Anda di halaman 1dari 21

referat

GLAUKOMA KHRONIS

Oleh :
Muhammad Delfin
1310070100048

Preseptor :
dr.Mayasari Nasrul, Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BAITURRAHMAH


KEPANITERAAN KLINIK DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT MATA

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SOLOK


2018
Kata Pengantar

Dengan mengucapakan puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah
memberikan kesehatan dan kesempatan sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ilmiah ini setelah dievaluasi oleh pembimbing tepat pada waktunya.
Shalawat beserta salam juga kami tuturkan kepada junjungan besar Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari zaman jahiliyah menuju
zaman yang penuh dengan ilmu pengetahuan bagi umat yang bertaqwa kepada-Nya.
Referat yang berjudul “GLAUKOMA KHRONIS” ini dibuat sebagai wadah
untuk menambah wawasan mengenai Penyakit Glaukoma Khronis serta
penatalaksanaan terhadap gejala yang ditimbulkannya. Penulis amat sadar karena
keterbatasan yang kami miliki saat menulis makalah ini.
Penulis berterimakasih sekali kepada pembimbing terbaik kami Ibu dr.
Mayasari Nasrul, Sp.M, yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk simpatik,
telaten, sabar dan penuh bijaksana sehingga referat ini menjadi baik dan terarah
dalam pengerjaannya.
Kami sangat menyadari makalah ini pasti tidak luput dari kesalahan-
kesalahan, baik dalam bahasa maupun tataletak. Pada kesempatan ini kami sebagai
penulis memohon maaf kepada para pembaca. Masukan, kritik dan saran akan kami
jadikan cambuk supaya kami dapat menyusun makalah ilmiah yang lebih baik lagi.
Insya Allah.

Solok, Februari 2018

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................. i

KATA PENGANTAR ..........................................................................................ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................vi

BAB I: PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ................................................................................................1

1.2 Tujuan Penulisan .............................................................................................3

1.3 Rumusan masalah............................................................................................3

1.4 Metode Penulisan ............................................................................................3

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Retina ...............................................................................................

2.2 Fisiolog Retina ................................................................................................

2.2 Definisi Ablasio retina ....................................................................................7

2.3 Epidemiologi ...................................................................................................13

2.4 Klasifikasi berdasarkan etiopatogenesis .........................................................19

2.5 Diagnosis .........................................................................................................

2.6 Tatalaksana......................................................................................................

2.7 Prognosis .........................................................................................................

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ....................................................................................................22

3.2 Saran ................................................................................................................


DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................23
BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Glaukoma berasal dari bahasa Yunani glaukos yang berarti hijau kebiruan,
yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita glaukoma. Kelainan
mata glaukoma ditandai dengan meningkatnya tekanan bola mata, atrofi papil saraf
optik, dan berkurangnya lapangan pandang.1
Penyakit yang ditandai dengan peninggian tekanan intraokular ini disebabkan
oleh bertambahnya produksi cairan mata oleh badan siliar dan berkurangnya
pengeluaran cairan mata di daerah sudut bilik mata atau di celah pupil. Pada
glaukoma akan terdapat melemahnya fungsi mata dengan terjadinya cacat lapangan
pandang dan kerusakan anatomi berupa ekskavasi serta degenerasi papil saraf optik,
yang dapat berakhir dengan kebutaan.1
Beberapa klasifikasi glaukoma berdasarkan American Academy of
Ophthalmology adalah sebagai berikut: glaukoma sudut terbuka, glaukoma sudut
tertutup dan childhood glaucoma.2
Hampir 60 juta orang terkena glaukoma. Diperkirakan 3 juta penduduk
Amerika Serikat terkena glaukoma, dan di antara kasus-kasus tersebut, sekitar 50%
tidak terdiagnosis. Sekitar 6 juta orang mengalami kebutaan akibat glaucoma,
termasuk 100.000 penduduk Amerika, menjadikan penyakit ini sebagai penyebab
utama kebutaan yang dapat dicegah di Amerika Serikat. Ras kulit hitam memiliki
risiko yang lebih besar mengalami onset dini, keterlambatan diagnosis, dan
penurunan penglihata yang berat dibadingkan ras kulit putih. Glaukoma sudut
tertutup didapatkan pada 10-15% kasus ras kulit putih. Glaukoma sudut tertutup
primer berperan pada lebih dari 90% kebutaan bilateral akibat glaukoma di China.3

1.2. Batasan masalah


Pembahasan referat ini dibatasi pada anatomi corpus siliaris, fisiologi cairan
aquous, Definisi glaukoma kronis, klasifikasi, diagnosis, penatalaksanaan dan
prognosis glaucoma kronis.
1.1.Tujuan penulisan
Referat ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan memahami tentang
glaucoma kronis.
1.4 Metode penulisan
Referat ini merupakan tinjauan kepustakaan yang merujuk kepada berbagai
literatur.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. ANATOMI KORPUS SILIARIS


Korpus siliaris yang secara kasar berbentuk segitiga pada potongan
melintang, menjembatani segmen anterior dan posterior. Membentang ke depan
dari ujung anterior koroid ke pangkal iris (sekitar 6 mm). Korpus siliaris terdiri dari
suatu zona anterior yang berombak-ombak (pars plikata) dan zona posterior yang
datar (pars plana). Korpus siliaris memiliki dua fungsi penting; membentuk humor
akuos dan akomodasi lensa. Processus siliaris berasal dari pars plikata. Processus
siliaris ini terutama terbentuk dari kapiler-kapiler dan vena yang bermuara ke vena-
vena vorteks. Ada dua lapisan epitel siliaris yaitu satu lapisan epitel tanpa pigmen
disebelah dalam, yang merupakan perluasan dari neuroretina ke anterior dan lapisan

berpigmen disebelah luar, yang merupakan perluasan dari lapisan epitel pigmen
retina. Muskulus siliaris memiliki tiga lapisan fiber; longitudinal, radial, sirkular. 4,
5

Gambar 1. Anatomi korpus siliaris, sudut iridokorneal dan trabekula Meshwork


(dikutip dari kepustakaan 4)
Gambar 2. Anatomi bilik mata depan, kanalis Schlemm dan trabekula Meshwork
(dikutip dari kepustakaan 5).
2.2.FISIOLOGI HUMOR AQUOS
2.3.DEFINISI
Glaukoma adalah suatu penyakit dimana gambaran klinik yang lengkap
ditandaioleh peninggian tekanan intraokular, penggaungan dan degenerasi papil
saraf optik serta dapat menimbulkan skotoma ( kehilangn lapangan pandang).6
Tekanan intraokular ditentukan oleh kecepatan pembentukan humor akueus
dan tahanan terhadap aliran keluarnya dari mata. Tekanan intraokular dianggap
normal bila kurang dari 20 mmHg pada pemeriksaan dengan tonometer aplanasi
yang dinyatakan dengan tekanan air raksa.6
Glaukoma sudut terbuka adalah glaukoma yang penyebabnya tidak
ditemukan dan ditandai dengan sudut bilik mata depan yang terbuka. Glaukoma
sudut terbuka ini diagnosisnya dibuat bila ditemukan glaukoma pada kedua mata
pada pemeriksaan pertama, tanpa ditemukan kelainan yang dapat merupakan
penyebab.1,6..
PATOFISIOLOGI
Cairan aqueus diproduksi dari korpus siliaris,
kemudian mengalir melalui pupil ke kamera okuli
posterior (COP) sekitar lensa menuju kamera okuli
anterior (COA) melalui pupil. Cairan aqueus keluar dari
COA melalui jalinan trabekula menuju kanal
Schlemm’s dan disalurkan ke dalam sistem vena6.
Gambar dari aliran normal cairan aqueus dapat dilihat
pada gambar 1.

Gambar 1. Aliran
normal humor
aqueus7 (dikutip dari
kepustakaan 7)

Beberapa mekanisme peningkatan tekanan intraokuler8:


a. Korpus siliaris memproduksi terlalu banyak
cairan bilik mata, sedangkan pengeluaran pada
jalinan trabekular normal
b. Hambatan pengaliran pada pupil sewaktu
pengaliran cairan bilik mata belakang ke bilik
mata depan
c. Pengeluaran di sudut bilik mata terganggu.
Glaukoma sudut terbuka ditandai dengan sudut
bilik mata depan yang terbuka, dan kemampuan jalinan
trabekula untuk mengalirkan cairan aqueus menurun
(gambar 2A).

Gambar 2. (A) Aliran humor aqueus pada glaukoma


sudut terbuka
(dikutip dari kepustaaan 7)

Mekanisme utama kehilangan penglihatan pada


glaukoma adalah apoptosis sel ganglion retina. Optik
disk menjadi atropi, dengan pembesaran cup optik.
Efek dari peningkatan tekanan intraokuler dipengaruhi
oleh waktu dan besarnya peningkatan tekanan tersebut.
Pada glaukoma akut sudut tertutup, Tekanan Intra
Okuler (TIO) mencapai 60-80 mmHg, mengakibatkan
iskemik iris, dan timbulnya edem kornea serta
kerusakan saraf optik. Pada glaukoma primer sudut
terbuka, TIO biasanya tidak mencapai di atas 30 mmHg
dan kerusakan sel ganglion retina berlangsung perlahan,
biasanya dalam beberapa tahun6.
VI. DIAGNOSIS
Diagnosis glaukoma sudut terbuka primer ditegakkan apabila ditemukan
kelainan-kelainan glaukomatosa pada diskus optikus dan lapangan pandang disertai

peningkatan TIO, sudut kamera anterior terbuka dan tampak normal, dan tidak
terdapat faktor penyebab yang dapat meningkatkan tekanan intraokuler.1 Penegakan
diagnosis dapat dilakukan dengan cara.8
1. Mengukur peningkatan TIO dengan menggunakan tonometri Schiotz, Aplanasi
goldman, dan NCT.

Gambar 6. Tonometer di tempatkan pada mata yang sebelumnya ditetesi pantokain.


Gambarkan disebelah kanan memperlihatkan kontak langsung antara tonometer
dengan kornea (dikutip dari kepustakaan 8).
2. Gonioskopi. Sudut pada kamera anterior terbuka seperti pada orang yang tidak
menderita glaukoma.

Gambar 7. Gambaran hasil pemeriksaan gonioskopi. Pada glaukoma sudut terbuka


hasil gonioskopi seperti pada orang normal (dikutip dari kepustakaan 8).
Gambar 8. Sistem Shaffer untuk grading dari glaucoma
(dikutip dari kepustakaan 6).

Gambar 9. A. Tampilan hasil Gonioskopi B. konfigurasi sudut pada bilik


mata depan (dikutip dari kepustakaan 6).
3. Funduskopi. Pemeriksaan untuk melihat papil nervus optikus, untuk melihat
adanya cupping dan atropi papil glaukomatosa.

Gambar 10. A. Batas diskus optikus menjadi tegas dan lebih pucat disertai
pelebaran dari cup nervus optikus (tanda dari suatu atrofi papil) B. Pembuluh darah
menjorok kedalam cup (bayonet shaped kink)
(dikutip dari kepustakaan 8).
4. Perimetri. Untuk melihat adanya defek lapangan pandang

Gambar 11. Early glaukoma. Mata panah menunjukkan adanya defek lapangan
pandang. (dikutip dari kepustakaan 8)
6. Guyton AC, Hall JE. Fluid System of the Eye. In: Textbook of Medical
Physiology. 11th Ed. Pennyslvania: Elsevier Inc; 2006. p 623-25.
8. Lang GK. Glaukoma. In : Ophtalmology : A Pocket Textbook Atlasy.
Germany : Georg Thieme Verlag; 2007. p 239-71.
Tatalaksana
Operasi
Apabila terapi dengan medikamentosa tidak berhasil, maka perlu dilakukan
operasi untuk menurunkan tekanan bola mata. Indikasi operasi pada kasus
glaukoma primer sudut terbuka adalah12:
- Tekanan bola mata tidak dapat dipertahankan < 22 mmHg
- Lapang pandangan terus mengecil
- Pasien tidak dapat dipercaya tentang pemakaian obatnya
- Tidak mampu membeli obat
- Tidak tersedia obat yang diperlukan

Trabekulektomi merupakan prosedur yang sering dilakukan pada glaukoma


sudut terbuka. Operasi ini bertujuan untuk membuat bypass yang
menghubungkan bilik mata depan dengan jaringan subkonjungtiva dan orbita.
Secara garis besar trabekulektomi dilakukan dengan cara sebagai berikut13:
- Pre-operasi: Pasien diberikan obat anti glaukoma baik secara topikal
maupun oral sampai mencapai batas tekanan intraokular yang ditentukan.
Tekanan bola mata yang tinggi dapat meningkatkan risiko perdarahan
suprakoroid. Selain itu, pasien juga diberikan obat anti-inflamasi beberapa
hari sebelum operasi, hal ini disebabkan karena pembentuk jaringan parut
pasca-operasi dapat menyebabkan kegagalan trabekulektomi. Kemudian,
pasien juga diberikan pilokarpin topikal sebagai miotikum.
- Intra-operasi: Mula-mula dilakukan fiksasi bola mata dengan traksi
muskulus rektus superior. Kemudian dibuat flap konjungtiva sekitar 8-
10mm dari limbus kornea di daerah nasal atas. Selanjutnya dilakukan
diseksi flap sklera ukuran kurang lebih 2-3mm secara radial dengan lebar 3-
4mm. Diseksi dibuat kurang lebih setengah tebal sklera kemudian
dilanjutkan ke kornea sesuai lokasi trabekula. Setelah itu dilakukan
trabekulektomi kurang lebih sebesar dua kali dua mm yang diikuti dengan
iridektomi perifer. Setelah selesai, flap sklera dan flap konjungtiva dijahit
kembali dengan benang nylon 10-0. Jika cairan akuos mengalir melalui flap
sklera, maka akan terbentuk bleb pada saat penutupan konjungtiva.
- Pasca-operasi: Setelah operasi, semua obat untuk menurunkan tekanan
intraokular dihentikan. Pasien diberikan antibiotik dan kortikosteroid
topikal. Kontrol pasien pasca operasi meliputi pemeriksaan keadaan bleb,
keadaan bilik mata depan, dan tekanan intraokular.

Selain trabekulektomi dikenal juga sebuah tindakan yang lebih non-invasif


yaitu laser trabeculoplasty. Tiga puluh sampai enam puluh menit sebelum
tindakan, pasien diberi pilokarpin 1-2% untuk mengecilkan pupil. Selanjutnya
diberikan satu tetes apralclonidine untuk mencegah terjadi kenaikan tekanan
bola mata setelah operasi. Setelah itu sinar laser ditembakkan ke jalinan
trabekula sehingga dapat memperbaiki aliran keluar cairan akuos.14
14. Guzman MH. Trabeculectomy. 2014. [cited 05 March 14] Available
from: http://emedicine.medscape.com/article/1844332-
overview#a15
Gambar 4. A dan B. diskus
optikus normal. C dan
D Early

glaukomatous changes. (dikutip dari kepustakaan 6).

a. Advanced glaukomatous changes ditandai dengan :


 Ekskavasi dari cup sampai ke diskus saraf optik dengan CDR : 0,7 –
0.9
 Penipisan jaringan neuroretinal.
 Adanya pergeseran ke nasal dari pembuluh darah retina.
 Pulsasi dari arteriol retina mungkin tampak saat TIO sangat tinggi dan
patognomonik untuk glaukoma.
 Lamellar dot sign
Gambar 5. A dan B. Advanced glaukomatous change.s C dan D. Atrofi
optik glaukomatous. (dikutip dari kepustakaan 6).

2. Atrofi optik glaukomatous. Sebagai akibat progresif dari glaukoma dimana


semua jaringan retina pada diskus mengalami kerusakan dan papil saraf optik
terlihat putih/pucat. Factor mekanik dan vascular memegang peranan penting
terhadap terjadinya cupping dari diskus saraf optik. Efek mekanik dari
peningkatan TIO menyebabkan penekanan terhadap nervus optikus pada lamina
kribrosa sehingga mengganggu aliran aksoplasmik dari nervus optikus. Selain
itu peningkatan TIO menyebabkan penekanan pada pembuluh darah di retina
sehingga terjadi iskemik pada retina.
3. Defek lapangan pandang

VII. DIAGNOSIS
Diagnosis glaukoma sudut terbuka primer ditegakkan apabila ditemukan
kelainan-kelainan glaukomatosa pada diskus optikus dan lapangan pandang disertai
peningkatan TIO, sudut kamera anterior terbuka dan tampak normal, dan tidak
terdapat faktor penyebab yang dapat meningkatkan tekanan intraokuler.1 Penegakan
diagnosis dapat dilakukan dengan cara.8
1. Mengukur peningkatan TIO dengan menggunakan tonometri Schiotz, Aplanasi
goldman, dan NCT.

Gambar 6. Tonometer di tempatkan pada mata yang sebelumnya ditetesi pantokain.


Gambarkan disebelah kanan memperlihatkan kontak langsung antara tonometer
dengan kornea (dikutip dari kepustakaan 8).

2. Gonioskopi. Sudut pada kamera anterior terbuka seperti pada orang yang tidak
menderita glaukoma.

Gambar 7. Gambaran hasil pemeriksaan gonioskopi. Pada glaukoma sudut terbuka


hasil gonioskopi seperti pada orang normal (dikutip dari kepustakaan 8).
Gambar 8. Sistem Shaffer untuk grading dari glaucoma
(dikutip dari kepustakaan 6).

Gambar 9. A. Tampilan hasil Gonioskopi B. konfigurasi sudut pada bilik


mata depan (dikutip dari kepustakaan 6).

3. Funduskopi. Pemeriksaan untuk melihat papil nervus optikus, untuk melihat


adanya cupping dan atropi papil glaukomatosa.

Gambar 10. A. Batas diskus optikus menjadi tegas dan lebih pucat disertai
pelebaran dari cup nervus optikus (tanda dari suatu atrofi papil) B. Pembuluh darah
menjorok kedalam cup (bayonet shaped kink)
(dikutip dari kepustakaan 8).
4. Perimetri. Untuk melihat adanya defek lapangan pandang
Gambar 11. Early glaukoma. Mata panah menunjukkan adanya defek lapangan
pandang. (dikutip dari kepustakaan 8).
4. Guyton AC, Hall JE. Fluid System of the Eye. In: Textbook of Medical
Physiology. 11th Ed. Pennyslvania: Elsevier Inc; 2006. p 623-25.
8.Lang GK. Glaukoma. In : Ophtalmology : A Pocket Textbook Atlasy.
Germany : Georg Thieme Verlag; 2007. p 239-71.
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Glaukoma. Dalam : Ilyas S, Editor. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 3.


Jakarta : Balai penerbit FKUI; 2008. Hal. 212-17.
2. The Eye M.D. Association. Glaucoma. In: Basic and Clinical Science Course
American Academy of Ophthalmology. Section 10. Singapore : LEO; 2008.
3. Vaughan D, Eva PR. Glaukoma. Dalam : Suyono YJ, Editor. Oftalmologi
Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya Medika; 2000. Hal. 220-39.
4. Vaughan D, Eva PR. Glaukoma. Dalam : Suyono YJ, Editor. Oftalmologi
Umum. Edisi 14. Jakarta: Widya Medika; 2000. Hal. 220-39.
5. The Eye M.D. Association. Fundamentals and Principles of ophthalmology. In:
Basic and Clinical Science Course American Academy of Ophthalmology.
Section 2. Singapore : LEO; 2008.
6. Yulia, glaucoma, diunduh dari http://fkuii.org/tiki-index.php?=Glaukoma2,
dipublikasikan 3 Desember 2006.