Anda di halaman 1dari 24

YUNITA 01-01-14

Buat Hari Ini Jauh Lebih Bermakna Dari Sebelumnya

MAKALAH DAN ASKEP KETUBAN PECAH DINI

Posted by martadiputra23 on Maret 13, 2014


Posted in: Kesehatan. Tinggalkan komentar
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Motaritas Pada wanita hamil dan bersalin merupakan masalah besar di negara
yang berkembang. Di Negara miskin sekitar 25-50 % kematian wanita usia
subur disesbabkan hal berkaitan dengan kehamilan. Kematian saat
melahirkan , biasanya menjadi faktor utama mortalitas wanita muda pada
puncak produktifitasnya. Tahun 1996, WHO memperkirakan lebih dari 585.000
ibu pertahun meninggal saat hamil bersalin. Dari data di atas di perlukan
peningkatan derajat kesehatan masyarakat perubahan prilaku dan pradigma
sakit menuju pradigma sehatdan akses pelayanan kesehatan yang terjangkau
dan merata serta kesehatan lingkungan dan peningkatan umur harapan
hidup.
Untuk mencapai tingkat kesehatan yang baik mungkin bagi ibu-ibu yang baru
melahirkan(post partum), bayi dan keluarga khususnya, serta masyarakat
umumnya, asuhan masa nifas merupakan salah satu bidang pelayanan
kesehatan seperti dokter, bidan dan perawat atau ibu itu sendiri.
Asuhan masa nifas diperlukan dalam perioda ini karena merupakan masa
kritis baik bagi ibu maupun bayinya. Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu
akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas
terjai dalam 24 jam pertama ( buku acuan nasional, pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal 2006)
Asuhan nifas sejak dulu kala telah dilakukan dengan cara yang sederhana dan
tradisional. Namun, dengan bertmbah majunya ilmu kedokteran dan
kebidanan, sudah seseharusnya asuhan ibu nifas dilakukan dengan cara-cara
yang lebih maju. Hal ini menuntut bidan dan perawat sebagai tenaga
profesional maupun memberikan pelayanan perat kebidanan kepada setiap
ibu yang menghadapi masa nifas secara prfesional.

Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan pisiologi maupun pisikologis,


yaitu : perubahan fisik, ivolusi uterus dan pengeluaran lochea,
laktasi/pengeluaran air susu ibu, perubahan system tubuh lainnya dan
perubahan psikis, karena pada masa ini ibu-ibu yang baru melahirkan
mengalami berbagai kejadian yang sangat kompleks baik fisiologis maupun
psikologis, maka bidan dan perawat berperan penting dalam membtu ibu
sebagai orang tua baru dan memberikan support kepada ibu serta keluarga
untuk menghadapi kehadiran buah hatiyang sangat membutuhkan perhatian
dan kasih sayang sehingga dapat memulai menjalani kehidupan sebagai
keluarga baru.
Meskipun persalinan dengan riwayat ketuban pecah dini ditunjang dengan
kemajuan yang pesat dalam bidang kesehatan, adanya antibiotika
berspektrum luas, teknik pertolongan persalinan yang lebih sempurna serta
tenaga kesehatan yang terampil dan terlatih, namun tidak menutup
kemungkinan timbulnya komplikasi pada ibu seperti infeksi pada masa ifas,
partus lama, atonia uteri, pendarahan post partum, serta terhadap bayi yaitu
IVFD, asfeksia, prematuritas. Bila komplikasi yang terjadi pada bayi tidak
ditanggulangi secara dini dapat meningkatkan angka morbilitas dan mortalitas
pada ibu dan bayi.
Bedasarkan hal tersebut diatas, untuk menekan angka kematian pada ibu
akibat komplikasi dari persalian dengan riwayat ketuban pecah dini
diperlukan adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan kususnya bagi
tenaga keperawatan untuk membeikan asuhan pada ibu post partum dengan
riwayat ketuban pecahdini yang komprehensif, sehingga ibu dapat kembali
pada keadaan semuala sesuai waktunya tanpa komplikasi. Bertitik tolak dari
hal tersebut di atas penulisan tertarik mengatakan kasus dengan judul
Ketuban Pecah Dini (KPD), dengan harapan dapat bermanfaat dalam
memberikan asuhan keperawatan pada kasus. Kasus yang terjadi khususnya
pada pasien ketuban pecah dini.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan laporan studi kasus ini dikelompokan menjadi 2 yaitu tujuan
umum dan tujuan khusus.
1. Tujuan Umum
Agar dapat gambaran secara jelas dan lengkap tentang asuhan keperawatan
ketuban pecah dini dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.
2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dalam penulisan laporan ini dapat di uraikan sebagai berikut :
a. Mampu melakukan pengkajian pada pasien ketuban pecah dini (KPD)
b. Mampu menyusun rencana keperawatan pada pasien katuban pecah dini
(KPD)
c. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada pasien katuban pecah
dini (KPD)
d. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada pasien ketuban pecah dini
C. Metode Penulisan
Metode yang digunakan dalam penulisan laporan studi kasus ini adalah
metode deskripsif, tipe studi kasus yaitu memusatkan perhatian pada suatu
kasus secara intensif dan mendetail. Subyek yang diselidiki antara lain terdiri
dari suatu unit dengan menggambarkan pelaksanaan asuhan keperawatan
dan membandingkan dengan teori. Adapun teknik pengumpulan data dan dan
penyusunan laporan yang penulis gunakan adalah sebagai berikut :
1. Wawancara
Suatu teknik pengumpulan data, dimana penulisan melakukan wawancara
terhadap ibu, keluarga, perawat dan bidan yang merawat ibu tersebut
untukmndapatkan data subjyektif.
2. Observasi
Tehnik pengumpulan data, dimana penulis melakukan pengamatan langsung
terhadap ibu guna mendapatkan data yang bersifat obyektif
3. Pemeriksaan Fisik
Teknik pengumpulan data dimana penulis melakukan pemeriksaan secara
infeksi, palpasi, perkusi, auskultasi dan mendapatkan data fisik ibu.
4. Dokumentasi
Yaitu mempelajari catatan medik ibu untuk melengkapi data seperti hasil
laboratorium sebagai data penunjang

5. Studi Kepustakaan
Yaitu mencari dan membaca sumber buku yang sesuai dengan topik makalah
kemudian menggunakannya dalam penulisan studi kasus ini.
D. Sistematika Penulisan
Penulisan laporan kasus ini secara garis besar dibagi dalam lima bab yaitu :
Bab I Pendahuluaan, menguraikan tentang latar belakang, tujuan penulisan,
metode penulisan dan sistematika penulisan. Bab II Teoritis menguraikan
tentang konsep dasar ketuban pecah dini meliputi pengertian patofisiologis,
gejala dan tanda, komplikasi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan.
Konsep dasar asuhan keperawatan meliputi pengkajian , perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi, Bab III tinjauan kasus mencakup pengkajian,
perencanaan ,pelaksanaan, dan evaluasi, Bab VI Pembahasan, menguraikan
antara kensenjangan antara tinjauan tiori dengan tujuan kasus, evaluasi .Bab
V Penutup, terdiri dari kesimpulan dan saran.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. TINJAUAN TEORI
1. Konsep Dasar Ketuban Pecah Dini

a. Pengertian
Ketuban Pecah Dini adalah rupturnya membrane ketuban sebelum persalinan
berlangsung (Manuaba,2002). Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai
pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada
akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm
adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah
KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan dan setelah ditunggu satu jam belum memulainya tanda
persalinan(ilmu kebidanan,penyakit kandungan, dan KB 2010)
Ketuban merupakan hal yang penting dalam kehamilan karena ketuban
memiliki fungsi seperti:
a. Untuk proteksi janin.
b. Untuk mencegah perlengketan janin dengan amnion.
c. Agar janin dapat bergerak dengan bebas.
d. Regulasi terhadap panas dan perubahan suhu.
e. Mungkin untuk menambah suplai cairan janin, dengan cara ditelan atau
diminum yang kemudian dikeluarkan melalui kencing janin.
f. Meratakan tekanan intra – uterin dan membersihkan jalan lahir bila
ketuban pecah.
Oleh sebab itu perlu untuk mengetahui asuhan apa yang harus diberikan.

b. Etiologi ketuban pecah dini


Meningkatnya tekanan intrauterin. Berkurangnya kekuatan membran
disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks.
Selain itu ketuban pecah dini merupakan masalah kontroversi obstetri.
Penyebab lainnya adalah sebagai berikut :
1. Inkompetensi serviks (leher rahim)
Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot
leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit
membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan
janin yang semakin besar.
2. Peninggian tekanan intra uterin
Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat
menyebabkan terjadinya ketuban pecah dini. Misalnya :
a. Trauma : Hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis
b. Gemelli
Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada
kehamilan gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga
menimbulkan adanya ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi
karena jumlahnya berlebih, isi rahim yang lebih besar dan kantung (selaput
ketuban ) relative kecil sedangkan dibagian bawah tidak ada yang menahan
sehingga mengakibatkan selaput ketuban tipis dan mudah pecah. (Saifudin.
2002)
c. Makrosomia
Makrosomia adalah berat badan neonatus >4000 gram kehamilan dengan
makrosomia menimbulkan distensi uterus yang meningkat atau over distensi
dan menyebabkan tekanan pada intra uterin bertambah sehingga menekan
selaput ketuban, manyebabkan selaput ketuban menjadi teregang,tipis, dan
kekuatan membrane menjadi berkurang, menimbulkan selaput ketuban
mudah pecah. (Winkjosastro, 2006)
d. Hidramnion
Hidramnion atau polihidramnion adalah jumlah cairan amnion >2000mL.
Uterus dapat mengandung cairan dalam jumlah yang sangat banyak.
Hidramnion kronis adalah peningaktan jumlah cairan amnion terjadi secara
berangsur-angsur. Hidramnion akut, volume tersebut meningkat tiba-tiba dan
uterus akan mengalami distensi nyata dalam waktu beberapa hari saja.
3. Kelainan letak janin dan rahim : letak sungsang, letak lintang.
4. Kemungkinan kesempitan panggul : bagian terendah belum masuk PAP
(sepalopelvic disproporsi).
5. Korioamnionitis
Adalah infeksi selaput ketuban. Biasanya disebabkan oleh penyebaran
organisme vagina ke atas. Dua factor predisposisi terpenting adalah
pecahnyaselaput ketuban > 24 jam dan persalinan lama.
6. Penyakit Infeksi
Adalah penyakit yang disebabkan oleh sejumlah mikroorganisme yang
meyebabkan infeksi selaput ketuban. Infeksi yang terjadi
menyebabkanterjadinya proses biomekanik pada selaput ketuban dalam
bentuk proteolitik sehingga memudahkan ketuban pecah.
7. Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan genetik
8. Riwayat KPD sebelumya
9. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
10. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm) pada usia kehamilan 23
minggu c. Patofisiologi Ada factor penyebab seperti hipermotilitas rahim,
selaput ketuban yang terlallu tipis, infeksi dan factor predisposisi, multipara,
malposisi, servik, inkompeten, gemeli, hidramnion, adanya factor-faktor
tersebut akan berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan. Jarak antara
pecahnya ketuban dan permulaan dari persalinan tersebut disebut periode
laten atau large periode (lp). Makin muda umur hehamilan makin memanjang
lpnya. Sedangkan lamanya persalinan lebih pendek dari biasanya yaitu pada
premi 10 jam dan pada multi 10 jam. Pengaruh ketuban pecah dini terhadap
janin yaitu walaupun ibu belum menunjukkan gejala gejala infeksi tetapi janin
sudah terkena infeksi, karena infeksi intra uterin lebih dulu terjadi (
amnionitis). Sebelum gejala dirasakan pengaruh terhadap ibu yaitu karena
jalan yang telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi apalagi terlalu sering
dipriksa dalam. Selain itu juga dapat dijumpai peritonitis dan sptikemia, ibu
merasa lelah karena berbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama
maka terjadi peningkatan suhu tubuh lebih dari 37,50 C, nadi cepat dan
nampaklah gejala gejala infeksi yang akan meningkatkan angka kematian ibu.
d. Tanda dan Gejala Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban
merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau amis dan tidak seperti
bau amoniak, Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus
diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala
janin yang sudah terletak di bawah biasanya “mengganjal” atau “menyumbat”
kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut,
denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang
terjadi. e. Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini 1. Selaput ketuban tidak
kuat sebagai akibat kurangya jaringan ikat dan vaskularisasi bila terjadi
pembukaan servik maka selaput ketuban sangat melemah dan mudah pecah
dengan mengeluarkan air ketuban. 2. Kolagen terdapat pada lapisan
kompakta. Amnion, fibroblast, jaringan rektikuler, korion, dan trofotblas.
Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh system aktifitas
dan inhibisi interleukin – 1(IL-I) dan prostaglandin. Jika ada infeksi dan
inflamasi, terjadi peningkatan aktifitas IL-I dan prostaglandin, menghasilkan
kolagenese jaringan sehingga terjadi depolimrisasi kolagen pada selaput korin
/ amnion menyebabkan selaput ketuban tipis. f. Komplikasi Komplikasi yang
timbul akibat Ketuban Pecah Dini bergantung pada usia kehamilan. Dapat
terjadi Infeksi Maternal ataupun neonatal, persalinan prematur, hipoksia
karena kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden SC, atau
gagalnya persalinan normal. 1. Infeksi Risiko infeksi ibu dan anak meningkat
pada Ketuban Pecah Dini. Pada ibu terjadi Korioamnionitis. Pada bayi dapat
terjadi septikemia, pneumonia, omfalitis. Umumnya terjadi korioamnionitis
sebelum janin terinfeksi. Pada ketuban Pecah Dini premature, infeksi lebih
sering dari pada aterm. Secara umum insiden infeksi pada KPD meningkat
sebanding dengan lamanya periode laten. 2. Hipoksia dan asfiksia Dengan
pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat hingga
terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat
janin dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin
gawat 3. Syndrom deformitas janin. Ketuban Pecah Dini yang terjadi terlalu
dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, kelainan disebabkan
kompresi muka dan anggota badan janin, serta hipoplasi pulmonal. g.
Pemeriksaan Diagnostik 1. Memeriksa adanya cairan yang kluar dari vagina
berisi mekonium, verniks caseosa, rambut lanugo, atau bila infeksi berbau 2.
Inspekulo : lihat dan perhatikan apakah memang air ketuban keluar dari
kanalis servik dan apakah ada bagian yang sudah pecah 3. Test ferning : bila
menjadi biru (basa) berarti air ketuban, bila menjadi merah ( asama ) berarti
air kemih ( urine ). Darah dari infeksi vagina dapat menghasilkan test positif
palsu. 4. Pemeriksaan leukosit darah >15.000/ Ul bila terjadi infeksi.
5. USG : menentukan usia kehamilan, indeks cairan amnion berkurang

h. Penatalaksanaan
1. Pasien dirawat di rumah sakit
2. Mempertahankan kehamilan sampai cukup matur khususnya maturitas
paru
sehingga mengurangi kejadian kegagalan perkembangan paru yang sehat.
3. Dengan pemikiran janin sudah cukup besar dan persalinan diharapkan
berlangsung dalam waktu 72 jam dapat diberikan kortikosteroid sehingga
kematangan paru dapat terjadi
4. Pada umur kehamilan 24 sampai 32 minggu yang menyebabkan menunggu
berat janin cukup, perlu dipertimbangkan untuk melakukan induksi
persalinan,
dengan kemungkinan janin tidak dapat diselamatkan.
5. Menghadapi ketuban pecah dini, diperlukan KIE terhadap ibu dan keluarga
sehingga terdapat pengertian bahwa tindakan mendadak mungkin dilakukan
dengan pertimbangan atau menyelamatkan ibu dan mungkin harus
mengorbankan bayi.

2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Ketuban Pecah Dini


a. Pengkajian
Adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang
sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk
mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2008).
1. Biodata klien
Biodata klien berisi tentang : Nama, Umur, Pendidikan, Pekerjaan, Suku,
Agama, Alamat, No. Medical Record, Nama Suami, Umur, Pendidikan,
Pekerjaan , Suku, Agama, Alamat, Tanggal Pengkajian.
2. Keluhan utama
keluar cairan warna putih, keruh, jernih, kuning, hijau / kecoklatan sedikit /
banyak, pada periksa dalam selaput ketuban tidak ada, air ketuban sudah
kering, inspeksikula tampak air ketuban mengalir / selaput ketuban tidak ada
dan air ketuban sudahkering.

3. Riwayat menstruasi
Umur menarchi pertama kali, lama haid, jumlah darah yang keluar,
konsistensi, siklus haid, hari pertama haid dan terakhir, perkiraan tanggal
partus
4. Riwayat Perkawinan
Kehamilan ini merupakan hasil pernikahan ke berapa? Apakah perkawinan
sah atau tidak, atau tidak direstui dengan orang tua ?
5. Riwayat Obstetris
Berapa kali dilakukan pemeriksaan ANC, hasil laboraturium : USG , darah,
urine, keluhan selama kehamilan termasuk situasi emosional dan impresi,
upaya mengatasi keluhan, tindakan dan pengobatan yang diperoleh
6. Riwayat penyakit dahulu
Penyakit yang pernah di diderita pada masa lalu, bagaimana cara pengobatan
yang dijalani nya, dimana mendapat pertolongan, apakah penyakit tersebut
diderita sampai saat ini atau kambuh berulang – ulang
7. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang menderita penyakit yang diturunkan secara
genetic seperti panggul sempit, apakah keluarga ada yg menderita penyakit
menular, kelainan congenital atau gangguan kejiwaan yang pernah di derita
oleh keluarga.
8. Data biologis
a. Bernapas
Tanyakan kesulitan dalam bernapas terutama setelah pembedahan.
b. Makan dan Minum
Tanyakan bagaimana kebisaan makan dan minum pasien apakah telah
mengandung zat gizi.
c. Eliminasi
Tanyakan kebiasaan dan kesulitan atau masalah dalam BAB dan BAK.
d. Istirahat dan Tidur
Perlu ditanyakan bagaimana kebiasaan dan masalah apa yang dapat
menganggu istirahat dan tidur pasien.
e. Gerak dan Aktifitas
Observasi hal-hal yang dapat dilakukan oleh pasien sebelum dan setelah
aktifitas.
f. Kebersihan Diri
Observasi kebersihan diri terutama payudara dan vulva.
g. Berpakaian
Tanyakan kebiasaan mengganti pakaian .
h. Pengaturan Suhu Tubuh
Tanyakan apakah pasienselama hamil dan pasca pembedahan mengalami
peninggkatan suhu tubuh dan penurunan suhu tubuh.
i. Seksualitas
Tanyakan pola seksualitas dan frekuensi sebelum,saat dan setelah hamil serta
keluhan saat melakukan hubungan seksual.
9. Data Psikologis
a. Rasa nyaman
Tanyakan ketidak nyamanan yang dirasakan pasca melahirkan.
b. Rasa aman
Kaji hal-hal yang berkaitan dengan kecemasan pasien.
10. Data Sosial
a. Sosial
Tanyakan tentang interaksi atau tingkat ketergantungan pasien terhadap
orang lain.
b. Konsep Diri
1. Identitas Diri
Tanyakan pada pasien apakah sudah merasa sudah menjadi seorang ibu.
2. Harga Diri
Tanyakan pada pasien apakah merasa minder atau senang dengan kehadiran
anaknya.
3. Ideal Diri
Tanyakan pada pasien apakah ada cita-cita untuk merawat anaknya.
4. Gambaran Diri
Tanyakan pendapat tentang dirinya.
5. Peran Diri
Tanyakan pada pasien sadarkah pada perannya sekarang setelah memiliki
anak.
c. Bermain dan Berekreasi
Tanyakan pada kebiasaan pengisian waktu luang.
d. Prestasi
Kaji hal-hal yang membanggakan dari pasien yang ada hubungan dengan
kondisinya.
e. Belajar
Kaji tingkat pengetahuan pasien dengan sectio caesarea meliputi perawatan
lika,perawatan payudara,kebersihan vulva atau cara cebok yang benar,nutrisi
KB,seksual serta hal-hal yang perlu ditanyakan tentang perawatan bayi yang
,merawat tali pusat dan cara meneteki yang benar.

11. Data Spritual


Kaji kepercayaan pasien terhadap tuhan.
12. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Observasi kesadaran, bangun tubuh, postur tubuh dan keadaan kulit
b. Gejala Kardinal
Observasi vital sign seperti suhu, tekanan darah, nadi dan respirasi
c. Ukuran ukuran lain
Kaji berat badan sebelum, saat hamil, saat pengkajian dan tinggi badan.
d. Keadaan fisik
1. Kepala
Observasi kulit kepala, kebersihan, adanya nyeri tekan
2. Muka
Pucat, koloasma gravidarum, adanya nyeri tekan, adanya odema
3. Mata
Observasi pergerakan bola mata, adanya nyeri tekan, konjungtiva pucat atau
tidak
4. Hidung
Observasi kesimetrisan, adanya sekret, adanya nyeri tekan, pernafasan cuping
hidung
5. Telinga
Observasi kesimetrisan, adanya nyeri tekan, kebersihan, pendengaran
6. Mulut
Observasi membran mukosa, lidah, stomatis, adanya pembesaran tonsil,
kebiruan dan karies.
7. Leher
Bendungan vena jugularis, pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe.
8. Torak
Observasi pergerakan otot dada saat bernafas, retraksi otot dada, adanya
wheezing, rhonci dan bunyi jantung
9. Payudara
Bentuk simetris atau tidak, kebersihan, keadaaan puting susu, hiperpigmentasi
aerola mamae, lecet/luka, pembengkakan buah dada, pengeluaran (kolostrum,
asi, nanah)
10. Abdomen
Kontraksi uterus, tinggi fundus uteri, keadaan luka post operasi, distensi
kandung kemih, bising usus, terdapat strie
11. Ekstremitas
Kemampuan pergerakan, cianocis dan odema
12. Genetalia dan anus
Kebersihan, pengeluaran rochea (jumlah, warna, bau, konsistensi) haemoroid
13. Data penunjang
Mencakup semua pemeriksaan yang menunjang keadaan pasien seperti data
laboratorium.

b. Diagnosa keperawatan ketuban pecah dini


1. resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, pecah ketuban,
kerusakan kulit,
penurunan hemoglobin, pemajanan pada patogen
2. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terjadi nya ketegangan
otot rahim
3. Ansietas berhubungan dengan kurang nya pengetahuan atau konfirmasi
tentang
Penyakit

4. Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri,


peningkatan HIS
5.Intoleransi aktifitas b.d. kelemahan fisik
(Dangoes:2000
C. Intervensi
No Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Inervensi Rasional
1
Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, pecah ketuban,
kerusakan kulit, penurunan hemoglobin, pemajanan pada patogen
Tujuan :
– infeksi tidak terjadi pada ibu
kriteria hasil
– pencapaian tepat waktu pada pemulihan luka tanpa komplikasi – – Tinjau
ulang kondisi/faktor risiko yang ada sebelumnya. Catat waktu pecah ketuban.
– – Kaji terhadap tanda dan gejala infeksi (misalnya: peningkatan suhu, nadi,
jumlah sel darah putih, atau bau/warna rabas vagina).
– – Berikan perawatan perineal sedikitnya setiap 4 jam bila ketuban telah
pecah – – Kondisi dasar ibu, seperti diabetes atau hemoragi, menimbulkan
potensial resiko infeksi atau penyembuhan luka yang buruk. Resiko
korioamnionitis meningkat dengan berjalannya waktu, sehingga
meningkatkan resiko infeksi ibu dan janin.
– Pecah ketuban terjadi 24jam sebelum pembedahan dapat menyebabkan
amnionitis sebelum intervensi bedah dan dapat mengubah penyembuhan
luka.
– Untuk mencegah agar tidak terjadi infeksi

Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan terjadi nya ketegangan


otot rahim

Ansietas berhubungan dengan kurang nya pengetahuan atau konfirmasi


tentang penyakit

Gangguan kebutuhan istirahat tidur berhubungan dengan adanya nyeri ,


peningkatan HIS

Intoleransi aktifitas b.d. kelemahan fisik


Tujuan :
– rasa nyeri berkurang
Kriteria hasil :
– klien tampak tenang
– klien tampak nyaman
Tujuan :
– klien pengetahuan klien bertambah setelah diberikan informasi mengenai
penyakit nya
kriteria hasil :
– klien tidak resah lagi dengan peyakit nya
– menunjukkan pemahaman akan proses penyakit dan prognosis

Tujuan :
– kebutuhan istirahat tidur klien terpenuhi
Kriteria hasil :
– klien dapat tidur dengan tenang dan tidak gelisah
– klien menunjukkan pola tidur yang adekuat
Tujuan:
– aktivitas kembali sesuai kemampuan pasien.
Kriteria hasil:
– pasien bisa beraktivitas seperti biasa. – – monitor tanda – tanda vital : TD,
pernafasan, nadi dan suhu
– – ajrakan klien teknik relaksasi
– atur posisi klien
– – berikan lingkungan yang nyaman dan batasi pengunjung


– tinjau proses penyakit dan harapan masa depan
– – dorong periode istirahat yang adekuat dengan aktifitas terjadwal
– – berikan pelayanan kesehatan mengenai penyakit nya
– – jelaskan kepada klien apa yg terjadi, berikan kesempatan untuk bertanya
dan berikan jawaban yang terbuka dan jujur

– Lakukan pengkajian terhadap gangguan kebutuhan tidur


– – motivasi klien agar mengalihkan perhatian
– – monitor kebutuhan tidur
– ciptakan suasana nyaman

– Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari seminimal


mungkin.
– Beri posisi nyaman.
– Anjurkan menghemat energy hindari kegiatan yang melelahkan.
-Jelaskan pentingnya mobilisasi diri. – – nyeri dapat mengakibatkan
peningkatan frekuesni pernafasan dan nadi
– untuk mengurangi rasa nyeri yang dirasakan klien
– – untuk memberikan kenyamanan pada klien
– agar klien dapat beristirahat
– – memberikan pengetahuan dasar dimana klien dapat membuat pilihan
– – agar klien tidak merasa jenuh dan mempercepat proses penyembuhan
– – agar klien mengerti dengan bahaya nya infeksi dan penyakit nya
– menunjukkan realitas situasi yang dapat membantu klien atau orang
terdekat menerima realitas dan mulai menerima apa yang terjadi

– agar dapat memberikan gambaran sampai sejauh mana kebutuhan tidur


terganggu
– – dengan mengalihkan perhatian, maka perhatian klien tidak hanya tertuju
pada rasa nyeri sehingga membantu relaksasi pada klien sewaktu tidur
– – untuk mengetahui apakah kebutuhan tidur klien terpenuhi seperti biasa
atau belum
– – suasana yang tenang dapat membantu relaksasi sehingga nyeri berkurang
dan klien bisa tidur
– – agar kebutuhan sehari – hari – klien dapat terpenuhi seperti biasa nya
– agar klien merasa nyaman dan tenang
– kelelahan dapat menyebabkan lama nya proses penyembuhan klien,,jadi
dengan menghindari kegiatan yang melelahkan dapat membantu proses
penyembuhan
– proses penyembuhan

D. Implementasi
Setelah rencana keperawatan di susun, maka rencana tersebut diharapkan
dalam tindakan nyata untuk mencapai tujuan yang diharapkan, tindakan
tersebut harus terperinci sehingga dapat diharapkan tenaga pelaksanaan
keperawatan dengan baik dan sesuai dengan waktu yang ditentukan
Implementasi ini juga dilakukan oleh si pembuat rencana keperawatan dan di
dalam pelaksanaan keperawatan itu kita harus menjunjung tinggi harkat dan
martabat sebagai manusia yang unik

E. Evaluasi
Evaluasi adalah hasil akhir dari proses keperawatan dilakukan untuk
mengetahui sampai dimana keberhasilan tindakan yang diberikan sehingga
dapat menentukan intervensi yang akan dilanjutkan

WOC KPD

BAB III
TINJAUAN KASUS
1. Pengkajian
Tanggal pengkajian : 16 agustus 2010
a. Identitas klien Pasien Penanggung jawab
Nama : Ny.I Tn.H
Umur : 20 tahun 25 tahun
Jenis kelamin : Perempuan Laki – laki
Status : Sudah menikah Sudah menikah
Agama : Hindu Hindu
Pekerjaan : Ibu rumah tangga Wiraswasta
Pendidikan : SMA SMA
Alamat : Tilatang kamang Tilatang kamang
No.MR : 249226
Ruang Rawat : ruang Melati RSUD Tabanan
Tgl masuk : 14 agustus 2010

b. Alasan masuk
Klien masuk IGD pada hari sabtu pukul 00.30 WITA, dengan keluhan keluar
cairan ketuban dari pervaginaan berwarna jernih dan tidak berbau
c. Riwayat kesehatan
1. Riwayat kesehatan sekarang
Klien mengatakan keluar cairan ketuban dari pervaginaan sejak malam, klien
mengatakan cairan ketuban yang keluar pervaginaan berwarna jernih dan
tidak berbau,frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x sehari, klien mengatakan
perut terasa sakit dari pinggang sampai ke ari – ari,nyeri yang dirasakan klien
nyeri sedang dengan skala nyeri 6,klien mengatakan susah tidur karena nyeri
yang dirasakan,frekuensi tidur klien hanya 7 jam sehari,klien mengatakan
nafsu makan berkurang sejak beberapa hari yg lalu ,klien mengatakan berat
badan nya menurun,BB sehat 68 Kg BB sakit 64 Kg,klien sudah 2 hari tidak ada
Buang air besar, klien mengatakan cemas dan tidak mengetahui tentang
penyakit yang di derita nya saat ini, klien tampak meringis dan sering
memegang perut nya, porsi makan yang dihabiskan klien hanya ½ porsi,klien
mengatakan selama dirumah sakit klien hanya beraktifitas di tempat tidur,
aktifitas klien di rumah sakit hanya di tempat tidur, DJJ bayi 135 x/i, HB 10,4 gr
%, therapi yang diberikan ceftriaxon 2 x 1 gr dan dexametason 2 x 1 amp

2. Riwayat Kesehatan dahulu


Klien sebelum nya tidak pernah mengalami penyakit yang di derita nya
sekarang, klien juga tidak ada penyakit jantung, DM, hipertensi

3. Riwayat kesehatan keluarga


Keluarga klien tidak ada memiliki penyakit keturunan, menular dan kejiwaan

4. Riwayat menstruasi
Menarche : 13 tahun
Siklus haid : teratur ( 1x/ bulan )
Lama haid : 5 – 8 hari
Ganti Duk : 2 – 3x / hari
Keluhan pd saat haid : nyeri pd saat haid
5. Riwayat Kehamilan
HPHT : 18 Desember 2009
TP : 25 September 2010
Kehamilan : G1 P0 A0 H0 ( Gravid 1, partus belum ada, abortus
tidak ada, hidup belum ada )
d. Pemeriksaan Fisik
1. Kesadaran : Compos Metis
2. BB / TB : 64 kg / 159 cm
3. Tanda – Tanda vitaL
TD : 110 / 80 mmhg P : 24x /menit
N : 88x / menit S : 36,2 º C
4. Head To Toe
a. Rambut : berwarna coklat, lurus, bersih, tidak berbau, tidak terdapat lesi
b. Mata : sklera tidak ihterik, konjungtiva anemis,pupil sama besar ka
/ ki, palpebra tidak ada oedema, fungsi penglihatan baik,

tidak menggunakan alat bantu penglihatan,bereaksi terhadap


cahaya
c. Telinga : simetris ka / ki , tidak terdapat serumen,tidak menggunakan
alat bantu fungsi pendengaran baik
d. Hidung : bernafas tidak menggunakan cuping hidung,tidak terdapat
serumen ,fungsi penciuman baik
e. Mulut dan Gigi : mukosa bibir lembab, keadaaan gigi dan gusi tidak
ada peradangan dan pendarahan, ada karies gigi, lidah
bersih, keadaan mulut tidak berbau
f. leher : tidak terjadi pembengkakan tyroid
g. Paru – Paru : warna kulit putih, pengembangan dada simetris ka / ki,
tidak ada lesi / memar , bernafas tidak menggunakan otot
bantu pernafasan, frekuensi pernafasan 24x / I, tidak ada
teraba massa, idak teraba pembengkakan, getaran dinding
dada terasa simetris ka/ki, bunyi paru – paru resonan,suara
nafas terdengar vesikuler
h. Jantung : warna kulit dada putih,tidak ada lesi atau luka lecet, ictus
cordis tidak terlihat, terasa ictus cordis teraba pada ICS5
midclavikula dan batas jantung teraba,frekuensi jantung
88x/menit, bunyi jantung redup, tidak terdapat bunyi
tambahan
i.Payudara : puting susu menonjong, aerola menghitam, mamae tidak
terlalu tegang
j.Abdomen : perut terlihat membuncit, kulit bersih, tidak ada luka lesi,
fundus 3 jari di bawah px, letak bayi Puka, persentas
kepala, timpany, bising usus ( + ), DJJ : 135x / I,
e. Ekstremitas : Atas : kulit berwana putih, terdapat luka bekas suntikan,
tidak ada oedema
Bawah : tidak ada kelainan, tidak terdapat memar / luka
lecet, tidak ada oedema
f. Genitalia : vagina keluar cairan berwarna jernih tapi tidak berbau, tidak
terdapat varises dan tidak ada oedema
g. Integumen : turgor kulit baik, kulit lembab tidak kering

2. Analisa Data
No Data Etiology Problem
1 DS :
– klien mengatakan keluar cairan ketuban dari pervaginaan sejak malam
– klien mengatakan cairan ketuban yang keluar pervaginaan berwarna jernih
dan tidak berbau
DO :
– cairan ketuban yang keluar dari vagina berwarna jernih dan tidak berbau
– frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x dalam sehari
– Therapi yg diberikan ceftriaxn 2 x 1 gr dan dexametason 2 x 1 amp Ketuban
Pecah Dini Resiko Infeksi
2 DS :
– klien mengatakan perut terasa sakit dari pinggang sampai ke ari – ari
– klien mengatakan selama dirumah sakit klien beraktifitas ditempat tidur
DO :
– klien tampak meringis dan memegangi perut nya
– nyeri yang dirasakan klien nyeri sedang dengan skala nyeri 6
– aktifitas klien dirumah sakit ditempat tidur Ketegangan otot rahim Gangguan
rasa nyaman : nyeri
3

5 DS :
– klien mengatakan cemas terhadap penyakit yang di derita nya
– klien mengatakan tidak mengetahui ttg penyakit yang di alami nya
DO :
– klien tampak cemas
– klien sering bertanya tentang penyakit nya
DS :
– klien mengatakan susah tidur karena nyeri yang dirasakan
– klien mengatakan frekuensi tidur hanya 7 jam dalam sehari
DO :
– frekuensi tidur klien hanya 7 jam sehari
– klien tampak lemah
DS :
– klien mengatakan kurang nafsu makan sejak beberapa hari yang lalu
– klien mengatakan berat badan nya menurun
DO :
– porsi makanan yang dihabiskan klien ½ porsi
– BB sehat 68 Kg, BB sakit 64 Kg
– HB klien 10,4 gr % Kurang nya pengetahuan klien tentang penyakit KPD

Peningkatan HIS

Intake yang tidak adekuat Ansietas

Gangguan pola istirahat : tidur

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi

3. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko Infeksi berhubungan dengan Ketuban Pecah Dini
2. Gangguan Rasa Nyaman:Nyeri berhubungan dengan ketegangan otot rahim
3. Ansietas berhubungan dengan kurang nya pengetahuan klien tentang
penyakit KPD
4. Gangguan Pola istirahat Tidur berhubungan dengan Peningkatan HIS
5. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang
tidak adekuat

4. Intervensi
No Diagnosa keperawatan Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional
1` Resiko Infeksi b /d Ketuban pecah dini
DS :
– klien mengatakan keluar cairan dari pervaginaan
– klien mengatakan cairan ketuban yang keluar pervaginaan berwarna jernih
dan tidak berbau
DO :
– cairan yang keluar berwarna jernih dan tidak berbau
– frekuensi ganti duk klien sebanyak 5x dalam sehari
Tujuan ;
– infeksi tidak terjadi
kriteria hasil :
– tidak ada keluar lagi cairan dari pervaginaan
– DJJ janin normal
– Leukosit klien kembali normal
– Suhu 36 – 37 °
– – bina hubungan saling percaya melalui komunikasi therapeutik
– – pantau keadaan umum klien
– – berikan lingkungan yang nyaman untuk klien
– berikan obat sesuai order dokter – – untuk memudahkan perawat melakukan
tindakan
– – untuk melihat perkembangan kesehatan klien
– – agar istirahat klien terpenuhi
– proses penyembuhan klien
2 Gangguan rasa nyaman : nyeri b / d ketegangan otot rahim
DS :
– klien mengatakan perut terasa sakit dari pinggang ke ari –ari
DO :
– klien tampak meringis
– klien tampak memegangi perut nya
– nyeri yang dirasakan klien nyeri sedang dengan skala nyeri 6 Tujuan :
– nyeri ( – )
Kriteria hasil :
– klien tampak tenang / rileks
– klien mengatakan rasa nyeri pada perut klien berkurang
– TTV kembali normal
TD : 120 / 80 mmhg
N : 60 – 120 x/i
P :24 x /i
S :36 -37 ° – monitor TTV klien
– kaji skala nyeri ( 1 – 10 )
– ajarkan klien teknik relaksasi
– atur posisi klien
– berikan lingkungan yang nyaman dan batasi pengunjung – untuk
mengetahui perkembangan umum klien
– untuk mengetahui derajat nyeri klien dan menentukan tindakan yang akan
dilakukan
– – untuk mengurangi nyeri yang dirasakan oleh klien
– – untuk memberikan kenyaman klien
– – untuk mengurangi tingkat stres klien, dan klien bisa beristirahat
3

5 Ansietas b / d kurang nya pengetahuan klien tentang penyakit KPD


DS :
– klien mengatakan cemas terhadap
– penyakit nya
– klien mengatakan tidak mengetahui tentang penyakit yang di derita nya
DO :
– klien tampak cemas
– klien sering bertanya tentang penyakit nya kepada perawat
Gangguan Pola istirahat Tidur berhubungan dengan Peningkatan HIS
DS :
– klien mengatakan susah tidur karena nyeri yang dirasakan
– klien mengatakan frekuensi tidur hanya 7 jam dalam sehari
DO :
– frekuensi tidur klien hanya 7 jam sehari
– klien tampak lemah

Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake yang


tidak ade kuat
DS :
– klien mengatakan kurang nafsu makan sejak beberapa hari yang lalu
– klien mengatakan berat badan nya menurun
DO :
– porsi makanan yang dihabiskan klien ½ porsi
BB sehat 68 Kg, BB sakit 64 Kg Tujuan :
– ansietas ( – )
Kriteria hasil :
– klien sudah mengerti tentang penyakit dan perawatan KPD
– klien tidak cemas lagi

Tujuan :
– istirahat dan tidur klien terpenuhi
Kriteria hasil :
– menunjukkan pola tidur yang adekuat

Tujuan :
– kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
Kriteria hasil :
– tidak menunjukkan tanda –tanda mal nutrisi
– BB dalam batas normal
– menunjukkan pemasukan yang adekuat – tinjau proses penyakit dan
harapan masa depan
– dorong klien untuk istirahat total
– – berikan pelayanan kesehatan mengenai penyakit nya

– kaji kebiasaan pola tidur patien


– berikan lingkungan yang nyaman seperti keadaan ruangan dan penerangan
ruangan
– batasi pengunjung

– timbang BB klien
– kaji tanda – tanda mal nutrisi
– auskultasi bising usus, catat ada nya nyeri abdomen, mua muntah
– motivasi klien untuk menghabiskan makanan
– berikan makanan yang hangat dan bervariasi – memberikan pengetahuan
dasar dimana klien dapat membuat pilihan
– – untuk mempercepat proses penyembuhan
– – agar klien mengerti tentang bahaya nya penyakit yang di derita nyan

– kebiasaan pola tidur klien dapat mempengaruhi kualitas tidur klien


– – agar klien merasa nyaman
– agar klien bisa beristirahat

-untuk mnegetahui peningkatan atau penurunan berat badan klien


– – untuk mengetahui indikator kekurangan nutrisi
– gangguan nutrisi dapat menyebabkan perubahan frekuensi bising usus
– – agar nutrisi klien terpenuhi
– menambah selera makan klien

5. Implementasi dan Evaluasi


No Hari / tgl Dx Jam Implementasi Evaluasi
1

Senin
16 agustus 2010 I

II 08.00 WITA

08.45 WITA

09.30 WITA

11.00 WITA

11.25 WITA
11.30 WITA

13.00 WITA

13.45 WITA

14.00 WITA – membina hubungan saling percaya melalui komunikasi


therapeutik
– memantau keadaan umum klien, seperti kesadaran klien ,cairan yg keluar
dari pervaginaan klien, TD,N,S,P klien
R/p : cairan yg keluar dari pervaginaan masih ada, kesadaran baik,
– memberikan obat injeksi
Ceftriaxon 1 gr dan dexametason 1 amp ( IV )
R/p : ceftriaxon dan dexametasn sudah diberikan
– memberikan lingkungan yang nyaman seperti kenyamanan ruangan dan
membatasi pengunjung
R/p : klien dapat beristirahat
– memonitor TD,N,P,S klien
– mengkaji skala nyeri ( 1 – 10 )
R/p : skala nyeri klien 6
– mengajarkan klien teknik relaksasi dengan cara tarik nafas dalam sebanyak
3x
– R/p : klien dapat melakukan teknik relaksasi yg di ajarkan ,nyeri sedikit
berkurang
– mengatur posisi klien dengan miring kiri saban 2 jam
R/p : klien dapat melakukan miring kekanan dank e kiri saban 2 jam
– memberikan lingkungan yang nyaman dg batasi pengunjung
R/p : klien merasa tenang dan dapat beristirahat S : klien mengatakan masih
ada keluar cairan dari pervaginaan tapi tidak begitu banyak
O : warna cairan jernih dan tidak berbau
A : masalah belum teratasi
P : intervensi 2 – 4 dilanjutkan

S : klien mengatakan pinggang sampai ke ari – ari masih terasa nyeri


O : klien tampak memegangi pinggang dan meringis
A : masalah belum teratasi
P : intervensi 1 – 5 dilanjutkan
2 Selasa / 17 agustus 2010 08.00 WITA

Intervensi dihentikan
Klien pulang dengan kemauan sendiri
Pd tgl 16 agustus 2010 pukul 17.30 WITA

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pembahasan
Pada pembahasan ini disajikan tentang analisa data yang diperoleh dari hasil
pengkajian pada ibu bersalin pada tanggal 16 agustus 2010 di Ruang Melati
RSUD Tabanan
1. Data Subjektif
Pengkajian data subjektif dapat dilaksanakan dengan cara wawancara ibu
secara langsung untuk mendapatkan data seperti identitas ibu dan suami,
riwayat menstruasi, riwayat obstetri, riwayat kehamilan sekarang, riwayat
kesehatan klien dan keluarga, dan pola kehidupan sehari – hari. Data subjektif
ini sudah kesesuaian dengan teori persalinan.
2. Data Objektif
Pengkajian obyektif dapat dilaksanakan dengan cara pemeriksaan fisik secara
inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi, pemeriksaan khusus, dan pemeriksaan
penunjang. Semua keadaan ibu sudah di periksa dan hasilnya normal.
3. Assesment
Dari data subjektif dan data objektif sudah dapat mendukung diagnosa Asuhan
Kebidanan pada ibu hamil dengan KPD.
4. Planning
Planning yang telah dilakukan di Ruang Melati RSUD Tabanan sudah sesuai
dengan teori

B. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir proses keperawatan yang dilakukan untuk
menentukan berhasil atau tidaknya pelaksanaan asuhan keperawatan dalam
menangani masalah pasien.Dimana evaluasi dilaksanakan perhari untuk
mengetahui perkembangan pasien dan untuk menilai keefektifan pemberi
asuhan keperawatan,Dari lima masalah keperawatan yang muncul,dua
masalah tidak terjadi resiko infeksi karena selama pelaksanaan
tidakditemukan tanda-tanda yang mengarah pada infeksi yaitu
kalor,dolor,tumor,rubor dan fungsiolaesa dan tiga masalah lainnya tidak
teratasi.Evaluasi kelima masalah keperawatan tersebut dilaksanakan pada
hari yang sama yaitu pada tanggal 16 Agustus 2010.Evaluasi sudah
dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan

BAB V
PENUTUP

Berdasarkan uraian diatas dapat ditarik kesimpulan dan memberikan saran


saran sebagai berikut :

A. Simpulan
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan, dan ditunggu satu jam belum dimulainya tanda persalinan. Waktu
sejak ketuban pecah sampai terjadi kontraksi rahim disebut ketuban pecah
dini.
Penatalaksanaan ketuban pecah dini pada kehamilan aterm berupa
penanganan aktif, antara lain :
1. Kehamilan > 37 minggu induksi dengan oksitosin. Apabila gagal, maka
dilakukan seksio sesaria. Dapat pula diberikan misoprostol 25 – 50µg
intravaginal tiap 6 jam maksimal 4 kali
2. Bila ada tanda – tanda infeksi, berikan antibiotik dosis tinggi
3. Terminasi kehamilan, jika :
1) Skor pelvik < 5 lakukan pematangan serviks kemudian di induksi. Jika tidak
berhasil akhiri persalinan dengan seksio sesaria 2) Skor pelvik > 5 induksi
persalinan, kemudian partus pervaginam

B. Saran
1. Kepada Pihak Rumah Sakit
Kepada pihak rumah sakit agar tetap mempertahankan kualitas pelayanan
dan tetap memberikan pelayanan yang optimal.
2. Kepada Pasien
Sebaiknya para ibu hamil lebih menjaga kehamilannya, terutama lebih
menjaga setiap aktifitas yang dilakukan dan diharapkan selalu
memperhatikan nasihat maupun saran dari tenaga kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Chandranita Manuaba, Ida Ayu, dkk. 2009. Buku Ajar Patologi Obstetri .
Jakarta. EGC

Prawirohardjo, Sarwono. 2008. . Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT.Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo.

Saifuddin, Abdul Bari. 2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan


Maternal dan Neonatal . Jakarta: YBP-SP

Varney, Hellen,dkk. 2008. Buku Ajar Asuha Kebidanan, Volume 2. . Jakarta:

KLIK LINK UNTUK MENGUNDUH DOKUMEN  KLIK LINK UNTUK MENGUNDUH


:KPD DOC (https://martauy.files.wordpress.com/2014/03/2.docx)
Iklan

Report this ad

Report this ad
Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.