Anda di halaman 1dari 67

BAHAN AJAR

Konsentrasi Larutan & Pengertian Sifat Koligatif Larutan Non Elektrolit


(Hukum Roulth) dan Larutan Elektrolit
Larutan memiliki sifat antara lain yakni rasa dan warna, dimana bergantung pada jenis
zat terlarut. Misalnya larutan gula memiliki rasa yang manis sebab gula rasanya manis,
sementara larutan cuka mempunyai rasa asam sebab cuka bersifat asam. Tingkat kemanisan
atau keasaman tersebut bergantung pada konsentrasi zat terlarutnya.
Selain sifat yang bergantung pada jenis zat terlarut ada beberapa sifat larutan yang hanya
bergantung pada konsentrasi partikel zat terlarut. artinya larutan yang berbeda mempunyai
sifat yang sama, berasalkan konsentrasi partikel terlautnya sama.
Sifat-sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya
konsentrasi partikel terlarutnya saja disebut sifat koligatif larutan. Istilah ini berasal sari
bahasa latin yang artinya kolega atau kelompok. Sifat ini hanya bergantung pada jumlah
partikel atau kelompok partikel zat terlarut di dalam larutan, bukan pada jenisnya ( apakah
partikel terlarut merupakan molekul atau ion sama saja ). Oleh karena itu sifat koligatif
larutan elektrolit berbeda dengan sifat koligatif lautan nono elektrolit, meskipun jumlah
molnya sama pada zat terlarut.
1. Kemolalan dan fraksi mol
Cara menyatakan jumlah partikel zat terlarut dalam larutan dikenal sebagai konsentrasi
larutan. Konsentrasi larutan yang digunakan pada sifat koligatif larutan adalah kemolaran,
kemolalan, dan fraksi mol.
 Kemolaran ( M )
Kemolaran atau molaritas menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam suatu liter satu
larutan. kemolaran ditulis dengan notasi M, dimana larutan 1 molar berarti dalam satu
liter larutan, terdapat 1 mol zat.
molzatterlarut
M 
volumelaru tan
n
M 
v
-1
Satuan untuk kemolaran yakni mol/liter atau mol L .jika yang dihitungkonsentrasi
dinyatakan dalam gram dan volumenya dalam milliliter, maka kemolarannya dapat
dihitung dengan rumus :
gr 1000
M  n
1000 M  
mL Mr mL

Dimana
M : kemolaran atau molaritas
n : mol zat terlarut
v : volume dalam liter
g : massa zat terlarut dalam gram
Mr : massa mlekul relative zat terlarut
 Kemolalan (m)
Kemolalan atau konsentrasi molal (m) adalah suatu konsentrasi yang menyatakan
banyaknya mol zat terlarut dalam 1000 gram pelarut.dapat dirumuskan
molzatterlarut
m
1000 grampelarut
Jika
m : molal
g : massa zat terlarut (gram)
p : massa zat terlarut(gram)
Mr : massa molekul relative zat terlarut
Maka :
g 1000
m 
Mr p
 Fraksi mol
Fraksi mol adalah suatu besaran konsentrasi larutan yang menyatakan perbandingan
jumlah mol zat terlarut terhadap jumlah mol larutan. fraksi mol tidak mempunyai satuan
dan dinotasikan dengan X. Secara matematis dirumuskan :
nA nB
XA  dan X A 
n A  nB n A  nB
Dimana :
XA : fraksi mol pelarut
XB : fraksi mol terlarut
nA : jumlah mol zat terlarut
nB : jumlah mol zat pelarut
jumlah fraksi mol pelarut dengan fraksi mol terlarut adalah 1
XA + XB = 1

Contoh soal :
1. Tentukan konsentrasi gas N2 5,6 gram dalam ruangan yang bervolume 5 liter?
2. Diketahui 30 gram (Mr=60) terlarut dalam 45 gram air (MR=18) hitunglah fraksi mol zat
terlarut dan zat pelarut
Jawab :
1. Mr N2 = 28 2. g = 20 gram
5,6
n N2 = mol m = 1 molal
28
= 0,2 mol Mr= 40
M =….? P=…?
n 0,2mol g 1000
M=   0,04molL1 m 
v 5liter Mr p
20 1000
1molal  
40 p
p = 500 gram
2. Tekanan Uap Jenuh
a. Penurunan Tekanan Uap Larutan
- Pengertian tekanan uap jenuh
Tekanan yang ditimbulkan oleh uap jenuh suatu larutan disebut tekanan uap
zat itu, misalnya air memiliki titik didih 100ºC ketika mendidih air berubah
menjadi uap air. Namun air dapat menuap pada suhu berapa saja, termaksud pada
suhu dibawah 100ºC. pada keadaan jenuh proses penguapan tetap berlangsung,
tetapi pada saat yang sama terjadi pengembunan dengan laju yang sama. Disini
terdapat kesetimbangan dinamis antara zat cair dengan uap jenuhnya.
Besarnya tekanan uap bergantung pada jenis zat dan suhu. Zat yang memiliki
gaya tarik menarik antara partikel relative besar berarti sukar menguap,
mempunyai tekanan uap yang relative rendah. Contohnya: gula, garam, dan
gliserol. Sebaliknya zat yang memiliki gaya terik menarik antara partikel yang
cukup lemah berarti mudah menguap, mempunyai tekanan uap yang relative tinggi.
Contohnya : etanol dan eter.
Tekanan uap suatu zat akan bertambah jika suhu dinaikan. Kenaikan suhu
menyebabka energi kinetic molekul-molekul cairan bertambah besar, sehingga
lebih banyak molekul yang dapat meninggalkan permukaan cairan menuju fase
gas. Akibatnya konsentrasi uap semakin besae dan dengan demikian tekanan uap
semakin besar.
- Tekanan uap larutan dan hukum Raoult
Jika zat terlarut bersifat volatile, maka uap di permukaan larutan terdiri atas
uap pelarut dan uap zat terlarut. Namun bila zat terlarut sukar menguap maka uap
di permukaan larutan hanya terdiri atas uap zat pelarut saja. Raoult menemukan
bahwa tekanan uap suatu komponen bergantung pada fraksi mol komponen itu
dalam larutan, dengan hubungan sebagai berikut :
PA  X A  PA
dengan
PA adalah tekanan uap komponen A
PA adalah tekanan uap A murni

XA adalah fraksi mol komponen A


Jika zat terlarut sukar menguap, maka uap di permukaan larutan terdiri atas
uap zat pelarut saja. Jadi demikian, maka tekanan uap larutan sama dengan tekanan
uap pelarut. Sesuai dengan hukum Raoult yang mana tekanan uap pelarut
bergantung pada fraksi molnya.
Jadi jika zat terlarut sukar menguap, maka :
P laru tan  Ppelarut  X pelarut  P pelarut

Plaru tan  X pelarut  P pelarut

Oleh karena itu fraksi mol pelarut < 1, maka P larutan lebih rendah dari pada
Pºpelarut. Dengan kata lain, zat terlarut yang sukar menguap akan menurunkan
tekanan uap pelarut. Selisi antara tekanan uap pelarut dengan tekanan uap larutan
disebut penurunan tekanan uap (ΔP).
ΔP = Pº - P
Nilai penurunan tekanan uap larutan (ΔP) dapat dikaitkan dengan fraksi mol
terlarut sebagai berikut :
Telah diketahui bahwa Xpel + Xter = 1 sehingga Xpel = ( 1- Xter ), maka dapat
ditulis dalam bentuk lain yakni :
ΔP = Pº - P
= Pº - ( Xpel – Xter )
= Pº - ( 1 – X ter ) Pº
= Pº - P + ( Xter × Pº )
= Xter × Pº
ΔP = Xter × Pº
Penurunan tekanan uap merupakan sifat koligatif larutan artinya bahwa
penurunan tekanan uap tidak bergantung pada jenis zat terlarut, tetapi hanya pada
konsentrasi ( fraksi mol ). Fraksi mol yang sama akan pempunyai penurunan
tekanan uap yang sama pula.

Titik Beku dan Titik Didih Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

a. Kenaikan Titik Didih dan Penurunan Titik Beku


- Titik didih dan titik beku
Tekanan uap menggambarkan kecendurangan cairan untuk menguap, semakin
besar tekanan uap semakin mudah zat itu menguap. Sementara itu, tekanan udara luar
memeksa uap tetap berada dalam cairan. Jika tekanan uap kurang dari tekanan udara
luar (tekanan di permukaan cairan), uap hanya terbentuk dari permukaan caiaran.
Namun, ketika tekanan uap cairan sama dengan tekanan udara dipermukaan,
penguapan dapat terjadi diseluruh bagian cairan. Uap yang terbentuk dapat naik dan
pecah di permukaan. Keadaan ini pada air yang mendidih.
Titik didih adalah suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan
dipermukaan. Oleh karena itu, titik didih bergantung pada tekanan di permukaan. Di
permukaan laut (tekanan = 760 mmHg), air mendidih pada 100ºC karena pada suhu
yakni titik didih pada tekanan 760 mmHg. Titik didik normal adalah 100ºC.
Titik beku adalah suhu pada saat tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap
padatannya. Pada tekanan 1 atm, air membeku pada 0ºC karena pada suhu itu tekanan
uap air sama dengan tekanan uap es.

1. Titik didih dan titik beku larutan


Selisih antara titik didih larutan dengan titik didih pelarutannya disebut
kenaikan titik didih (ΔTb = boiling point elevation), sedangkan selisih antara titik
beku pelarut dengan titik beku larutan disebut penurunan titik beku (ΔT f = freezing
point elevation)
ΔTb = Tb larutan – Tb pelarut
Dimana :
ΔTb = kenaikan titik didih
Tb larutan = titik didih larutan
Tb pelarut = titik didih pelarut
ΔTf = Tf larutan – Tf pelarut
Dimana :
ΔTf = penurunan titik beku
Tb larutan = titik beku larutan
Tb pelarut = titik beku pelarut
2. Hubungan konsentrasi dengan ΔTb dan ΔTf
Kenaikan titik didih maupun penurunan titik beku tidak bergantung pada jenis
zat terlarut, tetapi hanya pada konsentrasi partikel dalam larutan saja. Oleh karena itu
kenaikan titik didih dan penurunan titik beku tergolong sifat koigatif. Untuk larutan
encer kenaikan titik didih ΔTb maupun penurunan titik beku ΔTf sebanding dengan
kemolalan larutan.
ΔTb = Kb × m
ΔTf = Kf × m
Dimana :
ΔTb adalah kenaikan titik didih
ΔTf adalah penurunan titik beku
Kb adalah tetapan kenaikan titik didih molal
Kf adalah tetapan penurunan titik beku molal
m adalah kemolalan larutan
Contoh soal :
 Satu garam MgCl2 dilarutkan dalam 500 gram air. Tenrukan titik didih dan titik beku
Jawab :
1gram
Jumlah mol MgCl 2   0,011mol
95 grammol 1
0,011mol
Molalitas larutan =  0,022molkg 1
0,5kg
Molaritas larutan juga dapat dianggap 0,022 mol/liter
Molaritas larutan juga dapat dianggap = 0.022 mol.liter
i=1+(n–1)α
= 1 + ( 3 – 1 ) 0.9
= 2.8
- ΔTb = Kb X m X i
= 0.52 X 0.022 X 2.8
= 0.032 oC
Titik didih larutan = 100 + 0.032 oC
= 100.032 oC
- ΔTf = Kb X m X i
= 1.86 X 0.022 X 2.8
= 0.115 oC
Titik beku larutan = 0 – 0.115 oC
= - 0.115 oC

Diagram PT

Diagram fase atau diagram PT adalah diagram yang menyatakan hubungan antara suhu
dan tekanan dengan fase zat. Diagram fase menyatakan batas-batas suhu dan tekanan di mana
suatu bentuk fase dapat stabil. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari diagram fase :
1. Garis didih
Garis BC pada gambar di atas disebut garis didih. Garis didih merupakan transisi fase
cair-gas. Setiap itik pada garis itu menyatakan suhu dan tekanan di mana air akan
mendidih. Titik didih bergantung pada tekanan gas di permukaan. Pada tekanan 1 atm
(760 mmHg), air mendidih pada suhu 100 oC. pada tekanan 4,58 mmHg, air mendidih
pada suhu 0,0098 oC.
2. Garis beku
Garis BD pada gambar di atas disebut garis beku. Garis beku merupakan transisi fase
cair-padat. Setiap titik pada garis itu menyatakan suhu dan tekanan di mana air dapat
membeku (es mencair). Pada tekanan 1 atm (760 mmHg), air membeku pada 0 oC; pada
4,58 mmHg, air membeku pada 0,0098 oC.tekanan permukaan berpengaruh besar pada
titik didih, tetapi sangat kecil pengaruhnya terhadap titik beku.
3. Garis sublimasi
Garis AB pada gambar di atas disebut garis sublimasi. Garis sublimasi merupakan
transisi fase padat-gas.setiap titik pada garis sublimasi menyatakan suhu dan tekanan di
mana zat padat atau uap dapat menyublim.
4. Titik tripel
Perpotongan antara garis didih dengan garis beku dan garis sublimasi disebut titik tripel.
Titik tripel a`ir adalah (0,0098 oC; 4,58 mmHg). Pada titik tripelnya ketiga bentuk fase
yaitu, padat, cair, dan gas, berada dalam kesetimbangan.
Pada setiap suhu, suatu larutan memiliki tekanan uap yang lebih rendah dari pada
pelarut murninya. Dari diagram PT terlihat bahwa titik didih larutan selalu lebih tinggi
daripada titik didih pelarut murninya, dan titik beku larutan selalu lebih rendah dari pada
pelarut murninya.

Tekanan Osmosis Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

1. Pengertian Osmosis dan Tekanan Osmosis


Suatu larutan yang encer memiliki tekanan uap yang lebih besar dari pada larutan
yang pekat. Artinya, molekul-molekul pelarut dalam larutan encer memiliki
kecenderungan lolos (escaping tendency) yang lebih besar.jika suatu larutan encer dan
suatu larutan pekat dipisahkan oleh selaput yang dapat ditembusi oleh molekul pelarut,
tetapi tidak dapat ditembusi oleh molekul zat terlarut maka terjadilah peristiwa osmosis,
yaitu perpindahan molekul pelarut dari larutan yang encer ke larutan yang pekat.
Osmosis adalah peristiwa perembesan pelarut dari pelarut ke dalam larutan,atau dari
larutan lebih encer ke larutan lebih pekat, melalui selaput semipermeable.peristiwa
osmosis menyebabkan naiknya permukaan larutan pekat, sehingga tekanan membesar
yang pada gilirannya akan memperlambat laju osmosis. Akhirnya, tercapailah suatu
tekanan yang mampu manghentikan osmosis atau perpuindahan molekul pelarut.
Tekanan ini disebut tekanan osmotic (π).

2. Hubungan Tekanan Osmosik dengan Konsentrasi Larutan


Tekanan osmotic tergolong sifat koligatif karena harganya bergantung pada
konsentrasi dan bukan pada jenis partikel zat terlarut. Menurut van’t Hoff , tekanan
osmotik larutan-larutan encer dapat dihitung dengan rumus :
πV=nRT

Tekanan osmotic adalah perbedaan tekanan hidrostatik maksimum antara suatu


larutn dengan pelarutnya.tekanan osmotic merupakan salah satu sifat koligatif larutan
dan terdapat kesamaan rumus tekanan osmotic dengan rumus gas ideal.
Pv=nRT

Jika P adalah tekanan osmotic (π), sedangakan n/v adalah kemolaran (M), maka
π=MRT
Dengan :π = tekanan osmotic (atm)
M = kemolaran larutan
R = tetapan gas (0,08205 L atm mol-1 K-1)
T = suhu mutlak (K)
Contoh soal :
Berapa tekanan osmotic larutan sukrosa 0,0010 M pada 25 oC?
Jawab:
π=MRT
π = 0,0010 mol L-1 x 0,08205 L atm mol-1 K-1 x 298 K = 0,024 atm.

3. Osmosis dalam Kehidupan Sehari-hari.


Contoh osmosis dalam kehidupan sehari-hari ialah pada sel darah merah. Dinding
sel darah merah mempunyai ketebalan kira-kira 10 nm dan pori dengan diameter 0.8 nm.
Molekul air berukuran kurang dari setengah diameter tersebut sehingga dapat lewat
dengan mudah. Ion K+ yang terdapat dalam sel juga berukuran lebih kecil dari pada
dinding sel itu, tetapi karena dinding tersbeut bermuatan positif, maka ion K+ akan
ditolak. Jadi, selain ukuran partikel, muatan dapat juga merupakan factor penentu untuk
dpat melalui pori sebuah selaput permeable.

Cairan dalam sel darah merah mempunyai tekanan osmotic yang sama dengan
larutan NaCl 0,92%. Dengan kata lain, cairan sel darah merah isotonic dengan larutan
NaCl 0,92%. Jika sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan NaCl 0.92%, air yang
masuk dan keluar dinding sel akan setimbang.akan tetapi, jika sel darah merah
dimasukkan ke dalam larutan NaCl yang lebih pekat dari 0,92%, air akan keluar dari
dalam sel dan sel akan mengerut. Larutan yang demikian dikatakan hipertonik.
Sebaliknya jika sel darah merah dimasukkan ke dalam larutan NaCl yang lebih ener dari
0,92%, air akan masuk ke dalam sel dan sel akan mengembung dan pecah (plasmolisis).
Larutan ini dikatakan hipotonok.

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN ELEKTROLIT

Larutan NaCl 0,010 m mempunyai penurunan titik beku sebesar 0,0359 oC. harga ini
hampir dua kali lebih besar (tepatnya 1,93 kali lebih besar) dari pada penurunan titik beku
urea 0,010 m. zat elektrolit sebagian atau seluruhnya terurai menjadi ion-ion. Jadi, untuk
konsentrasi yang sama larutan larutan elektrolit mengandung jumlah partikel lebih banyak
dari pada larutan nonelektrolit. Oleh karena itu larutan elektrolit mempunyai sifat koligatif
lebih besar dari pada sifat koligatif larutan nonelektrolit.
Perbandingan antara harga sifat koligatif yang terukur dari suatu larutan elektrolit
dengan harga sifat koligatif yang diharapkan dari suatu larutan nonelektrolit pada konsentrasi
yang sama disebut factor van’t Hoff dan dinyatakan dengan lambang i. Harga i untuk larutan
NaCl 0.010 m dapat dihitung sebagai berikut:
Rumus :
𝛥𝑇𝑓 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑁𝑎𝐶𝑙 0,010 𝑚
ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑖 𝑁𝑎𝐶𝑙 0,010 𝑚 =
𝛥𝑇𝑓 𝑙𝑎𝑟𝑢𝑡𝑎𝑛 𝑁𝑎𝐶𝑙 0,010 𝑚
0,0359 oC
= = 1,93
0,0186 oC
Harga i dari elektrolit tipe kovalen ternyata lebih bervariasi, bergantung pada
kekuatan elektrolit itu. Elektrolit lemah mempunyai harga mendekati satu, sedangkan
elektrolit kuat mempunyai harga i yang mendekati harga teoritisnya. Hubungan harga i
dengan persen ionisasi (derajat ionisasi) adalah sebagai berikut :
i = 1 + (n-1)α
dengan :
n = jumlah ion dari elektrolit
α = derajat ionisasi elektrolit
Jadi, untuk larutan elektrolit, rumus-rumus yang dipakai sebagai berikut:
ΔP = X. Po. i
ΔTf = Kf. m. i
ΔTb = Kb. m. i
π = M R T. i
Untuk elektrolit kuat pada pengenceran ak terhingga harga α = 1, maka berlaku rumus berikut
:
ΔP = X. Po. n
ΔTf = Kf. m. n
ΔTb = Kb. m. n
π = M R T. n
Membandingkan Sifat Koligatif
Jika kita ingin membandingkan sifat koligatif beberapa larutan, hendaklah selalu diingat
bahwa makin banyak partikel zat terlarut, maka makin besar sifat koligatif (ΔP, ΔTf, ΔTb, dan
π) yang ditimbulkan. Dalam hal ini ada beberapa patokan yang perlu diperhatikan :
1) Jika larutan-larutan tersebut berkonsentrasi sama, maka:
 Larutan elektrolit memiliki harga ΔP, ΔTf, ΔTb, dan π yang lebih besar dari pada
larutan nonelektrolit
 Makin banyak ion (harga n) suatu elektrolit maka harga ΔP, ΔTf, ΔTb, dan π juga
makin besar
2) Jika larutan-larutan tersebut berkonsetrasi tidak sama, larutan yang memiliki harga
(nxkonsentrasi) paling besar akan memiliki harga ΔP, ΔTf, ΔTb, dan π yang juga paling
besar.
Untuk larutan nonelektrolit n = 1
Untuk larutan elektrolit n = jumlah ion

PENGGUNAAN SIFAT KOLIGATIF LARUTAN


Sifat koligatif larutan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, ilmu pengetahuan, dan
dalam industri.
 Membuat campuran pendingin
Cairan pendingin adalah larutan berair yang memiliki titik beku jauh di bawah 0oC.
Cairan digunakan dalam pabrik es, juga digunakan untuk membuat es putar. Cairan
pendingin dibuat dengan melarutkan berbagai jenis garam ke dalam air.
Pada pembuatan es putar cairan dibuat dengan mencampurkan garam dapur dengan
kepingan es batu dalam sebuah bejana berlapis kayu. Pada pencampuran itu, es batu akan
mencair sedangkan suhu campuran turun. Selanjutnya campuran bahan pembuat esputar
dimasukkan ke dalam bejana yang terbuat dari bahan stainless steel. Bejana ini kemudian
dimasukkan ke dalam cairan pendingin, sambil terus-menerus diaduk sehingga campuran
membeku.
 Anti beku
Anti beku adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu cairan untuk menurunkan titik
bekunya. Antibeku mencegah pembekuan cairan yang digunkan sebagai pendingin,
misalnya dalam pesawt terbang dan kendaraan bermotor. Zat anti beku yang ideal adalah
zat yang dapat larut dalam cairan pendinginnya sendiri, mempunyai viskositas dan
konduktivitas listrik yang rendah, titik didih tinggi, tidak korosif, dan mempunyai daya
hantar panas yang baik. Anti beku yang banyak digunakan dalam kendaraan bermotor
berupa etilenglikol (glikol:CH2OH-CH2OH). Selain menurunkan titik beku, anti beku juga
menaikkan titik didih sehingga mengurangi penguapan.
 Pencairan salju di jalan raya
Lapisan salju di jalan raya dapat dibersihkan dengan garam dapur atau urea. Prinsip
dasar proses ini juga berdasarkan penurunan titik beku.
 Penentuan massa molekul relatif (Mr)
Pengukuran sifat koligatif dapat digunakan untuk menentukan massa molekul relatif
zat terlarut. Hal itu dapat dilakukan karena sifat koligatif hanya bergantung pada
konsetrasi zat terlarut.
 Membuat cairan fisiologis
Cairan infus dan berbagai cairan fisiologis lainnya, seperti obat tetes mata, harus
isotonik dengan cairan tubuh kita. Oleh karena itu konsentrasinya harus disesuaikan.
 Desalinasi air laut melalui osmosis balik
Osmosis balik digunakan untuk membuat air murni dari air laut. Dengan memberikan
tekanan pada permukaan air laut yang lebih besar dari pada tekanan osmotiknya, air
dipaksa unutk merembes dari air asin ke dalam air murni melalui selaput yang permeabel
untuk air tetapi tidak untuk ion-ion dalam air laut.penggunaan osmotik balik, yaitu untuk
memisahkanzat-zat beracun dalam air limbah sebelum dilepaskan ke lingkungan.

Konsep Oksidasi-Reduksi

Perhatikan kedua reaksi di bawah ini :


 2 Na + ½ O2 Na2O
 Fe2O2 2 Fe + 11/2 O2
Pada reaksi pertama, terjadi perubahan atom Na menjadi ion Na+ (dalam Na2O). Hal
ini berarti bahwa atom Na melepaskan elektron. Dari hal ini maka , pengertian oksidasi kini
diperluas menjadi peristiwa pelepasan elektron, atau oksidasi.
Pada reaksi kedua, terjadi perubahan ion Fe3+ (dalam Fe2O2) menjadi atom Fe. Hal ini
berarti bahwa ion Fe3+ menangkap elektron. Oleh karena itu pengertian reduksi juga dapat
diperluas menjadi peristiwa penangkapan elektron, atau reduksi.
Dengan beberapa pengertian di atas maka, konsep oksidasi dan reduksi tidaklah hanya
terbatas pada reaksi yang menyangkut oksigen saja. Semua reaksi pelepasan elektron disebut
reaksi oksidasi, dan semua reaksi penangkapan elektron disebut reaksi reduksi.
Contoh reaksi-reaksi oksidasi :
K K+ + e
Zn Zn2+ + 2 e
Fe2+ Fe3+ + e
Contoh reaksi reduksi :
Cu2+ + 2e Cu
Sn4+ + 2e Sn2+
Cl2 + 2 e 2 Cl-
Melepaskan elektron artinya memberikan elektron kepada atom lain, serta menangkap
elektron artinya menerima elektron dari atom lain. Oleh karena itu, peristiwa pelepasan
elektron oleh suatu atom selalu diserta dengan peristiwa penangkapan elektron oleh atom
lain. Jadi peristiwa oksidasi selalu disertai dnegan peristiwa reduksi.
Sebagai contoh, perhatikan reaksi oksidasi di bawah ini :
Zn Zn2++ 2 e
Reaksi di atas harus mempunyai pasangan berupa reaksi reduksi, agar menjadi jelas kepada
siapa elektron tersebut diberikan. Reaksi reduksi itu misalnya :
Cu2+ + 2 e Cu
Reaksi yang lengkap dalah sebgaai berikut :
Zn Zn2++ 2 e
Cu2+ + 2 e Cu +
Zn + Cu2+ Zn2+ + Cu
Reaksi yang paling bawah terjadi dua peristiwa : oksidasi dan reduksi. Reaksi semacam ini
disebut reaksi redoks.
Jika suatu zat mengalami oksidasi (melepaskan elektron), maka zat itu menyebabkan
zat lain akan mengalami reduksi (menerima elektron). Itulah sebabnya, zat yang mengalami
oksidasi disebut zat pereduksi (reduktos), karena ia mereduksi zat lain.
Sebaliknya, jika suatu zat mengalami reduksi (menangkap elektron), maka zat itu
menyebabkan zat lain akan mengalami oksidasi (melepaskan elektron). Zat yang mengalami
reduksi tersebut disebut zat pengoksidasi (oksidator), karena ia mengoksidasi zat lain.
Bilangan Oksidasi

konsep bilangan oksidasi (tingkat oksidasi) dikemukakan untuk memudahkan kita


dalam menentukan peristiwa oksidasi dan reduksi. Sebab, dalam kebanyakan reaksi sering
tidak jelas apakah terjadi perpindahan elektron.
Kepada setiap atom diberikan suatu harga yang disebut bilangan oksidasi.
Berdasarkan konsep ini, telah disusun beberapa ketentuan sebagai berikut :
 Dalam unsur-unsur dan molekul-molekul yang beratom sejenis, seperti Na, Fe, S, O2, N2,
dsb., setiap atom memeiliki bilangan oksidasi nol.
 Atom H dalam senyawa memiliki bilangan oksidasi +1, kecuali dalam senyawa hibrida,
contoh CH4, NH3, KH, NaH, BaH2¸dsb. Dimana bilangan oksidasi H = - 1.
 Atom O dalam senyawa memiliki bilangan oksidasi – 2, kecuali :
a. dalam F2O bilangan oksidasi O = + 2
b. dalam peroksida (H2O2, Na2O2, dsb) bilangan oksidasi O = - 1
 Atom logam dalam senyawa memiliki bilangan oksidasi positif yang sesuaii dengan
valensi logam tersebut.
Contoh :
Dalam AgCl bilangan oksidasi Ag = + 1
Dalam ZnSO4 bilangan oksidasi Zn = + 2
Dalam Fe2O3 bilangan oksidasi Fe = + 3
 Jumlah total bilangan oksidasi seluruh atom dalam suatu ion = muatan ion.
 Jumlah total bilangan oksidasi seluruh atom di atas, kita dapat menentukan bilangan
oksidasi suatu atom yang belum diketahui.
Misalkan, suatu reaksi redoks Zn + Cu2+ Zn2+ + Cu, dimana Zn mengalami
oksidasi, dan Cu2+ mengalami reduksi. Ternyata bilangan oksidasi Zn bertambah dari nol
menjadi + 2 sedangkan bilangan oksidasi Cu berkurang dari + 2 mnejadi nol. Dengan
demikian kita dapat membuat definisi oksidasi dan reduksi sebagai berikut :
Oksidasi adalah peristiwa penambahan (naiknya) bilangan oksidasi serta reduksi adalah
peristiwa pengurangan (turunnya) bilangan oksidasi.
Jadi dengan melihat apakah bilangan oksidasi suatu atom bertamabah atau berkurang,
kita dapat menentukan peristiwa oksidasi atau reduksi.
Perhatikan reaksi di bawah ini :
Zn + H2SO4 ZnSO4 + H2
Zn merupakan reduktor (mengalami oksidasi), sebab bilangan oksidasi Zn bertambah dari nol
menjadi + 2. Sedangkan H2SO4 merupakan oksidator (mengalami reduksi), sebab bilangan
oksidasi H berkurang dari + 1 menjadi nol.
Perhatikan pula reaksi di bawah ini :
HCl + NaOH NaCl + H2O
Pada reaksi asam-basa di atas, tidak terdapat perubahan bilangan oksidasi. Bilangan
oksidasi H tetap + 1 baik di ruas kiri maupun di ruas kanan; Cl tetap – 1; Na tetap + 1; dan O
tetap – 2. Hal ini berrati bahwa dalam reaksi itu tidak terdapat peristiwa oksidasi dan reduksi.
Dengan perkataan lain, reaksii tersebut bukan reaksi redoks.

Penyetaraan Persamaan Redoks

Suatu reaksi redoks dikatakan setara apabila memenuhi hal-hal di bawah ini :
a. Jumlah atom di ruas kiri sama dengan di ruas kanan.
b. Jumlah atom muatan di ruas kiri sama dengan di ruas kanan.
c. Oleh karena kebanyakan reaksi redoks berlangsung dalam bentuk larutan dan pada
suasana asam atau basa, maka faktor H+ atau OH- harus dituliskan juga.
Perhatikan dua buah reaksi redoks berikut ini :
Fe2+ + MnO4- Fe3+ + Mn2+
P + NO3- PO43- + NO
Reaksi – reaksi di atas belum setara, sebab belum memenuhi hal-hal di atas.
Reakis redoks dapat berlangsung dalam suasana asam, basa atau netral. Reaksi redoks
melibatkan ion H+. Dalam suasana basa, reaksi redoks melibatkan ion OH-. Persamaan reaksi
redoks dapat disetarakan mellaui dua cara, yaitu dengan cara bilangan oksidasi dan cara ion
elektron (cara setengah reaksi).
1. Cara bilangan oksidasi
Penyetaraan persamaan reaksi redoks dengan cara bilangan oksidasi dilakukan
dengan menyamakan jumlah elektron yang dilepaskan oleh oksidator dan elektron yang
diikat oleh reduktor. Cara bilangan oksidasi dipakai untuk menyetarakan reaksi redoks
dalam bentuk larutan maupun tidak dalam bentuk larutan.
Langkah-langkah penyetaraan persamaan reaksi redoks cara bilangan oksidasi, adalah
sebagai berikut :
a. menentukan unsur yang mengalami perubahan bilangan oksidasi.
b. Menuliskan harga bilangan oksidasi yang mengalami perubahan bilangan oksidasi.
c. Menentukan penurunan bilangan oksidasi (peristiwa reduksi) dan kenaikan bilangan
oksidasi (peristiwa oksidasi). Caranya dengan membuat garis penghubung pada
unsur yang mengalami perubahan bilangan dari ruas kiri ke ruas kanan.
d. Menyetarakan jumlah muatan dengan dikalikan suatu bilanagn (yaitu selisih muatan
oksidasi antara ruas kiri dan ruas kanan, serta selisih muatan reduksi antara ruas kiri
dan ruas kanan). Angka pengali sebagai koefisien untuk pereduksi dan pengoksidasi.
Sedangkan, koefisien unsur lainnya disesuaikan.
2. Cara ion atau cara setengah reaksi
Penyetaraan reaksi redoks dengan cara ion elektron (cara setengah reaksi)
dilakukan dengan membagi reaksi menjadi dua bagian, yaitu sistem yang tereduksi dan
sistem yang teroksidasi. Kemudian menyamakan jumlah elektron yang diterima oleh
setiap reaksi, selanjutnya reaksi dijumlahkan. Cara setengah reaksi atau ion elektron
hanya baik dipakai untuk reaksi redoks dalam bentuk larutan.
Langkah-langkah penyetaraan persamaan reaksi redoks cara setengah reaksi sebagai
berikut :
a. pemecahan reaksi menjadi dua persamaan setengah reaksi (reaksi reduksi dan reaksi
oksidasi).
b. Penyetaraan setiap persamaan setengah reaksi, dengan urutan sebagai berikut:
1. menyetarakan jumlah atom O dan H dengan menambahkan koefisien.
2. menyetarakan jumlah atom O, dengan menambahkan H2O secukupnya di ruas
yang kekurangan O.
3. menyetarakan jumlah atom H, dengan menambakan H+ secukupnya di ruas yang
kekurangan H.
4. menyetarakan jumlah muatan dengan menambahkan elektron seruas dengan H+.
Apabila reaksi dalam suasana asam berarti penyetaraan selesai. Apabila reaksi
dalam keadaan basa, H+ digamti dengan OH- dengan cara sebagai berikut :
a) menambahkan OH- pada kedua ruas sebanyak H+
b) menggabungkan H+ dan OH- menjadi H2O.
c) Mengurangi kelabihan H2O.
5. menyetarakan jumlah elektron pada kedua persamaan setengah reaksi.
c. Menjumlahkan kedua persamaan setengah reaksi.
Sel-Sel Elektrokimia

Sel elektrokimia adalah sel yang menghasilkan transfer bentuk energi listrik menjadi
energi kimia atau sebaliknya, melalui saling interaksi antara arus listrik dan reaksi redoks.
Ada dua macam sel elektrokimia, yaitu :
1. Sel volta atau sel galvani
dalam sel volta, reaksi redoks akan menimbulkan arus listrik. Dengan perkataan lain,
energi kimia diubah menjadi energi listrik. Contoh sel volta yang kita kenal dalam
kehidupan sehari-hari adalah batu baterei dan aki (akumulator).
2. Sel elektrolisis
dalam sel elektrolisis arus listrik akan menimbulkan reakis redoks. Dengan kata lain,
energi listrik diubah menjadi energi kimia. Jadi, proses dalam sel elektrolisis merupakan
kebalikan dari proses dalam sel volta.
Dalam sel volta, reaksi redoks merupakan sumber arus listrik. Sedangkan dalam sel
elketrolisis, reaksi redoks merupakan akibat dari aliran arus listrik. Baik dalam sel volta
maupun dalam sel elektrolisis, reaksi redoks berlangsung pada bagian-bagian yang disebut
elektroda–elektroda. Elektroda tempat terjadi oksidasi disebut anoda dan elektroda tempat
terjadi reduksi disebut katoda.
Untuk memahami reaksi redoks yang berlangsung pada sel-sel elektrokimia, kita perlu
membahas potensial reduksi atau potensial elektroda.

Potensial Elektroda

Suatu reaksi reduksi (penangkapan elektron) dapat menimbulkan potensial listrik


tertentu, yang disebut potensial reduksi atau potensial elektroda. Lambangnya : E. Makin
mudah suatu unsur mengalami reduksi, makin besar E yang ditimbulkannya.
Yang menjadi masalah : harga E yang sebenarnya dari suatu reaksi reduksi tidak dapat
dihitung, sebab tidak ada reaksi reduksi yang berlangsung tapa disertai reaksi oksidasi.
Misalnya, kita tidak mungkindapat mengkur E yang timbul dari reaksi reduksi
Zn2+ + 2 e Zn, sebab reaksi ini hanya merupakan setengah reaksi, yang selalu
berpasangan dengan reaksi oksidasi, misalnya reaksi Mg Mg2+ + 2 e yang juga
merupakan setengah reakis. Reaksi pelengkap yang sesungguhnya terjadi adalah :
Mg + Zn2+ Mg2+ + Zn
Oleh karena itu, harga E yang kita pakai adalah harga E relatif yang dibandingkan
terhadap suatu elektroda standar. Itulah sebbanya harga E lebih tepat disebut harga Eº, yaitu
potensial reduksi standar atau potensial standar.
Yang dipakai standar dalam menentukan harga Eº adalah elektroda hidrogen (lihat
gambar di bawah). Gas hidrogen murni dialirkan pada elektroda platina yang bersentuhan
dengan larutan asam (H+). Pada permukaan platina terdapat kesetimbangan
2 H+ + 2 e H2
harga Eº dari reaksi ini ditetapkan 0 volt. Kemudian harga-harga Eº dari semua reaksi reduksi
adalah harga yang dibandingkan terhadap Eº hidrogen.

Adapun suatu deret unsur – unsur, yang mana terdapat unsur – unsur mulai darii yang
memiliki Eº terkecil sampai pada unsur yang memiliki Eº terbesar.
Ba-Ca-Na-Mg-Al-Mn-Zn-Cr-Fe-Cd-Co-Ni-Sn-Pb-(H)-Sb-Bi-Cu-Hg-Ag-Pt-Au
Deret di atas ini disebut sebagai deret potensial logam, atau dikenal dengan deret Volta.
Dengan menggunakan deret Volta, kita memperoleh beberapa kesimpulan sebagi berikut :
Logam – logam yang terletak de sebelah kiri H memiliki Eº negatif.
Logam – logam yang terletak di sebelah kanan memiliki Eº positif.
Makin ke kanan letak suatu logam dalam deret Volta, harga Eº semakin besar. Hal ini
berarti bahwa logam-logam di sebelah kanan mudah mengalami reduksi serta sukar
mengalami oksidasi.
Makin ke kiri letak suatu unsur dalam deret Volta, harga Eº makin kecil. Hal ini berarti
bahwa logam-logam di sebelah kiri sukar mengalami reduksi serta mudah mengalami
oksidasi.
Oleh karena unsur-unsur logam cenderung melepaskan elektron (mengalami oksidasi),
maka logam- logam di sebelah kiri merupakan logam-logam yang aktif (mudah melepaskan
elektron), sedangkan logam-logam di sebelah kanan merupakan logam-logam mulia (sangat
sukar melepaskan elektron). Emas terletak di ujung paling kanan, sebab emas paling sukar
teroksidasi.
Sel Volta (Sel Galvani)

Sel volta merupakan sel elektrokimia yang dapat menimbulkan arus listrik akibat
adanya reaksi redoks dalam sel tersebut. Contoh aplikasi sel voltayang terkenal, yaitu batu
batere. Untuk mengetahui mekanisme sel volta atau sel galvani, perhatikanlah contoh klasik
sel volta yang terdiri dari elektroda-elektroda seng dan tembaga.

Logam seng yang tercelup dalam larutan ZnSO4 merupakan anoda (tempat
berlangsungnya oksidasi), sedangkan logam tembaga yang tercelup dalam larutan CuSO4
merupakan katoda (tempat berlangsungnya reduksi). Kedua larutan dihubungkan oleh suatu
“jembatan garam” . masing-masing logam seng dan tembaga dihubungkan dengan voltmeter
melalui kawat.
Elektron yang dihasilkan dari oksidasi seng mengalir melalui kawat mwnuju larutan
CuSO4. elektron itu ditangkap oleh ion Cu2+ dan terjadilah reduksi menghasilkan logam
tembaga. Aliran elektron melalui kawat menghasilkan lsumber energi. “ Jembatan garm”
merupakan tabung berbentuk huruf U yang diisi oleh KNO3 atau KCI dalam gelitan dan
berfungsi menjaga kenetralan lisrik dari kedua larutan. Ion K+ dari jembatan garam dapat
bergerak ke dalam larutan CuSO4 untuk menetralkan kelebihan ion SO4=, dan Cl- atau NO3-
dari jembatan garam dapat bergerak ke dalam larutan ZnSO4 untuk menetralkan kelebihan
Zn2+. Adanya jembatan garam menyebabkan elektron mengalir secara terus-menerus melalui
kawat.
Oleh karena elektron (muatan negatif) mengalir dari seng ke tembaga, maka seng
adalah elektroda negatif dan tembaga adalah elektroda positif. Dalam uraian terdahulu telah
kita bahas bahwa seng merupakan anoda (terjadi oksidasi) dan tembaga merupakan katoda
(terjadai reduksi). Hal ini berarti bahwa dalam sel Volta anoda adalah elektroda negatif dan
katoda adalah elektroda positif.
Dari daftar Eº dapat kita lihat bahwa logam yang memiliki Eº lebih kecil selalu
memberukan elektron kepada logam yang memiliki Eº lebih besar. Proses sebaliknya tidak
mungkin berlangsung, sebab akan melanggar “peraturan” daret volta. Jadi, dapatlah
disimpulkan bahwa dalam sel Volta anoda selalu memiliki Eº lebih kecil ( lebih rendah)
daripada katoda.
Potensial listrik yang dihasilkan oleh suatu sel Volta disebut potensial sel, yang
memiiliki lambang Eº sel. Istilah lain untuk potensial SI adalah emf (electromtife force) atau
ggl (gaya geraklistrik).
Potensial sel merupakan perbedaan harga E dari kedua elektroda.
Eº sel = Eº katoda – Eº anoda
Contoh :
Diketahui harga Eº untuk Zn dan Cu:
Zn2+ + 2e Zn Eº = -0,76 volt
Cu2+ + 2e Cu Eº = +0,34 volt
Hitunglah potensial sel dari reaksi redoks
Zn + Cu2+ Cu + Zn2+
Jawab :
Zn merupakan anoda, karena memiliki Eº lebih kecil ( mengalami oksidasi). Cu merupakan
katoda.
Eº sel = Eº Cu – Eº Zn
=+ 0,34 – (-0,76)
=+ 0,34 + 0,76
= 1,10 volt
Sekarang marilah kita membahas sel-sel Volta yang sering kita temui sehari- hari
yaitu batu bater dan aki.
Nama resmi batu batre adalah sel kering. Lapisan luar batu batere adalah logam seng
yang bertindak sebagai anoda. Bagian dalam batu batere diisi dengan bubur atau pasta yang
terdiri dari campuran MnO2 (EMD= elektrolit mangan oksida), NH4Cl, tepung karbon, dan
air. Batang grafit dibenamkan dalam campuran ini, dan bertindak sebagai katoda.
Pada katoda seng akan teroksidasi :
Zn (s) Zn2+ (aq) + 2e

Pada katoda, MnO2 akan mengalami reduksi :


2 MnO2 + 2NH4+ + 2e Mn2O3 + 2 NH3 + H2O
Elektrolisis
Elektrolisis merupakan peristiwa penguraian elektrolit oleh arus listrik. Jika dalam sel
volta energi kimia diubah menjadi energi listrik, maka dalam sel elektrolisis yang terjadi
adalah sebaliknya; energi listrik diubah menjadi energi kimia. Dengan mengalirkan arus
listrik dari sumber arus ke dalam suatu larutan atau leburan elektrolit, kita akan memperoleh
reaksi redoks yang terjadi dalam sel elektrolisis.
Pada larutan atau leburan elektrolit yang akan dielektrolisis, kita celupkan dua buah
batang yang bertindak sebagai elektroda-elektroda, masing-masing sebagai katoda dan anoda.
Batang elektroda itu biasanya terbuat dari karbon atau platina. Seperti halnya dalam sel volta,
maka dalam sel elektrolisis pun reduksi akan terjadi di katoda dan oksidasi akan terjadi di
anoda. Kedua elektroda itu kita hubungkan dengan sumber arus listrik. Lalu arus listrik
masuk ke dalam larutan melalui elektroda, dan terjadilah reaksi redoks.
Dalam larutan terdapat kation (ion positif) dan anion (ion negatif) yang berasal dari
ionisasi elektrolit. Jika arus listrik kita alirkan ke dalam larutan, maka kation akan mengalami
reduksi dengan menangkap elektron, sedangkan anion akan mengalami oksidasi dengan
melepaskan elektron.
Oleh karena itu, reduksi terjadi di katoda dan oksidasi terjadi di anoda, maka kation
akan menuju katoda dan anion akan menuju anoda. Jadi, dalam sel elektrolisis, katoda
merupakan elektroda negatif (sebab dituju oleh ion positif) dan anoda merupakan elektroda
positif (sebab dituju oleh ion negatif).

Gambar : Sel Elektrolisis


Ada dua macam elektroda, yaitu elektroda yang tidak ikut bereaksi (Pt/C) dan elektroda yang
bereaksi (di luar Pt/C).
a. Reaksi-Reaksi Pada Katoda
Reaksi pada katoda adalah reduksi terhadap kation. Jadi, yang diperhatikan hanyalah
kation saja.
 Jika larutan mengandung ion-ion logam alkali, ion-ion logam alkali tanah, ion A3+ dan
ion Mn2+, maka ion-ion logam ini tidak dapat direduksi dari larutan. Yang akan
mengalami reduksi adalah pelarut (air), dan terbentuklah gas hidrogen (H2) pada
katoda.
2H2O + 2e 2OH- + H2
Dari daftar Eº kita mengetahui bahwa reduksi terhadap air lebih mudah berlangsung
daripada reduksi terhadap ion-ion di atas
 Jika larutan mengandung asam, maka ion H+ dari asam akan direduksi menjadi gas
hidrogen (H2) pada katoda.
2H+ + 2e H2
 Jika larutan mengandung ion-ion logam yang lain, maka ion-ion logam ini akan
direduksi menjadi masing-masing logamnya dan logam yang terbentuk itu diendapkan
pada permukaan batang katoda.
Contoh :
Zn2+ + 2e Zn
Ag+ + e Ag
Cr3+ + 3e Cr
b. Reaksi-Reaksi Pada Anoda
Reaksi pada anoda adalah reaksi oksidasi terhadap anion. Jadi, yang perlu kita
perhatikan hanyalah anion saja.
 Ion-ion halida (F– , Cl– , Br–,I– ) akan dioksidai menjadi halogen-halogen.
Contoh :
2Cl– Cl2 + 2e
2Br– Br2 + 2e
 Ion OH– dari basa akan dioksidasi menjadi gas oksigen (O2)
4OH– 2H2O + O2 + 4e
 Anion-anion yang lain (SO4–, NO3–, dsb.) tidak dapat dioksidasi dari larutan. Yang
akan mengalami oksidasi adalah pelarut (air), dan terbentuklah gas oksigen (O2) pada
anoda.
2H2O 4H+ + O2 + 4e
Contoh elektrolisis larutan elektrolit
1. Elektrolisis larutan NaCl dengan elektroda Pt
Reaksi di katoda : 2H2O + 2e 2OH– + H2
Reaksi di anoda : 2Cl– Cl2 + 2e
Terbentuk H2 di katoda serta Cl2 di anoda.
2. Elektrolisis larutan CuSO dengan elektroda Pt
Reaksi di katoda : Cu2+ + 2e Cu(s)
Reaksi di anoda : 2H2O 4H+ + O2 + 4e
Terbentuk Cu di katoda serta O2 di anoda.
3. Elektrolissi larutan AuBr3 dengan elektroda Pt
Reaksi di katoda : Au3+ + 3e Au(S)
Reaksi di anoda : 2Br– Br2 + 2e
Terbentuk endapan Au di katoda serta Br2 di anoda.
4. Elektrolisis air dengan elektroda Pt
Reaksi di katoda: 2H2O + 2e 2OH– + H2
Reaksi di anoda: 2H2O 4H+ + O2 + 4e
Terbentuk H2 di katoda serta O2 di anoda.

c. Elektrolisis leburan elektrolit


Logam-logam alkali, alkali tanah, aluminium, dan mangan tidak dapat dihasilkan
dari elektrolisis larutan garam-garammya, sebab reduksi terhadap pelarut (air) lebih
mudah berlangsung daripada reduksi terhadap ion-ion logam tersebut. Untuk
memperoleh logam-logam di atas secara proses elektrolisis, maka arus listrik dialirkan
melalui leburan (lelehan; cairan) garam-garamnya yang tidak mengandung air.
Contoh :
logam natrium tidak dapat dihasilkan dari elektrolisis larutan NaCl. Akan tetapi,
logam ntrium dapat dihasilkan dari elektrolisis NaCl cair (leburan NaCl), yang
reaksinya sebagai berikut :
Reaksi di katoda : Na+ + e Na(s)
Reaksi di anoda : Cl– ½ Cl2 + e

Elektrolisis Elektroda di Luar Platina atau Karbon


Elektrolisis dengan elektroda bukan Pt/C misalnya Cu, Zn, Fe, Au dll, merupakan
suatu elektroda yang ikut bereaksi, dimana pada reaksi elektrolisis tersebut, elektrodanya
akan habis bereaksi. Ketentuan reaksi pada katoda sama seperti pada elektroda Pt/C, yang
berbeda adalah reaksi pada anoda, dimana elektroda pada anoda tersebut, elektrodanya
dioksidasi (bereaksi) diubah menjadi ionnya. Dengan demikian yang dikatakan bereaksi
tersebut adalah pada anoda.
Contoh : Reaksi elektrolisis larutan CuSO4 dengan elektroda Zn
CuSO4(aq) Cu2+(aq) + SO42–
Katoda : Cu2+ + 2e Cu(s)
Anoda : Zn Zn2+ + 2e

Beberapa kegunaan proses elektrolisis


1. Contoh proses elketrolisis yang terkenal adalah proses penyepuhan, yaitu melapisi
permukaan suatu logam dengan logam yang lain. Misalnya penyepuhan tembaga oleh
emas. Tembaga (logam yang akan dilapisi) digunakan sebagai katoda, dan emas (logam
pelapis) dipakai sebagai anoda. Sebagai elektrolitnya dipakai larutan garam emas,
misalnya AuCl.
Anoda akan teroksidasi (larut) menurut reaksi.
Au(s) Au3+(aq) + 3e
Sedangkan ion Au3+ dalam larutan akan mengalami reduksi menjadi logam Au yang
diendapkan pada permukaan tembaga (katoda) berdasarkan reaksi menempel pada
tembaga
Au3+(aq) + 3e Au(s)
2. Dalam industri, proses elektrolisis banyak digunakan untuk membuat logam-logam dari
senyawa-senyawanya, serta untuk memurnikan logam dari campuran zat-zat lain. Juga
proses elektrolisis sering digunakan dalam pembuatan basa-basa seperti KOH, NaOH,
Ba(OH)2, dsb. Serta pembuatan gas-gas H2, O2, Cl2, dsb.
Proses elektrolisis dapat juga dipergunakan untuk menghitung konsentrasi suatu ion
logam dalam larutan. Ion logam diendapkan sebagai logamnya pada katoda. Dengan
menghitung pertambahan berat katoda kita dapat menghitung konsentrasiion logam
semula.

Hukum – Hukum Faraday

Pada tahun 1831 – 1832, jauh sebelum penemuan elektron, Michael Faraday dari
Inggris, telah menemukan hubungan kuantitatif antara massa zat yang dibebaskan pada
elektrolisis dengan jumlah listrik yang digunakan. Penemuan itu disimpulkannya dalam dua
hukum sebagai berikut :
 Hukum Faraday I
“Massa zat yang dibebaskan pada elektrolisis (G) berbanding lurus dengan jumlah listrik
yang digunakan (Q)”
G≈Q
Jumlah muatan listrik (Q) sama dengan hasil kali dari kuat arus (i) dengan waktu (t).
Q=ixt (Coulomb)
Jadi , persamaan diatas dapat dituliskan sebagai berikut :
G ≈ i.t
 Hukum Faraday II
“ Massa zat yang dibebaskan pada elektrolisis (G) berbanding lurus dengan massa ekivalen
zat itu (ME”).
G ≈ ME
Penggabungan hukum Faraday I dan II menghasilkan persamaan sebagai berikut :
G = k x i x t x ME
(k = tetapan / pembanding)
1
Faraday menemukan harga k  .,
96.500
Jadi, persamaan di atas dapat dinyatakan sebagai berikut :
ixt
G xME
96.500
Dengan, G = massa zat yang dibebaskan (dalam gram)
i = kuat arus (A)
t = waktu (detik)
ME= massa ekivalen
Massa ekivalen dari unsur – unsur logam sama dengan massa atom relatif (Ar) dibagi dengan
bilangan oksidasinya (biloks).
Ar
ME
biloks
Contoh :
Pada elektrolisis larutan CuSO4 terjadi reduksi ion Cu2+ menjadi Cu.
Cu2+(aq) + 2e Cu(s)
ArCu 63,5
Maka massa ekivalen Cu    31,75
2 2
Soal Latihan :
1. Berapa gram logam Cu (Ar = 63,5) dapat diendapkan jika arus listrik sebesar 5 ampere
dilewatkan dalam larutan CuSO4 selama 2 jam?
Tetapan Faraday = 96.500 C
2. Berapa Faraday arus listrik yang diperlukan untuk mendapatkan 21,6 gram logam perak
(Ar =Ag = 108) yang dialirkan ke daalm larutan AgNO3?
3. Hitunglah massa tembaga yang dapat dibebaskan oleh arus 10A yang dialirkan selama
965 detik ke dalam larutan CuSO4 (Ar = 63,5 )!
4. Arus listrik sebesar 1000 C dialirkan kedalam larutan NiSO4. jika Ar Ni = 59, tentukan
banyaknya logam Ni yang mengendap!
5. Ke dalam 2 sel larutan AgNO3 dan larutan CuSO4 yang disusun secara seri dialirkan arus
listrik dan ternyata diendapkan 5,4 gram logam Ag. Jika Ar Cu= 63,5, Ar Ag = 108,
tentukan logam Cu yang mengendap!

Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran


No Kunci jawaban Skor
CuSO4 berarti Cu2+ maka harga n = 2,
T = 2 jam = 2 X 3600 detik = 7200 detik.
1. Ar.i.t 63,5 5x7200
W=  . = 11,85 gram 2
n.F 2 96500
Jadi, massa logam Cu yang mengendap = 11,85 gram
AgNO3 berarti Ag+ maka harga n = 1. arus dalam satuan Faraday
i.t Ar i.t
adalah , maka dari W = diperoleh:
F n F
2. i.t W .n 21,6 x1
= Faraday =   0,2 F 3
F Ar 108
Jadi, arus listrik yang dialirkan sebear 0,2 Faraday.

Cu diendapkan di katoda menurut persamaan berikut ini:


Cu2+(aq) + 2e → Cu(s)
i.t
3. G xME 1
96.500
10 x965 63,5
 x = 3,175 gram
96.500 2
NiSO4, berarti Ni2+ maka harga n = 2
Arus dalam coulomb adalah i . t, maka:
4.
Ar i.t 59 1000
W= = x  0,306 gram
n F 2 96.500 1
Jadi, endapan logam Ni sebesar 0,306 gram

WCu.nCu WAg.nAg

ArCu ArAg
5,4 x1 63,5
5. WCu x  1,588 gram 3
108 2
Jadi, banyaknya logam Cu yang mengendap sebesar 1,588 gram.
.

Pemurnian Logam
Prinsip pemurnian logam transisi dengan menggunakan reaksi elektrolisis larutan
dengan elektroda yang bereaksi. Logam yang kotor ditempelkan di anoda dan logam murni
ditematkan di katoda. Larutan yang digunakan adalah yang mempunyai kation logam
tersebut. Contoh terpenting dalam bidang ini adalah pemurnian tembaga. Untuk membuat
kabel listrik, diperlukan tembaga murni, sebab adanya pengotor dapat mengurangi
konduktivitas tembaga. Akibatnya, akan timbul bayak panas dan akan membahayakan
penggunaannya.
Tembaga dimurnikan secara elektrolisis. Tembaga kotor dijadikan anoda, sedangkan
katoda digunakan tembaga murni. Larutan elektrolit yang digunakan adalah larutan CuSO4.
selama elektrolisis, tembaga dari anoda terus – menerus dilarutkan kemudian diendapkan
pada katoda.
CuSO4(aq) Cu2+(aq) + SO42-(aq)
Katoda : Cu2+(aq) + 2e Cu(s)
Anoda : Cu(s) Cu2+(aq) + 2e
Cu (s) Cu (s)
Anoda katoda
Perak, emas, platina, besi dan zink biasanya merupakan pengotor pada tembaga.
Perak, platina dan emas mempunyai potensial lebih positif daripada tembaga. Dengan
mengatur tegangan selama elektrolisis, ketiga logam itu tidak ikut larut. Ketiga logam
tersebut akan terdapat pada lumpur anoda. Hasil ikutan ini biasanya cukup untuk menutup
biaya pemurnian tembaga itu. Besi dan zinnk, yang mempunyai potensial elektrode lebih
negatif daripada tembaga, akan ikut larut. Akan tetapi, ion – ionnya (Fe2+ dan Zn2+) lebih
sukar diendapkan, jadi tidak ikut mengendap di katoda.

Penyepuhan
Penyepuhan (electroplating) dimaksudkan untuk melindungi logam terhadap korosi
atau untuk memperbaiki penampilan. Pada penyepuhan, logam yang akan diseuh dijadikan
katoda sedangkan logam penyepuhnya sebagai anoda. Kedua elektrode itu dicelupkan dalam
larutan garam dari logam penyepuh. Contoh, penyepuhan sendok yang terbuat dari besi (baja)
dengan perak. Sendok digunakan sebagai katoda, sedangkan anoda adalah dengan perak.
Sendok digunakan sebagai katoda, sedangkan anoda adalah perak murni. larutan elektrolitnya
adalah larutan perak nitrat. Pada katoda, akan terjadi pengendapan perak, sedagkan pada
anoda, perak terus – menerus larut. Konsentrasi ion Ag+ dalam larutan tidak berubah.
Katoda (Fe) : Ag+(aq) + e Ag(s)
Anoda (Ag) : Ag(s) Ag+(aq) + e
Ag (anoda) Ag (katoda)

Soal Latihan :
1. Jelaskan proses penyepuhan atau pelapisan logam besi dengan emas, serta tuliskan reaksi
yang terjadi pada masing - masing elektrode.
2. Jelaskan proses pemurnian logam tembaga serta tuliskan reaksi yang terjadi pada proses
pemurnian tersebut!
Kunci Jawaban dan Pedoman Penskoran
No. Kunci Jawaban Skor
1. Katoda : logam besi (Fe)
Anoda : logam emas (Au)
Digunakan larutan AuCl3(aq) sebagai penghantar
Reaksi : AuCl3(aq → Au3+ (aq) + 3Cl-(aq)
Katoda(Fe) : Au3+ (aq) + 3e → Au(s)
50
Anoda (Au) : Au(s) → Au3+ (aq) +3e
Prosesnya : logam emas di anoda dioksidasi dan
berubah menjadi ion Au3+. Ion Au3+ yang terjadi
bergabung dengan ion Au3+ dalam larutan.
Kemudian ion Au3+ dikatoda direduksi
membentuk endapan emas. Karena dikatoda
digunakan besi, maka endapan emas akan
melapisi besi.
2. Katoda : tembaga murni
Anoda : tembaga kotor (yang akan dimurnikan)
Digunakan larutan CuSO4
Reaksi :
CuSO4(aq) Cu2+ + SO42-
Katoda: Cu2+(aq) + 2e Cu(s)
(Cu murni)
Anoda: Cu(s) Cu2+(aq) + 2e
(Cu kotor)
Proses :
Logam Cu yang kotor dioksidasi dan berubah 50
menjadi larutan Cu2+. Ion Cu2+ bergabung
dengan larutan yang ada dan bergerak ke katoda.
Di katoda ion Cu2+ direduksi membentuk logam
kembali. Pada waktu ion Cu2+ di anoda bergerak
ke katoda, harus ada penyaring sehingga yang ke
katoda hanya ion Cu2+ saja, sedangkan
pengotornya tetap di anoda. Dengan demikian,
daerah katoda adalah daerah bersih dan Cu2+
yang diendapkan akan menghasilkan logam Cu
yang murni.

Kelimpahan Unsur di Alam

1. Keberadaan Unsur-Unsur di Kulit Bumi


90 jenis unsur terdapat di alam, sisanya merupakan unsur buatan. Sebagian dari
unsur tersebut terdapat sebagai unsur bebas, tetapi yang lebih banyak yang berupa
senyawa. Unsur-unsur gas mulia (helium, neon, argon, kripton, xenon,dan radon)
terdapat sebagai unsur bebas. Tidak ditemukan satupun senyawa alami dari unsur gas
mulia. Beberapa unsur logam, yaitu emas, platina,perak, dan tembaga, juga ditemukan
dalam bentuk bebas, disamping sebagai senyawa. Begitu juga dengan beberapa unsur
non logam yaitu oksigen, nitrogen, belerang, dan karbon.
Bahan-bahan alam yang mengandung unsur atau senyawa tertentu dalam
kadar yang relatif besar disebut mineral. Suatu unsur atau senyawa diperoleh dari
mineral yang tersedia. Akan tetapi, tidak semua mineral dapat diguanakn sebagai sumber
komersial untuk unsurnya. Hal ini bergantung pada kadar mineral dan mudah/sukarnya
proses pengolahan. Mineral yang secara komersial digunakan sebagai sumber logam
disebut bijih. Aluminosilikat dan bauksit merupakan dua contoh mineral aluminium.
Secara komersial, aluminium dibuat dari bauksit. Jadi, bauksit merupakan contoh bijih
aluminium.
2. Kelimpahan Unsur-Unsur di Kulit Bumi
Unsur yang paling melimpah dikulit bumi adalah oksigen, kemudian silikon,
dan aluminium.(lihat tabel 3.1)
Tabel 3.1 kelimpahan unnsur-unsur dalam kulit bumi
Unsur % Massa Unsur % Massa
Oksigen 49,20 Klorin 0,19
Silikon 25,67 Fosforus 0,11
Aluminium 7,50 Mangan 0,09
Besi 4,71 Karbon 0,08
Kalsium 3,39 Belerang 0,06
Natrium 2,63 Barium 0,04
Kalium 2,40 Nitrogen 0,03
Magnesium 1,93 Flourin 0,03
Hidrogen 0,87 Strosium 0,02
Titanium 0,58 Unsur lain 0,47
Sumber komersial dari nitrogen dan oksigen adalah udara. Kelimpahan kedua
unsur itu dalam udara diberikan pada tabel 3.2
Tabel 3.2 Komposisi Udara Bersih Dan Kering
Konsentrasi
Komponen Rumus
% ppm
Nitrogen N2 78,09 780900
Oksigen O2 20,94 209400
Argon Ar 0,934 9340
Karbondioksida CO2 0,0315 315
Neon Ne 0,0018 18
Helium He 0,00052 5,2
Metana CH4 0,00010 - 0,00012 1,0 – 1,2
Kripton Kr 0,0001 1
Karbonmonoksida CO 0,00001 0,1
Nitrogenoksida N2O 0,00005 0,5
Hidrogen H2 0,00005 0,5
Xenon Xe 0,000008 0,08
Nitrogen dioksida NO2 0,000002 0,02
Ozon O3 0,000001 - 0,000004 0,01 – 0,04
Beberapa unsur diperoleh dari air laut. Misalnya natrium, klorin, magnesium dan
bromin. Komposisi mineral dalm air laut diberikan pada tabel 3.
Tabel 3.3 Kandungan Mineral Utama Dalam Air Laut
Konsentrasi
Konsentrasi
Komponen Rumus (g/kg air Komponen Rumus
(g/kg air laut)
laut)
Klorida Cl- 18,980
+
Bikarbonat HCO3- 0,140
Natrium Na 10,556
Bromida Br- 0,065
Sulfat SO42- 2,649
Asam borat H3BO3 0,026
Magnesium Mg2+ 1,272
2+
Stronsium Sr2+ 0,013
Kalsium Ca 0,400
+
Flourida F- 0,001
Kalium K 0,380
Sebagian besar unsur, khususnya logam terdapat sebagai deposit dibawah permukaan
tanah. Bijih logam biasanya digolongkan menurut jenis anionnya, seperti tabel 3.4 berikut.
Berbagai logam yang terdapat cukup melimpah di Indonesia diberi dalam tabel 3.5
Tabel 3.4
Anion Contoh mineral
Tidak Au, Ag, Pt, Cu, Bi,As, Sb, Os,Ir,Ru,Rh,Pd
ada*
Oksida Hematit(Fe2O3), magnetit(Fe3O4), bauksit(Al2O3n.H2O),kasiterit(SnO2),
silika(SiO2)
Sulfida Kalkopirit(CuFeS2), kalkosit(Cu2S), spalerit(ZnS), galena(PbS),
pirit(FeS2),cinnabar(HgS)
Klorida Garam battu(NaCl), silvit()KCl), karnalit(KCl-MgCl2)
Karbonat Batu kapur(CaCO3), magnesit(MgCO3), dolomit(MgCO3 CaCO3)
Sulfat Gipsum(CaSO4.2H2O), garam epsom(MgSO47H2O), barit(BaSO4)
Silikat Beril(Be3Al2Si6O18), kaolinit(Al2Si2O6(OH)), spodumene.

Tabel 3.5 Berbagai Mineral dan Terdapatnya di Indonesia


No Unsur Mineral Terdapat di
1 Tembaga Kalkopirit, CuFeS2, Papua
Kalkosit, CU2S
2 Besi Hematit(Fe2O3), Cilacap
Magnetit(Fe3O4),
Pirit FeS2, siderit
FeCO3
3 Nikel NiS Soroako, Sulawesi Selatan

4 Emas Unsur Di berbagai tempat


diseluruh Indonesia

5 Aluminium Bauksit(Al2O3n.H2O), Pulau Bintan


Kriolit Na3AlF6
6 Timah Kasiterit(SnO2), Pulau Bangka
Sifat Fisik dan Sifat Kimia Unsur

a. Mengidentifikasi Sifat-sifat Fisik Unsur Golongan Utama


 Gas Mulia
Gas mulia adalah unsur-unsur golongan VIIIA. Disebut mulia karena unsur-unsur
ini sangat stabil (sangat sukar bereaksi). Tidak ditemukan satupun senyawa alami
dari gas mulia. Menurut Lewis, kestabilan gas mulia tersebut disebabkan
konfigurasinya yang terisi penuh, yaitu konfigurasi oktet (duplet untuk helium).
Kestabilan gas mulia dicerminkan oleh energi ionisasinya yang sangat besar,
sedangkan afinitas elektronnya sangat rendah (lihat tabel 3.6). Dulu, bahkan para
ahli yakin bahwa unsur-unsur gas mulia benar-benar inert. Barulah pada tahun
1962, Neil bartlett, seorang ahli kimia dari Kanada berhasil membuat senyawa
xenon yaitu XePtF6. Sejak saat itu, berbagai senyawa gas mulia berhasil dibuat.
- Sifat-sifat Gas Mulia
Tabel 3.6 Beberapa Data Fisis Unsur Gas Mulia
Sifat He Ne Ar Kr Xe Ru
Nomor atom 2 10 18 36 54 86
Elektron valensi 2 8 8 8 8 8
Jari-jari atom(A) 0,50 0,65 0,95 1,10 1,30 1,45
Titik leleh(oC) -272,2 -248,6 -189,4 -157,2 -111,8 -71
Titik didih (oC) -268,9 -246,0 -185,9 -153,4 -108,1 -62
Energi pengionan (kJ mol- 2640 2080 1520 1350 1170 1040
1
)
Afinitas elektron (kJ mol- 21 29 35 39 41 41
1
)
Densitas (g L-1) 0,178 0,900 1,78 3,73 5,89 9,73
Seperti tampak pada tabel 3.6, gas mulia mempunyai titik leleh serta titik didih
yang sangat rendah. Titik didih helium mendekati nol absolut (0 K). Titik didih gas
mulia hanya beberapa derajat di atas titik lelehnya. Rendahnya titik didih gas mulia
dapat diterangkan sebagai berikut. Seperti telah diketahui, gas mulia terdapat
sebagai molekul monoatomik. Gaya tarik menarik antarmolekulnya hanyalah gaya
London (gaya dispersi) yang lemah. Oleh karena itu, gas mulia hanya akan
mencair atau menjadi padat jika energi molekul-molekulnya menjadi sangat
dilemahkan, yaitu pada suhu yang sangat rendah. Dari atas kebawah, seiring
dengan bertambahnya massa atom relatif, gaya dispersi semakin besar dan titik
leleh serta titik didihnya juga meningkat.
a) Halogen
Unsur-unsur golongan VIIA disebut halogen. Nama itu berasal dari bahasa Yunani yang
berarti “ pembentuk garam”. Dinamai demikian, karena unsur-unsur tersebut dapat bereaksi
dengan logam membentuk garam. Misalnya klorin, bereaksi dengan natrium membentuk
natrium klorida (NaCl) yaitu garam dapur.
Unsur-unsur halogen mempunayi 7 elektron valensi pada subkulit ns2 np5. Konfigurasi
elektron yang demikian membuat unsur-unsur halogen bersifat sangat reaktif. Halogen
cenderung menyerap satuu elektron membentuk ion bermuatan negatif satu. Semua isotop
astatin bersifat radioaktif dan berumur pendek, sehingga sifat-sifatnya belum banyak
diketahui. Pada pembahasan berikut ini astatin tidak ikut disertakan.
Tabel 3.7 Sifat-sifat Fisis Halogen
Sifat Flourin Klorin Bromin Iodin
Nomor atom (Z) 9 17 35 53

2 5 2 5
[Ar]3d104s [Kr]4d105s25
Konfigurasi elektron [He] 2s p Ne]3s 3p 2
4p5 p5
Titik cair(oC) -220 -101 -7 114
Titik didih(oC) -188 -35 59 184
Rapatan(g/cm3) 1,69 x 10-3 3,21 x 10-3 3,12 4,93
Energi pengionan I(kJ mol-) 1681 1251 1140 1008
Afinitas elektron (kJ mol-) -328 -349 --325 -295
Keelektronegatifan(skala
4,0 3,0 2,8 2,5
pauling)
Potensial reduksi standar
(volt) 2,87 1,36 1,06 0,54
X2 + 2e  2X-
Jari-jari kovalen, A 0,64 0,99 1,14 1,33
Jari-jari ion, X- 1,19 1,67 1,82 2,06
Energi ikatan X-X (kJ mol-) 155 242 193 151
b) Logam alkali
Logam alkali adalah unsur-unsur golonagn IA (kecuali hidrogen) yaitu litium, natrium,
kalium, rubidium, sesium, fransium. Kata alkali berasal dari bahasa arab yang berarrti abu.
Air abu bersifat basa. Oleh karena logam-logam golongan IA membentuk basa-basa yang
larut air, maka disebut logam alkali.
- Sifat Fisis
Berbagai data fisis logam alkali diberiakan dalam tabel 3.8. Seperti dapat dilihat pada tabel
itu, kecenderungan sifat logam alkali sangat beraturan dari atas ke bawah, jari-jari atom
dan massa jenis (rapatan) bertambah sedangkan titik cair dan titik didih berkurang.
Sementara itu energi pengionan dan keelektronegatifan berkurang.potensial elektrode
(besaran yang menggambarkan daya redukasi dalam larutan), dari atas kebawah
cenderung bertambah, kecuali litium. Litium ternyata mempunyai potensial elektrode yang
paling besar. Hal ini merupakan penyimpangan sebagaimana sering diperlihatkan oleh
unsur- unsur periode kedua. Seperti pernah disebutkan, penyimpangan itu berkaitan
dengan kecilnya volume atom unsur periode kedua tersebut.

Tabel3.8 Beberapa Data Fisis Logam Alkali


Sifat Litium Natrium Kalium Rubidium Sesium
Nomor atom 3 11 19 37 55
Konfigurasi elektron [He] 2s1 [Ne]3s1 [Ar]4 s1 [Kr]5s1 [Xe]6s1
Jari-jari atom,A 1,52 1,86 2,31 2,44 2,62
Jari-jari ion(M+), Ao 0,60 0.95 1,33 1,48 1,69
Titik cair(oC) 181 97,8 63,6 38,9 28,4
Titik didih(oC 1347 883 774 688 678
Rapatan(g/cm3 0,53 0,97 0,86 1,53 1,88
Energi pengionan I (kJ mol-
520 496 419 403 376
)
Energi pengionan II (kJ
7298 4562 3051 2632 2420
mol-)
Keelektronegatifan(skala
1,0 0,9 0,8 0,8 0,7
pauling)
Kekerasan(skala Mohs)a 0,6 0,4 0,5 0,3 0,3
Warna nyala Merah tua kuning ungu Merah-biru Biru
Potensial reduksi
3,04 2,71 2,92 2,92 2,92
standar(volt), M+ + e- M
c) Logam alkali tanah

Logam alkali tanah meliputi berilium, magnesium, kalsium, strontium, barium, dan radium.
Dalam sistem periodik, keenam unsur itu terletak pada golongan IIA. Logam alakali tanah
juga membentuk basa, tetapi lebih lemah dari logam alkali. Berbeda dengan golongan IA,
senyawa dari logam golongan IIA banyak yang sukar larut dalam air. Unsur-unsur
golongan IIA umumnya ditemukan dalam tanah berupa senyawa tak larut. Oleh karrena itu
disebut logam alakali tanah (alkaline earth metal)
- Sifat-Sifat Fisis Logam Alkali Tanah
Berbagai data fisis logam alkali tanah dapat diberikan dalam tabel 3.9. Dari berilium, ke
barium jari-jari atom meningkat secara beraturan. Pertambahan jari-jari menyebabkan
penurunan energi pengionan dan keelektronegatifan. Potensial elektrode juga meningkat
dari kalsium ke barium, akan tetapi berilium menunjukan penyimpangan karena
potensial elektrodenya relatif kecil. Hal itu disebabkan energi ionisasi berilium (tingkat
pertama + tingkat kedua) yang relatif besar. Titik cair dan titik didih cenderung menurun
dari atas ke bawah. Sifat-sifat fisis, seperti titik cair, rapatan dan kekerasan, logam alkali
tanah lebih besar jika dibandingkan logam alkali seperiode. Hal itu disebabkan logam
alkali tanah mempunyai dua elektron valensi sehingga ikatan logamnya lebih kuat.
Bandingkanlah sifat-sifat logam alkali tanah pada tabel 3.9 dengan sifat-sifat logam
alkali pada tabel 3.8
Sifat Be Mg Ca Sr Ba
Nomor atom 4 12 20 38 56
Konfigurasi elektron [He]2s2 [Ne]3s2 [Ar]4s2 [Kr]5s2 [Xe]6s2
Titik cair(oC) 1278 649 839 769 725
Titik didih(oC 2970 1090 1484 1384 1640
Rapatan(g/cm3) 1,85 1,74 1,54 2,6 3,51
Energi pengionan I (kJ mol-) 899 738 590 590 503
Energi pengionan II (kJ mol-) 1757 1451 1145 1064 965
Energi pengionan III (kJ mol-) 14848 7733 4912 4210 3430
Keelektronegatifan(skala pauling) 1,5 1,2 1,0 1,0 0,9
Potensialreduksi standar(volt),
1,70 -2,38 -2,76 -2,76 -2,90
M+ + e- M
Jari-jari atom,A 1,11 2,60 1,97 1,97 2,17
Jari-jari ion(M+), Ao 0,30 0,65 0,99 0,99 1,35
Kekerasan(skala Mohs)a 5 2,0 1,5 1,5 2
Tidak Tidak Jingga
Warna nyala merah Hijau
ada ada merah

d) Mengidentifikasi Sifat-sifat Fisik Unsur Golongan Transisi


Sifat-sifat Umum Unsur Transisi
Unsur- unsur transisi mempunyai sifat-sifat khas yang membedakannya dari unsur
golongan utama antara lain:
1) Sifat logam, semua unsur transisi tergolong logam dengan titik cair dan titik didih
yang relatif tinggi.
2) Bersifat paramagnetik (sedikit tertarik ke dalam medan magnet).
3) Membentuk senyawa-senyawa yang berwarna.
4) Mempunyai beberapa tingkat oksidasi.
5) Membentuk berbagai macam ion kompleks
6) Berdaya katalitik, banyak unsur transisi atau senyawanya yang berfungsi sebagai
katalis, baik dalam proses industri maupun dalam metabolisme
Zink dan unsur-unsur golongan IIB lainnya (Cd dan Hg) seringkali memperlihatkan sifat
yang berbeda dari unsur transisi pada umumnya. Mereka mempunyai tiitik leleh dan titik
didih yang relatif rendah(raksa bahkan adalah satu-satunya logam yang berupa cairan
pada suhu kamar); tidak para magnetik, melainkan bersifat diamagnetik(sedikit ditolak
keluar medan magnet); dan senyawa-senyawanya tidak berwarna (putih). Zink hanya
mempunyai satu tingkat oksidasi, yaitu +2.

IIA IIIB IVB VB VIB VIIB VIIIB IB IIB IIIA

20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31
Sc Ti V C Fe Co Ni Cu Zn Ga
Ca Mn

3d14s2 3d24s2 3d34s 3d64s 3d64 3d74 3d84 3d104s1 d104s 4s24
2 6
4s 2 1 3d 4s
s2 s2 s2 2
p3
2

Unsur Transisi Periode Keempat


Gambar 3.8 Konfigurasi Elektron Unsur Transisi Periode 4
Sifat-sifat khas unsur transisi terrsebut dapat dijelaskan berdasarkan konfigurasi
elektronnya. Sebagaimana dapat dilihat pada gambar 3.8, unsur-unsur transisi periode
keempat mengisi subkulit 3d, mulai dari d1 untuk skandium hingga d10 untuk zink.
Perhatikan konfigurasi elektron dari kromium dan tembaga yang mana subkulit 4s berisi
satu elektron. Konfigurasi elektron kromium dan tembaga itu menunjukan kastabilan
subkulit d yang terisi penuh dan setengah penuh.
Sifat-sifat khas unsur transisi berkaitan dengan adanya subkulit d yang terisi tidak penuh.
Oleh karena itu, ada pendapat yang mengatakan bahwa unsur transisi adalah unsur yang
mempunyai subkulit d terisi tidak pennuh paling tidak pada salah satu tingkat
oksidasinya. Semua unsur transisi periode keempat memenuhi definisi ini, kecuali zink.
Pada tingkat oksidasi nol (sebagai unsur), maupun pada tingkat oksidasi +2 (satu-satunya
tingkat oksidasi zink) subkulit 3d-nya terisi penuh:
Zn (Z = 30): [Ar]3d10 4s2
Zn2+ :
[Ar]3d10
Tembaga, meskipun pada tingkat oksidasi nol mengisi penuh subkulit 3d, namun pada tingkat
oksidasi +2, terisi tidak penuh.
Cu(Z = 29): [Ar]3d10 4s1
Cu2+ :
[Ar]3d9

e) Sifat logam unsur transisi periode keempat


Semua unsur transisi periode keempat secara meyakinkan tergolong logam, baik dalam sifat
kimia maupun sifat fisik. Sebagaimana dapat dilihat dalam tabel 3.14, semua unsur transisi
periode keempat mempunyai energi ionisasi yang relatif rendah (kurrang dari 1.000 kJmol -1)
kecuali zink yang energi ionisasinya agak besar (906 kJ mol-1) sifat logam unsur transisi juga
dicerminkan oleh harga keelektronegatifannya yang rendah (kurang dari 2). Pada
kenyataannya, semua unsur transisi periode keempat membentuk kation tunggal dengan
bilangan oksidasi +1,+2, atau +3. Pada tingkat oksidasi yang rendah, senyawa unsur transisi
berrsifat ionik.
Tabel 3.14 Sifat-sifat Unsur Transisi Periode Keempat
Sifat Sc Ti V Cr Mn Fe Co Ni Cu Zn
Jari-jari atom (Ao) 1,44 1,32 1,22 1,18 1,17 1,17 1,16 1,15 1,17 1,21
Jari-jari ion(M+),
- 1,00 0,93 0,87 0,81 0,75 0,79 0,83 0,87 0,88
Ao
Titik leleh (oC) 1541 1660 1890 1857 1244 1535 1495 1453 1083 420
Titik didih(oC) 2831 3287 3380 2672 1962 2750 2870 2732 2567 907
Rapatan(g/cm3) 3,0 4,5 6,0 7,2 7,2 7,9 8,9 8,9 8,9 7,1
Kekerasan(skala
- - - 9,0 5,0 4,5 - - 3,0 2,5
Mohs)
Energi ionisasi(kJ
631 658 650 652 717 759 758 737 745 906
mol-1)
Keelektronegatifan 1,3 1,5 1,6 1,6 1,5 1,8 1,8 1,8 1,9 1,6
Eo red - - - - - - -
- - +0,34
M2+(aq)(volt) 1,20 0,91 1,19 0,44 0,28 0,25 0,76

1. Sifat Kimia Unsur


a. Sifat-sifat Kimia Gas Mulia
Dunia kimia seperti terguncang ketika pada tahun 1962, Bartlett berhasil
membuat senyawa stabil dari xenon, yaitu XePtF6. Penemuan ini telah mendobrak
kegaiban gas mulia. Tidak lama kemudian, ahli riset lainnya dapat membuat berbagai
senyawa dari xenon, radon dan krypton. Radon ternyata dapat bereaksi spontan
dengan flourin, sedangkan xenon memerlukan pemanasan atau penyinaran untuk
memulai reaksi. Kripton lebih sukar, hanya bereaksi dengan flourin jika disinari atau
jika diberi loncatan muatan listrik. Sementara itu helium, neon, dan argon, ternyata
lebih sukar lagi bereaksi dan belum berhasil dibuat suatu senyawa dari ketiga unsur
itu.
Kereaktifan gas mulia bertambah besar sesuai dengan perambahan jari-jari
atomnya, yaitu dari atas ke bawah. Pertambahan jari-jari atom mengakibatkan daya
tarik inti terhadap elektron kulit luar berkurang, sehingga elektronnya semakin mudah
ditarik oleh atom lain. Walaupun senyawa gas mulia telah berhasil dibuat, namun
tetap harus diakui bahwa unsure gas mulia lebih stabil dari semua golongan lainnya.
Unsur gas mulia hanya dapat berikatan dengan unsure yang sangat elektronegatif,
seperti fluorin dan oksigen.
Setelah senyawa gas mulia berhasil dibuat, istilah gas inert (lembam) tidak
sesuai lagi. Para ahli lebih cenderung menggunakan istilah gas mulia, yang berarti
stabil atau sukar bereaksi, serupa dengan istilah logam mulia yang digunakan untuk
emas dan platina.
b. Sifat-sifat Kimia Halogen
1. Kereaktifan halogen
Halogen merupakan kelompok unsur non logam yang paling reaktif. Namun
demikian, kereaktifannya menurun dari fluorin ke iodin. Hal itu sesuai dengan
keelektronegatifan yang makin kecil dari fluorin ke iodin. Fluorin adalah yang
paling reaktif, dapat bereaksi dengan hampir semua unsur, termasuk dengan
sebagian gas mulia. Berbagai zat yang tahan api, seperti air asbes, terbakar dalam
gas fluorin. Sedangkan iodin jauh kurang reaktif. Reaksi-reaksi iodine seringkali
memerlukan pemanasan atau katalis. Semua halogen membentuk senyawa ion
dengan bilangan oksidasi -1.
2. Reaksi-reaksi halogen
a. Reaksi dengan logam
Halogen bereaksi dengan sebagian besar logam menghasilkan halida logam
dengan bilangan oksidasi tertinggi.
Contoh: 2Al + 3Br2 2AlBr3
2Fe + 3Cl2 2FeCl3
b. Reaksi dengan hidrogen
Semua halogen bereaksi dengan hidrogen membentuk hidrogen halida (HX).
H2 + X2 2HX
Fluorin dan klorin bereaksi dengan hebat disertai ledakan, tetapi bromin dan
iodin bereaksi lambat.
c. Reaksi dengan nonlogam dan metaloid tertentu.
Halogen bereaksi dengan sejumlah nonlogam dan metaloid.
Contoh: Si + 2X2 SiX4
2B + 3X2 2BX3
Reaksi dengan fosforus, arsen, dan antimon menghasilkan trihalida jika
halogennya terbatas, atau pentahalida jika halogennya berlebihan.
Contoh: P4 + 6Cl2 4PCl3
P4 + 10Cl2 4PCl5
d. Reaksi dengan air
Fluorin bereaksi hebat dengan air membentuk HF dan membebaskan oksigen.
F2 + H2O 2HF + 1/2O2
Halogen yang lainnya mengalami reaksi disproporsionasi dalam air menurut
kesetimbangan sebagai berikut:
X2 + H2O HX + HXO
Dari klorin ke iodin, kesetimbangan di atas makin ke sebelah kiri. Seperti telah
disebutkan pada bagian terdahulu, iodin sukar larut dalam air.
e. Reaksi dengan basa
Klorin, bromin, dan iodine mengalami reaksi disproporsionasi dalam basa.
Contoh:
Jika klorin dialirkan ke dalam larutan NaOH pada suhu kamar, maka akan
bereaksi membentuk NaCl dan NaClO.
Cl2(g) + 2NaOH(aq) NaCl(aq) + NaClO(aq) + H2O(l)
Jika larutan NaOH itu dipanaskan, maka yang terbentuk adalah NaCl dan
NaClO3.
Cl2(g) + 6NaOH(aq) 5NaCl(aq) + NaClO3(aq) + 3H2O(l)
f. Reaksi antarhalogen
Antar halogen dapat membentuk senyawa antar halogen.
Reaksinya secara umum dapat dinyatakan sebagai berikut:
X2 + nY2 2XYn
Dengan Y adalah halogen yang lebih elektronegatif dan n adalah bilangan ganjil
1, 3, 5, dan 7. Senyawa antarhalogen paling mudah terbentuk dengan fluorin.
Tipe XY7 hanya dibentuk oleh I dan F, yaitu IF7; bromin hanya membentuk
sampai BrF5; sedangkan klorin sampai ClF3.
c. Sifat Kimia Logam Alkali
Logam alkali merupakan golongan logam yang paling reaktif. Kereaktifan
meningkat dari atas ke bawah (dari litium ke fransium). Kereaktifan logam alkali
berkaitan dengan energi ionisasinya yang rendah, sehingga mudah melepas elektron.
Hampir semua logam alkali bersifat ionic dan mudah larut dalam air.
Reaksi-reaksi logam alkali :
1. Reaksi dengan air
Semua logam alkali bereaksi dengan air membentuk basa dan gas hidrogen.
Litium bereaksi agak pelan, sedangkan natrium bereaksi hebat. Kalium, rubidium
dan sesium meledak jika dimasukkan ke dalam air.
2L(s) + 2H2O(aq) 2LOH(aq) + H2(g)
(L= logam alkali)
Oleh karena reaksi itu sangat eksoterm, maka gas hydrogen yang terbentuk
segera terbakar.
2. Reaksi dengan hidrogen
Jika dipanaskan, logam alkali dapat bereaksi dengan gas hidrogen membentuk
hidrida, suatu senyawa ion yang hidrogennya mempunyai bilangan oksidasi -1.
2L(s) + H2(g) 2LH(s)
3. Reaksi dengan oksigen
Logam alkali terbakar dalam oksigen membentuk oksida, peroksida atau
superoksida.
4L(s) + O2(g) 2L2O(s)
Jika oksigen berlebihan, natrium dapat membentuk peroksida.
2Na(s) + O2(g) Na2O2(s)
Kalium, rubidium, dan sesium dapat membentuk superoksida dalam oksigen
berlebihan.
L(s) + O2(g) LO2(s)
Oleh karena sangat mudahbereaksi dengan air dan oksigen, maka logam alkali
biasanya disimpan dalam cairan yang inert, misalnya minyak tanah (kerosin) atau
dalam botol yang diisolasi.
4. Reaksi dengan halogen
Logam alkali bereaksi hebat dengan halogen membentuk garam halide.
2L(s) + X2 2LX(s)
Natrium cair terbakar dalam gas klorin menghasilkan nyala berwarna kuning khas
logam natrium.
d. Sifat Kimia Logam Alkali Tanah
Kereaktifan logam alkali tanah meningkat dari berilium ke barium. Fakta ini
sesuai dengan yang diharapkan. Dari berilium ke barium jari-jari atom bertambah
besar, sehingga energi ionisasi serta keelektronegatifan berkurang. Akibatnya,
kecenderungan untuk melepas elektron membentuk senyawa ion makin besar. Semua
senyawa dari kalsuim, strontium, dan barium, yaitu logam alkali tanah yang bagian
bawah, berbentuk senyawa ion, sedangkan senyawa-senyawa berilium dan senyawa-
senyawa magnesium bersifat kovalen.
Sifat kimia logam alkali tanah bermiripan dengan logam alkali, tetapi logam
alkali tanah kurang reaktif dari logam alkali seperiode. Jadi, berilium kurang reaktif
dibandingkan terhadap litium, magnesium kurang reaktif dibandingkan terhadap
natrium, dan seterusnya. Hal itu disebabkan jari-jari atom logam alkali tanah lebih
kecil, sehingga energi pengionan lebih besar. Lagi pula logam alkali tanah
mempunyai dua elektron valensi, sedangkan logam alkali hanya satu. Kereaktifan
kalsium, strontium dan barium tidak terlalu berbeda dari logam alkali, tetapi berilium
dan magnesium jauh kurang aktif. Beberapa reaksi logam alkali tanah berikut
menggambarkan kecenderungan sifat unsure-unsur itu.
1. Reaksi dengan air
Kalsium, strontium,dan barium bereaksi baik dengan air membentuk basa dan gas
hidrogen. Magnesium bereaksi sangat lambat dengan air dingin dan sedikit lebih
baik dengan air panas, sedangkan berilium tidak bereaksi.
M(s) + 2H2O(l) M(OH)2(aq) + H2(g)
(M= Mg, Ca, Sr, Bad an Ra)
2. Reaksi dengan udara
Semua logam alkali tanah terkorosi terus-menerus di udara membentuk oksida,
hidroksida atau karbonat, kecuali berilium dan magnesium.
Berilium dan magnesium juga bereaksi dengan oksigen di udara, tetapi lapisan
oksida yang terbentuk melekat pada permukaan logam sehingga menghambat
korosi berlanjut. Apabila dipanaskan kuat, semua logam alkali tanah, termasuk
berilium dan magnesium, terbakar di udara membentuk oksida dan nitride.
2M(s) + O2(g) 2MO(s)
3M(s) + N2(g) M3N2(s)
3. Reaksi dengan halogen (X2)
Semua logam alkali tanah bereaksi dengan halogen membentuk garam
halide.
M(s) + X2(g) MX2(s)
Lelehan halida dari berilium mempunyai daya hantar listrik yang buruk. Hal itu
menunjukkan bahwa halide berilium bersifat kovalen.
4. Reaksi dengan asam dan basa
Semua logam alkali tanah bereaksi dengan asam kuat (seperti hCl) membentuk
garam dan gas hidrgen. Reaksi makin hebat dari Be ke ba.
M(s) + 2HCl(aq) MCl2(aq) + H2(g)
Be juga bereaksi dengan basa kuat, membentuk Be(OH)42- dan gas H2.
Be(s) + 2NaOH(aq) + 2H2O(l) Na2Be(OH)4(aq) + H2(g)

Daya Oksidasi Halogen


Halogen merupakan pengoksidasi kuat. Daya pengoksidasi halogen menurun dari atas
ke bawah pada system periodic unsure, yaitu dari fluorin ke iodine. Sebaliknya, daya reduksi
ion halida (X-) bertambah dari atas ke bawah. Jadi, I- merupakan reduktor terkuat, sedangkan
F- merupakan reduktor terlemah. Daya oksidasi halogen atau daya pereduksi ion halida
dicerminkan oleh potensial elektrodenya.
F2(g) + 2e 2F-(aq) E0 = +2,87 V
Cl2(g) + 2e 2Cl-(aq) E0 = +1,36 V
Br2(l) + 2e 2Br-(aq) E0 = +1,06 V
I2(s) + 2e 2I-(aq) E0 = +0,54 V
Sebagaimana diketahui, semakin positif harga potensial electrode, maka spesi itu semakin
mudah mengalami reduksi, berarti merupakan pengoksidasi kuat.
Untuk mengamati perbedaan daya oksidasi halogen serta daya reduksi ion halida, maka
dilakukan percobaan.

Reaksi Nyala Logam Alkali Dan Alkali Tanah


Salah satu ciri khas dari suatu unsur ialah spectrum emisinya. Unsur yang tereksitasi,
karena pemanasan ataupun karena sebab lainnya, memancarkan radiasi elektromagnetik yang
disebut spektrum emisi. Spektrum emisi teramati sebagai pancaran cahaya dengan warna
tertentu, akan tetapi sesungguhnya spekturm itu terdiri atas beberapa garis warna (panjang
gelombang) yang khas bagi setiap unsur. Karena keunikannya, spektrum emisi dapat
digunakan untuk mengenali suatu unsur.
Unsur-unsur logam dapat dieksitasikan dengan memanaskan atau membakar
senyawanya pada nyala api, misalnya pada pembakar Bunsen atau pembakar spiritus. Akan
lebih baik jika yang digunakan garam klorida karena relatif lebih mudah menguap.
Warna Nyala Unsur-unsur Alakali dan Alakali Tanah
Unsur Warna Nyala * Unsur Warna Nyala
Litium Merah Berlium Putih
Natrium Kuning Magnesium Putih
Kalium Ungu Kalsium Jingga-merah
Rubidium Merah Strontium Merah
Sesium Biru Barium Hijau
*) Warna merah dari nyala litum, rubidium, dan strontium tidaklah sama (mempunyai
panjang gelombang yang berbeda).
Unsur-Unsur Periode ke Tiga
Unsur-unsur dalam satu periode tidaklah mempunyai sifat-sifat yang mirip, tetapi
sifat-sifatnya berubah secara beraturan. Perubahan sifat-sifat unsur dalam satu periode dapat
dilihat pada unsur-unsur periode ke tiga. Dari kiri ke kanan sifat unsur periode ke berubah
dari logam-metaloid-nonlogam dan gas mulia.

Logam Metaloid Nonlogam Gas Mulia


Na-Mg-Al Si P-S-Cl Ar

a. Sifat-sifat Fisis
1. Titik cair dan titik didih
Titik cair dan titik didih unsure-unsur periode ke tiga dari kiri ke kanan meningkat
secara bertahap dan mencapai puncaknya pada golongan IVA ( Silikon), kemudian turun
secara drastic pada golongan VA (Fosforus). Jadi, titik cair tertinggi dimiliki oleh silikon,
sedangkan titik cair terendah dimiliki oleh argon.
Kecenderungan titik cair dan titik didih unsur periodik ke tiga dapat dik\pahami
sebagai berikut:
Natrium, magnesium dan aluminium mempunyai ikatan logam. Seiring dengan
bertambahnya jumlah elektron valensi, kekuatan ikatan logam meningkat dari natrium
hingga aluminium. Oleh karena itu, titik cair dan titik didihnya meningkat.
Silikon mempunyai struktur kovalen raksasa (seperti intan), setiap atom silikon
terikat secara kovalen pada empat atom silikon. Zat dengan struktur kovalen raksasa
mempunyai titik leleh serta titik didih yang sangat tinggi.
Fosforus, belerang, klorin, dan argon terdiri dari molekul-molekul nonpolar
sehingga hanya dikukuhkan oleh gaya Van der Waals yang relatif lemah. Oleh karena itu,
titik leleh serta titik didihnya relatif rendah. Sebagaimana diketahui gaya Van der Waals
bergantung pada massa molekul relatif.

Pembuatan Dan Manfaat Beberapa Unsur Logam Dan Senyawanya


1. Natrium
Di antara logam alkali natrium merupakan logam yang paling banyak
penggunaannya, baik sebagai unsur maupun senyawa. Senyawa logam mempunyai
kemiripan sifaf, oleh karena senyaw natrium paling murah maka paling banyak di
gunakan namun dalam hal-hal tertentu, senyawa logfam alkali lain tidak dapat di
gantikan oleh senyawa natrium. Misalnya, kalium klorida (KCl) untuk pupuk tidak dapat
di ganti dengan natrium klorida (NaCl), karena tumbuhan memerlukan unsur kalium
bukan nartrium.
a. Pembuatan natrium
Natrium dibuat dariu elektrolisis lelehan natrium klorida yang dicampur dengan
kalsium klorida (sel downs). Kalsium klorida berguna untuk menurunkan titik cair
(dengan cara itu titik leleh dapat diturunkan dari 8010C menjadi 5000C).
Misalnya :
NaCl (l) →Na+ (l) + Cl- (l)
Katoda : Na+(l) + e → Na (l)
Anoda : 2Cl – (l) → Cl2 (g) + 2e
b. Penggunaan natrium dan senyawanya.
1) Natrium
Penggunaan yang palin penting dari natrium adalah sebagai cairan pendingin(coolant)
pada reaktor nuklir. selain itu, karena merupakan redaktor yang kuat, natrium
digunakan pada pengolahan logam-logam tertentu seperti litium, kalium, zirkonium,
dan logam alkali yang lebih berat. Natrium jiga, diunakan untuk membuat senyawa
natrium yang tidak dapat dibuat dari natrium klorida, seperti natrium peroksida
(Na2O2). Sedikit natrium digunakan dalam lampu natrium yang banyak digunakan
sebagai penerang jalan raya.
2) Natrium klorida (NaCl)
Senyawa natrium yang paling banyak diproduksi adalah natrium klorida (NaCl).
Natrium klorida dibuat dari air laut atau dari garam batu. Kegunaan natrium klorida
antara lain sebagai bahan baku untuk membuat natrium, klorida dan senyawa-senyawa
natrium seperti NaOH dan natrium karbonat (Na2CO3); dalam industri susu;
mengawetkan ikan dan daging; mencairkan salju dijalan raya dinegara yang bermusim
dingin; regenerasi alat pelunak air; serta sebagai bumbu masak (garam dapur).
3) Natrium hidroksida (NaOH)
Natrium hidroksida dihasilkan melalui elektrolisisi larutan natrium klorida. Natrium
hidroksida digunakan terutama dalam industrib sabun, detergen, pulp, dan
kertas,pengolahan bauksit untuk pembuatan aluminium, tekstil, plastik pemurnian
minyak bimi, serta untuk membuat senyawa natrium lainnya seperti natrium
hipoklorit (NaClO).
4) Natrium karbonat (Na2CO3)
Natrium karbonat berasal dari sumber alam, yaitu trona, yang terdapat melimpah di
wyoming, Amerika Serikat. Netrium karbonat dapat juga dibuat dari NaCl menurut
proses solvay, dengan reaksi sebagai berikut:

NaCl (aq) + CO2(g) +NH3 (aq) + H2O (g) 0



0
C
NaHCO3(s) + NH4Cl(aq)

Natrium hidrogen karbonat (NaHCO3) yangterbentuk dipisahkan, kemudian


dipanaskan sehingga membentuk NaCO3.

2NaHCO3(s) 330
  Na2CO3(s) + H2O(g) +CO2(g)
0
C

kegunaan utama dari natrium karbonat adalah untuk pembuatan kaca (terutama kaca
bejana). Selain itu untuk membuat bahan-bahan kimia lainnya, industri pulp dan
kertas, industri deterjen, dan bahan pelunak air.
5) Natrium bikarbonat (NaHCO3)

Natrium bikarbonat terbentuk sebagai hasil antara pada proses solvay. Natrium
bikarbonat juga disebut soda kue. Jika adonan yang mengandung natrium bikarbonat
dipanggang, senyawa itu akan terurai membebaskan CO2 yang memekarkan adonan
sehingga menjadi empuk karena adanya rongga gas di dalamnya. Baking powder
adalah campuran serbuk natrium bikarbonat dengan suatu zat yang bersifat asam,
seperti kalium hidrogen tartat (KHC4H4O6).campuran bahan itu tidak bereaksi dalam
keadan kering, tetapi sekali bubuk itu berada dalam adonan, keduanya akan bereaksi
dan menghasilkan gas karbon dioksida yang memekarkan adonan.
2. Magnesium
a. Pembuatan magnesium
Diantara logam alkali tanah, magnesium paling banyak diproduksi. Sama seperti
pembuatan natrium, pembuatan magnesium juga dilakukan melalui elektrolisis
lelehan garam kloridanya. Dalam industri, magnesium dibuat melalui tahap-tahap
sebagai berikut, mula-mula air laut dicampur dengan kapur (CaO) sehingga
magnesium mengendap sebagai magnesium hidroksida (Mg(OH)2).

CaO(s) + H2O(l)  2Ca2+ (aq) +2OH- (aq)

Mg2+ (aq) + 2OH- (aq)  Mg(OH)2(s)

Adapun CaO dibuat dari batu kapur atau kulit kerang melalui pemanasan.

CaCO3 (s)  CaO (s) +CO2 (s)


Endapan magnesium hidroksida yang terbentuk, disaring kemudian direaksikan
denagn larutan asam klorida pekat.

Mg(OH)2(s) + 2HCl (aq)  MgCl2(aq) + 2H2O(l)

Selanjutnya, larutan diuapkan sehingga diperoleh kristal magnesium klorida (MgCl2).


Kristal itu kemudian dicairkan dan dielektrolisis.

MgCl2(l)  Ng2+(l) + 2Cl-(l)

Katoda : Mg2+(l) +2e  Mg(l)

Anoda : 2Cl-  Cl2(g) + 2e

b. Penggunaan magnesium
Kegunaan utama magnesium adalah untuk membuat logam-campuran. Paduan
magnesium dengan aluminium, yang disebut amagnalium, merupakan logam yang
kuat tetapi ringan, resisten terhadap asam maupun basa, serta tahan korosi. Paduan itu
digunakan untuk membuat komponen pesawat terbang, rudal, bak truk, serta berbagai
peralatan lainnya. Pembakaran magnesium menghasilakan cahaya yang sangat terang,
sehingga unsur itu digunakan untuk membuat kembang api.

3. Aluminium
a. Pembuatan aluminium
Meskipun aluminium tergolong melimpah di kulit bumi, mineral yang dapat
dijadikan sumber komersial aluminium hanya bauksit. Bausit mengandung
aluminium sebagai aluminium oksida (Al2O3). Pengolahan aluminium dari bauksit
berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pemurnian bauksit sehingga
diperoleh aluminium oksida murni(alumina). Tahap kedua adalah peleburan
(reduksi) alumina.
Pengolahan aluminium oksida dari bauksit didasarkan pada sifat amfoter dari
oksidasi aluminium itu. Pengotor utama dalam bauksit biasanya terdiri dari SiO2,
Fe2O3 dan TiO2. apabila bauksit dilarutkan dalam larutan natrium hidroksida, maka
aluminium oksida akan larut sedangkan pengotornya tidak.
Al2O3(s) + 2NaOH (aq) + 3H2O(l)  2 NaAl(OH)4(aq)
Pengotor dipisahkan dengan penyaringan, selanjutnya aluminium diendapkan dari
filtrat dengan mengalirkan gas karbon dioksida dan pengenceran.
2NaAl(OH)4(aq) + Co2(g)  2Al(OH)3(s) + Na2CO3(aq) + H2O(g)
Endapan aluminium hidroksida disaring, dikeringkan lalu dipanaskan sehingga diperoleh
aluminium oksida murni (alumina).
2Al(OH)(s)  Al2O3(s) + 3H2O(g)
Selanjutnya pada tahap keduan, reduksi aluminium oksida dilakukan melalui elektrolisis
menurut proses Hall-heroult. Dalam proses hall-Heroult, aluminium oksida dilarutkan
dalam lelehan kriolit (Na3AlF6) dalam bejana dari baja berlapis grafit yang sekaligus
berfungsi sebagai katoda. Dengan cara itu, elektrolisis dapat berlangsung pada suhu
9500C. sebagai anoda digunakan batabg grafit. Elektrolisis menghasilkan aluminium di
katede. Sedangkan di anoda terbentuk gas oksigen dan karbon dioksida. Sebenarnya
reaksi elektrolisis ini berlangsung rumit dan belum sepenuhnya dipahami, tetapi dengan
mengacu pada hasil akhirnya dapat di tulis sebagai berikut :
Al2o3(l)  2Al3+(l)

Katoda : Al3+(l) + 3e  Al (l)

Anoda : 2O2-(l)  O2(g) +4e

C(s) + 2O2-(l)  CO2(g) + 4e


b. Penggunaan Aluminium dan senyawanya
a) Aluminium
Aluminium memiliki banyak kegunaan. Penggunaan aluminium didasarkan
pada beberapa sifatnya yang khas, yaitu :
 Ringan (massa jenis 2,7 g cm -3)
 Tahan karat
 Mudah dibentuk
 Dapat dipadu dengan logam lain, dan
 Tidak beracun
Berikut ini dinerikan beberapa contoh penggunaan aluminium :
 Sektor industri otomotif : untuk membuat bak truk dan komponen
kendaraan bermotor lainnya. Untuk membuat badan pesawat terbang.
 Sektor pembangunan perumahan : untuk kusen pintu dan jendela
 Sektor industri makanan : aluminium foil dan kaleng aluminium untuk
kemasan berbagai jenis produk makanan.
 Sektor lainnya : untuk kabel listrik, perabotan rumah tangga, dan barang
kerajinan.
b) Aluminium sulfat Al SO  
2 4 3

Aluminium sulfat digunakan pada pengolahan air minum, yaitu untuk


mempercepat koagulasi lumpur koloidal.
4. Besi
a. Pembuatan Besi
Besi diolah dari bijinya dalam suatu tungku yang disebut tamur tiup, bahan ynag
digunakan pada pengolahan besi, selain biji besi adalah kokas (C) dan batu kapur
(CaCO3). Kokas berfungsi sebagai reduktor, sedangkan batu kapur berfungsi sebagai
fluks, yaitu bahan yang akan bereaksi dengan pengotor dalam bjih besi dan
memisahkan pengotor itu dalam bentuk cairan kental yang disebut terak (slag).
Reaksi yang terjadi pada pengolahan besi secara garis besar sebagai berikut. Bijih
besi, kokas, dan batu kapur diumpankan dari puncak tanur, sementara dari bagian
bawah ditiupkan udara panas. Kokasterbakar pada bagian bawah tanur dengan
membebaskan kalor, sehingga suhu di daerah itu dapat mencapai 2.0000C.
C(s) + O2(g)  CO2(g) + kalor
b. Penggunaan besi
Besi adalah logam yang paling penggunaannya, yaitu sekitar 14 kali total
penggunaan semua logam lainya. Hal tersebut disebabkan tiga alasan berikut :
 Biji besi relatif melimpah dan tersebar di berbagai penjuru dunia.
 Pengolahan besi relatif mudah dan murah.
 Sifat-sifat besi mudah dimodifikasi.
Kegunaan utama dari besi adalah untuk membuat baja. Baja adalah istilah yang
digunakan untuk semua logam campur.
5. Tembaga
a. Pembuatan tembaga
Biji tembaga yang terpenting adalah kalkopirit (CuFeS2). Pengolahan tembaga
melalui beberapa tahap, yaitu flotasi, pemanggangan, peleburan, pengubahan, dan
elektrolisis. Pada umumnya, biji tembaga hanya mengandung 0,5 % Cu. Melalui
pengapungan dapat diperoleh bijih pekat yang mengandung 20 – 40 % Cu, biji
pekat itu kenudian dipanggang untuk mengubah besi sulfida menjadi besi oksida,
sedangkan tembaga tetap berupa sulfida.
4CuFeS2 + 9O2  2Cu2S + 2Fe2O3 + 6SO2
biji yang sudah melalui pemanggangan kemudian dilebur sehingga bahan tersebut
mencair dan terpisah menjadi dua lapisan. Lapisa bawah disebut “copper matte”
yang mengandung Cu2S dan besi cair. Sedangkan lapisan atas merupakan
merupakan terak silikat yang antara lain mengandung FeSiO3-. Selanjutnya
“copper matte” dipindahkan ke dalam tungku lain dan ditiupkan udara sehingga
terjadi reaksi redoks yang menghasilkan tembaga lepuh (blister copper)
2Cu2S + 3O2  2Cu2O + 2SO2
Cu2S + Cu2O  2Cu + SO2
Pemurnian tembaga dilakukan dengan elektrolisis. Tembaga lepuh digunakan
sebagai anoda, sedangkan tembaga murni digunakan sebagai katodanya. Elektrolit
yamg digunakan adalah larutan CuSO4. selama elektrolisis, Cu dipindahkan dari
anoda ke katoda. Dengan menggunakn potensial tertentu, bahan pengotor dapat
terpisah.
b. Penggunaan tembaga
Tembaga adalah logam yang berwarna kuning merah dan tergolong logam yang
kuramg aktif. Penggunaan utama tembaga adalah untuk kabel listrik. Selain itu,
tembaga digunakan untuk membuat paduan logam seperti perunggu (Cu + Sn) dan
kuningan (Cu + Zn).
Perunggu banyak digunakan untuk perhiasan, senjata, lonceng dan alat musik.
6. Timah, Kromium, dan emas
Timah adalah logam yang lunak, berwarna putih perak dan tahan karat. Timah terutama
digunakan untuk membuat kaleng kemasan, seperti untuk roti susu, cat, dan buah.
Kegunaan lain dari timah adalah untuk memebuat logam campur, misalnya
perunggu(paduan tima, tembaga, dan zink) dan solder (paduan timah dan timbel)
kromium adalah logam yang sangat mengkilap, keras dan tahan karat. Kromium
digunakan dalam membuat berbagai macam pernik kendaraan bermotor karena sangat
mengkilap.
Emas tergolong logam mulia, berwarna kuning mengkilap, tahan terhadap karat, mudah
ditempa dan dapat diukur.pada umumnya, emas ditemukan sebagai unsur bebas, emas
mempunyai massa jenis yang relatif besar, sehingga pemisahannya dilakukan dengan
mengayak. Butiran emas dapat dipisahkan dengan pemanasan sehingga raksa menguap
dan dapat digunakan kembali
Pembuatan Beberapa Unsur Nonlogam Dan Senyawanya.

1. Karbon dan senyawa karbon


Karbon (C) meerupakan unsur yang lazim. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mengenal
beberapa bentuk karbon yaitu : arang, grafit, dan intan. Senyawa karbon merupakan
pembangaun sel hidup.
a. Intan
Intan merupakan zat padat yang bening berkilauan dan merupakan zat yang paling
besar. Setiap atom karbon dalam intan berada di pusat suatu tertrahedron dan terikat
secara kovalen. Pengunaan intan sesuai dengan sifatnya yang keras dan mengkilap.
Sebagian besar intan alam digunakan untuk perhiasan.
b. Grafit
Grafit mempunyai struktur yang berbentuk lapisan. Daam satu lapisan setiap atom
karbon terikat secara kovalen kepada 3 atom karbon lainnya, penggunaan grafit
terutama berdasarkan sifatnya yang licin dan kemampuan menghantar listrik.
Beberapa penggunaan grafit sebagai berikut :
a) Sebagai anoda dalam batu batrei dan dalam berbagai proses industri yang
menggunakan elektrolisis, misalnya pada poeleburan aluminium
b) Grafit dicampur dengan tanah liat untuk membuat pensil dan bahan kosmetik
c) Bahan pelumas
d) Sebagai komponen dalam pembuatan komposit
c. Karbon monoksida (CO)
Karbon monoksida (CO) lebih dikenal karena sifatnya yang beracun daripada
kegunaannya.
Berikut ini diberikan beberapa penggunaan CO
 Sebagai reduktor pada pengolahan berbagai jenis logam, misalnya besi
 Sebagai bahan baku untuk membuat metanol
 Merupakan komponen dari berbagai jenis bahan bakar gas, seperti gas air dan gas
kokas.
d. Karbon dioksida
Karbon dioksida terdapat di udara dengan kadar sekitar 0,035 % juga terdapat dalam
air laut. Karbon dioksida terbentuk pada pembakaran bahan bakar yang mengandung
karbon seperti batu bara, minyak bumi, gas alam, dan kayu. Gas ini juga dihasilkan
pada pernapasan makluk hidup, karbon dioksida merupakan komponen utama siklus
karbon di alam.
Karbon dioksida komersial diperoleh dari pembakaran residu penyulingan minyak
bumi, dalam jumlah besar juga diperoleh sebagai hasil samping produksi urea dan
pembuatan alkohol dari proses peragian
C6H12O6  2C2H5OH + 2CO2
Glukosa Alkohol

Beberapa penggunaan komersial karbon dioksida adalah sebagai berikut :


 untuk membuat minuman ringan (soft drink) minuman seperti air soda, limun,dll,
mengandung CO2 yang memberi rasa penyegar.
 Untuk memadamkan kebakaran.
 Sebagai pendingin.
2. Silikon
Silikon merupakan unsur kedua terbanyakdalam kulit bumi. Unsur ini terdapat dalam
bentuk senyawa, terutama sebagai silika dan silikat.
a. Pembuatan silikon
Silikon dibuat dari silika dengan kokas sebagai reduktor. Campuran silika dan kokas
dipanaskan dalam suatu tanur listrik pada suhu sekitar 3000 0C.
SiO2 (l) + C  Si (l) + 2CO (g)
Pembuatan silikon ultra murni dilakukan sebagai berikut : mula-mula silikon biasa
direaksikan dengan klorin sehingga terbentuk silikon tetraklorida (SiCl4), suatu zat
cair yang mudah menguap kemudian dimurnikan dengan destilasi bertingkat.
Selanjutnya, SiCl4 direduksikan dengan mengalirkan campuran uap SiCl4 dengan gas
H2 melalui suatu tabung yang dipanaskan.
b. Penggunaan senyawa silikon
Berbagai senyawa silikon banyak digunakan dalam industri. Silika dan silikat
digunakan untuk membuat gelas, keramik, porselin, dan semen. Larutan pekat natrium
silikat (Na2SiO3), suatu zat padat amorf yang tidak berwarna, yang disebut water
glass, digunakan untuk mengawetkan telur dan sebagai perekat, juga sebagai bahan
pengisi (filter) dalam detergen. Karborundum, yaitu silikon karbida (SiC), merupakan
zat padat yang sangat keras, digunakan untuk ampelas.
3. Nitrogen dan senyawa nitrogen
a. Nitrogen
Gas nitrogen tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa. Nitrogen mengembun
pada -195,8 0C dan membeku pada -210 0C. Nitrogen tergolong unsur yang sukar
bereaksi dan hanya bereaksi pada suhu tinggi dengan bantuan katalis.
Pembuatan Nitrogen
Dalam industri, nitrogen diperoleh dari udara, prosesnya berlangsung dalam dua
tahap, yaitu :
o Pencairan udara, dan
o Distilasi bertingkat udara cair.
Setelah melalui penyaringan, udara dikompresi. Kompresi ini menyebabkan suhu
udara meningkat. Proses dilanjutkan dengan pendinginan. Pada tahap ini, air dan
karbon d\ioksida sudah membeku dan dapat dipisahkan. Setelah melalui menara
pendingin, udara kemudian diekspansikan (dialirkan ke dalam pipa yang lebih besar)
sehingga suhunya turun dan sebagian mencair. Udara yang belum mencair
disirkulasikan, dialiri lagi kedalam kompresor. Oleh karena uap air dan karbon
dioksida sudah membeku pada tahap awal, maka udara cair praktis hanya
mengandung nitrogen, oksigen, dan argon. Pemisahan selanjutnya dilakukan dengan
distilasi bertingkat, yaitu dengan menurunkan tekanan.
Penggunaan Nitrogen :
a. Sebagian besar produksi nitrogen digunakan untuk membuat amonia (NH3).
b. Oleh karena sifatnya yang kurang reaktif, nitrogen digunakan untuk membuat
atmosfer inert dalam bernagai proses yang terganggu oleh oksigen misalnya,
dalam industri elektronika.
c. Nitrogen juga digunakan sebagai atmosfer inert dalam makanan kemasan untuk
memperpanjang masa penggunaannya.
d. Nitrogen cair digunakan sebagai pendingin untuk menciptakan suhu sangat
rendah.
b. Amonia
Gas amonia berbau khas dan sangt menyengat
Pembuatan amonia
Amonia dibuat dari gas nitrogen dan hidrogen menurut proses Haber-Bosch.
N2(g) + 3NH2  2NH3(g)
Reaksi dilangsungkan pada suhu sekitar 550 0C dan tekanan tinggi (sekitar 300 atm)
dengan katalis yaitu campuran besi dengan Al2O3, MgO, CaO, dan K2O. di
laboratorium, amonia dapat dibuat dari reaksi garam amonium, seperti NH4Cl atau
(NH4)2SO4, ddengan basa kuat, seperti NaOH atau Ca(OH)2.
Contoh :
2NH4Cl(s) + Ca(OH)2(s)  CaCl2(s) + 2NH3(g) + 2H2O(l)
penggunana amonia
1. Membuat pupuk,misalnya urea COOH 2 2 , dan NH 4 2 SO4 
2. untuk membuat senyawa nitrogen yang lain, seperti asam nitrat (HNO3),
amonium klorida (NH4Cl), dan amonium nitrat.
3. dalam pabrik es, digunakan sebagai pendingin.
4. untuk membuat hidrazin.
4. Fosforus dan Senyawa Fosforus
a Fosforus.
Fosforus mempunyai dua bentuk alotropi, yaitu fosforus putih dan fosforus marah. Fosforus
putih lebih reaktif daripada fosforus merah dan bersifat racun. Fosforus putih dapat terbakar
sendirinya di udara. Oleh karena itu, fosforus putih biasanya disimpan dalam air. Fosforus
putih terdiri dari molekul-molekul P4 yang berbentuk tetrahedron. Sedangkan fosforus merah
merupakan polimer rantai dari P4.
Pembuatan Fosforus.
Di alam, fosforus terdapat dalam bentuk senyawa, terutama sebagai fosfot. Sumber fosforus
terpenting yaitu batuan fosfat, suatu bahan kompleks yang mengandung flourapatit
(Ca3(PO4)2.CaF2). senyawa Ca3(PO4)2 dipisahkan dari batuan fosfat kemudian di panaskan
dengan pasir (SiO2) dan kokas (C). Uap fosforus yang terbentuk ditampung dalam air.
2Ca3(PO4)2(s) + 10C(s) 6CaSiO3(s) + 10CO(g) + P4(g)
Penggunaan Fosforus
Sebagian besar produksi fosforus digunakan untuk membuat asam fosfat. Penggunaan akhir
yang utama dari sentawa fosforus adalah pupuk dan detergen. Fosforus merah dan senyawa
fosforus tertentu digunakan pada pembuatan korek api. Berbagai senyawa organofosfat
digunakan sebagai pestisida.
b Asam Fosfat
Asam fosfat murni berupa cairan kental tak berwarna dan mudah larut dalam air. Secara
komersial asam fosfat dibuat dari reaksi buatan fosfat dengan asam sulfat.
Ca3(PO4)2 + 3H2SO4 + 6H2O 2H3PO4 + 3CaSO4.2H2O.
Asam fosfat digunakan untuk membuat pupuk superfosfat juga untuk membuat detergen,
bahan pembersih lantai, insektisida, dan makanan hewan.
c Pupuk Superfosfot
Fosforus tergolong unsur makro, yaitu unsur yang diperlukan tumbuhan dalam jumlah yang
cukup banyak. Selain itu, fosforus di alam terutama terdapat sebagai batuanfosfat yang tidak
larut dalam air sehingga tidak dapat diserap oleh tumbuhan. Oleh karena itu, batuan fosfat
direaksikan dengan asam sulfat atau asam fosfat di mana batuan fosfat di ubah menjadi
kalsium dihidrogenfosfat atau kalsium fosfat primer {Ca(H2PO4)2} yang larut dalam air.
Ca3(PO4)2 + 2H2SO4 2CaSO4 + Ca(H2PO4)2.

Ca3(PO4)2 + 4H3PO4 3Ca(H2PO4)2.


Pupuk yang mengandung senyawa Ca(H2PO4)2 ini disebut pupuksuper fosfat karena mudah
larut dalam air. Selain super fosfat, senyawa lain yang digunakan sebagai pupuk fosfat adalah
amonium fosfat sekunder, (NH4)2HPO4.
d Natrium Tri Poli Fosfat (STPP), Na5P3O10.
Senyawa ini digunakan sebagai bahan penunjang dalam detergen, yaitu untuk mengikat ion-
ion kalsium/magnesium dari air sadah sehingga tidak mengganggu (tidak mengendapkan)
detergen. Salah satu akibat dari penggunaan senyawa fosfat ini ialah pencemaran air karena
akan menyuburkan pertumbuhan ganggang dan eceng gondok. Bila masa tumbuh ini mati,
reaksi pembusukannya akan menghabiskan oksigen terlarut sehingga dapat mematikan
kehidupan binatang air.
5. Oksigen
Oksigen adalah unsur yang diperlukan tubuh kita untuk respirasi.ketika kita menghirup
napas, udara masuk ke dalam paru-paru. Melalui saluran-saluran kecil di permukaan paru-
paru, oksigen berdifusi kedalam darah yang kemudian menyalurkan ke seluruh jaringan
dimana oksigen digunakan untuk oksidasi glukosa (C6H12O6) untuk menghasilkan energi.
C6H12O6(aq) + 6O(g) CO2(g) + H2O(l) + energi.
Energi hasil respirasi tersebut digunakan untuk mempertahankan seluruh aktifitas tubuh.
Tanpa respirasi kita akan mati. Oksigen juga diperluhkan untuk proses pembakaran .
Gas oksigen tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa sehingga tidak terdeteksi oleh
panca indra kita. Oksigen mengembun pada -183oC dan membeku pada -218,4oC.
Pada suhu dan tekanan normal oksigen tidak begitu reaktif, tetapi menjadi sangat reaktif pada
suhu tinggi. Reaksi-reaksi pembakaran dan perkaratan logam adalah reaksi dengan oksigen.
a) Penggunaan Oksigen.
Dalam industri, oksigen dipisahkan dari udara bersama-sama dengan pengolahan
nitrogen. Berikut ini penggunaan komersial oksigen:
1 Untuk pernapasan para penyelam, angkasawan, atau penderita panyakit tertentu.
2 Sebagian basar dari produksi oksigen digunakan dalam industri baja, yaitu mengurangi
kadar karbon dalam besi gubal.
3 Bersama-sama dengan gas asetilena digunakan untuk memgelas baja.
4 Oksigen cair bersama dengan hidrogen cair digunakan dalam bahan bakar roket untuk
mendorong pesawat ruang angkasa.
b) Pembuatan Oksigen di Laboratotium
Di laboratorium, oksigen dapat dibuat menurut berbagai cara, antara lain:
1 Penguraian kalium klorat (KCIO3)
Jika KCIO3 dipanaskan dengan PbO2 sebagai katalis, akan terurai membentuk KCI
dan oksigen.
2KCIO3(s) 2KCI(s) + 3O2(g)
2 Penguraian hidrogen peroksida (H2O2).
Penguraian H2O2 menghasilkan air dan oksigen. Reaksi ini dapat dikatalisis oleh ion
Fe3+atau Co2+.
2H2O2(aq) 2H2O(l) + O2(g)
3 Elektrolisis air
Elektrolisis air, dengan bantuan elektrolit, menghasilkan hidrogen di katoda dan
oksigen di anoda.
eletrolisis
2H2O(l) 2H2(g) + O2(g).
6. Blerang dan Senyawa Blerang.
a Blerang
Blerang padat mempunyai dua bentuk alotropi,m yaitu blerang rombik dan blerang
monoklinik.
Blerang banyak terdapat dalam kulit bumi, sebagai unsur maupun senyawa. Di daerah
vulkanik ditemukan blerang unsur, mungkin merupakan hasil reaksi antara gas SO2 dan
H2S yang terdapat dalam gas vulkanik.
8SO2(g) + 16H2O(l) + 3S8(s)
Pembuatan Blerang
Deposit blerang yang terdapat di bawah permukaan di tambang menurut cara Frasch.
Menurut cara ini, deposit blerang di cairkan dengan mengalirkan air super panas
melalui pipa bagian luar dari suatu susunan tiga pipa konsentris. Blerang cair
kemudian di paksa keluar dengan memompakan udara panas. Selanjutnya, blerang di
biarkan membeku. Oleh karena blerang tidak larut dalam air, maka blerang yang di
peroleh dengan cara ini dapat mencapai kemurnian sampai 99,6%.
Penggunaan Belerang.
Penggunaan utama dari blerang adalah untuk pembuatan asam sulfat. Blerang dalam
jumlah sedikit digunakan pada vulkanisasi karet untuk industri ban kenderahan.

b Asam Sulfat.
Senyawa blerang yang terpenting dan yang paling banyak di produksi adalah asam
sulfat. Asam sulfat pekat berupa cairan kental seperti oli, sangat korosif, dan
merupakan asam kuat. Asam sulfat pekat juga bersifat higroskopis dan merupakan zat
dehidrator. Misalnya, jika asam sulfat pekat diteteskan pada gula tebu, akan terjadi
reaksi berikut:
H2SO4
C12H22O11 12C + 11H2O.
Penggunaan Asam Sulfat
Asam sulfat digunakan untuk berbagai bidang. Penggunaan utama untuk industri
pupuk, industri cat/zat warna dan detergen. Penggunaan lain adalah dalam industri
logam yaitu untuk membersihkan permukaan logam dalam elektroplating; industri zat
warna, bahan peledak, obat-obatan, pemurnian minyak bumi, dan untuk pengisi aki.
7. Halogen dan Senyawa Halogen.
a Flourin dan Senyawa Flourin
Fluorin digunakan untuk membuat senyawa klorofluorokarbon (CFC) yang dikenal
dengan nama dagang freon. Freon digunakan sebagai cairan pendingin (refrigerant)
pada mesin-mesin pendingin seperti pendingin ruangan (AC) dan lemari es (kulkas).
Senyawa fluorin tidak begitu banyak penggunaannya. Garam fluorida digunakan dalam
pasta gigi dan air minum untuk mencegah kerusakan gigi. Email gigi terdiri dari
senyawa hidroksiapatit. Ca5(PO4)3HO. Senyawa ini sedikit larut dalam senyawa asam
karena reaksi berikut.
Ca5(PO4)3HO(s) + 4H+(aq) 5Ca2+(aq) + 3HPO42-(aq) + H2O(l)
Susunan asam dapat terjadi karena pengaruh bakteri dalam mulut ketika menguraikan
sisa-sisa makanan yang terselip di gigi. Jika hal itu terjadi, maka akan terjadi
demineralisasi email dan email akan rusak. Menyikat gigi dengan pasta gigi yang
mengandung fluorida (F) dapat mengubah senyawa hidroksiapatit menjadi fluoroapatit
yang lebih sukar larut dalam asam.
Ca5(PO4)3HO(s) + F-(aq) Ca5(PO4)3OH(s) + OH-(aq)
Hydrogen fluorida (HF) digunakan untuk membuat tulisan/lukisan di atas kaca,
karena HF dapat melarutkan kaca. Reaksi HF dengan SiO2 dan Na2SiO3+ zat yang
serupa dengan kaca, adalah sebagai berikut.
SiO2(s) + 4HF(aq) SiF4(g) + 2H2O(l)
Na2SiO3(s) + 6HF(aq) 2NaF(aq) + SiF4(g) + 3H2O(l).

b Klorin dan Senyawa Klorin


Halogen yang paling banyak diproduksi adalah klorin. Sumber utama klorin dalam industri
adalah elektrolisis larutan NaCl. Klorin digunakan antara lain untuk klorinasi hidrokarbon
untuk bahan baku industri plastik serta karet sintesis, pembuatan tetraklormetana (CCI4),
pembuatan etil klorida (C2H5Cl) yang digunakan untuk membuat TEL,sebagai bahan adatif
pada bensin, dan untuk industri berbagai jenis pestidisida. Klorin juga digunakan sebagai
bahan desinfektans dalam air minum dan kolam renang. Juga sebagai pemutih pada industri
kertas dan tekstil. Sebagai pemutih, klorin direaksikan dengan natrium hidroksida sehingga
terbentuk natrium hipoklorit menurut suatu reaksi disproposionasi sebagai berikut.
Cl2(g) + 2NaOH (aq) NaCl(aq) + NaClO(aq) + H2O(l)
Diantara senyawa klorin, yang penggunaannya paling banyak adalah NaCl dan HCl.
c Bromin dan senyawa bromin
Bromin digunakan terutama untuk membuat etilenbromida, C2H4Br2+, suatu adatif yang
dicampurkan kedalam bensin bertimbel untuk mengikat timbel sehingga tidak melekat pada
silinder atau piston. Bromin juga digunakan untuk AgBr, yaitu bahan yang sensitif terhadap
cahaya pada film fotografi. AgBr terurai pada penyinaran menjadi perak dan bromin.
2AgBr(s) 2Ag(s) + Br2(l)
d Iodin dan Senyawa Iodin.
Iodin digunakan dalam obat-obatan. Iodoform (CHl3) digunakan sebagai antiseptik; larutan
iodin dalam alkohol yang disebut tinktur iodin, juga digunakan sebagai antiseptik pada luka.
Iodin juga digunakan untuk membuat perak iodida (Agl) yang digunakan bersama-sama
dengan AgBr dalam film fotografi. Kekurangan iodin dapat menyebabkan penyakit gondok
dan retardasi mental.
e Pembuatan Halogen di Laboratoruim.
1. Pembuatan klorin.
a Hasil reaksi kapur-klor dengan asam sulfat.
b
CaOCl2(s) + H2SO4(aq) + Cl2(g) + H2O(l)
c Oksidasi Cl- (misalnya dari NaCl) dengan suatu oksidator kuat, misalnya campuran
MnO2 dengan asam sulfat pekat

MnO2(s) + H2SO4(aq) + NaCl(aq) MnSO4(aq) + Na2SO4(aq) + H2O(l)


+ Cl2(g)
2. Pembuatan bromin.
Bromin dapat dibuat dari reaksi suatu bromida dengan klorin.
Contoh:
Larutan NaBr dengan gas klorin.
2NaBr(aq) + Cl2(g) 2NaCl(aq) + Br2(l).
3. Pembuatan Iodin.
Iodin dapat dibuat dari suatu iodida dengan gas klorin.
Contoh:
Larutan KI dengan campuran MnO2 dan asam sulfat pekat.
2KI(aq) + MnO2+(s) + H2SO4(aq) K2SO4(s) + MnSO4(s) + H2O(l) +
I2(s).

Unsur Radioaktif
Telah diketahui bahwa atom terdiri atas inti dan electron-elektron yang beredar
mengitarinya. Lintasan electron mengitari inti atom disebut kulit atom. Reaksi kimia biasa,
misalnya pembentukan ikatan kimia, hanya melibatkan electron pada kulit atom sedangkan
inti tidak mengalami perubahan. Reaksi yang menyangkut perubahan susunan inti atom
disebut reaksi inti atau reaksi nuklir (nucleus = inti).
Reaksi inti ada yang terjadi secara spontan, ada juga yang terjadi karena buatan.
Reaksi untu spontan terjadi pada inti yang tidak stabil. Zat yang mengandung inti tidak stabil
ini disebut zat radioaktif.
Reaksi inti berlangsung dengan disertai pembebasan energi berupa radiasi dan kalor.
Energi yang menyertai reaksi intu jauh lebih besar daripada energi reaksi kimia biasa.
Namun sayang, energi yang di hasilkan reaksi inti (energi nuklir) tersebut pertama
kali di perkenalkan kepada penduduk bumi berupa bom atom, yang menghancurkan Hirosima
dan Nagasaki, Jepang. Dewasa ini zat radioaktif telah banyak digunakan untuk maksud damai
(bukan tujuan militer), bauk sebagau sumber radiasi maupun sebagai sumber tenaga.

1. Penemuan Keradioaktifan
Pada tahun 1895, Roentgen menemukan sinar X, suatu radiasi electromagnet
berenergi tinggi yang dapat menghitamkan pelat potret meski masih terbungkus kertas hitam,
sinar X ini digunakan untuk roentgen. Tertarik akan penemuan sinar X, Henry Becquerel
meneliti radiasi yang dipancarkan oleh batuan yang dapat berpendar. Secara kebetulan,
Becquerel meneliti batuan uranium sehingga menghantarkannya pada penemuan
keradioaktifan, yaitu pada tahun 1896. Becquerel menemukan bahwa uranium senantiasa
memancarkan radiasi secara spontan.fenomena ini disebut radioaktivitas. Pada tahun 1898
pasangan suami istri Pierre dan Marie Curie menemukan radioaktif lalnnya, yaitu radium dan
polonium.
Ternyata, banyak unsure yang secara alami bersifat radiaktif. Semua isotop yang
bernomor atom du atas 83 bersifat radioaktif. Unsure yang bernomr atom 83 atau kurang
mempunyai isotop yang stabil, keguali teknesium promesium. Isotop yang bersifat radioaktif
disebut isotop radioaktif atau radioisotop, sedangkan isotop yang tidak radioaktif disebut
isotop stabil. Dewasa ini radioisotop dapat juga dibuat dari isotop stabil. Jadi, selaln
radioisotop alami, juga ada radioisotop buatan.

2. Sinar-sinar radioaktif
Pada tahun 1903, Ernest Rutherford menemukan bahwa radiasi yang dipancarkan zat
radioaktif dapat dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan muatannya. Radiasi yang
bermuatan positif dinamai sinar alfa, dan yang bermuatan negative dinamakan sinar beta.
Selanjutnya, Paul U.Vilard menemukan jenis sinar ketiga yang tidak bermuatan dan diberi
nama sinar gamma.
a. Sinar Alfa (α)
Sinar alfa merupakn radiasi partikel bermuatan positif. Partikel sinar alfa sama dengan
inti helium -4 ( 24 He ),bermuatan +2e dan bermssa 4 sma. Partikel sinar alfa itu merupakan
gabungan dari 2 proton dan 2 neutron.
1
Sinar alfa dipancarkan oleh inti dengan kecepatan sekitar kecepatan cahaya. Oleh
10
karena memiliki massa yang besar, daya tembus sinar alfa paling lemah diantara sinar
radioaktif. Di udara hanya menembus beberapa cm saja dan tidak dapat menembus kulit.
Sinar alfa dapat dihentikan oleh selambar kertas biasa. Segera kehilangan energinya ketika
bertabrakan dengan molekul media yang dilaluinya. Tabrakan itu mengakibatkan media yang
dilalui mengalami ionisasi. Akhirnya, partikel alfa akan menangkap 2 elektron dan berubah
menjadi atom helium -4( 24 He ).
b. Sinar Beta (β)
Sinar beta adalah berkas electron yang berasal dari inti atom. Partikel beta bermuatan
1
-1e dan bermassa sma. Oleh karena sangat kecil, partikel beta dianggap tidak bermassa
1840
sehingga dinyatakan dengan notasi 0e.
Energi sinar beta sangat bervariasi, mempunyai daya tembus lebih besar daripada
sinar alfa, tetapi daya pengionnya lebih lemah. Sinar beta paling energetic dapat menempuh
sampai 300 cm dalam udara kering dan dapat menembus kulit.
c. sinar Gamma ( γ )
Sinar gamma adalah radiasi electromagnet berenergi tinggi, tidak bermuatan, dan
tidak bermassa. Sinar gamma dinyatakan dengan notasi 00 γ.
Sinar gamma mempunyai daya tembus yang sangat besar, paling besar diantara sinar
radioaktif, tetapi daya pengionnya paling lemah. Sinar gamma dapat menembus beberapa cm
logam timbel ( logam yang memiliki daya serap radiasi paling kuat ).

3. Persamaan Inti
Pemancaran radiasi oleh unsure radioaktif disebut peluruhan (disintegrasi). (nuclear
equation). Misalnya, peluruhan uranium yang disertai pemancaran partikel alfa dipaparkan
dengan persamaan inti sebagai berikut.
238
U
92 Th + 24 He
234
90

Persamaan inti juga mengikuti azas kesetaraan. Suatu persamaan inti dikatakan setara
jika muatan ( nomor atom ) dan massa di ruas kiri sama dengan di ruas kanan. Untuk contoh
diatas :
Jumlah muatan diruas kiri = 92; diruas kanan = 90+2 = 92
Nomor massa di ruas kiri = 238; diruas kanan = 234+4=238

Persamaan reaksi nuklir dengan reaksi kimia biasa, antara lain seperti berikut:

a. Ada kekekalan muatan dan kekekalan massa energi.


b. Mempunyai energi pengaktifan.
c. Dapat menyerap energi (endoenergik) atau melepaskan energi (eksoenergik).
Perbedaan antara reaksi nuklir dan reaksi kimia biasa, antara lain seperti berikut:
a. Nomor atom berubah.
b. pada reaksi endoenergik, jumlah materi hasil reaksi lebih besar dari pereaksi, sedangkan
dalam reaksi eksoenergik terjadi sebaliknya.
c. Jumlah materi dinyatakan per partikel bukan per mol.
d. Reaksi-reaksi menyangkut nuklida tertentu bukan campuran isotop.

Penggunaan Radioisotop
Penggunaan radioisotop untuk maksud–maksud damai (untuk kesejahteraan umat
manusia) berkembang dengan pesat. Pusat listrik tenaga nuklir ( PLTN ) adalah satu contoh
yang sangat popular. PLTN ini memanfaatkan efek panas yang dihasilkan reaksi inti suatu
radioisotop, misalnya U – 235 selain untuk PLTN, radioisotop juga telah digunakan dalam
berbagai bidang, misalnya industri, tekhnik, pertanian, kedokteran, ilmu pengetahuan,
hidrologi, dan lain-lain. Dua jenis penggunaan radioisotop yaitu sebagai perunut ( tracer ) dan
sumber radiasi. Penggunaan radioisotop sebagai perunut di dasarkan pada kenyataan bahwa
isotop radioaktif mempunyai sufat kimia yang sama dengan isotop stabil. Jadi suatu isotop
radioaktif melangsungkan reaksi kimia yang sama seperti isotop stabilnya. Sedangkan
penggunaan radioisotop sebagai sumber radiasi didasarkan pada kenyataan bahwa radiasi
yang dihasilkan zat radioaktif dapat mempengaruhi materi maupun makhluk radiasi dapat
digunakan untuk memberi efek fisis, efek kimia, maupum efek biologis.

1. Radioisotop Sebagai Perunut.


Sebagai perunut, radioisotop ditambahkan kedalam suatu system untuk mempelajari
system itu, baik system fisika, kimia maupun system biologi. Oleh karena radioisotop
mempunyai sifat kimia yang sama seperti isotop stabilnya. Maka radiousotop dapat
digunakan untuk menandai suatu senyawa sehingga perpindahan / perubahan senyawa itu
dapat dipantau.
a. Bidang Kedokteran
Berbagai jenis radioisotop digunakan sebagai perunut untuk mendeteksi (diagnosis)
berbagai jenis penyakit antara lain teknisium – 99 (Tc – 99) , Talium – 201 (TI – 201), Iodin
– 131 (I – 131), Natrium – 24 (Na – 24), Xenon – 133 (Xe – 133), Fosforus – 32 (P – 32) dan
Besi – 59 (Fe – 59).
 Tc–99 yang disuntikan kedalam pembuluh darah akan diserap terutama oleh jaringan
yang rusak pada organ tertentu, seperti jantung, hati, dan paru–paru. Sebaliknya, TI 201
terutama akan diserap oleh jaringan yang sehat pada organ jantung. Oleh karena itu,
kedua radioisotop itu digunakan secara bersama – sama untuk mendeteksi kerusakan
jantung.
 I–131 diserap terutama oleh kelenjar gondok, hati, dan bagian – bagian tertentu dari otak.
Oleh karena itu, I – 131 dpaat digunakan untuk mendeteksi kerusakan pada kelenjar
gondok, hati, dan untuk mendeteksi tumor otak.
 Na – 24 digunakan untuk mendeteksi adanyan gangguan peredaran darah
 Xe – 133 digunakan untuk mendeteksi penyakit paru – paru.
 P – 32 digunakan untuk mendeteksi untuk penyakit mata, tumor dan hati.
 Fe – 59 digunakan untuk mempelajari pembentukan sel darah merah.
Kadang – kadang, radioisotop yang digunakan untuk diagnosis juga digunakan
untuk terapi, tetapi dengan dosis yang lebih kuat. Misalnya, I – 131 juga digunakan untuk
terapi kanker kelenjar tiroid.
Dalam ilmu kimia, perunut radioaktif digunakan untuk mempelajari makanisme
reaksi dan proses biologi.
1. Mempelajari kesetimbangan dinamis
Dalam keadaan setimbang reaksi tetap berlangsung dengan laju yang sama
pada kedua arah. Hal itu dapat dibuktikan sebagai berikut. Marilah kita perhatikan
kesetimbangan antara PbI 2 padat dengan larutan jenuhnya.
PbI2 ( S ) → Pb2 + ( aq ) + 21 – ( aq )
Bayangkan kalau kita mempunyai dua buah gelas A dan B yang berisi Aquades.
Kedua gelas dibuat jenuh dengan menambahkan kristal PbI2 hingga sebagian kristal
PbI2 itu tidak larut. Gelas A dengan kristal PbI2 yang tidak radioaktif sedangkan gelas
B dengan kristal PbI2 yang radioaktif (mengandung isotop I-131 yang radioaktif).
Dengan demikian, larutan dalam gelas B mengandung ion I- yang radioaktif,
selanjutnya sebagian larutan dari gelas B, tidak termasuk endapannya, ditambahkan
kedalam gelas A. setelah dibiarkan beberapa waktu, emdapan dalam gelas A itu
diperiksa dan ternyata mengandung PbI2 yang radioaktif. Jadi, dapat disimpulkan dari
hasil perunutan itu bahwa pada keadaan setimbang tetap berlangsung reaksu
pembentukan PbI2 dan pada saat yang bersamaaan sebagian PbI2 larut.
2. Mempelajari Reaksi Pengesteran
Asam karboksilat bereaksi dengan alcohol membentuk ester dan air.
0 0
॥ ॥
R ─ C ─ OH + HO ─ R’ R ─ C ─ OR’ + H2O
Hal yang mau diselidiki adalah asal atom oksigen yang memebentuk air pada
reaksi tersebut, dari asam atau dari alcohol? Untuk menjawab oertanyaan itu, mula-
mula dibuatlah alcohol bertanda yang mengandung isotop O-18, kemudian direaksi
kan dengan asam karbosilat. Selanjutnya, hasil reaksi diperiksa : ternyata ester yang
radioaktif. Maka disimpulkan bahwa atom oksigen yang membentuk air berasal dari
asam karbonsilat.
O O
॥ ॥
R ─ C ─ OH + H ─ O* ─ R’ R ─ C ─ *R + H2O
3. Mempelajari Mekanisme Reaksi Fotosintesis
Reaksi fototsintesis berlangsung melalui banyak tahap, tetapi reaksi total
dinyatakan dengan ringkas sebagai berikut.
6CO2(g) + 6H2O(l) → C6H12O6(s) + 602(g)
Untuk mempelajari mekanisme reaksi fotosintesis, digunakan karbondioksida yang
mengandung radioisotope C-14. tanaman yang digunakan sample ditempatkan dalam
ruangan yang mengandung CO2 bertanda. Kemudian,selang waktu tertentu tanaman
itu dianalisis untuk menentukan jenis serta kadar senyawa yang digunakan karbon 14.
dengan demikian, mekanisme serta laju reaksi fotosintesis dapat diketahui lebih baik.
Radioisotop Sebagai Sumber Radiasi
a. Bidang Kedokteran
1). Sterilisasi Radiasi
Radiasi dalam dosis tertentu dapat mematikan mikroorganisme sehingga
dapat digunakan untuk sterilisasi alat-alat kedokteraan. Sterilisasi dengan cara
radiasi mempunyai beberapa keunggulan jika dibandingkan dengan sterilisasi
konvensional (menggunakan bahan kimia), yaitu :
a. Sterilisasi radiasi lebih sempurna dalam mematikan mikroorganisme
b. Sterilisasi radiasi tidak meninggalkan residu bahan kimia
c. Karena dikemas dahulu baru disterilkan, maka alat tersebut tidak mungkin
tercemar bakteri lagi sampai kemasan dibuka. Berbeda dengan cara
konvensional, yaitu disteril dahulu baru dikemas, maka dalam proses
pengemasan masih ada kemungkinan terkena bibit penyakit.
2). Terapi Tumor atau kanker
Berbagai jenis tumor atau kanker dapat diterapi dengan radiasi.
Sebenarnya, baik sel normal maupun sel kanker dapat dirusak oleh radiasi
tetapi sel kanker atau tumor ternyata lebih sensitif (lebih mudah dirusak). Oleh
karena itu, sel kanker atau tumor dapat dimatikan dengan mengarahkan radiasi
secara tepat pada sel-sel kanker tersebut.
a. Bidang Pertanian
1. Pemulihan Tanaman
Pemulihan tanaman atau pembentukan bibit unggul dapat dilakukan
dengan menggunakan radiasi. Misalnya, pemulihan padi, bibit padi diberi
radiasi dengan dosis yang bervariasi. Dari dosis terkecil yang tidak membawa
pengaruh hingga dosis terbesar yang mematikan (biji tidak tumbuh). Biji yang
diradiasi itu kemudian disamakan dan ditanam berkelompok menurut ukuran
dosis radiasinya.selanjutnya akan dipilih varietas yang dikehendaki, misalnya
yang tahan hama, berbulir banyak dan berumur pendek.
3). Penyimpanan Makanan
Kita mengetahui bahwa bahan makanan seperti kentang dan bawang jika
disimpan lama akan bertunas. Radiasi dapat menghambat pertumbuhan bahan-
bahan seperti itu.jadi, sebelum bahan tersebut disimpan diberi radiasi dengan
dosis tertentu sehingga tidak akan bertunas, dengan demikin dapat disimpan
lebih lama. Radiasi juga digunakan untuk pengawetan bahan makanan untuk
mencegah pertumbuhan bakteri atau jamur.
b. Bidang industri
1. Pemeriksaan tanpa Merusak
Radiasi sinar gamma dapat digunakan untuk memeriksa cacat pada
logam atau sambungan las, yaitu dengan meronsen bahan tersebut. Teknik
ini berdasarkan sifat bahwa makin tebal bahan yang dilalui radiasi, maka
intesitas radiasi yang diteruskan makin berkurang. Jadi, dari gambar (hasil
ronsen) yang dibuat dapat terlihat apakah logam terdistribusi merata
(homogen) atau ada bagian-bagian yang keropos (berongga) di dalamnya.
2. Pengawetan Bahan
Radiasi juga telah banyak digunakan untuk mengawetkan bahan
seperti kayu. Barang-barang seni dan lain-lain. Radiasi juga dapat
meninggkatkan mutu tekstil karena mengubah struktur serat sehingga lebih
kuat atau lebih baik mutu penyerapan warnanya. Berbagai jenis makanan
juga dapat diawetkan dengan dosis yang aman sehingga dapat disimpan
lebih lama.