Anda di halaman 1dari 18

SATE - Trolley

Disusun Oleh :

KELOMPOK 6

Zulkifli 5215150203

Fachruddin 5215151991

Nurhaliza 5215152852

Sinta Seftiyani 5215153359

Bella Tiurma P. 5215154190

Paper ini disusun untuk memenuhi tugas Rekayasa Sistem

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRONIKA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
NOVEMBER 2017
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Segala puji dan syukur kita haturkan bagi Allah SWT yang telah menganugerahkan kepada
kita berbagai nikmat yang dicurahkan-Nya melalui rahmat-Nya sehingga kami, kelompok enam
dapat menyelesaikan membuatan tugas mata kuliah ‘Rekayasa Sistem’ yang berjudul “SATE-
trolley”.

Laporan ini merupakan salah satu tugas kelompok mata kuliah Rekayasa Sistem di Program
Studi S1 Pendidikan Teknik Elektronika Universitas Negeri Jakarta. Laporan ini disusun dengan
tujuan untuk memberikan informasi seputar design thinking, serta sebuah rekayasa sistem
keranjang belanja dengan segala permasalahan dan solusi yang kami coba berikan.

Rekayasa yang kami rancang ini masih jauh dari kata sempurna, bahkan malah bisa
dikatakan kurang. walaupun demikian, kami berharap laporan ini dapat mencapai tujuannya dan
tidak berakhir sia-sia. Akhirnya, mohon maaf apabila terjadi kesalahan penulisan (pengetikan).
Kesalahan datangnya dari saya dan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Jakarta, 28 November 2017

Perancang (Kelompok 6)

SATE trolley 2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .....................................................................................................................2

DAFTAR ISI....................................................................................................................................3

BAB 1. PENDAHULUAN ..............................................................................................................4

1.1. Latar Belakang ....................................................................................................................4


1.2. Perumusan Masalah ............................................................................................................5
1.3. Tujuan .................................................................................................................................5

BAB 2. PEMBAHASAN .................................................................................................................6

2.1 Pengertian Design Thinking .................................................................................................6


2.2 Penjelasan Umum dan Sejarah Shopping Cart atau Troli Belanja .....................................8
2.3 Perancangan Troli Belanja atau Shopping Cart .................................................................12
2.4 Design Troli Belanja atau Shopping Cart ..........................................................................15

BAB 3. PENUTUP ........................................................................................................................17

3.1 Kesimpulan ........................................................................................................................17


3.2 Saran ..................................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................................18

SATE trolley 3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Seperti yang kita ketahui bahwa dunia kita saat ini semakin kompleks dan
semakin sulit untuk diprediksi. Sehingga dapat dikatakan tingkat perubahan saat ini bisa
dibilang lebih cepat daripada yang sebelumnya. Beberapa contoh yang tingkat
perubahannya dinilai semakin cepat yaitu teknologi, ekonomi, dan regulasi. Perubahan –
perubahan tersebut sangat memberikan pengaruh kepada semua orang khususnya bagi
para pengusaha atau entrepreneur. Oleh karena itu, dalam menanggapi perubahan yang
terus menerus dan memberikan efek kepada pada pertumbuhan perusahaan dan bisnis
beberapa pengusaha atau entreprenuer telah beralih ke “Design Thinking” sebagai cara
untuk membantu mereka “memahami” masalah, gangguan, perubahan dan
mempertahankan daya saing. Mungkin banyak orang dan pengusaha atau entrepreneur
yang belum mengetahui apa itu design thinking.

Pada era globalisasi seperti sekarang ini masyarakat semakin konsumtif. Terutama
pada bidang perbelanjaan barang untuk kebutuhan harian. Biasanya masyarakat
berbelanja kebutuhan harian ke pasar tradisional atau swalayan. Pada saat berbelanja
tentu saja membutuhkan alat untuk bisa membawa barang belanjaaan. Alat tersebut
adalah keranjang belanja yang mempunyai dua bentuk yaitu dijinjing dan didorong.
Biasanya keranjang yang didorong dinamakan Troli. Biasanya keranjang jenis troli ini
terdapat di berbagai supermarket atau took swalayan besar yang memungkinkan para
konsumen untuk berbelanja dalam jumlah besar.

Kita memang tidak dapat melepaskan diri dari perkembangan zaman, salah satu
dampaknya adalah keberadaan swalayan yang menggantikan pasar tradisional. Dan
perkembangan swalayan membawa serta semua pelengkapan pendukung, salah satunya
adalah troli belanja. Memudahkan berbelanja sebagai perlengkapan belanja, maka
keberadaan troli belanja benar-benar memudahkan pembeli untuk berbelanja sesuai
kebutuhan.

SATE trolley 4
Troli merupakan kereta barang yang dapat kita gunakan untuk meletakan barang
belanjaan agar tidak terbebani untuk membawa barang belanjaan kemana-mana. Dengan
demikian, maka kita akan nyaman berbelanja tanpa memikirkan siapa yang mau
mendorong troli yang berisi barang belanjaan yang banyak dan berat.

Mereka tidak perlu repot- repot dibebani barang belanjaan sebab barang - barang
tersebut dapat dimuat dalam troli belanja. Kondis i ini merupakan salah satu alasan
banyak orang belanja di swalayan. Mereka butuh kenyamanan. Apalagi jika
memperhatikan kondisi swalayan yang resik dan apik, menjadikan mereka semakin
kerasan di swalayan.

1.2.Perumusan Masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan Design Thinking ?


2. Bagaimanakah sejarah dan perkembangan Troli?
3. Bagaimanakah cara membuat inovasi baru terhadap Troli?

1.3.Tujuan

1. Ingin dapat mengetahui dan memahami arti dari Design Thinking


2. Ingin mengetahui perkembangan Troli
3. Ingin dapat membuat inovasi terhadap Troli

SATE trolley 5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Design Thinking

Pada saat mendengar kata – kata design thinking yang ada didalam benak atau
dipikiran orang-orang adalah design thinking berhubungan dengan seni, namun design
thinking yang akan dibahas dalam artikel ini tidak berhubungan dengan seni namun
berfokus pada pemecahan masalah. Dalam istilah sederhana, design thinking adalah
pendekatan eksplorasi untuk pemecahan masalah yang mencakup keseimbangan yang
baik antara analitis dan kreatif, selain itu design thinking merupakan analisis yang
berfokus pada bentuk, hubungan, perilaku, dan interaksi manusia yang nyata dan emosi.
Design thinking digunakan untuk pemecahan masalah yang terjadi didalam perusahaan,
selain itu design thinking juga digunakan untuk menmbuat sebuah ide baru dan biasanya
jika perusahaan yang sudah berjalan menerapkan design thinking mereka dapat membuka
nilai tersembunyi dalam produk yang ada, layanan, teknologi, dan aset–aset yang ada.
Dengan demikian mereka dapat menghidupkan kembali bisnis tanpa perlu menciptakan
kembali.

Istilah ini ternyata memiliki arti dalam hubungannya dengan menggunakan


kreativitas kita, sehingga kita bisa memiliki kemampuan untuk menciptakan sesuatu.
Dalam setiap individu kita memiliki kreativitas dalam diri masing – masing. Jadi kita
tidak perlu takut untuk mengutarakan apa yang kita pikirkan, pendapat, ide, masukan,
opini, kreasi, dan lainnya. Tidak perlu berpikir macam – macam, jangan takut salah,
karena itu bisa membatasi ruang lingkup kreativitas kita.

Design thinking adalah sebuah metode berfikir yang mengadopsi cara seorang
designer memikirkan dan mengerjakan proses kreatifnya dalam mendesign sesuatu.
Perbedaan yang menonjol dari proses berfikirnya seorang designer dibanding proses
berfikir pada umunya adalah bahwa dalam proses kreatifnya, designer tidak memulai
pemikirannya dengan pendekatan permasalahanya apa (problem -centered approach)
melainkan memulai proses kreatifnya melalui empathy terhadap kebutuhan manusia.

SATE trolley 6
Design thinking tidak mengajarkan mencari akar permasalahan dan menemukan
solusinya, namun secara unik designer dengan empathinya akan mencari kebutuhan
mendasar manusia dan sama sekali tidak perlu tahu permasalahannya . Oleh karena itu
dalam design thinking seorang pemikir design akan merumuskan kendala yang akan
dihadapi dalam proses kreatif dan inovatifnya secara lebih hati hati.

Dengan begitu jelas bahwa design thinking tidak terfokus pada permasalahan, tapi
mengarahkan segenap kemampuan pada upaya mencari solusi agar kehidupan manusia
lebih baik, selain itu design thinking juga tidak meributkan bagaimana mencari solusi
atas sebuah masalah, tapi mengutamakan tindakan nyata yang cepat untuk mendapatkan
solusi bagaimana membuat sejahtera kehidupan manusia. Dalam bekerja pemikir design
bukan saja melibatkan pemikiran tapi juga analisa dan bahkan khayalan untuk mencapai
tujuannya.

Karena design thinking tidak terfokus pada permasalaham dam kelemahan maka,
proses manajerial yang didasarkan pada design thinking ini akan terlihat lebih fleksibel
gerak langkahnya. Fleksibilitas berfikir design ini disebabkan karakter karakter positif
yang menyertai gaya manajerial ini seperti, pandangan yang lebih obyektif, ketelitian
dalam detail, kemampuannya menampung pertanyaan yang paling menggelikan
sekalipun, keluasannya dalm menjembatani ide paling konyol sekalipun, keberanian
ambil resiko dan kesempatan yang luas akan munculnya ide ide baru yang brilian. Semua
hal ini bisa muncul pada pemikiran design karena gaya pemikiran ini tidak terfokus pada
masalah tapi terfokus pada upaya mencari cara mensejahterakan manusia. Jadi pemikiran
pemikiran positiflah yang mendominasi prosesnya dan bukan ketakutan seperti saat
pikiran terpusat pada permasalahan.

Tentu saja, sebagai sebuah metode berfikir, design thinking dalam berkreasi dan
inovasi tidaklah tanpa batasan. Karena proses berfikir kreatif yang tidak ada rel dan
batasannya akan cenderung terlalu tinggi awan dan tidak lagu menginjak bumi sehingga
tidak realistis dan tidak bisa diwujudkan. Pada paper ini tim penyusun akan mencoba
untuk mendesain sebuah troli belanja.

SATE trolley 7
2.2 Penjelasan Umum dan Sejarah Shopping Cart atau Troli Belanja

Saat ini sudah menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia bahkan dunia untuk
berbelanja di Supermarket atau toko swalayan besar. Biasanya toko-toko atau
supermarket-supermarket tersebut menyediakan troli yang bisa digunakan para pembeli
barang dagangannya. Penggunaan troli untuk perbelanjaan, selain praktis juga
memudahkan dan meringankan dalam membawa barang belanjaan dalam jumlah banyak.
Namun pernahkah terpikir, Bagaimanakah awal mula adanya troli? Siapakah yang
mempeloporinya? Troli merupakan satu penemuan yang mewakili, betapa jauh teknologi
telah berkembang dalam sepuluh dekade terakhir.

2.2.1 Awal Mula Troli Belanja atau Shopping Cart

Suatu ketika dibelahan bumi Amerika Serikat, orang-orang yang sedang


berbelanja di Supermarket mengalami kesulitan dalam membawa barang belanjaan
mereka. Awalnya tempat untuk menampung belanja saat itu adalah keranjang jinjing,
yang sekarang juga masih banyak digunakan.

Hingga seseorang mempunyai ide yang revolusioner pada masa itu. Yaitu
menyediakan keranjang belanja yang lebih besar diatas roda, agar para pelanggannya
dapat berbelanja dengan santai dan nyaman. Ialah Sylvan Nathan Goldman, pria yang
lahir pada 15 November 1898. Merupakan pemilik sebuah toko grosir makanan Standart
Food Market di Oklahoma, Amerika Serikat. Suatu hari ia melihat para pelanggannya
saat berbelanja. Keranjang jinjing tidak lagi menampung barang belanjaan yang banyak
dan berat.

SATE trolley 8
Karenanya ia memperoleh ide revolusioner untuk menyediakan keranjang
belanja yang memiliki roda. Seperti halnya sebuah sepeda yang mempermudah aktifitas
berpindah seseorang. Begitupula dengan keranjang belanja beroda yang akan
memudahkn pelanggannya mengangkut barang belanjaannya. Ide itu dianggapnya
sebuah keberuntungan. Bahkan penemuan itu disebut publik sebagai perkembanagan
paling besar dalam sejarah ritel. Dan benar saja bahwa penemuan keranjang belanja
beroda yang kemudian disebut dengan troli itu mendorong perkembangan ritel di
Amerika Serikat.

2.2.2 Perkembangan Troli Belanja atau Shopping Cart

Sebelum sejarah terciptanya troli ada, Goldman melatih para karyawannya untuk
memperhatikan setiap pelanggan yang isi keranjang belanjaannya penuh, sehingga tidak
mampu mengendalikan keranjangnya. Jika hal itu terjadi para karyawan harus sigap
untuk mengganti dengan keranjang lain. Nyatanya hal itu tidak berjalan terlalu efektif.

Lalu ini mencoba untuk mengotak atik rak belanja hingga berbentuk zig-zag .
Tujuannya untuk memudahkan pelanggan mendorong keranjang trolinya. Ironis hal itu
juga tidak terlalu berhasil. Hingga ide troli itupun muncul. Namun troli belanja yang
begitu memudahkan dan seharusnya menyenangkan, ternyata tidak serta merta dapat
diterima masyarakat. Siapa yang menyangka bahwa sejarah mencatat ide brilliant troli
tersebut tidak dapat berjalan mulus seperti yang diharapkan.

SATE trolley 9
Pada masa itu para pria masih memiliki kejantanan dan asumsi sebagai makhluk
yang kuat. Maka ketika menggunakan troli mereka seperti perempuan yang lemah dan
feminim. Tentu saja hal itu menurunkan tingkat kewibawaan serta keperkasaan mereka
sebagai makhluk kuat. Sedangkan para wanita sendiri seolah sedang mendorong bayi
dalam stroler (kereta dorong bayi). Karena menurut mereka mendorong stroler
menimbulkan rasa ketidak nyamanan dan menurunkan rasa percaya diri.

Perasaan-perasaan seperti itulah yang akhirnya menimbulkan keengganan bagi


para pria maupun wanita untuk membawa troli lagi saat berbelanja. Melihat hal itu ,
Goldman tidak putus asa. Iapun memasang iklan dikoran agar troli kembali diminati. “Ini
temuan baru dan sensasional, tidak perlu lagi keranjang jinjing”. Begitulah Bahasa
Indonesia dari iklan tersebut.

Sayangnya iklan tidak berjalan efektif. Para ibu rumah tangga yang merupakan
kalangan paling dominan dalam hal berbelanja tetap tidak mau menggunakan troli saat
mereka di Supermarket. Alasannya mereka telah mendorong stroler bayi dalam hidup
mereka, dan itu sudah cukup. Mereka tidak ingin lagi merasakan mendorong kereta bayi.
Pernyataan tersebut disampaikan Goldman dalam wawancaranya dengan salah satu media
publikasi pada masa itu tentang penemuan troli belanjanya.

SATE trolley 10
Kisahnya, setelah Goldman melihat kerepotan para pelanggannya saat berbelanja
karena barang bawaan yang banyak dan berat. Ia tidak sengaja memperhatikan kursi lipat
di kantornya. Hingga akhirnya melahirkan sebuah ide. Bagaimana kalau ia membuat
keranjang belanja yang menyerupai kursi lipat tersebut. Goldman pun mengotak atik
keranjang belanjanya hingga menjadi desain yang ia sebut sebagai keranjang belanja
lipat. Ia desain seperti kursi lipat dengan tujuan, jika tidak digunakan bisa disimpan
dengan praktis dan ringkas.

Namun Ia berfikir lagi, Bagaimana caranya agar pelanggannya bisa bergerak


dengan cepat membawa belanjaan yang begitu numpuk. Akhirnya dirinya memasang
roda kecil di keempat sisi keranjang untuk mempermudah membawa barang belanjaan.

Tak lama Iapun mencari Fred Young, ahli mekanik kepercayaannya . Mereka pun
menghabiskan waktu berjam-jam untuk membahas desain terbaik dari ide Goldman
tersebut. Awalnya bahan yang digunakan untuk membuat troli adalah kayu. Namun gagal
karena tidak efektif jika barang belanjaan sangat banyak dan berat. Kayu bisa retak
bahkan patah. Akhirnya mereka memeutuskan untuk menggunakan bahan besi. Lalu
Goldman membuat troli dengan menggunakan dari bahan bingkai logam. Kemudian
membuat kawat sebagai penopang, sehingga troli ini bisa memuat dua keranjang barang.

Karena konsepnya dilipat, ketika dibuka panjangnya 24 inch. luas 18 inch, dan
tinggi 36 inch. Demi menambah kemudahan dan dan kepuasan pelanggan, ia pun
meminta bantuan Insinyur teknik untuk membuat keranjang yang lebih modern. Hingga
tahun 1947, pembuatan troli ini dibuat secara massal. Inilah yang menjadi titik awal
adanya troli supermarket seperti sekarang ini. Penemuan itupun ia ajukan ke kantor hak
paten.

Dalam masa modern sekarang ini kita tidak hanya bisa melihat troli supermarket,
dalam perkembangannya troli juga digunakan untuk troli gudang, troli bandara, transfer
troli, troli barang, troli rumah sakit, troli restaurant, dan masih banyak lagi, sesuai dengan
kapasitas dan kegunaannya.

SATE trolley 11
2.3 Perancangan Troli Belanja atau Shopping Cart

2.3.1 Permasalahan Yang Ada

1. Pada saat berbelanja biasanya ada kalanya seseorang merasakan lelah ketika
berkeliling mencari barang – barang yang diinginkan. Jarang ada supermarket
yang memfasilitasi tempat duduk atau tempat istirahat bagi para pengunjung
yang kelelahan.
2. Pada troli belanja atau Shopping Cart memiliki tinggi yang standar orang
dewasa pada umumnya, sehingga orang yang memiliki tinggi tidak standar
(dibawah tinggi standar atau diatas tinggi standar orang dewasa pada
umumnya) akan merasa tidak nyaman saat menggunakan troli belanja.
3. Ketika kita berbelanja di supermarket yang biasa kita kunjungi biasanya kita
akan hafal dengan letak – letak setiap bagian barang yang ada di tempat itu.
Tetapi ketika kita mengunjungi supermarket yang baru pertama kali kita
kunjungi, kita akan kesulitan mencari barang yang kita inginkan.
4. Kapasitas berbelanja seseorang dengan yang lain tentu memiliki jumlah yang
berbeda – beda. Untuk itu dengan troli dengan ukuran standar yang biasa
terdapat di supermarket memiliki permasalahan ketika seseorang berbelanja
dengan kapasitas yang banyak atau melebihi kapasitas troli tersebut.

SATE trolley 12
5. Pada saat pembayaran berlangsung sering kali terjadi antrian troli yang
panjang karena ada beberapa orang yang berbelanja dengan kapasitas yang
banyak sehingga proses pembayaran menjadi lama dan antrian di kasirpun
menjadi panjang.

2.3.2 Solusi Yang Di Design

2.3.2.1 Fitur Yang Terdapat di Troli Belanja atau Shopping Cart

Dalam melakukan design thinking keranjang belanja kami


membagi beberapa fitur yang kami tambahkan pada troli belanja atau
shopping cart, yaitu :

o Aki
o Skuter
o Suspensi hidrolik
o Smartphone (Tab)
o GPS
o Sensor Gerak (sensor berat pada skuter, dan sensor penghalang di
bagian depan troli)
o Bluetooth + kode pada troli
o Scanner + Printer

2.3.2.2 Terapan dan Fungsionalitas Fitur

1. Aki

Sebagai sumber listrik pada troli. Terletak di bawah troli atau di


bagian bawah skuter. Memungkinkan pengguna troli dapat
menggunakan tablet informasi yang disediakan tanpa perlu merasa
ketakutan akan tablet yang tiba-tiba non-aktif di tengah perjalanan.
Aki ini juga berfungsi mengalirkan kebutuhan energi listrik yang
diperlukan perangkat lain yang disediakan pada troli.

SATE trolley 13
2. Skuter

Sebagai pijakan seseorang yang ingin berbelanja. Jika ingin


menggunakannya, kita dapat memilih opsi mengaktifkan skuter pada
tablet informasi yang disediakan. Jika ingin menyimpannya kembali
(setelah selesai digunakan), kita dapat menonaktifkan opsi ini.

3. Suspensi hidrolik

Untuk menyesuaikan tinggi rendahnya seseorang yang ingin memakai


troli atau shopping cart tersebut dengan nyaman. Terdapat supensi
hidrolik pada tangkai pegangan skuter. Pengguna troli dapat mengatur
ketinggian atau kerendahan tangkai pegangan sekuter sesuai dengan
kenyamannya.

4. Tablet informasi

Sebagai fitur di troli atau shopping cart guna mencari barang – barang
yang diperlukan. Terletak di dekat pegangan pada troli atau shopping
cart. Memiliki berbagai macam opsi yang dapat memudahkan
pengguna troli untuk menggunakan perangkat lain yang disediakan.
Tablet ini akan terhubung dengan komputer kasir dan komputer utama
di supermarket tersebut demi mempermudah pengguna troli dan
pengembang supermarket.

5. GPS

Sebagai perangkat yang dapat mencari letak barang yang diinginkan.


Terletak (merupakan salah satu fitur) di tablet informasi.
Memudahkan pengguna troli dalam mencari barang yang lokasinya
tidak diketahui, tanpa perlu merasa kesulitan untuk berkeliling
supermarket atau merasa enggan bertanya kepada pekerja supermarket
yang ada.

SATE trolley 14
6. Sensor Gerak (sensor berat pada skuter, dan sensor penghalang di
bagian depan troli)

Sebagai pendeteksi berat (sensor berat) untuk dapat menjalankan


skuter troli secara otomatis, terdapat sensor penghalang di bagian
depan troli yang berfungsi menghentikan troli secara otomatis jika di
depan troli tersebut terdapat suatu penghalang.

7. Bluetooth + kode pada troli

Bluetooth berfungsi sebagai konektor dengan troli lain ketika


seseorang berbelanja dengan kapasitas yang berlebih. Terletak di
(merupakan salah satu fitur) tablet informasi. Kode dari tiap troli
berbeda agak tidak tertukar satu sama lain.

8. Scanner + Printer

Sebagai pendeteksi harga dari barang yang aka dibeli dan pencetak
kode pembayaran.

2.4 Design Troli Belanja atau Shopping Cart

2.4.1 Sebelum Design Thinking

SATE trolley 15
2.4.2 Sesudah Design Thinking

SATE trolley 16
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
 Design Thinking mengkolaborasikan proses-proses sistematis yang berpusat pada
manusia sebagai penggunanya melalui proses terencana sehingga menghasilkan
perubahan perilaku dan kondisi yangsesuai harapan. Terdapat empat pilas dalam
Design Thinking, yakni pilar keseimbangan, kerangka berpikir, penggunaan
alat/toolkits dan pola pendekatan (Glinski,2012).
 Dengan design thinking kita bisa meramalkan dan memvisualisakan masadepan lewat
inovasi. Dengan demikian organisasi ataupun sebuah sekolah mampu menentukan
strategi pengembangan dimasa mendatang bukan sekedar bisa menutup kekurangan
dimasa kini seperti yang dianjurkan teori kendala.

3.2 Saran
 Dengan adanya inovasi design thinking, diharapkan mampu menciptakan pasar pasar
baru dari produk produk yang baru juga dan sebuah sekolah mamapu menghasilkan
best practices pendidikan dan pengajaran yang terbarukan setiap saat.
 Untuk tim penulis, disarankan untuk terus meningkatkan pengetahuannya seputar
design thinking agar di masa mendatang kemampuan dalam design thinking lebih
meningkat.
 Untuk para pembaca paper ini, disarankan untuk mengkaji lebih lanjut dan lebih
dalam lagi mengenai design thinking. Karena apa yang dibuat tim penyusun belum
tentu sempurna. Diharapkan suatu saat nanti aka nada yang dapat
menyempurnakannya.

SATE trolley 17
DAFTAR PUSTAKA

 Dewi, S.Kom., M.M, Apakah Design Thinking itu?


https://sbm.binus.ac.id/2016/12/31/apakah-design-thinking-itu-bag-1/ diakses tanggal 28
November 2017 pukul 04.59
 Bayu Amengku Praja, Apa itu Design Thinking
https://bayuamengkupraja.wordpress.com/2011/03/27/apa-itu-design-thinking/ diakses
tanggal 28 November 2017 pukul 04.59
 http://javarakminimarket.com/wp-content/uploads/2017/11/sejarah-terciptanya-troli.jpg
diakses tanggal 27 November 2017 pukul 17.23
 http://javarakminimarket.com/sejarah-terciptanya-troli/ diakses tanggal 27 November
2017 pukul 17.23
 http://javarakminimarket.com/sejarah-terciptanya-troli/sejarah-terciptanya-troli-2/ diakses
tanggal 27 November 2017 pukul 17.23
 Mr. R. Hidayat, Design thinking: Langkah kreatif merubah paradigm manajemen
konstrain menjadi daya inovasi bagi organisasi sekolah. 2012.
http://satyawiyatama.blogspot.co.id/2012/04/design-thinking-langkah-kreatif-
merubah.html diakses tanggal 28 November pukul 06.01

SATE trolley 18