Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hiruk pikuk seputar kasus Bank Century, yang kini telah berganti nama
menjadi Bank Mutiara, menyita perhatian banyak elemen masyarakat. Tema besar
kasus tersebut adalah korupsi. Lakon para legislator dalam upaya pembongkaran
kasus Bank Century, disimak secara luas oleh masyarakat melalui pemberitaan
berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Bahkan masyarakat sendiri
dapat melihat jalannya persidangan Pansus Hak Angket Bank Century melalui
program Breaking News yang disiarkan secara langsung oleh beberapa televisi
swasta. Pemerintah dalam hal ini Kementrian Keuangan dan Bank Indonesia (BI)
yang sementara ini dituduh sebagai pihak-pihak yang paling bertanggungjawab
atas pengucuran dana talangan (bailout) kepada Bank Century yang dinilai telah
merugikan negara sekitar Rp6,76 Trilyun melakukan pembelaan diri, seolah tidak
ada yang keliru dengan mekanisme dan keputusan yang telah diambilnya.
Para politisi di luar parlemen saling adu argumen. Di satu pihak partai
politik tertentu mempertanyakan komitmen partai lain atas koalisi politik yang
telah mereka bangun bersama, sedangkan di pihak lain partai yang dituduh
“berkhianat” membela dirinya atas nama kebenaran dan keberpihakan kepada
rakyat. Rakyat yang tidak puas dengan kinerja parlemen dan pemerintah
melakukan unjuk rasa di mana-mana menuntut tegaknya kebenaran dan keadilan.
Secara kronologi kasus Bank Century dimulai pada tahun 1989 oleh
Robert Tantular yang mendirikan Bank Century Intervest Corporation (Bank
CIC). Tahun 1999 pada bulan Maret Bank CIC melakukan penawaran umum
terbatas pertama dan Robert Tantular dinyatakan tidak lolos uji kelayakan dan
kepatutan oleh Bank Indonesia. Pada tahun 2002 Auditor Bank Indonesia
menemukan rasio modal Bank CIC amblas hingga minus 83,06% dan CIC
kekurangan modal sebesar Rp 2,67 triliun. Tahun 2003 bulan Maret bank CIC
melakukan penawaran umum terbatas ketiga. Bulan Juni Bank CIC melakukan
penawaran umum terbatas keempat. Pada tahun 2003 pun bank CIC diketahui
terdapat masalah yang diindikasikan dengan adanya surat-surat berharga valuta
asing sekitar Rp 2 triliun yang tidak memiliki peringkat, berjangka panjang,
berbunga rendah, dan sulit dijual.

MANAJEMEN RISIKO 1
BI menyarankan merger untuk mengatasi ketidakberesan pada bank ini.
Tahun 2004, 22 Oktober dileburlah Bank Danpac dan Bank Picco ke Bank CIC.
Setelah penggabungan nama tiga bank itu menjadi PT Bank Century Tbk, dan
Bank Century memiliki 25 kantor cabang, 31 kantor cabang pembantu, 7 kantor
kas, dan 9 ATM. Tahun 2005 pada bulan Juni Budi Sampoerna menjadi salah satu
nasabah terbesar Bank Century Cabang Kertajaya Surabaya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka, rumusan masalah yaitu :
1.2.1 Bagaimana kasus Bank Century terkait dengan manajemen risiko?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan paper ini adalah untuk mengetahui kaitan antara
kasus Bank Century dengan manajemen risiko. Sehingga para pembaca ataupun
penulis dapat memahami lebih lanjut mengenai kaitan antara Bank Century dengan
manajemen risiko.

MANAJEMEN RISIKO 2
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah kegiatan pimpinan puncak mengedintifikasi,
mengevaluasi, menangani dan memonitor risiko bisnis yang dihadapi perusahaan
mereka di masa yang akan datang. Apabila dampak risiko itu terhadap operasi bisnis
diperkirakan cukup signifikan, pimpinan perusahaan yang profesional akan
menyusun rencana mengatasi atau meredusir dampak negatif risiko tersebut.
Manajemen risiko adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari good corporate
governance. Manajemen risiko dapat diterapkan untuk menanggulangi dampak
negatif rencana bisnis perusahaan secara keseluruhan. Adapun tipe-tipe risiko,
sebagai berikut.
1) Risiko murni (pure risks) adalah risiko di mana kemungkinan kerugian ada, tetapi
kemungkinan keuntungan tidak ada. Jadi kita membicarakan potensi kerugian
untuk risiko tipe ini.
Tipe Risiko Definisi Ilustrasi

Kebakaran yang melanda


Risiko yang terjadi karena gudang atau bangunan
kejadian tertentu perusahaan.
Risiko aset fisik berakibat buruk
(kerugian) pada aset fisik Banjir mengakibatkan

organisasi. kerusakan pada bangunan


dan peralatan.

Kecelakaan kerja
Risiko karena karyawan mengakibatkan karyawan
Risiko karyawan organisasi mengalami cidera sehingga kegiatan
peristiwa yang merugikan. operasional perusahaan
terganggu.

Risiko kontrak tidak Terjadi perselisihan


sesuai yang diharapkan, sehingga perusahaan lain
Risiko legal
dokumentasi yang tidak menuntut ganti rugi yang
benar. signifikan.

MANAJEMEN RISIKO 3
Risiko spekulatif adalah risiko di mana kita mengharapkan terjadinya kerugian
dan juga keuntungan.
Tipe Risiko Definisi Ilustrasi

Risiko pasar Risiko yang terjadi dari Harga pasar saham dalam
pergerakan harga atau portofolio perusahaan
volatilitas harga pasar. mengalami penurunan
yang mengakibatkan
kerugian yang dialami
perusahaan.

Risiko kredit Risiko karena counter Debitur tidak bisa


party gagal memenuhi membayar cicilan dan
kewajibannya pada bunga hutang sehingga
perusahaan. perusahaan mengalami
kerugian.
Piutang dagang tidak
terbayar.

Risiko likuiditas Risiko tidak bisa Perusahaan tidak


memenuhi kebutuhan kas, memiliki kas untuk
risiko tidak bisa menjual membayar kewajibannya
dengan cepat karena atau hutang.
Perusahaan terpaksa
ketidaklikuidan atau
menjual tanah dengan
gangguan pasar.
harga murah (dibawah
standar) karena sulit
menjual tanah tersebut
(tidak likuid, padahal
perusahaan membutuhkan
kas dengan cepat.

Risiko operasional Risiko kegiatan Komputer perusahaan


operasional tidak berjalan terkena viru sehingga
lancar dan mengakibatkan operasi perusahaan
kerugian : kegagalan

MANAJEMEN RISIKO 4
sistem, human error, terganggu.
Prosedur pengendalian
pengendalian dan prosedur
perusahaan tidak
yang kurang.
memadai sehingga terjadi
pencurian barang-barang
yang dimiliki perusahaan.

2.2 Tanggung Jawab Dewan Komisaris


Komisaris merupakan organ perusahaan yang memegang fungsi pengawasan.
Dalam praktek ini terdiri dari beberapa orang, sehingga lebih dikenal dengan Dewan
Komisaris. Dewan Komisaris adalah organ perusahaan yang bertugas melakukan
pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan Anggaran Dasar serta
memberi nasehat kepada Dewan Direksi.
Dewan Komisaris melakukan pengawasan atas kebijakan pengurusan
jalannya pengurusan pada umumnya, baik mengenai perusahaan maupun usaha
perusahaan dan memberi nasehat kepada Direksi. Maksud dan tujuan perusahaan ini
menjadi dasar kewenangan dan batasan bagi Dewan Komisaris dalam menjalankan
tugasnya dibidang pengawasan.
1. Tugas Dewan Komisaris
Tugas Dewan Komisaris Perusahaan adalah sebagai pengawas dan
penasihat Direksi dan dilaksanakan dengan itikad baik dan penuh tanggung jawab
untuk kepentingan perusahaan, yang meliputi antara lain:
a. Melakukan pengawasan terhadap kebijakan Direksi dalam melaksanakan
kepengurusan perusahaan, fungsinya antara lain mencakup tindakan
pencegahan, perbaikan hingga pemberhentian sementara anggota Direksi.
b. Melakukan pengawasan atas risiko usaha perusahaan dan upaya manajemen
melakukan pengendalian internal.
c. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan Good Corporate Governance
(GCG) dalam kegiatan usaha perusahaan.
d. Memberikan nasihat kepada Direksi berkaitan dengan tugas dan kewajiban
Direksi.

MANAJEMEN RISIKO 5
e. Memberikan tanggapan dan rekomendasi atas usulan dan rencana
pengembangan strategis perusahaan yang diajukan Direksi.
f. Memastikan bahwa Direksi telah memperhatikan kepentingan stakeholders.
g. Dalam melaksanakan tugasnya, Dewan Komisaris perusahaan tidak boleh
turut serta dalam pengambilan keputusan operasional. Keputusan Dewan
Komisaris mengenai hal yang diatur dalam Anggaran Dasar dan peraturan
perundang-undangan dilakukan dalam fungsinya sebagai pengawas, sehingga
keputusan kegiatan operasional tetap menjadi tanggung jawab Direksi.
2. Wewenang Dewan Komisaris
Dewan Komisaris Perusahaan berwenang untuk melakukan hal-hal
sebagai berikut:
a. Memeriksa catatan dan dokumen lain serta kekayaan perusahaan.
b. Meminta dan menerima keterangan yang berkenaan dengan perusahaan dari
Direksi.
c. Memberhentikan untuk sementara anggota Direksi apabila anggota Direksi
tersebut bertindak bertentangan dengan Anggaran Dasar perusahaan dan/atau
peraturan perundangan yang berlaku.
d. Membentuk komite-komite Dewan Komisaris seperti Komite Audit, Komite
Nominasi, Komite Remunerasi dan/atau komite lainnya.
3. Pertanggungjawaban Dewan Komisaris
Dewan Komisaris perusahaan dalam fungsinya sebagai pengawas,
menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengawasan atas pengelolaan
perusahaan oleh Direksi. Laporan pengawasan Dewan Komisaris disampaikan
pada RUPS untuk memperoleh persetujuan dari para pemegang saham.
Pertanggungjawaban Dewan Komisaris pada RUPS merupakan perwujudan
akuntabilitas pengawasan atas pengelolaan perusahaan dalam rangka
pelaksanaan prinsip Good Corporate Governance (GCG).

2.3 Tanggung Jawab Dewan Direksi


Dewan Direksi adalah organ perusahaan yang berwenang dan bertanggung
jawab penuh atas pengelolaan perusahaan untuk kepentingan dan tujuan perusahaan,

MANAJEMEN RISIKO 6
serta mewakili perusahaan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan
ketentuan Anggaran Dasar.
1. Tugas Dewan Direksi
Tugas Dewan Direksi adalah dengan itikad baik dan bertanggung jawab
penuh memimpin dan mengelola perusahaan untuk mencapai maksud dan tujuan
perusahaan, yang meliputi antara lain:
a. Mengelola perusahaan sesuai dengan kewenangan dan tanggungjawabnya
sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar, peraturan perundang-undangan
yang berlaku dan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG).
b. Menyusun visi, misi, dan nilai-nilai serta rencana strategis perusahaan dalam
bentuk rencana korporasi (corporate plan) dan rencana bisnis (business plan).
c. Menyelenggarakan Rapat Direksi perusahaan secara berkala dan dengan
waktu yang memadai.
d. Menetapkan struktur organisasi perusahaan lengkap dengan rincian tugas
setiap divisi dan unit usaha.
e. Mengendalikan sumber daya yang dimiliki perseroran secara efektif dan
efisien.
2. Wewenang Dewan Direksi
Dewan Direksi berwenang untuk melakukan antara lain hal-hal sebagai
berikut:
a. Mewakili dan mengikat perusahaan dengan pihak lain serta menjalankan
segala tindakan kepengurusan dan kepemilikan.
b. Mengangkat seorang atau lebih sebagai wakil atau kuasanya dengan
memberikan surat kuasa untuk tindakan-tindakan tertentu.
c. Mengatur sumber daya manusia perusahaan termasuk pengangkatan dan
pemberhentian karyawan, penetapan gaji, pensiun atau jaminan hari tua dan
penghasilan lain bagi karyawan perusahaan berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku dan/atau keputusan RUPS.

3. Pertanggungjawaban Dewan Direksi


Dewan Komisaris Perusahaan bertugas dan bertanggungjawab secara
majelis atau kolektif dalam mengawasi pelaksanaan tugas dan tanggung jawab

MANAJEMEN RISIKO 7
Dewan Direksi dan memberikan nasihat kepada Dewan Direksi serta
memastikan perusahaan melaksanakan prinsip-prinsip Good Corporate
Governance (GCG). Kedudukan masing-masing anggota Dewan Komisaris,
termasuk Presiden Komisaris adalah setara. Tugas Presiden Komisaris adalah
mengkoordinasikan kegiatan Dewan Komisaris. Pertanggungjawaban Dewan
Direksi meliputi:
a. Menyusun pertanggungjawaban pengelolaan perusahaan dalam bentuk
laporan tahunan yang memuat antara lain laporan keuangan, laporan kegiatan
perusahaan dan laporan pelaksanaan Good Corporate Governance (GCG).
b. Persetujuan laporan tahunan termasuk pengesahan laporan keuangan serta
laporan tugas pengawasan Dewan Komisaris dilakukan oleh RUPS.
c. Memberikan pertanggungjawaban Dewan Direksi kepada RUPS merupakan
perwujudan akuntabilitas pengelolaan Perusahaan dalam rangka pelaksanaan
prinsip Good Corporate Governance (GCG).
2.4 Komisaris Independen
Dalam rangka memberdayakan fungsi pengawasan Dewan Komisaris,
keberadaan Komisaris Independen adalah sangat diperlukan. Secara langsung
keberadaan Komisaris Independen menjadi penting, karena didalam praktek sering
ditemukan transaksi yang mengandung benturan kepentingan yang mengabaikan
kepentingan pemegang saham publik (pemegang saham minoritas) serta
stakeholders lainnya, terutama pada perusahaan di Indonesia yang menggunakan
dana masyarakat didalam membiayai usahanya. Dalam upaya untuk melaksanakan
tanggung jawabnya dengan baik maka Komisaris Independen harus secara proaktif
mengupayakan agar Dewan Komisaris melakukan pengawasan dan memberikan
nasehat kepada Dewan Direksi, disamping itu, Komisaris Independen memiliki
fungsi sebagai berikut:
 Memastikan bahwa perusahaan memiliki strategi bisnis yang efektif, termasuk
didalamnya memantau jadwal, anggaran dan efektifitas strategi tersebut.
 Memastikan bahwa perusahaan mengangkat eksekutif dan manajer-manajer
profesional.
 Memastikan bahwa perusahaan memiliki informasi, sistem pengendalian, dan
sistem audit yang bekerja dengan baik.

MANAJEMEN RISIKO 8
 Memastikan bahwa perusahaan mematuhi hukum dan perundangan yang berlaku
maupun nilai-nilai yang ditetapkan perusahaan dalam menjalankan operasinya.
 Memastikan resiko dan potensi krisis selalu diidentifikasikan dan dikelola
dengan baik.
 Memastikan prinsip-prinsip dan praktek Good Corporate Governance (GCG)
dipatuhi dan diterapkan dengan baik.
1. Tugas Komisaris Independen
Komisaris Independen bertugas untuk melakukan hal-hal sebagai
berikut:
a. Menjamin transparansi dan keterbukaaan laporan keuangan perusahaan.
b. Perlakuan yang adil terhadap pemegang saham minoritas dan stakeholders
yang lain.
c. Diungkapkannya transaksi yang mengandung benturan kepentingan secara
wajar dan adil.
d. Kepatuhan perusahaan pada perundangan dan peraturan yang berlaku.
e. Menjamin akuntabilitas organ perusahaan.
2. Wewenang Komisaris Independen
Komisaris Independen berwenang untuk melakukan hal-hal sebagai
berikut:
a. Komisaris independen mengetuai Komite Audit dan Komite Nominasi.
b. Komisaris Independen berdasarkan pertimbangan yang rasional dan kehati-
hatian berhak menyampaikan pendapat yang berbeda dengan anggota Dewan
Komisaris lainnya yang wajib dicatat dalam Berita Acara Rapat Dewan
Komisaris dan pendapat yang berbeda yang bersifat material, wajib
dimasukkan dalam laporan tahunan.
2.5 Struktur Pengawasan
Dewan Pengawas (Komisaris) bertanggung jawab mengawasi Dewan Direksi
dalam menjalankan tugasnya dengan secara teratur memantau efektivitas
pelaksanaan kebijakan dan pengambilan keputusan yang di lakukan oleh Dewan
Direksi termasuk pelaksanaan strategi untuk mencapai target yang diharapakan
pemilik modal.
1. Keanggotaan Dewan Pengawas

MANAJEMEN RISIKO 9
Adapun ketentuan-ketentuan dalam keanggotaan Dewan Pengawas
meliputi hal-hal berikut:
a. Pengangkatan dan pemberhentian Dewan Pengawas dilakukan oleh RUPS.
b. Dalam hal bertindak selaku RUPS penganggakatan dan pemberhentian
Dewan Pengawas ditetapkan oleh Menteri sesuai dengan mekanisme dan
peraturan perundang-undangan.
c. Agar Dewan Pengawas dapat menjalankan fungsinya dengan baik, maka
perlu ditetapkan kebijakan tentang kriteria Dewan Pengawas yang sesuai
kebutuhan.
d. Pemilik modal mengangkat Dewan Pengawas melalui mekanisme fit and
proper test berdasarkan pertimbangan.
e. Masa jabatan anggota Dewan Pengawas ditetapkan 5 tahun dan dapat
diangkat kembali selama satu kali masa jabatan.
f. Pengangkatan anggota Komisaris tidak bersamaan waktunya dengan
pengangkatan anggota Direksi, kecuali pengangkatan untuk pertama kalinya
pada waktu pendirian.
g. Anggota Dewan Pengawas sewaktu-waktu dapat dihentikan. Berdasarakan
keputusan Menteri dengan menyebutkan alasannya.
2. Kinerja Dewan Pengawas
Kinerja Dewan Pengawas akan dievaluasi setiap tahun oleh pemilik
modal dalam RUPS. Secara Umum, kinerja Dewan Pengawas ditentukan
berdasarkan tugas kewajiban yang termaktub dalam peraturan perundang-
undangan yang berlaku bagi Perum Perumnas, amanat Pemilik Modal, dan
proses pemenuhan tanggung jawab tersebut. Kriteria evaluasi disampaikan
kepada Dewan Pengawas sejak pengangakatannya.

2.6 KASUS: BANK CENTURY


1. Profil Bank Century
PT Bank Century Tbk didirikan berdasarkan Akta No. 136 tanggal 30 Mei
1989 yang dibuat Lina Laksmiwardhani, SH, notaris pengganti Lukman Kirana,

MANAJEMEN RISIKO 10
SH, notaris di Jakarta. Disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia
dalam Surat Keputusannya No. C.2-6169.HT.01.01.TH 89 tertanggal 12 Juli
1989. Didaftarkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada 2 Mei 1991 dengan
No. 284/Not/1991. Anggaran Dasar Bank telah disesuaikan dengan Undang-
Undang Perseroan Terbatas No. 1 Tahun 1995 dalam Akta No. 167 tanggal 29
Juni 1998 dari Rachmat Santoso, S.H, notaris di Jakarta. Pada tanggal 16 April
1990, Bank Century memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum dari Menteri
Keuangan Republik Indonesia melalui Surat Keputusan No. 462/KMK.013/1990
tanggal 16 April 1990 tentang Pemberian Izin Usaha, nama PT Bank CIC
Internasional, Tbk. dinyatakan tetap berlaku bagi PT Bank Century, Tbk. Bank
Century berdomisili di Indonesia dengan 27 Kantor Cabang Utama, 30 Kantor
Cabang Pembantu dan 8 Kantor Kas. Kantor Pusat Bank beralamat di Gedung
Sentral Senayan II, Jl. Asia Afrika No. 8 Jakarta. Dari jumlah kantor tersebut
diatas yang beroperasi sebanyak 63 kantor.
2. Kronologi Permasalahan
Bank Century merupakan bank publik yang tercatat di BEI yang mulai
beroperasi tanggal 15 Desember 2004, merupakan hasil marger antara Bank CIC
(Surviving Entity), Bank Danpac dan Bank Pikko. Kasus Bank Century
merupakan kasus yang terhangat di Indonesia yang banyak menyeret para
pejabat. Awal mulai terjadinya kasus Bank Century adalah Bank Century
mengalami kalah kliring pada tanggal 18 November 2008.
Masalah yang terjadi di Bank Century merupakan masalah internal yang
dilakukan oleh pihak manajemen bank yang berhubungan dengan klien mereka:
a. Penyimpangan dana untuk peminjam $2,8 milyar (Rp 1,4 triliun
pelanggan Bank Century dan pelanggan Delta Antaboga Securities
Indonesia adalah Rp 1,4 triliun).
b. Penjualan produk-produk investasi fiktif Antaboga Delta Securities
Indonesia. (produk tidak terdaftar di BI dan Bapepam-LK).
c. Kedua point tersebut menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi
Nasabah Bank Century dan uang para nasabah pun yang ada di Bank
Century tidak bisa dicairkan.
Setelah tanggal 13 November 2008, pelanggan Bank Century tidak dapat
melakukan transaksi dalam bentuk devisa, kliring dan tidak dapat mentransfer,

MANAJEMEN RISIKO 11
karena Bank Century tidak mampu untuk melakukannya. Bank hanya dapat
mentransfer uang ke tabungan (rekening). Jadi uang itu tidak bisa keluar dari
bank. Hal ini terjadi pada semua pelanggan Bank Century.
Nasabah bank yang merasa dikhianati dan dirugikan karena banyak
menyimpan uang di Bank Century tetapi uang tersebut tidak bisa dicairkan.
Pelanggan mengasumsikan bahwa Bank Century memperjualbelikan produk
investasi ilegal. Alasannya adalah investasi yang dipasarkan Antaboga Century
Bank tidak terdaftar di Bapepam-LK. Padahal, manajemen Bank Century tahu
bahwa produk tersebut adalah ilegal. Kasus ini dapat mempengaruhi bank lain, di
mana orang tidak percaya terhadap sistem perbankan nasional.
Berdasarkan kasus Bank Century tersebut menimbulkan dampak yang
cukup besar terhadap perekonomian Indonesia sendiri. Sebab, menyeret banyak
pejabat-pejabat penting dan masalah pergerakan harga saham yang terus
mengalami penurunan akibat dari dampak sistemik kasus Bank Century ini.
Pemilik Bank Century adalah Robert Tantular juga yang melakukan tindak
kriminal karena melakukan perampokan terhadap banknya sendiri. Oknum-oknum
yang terlibat diantaranya, yaitu oknum POLRI terlibat “menjaga” oknum-oknum
yang terkait Bank Century karena dianggap “proyek kelas kakap”. Beberapa pihak
juga mengaitkan ini dengan ditangkapnya dua petinggi KPK, yang bernama Bibit
dan Chandra. Di mana penangkapan ini dilakukan tanpa ada bukti yang jelas,
demi menghambat pengusutan kasus Century.
Kasus ini diduga melibatkan Sri Mulyani dan Boediono sebagai tersangka
tetapi sebenarnya masih ada kemungkinan bahwa Sri Mulyani dan Boediono
adalah bagian dari konspirasi besar semata-mata demi menyelamatkan dana pihak
Century dan orang-orang yang terkait Century.
Sri Mulyani dan Boediono-lah yang telah menyelamatkan ekonomi
Indonesia sehingga saat ini Indonesia tidak terjerumus krisis yang lebih hebat.
Yang melakukan tindak penyelewengan hanyalah segelintir orang, Robert
Tantular, pemilik Bank Century yang menggondol dana Bank Century, dan
beberapa oknum di BI. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam kemelut Bank
tersebut diantaranya adalah delapan orang yakni Komisaris Utama Sulaiman AB,
Komisaris Poerwanto Kamajadi, Komisaris Rusli Prakasa, Direktur Utama

MANAJEMEN RISIKO 12
Hermanus Hasan Muslim. Kemudian Wakil Direktur Utama Hamidy, Direktur
Pemasaran Lila K. Gondokusumo, Direktur Kepatuhan Edward M. Situmorang,
dan Pemegang Saham Robert Tantular.
Hancurnya Bank Century sehingga harus diselamatkan oleh pemerintah
melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui suntikan dana Rp 6,7 triliun
terjadi karena perpaduan pengurusan bank yang mengarah pada tindak kriminal
serta krisis ekonomi global yang terjadi. Surat-surat berharga bodong yang ada di
Century menjadi salah satu pemicu bobroknya kondisi bank tersebut. Belakangan
dilihat ada pengaruh Antaboga, masalah surat bodong itu pasti ada pengaruhnya
dari Bank Century. Tetapi diperburuk karena kondisi krisis global, kalau keadaan
seperti itu tidak dalam krisis global, maka tidak akan meletus seperti itu. PT Bank
Century Tbk (BCIC) pada awalnya ternyata agen penjual produk investasi yang
diterbitkan PT Antaboga Delta Sekuritas. Hal itu diketahui berdasarkan
pemeriksaan awal Bank Indonesia (BI) pada 2005. Menurut Deputi Gubernur BI,
Siti Ch Fadjrijah dalam pertemuan dengan Komisi Keuangan Dewan Perwakilan
Rakyat menyatakan bahwa dari penelusuran BI diketahui produk yang dijual tidak
mempunyai izin dari Bapepam.
3. Analisis Kasus: Penyebab Bangkrutnya Bank Century
Kebangkrutan PT Bank Century, Tbk. tidak mungkin terjadi begitu saja, ada
beberapa hal yang menyebabkan kebangkrutan Bank Century antara lain
penyimpangan manajemen dan pengawasan BI yang tidak efektif yang diduga
menjadi penyebab utama bank itu akhirnya mengalami kebangkrutan.
a. Penyimpangan Manajemen
Modus kejahatan perbankan yang diduga dilakukan manajemen Bank
Century adalah penempatan dana yang sembrono di pasar uang (money
market). Hal ini terlihat dari penyimpangan yang dilakukan manajemen
Bank Century yang memiliki kewajiban surat berharga valas sebesar US$
210 juta. Kasus itu menunjukkan manajemen Bank Century tidak
mengindahkan prinsip kehati-hatian perbankan. Selain itu, manajemen bank
century juga lemah dalam mengelola risiko bisnis. Risiko bisnis terdiri dari
berbagai macam jenis. Dari berbagai macam jenis itu empat di antaranya
perlu mendapat perhatian secara lebih cermat dan kontinyu dari pimpinan
perusahaan. Adapun keempat jenis risiko bisnis tadi adalah sebagai berikut:

MANAJEMEN RISIKO 13
 Risiko citra atau reputasi perusahaan (reputation risk)
Selama ratusan tahun tidak sedikit jumlah perusahaan yang tergila-
gila pada citra besar yang "berhasil". Mereka mencoba memperkecil
risiko bisnis yang dihadapi dengan jalan memfokuskan transaksi
bisnisnya dengan perusahaan-perusahaan bercitra bagus. Mereka
meminjamkan kredit kepada perusahaan-perusahaan itu, membeli surat
berharga yang diterbitkan perusahaan itu, memesan produk, mesin dan
peralatan dari perusahaan itu', membeli premi asuransi dari mereka dan
sebagainya. Fakta kehidupan sehari-hari mengajari para pimpinan
perusahaan, bertransaksi bisnis dengan perusahaan-perusahaan bercitra
baik, berarti bebas dari risiko. Bayangan bertransaksi bisnis dengan
perusahaan-perusahaan besar yang nampak dari luar serba cemerlang
berisiko sangat kecil, mulai pudar sejak tumbangnya perusahaan-
perusahaan raksasa dunia.
Hal ini pula dirasakan oleh pihak Bank Century yang berusaha
meningkatkan citra perusahaan dengan menjual sekuritas dan melakukan
jasa lainnya. Namun, sangat disayangkan karena bank century melakuka
kegiatan yang tidak resmi “bodong” karena sekuritas tersebut tidak
terdaftar pada Bapepam-LK dan BEI. Kegiatan ini menyebabkan Bank
Centuri terkena risiko citra perusahaan dan tidak mengelolanya dengan
baik, sehingga citra bank menjadi menurun serta kepercayaan masyarakat
akan bank ini rendah (dilihat dari banyaknya penarikan dana secara
besar-besaran dari nasabah bank).
 Risiko likiuditas
Risiko likuditas adalah risiko yang muncul akibat suatu pihak
kesulitan menyediakan uang tunai atau memenuhi kewajiban dalam
jangka pendek. Risiko ini dialami oleh Bank Century akibat bank ini
mengalami gagal kliring dan adanya kegiatan pembobolan dana nasabah
oleh pemilik perusahaan, sehingga menyebabkan nasabah tidak dapat
mencairkan dana yang mereka tabung di bank. Risiko ini tidak dapat
Bank Century tanggulangi, karena pihak yang ‘bermain’ dalam kasus
tersebut adalah internal bank dan hal ini diperburuk dengan tidak adanya
dana cadangan yang dimiliki oleh bank. Maka, penyelesaian kasus ini

MANAJEMEN RISIKO 14
dibantu oleh lembaga resmi pemerintah yang disebut sebagai LPS
(Lembaga Penjamin Simpanan).
 Risiko operasional (operational risk)
Dampak risiko operasional timbul karena munculnya gangguan
operasional dari dalam atau dari luar perusahaan. Gangguan operasional
dari dalam perusahaan dapat berupa kerusakan mesin atau peralatan
produksi yang lain, kesalahan manusia dan kesalahan sistem dan
prosedur operasi. Sedangkan contoh gangguan dari luar perusahaan dapat
berupa krisis moneter, krisis politik, faktor persaingan pasar,
keterlambatan pasokan bahan dari perusahaan pemasok dan bencana
alam.
Kasus Bank Century merupakan kasus yang mencerminkan adanya
risiko operasional yang tidak dikelola dengan baik oleh pihak perusahaan
(internal) maupun luar perusahaan (eksternal). Risiko internal
ditunjukkan dengan adanya kesalahan manusia yang fatal, di mana
sembilan oknum yang terlibat tidak menerapkan prosedur yang sesuai
dan mereka melakukan penjualan sekuritas bodong serta pembobolan
dana nasabah. Hal lainnya yang membuat kasus ini semakin mencuat ke
publik adalah dengan dilakukannya kerjasama antara pihak bank century,
BI, dan oknum-oknum yang berasal dari pejabat pemerintahan.
Kerjasama ini tercermin dari adanya skenario penangkapan dua orang
pejabat KPK yang dilakukan tanpa bukti yang jelas, hal ini dilakukan
karena pihak KPK merupakan pihak independen yang sudah ‘mencium’
adanya tindakan penyimpangan dalam bank century. Kasus Bank Century
semakin buruk dan menjadi sorotan publik, karena kasus ini terjadi ketika
adanya krisis global yang merupakan gangguan dari luar perusahaan
yang menyebabkan kepercayaan publik terhadap bank nasional menjadi
semakin menurun.
b. Pengawasan BI yang Lemah
BI ternyata pernah memberikan kelonggaran aturan kepada Bank
Century, yakni dengan memasukkan surat-surat berharga (SSB) yang macet
ke kategori lancar. Hal itu dilakukan agar Bank Century tidak perlu
menyisihkan provisi (pencadangan) atas SSB yang macet itu, sehingga tidak
menggerus modalnya. Yang harus dipertanyakan sejauh mana keefektifan

MANAJEMEN RISIKO 15
Direktorat Pengawasan Perbankan BI karena selama ini manajemen Bank
Century memberikan laporan harian dan mingguan sehingga kesehatan
perbankan pasti terpantau. Di samping itu, Bapepam selaku otoritas pasar
modal harusnya juga bertanggungjawab karena Bank Century merupakan
perusahaan publik.
Kasus Bank Century ini menunjukkan ada praktik-praktik yang
menyimpang di bank sentral menyangkut tes kelayakan dan kepatutan (fit
and proper test) yang tidak akurat. BI juga dinilai gagal dalam menciptakan
tata kelola yang baik (Good Corporate Governance). Kesehatan merupakan
hal yang paling penting di dalam berbagai bidang kehidupan, baik bagi
manusia maupun perusahaan.
c. Kesehatan Bank
Kesehatan bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk
melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan mampu
memenuhi semua kewajibannya dengan baik dengan cara-cara yang sesuai
dengan peraturan perbankan yang berlaku, untuk melaksanakan seluruh
kegiatan usaha perbankannya kegiatan tersebut meliputi:
1) Kemampuan menghimpun dana masyarakat dari lembaga lain dan dari
modal sendiri
2) Kemampuan mengolah dana
3) Kemampuan untuk menyalurkan dana ke masyarakat
4) Kemampuan memenuhi kewajiban kepada masyarakat, karyawan,
pemilik modal dan pihak lain
5) Pemenuhan peraturan perbankan yang berlaku
d. Aturan Kesehatan Perbankan
Berdasarkan Undang-undang No. 10 tahun 1998 tentang perubahan
atas UU No. 7 tahun 1992 tentang perbankan, pembinaan dan pengawasan
bank dilakukan oleh Bank Indonesia. UU tersebut lebih lanjut menetapkan
bahwa:
1) Bank wajib memelihara tingkat kesehatan bank sesuai dengan ketentuan
kecukupan modal, kualitas asset, kualitas manajemen, likuiditas,
solvabilitas & aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank dan
wajib melakukan kegiatan usaha sesuai dengan prinsip kehati-hatian.
2) Dalam memberikan kredit atau pembiayaan berdasarkan prinsip syari’ah
dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib menempuh cara-cara

MANAJEMEN RISIKO 16
yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang
mempercayakan dananya kepada bank
3) Bank wajib menyampaikan kepada BI segala keterangan dan penjelasan
mengenai usahanya menurut tata cara yang ditetapkan oleh BI
4) Bank atas permintaan BI, wajib memberikan kesempatan bagi
pemeriksaan buku-buku dan berkas-berkas yang ada padanya serta wajib
memberikan bantuan yang diperlukan dalam rangka memperoleh
kebenaran dari segala keterangan, dokumen dan penjelasan yang
dilaporkan oleh bank yang bersangkutan
5) Bank Indonesia melakukan pemeriksaaan terhadap bank, baik secara
berkala maupun setiap waktu apabila diperlukan, BI dapat menugaskan
akuntan public untuk dan atas nama bank Indonesia melaksanakan
pemeriksaan terhadap bank.
6) Bank wajib menyampaikan perhitungan laba rugi tahunan dan
penjelasannya, serta laporan berkala lainnya dalam waktu dan bentuk
yang ditetapkan oleh BI. Neraca dan perhitungan laba rugi dalam waktu
dan bentuk yang ditetapkan BI.
e. Aspek-Aspek Penilaian
Penilaian untuk menentukan kondisi suatu bank, biasanya
menggunakan berbagai alat ukur. Salah satu alat ukur yang utama yang
digunakan untuk menentukan kondisi suatu bank dikenal dengan nama
analisis CAMEL. Analisis ini terdiri dari aspek capital, assets, management,
earning dan liquidity.
f. Hal-hal yang Perlu Diketahui Mengenai Pengendalian Resiko
Operasional yang Efektif di Perbankan
Prinsip-prinsip yang harus dijalankan agar suatu organisasi dapat
berjalan sesuai dengan prosedur operasional yang berlaku dan meminimasi
resiko operasional dan resiko-resiko yang lain adalah seperti yang dijelaskan
sebagai berikut:
1) Board of Director, sebagai pimpinan tertinggi organisasi harus
menyadari aspek utama risiko operasional bank yang harus dikelola, dan
harus menyetujui dan me-review secara periodik kerangka manajemen
risiko operasional bank.
2) Board of Director, sebagai pimpinan tertinggi organisasi harus
memastikan bahwa ada audit reguler terhadap kerangka manajemen

MANAJEMEN RISIKO 17
risiko operasional yang dilakukan oleh tim internal yang independen dan
kompeten, yaitu independen dari tim risiko operasional biasanya fungsi
internal audit.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kegagalan Bank Century diindikasikan terjadi karena tindak kriminal
yang dilakukan oleh pemilik Bank Century sendiri, selain itu keadaan ekonomi
juga sedang mengalami krisis global. Kesimpulan yang diperoleh dari masalah
Bank Century ketika munculnya dana bail out yang mulai bergulir dan
kejanggalan dalam neracanya mulai terungkap. Kelemahan manajemen mulai
terlihat setelah kekacauan reksadana Antaboga Delta sekuritas yang dikeluarkan
Bank Century. Disimpulkan bahwa sebenarnya bail out untuk Century memang
diperlukan namun dibalik itu ternyata banyak fakta bahwa kinerja dan tata kelola
Century yang sangat buruk. Kasus buruknya penerapan Good Corporate
Governance (GCG) dalam industri perbankan Indonesia dapat kita lihat pada
kasus Bank Century yang dimana bank tersebut harus diambil alih Lembaga
Penjamin Simpanan (LPS) dan ditetapkan sebagai bank gagal pada tahun 2008
akibat banyaknya kredit bermasalah yang dimiliki bank tersebut.

MANAJEMEN RISIKO 18
DAFTAR PUSTAKA
Arbaina, Endang Siti. Penerapan Good Corporate Governance Pada Perbankan Di
Indonesia. ejournal.unesa.ac.id/article/471/57/article.pdf. Diakses tanggal 17 Mei
2018

Asri Dwija Putri, I Gusti Ayu Made dan Ulupui, I Gusti Ketut Agung. 2017.Pengantar
Corporate Governance. Denpasar: CV. Sastra Utama

Liantono, Arshad. 2015. Analisis Kasus Bank Century Dari Sudut Pandang Manajemen
& Pemerintahan. http://arshadliantono.blogspot.co.id/2015/03/tugas-akhir-
analisis-kasus-bank-century.html. Diakses tanggal 3 November 2017

Mahmud, Hanafi. 2009. Manajemen Risiko Edisi Kedua. Yogyakarta: UPP STIM YKPN

Prasetyantoko. 2008. Corporate Governance. Jakarta: Gramedia

Sutojo, Siswanto., Alridge, E. John., 2008. Good Corporate Governance. Jakarta: Damar
Mulia Pustaka

MANAJEMEN RISIKO 19