Anda di halaman 1dari 12

TETRAPARESE Tetraparese flaksid terjadi karena kerusakan yang mengenai lower

motor neuron (LMN), sehingga menyebabkan penurunan tonus atot


1. Definisi atau hipotoni.
Tetraparese juga diistilahkan juga sebagai quadriparese, yang
keduanya merupakan parese dari keempat ekstremitas.”Tetra” dari bahasa 5. Komplikasi
yunani sedangkan “quadra” dari bahasa latin. Tetraparese adalah Komplikasi yang paling umum adalah:
kelumpuhan/kelemahan yang disebabkan oleh penyakit atau trauma pada  Masalah pernapasan seperti atelektasis, hipersekresi,
manusia yang menyebabkan hilangnya sebagian fungsi motorik pada bronkospasme, edema paru dan pneumonia
keempat anggota gerak, dengan kelumpuhan/kelemahan lengan lebih atau  Tromboemboli paru dan emboli lain (pembekuan darah)
sama hebatnya dibandingkan dengan tungkai. Hal ini diakibatkan oleh  Infeksi saluran kencing dan paru
 Dekubitus
adanya kerusakan otak, kerusakan tulang belakang pada tingkat tertinggi
 Hilangnya kontrol kandung kemih dan peristaltik usus
(khususnya pada vertebra cervikalis), kerusakan sistem saraf perifer,
 Nyeri
kerusakan neuromuscular atau penyakit otot. kerusakan diketahui karena
adanya lesi yang menyebabkan hilangnya fungsi motorik pada keempat 6. Patofisiologi
anggota gerak, yaitu lengan dan tungkai. Penyebab khas pada kerusakan Tetraparese dapat disebabkan karena kerusakan Upper Motor
ini adalah trauma (seperti tabrakan mobil, jatuh atau sport injury) atau Neuron (UMN) atau kerusakan Lower Motor Neuron (LMN).
karena penyakit (seperti mielitis transversal, polio, atau spina bifida). Kelumpuhan/kelemahan yang terjadi pada kerusakan Upper Motor
Pada tetraparese kadang terjadi kerusakan atau kehilangan Neuron (UMN) disebabkan karena adanya lesi di medula spinalis.
kemampuan dalam mengontrol sistem pencernaan, fungsi seksual, Kerusakannya bisa dalam bentuk jaringan scar, atau kerusakan karena
pengosongan saluran kemih dan rektum, sistem pernafasan atau fungsi tekanan dari vertebra atau diskus intervetebralis. Hal ini berbeda dengan
otonom. Selanjutnya, dapat terjadi penurunan/kehilangan fungsi sensorik. lesi pada LMN yang berpengaruh pada serabut saraf yang berjalan dari
adapun manifestasinya seperti kekakuan, penurunan sensorik, dan nyeri horn anterior medula spinalis sampai ke otot.
neuropatik. Walaupun pada tetraparese itu terjadi kelumpuhan pada Pada columna vertebralis terdapat nervus spinalis, yaitu
keempat anggota gerak tapi terkadang tungkai dan lengan masih dapat nervus servikal, thorakal, lumbal, dan sakral. Kelumpuhan berpengaruh
digunakan atau jari-jari tangan yang tidak dapat memegang kuat suatu pada nervus spinalis dari servikal dan lumbosakral dapat menyebabkan
benda tapi jari-jari tersebut masih bisa digerakkan, atau tidak bisa kelemahan/kelumpuhan pada keempat anggota gerak. Wilayah ini
menggerakkan tangan tapi lengannya masih bisa digerakkan. Hal ini penting, jika terjadi kerusakan pada daerah ini maka akan berpengaruh
semua tergantung dari luas tidaknyanya kerusakan. pada otot, organ, dan sensorik yang dipersarafinya.
Ada dua tipe lesi, yaitu lesi komplit dan inkomplit. Lesi
2. Etiologi komplit dapat menyebabkan kehilangan kontrol otot dan sensorik secara
Penyebab umun dari tetraparesis: total dari bagian dibawah lesi, sedangkan lesi inkomplit mungkin hanya
- Complete/incomplete transection of cord with fracture terjadi kelumpuhan otot ringan (parese) dan atau mungkin kerusakan
Prolapsed disc sensorik. Lesi pada UMN dapat menyebabkan parese spastic sedangkan
Cord contusion-central cord syndrome, anterior cord lesi pada LMN menyebabkan parese flacsid.
syndrome
- Guillain-Barre Syndrome (post infective polyneuropathy) 7. Pemeriksaan Diagnostik
- Transverse myelitis Acute myelitis Yang terpenting untuk menegakkan diagnosa MND adalah
- Anterior spinal artery occlusion diagnosa klinis 3,4 Karena belum ada pemeriksaan khusus untuk MND,
- Spinal cord compression maka diagnosa pasti baru dapat diketahui pada otopsi post-mortem
- Haemorrhage into syringomyelic cavaty dengan memeriksa otak ,medulla spinalis dan otot penderita. Gejala
- Poliomyelitis utama yang menyokong diagnosa adalah adanya tanda-tanda gangguan
UMN dan LMN pada daerah distribusi saraf spinal tanpa gangguan
3. Epidemiologi sensoris dan biasanya dijumpai fasikulasi spontan. Gambaran khasnya
Tetraparese salah satunya disebabkan karena adanya cedera berupa kombinasi tanda-tanda UMN dan LMN pada ekstremitas dengan
pada medula spinalis. menurut Pusat Data Nasional Cedera Medula adanya fasikulasi lidah.
Spinalis (The National Spinal Cord Injury Data Research Centre) Implikasi dari penegakan diagnosa MND adalah bahwa kita
memperkirakan ada 10.000 kasus baru cedera medula spinalis setiap menegakkan adanya suatu penyakit yang akan berkembang terus menuju
tahunnya di Amerika Serikat. Angka insidensi paralisis komplet akibat kematian. Jadi penting sekali untuk menegakkan diagnosa secara teliti
kecelakaan diperkirakan 20 per 100.000 penduduk, dengan angka dengan menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan yang lain dengan
tetraparese 200.000 per tahunnya. Kecelakaan kendaraan bermotor melakukan pemeriksaan yang lengkap dan sesuai. Pemeriksaan
merupakan penyebab utama cedera medula spinalis. elektrofisiologis, radiologis, biokimiawi, imunologi dan histopatologi
Cedera medula spinalis dapat dibagi menjadi komplet dan mungkin diperlukan untuk menyingkirkan penyakit lainnya.
tidak komplet berdasarkan ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan di Elektromiografi (EMG) adalah pemeriksaan yang paling
bawah lesi. Pembagian ini penting untuk meramalkan prognosis dan bermanfaat untuk menegakkan .diagnosa MND. Rekaman EMG
penanganan selanjutnya.. Data di Amerika Serikat menunjukkan urutan menunjukkan adanya fibrilasi dan fasikulasi yang khas pada atrofi akibat
frekuensi disabilitas neurologis karena cedera medula spinalis traumatika denervasi.
sbb : (1) tetraparese inkomplet (29,5%), (2) paraparese komplet (27,3%), Pemeriksaan biokimiawi darah penderita MND kebanyakan
(3) paraparese inkomplet (21,3%), dan (4) tetraparese komplet (18,5%). berada dalam batas normal. Punksi lumbal dapat dilakukan untuk
membantu menegakkan diagnosa MND. Protein cairan serebrospinal
4. Klasifikasi sering dijumpai normal atau sedikit meninggi. Kadar plasma kreatinin
Pembagian tetraparese berdasarkan kerusakan topisnya : kinase (CK) meninggi sampai 2-3 kali nilai normalnya pada sebagian
a. Tetrapares spastik penderita, tetapi penulis lain menyatakan kadarnya normal atau hanya
Tetraparese spastik terjadi karena kerusakan yang mengenai upper sedikit meninggi. Enzim otot carbonic anhydrase III (CA III) merupakan
motor neuron (UMN), sehingga menyebabkan peningkatan tonus petunjuk yang lebih sensitif.
otot atau hipertoni. Pemeriksaaan radiologis berguna untuk menyingkirkan
b. Tetraparese flaksid kemungkinan diagnosa lainnya .MRI dan CT-scan otot bermanfaat untuk
membedakan atrofi otot neurogenik dari penyakit miopatik dan dapat
menunjukkan distribusi gangguan penyakit ini. MRI mungkin dapat menangani masalah fisik bila sudah timbul. .Obat-obat seperti baclofen,
menunjukkan sedikit atrofi dari korteks motorik dan degenerasi Wallerian diazepam, tizanidine dan dantrolene dapat dipakai untuk mengatasi
dari traktus motorik di batang otak dan medulla spinalis. Block dkk spastisitas yang terjadi.
mendemonstrasikan kemampuan proton magnetic resonance Untuk mengatasi disfagia, penderita dilatih mencari makanan
spectroscopy untuk mendeteksi perubahan metabolik pada korteks dengan ujung lidah, meregang lidah, menggigit dengan kuat dan menutup
motorik primer dari penderita MND yang sesuai dengan adanya mulut. Makanan yang lunak tetapi padat lebih baik daripada makanan
kerusakan sel neuron regional dan berbeda secara bermakna dengan orang cair. Karena penderita sulit menelan cairan, makanan yang
sehat atau penderita neuropati motoric. dikonsumsinya harus banyak mengandung air. Mengulum potongan es
Biopsi otot mungkin perlu dilakukan untuk membedakan kadang-kadang dapat membantu penderita agar dapat menelan dengan
MND yang menimbulkan slowly progressive proximal weakness dari lebih baik. Neostigmin atau piridostigmin dapat diberikan bila perlu
miopati. Bila dilakukan biopsi otot, terlihat serabut otot yang mengecil .Pemasangan NGT dilakukan bila : (1). Dehidrasi berat ; (2). Sering
dan hilangnya pola mosaik yang nomlal dari serabut-serabut otot . tersedak ; (3). Pneumonia aspirasi ; (4). Sangat sulit menelan clan (5)
8. Tatalaksana Berat badan menurun terus. Agar tidak sering tersedak dianjurkan agar
MND adalah penyakit yang menakutkan karena penyakitnya makan perlahan-lahan, setelah mengunyah tunggu sebentar sebelum
terus berlanjut sedangkan terapinya belum ada yang efektif disertai menelan makanan, tetap dalam posisi duduk 30 menit setelah makan dan
adanya beberapa gejala klinis yang progresif. Belum ada terapi yang frekuensi makan ditambah tetapi dengan porsi kecil.
spesifik untuk penyakit MND, yang ada baru berupa terapi suportif. Fisioterapi terutama ditujukan untuk melatih sisa-sisa serabut
Penatalaksanaan penderita MND membutuhkan pendekatan multidisiplin otot yang reinervasi yang masih dapat dilatih dan untuk otot yang
bervariasi menurut latar belakang sosial ekonomi, budaya dan keluarga. mengalami disuse atrophy pada penderita yang cacat atau inaktif .
Masalah etika terlibat pada saat pengambilan keputusan untuk Pergerakan sendi perlu untuk menghindari kekakuan sendi dan nyeri.
memberikan alat bantu penafasan buatan, pemberian makan dengan cara Fisioterapi juga diperlukan karena dapat membantu mengatasi
artifisial dan penggunaan obat-obat golongan narkotik pada tahap akhir kekecewaan penderita. Penanganan psikososial ditujukan untuk
penyakit ini. Masalah logistik dan edukasi timbul dari jarangnya penyakit membantu stabilitas emosi penderita dan keluarganya begitu mengetahui
ini dijumpai dan kenyataan bahwa banyak dokter maupun perawat yang MND adalah penyakit yang belum dapat diobati. Penderita harus
kurang berpengalaman menangani paralise bulbar dan paralise pernafasan memperoleh penjelasan bahwa ia masih dapat hidup normal dengan
kronik yang progresif. penyakitnya tersebut dan dapat mengatasi problem yang muncul.
Tujuan terapi adalah mempertahankan penderita dapat
berfungsi dengan baik selama mungkin, membantu stabilitas emosi dan
9. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
No Diagnosa Tujuan/KH Intervensi Rasional
Keperawatan dan
1. Hambatan mobilitas NOC: Ambulasi/ROM NIC :
fisik b.d penurunan normal dipertahankan. 1.Terapi latihan Pergerakan aktif/pasif bertujuan untuk
kekuatan otot KH: Mobilitas sendi mempertahankan fleksibilitas sendi
o Sendi tidak kaku o Jelaskan pada klien&keluarga tujuan latihan
o Tidak terjadi atropi pergerakan sendi.
otot o Monitor lokasi dan ketidaknyamanan selama
latihan
o Gunakan pakaian yang longgar
o Kaji kemampuan klien terhadap pergerakan
o Encourage ROM aktif
o Ajarkan ROM aktif/pasif pada
klien/keluarga.
o Ubah posisi klien tiap 2 jam.
o Kaji perkembangan/kemajuan latihan
2. Self care Assistance
Ketidakmampuan fisik dan psikologis klien
o Monitor kemandirian klien
dapat menurunkan perawatan diri sehari-hari
o bantu perawatan diri klien dalam hal:
makan,mandi, toileting. dan dapat terpenuhi dengan bantuan agar
o Ajarkan keluarga dalam pemenuhan kebersihan diri klien dapat terjaga
perawatan diri klien.

2 Defisit perawatan NOC : NIC : Self Care


. diri b.d kelemahan Self Care Assistance( 1. Observasi kemampuan klien untuk mandi, 1. Dengan menggunakan intervensi
fisik mandi, berpakaian, makan, berpakaian dan makan. langsung dapat menentukan intervensi
toileting. 2. Bantu klien dalam posisi duduk, yakinkan kepala yang tepat untuk klien
dan bahu tegak selama makan dan 1 jam setelah 2. Posisi duduk membantu proses menelan
KH:
makan dan mencegah aspirasi
-Klien terbebas dari bau, 3. Hindari kelelahan sebelum makan, mandi dan
dapat makan sendiri, dan berpakaian 3. Konservasi energi meningkatkan
berpakaian sendiri 4. Dorong klien untuk tetap makan sedikit tapi toleransi aktivitas dan peningkatan
sering kemampuan perawatan diri
4. Untuk meningkatkan nafsu makan
3. Resiko kerusakan NOC: mempertahankan NIC: Berikan manajemen tekanan
intagritas kulit b.d integritas kulitindikator : 1. Lakukan penggantian alat tenun setiap hari dan 1. Meningkatkan kenyamanan dan
faktor mekanik Tidak terjadi kerusakan tempatkan kasur yang sesuai mengurangi resiko gatal-gatal
kulit ditandai dengan tidak 2. Monitor kulit adanya area kemerahan/pecah2 2. Menandakan gejala awal  lajutan
3. monitor area yang tertekan kerusakan integritas kulit
adanya kemerahan, luka
4. berikan masage pada punggung/daerah yang 3. Area yang tertekan biasanya sirkulasinya
dekubitus tertekan serta berikan pelembab pad area yang kurang optimal shg menjadi pencetus lecet
pecah2 4. Memperlancar sirkulasi
5. monitor status nutrisi 5. Status nutrisi baik dapat membantu
mencegah keruakan integritas kulit.
Referensi :
Doenges, Marilynn E. dkk. 2000. Penerapan Proses Keperawatan dan Diagnosa Keperawatan, EGC; Jakarta.
Huda, Amin. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jakarta: Mediaction Publishing.
5. FISIOLOGI SISTEM SARAF
TETRAPARESE A. Anatomi Vertebra
Tulang belakang atau vertebra adalah tulang tidak beraturan yang
Tetraparese merupakan kelumpuhan atau kelemahan yang dapat membentuk punggung yang mudah digerakkan. Terdapat 33 tulang vertebra
menyebabkan hilangnya atau berkurangnya sebagian fungsi motorik pada pada manusia yakni 7 tulang cervical, 12 tulang thorax (thoraks atau dada), 5
keempat anggota gerak. Hal ini diakibatkan oleh adanya kerusakan yang tulang lumbal, 5 tulang sacral, dan 4 tulang membentuk tulang ekor (coccyx).
diketahui karena adanya lesi pada keempat anggota gerak, yakni lengan dan Vertebra terdiri atas dua bagian yakni bagian anterior yang terdiri dari badan
tungkai.1 tulang atau corpus vertebrae, dan bagian posterior yang terdiri dari arcus
Pusat Data Nasional Cedera Medula Spinalis (The National vertebrae.2
SpinalCord Injury Data Research Centre) memperkirakan ada 10.000 kasus
baru cedera medula spinalis setiap tahunnya di Amerika Serikat. Angka
insidensi paralisis komplet akibat kecelakaan diperkirakan 20 per 100.000
penduduk, dengan angka tetraparese 200.000 per tahunnya.2
Pada tetraparese terjadi kelumpuhan pada keempat anggota gerak
tetapi pada beberapa kasus tungkai dan lengan masih dapat digunakan atau jari-
jari tangan tidak dapat memegang kuat suatu benda tetapi jari-jari tersebut
masih bisa digerakkan, atau tidak bisa menggerakkan tangan tetapi lengannya
masih bisa digerakkan. Hal ini semua tergantung dari luas tidaknya kerusakan.2

1. DEFINISI
Parese adalah suatu kondisi yang ditandai oleh berkurangnya fungsi
motorik pada suatu bagian tubuh akibat lesi pada mekanisme saraf atau otot.
Kelemahan merupakan hilangnya sebagian fungsi otot pada satu atau lebih
kelompok otot yang dapat menyebabkan gangguan mobilitas bagian yang
terkena. Sedangkan Tetraparese adalah kelumpuhan atau kelemahan yang
menyebabkan hilangnya sebagian fungsi motorik pada keempat anggota gerak.
Hal ini diakibatkan oleh adanya kerusakan otak, kerusakan tulang belakang
pada tingkat tertinggi (khususnya pada vertebra servikalis), kerusakan sistem
saraf perifer, kerusakan neuromuscular atau penyakit otot. Penyebab khas pada Gambar 1. Tulang belakang
kerusakan ini adalah trauma (seperti tabrakan mobil, jatuh atau sport injury)
atau karena penyakit (seperti mielitis transversal, polio, atau spina bifida).2 Medula spinalis mulai dari akhir medulla oblongata di foramen
Parese pada anggota gerak dibagi menjadi 4 macam, yaitu : magnum sampai konus medullaris di Tulang Belakang L1-L2. Medulla Spinalis
 Monoparese adalah kelemahan pada satu ekstremitas berlanjut menjadi Kauda Equina (di Bokong). Medula spinalis diperdarahi oleh
 Paraparese adalah kelemahan pada kedua ekstremitas bawah. 2 susunan arteri yaitu arteri spinalis dan arteri radikularis. Arteri spinalis dibagi
 Hemiparese adalah kelemahan pada satu sisi tubuh yaitu satu menjadi arteri spinalis anterior dan posterior yang berasal dari arteri vertebralis,
ekstremitas atas dan satu ekstremitas bawah pada sisi yang sama. sedangkan arteri radikularis dibagi menjadi arteri radikularis posterior dan
anterior yang dikenal juga ramus vertebromedularis arteria interkostalis.
 Tetraparese adalah kelemahan pada keempat anggota ekstremitas.2,3
Medula Spinalis disuplai oleh arteri spinalis anterior dan arteri spinalis
posterior. Nervus spinalis yang berasal dari medula spinalis melewati suatu
2. EPIDEMIOLOGI
lubang di vertebra yang disebut foramen dan membawa informasi dari medula
Tetraparese salah satunya disebabkan karena adanya cedera pada
spinalis sampai ke bagian tubuh dan dari tubuh ke otak.2
medula spinalis. Menurut Pusat Data Nasional Cedera Medula Spinalis (The
National Spinal Cord Injury Data Research Centre) memperkirakan ada 10.000
kasus baru cedera medula spinalis setiap tahunnya di Amerika Serikat. Angka
B. Fisiologi Sistem Saraf
insidensi paralisis komplet akibat kecelakaan diperkirakan 20 per 100.000
Susunan neuromuskular terdiri dari Upper motor neuron (UMN) dan
penduduk, dengan angka tetraparese 200.000 per tahunnya. Kecelakaan
lower motor neuron (LMN). Upper motor neurons (UMN) merupakan
kendaraan bermotor merupakan penyebab utama cedera medula spinalis. 2
kumpulan saraf-saraf motorik yang menyalurkan impuls dan area motorik di
Cedera medula spinalis dapat dibagi menjadi komplet dan inkomplet
korteks motorik cerebrum sampai inti-inti motorik di saraf kranial di batang
berdasarkan ada atau tidaknya fungsi yang dipertahankan di bawah lesi.
otak sampai cornu anterior medulla spinalis. Berdasarkan perbedaan anatomik
Pembagian ini penting untuk meramalkan prognosis dan penanganan
dan fisiologik kelompok UMN dibagi dalam susunan piramidal dan susunan
selanjutnya.3.4
ekstrapiramidal. Susunan piramidal terdiri dari traktus kortikospinal dan traktus
kortikobulbar. Traktus kortikobulbar fungsinya untuk gerakan-gerakan otot
3. ETIOLOGI
kepala dan leher, sedangkan traktus kortikospinal fungsinya untuk gerakan-
Berikut ini adalah penyebab umum dari tetraparase, yaitu :
gerakan otot tubuh dan anggota gerak. Sedangkan lower motor neuron (LMN),
- Trauma dengan lesi komplit atau inkomplit
yang merupakan kumpulan saraf-saraf motorik yang berasal dari cornu anterior
- Infeksi seperti Guillain-Barre Syndrome, acute myelitis,
medulla spinalis sampai ke efektor dilanjutkan ke berbagai otot dalam tubuh.2
polymielitis
- Kompresi spinal cord
- Gangguan metabolisme tubuh.

4. KLASIFIKASI
Tetraparese dapat disebabkan oleh karena kerusakan Upper Motor
Neuron (UMN) atau kerusakan Lower Motor Neuron (LMN). Kelumpuhan atau
kelemahan yang terjadi pada kerusakan Upper Motor Neuron (UMN)
disebabkan karena adanya lesi di medula spinalis. Kerusakan terjadi karena
tekanan dari vertebra atau diskus intervetebralis. Hal ini berbeda dengan lesi
pada LMN yang berpengaruh pada serabut saraf yang berjalan dari anterior
medula spinalis sampai ke otot.4
Pembagian tetraparese berdasarkan kerusakan topisnya, yaitu :
a. Tetraparese spastik
Tetraparese spastik terjadi karena kerusakan yang mengenai upper motor
neuron (UMN), sehingga menyebabkan peningkatan tonus otot atau
hipertoni.
b. Tetraparese flaksid
Tetraparese flaksid terjadi karena kerusakan yang mengenai lower motor
neuron (LMN), sehingga menyebabkan penurunan tonus atot atau
hipotoni.
Dari otak medula spinalis turun ke bawah kira-kira setinggi L1-L2 sedangkan otot untuk gerakan sederhana terdiri dari kesatuan motorik besar
dan dilindungi oleh cairan jernih yaitu cairan serebrospinal. Medula spinalis berjumlah sedikit.
terdiri dari berjuta-juta saraf yang mentransmisikan informasi elektrik dari dan Pola impuls motoric dari lintasan pyramidal menyalurkan impuls ke
ke ekstremitas, badan, oragan-organ tubuh dan kembali ke otak. Otak dan system output striatal extrapiramidal, fungsinya untuk menghambat α-γ-
medula spinalis merupakan sistem saraf pusat dan yang menghubungkan saraf- motoneuron. Bila hubungan antara UMN dan LMN diputus, motoneuron masih
saraf medula spinalis ke tubuh adalah sistem saraf perifer. Medula spinalis bisa menggerakkan otot, akan tetapi gerakannya tidak sesuai dan cenderung
terdiri atas traktus ascenden (yang membawa informasi di tubuh menuju ke otak reflektorik. Namun bila motoneuronnya yang rusak, impuls tetap disampaikan,
seperti rangsang raba, suhu, nyeri dan gerak posisi) dan traktus descenden (yang namun otot yang terhubungan tidak bisa digerakkan sehingga menimbulkan
membawa informasi dari otak ke anggota gerak dan mengontrol fungsi tubuh).2 atrofi otot
Motorneuron dengan aksonnya merupakan satu-satunya saluran
bagi impuls motorik yang dapat menggerakkan serabut otot. Bilamana terjadi C. Gangguan Medulla Spinalis
kerusakan pada motorneuron, maka serabut otot yang tergabung dalam unit  Cedera Traumatik
motoriknya tidak dapat berkontraksi, meskipun impuls motorik masih dapat  Terjadi ketika benturan fisik eksternal seperti yang diakibatkan oleh
disampaikan oleh sistem pyramidal dan ekstrapiramidal kepada tujuannya. 2 kecelakaan, jatuh atau kekerasan yang dapat merusak medula spinalis.
 Cord Injury Medicine, cedera medula spinalis traumatik mencakup
 Upper Motor Neuron fraktur, dislokasi dan kontusio dari kolum vertebra.
UMN dibagi menjadi 2 sistem, yaitu:
1. Sistem Piramidal  Cedera Non Traumatik
- Serabut-serabut eferen berupa akson-akson neuron di girus  Terjadi akibat penyakit, infeksi atau tumor mengakibatkan
precentralis turun ke neuron-neuron yang menyusun inti saraf otak kerusakan pada medula spinalis.
motorik, terbagi menjadi 2 :  Faktor penyebab dari cedera medula spinalis mencakup penyakit
 Di brain stem melalui traktus kortikobulbaris yang berfungsi untuk motor neuron, myelopati spondilotik, penyakit infeksius dan inflamatori,
gerakan otot-otot kepala serta leher. penyakit neoplastik, penyakit vaskuler, kondisi toksik dan metabolik dan
 Di kornu anterior medula spinalis melalui traktus kortikospinalis gangguan kongenital dan perkembangan.
mempersarafi sel-sel motorik batang otak secara bilateral, kecuali nervus
VII dan XII yang berfungsi untuk menyalurkan impuls motorik untuk 6. PATOGENESIS
gerakan-gerakan tangkas otot-otot tubuh dan anggota gerak. Tetraparese dapat disebabkan karena kerusakan Upper Motor
Neuron (UMN) atau kerusakan Lower Motor Neuron (LMN). Kelumpuhan atau
Kelainan traktus piramidalis setinggi : kelemahan yang terjadi pada kerusakan Upper Motor Neuron (UMN)
Hemisfer : Hemiparese tipikal (gangguan ekstremitas sesisi disebabkan karena adanya lesi di medula spinalis. Kerusakannya bisa dalam
dengan nervus cranialis dan kontralateral terhadap lesi). bentuk jaringan scar, atau kerusakan karena tekanan dari vertebra atau diskus
Batang otak : Hemiparesis alternans (gangguan ekstremitas kontralateral intervetebralis. Hal ini berbeda dengan lesi pada LMN yang berpengaruh pada
terhadap lesi dan nervus cranialisnya). serabut saraf yang berjalan dari cornu anterior medula spinalis sampai ke otot.
Medulla spinalis : Tetraparese atau paraparese Pada columna vertebralis terdapat nervus spinalis, yaitu nervus
servikal, thorakal, lumbal, dan sacral. Kelumpuhan berpengaruh pada nervus
2. Sistem Ekstrapiramidal spinalis dari servikal dan lumbosakral yang dapat menyebabkan kelemahan
Dimulai dari serebral korteks, basal ganglia, subkortikal nukleus atau kelumpuhan pada keempat anggota gerak. Ada dua tipe lesi, yaitu
secara tidak langsung ke spinal cord. Inti-inti yang menyusun ekstrapiramidal lesi komplit dan inkomplit. Lesi komplit dapat menyebabkan kehilangan
antara lain: kontrol otot dan sensorik secara total dari bagian dibawah lesi, sedangkan lesi
1. Korteks motorik tambahan (area 4s, 6, 8). inkomplit mungkin hanya terjadi kelumpuhan otot ringan (parese) dan atau
2. Ganglia basalis (Nucleus kaudatus, Putamen, Globus pallidus, substansia mungkin kerusakan sensorik. Lesi pada UMN dapat menyebabkan parese
nigra), Korpus subtalamikum (Luysii), Nucleus ventrolateralis Talami. spastic sedangkan lesi pada LMN menyebabkan parese flacsid.
3. Nucleus ruber & substansia retikularis batang otak.
4. Cerebellum a. Lesi di Upper Motor Neuron
Berfungsi untuk gerak otot dasar dan pembagian tonus secara Tiap lesi di medula spinalis yang merusak daerah jaras kortikospinal
harmonis, mengendalikan aktifitas piramidal. Gangguan pada ekstrapiramidal lateral menimbulkan kelumpuhan Upper Motor Neuron (UMN) pada otot-otot
seperti kekakuan, rigiditas, ataksia, tremor, balismus, khorea, atetose. bagian tubuh yang terletak di bawah tingkat lesi. Lesi transversal medula
spinalis pada tingkat servikal, misalnya C5 mengakibatkan kelumpuhan Upper
Motor Neuron (UMN) pada otot-otot tubuh yang berada dibawah C5, yaitu
sebagian otot-otot kedua lengan yang berasal yang berasal dari C.6 sampai C.8,
lalu otot-otot thoraks dan abdomen serta otot kedua tungkai yang
mengakibatkan kelumpuhan parsial dan defisit neurologi yang tidak masif di
seluruh tubuh. Lesi yang terletak di medula spinalis tersebut maka akan
menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan keempat anggota gerak yang
disebut tetraparese spastic.

b. Lesi di Lower Motor Neuron


Lesi transversal yang merusak segmen C5 ke bawah itu tidak hanya
memutuskan jaras kortikospinal lateral, melainkan ikut memotong segenap
lintasan asendens dan desendens lain. Disamping itu kelompok motoneuron
yang berada didalam segmen C5 kebawah ikut rusak. Ini berarti bahwa pada
tingkat lesi kelumpuhan itu bersifat Lower Motor Neuron (LMN) dan dibawah
tingkat lesi bersifat Upper Motor Neuron (UMN).
Motoneuron-motoneuron di kornu anterior dapat mengalami
gangguan secara selektif atau terlibat dalam satu lesi bersama dengan bangunan
disekitarnya, sehingga dikenal sindrom lesi di kornu anterius, sindrom lesi yang
selektif merusak motoneuron dan jaras kortikospinal, sindrom lesi yang
merusak motoneuron dan funikulus anterolateralis dan sindrom lesi di
substantia grisea sentralis. Lesi ini biasanya disebabkan karena adanya infeksi,
misalnya poliomielitis. Pada umumnya motoneuron-motoneuron yang rusak
didaerah servikal dan lumbalis sehingga kelumpuhan LMN adalah anggota
gerak. Pada umumnya bermula dibagian distal tungkai kemudian bergerak ke
 Lower Motor Neuron bagian proksimalnya. Kelumpuhannya meluas ke bagian tubuh atas, terutama
Merupakan neuron-neuron yang menyalurkan impuls motorik dari otot-otot kedua lengan. Kelainan fungsional sistem saraf tepi dapat disebabkan
cornu anterior medulla spinalis ke sel otot. Tiap motorneuron menjulurkan 1 kelainan pada saraf di sumsum tulang belakang atau kelainan sepanjang saraf
akson yang bercabang-cabang dan tiap cabangnya menpersarafi serabut otot. tepi sendiri. Salah satu penyakit dengan lesi utama pada neuron saraf perifer
Otot untuk gerakan tangkas terdiri dari banyak unit motorik yang kecil-kecil, adalah polineuropati.
Lesi di otot dapat berupa kerusakan struktural pada serabut otot atau penyakit motoneuron. Kondisi tersebut menyebabkan degenerasi saraf motorik
selnya yang disebabkan infeksi. Karena serabut otot rusak, kontraktilitasnya bagian atas (brain) dan saraf motorik bagian bawah (spinal cord) dengan
hilang dan otot tidak dapat melakukan tugasnya. Penyakit di otot bisa berupa kombinasi tanda upper motor neuron (UMN) dan lower motor neuron (LMN).
miopati dan distrofi, dapat menyebabkan kelemahan di keempat anggota gerak
biasanya bagian proksimal lebih lemah dibanding distalnya. Ketika kelemahan 7. MANIFESTASI KLINIS
otot menjadi nyata, terdapat pembengkakan dan nekrosis-nekrosis serabut otot. a. Kelumpuhan UMN
Kelemahan otot (atrofi otot) dapat kita jumpai pada beberapa penyakit. Dicirikan oleh tanda-tanda kelumpuhan UMN, yakni sebagai
berikut :
Tetraparese dapat dijumpai pada beberapa keadaan 1. Tonus otot meninggi atau hipertonia
a. Penyakit infeksi Gejala tersebut terjadi karena hilangnya pengaruh inhibisi korteks
- Mielitis transversa motorik tambahan terhadap inti-inti intrinsik medulla spinalis. Hipertonia
Dapat menyebabkan satu sampai dua segmen medula spinalis yang merupakan ciri khas dari disfungsi komponen ekstrapiramidal susunan UMN.
rusak sekaligus. Istilah mielitis tidak hanya digunakan jika medula spinalis Hipertonia yang mengiringi kelumpuhan UMN tidak melibatkan semua otot
mengalami peradangan, namun juga jika lesinya mengalami peradangan dan skeletal, tergantung pada jumlah serabut penghantar impuls pyramidal dan
disebabkan oleh proses patologik yang mempunyai hubungan dengan infeksi. ekstrapiramidal yang terkena.
Serabut-serabut asenden dan desenden panjang dapat terputus oleh salah satu 2. Hiperefleksia
lesi yang tersebar luas, sehingga dapat menimbulkan kelumpuhan parsial dan Hiperefleksia merupakan keadaan setelah impuls inhibisi dari
defisit sensorik yang tidak masif di seluruh tubuh atau yang dikenal dengan susunan pyramidal dan ektrapiramidal tidak dapat disampaikan ke motoneuron.
istilah tetraparese. 3. Klonus
- Poliomielitis Tanda ini adalah gerak otot reflektorik, yang bangkit secara
Merupakan peradangan pada daerah medula spinalis yang mengenai berulang-ulang selama perangsangan masih berlangsung
substantia grisea. Jika lesi mengenai medula spinalis setinggi servikal atas maka 4. Refleks patologi
dapat menyebabkan kelemahan pada anggota gerak atas dan bawah. Pada kerusakan UMN sering ditemukan reflex patologik, yang tidak
ditemukan pada orang normal.
b. Polineuropati 5. Tidak ada atrofi pada otot-otot yang lumpuh
Merupakan kelainan fungsi yang berkesinambungan pada beberapa Rusaknya motoneuron dapat menyebabkan rusaknya serabut-
saraf perifer di seluruh tubuh. Kekurangan gizi dan kelainan metabolik juga bisa serabut otot yang tercakup dalam kesatuan motorik sehingga otot-otot yang
menyebabkan polineuropati. Kekurangan vitamin B bisa mengenai saraf terkena menjadi kecil (atrofi). Dalam hal kerusakan serabut-serabut otot
perifer di seluruh tubuh, penyakit yang bisa menyebabkan polineuropati kronik penghantar impuls motorik UMN, tidak melibatkan motoneuron.
(menahun) adalah diabetes, gagal ginjal dan kekurangan gizi (malnutrisi) yang
berat. Polineuropati kronik cenderung berkembang secara lambat (sampai Tanda-tanda kelumpuhan UMN dapat ditemukan sebagian atau
beberapa bulan atau tahun). seluruhnya setelah terjadinya lesi UMN.
Kelainan pada saraf perifer dijumpai sebagai berikut : tiga sampai
empat hari pertama pembengkakan dan menjadi irreguler dari selubung myelin. b. Kelumpuhan LMN
Hari ke lima terjadi desintegrasi myelin dan pembengkakan aksis silinder. Pada Lesi paralitik di susunan LMN merupakan suatu lesi yang merusak
hari ke sembilan timbul limfosit, hari ke sebelas timbul fagosit dan pada hari mptoneuron, akson, motor end plate, atau otot skeletal, sehingga tidak terdapat
ketiga belas proliferasi Schwan sel. Kesemutan, mati rasa, nyeri terbakar dan gerakan apapun, walaupun impuls motorik tiba di motoneuron. Adapun tanda-
ketidakmampuan untuk merasakan getaran atau posisi lengan, tungkai dan tanda kelumpuhan LMN yakni :
sendi merupakan gejala utama dari polineuropati kronik. Nyeri seringkali 1. Seluruh gerakan, baik yang voluntar maupun yang reflector tidak
bertambah buruk di malam hari dan bisa timbul jika menyentuh daerah yang dapat dibangkitkan. Ini berarti bahwa kelumpuhan disertai oleh hilangnya
peka atau karena perubahan suhu. Ketidakmampuan untuk merasakan posisi reflex tendon dan tidak adanya reflex patologis
sendi menyebabkan ketidakstabilan ketika berdiri dan berjalan. Pada akhirnya 2. Tonus otot menghilang
akan terjadi kelemahan otot dan atrofi (penyusutan otot). Kelumpuhan biasanya 3. Atrofi otot cepat terjadi
timbul sesudah tidak ada panas, kelumpuhan otot biasanya bilateral dan simetris
dengan tipe "lower motor neuron” dengan penyebaran kelumpuhan yang 8. DIAGNOSIS
bersifat ascending yaitu mulai dari ekstrimitas bawah yang menjalar ke a. Anamnesis
ekstrimitas atas, tetapi bisa pula descending yaitu mulai dari ekstrimitas atas Anamnesis harus dilakukan secara cermat, rinci dan menyeluruh.
yang turun ke ekstrimitas bawah. Anamnesis dapat menentukan lokasi lesi, misalnya lesi di medulla spinalis
(nyeri leher yang menjalar ke kedua anggota ekstremitas superior) yang
c. Sindrom Guillain Barre (SGB) merupakan keadaan klinis yang sering ditemukan. Gambaran kelumpuhan
Adalah suatu kelainan sistem saraf akut dan difus yang mengenai akibat lesi paralitik di susunan pyramidal komponen UMN susunan
radiks spinalis dan saraf perifer, dan kadang-kadang juga saraf kranialis, yang neuromuscular berbeda sekali dengan lesi komponen LMN. Adapun tanda-
biasanya timbul setelah suatu infeksi. Manifestasi klinis utama dari SGB adalah tanda kelumpuhan UMN yaitu : tonus otot meninggi (hipertoni), hiperefleksia,
suatu kelumpuhan yang simetris tipe lower motor neuron dari otot-otot sering ditemukan klonus kaki, refleks patologik dan tidak adanya atrofi pada
ekstremitas. otot yang lumpuh. Kelumpuhan tipe LMN memiliki tanda-tanda seperti seluruh
Manifestasi klinis utama adalah kelumpuhan otot-otot ekstremitas gerakan, baik yang voluntar maupun yang reflektori tidak dapat dibangkitkan.
tipe lower motor neuron. Pada sebagian besar penderita kelumpuhan dimulai Ini berarti bahwa kelumpuhan disertai dengan hilangnya refleks tendon, tidak
dari kedua ekstremitas bawah kemudian menyebar secara asenden ke badan, adanya refleks patologik, tonus otot menghilang dan atrofi otot cepat terjadi.
anggota gerak atas dan saraf kranialis. Kadang-kadang juga bisa keempat b. Pemeriksaan fisik umum dan neurologis
anggota gerak dikenai secara serentak, kemudian menyebar ke badan dan saraf Pada kasus ini, tujuan pemeriksaan adalah untuk mendeteksi pola
kranialis. kelemahan yang berhubungan dengan otot. Proses yang lebih difus dapat
Kelumpuhan otot-otot ini simetris dan diikuti oleh hiporefleksia atau mengenai banyak saraf atau otot secara simultan, misalnya penyakit metabolik
arefleksia. Biasanya derajat kelumpuhan otot-otot bagian proksimal lebih berat atau inflamasi yang dapat menyebabkan kelemahan generalisata. Untuk
dari bagian distal, tapi dapat juga sama beratnya, atau bagian distal lebih berat pemeriksaan otot dapat dipilih bagian otot yang penting, walaupun dapat juga
dari bagian proksimal. dilakukan semua pemeriksaan otot gerak lain. Pemilihan otot yang diperiksa
berdasarkan anamnesis atau bagian dari pemeriksaan fisik dimana kelemahan
d. Miastenia Grafis otot dapat dilihat.
Miastenia grafis adalah penyakit neuromuskular yang menyebabkan Lesi UMN berhubungan dengan pola kelemahan yang khas, tidak
otot skelet menjadi lemah dan mudah lelah. Kelelahan atau kelemahan ini seperti lesi LMN, Lesi UMN lebih berhubungan dengan gerakan volunter. Tes
disebabkan karena sirkulasi antibodi yang memblok acetylcholine receptors koordinasi anggota gerak juga dapat memberikan informasi mengenai lokasi
pada post sinaptik neuromuscular junction, stimulasi penghambatan ini lesi. Pemeriksaan refleks tendon juga merupakan metode langsung untuk
berpengaruh pada. neurotransmiter asetilkolin. Manifestasi klinisnya dapat menilai refleks regang secara klinis. Kerusakan LMN akan menyebabkan
berupa kelemahan pada otot yang mengatur pergerakan mata, kelemahan otot penurunan atau menghilangnya refleks ini sedangkan lesi UMN akan
pada lengan dan tungkai, perubahan ekspresi wajah, disfagia, dan disartria . meningkatkan refleks ini. Kegunaan utama pemeriksaan reflex tendon adalah
untuk menentukan lokasi lesi terutama lesi di medulla spinalis
e. Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)
Penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) adalah suatu kelainan
yang progresif dari sistem saraf yang banyak terjadi pada orang dewasa dengan
c. Pemeriksaan Penunjang dimuntahkan, pasien juga mengeluh BAB cair sebanyak 2 kali sejak
 Pemeriksaan laboraturium 3 hari yang lalu, keluhan ini sering terjadi beberapa kali dalam
Pada pemeriksaan darah rutin dapat dilihat nilai dari jumlah leukosit beberapa tahun terakhir. Pasien juga mengalami keluhan nyeri ulu
yang dapat menunjukan adanya tanda-tanda infeksi yang merupakan petanda hati. BAK dalam batas normal.
adanya lesi akibat infeksi. Pemeriksaan kimia darah untuk mengetahui elektrolit
tubuh juga merupakan pemeriksaan yang penting untuk menilai lesi. III. Riwayat Penyakit Dahulu
Kelumpuhan keempat anggota gerak yang bersifat LMN, mutlak motorik - Sekitar 3 bulan sebelum masuk rumah sakit psien pernah mengalami
dianggap kelumpuhan miogenik. Patofisiologi nya masih kurang jelas, tetapi keluhan lemah keempat anggota gerak, awalnya pasien merasakan ujung
secara klinis terbukti mempunyai hubungan yang erat dengan ion kalium. jari-jari tangan dan kaki terasa kebas, pasien mengaku kedua tangan terasa
Dikenal 3 macam paralisis periodic. Yang pertama ialah paralisis periodik kesemutan lebih dahulu kemudian menjalar hingga kaki, keluhan ini
hipokalemik familial, kedua yaitu paralisis periodic hiperkalemik familial dan dirasakan pasien setelah berolahraga lari.
yang ketiga adalah paralisis periodik normokalemik. Perbedaan yang - Riwayat trauma disangkal
ditonjolkan oleh klasifikasi tersebut berdasarkan kadar kalium dalam serum. - Riwayat demam disangkal
Pada jenis hipokalemik familial, paralisis bangkit pada waktu pagi hari atau - Riwayat batuk lama disangkal
setelah beristirahat atau setelah bekerja, atau setelah makan makanan tinggi - Riwayat BB menurun disangkal
karbohidrat. Paralisis dapat berlangsung beberapa jam bahkan sampai beberapa - Riwayat menderita keganasan tidak ada.
hari. Kadar kalium dibawah 3 mEq/L . pada jenis hiperkalemik, kelumpuhan
keempat anggota gerak bangkit selalu setelah bekerja. Sebagian dengan IV. Riwayat Penyakit Keluarga :
miotonia atau sebagian tidak, paralisis biasanya tidak berlangsung lama dan - Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami keluhan yang
kadar kalium dalam serum lebih dari 4,2 mEq/L. Jenis normokalemik sering sama
menimbulkan kesukaran, baik dalam diagnosis maupun terapi. Serangan - Tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat menderita
paralisis nya sering bersifat total dan berlangsung lama. Pemberian kalium keganasan
dapat memperburuk keadaan. - Tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat batuk lama dan
 Pemeriksaan Radiologis mendapatkan pengobatan selama 6 bulan
Selain anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboraturium
yang mengarahkan ke diagnosis tetraparese tipe lower maupun upper motor V. Riwayat Pribadi dan Sosial :
neuron, maka diperlukan pemeriksaan radiologi untuk menyingkirkan - Riwayat pekerjaan sebagai satpol PP, riwayat minum alkohol (-),
penyebab yang lain. Pemeriksaan rontgen thoraco-lumbal juga dapat membantu dan merokok (+).
menegakkan diagnosis.
C. PEMERIKSAAN FISIK
9. PENATALAKSANAAN I. Pemeriksaan Umum
 Terapi Farmakologi Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Tujuan pengobatan adalah mengobati gejala simptom dan Kesadaran : Compos Mentis, GCS E4M6V5 = 15
memperbaiki keadaan umum penderita. Pencegahan sebaiknya disesuaikan Kooperatif : Baik
dengan faktor pencetusnya, Bila faktor pencetusnya karena gangguan elektrolit, Keadaan gizi : Baik
maka pemberian cairan elektrolit yang sesuai selama serangan dapat Tinggi Badan : 165 cm
mengurangi gejala. Pengobatan yang dianjurkan adalah pemberian kalium per Berat Badan : 65 kg
oral, jika keadaan berat mungkin dibutuhkan pemberian kalium intra vena. Tanda Vital
Penderita mendapat pengobatan pencegahan dengan menghindari faktor-faktor - Tekanan darah : 120/80 mmHg
pencetus dan pemberian preparat kalium peroral. - Frekuensi nadi : 80 x/menit
 Terapi non farmakologi - Frekuensi Pernafasan : 20 x/menit
Rehabilitasi secara komprehensif dengan melakukan fisioterapi - Suhu : 36,4oC
yang dilakukan setelah onset terbukti meningkatkan fungsi saraf motorik
dengan tetraparese Rambut : Hitam, tidak mudah dicabut
Kelenjar Getah Bening
10. PROGNOSIS - Leher : Tidak teraba pembesaran KGB
Sekitar 60-70% pasien dengan tetraparalisis dapat sembuh tanpa - Aksila : Tidak teraba pembesaran KGB
cacat. Faktor-faktor lain diduga berhubungan dengan prognosis pasien. Pasien - Inguinal : Tidak teraba pembesaran KGB
yang berusia 50 tahun atau lebih tua memiliki sekitar 30% pemulihan tanpa Thoraks
adanya kecacatan. Pasien yang lebih muda memiliki pemulihan tanpa adanya a. Paru-paru
kecacatan lebih besar. Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris kanan dan
kiri
STATUS PASIEN Palpasi : Vokal fremitus sama kanan dan kiri
A. IDENTITAS PASIEN Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Nama : Tn. A Auskultasi : Suara napas vesikuler +/+, ronkhi -/-,
Umur : 27 Tahun wheezing -/-
Jenis Kelamin : Laki-laki b. Jantung
Alamat : Dusun Sialang Inspeksi : Pulsasi ictus cordis tidak terlihat
Pekerjaan : Satpol PP Palpasi : Pulsasi ictus cordis tidak teraba
Agama : Islam Perkusi : Batas kanan jantung : ICS V linea sternalis
Status Perkawinan : Belum Menikah dextra
No. RM : 060361 Batas kiri jantung : ICS V linea midklavikula
Tanggal Masuk : 16 Juni 2015 sinistra
Tanggal Periksa : 22 Juni 2015 Pinggang jantung : ICS III linea parasternalis
sinistra
B. ANAMNESIS : AUTO dan ALLOANAMNESIS Auskultasi: BJ I dan II regular, murmur (-), gallop (-)
I. Keluhan Utama
Lemah keempat anggota gerak sejak 1 minggu yang lalu. Abdomen
Inspeksi : Perut simetris kanan dan kiri, scar (-)
II. Riwayat Penyakit Sekarang Auskultasi : Bising usus (+) normal
Kedua tangan dan kaki lemah sejak 1 minggu yang lalu. Kedua Palpasi :Nyeri tekan epigastrium (+), nyeri lepas (-), hati dan
tangan dan kedua kaki terasa lemah ketika akan digerakan. limpa tidak teraba membesar
Kelemahan dirasakan perlahan-lahan pada kedua tangan dan kaki, Perkusi : Timpani diseluruh kuadran abdomen.
kedua kaki terasa lebih berat dibandingkan dengan kedua tangan,
untuk berdiri pasien dibantu oleh keluarganya. Pasien juga Ekstremitas
mengalami keluhan muntah, frekuensi muntah sebanyak lebih dari Superior : Akral hangat, CRT < 2 detik, edema -/-, kelemahan +/+
3 kali dalam sehari, yang dimuntahkan adalah makanan yang Inferior : Akral hangat, CRT < 2 detik, edema -/-, kelemahan +/+
dimakan oleh pasien, setiap makanan yang dimakan selalu
II. Status Neurologis Sekresi air mata Normal Normal
a. Tanda Rangsang Selaput Otak : Fisura palpebra Normal Normal
- Kaku Kuduk : Negatif Menggerakkan dahi Normal Normal
- Brudzinski I : Negatif Menutup mata Normal Normal
- Brudzinski II : Negatif Mencibir/bersiul Normal Normal
- Tanda Kernig : Negatif Memperlihatkan gigi Normal Normal
Sensasi lidah 2/3 depan Normal Normal
b. Tanda Peningkatan Tekanan intracranial :
Pupil : Isokor
N. VIII (N. Vestibulocochlearis)
Kanan Kiri
c. Pemeriksaan Saraf Kranial :
Suara berbisik Baik Baik
N.I (N. Olfactorius)
Detik arloji Baik Baik
Penciuman Kanan Kiri
Renne test Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Subyektif Normosmia Normosmia
Webber test Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Obyektif dengan bahan Normosmia Normosmia
Scwabach test : Tidak dilakukan Tidak dilakukan
- Memanjang
N.II (N. Opticus)
- Memendek
Penglihatan Kanan Kiri
Nistagmus :
Tajam Kesan normal Kesan normal
- Pendular Tidak ada Tidak ada
penglihatan
- Vertikal Tidak ada Tidak ada
Lapang pandang Dalam batas Dalam batas normal
- Siklikal Tidak ada Tidak ada
normal
Melihat warna Kesan normal Kesan normal Hiperakusis Tidak ada Tidak ada
Funduskopi Tidak dilakukan Tidak dilakukan
N. IX (N. Glossopharingeus)
N.III (N. Occulomotorius) Kanan Kiri
Kanan Kiri Sensasi lidah 1/3 belakang Normal Normal
Bola mata Normal Normal Refleks muntah/Gag reflek Normal Normal
Ptosis Tidak ada Tidak ada
Gerakan bulbus Normal Normal N. X (N. Vagus)
Strabismus Tidak ada Tidak ada Kanan Kiri
Nistagmus Tidak ada Tidak ada Arkus faring Normal Normal
Ekso/Endophtalmus Tidak ada Tidak ada Uvula Normal Normal
Pupil : Menelan Bisa Bisa
 Bentuk Bulat Bulat Artikulasi Normal Normal
Positif Positif Suara Normal Normal
 Refleks cahaya Nadi 78 x/menit 78
Normal Normal
x/menit
 Rrefleks akomodasi Normal Normal
N. XI (N. Assesorius)
 Refleks konvergensi Kanan Kiri
Menoleh ke kanan Normal Normal
N. IV (N. Trochlearis) Menoleh ke kiri Normal Normal
Kanan Kiri Mengangkat bahu ke kanan Normal Normal
Gerakan mata ke bawah Normal Normal Mengangkat bahu ke kiri Normal Normal
Sikap bulbus Normal Normal
Diplopia Tidak ada Tidak ada N. XII (N. Hipoglossus)
Kanan Kiri
N. V (N. Trigeminus) Kedudukan lidah di dalam Normal Normal
Kanan Kiri Kedudukan lidah dijulurkan Normal Normal
Motorik : Tremor Tidak ada Tidak ada
- Membuka mulut Dalam batas normal Dalam batas normal
Fasikulasi Tidak ada Tidak ada
- Menggerakkan rahang Dalam batas normal Dalam batas normal
Atrofi Tidak ada Tidak ada
- Menggigit Dalam batas normal Dalam batas normal
- Mengunyah Dalam batas normal Dalam batas normal
d. Pemeriksaan Koordinasi dan keseimbangan
Sensorik :
- Divisi Optalmika
- Refleks kornea Normal Normal Cara berjalan Tidak dapat dilakukan Tes jari-hidung DBN
- Sensibilitas Dalam batas normal Dalam batas normal Romberg test Dalam Batas Normal Tes jari-jari DBN
- Divisi Maksila Stepping test Daam Batas Normal Tes Tumit-Lutut DBN
Refleks masseter Dalam batas normal Dalam batas normal Tandem Walking test Dalam Batas Normal Disfagia DBN
- Sensibilitas Dalam batas normal Dalam batas normal Rebound phenomen Dalam Batas Normal Supinasi-pronasi DBN
- Divisi Mandibula Ataksia Dalam batas normal
- Sensibilitas Dalam batas normal Dalam batas normal
e. Pemeriksaan Fungsi Motorik

A. Berdiri dan Berjalan Kanan Kiri


N. VI (N. Abduscen) Gerakan spontan Tidak ada Tidak ada
Kanan Kiri Tremor Tidak ada Tidak ada
Gerakan mata lateral Normal Normal Atetosis Tidak ada Tidak ada
Sikap bulbus Normal Normal Mioklonik Tidak ada Tidak ada
Diplopia Tidak Tidak Khorea Tidak ada Tidak ada
Bradikinesia Tidak ada Tidak ada
N. VII (N. Facialis)
Kanan Kiri
Raut wajah Normal Normal
Ekstremi Superior Inferior  Diagnosis Topik : Lesi di Otot
tas  Diagnosis Etiologi : Et causa Hipokalemia
Kanan Kiri Kanan Kiri  Diagnosis Sekuder : Vomitting
Gerakan Lemah Lemah Lemah Lemah
Kekuatan 4,4,4,4 4,4,4,4 3,3,3,3 3,3,3,3 RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG
Atrofi Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada  Rontgen thoraks
Tonus Hipotoni Hipotoni Hipotoni Hipotoni  Foto Rontgen thorakolumbal
 MRI
f. Pemeriksaan Sensibilitas
Sensibilitas taktil Normal TERAPI
Sensibilitas nyeri Normal Medikamentosa
Sensibilitas termis Normal  Infus NaCL 0,9% 20 tpm
Sensibilitas kortikal Normal  KSR 1x1
Stereognosis Normal  Omeprazol 1x20mg
Pengenalan 2 titik Normal  Propepsa Syrup 3x1
Pengenalan rabaan Normal Edukasi
 Makan-makanan yang mengandung kalium tinggi
seperti buah pisang barangan, minum air kepala atau
g. Sistem Refleks minuman yang mengandung ion tubuh
Refleks Fisiologis Kanan Kiri PROGNOSIS
Kornea Normal Normal Quo ad vitam : dubia ad bonam
Berbangkis Normal Normal Quo ad functionam : dubia ad bonam
Laring Normal Normal Quo ad sanationam : dubia ad bonam
Masseter Normal Normal
Dinding perut PEMBAHASAN
Atas Normal Normal
Bawah Normal Normal Seorang pasien laki-laki usia 27 tahun dengan keluhan lemah
Tengah Normal Normal keempat anggota gerak sejak 1 minggu yang lalu. Kedua tangan dan kedua kaki
Biseps + + terasa lemah ketika digerakan. Pasien juga mengalami keluhan muntah,
Triseps + + frekuensi muntah sebanyak lebih dari 3 kali dalam sehari, yang dimuntahkan
APR + + adalah makanan yang dimakan oleh pasien, setiap makanan yang masuk selalu
KPR + + dimuntahkan, keluhan ini semakin sering sehingga pasien dibawa ke rumah
Bulbokavernosus Tidak dilakukan Tidak dilakukan sakit RSUD Bangkinang. Pasien juga mengalami keluhan nyeri ulu hati.
Kremaster Tidak dilakukan Tidak dilakukan Demam tidak ada. Keluhan lemah pertama kali dirasakan pasien sekitar 3 bulan
Sfingter Normal Normal
sebelum masuk rumah sakit, dimana pasien merasakan ujung jari-jari tangan
dan kaki terasa kebas, keluhan ini dirasakan pasien setelah berolahraga lari.
Refleks Patologis Kanan Kiri
Lengan Pasien kemudian berobat ke dokter didekat rumahnya dan diberikan obat, tapi
Hoffman-Tromner Negatif Negatif pasien lupa nama obatnya, namun keluhan tidak berkurang. Riwayat kebiasaan
Tungkai pola makan tidak teratur. Pada pemeriksaan fisik ditemukan parase atau
Babinski Negatif Negatif kelemahan pada keempat anggota ektremitas dan pada pemeriksaan neurologis
Chaddoks Negatif Negatif ditemukan pemeriksaan nervus kranialis dalam batas normal, kurangnya
Oppenheim Negatif Negatif koordinasi dan keseimbangan tubuh, refleks fisiologis menurun, refleks
Gordon Negatif Negatif patologis tidak ditemukan, serta pada pemeriksaan motorik ditemukan gerakan
Schaeffer Negatif Negatif dan kekuatan otot lemah pada ektremitas superior dan inferior, atrofi otot tidak
Klonus kaki Negatif Negatif ditemukan dan hipotoni pada keempat anggota gerak. Pada pemeriksaan
penunjang seperti darah rutin tidak ada ditemukan tanda-tanda infeksi dan pada
h. Fungsi Otonom
- Miksi : Normal pemeriksaan elektrolit tubuh ditemukan kalium, natrium dan chlorida rendah.
- Defekasi : Normal Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pada pasien ini ditegakkan
- Sekresi keringat : Normal diagnosis sebagai tetraparase flaksid lesi di otot yang mempunyai gejala seperti
kekuatan otot yang berkurang, hilangnya refleks tendon, tidak adanya refleks
i. Fungsi Luhur patologis, dan tonus otot menghilang. Penatalaksanaan farmakologis yang
Kesadaran Tanda Demensia diberikan pada pasien ini adalah pertama, adalah terapi cairan elektrolit dengan
Reaksi bicara Baik Reflek glabella Tidak ada pemberian cairan Nacl 0,9% 20 tetes permenit, kemudian diberikan KSR tablet
Fungsi intelek Baik Reflek snout Tidak ada
1x1, Omeprazol 1x20mg, Propepsa Syrup 3x1. Penatalaksanaan non-
Reaksi emosi Baik Reflek menghisap Tidak ada
farmakologi dengan memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga agar
Reflek memegang Tidak ada
Refleks palmomental Tidak ada menjaga pola makan pasien dan sebaiknya makan makanan yang mengandung
kalium yang tinggi secara rutin yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi
D. PEMERIKSAAN LABORATORIUM motorik
 Darah lengkap
- Hb : 10,4 gr% DAFTAR PUSTAKA
- Leukosit : 9.103/mm3 1. Mardjono M, Sidharta P. 2008. Neurologi Klinis Dasar. Jakarta: Dian Rakyat.
- Hematokrit : 43% Hal 30-3.
- Trombosit : 250.000 2. Guyton AC, Hall JE. Fisiologi Saraf. 2008. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.
- Gula darah sewaktu : 110 mg/dl Edisi sebelas. Jakarta : EGC. Hal 55-62.
 Elektrolit 3. Lumbantobing SM. 2010. Neurologi klinik pemeriksaan fisik dan mental.
- Chlorida 94 mEq/L (Rendah) Jakarta : Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hal 20-5.
- Kalium 2,7 mEq/L (Rendah) 4. Harsono. 2010. Buku Ajar Neurologi Klinis. Jakarta : Gadjah Mada University
- Natrium 124 mEq/L (Rendah) Press. Hal 44-7.
5. Priguna Sidharta M D Phd. 2008. Neurologi Klinis Dalam Praktek Umum.
E. MASALAH Jakarta : Dian Rakyat. Hal 44-8
DIAGNOSIS 6. Sylvia A Price, Lorraine M Wilson . 2008. Buku ajar patofisiologi. Edisi
 Diagnosis Klinis : Tetraparese flacsid keenam. Jakarta : EGC. Hal 95-7.
Saraf - Tetraparase Tulang belakang atau vertebra adalah tulang tak beraturan yang
Susunan neuromuskular terdiri dari Upper motor neuron (UMN) membentuk punggung yang mudah digerakkan. Terdapat 33 tulang punggung
dan lower motor neuron (LMN). Upper motor neurons (UMN) merupakan padamanusia, 7 tulang cervical, 12 tulang thorax (thoraks atau dada), 5 tulang
kumpulan saraf-saraf motorik yang menyalurkan impuls dan area motorik di lumbal,5 tulang sacral, dan 4 tulang membentuk tulang ekor (coccyx). Sebuah
korteks motorik sampai inti-inti motorik di saraf kranial di batang otak atau tulang punggung terdiri atas dua bagian yakni bagian anterior yang terdiri dari
kornu anterior.Berdasarkan perbedaan anatomik dan fisiologik kelompok UMN badan tulang atau corpus vertebrae, dan bagian posterior yang terdiri dari arcus
dibagi dalam susunan piramidal dan susunan ekstrapiramidal. Susunan vertebrae.
piramidal terdiri dari traktus kortikospinal dan traktus kortikobulbar. Traktus Ketika tulang belakang disusun, foramen ini akan membentuk
kortikobulbar fungsinya untuk gerakan-gerakan otot kepala dan leher, saluran sebagai tempat sumsum tulang belakang atau medulla spinalis. Dari
sedangkan traktus kortikospinal fungsinya untuk gerakan-gerakan otot tubuh otak medulla spinalis turun ke bawah kira-kira ditengah punggung dan
dan anggota gerak. Sedangkan lower motor neuron (LMN), yang merupakan dilindungi oleh cairan jernih yaitu cairan serebrospinal. Medula spinalis terdiri
kumpulan saraf-saraf motorik yang berasal dari batang otak, pesan tersebut dari dari berjuta-juta saraf yang mentransmisikan informasi elektrik dari dan ke
otak dilanjutkan ke berbagai otot dalam tubuh seseorang. ekstremitas, badan, oragan-organ tubuh dan kembali ke otak. Otak dan medula
Dari otak medula spinalis turun ke bawah kira-kira di tengah spinalis merupakan sistem saraf pusat dan yang mehubungkan saraf-saraf
punggung dan dilindungi oleh cairan jernih yaitu cairan serebrospinal. Medula medula spinalis ke tubuh adalah sistem saraf perifer.
spinalis terdiri dari berjuta-juta saraf yang mentransmisikan informasi elektrik Medula spinalis mulai dari akhir medulla oblongata di foramen
dari dan ke ekstremitas, badan, oragan-organ tubuh dan kembali ke otak. Otak magnum sampai konus medullaris di level Tulang Belakang L1-L2. Medulla
dan medulla spinalis merupakan sistem saraf pusat dan yang mehubungkan Spinalis berlanjut menjadi Kauda Equina (di Bokong) yang lebih tahan terhadap
saraf-saraf medulla spinalis ke tubuh adalah sistem saraf perifer. Medula cedera.Medula spinalis terdiri atas traktusas cenden (yang membawa informasi
spinalis terdiri atas traktus ascenden (yang membawa informasi di tubuh di tubuh menuju ke otak seperti rangsang raba, suhu, nyeri dan gerak posisi)
menuju ke otak seperti rangsang raba, suhu, nyeri dan gerak posisi) dan traktus dan traktus descenden (yang membawa informasi dari otak ke anggota gerak
descenden (yang membawa informasi dari otak ke anggota gerak dan dan mengontrol fungsi tubuh).
mengontrol fungsi tubuh). Medula spinalis diperdarahi oleh 2 susunan arteri yang mempunyai
Kelemahan/ kelumpuhan parsial yang ringan/ tidak lengkap atau hubungan istemewa, yaitu arteri spinalis dan arteri radikularis. Arteri spinalis
suatu kondisi yang ditandai oleh hilangnya sebagian gerakan atau gerakan dibagi menjadi arteri spinalis anterior dan posterior yang berasal dari arteri
terganggu disebut dengan parese. Kelemahan adalah hilangnya sebagian fungsi vertebralis, sedangkan arteri radikularis dibagi menjadi arteri radikularis
otot untuk satu atau lebih kelompok otot yang dapat menyebabkan gangguan posterior dan anterior yang dikenal juga ramus vertebromedularis arteria
mobilitas bagian yang terkena. Kelemahan/kelumpuhan yang mengenai interkostalis.
keempat anggota gerak disebut dengan tetraparese. Hal ini diakibatkan oleh Medula Spinalis disuplai oleh arteri spinalis anterior dan arteri
adanya kerusakan otak,kerusakan tulang belakang pada tingkat tertinggi spinalis posterior. Nervus spinalis/ akar nervus yang berasal dari medula
(khususnya pada vertebracervikalis), kerusakan sistem saraf perifer, kerusakan spinalis melewati suatu lubang di vertebra yang disebut foramen dan membawa
neuromuscular atau penyakitotot. Kerusakan diketahui karena adanya lesi yang informasi dari medula spinalis sampai ke bagian tubuh dan dari tubuh ke otak.
menyebabkan hilangnya fungsimotorik pada keempat anggota gerak, yaitu Ada 31 pasang nervus spinalis dan dibagi dalam empat kelompok nervus
lengan dan tungkai. Penyebab khas pada kerusakan ini adalah trauma (seperti spinalis, yaitu:
tabrakan mobil, jatuh atau sport injury) atau karena penyakit (seperti mielitis a. nervus servikal : (nervus di leher) yang berperan dalam pergerakan dan perabaan
transversal, polio, atau spina bifida). pada lengan, leher, dan anggota tubuh bagian atas
Tetraparese berdasarkan topisnya dibagi menjadi dua, yaitu : b. nervus thorak : (nervus di daerah punggung atas) yang mempersarafi tubuh dan
Tetraparesspastik yang terjadi karena kerusakan yang mengenai upper motor perut
neuron (UMN),sehingga menyebabkan peningkatan tonus otot atau hipertoni c. nervus lumbal dan nervus sakral : (nervus didaerah punggung bawah) yang
dan tetraparese flaksid yang terjadi karena kerusakan yang mengenai lower mempersarafi tungkai,kandung kencing, usus dan genitalia.
motor neuron (LMN),sehingga menyebabkan penurunan tonus atot atau
hipotoni.Tetraparese dapat disebabkan karena adanya kerusakan pada susunan
neuromuskular, yaitu adanya lesi. Ada dua tipe lesi, yaitu lesi komplit dan Ujung akhir dari medula spinalis disebut conus medularis yang letaknya di L1
inkomplit. Lesi komplit dapat menyebabkan kehilangan kontrol otot dan danL2. Setelah akhir medula spinalis, nervus spinalis selanjutnya
sensorik secara total dari bagian di bawah lesi, sedangkan lesi inkomplit bergabungmembentuk cauda equina3,4.
mungkin hanya terjadi kelumpuhan otot ringan (parese) dan atau mungkin Gambar 2. Hubungan nervus spinalis dengan vertebra
kerusakan sensorik. 2.2 Definisi
2.2.1 Parese
Kerusakan susunan neuromuskular baik kerusakan pada upper Parese adalah kelemahan/kelumpuhan parsial yang ringan/tidak
motor neuron (UMN) atau kerusakan pada lower motor neuron (LMN) atau lengkap atau suatu kondisi yang ditandai oleh hilangnya sebagian gerakan atau
kerusakan pada keduanya. Kerusakan pada upper motor neuron (UMN) dapat gerakan terganggu. Kelemahan adalah hilangnya sebagian fungsi otot untuk
disebabkan adanya lesi medula spinalis setinggi servikal atas. Sedangkan satu atau lebih
kerusakan pada lower motor neuron (LMN) dapat mengenai motoneuron, kelompok otot yang dapat menyebabkan gangguan mobilitas bagian yang
radiks dan saraf perifer, maupun pada otot itu sendiri. Jika kerusakan terkena.
mengenai Upper motor neuron (UMN)dan Lower motor neuron (LMN ) maka Parese pada anggota gerak dibagi mejadi 4 macam, yaitu:
lesinya pada Low cervical cord. Monoparese adalah kelemahan pada satu ekstremitas atas atau ekstremitas
Pada beberapa keadaan dapat kita jumpai tetraparese misalnya bawah.
pada penyakit infeksi (misalnya mielitis transversa, poliomielitis), Sindrom Paraparese adalah kelemahan pada kedua ekstremitas bawah.
GuillainBarre (SGB), Polineuropati, Miastenia Grafis, atau Amyotrophic Hemiparese adalah kelemahan pada satu sisi tubuh yaitu satu ekstremitas
Lateral Sclerosis(ALS). atas dan satu ekstremitas bawah pada sisi yang sama.
2.1 Anatomi Fisiologi Tetraparese adalah kelemahan pada keempat ekstremitas.
Sistem motorik berhubungan dengan sistem neuromuskular. Sistem 2.2.2 Tetraparese
neuromuskular terdiri atas Upper motor neurons (UMN) dan lower motor Tetraparese juga diistilahkan juga sebagai quadriparese, yang
neuron (LMN). Upper motor neurons (UMN) merupakan kumpulan saraf-saraf keduanya merupakan parese dari keempat ekstremitas.”Tetra” dari bahasa
motorik yang menyalurkan impuls dan area motorik di korteks motorik sampai yunani sedangkan“quadra” dari bahasa latin. Tetraparese adalah
inti-intimotorik di saraf kranial di batang otak atau kornu anterior medula kelumpuhan/kelemahan yang disebabkan oleh penyakit atau trauma pada
spinalis. Berdasarkan perbedaan anatomik dan fisiologik kelompok UMN manusia yang menyebabkan hilangnya sebagianfungsi motorik pada keempat
dibagi dalam susunan piramidal dan susunan ekstrapiramidal. Susunan anggota gerak, dengan kelumpuhan/kelemahan lengan lebih atau sama
piramidal terdiri dari traktus kortikospinal dan traktus kortikobulbar. Traktus hebatnya dibandingkan dengan tungkai. Hal ini diakibatkan oleh adanya
kortikobulbar fungsinya untuk gerakan-gerakan otot kepala dan leher, kerusakan otak, kerusakan tulang belakang pada tingkat tertinggi (khususnya
sedangkan traktus kortikospinal fungsinya untuk gerakan-gerakan otot tubuh pada vertebra cervikalis), kerusakan sistem saraf perifer, kerusakan
dan anggota gerak. neuromuscular atau penyakit otot. Kerusakan diketahui karena adanya lesi yang
Melalui lower motor neuron (LMN), yang merupakan kumpulan menyebabkan hilangnya fungsi motorik pada keempat anggota gerak, yaitu
saraf-saraf motorik yang berasal dari batang otak, pesan tersebut dari otak lengan dan tungkai. Penyebab khas pada kerusakan ini adalah trauma (seperti
dilanjutkan ke berbagai otot dalam tubuh seseorang. Kedua saraf motorik tabrakan mobil, jatuh atau sport injury) atau karena penyakit (seperti mielitis
tersebut mempunyai peranan penting di dalam sistem neuromuscular tubuh. transversal, polio, atau spina bifida).
Sistem ini yang memungkinkan tubuh kita untuk bergerak secara terencana dan
terukur.
Pada tetraparese kadang terjadi kerusakan atau kehilangan
kemampuandalam mengontrol sistem pencernaan, fungsi seksual, pengosongan 2.6.2 Lesi di Low cervical cord
saluran kemih dan rektum, sistem pernafasan atau fungsi otonom. Selanjutnya, Lesi transversal yang merusak segmen C5 ke bawah itu tidak saja
dapat terjadi penurunan/ kehilangan fungsi sensorik. adapun manifestasinya memutuskan jaras kortikospinal lateral, melainkan ikut memotong segenap
seperti kekakuan, penurunan sensorik, dan nyeri neuropatik. Walaupun pada lintasan asendens dan desendens lain. Disamping itu kelompok motoneuron
tetraparese itu terjadi kelumpuhan pada keempat anggota gerak tapi terkadang yangberada didalam segmen C5 kebawah ikut rusak. Ini berarti bahwa pada
tungkai dan lengan masih dapat digunakan atau jari-jari tangan yang tidak dapat tingkat lesikelumpuhan itu bersifat Lower Motor Neuron (LMN) dan dibawah
memegang kuat suatu benda tapi jari-jari tersebut masih bisa digerakkan, atau tingkat lesibersifat Upper Motor Neuron (UMN). Dibawah ini
tidak bisa menggerakkan tangan tapi lengannya masih bisa digerakkan. Hal ini kelumpuhan Lower Motor Neuron (LMN) akan diuraikan menurut komponen-
semua tergantung dari luas tidaknya kerusakan. komponen Lower Motor Neuron(LM N ).
2.3 Etiologi Tetraparese Motoneuron-motoneuron berkelompok di kornu anterius dan
Complete/incomplete transection of cord with fracture dapatmengalami gangguan secara selektif atau terlibat dalam satu lesi bersama
Prolapsed disc Cord contusion-central cord syndrome, anterior cord denganbangunan disekitarnya, sehingga di dalam klinik dikenal sindrom lesi di
syndrome kornuanterius, sindrom lesi yang selektif merusak motoneuron dan jaras
Guillain-Barre Syndrome (post infective polyneuropathy) kortikospinal,sindrom lesi yang merusak motoneuron dan funikulus
Transverse myelitis Acute myelitis anterolateralis dan sindromlesi di substantia grisea sentralis . Lesi ini biasanya
Anterior spinal artery occlusion disebabkan karena adanyainfeksi, misalnya poliomielitis. Pada umumnya
Spinal cord compression motoneuron-motoneuron yangrusak didaerah intumesensia servikal dan
Haemorrhage into syringomyelic cavaty lumbalis sehingga kelumpuhan LMN adalah anggota gerak.
Poliomyelitis Kerusakan pada radiks ventralis (dan dorsalis) yang reversibel
2.4 Epidemiologi danmenyeluruh dapat terjadi. Kerusakan itu merupakan perwujudan
Tetraparese salah satunya disebabkan karena adanya cedera pada medulla reaksiimunopatologik. walaupun segenap radiks (ventralis/dorsalis) terkena,
spinalis. menurut Pusat Data Nasional Cedera Medula Spinalis (The National namunyang berada di intumesensia servikalis dan lumbosakralis paling berat
Spinal Cord Injury Data Research Centre) memperkirakan ada 10.000 kasus mengalamikerusakan. Karena daerah ini yang mengurus anggota gerak atas dan
baru cedera medula spinalis setiap tahunnya di Amerika Serikat. Angka bawah. Padaumumnya bermula dibagian distal tungkai kemudian bergerak ke
insidensi paralisis komplet akibat kecelakaan diperkirakan 20 per 100.000 bagian proksimalnya. Kelumpuhannya meluas ke bagian tubuh atas, terutama
penduduk,dengan angka tetraparese 200.000 per tahunnya. Kecelakaan otot-ototkedua lengan. Kelainan fungsional sistem saraf tepi dapat disebabkan
kendaraan bermotor merupakan penyebab utama cedera medula spinalis. kelainanpada saraf di sumsum tulang belakang atau kelainan sepanjang saraf
Cedera medula spinalis dapat dibagi menjadi komplet dan tidak tepi sendiri.Salah satu penyakit dengan lesi utama pada neuron saraf perifer
komplet berdasarkan ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan di bawah lesi. adalahpolineuropati.
Pembagian ini penting untuk meramalkan prognosis dan penanganan Lesi di otot dapat berupa kerusakan struktural pada serabut otot
selanjutnya.. Data diAmerika Serikat menunjukkan urutan frekuensi disabilitas atauselnya yang disebabkan infeksi, intoksikasi eksogen/endogen, dan
neurologis karena cedera medula spinalis traumatika sbb : (1) tetraparese degenerasiherediter. Karena serabut otot rusak, kontraktilitasnya hilang dan
inkomplet (29,5%), (2) paraparese komplet (27,3%), (3) paraparese inkomplet otot tidak dapatmelakukan tugasnya. Penyakit di otot bisa berupa miopati dan
(21,3%), dan (4)tetraparese komplet (18,5%). distrofi, dapatmenyebabkan kelemahan di keempat anggota gerak biasanya
2.5 Klasifikasi Tetraparese bagian proksimallebih lemah dibanding distalnya. Pada penderita distrofia
Pembagian tetraparese berdasarkan kerusakan topisnya: musculorum enzimkreatinin fosfokinase dalam jumlah yang besar, sebelum
a. Tetrapares spastic terdapat manifestasi dinikadar enzim ini di dalam serum sudah jelas meningkat.
Tetraparese spastik terjadi karena kerusakan yang mengenai upper motor akan tetapi mengapaenzim ini dapat beredar didalam darah tepi masih belum
neuron (UMN), sehingga menyebabkan peningkatan tonus otot atau hipertoni. diketahui.
b. Tetraparese flaksid Di samping kelainan pada sistem enzim, secara klinis juga
Tetraparese flaksid terjadi karena kerusakan yang mengenai lower motor dapatditentukan kelaian morfologik pda otot. jauh sebelum tenaga otot
neuron (LMN), sehingga menyebabkan penurunan tonus atot atau hipotoni. berkurang sudahterlihat banyak sel lemak (liposit) menyusup diantara sel-sel
2.6 Patofisiologi Tetraparese serabut otot. Ketikakelemahan otot menjadi nyata, terdapat pembengkakan dan
Tetraparese dapat disebabkan karena kerusakan Upper Motor nekrosis-nekrosisserabut otot. Seluruh endoplasma serabut otot ternyata
Neuron(UMN) atau kerusakan Lower Motor Neuron (LMN). Kelumpuhan/ menjadi lemak. Otot-ototyang terkena ada yang membesar dan sebagian
kelemahanyang terjadi pada kerusakan Upper Motor Neuron (UMN) mengecil. Pembesaran tersebutbukan karena bertambahnya jumlah serabut otot
disebabkan karena adanya lesi di medula spinalis. Kerusakannya bisa dalam melainkan karena degenerasi lemak.
bentuk jaringan scar,atau kerusakan karena tekanan dari vertebra atau diskus
intervetebralis. Hal ini berbeda dengan lesi pada LMN yang berpengaruh pada Central cord syndrome (CCS) biasanya terjadi setelah trauma hiperekstensi.
serabut saraf yang berjalan dari horn anterior medula spinalis sampai ke otot. Sering terjadi pada individu di usia pertengahan dengan spondilosiscervicalis.
Pada columna vertebralis terdapat nervus spinalis, yaitu nervus Predileksi lesi yang paling sering adalah medula spinalis segmenservikal,
servikal,thorakal, lumbal, dan sakral. Kelumpuhan berpengaruh pada nervus terutama pada vertebra C4-C6. Sebagian kasus tidak ditandai oleh adanya
spinalis dari servikal dan lumbosakral dapat menyebabkan kerusakan tulang.Mekanisme terjadinya cedera adalah akibat penjepitanmedula
kelemahan/kelumpuhan pada keempat anggota gerak. Wilayah ini penting, jika spinalis oleh ligamentum flavum di posterior dan kompresi osteofit
terjadi kerusakan pada daerahini maka akan berpengaruh pada otot, organ, dan ataumaterial diskus dari anterior. Bagian medula spinalis yang paling rentan
sensorik yang dipersarafinya. adalahbagian dengan vaskularisasi yang paling banyak yaitu bagian sentral.
Ada dua tipe lesi, yaitu lesi komplit dan inkomplit. Lesi komplit Pada Central Cord Syndrome, bagian yang paling menderita gaya trauma dapat
dapatmenyebabkan kehilangan kontrol otot dan sensorik secara total dari mengalami nekrosis traumatika yang permanen. Edema yang ditimbulkan dapat
bagiandibawah lesi, sedangkan lesi inkomplit mungkin hanya terjadi meluas sampai 1-2 segmen di bawah dan di atas titik pusat cedera.
kelumpuhan ototringan (parese) dan atau mungkin kerusakan sensorik. Lesi Gambaran khas Central Cord Syndrome adalah kelemahan yang
pada UMN dapat menyebabkan paresespastic sedangkan lesi pada LMN lebihprominen pada ekstremitas atas (tipe LMN) dibanding ektremitas bawah
menyebabkan parese flacsid (tipeUMN). Pemulihan fungsi ekstremitas bawah biasanya lebih cepat,
sementara padaekstremitas atas (terutama tangan dan jari) sangat sering
dijumpai disabilitasneurologik permanen. Hal ini terutama disebabkan karena
pusat cedera palingsering adalah setinggi VC4-VC5 dengan kerusakan paling
2.6.1 Lesi di Mid- or upper cervical cord hebat di medulaspinalis C6 dengan ciri LMN. Gambaran klinik dapat
Tiap lesi di medula spinalis yang merusak daerah jaras bervariasi, pada beberapakasus dilaporkan disabilitas permanen yang unilateral
kortikospinallateral menimbulkan kelumpuhan Upper Motor Neuron (UMN) neurologis lokalis pada pasien cedera medula spinalis mengacu pada panduan
pada otot-otot bagian tubuh yang terletak di bawah tingkat lesi. Lesi transversal dari American Spinal Cord Injury Association/ AISA juga saraf kranialis, yang
medula spinalis pada tingkat servikal, misalnya C5 mengakibatkan biasanya timbul setelah suatu infeksi. Manifestasi klinisutama dari SGB adalah
kelumpuhan Upper Motor Neuron (UMN) pada otot-otot tubuh yang berada suatu kelumpuhan yang simetris tipe lower motor neurondari otot-otot
dibawah C5, yaitu sebagian otot-otot kedua lengan yang berasal yang berasal ekstremitas, badan dan kadang-kadang juga muka.
dari miotom C6 sampai miotom C8, lalu otot-otot thoraks dan abdomen serta Akibat suatu infeksi atau keadaan tertentu yang mendahului SGB
segenap otot kedua tungkai yang mengakibatkan kelumpuhan parsial dan defisit akantimbul autoantibodi atau imunitas seluler terhadap jaringan sistim saraf-
neurologi yang tidak masif diseluruh tubuh. Lesi yang terletak di medula sarafperifer. Infeksi-infeksi meningokokus, infeksi virus, sifilis ataupun trauma
spinalis tersebut maka akan menyebabkan kelemahan/kelumpuhan keempat padamedula spinalis, dapat menimbulkan perlekatan-perlekatan selaput
anggota gerak yang disebut traparese spastik. araknoid. Dinegara-negara tropik penyebabnya adalah infeksi tuberkulosis.
Pada tempat-tempat tertentu perlekatan pasca infeksi itu dapat menjirat radiks ini berpengaruh pada neurotransmiter asetilkolin. Manifestasi klinisnya dapat
ventralis(sekaligus radiks dorsalis). Karena tidak segenap radiks ventralis berupa kelemahan padaotot yang mengatur pergerakan mata, kelemahan otot
terkena jiratan,namun kebanyakan pada yang berkelompokan saja, maka pada lengan dan tungkai,perubahan ekspresi wajah, disfagia, dan disartria.
radiks-radiks yangdiinstrumensia servikalis dan lumbosakralis saja yang paling e) Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)
umum dilandaproses perlekatan pasca infeksi. Oleh karena itu kelumpuhan Penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) adalah suatu
LMN paling seringdijumpai pada otot-otot anggota gerak, kelompok otot-otot kelainan yang progresif dari sistem saraf yang banyak terjadi pada orang
di sekitar persendianbahu dan pinggul. Kelumpuhan tersebut bergandengan dewasa dengan penyakit motoneuron. Kondisi tersebut menyebabkan
dengan adanya defisitsensorik pada kedua tungkai atau otot-otot anggota gerak. degenerasi saraf motorikbagian atas (brain) dan saraf motorik bagian bawah
Secara patologis ditemukan degenerasi mielin dengan edema yang (spinal cord) dengankombinasi tanda upper motor neuron (UMN) dan lower
dapatatau tanpa disertai infiltrasi sel. Infiltrasi terdiri atas sel mononuklear. Sel- motor neuron (LMN).Penurunan kualitas saraf ini, menyebabkan Kelemahan
selinfiltrat terutama terdiri dari sel limfosit berukuran kecil, sedang dan tampak pada otot dan dapatberakhir pada kematian.
pula,makrofag, serta sel polimorfonuklear pada permulaan penyakit. Setelah Proses degenerasi hanya menyerang pada neuron motorik, yaitu sel-
itumuncul sel plasma dan sel mast. Serabut saraf mengalami degenerasi selsaraf yang mengatur pergerakkan otot. Akibat kelemahan itu, kemampuan
segmentaldan aksonal. Lesi ini bisa terbatas pada segmen proksimal dan radiks tubuhuntuk mengatur gerakan otot yang disadari akan hilang secara perlahan-
spinalis atau tersebar sepanjang saraf perifer. Predileksi pada radiks spinalis lahan.Misalnya, memegang, menjentik, menggaruk, dan sebagainya. Namun
diduga karena kurang efektifnya permeabilitas antara darah dan saraf pada penyakitini tidak mempengaruhi saraf sensoris (perasa) dan fungsi mental.
daerah tersebu. Meskipunpenyebab pasti ALS belum diketahui, teori yang dikenal saat ini
Manifestasi klinis utama adalah kelumpuhan otot-otot ekstremitas menyatakan neurotransmiter glutamat (suatu zat kimia yang menghantarkan
tipelower motor neuron. Pada sebagian besar penderita kelumpuhan dimulai impuls atau sinyal ke sel-sel saraf) kemungkinan memegang peranan sebagai
darikedua ekstremitas bawah kemudian menyebar secara asenden ke badan, penyebabmatinya sel-sel saraf motorik. Zat-zat kimia lainnya, seperti molekul
anggotagerak atas dan saraf kranialis. Kadang-kadang juga bisa keempat radikal bebasdan kalsium kemungkinan juga ikut terlibat.
anggota gerakdikenai secara serentak, kemudian menyebar ke badan dan saraf Penyakit ALS mengakibatkan sistemneuromuscular tidak
kranialis.Kelumpuhan otot-otot ini simetris dan diikuti oleh hiporefleksia atau berfungsikarena kedua saraf motorik penderita ALS telah rusak.Seiring
arefleksia.Biasanya derajat kelumpuhan otot-otot bagian proksimal lebih berat berjalannyawaktu, penyakit ALS menyebabkan saraf–saraf motorik yang
dari bagiandistal, tapi dapat juga sama beratnya, atau bagian distal lebih berat berada di otak danbatang tubuh mengecil, dan pada akhirnya menghilang.
dari bagianproksimal. Akibatnya, otot – otottubuh tidak lagi mendapat sinyal untuk bergerak. Karena
d) Miastenia Grafis otot yang berada dalamtubuh kehilangan pemasok nutrisinya, sehingga otot–
Miastenia grafis adalah penyakit neuromuskular yang otot yang menjadi lebih kecildan melemah. Saraf-saraf di dalam
menyebabkan ototskelet menjadi lemah dan lekas lelah. Kelelahan/kelemahan sistemneuromuscular yang memberi nutrisike otot-otot tersebut terlokalisir,
ini disebabkan karenasirkulasi antibodi yang memblok acetylcholine sehingga menyebabkan tumbuhnya jaringan yangrusak mengantikan saraf–
receptors pada post sinaptik neuromuscular junction, stimulasi penghambatan saraf yang normal.