Anda di halaman 1dari 24

REFLEKSI KASUS Januari 2016

“ TONSILOFARINGITIS AKUT ”

Nama : Anggun Wiwi Sulistin


No. Stambuk : N 111 15 016
Pembimbing : dr. Kartin Akune, Sp.A

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TADULAKO
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH UNDATA
PALU
2016

1
BAB I

PENDAHULUAN

Faringitis merupakan salah satu Infeksi Respirasi Akut (IRA) atas yang

banyak terjadi pada anak. Istilah faringitis digunakan untuk menunjukkan semua

infeksi akut pada faring, termasuk tonsilitis (tonsilofaringitis) yang berlangsung

hingga 14 hari. Tonsilofaringitis biasa terjadi pada anak, meskipun jarang pada

anak berusia di bawah 1 tahun. Insidens meningkat sesuai dengan bertambahnya

umur, mencapai puncaknya pada usia 4-7 tahun, dan berlanjut hingga dewasa.

Insidens Tonsilofaringitis streptokokus tertinggi pada usia 5-18 tahun, jarang pada

usia di bawah 3 tahun dan sebanding antara laki-laki dan perempuan.(1)

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan

pemeriksaan penunjang. Gejala yang didapat berupa demam, nyeri tenggorokan,

sakit saat menelan. Pada pemeriksaan bagian tonsil didapatkan pembesaran tonsil

dan hiperemis. Pemeriksaan penunjang sebagai baku emas adalah pemeriksaan

kultur dengan spesimen apusan tenggorokan. Selain itu, dapat pula dilakukan

pemeriksaan laboratorium darah. (2,3)

Tatalaksana tonsilofaringitis meliputi terapi non-farmakoterapi dan

farmakoterapi. Non-farmakoterapi diberikan edukasi menjaga kesehatan utamanya

rongga mulut, mempertahankan hidrasi, istirahat yang cukup dan perlu

pertimbangan tonsilektomi sebagai tindakan bedah dengan memperhatikan

indikasi bedah. Farmakoterapi berupa pemberian antibiotik yang sesuai, analgesik

dan antipiretik. (2,3)

2
Perlu mempertimbangkan infeksi bakteri Streptococcus beta hemolitikus

grup A yang dapat menyebabkan komplikasi meningitis, osteomielitis, demam

reumatik, atau glomerulonefritis. Komplikasi lain berupa rhinosinusitis, otitis

media, mastoiditis dan pneumonia. (1,3)

Prognosis baik dengan pemberian terapi yang tepat. Sangat penting

memperhatikan pencegahan penyebaran hematogen yang dapat menimbulkan

komplikasi di organ dan lain dan menyebabkan prognosis buruk. (3)

Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk melakukan diagnosis dan

memberikan tatalaksana, agar dapat menurunkan mortalitas anak.

Pada laporan kasus ini, akan dibahas mengenai tonsilofaringitis akut pada

pasien anak yang dirawat di Pav. Catelia RSUD UNDATA.

3
KASUS

IDENTITAS

Identitas penderita

Nama penderita : An. R

Jenis kelamin : Perempuan

Umur : 10 tahun

Tanggal/jam masuk : 21 Januari 2016 / 11.00

ANAMNESIS

Keluhan Utama : Panas

Riwayat penyakit sekarang:

Panas pada penderita dirasakan sejak 6 hari sebelum masuk rumah sakit.

Panas dirasakan naik turun, panas tidak jelas naik dan turunnya, kadang panasnya

naik pagi hari, kemudian menurun dan naik lagi saat sore hari, sebelumnya pasien

telah diberi penurun panas, panasnya turun tetapi naik kembali. Saat demam tidak

disertai menggigil, keringat dingin maupun kejang. Keluhan panas disertai dengan

batuk berlendir dan beringus. Tidak ada gusi berdarah maupun darah yang keluar

dari hidung, dan telinga. Pasien mengeluhkan muntah 2x, muntah berisi makanan

yang dikonsumsi. Pasien mengeluhkan sakit tenggorokan terutama saat menelan

dan pasien merasakan sakit kepala. Buang air besar biasa, tidak ada sakit perut.

Buang air kecil kesan biasa. Nafsu makan pasien menurun sejak sakit.

4
Riwayat Penyakit Dahulu :

Dalam satu tahun ini pasien belum mengalami keluhan batuk, sakit

tenggorokkan. Dalam dua tahun terakhir juga pasien tidak mengalami keluhan

serupa, begitupula dalam tiga tahun terakhir. Hal ini merupakan keluhan yang

pertama kali dialami oleh pasien.

Riwayat Penyakit Keluarga :

Riwayat penyakit yang sama dengan pasien tidak ada, Hipertensi (-), asma (-),

Diabetes Mellitus (-).

Kemampuan dan Kepandaian Anak:

Pasien mulai membalikkan badannya sejak umur 6 bulan, duduk saat berusia 7

bulan, merangkak saat berusia 8 bulan, berdiri saat berusia 10 bulan, berjalan saat

berusia 11 bulan, dan mulai mengucapkan kata dengan jelas saat berusia 12 bulan.

Anak tidak mengalami keterlambatan perkembangan saat ini.

Anamnesis Makanan:

ASI eksklusif diberikan sampai usia 1 tahun, bubur saring diberikan saat usia

6 bulan sampai 11 bulan, diberikan makanan keluarga saat berusia 1 tahun.

Riwayat kehamilan dan persalinan :

Riwayat Antenatal : Kunjungan ANC rutin setiap bulan,

Riwayat Natal :

5
Spontan/tidak spontan : Spontan

Cukup bulan/tidak : Cukup

Penolong : Bidan

Tempat : Rumah

Riwayat Neonatal : Tidak ada kelainan

Riwayat Imunisasi :

Imunisasi lengkap

Riwayat Alergi :

Tidak ada

PEMERIKSAAN FISIK

1. Keadaan umum : Tampak sakit sedang

Kesadaran : Kompos mentis

2. Pengukuran

Tanda vital : TD : 100/70 mmHg

Nadi : 100 kali/menit, reguler, kuat angkat

Suhu : 39,5° C

Respirasi : 26 kali/menit

Berat badan : 25 kg

Tinggi badan : 130 cm

BB/TB : 25/27 x 100 = 92%

6
Status gizi : Gizi baik

3. Kulit : Warna : Sawo matang

Pigmentasi : tidak ada

Sianosis : tidak ada

Turgor : cepat kembali

Kelembaban : cukup

Lapisan lemak : Cukup

Kepala: Bentuk : Normocephal

Rambut : Warna hitam, tidak mudah dicabut, tebal,

alopesia (-)

Mata : Palpebra : edema (-/-)

Konjungtiva : anemis (-/-)

Sklera : ikterik (-/-)

Reflek cahaya : (+/+)

Refleks kornea : (+/+)

Pupil : Bulat, isokor

Exophthalmus : (-/-)

Cekung : (-/-)

Telinga : Sekret : tidak ada

Serumen : minimal

Nyeri : tidak ada

Hidung : Pernafasan cuping hidung : tidak ada

Epistaksis : tidak ada

7
Sekret : tidak ada

Mulut : Bibir : mukosa bibir basah, tidak hiperemis

Gigi : Tidak ada karies

Gusi : tidak hiperemis

Lidah : Tremor/tidak : tidak tremor

Kotor/tidak : tidak kotor

Warna : kemerahan

Faring : hiperemis

Tonsil : T2-T3 hiperemis

4. Leher :

 Pembesaran kelenjar leher : -/-

 Trakea : Di tengah

5. Toraks :

a. Dinding dada/paru :

Inspeksi : Bentuk : simetris

Dispnea : tidak ada

Retraksi : Tidak ada

Palpasi : vokal fremitus : simetris

Perkusi : Sonor kiri : kanan

Auskultasi : Suara Napas Dasar : Bronchovesikuler +/+

Suara Napas Tambahan : Rhonki (-/-), Wheezing (-/-)

b. Jantung :

Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat

8
Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIC V linea midclavicula

sinistra

Perkusi : Batas jantung normal

Auskultasi : Suara dasar : BJ 1 dan BJ 2 murni, regular

Bising : tidak ada

6. Abdomen :

Inspeksi : Bentuk : Datar

Auskultasi : bising usus (+) kesan normal

Perkusi : Bunyi : timpani

Asites : (-)

Palpasi : Nyeri tekan : (-)

Hati : tidak teraba

Lien : tidak teraba

Ginjal : tidak teraba

7. Ekstremitas : akral hangat, edem tidak ada.

8. Rumple leede (-)

9. Genitalia : Tidak ada kelainan

9
Pemeriksaan laboratorium

Hasil Rujukan Satuan


HEMATOLOGI
Hemoglobin 11,9 11,7-15,5 g/dl
Leukosit 15,6 3,6-11,0 103/ul
Eritrosit 3,98 3,8-5,2 106/ul
Hematokrit 34,5 35-47 %
Trombosit 261 150-440 103/ul

RESUME

Panas pada penderita dirasakan sejak 6 hari sebelum masuk rumah sakit.

Panas dirasakan naik turun, panas tidak jelas naik dan turunnya, kadang panasnya

naik pagi hari, kemudian menurun dan naik lagi saat sore hari, sebelumnya pasien

telah diberi penurun panas, panasnya turun tetapi naik kembali. Saat demam tidak

disertai menggigil, keringat dingin maupun kejang. Keluhan panas disertai dengan

batuk berlendir dan beringus. Tidak ada gusi berdarah maupun darah yang keluar

dari hidung, dan telinga. Pasien mengeluhkan muntah 2x, muntah berisi makanan

yang dikonsumsi. Pasien mengeluhkan sakit tenggorokan terutama saat menelan

dan pasien merasakan sakit kepala. Buang air besar biasa, tidak ada sakit perut.

Buang air kecil kesan biasa. Nafsu makan pasien menurun sejak sakit.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum compos mentis, tampak

sakit sedang, gizi kurang. Pemeriksaan tanda vital didapatkan Nadi 100x/menit,

reguler, kuat angkat, respirasi 26x/menit, suhu 39,5o C. Pada pemeriksaan fisik

didapatkan faring hiperemis dan tonsil T2-T3 hiperemis.


10
SKOR VALIDASI STREPTOCOCCUS

1 Demam 1

2 Tidak batuk 1 Interpretasi

3 Adenopati servikal 1 0-1 : penyebab

lunak steptococcus dapat

4 Pembesaran tonsill 1 disingkirkan

5 Usia

- 3-14 tahun 1 2-3 : lakukan RADT

- 15-44 tahun 0 (Rapid Antigen

- >45 tahun -1 Diagnostic Test)

4 : Antibiotik

Skor validasi streptococcus pada pasien adalah 4, sehingga pasien pada kasus

ini diberikan antibiotik.

DIAGNOSA

Tonsilofaringitis Akut

ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

- Kultur apusan tenggorokan

- RADT (Rapid Antigen Diagnostic Test)

11
TERAPI

IVFD Ringer Laktat 24 tetes per menit

Paracetamol 3 x 1/2 tablet

Amoxicilin 3 x 250 mg

Ambroxol 3 x 1/2 tablet

FOLLOW UP

Tanggal 22/1/2016

S : Panas (+), batuk (+), beringus (+),muntah (-), mual(+)

O: Tanda vital : Tekanan darah : 100/70 mmHg

Nadi : 89 kali/menit, reguler, kuat angkat

Suhu : 37,8° C

Respirasi : 26 kali/menit

Kepala : Tidak ada kelainan

Leher :Faring hiperemis, Tonsil T2-T3 hiperemis

Thorax : Dalam batas normal

Abdomen : nyeri tekan (-)

Ekstremitas : Dalam batas normal

Genitalia : Tidak ada kelainan

Punggung, otot, reflex : Tidak ada kelainan

A: Tonsilofaringitis Akut

12
P: IVFD Ringer Laktat 24 tetes per menit

Paracetamol 3 x 1/2 tablet

Amoxicilin 3 x 250 mg

Ambroxol 3 x 1/2 tablet.

FOLLOW UP

Tanggal 23/1/2016

S : Panas (-), batuk (+), beringus (-),muntah (-), mual(-)

O: Tanda vital : Tekanan darah : 100/70

Nadi : 84 kali/menit, reguler, kuat angkat

Suhu : 36,5° C

Respirasi : 24 kali/menit

Kepala : Tidak ada kelainan

Leher : Faring hiperemis, Tonsil T2-T3 hiperemis

Thorax : Dalam batas normal

Abdomen : Dalam batas normal

Ekstremitas : Dalam batas normal

Genitalia : Tidak ada kelainan

Punggung, otot, reflex : Tidak ada kelainan

A: Tonsilofaringitis Akut

P: IVFD Ringer Laktat 24 tetes per menit

Paracetamol 3 x 1/2 tablet

13
Amoxicilin 3 x 250 mg

Ambroxol 3 x 1/2 tablet.

FOLLOW UP

Tanggal 24/1/2016

S : Panas (-), batuk (+), beringus (-),muntah (-), mual(-)

O: Tanda vital : Tekanan darah : 100/70

Nadi : 92 kali/menit, reguler, kuat angkat

Suhu : 36,9° C

Respirasi : 24 kali/menit

Kepala : Tidak ada kelainan

Leher : Faring hiperemis, Tonsil T2-T3 hiperemis

Thorax : Dalam batas normal

Abdomen : Dalam batas normal

Ekstremitas : Dalam batas normal

Genitalia : Tidak ada kelainan

Punggung, otot, reflex : Tidak ada kelainan

A: Tonsilofaringitis Akut

P: IVFD Ringer Laktat 24 tetes per menit

Paracetamol 3 x 1/2 tablet

Amoxicilin 3 x 250 mg

Ambroxol 3 x 1/2 tablet.

14
DISKUSI

Salah satu faktor penyebab tonsilofaringitis dimana bakteri dan virus

penyebab dapat ditularkan melalui jalur droplet. Pasien dengan tonsilofaringitis

mengalami batuk, nyeri tenggorok, disfagia, dan demam. Tonsilofaringitis

merupakan salah satu infeksi pediatrik tersering. Pada pemeriksaan klinis,

pemeriksaan tenggorok menunjukkan adanya eritema, eksudat, petekie palatina,

tonsil membesar dan kadang limfadenopati servikal anterior. (2)

Selain rinitis, faringitis juga merupakan salah satu infeksi saluran

pernafasan atas yang banyak terjadi pada anak. Keterlibatan tonsil pada faringitis

tidak menyebabkan perubahan pada durasi atau derajat beratnya penyakit.

Faringitis biasa terjadi pada anak, meskipun jarang pada anak berusia di bawah 1

tahun. Insidens meningkat sesuai dengan bertambahnya umur, mencapai

puncaknya pada usia 4-7 tahun, dan berlanjut hingga dewasa. Insidens faringitis

streptokokus tertinggi pada usia 5-18 tahun, jarang pada usia di bawah 3 tahun

dan sebanding antara laki-laki dan perempuan.(2)

Istilah faringitis akut digunakan untuk menunjukkan semua infeksi akut

pada faring, termasuk tonsilitis (tonsilofaringitis) yang berlangsung hingga 14

hari. Faringitis merupakan peradangan akut membran mukosa faring dan struktur

lain disekitarnya. Karena letaknya yang sangat dekat dengan hidung dan tonsil,

jarang terjadi hanya infeksi lokal faring atau tonsil. Oleh karena itu pengertian

faringitis secara luas mencakup tonsilitis, nasofaring, dan tonsilofaringitis. Infeksi

15
pada daerah faring dan sekitarnya ditandai dengan keluhan nyeri tenggorokan.

Faringitis streptokokus beta hemolitikus grup A (SBHGA) adalah infeksi akut

orofaring dan/ atau nasofaring oleh SBHGA. Berbagai penyebab faringitis, baik

faringitis sebagai manifestasi tunggal maupun sebagai bagian dari penyakit lain.

Virus merupakan etiologi terbanyak faringitis akut, terutama pada anak berusia ≤

3 tahun. Virus penyebab penyakit respiratori seperti Adenovirus, Rhinovirus, dan

virus Parainfluenza dapat menjadi penyebab faringitis. Virus Epstein Bar (EBV)

dapat menyebabkan faringitis, tetapi disertai dengan gejala seperti splenomegali

dan limfadenopati. Streptokokus beta hemolitikus grup A adalah bakteri penyebab

terbanyak faringitis/tonsilofaringitis akut. Bakteri tersebut mencakup 15-30% dari

penyebab faringitis akut pada anak, sedangkan pada dewasa hanya sekitar 5-10%

kasus. Beberapa bakteri dapat melakukan proliferasi ketika sedang terjadi infeksi

virus, tetapi biasanya bukan penyebabb dari tonsilofaringitis, bakteri tersebut

adalah staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Moraxella catarrhalis.(1)

Untuk menegakkan diagnosis pada kasus ini, maka harus dilakukan

anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Manifestasi klinis dari tonsillitis akut ialah odinofagia, demam dan

menggigil, rasa kering pada faring, disfagia, otalgia, sakit kepala, malaise dan

myalgia. Pada faringitis akibat virus, dapat juga ditemukan ulkus di palatum mole

dan dinding faring serta eksudat di palatum dan tonsil, tetapi sulit dibedakan

dengan eksudat pada faringitis Streptococcus. Gejala yang timbul dapat hilang

dalam 24 jam, berlangsung 4-10 hari, jarang menimbulkan komplikasi dan

memiliki prognosis yang baik. (1,2)

16
Faringitis Streptococcus sangat mungkin jika dijumpai tanda berikut:(2)

- Awitan akut, disertai mual dan muntah

- Faring hiperemis

- Demam

- Nyeri tenggorokan

- Tonsil bengkak dengan eksudasi

- Kelenjar getah bening anterior bengkak dan nyeri

- Uvula bengkak dan merah

- Ekskoriasi hidung disertai lesi impetigo sekunder

- Ruam skarlatina

- Petekia palatum mole

Bila dijumpai gejala dan tanda berikut, maka kemungkinan besar bukan faringitis

Streptococcus (disebabkan oleh infeksi virus):(2)

- Usia dibawah 3 tahun

- Awitan bertahap

- Kelainan melibatkan beberapa mukosa

- Konjungtivitis, diare, batuk, pilek, suara serak

- Mengi, ronki di paru

- Eksantemulseratif

Tanda khas faringitis difteri adalah membrane asimetris, mudah berdarah,

dan berwarna kelabu pada faring. Membrane tersebut dapat meluas dari batas

anterior tonsil hingga palatum mole dan/ atau ke uvula. Pada anak diatas umur 2

tahun mulai dengan keluhan nyeri kepala, nyeri perut, dan muntah. Gejala-gejala

17
ini dapat disertai dengan demam setinggi 400C. Beberapa jam sesudah keluhan

awal, tenggorokan dapat menjadi nyeri.(1,2,4)

Pada pasien ini, dari hasil anamnesis diketahui bahwa pasien anak berusia

10 tahun, sehingga berdasarkan usia ini, kemungkinan tonsilofaringitis yang

dialaminya terjadi akibat infeksi bakteri. Selain itu juga pasien mengeluhkan

demam, nyeri tenggorokan saat menelan, mual dan muntah, semua gejala ini

sudah di alami oleh pasien. Dari pemeriksaan fisik didapatkan suhu yang

meningkat 39,50C, terdapat tonsil yang membesar T2-T3 dan faring tampak

hiperemis. Dari hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis pasien dapat

mengarah ke tonsilofaringitis akut yang disebabkan oleh bakteri.

Sulit untuk membedakan antara faringitis Streptococcus dan virus hanya

berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Baku emas penegakkan diagnosis

faringitis bakteri atau virus adalah melalui pemeriksaan kultur dari pemeriksaan

apusan tenggorok. Apusan tenggorok yang adekuat pada area tonsil diperlukan

untuk menegakan adanya S.pyrogenes. Untuk memaksimalkan akurasi, maka

diambil apusan dari dinding faring posterior dan regio tonsil, lalu diinokulasikan

pada media agar darah domba 5% dan piringan basitrasin diaplikasikan, kemudian

ditunggu selama 24 jam. Pada saat ini terdapat metode yang cepat untuk

mendeteksi antigen Streptococcus grup A (rapid antigen detection test). Metode

uji cepat ini mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang cukup tinggi (90-95%)

dan hasilnya dapat diketahui dalam 10 menit, sehingga metode ini setidaknya

dapat digunakan sebagai pengganti pemeriksaan kultur.(1,2)

18
Pada pasien ini, pemeriksaan kultur tidak dilakukan. Sehingga penyebab

pasti tonsilofaringitis pada pasien ini belum dapat ditentukan, namun dari hasil

pemeriksaan laboratorium hematologi didapatkan adanya leukositosis 15,6 x

103/mm3, sehingga dapat dicurigai mengarah ke infeksi bakteri.

Tatalaksana tonsilofaringitis akut meliputi terapi non-farmakologis dan

farmakologis. Untuk terapi non-farmakologis pada pasien diberikan edukasi untuk

istirahat yang cukup, mempertahankan hidrasi yang cukup, dan menjaga

kebersihan rongga mulut agar tidak terjadi infeksi sekunder yang dapat terjadi

akibat menurunnya sistem imun lokal. Selain itu, apabila pasien mengeluhkan

asupan makanan yang berkurang akibat keluhan nyeri menelan, pasien dapat

diedukasi untuk tetap makan makanan dengan konsistensi lunak.

Terapi farmakologis pada pasien ini adalah:

1. Pemberian antibiotik. Pada kasus ini, diberikan antibiotik karena

kemungkinan penyebabnya adalah bakteri karena terjadi peningkatan

leukosit. Menurut IDAI penyebab terbanyak tonsilofaringitis akut pada

anak adalah infeksi Streptococcus  hemolyticus grup A. Antibiotik

pilihan pada terapi faringitis akut Streptococcus β-hemolitikus grup A

adalah penisilin V oral 15-30 mg/kg/ hari dibagi 3 dosis selama 10 hari

atau benzatin penisilin G IM dosis tunggal dengan dosis 600.000 IU (BB

<30 kg) dan 1.200.000 IU (BB >30 kg). Amoksisilin dapat digunakan

sebagai pengganti penisilin pada anak yang lebih kecil, dengan dosis 50

mg/kg/hari dibagai 2 selama 6 hari. Pada anak yang alergi penisilin dapat

diberikan eritromisin suksinat 40 mg/kgBB/hari, eritromisin estolat 20-40

19
mg/kgBB/hari, dengan pemberian 2, 3, atau 4 kali perhari selam 10 hari.

Pada infeksi berulang perlu dilakukan kultur kembali. Apabila hasil kultur

kembali positif, beberapa kepustakaan menyarankan terapi kedua, dengan

pilihan obat oral klindamisin 20-30 mg/kg/hari selama 10 hari,

amoksisilin klavulanat 40 mg/kg/hari terbagi menjadi 3 dosis selama 10

hari. Atau injeksi benzathine penisilin G intramuscular, dosis tunggal

600.000IU (BB <30 kg) dan 1.200.000 IU (BB >30 kg). Bila setelah

terapi kedua kultur tetap positif, kemungkinan pasien merupakan pasien

karier, yang memiliki risiko ringan terkena demam reumatik. Golongan

tersebut tidak memerlukan terapi tambahan.(2)

2. Pemberian gargles (obat kumur) dan lozengen (obat hisap), pada anak

dapat diberikan untuk meringankan keluhan nyeri tenggorokan.(2)

3. Apabila terdapat nyeri yang berlebih dan demam dapat diberikan

analgesik dan antipiretik, pada pasien dapat diberikan parasetamol dengan

dosis 10–15 mg/kgBB/kali.(2)

4. Pemberian edukasi. Edukasi yang harus dilakukan meliputi berbagai

aspek dari penyakit tonsilofaringitis itu sendiri. Dari segi penyebab ada

baiknya diberikan penjelasan secara singkat dan jelas mengenai bakteri

penyebab, pola dan mekanisme penularan, dan bagaimana cara mencegah

penularan. Edukasi juga perlu dilakukan mengenai pengobatan pasien

baik yang berupa kausatif dan simptomatik. Antibiotik yang diberikan

oleh dokter harus diminum sesuai dengan dosis dan waktu yang telah

ditentukan (biasanya habis dalam 7-10 hari). Kemungkinan terjadinya

20
resistensi obat akibat penggunaan antibiotik yang tidak teratur juga harus

dijelaskan kepada pasien. Pengobatan yang bersifat simptomatis juga

harus dijelaskan cara pemakaiannya yaitu dapat dihentikan ketika gejala-

gejala simptomatis sudah hilang atau membaik. Efek samping dari obat

yang diberikan juga harus dijelaskan agar pasien dapat segera kontrol ke

dokter apabila terjadi hal tersebut.

Untuk penanganan tonsilitis, selain pengobatan secara medikamentosa perlu

juga dipertimbangkan untuk dilakukan tonsilektomi jika terjadi tonsilitis rekuren.

Terdapat beberapa indikator klinis yang digunakan, salah satunya adalah kriteria

yang digunakan Children’s Hospital of Pittsburgh study, yaitu :

 Ada 7 atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik

pada tahun sebelumnya.

 Ada 5 atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik

setiap tahun selama 2 tahun sebelumnya

 Ada 3 atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi dengan antibiotik

setiap tahun selama 3 tahun sebelumnya.(2,3)

American Academy Otolaryngology and Head and Neck Surgery,

menetapkan terdapatnya tiga atau lebih episode infeksi tenggorokan yang diterapi

dalam setahun sebagai bukti yang cukup untuk melakukan tindakan pembedahan.

Keputusan untuk tonsilektomi harus didasarkan pada gejala dan tanda yang terkait

secara langsung terhadap hipertrofi, obstruksi dan infeksi kronis pada tonsil dan

struktur terkait.

21
Tonsilektomi seharusnya dihindari pada anak berusia dibawah 3 tahun. Bila

ada infeksi aktif, tonsilektomi harus ditunda hingga 2-3 minggu. Indikasi lainnya

adalah bila terjadi obstructive sleep apnea.(2) Pada pasien ini, tindakan

pembedahan tonsilektomi belum perlu dilakukan, dikarenakan gejala baru

pertama kali dalam setahun dan bersifat akut serta belum menimbulkan efek

obstruksi pada saluran pernafasan.

Selain hal diatas, perlu di edukasikan kepada orang tua mengenai waktu

untuk kontrol kembali jika setelah obat habis, namun keluhan belum membaik

atau memburuk. Komplikasi tonsillitis yang dapat terjadi terkait dengan

Streptococcus β-hemolitikus grup A adalah demam rematik akut dan

glomerulonephritis akut, dan komplikasi yang lain ialah infeksi peritonsilar,

infeksi retrofaring, infeksi parafaring, sindrom lemierre, obstruksi saluran

pernapasan atas. Komplikasi lainnya adalah demam scarlet, yaitu sekunder

terhadap tonsillitis Streptococcus akut atau faringitis dengan produksi endotoksin

oleh bakteri. Manifestasi termasuk ruam eritematosa, limfadenopati berat dengan

sakit tenggorokan, muntah, sakit kepala, demam, eritema tonsil dan faring,

takikardia, dan eksudat kuning pada tonsil dan faring.(2,5)

Prognosis faringitis virus tergolong baik karena komplikasinya jarang dan

bersifat self limited. Beberapa kasus dapat berlanjut menjadi otitis media purulen

bakteri. Pada faringitis bakteri dan virus dapat ditemukan komplikasi ulkus kronik

yang cukup luas. Sedangkan jika akibat bakteri, dapat terjadi perluasan secara

langsung atau hematogen. Akibat perluasan langsung dapat berlanjut menjadi

rinosinusitis, otitis media, mastoiditis, adenitis servikal, abses retrofaringeal atau

22
pneumonia. Penyebaran hematogen dapat mengakibatkan meningitis,

osteomyelitis, atau arthritis septik, sedangkan komplikasi nonsupuratif berupa

demam rematik dan glomerulonephritis.(2)

Pada pasien ini, prognosisnya baik bila komplikasi tidak muncul. Namun,

risiko komplikasi pada pasien ini muncul tergolong besar karena pada pasien ini

dicurigai infeksi bakteri sebagai penyebab tonsilofaringitis yang memiliki lebih

banyak komplikasi dibandingkan virus sebagai penyebabnya.

23
DAFTAR PUSTAKA

1. Naning, R, Triasih, R, Setyati, A. Faringitis, Tonsilitis, dan Tonsilofaringitis

Akut, in: Rahajoe, NN, Supriyatno, B, Setyanto, DB (Eds.), 2012. Buku Ajar

Respirologi Anak Edisi Pertama. Badan Penerbit IDAI. Jakarta. pg: 288-295.

2. Cummings, CW, Flent, PW, Barker, LA (Eds), 2005. Cummings

Otolaryngology Head & Neck Surgery Fourth Edition. Elsevier. Philadelphia.

3. Nelson, WE (Ed.), 2000. Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Volume 3.

EGC. Jakarta.

4. WHO & DEPKES RI, 2009. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah

Sakit. WHO Indonesia. Jakarta

5. Mansjoer A, 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi III. Jilid 2. Jakarta.

Media Aesculapius FKUI.

24