Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Cat merupakan salah satu produk yang banyak digunakan oleh manusia dan
produk industri yang memiliki peranan penting dalam mendukung industri lainnya
seperti industri furniture, industri mainan anak dari kayu dan industri kreatif
lainnya. Cat adalah suatu cairan yang digunakan untuk melapisi suatu bahan.
Penggunaan cat ini telah berlangsung sejak 2000 tahun lalu, dimana manusia yang
hidup di gua-gua menggunakan cat untuk kegiatan komunikasi, dekorasi dan
proteksi. Mereka menggunakan material-material yang tersedia di alam seperti
arang (karbon), darah dan sadapan dari tanaman-tanaman yang memiliki warna
yang menarik. Selain untuk melapisi permukaan bahan sehingga permukaan
tersebut nampak menjadi lebih indah dan bernilai lebih tinggi, cat juga digunakan
untuk melindungi produk-produk sehingga tidak rentan terhadap kerusakan akibat
pelapukan, korosi maupun serangan organisme.
Industri cat adalah salah satu industri tertua di dunia. Di Indonesia,
pertumbuhan pasar cat termasuk paling pesat di dunia dimana setiap tahunnya
peningkatan konsumsi cat semakin meningkat. Menurut penelitian yang dilakukan
oleh MARS Indonesia, pada tahun 2010 konsumsi cat di Indonesia mencapai
772.454 ton. Pada tahun 2014, meningkat menjadi 877.459 ton. Potensi
peningkatan tersebut untuk tahun-tahun mendatang akan terus terjadi, mengingat
besarnya populasi dan angka pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Sehingga industri
cat di dalam negeri semakin meningkatkan daya saingnya agar mampu
berkompetisi di pasar lokal dan global. Salah satu industri cat yang telah berdiri
cukup lama dan masih bertahan adalah PT. Sigma Utama yang terletak di Jalan
Lanbouw No.1 Jagorawi-Cibinong Bogor.
PT. Sigma Utama merupakan pelopor pabrik cat Indonesia yang didirikan
pada tahun 1932 dengan nama Lindetives Pieter Schoen and Zoon (NV.LP & P).
PT. Sigma Utama memiliki kapasitas produksi 6.000 ton/tahun dengan desain
pabrik yang ditata sedemikian rupa sehingga memudahkan proses produksi dengan

1
hasil yang tepat dan berkualitas. Sesuai dengan anggaran dasar PT. Sigma Utama,
kegiatan perusahaan ini bergerak dibidang produksi cat dengan berbagai jenis
produk yakni marine, protective dan decorative.
Pengalaman operasional selama lebih kurang 86 tahun dibidang heavy duty
& protective coating menunjukkan bahwa perusahaan memiliki kemampuan
bersaing dalam hal teknologi cat dan trend pasar yang ada. Pengalaman tersebut
menjadikan PT.Sigma Utama masih tetap eksis dan menjadi lebih prosfesional,
meskipun banyak kompetitor-kompetitor baru yang bermunculan. Riset dan
pengembangan teknologi terus dilakukan dalam upaya menghasikan produk yang
berkualitas. Salah satu pengembangan produk yang dilakukan PT. Sigma Utama
adalah produk cat dekoratif berupa cat tembok berbasis pelarut air atau yang dikenal
dengan water based paint. Cat tersebut merupakan cat dengan berbahan dasar
pelarut air yang memiliki keunggulan yakni lebih ramah lingkungan dimana cat
water based tidak mengandung VOC (Volatile Organic Compound ) yang
berbahaya bagi kesehatan manusia.
Produk cat tembok PT. Sigma Utama terdiri atas beberapa tipe sesuai dengan
kualitas dan standar perusahaaan. Dan diantara beberapa tipe cat tembok PT. Sigma
Utama, masih ada yang berada ditahap pengujian cat. Salah satunya adalah cat
tembok water based tipe II. Pengujian tersebut dilakukan untuk menentukan
kualitas cat yang diformulasikan sehingga sesuai dengan standar perusahaan.
Sehingga pada laporan ini akan dilakukan pengujian karakteristik dari cat tembok
water based tipe II yang ada di PT. Sigma Utama dan kemudian dibandingkan
dengan produk cat standar dengan spesifikasi yang sama.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam laporan ini , yaitu:


1. Bagaimana proses pembuatan cat tembok water based Tipe II di PT. Sigma
Utama ?
2. Bagaimana proses dan tahapan pengujian cat tembok water based Tipe II di
PT. Sigma Utama ?

2
3. Bagaimana kualitas cat tembok water based Tipe II di PT. Sigma Utama
berdasarkan hasil pengujian ?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka perlu dilakukan penelitian yang


berjudul “Uji Karakteristik Cat Water Based Project Paint PT. Sigma Utama”.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Menyelesaikan salah satu Tugas Akhir untuk memenuhi persyaratan


kelulusan dari Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas
Tanjungpura.
2. Mengetahui proses pembuatan cat tembok water based di PT. Sigma
Utama
3. Mengetahui proses dan tahapan pengujian cat tembok water based di PT.
Sigma Utama
4. Mengetahui kualitas cat tembok water based di PT. Sigma Utama
berdasarkan hasil pengujian
1.4 Manfaat

Manfaat yang diperoleh dari kerja praktek di PT. Sigma Utama adalah sebagai
berikut :

a. Manfaat bagi mahasiswa


1. Mendapatkan kesempatan dalam mengamati, membandingkan dan
menerapkan teori yang telah dipelajari di bangku kuliah dengan kondisi yang
sesungguhnya di dunia industri.
2. Menambah ilmu dan pengalaman profesional dalam bidang industri cat di PT.
Sigma Utama.
3. Melatih kedisiplinan dalam mengikuti peraturan didunia kerja

b. Manfaat bagi Universitas Tanjungpura


1. Menjalin hubungan kerjasama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
antara PT. Sigma Utama dan Universitas Tanjungpura.

3
2. Menambah referensi studi Kerja Praktek bagi Program Studi Teknik Kimia
Universitas Tanjungpura

c. Manfaat bagi PT. Sigma Utama


1. Sebagai sarana memperkenalkan perusahaan kepada masyarakat melalui
kerjasama dalam bentuk kerja praktek yang dilakukan oleh mahasiswa.
2. Memperkenalkan produk-produk perusahaan baik dalam bidang protective
paint maupun decorative paint.

4
BAB II
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1 Sejarah Singkat PT Sigma Utama


PT. Sigma Utama didirikan di Indonesia pertama kali pada tahun 1932 dengan
nama Lindetives Pieter Schoen and Zoon (NV. LP & P), yang kemudian pada tahun
1950 dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia menjadi perusahaan milik negara.
Pada tahun 1981-1995, PT. Sigma Utam bekerja sama dengan Sigma Coating BV
Belanda dalam rangka penyerapan teknologi coating. Sejak tahun 1996, PT. Sigma
Utama menjadi perusahan BUMN yang mandiri dengan teknologi dan formula
yang dikembangkan sendiri dan sejak tahun 2001 telah meninggalkan formula
yangdiperoleh dari Belanda karena kurang cocok dengan kondisi iklim di
Indonesia.
Lokasi pabrik sangat strategis dipinggir jalan tol Jagorawi-Cibinong, Bogor,
Jawa Barat tepatnya di Jalan Lanbouw No.1 Jagorawi-Cibinong Bogor dengan
kapasitas terpasang 6000 ton/tahun. Pabrik dengan luas 2 Ha dilengkapi dengan
peralatan dan mesin berstandar modern, gudang, laboratorium QC, riset dan
pengembangan (R&D), instalasi pengolahan limbah dan lahan terbuka hijau. PT.
Sigma Utama telah mendapat sertifikat ISO 9001, 14001 dan OHSAS 18001 dan
mendapatkan penghargaan industri hijau dari Kementerian BUMN dan
Kementerian Perindustrian Republik Indonesia.
Riset dan pengembangan teknologi dengan menggunakan sumber daya alam
Indonesia menjadi komitmen utama kami dan bekerjasama dengan serius dengan
Departemen Perindustrian, LIPI, ITB, PT.PUSRI, TNI AL dan belajar dari ahli-ahli
mancanegara melalui website yang dilakukan oleh putra-putri bangsa Indonesia
sendiri. Brand Sigma Utama telah terdaftar secara sah pada departemem kehakiman
dan HAM. Produk dan brand Sigma Utama adalah asli produk dalam negeri milik
bangsa Indonesia. PT Sigma Utama juga tidak pernah sebagai agen atau distributor
daro produk impor.

5
2.2 Visi, Misi dan Motto Perusahaan
Visi PT. Sigma Utama yaitu menjadi perusahaan nasional dengan produk
yang berdaya saing dipasar nasional dan global. Sedangkan Misi PT. Sigma Utama
yakni membuat produk yang bermutu tinggi, inovatif, bersertifikat internasioanal
dan memberikan pelayanan terbaik kepada stake holder. Motto PT Sigma Utama
yaitu Trust, Protect and Commit.

2.3 Kebijakan Lingkungan


Sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang pengelolaan bahan-bahan
kimia PT Sigma Utama menyadari kemungkinan akan timbulnya dampak
lingkungan akibat penggunaan bahan-bahan kimia. Oleh karena itu PT Sigma
Utama mengembangkan budaya ramah lingkungan melalui :
1. Selalu mencari jalan untuk terus mengoptimalkan penggunaan proses yang
tidak membahayakan lingkungan yang bertekad meminimalkan
pembuangan limbah cair, padat dan emisi gas buang.
2. Berpegang teguh pada kaidah hukam dan perundangan yang berlaku serta
melaksanakan kegiatan yang memungkinkan untuk melindungi pelestarian
lingkungan.
3. Terus melaksanakan pengembangan riset dan inovasi produk baru serta
dengan kebutuhan pelanggan dan teknologi berwawasan lingkungan.
4. Melaksanakan yang berkelanjutan terhadap penanganan aspek lingkungan
sehingga menimbulkan lingkungan kerja yang nyaman dan sehat.

2.4 Pemeliharaan Tempat dan Lingkungan


Pemeliharaan tempat dan lingkungan kerja di PT. Sigma Utama menjadi
sangat penting karena hal tersebut erat kaitannya dengan keselamatan dan
kebersihan. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka langkah-langkah yang perlu
diambil adalah :
1. Disediakan saluran air dan tempat pembuangan khusus limbah untuk
mencegah pencemaran lingkungan
2. Dibuat peraturan yang berhubungan dengan peraturan kerja , diantaranya:

6
a. Didalam melaksanakan praktek, seorang analis harus menggunakan
perlengkapan seperti jas lab, sarung tangan , masker dan sebagainya
b. Dilarang merokok disekitar area pabrik
c. Adanaya tenaga kebersihan (cleaning service) dan lain-lain.

2.5 Budaya Perusahaan


PT. Sigma Utama memiliki budaya sebagai berikut :
1. Berketuhanan Yang Maha Esa
2. Mengabdi kepada negara melalui industri
3. Menjujung tinggi kejujuran
4. Mengutamakan keserasian dan kerjas sama
5. Berusaha terus menerus meningkatkan diri
6. Menjunjung tinggi kesopanan dan kerendahan hati
7. Membudayakan rasa syukur kepada Ketuhanan Yang Maha Esa

2.6 Sistem Pengujian Cat


Sistem pengujian cat di PT, Sigma Utama melibatkan dua laboratorium yaitu
laboratorium Research and Development (R&D) dan laboratorium Quality Control
(QC). Laboratorium Research and Development (R&D) berperan dalam pengujian
bahan baku cat yang masih dalam bentuk contoh produk sebelum masuk kebagian
produksi. Apabila bahan baku tersebut dipesan oleh perusahan maka bahan baku
tersebut akan diuji terlebih dahulu yang kemudian dibandingkan hasilnya dengan
standar perusahaan. Selain melakukan pengujian terhadap bahan baku,
laboratorium Research and Development (R&D) juga bertugas untuk memberikan
perbaikan terhadap produk yang sedang dikerjakan oleh bagian produksi jika terjadi
kerusakan produk. Sedangkan laboratorium Quality Control (QC) bertugas untuk
memantau kondisi produksi dan menilai produk yang dihasilkan telah sesuai
dengan standar perusahaan. Walaupun memiliki tugas yang berbeda, namun kedua
laboratorium tersebut bekerja sama dalam proses pengujian cat sehingga cat yang
dihasilkan memiliki kualitas yang baik.

7
BAB III
LANDASAN TEORI
3.1 Pengertian Cat
Salah satu cara meningkatkan nilai tambah suatu bahan adalah dengan
melapisi permukaan bahan tersebut dengan bahan lain yang lebih tinggi nilainya.
Pengetahuan tentang pelapisan permukaan bahan, secara umum dikenal sebagai
surface coating knowladge. Bagian ini meliputi: metal coating (electro coating,
galvanizing), plastic coating, paper coating, powder coating dan tentang cat itu
sendiri. Jadi cat merupakan bagian kecil dari sebuah ilmu yang jauh lebih besar,
yaitu ilmu tentang surface coating.

Cat adalah suatu cairan yang dipakai untuk melapisi permukaan suatu bahan
dengan tujuan memperindah, memperkuat atau melindungi bahan tersebut. Setelah
dikenakan pada permukaan dan mengering, cat akan membentuk lapisan yang
melekat kuat pada permukaan tersebut. Pelakatana cat ke permukaan dapat
dilakukan dengan cara : diusapkan, dilumurkan, dikuas, disemprotkan, dsb (Fajar
Anugerah, 2009).

Emulsi merupakan suatu jenis koloid dengan fase terdispersi berupa zat cair
dalam medium pendispersi padat, cair dan gas. Cat tembok waterbased disebut juga
cat emulsi, dimana terdapat emulsi antara air dan minyak dalam formulasinya.
Dalam emulsi pada masing-masing komponen pembentuknya sudah terdapat
emulsifer berupa surfactan (Fajar Anugrah,2009).

Cat adalah istilah umum yang digunakan untuk keluarga produk yang
digunakan untuk melindungi dam memberikan warna pada suatu objek atau
permukaan dengan melapisinya dengan lapisan berpigmen. Cat dapat digunakan
pda hampir semua jenis objek, antara lain untuk menghasilkan karya seni (oleh
pelukis untuk membuat lukiasan), salutan industri (industrial coating), bantuan
pengemudi (marka jalan), atau pengawet (untuk mencegah korosi atau kerusakan
oleh air).

8
3.2 Pengelompokkan Jenis Cat
Cat dapat dikelompokkan berdasarkan bahan baku utama, mekanisme
pengeringan, letak dan dimana cat itu diaplikasikan, kondisi cat, jenis dan
keberadaan solvent, fungsi, metode pengeringan, jenis substratnya dan lain-lain.
Berdasarkan dari penggunaan pelarutnya, cat terbagi dalam dua jenis utama yaitu
cat water based (pelarut air) dan cat solvent based (pelarut minyak atau thinner)
Pengelompokkan jenis-jenis cat pada tabel 3.1 di bawah ini (Fajar Anugerah,2009).

Tabel 3.1 Jenis-jenis cat dan keterangannya


Dasar pengelompokan Jenis dan keterangan
1. Bahan Baku  Berdasarkan jenis resin yang dipakai yaitu :
cat epoxy, polyurethane, acrylic, melamine,
alkyd, nitro cellulose, polyester, vynil,
chlorinated rubber, dll.
 Berdasarkan ada tidaknya pigmen dalam cat
yaitu:
- varnish atau lacquer (transparan, tidak
mengandung pigmen)
- duco atau enamel (berwarna dan menutup
permukaan bahan, mengandung pigmen).

2. Fungsi Cat dempul (filler), anti karat (anti corrosion), anti


jamur (anti fungi), tahan api, tahan panas (heat
resistance), anti bocor (water proofing), decorative,
protective, heavy duty, industrial, dll.

3. Metode pengecatan Cat kuas, spray, celup, wiping, elektrostatik, roll, dll.

4. Letak pemakaian Cat primer (sebagai dasar), undercoat, intermediete


(tengah-tengah), top coat/finishing (pada permukaan
paling atas dari beberapa lapisan cat), interior

9
(didalam ruangan, tidak terkena secara langsung sinar
matahari) dan exterior (diluar ruangan), dll.

5. Jenis substrat Cat besi (metal protective), lantai (flooring systems),


kayu (wood finishing), beton (concrete paint), kapal
(marine paint), mobil (automotive paint), plastik,
kulit, tembok, dll.

6. Kondisi dan bentuk Cat pasta, ready-mixed, emulsi, aerosol, dll.


campuran

7. Ada tidaknya Waterbased, cat solvent based, tanpa solvent,


solvent powder, dll.

8. Mekanisme Cat kering udara (varnish dan syntetic enamel), cat


pengeringan stoving (panggang), cat UV curing, cat penguapan
solvent (lacquer dan duco),dll.

3.3 Komponen Cat


Pada umumnya, komponen atau bahan penyusun cat terdiri dari binder
(resin), pigmen, solvent dan aditif (Fajar Anugerah,2009).

3.3.1 Binder atau resin


Binder atau resin adalah bahan pengikat cat yang merupakan suatu polimer
hidrokarbon tidak jenuh yang dibentuk oleh monomer-monomer. Fungsi dari resin
yakni merekatkan komponen-komponen yang ada dan melekatkan keseluruhan
bahan pada suatu permukaan (membentuk film). Resin dapat diperoleh dari bahan
alam maupun sintetis. Pada temperatur ruang (atau temperatur aplikasi) berbentuk
cair, bersifat lengket dan kental. Berikut ini beberapa jenis resin yang sering
digunakan yaitu natural oil, alkyd, nitro cellulose, polyester, melamine, acrylic,
epoxy, polyurethane, silicone, fluorocarbon, venyl, cellolosic, dan lain-lain.
Berdasarkan mekanisme mengering atau mengerasnya (pembentukan film),
resin dibagi menjadi tiga reaksi yakni

10
1. Reaksi penguapan solvent (Lacquer dan duco) adalah proses mengering atau
mengerasnya resin yang terjadi karena penguapan solvent yang ada. Bahan yang
padat akan tertinggal dan menempel merata pada seluruh permukaan bahan yang
dicat. Selama solventnya masih ada maka resin ini belum mengeras. Untuk
mempercepat proses menguapnya solvent, biasanya dibantu dengan pemanasan.
2. Reaksi dengan udara (Varnish dan syntetic Enamel) adalah proses mengering
atau mengeras karena ada reaksi kimia antara komponen udara (oksigen atau air)
dengan resin tersebut membentuk melekul-molekul baru yang lebih besar dan
saling berikata satu sama lain.
3. Reaksi Polymerisasi adalah proses mengeras atau mengeringnya karena terjadi
reaksi kimia antara dua resin yang ada dalam campuran cat. Reaksi polymerisasi
(baik kondensasi maupun adisi) dapat berlangsung karena adanya katalis, tanpa
katalis (non katalis), panas atau radiasi UV.
Pada cat water based, jenis resin yang digunakan adalah acrylic emulsion
yang diperoleh dari hasil polimerisasi emulsi. Resin pelapis acrylic berbasis air
terutama digunakan sebagai bahan pengikat lateks. Berdasarkan komposisi
monomer, biasanya dibagi menjadi emulsi akrilik murni, emulsi stirena-akrilik,
emulsi vinil akrilik dan emulsi vinil asetat. Dibandingkan dengan cat berbasis
minyak tradisional, ia memiliki kelebihan dari harga rendah, keamanan, hemat
sumber daya dan hemat energi, polusi dan bahaya lingkungan yang kurang
(pelepasan pelarut), dll.
Jenis resin dalam suatu formula cat menentukan banyak hal dari performa
suatu cat. Setiap jenis resin mempunyai bebrapa tipe dan turunannya, bahkan
kombinasi antara satu resin dengan resin yang lain juga menambah perbendaharaan
jenis resin baru. Daya tahan, kekuatan dan karakter cat secara keseluruhan sangat
dipengaruhi oleh jenis resin yang dipakai (Barucha,1979).

3.3.2 Pigmen
Pigmen adalah padatan halus yang ditambahkan kedalam cat berperan
sebagai zat pemberi warna utama. Selain memberikan warna pada cat, pigmen juga
memberikan sifat teertentu pada cat, diantaranya daya tutup, daya tahan
(durability), kekuatan mekanis, dan perlindungan akan korosi pada substrat logam

11
yang dilapii. Pada warna dasar putih, pigmen yang sering digunakan adalah
titanium oxide yang mempunyai hiding power (daya tutup) yang kuat dan tidak
digunakan untuk warna-warna gelap. Untuk warna merah digunakan pigmen iron
oxide dan untuk warna hitam digunakan pigmen carbon black (Lambourne,1999)
Pigmen ditambahkan ke dalam cat dengan beberapa fungsi sebagai berikut :
1. Optis, memberikan karakter khas pada penampakan cat tersebut, seperti warna,
derajat kilap (gloss) maupun daya tutup.
2. Protective, memberi nilai tambah pada karakter ketahanan cat tersebut, seperti
tahan terhadap cuaca, korosi, panas atau api, dan lain-lain.
3. Reinforcing, meningkatkan sifat seperti meningkatkan kekerasan, kelenturan,
daya tahan terhadap abrasi, dan lain-lain.
Pigmen dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu pigmen organik dan anorganik.
Pigmen anorganik dibuat dari beberapa logam (oksida logam) sedangkan pigmen
organik dibuat dari bahan minyak bumi (berbahan dasar karbon). Pigmen anorganik
mempunyai daya tahan solvent, kimia, daya tutup, kemudahan terdispersi, stabilitas
terhadap panas, cahaya dan cuaca yang lebih baik dibanding pigmen organik.
Sedangkan pigmen organik memiliki tingkat kecerahan dan tinting strength yang
lebih baik dibanding pigmen anorganik. Penggunaan pigmen organik dapat diatasi
dengan penggunaan ekstender sebagai alternatif.

3.3.3 Pelarut
Cat merupakan sebuah sistem campuran yang kompleks, ada padatan (solute)
yang terlarut atau terdispersi dalam pelarut cair (solvent). Sehingga definisi dari
pelarut (solvent) adalah cairan (biasanya mudah menguap) yang digunakan untuk
melarutkan atau medispersi komponen-komponen pembentuk film (cat) yang
kemudian akan menguap terbuang ke lingkungan selama proses pengeringan.
Pelarut berfungsi untuk menjaga kekentalan cat agar tetap cair saat digunakan
Pelarut digunakan dalam pembuatan cat memiliki dua tujuan. Pertama untuk
memudahkan pembuatan cat (seperti mengurangi viskositas dari resin dan
komponen lainnya) dan yang kedua memudahkan dalam pengaplikasian pada
permukaan. Sebuah cat membutuhkan bahan cair agar partikel pigmen, binder dan
material padat lainnya dapat bercampur. Prinsip dari pelarut adalah “like dissolve

12
like” yakni memiliki karakter yang sama dengan material yang akan dilarutkan
(Talbert,2008).
Dalam pembuatan cat water based, pelarut yang digunakan adalah air
sedangkan cat yang berbasis minyak sebagai pelarutnya. Berikut ini klasifikasi
pelarut pada Tabel 3.2.

Tabel 3.2 Klasifikasi Pelarut


Jenis Pelarut Sub Jenis Pelarut Nama Pelarut
Alifatik Mineral spirit, heksan, heptan
Hidrokarbon
Aromatik Toluen, xilena
Keton MIBK, MEK, aseton
Ester Etil asetat, n-butil asetat, isopropil
asetat
Eter Oxitol, etil metil eter, butil etil eter
Oxygenated Alkohol Metanol, etanol, isopropanol,n-
solvent butanol
Chlorinated Metilkloroform
Other Solvent
Nitrated NMP (n-metil-2-pyrrolidone)

3.3.4 Extender (pengisi)


Penggunaan extender pada pembuatan cat berfungsi untuk mengurangi biaya
bahan baku yang mahal dan meningkatkan kualitas. Pada umumnya extender
berbentuk serbuk dan memiliki ukuran tertentu. Ukuran partikel extender hanya
puluhan mikrometer (Susyanto,2009).
Extender memiliki daya tutup yang rendah dibandingkan pigment. Extender
seperti talc, carbonat, dan caolin membantu memperkuat pigmen utama. Extender
membantu menambah berat dan viskositas cat. Fungsi lain dari extender yaitu untuk
meningkatkan kekuatan lapisan cat dan meningkatkan daya tutup suatu cat. Berikut
beberapa jenis extender pada tabel 3.3.

Tabel 3.3 Jenis-jenis extender


Bahan Kimia Alam Jenis
Barium Sulphate Barytes
Calcium Carbonat Chalk dan Calcite

13
Calcium Sulphate Gypsum dan Precipitated Calcium Sulphate
Silicate Silica, clay, talc, dan mika

3.3.5 Additive
Additive merupakan bahan pembantu yang ditambahkan pada pembuatan
cat untuk menambahkan properties atau sifat-sifat cat sehingga dapat meningkatkan
kualitas cat. Penambahan aditif relatif sedikit dan pada suatu cat dapat mengandung
lebih dari satu aditif. Zat aditif ditambahkan ke dalam cat disesuaikan dengan
pelarut yang digunakan (solvent atau water based), jenis resin, jenis pemakaiannya
dan reaksi pengeringannya. Contoh sifat yang disesuaikan dengan penambahan
aditif yakni viskositas, foaming, skinning, dispersi pigmen,, fleksibelitas,
kekerasan, kekilapan, ketahanan UV, ketahanan bakteri, dan sebagainya. Berikut
ini adalah beberapa aditif dan fungsinya yang biasa digunakan dalam industri cat.

Tabel 3.3 Jenis additive dan pengelompokkannya


Nama Zat Aditif Fungsi

Wetting Agent Mempermudah atau mempercepat proses


penggantian udara dan air oleh resin pada
permukaan pigmen atau extender
Dispersing Agent Mempermudah distribusi pigmen dan extender ke
dalam cairan resin
Anti Skinning Agent Mencegah proses pengulitan pada permukaan cat
(oil atau alkyd base resin) selama penyimpanan
Thickening Agent Mempertahankan kekentalan cat atau melindungi
cat selalu dalam kondisi koloid
Anti Settling Agent Mempertahankan pigment selalu berada pada
kondisi dispersi yangn stabil dalam campuran,
sehingga tidak mengendap
Anti Sagging Mencegah turunnya atau melelehnya cat jika
dipakai pada permukaan tegak

14
Levelling Agent Meningkatkan kualitas permukaan cat, sehingga
permukaannya rata tidak bergelombang
Anti Flooding & Floating Mencegah pemisahan pigmen baik secara vertikal
maupun horizontal
Anti Foaming Mencegah atau menghilangkan timbulnya busa
pada permukaan cat
Anti Static Agent Mencegah atau mengurangi timbulnya arus listrik
statik selama pemakaian
Driyer Mempercepat reaksi oksidasi dan polimerisasi
dari ikatan tak jenuh pada cat jenis alkyd atau
synthetic (mengandung drying oil)
Katalis Untuk mempercepat reaksi crosslinking antara
resin amino dan alkyd polyol (atau turunannya),
biasanya dipakai senyawa-senyawa asam organik
maupun non organik
Plasticizier Meningkatkan fleksibilitas cat, terutama pada cat
yang mempunyai berat molekul yang besar,
seperti NC
Anti Fouling Agent Mencegah timbulnya atau melekatnya tumbuhan
air laut pada dasar dinding kapal
Matting Agent Menurunkan derajat kilap lapisan cat (dari gloss
ke semi gloss atau dari semi ke dof/matt)
Anti Fungus Mencegah timbulnya jamur

3.4 Proses Pembuatan Cat


Proses pembuatan cat pada skala industri melalui beberapa tahapan yaitu
pencampuran (pre-mixing), penghalusan (grinding), let-down, penyaringan
(filtering), pewarnaan (colour matching) dan pengemasan (packaging).

3.4.1 Pre-Mixing (pencampuran)


Pre-Mixing adalah proses pencampuran awal dimana bahan baku yang telah
dicek kualitasnya dimasukkan kedalam mixer untuk membuat produk intermediet

15
yaitu pasta cat yang akan menjadi bahan dasar dari cat. Pasta cat ini akan berwarna
putih tanpa ada campuran resin dalam pastanya. Bahan baku yang dicapurkan
adalah filler, pelarut dan sebagian aditif. Sperti dispersing agent dan wetting agent.
Pembuatan pasta cat ini dilakukan agar pada saat pencetakan warna yang berbeda
dapat dilakukan dengan pasta yang sama. Pembuatan pasta cat pada pre-mixing ini
terlihat tidak dilakukan lagi pengukuran bahan baku yang diumpankan. Hal ini
dimungkinkan bahan baku yang diumpankan telah dalam bentuk kantong yang
memiliki ukuran tertentu. Selain itu, pekerja yang mengumpankan telah
berpengalaman dalam bidang tersebut sehingga cukup dengan perkiraan untuk
jumlah penambahan pelarut yang digunakan.
Seluruh proses pada tahap ini tidak dilakukan pengendalian terhadap
temperatur dan tekanan. Semua dilakukan pada keadaan temperatur lingkungan dan
tekanan atmosfer. Walaupun pada saat pencampuran dimungkinkan terjadi
perpindahan panas dari impeler ke cairan, namun hal tersebut dapat diabaikan
karena perpindahan panas yang terjadi tidak terlalu besar. Satu-satunya
pengendalian yang dilakukan adalah pengendalan tahan kualitas pasta cat yang
dihasilkan. Pasta yang dihasilkan harus memiliki kehalusan antara 6-6,5 NS atau
setara 20µm. Waktu pengadukan juga tidak diukur secara pasti, penghentian
pengadukan dilakukan bila kehalusan telah tercapai dalam waktu 2-3 jam. Bila
pasta yang dihasilan tidak sesuai syarat kehalusan maka dilakukan penggerusan
dengan menggunakan mesin grinding dengan memakai media pasir.

3.4.2 Tahap Grinding (penghalusan)


Tahap grinding atau penggerusan dilakukan untuk memperoleh kehalusan
dari cat yang akan dibuat apabila pada tahap pre-mixing tidak dihasilkan kehalusan
cat sesuai standar. Tahap penggerusan ini menggunakan mesin grinder dengan
menggunakan media pasir. Pengendalian putaran motor pada mesin grinding hanya
dilakukan pada saat motor dipasang. Pada saat beroperasi motor tidak dikendalikan.

3.4.3 Let down


Tahap ini merupakan tahap akhir sebelum dilakukan penyaringan ulang dan
tahap pengepakan. Pada tahap ini, akan ditambahkan resin dan warna pada pasta

16
untuk mencetak warna sesuai dengan order. Selain penambahan resin dan warna,
ditambahkan pula aditif yang akan memberikan sifat khusus pada cat yang
diproduksi. Sebelum produk dikalengkan, produk akan melewati quality control
(QC) untuk melihat kemampuan daya tutup, pengeringan, warna, kekerasan, daya
reat dan bert jenis.

17
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Tahapan Persiapan
4.1.1 Alat
Pada penelitian ini alat yang digunakan adalah :
- Viskometer
- Spesific Grafity (SG) Cup
- Spatula
- Cutter
- Gloss meter
- Roll Cat
- Bar Aplikator
- Oven
- Neraca
- Isolatif
- Penggaris
- Spektrofotometer datacolor
- Alat wet abration test
4.1.2 Bahan
Bahan yang digunakan pada penelitian ini yaitu :
- Sampel cat water based tipe II PT.Sigma Utama
- Sampel cat water based kompetitor
- Air
- NaOH
- Aluminium Foil
- Kertas Control
- Asbes
- Kaleng cat
- Dip Slide

18
4.2 Tahapan Pengujian
Pengujian karakeristik cat yang telah dibuat terbagi atas dua tahapan yaitu
pengujian estetika dan pengujian aplikasi. Pengujian estetika untuk cat yang masih
berwujud cairan sedangkan pengujian aplikasi untuk cat yang sudah diaplikasikan
pada permukaan asbes.
4.2.1 Pengujian Estetika
Pengujian estetika terdiri atas uji viskositas, uji spesific gravity, uji solid
content, uji hiding power (daya tutup), uji glossy (daya kilap), dan uji drying time
(daya kering). Metode tiap-tiap pengujian tersebut berdasarkan ASTM (American
Standard Testing and Material). Berikut ini pengujian estetika yang dilakukan,
yaitu :
a. Uji Viskositas
Alat dan bahan yang digunakan pada pengujian ini adalah :
- Viskometer KU
- Sampel cat waterbased
- Spatula
Metode pengujian sebagai berikut :
1) Menyiapkan alat dan bahan
2) Menyiapkan sampel cat yang akan diuji, mengaduknya dengan
menggunakan spatula hingga homogen
3) Meletakkan sampel cat yang akan diuji pada piringan viskometer
4) Menurunkan kepala viskometer sampai tanda batas
5) Menyalakan viskometer secara otomatis
6) Menunggu hingga hasil yang diperoleh stabil
7) Mencatat hasilnya.
b. Uji Specific Gravity (Berat Jenis)
Alat dan bahan yang digunakan pada pengujian ini adalah :
- Sampel cat waterbased
- SG (spesific gravity) cup
- Spatula
- Neraca analitik

19
Metode pengujian sebagai berikut :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2) Menimbang SG cup kosong beserta penutupnya
3) Mengaduk sampel cat hingga homogen
4) Masukkan sampel cat waterbased dengan resin standar ke dalam SG cup
hingga sampai penuh, hingga isinya keluar dari lubang tutup SG.
5) Menimbang SG cup yang sudah terisi tersebut
6) Mencatat hasil timbangannya, dan menghitung berat jenis
7) Lakukan hal yang sama pada sampel cat waterbased dengan resin modif 1, 2,
dan 3
c. Uji Solid Content
Alat dan bahan yang digunakan pada pengujian ini adalah :
- Aluminium foil
- Sampel cat waterbased Oven
Metode pengujian sebagai berikut :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
2) Menimbang berat aluminium foil kosong
3) Menimbang kurang lebih 2 gram sampel cat waterbased dengan resin standar
sebanyak 3 kali pengulangan
4) Lakukan hal yang sama pada sampel cat waterbased dengan resin modif 1, 2,
dan 3
5) Meletakkan di dalam oven yang bersuhu 115oC selam 2 jam
6) Menimbang setelah dioven
7) Menghitung % solid content yang diperoleh

d. Uji Hiding Power (Daya Tutup)


Alat dan bahan yag digunakan pada pengujian ini adalah :
- Spektrofotometer datacolor
- Sampel yang telah diaplikasikan ke kertas kontrol
Metode pengujian sebagai berikut :
1) Tempelkan kertas kontrol yang teraplikasi cat pada spektrofotometer
2) Cahaya akan disorotkan ke kertas kontrol

20
3) Hasil akan keluar pada layar komputer

e. Uji Gloss (Daya Kilap)


Alat dan bahan yang digunakan pada pengujian ini adalah :
- Glossmeter
- Sampel yang telah diaplikasikan pada kertas kontrol
Metode pengujian sebagai berikut :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
2) Mengukur gloss pada masing-masing sampel yang telah diaplikasikan pada
kertas kontrol dengan alat glossmeter

f. Uji Drying Time (Waktu Kering)


Pengujian ini terdiri atas dua yaitu touch dry (bila diraba dengan jari dan
sedikit ditekan, tidak meninggalkan tanda pada permukaan cat) dan hard dry (bila
permukaan cat telah kering sempurna dan dapat dipindahkan tanpa terjadi
kerusakan. Alat dan bahan yang digunakan pada pengujian ini adalah :
- Bar aplikator
- Spatula
- Kertas kontrol
Metode pengujian sebagai berikut :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
2) Meletakkan kertas kontrol di atas meja
3) Menaruh bar aplikator dengan ukuran 120 µm diatas kertas kontrol
4) Mengaduk sampel cat dengan spatula sampai homogen, kemudian
menuangkan sampel sedikit di dekat bar aplikator
5) Menarik bar aplikator tersebut dari atas ke bawah
6) Menghitung waktu kering pada sampel

4.2.2 Pengujian Aplikasi


Pengujian aplikasi terdiri atas uji adhesi (X-Cut), uji alkaly resistance, uji
water resistence, dan uji wet abrasion. Pengujian ini dilakukan setelah cat
diaplikasikan pada asbes sebagai substrat yang dalam hal ini mewakili
pengaplikasian pada tembok. Cat yang akan diuji tersebut dilakukan pengenceran

21
sebanyak 10% yang kemudian diaduk dan diaplikasikan pada asbes dengan cara di
roll. Pelapisan cat pada asbes dilakukan sebanyak 3 kali. Setelah itu dibiar kering
sempurna.
Berikut ini pengujian aplikasi yang dilakukan sebagai berikut :
a. Uji Adhesi (X-Cut)
Alat dan bahan yang digunakan pada pengujiaan ini adalah :
- Panel asbes yang sudah diaplikasi
- Cutter
- Penggaris
- Isolatif
Metode pengujian sebagai berikut :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
2) Mengukur dengan penggaris, kira-kira yang akan dibentuk X
3) Membentuk X dengan menggunakan cutter dan penggaris
4) Menempelkan isolatif ke asbes yang sudah di X-cut
5) Menarik isolatif tersebut pada sudut 45°
6) Melihat daya rekat yang ada pada sampel cat waterbased.
7) Menentukan kelompok daya rekat tersebut menurut klasifikasi kelompoknya

b. Uji Alkaly Resistance


Alat dan bahan yang digunakan pada pengujian ini adalah :
- Panel asbes yang sudah diaplikasi
- Tutup botol kecil
- Larutan NaOH 0,5%
Metode pengujian sebagai berikut :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
2) Meneteskan larutan NaOH 0,5% ke asbes yang sudah diaplikasi
3) Menutup bagian asbes yang ditetesi larutan NaOH dengan tutup botol kecil
4) Dibiarkan selama 24 jam
5) Melihat perubahan yang terjadi pada panel asbes yang ditetesi larutan NaOH
0,5% (mengabur, mengelupas atau menguning)

22
c. Uji Water Resistance
Alat dan bahan yang digunakan pada pengujian ini adalah :
- Ember
- Asbes yang sudah diaplikasikan
- Air
Metode pengujian sebagai berikut :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
2) Menyiapkan air di dalam ember secukupnya
3) Merendam asbes ke dalam ember yang telah terisi air
4) Menunggu sampai 7 hari perendaman
5) Menjemur panel hingga kering dan lihat perubahan yang terjadi (cat
memudar, mengelupas atau menguning)

d. Uji Wet Abrasion


Alat dan bahan yang digunakan pada pengujian ini adalah :
- Asbes yang telah diaplikasikan
- Alat wet abrasion test
Metode pengujian sebagai berikut :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
2) Letakkan asbes yang telah diaplikasikan dengan cat pada alat
3) Nyalakan alat dan amati asbes hingga ada bagian asbes yang tergerus
4) Hitung berapa kali gerusan yang dialami asbes

e. Uji Bakteri
Alat dan bahan yang digunakan pada pangujian ini adalah :
- Sampel cat water based
- dip slide
Metode pengujian sebagai berikut :
1) Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan
2) Celupkan dip slide pada sampel cat
3) Masukkan dip slide pada wadah yang tertutup rapat
4) Diamkan selama 24 jam

23
5) Amati banyaknya bakteri yang menempel pada dip slide

24
BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Pengujian Estetika


Pengujian estetika merupakan pengujian pendahuluan yang dilakukan
sebelum pengujian aplikasi. Pengujian estetika terdiri atas uji viskositas, uji spesific
gravity, uji solid content, uji hiding power (daya tutup), uji gloss (daya kilap), dan
uji drying time (daya kering). Cat yang diuji adalah cat water based Tipe II hasil
modifikasi yang kemudian dibandingkan dengan hasil pengujian cat tembok
standar. Berikut ini merupakan data hasil tiap pengujian yang dilakukan yang tersaji
pada tabel 5.1.

Tabel 5.1 Hasil Pengujian Estetika


Jenis Pengujian Cat tembok Tipe II Cat standar
Uji viskositas (KU) 104,3 124,6
Uji spesific gravity (gram/ml) 1,62 1,71
Uji solid content 64,62 % 65,89 %
Uji gloss (gloss unit/GU) 3,2 2,8
Uji hiding power (daya tutup) 95,43 % 93,22 %
Uji drying time (waktu kering)
- Touch dry (menit) 13 14
- Hard dry (menit) 20 20

5.1.1 Uji Viskositas


Viskositas adalah ukuran yang menyatakan kekentalan suatu cairan atau
fluida. Kekentalan merupakan sifat cairan yang berhubungan dengan
kemudahannya untuk mengalir. Setiap zat cair memiliki viskositas yang berbeda-
beda. Tujuan dari pengukuran ini adalah untuk mengukur kekentalan cat sebelum
dikemas. Pengujian viskositas menggunakan alat viskometer KU-2 dengan satuan
krebs unit (KU). Pengujian ini berdasarkan standar ASTM D 1200.

25
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.1 diperoleh nilai viskositas cat
tembok tipe II lebih kecil dibandingkan dengan cat tembok standar. Nilai viskositas
cat tembok tipe II sebesar 104,3 KU sedangkan cat tembok standar sebesar 124,6
KU. Viskositas pada suatu cat dipengaruhi oleh komposisi resin, ekstender, pigmen
dan pelarut dalam formulasi suatu cat. Besarnya viskositas pada suatu cat akan
mempenagruhi kualitas selama penyimpanan. Viskositas yang terlalu tinggi akan
mengakibatkan cat akan lebih mudah mengeras sedangkan viskositas yang terlalu
rendah akan mengakibatkan cat lebih mudah membentuk 2 lapisan ketika terlalu
lama disimpan.

5.1.2 Uji Spesific Gravity (massa jenis)


Massa jenis menyatakan jumlah massa per satuan volume dari suatu material
pada temperatur tertentu dan untuk menentukan persentase jumlah zat yang
terkandung terhadap massa cat yang dihasilkan dalam formulasi cat. Prosedur
pengujian spesific gravity berdasarkan ASTM D 1475. Massa jenis cat diukur
menggunakan cawan massa jenis (spesific gravity cup/ SG cup). Pengujian spesific
gravity dilakukan dengan penimbangan massa sebelum dan sesudah SG cup diisi
oleh cat. Kemudian dihitung hasilnya, dimana volume dari SG cup yang digunakan
yaitu 50 ml. Rumus yang digunakan untuk menghitung spesific gravity adalah
sebagai berikut (ASTM D1475) :
(𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑖𝑠𝑖) − (𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝐾𝑜𝑠𝑜𝑛𝑔)
𝑠𝑝𝑒𝑠𝑖𝑓𝑖𝑐 𝑔𝑟𝑎𝑣𝑖𝑡𝑦 (𝑆𝐺) =
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒 𝑆𝐺 𝑐𝑢𝑝 (50𝑚𝑙)

Berdasarkan hasil uji spesific gravity pada tabel 5.1, massa jenis cat tembok
tipe II hasil modifikasi dan massa jenis cat standar memiliki nilai yang sedikit
berbeda namun tidak signifikan. Cat tembok tipe II memiliki nilai massa jenis
sebesar 1,62 gram/ml, sedangkan cat tembok standar memiliki nilai massa jenis
sebesar 1,72 gram/ml. Perbedaan ini dikarenakan penggunaan dari bahan baku cat
pada formulasi juga berbeda terutama dalam komposisi masing-msing bahan baku
dalam formulasi cat. Selain itu,dari hasil uji massa jenis diketahui bahwa parameter
massa jenis berbanding lurus terhadap viskositas dan padatan total. Semakin besar
nilai massa jenis cat, maka semakin besar pula nilai viskositas dan padatan total cat.

26
Hal ini terlihat pada Tabel 5.1, dimana nilai viskositas dan padatan total cat tembok
standar lebih besar dibandingkan dengan cat tembok tipe II yang dikarenakan nilai
massa jenis cat tembok standar lebih besar.
Pada dasarnya tidak mempengaruhi kualitas cat, namun pengukuran massa
jenis cat digunakan sebagai acuan dalam penentuan komposisi volume suatu cat.
Parameter ini diperlukan sebagai konversi perhitungan komposisi cat pada saat cat
diaplikasikan dimana satuan yang digunakan dalam bentuk satuan volume. Hal ini
dikarenakan pada saat pembuatan cat, satuan yang digunakan adalah satuan massa
sehingga harus dikonversi terlebih dahulu.

5.1.3 Uji Solid Content (padatan total)


Pengujian solid content merupakan suatu metode yang dilakukan untuk
mengetahui besar presentase zat tersisa atau tidak menguap setelah campuran
dipanaskan pada suhu dan waktu tertentu. Pengukuran ini juga dapat dilakukan
untuk mengetahui penyimpangan komposisi padatan dan pelarut yang disebabkan
oleh penguapan akibat proses pemanasan. Prosedur pengujian ini berdasarkan
ASTM D 2369. Pengujian dilakukan sebanyak tiga kali pengulangan dengan
pemanasan cat didalam oven pada suhu 115°C selama 120 menit. Nilai solid content
(padatan total) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut (ASTM D 2369) :
bobot cat sesudah dioven
padatan total (%) = x 100%
bobot cat sebelum dioven

Berdasarkan data hasil pengujian padatan total pada tabel 5.1, nilai padatan
total pada cat tembok tipe II hasil modifikasi lebih kecil dibandingkan dengan cat
tembok standar. Pada cat tembok tipe II diperoleh nilai padatan total sebesar
64,62% sedangkan nilai padatan total pada cat tembok standar sebesar 65,89%.
Nilai padatan total ini dipengaruhi oleh jumlah ekstender dan pigmen yang
digunakan dalam formulasi cat. Dimana semakin banyak jumlah ekstender dan
pigmen yang ditambahkan maka semakin besar pula nilai padatan total yang
diperoleh. Nilai padatan total cat tembok tipe II dan cat tembok standar termasuk
dalam kategori high solid yakni dengan nilai padatan lebih dari 60% dan kurang
dari 100%.

27
5.1.4 Uji Hiding Power (Daya Tutup)
Daya tutup merupakan kemampuan suatu cat untuk menutupi permukaan
substrat yang diaplikasikan. Semakin tinggi daya tutup suatu cat maka semakin tipis
lapisan (film) cat yang dibutuhkan untuk menutupi permukaan substrat. Demikian
pula, semakin rendah daya tutup suatu cat maka akan semakin tebal lapisan (film)
cat yang dibutuhkan untuk menutup permukaan substrat yang diaplikasikan.
Prosedur pengujian ini berdasarkan ASTM 2805-96. Alat yang digunakan dalam
pengujian hiding power adalah spektroskopi datacolor.
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.1, nilai daya tutup pada cat tembok
tipe II yakni 95,43% lebih besar dibandingkan dengan nilai daya tutup pada cat
tembok standar sebesar 93,22%. Nilai daya tutup ini dipengaruhi oleh penggunaan
jenis pigmen dan komposisinya dalam formulasi cat, karena pigmen pada lapisan
film (cat) akan membentuk kristal solid yang terdispersi dan memberikan sifat ptik
pada warna serta daya tutup cat.
Penggunaan jenis pigmen ini juga dipengaruhi oleh pengggunaan binder
(resin), hal ini terjadi karena resin merupakan salah satu bahan utama yang berperan
sebagai pengikat bahan-bahan lainnya untuk membentuk emulsi cat. Kekurangan
bahan binder ini dalam bahan pembuatan cat akan menyebabkan cat tidak dapat
tercampur atau terikat secara sempurna dengan bahan lainnya sehingga cat akan
mudah terpisah/tercerai dan akibatnya juga tidak akan mengikat dengan baik pada
medium pengecatan yang digunakan (Tadros, 2013). Sehingga hasil dari pengujian
daya tutup, diketahui bahwa cat tembok tipe II lebih baik karena membutuhkan
ketebalan lapisan film (cat) yang lebih tipis pada pengaplikasiannya dibandingkan
dengan cat tembok standar.

5.1.5 Uji Gloss (Daya Kilap)


Uji gloss (daya kilap) adalah pengukuran tingkat kilap atau tingkat kecerahan
pantulan cahaay yang dihasilkan oleh lapisan film (cat). Daya kilap adalah jumlah
persentase sinar yang dipantulkan oleh permukaan cat dibandingkan sinar yang
dijatuhkan pada permukaan cat tersebut. Pengujian daya kilap ini berdasarkan
standar ASTM D 523-89. Alat untuk mengukur daya kilap yaitu glossmeter dengan
satuan gloss unit. Dalam pengukuran daya kilap digunakan sudut pandang 60°

28
dikarenakan sudut ini digunakan sebagai sudut referensi untuk semua produk. Sudut
pengukuran mengacu pada sudut antara cahaya insiden dan tegak lurus dan
pemilihan sudut berdasarkan kisaran gloss yang diantisipasi.
Berdasarkan hasil pengujian glossmeter pada tabel 5.1, diperoleh nilai daya
kilap cat tembok tipe II pada sudut 60° sebesar 3,2 GU dan daya kilap cat tembok
standar 2,8 GU. Nilai daya kilap cat tembok tipe II lebih tinggi dibandingkan
dengan daya kilap cat tembok standar. Hal ini dikarenakan daya kilap suatu cat
dipengaruhi oleh jenis resin dan pigmen yang digunakan. Walaupun nilai daya kilap
berbeda, namun kedua cat tersebut masih termasuk dalam kategori low gloss.
Karena berdasarkan pengujian dengan glossmeter pada sudut 60°, kedua cat
memberikan nilai daya kilap dibawa 10 GU.

5.1.6 Uji Drying Time (waktu kering)


Waktu kering merupakan waktu yang dibutuhkan lapisa film (cat) untuk
mengering setelah diaplikasikan. Pengujian ini dilakukan setelah pengaplikasian
cat pada kertas kontrol dengan ketebalan tarikkan 120µm menggunakan bar
applicator. Pengujian waktu kering dilakukan dengan dua cara yaitu touch dry (bila
diraba dengan jari dan sedikit ditekan, tidak meninggalkan tanda pada permukaan
cat) maupun hard dry (bila permukaan cat telah kering sempurna dan dapat
dipindahkan tanpa terjadi kerusakan. Pengujian drying time berdasarkan standar
ASTM D 1640.
Berdasarkan hasil pengujian pada tabel 5.1, pengukuran touch dry cat tembok
tipe II lebih cepat 1 menit dibandingkan dengan cat standar. Cat tembok tipe II
sudah mengering dalam waktu 13 menit sedangkan cat tembok standar mengering
dalam waktu 14 menit. Namun untuk pengukuran hard dry , kedua cat mengering
sempurna dalam waktu 20 menit. Proses pengeringan pada cat dipengaruhi adanya
reaksi crosslink yang terjadi antara lapisan cat dengan udara yang berasal dari
lingkungan. Ikatan yang terbentuk akan semakin kuat dan membetuk jarak antar
molekulnya menjadi sangat dekat. Proses pengeringan dimulai ketika cat mulai
diaplikasikan ke permukaan. Pertama bagian cair mulai menguap dan
meninggalkan lapisan film yang terdiri dari binder, aditif, dan pigmen. Pada cat
basis air, pigmen, binder, dan aditif tidak secara kimiawi saling mengikat ketika cat

29
mengering, namun partikel-partikel bergerak menyatu bersama-sama untuk
mengisi ruang yang ditinggalkan oleh menguapnya partikel cair.

5.2 Pengujian Aplikasi


Kualitas suatu cat tembok dapat dilihat dari beberapa performance sebelum
aplikasi, saat aplikasi dan sesudah aplikasi. Sesaat setelah diaplikasikan maka akan
terbentuk lapisan film (cat) diatas substrat. Setelah cat kering akan bisa ditentukan
performance dari lapisan tersebut. Kualitas cat tersebut dapat diukur dengan
melakukan pengujian aplikasi, diantaranya adalah uji adhesi (X-Cut), uji alkaly
resistance, uji water resistence, uji wet abrasion, dan uji bakteri. Pengujian ini
dilakukan setelah cat diaplikasikan pada asbes sebagai substrat yang dalam hal ini
mewakili pengaplikasian pada tembok.

5.2.1 Uji Adhesi (X-Cut)


Adhesi adalah kemampuan daya rekat suatu lapisan film untuk menempel
pada permukaan suatu substrat. Uji adhesi yang dilakukan bertujuan untuk
mengetahui kemampuan daya rekat cat setelah diaplikasikan. Metode yang
digunakan menggunakan metode X-cut yakni membuat goresan (X) pada asbes
yang telah diaplikasikan, kemudian X yang terbentuk ditutupi dengan isolatif.
Selanjutnya, isolatif tersebut ditarik dengan sudut 45°.
Parameter yang diamati yaitu banyaknya film yang terangkat atau menempel
pada isolatif yang dinyatakan dengan nilai 5B hingga 1B. Berikut ini nilai uji adhesi
sebagai parameter baik tidaknya kemampuan reakt cat :
5B : tidak ada film yang terkelupas
4B : ada film yang terkelupas ( serpihan kecil ) sepanjang potongan film
3B : ada film yang terkelupas sepanjang sisi potongan sebesar 1,6 mm
2B : ada film yang terkelupas sepanjang sisi potongan sebesar 3,2 mm
1B : sebagian besar (lebih dari 50%) film didaerah potongan menyilang X
terkelupas
Berdasarkan hasil pengujian adhesi , diperoleh hasil X cut dari cat tembok
tipe II dengan nilai 5B yang artinya tidak ada film yang terkelupas. Nilai X cut ini

30
juga sama halnya dengan cat tembok standar yang memperoleh nilai 5B. Hal ini
dapat dilihat pada gambar 5.1.

Daya rekat ini dipengaruhi oleh komposisi dari resin yang ditambahkan pada
formulasi cat. Hal ini dikarenakan resin adalah bahan pengikat bagi komponen-
komponen cat yang lain. Sehingga semakin bagus kualitas resin yang digunakan
maka daya ikat resin terhadap komponen lain juga semakin kuat.

5.2.2 Uji Alkaly Resistance


Pengujian alkaly resistance merupakkan suatu pengujian yang dilakukan
untuk mengetahui ketahanan cat terhadap alkali. Pada pengujian ini menggunakan
larutan NaOH 0,5% yang kemudian diteteskan pada asbes yang telah dilapisi cat
dan bagian yang ditetesi oleh larutan NaOH ditutup menggunakan tutup botol.
Pengamatan untuk uji alkali dilakukan selama 24 jam kemudian dilihat perubahan
yang terjadi pada asbes tersebut.
Berdasarkan hasil pengujian ketahanan cat terhadap alkali baik cat tembok
tipe II maupun cat tembok standar tidak memperlihatkan adanya pengapuran,
pengkerutan, atau pengelupasan. Hasil pengujian terlihat pada gambar 5.2

Tidak adanya perubahan yang terjadi pada cat setelah pengujian alkali
menunjukkan bahwa bahan-bahan yang digunakan pada formulasi cat tersebut
tahan terhadap alkali. Salah satu faktor yang menunjang sehingga cat tahan
terhadap alkali adalah penggunaan bahan yang bersifat inert terutama komponen
ekstendernya.

5.2.3 Uji Water Resistance


Water resistance yaitu pengujian ketahanan cat terhadap perendaman
didalam air. Pengujian ini dilakukan perendaman asbes yang telah diaplikasikan
dengan cat ke dalam air yang didiamkan beberapa waktu yang telah ditentukan yang
kemudian diamati perubahan yang terjadi.
Pada pengujian ini, asbes yang sudah diaplikasikan di rendam di dalam
ember yang berisi air, lalu didiamkan selama 24 jam setelah itu dikeringkan. Setelah

31
kering dilihat secara fisik perubahan yang terjadi. Perubahan tersebut dapat berupa
perubahan warna, cat mengalami pengapuran, atau mengalami pengelupasan.
Hasil pengujian yang diperoleh pada cat tembok tipe II yang direndam tidak
mengalami pengapuran ataupun pengelupasan, namun pada bagian atas asbes yang
tidak terendam air mengalami sedikit perubahan warna yakni sedikit kekuningan.
Sama halnya terhadap cat tembok standarnya setelah dilakukan perendaman selama
24 jam.

5.2.5 Uji Wet Abrasion


Wet abrasion adalah pengujian yang dilakukan untuk menunjukkan
kekuatan terhadap gerusan pada kondisi basah. Pengujian ini untuk menentukan
kekuatan film pada cat yang penentuannya menggunakan alat wet scrub abraser.
Cat diaplikasikan pada asbes, kemudian di keringkan hingga kering sempurna.
Setelah kering sempurna dilakukan pengujian pada asbes yang telah diaplikasikan
cat. Hasil dari pengujian ini berupa berapa banyak scrub cycle film tersebut mampu
bertahan, semakin tinggi nilai yang dihasilkan maka berarti semakin baik kualitas
film yang terbentuk dari cat tersebut. Ini mempresentasikan kekuatan/daya tahan
film yang dihasilkan.
Hasil pengujian wet abrasion pada cat tembok tipe II yang sedang
dikembangkan tersebut memiliki ketahanan terhadap gerusan yang sangat baik. Hal
ini dikarenakan pada hasil pengujian, cat tembok tipe II tidak ada mengalami
penggerusan setelah 100 kali gerusan. Sedangkan cat tembok standarnya pada
gosokan ke 89 , cat tersebut sudah mulai tergerus dari asbes.

5.2.6 Uji Bakteri


Pengujian bakteri pada yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui
keberadaan bakteri didalam cat yang telah dibuat. Pengujian ini menggunakan dip
slide yang mana terdiri atas slide plastik yang membawa dua gel agar nutrisi yang
berbeda pada sisi yang berlawanan dari slide. Satu sisi telah dirancang untuk
membudidayakan bakteri yang tumbuh sebagai koloni merah yang terlihat ketika
slide diinkubasi selama beberapa hari. Sisi lain slide akan cetakan budaya (koloni
kabur atau berbulu) dan ragi (biasanya putih, krem atau koloni merah muda). Slide

32
dicelupkan ke dalam cairan untuk diuji atau ditekan pada permukaan, dan kemudian
diinkubasi.
Pada pengujian bakteri pada cat tembok tipe II dan cat tembok standar
dilakukan inkubasi selama 24 jam. Hasil pengujian menunjukkan bahwa terlihat
koloni bakteri yang ada pada cat tembok tipe II sedangkan pada cat tembok standar
terlihat sedikit saja.

33
BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Pengujian yang dilakukan terhadap cat water based tipe II yang sedang
dikembangkan PT. Sigma Utama untuk mengetahui karakteristik cat tersebut dan
mengetahui kualitas cat sebelum dan sesudah diaplikasikan. Hasil pengujian cat
water based tipe II yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan hasil pengujian
cat standarnya. Adapun hasil dari serangkaian pengujian yang dilakukan terhadap
cat water based tipe II yang sedang dikembangkan yakni uji viskositas sebesar
104,3 KU, uji spesific gravity sebesar 1,62 gram/ml, uji solid content sebesar
64,62%, uji gloss pada sudut 60° sebesar 3,2 GU, uji daya tutup sebesar 95,43%,
uji drying time pada touch dry 13 menit dan hard dry 20 menit. Untuk pengujian
alkali tidak mengalami perubahan baik itu mengalami pengapuran, mengelupas
ataupun memudar sedangkan pada uji water resistance mengalami perubahan
warna sedikit menguning paa bagian atas asbes yang tidak terendam air. Untuk
pengujian wet abration yang dilakukan juga tidak mengalami penggerusan setelah
100 kali gerusan. Dan untuk pengujian adhesi dengan metode X-cut, cat berada pad
rentang nilai 5B yang artinya tidak terjadi pengelupasan setelah dilakukan
pengujian. Serta pada pengujian bakteri, terdapat bakteri yang terlihat yang
menempel pada dip slide.

6.2 Saran
Saran yang dapat diberikan setelah melakukan kerja praktek ini adalah dalam
pengujian yang dilakukan sebaiknya lebih ditingkatkan lagi terutama pada
pengujian bakteri sehingga akan diperoleh hasil yang akurat.

34
DAFTAR PUSTAKA

35