Anda di halaman 1dari 3

FENOMENA

Oleh:

Muhammad Akbar Hidayatullah

010217A024

S1 KEPERAWATAN TRANSFER FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS NGUDI WALUYO

2018

BAB I

PENDAHULUAN
fenomena

Menurut penelitian Trinika (tahun 2014). Tentang “pengaruh penggunaan gadget

terhadap perkembangan psikososial anak usia prasekolah (3-6 tahun) di tk swasta

kristen immanuel tahun ajaran 2014-2015”. Karakteristik tingkat pendidikan orang tua

didominasi oleh pendidikaan sarjana yang berjumlah 53 orang dengan persentase

55,8%, pekerjaan didominasi oleh ibu rumah tangga yang berjumlah 36 orang dengan

persentase 37,9% dan jenis kelamin anak didominasi oleh laki-laki yang berjumlah 49

orang dengan persentase 51,6%. Paparan penggunaan gadget pada siswa di TK Kristen

Immanuel dikategorikan rendah dengan persentase 57,9%. Tingkat perkembangan

psikososial siswa di TK Kristen Immanuel yang berusia (3-6 tahun) dikategorikan baik

dengan persentase 58,9%. Ada pengaruh antara penggunaan gadget terhadap

perkembangan psikososial anak usia prasekolah (3-6 tahun). Hasil ini sesuai dengan

uji chi squaredimana nilai signifikasi yang didapat sebesar 0,005. Oleh sebab itu,

karena nilai p < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh antara penggunaan

gadget terhadap perkembangan psikososial anak usia prasekolah (3-6 tahun) di TK

Kristen Immanuel tahun ajaran 2014-2015.

Menurut mulyani (tahun 2015). Tentang “tumbuh kembang anak usia dini di

era teknologi dan komunikasi”. Kini alat teknologi dan komunikasi menjadi

lingkungan yang dekat dengan anak-anak. Sejauh ini, selain memberikan nilai ke

manfaatan, alat komunikasi dan informasi juga ternyata dapat menimbulkan dampak

yang mengganggu atau tidak baik untuk tumbuh kembang anak. Anak usia dini yang

sedang mengalami tumbuh kembang yang pesat bias saja menerima pengaruh buruk

yang mengganggu tumbuh kembangnya akibat alat teknologi dan komunikasi.


Fenomena

Menurut yusriana (tahun 2018) Faktor risiko lainnya yang dapat menyebabkan

lansia mengalami gangguan tidur, seperti lingkungan yang tidak nyaman (kebersihan

dan kebisingan), kebiasaan minum kopi, beban fikiran yang banyak (stres) bahkan

lama penyakit yang diderita. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan rerata

kualitas tidur lansia meningkat setelah diberikan intervensi kombinasi teknik relaksasi

progresif dan tidur bersih. yaitu menurun sebesar 6,21 kali. Hal ini dapat diartikan

terjadi peningkatan secara signifikan (p< 0,000). Rata-rata kualitas tidur lansia

sebelum diberikan intervensi yaitu 11,82 dan menurun menjadi 5,61. Artinya

berdasarkan instrumen yang digunakan untuk penilaian kualitas tidur menyatakan

bahwa jika didapatkan hasil evaluasi lebih dari 5 itu kualitas tidur seseorang dikatakan

buruk, sedangkan jika didapatkan nilai evaluasinya 5 maka dikatakan kualitas tidur

seseorang itu bagus. Hasil penelitian ini memberikan perspektif bahwa intervensi

teknik relaksasi progresif dan tidur sehat dapat meningkatkan kualitas tidur lansia.

Penilaian kualitas pada lansia dapat menjadi deteksi dini untuk melihat pemenuhan

kebutuhan dasar lansia. Pemenuhan kebutuhan dasaryang kurang baik maka dapat

menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien lansia.