Naskah Akademik: Kajian Kebijakan

.F
r
Kurikulum Matu Pelajaran IPA (Jakarta,2O07),
h. 1
7. Sujarwo, Pendidikan di Indonesia (PJKR
Universitas Negeri Yogyakarta, 2008) F
8.

9.
Sofan Amri & Iif Khoiru Ahmadi, Proses
Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas,
(Jakarta: Prestasi Pustaka, 2010), h. 62
Depdiknas, Kompetensi Supervisi Akademik:
h1r /
a--

r
Stategi Pembelujaran MIPA (Jakarta: 2008), h.
21
10. Depdiknas, Soal Ujian Nasional,2013 -2A14 jv r
11

12.
Bruce Joyce, et ali, Models Of Teaching (United
State
Academy,
of America: A
2000),
Pearson Education
Sixth edition, page. 161
Nuryani Y. Rustaman, Perkembangan Penelitian
t-
Pembelajaran Inkuiri Dalam Pendidikan Sains'.
Makalah Seminar Nasional II Himpunan Ikatan
Sarjana dan Pemerhati IPA Indonesia (FPMIPA
h
i3.
Universitas Pendidikan Indonesia, 2005)
Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar (Jakarta:
Erlangga, 1996), h. 1 03 4* r
BAB II
Paraf pembimbing
No. Referensi
I II
Suprijanto, Pendidikan Orang Dewasa (Jakarta: U-
Bumi Aksara: 2009), h. 40 /
2. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Edisi a_
Baru (Jakarta: PT.Rineka Cipta, 2003), h. 134 -
135
a
J. Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan Edisi v_
/

:F
Baru (Jakarta: PT.RinekaCipta,2003), h. 103
4 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar ql_
(Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 28 r'
5

6
Muhibbin Syah., Psikologi Pendidikan dengan
Pendekatan Baru (Bandung:
Rosdakarya, 1997), h. 90
Sofan Amri & Iif Khoiru Ahmadi,
Remaja

Proses
b /
a_

Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas:


Metode Landasan Teoritik-Praktis dsn
Penerapannya. (Jakarta: PT Prestasi
Pustakaraya,2010), cet ke-1, hal 85
7 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran
Inovatif-Progrestf, (Jakarta: Kencana Prenada

8
Media Group, 2A09), Cet.I, h. 135
Dimyati & Mujiono, Belajar dan Pembelajaran
(Jakarta: Rineka Cipta, 2AO9), h. 173 r
9 Bruce Joyce, et all. Models OJ'Teaching, (United
State of America: A Pearson Education
Academy, 2000), Sixth edition, page. 161
Granger Meador, Inquiry Physics: A modified

P
10
Learning Cycle Curriculum (Bartlesville High
School, 2010), p. 6, diakses dari
http:/linquiri,phvsi pada tanggal 29
November 2011
11 National Science Foundation, Science as Inquiry

r'9-
(BSCS Center for Professional Development,
2010), p. 23, diakses dari
http ://science. education.ni h. gov pada tanggal 29
November 2011
National Research Council, Inquiry and the

u9-
12
National Science Education Standard: A Guide
for Teaching and Learning, (Washington D. C:
National Academy Press, 2000), p. 14
l3 Moh Amien, Menajarkan llmu Pengetahuan
Alam (IPA) dengan Menggunakan Metode
a=
Discovery dan Inquiry (Jakarta: Depdikbud, /
1987), h. t26
t4 Moh Amien, Menajarkan llmu Pengetahuan
Alam QPA) dengan Menggunaknn Metode
Discovery dan Inquiry (Jakarta: Depdikbud,
1987), h.127
l5 Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar
h
t-
(Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h.219
16

t7
Roestiyah N.K, Strategi Belajar Mengajar,
(Jakarta: 2008), h. 7 6-77
Wina Sandjaya, Strategi Pembelajaran
b
Berorientasi Standar Proses Pendidiknn e_
(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2008), /
h.206-201
Akhmad Sudrajat, Metode Pembelajaran Inkuiri,
o-
18
diakses dari
http:/lakhmadsudrai at.rvordpress. coml207 1 I A9 I 1
2/pembelajaran-inkuiri pada tanggal 11 Mei
b- /
20t4
19 E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional:
Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan >-
Menyenangkan (Bandung: Remaja Rosdakarya,
2009),h. 109
20 David Hanson &
Richard S. Moog, Process
Oriented Guided Inquiryt Learning, diakses dari a-
http://cetl.matcmadison"edrl/e1gbi313
pada tanggal 05 November 2011
3 3.htm u
21 Zkn Neni Iska, Psikologi
Brother's, 2008), h 82 - 83
Syaiful Sagala, Konsep dan
Pengantar
Pemahaman Diri dan Lingkungan (Jakarta: Kizi

Mokta
-r ;-
nY--
22
P e m b e I aj a r a n (B andun g : A lfab e ta, 2O 7 A), h. 1 29
d
23 Depdiknas, Kompetensi Supervisi Akademik
Stategi Pembelajaran MIPA (Jakarta: 2008), h
22
h /
e_

24 Sofan Amri & Iif Khoiru Ahmadi, Proses


Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas:
Metode Landasan Teoritik-Praktis dan
Penerapannya. (Jakarta: PT Prestasi
ft
Pustakaraya, 2010), cet ke- 1, hal 27
25 Ratna Wilis Dahar, Teori-teori Belajar (Jakarta: \L_
Erlangga, 1996), h. 1 03 /
26 Wahyudin, dkk., "Keefektifan Pembelajaran
Berbantuan Multimedia Menggunakan Metode
Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Minat
dan Pemahaman Siswa", Jurnal Pendidikan
Fisika Indonesia Vol. 6, No. 1, Januari 2010,
diakses dari
k
http ://i ournal.unnes. ac.idlindex.php/JPFI/issue/vi
edllshowToc pada tanggal 23 Juli 2011.
27 Siti Khoiriyah, Penerapan Pendekatan
Konstruktivisme Melalui Strategi Inkuiri Pada
Materi Tumbuhan Berbiji Untuk Meningkatkan
Keaktivan Siswa di MTs Al-asror, Gunung Pati,
Semarang (Skipsi Pendidikan Biologi

r
Universitas Negeri Semarang, 2006)
28 Astri Ismawati, "Implikasi Pendekatan Inkuiri
Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa SMA
Negeri 2 Sttrakarta Tahun Pelajaran 2009/2010"
(Skripsi Universitas Sebelas Maret Surakarta,
2010), diakses dari
iciiiry-
http :l/biolo gi.fkip.uns.ac.
contentluploads/20 1 0/ 1 0/ 1 0.0 1 5 pada tanggal 23
Juli 2011
2q Nuryani Y. Rustaman, Perkembangan Penelitian
Pembelajaran Berbasis Inkuiri dalam
Pendidikan Sairus (Bandung: makalah
dipresentasikan dalam Seminar Nasional II
Himpunan Ikatan Sarjana dan Pemerhati
Pendidikan IPA Indonesia, 2005), diakses dari
httn ://www freewebs.comlsantvasalleml itIPDF
Files pada tanggal 20 Januan 2011
30 Remziye, et all., The Effect o.f Inquiry Based
Science Teaching on
Elementary School
Student's Science Process Skills and Science
Anitudes (Bulgarian Juomal of Science
Education Policy, Volume 5, Number 1, 2011)
diakses dari
http :i/www.learner.org/*'orkshopsi social studies/
pdfi pada tanggal 29 November 2011
31 Ibrahim Bilgin., The Elfect of Guided Inquiry
Instruction Incorporating a Cooperative
Learning Approach on University Students'
Achievement of Acid and Bases Concepts and
Attitude toward Guided Inquiry (Scientific
Research and Essay Vol. 4 (10), pp. 1038-i046,
October 2A09), diakses dari
P a_
0
http://academicjoumals.orq/sre pada tanggal 20
Januari 201 1

32 Abdi Rizak Mohammmed, et all., Effect of Active


Learning Yariants on Student Performance and
Learning Perceptions (International Journal for
The Scholarship of Teaching and Leaming, Vol.
2, No. 2, July 2008), diakses dari
http:llwww.georgiasouthern.edu/iisoti pada
b
tanggal 20 Januai2077
JJ Nuryani Y. Rustaman, Perkembangan Penelitian
Pembelajaran Berbasis Inkuiri dalam
Pendidikan Sains (Bandung: makalah
dipresentasikan dalam Seminar Nasional II
Himpunan Ikatan Sarjana dan Pemerhati
F
Pendidikan IPA Indonesia, 2005), diakses dari
http ://q,'u,rv. iieervebs.corlsant-vasalt,emlitlPDF
Files pada tanggal 2A Januai 2A17

BAB III

r
Paraf pembimbing
No. Referensi
I II
1

2
Gempur Santoso, Metodologi Penelitian
Kuantitatif dan Kualitatif (Jakarta: Prestasi
Pustaka Publisher, 2A07), h. 30
W Gulo, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT.
r q_
Gramedia Widiasarana Indonesia, 2010), h.81 a
J Nuraida, Halid Alkal Metodologi Penelitian
Pendidikan, (Ciputat: Islamic Research Publishing,
2009), h. 1 14
tu
4 Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi
Pendidikan Edisi Revisi Cet. 1 (Jakarta: Bumi
Aksara, 1999), h. 65
ZO v
5 Anas Sudjiono, Pengantar Statistik Pendidikan,
F tr
t
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hal. 258
6 Ahmad Sofyan, dl<k, Evaluasi Pembelajaran IPA
Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Lembaga Penelitian -/
LJIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2AA6), hal. 103
7 Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar
a_
Mengajar, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
/

r t
2A09\,h.132
8 Anas Sudjiono, Pengantar Statistik Pendidikan,
(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hal.225-
226

BAB IV
Paraf pembimbing
No. Referensi
I II
1 E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional:
Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan a_
Menyenangkan, (Bandung:PT

r
Remaja /
Rosdakarya, 2009), hal. 1 09
2 Sofan Amri & Iif Khoiru Ahmadi, Proses
Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam Kelas,
(Jakarta: Pustaka Publisher, 2010), hal. 89
-) Wina Sanjaya, Sn"ategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
a-
,-l
(Jakarta: Kencana, 2009), hal. 195
u
4 Moh. Amien, Mengajarkan llmu Pengetaltuan
Alam Dengan Menggunakan Metode Discovery a_
da n I n q u i ry, (J akarta : DepartemenP endi dikan dan /
Kebudayaan, 1 987), hal. i 33
5 Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta: Kencana, 2009), hal- 206
F-

Jakarta, 2 Juni 2014

Yang mengesahkan:

imbing I Pembimbing II

Dr. SXiivo Miranto. M.Pd Diah Mulhayatiah. S.Si. M.Pd


NIP: 19682118 200303 I 004 NIF: 19790309 200801 2 016
w
6r-'"c,a
PAII{MAII'TA
YAYASAN PENDIDIKAN PARAMARTA
SMP PARAMARTA
Sekretariat:Jl.RayajombangGg.TaqwaNo.T0DepanVillaJombangBaru,JombangCiputat-KotaTangerangSelatanTelp.(021)74634750
-Jl.RayaMerpatiGg.Sawo(PerempatanDuren)Kel.SawahLama-Ciputat-TangerangSelatan,Telp.02l -74701461

SURAT KETERANGAN
No : 049ISMPPM /V /201.4

Yang bertanda tangan di bawah ini, Kepala SMP Paramarta Kota Tangerang Selatan
menerangkah bahwa :

Nama Ria Setyo Rini

NIM 1,0701,6301978

Jurusan Pendidikan IPA Fisika


Fakultas Ilmr-r Tarbiyah dan Keguruan

UIN Syarif Hidayatullah |akarta

Mahasiswa tersebut di atas telah mengadakan penelitian di sekolah kami dari tanggal
16 s.d. 30 April 2014, sebagai syarat penyusunan skripsi 51 UIN Syarif Hiciayatullah

Jaka rta.

Denrikiar-r surat keterangan ini dibuat dengan sebenarnya dan agar dipergunakan
sebagairrana mestinya

'l'angcr-ang Sclatan, 9 Mci '2A1.4


,$MP Paramarta
.;_ f .gr.
f ,'r t?-
+rj ;

,,tii j'(t, !? 2-
t
usrnalr