Anda di halaman 1dari 14

Kata Pengantar

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT, karena segala rahmat dan

karunia-Nya saya dapat menyelesaikan tugas makalah media pembelajaran biologi

yaitu mengenai herbarium .

Saya menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini .

Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan berguna sebagaimana mestinya. Atas

perhatiannya saya ucapkan terima kasih.

Kendari, 22 Maret 2018

Penulis
DAFTAR ISI

1. Kata

pengantar……………………………………………………………………

2. Daftar isi……………………………………………………………………

3. Bab I

Pendahuluan………………………………………………………………..

 Latar belakang………………………………………………………...
 Rumusan masalah…………………………………………………….
 Tujuan penulisan………………………………………………………
4. Bab II
Pembahasan…………………………………………………………………
 Pengertian herbarium…………………………………………………
 Fungsi herbarium………………………………………………………
 Manfaat herbarium……………………………………………………
 Cara membuat herbarium……………………………………………
 Kelebihan dan kelemahan herbarium…………………………………
 Cara pengaplikasian di kelas…………………………………………
5. Bab III
Penutup……………………………………………………………………..
 Kesimpulan……………………………………………………………
 Daftar pustaka…………………………………………………………
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Herbarium berasal dari kata “hortus dan botanicus”, artinya kebun

botani yang dikeringkan. Secara sederhana yang dimaksud herbarium adalah

koleksi spesimen yang telah dikeringkan, biasanya disusun berdasarkan sistim

klasifikasi.
Herbarium (jamak: herbarium) - kadang-kadang dikenal dengan

istilah herbar keinggeris-inggerisan - adalah kumpulan spesimen tumbuhan

diawetkan. Spesimen ini mungkin seluruh tanaman atau bagian tanaman: ini

biasanya akan berada dalam bentuk kering, dipasang pada lembar, tapi

tergantung pada material juga dapat disimpan dalam alkohol atau pengawet

lainnya. Istilah yang sama sering digunakan dalam ilmu jamur untuk

menggambarkan koleksi setara dengan jamur diawetkan. Istilah ini juga dapat

merujuk kepada bangunan dimana spesimen disimpan, atau lembaga ilmiah

yang tidak hanya menyimpan tetapi penelitian ini spesimen. Spesimen di

herbarium yang sering digunakan sebagai bahan referensi dalam

menggambarkan taksa tanaman, beberapa spesimen mungkin jenis.


herbarium basah adalah specimen tumbuhan yang telah diawetkan

dan disimpan dalam suatu larutan yang dibuat dari berbagai macam zat

dengan komposisi yang berbeda-beda. Komponen utama yang digunakan

dalam pembuatan larutan pengawet itu antara lain adalah: alcohol, dan

formalin.
B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah herbarium ini adalah :


a) Pengertian herbarium

b) Fungsi herbarium

c) Manfaat herbarium

d) Cara membuat herbarium

e) Kelemahan dan kelebihan herbarium

C. Tujuan
Tujuan penulisan dari makalh herbarium ini adalah :
a) untuk mempermudah dalam memperkenalkan spesies mangrove kepada

masyarakat.
b) Sebagai tugas terstruktur mata kuliah media pembelajaran biologi
c) Mempelajari dalam membuat herbarium
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Herbarium
Herbarium berasal dari kata “ hortus dan botanicus”, artinya kebun

botani yang di keringkan,biasanya disusun berdasarkan system klasifikasi.

Istilah herbarium lebih dikenal untuk pengawetan tumbuhan. Herbarium

adalah material tumbuhan yang telah diawetkan (disebut juga spesimen

herbarium). Herbarium juga bisa berarti tempat dimana material-material

tumbuhan yang telah diawetkan disimpan


Herbarium merupakan suatu spesimen dari bahan tumbuhan yang

telah dimatikan dan diawetkan melalui metode tertentu. Herbarium biasanya

dilengkapi dengan data-data mengenai tumbuhan yang diawetkan, baik data

taksonomi, morfologi, ekologi, maupun geografinya. Selain itu dalam

herbarium juga memuat waktu dan nama pengkoleksi.


Herbarium juga merupakan salah satu sumber pembelajaran yang

penting dalam ilmu biologi tumbuhan. Herbarium merupakan koleksi kering

yang dibuat berdasarkan prosedur-prosedur tertentu dan memiliki criteria

criteria tersendiri.
Secara umum ada dua jenis herbarium,yaitu herbarium basah dan

herbarium kering. Herbarium yang baik slalu di sertai identitas pengumpul

( nama pengumpul atau kolektor dan nomor koleksi).

Herbarium basah adalah specimen tumbuhan yang telah diawetkan

dan disimpan dalam suatu larutan yang dibuat dari berbagai macam zat
dengan komposisi yang berbeda-beda. Komponen utama yang digunakan

dalam pembuatan larutan pengawet itu antara lain adalah: alcohol, dan

formalin. Di samping tiu dapat pula ditempatkan zat-zat lain untuk tujuan-

tujuan tertentu, untuk sejauh mungkin mempertahankan warna asli bahan

tumbuhan yang diawetkan. Penggunaan alcohol akan selalu berakibat

hilangnya warna asli bahan tumbuhan, dan juga alcohol itu harganya relative

mahal sehingga perlu dipikirkan untuk mendapatkan alternatifnya yang lebih

murah.

Formalin jauh lebih murah daripada alcohol, namun bahan-bahan

tumbuhan yang disimpan dalam formalin akan menjadi keras atau kaku,

lebih-lebih lagi bagi bahan yang mengandung protein yang relative tinggi.

Formalin tidak terlalu besar daya larutnya terhadap warna-warna yang

terdapat pada bahan tumbuhan, khususnya klorofil. Penambahan tursi ke

dalam larutan pengawet yang dibuat dari formalin, sampai suatu derajat

tertentu mampu mempertahankan warna asli bahan tumbuhan yang disimpan

di dalamnya. Eksperimentasi untuk mendapatkan konsentrasi larutan yang

tepat, demikian pula komposisi campurannya dengan bahan-bahan lain, perlu

dilakukan untuk memperoleh awetan sesuai dengan tujuan dengan biaya yang

serendah mungkin.

Larutan pengawet yang baik antara lain harus tetap jernih dalam

jangka waktu yang lama, dan bahan yang diawetkan di dalamnya tetap baik

tidak terlalu banyak menunjukkan penyimpangan dari keadaan aslinya. Pada


dasarnya semua bahan tumbuhan dapat dijadikan herbarium basah, namun hal

itu tidak dilakukan mengingat hal-hal berikut:

1. Biaya pembuatan yang terlalu tinggi antara lain untuk harga larutan

pengawet atau wadah yang digunakan.


2. Memerlukan tempat meletakkan specimen-spesimen yang kokoh atau

ruang untuk penyimpanan yang lebih luas.


3. Penanganan harus secara lebih berhati-hati untuk menghindarkan

pecahnya wadah dan tumpahnya larutan pengawet.

Sebagai keuntungannya antara lain dapat disebutkan bahwa bahan

tumbuhan yang di awetkan sebagai herbarium basah itu tidak terlalu jauh

kehilangan sifat-sifat aslinya, seperti bentuk, susunan, bahkan mungkin

warnanya. Selain itu pembuatan herbarium basah dapat dilakukan dengan

cepat, asal larutan pengawet dan wadah telah tersedia. Untuk pengamatan

specimen dapat dilakukan secara langsung tanpa mengubah keadaan

specimen yang telah diawetkan.

Dari bahan tumbuhan yang sering dijadikan herbarium basah ialah

bahan-bahan yang mempunyai sifat-sifat berikut:

1. Ukuran tidak terlalu besar, namun bila dikeringkan mudah terlepas dan

bila dipres akan kehilangan ciri-ciri utamanya.


2. Merupakan bahan tumbuhan yang berasal dari jenis-jenis tumbuhan yang

hidup di air atau mempunyai kadar air yang tinggi, seperti misalnya

warga ganggang dan jamur.


Berbeda dengan herbarium kering yang ditempel pada kertas dengan

ukuran yang diseragamkan (11½x 16½ inci). Wadah-wadah yang digunakan

untuk pembuatan herbarium basah mempunyai bentuk dan ukuran yang tidak

seragam, disesuaikan dengan ukuran bahan yang akan diawetkan. Untuk

keperluan ini lazim digunakan bejana-bejana dari kaca yang tembus cahaya

dan tahan pengaruh kemikalia, diberi tutup yang rapat yang kedap udara dan

air. Pada wadah-wadah untuk herbarium basah juga ditempelkan label atau

etiket yang memuat informasi seperti yang dibuat dan dilakukan terhadap

herbarium kering.

Pengelolaan Herbarium Bagi dunia ilmu pengetahuan, koleksi

herbarium yang merupakan objek studi utama bagi para ahlitaksonomi,

merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya. Tak mengherankan bahwa

gedunu gedung-gedung untuk menyimpan koleksi itu merupakan bangunan-

bangunan yang megah yang di dalamnya bekerja tokoh-tokoh ilmu

pengetahuan yang kenamaan, dibantu oleh sejumlah karyawan non-ilmiah

yang bertugas untuk pengelolaan koleksi secara administrative dan teknis.

Sesuai dengan ruang yang tersedia dalam gedung herbarium, koleksi

herbarium baik yang kering maupun yang basah dipisah-pisah dan ditata di

ruang yang tersedia untuk masing-masing takson menurut klasifikasi yang

dibuat oleh para ahli dalam lembaga itu. Ada ruangan tersendiri untuk

golongan tumbuhan spora (Cryptogamae), dan ada ruangan tersendiri untuk

tumbuhan berbiji (Phanerogamae, Spermatophyta). Dalam ruangan untuk

tumbuhan spora dipisahkan lagi di tempatnya masing-masing koleksi


ganggang (algae), jamur (fungi), lumut (bryophyte), dan tumbuhan paku

(pteridophyta), sedang dalam ruangan untuk tumbuhan berbiji dilakukan

pemisahan untuk koleksi tumbuhan biji terbuka (gymnospermae)dan

tumbuhan biji tertutup (angiospermae).

Selanjutnya dalam masing-masing ruangan untuk golongan tumbuhan

tertentu itu (yang biasanya merupakan takson tingkat tinggi seperti disebut di

atas), koleksi disusun lagi berdasar takson yang tingkatannya lebih rendah

dan ditata menurut abjad. Dalam herbarium-herbarium tertentu, specimen

herbarium yang disimpan dimasukkan dalam map/ sapmul dengan warna

yang berbeda-beda, yang masing-masing menunjukkan wilayah geografis asal

specimen-spesimen tadi. Dengan demikian berate bahwa dari jenis-jenis

tumbuhan yang specimen-spesimennya tersimpan dalam herbarium itu,

tersedia pula informasi mengenai distribusigeografisnya. Koleksi herbarium

basah disimpan dalam ruangan tersendiri yang terpisah dari ruang untuk

herbarium kering. Penataan dalam ruang diatur seperti dilakukan terhadap

koleksi herbarium kering, yaitu dipisah-pisah menurut takson kategori besar,

selanjutnya dalam masing-masing takson kategori di bawahnya disusun

menurut abjad.

Bila herbarium basah itu merupakan sebagian specimen yang sebagian

lainnya diproses sebagai herbarium kering ( misalnya bunga, buah, atau organ

lain yang terlepas dan dianggap perlu untuk tetap dipertahankan dalam

koleksi dalam bentuk herbarium basah), baik nomor urut maupun informasi

yang harus dicantumkan dalam label selain yang langsung menyangkut sifat-
sifat bahan yang diawetkan secara basah itu sendiri ( nama kolektor, data

taksonomi, dan lain-lain) harus disesuaikan dengan yang dimuat dalam label

pada herbarium kering. Spesimen “tipe” Melalui pertentangan paham yang

cukup sengit dan yang terjadi cukup lama antara kelompok ahli taksonomi

Amerika di satu pihak dan ahli-ahli taksonomi eropa di pihak lain, akhirnya

dalam lingkungan tatanama tumbuhan diterima baik apa yang hingga

sekarang kita kenal sebagai penerapan “metode tipe”.

B. Fungsi Herbarium
a) Material herbarium sangat penting artinya sebagai koleksi untuk

kepentingan penelitian dan identifikasi,hal ini dimungkinkan karena

pendokumentasian tanaman dengan cara di awetkan dapat bertahan lebih

lama,fungsi herbarium yaitu :


b) Bahan peraga pelajaran
c) Bahan penelitian
d) Alat pembantu identifikasi tanaman
e) Bukti keanekaragaman
f) Specimen acuan untuk publikasi spesies baru
g) Sebagai pusat referensi
h) Sebagai lembaga dokumentasi
i) Sebagai pusat penyimpanan data
C. Manfaat Herbarium
Herbarium dapat dimanfaatkan sebagai bahan rujukan untuk

mentakrifkan takson tumbuhan, ia mempunyai holotype untuk

tumbuhan tersebut. Herbarium juga dapat digunakan sebagai bahan

penelitian untuk para ahli bunga atau ahli taksonomi, untuk

mendukung studi ilmiah lainnya seperti survey ekologi, studi

fitokimia, peng-hitungan kromosom, melakukan analisa perbandingan

biologi dan berperan dalam mengungkap kajian evolusi.


Kebermanfaatan herbarium yang sangat besar ini menuntut perawatan

dan pe-ngelolaan spesimen harus dilakukan dengan baik dan benar .


D. Cara Membuat Herbarium
Persiapan koleksi yang baik di lapangan merupakan aspek penting

dalam praktek pembuatan herbarium. Specimen herbarium yang baik harus

memberikan informasi terbaik mengenai tumbuhan tersebut kepada para

peneliti. Dengan kata lain,suatu koleksi tumbuhan harus mempunyai seluruh

bagian tumbuhan dan harus ada keterangan yang memberikan seluruh

informasi yang tidak Nampak pada specimen herbarium.


Pembuatan awetan specimen diperlukan untuk tujuan pengamatan

specimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama

untuk specimen-spesimen yang sulit ditemukan di alam. Awetan specimen

dapat berupa awetan kering dan awetan basah. Untuk awetan kering tanaman

di awetkan dalam bentuk herbarium,sedangkan untuk mengawetkan hewan

dengan sebelumnya mengeluarkan organ-organ di dalamnya. Awetan basah

baik untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam

seluruh specimen dalam larutan formalin 4%.


Cara pembuatan herbarium sangat mudah, apabila berikut ini adalah

petunjuk untuk membuat herbarium :

1) Alat dan bahan :

a) Alat Timbangan

b) sample biota laut

c) alat tulis

d) formalin

e) Ember
f) gunting

g) akuades

h) lakban Hitam

i) selotip transparan

2) Cara Membuat awetan Herbarium


a) siapkan specimen yang akan di awetkan

b) sediakan formalin yang telah di encerkan sesuai dengan keinginan

c) masukkan specimen pada larutan formalin yang telah ada dalam botol

jam dan telah di encerkan

d) tutup rapat botol dan kemudian di beri label yang berisi nama spsimen

tersebut dan familinya.

E. Kelebihan dan Kelemahan Herbarium.

Terdapat beberapa kelemahan pada herbarium yaitu; spesimen mudah

mengalami kerusakan akibat perawatan yang. Kurang memadai maupun

karena frekuensi pemakaian yang cukup tinggi untuk identifikasi dan

pengecekan data secara manual, tidak bisa diakses secara bersama-sama oleh

berberapa orang, biaya besar; tidak bisa diakses sewaktu-waktu dan tidak

dapat diakses dari jarak jauh.

Sedangkan kelebihan dari herbarium adalah sebagai pelengkap bahan

praktikum yang bisa langsung dibawa di dalam kelas atau ruangan. Cara
pembutan yang tidak terlalu sulit,dan memudahkan praktikan meneliti

tumbuhannya tanpa harus mengambil sample yang baru.


BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Herbarium merupakan suatu spesimen dari bahan tumbuhan yang

telah dimatikan dan diawetkan melalui metode tertentu. Herbarium biasanya

dilengkapi dengan data-data mengenai tumbuhan yang diawetkan, baik data

taksonomi, morfologi, ekologi, maupun geografinya. Selain itu dalam

herbarium juga memuat waktu dan nama pengkoleksi


Pembuatan awetan specimen diperlukan untuk tujuan pengamatan

specimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama

untuk specimen-spesimen yang sulit ditemukan di alam. Awetan specimen

dapat berupa awetan kering dan awetan basah. Untuk awetan kering tanaman

di awetkan dalam bentuk herbarium,sedangkan untuk mengawetkan hewan

dengan sebelumnya mengeluarkan organ-organ di dalamnya. Awetan basah

baik untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam

seluruh specimen dalam larutan formalin 4%.