Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

VITAMIN

Nama : Eka Amelia Safitri

NIM : P1337420615026

Kelompok : 8

Asisten : Wulan Damar Sekar Utami

JURUSAN KEPERAWATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMETERIAN KESEHATAN SEMARANG

2016
Lembar Pengesahan

LAPORAN KEGIATAN PRAKTIKUM MATA KULIAH BIOKIMIA


VITAMIN

SENIN, 23 MEI 2016

Asisten Praktikan

WULAN DAMAR SEKAR UTAMI EKA AMELIA SAFITRI

NIM. 24020113120005 NIM. P1337420615026


ACARA IV

VITAMIN

I. Tujuan
Mahasiswa akan mampu mengidentifikasi vitamin berdasarkan
reaksi warna dan analisis kualitatif vitamin.

II. Tinjauan Pustaka


2.1 Pengertian Vitamin
Vitamin adalah senyawa organik yang tidak bisa disintesis
dalam tubuh, walaupun dalam jumlah sedikit. Viamin dikenal
sebagai suatu kelompok senyawa organik yang termasuk dalam
golongan protein, karbohidrat, lemak, dan sangat penting
peranannya bagi beberapa fungsi tertentu tubuh untuk menjaga
kelangsungan hidup serta pertumbuhan vitamin-vitamin tidak dapat
dibuat oleh manusia. Oleh karena itu, harus diperoleh dari bahan.
Sebagai perkecualian adanya vitamin D yang dapat dibuat dalam
bahan pangan yang dikonsumsi mendapat cukup kesempatan
(Poedjiadi, 1994).
Ada zat organik yang tidak dapat dibuat oleh tubuh kita
tetapi kita perlukan dalam jumlah yang sangat sedikit. Zat ini
dinamakan vitamin. Asal kata vitamin adalah dari vit-amine. “Vit”
berarti hidup dan “amine” menunjukkan bahwa zat itu adalah suatu
amine, yaitu zat kimia yang mengandung gugus – NH2. Sebabnya
nama tersebut timbul adalah karena vitamin pertama yang dapat
dipisahkan secara kimia dengan murni ternyata mengandung
nitrogen. Vitamin ini ialah vitamin anti beri-beri. Karena itu orang
mula- mula menyangka bahwa semua vitamin mengandung gugus
amine. Ternyata hal itu tidak benar. Karena itu, sekarang huruf “e”
diakhir kata dihilangkan sehingga terjadilah kata istilah vitamin
(Poedjiadi, 1994).
Vitamin adalah zat esensial yang diperlukan untuk
membantu kelancaran penyerapan zat gizi dan proses metabolisme
tubuh. Kekurangan vitamin akan berakibat terganggunya
kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan asupan harian dalam jumlah
tertentu yang idealnya bisa diperoleh dari makanan. Jumlah
kecukupan asupan vitamin per hari untuk perawatan kesehatan
ditentukan oleh RDA (Recomended Daily Allowance)
(Tjokronegoro, 2002).
Vitamin adalah zat-zat organik kompleks yang dibutuhkan
dalam jumlah yang sangat kecil. Di dalam tubuh, vitamin berfungsi
sebagai zat pengatur dan pemelihara jaringan tubuh. Ada dua jenis
vitamin. Pertama, vitamin yang larut dalam lemak, yakni vitamin
A, D, E, dan K. Kedua, vitamin yang larut dalam air, yakni vitamin
B1, B2, B3, B5, B6, B12, folat, biotin, dan vitamin C) (Soendoro,
1985).
Vitamin adalah zat yang sangat penting untuk tubuh
manusia dan hewan untuk perkembangan dan pertumbuhan. Ada
bermacam-macam jenis dan kegunaannya, seperti vitamin A, B, C,
D, dan sebagainya. Vitamin sangat dibutuhkan oleh tubuh,
walaupun dalam jumlah kecil. Vitamin tidak dapat memberikan
energi dan tidak dapat dihilangkan, karena sangat dibutuhkan agar
fungsi tubuh tetap normal. Maka dari itu, makanan yang
dikonsumsi harus mengandung vitamin (Soendoro, 1985).

2.2 Klasifikasi Vitamin


Menurut Irianto (2009), secara klasik berdasarkan
kelarutannya vitamin digolongkan dalam dua kelompok, yaitu (1)
vitamin yang larut dalam lemak dan (2) vitamin yang larut dalam
air, karena yang pertama dapat diekstraksi dari bahan makanan
dengan pelarut lemak dan yang terakhir dengan air. Beberapa
vitamin larut lemak adalah vitamin A, D, E, dan K, yang hanya
mengandung unsur-unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Vitamin
yang larut dalam air terdiri atas asam askorbat (C) dan B kompleks
(B1 sampai B12), yang selalin mengandung unsur-unsur karbon,
hidrogen, oksigen, juga mengandung nitrogen, sulfur atau kobalt.
Vitamin yang larut dalam lemak, yaitu A, D, E, dan K,
memiliki sifat-sifat umum, antara lain (1) tidak terdapat disemua
jaringan, (2) terdiri dari unsur-unsur karbon, hidrogen, dan
oksigen, (3) memiliki bentuk prekusor atau provitamin, (4)
menyususn struktur jaringan tubuh, (5) diserap bersama lemak, (6)
disimpan bersama lemak dalam tubuh, (7) diekskresi melalui feses,
(8) kurang stabil jika dibandingkan vitamin B, dapat dipengaruhi
oleh cahaya, oksidasi, dan lain-lain (Irianto, 2009).
Vitamin A ditemukan oleh E. McCollum dan M. Davis
(1913). Retinol ini mempunyai fungsi yang sangat unik, yaitu
dapat menghalau buta senja. Dalam sel-sel balok dari retina mata,
retinol membentuk senyawa kompleks dengan opsin (protein yang
tidak berwarna, dibentuk dari vitamin aldehida dengan
pencahayaan pada pigmen visual), setelah sebuah enzim isomerase
mengubah trans-retinol menjadi cis-retinol. Vitamin D ditemukan
oleh E. McCollum (1922). Vitamin D terdapat dalam susu, ikan
dan minyak ikan bersama dengan vitamin A, kuning telur, hati,
ragi, dan sinar ultraviolet. Vitamin E adalah vitamin yang larut
dalam lemak yang menjaga agar saraf dalam otot bekerja dengan
baik. Vitamin E membantu agar bisa berjalan lurus, mengerakan
bola mata, menekuk dan meluruskan jari. Vitamin E tidak hanya
membantu kerja saraf, vitamin ini juga berfungsi sebagai
antioksidan. Pada saat kita bernafas, vitamin E juga melindungi
paru-paru dari polusi. Vitamin K (Filokinon) dapat dilarutkan
dalam lemak dan terdapat pada tumbuhan, seperti wortel, bayam,
daun jelatang, kubis hijau. Ditemukan juga pada minyak hati ikan,
ikan, telur susu, yoghurt, dan daging. Vitamin K diserap oleh usus
bersama-sama lemak. Pada pembentukan protombin tubuh
memerlukan vitamin K, hingga vitamin tersebut besar artinya pada
proses pembentukan darah. Sangat penting dalam proses
pembekuan darah, sehingga menjadi faktor utama dalam
pertahanan melawan luka sistem peredaran darah. Penting dalam
fungsi hati dan menyediakan energi ekstra untuk sel-sel tubuh.
Adapun gejalanya ialah pendarahan pada lambung dan usus.
Sehingga menyebabkan muntah darah dan bercak darah (Irianto,
2009).
Vitamin yang larut dalam air memiliki sifat-sifat umum
antara lain (1) tidak hanya tersusun atas unsur-unsur karbon,
hidrogen, dan oksigen, (2) tidak memiliki provitamin, (3) terdapat
disemua jaringan, (4) sebagai prekusor enzim-enzim, (5) diserap
dengan proses difusi biasa, (6) tidak disimpan secara khusus dalam
tubuh, (7) diekskresi melalui urine, (8) relatif lebih stabil, namun
pada temperatur berlebihan menimbulkan kelabilan (Irianto, 2009).
Vitamin B dapat dibedakan antara lain menjadi vitamin B1
yang ditemukan oleh R.J. Williams (1936), vitamin B2 yang
ditemukan oleh P.Gyorgy dan R. Khun (1993), vitamin B3, vitamin
B6, vitamin B7, vitamin B11, dan vitamin B12 . Vitamin B1 (Tiamin)
merupakan salah satu bagian dari vitamin B yang mempunyai
peranan utama dalam oksidasi lemak, karbohidrat, dan asam
amino, terutama karbohidrat. Vitamin B1 juga penting untuk sel-sel
saraf agar berfungsi dengan baik. Vitamin B2 disebut juga
riboflavin, merupakan salah satu bagian dari vitamin B kompleks
yang mempunyai peranan utama dalam oksidasi lemak,
karbohidrat, dan asam amino. Vitamin B2 terdapat dimana-mana
dalam alam. Daging, hati, ragi, susu, keju, telur, kacang-kacangan,
dan sayur mayur yang berupa daun merupakan sumber vitamin B2
yang baik. Susu sapi mengandung kira-kira 5 kali lebih banyak
vitamin B2 dibandingkan dengan air susu ibu. Vitamin B3 disebut
juga dengan niasin merupakan salah satu bagian dari vitamin B
kompleks yang berperan untuk membantu melepas energi dalam
karbohidrat, lemak, dan protein. Selain itu juga berperan dalam
kesehatan kulit, membantu sistem fungsi sistem saraf (Irianto,
2009).
Vitamin B5 (Asam pantotenat) sebagai ko-enzim
merupakan faktor yang penting dalam memajukan pertumbuhan
ragi, tumbuhan hijau dan jasad renik (mikroorganisme). Dalam
proses kimia pun banyak pengaruhnya sebagai pengankut pecahan-
pecahan 2 atom karbon (gugus asentil) dalam metabolisme tubuh.
Begitu juga perannya dalam perombakan karbohidrat dan dalam
pembentukan asam amino tertentu bagi sintesis protein. Vitamin B5
merupakan komponen struktur koenzim-A yang berperan dalam
proses oksidasi sel dan memilhara tingkat gula darah yang normal.
Kekurangan vitamin B5 menyebabkan radang kulit, nafsu makan
menurun, dan insomnia (sulit tidur). Sumber vitamin B5 adalah
ragi, hati, kuning telur, daging, buah- buahan, dan sayur-sayuran.
Gejala defisiensi asam pantotenat pada manusia belum
dikemukakan, tetapi baru dicobakan pada tikus. Vitamin B6
(Piridoksin) adalah salah satu vitamin yang larut dalam air dan
merupakan salah satu bagian dari vitamin B komplek yang
berfungsi penting membantu mempertahankan fungsi saraf dan
juga berperan dalam pembentukan sel darah merah. Vitamin B6
terdapat dalam berbagai bahan makanan seperti daging, telur, hati,
ikan, sayuran hijau, beras, susu. Karena vitamin B6 terdapat banyak
dalam bahan makanan, maka keadaan defisiensi tidak mudah
terjadi. Cengeng, mudah kaget dan kejang merupakan gejala klinis
defisiensi vitamin B6. Vitamin B12 (Sianokobalamin) merupakan
salah satu vitamin larut dalam air yang berfungsi dalam menjaga
aktivitas sistem saraf pusat, metabolisme sel dalam pelepasan
energi, dan pembentukan darah. Vitamin C ditemukan oleh A.
Sient, P.Gyorgy dan G. King (1932). Vitamin C sesuai struktur
kimianya disebut juga asam askorbat merupakan vitamin yang
tergolong vitamin yang paling sederhana, dapat dilarutkan dalam
air dan mudah dihancurkan oleh suhu tinggi, mudah teroksidasi
oleh oksigen udara atau sedikit tembaga. Sayur mayur dan buah-
buahan, terutama jeruk, tomat, bayam, kubis, kentang merupakan
sumber vitamin C yang baik (Irianto, 2009).

2.3 Identifikasi Vitamin


Menurut Irianto (2009), dapat dilakukan beberapa percobaan
mengenai “Identifikasi Vitamin” sebagai berikut
2.3.1 Vitamin A
Sumber vitamin A adalah karoten dan karotenoid
yang banyak terdapat dalam bahan-bahan nabati sebagai
provitamin. Dalam jaringan hewan, vitamin A diperoleh
dalam bentuk retinol. Vitamin A dapat rusak bila
dioksidasi atau didehidrogenasi. Penentuan adanya
vitamin A dapat dilakukan dengan pereaksi Carr-Price
atau pereaksi trikloroasetat (TCA). Jika dengan pereaksi
Carr-Price memberikan warna biru yang kemudian
berubah menjadi merah coklat maka zat tersebut positif
mengandung vitamin A (Poedjiadi, 1994).

2.3.2 Vitamin B12


Vitamin B12 merupakan salah satu vitamin larut
dalam air yang berfungsi dalam menjaga aktivitas
sistem saraf pusat, metabolisme sel dalam pelepasan
energi, dan pembentukan darah. Vitamin B12 terdapat
hanya dalam bahan makanan berasal hewan. Sumber
vitamin B12 adalah makanan hewani seperti produk
susu, daging, ikan, unggas, dan telur. Akan tetapi
walaupun kacang kedelai tidak mengandungnya, pada
tempe terdapat vitamin B12. Defisiensi vitamin B12
dapat timbul pada mereka yang pantang makan daging
(vegetarian), karena makanannya tidak mengandung
vitamin tersebut (Irianto, 2009).

2.3.3 Vitamin B Komplek


Vitamin B komplek merupakan thiamin, riboflafin,
pereduksi (vitamin B6), asam pantofenat, broflasin serta
vitamin B12 (Poedjiadi, 1994). Vitamin B1 atau thiamin
mengandung sistem dua cincin yaitu inti pirimidin dan
thiazol. Dalam tanaman, terutama serealia, vitamin B1
terdapat dalam keadaan bebas, sedangkan dalam
jaringan hewan terdapat sebagai koenzim, yaitu thiamin
pirofosfat (TPP) (Estien, 2006). Thiamin bersifat larut
dalam air, tetapi tidak larut dalam pelarut lemak. Dalam
larutan netral atau alkalis, thiamin mudah rusak,
sedangkan dalam keadaan asam tahan. Thiamin stabil
pada pemanasan kering, tetapi mudah terurai oleh zat-
zat pengoksidasi dan terhadap radiasi sinar ultraviolet
(Irianto, 2009).
Riboflavin, dikenal juga sebagai vitamin B adalah
mikronutrisi yangmudah dicerna, bersifat larut dalam
air, dan memiliki peranan kunci dalammenjaga
kesehatan pada manusia dan hewan. Vitamin B
diperlukan untuk berbagai ragam proses seluler. Seperti
vitamin B lainnya, riboflavin memainkan peranan
penting dalam metabolisme energi, dan diperlukan
dalam metabolismelemak, zat keton, karbohidrat dan
protein. Vitamin ini juga banyak berperandalam
pembetukkan sel darah merah, antibodi dalam tubuh,
dan dalammetabolisme pelepasan energi dari
karbohidrat (Estien, 2006).
Di alam vitamin B6 terdiri atas tiga senyawa yaitu
pirodoksin, pirodoksal dan pirodoksamin. Ketiga
bentuk vitamin B6 terdapat dalam hewan maupun
tumbuhan, terutama pada beras dan gandum. Pirodoksin
stabil terhadap pemanasan, alkali dan asam. Pirodoksal
dan pirodoksamin mudah rusak oleh pemanasan, udara
dan cahaya. Dari ketiga bentuk vitamin B6 hanya
pirodoksin yang paling tahan terhadap pengaruh
pengolahan dan penyimpanan (Estien, 2006).
III. Metode
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
1. Tabung Reaksi
2. Rak Tabung Reaksi
3. Pipet Tetes
4. UV Transiluminator

3.1.2 Bahan
1. Minyak Ikan
2. Kloroform
3. Asam Cuka Anhidrida
4. TCA
5. Larutan B12
6. NaOH 30%
7. Kalium Ferisianida 0,5%
8. Isobutanol
9. Larutan B kompleks

3.2 Cara Kerja


3.2.1 Vitamin A
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Ditambahkan minyak ikan pada tabung reaksi
3. Ditambahkan kloroform 5 tetes
4. Ditambahkan dua tetes asam cuka anhidrida
5. Ditambahkan dua tetes TCA
6. Diamati dalam UV transluminator
7. Dicatat hasil didalam buku laporan sementara

3.2.2 Vitamin B12


1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Ditambahkan 2 cc larutan B12
3. Ditambahkan 5 tetes NaOH 30%
4. Ditambahkan 5 tetes kalium ferisianida 0,5%
5. Ditambahkan 5 tetes iso butanol
6. Dikocok dan diamati dalam sinar UV
7. Dicatat hasilnya dalam buku laporan sementara
3.2.3 Vitamin B kompleks
1. Disiapkan alat dan bahan yang digunakan
2. Ditambahkan 2 cc larutan B kompleks
3. Ditambahkan 5 tetes NaOH 30%
4. Ditambahkan 5 tetes kalium ferisianida 0,5%
5. Ditambahkan 5 tetes isobutanol
6. Dikocok dan diamati didalam sinar UV
7. Dicatat hasilnya dalam buku laporan sementara
IV. Hasil Pengamatan
NO PERCOBAAN HASIL FOTO
1 Vitamin A Warna awalnya
Minyak Ikan bening, tabung
reaksi
dimasukkan ke
dalam UV
Kloroform (5 transminator
tetes) terjadi
fluoresensi
(berpendar) UV transiluminator
warnanya hijau Vitamin A (Dok.
2 tetes asam cuka menyala. Pribadi, 2016)
anhidrida Hasilnya positif
(+).

2 tetes TCA

Amati dalam UV
transluminator
2 Vitamin B12 Warnanya
2 cc larutan B12 awalnya bening
berubah menjadi
ungu, ketika
dimasukkan
5 tetes NaOH 30% dalam UV
transiluminator
tidak berpendar
(flouresensi).
5 tetes kalium Hasil reaksi (+).
ferrinida 0,5% Vitamin B12 (Dok.
Pribadi, 2016)

5 tetes iso butanol

Dikocok dan UV transiluminator


diamati dalam Vitamin B12 (Dok.
sinar UV Pribadi, 2016)
3 Vitamin B Warnanya
Kompleks kuning berubah
2 cc larutan B menjadi cokelat
kompleks kekuningan.
Dimasukkan
dalam UV
transiluminator
5 tetes NaOH 30% tidak
Vitamin B Kompleks
berfluoresensi ( (Dok. Pribadi, 2016)
tidak berpendar).
Hasilnya positif.
5 tetes kalium
ferrinida 0,5%

5 tetes iso butanol


UV transiluminator
Vitamain B Kompleks
(Dok. Pribadi, 2016)
Dikocok dan
diamati dalam
sinar UV
V. Pembahasan
Praktikum Acara IV Vitamin dilaksanakan pada tanggal 9 Mei
2016, pukul 10.00-12.00 WIB, di Laboratorium Biokimia, Fakultas
Sains dan Matematika, Universitas Diponegoro. Dilakukan beberapa
uji identifikasi vitamin, diantaranya uji Vitamin A, Vitamin B12, dan
Vitamin B komplek. Alat-alat yang digunakan untuk uji vitamin antara
lain tabung reaksi, pipet tetes, UV transiluminator dan rak tabung
reaksi. Sedangkan bahan-bahan yang digunakan antara lain minyak
ikan, kloroform, asam cuka ninhidrida, TCA, larutan vitamin B12,
NaOH 30%, Kalium Ferrinida 0,5%, isobutanol, dan larutan B
kompleks.
5.1 Vitamin A
Tujuan uji vitamin A adalah mengidentifikasi vitamin A
berdasarkan reaksi warnanya. Tujuan uji vitamin A menurut
Soendoro (1985) adalah mengidentifikasi adanya kandungan
vitamin A dalam sampel secara kualitatif. Prinsipnya adalah
berdasarkan reaksi dari minyak ikan dengan kloroform, asam cuka
anhidrida, dan TCA sehingga dapat berpendar (flouresensi) ketika
dimasukkan dalam UV transminator. Prinsip uji vitamin A menurut
Sirajudin (2012) untuk membuktikan adanya vitamin A dalam
suatu bahan dengan pereaksi TCA.
Cara kerja uji vitamin A adalah ditambahkan minyak ikan.
Kemudian ditambahkan kloroform 5 tetes. Ditambahkan 2 tetes
asam anhidrida. Ditambahkan 2 tetes TCA. Diamati dalam UV
transiluminator. Dicatat hasil pengamatan dalam buku laporan
sementara.
Fungsi minyak ikan sebagai sampel bahan yang digunakan
untuk uji vitamin A. Menurut Soendoro (1985), sumber-sumber
baik vitamin A termasuk sayur-sayuran berdaun hijau, sayur-
sayuran kuning, dan minyak-minyak ikan. Kloroform berfungsi
untuk melarutkan vitamin A. Menurut Sirajudin (2012)
mengatakan kloroform dapat melarutkan vitamin A karena vitamin
A hanya dapat larut dalam pelarut nonpolar. Kloroform bersifat
sebagai pelarut nonpolar. Asam cuka anhidrida berfungsi
memberikan reaksi warna pada vitamin A. Menurut Sirajudin
(2012) mengatakan dapat memberi perubahan reaksi warna biru
tua. Fungsi TCA adalah untuk menentukan secara kualitatif
adanya kandungan vitamin A. Pendapat dari Sirajudin (2012)
mengatakan TCA berfungsi untuk memberikan perubahan warna
menjadi biru kehijauan. Fungsi dimasukkan dalam UV
transluminator untuk mengetahui terjadinya flouresensi
(perpendaran) pada tabung reaksi yang berisi sampel larutan
vitamin A. Pendapat dari Soendoro (1985), fungsi perlakuan
tabung reaksi dimasukkan ke dalam UV transiluminator berfungsi
melihat terjadinya perpendaran cahaya dari sinar ultraviolet.
Hasil dari uji vitamin A adalah warna awalnya bening,
tabung reaksi dimasukkan ke dalam UV transiluminator terjadi
fluoresensi (berpendar) warnanya hijau menyala. Hasil reaksinya
positif. Menurut pendapat Tjokronegoro (2002) uji vitamin A
positif, apabila terjadi perubahan warna menjadi biru dan ketika
dimasukkan ke dalam UV transiluminator dapat terjadi flouresensi
(perpendaran cahaya) warnanya hijau menyala.

5.2 Vitamin B12


Tujuan uji vitamin B12 adalah mengidentifikasi adanya
kandungan vitamin B12 dalam sampel secara kualitatif. Menurut
Soendoro (1985), tujuan uji vitamin B12 adalah membuktikan
terdapat vitamin B12 dalam sampel yang diuji secara kualitatif.
Prinsipnya berdasarkan reaksi larutan B12 dengan NaOH, kalium
ferisianida dan isobutanol dapat berpendar atau tidak dimasukkan
dalam UV transluminator. Pendapat Soendoro (1985), prinsip uji
vitamin B12 berdasarkan dimasukannya larutan sampel dalam sinar
UV tidak terjadi flouresensi.
Cara kerja uji vitamin B12 adalah ditambahkan 2 cc larutan
B12. Ditambahkan 5 tetes NaOH 30%. Ditambahkan 5 tetes kalium
ferisianida 0,5%. Ditambahkan 5 tetes isobutanol. Dikocok dan
diamati dalam UV transiluminator.
Fungsi larutan B12 sebagai sampel yang digunakan uji
vitamin B12. Pendapat Poedjiadi (1994) larutan B12 berfungsi
sebagai larutan yang mengadung vitamin B12 yang digunakan
dalam uji vitamin B12. Penambahan NaOH berfungsi untuk
menghancurkan larutan B12. Menurut Soendoro (1985) mengatakan
bahwa larutan B12 dapat terdenaturasi karena adanya penambahan
larutan alkali, hal ini NaOH bersifat alkali (basa). Penambahan
kalium ferisianida berfungsi menjadikan larutan berwarna biru.
Menurut Poedjiadi (1994) dengan penambahan kalium ferisianida
uji vitamin B12 dapat memberikan warna biru. Fungsi isobutanol
adalah memberikan endapan pada larutan sampel. Menurut
Poedjiadi (1994) dengan penambahan isobutanol memberikan
endapan berwarna hijau muda didasar tabung reaksi.
Fungsi larutan dikocok adalah untuk meratakan larutan
vitamin B12, NaOH, kalium ferisianida dan isobutanol sebelum
dimasukkan ke dalam UV transiluminator. Menurut pendapat
Tjokronegoro (2002), sebelum memasukkan larutan sampel uji
vitamin, larutannya dikocok terlebih dahulu untuk mendapatkan
hasil perpendaran warna yang tepat. Fungsi perlakuan tabung
reaksi dimasukkan ke dalam UV transiluminator untuk mengetahui
terjadinya perpendaran atau tidak pada larutan vitamin B12 yang
diujikan. Menurut Tjokronegoro (2002), larutan uji vitamin
dimasukkan dalam UV transiluminator berfungsi untuk
mengvisualisasi terjadinya perpendaran atau tidak, dalam larutan
vitamin yang diujikan.
Hasil dari uji vitamin B12 adalah warnanya ungu dan tidak
berpendar (flouresensi) saat dimasukkan dalam UV transluminator.
Hasil reaksinya positif. Menurut Tjokronegoro (2002), uji vitamin
B ketika dimasukkan didalam UV transluminator tidak terjadi
perpendaran cahaya. Menurut pendapat Elmira (2013), uji vitamin
B12 positif, apabila hasil penyinaran dengan sinar ultraviolet atau
cahaya tampak terhadap larutan riboflavin dalam basa
menghasilkan lumiflavinv sedangkan larutan riboflavin dalam
suasana netral atau asam menghasilkan lumikrom yang
berfluorsensi biru.

5.3 Vitamin B Komplek


Tujuan uji vitamin B komplek adalah mengidentifikasi
adanya kandungan vitamin B komplek dalam sampel secara
kualitatif. Menurut Soendoro (1985), tujuan uji vitamin B12 adalah
membuktikan terdapat vitamin B kompleks dalam sampel yang
diuji secara kualitatif. Prinsipnya berdasarkan reaksi larutan B
komplek NaOH, kalium ferisianida dan isobutanol dapat berpendar
atau tidak dimasukkan dalam UV transilluminator. Pendapat
Soendoro (1985), prinsip uji vitamin B12 berdasarkan
dimasukannya larutan sampel dalam sinar UV tidak terjadi
flouresensi.

Cara kerja uji vitamin B komplek adalah ditambahkan 2 cc


larutan B kompleks. Ditambahkan 5 tetes NaOH 30%.
Ditambahkan 5 tetes kalium ferisianida 0,5%. Ditambahkan 5 tetes
isobutanol. Dikocok dan diamati dalam UV transilluminator.
Fungsi larutan B kompleks sebagai sampel yang digunakan
uji vitamin B kompleks. Pendapat Poedjiadi (1994) larutan B
kompleks berfungsi sebagai larutan yang mengadung vitamin B
komplek yang digunakan dalam uji vitamin B kompleks. .
Penambahan NaOH berfungsi untuk menghancurkan larutan B
kompleks. Menurut Soendoro (1985) mengatakan bahwa larutan B
kompleks dapat terdenaturasi karena adanya penambahan larutan
alkali, hal ini NaOH bersifat alkali (basa). Penambahan kalium
ferisianida berfungsi menjadikan larutan berwarna kuning.
Menurut Poedjiadi (1994) dengan penambahan kalium ferisianida
uji vitamin B12 dapat memberikan warna kuning. Fungsi isobutanol
adalah memberikan endapan pada larutan sampel. Menurut
Poedjiadi (1994) dengan penambahan isobutanol memberikan
endapan berwarna hijau muda didasar tabung reaksi.
Fungsi larutan dikocok adalah untuk meratakan larutan
vitamin B komplek, NaOH, kalium ferisianida dan isobutanol
sebelum dimasukkan ke dalam UV transiluminator. Menurut
pendapat Tjokronegoro (2002), sebelum memasukkan larutan
sampel uji vitamin, larutannya dikocok terlebih dahulu untuk
mendapatkan hasil perpendaran warna yang tepat. Fungsi
perlakuan tabung reaksi dimasukkan ke dalam UV transiluminator
untuk mengetahui terjadinya perpendaran atau tidak pada larutan
vitamin B kompleks yang diujikan. Menurut Tjokronegoro (2002),
larutan uji vitamin dimasukkan dalam UV transiluminator
berfungsi untuk mengvisualisasi terjadinya perpendaran atau tidak,
dalam larutan vitamin yang diujikan.
Hasil uji vitamin B kompleks adalah warna awal kuning
berubah menjadi cokelat kekuningan. Ketika dimasukkan kedalam
UV transiluminator tidak terjadi perpendaran. Hasil reaksinya
positif. Menurut Tjokronegoro (2002), uji vitamin B positif ketika
dimasukkan didalam UV transluminator tidak terjadi perpendaran
cahaya.
VI. Kesimpulan
Berdasarkan dari percobaan uji vitamin dapat disimpulkan bahwa
uji vitamin A hasilnya positif, warna awalnya bening, tabung reaksi
dimasukkan ke dalam UV transiluminator terjadi fluoresensi
(berpendar) warnanya hijau menyala. Hasil dari uji vitamin B12 adalah
warnanya ungu dan tidak berpendar (flouresensi) saat dimasukkan
dalam UV transluminator. Hasil reaksinya positif. Hasil uji vitamin B
kompleks adalah warna awal kuning berubah menjadi cokelat
kekuningan. Ketika dimasukkan kedalam UV transiluminator tidak
terjadi perpendaran dan hasil reaksi positif.
DAFTAR PUSTAKA

Elmira, B, dkk. 2013. Metode Analisa Management Laboratorium


Vitamin. Malang: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Brawijaya
Estien, Yazid dan Lisda Nursanti. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia.
Yogyakarta: CV. Andi Offset

Irianto, Koes. 2009. Panduan Praktikum Parasitologi Dasar untuk


Paramedis dan Non Paramedis. Bandung: Yrama Widya

Poedjiadi, Anna.1994.Dasar-DasarBiokimia.Jakarta:UI Press

Soendoro. 1985. Prinsip-prinsip Biokimia. Surabaya: Erlangga

Tjokronegoro. 2002. Ikhtisar Biokimia Dasar A. Jakarta: FKUI

Anda mungkin juga menyukai