Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PRAKTIKUM FORMULASI DAN TEKNOLOGI SEDIAAN STERIL


Pembuatan Sediaan Salep Mata Steril Kloramfenikol

Disusun Oleh :

Fera febriani (1041411064)


Galuh Putri Trijayanti (1041411068)
Gonggom Riska Pratiwi S (1041411070)
Lailatus sa’adah (1041511211)

Kelompok I-4

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI “YAYASAN PHARMASI”
SEMARANG
2016
SALEP MATA KLORAMFENIKOL

Judul : Membuat salep mata steril kloramfenikol 1% 5 gram


Tujuan :
1. Dapat membuat sediaan salep mata dan mengevaluasi dengan bahan aktif
kloramfenikol sesuai dengan persyaratan sediaan steril
2. Meningkatkan pengetahuan tentang sediaan steril
3. Dapat mengetahui perlakuan khusus dan komponen – komponen yang terkait pada
sediaan steril

I. PREFORMULASI
1. Tinjauan tentang farmakologi obat

Kloramfenikol
umumnya bersifat bakteriostatik. Pada konsentrasi tinggi Chloramphenicol
kadang – kadang bersifat bakterisid terhadap kuman – kuman tertentu. Untuk
pemberian secara parenteral digunakan chloramphenicol suksinat yang akan
dihidrolisis dalam jaringan dan membebaskan chloramphenicol. Masa paruh
eliminasinya pada orang dewasa kurang lebih 3 jam. Kira – kira 50%
chloramphenicol dalam darah terikat dengan albumin. Obat ini didistribusikan secara
baik ke berbagai jaringan tubuh, termasuk jaringan otak, cairan serebrospinal dan
mata. Di dalam hati chloramphenicol mengalami konjugasi dengan asam glukuronat
oleh enzim glukoronil transferase. Oleh karena itu waktu paruh cholramphenicol
mengalami reduksi menjadi senyawa aril – amin yang tidak aktif lagi. Dalam waktu
24 jam, 80% - 90% chloramphenicol yang diberikan oral telah diekskresikan melalui
ginjal.
( Farmakologi dan Terapan Edisi 5, hal.700)
Efek samping umum berupa antara lain ganguan lambung – usus, neuropati
optis dan perifer, radang lidah dan mukosa mulut. Tetapi yang sangat berbahaya
adalah depresi sumsum tulang (myelodepresi) yang dapat berwujud dalam dua bentuk
anemia. Resistensi dapat timbul dengan agak lambat (tipe banyak tingkat), tetapi
resistensi ekstra – kromosal melalui plasmid juga terjadi, amtara lain terhadap basil
tikus perut.
( Tan Hoan.2007.hal 85)
2. Tinjauan Sifat Fisikokimia Bahan Obat
a. Chloramphenicol
 Struktur : C11H12C12N2O5
 BM : 323,13

NHCOCHCl2
NO2 CH CH CH2OH
OH

Jarak lebur : 149 - 1530C


Pemerian : Hablur halus berbentuk jrum atau lempeng memanjang,
putih hingga putih kelabu atau putih kekuningan, larutan
praktis netral terhadap lakmus p, stabil dalam larutan netral,
atau larutan agak asam.
Kelarutan : Sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol,dalam
propilenglikol, dalam aseton dan dalam etil asetat.
Sterilitas : memenuhi syarat. Jika pada etiket dinyatakan bahwa
kloramfenikol steril, lakukan dengan penetapan dengan
penyaringan membran seperti tertera pada uji sterilitas dari
produk yang diuji menggunakan 1 g zat.

(FI Edisi V, hal


684)
b. Klorbutanol
Pemerian : Serbuk hablur putih/hablur tak berwarna, mudah
menyublim, melebur pada suhu lebih kurang 78˚C, lakukan
penetapan tanpa dikeringkan terlebih dahulu.
Kelarutan : Sukar larut dalam air, mudah larut dalam 0,6 bagian etanol
dan dalam eter, sangat mudah larut dalam kloroform, gliserol
0,5%.
( Depkes RI,1995; 197)

Fungsi : Antimikroba.
Sifat : Mudah menguap, dalam air mengalami degradasi solusi
dikatalis dengan ion hidroksida. Stabilitas baik pada pH 3 tetapi
semakin buruk dengan meningkatnya pH.

Inkompatibel : Wadah plastik, karet sumbat, bentonit, magnesium


trisilicate, polisorbatum.
( Handbook of Pharmaceutical Excipient hal 168)

c. Adeps Lanae
Pemerian : Masa seperti lemak, lengket, warna kuning, bau khas.
Kelarutan : Tidak larut dalam air, dapat bercampur dengan air (lebih
kurang 2x beratnya), agak sukar larut dalam etanol dingin, lebih
larut dalam etanol panas, mudah larut dalam eter dan kloroform.
( Anonim.1979, hal. 61)
Stabilitas : Adeps lanae mungkin sedikit demi sedikit teroksidasi selama
penyimpanan. Cahaya yang berlebihan atau pemanasan yang
terlalu lama dapat menyebabkan Adeps Lanae terhidrolisis,
warnanya agak gelap dan Adeps Lanae dapat disterilisasi
dengan panas kering 150 C selama 1 jam.
Incompatibilitas : Adeps Lanae mungkin bereaksi prooksidan yang berefek
pada stabilitas bahan aktif.
(Handbook of Pharmaceutical Exipient 5th Edition, 2006, hal.399)
d. Parafin
Pemerian : Hablur tembus cahaya, atau agak buram, tidak berwarna atau
putih, tidak berbau, tidak berasa agak berminyak.
Kelarutan : Tidak larut dalam air, dan dalam etanol, mudah larut dalam
kloroform, dalam eter, minyak menguap dan dalam hampir
semua minyak lemak hangat, sukar larut dalam etanol mutlak.
(Anonim, 1995, hal. 625)

Kegunaan : Salep mata 3,0 – 6,0%


Flesh point : 210 – 224 C
Incompatibilitas : Dengan oksidator kuat
Sterilisasi : Dengan panas kering
(Handbook of Pharmaceutical Exipient 5th Edition. 2006. Hal 471)

e. Vaselin kuning
Pemerian : Massa seperti lemak, kekuningan, berfluoresensi sangat
lemah walaupun setelah melebur. Dalam lapisan tipis
transparan. Tidak atau hampir tidak berbau dan berasa.
Kelarutan : Tidak larut dalam air, mudah larut dalam benzena, dalam
karbon disulfida, dalam kloroform dan dalam minyak terpentin.
Larut dalam eter, dalam heksana dan umumnya dalam minyak
lemak dan minyak atsiri, praktis tidak larut dalam etanol dingin
dan etanol panas dan dalam etanol yang mutlak dingin.
( Anonim, 1995, hal. 823)
Kegunaan : topical ointment
Konsentrasi : up to 100%
Vaselin flavum disterilkan dengan panas kering.
(Handbook of Pharmaceutical Exipient 5th Edition, 2006, hal.409)

3. Cara Sterilisasi Masing-masing Bahan


a. Cara sterilisasi zat aktif
Cara 5 (ASEPTIS)
Jika larutan, emulsi atau suspensi dalam minyak tidak dipanaskan pada suhu 150
derajat tanpa mngakibatkan perubahan fisik atau kimiawi, maka pembuatannya dilakukan
secara aseptis. Minyak atau ester-ester asam lemak tinggi yang diperoleh secara sintesa atau
isolasi yanga akan dipakai sebelumnya dipanaskan pada 150 derajat selama 1 jam. Kemudian
larutan, emulsi atau suspensi dipindahkan kedalam wadah-wadah yang telah disterilkan yang
kemudian segera ditutup kedap ( FOI,1966 :9 )

b. Cara Sterilisasi Basis


Cara 4 ( Pemanasan Kering)
Larutan,emulsi atau suspensi dalam minyak atau zat pembawa tidak berair yang lain,
dimaukan kedalam wadah-wadah kemudian ditutup. Penutupan ini dapat bersifat sementara.
Jika volume tiap wadah tidak lebih dari 30 m, dipanaskan pada 150 derajat selama 2 jam,
sedangkan jika volume lebih dari 30 ml lama penyeterilan diperpanjang sehingga seluruh
emulsa atau suspensi mncapai suhu 15 derajat selama 2 jam (FOI,1966 :9 )

4. OTT
a. Kloramfenikol
Kloramfenikol akan berkurang aktivitasnya dengan adanya:
 Carmellosa sodium
 Methylcellulosa
 Tragacant
 Sodium alginate
 Bentonite
 Polisorbate 80
( Martindale 28, hal.1136 )
b. Klorbutanol
Klorbutanol terhadap wadah plastic.
(Handbook Of Pharmaceutical excipient hal
168)
c. Adeps lanae
Inkompatibel dengan prooksidan yang mempengaruhi bahan obat.
( Handbook of Pharmaceutical Exipient 5th Edition, 2006, hal.155)
d. Parafin Cair
Inkompatibel dengan oksidator kuat.
(Handbook of Pharmaceutical Exipient 5th Edition, 2006, hal.471)
e. Vaselin kuning
Inkompatibel dengan agen pengoksidasi.
( Handbook of Pharmaceutical Exipient 5th Edition, 2006, hal.510)
5. Cara penggunan
Mengoleskan salep tipis dan perlahan pada kelopak mata bagian bawah 3-4 kali
sehari sesuai petunjuk dokter. Bila telah membaik, maka frekuensi pemakaian
harus diturunkan.

II. Formulasi
1. Permasalahan dan penyelesaian
a. Salep mata adalah salep yang digunakan pada mata. Pada pembuatan salep mata
harus diberikan perhatian khusus. Sediaan ini tidak bisa disterilkan diakhir
karena dapat merusak sediaan yang sudah jadi konsistensi, homogenitas
maupun stabilitas dari bahan.
Penyelesaian : Sediaan salep mata dibuat dari bahan yang sudah disterilkan
dengan perlakuan aseptik yang ketat serta memenuhi syarat uji sterilitas.
(FI ed IV, 1995, hal 12)
b. Sediaan salep mata harus bebas dari pengotor.
Penyelesaian : Masa salep yang meleleh perlu disaring dengan kasa.
(Moh.Anief, 1987; 62)
c. Pada pembuatan basis dilakukan dengan penyaringan atau penyerkaian dan
kemungkunan hilangnya bahan sehingga basis berkurang.
Penyelesaian : untuk mengganti kekurangan basis yang hilang pada pembuatan
sediaan salep diberi kelebihan 10-20%
(Moh.Anief, 1987; 62)
d. Bahan atau campuran bahan yang sesuai untuk mencegah pertumbuhan
mikroorganisme harus ditambahkan kedalam salep mata yang dikemas untuk
pemakaian ganda tanpa memperhatikan metode sterilitasnya. Kecuali jika
disebutkan dalam masing-masing monografi atau formula tersebut bersifat
bakteriostatik.
Penyelesaian : dalam salep mata perlu ditambahkan pengawet/antimikroba
klorbutanol 0.5%. ( Howard C Ansel, 2005; 542 )
e. Bahan-bahan yang digunakan tidak boleh mengiritasi mata.
Vaselin putih merupakan vaselin flavum yang diputihkan dengan menggunakan
HCl , namun HCl dapat mengiritasi mata.
Penyelesaian : Vaselin putih di ganti dengam vaselin flavum
2. Formula yang akan dibuat
 Resep standar Formularium Nasional 1978 hal 65
Salep Mata Kloramfenikol
Chloramphenicolum 10 mg
Oculentum simplex hingga 1 g
oculentum simplex terdiri dari :
Setil alkohol 2,5 g
Lemak bulu domba 6g
Parafin cair 40 g
Vaselin kuning ad 100 g

 Formula yang akan dibuat


R/ Chloramphenicolum 0,1g
Klorobutanol 0,5%
Adeps lanae 1g
Paraf. Liq ad 1g
Vaselin flavum ad 100g (FMS:76)

3. Perhitunangan Berat dan Volume


Diberi kelebihan 100 %
Dibuat 2 tube @5 gram= 2x5 gram = 10 gram

Jumlah basis salep = 20 gram –(1 gram + 0,05 gram) = 18,95 gram

No Bahan Perhitungan Jumlah

1 Kloramfenikol 0,1 x 10 g 1g

2 Klorobutanol 0,5% x 10 g 0,50 g

3 Adeps lanae 1 g x 18,95/ 10 g 1,895 g

4 Parafin cair 1 g x 18,95/ 10 g 1,895 g


5 Vaselin kuning 18,95- (1,895g + 1,895g ) 15,16 g

4. Cara pembuatan dan sterilisasi sediaan yang dibuat


a. Cara pembuatan

Ditimbang masing- masing bahan

Adeps lanae, parafin liquid dan vaselin flavum dimasukkan dalam cawan yang telah
dilapisi kassa

Disterilkan masing- masing bahan sesuai dengan cara sterilisasi masing- masing bahan

Dikeluarkan dan disaring basis dalam cawan besar steril, diaduk sampai terbentuk massa
basis secara aseptis

Dikeluarkan dan disaring basis dalam cawan besar steril, diaduk sampai terbentuk massa
basis secara aseptis

Ditimbang basis 18,95 gram dan dicampur dengan 1g kloramfenikol dalam cawan
secara aseptis tambahkan klorbutamol campur hingga homogen

Dipindahkan salep dari cawan besar kekertas parafin steril, masing – masing 5gram,
digulung

Dimasukkan dalam tube sebanyak 2 tube, kemudian dilakukan uji homogenitas


b. Evaluasi
Uji Homogenitas

Salep mata di letakkan diatas objek glass

Ditutup degan cover glass

Diamati homogenitasnya dengan mata

Ukuran partikel

Di tempatkan mikromiretik dibawah mikroskop

Dihimpitkan garis awal skala okuler dengan garis awal skala


objektif

Ditentukan garis kedua skala yang tepat berhimpit

Ditentukan harga skala okuler

Diletakkan sediaan salep mata steril diatas objek glass


Grouping
Ditentukan 20-25 partikel

Ditentukan harga logaritma dari masing – masing partikel

Ditentukan purata logaritma partikel dan harga standar deviasi (SD)


purata yang bersangkutan (polidispers anti log SD>1.2 dan
monodispers jika < 1.2 )

c. Sterilisasi sediaan

No. Nama Bahan Cara Sterilisasi


1. Kloramfenikol Secara aseptis
2. klorbutanol Secara aseptis
3. Adeps lanae Oven suhu 150oC selama 2 jam
4. Vaselin Kuning Oven suhu 150oC selama 2 jam
5. Parafin Oven suhu 150oC selama 2 jam

III. Pelaksanaan
1. Penyiapan alat

No Alat Jumlah Ukuran Sterilisasi Waktu

1 Tube salep mata 2 5g Otoklaf 115oC 30’

2 Kain kasa 2 - Otoklaf 121 oC -

3 Sudip 1 - Oven suhu 180 oC -

4 Kertas parafin 10 - Otoklaf 121oC 15’

Disemprot dengan alkohol Sampai


5 Alu dan lumpang 1 Kecil
lalu di bakar api mati

6 Cawan 1 Sedang Oven suhu 180 oC -


7 Pengkoret 3 Sedang Otoklaf 121oC 15’
8 Kertas timbang 5 Otoklaf 121oC 15’

2. Pencucian dan pembungkusan alat


a. Alat Gelas
1) Alat-alat gelas direndam dalam larutan teepol 0,5%, kemudian dirbus 15
menit setelah mendidih.
2) Alat-alat tersebut disikat sampai bersih (alat-alat setelah disikat, dibilas
dengan air kran mengalir sebanyak 3x ).
3) Alat-alat dibilas dengan air bebas pirogen sebanyak 3x.
4) Alat-alat dikeringkan dalam oven suhu ± 100˚C dengan keadaan terbalik.
5) Alat yang telah kering dilakukan pengecekan terhadap noda, apabila masih
kotor dilakukan pencucian lagi.
6) Alat yang bersih dan kering kemudian dibungkus rangkap 2 dan dilakukan
sterilisasi menggunakan metode yang cocok (alat gelas tahan pemanasan
dengan oven suhu 170˚C/ 180˚C selama 30 menit atau dengan
menggunakan otoklaf suhu 121˚C selama 15 menit).
b. Alat Karet
1) Alat-alat karet direbus dengan teepol 1% dan Na2CO3 selama 15 menit.
2) Setelah direbus kemudian dibilas dengan air kran dan disikat.
3) Dibilas dengan HCL 0,25% lalu dibilas lagi denga aqua pro injeksi.
4) Alat-alat tersebut dibungkus rangkap 2 dan dilakukan sterilisasi dengan
otoklaf pada auhu 121˚C selama 15 menit.
c. Alat Aluminium
1) Alat aluminium dididihkan dalam larutan detergent/ teepol selama 10
menit (bila perlu direndam dalam larutan Na2CO3 5% selama 5 menit).
2) Alat dibilas dengan aquadest panas mengalir.
3) Dibilas dengan aquadest sebanyak 3x.
4) Dikeringkan terbalik dalam oven pada suhu 100˚C sampai kering.
5) Alat dibungkus dengan rangkap 2 dan disterilkan dengan oven pada suhu
180˚ C selama 30 menit.
3. Sterilisasi Bahan atau Basis
a. Sterilisasi basis menggunakan oven pada suhu 1500 C selama 2 jam.
Waktu pemanasan : 15 menit
Waktu kesetimbangan : 12 menit
Waktu sterilisasi : suhu 150 °C selama 2 jam
Waktu pendinginan( suhu 800) : 90 menit suhu 60 ° C

b. Sterilisasi alat menggunakan autoklaf

No Tahapan Waktu Lama (jam) Estimasi waktu


Sebelum Sesudah (menit)
1 Waktu pemanasan
2 Waktu pengeluaran udara
3 Waktu menaik
4 Waktu kesetimbangan
5 Waktu sterilisasi
6 Waktu jaminan sterilisasi
7 Waktu pendinginan