Anda di halaman 1dari 22

PENERAPAN POLMAS OLEH BHABINKAMTIBMAS DALAM

PEMBINAAN SISKAMLING

Oleh :
Nama : Yogi Eka Nanda S
Nim : 030032141

UNIVERSITAS TERBUKA UPBJJ BANDAR LAMPUNG


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
JURUSAN ILMU HUKUM
2017
BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah alat negara yang mempunyai tugas
pokok memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, melakukan penegakkan hukum
dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat, yang
terdapat dalam Undang-undang Republik Indonesia No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian
Negara Republik Indonesia. Polri adalah bagian dari masyarakat yang tidak terpisahkan
yang menjadi tanggung jawab sesuai dengan tugas pokok Polri. Setiap masyarakat
memiliki karakteristik yang beragam budaya dan masalah, yang dapat menyebabkan
ketidakcocokan antara komunitas yang satu dengan komunitas yang lain. Seperti contoh
komunitas anak muda yang tidak suka dengan komunitas tukang ojek yang sering
mangkal di wilayah komunitas anak muda tersebut. Pada situasi dan kondisi seperti inilah
dimana dibutuhkan kehadiran polisi untuk menjembatani konflik yang terjadi diantara
komunitas yang berkepentingan tersebut. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat
membutuhkan polisi sedangkan polisi tanpa masyarakat bukan apa-apa. Untuk itu
pentingnya kemitraan antara polisi dan masyarakat dalam menghadapi hiruk-pikuk
permasalahan yang akan datang.

Sudah berpuluh tahun lamanya masyarakat Indonesia mengalami sistim


perpolisian yang bersifat militeristik, seperti kekerasan, penindasan, arogan, pemaksaan
dan tertutup serta yang sering terjadi yaitu korupsi. Hal seperti inilah yang
mengakibatkan ketidak percayaan masyarakat kepada polisi. Sekarang ini berbagai upaya
telah dilakukan oleh Polri untuk membangun kepercayaan masyarakat dalam rangka
mereformasi diri menuju Polri yang mandiri, transparan, akuntabel dan dapat dipercaya.
Sekarang Polri harus merubah diri dalam rangka untuk membangun kembali kepercayaan
masyarakat agar terbinanya hubungan harmonis antara polisi dan masyarakat. Memang
tidak mudah membangun kembali kepercayaan masyarakat kepada polisi, semua itu
memerlukan waktu dan usaha. Untuk membangun kepercayaan masyarakat, yang terlihat
mudah dilakukan dari kalangan masyarakat kelas menengah ke atas.

Salah satu usaha yang dilakukan Polri sekarang ini adalah dengan menerapkan
Model Perpolisian Masyarakat. Model Perpolisian Masyarakat yang juga dikenal dengan
sebutan Polmas telah diadopsi oleh Polri pada tanggal 13 Oktober 2005, yang merupakan
strategi baru perpolisian di Indonesia. Seluruh anggota Polri diharapkan dapat menukung
penerapan Polmas, dengan cara membangun serta membina kemitraan antara polisi dan
masyarakat dengan mengedepankan sikap proaktif dan berorientasi pada pemecahan
masalah. Polisi harus bersikap proaktif terhadap masyarakat dengan tidak lagi
memandang masyarakat yang bersifat pasif tetapi dipandang sebagai mitra guna
mencegah dan menangani kejahatan. (Hal.22 Perpolisian Masyarakat, Jakarta, Juni 2006,
Kepolisisan Negara Republik Indonesia).

Polmas pada dasarnya dilaksanakan oleh seluruh anggota Polri mulai dari yang
bawah sampai pucuk pimpinan tertinggi Polri, dengan bentuk kegiatan disesuaikan
dengan tugas dan kewenangannya masing-masing. Salah satunya seperti pembinaan yang
dilakukan oleh fungsi teknis kepolisian yang diterapkan oleh petugas Bhabinkamtibmas
dalam membina siskamling. Sehubungan dengan hal tersebut diatas penulis sangat
tertarik untuk membahas penerapan polmas yang dilakukan oleh Bhabinkamtibmas
dalam pembinaan siskamling.
2. Rumusan Masalah

1. Latar Belakang Polmas ?

2. Bagaimanakah Penerapan Polmas Oleh Bhabinkamtibmas Dalam Pembinaan


Siskamling ?

3. Apakah manfaat Penerapan Polmas Oleh Bhabinkamtibmas Dalam Pembinaan


Siskamling ?

3. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas dan kewajiban penulis
sebagai Mahasiswa Universitas Terbuka Lampung Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Jurusan
Ilmu Hukum.

4. Manfaat

Sedangkan manfaat dari penulisan ini yaitu menambah wawasan dan pengetahuan
penulis, yang kemudian menjadi bekal dan pedoman dalam pelaksanaan tugas
dilapangan.
BAB II PEMBAHASAN

1. Landasan Hukum Polmas

Pada UUD 1945 perubahan Kedua Bab XII Pasal 30 : (1) Tiap-tiap Warga Negara
berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. (2) Untuk
pertahanan dan keamanan negara dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan
rakyat semesta oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik
Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat, sebagai kekuatan pendukung.
Sehubungan dengan hal tersebut berdasarkan Undang-Undang No. 2 Tahun 2002 tentang
Kepolisian Negara Republik Indonesia, dalam Pertimbangan huruf b ditegaskan “bahwa
pemeliharaan keamanan dalam negeri melalui upaya penyelenggaraan fungsi kepolisian
yang meliputi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum,
perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dilakukan oleh Kepolisian
Negara Republik Indonesia selaku alat negara yang dibantu oleh masyarakat dengan
menjunjung tinggi hak asasi manusia”. Kemudian pada Pasal 3 Undang-Undang No. 2
Tahun 2002, bahwa :

a. Pengembangan fungsi kepolisian adalah Kepolisian Negara Republik Indonesia yang


dibantu oleh :

1. Kepolisian khusus

2. Penyidik pegawai negeri sipil; dan/atau

3. Bentuk-bentuk pengawasan swakarsa.


b. Pengemban fungsi kepolisian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, b, dan c,
melaksankan fungsi kepolisian sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang
menjadi dasar hukumnya masing-masing.

Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Perpolisian Masyarakat dalam Penyelenggaraan


Tugas Polri. Bahwa untuk anev Polmas dilakukan melalui sistem pendataan yang
memungkinkan proses analisis dari satuan terbawah Kepolisian Sektor (Polsek) sampai
Markas Besar (Mabes Polri) (pasal 54).) Dalam Skep/737/X/2005, Polmas menjadi
program penuh dari tingkat Polsek sampai Polres, sedangkan pengawasan kegiatan
dilakukan hingga tingkat Polda. Selain itu juga Polmas juga diatur di dalam Peraturan
Kapolri Nomor 7 tahun 2008 tentang pedoman dasar strategi implementasi pemolisian
masyarakat dalam penyelenggaraan tugas polisi.

3. Latar Belakang Polmas

a. Sebelum konsep Community Policing diluncurkan terutama di negara-negara maju,


penyelenggaraan tugas-tugas kepolisian baik dalam pemeliharaan keamanan dan
ketertiban maupun penegakan hukum, dilakukan secara konvensional. Polisi cenderung
melihat dirinya semata-mata sebagai pemegang otoritas dan institusi kepolisian
dipandang semata-mata sebagai alat negara sehingga pendekatan kekuasaan bahkan
tindakan represif seringkali mewarnai pelaksanaan tugas dan wewenang kepolisian.
Walaupun prinsip-prinsip “melayani dan melindungi” (to serve and to protect)
ditekankan, pendekatan-pendekatan yang birokratis, sentralistik, serba sama/seragam
mewarnai penyajian layanan kepolisian. Gaya perpolisian tersebut mendorong polisi
untuk mendahulukan mandat dari pemerintah pusat dan mengabaikan ‘persetujuan’
masyarakat lokal yang dilayani. Selain itu polisi cenderung menumbuhkan sikap yang
menampilkan dirinya sebagai sosok yang formal, dan ekslusif dari anggota masyarakat
lainnya. Pada akhirnya semua itu berakibat pada memudarnya legitimasi kepolisian di
mata publik pada satu sisi, serta semakin berkurangnya dukungan publik bagi
pelaksanaan tugas kepolisian maupun buruknya citra polisi pada sisi lain.

b. Kondisi seperti diutarakan pada huruf a, juga terjadi di Indonesia, lebih-lebih ketika Polri
dijadikan sebagai bagian integral ABRI dan polisi merupakan prajurit ABRI yang dalam
pelaksanaan tugasnya diwarnai sikap dan tindakan yang kaku bahkan militeristik yang
tidak proporsional. Perpolisian semacam itu juga ditandai antara lain oleh pelaksanaan
tugas kepolisian, utamanya penegakan hukum, yang bersifat otoriter, kaku, keras dan
kurang peka terhadap kebutuhan rasa aman masyarakat. Di sisi lain pelaksanaan tugas
kepolisian sehari-hari, lebih mengedepankan penegakan hukum utamanya untuk
menanggulangi tindak kriminal. Berdasarkan TAP MPR Nomor II/MPR/1993 tentang
Garis Besar Haluan Negara yang berkaitan dengan Sistem Keamanan dan Ketertiban
Masyarakat Swakarsa, Polri dibebani tugas melakukan pembinaan Kamtibmas yang
diperankan oleh Babinkamtibmas sebagai ujung tombak terdepan. Pendekatan demikian
memposisikan masyarakat seakan-akan hanya sebagai obyek dan polisi sebagai subjek
yang “serba lebih” sehingga dianggap figur yang mampu menangani dan menyelesaikan
segenap permasalahan Kamtibmas yang dihadapi masyarakat.

c. Sejalan dengan pergeseran peradaban umat manusia, secara universal terutama di


negara-negara maju, masyarakat cenderung semakin ‘jenuh’ dengan cara-cara lembaga
pemerintah yang birokratis, resmi, formal/kaku, general/seragam dan lain-lain dalam
menyajikan layanan publik. Terdapat kecenderungan bahwa masyarakat lebih
menginginkan pendekatan-pendekatan yang personal dan menekankan pemecahan
masalah dari pada sekedar terpaku pada formalitas hukum yang kaku. Dalam bidang
penegakan hukum terutama yang menyangkut pertikaian antar warga, penyelesaian
dengan mekanisme informal dipandang lebih efektif dari pada proses sistem peradilan
pidana formal yang acapkali kurang memberikan peranan yang berarti bagi korban dalam
pengambilan keputusan pemecahan masalah yang dideritanya.
d. Kondisi sebagaimana diutarakan di atas mendorong diluncurkannya program-program
baru dalam penyelenggaraan tugas kepolisian terutama yang disebut Community
Policing. Lambat laun, Community Policing tidak lagi hanya merupakan suatu program
dan/atau strategi melainkan suatu falsafah yang menggeser paradigma konvensional
menjadi suatu model perpolisian baru dalam masyarakat madani. Model ini pada
hakekatnya menempatkan masyarakat bukan semata-mata sebagai obyek tetapi mitra
kepolisian dan pemecahan masalah (pelanggaran hukum) lebih merupakan kepentingan
dari pada sekedar proses penanganan yang formal/prosedural.

e. Dalam kehidupan bermasyarakat bangsa Indonesia nilai-nilai yang terkandung dalam


konsep Community Policing pada hakekatnya bukan merupakan hal yang asing.
Kebijakan Siskamswakarsa diangkat dari nilai-nilai sosio-kultural masyarakat Indonesia,
yang lebih menjunjung nilai-nilai sosial dari pada individu. Pelaksanaan pengamanan
lingkungan secara swakarsa pernah/masih efektif berjalan. Pada bagian-bagian
wilayah/etnik tertentu nilai-nilai kultural masih efektif (bisa diefektifkan) dalam
pemecahan masalah sosial pada tingkat lokal. Nilai saling memaafkan dijunjung tinggi
dalam masyarakat Indonesia yang religius. Pada zaman dahulu dikenal adanya “Hakim
Perdamaian” desa. Kondisi itu semua merupakan modal awal yang dapat berperan
sebagai faktor pendukung yang efektif dalam pengembangan Community Policing “ala”
Indonesia, jika dikelola secara tepat sesuai ke-kini-an dan sejalan dengan upaya
membangun masyarakat madani khususnya kepolisian “sipil” yang menekankan pada
pendekatan kemanusiaan khususnya perlindungan hak-Hak Asasi Manusia dalam
pelaksanaan tugas kepolisian

f. Sejak tahun 1970-an di Indonesia tugas-tuga kepolisian ditetapkan represif, preventif,


dan pre-emtif. Tugas-tugas preemtif dilakukan melalui kegiatan-kegiatan fungsi
Pembinaan Masyarakat (BINMAS) atau Bimbingan Masyarakat (BIMMAS). Unit
Bimmas ada di berbagai tingkat organisasi Polri sbb : Asisten Bimmas/Direktur
Bimmas/Karo Bimmas pada Mabes Polri ; Asisten Bimmas/Kadit Bimmas/Karo
Binamitra pada tingkat Polda ; Sat Bimmas/Kabag Binamitra pada tingkat Polres ; dan
Kanit Bimmas pada Polsek dibantu oleh para Bintara Pembina Kamtibmas
(BABINKAMTIBMAS) yang berada pada organisasi Polri terakhir unit Bimmas Polsek
telah dihapuskan dengan pertimbangan tertentu.

Tugas Pokok Babinkamtibmas di tingkat desa/Kelurahan sebagaimana diatur dalam Buku


Petunjuk Lapangan No. Pol BUJUKLAP/17/VII/1997. yang ditanda tangani Kapolri
tanggal 18 Juli 1997 adalah :

a. Membimbing masyarakat bagi terciptanya kondisi yang menguntungkan upayapenertiban


dan penegakan hukum, upaya perlindungan dan pelayanan masyarakat di
Desa/Kelurahan.

b. Sesuai dengan rumusan tugas pokoknya maka lingkup tugas Babinkamtibmas meliputi :

1) Membina kesadaran hukum masyarakat Desa/Kelurahan tentang :

· Kedudukan, tugas wewenang, fungsi dan peranan polri.


· Sangsi-sangsi pidana dan proses pemidanaan.
· Hak dan kewajiban warga masyarakat dalam penegakan hukum.
2) Membina kesadaran Kamtibmas Desa/kelurahan tentang :

· Masalah-masalah Kamtibmas.
· Sebab-sebab timbulnya gangguan Kamtibmas.
· Cara-cara penanggulangannya.
· Cara-cara penyelenggaraan siskamling pemukiman.

3) Membina partisipasi masyarakat dalam rangka pembinaan Kamtibmas secara Swakarsa


di Desa/Kelurahan.
4) Sebagai polisi di tengah-tengah masyarakat Babinkamtibmas juga melakukan tugas-tugas
kepolisian umum dalam hal-hal tertentu sesuai dengan sikon setempat yaitu :

· Mengumpulkan bahan keterangan.


· Mengamankan kegiatan-kegiatan masyarakat.
· Menerima laporan pengaduan masyarakat.
· Memberi bantuan pengawalan, pencarian dan pertolongan kepada masyarakat.
· Membina tertib lalu lintas.
· Penanganan tingkat pertama kejahatan, pelanggaran atau kecelakaan di TKP.
·Melaksanakan tugas-tugas dibidang pembangunan atau kegiatan kemasyarakat
berdasarkan permintaan instansi yang berwenang dan masyarakat setempat.
Buku petunjuk tersebut sudah ada sejak Kapolri-Kapolri sebelumnya namun dalam
praktek harus diakui bahwa realisasi di lapangan masih sangat jauh dari petunjuk yang
terdapat dalam buku petunjuk tersebut.Setelah reformasi dimana kedudukan polri
dipisahkan dari TNI/ABRImaka reformasipolri bergulir dengan cepat. Dengan bantuan
berbagai negara donor dan lembaga-lembaga internasional maka Perpolisian Masyarakat
yang merupakan terjemahan dari Community Policing nulai diterapkan di Indonesia.

Harus diakui bahwa dalam proses lahirnya Polmas dilingkungan polri adalah
menyempurnakan konsep, kebijakan, dan praktek pembinaan mayarakat terutama yang
dilakukan oleh para Babinkamtibmas, yang telah berlangsung lama dilingkungan Polri.
Harus diakui bahwa praktek masyarakat sebagai mitra sejajar polri dalam
memecahkan masalah merupakan hal yang baru bagi polri dan termasuk diAmirika.

Setelah melaluio proses uji coba , dan pembentukan model yang dimotori oleh berbagai
donor seperti : IOM, JIKA/Jepang, Asian Fopndatian, Pardnership dan UNHCR pada
tanggal 13 Oktober 2005 dengan keputusan Kapolri No. Pol.: Skrp/737/X/2005 secara
resmi Perpolisian Masyarakat menjadi kebijakan yang harus diterapkan oleh seluruh
jajaran Polri.

2. Penerapan Polmas Oleh Bhabinkamtibmas Dalam Pembinaan Siskamling

a. Perpolisian Masyarakat (Polmas)

Perpolisian masyarakat (Polmas) adalah suatu perpolisian dalam masyarakat


modern yang menempatkan masyarakat bukan sebagai obyek tetapi subyek dan juga
sebagai mitra kepolisian dalam pemecahan masalah Kamtibmas. Kondisi karakteristik
masyarakat di Indonesia merupakan modal awal dan faktor pendukung dalam
pembangunan Polmas (Community Policing). Konsep Community Policing (CP).
Menurut para ahli seperti Trojanowich (1998), Bayley (1988), Meliala (1999), dan
Rahardjo (2001) yang secara garis besar menekankan pada pentingnya kerjasama antara
polisi dengan masyarakat tempat bertugas untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan
masalah-masalah sosialnya sendiri. Dalam membangun kemitraan diperlukan
kepercayaan masyarakat terhadap kinerja polisi baik aspek teknis maupun penegakan
hukum. Guna mendukung efektifitas implementasi Polmas, institusi kepolisisan telah dan
terus melakukan reformasi birokrasi sebagaimana tuntutan dan harapan masyarakat.

Sesuai dengan Peraturan Kapolri Nomor 7 tahun 2008 tentang pedoman dasar
strategi dan implementasi pemolisian masyarakat dalam penyelenggaraan tugas Polisi,
bahwa polmas (pemolisian/perpolisian masyarakat) adalah penyelenggara tugas
kepolisian yang mendasari kepada pemahaman bahwa untuk menciptakan kondisi aman
dan tertib tidak mungkin dilakukan oleh Polri sepihak sebagai subjek dan masyarakat
sebagai objek, melainkan harus dilakukan bersama oleh polisi dan masyarakat dengan
cara memberdayakan masyarakat melalui kemitraan polisi dan warga mayarakat,
sehingga secara bersama-sama mampu mendeteksi gejala yang dapat menimbulkan
permasalahan di masyarakat, mampu mendapatkan solusi untuk mengantisipasi
permasalahannya dan mampu memelihara keamanan serta ketertiban di lingkungannya.
Sedangkan Strategi polmas adalah implementasi pemolisian proaktif yang menekankan
kemitraan (partnership and networking) sejajar antara polisi dan masyarakat dalam upaya
pencegahan penangkalan kejahatan, pemecahan masalah sosial yang berpotensi
menimbulkan gangguan kamtibmas dalam rangka meningkatkan kepatuhan hukum dan
kualitas hidup masyarakat. Tujuan polmas sendiri yaitu terwujudnya kemitraan polisi dan
masyarakat yang didasari kesadaran bersama dalam rangka menanggulangi permasalahan
yang dapat menggunggu keamanan dan ketertiban masyarakat guna menciptakan rasa
aman dan tentram serta meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

b. Pola Penerapan Polmas

Berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 7 tahun 2008 pada BAB IV pasal 15,
bahwa model yaitu sebagai strategi polmas sebagai wujud perkembangan kepolisian
modern dalam negara demokrasi yang plural yang menjunjung tinggi hak asasi manusia
diterapkan melalui model-model polmas yang dikembangkan melalui :

1. Modifikasi pranata sosial dan pola pemolisian masyarakat tradinasional (Model A)

2. Intensifikasi fungsi polri dibidang pembinaan masyarakat (Model B)

3. Penyesuaian model community policing dari negara-negara lain (Model C)

Polri sekarang ini sudah mulai melakukan perubahan dengan menerapkan


berbagai macam program untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat seperti
salah satunya partnership building. Dimana program ini sangat baik dan sesuai dengan
dengan model-model polmas yang sudah diterapkan didalam Peraturan Kapolri Nomor 7
tahun 2008 tentang pedoman dasar strategi dan implementasi pemolisian masyarakat
dalam penyelenggaraan tugas Polri. Model polmas ini adalah salah satu grand Strategy
Polri untuk membangun kepercayaan masayarakat dan menjalin kemitraan antara polisi
dan masyarakat. Pada pasal 5 Peraturan Kapolri Nomor 7 tahun 2008, bahwa dalam
penerapan polmas, di setiap suatu wilayah berbeda-beda antara wilayah yang satu dengan
wilayah yang lain, disesuaikan dengan karakteristik yang berwenang, masyarakat dan
sasaran polmas yang ditentukan oleh pimpinan masing-masing wilayah yang berwenang.

System keamanan lingkungan atau biasa disebut siskamling adalah salah satu
model polmas yang berkembang secara tradinasional dari sejak dulu sampai dengan
sekarang ini dan termasuk dalam polmas Model A yang dikembangkan Polri sekarang
ini. Berikut Polmas model A sesuai dengan Peraturan Kapolri Nomor 7 tahun 2008, antara
lain meliputi :

Model system keamanan lingkungan (Model A1) seperti :

- Ronda kampung (Model A11) adalah kegiatan ronda atau patrol yang dilaksanakan
oleh warga masyarakat setempat dalam suatu wilayah perkampungan atau pedesaan.

- Ronda lingkungan kawasan pemukiman (Model A12) pada prinsipnya sama dengan
ronda kampung, namun pelaksanaannya di lingkungan atau kawasan perumahan modern.

Model pemberdayaan pranata sosial/adat (ModelA21) seperti :

- Jaga Baya, jaga tirta (Model A21)

- Pecalang (Model A22)

- Pela gandong (Model A23)

Dalam perkembangan situasi dinamis dalam masyarakat yang terus menerus


berkembang sesuai dengan perkembangan zaman, sehingga membuat polmas terebut
harus terus di anev dan dikembangkan sesuai dengan pasal 59, pasal 60 dan pasal 61
Peraturan Kapolri Nomor 7 tahun 2008, antara lain seperti dilakukannya :

1. Pelaksanaan pemantauan (monitoring) polmas dilakukan melalaui :

a. Pembuatan laporan periodik oleh petugas polmas kepada supervisor

b. Laporan dan hasil evaluasi pra supervisor kepada Pembina polmas


c. Analisa dan rekapitulasi laporan hirarkhis Pembina polmas

d. Survey pendapat warga masyarakat setempat tentang penerapam polmas

e. Survey kesan masyarakat terhadap kinerja Polri dan atau petugas polmas

2. Pelaksanaan pengendalian melalui system laporan :

a. Penentuan periode laporan (harian, mingguan, dan bulanan)

b. Penyeragaman format laporan (meliputi materi data, penggolongan data dan model
matrik dan rekapitulasi data) agar memudahkan analisis

c. Penentuan mekanisme dan jejang laporan dari pelaksanaan terdepan, supervisor,


manajemen/pembina kewilayahan sampai manajemen/Pembina pusat.

Bhabinkamtibmas adalah salah satu petugas Polri yang bertugas melakukan


pembinaan terhadap warga masyarakat di suatu pedesaan atau kelurahan yang di dasari
dengan surat perintah dari pimpinan. Dalam pembinaan siskamling yang dilakukan
petugas Bhabinkamtibmas agar sering mengimbau dan atau sosialisasi ke sejumlah warga
atau tokoh masyarakat, tokoh agama, ketua RT dan RW, akan pentingnya keamanan
lingkungan. Diharapkan himbauan dari petugas Bhabinkamtibmas ada keselarasan
tanggung jawab bersama terhadap keamanan warga dan lingkungannya. Tugas
pengamanan dan keamanan bukan semata-mata harus dilakukan oleh personel kepolisian,
tetapi peran warga masyarakat juga penting. Pembinaan siskamling yang dilakukan oleh
petugas Bhabinkamtibmas bertujuan untuk menciptakan kesadaran masyarakat agar di
desanya atau di kelurahannya dapat tercipta rasa aman, tentram dan nyaman, karena hal
tersebut wajib kita jaga bersama.

c. Pembinaan Sistem Keamana Lingkungan (Siskamling)

Sistem keamanan lingkungan (Siskamling) secara umum adalah "Suatu kegiatan


atau upaya untuk mencegah gangguan kamtibmas, yang dikembangkan oleh Polri dengan
membangkitkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dan peduli serta
meningkatkan kepekaan dan daya tangkal masyarakat terhadap masalah keamanan dan
ketertiban di lingkungannya masing-masing". Sedangkan fungsi dari siskamling sendiri
selain menciptakan situasi yang aman terhadap lingkungannya juga sebagai wahana
silaturahim antar anggota masyarakat yang manfaatnya juga tidak bisa dipandang sebelah
mata. Selain sebagai upaya untuk dapat menangkal dan menanggulangi setiap gangguan
kamtibmas, juga dapat memberikan pertolongan dan pemeliharaan keselamatan
masyarakat dari segala macam bentuk bahaya. Polri sebagai institusi yang berkaitan
langsung dengan keamananan juga tidak tinggal diam, tetapi kenyataannya untuk
menghidupkan kembali siskamling begitu berat. Kendala utama yang dihadapi oleh
petugas Polri (Bhabinkamtibmas) adalah hilangnya kesadaran dan kepedulian masyarakat
terhadap keamanan dan ketertiban lingkungannya. Kalaupun sudah diupayakan tetapi
hanya bersifat sementara, tidak berlanjut dan tidak berkesinambungan seperti apa yang
diarahkan dan diharapkan oleh Polri sendiri. Keamanan dan ketertiban bukan hanya Polri
saja, tetapi peran aktif masyarakat untuk menjadi 'polisi' terhadap dirinya, keluarganya
dan lingkungannya sendiri adalah suatu keharusan. Menjadi 'polisi' disini bukan berarti
bertindak seperti polisi, tetapi memberikan rasa aman dengan tindakan pencegahan
supaya tindak kejahatan tidak terjadi di lingkungannya.
http://asawawuh.blogspot.com/2008/11/ siskamling-semakin-pudar.html.

Dalam upaya melakukan pembinaan siskamling terhadap masyarakat, Polri dapat


memberikan kegiatan-kegiatan seperti penyuluhan, penerangan, komunikasi ataupun
berbagai macam kegiatan lainnya. Dalam pembinaan ini Polri khususnya
Bhabinkamtibmas harus bersikap proaktif, tidak menunggu dari masyarakat, karena
kehidupan masyarakat sekarang ini sudah mengalami pergeseran, sudah tidak saling
peduli antara sesam “tidak mau tau apa yang terjadi disekitar”. Ini merupakan tugas yang
berat bagi petugas Bhabinkamtibmas baik dalam pembinaan siskamling ataupun untuk
membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap polisi serta untuk menjalin
kemitraan.
3. Manfaat Penerapan Polmas Oleh Bhabinkamtibmas Dalam Pembinaan
Siskamling

1. Mengatasi kekurangan personel Polri khususnya Bhabinkamtibmas dengan cara


melibatkan warga masyarakat sebagai mitra yang setara

2. Dapat mengoptimalkan sumber daya antara Bhabinkamtibmas dan masyarakat dengan


mengandakan kekuatan dalam upaya pemeliharaan kamtibmas.

3. Partisipasi dan bantuan dari masyarakat dalam pemecahan masalah dan penanganan
suatu masalah yang cerdas, kreatif dan cepat yang tidak mungkin di atas oleh
Bhabinkamtibmas.

4. Bhabinkamtibmas dapat mendeteksi secara dini dengan cepat dan akurat suatu
permasalahan serta dalam keadaan mendesak masyarakat dapat mengambil tindakan
sebelum polisi atau Bhabinkamtibmas datang.

5. Membangun kembali kepercayaan masyarakat terhadap polisi dengan menposisikan


masyarakat setara dengan polisi.
BAB III PENUTUP

1. Kesimpulan

Perpolisian masyarakat (Polmas) adalah strategi Polri pada masyarakat modern


yang menempatkan masyarakat bukan sebagai obyek tetapi subyek dan juga sebagai mitra
kepolisian dalam pemecahan masalah Kamtibmas. Salah satunya dengan menerapkan
pola tradinasional seperti system keamanan lingkungan atau biasa disebut siskamling
sesuai dengan Peraturan Kapolri Nomor 7 tahun 2008, contonya :

a. Ronda kampung

b. Ronda lingkungan kawasan pemukiman

Pembinaan siskamling yang diterapkan petugas Bhabinkamtibmas terhadap warga


masyarakat, yaitu dengan memberikan kegiatan-kegiatan seperti penyuluhan,
penerangan, komunikasi ataupun berbagai macam kegiatan lainnya yang positif, yang
dapat membangun kepercayaan.

2. Saran

a. Dalam melaksanakan kegiatan hendaknya petugas Bhabinkamtibmas bersikap proaktif


“jemput bola” bukan masyarakat yang menunggu.

b. Petugas Bhabinkamtibmas dalam menerapkan polmas untuk melakukan pembinaan


siskamling hendaknya memiliki pengalaman dan dibekali pengetahuan yang cukup
tentang polmas dan ilmu kepolisian, agar penerepan ini lebih mengenai sasaran.
DAFTAR PUSTAKA

Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Undang-undang Republik Indonesia No.2 Tahun 2002.

Kepolisisan Negara Republik Indonesia, Skep/737/X/2005

Peraturan Kapolri Nomor 7 tahun 2008 tentang pedoman dasar strategi implementasi
pemolisian masyarakat dalam penyelenggaraan tugas polisi.

Kepolisisan Negara Republik Indonesia, Perpolisian Masyarakat, Jakarta, Juni 2006.

http://kadarmanta.blogspot.com/2010/09/polmas-sebagai-strategi-partnership.html

http://asawawuh.blogspot.com/2008/11/ siskamling-semakin-pudar.html.

http://kadarmanta.blogspot.com/2010/09/polmas-sebagai-strategi-partnership.html

http://asawawuh.blogspot.com/2008/11/siskamling-semakin-pudar.html

http://irwanmarine87.blogspot.co.id/2012/12/polmas.html
DOKUMENTASI POLMAS
\