Anda di halaman 1dari 16

INTERAKSI SISTEM KEPARIWISATAAN

Dosen Pengajar : Dr. Ida Bagus Ketut Surya, SE, MM

Oleh:
KELOMPOK VI

ADHITYA WIRA DHARMA 1780.611.004


PUTU ARYA MAHATMAVIDYA 1780.611.010
MUHAMMAD DAWAM 1780.611.032
NI KETUT DEWI SUMARYATHI 1780.611.035
RATNA AYU WULANDARI 1780.611.037
NILA SETYA PERTIWI 1780.611.038

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2018
DAFTAR ISI
Karakteristik Daerah Tujuan Wisata.................................................................... 1

Interaksi Sistem Kepariwisataan : Berbagai Sudut Pandang............................. 3

Sisi Penawaran Destinasi......................................................................................... 8

Aspek-aspek Penawaran dalam Bisnis Pariwisata............................................... 10

Motivasi Berwisata................................................................................................... 12

i
1. KARAKTERISTIK DAERAH TUJUAN WISATA
Tujuan wisata merupakan suatu keseluruhan atraksi, yaitu semua yang menjadi daya
tarik wisatawan datang ke daerah tujuan wisata. Atraksi disini meliputi atraksi alam, atraksi
budaya, atraksi sosial, dan atraksi buatan. Menurut Warpani (2007). Daerah Tujuan Wisata
yang ideal harus memiliki daya tarik wisata yang menarik, mempunyai ketersediaan
infrastruktur yang memadai, dan menawarkan pengalaman yang berkesan sehingga
merangsang wisatawan untuk melakukan kunjungan ulang.
Karakteristik objek wisata adalah karaktersitik spesifik dari segala sesuatu yang
memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam,
budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan
(UU no 9 tahun 1990).
Daerah tujuan wisata terdiri dari bermacam-macam unsur yang merupakan satu paket
yang satu sama lain tidak terpisah. Mereka berpendapat ada tiga unsur yang membentuk,
yaitu:
1) Objek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang unik pada daerah-daerah
tertentu yang menjadi daya tarik orang-orang untuk datang berkunjung ke daerah
tersebut.
2) Fasilitas adalah segala sesuatu yang diperlukan pada tempat tujuan wisata mencakup
sarana pokok, sarana pelengkap, dan sarana penunjang kepariwisataan.
3) Aksesibilitas adalah keterjangkauan yang menghubungkan negara asal wisatawan
(tourist generating countries) dengan daerah tujuan wisata (tourist destination area)
serta keterjangkauan di tempat tujuan ke objek-objek pariwisata (local
transportation).
Produk dari usaha pariwisata adalah segala barang dan layanan jasa yang dibutuhkan oleh
wisatawan sejak berangkat meninggalkan tempat kediamannnya, sampai ia kembali ke tempat
tinggalnya. Sebagian besar produk usaha pariwisata adalah jasa atau layanan, sehingga
memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk yang dihasilkan oleh industri yang
menghasilkan barang. Secara garis besar karakteristik produk usaha pariwisata adalah:
1) Produk wisata dalam arti luas yang bersifat intangible.
2) Tidak dapat dipindahkan, oleh karena itu penjualannya tidak mungkin produk itu
sendiri dibawa dan ditunjukkan kepada konsumen, sebalinya pengunjung harus datang
langsung ke tempat dimana produk wisata dihasilkan. Dalam industri barang biasa,
hasil atau produknya dapat dipindahkan kemana barang itu dibutuhkan atau diinginkan
konsumen.

i
3) Proses produksi dan konsumsi terjadi pada saat yang bersamaan. Oleh karena itu
peranan perantara tidak diperlukan. Satu-satunya perantara yang merupakan saluran
(channel) dalam penjualan jasa industri pariwisata
4) Tidak dapat disimpan atau ditimbun untuk diakumulasikan seperti pada usaha yang
menghasilkan barang dimana penimbunan merupakan kebiasaan untuk meningkatkan
permintaan.
5) Hasil atau produk industri pariwisata bersifat sangat subjektif, tidak mempunyai
standar baku yang objektif seperti halnya dengan industri barang lainnya yang
mempunyai ukuran panjang, lebar, tinggi dan ukuran lainnya. Dalam industri
pariwisata hanya menggunakan patokan bagus, jelek atau puas tidaknya wisatawan
yang diberikan pelayanan.
6) Permintaan terhadap produk sangat tidak tetap dan sangat dipengaruhi oleh faktor-
faktor non ekonomis. Terjadinya kekacauan, peperangan, bencana alam akan
menyebabkan permintaan terhadap produk menhgalami penurunan yang signifikan.
Akan tetapi, bila masa liburan dengan musim yang normal dan penuh dengan daya
tarik maka akan meningkatkan permintaan.
7) Calon konsumen tidak dapat mencoba atau mencicipi produk yang akan dibeli. Calon
wisatawan hanya dapat melihat dari internet, brosur, majalah, slide, TV atau film yang
dibuat khusus untuk itu.
8) Kualitas produk sangat bergantung pada tenaga manusia yang tidak dapat digantikan
dengan mesin.
Dalam menunjang daerah tujuan wisata agar dapat dikunjungi oleh wisatawan dengan nyaman
dan aman, sebaiknya infrastruktur pariwisata juga harus diperhatikan. Berikut merupakan
infrastruktur pariwisata ideal yang dapat menunjang wisatawan ingin berkunjung ke suatu
daerah wisata.
1) Fasilitas penginapan
2) Fasilitas amenitas
3) Tempat makan
4) Tempat parker
5) Kantor pusat informasi dan pelayanan, pos keamanan
6) Pusat oleh oleh
7) Penyediaan air bersih
8) Jaringan listrik
9) Tempat sampah
10) Kondisi jalan
11) Rambu petunjuk jalan dan arah
12) Moda transportasi
Dalam melakukan aktivitas wisatanya, terdapat 4 tujuan yang hendak dicapai/didapatkan oleh
wisatawan
1) Something to see, adalah di daerah tujuan wisata terdapat daya tarik khusus disamping
atraksi wisata yang menjadi interestnya.

i
2) Something to do, adalah bahwa selain banyak yang dapat disaksikan, harus terdapat
fasilitas rekreasi yang membuat wisatawan betah tinggal di objek itu.
3) Something to buy, adalah bahwa di tempat wisata harus tersedia fasilitas untuk
berbelanja souvenir atau hasil kerajinan untuk oleh-oleh.
4) Something to know, adalah bahwa objek wisata selain memberikan ketiga hal diatas,
juga dapat memberi nilai edukasi bagi wisatawan.

2. INTERAKSI SISTEM KEPARIWISATAAN: BERBAGAI SUDUT PANDANG


Pemikiran tentang kepariwisataan sebagai sebuah sistem mulai berkembang pada
tahun 1964, ketika Wolfe mengembangkan outdoor recreation system dan mengemukakan
bahwa pariwisata lebih dari sekedar industri tetapi sebuah sistem yang terdiri dari komponen-
komponen utama yang saling terkait dalam hubungan yang erat dan saling mempengaruhi
(Gunn, 1994).
1) Sistem Kepariwisataan sebagai Dasar Teori
Model sistem kepariwisataan sebagai dasar teori antara lain dibahas oleh Gunn (1972)
dan Leiper (1981). Model sistem kepariwisataan Gunn lebih sarat dengan aspek-aspek
ekonomi, yang mengemukakan keterkaitan antara sisi sediaan (supply) dengan permintaan
(demand) serta faktor-faktor eksternal yang mempengaruhinya. Gunn berpendapat bahwa
untuk memuaskan permintaan pasar, sebuah negara, wilayah, atau masyarakat harus
menyediakan beragam pembangunan dan pelayanan (sisi sediaan). Kesesuaian antara sisi
sediaan dengan sisi permintaan adalah kunci keberhasilan dalam pengembangan
kepariwisataan yang benar (Gunn 2002).
Gunn kemudian menjelaskan bahwa keberhasilan sistem kepariwisataan dipengaruhi
juga oleh sembilan faktor eksternal, yaitu sumber daya alam, sumber daya budaya,
organisasi/kepemimpinan, keuangan, tenaga kerja, kewirausahaan, masyarakat, kompetisi,
dan kebijakan pemerintah (Gunn 2002). Model sistem kepariwisataan Gunn dapat dilihat pada
gambar di bawah ini.

i
Sumber:
dimodifikasi dari Gunn (2002)
Gambar 1. Sistem kepariwisataan Gunn (1972)-dimensi ekonomi

Berbeda dengan Gunn, Leiper (1981 dalam Getz 1986) mengidentifikasi lima
komponen dalam sistem kepariwisataan, yaitu wisatawan, daerah tempat tinggal wisatawan,
jalur transit, destinasi pariwisata, dan industri pariwisata. Leiper juga mengemukakan bahwa
pariwisata terjadi jika satu saja dari komponen-komponen tersebut ada dalam suatu proses
yang saling terkait (Leiper dalam Pratiwi 2010). Sistem kepariwisataan Leiper dapat dilihat
pada gambar berikut ini.

i
Sumber: Leiper dalam Pratiwi 2010
Gambar 2. Sistem kepariwisataan Leiper (1981)-dimensi spasial

2) Sistem Kepariwisataan dalam Proses Perencanaan/Pengelolaan Pariwisata


Model sistem kepariwisataan yang mengaitkannya dengan konteks proses
perencanaan/pengelolaan pariwisata dikemukakan antara lain oleh Mill & Morrison (1985),
yang kemudian dikembangkan pada tahun 1992, serta Cornellisen (2005). Mill & Morrison
mengungkapkan empat komponen pembentuk sistem kepariwisataan, yaitu market (pasar),
marketing (pemasaran), destination (destinasi/daerah tujuan wisata), dan travel (perjalanan).
a) Market (pasar): mencakup faktor-faktor yang mempengaruhi pasar dengan penekanan
pada perilaku pasar, faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi
perjalanan wisata, dan proses pengambilan keputusan berwisata.
b) Marketing (pemasaran): menfokuskan pada strategi bagaimana pengelola pariwisata
merencanakan, mempromosikan, dan mendistribusikan barang dan jasa kepada
wisatawan.
c) Travel (perjalanan): fokus pada pergerakan wisatawan, moda transportasi, dan segmen
pasar.
d) Destination (destinasi/daerah tujuan wisata): mencakup proses dan prosedur yang
dilakukan oleh destinasi pariwisata dalam pembangunan dan mempertahankan
keberlanjutan kepariwisataan.

i
Sumber: Scarpino 2009, berdasarkan pada Mill&Morrison (1992)
Gambar 3. Sistem kepariwisataan Mill&Morrison (1985)-konteks perencanaan/ pengelolaan
kepariwisataan

Model Mill & Morrison menjelaskan bahwa pemasaran menjual destinasi kepada
pasar/wisatawan, sementara travel mengantarkan pasar ke destinasi pariwisata. Seluruh
komponen tersebut harus dipahami, direncanakan, dan dikelola dengan baik sehingga dapat
membangun sistem kepariwisataan yang positif dan memberikan manfaat yang optimal bagi
destinasi dan masyarakatnya.
Model sistem kepariwisataan lain yang terkait dengan proses perencanaan/pengelolaan
dikembangkan juga oleh Cornelissen pada tahun 2005 yang merupakan pengembangan dari
pemikiran Britton (1991) tentang sistem produk pariwisata. Cornelissen menamakan
modelnya sebagai The Global Tourism System (Cornelissen 2005).
Cornelissen mengemukakan bahwa pariwisata global memerlukan pasar yang
berbeda/spesifik didasarkan pada pertukaran antara produsen dan konsumen pariwisata. Pada
sisi permintaan (demand), hal tersebut terdiri dari kelompok-kelompok sosial dengan
karakteristik sosial ekonomi dan sosial budaya, minat, kebutuhan, dan keinginan tertentu.
Pada sisi sediaan (supply) terdiri dari produsen-produsen yang berinteraksi, inovasi, dan
bersaing. Keterkaitan antara produsen dimonitor dan diatur oleh lembaga-lembaga yang
mengatur perkembangan/ berjalannya pariwisata (Cornelissen 2005).

i
Sumber: Cornelissen (2005)
Gambar 4. The Global Tourism System - konteks perencanaan/pengelolaan kepariwisataan
Model sistem kepariwisataan yang dikemukakan oleh Cornelissen ini pada dasarnya
melihat kepariwisataan dari dua sisi yang sama dengan yang dikemukakan juga oleh Gunn
(1972), yaitu sediaan (supply) dan permintaan (demand), tetapi dengan dengan tambahan
komponen lembaga-lembaga pengatur sebagai komponen kontrol.
Keempat sistem kepariwisataan tersebut pada prinsipnya mencakup dua komponen
utama, yaitu permintaan (pasar) dan sediaan (supply). Komponen sediaan terdiri dari daya
tarik wisata, akomodasi, transportasi (produsen dan produknya) yang diwadahi di destinasi
pariwisata.
Komponen permintaan terdiri dari keinginan, kebutuhan, dan persepsi wisatawan
yang dipengaruhi oleh faktor-faktor geografis, psikografis, ekonomi, dan sosial. Seperti
sistem kepariwisataan yang dikemukakan oleh Gunn, faktor-faktor eksternal dapat
mempengaruhi kinerja sistem kepariwisataan.
Mengacu pada keempat model sistem kepariwisataan tersebut, Adriani (2015)
mengembangkan model sistem kepariwisataan yang menggabungkan komponen-komponen
utama dari keempat sistem. Model sistem kepariwisataan tersebut dapat dilihat pada gambar
berikut ini.

i
Gambar 5. Sistem kepariwisataan menurut penulis

Model di atas menjelaskan bahwa sistem kepariwisataan terdiri dari tiga komponen
utama, yaitu permintaan, sediaan, dan perantara. Komponen permintaan dan sediaan sudah
dijelaskan dengan rinci sebelumnya. Komponen perantara terdiri dari elemen-elemen yang
menghubungkan antara permintaan dengan sediaan, yang mengantarkan pasar pariwisata
untuk memenuhi keinginan/preferensi dan kebutuhannya terhadap sediaan pariwisata di
destinasi pariwisata yang ditujunya. Seperti juga yang dijelaskan oleh Gunn (2002), kinerja
sistem kepariwisataan dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal, antara lain kebijakan
pemerintah, kondisi keuangan/ekonomi, kondisi alam dan budaya, masyarakat,
kewirausahaan, dan kompetisi.

3. SISI PENAWARAN DESTINASI


Destinasi pariwisata terletak di jantung dari sistem perjalanan dan pariwisata,
memperlihatkan produk yang secara kolektif memberikan pengalaman pariwisata untuk
wisatawan. Berbagai komponen yang membentuk produk destinasi, kompleksitas hubungan
yang ada di antara mereka dan penguatan kompleksitas ini karena kecenderungan untuk
sejumlah besar pemangku kepentingan yang terlibat sedemikian rupa sehingga destinasi
secara luas diakui menjadi salah satu produk yang paling sulit untuk mengelola dan
memasarkannya. Pada dekade mendatang, tantangan yang dihadapi pemasaran destinasi
mungkin akan lebih besar dengan berbagai macam masalah akan berdampak pada masa depan
pemasaran destinasi.
Dalam ini masalah budaya relevan dengan permintaan dan sisi penawaran perspektif
pemasaran destinasi. Misalnya, seperti perubahan jaman yang dirasakan, masalah budaya
i
antara sektor publik dan swasta dalam pariwisata menjadi penghalang kemajuan di banyak
negara. Meskipun perubahan mulai ada, walaupun lambat, karakteristik tertentu dari destinasi
dan ketergantungan mendasar pada 'public goods' sebagai bagian dari daya tarik yang lebih
luas, dua budaya ini harus serasi satu sama lain di masa mendatang. Di sisi permintaan salah
satu sarana yang mana, destinasi dan terutama yang telah memperoleh status yang 'komoditas'
dalam beberapa tahun terakhir, dapat membedakan diri di masa depan adalah melalui
pengembangan strategi pariwisata niche; sering didorong oleh pengembangan produk budaya,
terutama tema warisan badaya - untuk pengunjung yang terpelajar tentunya. Pekerjaan lebih
lanjut jelas dibutuhkan dalam menentukan nilai sebenarnya dari strategi tersebut untuk pasar
domestik dan internasional
Penawaran Pariwisata meliputi; sejumlah barang maupun jasa yang ditawarkan kepada
wisatawan dengan harga tertentu. semua daerah tujuan yang ditawarkan kepada wisatawan,
baik wisatawan potensial maupun riil. Berupa daya tarik alam, hasil ciptaan manusia,barang
dan jasa yang dapat mendorong orang-orang untuk berkunjung ke suatu destinasi tempat
wisata.
Menurut Prof Salah Wahap (1976:77) dalam Oka A Yoeti (1982:15) penawaran dalam
industry pariwisata mempunyai karakteristik atau ciri khas utama yaitu:
a) Bassicalyma Service Supply
Produk atau barang yang di tawarkan oleh obyek wisata berbeda degan produk atau
barang yang di tawarkana dari jasa lain, produk yang di tawarkan berupa atraksi yang
ada di tempat obyek wisata tersebut sehingga konsumen (wisatawan) untuk
mendapatkannya harus datang langsung ke tempat tersebut. Karena produk ini sifatnya
tidak di simpan, di bawa kemana-mana atau tidak di pindahkan.
b) It is Rigid
Produk atau barang yang di tawarkan itu sifatnya kaku (rigid), sehingga dalam usaha
pengadaannya untuk keperluan wisata tidak bisa di ubah untuk tujuan maupun sasaran
penggunaannya di luar dunia pariwisata.
c) Tourism is not a Basic Need of Man
Dalam dunia pariwisata juga ada hukum persaingan untuk memenuhi kebutuhan
hidupnya, kebutuhan pariwisata bersaing dengan kebutuhan pokok lainnya, karena
selama ini kebutuhan pariwisata belum menjadi kebutuhan pokok manusia, sehingga
penawaran produk wisata akan bersaing dgn barang barang kebutuhan manusia yang
lebih penting.

Unsur-Unsur Penawaran Pariwisata


1) Benda-benda alam: iklim, pemandangan alam, hutan, flora dan fauna, dan pusat-pusat
kesehatan yang dapat menyembuhkan jenis penyakit tertentu.

i
2) Hasil ciptaan manusia (man-made supply): bendabenda bersejarah,kebudayaan dan
keagamaan, monumen-monumen bersejarah, museum, kesenian rakyat, acara-acara
tradisional serta rumah-rumah ibadah.
Usaha Pariwisata
1) Usaha Jasa Pariwisata: penyediaan jasa perencanaan, jasa pelayanan, dan jasa
penyelenggaraan pariwisata.
2) Pengusahaan Objek Destinasi Tempat Wisata: kegiatan membangun dan mengelola
objek dan daya tarik wisata besertaprasarana dan sarana yang diperlukanatau kegiatan
mengelol objek dan daya tarik wisata yang telah ada.
3) Usaha Sarana Pariwisata: meliputi kegiatan pembangunan, pengelolaan dan
penyediaan fasilitas, serta pelayanan yang diperlukandalam penyelenggaraan
pariwisata.
Prasarana Kepariwisataan
1) Prasarana Umum (General Infrastructure): prasarana yang menyangkut kebutuhan
umum bagi kelancaran perekonomian, seperti : air bersih, listrik, jalan raya,pelabuhan
udara, telekomunikasi, dan sebagainya.
2) Kebutuhan Masyarakat Banyak (Basic Need Of Civilized Life): prasarana yang
menyangkut kebutuhan masyarakat banyak, seperti : rumah sakit,apotik, bank, pompa
bensin,dan sebagainya.
Sarana Kepariwisataan
1) Sarana Pokok Kepariwisataan (Main Tourism Superstructure): perusahaan-perusahaan
yang hidupnya sangat tergantung pada lalu lintas wisatawan.
2) Sarana Pelengkap Kepariwisataan (Supplementing Tourism Superstructure): fasilitas-
fasilitas yang melengkapi sarana pokok untuk membuat wisatawan tinggal lebih lama.
3) Sarana Penunjang Kepariwisataan (Supporting Tourism Superstructure): fasilitas yang
diperlukan wisatawan, tidak hanya melengkapi sarana pokok dan sarana pelengkap,
tetapi fungsinya agar wisatawan lebihbanyak membelanjakan uangnya.

4. ASPEK-ASPEK PENAWARAN DALAM BISNIS PARIWISATA


Pengertian penawaran dalam pariwisata meliputi semua macam produk dan
pelayanan/jasa yang dihasilkan oleh kelompok perusahaan industri pariwisata sebagai
pemasok, yang ditawarkan baik kepada wisatawan yang datang secara langsung atau yang
membeli melalui Agen Perjalanan (AP) atau Biro Perjalanan Wisata (BPW) sebagai perantara.
Menurut James J. Spillane (1987), aspek-aspek penawaran pariwisata terdiri dari:
1) Proses Produksi Industri Pariwisata
Kemajuan pengembangan pariwisata sebagai industri ditunjang oleh bermacam-
macam usaha yang perlu dikelola secara terpadu, antara lain:
a) Promosi untuk memperkenalkan obyek wisata
b) Transportasi yang lancar
c) Kemudahan keimigrasian atau birokrasi
d) Akomodasi yang menjamin penginapan yang nyaman
i
e) Pemandu wisata yang cakap
f) Penawaran barang dan jasa dengan mutu terjamin dan tarif harga yang wajar
g) Pengisian waktu dengan atraksi-atraksi yang menarik
h) Kondisi kebersihan dan kesehatan lingkungan hidup
2) Pentingnya Tenaga Kerja dan Penyediaan Lapangan Kerja
Perkembangan pariwisata berpengaruh positif pada perluasan kesempatan kerja.
Berkembangnya suatu daerah pariwisata tidak hanya membuka lapangan kerja bagi
penduduk setempat, tetapi juga menarik pendatang-pendatang baru dari luar daerah,
justru karena tersedianya lapangan kerja jadi.
3) Penyediaan Infrastruktur/Prasarana
Dengan adanya motivasi yang mendorong orang untuk mengadakan perjalanan akan
menimbulkan permintaan-permintaan yang sama mengenai prasarana, sarana
perjalanan dan perhubungan, sarana akomodasi dan jasa-jasa, serta persediaan lainnya.
Industri pariwisata juga memerlukan prasarana ekonomi, seperti jalan raya, jembatan,
terminal, pelabuhan, lapangan udara. Begitu juga dengan prasarana yang bersifat
public utilities, seperti fasilitas olahraga dan rekreasi, pos dan telekomunikasi, money
changer, perusahaan asuransi, periklanan, percetakan, dan banyak sektor
perekonomian lainnya. Jelas bahwa hasil-hasil pembangunan fisik bisa ikut
mendukung pengembangan pariwisata.
4) Penawaran jasa keuangan
Tata cara hidup yang tradisional dari suatu masyarakat juga merupakan salah satu
sumber yang sangat penting untuk ditawarkan kepada para wisatawan. Bagaimana
kebiasaan hidupnya, adat istiadatnya, semuanya merupakan daya tarik bagi wisatawan
untuk datang ke suatu daerah. Hal ini dapat dijadikan sebagai event yang dapat dijual
oleh pemerintah daerah setempat.
Menurut Medlik (1980) dalam Ariyanto (2005), ada empat aspek (4A) yang harus
diperhatikan dalam penawaran pariwisata. Aspek-aspek tersebut adalah sebagai berikut:

1) Attraction (daya tarik); daerah tujuan wisata (selanjutnya disebut DTW) untuk
menarik wisatawan pasti memiliki daya tarik, baik daya tarik berupa alam maupun
masyarakat dan budayanya.
2) Accesable (transportasi); accesable dimaksudkan agar wisatawan domestik dan
mancanegara dapat dengan mudah dalam pencapaian tujuan ke tempat wisata
3) Amenities (fasilitas); amenities memang menjadi salah satu syarat daerah tujuan wisata
agar wisatawan dapat dengan kerasan tinggal lebih lama di DTW.

i
4) Ancillary (kelembagaan); adanya lembaga pariwisata wisatawan akan semakin sering
mengunjungi dan mencari DTW apabila di daerah tersebut wisatawan dapat
merasakan keamanan, (protection of tourism) dan terlindungi.
Selanjutnya Smith (1988) dalam Pitana (2005) mengklasifikasikan berbagai barang dan jasa
yang harus disediakan oleh daerah tujuan wisata menjadi enam kelompok besar, yaitu:
1) Transportation,
2) Travel services,
3) Accommodation,
4) Food services,
5) Activities and attractions (recreation culture/entertainment)
6) Retail goods.
5. MOTIVASI BERWISATA

Menurut (Sharpley, 1994 dan Wahab, 1975; Pitana, 2005) bahwa: Motivasi merupakan
hal yang sangat mendasar dalam studi tentang wisatawan dan pariwisata, karena motivasi
merupakan “Trigger” dari proses perjalanan wisata, walau motivasi ini seringkali tidak
disadari secara penuh oleh wisatawan itu sendiri.
Pada dasarnya seseorang melakukan perjalanan dimotivasi oleh beberapa hal,
motivasi-motivasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok besar sebagai
berikut:
1) Physical or physiological motivation yaitu motivasi yang bersifat fisik atau fisiologis,
anata lain untuk relaksasi, kesehatan, kenyamanan, berpartisipasi dalam kegiatan
olahraga, bersantai dan sebagainya.
2) Cultural motivation yaitu keinginan untuk mengetahui budaya, adat, tradisi dan
kesenian daerah lain. Termasuk juga ketertarikan akan berbagai objek tinggalan
budaya.

3) Social or interpersonal motivation yaitu motivasi yang bersifat sosial, seperti


mengunjungi teman dan keluarga, menemui mitra kerja, melakukan hal-hal yang
dianggap mendatangkan gengsi, melakukan ziarah, pelarian dari situasi yang
membosankan dan seterusnya.

4) Fantasy motivation yaitu adanya motivasi bahwa di daerah lain seseorang akan bisa
lepas dari rutinitas keseharian yang menjenuhkan dan dapat memberikan kepuasan
psikologis

i
DAFTAR PUSTAKA

Adriani, Yani.2015. Sistem Kepariwisataan : Berbagai Sudut Pandang. Diakses 20 Maret


2018 dari http://tentangpariwisata.blogspot.co.id/2015/05/sistem-kepariwisataan-
berbagai-sudut.html.
Bahar, Herman.2004.Kepariwisataan :Sebuah Tinjauan Dimensi Keilmuan. Diakses 20 Maret
2018 dari http://turisindon.tripod.com/prod03.htm.
Nurhidayati, Sri Endah.2011.Sistem Pariwisata. Diakses 20 Maret 2018 dari
http://pariwisata-endah.blogspot.co.id/2011/10/sistem-pariwisata.html.
https://caretourism.wordpress.com/2014/09/26/implikasi-penetapan-sasaran-20-juta-wisman-
2019/#more-865 | Rabu, 21 Maret 2018
i
https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/pwk/article/viewFile/5709/5569| Rabu, 21 Maret 2018
http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/JUR._PEND._GEOGRAFI/197210242001121-
BAGJA_WALUYA/GEOGRAFI_PARIWISATA/Aspek_Permintaan_
%26_Penawaran_Par.pdf | Rabu, 21 Maret 2018
http://tugaspariwisata.blogspot.co.id/2010/06/permintaan-dan-penawaran-pariwisata.html |
Rabu, 21 Maret 2018
http://www.wisindo.com/id/content/destinasi-pariwisata | Rabu, 21 Maret 2018

Anda mungkin juga menyukai