Anda di halaman 1dari 6

MANUSKRIP

GAMBARAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP LANJUT USIA PADA KELUARGA


BINAAN PUSKESMAS KRESEK, KECAMATAN KRESEK,KABUPATEN TANGERANG,
PROVINSI BANTEN

Disusun Oleh:

KELOMPOK 8

Kartika Widyanindhita Kusumawati 1102013145


Muhammad Faisal Alim 1102012171
Raesya Dwi Ananta 1102013239

Pembimbing:
DR. Rifqatussa’adah, SKM, M.Kes

KEPANITERAAN KEDOKTERAN KOMUNITAS


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
PERIODE 21 MEI 2018 – 30 JUNI 2018
PENDAHULUAN

Menurut Hurlock, 2000 (dalam Murwani, 2010) lanjut usia adalah suatu kejadian
yang pasti akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai usia panjang, terjadinya tidak
bisa dihindari oleh siapapun. Usia tua adalah periode penutup dalam rentang hidup
seseorang, yaitu suatu periode dimana seseorang telah “beranjak jauh” dari periode
terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh manfaat
(Murwani, 2010). Kehilangan pasangan dan kesepian yang dialami
lansia kemungkinan akan merubah pola dan nafsu makan lansia, sehingga asupan
nutrisi kurang dari kebutuhan (Rosenbloom dan Whittington, 1993 dalam Miller,
1995) serta gaya hidup yang tidak sehat sangat beresiko terhadap kesehatan lansia.
Oleh sebab itu lansia termasuk dalam kelompok usia berisiko terhadap masalah
kesehatan.
Negara Indonesia merupakan negara berkembang yang telah memasuki era
penduduk berstruktur lanjut usia (aging structural population). Kemajuan di bidang
kesehatan berdampak pada meningkatnya kualitas kesehatan serta meningkatnya
umur harapan hidup. Akibatnya jumlah penduduk yang berusia lanjut semakin
meningkat. Organisasi kesehatan dunia WHO telah memperhitungkan pada tahun
2020 Indonesia akan mengalami peningkatan jumlah lansia tertinggi di dunia. Tahun
2050, presentasi lansia di dunia diperkirakan, untuk pertama kalinya dalam sejarah,
akan melampaui populasi anak-anak berusia 14 tahun ke bawah. Pertumbuhan
penduduk yang sangat pesat pada populasi lansia akan terjadi di Indonesia (Papalia,
2009).
Allah subhanahu Wataala berfirman dalam surah Yaasin : 68

Artinya: Dan barangsiapa yang kami panjangkan umurnya niscaya kami kembalikan dia
kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan?(Al-Quran dan
Terjemahan, 2001).
Ayat diatas dipahami oleh banyak ulama bahwa Allah melakukan apa yang
dijelaskan oleh ayat ini, seakan-akan ayat ini mengatakan bahwa : bukti kuasa Kami
melakukan pembuatan dan pengubahan bentuk itu dapat terlihat pada diri manusia. Kami
ciptakan manusia dengan beraneka bentuk wajah serta beragam masa hidup ada yang
Kami perindah dan ada yang Kami perburuk wajahnya, ada yang Kami pendekkan dan
ada yang Kami panjangkan umurnya “Dan barangsiapa yang kami panjangkan umurnya
niscaya kami kembalikan dia kepada kejadian(nya),” yakni dahulu ketika bayi manusia
lemah dan tidak memiliki pengetahuan, lalu dari hari ke hari Ia menjadi kuat dan banyak
tahu, selanjutnya bila usianya menanjak hingga mencapai batas tertentu dia dikembalikan
Allah mendaji pikun, lemah, serta membutuhkan bantuan orang banyak “Maka apakah
mereka tidak memikirkan?” tentang kekuasaan Allah mengubah keadaannya itu dan
tentang kelemahannya agar dia sadar bahwa kekuatannya tidak langgeng dan bahwa dunia
ini fana, dan dia harus memiliki sandaran yang kuat lagi langsung dan abadi sandaran itu
tidak lain kecuali Allah SWT (Shihab, 2002).
Sering kali keberadaan lanjut usia dipersepsikan secara negatif,dianggap sebagai
beban keluarga dan masyarakat sekitarnya. Kenyataan ini mendorong semakin
berkembangnya anggapan bahwa menjadi tua itu identik dengan semakin banyaknya
masalah kesehatan yang dialami oleh lanjut usia. Lanjut usia cenderung dipandang
masyarakat tidak lebih dari sekelompok orang yang sakit-sakitan. Persepsi ini muncul
karena mamandang lanjut usia hanya dari kasus lanjut usia yang sangat ketergantungan
dan sakit-sakitan. Persepsi negatif seperti itu tentu saja tidak semuanya benar. Banyak
pula lanjut usia yang justru berperan aktif, tidak saja dalam keluarganya, tetapi juga dalam
masyarakat sekitarnya. Oleh karena itu, lanjut usia harus dipandang sebagai individu yang
memiliki kebutuhan intelektual, emosional, dan spiritual selain kebutuhan yang bersifat
biologis. Kurangnya perhatian yang memadai terhadap populasi lanjut usia ini
menciptakan ruang kosong, yang kemudian diisi oleh dunia kedokteran atau medis
(Nugroho,2008).
Menurut Sudiarto Kusumoputro (2002) bahwa setelah seseorang memasuki
masa lansia, maka dukungan sosial dari orang lain menjadi sangat berharga dan akan
menambah ketentraman hidupnya. Namun demikian dengan adanya dukungan sosial
tidaklah berarti bahwa setelah memasuki masa lansia seseorang hanya tinggal duduk,
diam, tenang dan berdiam diri saja. Untuk menjaga kesehatan baik fisik maupun
kejiwaannya lansia justru harus tetap melakukan aktivitas-aktivitas yang berguna bagi
kehidupannya. Lansia tidak boleh duduk diam, enak dan semua dilayani oleh orang
lain. Hal ini justru akan mendatangkan berbagai penyakit dan penderitaan, sehingga
bisa menyebabkan para lansia tersebut cepat meninggal (Azizah, 2011).
Dukungan sosial didefinisikan oleh Gottlied (1983) dalam Fatimah (2010),
sebagai informasi verbal atau non verbal, saran, bantuan yang nyata atau tingkah
lakuyang diberikan oleh orang yang akrab dengan subjek di dalam lingkungan
sosialnya atau berupa kehadiran dan hal-hal yang dapat memberikan keuntungan
emosional atau berpengaruh pada tingkah laku penerimanya.
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat. Masalah kesehatan anggota
keluarga saling terkait dengan berbagai masalah anggota keluarga yang lainnya, jika
ada satu anggota keluarga yang bermasalah kesehatannya pasti akan mempengaruhi
pelaksanaan dari fungsi-fungsi keluarga tersebut. Dukungan dari keluarga merupakan
unsur terpenting dalam membantu individu menyelesaikan masalah. Dukungan
keluarga akan menambah rasa percaya diri dan motivasi untuk menghadapi masalah
dan meningkatkan kepuasan hidup. Meningkatnya jumlah lansia menimbulkan
masalah terutama dari segi kesehatan dan kesejahteraan lansia. Sampai saat ini
keluarga masih merupakan tempat berlindung yang paling disukai para lansia
(Suprajitno, 2004). Dukungan keluarga yang diharapkan dapat mencegah lansia
mengalami gangguan nutrisi, baik gizi kurang maupun gizi lebih. Keluarga adalah yang
paling dekat dengan lansia dan keluarga yang diharapkan akan dapat memberikan
dukungan pada lansia berhubungan dengan perubahan fisiologis dan psikologis yang
dialaminya, karena setidaknya 80% lansia membutuhkan dukungan dari keluarga (Schmall
&Pratt, 1993 dalam Lueckenotte, 1996).
Menurut Caplan (1976) keluarga dapat memberikan empat macam dukungan, yaitu
1) Dukungan emosional( Emotional support ), keluarga mendengarkan keluhan lanjut usia
danmemberikan saran pemecahan masalah, 2) Dukungan instrumental( Instrumental sup
port), dalam hal ini keluarga memberikan bantuan
yang baik terhadap lansia berupa keuangan (financial), membantu pekerjaanrumah tangga
dalam mempersiapkan makanan dan menyediakantransportasi untuk membeli kebutuhan
makanan lansia 3) Dukunganinformasional ( Informational support ), yaitu keluarga
berfungsi sebagai pencari informasi tetang kebutuhan nutrisi untuk lansia, memberikan
kebutuhan kesehatan keluarga, 4) Dukungan penghargaan ( Appraisal support), keluarga
bertindak dalam memberikan umpan balik dalam mengevalusi diri anggota keluarga.
Keluarga merupakan support system utama bagi lansia dalam mempertahankan
kesehatannya. Peranan keluarga dalam perawatan lansia antara lain menjaga atau
merawat lansia, mempertahankan dan meningkatkan status mental, mengantisipasi
perubahan sosial ekonomi, serta memberikan motivasi dan fasilitasi kebutuhan lansia
(Maryam, 2008). Berdasarkan hal diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
guna mengetahui gambaran dukungan keluarga terhadap lanjut usia pada keluarga
binaan kecamatan kresek.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran dan Terjemahan, 2001. (Madinah : Lembaga Percetakan Al-Quran Raja


Fadh, 1418
Azizah M L. 2011. Keperawatan Lanjut Usia. Edisi pertama. Graha ilmu: Jogjakarta
Baron, R. A dan Donn Byrne. 2003. Psikologi Sosial. Erlangga: Jakarta
Cohen, S., Syme, S.L. 1985. Social Support and Health. Orlando : Academic Press
Darmojo RB., Mariono, HH. 2004. Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut). Edisi ke-3. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.
Dewi, S. Y. 2007. Faktor Risiko yang Berperan Terhadap Terjadinya Depresi Pada Pasien Geriatri
yang Dirawat Di RS. Dr. Cipto Mangunkusumo. Cermin Dunia Kedokteran Vol. 34 no. 3.
Jakarta :Grup. PT. Kalbe Farma. Pp. 117-123.
Gottliet B.H, 2004. Stategi Dukungan Sosial. Penerbit PT. Bumi Aksara: Jakarta.
Hamka. 2000. Tafsir Al-Azhar. Jakarta : Pustaka Panjimas.
Hayati, Sari. 2010. Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Kesepian pada
Lansia.http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/14512/1/10E007pdf. Diakses pada
26 Mei 2018
Indrawati, E.S., Saputri, M.A.W. 2011. Hubungan Antara Dukungan Sosial Dengan Depresi Pada
Lanjut Usia Yang Tinggal Di Panti Wreda Wening Wardoyo Jawa Tengah. Journal. Fakultas
Psikologi Universitas Diponegoro
Kuntjoro, S Zainuddin. 2002. Masalah kesehatan jiwa lansia . (online)
(http://www.epsikologi.com/epsi/lanjutusia_detail.asp?id=182. Diakses pada 26 Mei 2018
Murwani, A. Priyantari, W. 2010. Gerontik Konsep Dasar dan Asuhan Keperawatan Home Care
Dan Komunitas. Fitramaya : Jogjakarta
Nugroho, Wahyudi. 2008. Oldkesra. Lansia Masa Kini dan Mendatang. http:// oldkesra.
menkokesra. go. id/content/view/2933/333/. Diakses pada 26 Mei 2018
Santrock, J.W. 2006. Perkembangan Masa Hidup : Edisi kelima (terjemahan Juda Damaniti &
Achmad Chusairi). Jakarta : UI press