Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN KASUS

SUSP BRONKOPNEUMONIA

Disusun oleh:
Uswatun Hasanah
FAB 117 010

Pembimbing:
dr. Sutopo M.Widodo, Sp.KFR
dr. Tagor Sibarani

Dibawakan dalam rangka tugas kepaniteraan klinik pada bagian


Rehabilitasi Medik dan Emergency Medicine

KEPANITERAAN KLINIK REHABILITASI MEDIK DAN EMERGENCY MEDICINE


RSUD dr. DORIS SYLVANUS/FK-UNPAR
PALANGKA RAYA
JANUARI
2018

1
BAB I
PENDAHULUAN

Pneumonia merupakan infeksi saluran napas akut yang paling sering menyebabkan
kematian pada anak di negara berkembang. Pneumonia biasanya disebabkan oleh virus atau
bakteri. Sebagian besar episode yang serius disebabkan oleh bakteri. Pneumonia bakteri
ditandai oleh gejala respiratorik akut dan gambaran foto rontgen infiltrat bercak-bercak atau
infiltrat difus yang dikenal sebagai gambaran bronkopneumonia atau pneumonia lobaris.1
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis adalah peradangan pada
parenkim paru yang melibatkan bronkus/bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-
bercak (patchy distribution). Konsolidasi bercak berpusat disekitar bronkus yang mengalami
peradangan multifokal dan biasanya bilateral.1
Pneumonia merupakan penyebab utama kematian balita di dunia. Pneumonia
menyebabkan kematian lebih dari 2 juta balita setiap tahunnya. Pneumonia disebabkan oleh
peradangan paru yang membuat napas menjadi sakit dan asupan oksigen sedikit (WHO,
2014). Tingginya angka kematian balita akibat pneumonia mengakibatkan target MDG’s
(Millennium Development Goals) ke-4 yang bertujuan menurunkan angka kematian anak
sebesar 2/3 dari tahun 1990 sampai 2014 tidak tercapai. Pneumonia merupakan
penyebab kematian balita ke-2 di Indonesia setelah diare. Jumlah penderita pneumonia di
Indonesia pada tahun 2013 berkisar antara 23%-27% dan kematian akibat pneumonia sebesar
1,19% (Kemenkes RI, 2014).2
Kuman penyebab pneumonia banyak macamnya dan berbeda menurut sumber
penularan (komunitas / nosokomial). Jenis komunitas 47 – 74% disebabkan oleh bakteri, 5 –
20% oleh virus atau mikoplasma, dan 17 – 43% tidak diketahui penyebabnya. Pneumonia
pada anak-anak paling sering disebabkan oleh virus pernafasan, dan puncaknya terjadi pada
umur 2 – 3 tahun. Pada usia sekolah, pneumonia paling sering disebabkan oleh bakteri
Mycoplasma pneumoniae.3

2
BAB II
LAPORAN KASUS
Survey Primer
An. A, 1 tahun, 8 bulan, 9 kg,.
I. Vital Sign :
- Nadi : 130x/menit, teraba lemah, volume dan isi kurang.
- Pernafasan : 45x/menit
- Suhu : 38,3 °C
II. Airways : Bebas, tidak terdapat sumbatan.
III. Breathing : Spontan, 45x/menit, pola abdominal torakal, pergerakan dada simetris
kanan-kiri, tidak tampak ketertinggalan gerak retraksi.
IV. Circulation : Denyut nadi 130x/menit, regular, teraba lemah, volume dan isi
kurang, CRT <2’’.
V. Disability : GCS 15 (Eye 4, Verbal 5, Motorik 6)
VI. Exposure : Tampak sesak dan lemah, menangis kuat, gerakan aktif.
Evaluasi Masalah
Berdasarkan survey primer sistem triase, kasus ini merupakan kasus yang termasuk
dalam Priority sign karena pasien datang dalam keadaan sesak dan lemah. Pasien diberi label
Kuning.
Tatalaksana Awal
Tatalaksana awal pada pasien ini adalah ditempatkan diruangan non-bedah dan
oksigenasi dengan nasal kanul 1-2 lpm, dilakukan pemasangan akses infus intravena.

Survey Sekunder
I. Identitas
Nama : An. I
Usia : 1 tahun 8 bulan
Berat badan : 9 kg
Jenis Kelamin : laki-laki
Tanggal Masuk RS : 17/01/18 pukul 20.05 WIB

3
II. Anamnesis
.
a. Keluhan Utama : Sesak nafas sejak ±1 jam sebelum masuk rumah sakit.
b. Keluhan Tambahan : Batuk berdahak, demam
c. Riwayat Penyakit Sekarang
Os datang bersama orang tuanya ke IGD RSUD dr. Doris Sylvanus dengan keluhan
sesak nafas sejak ± 1 jam sebelum masuk rumah sakit, sesak timbul saat os sedang
tidur secara tiba-tiba, badan biru saat sesak (-), suara nafas terdengar “grok..grok..”.
Selain itu, sejak 7 hari SMRS os juga batuk berdahak, dahak sulit dikeluarkan, ada
dikeluarkan dahak warna bening, darah (-), disertai adanya demam sejak 7 hari
SMRS, demam naik turun (+) waktu tak menentu, menggigil (-), berkeringat (-
).Mimisan (-), Nafsu makan menurun 2 hari terakhir, dalam sehari os masih ingin
menyusui sekitar 5-6 kali sehari.

d. Riwayat Penyakit Dahulu


Riw. Keluhan serupa sebelumnya (-) Riw. batuk lama lebih dari 2 minggu
disangkal. Riw. Pengobatan paru 6 bulan (-). Riw. Imunisasi lengkap.

e. Riwayat Penyakit Keluarga


Riw. Keluarga yang tinggal serumah dengan batuk lama lebih dari 3 minggu atau
pengobatan TB disangkal.

III. Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan Fisik dilakukan pada tanggal 25 agustus 2016 dan didapatkan hasil
sebagai berikut :
A. Keadaan Umum
a. Kesan sakit : Tampak Sakit Sedang
b. Kesadaran : Compos Mentis (E4V5M6)
B. Tanda Vital
a. Nadi : 130x/menit, teraba lemah, volume dan isi kurang.
b. Pernafasan : 45 x/menit
c. Suhu : 38,3 °C

4
C. Kepala : Normocephal, Ubun-ubun sudah menutup
D. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), mata cekung (-) air mata
berkurang (+)
E. Hidung : Bentuk normal, septum deviasi (-), sekret (-), nafas cuping hidung (+)
F. Mulut : Mukosa mulut pucat (-), kering (+) Sianosis (-)
G. Leher : KGB dan tiroid tidak teraba membesar, penggunaan otot bantu
pernafasan (-)
H. Thorax
a. Pulmo :
Inspeksi : Gerak dinding dada simetris, retraksi (+/+) epigastrum
Palpasi : Gerakan sama dikedua hemithorax
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru.
Auskultasi : Suara nafas vesikuler (+/+), ronki basah (+/+), wheezing (-/-)

b. Cor :
Inspeksi : Ictus cordis tampak di linea midclavicula sinistra ICS V.
Palpasi : Ictus cordis teraba di linea midclavicula sinistra ICS V,thrill(-)
Auskultasi : SI-SII tunggal regular, murmur(-) dan gallop(-)

I. Abdomen
Inspeksi : Cembung
Auskultasi : Bising usus (+) 16 x/menit
Palpasi : Supel, lien dan hepar tidak teraba membesar
Perkusi : Timpani

J. Ekstremitas : Akral hangat, CRT <2”, Pitting Oedem (-/-) Sianosis (-/-)

5
IV. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium darah :
Parameter Hasil Nilai rujukan Interpretasi
Hemoglobin 11,0 g/dl 12-16 g/dl Menurun
Leukosit 13.540/uL 4000-12.000/uL Meningkat
Trombosit 276.000/uL 100000-300000/uL Normal
Hematokrit 33,4 % 35-49% Menurun
Gula darah sewaktu 102 mg/dL <200 mg/dL Normal
DDR (-)/ Negatif (-)/ Negatif Normal

V. Diagnosis Banding
Dyspnea:
- Susp. Bronkopneumonia
- Bronkiolitis
- TB paru
VI. Diagnosis Kerja
- Susp. Bronkopneumonia
VII. Penatalaksanaan
- O2 nasal kanul 1-2 lpm
- Di IGD diberikan Infus intravena menggunakan cairan D5 ¼ NS 900 cc/24 jam.
- Advis dr. SpA
- Inj. Cefotaxime 2x500 mg
- Inj. Methyl Prednisolone 3x10 mg
- Per oral : puyer batuk 3 x 1 sachet (ambroxol 4,5 mg, Dexamethason 1/3 tab,
salbutamol 0,65 mg), Ibuprofen 4 x 1 cth, meptin syr 2x ½ cth.
VIII. Prognosis
Ad vitam : Dubia ad bonam
Ad sanationam : Dubia ad bonam
Ad fungsionam : Dubia ad bonam

6
BAB III
PEMBAHASAN

Pada kasus ini, dilaporkan seorang bayi laki-laki An. A, berusia 1 tahun 8 bulan
dengan berat badan 9 kg yang masuk IGD RSUD Doris Sylvanus Palangka Raya. An. I
datang dengan keluhan utama Sesak nafas disertai adanya batuk dan demam. Dari
pemeriksaan fisik ditemukan bunyi napas tambahan berupa rhonki di kedua lapang paru. Dari
pemeriksaan laboratorium didapatkan adanya peningkatan nilai leukosit. Berdasarkan dari
rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan, An.A didiagnosis mengalami susp.
Bronkopneumonia.
Diagnosis bronkopneumonia ditegakkan dengan melihat trias bronkopneumonia pada
pasien ditemukan sesak, demam dan batuk yang merupakan gambaran klinis yang khas. Dari
pemeriksaan fisik didapatkan nafas cepat, nafas cuping hidung, retraksi dan bunyi nafas
tambahan berupa rhonki basah halus yang menandakan terdapat kumpulan cairan berupa
dahak di paru-paru. Hasil pemeriksaan ini kemudian didukung oleh pemeriksaan
laboratorium yang menunjukkan leukositosis (leukosit= 13.450/uL).
Bronkopneumonia merupakan radang dari saluran pernapasan yang terjadi pada
bronkus sampai dengan alveolus paru. Terjadi sumbatan oleh eksudat yang mukopurulen,
yang membentuk bercak-bercak konsolidasi di lobulus yang berdekatan. Penyakit ini bersifat
sekunder yang biasanya menyertai penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), demam
infeksi spesifik dan penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh. Sebagai infeksi primer
biasanya hanya dijumpai pada anak-anak dan orang tua. Berdasarkan klasifikasi anatomisnya,
bronkopneumonia disebut juga dengan pneumonia lobaris.
Penyebab tersering pneumonia bakterial adalah S. pneumonia. Virus lebih sering
ditemukan pada anak <5 tahun dan respiratory syncytial virus (RSV) merupakan penyebab
tersering pada anak <3 tahun. Virus lain penyebab pneumonia meliputi adenovirus,
parainfluenza virus, dan influenza virus. Mycoplasma pneumonia dan Chlamydia pneumonia
lebih sering ditemukan pada anak >10 tahun. Sementara itu, bakteri yang paling banyak
ditemukan pada apus tenggorok pasien usia 2-59 bulan adalah Streptococcus pneumonia,
Staphylococcus aureus, dan Hemophilus influenza.
Dasar diagnosis pneumonia menurut Henry Gorna dkk tahun 1993 adalah
ditemukannya paling sedikit 3 dari 5 gejala berikut ini :6
7
a. Sesak nafas disertai dengan pernafasan cuping hidung dan tarikan dinding dada
b. Demam
c. Ronkhi basah sedang nyaring (crackles)
d. Foto thorax menunjukkan gambaran infiltrat difus
e. Leukositosis
Tatalaksana pasien pneumonia meliputi terapi suportif dan terapi etiologik. Terapi
suportif yang diberikan pada penderita bronkopneumonia adalah :
1. Pemberian oksigen 2-4 L/menit melalui kateter hidung atau nasofaring. Jika penyakitnya
berat dan sarana tersedia, alat bantu napas mungkin diperlukan terutama dalam 24-48
jam
2. Pemberian cairan dan nutrisi yang adekuat. Cairan yang diberikan mengandung gula dan
elektrolit yang cukup.
3. Koreksi kelainan elektrolit atau metabolik yang terjadi. Mengatasi penyakit penyerta.
4. Pemberian terapi inhalasi dengan nebulizer bukan merupakan tata laksana rutin yang
harus diberikan.
Tatalaksana bronkopneumonia sesuai dengan kuman penyebabnya. Namun karena
berbagai kendala diagnostik etiologi, untuk semua pasien pneumonia diberikan antibiotik
secara empiris. Walaupun sebenarnya pneumonia viral tidak memerlukan antibiotik, tapi
pasien tetap diberi antibiotik karena kesulitan membedakan infeksi virus dengan bakteri
namun karena keterbatasan fasilitas sehingga hanya diberikan antibiotik empiris.
Pemberian antibiotik
 Amoksisilin merupakan pilihan pertama untuk antibiotik oral pada anak <5 tahun karena
efektif melawan sebagian besar patogen yang menyebabkan pneumonia pada anak,
ditoleransi dengan baik, dan murah. Alternatifnya adalah co-amoxiclav,
ceflacor,eritromisin, claritromisin, dan azitromisin.
 M. Pneumoniae lebih sering terjadi pada anak yang lebih tua maka antibiotik golongan
makrolid diberikan sebagai pilihan pertama secara empiris pada anak ≥5tahun
 Makrolid diberikan jika M.pneumoniae atau C.pneumoniae dicurigai sebagai penyebab
 Amoksisilin diberikan sebagai pilihan pertama jika S.pneumoniae sangat mungkin
sebagai penyebab
 Jika S.aureus dicurigai sebagai penyebab, diberikan makrolid atau kombinasi
flucloxacilin dengan amoksisilin

8
 Antibiotik intravena diberikan pada pasien pneumonia yang tidak dapat menerima obat
per oral (misal karena muntah) atau termasuk dalam derajat pneumonia berat
 Antibiotik intravena yang dianjurkan adalah: ampisilin dan kloramfenikol, co-amoxiclav,
ceftriaxone, cefuroxime dan cefotaxime
 Pemberian antibiotik oral harus dipertimbangkan jika terdapat perbaikan setelah
mendapat antibiotik intravena
Pada pasien obat yang diberikan berupa injeksi cefotaxime 3x200 mg (IV) dan
gentamisin 2x15 mg (IV). Cefotaxime merupakan cephalosporin generasi II yang memiliki
efek menghambat sintesis dinding sel mikroba, obat ini kemudian dikombinasi dengan
gentamisin yang merupakan golongan aminoglikosida. Berdasarkan teori, terapi antibiotik
awal yang diberikan yaitu amoksisilin (25-50 mg/kgBB/kali IV atau IM setiap 6 jam), yang
harus dipantau dalam 24 jam selama 72 jam pertama. Dosis yang diberikan pada pasien ini
sudah sesuai, yaitu dosis cefotaxime 50-100 mg/kgBB dibagi 3 kali pemberian, dan dosis
gentamisin 3-5 mg/kgBB dibagi 2 kali pemberian. Dalam pemberian antibiotik diperlukan
kontrol ulang setelah 3 hari pemberian antibiotik. Dan diberikan Injeksi Metilprednisolon
3x6,25mg untuk antiinflamasi.

9
BAB IV
PENUTUP

Demikian telah dilaporkan suatu kasus susp bronkopneumonia pada seorang anak
laki-laki I berusia 1 tahun 8 bulan dengan berat badan 9 kg yang masuk IGD RSUD dr.Doris
Sylvanus. Os datang dengan keluhan sesak nafas, batuk berdahak.
Diagnosis bronkopneumonia ditegakkan dengan melihat trias bronkopneumonia pada
pasien ditemukan sesak, demam dan batuk yang merupakan gambaran klinis yang khas. Dari
pemeriksaan fisik didapatkan nafas cepat, nafas cuping hidung, retraksi dan bunyi nafas
tambahan berupa rhonki basah halus yang menandakan terdapat kumpulan cairan berupa
dahak di paru-paru. Hasil pemeriksaan ini kemudian didukung oleh pemeriksaan
laboratorium yang menunjukkan leukositosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Os diberikan terapi berupa D5 ½ NS, medikamentosa berupa pemberian antibiotik
dan antiinflamasi. Prognosis pada pasien ini baik jika mendapatkan penanganan tepat dan
segera sehingga dapat mencegah komplikasi yang ditimbulkan dan pentingnya untuk edukasi
yang diberikan kepada orangtua pasien.

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Said M. Pneumonia atipik pada anak. Sari Pediatri;2011. Vol.3, No.3:141 - 6.

2. Kementerian Kesehatan RI. Situasi Pneumonia Balita di Indonesia. Buletin Jendela


Epidemiologi;2014. Vol.3:1-36.

3. Departemen Kesehatan RI. Pneumonia. Dalam: Pedoman pengobatan dasar di


puskesmas. Jakarta : Departemen Kesehatan RI;2014. h.182-4.

4. World Health Organization. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit:
Pedoman bagi Rumah Sakit Rujukan tingkat pertama di Kabupaten/kota: Ikterus. Alih
bahasa, Tim adaptasi Indonesia. Jakarta: WHO Indonesia. 2009. h.86-93.

11