Anda di halaman 1dari 5

FILOSOFI PENGANUT PAHAM ANARKI DARI SEGI HUKUM

Filosofi penganut paham anarki dari segi hukum adalah sebuah teori politik
normatif menurut yang mana negara dan semua institusinya, yang di dukung oleh hukum,
kekuasaan yang bersifat memaksa dan pihak yang berwenang, yang kesemuannya itu
berdasarkan pada kekerasan dan ketidakadilan. Selain itu, menurut teori ini negara tidak
dibutuhkan karena rakyat dapat hidup tanpanya. Masyarakat seharusnya
mengorganisasikan kehidupan sosial mereka secara spontan. Beberapa anarkisme
tergolong kolektifis, yang lainnya tergolong egois.
Anarkis (penganut paham) yang pertama adalah William Godwin (1756-1836).
Ketentuan tentang anarkisme pertama kali digunakan oleh pierre Joseph proudhom
(1809- 1865) di perancis. Tokoh rusia pertama yang anarkis adalah michael bakunin
(1814-1874) dan Peter Kropotkin (1842-1921). German Max Stirner sangat terkenal
dengan egoismenya. Anarkisme pertama kalinya adalah sekutu dan kemudian menjadi
saingan dari sosialisme. Karl Marx dan para pengikutnya, seperti halnya dengan V.I.
Lenin, bermusuhan dengan anarkisme. Perbedaan yang mendasar adalah bahwa sosial
Marxis menginginkan meraih kekuasaan dari negara kapitalis terlebih dahulu dan
kemudian membuangnya. Mereka percaya bahwa negara akan “Bertambah Buruk”.
Anarkisme, sebaliknya, mengajarkan bahwa negara manapun perlu untuk berlaku jahat.
Adapun negara yang terkait dengan tindak kekerasan yang tidak dapat di toleril dapat
mengakibatkan negara itu tidak dapat mengunakan kekerasan itu untuk memenuhi tujuan
dalam persoalan apapun/lainnya. Banyak dari penganut paham anarki, seperti Godwin,
juga sangat menentang kekerasan, meskipun Bakunin telah bersedia untuk menerima
revolusi dengan kekerasan. Leon Tolstoy (1829-1910), sebagai seorang anarkis/penganut
paham anarki, telah betul-betul menentang kekerasan. Idenya adalah lebih kepada
kemurahan hati kepada semua masyarakat.
Anarkisme itu berhubungan dekat dengan liberalisme ekstrem ataupun
liberalisme. Diantara liberalisme modern ada yang anarkis, walaupun ketentuannya
bahwa iya tidak boleh sering digunakan didalam filsafat politik modern. Buku Robert
Nozick “anarkis, negara & khayalan” menjadi pengecualian. Perbedaan antara
liberalisme dengan anarkisme adalah bahwa penolakan yang melatarbelakangi keluarnya
seperti misalnya hak milik, pun tergolong tidak adil, hanya itu, anarkisme lebih radikal
diantara satu dari dua jenisnya. Anarkisme bukanlah pandangan “right-based”
(pandangan umum yang benar) seperti liberalisme. Rakyat dianggap tidak ada dalam hak
mereka, jikalau merujuk pada anarkisme, akan tetapi mereka menginginkan hidup enak
dan harmonis. Perbedaan lainnya adalah sejarahnya. Anarkisme berhubungan dengan
sosialisme, tidak seperti liberalisme di abad 19.
Anarkisme merupakan paham utopian/khayalan. Anarkisme mengandaikan sifat
alamiah manusia tidaklah jahat, pada kondisi yang alami. Mengambil kata-kata thomas
Hobbes, tidak saja sekedar dalam bentuk kerusuhan (kekerasan). Sebaliknya adanya fakta
bahwa manusia memiliki sifat kekerasan merupakan hasil dari kesalahan pendidikan yang
disediakan oleh negara yang tidak adil. Jadi tidak ada alasan untuk mengira / berfikir
bahwa hilangnya kekuasaan negara akan membawa pada konskuensi yang berbahaya.
Manusia mempunyai cukup sifat baik dan kedermawanan yang menjadi alasan sehingga
mereka dapat mengorganisasikan hidupnya secara spontan dan menjadi bebas dan
bahagia.
Anarkisme merupakan salah satu paham utopian yang tidak selalu mendapat
perhatian/diulas. Paham ini mensyaratkan ide tentang kebijaksanaan dan kemuliaan yang
melekat pada pikiran dan akal manusia. Kita bisa menyebutnya optimis dari segi aspek
aristokrasi, tapi masalah dari kata anarkisme tersebut ialah dia menyembunyikan hak-hak
istimewa. Bagaimanapun setiap manusia memiliki tugas untuk menjadi merdeka, bebas
dan menjadi manusia yang bertanggung jawab untuk menciptakan kondisi kehidupan
yang lebih baik. Karena tidak ada kekuasaan & kewenangan yang berada di atas individu,
dia (laki-laki & perempuan) secara individual berdaulat. Tanggung jawab itu sangat besar
tapi orang-orang yang berpaham anarkis harus percaya/sadar akan realitas.
Anarkisme merupakan paham utopian juga dalam logika. Karena ia ragu
menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bersifat praktis : negara, institusi dan hukum
adalah nyata. Bagaimana hal tersebut di bongkar? Ini secara spesial merupakan
pertanyaan yang sulit jika teori menuntut pada perubahan dari negara (dengan
Pemerintahan) ke anarki harus melalui proses yang damai dan baik. Sulit untuk percaya
bahwa metode-metode demokrasi lainnya sudah cukup. Penganut paham anarkis tidak
banyak memberikan perhatian pada pertanyaan ini. Anarkisme melihat sifat alamiah dari
negara dari fakta bahwa negara akan hilang dan sifat alamiah manusia akan muncul,
menciptakan reorganisasi spontan dari kehidupan sosial menjadi mungkin. Anarkisme
adalah teori mengenai akhir sebuah negara “end – State Theory” karena uraian singkat
dari kondisi manusia setelah negara-negara benar-benar hilang. Teori sejarah memberikan
deskripsi dan penjelasan dari hilangnya negara Marxisadalah tipe teori sejarah yang mana
tidak memberikan banyak perhatian pada akhir sebuah negara. Liberalisme atau bahkan
libertarianisme menyetujui negara dalam bentuknya yang lemah, sehingga mereka tidak
perlu berhadapan dengan problem ini (end – State).
Anarkisme memuat jawaban untuk Thomas Hobbes yang menganjurkan dalam
bukunya “Leviathan” bahwa tanpa kedaulatan kekuasaan dan Hukum, didukung dengan
paksaan, masyarakat akan kembali ke bentuk negara natural. Menurut Hobbes kondisi ini
merupakan salah satu hal buruk yang mungkin saja terjadi. Ini mengikuti bahwa macam-
macam bentuk kedaulatan dan hukumnya adalah lebih baik daripada kondisi natural.
Dalam pikirannya Hobbes mensyaratkan bahwa manusia adalah mahluk yang egois yang
selalu ingin bersaing antara satu sama lainnya. Sekali ini dimulai maka, tidak ada jalan
lain untuk menghentikannya. Sampai tatanan masyarakat runtuh kembali ke kekacauan
sosial. Penganut paham anarkis tidak akan menyebut kejadian tadi sebagai sebuah anarki
karena anarki mempunyai arti positif bagi mereka. Para penganut paham anarki
mengatakan bahwa tidak ada alasan untuk percaya pada Hobbes dan rakyat dapat hidup
bersama tanpa pemerintahan yang berkuasa.
Figur yang berpengaruh lainnya adalah Bernard mandeville, yang suka menyindir
lewat argumentasinya “the fable of the bees” (dongeng dari seekor lebah) di tahun 1714
yang isinya “sifat buruk pribadi adalah manfaat publik”. Sesuai dengan kata mandeville,
negara apa saja yang menuntut warga negaranya menjadi berbudi luhur termasuk dalam
kondisi dan syarat-syarat suboptimal. tidak ada masyarakat yang mungkin menjadi
bahagia dan makmur jikalau anggotanya taat kepada hukum, masyarakat yang baik.
Warisan Mandeville adalah asas yang berlawanan, bagaimanapun, karena warganegara
diperlukan ganas/jahat/hebat dalam rangka memaksimalkan tatanan publik/umum yang
baik. Kesimpulannya bahwa tidak ada organisasi sosial yang bisa memuaskan permintaan
dari kebaikan dan keadilan. Mandeville melihat ini sulit untuk di terjemahkan.
Teori William Godwin di tahun 1793 tentang keadilan Politis adalah jelas
merupakan sebuah khayalan. Dia percaya akan prinsip yang biasanya di sebut
“perfectibility of man” (kesempurnaan seseorang), sesuai dengan sejarah kekuasan
sebuah institusi dapat mengacaukan kemajuan manusia. Godwin mengatakan bahwa
alasan manusia yang pada akhirnya itu adalah mahakuasa (sempurna secara individu) dan
dimana kebenaran dengan jelas terlihat pada akhirnya akan terungkap/berlaku. Tiga
metode dari reformasi adalah literatur, pendidikan dan keadilan politis. Ia mengutuk
semua jenis kekerasan. Penerangan intelektual akan berhasil jikalau seorang reformis
tahu cara untuk mempromosikannya. Untuk ini rakyat perlu untuk memeluk tugas-tugas
kewarganegaraan, sekalipun artinya bahwa mereka harus menolak dokrin kebenaran/
dokrin yang kuat, Artinya bahwa : “satu kekuasaan penuh dan lengkap baik melakukan
satu hal ataupun menghilangkannya, itu bisa dilakukan tanpa harus mengandalkan kepada
sebuah versi yang meyakinkan ataupun mencelanya”.
Emma Goldman (1869-1940) adalah penganut paham anarki amerika yang
terkenal. Definisinya di dalam 1911 eseinya “anarkisme, apa sebetulnya artinya” adalah
sebagai berikut : “anarkisme : sebuah filosofi tentang perintah sosial baru berbasis pada
kebebasan tak terlarang oleh hukum buatan tangan manusia; teori bahwa semua bentuk
dari pemerintahan berdasarkan kekerasan, dan oleh karena itu “salah”, serta
“berbahaya”, demikian pula tak perlu”. dia berdebat/berpendapat melawan semua
otoritas, mulai tentang “Tuhan” dan “keadaan Negara”, dengan cara berpesan, ironisnya,
“berulang-ulang, orang tidak ada apa-apanya (individu) , orang-orang berwenang adalah
segalanya”. Dia juga berdebat/berpendapat melawan/lain orang yang berpendapat bahwa
hukum diperlukan untuk mengendalikan kejahatan : “kejahatan adalah tidak ada lain
kecuali energi yang salah arah. asalkan setiap institusi dewasa ini, ekonomi, politik, sosial
dan moral, berkomplot untuk mengarahkan ke jurusan energi manusia yang salah ke
dalam saluran yang salah…… kejahatan menjadi sesuatu yang tak bisa diacuhkan, dan
hukum serta statuta (sejarah undang-undang) secara otomatis bisa meningkat, tetapi tidak
pernah cocok dengan, kejahatan”. ini adalah anarchistic tipikal. goldman juga tidak
percaya pada hak untuk memiliki properti (barang pribadi). hal ini adalah satu tema
central sama dengan Pierre.J.Proudhon, yang membandingkan properti (barang pribadi)
dengan perampokan.
Dalam filosofi ilmu pengetahuan alam Paul Fayerabend telah membuat gagasan
untuk anarkisme sebagi metode penyelesaian masalah modern di tahun 1988 melalui
buku nya Against Method (melawan metode). Merujuk pada argumentasinya, bahwa
semuanya berpatokan pada ilmu pengetahuan, dalam perasaan/asas bahwa tidak ada
aturan yang mungkin membedakan perihal baik dari bukti yang buruk. Dia mengunakan
keberhasilan Galileo sebagai contoh. bukti-bukti galileo untuk pandangan baru
astronomi yang heliosentris adalah sesungguhnya lebih lemah dibandingkan yang
ditawarkan oleh saingannya, yang mendukung pandangan geometris. Namun demikian
dia menggunakan retorika dan bujukan untuk mendukung pandangannya. Tentu saja
setelah itu teorinya dapat dibuktikan. Menurut Fayerabend, pelajaran untuk mempelajari
bahwa sistem dari ilmu pengetahuan dan aturan resmi tentang pembuktian adalah sesuatu
yang tak dapat dibenarkan/tidak memiliki rasa adil. Para ilmuwan menggunakan data
apapun yang bisa menjadi bukti, bahkan mimpi mereka dan nubuatan. ilmu pengetahuan
alami adalah satu perusahaan anarchistik. penalaran sama mungkin saja diterapkan untuk
penelitian hukum juga.