Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN (LP)

BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR)

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bayi lahir dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu
factor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada
masa perinatal. Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan
mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya, sehingga membutahkan
biaya perawatan yang tinggi.
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah salah satu hasil dari ibu hamil yang
menderita energy kronis dan akan mempunyai status gizi buruk. BBLR berkaitan
dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga dapat berdampak serius
pada kualitas generasi mendatang, yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan
perkambangan anak, serta berpengaruh pada penurunan kecerdasan.
Salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat adalah
angka kematian bayi (AKB). Angka kematian bayi di Indonesia saat ini masih
tergolong tinggi, maka kematian bayi di Indonesia tercatat 510 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2003. Ini memang bukan gambaran yang indah
karena masih tergolong tinggi bila di bandingkan dengan Negara-negara di
ASEAN. Penyebab kematian bayi terbanyak karena kelahiran bayi berat lahir
rendah (BBLR), sementara itu prevalensi BBLR pada saat ini diperkirakan 7-
14% yaitu sekitar 459.200-900.000 bayi (Depkes RI 2005)
Menurut perkiraan WHO, pada tahun 1995 hampir semua 98% dari 5 juta
kematian neonatal di Negara berkembang atau berpenghasilan rendah. Lebih dari
2/3 kematian adalah BBLR yaitu berat badan kurang dari 2500 gram. Secara
global diperkirakan terdapat 25 juta persalinan per tahun dimana 17%
diantaranya adalah BBLR dan hampir semua terjadi di Negara berkembang.

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

A. DEFINISI
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya
saat lahir kurang dari 2500 gram sampai dengan 2499 gram (Prawirohardjo,
2006)

Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) merupakan bayi (neonatus) yang lahir
dengan memiliki berat badan kurang dari 2500 gram atau sampai dengan 2499
gram. Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya bayi berat lahir
rendah dibedakan dalam, bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 2500-1500
gram, bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir < 1500 gram, bayi
berat lahir ekterm rendah (BBLER), berat lahir <1000 gram (Hidayat, 2009).

World Health Organization (WHO) pada tahun 1961 menyatakan bahwa


semua bayi baru lahir yang berat badannya kurang atau sama dengan 2500 gram
disebut low birth weight infant (bayi berat badan lahir rendah/BBLR), karena
morbiditas dan mortalitas neonatus tidak hanya bergantung pada berat badannya
tetapi juga pada tingkat kematangan (maturitas) bayi tersebut. Definisi WHO
tersebut dapat disimpulkan secara ringkas bahwa bayi berat badan lahir rendah
adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang atau sama dengan 2500 gram.
Klasifikasi BBLR :
a. Berdasarkan BB lahir
1.BBLR : BB < 2500gr
2.BBLSR : BB 1000-1500gr
3.BBLASR : BB <1000 gr

b. Berdasarkan umur kehamilan


1. Prematur
Adalah bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan
mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau
disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa Kehamilan ( NKB- SMK).
2. Dismaturitas.
Adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk
masa kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam preterm, term, dan post
term. Dismatur ini dapat juga Neonatus Kurang Bulan – Kecil untuk Masa
Kehamilan (NKB- KMK), Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan (
NCB-KMK ), Neonatus Lebih Bulan-Kecil Masa Kehamilan (NLB- KMK).

3
B. ETIOLOGI
Bayi dengan berat badan lahir rendah adalah salah satu hasil dari ibu hamil
yang menderita kurang energi kronis dan akan mempunyai status gizi buruk.
BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian, bayi dan balita, juga dapat
berdampak serius terhadap kualitas generasi mendatang yaitu akan
memperlambat pertumbuhan dan perkembangan mental anak, serta berpengaruh
pada penurunan kecerdasan (Evariny, 2005).
Faktor yang terjadi pada bayi dengan Berat Lahir Rendah (BBLR) terutama
yang prematur terjadi karena ketidakmatangan sistem organ pada bayi tersebut,
Masalah pada BBLR yang sering terjadi adalah gangguan pada sistem
pernapasan, Susunan saraf pusat, Kardiovaskular, Gastrointestinal, Ginjal.
Hingga saat ini, Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) masih
merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada bayi baru lahir (Maryunani,
2009).
Penyebab bayi dengan berat badan lahir rendah yang lahir kurang bulan
antara lain disebabkan oleh berat badan ibu yang rendah, ibu hamil yang masih
remaja, kehamilan kembar, ibu pernah melahirkan bayi prematur atau berat badan
rendah sebelumnya, ibu hamil yang sedang sakit, ibu dengan inkopenten
serviks/mulut rahim yang lemah sehingga tidak mampu menahan berat bayi
dalam rahim (Maryunani, 2009).
Dengan pengertian diatas maka Bayi Dengan Berat Badan Lahir rendah
dapat dibagi menjadi 2 golongan : yaitu Prematuritas dan Dismaturis.
Prematuritas murni adalah bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37
minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa
kehamilan, atau disebut neonatus kurang bulan sesuai masa kehamilan
(Djitowiyono, 2010).
Bila Bayi Berat badan Lahir Rendah ini dapat mengatasi problematik yang
dideritanya, maka perlu diamati selanjutnya oleh karena kemungkinan bayi ini
akan mengalami gangguan pendengaran, penglihatan, fungsi motor susunan saraf
pusat,dan penyakit-penyakit seperti hidrosefalus, dan sebagainya (Sarwono,
2006)

Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran premature. Faktor


ibu yang lain adalah umur, parietas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti
penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta factor janin juga merupakan
penyebab terjadinya BBLR.
BBLR dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
1. Faktor Ibu
a. Penyakit:
1) Toksemia gravidarum

4
2) Perdarahan antepartum
3) Truma fisik dan psikologis
4) Nefritis akut
5) Diabetes mellitus

b. Usia Ibu
1) Usia <16 tahun
2) Usia >35 tahun
3) Multigravida yang jarak kelahirannya terlalu dekat
c. Keadaan social
1) Golongan social ekonomi rendah
2) Perkawinan yang tidak sah
d. Sebab lain
1) Ibu yang perokok
2) Ibu peminum alcohol
3) Ibu pecandu narkotik

2. Faktor janin
a. Hidramnion
b. Kehamilan ganda
c. Kelainan kromosom

3. Faktor lingkungan
a. Tempat tinggal dataran tinggi
b. Radiasi
c. Zat-zat racun.

C. Tanda – Tanda Klinis


1. Gambaran klinis BBLR secara umum adalah :
a. Berat kurang dari 2500 gram
1. Panjang kurang dari 45 cm
2. Lingkar dada kurang dari 30 cm
3. Lingkar kepala kurang dari 33 cm
4. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
5. Kepala lebih besar
6. Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang
7. Otot hipotonik lemah
8. Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea
9. Eksremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi-lurus
10. Kepala tidak mampu tegak

5
11. Pernapasan 40 – 50 kali / menit
12. Nadi 100 – 140 kali / menit

b. Gambaran klinis BBLR secara khusus :


1. Tanda-tanda Bayi Prematur
1) BB kurang dari 2500 gr, PB kurang dari 45 cm, lingkar kepala kurang
dari 33 cm, lingkar dada kurang 30 cm.
2) Umur kehamilan kurang dari 37 mg.
3) Kepala relatif lebih besar dari pada badannya.
4) Rambut tipis dan halus, ubun-ubun dan sutura lebar.
5) Kepala mengarah ke satu sisi.
6) Kulit tipis dan transparan, lanugo banyak, lemak subkutan kurang,
sering tampak peristaltik usus.
7) Tulang rawan dan daun telinga imatur.
8) Puting susu belum terbentuk dengan baik.
9) Pergerakan kurang dan lemah.
10) Reflek menghisap dan menelan belum sempurna.
11) Tangisnya lemah dan jarang, pernafasan masih belum teratur.

2. Tanda-tanda pada Bayi Dismatur


1. Preterm sama dengan bayi premature
2. Term dan post term :
a. Kulit pucat atau bernoda, keriput tipis.
b. Vernik caseosa sedikit/kurang atau tidak ada.
c. Jaringan lemak di bawah kulit sedikit.
d. Pergerakan gesit, aktif dan kuat.
e. Tali pusat kuning kehijauan.
f. Mekonium kering.
g. Luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibandingkan BB.

D. Faktor Risiko
Beberapa Faktor risiko pada Berat Badan Lahir Rendah BBLR adalah dapat
terjadi hipotermia, hipoglikemia, paru-paru belum berkembang, gangguan
pencernaan, mudah terkena infeksi, anemia, perdarahan otak, gangguan jantung.
Bayi dengan BBLR mempunyai sistem kekebalan tubuh yang terbatas, seringkali
memungkinkan bayi tersebut lebih rentan terhadap infeksi dari pada bayi cukup
bulan. Pada bayi BBLR mempunyai masalah pada sistem perkemihannya,
dimana ginjal bayi tersebut belum matang maka tidak mampu untuk mengelola
air, elektrolit dan asam basa, tidak mampu mengeluarkan hasil metabolisme dan

6
obat-obatan dengan memadai serta tidak mampu memekatkan urin. Bayi yang
BBLR mempunyai struktur kulit yang sangat tipis dan transparan sehingga
mudah terjadi gangguan integritas kulit. Bagi orang tua respon yang terjadi yang
mempunyai BBLR umumnya akan mengalami perasaan sedih, khawatir, cemas,
takut karena memikirkan keadaan bayinya (Maryunani, 2009).

E. Faktor Penyebab
1. Usia Kehamilan
Kehamilan remaja atau <20 tahun memiliki kemungkinan anemia, dan
berisiko lebih tinggi memiliki janin yang pertumbuhannya terhambat, persalinan
prematur, dan angka kematian bayi yang lebih tinggi (Cunningham, 2006).
Kehamilan setelah 35 tahun berisiko lebih tinggi mengalami penyulit obstetri
serta morbilitas dan mortalitas perinatal (Cunningham, 2006).

2. Paritas
Paritas adalah jumlah kehamilan yang mencapai usia viabilitas, bukan jumlah
janin yang dilahirkan. Paritas tidak lebih besar apabila bayi kembar
(Cuninningham, 2006).
Primipara adalah seorang wanita yang pernah sekali melahirkan janin. Sedangkan
Multipara adalah seorang wanita yang pernah 2 kali hamil atau lebih sampai usia
viabilitas (Cunningham, 2009).
Paritas merupakan faktor yang signifikan terhadap kejadian BBLR sehingga
ibu dengan paritas lebih dari 3 anak berisiko 2,4 kali untuk melahirkan bayi
dengan BBLR hal ini disebabkan keadaan rahim biasanya sudah lemah
(Joeharno, 2008).

F. Komplikasi pada BBLR


Komplikasi yang dapat terjadi pada bayi dengan berat badan lahir rendah,
terutama berhubungan dengan 4 proses adaptasi pada bayi baru lahir diantaranya:
1. Sistem Pernafasan: Sindrom aspirasi mekonium, asfiksia neonatorum,
sindrom distres respirasi, penyakit membran hialin
2. Sistem Kardiovaskuler: patent ductus arteriosus
3. Termoregulasi: Hipotermia
4. Hipoglikemia simtomatik

1. Pada prematur yaitu :


a. Sindrom gangguan pernapasan idiopatik disebut juga penyakit membran
hialin karena pada stadium terakhir akan terbentuk membran hialin yang melapisi
alveoulus paru.
b. Pneumonia Aspirasi

7
Disebabkan karena infeksi menelan dan batuk belum sempurna, sering ditemukan
pada bayi prematur.
c. Perdarahan intra ventikuler
Perdarahan spontan diventikel otot lateral biasanya disebabkan oleh karena
anoksia otot. Biasanya terjadi kesamaan dengan pembentukan membran hialin
pada paru. Kelainan ini biasanya ditemukan pada atopsi.
d. Hyperbilirubinemia
Bayi prematur lebih sering mengalami hyperbilirubinemia dibandingkan dengan
bayi cukup bulan. Hal ini disebabkan faktor kematangan hepar sehingga
konjungtiva bilirubium indirek menjadi bilirubium direk belum sempurna.
e. Masalah suhu tubuh
Masalah ini karena pusat pengeluaran nafas badan masih belum sempurna. Luas
badan bayi relatif besar sehingga penguapan bertambah. Otot bayi masih lemah,
lemak kulit kurang, sehingga cepat kehilangan panas badan. Kemampuan
metabolisme panas rendah, sehingga bayi BBLR perlu diperhatikan agar tidak
terlalu banyak kehilangan panas badan dan dapat dipertahankan sekitar (36,5 –
37,5 0C)

2. Pada bayi Dismatur


Pada umumnya maturitas fisiologik bayi ini sesuai dengan masa gestasinya
dan sedikit dipengaruhi oleh gangguan-gangguan pertumbuhan di dalam uterus.
Dengan kata lain, alat-alat dalam tubuhnya sudah berkembang lebih baik bila
dibandingkan dengan bayi dismatur dengan berat yang sama. Dengan demikian
bayi yang tidak dismatur lebih mudah hidup di luar kandungan. Walaupun
demikian harus waspada akan terjadinya beberapa komplikasi yang harus
ditangani dengan baik.
a. Aspirasi mekonium yang sering diikuti pneumotaritas Ini disebabkan stress
yang sering dialami bayi pada persalinan.
b. Usher (1970) melaporkan bahwa 50% bayi KMK mempunyai hemoglobin
yang tinggi yang mungkin disebabkan oleh hipoksia kronik di dalam uterus.
c. Hipoglikemia terutama bila pemberian minum terlambat agaknya
hipoglikemia ini disebabkan oleh berkurangnya cadangan glikogen hati dan
meningginya metabolisme bayi.
d. Keadaan lain yang mungkin terjadi ; asfiksia, perdarahan paru yang pasif,
hipotermia, cacat bawaan akibat kelainan kromosom (sindrom down's, turner dan
lain-lain) cacat bawaan oleh karena infeksi intrauterine dan sebagainya.
Adapun komplikasi pada BBLR jika bayi dismatur adalah, sebagai berikut :
1. Suhu tubuh yang tidak stabil.

8
2. Gangguan pernafasan yang sering menimbulkan penyakit berat pada
BBLR.
3. Gangguan alat pencernaan dan problema nutrisi.
4. Ginjal yang immature baik secara otomatis maupun fungsinya.
5. Perdarahan mudah terjadi karena pembuluh darah yang rapuh.
6. Gangguan immunologic.

G. PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
Pemberian vitamin K1:
a. Injeksi 1 mg IM sekali pemberian, atau
b.Per oral 2 mg sekali pemberian atau 1 mg 3 kali pemberian (saat lahir, umur
3-10 hari, dan umur 406 minggu)

2. Diatetik
Pemberian nutrisi yang adekuat
a. Apabila daya isap belum baik, bayi dicoba untuk menetek sedikit demi
sedikit
b. Apabila bayi belum bisa meneteki pemberian ASI diberikan melalui sendok
atau pipet
c. Apabila bayi belum ada reflek menghisap dan menelan harus dipasang siang
penduga/ sonde fooding
Bayi premature atau BBLR mempunyai masalah menyusui karena refleks
menghisapnya masih lemah. Untuk bayi demikian sebaiknya ASI dikeluarkan
dengan pompa atau diperas dan diberikan pada bayi dengan pipa lambung
atau pipet. Dengan memegang kepala dan menahan bawah dagu, bayi dapat
dilatih untuk menghisap sementara ASI yang telah dikeluarkan yang
diberikan dengan pipet atau selang kecil yang diberikan dengan pipet atau
selang kecil yang menempel pada putting. ASI merupakan pilihan utama:
a. Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup
dengan cara apapun, perhatikan cara pemberian ASI dan nilai kemampuan bayi
menghisap paling kurang sehari sekali.
b. Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20
g/hari selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.
Pemberian minum bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut berat badan lahir dan
keadaan bayi adalah sebagai berikut
a. Berat lahir 1750-2500 gram
1) Bayi sehat

9
a) Biarkan bayi menyusu pada ibu semau bayi. Ingat bahwa bayi kecil lebih
mudah merasa letih dan malas minum, anjurkan bayi menyusu lebih sering
(contoh; setiap 2 jam) bila perlu
b) Pantau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai
efektifitas menyusui. Apabila bayi kurang dapat menghisap tambahkan ASI
peras dengan menggunakan salah satu alternative cara pemberian minum.
2) Bayi sakit
a) Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan IV,
berikan minum seperti pada bayi sehat
b) Apabila bayi memerlukan cairan intravena:
1. Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
2. Mulai berikan minum per oral pada hari ke-2 segera setelah bayi stabil.
Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi menunjukkan tanda-
tanda siap untuk menyusu
c) Apabila masalah sakitnya menghalangi proses menyusui (contoh; gangguan
nafas, kejang), berikan ASI peras melalui pipa lambung:
1. Berikan cairan IV dan ASI menurut umur
2. Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; 3 jam sekali). Apabila bayi
telah mendapat minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar
berikan tambahan ASI setiap kali minum. Biarkan bayi menyusu apabila
keadaan bayi sudah stabil dan bayi menunjukkan keinginan untuk menyusu
dan dapat menyusu tanpa terbatuk atau tersedak.

b. Berat lahir 1500-1749 gram


1) Bayi sehat
a) Berikan ASI peras dengan cangkir/sendok. Bila jumlah yang
dibutuhkan tidak dapat diberikan menggunakancangkir/sendok atau ada
resiko terjadi aspirasi ke dalam paru (batuk atau tersedak), berikan minum
dengan pipa lambung. Lanjutkan dengan pemberian menggunakan
cangkir/sendok apabila bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak (ini
dapat berlangsung setelah 1-2 hari namun ada kalanya memakan waktu
lebih dari 1 minggu)
b) Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (missal setiap 3 jam). Apabila
bayi telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak
lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum.
c) Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
sendok/cangkir, coba untuk menyusui langsung.
2) Bayi sakit
a) Berikan cairan intravena hanya selama 24 jam pertama

10
b) Beri ASI peras dengan pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah
cairan IV secara perlahan.
c) Berikan minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; tiap 3 jam). Apabila bayi
telah mendapatkan minum 160/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum.
d) Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/sendok apabila
kondisi bayi sudah stabil dan bayi dapat menelan tanpa batuk atau tersedak
e) Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
cangkir/sendok, coba untuk menyusui langsung

c. Berat lahir 1250-1499 gram


1) Bayi sehat
a) Beri ASI peras melalui pipa lambung
b) Beri minum 8 kali dalam 24 jam (contoh; setiap 3 jam). Apabila bayi
telah mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak
lapar, beri tambahan ASI setiap kali minum
c) Lanjutkan pemberian minum mengguanakan cangkir/sendok
d) Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
cangkir/sendok, coba untuk menyusui langsung
2) Bayi sakit
a) Beri cairan intravena hanya selama 24 jam pertama
b) Beri ASI peras melalui pipa lambung mulai hari ke-2 dan kurangi jumlah
cairan intravena secara perlahan
c) Beri minum 8 kali dalam 24 jam (setiap 3 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160 ml/kgBB per hari tetapi masih tampak lapar, beri
tambahan ASI setiap kali minum
d) Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/sendok
e) Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
cangkir/sendok, coba untuk menyusui langsung
d. Berat lahir (tidak tergantung kondisi)
1) Berikan cairan intravena hanya selama 48 jam pertama
2) Berikan ASI melalui pipa lambung mulai pada hari ke-3 dan kurangi
pemberian cairan intravena secara perlahan
3) Berikan minum 12 kali dalam 24 jam (setiap 2 jam). Apabila bayi telah
mendapatkan minum 160 ml/kgBB perhari tetapi masih tampak lapar,
beri tambahan ASI setiap kali minum
4) Lanjutkan pemberian minum menggunakan cangkir/sendok
5) Apabila bayi telah mendapatkan minum baik menggunakan
cangkir/sendok, coba untuk menyusui langsung

11
3. Suportif
Hal utama yang dilakukan adalah mempertahankan suhu tubuh normal:
a. Membersihkan jalan napas
b. Memotong tali pusat dan perawatan tali pusat
c. Membersihkan badan bayi dengan kapas nany oil/minyak
d. Memberikan obat mata
e. Membungkus bayi dengan kain hangat
f. Pengkajian keadaan kesehatan pada bayi dengan berat badan lahir rendah
g. Mempertahankan suhu tubuh bayi dengan cara:
h. Membungkus bayi dengan menggunakan selimut bayi yang dihangatkan
terlebih dahulu
i. Menidurkan bayi di dalam incubator buatan yaitu dapat dibuat dari
keranjang yang pinggirnya diberi penghangat dari buli-buli panas atau botol yang
diisi air panas. Buli-buli panas atau botol-botol ini disimpan dalam keadaan
berdiri tutupnya ada disebelah atas agar tidak tumpah dan tidak mengakibatkan
luka bakar pada bayi. Buli-buli panas atau botol inipun harus dalam keadaan
terbungkus, dapat menggunakan handuk atau kain yang tebal. Bila air panasnya
sudah dingin ganti airnya dengan air panas kembali.
j. Suhu lingkungan bayi harus dijaga
1) Kamar dapat masuk sinar matahari
2) Jendela dan pintu dalam keadaan tertutup untuk mengurangi hilangnya
panas dari tubuh bayi melalui proses radiasi dan konveksi
k. Badan bayi harus dalam keadaan kering
l. Gunakan salah satu cara menghangatkandan mempertahankan suhu tubuh
bayi, seperti kontak kulit ke kulit, kangaroo mother care, pemancar panas,
incubator atau ruangan hangat yang tersedia di tempat fasilitas kesehatan
setempat sesuai petunjuk
m. Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin
n. Ukur suhu tubuh dengan berkala
o. Yang juga harus diperhatikan untuk penatalaksanaan suportif ini adalah:
1) Jaga dan pantau patensi jalan nafas
2) Pantau kecukupan nutrisi, cairan dan elektrolit
p. Bila terjadi penyulit, harus dikoreksi dengan segera (contoh; hipotermia,
kejang, gangguan nafas, hiperbilirubinemia)
q. Berikan dukungan emosional pada ibu dan anggota keluarga lainnya
r. Anjurkan ibu untuk tetap bersama bayi. Bila tidak memungkinkan, biarkan
ibu berkunjung setiap saat dan siapkan kamar untuk menyusui

12
H. PENCEGAHAN
Pada kasus bayi berat lahir rendah (BBLR) pencegahan/preventif adalah langkah
yang penting. Hal-hal yang dapat dilakukan:
1. Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama
kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang
diduga berisiko, terutama factor resiko yang yang mengarah melahirkan bayi
BBLR harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan
kesehatan yang lebih mampu
2. Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam
rahim, tanda-tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama
kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatnnya dan janin yang dikandung
dengan baik.
3. Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinannya pada kurun umur reproduksi
sehat (20-34 tahun)
4. Perlu dukungan sector lain yang terkait untuk turut berperan dalam
meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat
meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi
ibu selama hamil.

I. PERAWATAN
Perawatan yang dilakukan pada bayi BBLR meliputi :
1. Mempertahankan suhu tubuh optimal
2. Mempertahankan oksigenasi
3. Memenuhi kebutuhan nutrisi
4. Mencegah dan mengatasi infeksi
5. Mengatasi hiperbilirubinemia
6. Memenuhi kebutuhan psikologis
7. Melibatkan program imunisasi

13
ASUHAN KEPERAWATAN PADA BBLR

A. Pengkajian
I. Biodata
A. Identitas Klien
1. Nama/Nama panggilan : ……………………………………
2. Tempat tgl lahir/usia : ……………………………………
3. Jenis kelamin : ……………………………………
4. Agama : ……………………………………
5. Pendidikan : ……………………………………
6. Alamat : ……………………………………
7. Tgl masuk : ................................. (jam ............)
8. Tgl pengkajian : ……………………………………
9. Diagnosa medik : ……………………………………
10. Rencana terapi : ……………………………………

B. Identitas Orang tua


1. Ayah
a. Nama : ……………………………………
b. Usia : ……………………………………
c. Pendidikan : ……………………………………
d. Pekerjaan/sumber penghasilan : ………………………
e. Agama : ……………………………………
f. Alamat : ……………………………………

2. Ibu
a. Nama : ……………………………………
b. Usia : ……………………………………
c. Pendidikan : ……………………………………
d. Pekerjaan/Sumber penghasilan: ………………………
e. Agama : ……………………………………
f. Alamat : ……………………………………

2. Riwayat kesehatan masa sekarang


Bayi dengan berat badan < 2.500 gram
3. Riwayat kesehatan keluarga
a. Apakah anggota keluarga pernah mengalami sakit keturunan seperti
kelainan kardiovaskular
b. Apakah ibu pernah mengalami sakit kronis

c. Apakah ibu pernah mengalami gangguan pada kehamilan sebelumnya

14
d. Apakah ibu seorang perokok

e. Jarak kehamilan atau kelahiran terlalu dekat

4. Apgar skore
System penilaian ini untuk mengevaluasi status kardiopulmonal dan
persarafan bayi. Penilaian dilakukan 1 menit setelah lahir dengan penilaian 7-10
(baik), 4-6 (asfiksia ringan hingga sedang), dan 0-3 (asfiksia berat) dan diulang
setiap 5 meint hingga bayi dalam keadaan stabil.

Tanda 0 1 2
Frekwensi Tidak ada < 100 > 100
jantung
Usaha bernapas Tidak ada Lambat Menangis kuat

Tonus otot Lumpuh Ekstremitas fleksi Gerakan katif


sedikit
Refleks Tidak bereaksi Gerakan sedikit Reaksi melawan

Warna kulit Seluruh tubuh Tubuh kemeraha, Seluruh tubuh


biru atau pucat ekstremitas biru kemerahan

5. Pemeriksaan cairan amnion


Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai ada tidaknya kelainan pada cairan
amnion tentang jumlah volumenya, apabila volumenya > 2000 ml bayi
mengalami polihidramnion atau disebut hidramnion sedangkan apabila
jumlahnya < 500 ml maka bayi mengalami oligohidramnion
6. Pemeriksaan plasenta
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menentukan keadaan plasenta seperti adanya
pengapuran, nekrosis, beratnya dan jumlah korion. Pemeriksaan ini penting
dalam menentukan kembar identik atau tidak.
7. Pemeriksaan tali pusat
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai ada tidaknya kelainan dalam tali pusat
seperti adanya vena dan arteri, adanya tali simpul atau tidak.

15
8. Pengkajian fisik
a. Aktifitas/istirahat
Status sadar, bayi tampak semi koma saat tidur malam, meringis atau
tersenyum adalah bukti tidur dengan gerakan mata cepat (REM), tidur sehari
rata-rata 20 jam.
b. Sirkulasi
Nadi apikal mungkin cepat dan tidak teratur dalam batas normal (120 –
160 detik per menit). Murmur jantung yang dapat didengar dapat
menandakan duktus arterious (PDA)
c. Pernapasan
Mungkin dangkal, tidak teratur, dan pernapasan diafragmatik intermiten
atau periodik (40 – 60 kali/menit), Pernapsan cuping hidung, retraksi
suprasternal atau substernal, juga derajat sianosis yang mungkin ada. Adanya
bunyi ampela pada auskultasi, menandakan sindrom distres pernapasan
(RDS)
d. Neurosensori
Sutura tengkorak dan fontanel tampak melebar, penonjolan karena
ketidakadekuatan pertumbuhan mungkin terlihat Kepala kecil dengan dahi
menonjol, batang hidung cekung, hidung pendek mencuat, bibir atas tipis, dan
dagu maju, tonus otot dapat tampak kencang dengan fleksi ekstremitas bawah
dan atas serta keterbatasan gerak, Pelebaran tampilan mata.
e. Makanan/cairan
Disproporsi berat badan dibandingkan dengan panjang dan lingkar kepala
Kulit kering pecah-pecah dan terkelupas dan tidak adanya jaringan subkutan
Penurunan massa otot, khususnya pada pipi, bokong, dan paha
Ketidakstabilan metabolik dan hipoglikemia / hipokalsemia

f. Genitounaria
Jelaskan setiap abnormalitas genitalia. Jelaskan jumlah (dibandingkan
engnaberta badan), warna, pH, temuan lab-stick, dan berat jenis kemih (untuk
menyaring kecukupan hidrasi) Periksa berat badan (pengukuran yang paling
akurat dalam mengkaji hidrasi).

g. Keamanan
Suhu berfluktuasi dengan mudah
Tidak terdapat garis alur pada telapak tangan
Warna mekonium mungkin jelas pada jari tangan dan dasar pada tali pusat
dengan warna kehijauan
Menangis mungkin lemah

16
h. Seksualitas
Labia monira wanita mungkin lebih besar dari labia mayora dengan klitoris
menonjol
Testis pria mungkin tidak turun, ruge mungkin banyak atau tidak pada skrotum.

i. Suhu tubuh
Tentukan suhu kulit dan aksila.
Tentukan dengan suhu lingkungan.

j. Pengkajian kulit
Terangkan adanya perubahan warna, daerah yang memerah, tanda irirtasi,
lepuh, abrasi, atau daerah terkelupas, terutama dimana peralatan pemantau, infuse
atau alat lain bersentuhan dengan kulit; periks, dan tempat juga dan catat setiap
preparat kulit yang dipakai (misal: plester povidone – iodine).
Tentukan tekstur dan turgor kulit: kering, lembut, bersisik, terkelupas, dll.
Terngkan adanya ruam, lesi kulit, atau tanda lahir
Tentukan apakah kateter infuse IV atau jarum terpasang dengan benar, dan
periksa adanya tanda infiltrasi.
jelaskan pipa infus parenteral: lokasi, tipe (arterial, vena, perifer, umbilicus,
sentral, vena perifer sentral); tipe infuse (obat, salin, dekstrosa, elektrolit, lipid,
nutrisi parenteral total); tipe pompa infuse dan kecepatan aliran; tipe kateter atau
jarum; dan tempat insersinya.

9. Pengkajian psikologis
Orang tua klien tampak cemas dan khawatir melihat kondisi bayinya, dan
orang tua klien berharap bayinya cepat sembuh.

10. Pemeriksaan refleks


a. Refleks berkedip: dijumpai namun belum sempurna
b. Tanda babinski: jari kaki mengembang dan ibu jari kaki sedikit
dorsofleksi
c. Merangkak: bayi membuat gerakan merangkak dengan lengan dan
kaki, namun belum sempurna
d. Melangkah: kaki sedikt bergerak keatas dan kebawah saat disentuhkan
ke permukaan
e. Ekstrusi: lidah ekstensi kearah luar saat disentuh dengan spatel lidah
f. Gallant’s: punggung sedikti bergerak kearah samping saat diberikan
goresan pada punggungnya
g. Morro’s: dijumpai namun belum sempurna
h. Neck righting : belum ditemukan

17
i. Menggengngam: bayi menunjukkan refleks menggenggam namun
belum sempurna
j. Rooting: byi memperlihatkan gerakan memutar kearah pipi yang
diberikan sedikit goresan
k. Kaget (stratle) : bayi memberikan respon ekstensi dan fleksi
lengan yang belum sempurna
l. Menghisap: bayi memperlihatkan respon menghisap yang belum
sempurna
m. Tonick neck: belum dilakukan karena refleks ini hanya terdapat pada
bayi yang berusia > 2 bulan

11. Pemeriksaan diagnostik


a. Jumlah darah lengkap: penurunan pada Hb/Ht mungkin dihubungkan
dengan anemia atau kehilangan darah
b. Dektrosik: menyatakan hipoglikemia
c. AGD: menentukan derajat keparahan distres bila ada
d. Elektrolit serum: mengkaji adanya hipokalsemia
e. Bilirubin: mungkin meningkat pada polisitemia
f. Urinalis : mengkaji homeostasis
g. Jumlah trombosit: trombositopenia mungkin meyertai sepsis
h. EKG, EEG, USG, angiografik: defek kongenital atau komplikasi

B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang bisa ditegakkan oleh seorang perawat pada bayi dengan BBLR
yaitu:
1. Pola nafas yang tidak efektif yang berhubungan dengan imaturitas pusat
pernapasan, keterbatasan perkembangan otot penurunan otot atau kelemahan, dan
ketidakseimbangan metabolik
2. Resiko termoregulasi inefektif yang berhubungan dengan SSP imatur (pusat
regulasi residu, penurunan massa tubuh terhadap area permukaan, penurunan
lemak sebkutan, ketidakmampuan merasakan dingin dan berkeringat, cadangan
metabolik buruk)
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan
penurunan simpanan nutrisi, imaturitas produksi enzim, otot abdominal lemah,
dan refleks lemah.
4. Resiko infeksi yang berhubungan dengan pertahanan imunologis yang tidak
efektif

18
5. Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan usia dan berat
ekstrem, kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis), kurang lapisan lemak, ginjal
imatur/ kegagalan mengonsentrasikan urine.
6. Resiko cedera akibat bervariasinya aliran darah otak, hipertensi atau
hipotensi sistemik, dan berkurangnya nutrient seluler (glukosa dan oksigen) yang
berhubungan dengan system sraf sentral dan respons stress fisiologis imatur.
7. Nyeri yang berhubungan dengan prosedur, diagnosis dan tindakan.
8. Resiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang berhubungan
dengan kelahiran premature, lingkungan NICU tidak alamiah, perpisahan dengan
orang tua.
9. Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilitas,
kelembaban kulit.
10. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit bayinya ditandai
dengan orang tua klien tampak cemas dan khawatir malihat kondisi bayinya, dan
berharap agar bayinya cepat sembuh.

C. Intervensi
1. Pola nafas yang tidak efektif yang berhubungan dengan imaturitas pusat
pernapasan, keterbatasan perkembangan otot penurunan otot atau kelemahan, dan
ketidak seimbangan metabolik
Tujuan : setelah dilakukan tindakan, pola napas kembali efektif
Kriteria hasil:
1. Neonatus akan mempertahankan pola pernapasan periodik
2. Membran mukosa merah muda
Intervensi Rasional
Mandiri: 1. Membantu dalam membedakan
1. Kaji frekwensi dan pola periode perputaran pernapasan
pernapasan, perhatikan normal dari serangan apnetik
adanya apnea dan perubahan sejati, terutama sering terjadi
frekwensi jantung pad gestasi minggu ke-30
2. Menghilangkan mukus yang
2. Isap jalan napas sesuai neyumbat jalan napas
kebutuhan
3. Posisikanm bayi pada 3. Posisi ini memudahkan
abdomen atau posisi telentang pernapasan dan menurunkan
dengan gulungan popok episode apnea, khususnya bila
dibawah bahu untuk ditemukan adanya hipoksia,
menghasilkan hiperekstensi asidosis metabolik atau
4. Tinjau ulang riwayat ibu hiperkapnea
terhadap obat-obatan yang 4. Magnesium sulfat dan narkotik

19
akan memperberat depresi menekan pusat pernapasan dan
pernapasan pada bayi aktifitas SSP
Kolaborasi : 5. Hipoksia, asidosis netabolik,
5. Pantau pemeriksaan hiperkapnea, hipoglikemia,
laboratorium sesuai indikasi hipokalsemia dan sepsis
6. Berikan oksigen sesuai memperberat serangan apnetik
indikasi 6. Perbaikan kadar oksigen dan
7. Berikan obat-obatan yang karbondioksida dapat
sesuai indikasi meningkatkan funsi pernapasan

2. Resiko termoregulasi inefektif yang berhubungan dengan SSP imatur (pusat


regulasi residu, penurunan massa tubuh terhadap area permukaan, penurunan
lemak sebkutan, ketidakmampuan merasakan dingin dan berkeringat, cadangan
metabolik buruk).

Tujuan : termoregulasi menjadi efektif sesuai dengan perkembangan


Kriteria hasil :
1. Mempertahankan suhu kulit atau aksila (35 – 37,50C)
Intervensi Rasional
Mandiri : 1. Hipotermia membuat bayi
1. Kaji suhu dengan cenderung merasa stres karena
memeriksa suhu rektal dingin, penggunaan simpanan
pada awalnya, lemak tidak dapat diperbaruai bila
selanjutnya periksa suhu ada dan penurunan
aksila atau gunakan alat sensivitas untuk meningkatkan
termostat dengan dasar kadar CO2 atau penurunan kadar
terbuka dan penyebar O2.
hangat. 2. Mempertahankan lingkungan
2. Tempatkan bayi pada termonetral, membantu mencegah
inkubator atau dalam stres karena dingin
keadaan hangat 3. Hipertermi dengan peningkatan
3. Pantau sistem pengatur laju metabolisme kebutuhan
suhu , penyebar hangat oksigen dan glukosa serta
(pertahankan batas atas kehilangan air dapat terjadi bila
pada 98,6°F, bergantung suhu lingkungan terlalu tinggi.
pada ukuran dan usia 4. Penurunan keluaran dan
bayi) peningkatan berat jenis urine
4. Kaji haluaran dan berat dihubungkan dengan penurunan
jenis urine perfusi ginjal selama periode stres

20
karena rasa dingin

5. pantau penambahan berat 5. Ketidakadekuatan penambahan


badan berturut-turut. Bila berat badan meskipun masukan
penambahan berat badan kalori adekuat dapat menandakan
tidak adekuat, tingkatkan bahwa kalori digunakan untuk
suhu lingkungan sesuai mempertahankan suhu lingkungan
indikasi. tubuh, sehingga memerlukan
peningkatan suhu lingkungan.
6. Perhatikan perkembangan 6. Tanda-tanda hip[ertermi ini dapat
takikardia, warna berlanjut pada kerusakan otak bila
kemerahan, diaforesis, tidak teratasi.
letargi, apnea atau
aktifitas kejang.

Kolaborasi :
7. pantau pemeriksaan 7. Stres dingin meningkatkan
laboratorium sesuai kebutuh21an terhadap glukosa dan
indikasi (GDA, glukosa oksigen serta dapat mengakibatkan
serum, elektrolit dan masalah asam basa bila bayi
kadar bilirubin) mengalami metabolisme anaerobik
bila kadar oksigen yang cukup
tidak tersedia. Peningkjatan kadar
bilirubin indirek dapat terjadi
karena pelepasan asam lemak dari
meta bolisme lemak coklat dengan
asam lemak bersaing dengan
bilirubin pada pada bagian ikatan
di albumin.
8. Membantu mencegah kejang
8. berikan obat-obat sesuai
berkenaan dengan perubahan
dengan indikasi
fungsi SSP yang disebabkan
· fenobarbital
hipertermi
9. Memperbaiki asidosis yang dapat
terjadi pada hiportemia dan
hipertermia

21
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan
penurunan simpanan nutrisi, imaturitas produksi enzim, otot abdominal lemah,
dan refleks lemah.
Tujuan : nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan
Kriteria hasil :
1. Bayi mendapat kalori dan nutrien esensial yang adekuat
2. Mempertahankan pertumbuhan dan peningkatan berat badan dalam kurva
normal dengan penambahan berat badan tetap, sedikitnya 20-30
gram/hari.
Intervensi Rasional
Mandiri : 1. Menentukan metode
1. Kaji maturitas refleks berkenaan pemberian makan yang tepat
dengan pemberian makan untuk bayi
(misalnya : mengisap, menelan, 2. Pemberian makan pertama
dan batuk) bayi stabil memiliki
2. Auskultasi adanya bising usus, peristaltik dapat dimulai 6-
kaji status fisik dan statuys 12 jam setelah kelahiran.
pernapasan Bila distres pernapasan
ada cairan parenteral di
indikasikan dan cairan
peroral harus ditunda
3. Kaji berat badan dengan 3. Mengidentifikasikan adanya
menimbang berat badan setiap resiko derajat dan resiko
hari, kemudian dokumentasikan terhadap pola pertumbuhan.
pada grafik pertumbuhan bayi Bayi SGA dengan kelebihan
cairan ekstrasel
kemungkinan kehilangan
15% BB lahir. Bayi SGA
mungkin telah mengalami
penurunan berat badan
dealam uterus atau
mengalami penurunan
simpanan lemak/glikogen.
4. Pantau masuka dan dan 4. Memberikan informasi
pengeluaran. Hitung konsumsi tentang masukan aktual
kalori dan elektrolit setiap hari dalam hubungannya dengan
perkiraan kebutuhan untuk
digunakan dalam
5. Kaji tingkat hidrasi, perhatikan penyesuaian diet.
fontanel, turgor kulit, berat jenis 5. Peningkatan kebutuhan

22
urine, kondisi membran metabolik dari bayi SGA
mukosa, fruktuasi berat badan. dapat meningkatkan
6. Kaji tanda-tanda hipoglikemia; kebutuhan cairan. Keadaan
takipnea dan pernapasan tidak bayi hiperglikemia dapat
teratur, apnea, letargi, fruktuasi mengakibatkan diuresi pada
suhu, dan diaphoresis. bayi. Pemberian cairan
Pemberian makan buruk, gugup, intravena mungkin
menangis, nada tinggi, gemetar, diperlukan untuk memenuhi
mata terbalik, dan aktifitas peningkatan kebutuhan,
kejang. tetapi harus dengan hati-hati
ditangani untuk menghindari
Kolaborasi : kelebihan cairan
7. Pantau pemeriksaan 6. Karena glukosa adalah
laboratorium sesuai indikasi sumber utama dari bahan
· Glukas serum bakar untuk otak,
· Nitrogen urea darah, kekurangan dapat
kreatin, osmolalitas menyebabkan kerusakan
serum/urine, elektrolit SSP permanen.hipoglikemia
urine secara bermakna
8. Berikan suplemen elektrolit meningkatkan mobilitas
sesuai indikasi misalnya mortalitas serta efek berat
kalsium glukonat 10% yang lama bergantung pada
durasi masing-masing
episode.
Kolaborasi :
7. Hipoglikemia dapat terjadi
pada awal 3 jam lahir bayi
SGA saat cadangan glikogen
dengan cepat berkurang dan
glukoneogenesis tidak
adekuat karena penurunan
simpanan protein obat dan
lemak.
8. Mendeteksi perubahan
fungsi ginjal berhubungan
dengan penurunan simpanan
nutrien dan kadar cairan
akibat malnutrisi.
Ketidakstabilan metabolik
pada bayi SGA/LGA dapat

23
memerlukan suplemen untuk
mempertashankan
homeostasis.

4. Resiko infeksi yang berhubungan dengan pertahanan imunologis yang tidak


efektif
Tujuan : pasien tidak memperlihatkan adanya tanda infeksi
Kriteri hasil :
10. Suhu 350C
11. Tidak ada tanda-tanda infeksi
12. Leukosit 5.000 – 10.000
Intervensi Rasional
Mandiri : 1. Untuk mengetahui lebih dini
1. Kaji adanya tanda – tanda adanya tanda-tanda terjadinya
infeksi infeksi
2. Lakukan isolasi bayi lain yang 2. Tindakan yang dilakukan
menderita infeksi sesuai untuk meminimalkan
kebijakan insitusi terjadinya infeksi yang lebih
3. Sebelum dan setelah luas
menangani bayi, lakukan 3. Untuk mencegah terjadinya
pencucian tangan infeksi
4. Yakinkan semua peralatan 4. Untuk mencegah terjadinya
yang kontak dengan bayi infeksi
bersih dan steril 5. Untuk mencegah terjadinya
5. Cegah personal yang infeksi yang berlanjut pada
mengalami infeksi menular bayi
untuk tidak kontak langsung
dengan bayi.

24
5. Resiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan usia dan berat
ekstrem, kehilangan cairan berlebihan (kulit tipis), kurang lapisan lemak, ginjal
imatur/ kegagalan mengonsentrasikan urine.
Tujuan : cairan terpenuhi
Kriteria hasil :
1. bebas dari tanda dehidrasi.
2. Menunjukkan penambahan berat badan 20-30 gram/hari.
Intervensi Rasional
Mandiri : 1. Pengeluaran harus 1-3
1. Bandingkan masukan dan ml/kg/jam, sementara
pengeluaran urine setiap shift kebutuhan terapi cairan kira-
dan keseimbangan kumulatif kira 80-100 ml/kg/hari pada
setiap periodik 24 jam hari pertama, meningkat
sampai 120-140 ml/kg/hari
pada hari ketiga postpartum.
Pengambilan darah untuk tes
menyebabkan penurunan kadar
Hb/Ht.
2. Meskipun imaturitas ginjal dan
2. Pantau berat jenis urine setiap
ketidaknyamanan untuk
selesai berkemih atau setiap 2-
mengonsentrasikan urine
4 jam dengan menginspirasi
biasanya mengakibatkan berat
urine dari popok bayi bila
jenis yang rendah pada bayi
bayi tidak tahan dengan
preterm ( rentang
kantong penampung urine.
normal1,006-1,013). Kadar
yang rendah menandakan
volume cairan berlebihan dan
kadar lebih besar dari 1,013
menandakan ketidakmampuan
masukan cairan dan dehidrasi.
3. Evaluasi turgor kulit, 3. Kehialangan atau perpindahan
membran mukosa, dan cairan yang minimal dapat
keadaan fontanel anterior. dengan cepat menimbulkan
dehidrasi, terlihat oleh turgor
kulit yang buruk, membran
mukosa kering, dan fontanel
cekung.
4. Pantau tekanan darah, nadi, 4. Kehilangan 25% volume darah
dan tekanan arterial rata-rata mengakibatakan syok dengan
(TAR) TAR < 25 mmHg menandakan

25
Kolaborasi : hipotensi.
5. Pantau pemeriksaan 5. Dehidrasi meningkatkan kadar
laboratorium sesuai dengan Ht diatas normal 45-53%
indikasi Ht kalium serum
6. Berikan infus parenteral 6. Hipoglikemia dapat terjadi
dalam jumlah lebih besar dari karena kehilangan melalui
180 ml/kg, khususnya pada selang nasogastrik diare atau
PDA, displasia muntah.
bronkopulmonal (BPD), atau 7. Penggantian cairan darah
entero coltis nekrotisan (NEC) menambah volume darah,
7. Berikan tranfusi darah. membantu mengenbalikan
vasokonstriksi akibat dengan
hipoksia, asidosis, dan pirau
kanan ke kiri melalui PDA dan
telah membantu dalam
penurunan komplikasi
enterokolitis nekrotisan dan
displasia bronkopulmonal.
8. Mungkin perlu untuk
mempertahankan kadar Ht/Hb
optimal dan menggantikan
kehilangan darah.

6. Resiko cedera akibat bervariasinya aliran darah otak, hipertensi atau


hipotensi sistemik, dan berkurangnya nutrient seluler (glukosa dan oksigen) yang
berhubungan dengan system sraf sentral dan respons stress fisiologis imatur.
Tujuan : pasien mendapatkan asuhan untuk mencegah cedera dan
memeprtahankan aliran darah sistemik dan otak memadai, glukosa dan oksigen
otak adekuat; tidak memperlihatkan adanya perdarahan intaventrikular.
Kriteria hasil:
1. Pasien tidak memperlihatkan tanda peningkatan tekanan intrakranial atau
perdarahan intraventrikel.
Intervensi Rasional
1. Kurangi rangsangan 1. Respons stres, terutama
lingkungan peningkatan tekanan darah,
2. Organisasikan asuhan selama dapat miningkatkan resiko
jamsibuk normal sebanyak peningkatan TIK
mungkin 2. Untuk meminimalkan

26
3. Tutup dan buka kelambu dan gangguan tidur dan
lampu tidur kebisingan intermiten yang
4. Tutup inkubator dengan kain sering
dan pasang tanda “jangan 3. Untuk memungkinkan jadwal
diganggu” siang dan malam
5. Kaji dan tangani nyeri 4. Untuk mengurangi cahaya
menggunakan metode dan tidak membangunkan
farmakologis dan non- periode istirahat bayi
farmakologis 5. Nyeri meningkatkan tekanan
6. Kenali tanda stres fisik dan darah
stimulasi berlebih 6. Untuk segera memberi
7. Hindari obat dan larutan intervensi yang memadai
hipertonis 7. Akan meningkatkan tekanan
8. Pertahankan oksigenasi yang darah otak
adekuat 8. Hipoksia akan meningkatkan
9. Hindari memutar kepala ke aliran darah otak tekanan
samping tiba-tiba intrakranial
9. Akan mengurangi aliran arteri
karotis dan oksigenasi ke otak

7. Nyeri yang berhubungan dengan prosedur, diagnosis dan tindakan.


Tujuan: pasien tidak memperlihatkan adanya nyeri yang dirasakan
Kriteria hasil :
Pasien tidak merintih/menagngis kesakitan
Pasien tidak memperlihatkan tanda nyeri atau tanda nyeri yang minimal

Intervensi Rasional
1. Kaji keefektifan upaya kontrol 1. Beberapa upaya (misalnya
nyeri non farmakologis menggosok) dapat
meningkatkan distres bayi
prematur
2. Dorong orang tua untuk 2. Sebagai orang tua bayi,
memberikan upaya kenyamanan lebih efektif
kenyamanan bila mungkin diberikan langsung oleh orang
tua kepada bayinya
3. Tunjukkan sikap sensitif dan 3. Seorang bayi sangat
kasih sayang pada bayi membutuhkan kasih sayang,
khususnya dari orang tua

27
8. Resiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang berhubungan
dengan kelahiran premature, lingkungan NICU tidak alamiah, perpisahan dengan
orang tua.
Intervensi Rasional
1. Berikan nutrisi yang maksimal 1. Untuk menjamin penambahan
berat badan dan pertunbuhan
otak yang tetap
2. Berikan periode istrahat yang 2. Untuk mengurangi
teratur tanpa gangguan panggunaan O2 dan kalori
yang tidak perlu
3. Kenali tanda stimulus yang 3. Untuk membiarkan istirahat
berlebihan (terkejut, menguap, bayi denagn tenang
aversi aktif, menangis)

4. Sangat penting untuk


4. Tingkatkan interaksi orang
pertumbuhan dan
tua-bayi
perkembangan normal

9. Resiko gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan imobilitas,


kelembaban kulit.
Tujuan: bayi mempertahanmkan integritas kulit
Kriteria hasil:
Kulit tetap bersih dan utuh
Tidan terlihat adanya tanda-tanda terjedinya iritasi
Intervensi Rasional
1. Observasi tekstur dan warna 1. Untuk mengetahui adanya
kulit. kelainan pada kulit secara dini
2. Jaga kebersihan kulit bayi. 2. Meminimalkan kontak kulit
3. Ganti pakaian setiap basah. bayi dengan zat-zat yang dapat
4. Jaga kebersihan tempat tidur. merusak kulit pada bayi
5. Lakukan mobilisasi tiap 2 3. Untuk meminimalisir
jam. terjadinya iritasi pada kulit bayi
4. Untuk mencegah kerusakan
kulit pada bayi

28
10. Kecemasan orang tua berhubungan dengan kondisi penyakit bayinya ditandai
dengan orang tua klien tampak cemas dan khawatir malihat kondisi bayinya, dan
berharap agar bayinya cepat sembuh.
Tujuan: keluarga mendapat informasi tentang kemajuan kondisi bayinya
Kriteria hasil:
Orang tua/ keluarga mengekpresikan perasaan dan keprihatinan mengenai bayi
dan prognosis serta memperlihatkan pemahaman dan kjeterlibatan dalan asuhan

Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat pemahaman 1. Belajar tergantung pada emosi
klien berikan instruksi dan kesiapan fisik dan diingatkan
/informasi pada klien pada tahapan individu
maupun keluarga tentang
penyakitnya, baik tertulis
atau lisan.
2. Jelaskan proses penyakit
individu. Dorong orang 2. Menurunkan ansietas dan dapat
terdekat menanyakan menimbulkan perbaikan
pertanyaan partisipasi pada rencana
pengobatan.

3. Jelaskan tentang dosis obat, 3. Meningkatkan kerjasama dalam


frekwensi, tujuan program pengobatan dan
pengobatan dan alasan mencegah penghentian
tentang pemberian obat obatsesuai perbaikan kondisi
kepeda keluarga pasien.

4. encegah/menurunkan
4. Kaji potensial efek samping ketidaknyaman sehubungan
pengobatan dengan terapi dan meningkatkan
kerjasam dalam program

29
D. Implementasi

Implementasi merupakan tindakan yang sesuai denga yang telah


direncanakan, mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi.
Tindakan mandiri adalah tindakan keperawatan berdasarkan analisis dan
kesimpulan perawat dan bukan atas petunjuk tenaga kesehatan lain.
Tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawatan yang didasarakan oleh
hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas kesehatan lain.

E. Evaluasi
Merupakan hasil perkembangan ibu dengan berpedoman kepada hasil dan
tujuan yang hendak dicapai.

30
DAFTAR PUSTAKA

Pantiawati, ika,S.sit.2010.Bayi dengan BBLR.yogyakarta:nuha medika.


Proverati atikah,SKM, MPH dan cahyo ismawati
sulistyorini,S.Kep.,Ns.2010.BBLR (Berat Badan Lahir Rendah).yogyakarta:nuha
medika.
Rukiyah, Ai Yeyeh dan Lia Yulianti,am.keb.MKM.2010.asuhan neonates,bayi
dan anak balita.jakarta:trans info media.
http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/16/bayi-berat-lahir-rendah-bblr/
Cunningham, Gary. F. 2006. Obstetri William. Jakarta: EGC
Betz, L C dan Sowden, L A. 2002. Keperawatan Pediatri Edisi 3. Jakarta : EGC.

Doenges, E. Marilynn. (1999), Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. Jakarta: EGC.

Mansjoer, Arif, dkk. (2001). Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga Jilid 1. Jakarta :
EGC.

Tambayong, (2000) . Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC.

Djitowiyono, Sugeng dkk. 2010.Asuhann Keperawatan Neonatus dan


Anak.Yogyakarta: Nuha Medika

Hidayat, A.Aziz Alimul. 2009. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta:


Salemba Medika

Karyunani, Pamilih Eko dkk. 2007. Manajemen Masalah Bayi Baru


Lahir. Jakarta: EGC

Maryunani, Anik. 2009. Asuhan Kegawatdaruratan dan Penyulit Pada


Neonatus.Jakarta: TIM

Maulana, Mirza. 2009. Seluk Buluk Merawat Bayi dan Balita. Yogyakarta:
Garailmu

Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka


Cipta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2007. Kesehatan Masyarakat Ilmu Dan
Seni. Jakarta:Rineka Cipta

Saifddin, Abdul Bahri. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal.


Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

31
Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo
Jaenab, 2009. Bayi Berat Lahir
Rendah.Http://blogjoeharno.blogspot.com.Diakses oleh Dewi Agita, Tanggal 02
juni 2010, Pukul 15.00 Wib

Pratama, Hendri Ardiansyah. 2010. Masalah BBLR di Indonesia.


Http://modelayu.com Diakses oleh Dewi Agita,Tanggal 02 juni 2010 pukul 15.15
Wib

http://diyahhalsyah.blogspot.co.id/2015/03/makalah-bayi-baru-lahir.html

32