Anda di halaman 1dari 29

BAGIAN ORTHOPAEDI DAN TRAUMATOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN LAPORAN KASUS


UNIVERSITAS HASANUDDIN September 2016

CLOSED FRACTURE 1/3 DISTAL LEFT FEMUR

OLEH:

Ariandi

PEMBIMBING:

dr. Alfa Januar Krista


dr. Thomson Manurung

KONSULEN:

dr. Muhammad Ihsan Kitta, Sp.OT

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ORTHOPAEDI DAN TRAUMATOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan dibawah ini menyatakan bahwa :

Nama : Ariandi
Judul : Closed Fracture 1/3 Distal Left Femur

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada Bagian


Orthopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Makassar, September 2016

Mengetahui,
Pembimbing I, Pembimbing II,

dr. Alfa Januar Krista dr. Thomson Manurung

Supervisor,

dr. Muhammad Ihsan Kitta, Sp.OT

2
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. A
Umur : 54 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Tgl MRS : 16-09-2016
No. RM : 066328

II. ANAMNESIS
Keluhan Utama : Nyeri pada paha kiri
Anamnesis : Dialami sejak 10 jam sebelum masuk rumah sakit
akibat kecelakaan saat bekerja.
Mekanisme Trauma : Pasien sedang memperbaiki mobil, secara tiba-tiba
mobil bergerak sendiri lalu menabrak paha kiri
pasien, dan paha kiri pasien terhimpit antara mobil
dan tembok.
Riwayat pingsan tidak ada, mual tidak ada, muntah tidak ada. Riwayat diurut
tidak ada, riwayat konsumsi obat penghilang nyeri ada namun tidak membaik
sehingga pasien datang ke rumah sakit umum pinrang dan dirujuk ke rumah
sakit Universitas Hasanuddin.

III. PEMERIKSAAN FISIS


a. Primary survey
Airway : Clear
Breathing : Respiratory rate 20x/menit, spontan
Circulation : Blood pressure 120/70 mmHg, Heart Rate 76x/menit,
reguler
Disability : GCS 15 (E4M6V5)
Exposure : Suhu 36,70C

3
b. Status Lokalis
Regio Femur Kiri
 Look : Deformitas (+), hematoma (-), swelling (-). Wound (-)
 Feel : Tenderness (+)
 Move : Active and passive movement of hip joint and knee joint
are limited due to pain
 NVD : Sensibilitas baik, arteri dorsalis pedis dan arteri tibialis
posterior teraba, Capillary refill time < 2 detik

Right Left
ALL 90 cm 88 cm
TLL 82 cm 80 cm
LLD 2 cm

4
5
IV. LABORATURIUM
 WBC : 8,9 x 103 /mm3
 RBC : 3,89 x 106 /mm3
 HGB : 13,2/dL
 HCT : 35 %
 PLT : 238x 103/uL
 CT : 8’00”
 BT : 3’00”
 HBsAg: Non Reactive
 GDS : 165 mg/dl

V. PEMERIKSAAN RADIOLOGI
a. Foto Femur AP/Lateral :

Kesan : Fraktur 1/3 distal os femur sinistra


VI. RESUME
Seorang laki-laki, berumur 54 tahun datang dengan keluhan nyeri pada paha kiri.
Dialami sejak 10 jam sebelum masuk rumah sakit akibat kecelakaan saat bekerja.
Pasien sedang memperbaiki mobil, secara tiba-tiba mobil bergerak sendiri lalu
menabrak paha kiri pasien, dan paha kiri pasien terhimpit antara mobil dan
tembok. Riwayat pingsan tidak ada, mual tidak ada, muntah tidak ada. Riwayat

6
diurut tidak ada, riwayat konsumsi obat penghilang nyeri ada namun tidak
membaik sehingga pasien datang ke rumah sakit umum pinrang dan dirujuk ke
rumah sakit Universitas Hasanuddin.
Pada pemeriksaan fisis regio femur sinistra Deformitas (+), hematoma (-),
swelling (-). Wound (-), tenderness (+), pergerakan aktif dan passif pada hip joint
dan knee joint terbatas oleh karena nyeri.
Dari hasil pemeriksaan radiologi FotO Femur Sinistra AP/Lateral ditemukan
adanya fraktur 1/3 distal os femur.

VII. DIAGNOSA
Closed Fracture 1/3 Distal Left Femur

VIII. PENATALAKSANAAN
 IVFD RL 20 tetes/ menit
 Analgesik
 Skin traksi at right lower limb load 3 kg

7
DISKUSI:
I. Pendahuluan

Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak


dijumpai di pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah
menetapkan dekade ini (2000-2010) menjadi Dekade Tulang dan Persendian. 1

Dengan makin pesatnya kemajuan lalu lintas baik dari segi jumlah pemakai
jalan, jumlah kendaraan, jumlah pemakai jasa angkutan dan bertambahnya
jaringan jalan dan kecepatan kendaraan maka mayoritas kemungkinan terjadinya
fraktur adalah akibat kecelakaan lalu lintas. Sementara trauma – trauma lain yang
dapat mengakibatkan fraktur adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja, dan
cedera olah raga.

Sebagian besar fraktur disebabkan oleh kekuatan yang tiba – tiba dan
berlebihan, yang dapat berupa benturan, pemukulan, penghancuran, penekukan
atau terjatuh dengan posisi miring, pemuntiran, atau penarikan. Akibat trauma
pada tulang bergantung pada jenis trauma, kekuatan, dan arahnya. Kita harus
dapat membayangkan rekonstruksi terjadinya kecelakaan agar dapat menduga
fraktur yang dapat terjadi. Setiap trauma yang dapat mengakibatkan fraktur juga
dapat sekaligus merusak jaringan lunak di sekitar fraktur mulai dari otot, fascia,
kulit, tulang, sampai struktur neurovaskuler atau organ – organ penting lainnya.

Fraktur bukan hanya persoalan terputusnya kontinuitas tulang dan bagaimana


mengatasinya, akan tetapi harus ditinjau secara keseluruhan dan harus diatasi
secara simultan. Harus dilihat apa yang terjadi secara menyeluruh, bagaimana,
jenis penyebabnya, apakah ada kerusakan kulit, pembuluh darah, syaraf, dan harus
diperhatikan lokasi kejadian, waktu terjadinya agar dalam mengambil tindakan
dapat dihasilkan sesuatu yang optimal.

8
II. Anatomi Femur
Satu-satunya tulang yang terdapat pada paha adalah tulang femur, juga
merupakan tulang terpanjang dalam tubuh manusia. Tulang femur
memiliki fitur karakteristik yang sebagai berikut:4
1. Femoral Head berartikulasi dengan acetabulum dari tulang pinggul
pada sendi panggul. Ia memanjang dari femur dan berbentuk bulat,
halus dan ditutupi dengan kartilago artikular. Konfigurasi ini
memberikan gerakan ke-berbagai arah. Kepala femur ini mengarah ke
medial, ke atas dan ke depan acetabulum. Fovea adalah depresi pusat
di kepala femur yang terpasang oleh ligamentum teres.
2. Femoral Neck membentuk sudut 120°-135° dengan diafisis femur.
3. Femoral Shaft merupakan batang tulang femur. Pada ujung atasnya,
terdapat greater trochanter dan pada posteromedial terdapat lesser
trochanter. Throcanteric line yang kasar pada anterior dan
throcanteric crest halus pada posterior membatasi pertemuan antara
batang dan leher femur. Linea aspera adalah puncak terlihat berjalan
secara longitudinal di sepanjang permukaan posterior femur dan
berpecah di bagian bawah ke dalam supracondylar line. Garis
suprakondilar medial berakhir pada adductor tubecle.
4. Pada ujung bawah femur terdiri dari femoral condyle medial dan
lateral. Struktur ini merupakan permukaan artikular untuk artikulasi
dengan tibia pada sendi lutut. Lateral condyle lebih menonjol daripada
medial. Hal ini untuk mencegah perpindahan patella ke arah lateral.
Kedua condyle ini dipisahkan posterior oleh intercondylar notch yang
dalam. Aspek anterior ujung femur yang halus ini berartikulasi
dengan permukaan posterior patela.

9
Daerah femur dibagi menjadi tiga kompartemen, anterior, medial dan
posterior:4
a) Anterior: terdiri dari otot-otot yang berfungsi sebagai fleksor
pinggul dan ekstensor lutut seperti sartorius, iliacus, psoas,
pectineus dan quadriceps femoris. Arteri utama dalam
kompartemen ini adalah femoral artery, dan saraf yang ditemukan
dalam kompartemen ini adalah femoral nerve.

10
b) Medial: terdiri dari otot-otot yang berfungsi sebagai adduktor
panggul seperti otot gracilis, adductor longus, adductor brevis,
adductor magnus dan otot obturator eksternus. Arteri dalam
kompartemen ini adalah deep femoral artery sedangkan saraf yang
ditemukan dalam kompartemen ini adalah obturator nerve.

11
c) Posterior: terdiri dari otot hamstring yang berfungsi untuk fleksi
lutut dan ekstensi pinggul. Mereka termasuk: biceps femoris,
semitendinosus, semimembranosus dan hamstring part of adductor
magnus. Saraf yang ditemukan dalam kompartemen ini adalah
sciatic nerve.

12
III. Jenis Fraktur Batang Femur
Fraktur batang femur dapat diklasifikasikan berdasarkan pada
konfigurasi fraktur tersebut. Seperti terlihat pada gambar di bawah, fraktur
batang femur bisa dibagi kepada bentuk fraktur melintang, spiral,
kominutif, atau segmental.4

13
IV. DEFINISI
Fraktur tertutup adalah putusnya kontinuitas jaringan tulang
dimana terjadi kerusakan kulit dan jaringan dibawahnya yang tidak
berhubungan langsung dengan dunia luar. Berdasarkan gambaran di
bidang orthopaedi, definisi fraktur tertutup adalah suatu fraktur dimana
tidak terjadi hubungan dengan lingkungan luar melalui kulit sehingga
tidak terjadi kontaminasi bakteri yang menyebabkan timbulnya komplikasi
berupa infeksi atau luka pada kulit.

V. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI


Penyebab dari fraktur tertutup adalah trauma langsung berupa
benturan pada tulang dan mengakibatkan fraktur pada tempat tersebut,
serta trauma tidak langsung bilamana titik tumpul benturan dengan
terjadinya fraktur berjauhan. Sedangkan hubungan dengan dunia luar
dapat terjadi karena:
1. Penyebab rudapaksa merusak kulit, jaringan lunak dan tulang.
2. Fragmen tulang merusak jaringan lunak dan menembus kulit.
Ketika tulang patah, periosteum dan pembuluh darah di bagian
korteks, sumsum tulang dan jaringan lunak mengalami cidera yang dapat
menyebabkan keadaan yang menimbulkan syok hipovolemik. Pendarahan
yang terakumulasi menimbulkan pembengkakan jaringan sekitar daerah
cidera yang apabila di tekan atau di gerakan dapat timbul rasa nyeri yang
hebat yang mengakibatkan syok neurogenic, sementara kerusakan pada
sistem persarafan akan menimbulkan kehilangan sensasi yang dapat
berakibat paralisis yang menetap pada fraktur juga terjadi keterbatasan
gerak oleh karena fungsi pada daerah cidera.
Pada fraktur, pendarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah,
kedalam jaringan lemak tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya
mengalami kerusakan. Reaksi perdarahan biasanya timbul hebat setelah
fraktur. Sel darah putih dan sel mast berakumulasi menyebabkan
peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Fagositosis dan pembersihan

14
sisa – sisa sel mati di mulai. Di tempat patah terdapat fibrin hematoma
fraktur dan berfungsi sebagai jala-jala untuk membentukan sel-sel baru.
Aktivitas osteoblast terangsang dan terbentuk tulang baru immatur yang
disebut callus.Bekuan fibrin direabsorbsi dan sel-sel tulang baru
mengalami remodelling untuk membentuk tulang sejati.
VI. DIAGNOSIS
Anamnesis
Biasanya penderita datang dengan suatu trauma (traumatik, fraktur), baik
yang hebat maupun trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan
untuk menggunakan anggota gerak. Anamnesis harus dilakukan dengan
cermat, karena fraktur tidak selamanya terjadi di daerah trauma dan
mungkin fraktur terjadi pada daerah lain.
Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan awal penderita, perlu diperhatikan adanya:
1. Syok, anemia atau perdarahan
2. Kerusakan pada organ-organ lain, misalnya otak, sumsum tulang
belakang atau organ-organ dalam rongga toraks, panggul dan abdomen
3. Fraktur predisposisi, misalnya pada fraktur patologis.
Pemeriksaan lokal
1. Inspeksi (Look)
• Bandingkan dengan bagian yang sehat
• Perhatikan posisi anggota gerak
• Keadaan umum penderita secara keseluruhan
• Ekspresi wajah karena nyeri
• Lidah kering atau basah
• Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan
• Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk
membedakan fraktur tertutup atau fraktur terbuka
• Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai beberapa
hari

15
• Perhatikan adanya deformitas berupa angulasi, rotasi dan
kependekan
• Lakukan survei pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ-
organ lain
• Perhatikan kondisi mental penderita
• Keadaan vaskularisasi
2. Palpasi (Feel)
Palpasi dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita biasanya
mengeluh sangatnyeri.
• Temperatur setempat yang meningkat
• Nyeri tekan; nyeri tekan yang bersifat superfisial biasanya
disebabkan oleh kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat
fraktur pada tulang
• Krepitasi; dapat diketahui dengan perabaan dan harus dilakukan
secara hati-hati
• Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi
arteri radialis, arteri dorsalis pedis, arteri tibialis posterior sesuai
dengan anggota gerak yang terkena
• Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian
distal daerah trauma , temperatur kulit
• Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk
mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai
3. Pergerakan (Move)
Pergerakan dengan mengajak penderita untuk menggerakkan secara
aktif dan pasif sendi proksimal dan distal dari daerah yang mengalami
trauma. Pada pederita dengan fraktur, setiap gerakan akan
menyebabkan nyeri hebat sehingga uji pergerakan tidak boleh
dilakukan secara kasar, disamping itu juga dapat menyebabkan
kerusakan pada jaringan lunak seperti pembuluh darah dan saraf.
4. Pemeriksaan neurologis

16
Pemeriksaan neurologis berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan
motoris serta gradasi kelelahan neurologis, yaitu neuropraksia,
aksonotmesis atau neurotmesis. Kelaianan saraf yang didapatkan harus
dicatat dengan baik karena dapat menimbulkan masalah asuransi dan
tuntutan (klaim) penderita serta merupakan patokan untuk pengobatan
selanjutnya.

Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan Radiologi (Foto x-ray) yang harus dilakukan pada fraktur
femur adalah foto AP dan lateral dari femur, sendi hip dan lutut harus
nampak pada foto tersebut. Ditambah dengan foto pelvis proyeksi AP.2
Seorang ahli bedah sebaiknya melihat ciri - ciri foto radiologi AP dan
lateral seperti berikut:
- Lokasi dan morfologi fraktur harus ditentukan.
- Adanya garis fraktur sekunder: garis ini dapat berubah selama operasi.
- Adanya fraktur komminitive: hal ini menandakan cedera- energi
tinggi.
- Jarak fragmen tulang yang telah berubah dari lokasi normalnya:
pergeseran fragmen yang luas menunjukkan bahwa jaringan lunak
yang terikat telah rusak dan fragmen mungkin avaskular.
- Defek osseus: hal ini menunjukkan adanya tulang yang hilang.
- Garis fraktur dapat meluas ke proksimal hingga ke lutut atau ke distal
hingga ke pergelangan kaki.
- Keadaan tulang: menilai bukti adanya osteopenia, metastasis, atau
fraktur sebelumnya.
- Gas dalam jaringan: hal ini biasanya akibat sekunder dari fraktur
terbuka tetapi juga dapat menandakan adanya gas gangren, necrotizing
fasciitis, atau infeksi anaerob lainnya.

Pemeriksaan X-ray harus dilakukan, dan memenuhi rule of twos: 1

17
- Two views - Setidaknya dibutuhkan dua posisi (anteroposterior dan
lateral) yang harus diambil.
- Two joints – Pada lengan bawah atau tungkai bawah, satu tulang dapat
fraktur dan mengalami angulasi. Angulasi tidak mungkin terjadi
kecuali tulang lainnya juga rusak, atau sendi dislokasi. Keduanya,
sendi atas dan bawah fraktur harus diambil pada film x-ray.
- Two limbs - Pada anak-anak, adanya epifisis yang imatur dapat
membingungkan dengan diagnosis fraktur; foto x-ray dari ekstremitas
yang tidak terluka diperlukan untuk perbandingan.
- Two injuries – Cedera yang parah sering menyebabkan cedera pada
lebih dari satu level. Jadi, pada fraktur calcaneum atau femur penting
dilakukan foto x-ray pelvis dan spine.
- Two occasions - Beberapa fraktur yang sangat sulit untuk dideteksi
segera setelah cedera, tapi pemeriksaan x-ray yang lain satu atau dua
minggu kemudian dapat menunjukkan adanya lesi. Contoh umum
adalah undisplaced fraktur ujung distal klavikula, scaphoid, neck
femur dan maleolus lateralis dan juga fraktur stress dan cedera fiseal
yang tidak berpindah dimanapun terjadi.
Computed tomography (CT) dan magnetic resonance imaging (MRI)
biasanya tidak diperlukan. Technetium scan tulang dan MRI dapat berguna
dalam mendiagnosis stress fraktur sebelum cederanya menjadi jelas pada
foto polos. Angiografi diindikasikan jika dicurigai terdapat cedera arteri.
VIII. PENATALAKSANAAN FRAKTUR FEMUR
1. Penatalaksanaan secara Umum

Fraktur biasanya menyertai trauma. Untuk itu sangat penting untuk


melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas (airway), proses pernafasan
(breathing) dan sirkulasi (circulation), apakah terjadi syok atau tidak.
Bila sudah dinyatakan tidak ada masalah lagi, baru lakukan anamnesis
dan pemeriksaan fisik secara terperinci. Waktu tejadinya kecelakaan
penting ditanyakan untuk mengetahui berapa lama sampai di RS,

18
mengingat golden period 1-6 jam. Bila lebih dari 6 jam, komplikasi
infeksi semakin besar. Lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis secara
cepat, singkat dan lengkap. Kemudian lakukan foto radiologis.
Pemasangan bidai dilakukan untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah
terjadinya kerusakan yang lebih berat pada jaringan lunak selain
memudahkan proses pembuatan foto.

2. Penatalaksanaan Kedaruratan

Segera setelah cedera, pasien berada dalam keadaan bingung, tidak


menyadari adanya fraktur dan berusaha berjalan dengan tungkai yang
patah, maka bila dicurigai adanya fraktur, penting untuk meng-
imobilisasi bagian tubuh segara sebelum pasien dipindahkan.

Bila pasien yang mengalami cedera harus dipindahkan dari


kendaraan sebelum dapat dilakukan pembidaian, ekstremitas harus
disangga diatas dan dibawah tempat patah untuk mencegah gerakan
rotasi maupun angulasi. Gerakan fragmen patahan tulang dapat
menyebabkan nyeri, kerusakan jaringan lunak dan perdarahan lebih
lanjut.

Nyeri sehubungan dengan fraktur sangat berat dan dapat dikurangi


dengan menghindari gerakan fragmen tulang dan sendi sekitar fraktur.
Pembidaian yang memadai sangat penting untuk mencegah kerusakan
jaringan lunak oleh fragmen tulang. Daerah yang cedera diimobilisasi
dengan memasang bidai sementara dengan bantalan yang memadai, yang
kemudian dibebat dengan kencang. Imobilisasi tulang panjang
ekstremitas bawah dapat juga dilakukan dengan membebat kedua tungkai
bersama, dengan ektremitas yang sehat bertindak sebagai bidai bagi
ekstremitas yang cedera. Pada cedera ektremitas atas, lengan dapat
dibebatkan ke dada, atau lengan bawah yang cedera digantung pada
sling. Peredaran di distal cedera harus dikaji untuk menentukan
kecukupan perfusi jaringan perifer.

19
Pada bagian gawat darurat, pasien dievaluasi dengan lengkap.
Pakaian dilepaskan dengan lembut, pertama pada bagian tubuh sehat dan
kemudian dari sisi cedera. Pakaian pasien mungkin harus dipotong pada
sisi cedera. Ektremitas sebisa mungkin jangan sampai digerakkan untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut.

3. Prinsip Penanganan Fraktur

Prinsip-prinsip tindakan/penanganan fraktur meliputi reduksi,


imobilisasi, dan pengembalian fungsi dan kekuatan normal dengan
rehabilitasi 4, 6:

a. Reduksi, yaitu : restorasi fragmen fraktur sehingga didapati posisi yang


dapat diterima.6

Reduksi fraktur (setting tulang) berarti mengembalikan fragmen


tulang pada kesejajarannya dan posisi anatomis normal.

Sasarannya adalah untuk memperbaiki fragmen-fragmen fraktur


pada posisi anatomik normalnya.

Metode untuk reduksi adalah dengan reduksi tertutup, traksi,


dan reduksi terbuka.4Metode tertentu yang dipilih bergantung sifat
fraktur, namun prinsip yang mendasarinya tetap sama. Biasanya dokter
melakukan reduksi fraktur sesegera mungkin untuk mencegah jaringan
lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan
perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi semakin
sulit bila cedera sudah mengalami penyembuhan.

Metode reduksi :

1. Reduksi tertutup, pada kebanyakan kasus reduksi tertutup dilakukan


dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujungnya
saling berhubungan) dengan “Manipulasi dan Traksi manual”.
Sebelum reduksi dan imobilisasi, pasien harus dimintakan persetujuan

20
tindakan, analgetik sesuai ketentuan dan bila diperlukan diberi
anestesia. Ektremitas dipertahankan dalam posisi yang diinginkan
sementara gips, bidai atau alat lain dipasang oleh dokter. Alat
imobilisasi akan menjaga reduksi dan menstabilkan ektremitas untuk
penyembuhan tulang. Sinar-x harus dilakukan untuk mengetahui
apakah fragmen tulang telah dalam kesejajaran yang benar.

2. Traksi, dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan


imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot yang
terjadi.

3. Reduksi terbuka, pada fraktur tertentu memerlukan reduksi terbuka.


Dengan pendekatan bedah, fragmen tulang direduksi. Alat fiksasi
interna dalam bentuk pin, kawat, sekrup, palt, paku atau batangan
logam dapat digunakan untuk mempertahan kan fragmen tulang dalam
posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.

b. Imobilisasi

Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi,


atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai
terjadi penyatuan.

Sasarannya adalah mempertahankan reduksi di tempatnya


sampai terjadi penyembuhan.

Metode untuk mempertahankan imobilisasi adalah dengan alat-


alat “eksternal” (bebat, brace, case, pen dalam plester, fiksator
eksterna, traksi, balutan) dan alat-alat “internal” (nail, lempeng,
sekrup, kawat, batang, dll).

21
Tabel 1. Perkiraan Waktu Imobilisasi yang Dibutuhkan untuk Penyatuan Tulang Fraktur

c. Rehabilitasi

Sasarannya meningkatkan kembali fungsi dan kekuatan normal pada


bagian yang sakit.

Untuk mempertahankan dan memperbaiki fungsi dengan


mempertahankan reduksi dan imobilisasi adalah peninggian untuk
meminimalkan bengkak, memantau status neurovaskuler, mengontrol
ansietas dan nyeri, latihan isometrik dan pengaturan otot, partisipasi
dalam aktifitas hidup sehari-hari, dan melakukan aktifitas kembali secara

22
bertahap dapat memperbaiki kemandirian fungsi. Pengembalian bertahap
pada aktivitas semula diusahakan sesuai batasan terapeutik.

Tabel 2. Ringkasan Tindakan terhadap Fraktur

IX. KOMPLIKASI
Pada fraktur tertutup dapat menyebabkan terjadinya berbagai macam
komplikasi. Komplikasi yang terjadi pada fraktur tertutup bisa berupa
komplikasi lokalis maupun generalis. Komplikasi langsung dapat berupa
kehilangan darah, syok, dan kegagalan kardiovaskular. Komplikasi lokalis
yang terjadi dapat dibagi menjadi komplikasi dini yaitu yang terjadi
bersamaan dengan terjadinya fraktur atau dalam minggu pertama dan
komplikasi lambat.

Komplikasi Dini :
1. Lesi Vaskuler
Trauma vaskular dapat melibatkan pembuluh darah arteri dan vena.
Perdarahan yang tidak terdeteksi atau tidak terkontrol dengan cepat akan

23
mengarah kepada kematian pasien, atau bila terjadi iskemia akan berakibat
kehilangan tungkai, stroke, nekrosis dan kegagalan organ multipel.
Keparahan trauma arteri bergantung kepada derajat invasifnya trauma,
mekanisme, tipe, dan lokasi trauma, serta durasi iskemia. Gambaran klinis
dari trauma arteri dapat berupa perdarahan luar, iskemia, hematoma pulsatil,
atau perdarahan dalam yang disertai tanda-tanda syok. Gejala klinis paling
sering pada trauma arteri ekstremitas adalah iskemia akut. Tanda-tanda
iskemia adalah nyeri terus-menerus, parestesia, paralisis, pucat, dan
poikilotermia. Pemeriksaan fisik yang lengkap, mencakup inspeksi, palpasi,
dan auskultasi biasanya cukup untuk mengidentifikasi adanya tanda-tanda
akut iskemia.
Adanya tanda trauma vaskular pada fraktur tertutup merupakan suatu
indikasi harus dilakukan eksplorasi untuk menentukan adanya trauma
vaskular. Kesulitan untuk mendiagnosis adanya trauma vaskular sering terjadi
pada hematoma yang luas pada fraktur tertutup. Tanda lain yang bisa
menyertai trauma vaskular adalah adanya defisit neurologis baik sensoris
maupun motoris seperti rasa baal dan penurunan kekuatan motoris pada
ekstremitas. Aliran darah yang tidak adekuat dapat menimbulkan hipoksia
sehingga ekstremitas akan tampak pucat dan dingin pada perabaan. Pengisian
kapiler tidak menggambarkan keadaan sirkulasi karena dapat berasal dari
arteri kolateral, namun penting untuk menentukan viabilitas jaringan.
Komplikasi yang dapat terjadi karena trauma vaskuler antara lain
thrombosis, infeksi, stenosis, fistula arteri-vena, dan aneurisma palsu.
Trombosis, infeksi, dan stenosis merupakan komplikasi yang dapat terjadi
segera pascaoperasi, sedangkan fistula arteri-vena dan aneurisma palsu
merupakan komplikasi lama. Rekomstruksi pembuluh darah harus ditangani
secara sungguh-sungguh dan teliti sekali karena bila terjadi kesalahan teknis
operasi karena ceroboh atau penatalaksanaan pasca bedah yang kurang
terarah, akan berakibat fatal bagi kelangsungan hidup ekstremitas berupa
amputasi, atau terjadi emboli paru.

24
2. Sindroma Kompartemen
Fraktur pada lengan dan kaki dapat menimbulkan penekanan hebat
sekalipun tidak ada kerusakan pembuluh besar. Perdarahan, edema, radang,
dan infeksi dapat meningkatkan tekanan pada salah satu kompartemen
osteofasia. Terjadi penurunan aliran kapiler yang mengakibatkan iskemia
otot, yang akan menyebabkan edema lebih jauh, sehingga mengakibatkan
tekanan yang lebih besar lagi dan iskemia yang lebih hebat. Lingkaran setan
ini terus berlanjut dan berakhir dengan nekrosis saraf dan otot dalam
kompartemen setelah kurang lebih 12 jam.
Meningkatnya tekanan jaringan menyebabkan obstruksi vena dalam
ruang yang tertutup. Peningkatan tekanan terus meningkat hingga tekanan
arteriolar intramuskuler bawah meninggi. Pada titik ini, tidak ada lagi darah
yang akan masuk ke kapiler, menyebabkan kebocoran ke dalam
kompartemen, sehingga tekanan dalam kompartemen semakin meningkat.
Penekanan saraf perifer disekitarnya akan menimbulkan nyeri hebat. Bila
terjadi peningkatan intra kompartemen, tekanan vena meningkat. Setelah itu,
aliran darah melalui kapiler akan berhenti. Dalam keadaan ini penghantaran
oksigen juga akan terhenti, Sehingga terjadi hipoksia jaringan (pale). Jika hal
ini terus berlanjut, maka terjadi iskemia otot dan nervus, yang akan
menyebabkan kerusakan ireversibel komponen tersebut. Secara klasik
terdapat 5 P yang menggambarkan gejala klinis sindroma kompartemen,
yaitu:
a. Pain
b. Paresthesia
c. Pallor
d. Paralysis
e. Pulseness
3. . Gas Gangren
Keadaan yang mengerikan ini ditimbulkan oleh infeksi klostridium,
terutama C. welchii. Organisme anaerob ini dapat hidup dan berkembang
biak hanya dalam jaringan dengan tekanan oksigen yang rendah; karena itu,

25
tempat utama infeksinya adalah luka yang kotor dengan otot mati yang telah
ditutup tanpa debridemen yang memadai. Toksin yang dihasilkan oleh
organisme ini menghancurkan dinding sel dan dengan cepat mengakibatkan
nekrosis jaringan, sehingga memudahkan penyebaran penyakit itu.

4. Septic Arthritis
Septic arthritis merupakan proses infeksi bakteri piogenik pada sendi
yang jika tidak segera ditangani dapat berlanjut menjadi kerusakan pada
sendi. Artritis septik karena infeksi bakterial merupakan penyakit yang serius
yang cepat merusak kartilago hyalin artikular dan kehilangan fungsi sendi
yang irreversibel.
Penyebab artritis septik merupakan multifaktorial dan tergantung pada
interaksi patogen bakteri dan respon imun hospes. Proses yang terjadi pada
sendi alami dapat dibagi pada tiga tahap yaitu kolonisasi bakteri, terjadinya
infeksi, dan induksi respon inflamasi hospes. Kolonisasi bakteri Sifat tropism
jaringan dari bakteri merupakan hal yang sangat penting untuk terjadinya
infeksi sendi. S.aureus memiliki reseptor bervariasi (adhesin) yang memediasi
perlengketan efektif pada jaringan sendi yang bervariasi. Adhesin ini diatur
secara ketat oleh faktor genetik, termasuh regulator gen asesori (agr),
regulator asesori stafilokokus (sar), dan sortase
Gejala klasik artritis septik adalah demam yang mendadak, malaise,
nyeri lokal pada sendi yang terinfeksi, pembengkakan sendi, dan penurunan
kemampuan ruang lingkup gerak sendi. Sejumlah pasien hanya mengeluh
demam ringan saja. Demam dilaporkan 60-80% kasus, biasanya demam
ringan, dan demam tinggi terjadi pada 30-40% kasus sampai lebih dari 39̊ C.
Nyeri pada artritis septik khasnya adalah nyeri berat dan terjadi saat istirahat
maupun dengan gerakan aktif maupun pasif.
Evaluasi awal meliputi anamnesis yang detail mencakup faktor
predisposisi, mencari sumber bakterimia yang transien atau menetap (infeksi
kulit, pneumonia, infeksi saluran kemih, adanya tindakantindakan invasiv,

26
pemakai obat suntik, dll), mengidentifikasi adanya penyakit sistemik yang
mengenai sendi atau adanya trauma sendi.

5 Osteomielitis Akut
Osteomielitis akut adalah infeksi tulang yang terjadi secara akut.yang
bisa disebabkan oleh penyebaran hematogen (melalui darah) dari fokus
infeksi di tempat lain (misalnya Tonsil yang terinfeksi, lepuh, gigi terinfeksi,
infeksi saluran nafas atas). Osteomielitis akibat penyebaran hematogen
biasanya terjadi ditempat di mana terdapat trauma dimana terdapat resistensi
rendah kemungkinan akibat trauma subklinis (tak jelas).
Staphylococcus aureus merupakan penyebab 70% sampai 80% infeksi
tulang. Organisme patogenik lainnya sering dujumpai pada osteomielitis
meliputi Proteus, Pseudomonas dan Ecerichia coli. Terdapat peningkatan
insiden infeksi resisten penisilin, nosokomial, gram negatif dan anaerobik.
Awitan osteomielitis setelah pembedahan ortopedi dapat terjadi dalam 3
bulan pertama (akut fulminan stadium I) dan sering berhubungan dengan
penumpukan hematoma atau infeksi superfisial. Infeksi awitan lambat
(stadium 2) terjadi antara 4 sampai 24 bulan setelah pembedahan.
Osteomielitis awitan lama (stadium 3) biasanya akibat penyebaran hematogen
dan terjadi 2 tahun atau lebih setelah pembedahan.
Respons inisial terhadap infeksi adalah peningkatan vaskularisasi dan
edema. Setelah 2 atau 3 hari, trombosis pada pembuluh darah terjadi pada
tempat tersebut, mengakibatkan iskemia dengan nekrosis tulang sehubungan
dengan peningkatan dan dapat menyebar ke jaringan lunak atau sendi di
sekitarnya, kecuali bila proses infeksi dapat dikontrol awal, kemudian akan
terbentuk abses tulang.
Komplikasi Lambat :
1. Penyembuhan Terlambat
Pada fraktur panjang yang sangat tergeser dapat terjadi robekan pada
periosteum dan terjadi gangguan pada suplai darah intramedular. Kekurangan
suplai darah ini dapat menyebabkan pinggir dari fraktur menjadi nekrosis.

27
Nekrosis yang luas akan menghambat penyembuhan tulang. Kerusakan
jaringan lunak dan pelepasan periosteum juga dapat mengganggu
penyembuhan tulang.
2. Non-Union
Bila keterlambatan penyembuhan tidak diketahui, meskipun fraktur
telah diterapi dengan memadai, cenderung terjadi non-union. Penyebab lain
ialah adanya celah yang terlalu lebar dan interposisi jaringan.
3. Malunion
Bila fragmen menyambung pada posisi yang tidak memuaskan,
seperti contoh angulasi, rotasi, atau pemendekan yang tidak dapat diterima.
Penyebabnya adalah tidak tereduksinya fraktur secara cukup, kegagalan
mempertahankan reduksi ketika terjadi penyembuhan, atau kolaps yang
berangsur-angsur pada tulang yang osteoporotik atau kominuf.
4. Gangguan pertumbuhan
Pada anak-anak, kerusakan pada fisis dapat mengakibatkan
pertumbuhan yang abnormal atau terhambat. Fraktur melintang pada lempeng
pertumbuhan tidak membawa bencana; patahan menjalar di sepanjang lapisan
hipertrofik dan lapisan berkapur dan tidak pada daerah germinal maka,
asalkan fraktur ini direduksi dengan tepat, jarang terdapat gangguan
pertumbuhan. Tetapi fraktur yang memisahkan bagian epifisi pasti akan
melintasi bagian fisis yang sedang tumbuh, sehingga pertumbuhan
selanjutnya dapat asimetris dan ujung tulang berangulasi secara khas; jika
seluruh fisis rusak, mungkin terjadi perlambatan atau penghentian
pertumbuhan sama sekali.

28
DAFTAR PUSTAKA

1. Solomon, L dkk. Femoral Shaft Fractures in Children; Apley’s System of


Orthopaedic and Fractures, 8th Ed. Arnold, 2001. Hal: 700-701.
2. Thompson, J. Netter’s Concise Orthopaedic Anatomy, 2nd Ed. Elsevier
Saunders, 2010. Hal: 251, 266-268.

3. Gustillo, R. B., Merkow, R. L., Templeman, D..The Management of Open


Fractures. The Journal of Bone and Joints Surgery.72-A(2).299-304

4. Koval K.J. and Zuckerman J.D. 2006. Handbook of Fractures, 3rd Ed.
Lippincott: Williams & Wilkins, pp: 20-29

5. Rasjad C. 2008. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Jakarta: Yarsif


Watampone, pp: 332-334

29