Anda di halaman 1dari 61

Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

INJEKSI
(renewed by Suryani)
(Revised by: Cecil)

Keterangan revisi : untuk yang di blok kuning belum direvisi

I. PENDAHULUAN
- Definisi dan Penggolongan
Injeksi volume kecil adalah injeksi yang dikemas dalam wadah bertanda volume 100 ml atau
kurang. (FI IV, hal 10)
Definisi sediaan steril untuk penggunaan parenteral pada umumnya tidak berlaku untuk
sediaan biologik, karena sifat khusus dan persyaratan perizinan. (FI IV, hal 10)

Sediaan steril untuk kegunaan parenteral digolongkan menjadi 5 jenis yang berbeda yaitu (FI IV,
hal 9-10) :
1. INJEKSI adalah obat atau larutan atau emulsi yang digunakan untuk injeksi
2. STERIL adalah sediaan padat, kering, atau cairan pekat tidak mengandung dapar,
pengencer, atau bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut
yang sesuai memenuhi persyaratan injeksi, dan dapat dibedakan dari nama bentuknya.
3. SUSPENSI STERIL adalah sediaan berupa suspensi serbuk dalam medium cair yang sesuai
dan tidak disuntikkan secara iv atau ke dalam saluran spinal, dan dapat dibedakan dari nama
bentuknya.
4. STERIL UNTUK SUSPENSI adalah sediaan padat kering dengan bahan pembawa yang
sesuai membentuk larutan yang memenuhi semua persyaratan untuk suspensi steril setelah
penambahan bahan pembawa yang sesuai, dibedakan dengan nama dan bentuknya.
5. LARUTAN INTRAVENA VOLUME BESAR adalah injeksi dosis tunggal untuk intravena
dan dikemas dalam wadah bertanda volume lebih dari 100 mL.
6. INJEKSI VOLUME KECIL adalah inieksi yang dikemas dalam wadah bertanda volume
100 ml atau kurang.
*Definisi sediaan steril untuk penggunaan parenteral pada umumnya tidak berlaku untuk sediaan
biologik, karena sifat khusus dan persyaratan perizinan

B. Keuntungan dan Kerugian Sediaan Injeksi


1. Encyclopedia of Pharmaceutical Technology (2007) p 1002
2. Ansel’s Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery Systems Edisi ke-9, 2011 p 433
3. Sediaan Farmasi Steril: Goeswin Agus (2009)*

Keuntungan
 Menghasilkan kerja obat yang cepat dibandingkan cara pemberian lain dan karena absorbsi
obat tidak menjadi masalah (terutama untuk pemberian secara intravena (Ansel’s
Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery Systems Edisi ke-9, 2011 p 433)
 Untuk pasien dengan keadaan gawat seperti cardiac arrest, asma dan syok, pemberian obat
lewat intravena dapat menjadi cara yang menyelamatkan hidup karena penempatan obat
langsung ke sirkulasi darah dan kerja obat yang cepat terjadi. (Goeswin Agus (2009)*)
1
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

 Beberapa obat harus diberikan secara parenteral karena tidak aktif secara terapeutik ketika
diberikan secara oral, misalnya inaktifasi pada saluran gastrointestinal atau first pass
metabolism di hati.
 Baik untuk penderita yang tidak memungkinkan mengkonsumsi oral (tidak sadar atau
muntah). (Encyclopedia of Pharmaceutical Technology (2007) p 1002)
 Pemberian obat secara parenteral dapat juga memberikan efek lokal jika diperlukan, seperti
pada dokter gigi dan anestesiologi.
 Untuk pasien yang membutuhkan cairan eletrolit dan atau nutrisi yang tidak dapat diberikan
secara oral.
 Sesuai untuk obat yang sustained drug delivery system (implan, injeksi depot intramuskular)
 Sesuai untuk memberikan cairan, elektrolit, dan nutrisi (total parenteral nutrition untuk
pasien)(Goeswin 2009, hal 12)
 Dapat digunakan untuk self delivery of drugs (subkutan) (Encyclopedia of Pharmaceutical
Technology (2007) p 1002)
 Untuk injeksi obat yang langsung ke jaringan (targeted drug delivery)
 Menyediakan sistem penghantaran obat yang tepat dengan injeksi intravena atau infus
menggunakan teknik farmakokinetik
 Dapat dilakukan di Rumah Sakit, ambulatory infusion center, maupun home health care

Kerugian
 Produksi sediaan parenteral lebih sulit dan mahal dalam proses produksi karena harus
memenuhi persyaratan kemurnian, keberadaan partikulat, pirogenisitas, serta dibutuhkan alat
dan fasilitas yang khusus. (Encyclopedia of Pharmaceutical Technology (2007) p 1002)
 Berpotensi terjadi infeksi pada daerah injeksi. (Ansel’s Pharmaceutical Dosage Forms and
Drug Delivery Systems Edisi ke-9, 2011 p 433)
 Pemberian secara parenteral berpotensi terjadinya sepsis, trombophlebitis, kelebihan cairan,
dan emboli udara. (Ansel’s Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery Systems Edisi
ke-9, 2011 p 433)
 Memberikan efek psikologis bagi pasien.
 Membutuhkan personil yang terlatih untuk penyiapan, penyimpanan, dan pemberian.
(Goeswin 2009, hal 13)
 Bila obat telah diberikan secara parenteral, sukar sekali untuk dihilangkan atau dikeluarkan
dari sirkulasi sistemik. Hal ini merugikan pada keadaan timbulnya reaksi yang merugikan
karena obat.
 Keberadaan patogen di produk dapat menyebabkan efek yang serius bahkan kematian.
 Karena obat diinjeksikan melalui jaringan, dapat menyebabkan nyeri dan kerusakan jaringan
selama pemberian. (Goeswin 2009, hal 13)
 Risiko luka akibat jarum suntik dan blood-borne pathogens bagi tenaga kesehatan.

Indikasi pemakaian rute parenteral:


(Lachman Parenteral Medication vol. 1, 2nd ed., 1992, 18)
 Untuk memastikan obat sampai ke bagian tubuh atau jaringan yang membutuhkan dengan
konsentrasi yang mencukupi. Meyakinkan penyampaian konsentrasi obat yang mencukupi ke
bagian tubuh/ jaringan sakit.
2
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

 Untuk mencapai parameter farmakologi tertentu yang terkontrol, seperti waktu onset, serum
peak, kecepatan eliminasi obat dari dalam tubuh.
 Untuk pasien yang tidak bisa melakukan self medicate
 Untuk mendapatkan efek biologik yang tidak didapatkan melalui pemakaian oral
 Untuk alternatif bila rute yang diharapkan (oral) tidak tersedia
 Untuk mendapatkan efek lokal, untuk meminimalkan efek toksik sistemik
 Untuk pasien yang tidak sadar, tidak kooperatif, tidak terkontrol
 Untuk pengobatan ketidakseimbangan elektrolit dan cairan untuk supply nutrisi jangka
panjang/pendek
 Untuk mendapatkan efek lokal yang diharapkan

Faktor farmasetikal yang berpengaruh pada pemakaian parenteral:


 Kelarutan obat dan volume injeksi
 Karakteristik pembawa
 pH dan osmolalitas larutan injeksi
 bentuk sediaan (cth: larutan, suspensi, atau rekonstitusi)
 Formulation ingredient (eksipien)

C. Bentuk-Bentuk Sediaan Parenteral


(Codex 12th ed., 1994, 94-97)
1. Larutan Air
Merupakan bentuk yang paling sederhana dan banyak digunakan. Bentuk larutan air dapat
digunakan untuk semua rute pemberian dan bersifat isotonik dengan pH mendekati darah dan
jaringan tubuh yakni 7,4.
2. Suspensi air
Suspensi biasanya diberikan dalam rute intramuskular (IM) dan subkutan (SK). Suspensi
tidak pernah diberikan secara intravena (IV), intraarteri, intraspinal, intrakardiak, atau injeksi
opthalmik. Ukuran partikel suspensi biasanya kecil dan distribusi ukuran partikel harus
dikontrol untuk meyakinkan partikel dapat melewati jarum suntik saat pemberian. Ukuran
partikel tidak boleh membesar dan tidak boleh terjadi caking saat penyimpanan. Zat
pembawa harus memberikan dispersi yang stabil selama penyimpanan dan bisa melewati
jarum suntik saat pemberian.
3. Larutan kering
Untuk sediaan yang larut dalam air, tetapi tidak stabil di air.
4. Larutan minyak
Dibuat bila zat aktif tidak larut air tetapi larut dalam minyak dan diberikan melalui IM.
Larutan minyak menimbulkan efek depo, untuk masalah iritasi dan sensitisasi, suspensi air
lebih dipilih dibanding larutan minyak (Lachman Parenteral Medication vol. 1, 2nd ed.,
1992, 192*).
5. Suspensi Minyak
Injeksi suspensi bisa juga dibuat dalam pembawa minyak, meskipun pembuatannya lebih
jarang dibanding suspensi air. Suspensi minyak dapat menimbulkan efek depo/lepas lambat
pada rute pemberian IM. Aluminium monostearat kadang-kadang dimasukkan dalam

3
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

pembawa minyak untuk menghasilkan gel tiksotropik.


6. Injeksi Minyak
Senyawa yang bersifat lipofilik banyak yang dibuat dalam bentuk injeksi minyak. Sediaan ini
secara umum digunakan dengan rute IM, dan pada keadaan normal tidak digunakan untuk
rute lain. Pembawa yang digunakan diantaranya adalah vegetable oil seperti arachis oil dan
sesame oil, ester seperti etil oleat (untuk beberapa steroid).
7. Emulsi
Zat yang bersifat lipofilik juga dapat dibuat dalam bentuk emulsi o/w. Zat dapat dilarutkan
dalam larutan minyak atau zatnya sendiri sudah berbentuk minyak. Droplet minyak harus
dikontrol dengan hati-hati dan pada saat penyimpanan emulsi tidak akan pecah. Ukuran
droplet idealnya mempunyai diameter 3 μm. Biasanya dalam bentuk infus intravena nutrisi
parenteral.
8. Larutan Koloidal
Biasanya diberikan melalui rute IM.
9. Sistem pelarut campur
Banyak kondisi klinik sangat memerlukan suatu zat dibuat dalam bentuk larutan sejati, agar
siap bercampur dengan larutan infus IV ketika diberikan. Untuk zat yang sukar larut dalam
air, selain digunakan dalam bentuk garam atau diformulasi dalam pH tinggi atau rendah,
beberapa zat dapat pula diformulasi dalam pelarut campur. Kosolvent digunakan untuk
menurunkan polaritas pembawa sehingga zat lebih larut. Pemberian sediaan parenteral
dengan sistem pelarut campur ini biasanya mengiritasi, toksik dan menimbulkan rasa nyeri.
Pemberian intravena perlu dilakukan perlahan untuk mencegah presipitasi zat aktif.
Pemilihan kosolvent terbatas oleh toksisitas.
10. Larutan terkonsentrasi
Berupa konsentrat dan diberikan dengan dilarutkan terlebih dahulu di dalam larutan infus IV.
11. Serbuk untuk injeksi
Beberapa zat yang tidak stabil dalam air, sehingga dibuat dalam bentuk serbuk untuk injeksi.
Sediaan ini bisa berupa serbuk ‘dry filled’ atau serbuk liofilisasi (‘freeze dried’) yang perlu
disterilisasi dengan metode panas kering atau irradiasi gamma.
12. Implant
Biasanya berupa hormon dan diberikan dengan maksud pemberian lambat, ditunda atau
dikontrol, dimana pemberian tidak dapat dilakukan via oral.

D. Formula Umum Sediaan Injeksi


R/ Zat aktif
Pembawa
Zat tambahan, dapat berupa :
♦ Pengatur tonisitas
♦ Pengatur pH ( dapar )
♦ Pengawet
♦ Antioksidan
♦ Anestetik lokal
♦ Zat pengompleks
♦ Suspending agent
4
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

ZAT AKTIF
Data zat aktif yang diperlukan (Preformulasi)
a. Kelarutan (Gibaldy, Drug Delivery System 2007*; Agoes, G. Sediaan Farmasi Steril hal 66;
FI IV hal 1*)
Kelarutan sangat penting untuk pengembangan larutan yang dapat disuntikkan baik secara
intravena ataupun intramuskular)(Goeswin, Sediaan Farmasi steril, 2009, hal 66) Bentuk
amorf pada padatan lebih larut dibandingkan bentuk kristalnya. Garam asam atau basa
mempresentasikan kelompok obat yang dapat mencapai kelarutan obat) (Goeswin, Sediaan
Farmasi steril, 2009, hal 66) dalam air yang dibutuhkan. pH larutan juga sangat
mempengaruhi kelarutan dari sediaan injeksi, pengaturan pH menggunakan buffer sangat
dibutuhkan.

Data kelarutan ini diperlukan untuk menentukan bentuk sediaan. Zat aktif yang larut air
dibuat sediaan larutan dalam air, zat aktif yang larut minyak dibuat larutan dalam pembawa
minyak. Sedangkan zat yang tidak larut dalam kedua pembawa tersebut dibuat sediaan
suspensi. Kelas obat lain, baik berupa molekul netral maupun asam atau basa sangat lemah
(umumnya) tidak dapat disolubilisasi dalam air dalam rentang pH yang sesuai, sehingga
adakalanya memerlukan penggunaan pelarut non air. Pelarut tersebut adalah PEG 300 dan
400, propilen glikol, gliserol, etilalkohol, minyak lemak, etil oleat, dan benzilbenzoat)
(Goeswin, Sediaan Farmasi steril, 2009, hal 66). Jika zat aktif tidak larut dalam air ada
beberapa alternatif yang dapat diambil sebelum memutuskan untuk membuat sediaan
suspensi atau larutan minyak yaitu dengan mencari bentuk garam dari zat aktif, melakukan
reaksi penggaraman, dicari bentuk kompleksnya, serta menggunakan ko-solven seperti
etanol, propilen glikol dan PEG 300.

Kelarutan zat yang tercantum dalam Farmakope dinyatakan dengan istilah sebagai berikut:
FI IV, Hal 1
Istilah kelarutan Jumlah bagian pelarut yang diperlukan
untuk melarutkan 1 bagian zat
Sangat mudah larut Kurang dari 1
Mudah larut 1 sampai 10
Larut 10 sampai 30
Agak sukar larut 30 sampai 100
Sukar larut 100 sampai 1000
Sangat sukar larut 1000 sampai 10.000
Praktis tidak larut lebih dari 10.000

Beberapa obat yang akan dikembangkan menjadi bentuk injeksi tidak segera melarut dalam
air, diantaranya adalah steroid, fenitoin, diazepam, amfoterisin B dan digoksin. Sebagian
masalah kelarutan ini dapat dipecahkan melalui beberapa cara seperti:
- Pembentukan garam
- Pengaturan pH
- Penggunaan kosolven
5
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

- Penggunaan surfaktan (polioksi etilen 0,1-0,5% dan polioksipropilen eter 0.05-0.25%)


- Penggunaan agen pengompleks, misal Beta siklodekstrin dan PVP
- Formulasi dalam bentuk mikroemulsi, liposom, formulasi misel campuran (mixed
micelle, garam empedu + fosfolipid), dsb.
- Pendekatan prodrug
- Koefisien partisi
- Konstanta ionisasi
- Aktivitas optikal (Goeswin, Sediaan Farmasi steril, 2009, hal 69-71)

b. pH stabilitas (Buku Penuntun Praktikum Tek. FA Sed. Steril Benny Logawa 1985, 10*)
pH stabilita adalah pH dimana penguraian zat aktif paling minimal, sehingga diharapkan
kerja farmakologinya optimal. pH stabilita dicapai dengan menambahkan asam encer (spt:
HCl encer, asam bikarbonat), basa lemah atau dapar isotonis (spt: fosfat, sitrat, dll).

c. Stabilitas zat aktif (Buku Penuntun Praktikum Tek. FA Sed. Steril Benny Logawa 1985,
11*) Data ini membantu menentukan jenis sediaan, jenis bahan pembawa, metoda sterilisasi
atau cara pembuatan. Beberapa faktor yang mempengaruhi penguraian zat aktif adalah:
1. Oksigen (Oksidasi)
Pada kasus ini, setelah air dididihkan maka perlu dialiri gas nitrogen dan sediaan
ditambahkan antioksidan.
2. Air (Hidrolisis)
Jika zat aktif terurai oleh air dapat dipilih alternatif : (a) Dilakukan penambahan
asam/basa atau buffer untuk mencapai pH stabilitas Z.A; (b) Memilih jenis pelarut
dengan polaritas lebih rendah daripada air, seperti campuran pelarut air-gliserin-
propilenglikol atau pelarut campur lainnya yang cocok; (c) Dibuat dalam bentuk kering
dan steril (serbuk liofilisasi) yang dilarutkan saat disuntikkan.
3. Suhu
Jika zat aktif tidak tahan panas dipilih metode sterilisasi yang tidak menggunakan panas,
seperti filtrasi dengan pengerjaan secara aseptis.
4. Cahaya
Pengaruh cahaya matahari dihindari dengan penggunaan wadah berwarna cokelat, dan
disimpan di tempat gelap atau terlindung cahaya.

d. Tak tersatukannya zat aktif , Baik ditinjau dari segi kimia, fisika, atau farmakologi.

e. Dosis, Data ini menentukan tonisitas larutan dan cara pemberian.

f. Rute pemberian (Lachman Parenteral Medication, vol. 1, 2nd ed., 1992, 174*) Rute
pemberian yang akan digunakan akan berpengaruh pada formulasi, dalam hal:
 Volume maksimal sediaan yang dapat diberikan pada rute tersebut (intraspinal: 10 ml,
intramuskular 2 ml di otot lengan (deltoid) dan 5 ml di otot pantat (gluteus maximus),
subkutan 1 ml, intradermal 0,02-0,5 ml).
 Pemilihan pelarut disesuaikan dengan rute pemberian. Injeksi IV dan intraspinal biasanya
dibatasi untuk larutan encer dengan pembawa air, sedangkan larutan (pembawa) minyak,
6
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

larutan kosolven, suspensi dan emulsi dapat diberikan secara subkutan dan intramuskular.
 Isotonisitas dari sediaan juga dipengaruhi oleh rute pemberian. Pada larutan intravena
isotonisitas menjadi kurang penting jika selama pemberian dilakukan dengan perlahan
untuk memberikan waktu pengenceran dan ’adjust’ oleh darah. Injeksi intraspinal mutlak
harus isotonis. Injeksi IM dan SK sering diberikan larutan yang hipertonis untuk
memfasilitasi absorbsi obat karena efek lokal efusi dari cairan jaringan.

BAHAN PEMBAWA INJEKSI


Bahan pembawa injeksi dapat berupa air maupun non air
1. Pembawa Air
Sebagian besar produk parenteral menggunakan pembawa air. Hal tersebut dikarenakan oleh
kompatibilitas air dengan jaringan tubuh. Pembawa air dapat digunakan untuk berbagai rute
pemberian. Air mempunyai konstanta dielektrik tinggi sehingga lebih mudah untuk melarutkan
elektrolit yang terionisasi dan ikatan hidrogen yang terjadi akan memfasilitasi pelarutan dari
alkohol, aldehid, keton, dan amin (Lachman Parenteral Medication, vol. 1, 2nd ed., 1992, 175*).
Syarat air untuk injeksi menurut USP (Lachman Parenteral Medication, vol. 1, 2nd ed., 1992,
192*) :
 Harus dibuat segar dan bebas pirogen
 Jumlah zat padat terlarut total tidak boleh lebih dari 10 ppm.
 pH antara 5-7
 Tidak mengandung ion-ion klorida, sulfat, kalsium dan amonium, dan karbondioksida.
 Kandungan logam berat terbatas
 Kandungan material organik (spt: tanin, lignin) terbatas
 Jumlah partikel berada pada batas yang diperbolehkan.

Catatan:
1. Air untuk injeksi harus dibuat segar, artinya: air yang telah selesai diproses, hanya boleh
disimpan pada temperatur kamar selama 24 jam (bila tidak langsung digunakan).
Penyimpanan yang lebih lama dapat dilakukan pada temperatur kira-kira 5°C atau pada
suhu tinggi yaitu antara 65-85°untuk mencegah pertumbuhan jasad renik dan
pembentukan pirogen.
2. Persyaratan kadar total zat padat terlarut pada air steril untuk injeksi yang terdapat pada
farmakope (monografi aqua p.i, FI IV, hal 112-113), biasanya lebih tinggi kemungkinan
terjadinya pelepasan konstituen wadah gelas selama sterilisasi.
3. Air untuk injeksi yang sudah mengandung zat bakteriostatik tidak boleh dijual dalam
wadah yang lebih besar dari 30 ml untuk mencegah kemungkinan masuknya zat
bakteriostatik yang mungkin toksik dalam jumlah yang besar ke dalam tubuh.

a. Air Pro Injeksi


Aqua steril Pro Injeksi adalah air untuk injeksi yang disterilisasi dan dikemas dengan cara
yang sesuai, tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan tambahan lainnya (Monografi
aqua p.i :FI IV hal. 112-113).
Cara : Aqua p.i + karbon aktif 0,1% dari volume, dipanaskan 60-100°C selama 15 menit,
diaduk, kemudian saring panas-panas dengan kertas saring lapis ganda. Tidak boleh
7
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

menggunakan Aqua DM karena ada zat-zat organik yang tidak bermuatan dapat lolos,
ditanggulangi dengan filtrasi karbon adsorben dan filtrasi bakteri.

b. Air Pro Injeksi Bebas CO2


CO2 mampu menguraikan garam natrium dari senyawa organik seperti barbiturat dan
sulfonamid kembali membentuk asam lemahnya yang mengendap. Cara pembuatan:
Mendidihkan air p.i selama 20-30 menit lalu dialiri gas nitrogen sambil didinginkan.(Buku
Penuntun Praktikum Tek. FA Sed. Steril Benny Logawa 1985, 3*)

c. Air Pro Injeksi bebas O2


Dibuat dengan mendidihkan air p.i selama 30 menit dan pada saat pendinginannya dialiri gas
nitrogen. Dipakai untuk melarutkan zat aktif yang mudah teroksidasi, seperti apomorfin,
klorfeniramin, klorpromazin, ergometrin, ergotamine, metilergotamin, proklorperazin,
promazin, promesatin HCl, sulfamidin, turbokurarin. (Buku Penuntun Praktikum Tek. FA
Sed. Steril Benny Logawa 1985, 3*)

d. Air pro injeksi bakteriostatik


adalah air steril untuk injeksi yang mengandung satu atau lebih zat antimikroba yang sesuai.
Biasanya dikemas dalam prefilled syringes atau pada vial yang mengandung tidak lebih dari
30 mL air. Air ini digunakan sebagai pembawa dalam sediaan injeksi volume kecil.
Penggunaan secara parenteral dalam jumlah besar dibatasi karena jumlah zat antimikroba
yang diinjeksikan bersama dengan obat akan berlebihan dan mungkin menjadi toksik.
(Ansel’s Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery Systems Edisi ke-9, 2011, p 438)
Tidak digunakan jika volume pelarut yang diperlukan lebih dari 5mL (belum ketemu).

2. Pembawa Non Air


Pembawa non air digunakan jika (Rep. Tek Fa. Steril hal 5*):
 Zat aktif tidak larut dalam air
 Zat aktif terurai dalam air
 Diinginkan kerja depo dalam sediaan

Syarat umum pembawa non air (Ansel’s Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery
Systems Edisi ke-9, 2011, hal 439):
 Tidak toksik, tidak mengiritasi dan tidak menyebabkan sensitisasi
 Dapat tersatukan dengan zat aktif
 Inert secara farmakologi dan tidak menimbulkan efek samping
 Stabilitas fisik dan kimia pelarut pada berbagai tingkatan pH
 Viskositasnya harus sedemikian rupa sehingga dapat disuntikan dengan mudah
 Harus tetap cair pada rentang suhu yang cukup lebar
 Mempunyai titik didih yang tinggi sehingga dapat dilakukan sterilisasi dengan panas
 Tekanan uap yang rendah untuk mencegah timbulnya masalah selama sterilisasi dengan
pemanasan
 Kemurnian stabil atau mudah dimurnikan dan distandarisasi
 Dapat bercampur dengan air atau cairan tubuh

8
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

a. Pelarut non air yang dapat bercampur dengan air


Pelarut organik yang bercampur dengan air dapat dijadikan kosolven dalam sediaan injeksi,
bertujuan untuk meningkatkan kelarutan suatu zat aktif yang kurang larut dalam air serta
meningkatkan stabilitas zat tertentu yang mudah terhidrolisis. Pelarut yang dapat digunakan
adalah: etanol, propilenglikol, polietilenglikol dan gliserin.
Campuran pelarut dapat menyebabkan iritasi atau peningkatan toksisitas, terutama jika
digunakan dalam konsentrasi tinggi. Larutan yang mengandung etanol dengan konsentrasi
tinggi dapat menimbulkan rasa sakit ketika disuntikkan. Yang harus diperhatikan juga,
beberapa produk yang diberikan secara intravena dengan kecepatan injeksi yang terlalu cepat
dapat menyebabkan pengendapan obat di dalam pembuluh darah. (Lachman hal 19)

o
KONSTANTA DIELEKTRIK PELARUT PADA 25 C (Lachman Parenteral Medication, vol. 1,
3nd ed., 1992, 80*)
Konstanta
Pelarut
dielektrik
Air 78,5
a
Gliserin 40,1
a
N,N-Dimetilasetamid 37,8
a
Propilenglikol 32,01 (30º )
Metanol 31,5
a
Etanol 24,3
N-Propanol 20,1
Aseton 19,1
a
Benzilalkohol 13,1
Polietilenglikol 400ª 12,5
a
Minyak biji kapas 3,0
Benzen 2,3
Dioxane 2,2
a
= larutan yang dipakai dalam sediaan injeksi

b. Pelarut non air yang tidak dapat bercampur dengan air


Penggunaan pelarut minyak bertujuan untuk meningkatkan kelarutan zat aktif dan untuk
membuat sediaan lepas lambat. Injeksi pembawa minyak hanya dapat diberikan secara IM
(Diktat Kuliah Teknologi Sediaan Steril,156). Jenis pembawa non air yang tidak dapat
bercampur dengan air yang dapat digunakan sebagai pembawa sediaan injeksi adalah:
a. Minyak lemak (Diktat Kuliah Teknologi Sediaan Steril, 156*):
 Campuran ester asam lemak tidak jenuh dan gliserol
 Pada label sediaan harus dicantumkan jenis pembawa minyak yang digunakan karena
pada beberapa orang dapat menimbulkan reaksi alergi.
 Tidak boleh mengandung minyak mineral atau parafin cair (karena tidak dapat
dimetabolisme dalam tubuh dan dapat menimbulkan reaksi terhadap jaringan atau
tumor).
 Minyak yang digunakan harus berbentuk cair pada suhu kamar dan tidak boleh menjadi
9
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

tengik. Untuk mencegah ketengikan akibat oksidasi maka dalam formula dapat
ditambahkan antioksidan seperti BHA, BHT, tokoferol, propilgalat, dll.
 Minyak wijen (sesame oil) lebih banyak digunakan untuk sebagian besar injeksi
pembawa minyak, karena merupakan minyak yang paling stabil dibandingkan minyak
tumbuhan lain (kecuali terhadap cahaya) dan didalamnya sudah mengandung antioksidan
alami. (Lachman Parenteral Medication, vol. 1, 3nd ed., 2010, 92*)
 Minyak tumbuhan sering menimbulkan rasa nyeri sehingga perlu penambahan benzil
alkohol 0,5 % sebagai anastetik lokal (Rep. Tek Fa. Steril hal 5*)
 Minyak nabati yang banyak digunakan: Ol. Arachidis (minyak kacang), Ol. Gossypii, Ol.
Sesami (Minyak Wijen), Ol. Terebinthinae, Ol. Maydis (minyak jagung), Ol. Olivarum
Netral (Minyak Zaitun), Ol. Amigdalarum. (Rep. Tek Fa. Steril hal 5*)
 Sediaan parenteral yang menggunakan pelarut minyak hanya dapat diberikan secara
intramuskular.
 Suatu minyak lemak agar dapat diberikan secara intravena harus dibuat dalam bentuk
emulsi yang stabil. (Goeswin, Sediaan Farmasi steril, 2009, hal 59)
 Minyak lemak nabati yang digunakan harus tetap jernih bila didinginkan sampai suhu
10°C untuk menjamin kestabilan dan kejernihan produk injeksi (Ansel’s Pharmaceutical
Dosage Forms and Drug Delivery Systems Edisi ke-9, 2011, hal 439)

[Minyak Lemak] Pembawa non air (FI IV Hal 10)


Minyak lemak berasal dari tanaman, tidak berbau atau hampir tidak berbau, tidak tengik.
Harus memenuhi persyaratan uji Parafin Padat seperti yang tertera pada Minyak Mineral,
tangas pendingin, dipertahankan suhu 10°C, Bilangan Penyabunan antara 185-200, Bilangan
Iodium 79-128 seperti tertera pada Lemak Dan Minyak Lemak <491> dan memenuhi syarat
sebagai berikut :
a. Bahan tak tersabunkan : Memenuhi syarat Bahan Tak Tersabunkan seperti tertera
pada Lemak Dan Minyak Lemak <491> FI IV hal 950.
Zat tak tersabunkan dalam minyak atau lemak adalah zat yang tidak tersabunkan oleh
alkali hidroksida, tetapi larut dalam pelarut lemak, dan hasil penyabunan yang larut
dalam pelarut tersebut.
b. Asam Lemak Bebas : Tidak lebih dari 2,0 ml NaOH 0,02 N LV diperlukan untuk
menetralkan asam lemak bebas dalam 10 g minyak lemak, seperti yang tertera pada
<491> (FI IV hal 10)
Revisi : Keasaman lemak dan minyak lemak dinyatakan sebagai jumlah ml alkali 0,1
N (NaOH 0,1N) yang diperlukan untuk menetralkan asam bebas dalam 10,0 gr zat
atau dapat dinyatakan sebagai jumlah mg KOH yang diperlukan untuk menetralkan
asam bebas 1 gram zat. (FI IV hal 948-949)
c. Monogliserida dan gliserida sintetik dari asam lemak : Dapat digunakan sebagai zat
pembawa apabila berupa cairan dan tetap jernih kalau didinginkan pada suhu 10°C
dan Bilangan Iodium tidak lebih dari 140, seperti <491> (FI IV hal 10)
Revisi : Bilangan iodium : jumlah gram iodium yang diserap oleh 100 gram zat, pada
kondisi yang ditetapkan (FI IV hal 949)
 Isopropil miristat (Diktat Kuliah Teknologi Sediaan Steril, 157*)
- Ester asam lemak yang mempunyai viskositas rendah
10
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

- Sebagai pembawa tunggal atau kombinasi dengan minyak lemak


- Digunakan jenis yang bebas peroksida karena mencegah teroksidasinya bahan
berkhasiat dan minyak yang digunakan.
 Benzil benzoat (Diktat Kuliah Teknologi Sediaan Steril, 157*)
Merupakan cairan berminyak yang tidak berwarna dan bau yang khas. Biasanya
digunakan bersama dengan pembawa lain (sebagai kosolven) misal pada injeksi
dimerkapol dan hidroksiprogesteron.
 Etil oleat (Diktat Kuliah Teknologi Sediaan Steril Hal 157*)
- Viskositas lebih rendah dan lebih mudah diabsorpsi oleh jaringan dibandingkan
dengan minyak lemak.
- Sebagai pembawa tunggal atau kosolven dalam injeksi hormon seperti injeksi
deoksikortison asetat, estradiol monobenzoat, progesteron dan testosteron propionat.

INJEKSI DALAM MINYAK


(Lachman Parenteral Medication, vol. 1, 3nd ed., 2010, 192*)

BAHAN PEMBANTU / ZAT TAMBAHAN


Zat tambahan pada sediaan steril digunakan untuk :
 Meningkatkan kelarutan zat aktif
 Menjaga stabilitas zat aktif
 Menjaga sterilitas untuk sediaan multiple dose
 Mempermudah dan menjaga keamanan pemberian

Syarat bahan tambahan :


 Inert secara farmakologi, fisika, maupun kimia
 Tidak toksik dalam jumlah yang diberikan
 Tidak mempengaruhi pemeriksaan obat
11
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

a. Pengatur Tonisitas
Jika suatu larutan konsentrasinya sama besar dengan konsentrasi dalam sel darah merah sehingga
tidak terjadi pertukaran cairan di antara keduanya, maka larutan tersebut dikatakan isotonis
(ekivalen dengan 0,9% NaCl) Sel darah merah dalam larutan :
Hipotonis : mengembang kemudian pecah, karena air berdifusi kedalam sel (hemolisis).
Keadaan hipotonis kurang dapat ditoleransi, karena pecahnya sel bersifat irreversibel.
Hipertonis : kehilangan air dan mengkerut (krenasi), keadaan ini cukup dapat ditoleransi.
Larutan perlu isotonis agar:
 Mengurangi kerusakan jaringan dan iritasi
 Mengurangi hemolisis sel darah
 Mencegah ketidakseimbangan elektrolit
 Mengurangi sakit pada daerah injeksi (Lachman, Teori & Praktek, 3rd ed., 1994, 1302*)
Larutan isotonis tidak selalu mungkin karena:
 konsentrasi obat tinggi, tetapi batas volume injeksi kecil
 variasi dosis pemberian
 metode pemberian
 pertimbangan stabilitas produk

Contoh pengatur tonisitas (pada keadaan hipotonis)


NaCl 0,9 %, Natrium Sitrat, Natrium Sulfat 1,6 % ,Glukosa/ Dekstrosa 5,5 %
Sifat NaCl Sukrosa Glukosa
pH 6,7 -7,3 konstanta disosiasi ; 4-6
pKa = 12,62
Kelarutan 1 dalam 2,8 bagian 1 dalam 0,5 bagian Bercampur dengan air,
air; 1 dalam 2,6 air 1 dalam 0,2 air sedikit bercampur dengan
bagian air 100° C, 100° C etanol 90 %.
1 dalm 10 bagian 1 dalam 170 bagian
gliserin, 1 dalam etanol 95%
250 etanol 95%.
Oven (padatan),
Cara Otoklaf dan filtrasi
otoklaf, filtrasi Otoklaf (larutan)
Sterilisasi (larutan)
(larutan)
Inkompatibili besi, perak, timbal, Asam askorbat akibat Dengan agen pengoksidasi
tas garam merkuri, adanya kontaminan kuat
oksidator kuat, logam berat, penutup
metil paraben, HPC alumunium, asam
(Hidroksi Propil lemah atau kuat
Cellulosa) /HEC

tidak untuk penderita Non toksik, non iritan,


non toksik, non
Keamanan DM atau intoleransi mungkin dikonsumsi oleh
iritan
metabolic sukrosa. penderita DM.
5,51 % b/v iso-osmosis,
0,9 % b/v = iso- 9,25 % b/v = iso- namun tidak isotonik,
Osmolaritas
osmosis osmosis dapat menyebabkan
hemolisis.
12
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

(HOPE, ed.6, 2009, 282-283, 637-639, 703-706)

b. Pengatur pH ( dapar)
Pengaturan pH sediaan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu adjust pH dan pemakaian dapar.
(Lachman Parenteral Medication, vol. 1, 2nd ed., 93*).
Perubahan pH pada penyimpanan dapat disebabkan:
 Reaksi degradasi produk
 Interaksi dengan komponen wadah (kaca atau tutup karet)
 Absorpsi atau evolusi gas dan uap

Tujuan Dapar
 Meningkatkan stabilitas obat
Pada pH tertentu penguraian obat menjadi minimal, misalnya pada zat aktif berikut :
antibiotik (penisilin, tetrasiklin), basa sintetis (adrenalin), polipeptida
(insulin,oksitocin,vasopresin), alkaloida (senyawa ergot), vitamin (B12, vit C).
 Mengurangi rasa nyeri, iritasi, nekrosis saat penggunaanya
Penambahan larutan dapar dalam larutan ini hanya dilakukan untuk larutan obat suntik
dengan pH 5,5 – 7,5. Untuk pH < 3 atau > 10 sebaiknya tidak didapar karena sulit
dinetralisasikan. Peringatan ini ditujukan terutama untuk injeksi IM dan SK.
Untuk sediaan parenteral volume kecil (<100ml), dapar dapat dibuat bila pH stabilitas
sediaan berada didalam rentang (Lachman Parenteral Medication, vol. 1, 2nd ed., 1992,
195*):
 IV (SVP) = pH 3 -10,5 ; karena darah merupakan sistem buffer yang baik.
 Rute lain = pH 4–9 (di-adjust)
 Menghambat pertumbuhan mikroorganisme
Bukan tujuan dapar yang sebenarnya, tetapi larutan dalam suasana sangat asam atau sangat
basa dapat digunakan untuk mencapai maksud–maksud tersebut, misalnya injeksi insulin
yang pH nya diatur antara 3 -3,5 tidak membutuhkan penambahan antimikroba.
 Meningkatkan aktivitas fisiologis obat
Sebagai contoh misalnya campuran kering dan steril dapar pH basa dengan zat aktif atau
obat yang sifatnya asam (prokain adrenalin). Campuran kering tersebut baru dilarutkan
dalam air pro injeksi secara aseptis sesaat sebelum digunakan. Jadi tampak bahwa
peningkatan pH dilakukan sampai batas tertentu dimana zat aktif masih stabil dengan
aktifitas fisiologis yang maksimal.

pH ideal dari sediaan adalah 7,4 yang sesuai dengan pH darah, tetapi hal tersebut tidak selalu
dapat dilakukan karena sediaan harus dibuat pada pH yang mendukung stabilitas dari sediaan
(disesuaikan dengan pH stabilitas zat aktif). Dapar yang ideal memiliki kapasitas dapar yang
cukup untuk menjaga pH sediaan selama penyimpanan, namun memungkinkan cairan tubuh
beradaptasi dengan mudah. Rentang pH yang tidak dapat ditoleransi oleh tubuh:
pH > 9 menyebabkan kematian jaringan
pH < 3 sangat menyakitkan dan menyebabkan flebitis
(Lachman Parenteral Medication, vol. 1, 2nd ed., 1992, 195*)

13
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

Cara penentuan pH :
 Memakai indikator kertas atau indikator larutan universal baik secara langsung maupun
kolorimetri
 Potensiometri, digunakan untuk larutan berwarna
 Dengan perhitungan

Contoh dapar (konsentrasi yang umum dipakai): Dapar fosfat pada pH 6-8,2 (0,8-2%), dapar
sitrat (1-5%), asam asetat / garam pH 3,5-5,7 (1-2%); asam sitrat / garam pH 2,5-6 (1-5%); asam
glutamate pH 8,2-10,2 (1-2%). ( Lachman Parenteral Medication, vol. 1, 2nd ed., 1992, 194*)

c. Pengawet
Pengawet yang ideal (Todd R.G Pharmaceutical Handbook, hal 50*):
1 Mempunyai aktivitas antimikroba yang tinggi dan spektrumnya luas, bekerja pada
temperatur dan pH yang luas.
2 Mempunyai stabilitas yang tinggi pada range temperatur dan pH yang digunakan
3 Tidak toksik pada konsentrasi yang digunakan
4 Tersatukan dengan komponen lain dalam sediaan
5 Cepat larut pada konsentrasi yang digunakan
6 Bebas dari bau, rasa, warna
7 Tidak menyebabkan keracunan, karsinogenik, iritan, dan menyebabkan sensitisasi pada
konsentrasi yang digunakan

Penambahan pengawet dapat dilakukan pada sediaan multidosis (kecuali yang dilarang oleh
monografi). Pada sediaan multidosis ada kemungkinan kontaminasi sediaan pada saat pemakaian
kembali, dan pengawet bekerja secara bakteriostatik (Lachman Parenteral Medication, vol. 1,
3nd ed., 1992, 99).
Beberapa pengawet bersifat toksik dalam penggunaan dengan jumlah besar atau mengiritasi jika
diberikan secara parenteral, untuk itu diperlukan pemilihan pengawet yang tepat. (Ansel’s
Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery Systems Edisi ke-9, 2011, p 444)

Penambahan pengawet tidak dibenarkan pada:


 Sediaan volume besar (>100ml, misalnya infus)
 Volume injeksi >15mL dosis tunggal, kecuali jika dikatakan lain
 Sediaan untuk rute-rute tertentu yang tidak boleh ditambahkan antimikroba seperti intra
sisternal, epidural, intra thekal, atau rute lain yang melalui cairan serebrospinal/ retrookular
(BP 2008, 2367*)
Contoh Pengawet : (Lachman Parenteral Medication, vol. 1, 3nd ed., 2010, 99*)
Pengawet Konsentrasi yang lazim (
%)
Benzalkonium klorida 0.01
Benzethonium klorida 0.01
Benzil alkohol 1
Klorobutanol 0.5

14
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

Klorokresol 0.1-0.25
Metakresol 0.1-0.3
Kresol 0.3 – 0.5 •
Fenol 0.5 •
Fenilmerkuri nitrat dan
0.002
asetat
Metil -p-hidroksibenzoat 0.1 – 0.2 •
Propil -p-hidroksibenzoat 0.02 – 0.2 •
Butil -p-hidroksibenzoat 0.015
Timerosal 0.01
• : The art science, and technology of Pharmaceutical Compounding, 2002, hal 368

d. Antioksidan
Antioksidan digunakan untuk melindungi zat yang peka terhadap oksidasi. Beberapa antioksidan
berdasarkan mekanisme kerjanya (Lachman, Teori & Praktek, 3rd ed., 1994, 1301*):
1. Agen Pereduksi
Antioksidan ini mempunyai potensial oksidasi rendah sehingga teroksidasi lebih dahulu
dari pada zat aktif.
Contoh : Vitamin C 0,02 – 0,1 %
Natrium bisulfit 0,1 – 0,15 %
Natrium metabisulfit 0,1 – 0,15 %
Tiourea 0,005 %

2. Agen Pemblokir
Antioksidan ini mencegah oksidasi dengan memutuskan rantai oksidasi.
Contoh : Ester asam askorbat 0,01 – 0,015 %, BHT 0,005 – 0,02 %, Vitamin E 0,05 –
0,075 %

3. Zat Sinergis
Bekerja meningkatkan efek antioksidan lainnya terutama antioksidan agen pemblokir.
Contoh : Vitamin C 0.01 -0.05 %
Asam sitrat 0.005 – 0.01 %
Asam tartrat 0.01 – 0.02 %
Asam fosfat 0.005 – 0.01%

4. Pengompleks
Zat ini membentuk kompleks dengan ion-ion logam yang mengkatalisis reaksi oksidasi
sehingga reaksi dapat diperlambat. Contoh : Garam EDTA 0.01 – 0.075 %. Selain itu
juga dapat meningkatkan efektivitas pengawet, seperti benzalkonium klorida dengan
EDTA, serta untuk solubilisasi, misal : Kofein + Na. Benzoate, Teofilin + Etilendiamin,
Kinin + Antipirin
Catatan :
 Natrium meta bisulfit larutan bersifat asam, Natrium bisulfit biasa digunakan untuk
injeksi epineprin, juga digunakan untuk larutan dengan pH sedang, Na sulfit biasa
15
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

digunakan untuk sediaan pH basa (tidak ada dalam codex).


 Yang tertera pada codex : Metabisulphite digunakan sebagai antioksidan pada ph
rendah, bisulphate pada ph sedang, dan sulphite pada ph tinggi. (Codex 12th ed.,
1994, 100)
 Zat antioksidan yang larut lemak ( BHA dan BHT 0,005 % -0,02 % ) digunakan
untuk pelarut minyak (blocking agent )

e. Suspending Agent untuk injeksi dalam bentuk suspensi (Lachman Parenteral Medication,
vol. 1, 2nd ed., 1992*)
Digunakan untuk sediaan injeksi suspensi. Contoh:
1. CMC Na. [0,05 – 0,75 %] (HOPE 6th ed., 118)
2. PVP [<5%] (HOPE 6th ed., 582)
3. Sorbitol [10 -25%] (HOPE 6th ed.,679  untuk IM)
4. IM Minyak : gelatin (2%), manitol (50%)

f. Anestetika lokal
Digunakan untuk mengurangi rasa nyeri akibat larutan suntik yang kental dan larutan senyawa
obat yang terlalu asam. Seperti larutan obat suntik streptomycin + 0,5 % prokain HCl. Contoh :
Novokain, Benzil alkohol.

g. Wetting Agent (untuk sediaan injeksi suspensi)


Digunakan untuk pembasah dan mencegah pertumbuhan kristal. Bila diperlukan dan hanya
untuk pelarut air. Contoh : Tween 80, Propilen glikol, Lecithin (0.5-2.3%), Polioksietilen –
Polioksipropilen, Silikon antibusa, Silikon Trioleat. (Lachman Parenteral Medication, vol. 1, 2nd
ed., 214*)

h. Solubilizing Agent (untuk sediaan injeksi suspensi)


Contoh : PEG 300 (0.01-50.0%), Propilenglikol (0.2-50%), Povidon (0.2-1.0%) (Lachman
Parenteral Medication, vol. 1, 2nd ed., 214*)

E. Cara Perhitungan
LIHAT KIT PENDUKUNG UNTUK PERHITUNGAN STERIL

II. METODE DAN PROSEDUR PEMBUATAN


A. Metode Pembuatan
Ada dua metode pembuatan sediaan steril yaitu cara sterilisasi akhir dan pengerjaan secara
aseptik.
1. Sterilisasi Akhir
Metode ini merupakan metode yang paling umum dan paling banyak digunakan dalam
pembuatan sediaan steril. Persyaratannya adalah zat aktif harus stabil dengan adanya
molekul air (jika menggunakan metode sterilisasi dengan autoklaf) dan tingginya suhu
sterilisasi. Sediaan disterilkan pada tahap terakhir pembuatan sediaan.
Beberapa jenis sterilisasi akhir yaitu: (Goeswin Agoes. Sediaan Farmasi steril, hal 97-
99)
16
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

- Sterilisasi uap jenuh (autoklaf): kondisi baku untuk proses ini adalah pemanasan
minimal pada suhu 121oC selama 15 menit.
- Sterilisasi udara kering (oven): kondisi acuan adalah pada suhu minimum 160oC
selama minimal 2 jam.
- Sterilisasi secara ionisasi : dicapai dengan cara ekspose produk terhadap ionisasi
radiasi dalam bentuk radiasi gamma dari sumber radioisotop yang sesuai (misal
Cobalt 60). Rata-rata acuan dosis yang diabsorbsi sebesar 25 kGy
- Sterillisasi gas: digunakan jika tidak ada alternatif lain yang sesuai untuk sterilisasi
- Filtrasi : larutan dilewatkan pada membran dengan pori minimal 0,22 µm atau tipe
lain dari filter yang bisa menahan bakteri

2. Aseptik
Metode ini biasanya digunakan untuk zat aktif yang sensitif terhadap suhu tinggi
(thermolabil) yang dapat mengakibatkan penguraian dan penurunan kerja
farmakologinya. Antibiotika dan beberapa hormon tertentu merupakan zat aktif yang
sebaiknya dikerjakan secara aseptik. Metode aseptik bukanlah suatu cara sterilisasi
melainkan suatu cara kerja untuk memperoleh sediaan steril dengan mencegah
kontaminasi jasad renik dan partikulat dalam sediaan jadi selama proses pembuatan
sediaan.

Keterangan :
 Penimbangan zat aktif
Zat aktif biasanya ditimbang dilebihkan sesuai persyaratan yang ada di monografi untuk
mencegah kemungkinan berkurangnya kadar dalam sediaan akibat proses pembuatan
ataupun dalam penyimpanan. (Contoh : persyaratan kadar zat X = 98-102 %, maka
penimbangan zat aktif dilebihkan 2 %)
 Bebas pirogen
Pada USP monografi injeksi tercantum batasan unit endotoksin bakteri. Oleh karena itu,
injeksi tidaklah benar-benar bebas dari pirogen atau endoktoksin namun dibatasi jumlahnya.
(Ansel’s Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery Systems Edisi ke-9, 2011, p 449).
Menurut USP 32 – NF 27 :

Pembebasan pirogen dilakukan dengan penambahan 0,1 % karbon aktif dihitung terhadap
volume total (b/v), kemudian dipanaskan pada suhu 60-70 °C selama 15 menit sambil
sesekali diaduk kemudian disaring menggunakan kertas saring ganda selagi panas.
 Bebas oksigen atau karbondioksida
Hal ini baru dilakukan jika diperlukan terutama jika zat aktif diketahui peka terhadap kedua
gas tersebut. Pembebasan oksigen atau karbondioksida dilakukan dengan cara memanaskan
17
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

air suling selama 30 menit dihitung sejak mendidih kemudian dialiri gas nitrogen sambil
didinginkan.
 Sterilisasi lemari dan ruang
Lemari disterilkan dengan uap formaldehid hasil pemanasan serbuk para-formaldehid dalam
cawan penguap panas yang diletakkan dalam lemari. Ruang disterilkan dengan sinar UV
selama 24 jam sebelum digunakan.

B. Prosedur Pembuatan
Larutan (Sterilisasi akhir)
Jika zat sensitif terhadap cahaya, maka pengerjaan dilakukan pada ruang terlindung cahaya, di
bawah lampu natrium
a. Zat aktif digerus dan ditimbang berlebih sesuai kebutuhan menggunakan kaca arloji,
kemudian dimasukkan ke dalam gelas kimia. Kaca arloji dibilas 2 kali dengan aqua pro
injection (p.i).
b. Zat aktif dilarutkan dalam sejumlah tertentu aqua pro injeksi. Dilakukan hal yang sama bagi
bahan-bahan pembantu.
c. Setelah zat aktif dan semua zat tambahan terlarut, larutan tersebut kemudian dituang ke
dalam gelas kimia sehingga volume tertentu di bawah volume akhir.
d. Kertas saring rangkap 2 yang akan digunakan untuk menyaring dibasahi sejumlah tertentu
aqua pro injeksi terlebih dahulu, kemudian corong dipindahkan ke erlenmeyer lain yang
telah steril
e. Larutan yang ada di gelas kimia disaring ke dalam labu erlenmeyer yang telah disiapkan.
IPC dilakukan dengan mengukur pH sediaan. Adjust pH jika perlu. Kekurangan aqua pro
injeksi dituangkan sedikit demi sedikit untuk membilas gelas kimia. Air bilasan tersebut
kemudian disaring lagi ke dalam erlenmeyer yang telah berisi filtrat larutan hingga volume
total seluruh larutan genap ... mL
f. Larutan yang telah disaring dengan membran filter G5 (ukuran pori-pori 0,45 µm)
g. Larutan dituang ke dalam buret steril kemudian ujungnya ditutup dengan alumunium foil
h. Sebelum diisikan ke dalam wadah, jarum buret dibersihkan dengan kapas yang telah
dibasahi alkohol 70 %. Setiap wadah diisi dengan larutan ..... ml sesuai persyaratan volume
FI IV
i. Ampul/vial yang telah berisi zat aktif, bila diperlukan dialiri dengan gas nitrogen
j. (Bila wadah ampul) Ampul ditutup dengan api dan disterilkan menggunakan autoklaf secara
terbalik dalam gelas kimia yang telah dialasi kapas (121°C selama 15 menit) atau metode
lain yang sesuai
(Bila wadah vial) Vial ditutup dengan tutup karet lalu di-seal dengan alumunium cap,
kemudian disterilkan menggunakan autoklaf dalam gelas kimia yang telah dialasi kapas
(121°C selama 15 menit) atau metode lain yang sesuai
k. Setelah sterilisasi akhir, dilakukan evaluasi sediaan
l. Sediaan dikemas dalam dus yang sudah diberi etiket dan disertakan brosur informasi obat
Pencampuran eksipien dilakukan di awal, dengan cara melarutkan dahulu eksipien masing2
baru ditambahkan ke dalam larutan stok

18
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

Larutan (Metode Aseptik)


Semua pengerjaan pembuatan sediaan dilakukan di bawah LAF. Jika zat sensitif terhadap
cahaya, maka pengerjaan dilakukan pada ruang terlindung cahaya, di bawah lampu natrium
a. Semua bahan baku (zat aktif + eksipien) yang telah ditimbang disterilisasi dengan metode
yang sesuai
b-f. Prosedur b-f sama dengan yang tercantum pada metode sterilisasi akhir
g. Larutan yang telah disaring dengan membran filter bakteri G3 (ukuran pori-pori 0,22 µm)
h. Larutan dituang ke dalam buret steril kemudian ujungnya ditutup dengan alumunium foil
i. Sebelum diisikan ke dalam wadah, jarum buret dibersihkan dengan kapas yang telah
dibasahi alkohol 70 %. Setiap wadah diisi dengan larutan...... mL sesuai persyaratan volume
FI IV
j. Ampul/vial yang telah berisi zat aktif, bila diperlukan dialiri dengan gas nitrogen
k. Dilakukan evaluasi sediaan
l. Sediaan dikemas dalam dus yang sudah diberi etiket dan disertakan brosur informasi obat

Injeksi Suspensi Kering tanpa granulasi (Sterilisasi Akhir)


Jika zat sensitif terhadap cahaya, maka pengerjaan dilakukan pada ruang terlindung cahaya, di
bawah lampu natrium
a. Zat aktif dan eksipien digerus, kemudian ditimbang sejumlah yang dibutuhkan
b. Masing-masing zat digerus dan dicampurkan sampai homogen dalam mortir
c. Campuran sediaan ditimbang dan dimasukkan ke dalam vial dengan bantuan corong dan
zalfkaart
d. Vial ditutup dengan tutup karet lalu di-seal dengan alumunium cap, kemudian disterilkan
dengan metode yang sesuai
e. Setelah sterilisasi akhir, dilakukan evaluasi sediaan
f. Sediaan dikemas dalam dus yang sudah diberi etiket dan disertakan brosur informasi obat

Injeksi Suspensi Kering tanpa granulasi (Metode Aseptik)


Semua pengerjaan pembuatan sediaan dilakukan di bawah LAF. Jika zat sensitif terhadap
cahaya, maka pengerjaan dilakukan pada ruang terlindung cahaya, di bawah lampu natrium
a. Zat aktif dan eksipien digerus kemudian ditimbang sejumlah yang dibutuhkan lalu
disterilisasi dengan metode yang sesuai
b. Campurkan zat aktif dan eksipien dalam mortar steril lalu gerus sampai homogen
c. Campuran diayak melalui ayakan B40 (ayakan disesuaikan denga persediaan di lab.)
d. Campuran ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam vial dengan bantuan corong dan
zalfkaart
e. Vial ditutup dengan karet dan alumunium cap
f. Dilakukan evaluasi sediaan
g. Sediaan dikemas dalam dus yang sudah diberi etiket dan disertakan brosur informasi obat
Injeksi Suspensi dengan Pembawa Air (Metode Aseptik)
a. Suspending agent dikembangkan dengan cara yang sesuai lalu dicampur dengan eksipien
lainnya. Sterilisasi bersama dalam autoklaf (121ºC selama 15 menit)
b. Timbang zat aktif, sterilisasi, gerus dalam mortar yang steril kemudian dicampurkan dengan
pembawa yang telah disterilkan tadi (dalam keadaan dingin) sedikit demi sedikit sambil
19
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

digerus
c. Suspensi tersebut dituang ke dalam gelas kimia yang telah dikalibrasi dan volume akhir
dicapai dengan penambahan aqua pro injeksi
d. Setelah diaduk homogen, suspensi dituang ke dalam vial steril yang telah dikalibrasi

Injeksi Suspensi dengan Pembawa Minyak (Metode Aseptik)


a. Suspending agent dicampur bersama minyak kemudian disterilkan di dalam oven (170 °C, 1
jam)
b. Timbang zat aktif, sterilisasi, gerus dalam mortar yang steril kemudian dicampurkan dengan
pembawa yang telah disterilkan tadi (dalam keadaan dingin) sedikit demi sedikit sambil
digerus
c. Suspensi tersebut dituang ke dalam gelas kimia yang telah dikalibrasi dan volume akhir
dicapai dengan penambahan minyak steril (tanpa suspending agent)
d. Setelah diaduk homogen, suspensi dituang ke dalam vial steril yang telah dikalibrasi

Injeksi Larutan Minyak (Metode Aseptik)


a. Timbang zat aktif, campurkan ke dalam minyak, kemudian sterilisasi dalam oven (170°C,
30 menit)
b. Campuran tersebut dituang ke dalam gelas kimia yang telah dikalibrasi, genapkan volume
dengan penambahan minyak steril
c. Setelah diaduk homogen, suspensi dituang ke dalam vial steril yang telah dikalibrasi

Injeksi Emulsi M/A (Metode Aseptik)


a. Zat-zat larut minyak dicampur dalam minyak dan emulgator minyak, sterilisasi dalam oven
(170ºC, 1 jam)
b. Zat-zat larut air dicampur dalam aqua pro injeksi dan emulgator air, sterilisasi dalam
autoklaf (121ºC, 15 menit)
c. Campur kedua campuran tersebut pada suhu yang sama (60-70 ºC) lalu gerus dalam mortar
steril
d. Campuran tersebut dituang ke dalam gelas kimia yang telah dikalibrasi, genapkan volume
dengan penambahan aqua pro injeksi
e. Setelah diaduk homogen, suspensi dituang ke dalam vial steril yang telah dikalibrasi

Catatan : Pemilihan metode sterilisasi → mempengaruhi cara pembuatan sediaan(metode


pembuatan di atas tidak mutlak)→tergantung stabilitas zat aktif dan eksipien

Catatan untuk penimbangan zat ( Benny Logawa )


Volume tiap ampul/vial dilebihkan sesuai dengan kelebihan volume yang dianjurkan dalam FI
IV, p. 1044
Volume yang tertera dalam Kelebihan volume yang dianjurkan (mL)
penandaan (mL) Untuk cairan encer Untuk cairan kental
0,5 0,10 0,12
1,0 0,10 0,15
2,0 0,15 0,25
20
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

5,0 0,30 0,50


10,0 0,50 0,70
20,0 0,60 0,90
30,0 0,80 1,20
50,0 atau lebih 2% 3%

Volume sediaan yang harus diisikan ke dalam setiap ampul/vial:


Jika: Volume tiap ampul/vial = a mL
Kelebihan volume yang dianjurkan = b mL
Maka: Volume tiap ampul/vial = a+ b = c mL

Volume sediaan yang akan dibuat:


Ampul : V=(n+2)c+6
Vial : V=n.c+6
Keterangan:
V = volume sediaan yang harus dibuat
n = jumlah sediaan yang akan dibuat
C = ampul/vial
c = volume sediaan yang harus diisikan ke dalam setiap ampul/vial
6 = volume untuk membilas buret: 2 x 3 mL

C. Cara-cara Sterilisasi
FI IV hal.1112-1116
FI III hal 18-19
TPC ed 12 hlm 538-554
diktat kuliah Tekn. FA Sediaan Steril 55-58
Principles of Sterile Product Preparation 73-74/PSPP

1. Sterilisasi uap
Proses sterilisasi termal menggunakan uap jenuh di bawah tekanan berlangsung di suatu
bejana disebut autoklaf. Suatu siklus autoklaf yang ditetapkan dalam farmakope, untuk
media atau pereaksi adalah selama 15 menit, 121°C, kecuali dinyatakan lain.
Prinsip dasar kerja alat: udara di dalam bejana diganti dengan uap jenuh, dan hal ini dicapai
dengan menggunakan alat pembuka atau penutup khusus. Faktor yang mempengaruhi desain
atau pemilihan suatu siklus untuk produk atau komponen tertentu: ketidakstabilan panas
bahan, pengetahuan ttg penetrasi panas ke dalam bahan, faktor lain yang tercantum dalam
program validasi (FI IV,p 1112).
Digunakan untuk zat yg stabil pd panas, tahan lembab dan dapat ditembus uap air panas.
Reaksi kimia yg mematikan terjadi lebih mudah dengan adanya air & konsekuensinya akan
butuh waktu pemaparan panas lebih sedikit utk membunuh mikroorganisme dlm keadaan
terhidrasi dibandingkan keadaan kering. Inaktivasi oleh panas dalam sel terhidrasi
disebabkan oleh denaturasi dan koagulasi ireversibel enzim dan struktur protein,
kemungkinan melalui proses hidrolisis. Hubungan suhu dan waktu tunggu utk sterilisasi
panas lembab: (TPC, 538)
21
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

Waktu tunggu minimum


Suhu °C Fo (menit)
(menit)
115-118 30 7,5-15
121-124 15 15-30
126-129 10 32-63
134-138 3 60-150

Ikatan hidrogen mudah putus dengan adanya molekul air karena terjadinya ikatan hidrogen
antara masing-masing gugus amino & karboksi dengan molekul air. Fungsi air pada panas
lembab adalah dlm proses denaturasi.
Keuntungan: adanya uap jenuh mempunyai aktivitas pembunuhan yg tinggi & dpt
membunuh semua jenis mikroorganisme, termasuk spora yg resisten, dlm wkt 15 mnt 121°C,
murah, sederhana, hanya membutuhkan pemantauan waktu, suhu & tekanan, cepat (Diktat
Steril, 56)

2. Sterilisasi panas kering


Proses sterilisasi termal untuk bahan yang tertera di farmakope dengan menggunakan panas
kering biasanya dilakukan dengan suatu proses bets dalam suatu oven yang didesain khusus
untuk tujuan tersebut. Distribusi panas dapat berupa sirkulasi atau radiasi menggunakan
sistem semprotan dengan peralatan sendor, pemantau dan pengendali parameter kritis (FI IV,
1112).

Teknik Aseptik. Cara pengerjaan bahan steril menggunakan teknik yang dapat memperkecil
kemungkinan terjadinya cemaran kuman hingga seminimum mungkin. Teknik aseptik
dimaksudkan untuk digunakan dalam pembuatan injeksi yg tidak dapat dilakukan proses
sterilisasi akhir, karena ketidakstabilan zatnya. Teknik ini tidak mudah diselenggarakan dan
tidak ada kepastian bahwa hasil akhir sesungguhnya steril. Sterilitas hasil akhir hanya dapat
disimpulkan, jika hasil itu telah memenuhi syarat Uji sterilitas yg tertera pd Uji keamanan
Hayati. Teknik aseptik menjadi hal yg penting sekali diperhatikan pada waktu melakukan
sterilisasi menggunakan cara sterilisasi penyaringan & pemanasan kering sewaktu
memindahkan atau memasukkan bahan steril ke dalam wadah akhir steril. Dalam hal
tertentu, untuk meyakinkan terjadinya cemaran atau tidak sewaktu memindahkan atau
memasukkan cairan steril ke dlm wadah steril menggunakan cara ini, perlu diuji dgn cara
sbb:
Digunakan untuk zat yang stabil pada panas tetapi sensitif lembab atau tidak dapat ditembus
uap air panas. Digunakan untuk sterilisasi serbuk obat kering, suspensi obat dengan pelarut
non air, minyak, lemak, waxes, liquids, soft & hard parafin, lubrikan seperti silikon, injeksi
minyak, implants, basis salep mata, pakaian bedah, wadah gelas & logam, alat operasi. Pada
suhu diatas 250ºC selama minimal 30 menit bisa sterilisasi dan depirogenisasi glassware dan
logam yang resisten panas. Variasi suhu oven tidak boleh lbh dari ±5ºC pada suhu sterilisasi
selama waktu tunggu. Barang-barang dibiarkan dingin dalam oven hingga sekitar 40 ºC
sebelum kemudian dipindahkan. Inaktivasi oleh panas pada sel terdehidrasi, terutama sebagai

22
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

hasil proses oksidasi. Hubungan suhu dengan waktu tunggu pada sterilisasi panas kering:

Suhu ºC Waktu tunggu minimum (menit)


160 120
170 60
180 30
Keuntungan:
 Pada suhu tertentu dapat untuk sterilisasi & depirogenisasi, metode aman &
terpercaya.
 Tingkat pembunuhan & penetrasi tergantung pada energi yang digunakan, jika energi
panas cukup, dapat berpenetrasi baik & membunuh semua mikroorganisme (Diktat
steril, 57)

3. Sterilisasi gas
Pilihan untuk menggunakan sterilisasi gas sebagai alternatif dari sterilisasi termal sering
dilakukan jika bahan yang akan disterilkan tidak tahan terhadap suhu tinggi pada proses
sterilisasi uap atau panas kering. Bahan aktif yang umumnya digunakan pada sterilisasi gas
adalah etilen oksida.
Kerugian dari bahan ini adalah sangat mudah terbakar, bersifat mutagen dan kemungkinan
adanya residu toksik dalam bahan yang disterilkan terutama yang mengandung ion klorida.
Proses sterilisasi umumnya berlangsung dalam bejana yang bertekanan yang didesain sama
seperti autoklaf tetapi dengan tambahan bagian khusus yang hanya terdapat pada alat
sterilisasi yang menggunakan gas. Kualifikasi proses sterilisasi gas etilen oksida lebih luas
cakupannya daripada cara sterilisasi lainnya karena selain suhu, kelembaban, tekanan positif
atau hampa udara juga diperlukan pengendalian ketat terhadap kadar etilen oksida.
Keterbatasan utama dari proses sterilisasi etilen oksida adalah terbatasnya kemampuan gas
tersebut untuk berdifusi sampai ke daerah yang paling dalam dari bahan yang disterilkan.
Jadi desain kemasan & cara pengisian bejana sterilisasi harus ditetapkan sedemikian rupa
hingga resistensi minimal thdp difusi gas (FI IV, 1112-1113).

Untuk materi yg kompatibel dengan gas yg digunakan, tidak tahan pada suhu sterilisasi uap,
panas kering, atau dosis radiasi tinggi. Kondisi kritis yg hrs dikontrol: konsentrasi gas, suhu,
kelembaban relatif, dan waktu pemaparan. Dengan melihat faktor kritis pada proses
sterilisasi gas maka metode ini tidak disarankan selama masih ada metode lain yg sesuai.
Gas etilen oksida biasa digunakan untuk sterilisasi peralatan medis, juga bisa untuk wadah
plastik & serbuk termolabil. Etilen oksida merupakan pengalkilasi kuat dan aktivitas
antimikroba melalui alkilasi gugus sulfhidril, hidroksil, karboksil, amino pada protein &
asam nukleat. Tidak ada siklus standar untuk sterilisasi dengan etilen oksida, siklus yang
digunakan biasanya pada rentang kadar gas 250-1500 mg/L, kelembaban relatif 30-90%,
o
suhu 30-65 , & waktu pemaparan 1-30 jam.

Gas yang lain yang dapat dipakai yaitu formaldehid (seperti box sterilisasi), hidrogen
peroksida, ozon, klorin dioksida. Gas formaldehid tidak berwarna, tidak eksplosif, tidak
mudah terbakar. Kekuatan penetrasinya rendah, afinitas terhadap air tinggi, mudah
23
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

o
terpolimerisasi pada permukaan pada suhu dibawah 80 , toksik bagi manusia tetapi
dibandingkan etilen oksida, dapat dideteksi dengan baunya pada konsentrasi yang masih
dibawah kadar toksiknya.

o
Hidrogen peroksida, proses sterilisasi pada suhu rendah (4-80 ) & dengan kadar gas rendah
(0,5-5 mg/L) yang diklaim tidak korosif, dengan siklus sterilisasi kurang dari 90 menit telah
diterima. Hidrogen Peroksida tdk dapat digunakan untuk sterilisasi liquid & inkompatibel
dengan material selulosa berpori tinggi dan nilon.

Ozon merupakan bahan pengoksidasi kuat, aktif melawan endotoksin. Proses sterilisasi pada
kelembaban relatif 75-90%, suhu rendah (25o), kadar gas 2-5mg/L. Kelembaban tinggi pada
prosesnya, sifat pengoksidasinya menyebabkan korosi logam, degradasi karet & beberapa
plastik, sehingga menyebabkan sedikitnya penggunaan untuk sterilisasi.

Klorin oksida telah banyak digunakan untuk pengolahan air. Proses sterilisasi pada
kelembaban relatif tinggi (>80%), suhu rendah (25-30ºC), kadar gas < 25mg/L. Sifat klorin
oksida; korosif, kompatibel dgn beberapa plastik, selulosa, karet silikon & stainless steel
(TPC, 548-551).

4. Sterilisasi dengan radiasi ion


Untuk yang tahan radiasi tinggi, tidak tahan panas & kekhawatiran tentang keamanan etilen
oksida. Keunggulan sterilisasi radiasi meliputi reaktivitas kimia rendah, residu rendah yang
dapat diukur dan kenyataan yang membuktikan bahwa variabel yang dikendalikan lebih
sedikit.
Radiasi hanya menimbulkan sedikit kenaikan suhu, tetapi dapat mpengaruhi kualitas & jenis
plastik atau kaca tertentu. Ada 2 jenis radiasi ion yang digunakan yaitu disintegrasi radioaktif
dari radioisotop (radiasi γ) dan radiasi berkas elektron. Utk sterilisasi radiasi γang harus
dipilih dosis sterilisasi yg efektif & dapat ditoleransi tanpa menimbulkan kerusakan.
Berdasarkan pengalaman dipilih dosis 2,5 Mrad (megarad) radiasi yg diserap, tetapi dalam
beberapa hal, diinginkan & dapat diterima penggunaan dosis lebih rendah/tinggi untuk
peralatan, bahan obat, dan bentuk sedíaan akhir (FI IV, 1113).
Radiasi γ adh elektromagnetik energi tinggi dengan λ1-10-4 nm & energi 10-6-10-9 eV.
Absorpsi ke dalam sel akan menyebabkan ionisasi komponen sel, pembentukan radikal
bebas, & eksitasi molekul yang memicu disorganisasi enzim & DNA serta kematian sel.
Resistensi oleh radiasi berhubungan dengan besarnya kerusakan yang dibutuhkan untuk
menyebabkan kematian & kapasitas organisme untuk memperbaiki kerusakan. Kemampuan
penetrasi tinggi, kenaikan suhu yang dapat diabaikan pada objek yang diradiasi dengan dosis
normal, & tidak menginduksi radioaktivitas. Umumnya sumber radiasi γ adh Co-60. Dosis
untuk sterilisasi berbeda-beda. Di UK & hampir seluruh negara di Eropa sterilisasi radiasi γ
dengan dosis minimum yang terabsorbsi 25kGy. Agen protektif seperti komponen yang
mengandung sulfhidril, askorbat & gliserol meningkatkan resistensi. Diskolorasi mungkin
terjadi selama iradiasi pada beberapa gelas & plastik seperti PVC, politetrafluoroetilen &
polipropilen. Degradasi material oleh radiasi diperbesar dengan adanya air & hal ini
24
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

membatasi penggunaan radiasi γ untuk sterilisasi larutan obat dengan pelarut air. Penggunaan
utama untuk sterilisasi peralatan medis. Dapat utk sterilisasi enzim, vitamin, mineral,
antibiotik, antibodi monoklonal, & peptida.
Elektron energi tinggi adalah partikel β yg dipercepat oleh energi tinggi dengan
menggunakan potensial voltase tinggi. Penetrasi lebih kecil dibandingkan radiasi γ.
Radiasi UV adalah pada λ 210-328nm. Aktivitas Bakterisidal maksimumnya ditunjukkan
pada λ 253,7nm. Radiasi UV adalah energi rendah, tidak mengionisasi, hanya meningkatkan
eksitasi molekul. Efek hanya pada mikroorganisme yang terpapar langsung oleh radiasi.
Sebagian besar mikroorganisme melalui proses enzimatik dapat memperbaiki kerusakan
yang diinduksi oleh UV. oleh karena itu hanya sesuai untuk sterilisasi udara dan air dalam
lapisan tipis & permukaan keras yg impermeabel.
Radiasi UV adalah metode pilihan untuk senyawa yang sensitif terhadap panas.
Radiasi UV tidak direkomendasikan untuk sterilisasi produk yang memiliki wadah dan
permukaan yang keras tidak permeabel (hard in permeable surface).(TPC, 546-548)
Keuntungan : penetrasi tinggi (radiasi γ), aktivitas pembunuhan tinggi sehingga tingkat
kepercayaan tinggi. (diktat steril, 56)

5. Sterilisasi dengan penyaringan


Sterilisasi larutan yang labil terhadap panas sering dilakukan dengan penyaringan
menggunakan bahan yang dapat menahan mikroba, sehingga mikroba yang dikandung dapat
dipisahkan secara fisika. Perangkat penyaring umumnya terdiri dari suatu matriks berpori
bertutup kedap atau dirangkaikan pada wadah yang tidak permeabel. Efektivitas suatu
penyaring media atau penyaring substrat tergantung pada ukuran pori bahan dan dapat
tergantung pada daya absorbsi bakteri pada atau dalam matriks penyaring atau bergantung
pada mekanisme pengayakan. Penyaringan untuk tujuan sterilisasi umumnya dilaksanakan
menggunakan rakitan yang memiliki membran dengan porositas nominal 0,2 µm atau
kurang. Media membran penyaring yang tersedia saat ini: celulosa asetat, celulosa nitrat,
fluorokarbonat, polimer akrilik, polikarbonat, poliester, polivinil klorida, vinil, nilon, politef,
dan juga membran logam, dan ini dapat diperkuat atau ditunjang oleh bahan berserat internal.
Rakitan penyaring membran harus diuji untuk integritas awal sebelum dan sesudah
digunakan (FI IV, 1114-1115).
Metode cepat, dan khususnya sesuai untuk larutan yang mengandung bahan termolabil yang
tidak bisa dengan sterilisasi panas walaupun menggunakan protokol dgn waktu singkat &
suhu tinggi. Minyak, cairan kental, pelarut organik dapat disterilisasi dgn cara ini. Tidak
dapat membedakan mikroorganisme/partikel hidup & mati, & akan memisahkan semua tipe
partikel dgn ukuran lebih besar dari ukuran pori membran (TPC, 552).

Filter & perangkatnya harus kompatibel secara fisik & kimia dengan larutan & bisa tahan
dengan suhu & tekanan selama proses. Berbagai pertimbangan pemilihan filter:
a. Ukuran pori maksimum pori 0,22 µm, tetapi untuk kepastiannya perlu ditentukan SAL
(sterility assurance level). Batasan Normal SAL untuk filter 0,22 µm yg dapat diterima
1:1000 atau dgn kata lain tidak lebih dari 0,1% mikroorganisme yg tertinggal.
b. Kompatibilitas
Hati-hati : Pelarut terutama alkohol, glikol, dimetilformamid dapat menyebabkan polimer

25
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

mengembang & larut.


c. Volume cairan
Untuk memperoleh kecepatan aliran yg sesuai perlu filter dgn luas area permukaan yg
sesuai.
d. Beban partikulat
Saat sterilisasi dgn filtrasi, proses sterilisasi filtrasi tersebut harus komplet/sempurna
tanpa mengganti filternya. Ketika partikulat dalam larutan tinggi maka diperlukan
satu/lebih prefilter. Bila beban partikulat relatif rendah, bisa digunakan filter membran
5µm utk prefilternya. (PSPP)

***Dlm prakteknya untuk mengurangi bioburden semua alat dan bahan yang memungkinkan di
sterilisasi terlebih dahulu dan proses aseptik tetap digunakan, baik utk metode pembuatan secara
aseptik maupun sterilisasi akhir.

METODE STERILISASI
Metode Karakteristik zat aktif, Kerugian
eksipien, wadah
Sterilisasi basah Tahan panas (121ºC selama 15 Tidak depirogenasi
(autoklaf) menit) dan tahan lembab, cairan Tidak bisa bahan sensitif panas atau
bercampur dengan air, wadah panas lembab, keterbatasan panas
dapat ditembus oleh air lembab untuk berpenetrasi melalui
wadah, perlu penghilangan udara karena
udara dapat menghalangi difusi uap air.
(diktat steril,56)
Sterilisasi panas Tahan panas (170 ºC selama 1 Dapat depirogenasi
kering (oven) jam), tidak tahan lembab, cairan Kerugian: waktu & suhu lebih lama &
tidak bercampur dengan air lebih tinggi dibandingkan panas lembab,
terbatas pada bahan tahan panas. (diktat
steril, 57)
Filtrasi Tidak tahan panas berbentuk Tidak depirogenasi, kemungkinan terjadi
menggunakan cairan, tidak dapat digunakan absorbsi zat pada membran dan leaching
membran untuk wadah membran
Radiasi Memiliki ikatan molekul stabil Tidak depirogenasi, mahal, dapat
(gamma, terhadap radiasi. Harus merusak ikatan molekul beberapa zat,
elektron) dipastikan tahan radiasi γ (tahan ongkos kapital awal tinggi &
radiasi UV, blm tentu tahan keamanannya.
radiasi γ)
Sterilisasi gas Wadah polimer harus permeabel Kemungkinan residu
terhadap udara,uap air,gas

26
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

SIFAT ZAT
METODA STERILISASI KETERANGAN
AKTIF
Zat padat tahan Sterilisasi panas kering Zinc oxide, kalamin, talk, bismuth
panas dan tidak subnitrat, bismuth subkarbonat, calomel
mudah menguap (tahan pemanasan 160-180 ºC selama 1-
2 jam) Sulfanilamid, sulfadiazin,
sulfathiazole, sulfamerazin (thn
pemanasan 3 jam 140-150 ºC)
Larutan tahan Sterilisasi autoklaf (121 ºC
panas dan lembab selama 20 menit)
Zat padat sensitif Sterilisasi gas seperti
panas formaldehid, atau 10-20%
(thermolabil) etilen dioksida dicampur
dengan karbondioksida
Cairan sensitif Filtrasi menggunakan
panas membran, secara aseptis
Cairan minyak Sterilisasi oven (120-130 ºC Minyak mineral, petrolatum cair,
(tidak bercampur selama 1-2 jam) gliserin. Gliserin tidak dapat dipanaskan
dengan air) melebihi 150ºC. Minyak&petrolatum
cair tahan pemanasan sampai 200 ºC

III. EVALUASI DAN PENYIMPANAN


A. Evaluasi
Dilakukan setelah sediaan disterilkan dan sebelum wadah dipasang etiket dan dikemas.

EVALUASI FISIKA
1 Penetapan pH <1071> (FI IV, 1039-1040)
2 Bahan Partikulat dalam Injeksi <751> ( Suplemen I FI IV Hal 1533-1543)
3 Penetapan Volume Injeksi Dalam Wadah <1131> (FI ed. IV, 1044)
4 Keseragaman Sediaan <911> (FI IV, 999-1001)
5 Uji Kebocoran Goeswin, Sediaan Farmasi steril, 2009, hal 201))
6 Uji Kejernihan dan Warna (FI IV, hal. 998)

EVALUASI BIOLOGI
1 Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba (untuk yang mengandung pengawet) <61> (FI IV,
854-855)
2 Uji Sterilitas <71> (FI IV, 855-863, Suplemen FI IV, 1512-1515)
3 Uji Endotoksin Bakteri <201> (FI IV, 905-907, Suplemen FI IV, 1527-1532)
4 Uji Pirogen (Untuk volume > 10 ml) <231> (FI IV, 908-909)
5 Uji Kandungan Antimikroba (untuk yang mengandung pengawet) <441> (FI ed. IV, HAL.
939-942)
6 Penetapan Potensi Antibiotik Secara Mikrobiologi (Untuk zat aktif antibiotik) <131> (FI
IV, 891-899)

27
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

EVALUASI KIMIA
1 Uji Identifikasi (Sesuai dengan monografi sediaan masing-masing)
2. Penetapan Kadar (Sesuai dengan monografi sediaan masing-masing).

B. Wadah
Injeksi tersedia dalam wadah multiple-dose dan single-dose. Wadah untuk multiple dose
biasanya berupa vial yang ditutup sedemikian rupa sehingga penarikan cairan dalam volum
tertentu tanpa adanya perubahan kekuatan produk dan mempertahankan sterilitas. Sedangkan
untuk single dose dapat menggunakan ampul, vial atau syringe.
 Ampul: kekurangan dari ampul adalah wadah tersebut dapat terkontaminasi dengan partikel
gelas ketika dibuka dan membutuhkan syringe untuk mengambil larutan obat.
 Vial: dapat digunakan untuk single ataupun multiple dose. Kekurangan dari vial ini adalah
harus memastikan bahwa larutan obat kompatibel dengan karet penutup. (encyclopedia
Pharmaceutical technology, 2006, 1007)

Wadah untuk injeksi termasuk penutup tidak boleh berinteraksi melalui berbagai cara baik secara
fisik maupun kimiawi dengan sediaan, yang dapat mengubah kekuatan, mutu atau kemurnian di
luar persyaratan resmi dalam kondisi biasa pada waktu penanganan, pengangkutan,
penyimpanan, penjualan, dan penggunaan. Wadah terbuat dari bahan yang dapat mempermudah
pengamatan terhadap isi. Tipe kaca yang dianjurkan untuk tiap sediaan umumnya tertera dalam
masing-masing monografi. (FI IV, hal 10).
Bagaimanapun bentuk dan komposisi wadah, wadah pengemas merupakan sumber dari masalah
stabilitas sediaan, bahan partikulat, dan sumber pirogen. (Diktat Steril, 82*)
Keuntungan wadah gelas (Diktat steril, 82-83*) :
1 Mempunyai daya tahan kimia yang baik sehingga tidak bereaksi dengan kandungan wadah
dan tidak mengabsorbsi atau mengeluarkan senyawa organik.
2 Bersifat tidak permeabel sehingga apabila ditutup dengan baik maka pemasukan atau
hilangnya gas-gas dapat diabaikan.
3 Wadah gelas mudah dicuci karena permukannya licin
4 Bersifat transparan sehingga dapat diamati kandungannya dalam wadah.
5 Mempunyai sifat kaku, kuat dan bentuknya stabil. Tahan terhadap tusukan dapat
divakumkan, dapat dipanaskan pada suhu 121 ºC pada sterilisasi uap dan 260 ºC pada
sterilisasi kering tanpa mengalami perubahan bentuk. Kerugian : mudah pecah dan bobotnya
relatif berat.

Wadah yang biasa digunakan untuk sedian injeksi adalah berupa vial atau ampul. Untuk zat aktif
yang mudah teroksidasi biasanya digunakan ampul berwarna gelap (biasanya coklat) untuk
melindungi sediaan dari cahaya.
Tipe Gelas: (Diktat Steril, 88-90*)
1. Gelas tipe I (borosilikat)
Daya tahan kimia gelas tipe I sangat tinggi, tahan terhadap produk alkali, terutama
disebabkan oleh kandungan Al2O3 yang tinggi. Digunakan untuk membuat wadah tiup
dalam bentuk tabung, misalnya vial, ampul, badan alat suntik (syringe) dan bagian infus set.
Beberapa sediaan parenteral volume kecil dikemas dalam alat suntik gelas sekali pakai
28
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

(disposable one-trip glass syringe) (Diktat Steril, 88*)


2. Gelas tipe II (gelas natrium kalsium modifikasi)
Dibuat dari wadah gelas natrium kalsium yang permukaan dalamnya dibebaskan dari alkali
untuk memperoleh daya tahan kimia yang baik.
3. Gelas tipe III (gelas natrium kalsium)
Pada natrium kalsium gelas harus memberikan hasil yang kecil dalam uji serbuk gelas.
Kebanyakan wadah gelas flint memberikan hasil uji yang kecil. Menurut USP, penggunaan
wadah tipe III untuk wadah sediaan injeksi tidak akan mengalami kerusakan selama
penyimpanan. Hal ini berlaku untuk sediaan volume kecil, dan wadah disterilkan terlebih
dahulu sebelum diisi dengan produk steril secara aseptik.
Wadah gelas disterilkan dengan sterilisasi panas kering. Bila dilakukan sterilisasi wadah
kosong dalam otoklaf 121 °C 20 menit akan terjadi kerusakan permukaan dalam wadah
gelas, dihasilkan alkali. Bila wadah diisi dengan larutan berpelarut air maka alkali yang
dihasilkan akan larut dan kadang-kadang senyawa silicon yang tidak larut juga dapat masuk
ke dalam larutan.
4. Gelas tipe NP
Wadah ini digunakan secara meluas untuk sediaan non-parenteral dengan batasan spesifikasi
minimum. Gelas tipe I, II, III juga memenuhi spesifikasi gelas tipe NP. Seringkali hasil
batasan uji tipe NP dan tipe III hanya sedikit sekali perbedaannya. Jika produk obat sangat
dipengaruhi oleh zat dari wadah natrium kalsium gelas maka harus digunakan gelas tipe I
atau tipe II.

C. Penandaan (FI Ed. IV, hal 11)


Pada etiket tertera nama sediaan, untuk sediaan cair tertera persentase atau jumlah zat aktif
dalam volume tertentu, cara pemberian, kondisi penyimpanan dan tanggal kadaluarsa, nama
pabrik pembuat dan atau pengimpor serta nomor lot atau bets yang menunjukkan identitas.
Nomor lot dan nomor bets dapat memberikan informasi tentang riwayat pembuatan lengkap
meliputi seluruh proses pengolahan, sterilisasi, pengisian, pengemasan, dan penandaan.
Bila dalam monografi tertera berbagai kadar zat aktif dalam sediaan parenteral volume besar,
maka kadar masing-masing komponen disebut dengan nama umum misalnya injeksi Dekstrosa
5% atau Injeksi Dekstrosa (5%) dan Natrium Klorida (0,2%).
Bila formula lengkap tidak tertera dalam masing-masing monografi, penandaan mencakup
informasi berikut :
1 Untuk sediaan cair, persentase isi atau jumlah tiap komponen dalam volume tertentu, kecuali
bahan yang ditambahkan untuk penyesuaian pH atau untuk membuat larutan isotonik, dapat
dinyatakan nama dan efek bahan tersebut
2 Sediaan kering atau sediaan yang memerlukan pengenceran sebelum digunakan, jumlah tiap
komponen, komposisi pengencer yang dianjurkan, jumlah yang diperlukan untuk mendapat
konsentrasi tertentu zat aktif dan volume akhir larutan yang diperoleh, uraian singkat
pemerian larutan terkonstitusi, cara penyimpanan dan tanggal kadaluarsa.

Pemberian etiket pada wadah sedemikian rupa sehingga sebagian wadah tidak tertutup oleh
etiket, untuk mempermudah pemeriksaan isi secara visual.

29
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

D. Pengemasan dan Penyimpanan


Volume injeksi wadah dosis tunggal dapat memberikan jumlah tertentu untuk pemakaian
parenteral sekali pakai dan tidak ada yang memungkinkan pengambilan isi dan pemberian 1 liter.
(FI Ed. IV, Hal 11)
Untuk penyimpanan obat, sediaan harus disimpan dalam kondisi yg sesuai sehingga dapat
mencegah cemaran dan penguraian, terhindar pengaruh udara, kelembaban, panas dan cahaya.
Kondisi penyimpanan tergantung pada sediaannya, misalnya kondisi harus disimpan terlindung
cahaya, disimpan pada suhu kamar, disimpan di tempat sejuk, disimpan di tempat dingin (FI Ed.
III, hal XXXIV)

IV. SEDIAAN DI PUSTAKA


Trissel, Injectable drug 11thed. *
Alteplase (22) Calcitriol (191) (1218)
Aldesleukin (14) Chlordiazepokside HCl Filgrastim (562)
Amikasin Sulfat (30) (292) Norepinefrin bitartrat
Amiodaron HCl (97) Nafcilin Natrium (940) (974)
Amtrypin HCl (101) Piridoksin HCl (1131) Trimethobenzamide HCl
Asam Folat (594) Chlorpromazine HCl (291) (1261)
Ketolorak Trometamin Nalbuphine HCl (947) Noradrenalin Asam Tartrat
(773) Quinidine Glukonat (1132) (974)
Penisilin G Natrium (1024) Clindamisin Fosfat (345) Gentamisin Sulfat (624)
Labetalol HCl (775) Nalmefen HCl (952) Vecuronium Bromida
Pentamidin Isetionat Ranitidin HCl (1134) (1246)
(1029) Dexamethasone Sodium Hialuronidase (1257)
Levopranol Tartrat (785) Phosphat (387) Vitamin A (1311)
Pentazosin Laktat (1031) Nalokson HCl (952) Hidralazin HCl
Methotreksat Natrium Scopolamin HBr (1160) (694)
(851) Neostigmin Metilsulfat Oktreotida
Pentobarbital Natrium (953) Asetat (979)
(1034) Sodium Acetate (1164) Warfarin
Benztropine Mesylate Diazepam (402) Natrium (1314)
(167) Netilmisin Sulfat (955) Hidrokortison
Phenilefrin HCl (1049) Sodium Fosfat (1186) Natrium Fosfat
Betamethasone Sodium Nikardipin HCl (962) (697)
Phosphat (168) Streptomisin Sulfat (1190) Penisilin G
Phenitoin Natrium (1051) Etoposide (516) Kalium (1024)
Metronidazole (885) Nitrogliserin (963)
Piperasilin Natrium (1061) Thiethylperazine Malate

V. MASALAH KHUSUS

A. SUSPENSI STERIL
Suspensi sediaan steril (diambil dari definisi suspensi obat mata, adalah sediaan steril yang
mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan pembawa. Obat dalam suspensi
30
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi. (FI ed. IV, hal 14)
Sediaan suspensi parenteral adalah zat berkhasiat yang tak larut, terdispersi dalam bentuk
multifase dengan system heterogen, ditujukan untuk injeksi intramuskular dan subkutan (Diktat
Steril, 167*).

Suspensi parenteral merupakan salah satu jenis sediaan yang paling sulit untuk dibuat. Sediaan
suspensi parenteral tidak boleh mengendap (caking) selama penyimpanan, mudah untuk
diresuspensi pada pemakaian dan ukuran partikelnya harus dapat melewati jarum dengan ukuran
18-21 gauge (Diktat steril, hal 167*). Untuk mencapai hal tersebut ada beberapa hal yang harus
diperhatikan yaitu:
• Mengontrol kristalisasi dan reduksi ukuran partikel (mikronisasi)
• Proses sterilisasi zat aktif
• Proses pembasahan dengan surfaktan, dispersi dan pencampuran aseptik, pengisian akhir
ke wadah.
• Keseragaman ukuran partikel untuk menjamin ketepatan dosis
• Zat tambahan yang digunakan harus membuat dispersi stabil selama penyimpanan dan
mudah mengalir (tiksotropik)

Sediaan parenteral dibuat dalam bentuk injeksi suspensi bila:


 Zat aktif sukar larut dalam air ataupun minyak dan jika digunakan pelarut campur maka
dibutuhkan pelarut campur atau zat penambah kelarutan dalam jumlah yang banyak
(gliserin, etanol, propilen glikol, PEG) (Diktat Steril, 162*)
 Jika diinginkan sediaan parenteral dengan kecepatan pelepasan lambat, melalui
modifikasi absorbsi sediaan dari tempat pemberian injeksinya.ex:sediaan IM (TPC, 12th
ed., 1994, 98)

FORMULA PUSTAKA
Pembawa air
R/ Zat aktif
Pembawa (air)
Zat tambahan (untuk suspensi parenteral)
Pengawet, antioksidan, zat pengkelat, zat pembasah, zat pensuspensi flokulasi, buffer,
zat pengisotonis

Pembawa minyak
Suspensi parenteral dapat juga dibuat dalam pembawa minyak, untuk memberikan efek depot
(pemberian IM)
R/ Zat aktif
Pembawa (minyak)
Zat tambahan (suspending agent, antioksidan, pengawet)
Suspending agent yang biasa dipakai dalam pembawa minyak : Alumunium monostearat.

Contoh : Injeksi prokain Penisilin


R/ Prokain Penisilin 300.000 UI/ml
31
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

Alumunium monostearat 2,0 %


Minyak zaitun ad 100 ml
Cara Pembuatan : Dapat dilihat pada prosedur pembuatan di BAB II

Zat Tambahan dalam Sediaan Injeksi Suspensi air Steril (Lachman Parenteral Medication, vol.
1, 3nd ed., 104*)
1. PENSUSPENSI
Alumunium monostearat
Gelatin
Manitol
Povidon
Natrium karboksimetilselulosa
Sorbitol
2. SURFAKTAN
Lesitin
Polioksietilen-polioksipropilen eter
Polioksietilen sorbitan monolaurat
Polisorbat 80
Silikon antifoam
Sorbitan trioleat
3. PELARUT
Polietilenglikol 300
Propilenglikol
4. pH ADJUSMENT
Asam sitrat,
Natrium sitrat

Evaluasi dan Penyimpanan


Evaluasi sediaan suspensi steril mengacu pada sediaan suspensi nonsteril, hanya perlu dilakukan
uji sterilisasi. Wadah untuk suspensi steril biasanya digunakan vial.

B. EMULSI STERIL
Sediaan emulsi parenteral adalah dispersi heterogen dalam satu cairan yang tidak larut dengan
cairan lainnya. Untuk membuat sediaan stabil dapat ditambahkan zat pengemulsi. [Diktat Kuliah
Teknologi Farmasi Sediaan Steril, 1994, p. 169]
Ketidaklarutan zat aktif tertentu menyebabkan kesulitan pembuatan formula untuk intravena.
Alternatifnya adalah dibuat dalam sistem kosolven atau emulsi. [Lachman, Pharmaceutical
Dosage Forms: Disperse Systems, vol. 1, 3ed, 104]
Pada emulsi untuk injeksi, zat aktif larut minyak dilarutkan dalam pembawa yang sesuai,
kemudian diemulsikan. Namun, emulsi parenteral jarang dibuat karena keharusan dan kesulitan
untuk mencapai droplet stabil dengan ukuran kurang dari 1 µm untuk mencegah emboli di
pembuluh darah. [Lachman, Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse Systems, vol. 1, 3ed, 104]

32
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

Tujuan Penggunaan Sediaan Parenteral Emulsi


1 Sediaan Emulsi air dalam minyak (A/M) untuk mencegah alergi (Emulsion of allergenic
extracts), diberikan secara sub kutan
2 Sediaan emulsi lepas lambat minyak dalam air (M/A), diberikan secara intramuskular
(Sustained release depot preparation)
3 Sedian emulsi nutrisi minyak dalam air (M/A), diberikan secara intravena (Lachman,
Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse Systems, vol. 1, 3ed, 105)

Keterbatasan pembuatan emulsi parenteral adalah:


1 Pilihan stabilisator dan emulgator yang terbatas
2 Kemungkinan terjadinya reaksi pirogen dan hemolisis lebih besar [intravena Lachman,
Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse Systems, vol. 1, 3ed, 105*; Diktat Kuliah
Teknologi Farmasi Sediaan Steril, 1994, p. 169*]

Emulsi parenteral dibatasi oleh dua hal penting, yaitu:


1 Ukuran partikel
Untuk intravena, ukuran partikel ≤5 µm, tanpa resiko emboli di kapiler. Ukuran partikel
rata-rata untuk emulsi lemak < 1 µm, diperoleh dengan homogenisasi pada temperatur dan
tekanan tinggi.
2 Sterilisasi Metode
Sterilisasi yang digunakan adalah autoklaf pada 110°C selama 40 menit, perlakuan ini tidak
mempengaruhi stabilitas, melainkan memperkecil ukuran partikel. Metode sterilisasi
alternatif adalah: filtrasi, selama ukuran partikel (droplet) cukup kecil untuk melewati filter -
sterilisasi awal, pembuatan aseptik.

Instabilitas emulsi lemak dapat disebabkan beberapa hal:


1 Perubahan ukuran partikel droplet minyak, menyebabkan creaming dan koalesensi
2 Perubahan pH. Jika pH emulsi dijaga lebih alkali, stabilitas dapat terjaga dan produk dapat
disimpan di bawah suhu 30°C.
3 Hidrolisis emulgator
4 Oksidasi minyak
5 Penambahan zat aktif atau elektrolit, sehingga formula harus dibuat khusus.

Keuntungan emulsi lemak:


a. Targeted Delivery System : Emulsi lemak dapat digunakan sebagai pembawa obat karena
kemiripannya dengan kilomikron
b. Dapat diencerkan in vivo dalam darah atau saluran cerna tanpa menyebabkan presipitasi
partikel obat. Lingkungan pembawa nonair dapat meningkatkan stabilitas
[Lachman, Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse Systems, vol. 1, 1988, p. 246-247*]

FORMULASI
Faktor yang harus diperhatikan dalam pengembangan formula sediaan emulsi steril:
1 Ukuran globul yang terdispersi dengan rentang ukuran yang cukup kecil melalui proses
destruksi yang spesifik pada saat pembuatan sediaan emulsi.
33
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

2 Pembawa minyak yang dapat berasosiasi dengan cairan tubuh.


3 Inkompatibilitas antar komponen dalam sediaan atau pada saat dicampurkan dengan sediaan
injeksi lainnya.
4 Wadah primer sesuai dengan cara pemberian : disposable. [Modul Praktikum Teknologi
Sediaan Likuid & Semisolid, p. 39*]

Persyaratan tambahan untuk injeksi emulsi:


1. Fisikokimia
Stabilitas fisik
Ukuran partikel kurang dari 2 µm
Dapat disterilisasi
Stabilitas kimia
2. Biologi
Efek samping kecil
Nonantigenik
Semua komponen dapat dimetabolisme atau diekskresikan
3. Praktik
Stabil pada temperatur yang ekstrem
Harga [Lachman, Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse Systems, vol. 2, 1988, p.
379-380]

Minyak yang umum dipakai:


Natural oil: cottonseed oil, soybean oil, safflower oil, sesame oil, cod liver oil, linseed oil,
coconut oil, corn oil, peanut oil, cocobutter oil, butter oil.
Sintetik/semisintetik: triolein, etil oleat, dibutil, sebakat, isoamil salisilat.[Lachman,
Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse Systems, vol. 2, 1988, p. 380*]

Untuk rute intramuskular dapat digunakan minyak paraffin atau minyak tumbuhan, untuk rute
intravena biasanya digunakan minyak tumbuhan murni, seperti soybean oil, safflower oil, dan
cottonseed oil. Minyak-minyak tersebut paling umum digunakan karena reaksi toksik jarang
terjadi dan tahan terhadap oksidasi. [Lachman, Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse
Systems, vol. 1, 1988, p. 246*]

Minyak teremulsi tidak mempunyai efek osmotik, perlu tambahan untuk membuat kondisi
isotonik. Jika digunakan lesitin sebagai emulgator, NaCl dan gula pereduksi (glukosa) tidak
dapat dipakai, karena berinteraksi menyebabkan warna cokelat dan pemisahan fasa, solusinya
adalah penggunaan gliserin, sorbitol atau xylitol. [Lachman, Pharmaceutical Dosage Forms:
Disperse Systems, vol. 2, 1988, p. 383*]
Formula emulsi parenteral utama:
a. Zat aktif
b. Pembawa (air dan minyak)
c. Emulgator
d. Pengawet
e. Antioksidan
34
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

METODE PEMBUATAN

Lachman, pharmaceutical dosage : dysperse system hal 386*; cit gronis J.J.Parenteral
technology manual,interpharm press,1985,p,36*

VI. EVALUASI
Evaluasi fisika, Analisis kimia, Penentuan pH, Penentuan ukuran globul, Uji sterilitas, Uji
pirogen [Lachman, Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse Systems, vol. 2, 1988, p.390-
391]. Evaluasi sediaan sama dengan emulsi nonsteril, hanya perlu dilakukan uji sterilitas

Beberapa evaluasi yang dilakukan untuk emulsi steril :


(Catatan editor: Lihat evaluasi emulsi di TS EMULSI!!! Ambil yang bisa dijadikan evaluasi
untuk emulsi steril , kalau TS yang lalu di bagian sini sampai mencantumkan evaluasi bobot
jenis, viskositas, dll, tapi rasa2nya sih ga begitu perlu kalo utk emulsi steril. Untuk paket
minimalisnya beberapa dicantumkan disini..)

1. UJI STERILITAS
(merujuk ke Suplemen FI IV Hal 1512-1515)

2. PENENTUAN EFEKTIVITAS PENGAWET


Semua emulsi memerlukan bahan anti mikroba karena fase air mempermudah pertumbuhan
mikroorganisme. Kesulitan muncul pada pengawetan sistem emulsi, sebagai akibat dari
memisahnya bahan antimikroba dari fasa air yang sangat memerlukannya, atau terjadinya
kompleksasi dengan bahan pengemulsi yang akan mengurangi efektivitas. Oleh karena itu,
efektivitas sistem pengawetan harus selalu diuji pada sediaan akhir. (FI IV, hal 7)
Tambahan : Pengawet yang biasa digunakan dalam emulsi adalah meti-l, etil- propel-, dan
butyl-paraben, asam benzoate, dan senyawa ammonium kuartener,
Efektivitas pengawet pada sediaan emulsi dilakukan sesuai dengan ketentuan pada Uji
Efektivitas Pengawet Antimikroba <61> (FI IV, hal 854-855).
35
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

Uji Efektivitas Pengawet Antimikroba (FI IV, hal 854-855)


Pengawet antimikroba adalah zat yang ditambahkan pada sediaan obat untuk melindungi sediaan
terhadap kontaminasi mikroba. Pengawet digunakan terutama pada wadah dosis ganda untuk
menghambat pertumbuhan mikroba yang dapat masuk secara tidak sengaja selama atau setelah
proses produksi. Zat antimikroba tidak boleh digunakan semata-mata untuk menurunkan jumlah
mikroba viabel sebagai pengganti cara produksi yang baik. Bagaimanapun juga dapat timbul
keadaan yang memerlukan penggunaan pengawet untuk menekan perkembangbiakan mikroba.
Harus diakui bahwa adanya mikroba yang telah mati atau hasil metabolisme mikroba yang hidup
dapat menimbulkan efek negatif pada orang yang peka.

Setiap zat antimikroba dapat bersifat pengawet, meskipun demikian semua zat antimikroba
adalah zat yang beracun. Untuk melindungi konsumen secara maksimum, pada penggunaan
harus diusahakan agar pada kemasan akhir kadar pengawet yang masih efektif lebih rendah dari
kadar yang dapat menimbulkan keracunan pada manusia.

Pengujian berikut dimaksudkan untuk menunjukkan efektivitas pengawet antimikroba yang


ditambahkan pada sediaan dosis ganda yang dibuat dengan dasar atau bahan pembawa berair
seperti produk-produk parenteral, telinga, hidung dan mata yang dicantumkan pada etiket produk
yang bersangkutan. Pengujian dan persyaratan hanya berlaku pada produk di dalam wadah asli
belum dibuka yang didistribusikan oleh produsen.

Mikroba uji
Gunakan biakan mikroba berikut: Candida albicans (ATCC No. 10231), Aspergillus niger
(ATCC No. 16404), Escherichia coli (ATCC No. 8739), Pseudomonas aeruginosa (ATCC No.
9027) dan Staphylococcus aureus (ATCC No. 6538). Selain mikroba yang disebut di atas, dapat
digunakan mikroba lain sebagai tambahan terutama jika dianggap mikroba bersangkutan dapat
merupakan kontaminan selama penggunaan sediaan tersebut

Media
Untuk biakan awal mikroba uji, pilih media agar yang sesuai untuk pertumbuhan yang subur
mikroba uji, seperti Soybean-Casein Digest Agar Medium yang tertera pada Uji Batas Mikroba
<51>.

Pembuatan Inokula
Sebelum pengujian dilakukan, inokulasi permukaan media agar bervolume yang sesuai, dengan
biakan persediaan segar mikroba yang akan digunakan. Inkubasi biakan bakteri pada suhu 30 0-
350 selama 18 jam-24 jam, biakan Candida albicans pada suhu 200-250 selama 48 jam dan
biakan Aspergillus niger pada suhu 200-250 selama 1 minggu.

Gunakan larutan natrium klorida P 0,9% steril untuk memanen biakan bakteri dan Candida
albicans, dengan mencuci permukaan pertumbuhan dan hasil cucian dimasukkan ke dalam
wadah yang sesuai dan tambahkan larutan NaCl P 0,9% steril secukupnya untuk mengurangi
36
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

angka mikroba hingga lebih kurang 100 juta per mL. Untuk memanen Aspergiillus niger,
lakukan hal yang sama menggunakan larutan NaCl P 0,9% steril yang mengandung polisorbat
80 P 0,05% dan atur angka spora hingga lebih kurang 100 juta per mL dengan penambahan
larutan NaCl P 0,9% steril.

Sebagai alternatif,mikroba dapat ditumbuhkan di dalam media cair yang sesuai, dan panenan sel
dilakukan dengan cara sentrifugasi, dicuci dan disuspensikan kembali dalam larutan NaCL P
0,9% steril sedemikian rupa hingga dicapai angka mikroba atau spora yang dikehendaki.

Tetapkan jumlah satuan pembentuk koloni tiap mL dari setiap suspensi dan angka ini digunakan
untuk menetapkan banyaknya inokula yang digunakan pada pengujian. Jika suspensi yang telah
dibakukan tidak segera digunakan, suspensi dipantau secara berkala dengan metode lempeng
Angka Mikroba Aerob Total seperti yang tertera pada Uji Batas Mikroba <51> untuk
menetapkan penurunan viabilitas.

Untuk memantau angka lempeng sediaan uji yang telah diinokulasi, gunakan media agar yang
sama seperti media untuk biakan awal mikroba yang bersangkutan. Jika tersedia inaktivator
pengawet yang khas, tambahkan sejumlah yang sesuai ke dalam media lempeng agar.

Prosedur
Jika wadah sediaan dapat ditembus secara aseptik menggunakan jarum suntik melalui sumbat
karet, lakukan pengujian pada 5 wadah asli sediaan. Jika wadah sediaan tidak dapat ditembus
secara aseptik, pindahkan 20 mL sampel ke dalam masing-masing 5 tabung bakteriologik
bertutup, berukuran sesuai dan steril. Inokulasi masing-masing wadah atau tabung denagn salah
satu suspensi mikroba baku, menggunakan perbandingan 0,1 mL inokula setara dengan 20 mL
sediaan, dan campur. Mikroba uji dengan jumlah yang sesuai harus ditambahkan sedemikian
rupa sehingga jumlah mikroba di dalam sediaan uji segera setelah inokulasi adalah antara
100.000 dan 1.000.000 per mL. Tetapkan jumlah mikroba viabel di dalam tiap suspensi inokula,
dan hitung angka awal mikroba tiap mL sediaan yang diuji dengan metode lempeng. Inkubasi
wadah atau tabung yang telah diinokulasi pada suhu 200-250. Amati wadah atau tabung pada hari
ke 7, 14, 21, dan ke 28 sesudah inokulasi. Catat tiap perubahan yang terlihat dan tetapkan jumlah
mikroba viabel pada tiap selang waktu tersebut dengan metode lempeng. Dengan menggunakan
bilangan teoritis mikroba pada awal pengujian, hitung perubahan kadar dalam persen tiap
mikroba selama pengujian.

Penafsiran Hasil
Suatu pengawet dinyatakan efektif di dalam contoh yang diuji, jika:
a. Jumlah bakteri viabel pada hari ke 14 berkurang hingga tidak lebih dari 0,1% dari jumlah
awal.
b. Jumlah kapang dan khamir viabel selama 14 hari pertama adalah tetap atau kurang dari
jumlah awal.
c. Jumlah mikroba uji selama hari tersisa dari 28 hari pengujian adalah tetap atau kurang dari
bilangan yang disebut pada a dan b.

37
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

3. PENENTUAN TIPE EMULSI


Dilakukan dengan salah satu prosedur pada point I.C. Penentuan Tipe Emulsi.

4. PENETAPAN PH
(Suplemen I FI IV <1071> hal 1572-1573)
Harga pH adalah harga yang diberikan oleh alat potensiometrik (pH meter) yang sesuai, yang
telah dibakukan, yang mampu mengukur harga pH sampai 0,02 unit pH menggunakan elektrode
indikator yang peka terhadap aktivitas ion hidrogen, elektrode kaca, dan elektrode pembanding
yang sesuai seperti elektrode kalomel atau elektroda perak klorida.

Alat harus mampu menunjukkan potensial dari pasangan elektroda dan untuk pembakuan pH
menggunakan potensial dari pasangan elektroda dan untuk pembakuan pH menggunakan
potensial yang dapat diatur ke sirkuit dengan menggunakan “pembakuan”, “nol”, “asimetri”,
atau “kalibrasi” dan harus mampu mengontrol perubahan dalam milivolt per perubahan unit pada
pembacaan pH melalui kendali “suhu” dan/atau kemiringan. Pengukuran dilakukan pada suhu
250 ± 20, kecuali dinyatakan lain dalam masing-masing monografi.

Skala pH ditetapkan dengan persamaan sebagai berikut:


(E – Es)
pH = pHs +
k
E dan Es berturut-turut adalah potensial terukur dengan sel galvanik berisi larutan uji, dinyatakan
sebagai pH dan Larutan dapar untuk pembakuan yang tepat, dinyatakan sebagi pHs; harga k
adalah perubahan dalam potensial per perubahan unit dalam pH dan secara teoritis sebesar
{0,05916+0,000198 (t-250)} volt pada suhu t.

5. PENENTUAN UKURAN GLOBUL


(Lachman Practice ed III, hal 531*)
Metode ini cukup banyak digunakan untuk evaluasi emulsi. Yang ditetapkan adalah ukuran
droplet rata-rata berikut distribusinya pada selang waktu tertentu. Diasumsikan terjadi
pembesaran ukuran droplet. Analisis ukuran droplet ini dapat dilakukan dengan mikroskop
(mengukur diameter) atau penghitung elektronik (electronic counter), yang mengukur volume
droplet.

Caranya: untuk mempermudah penentuan ukuran droplet, sediaannya diencerkan dulu dengan
gliserin. Dari sediaan yang telah diencerkan tadi, diambil 1-2 tetes, disimpan di atas kaca objek,
lalu diberi beberapa tetes larutan Sudan III, diaduk sampai rata. Setelah diberi kaca penutup,
dilihat di bawah mikroskop bermikrometer. Partikel yang diukur paling sedikit berjumlah 300.

Studi menggunakan emulsi yang stabil menunjukkan bahwa pada awalnya akan terjadi
perubahan ukuran droplet yang sangat cepat, yang menunjukkan kekurangsempurnaan pelapisan
permukaan droplet oleh emulgator selama proses emulsifikasi. Selanjutnya perubahan ukuran
droplet yang lambat menunjukkan adanya koalesensi droplet sampai tercapai kondisi yang relatif
lebih stabil.
38
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

B. EVALUASI INJEKSI KERING


Bentuk suatu obat yang dibuat sebagai obat suntik tergantung pada sifat obat itu sendiri dengan
memperhitungkan sifat fisika dan kimia dan juga pertimbangan terapeutik tertentu. Umumnya,
bila obat tidak stabil dalam larutan, ia akan dibuat sebagai bubuk kering yang dimaksudkan
untuk dibentuk dengan penambahan pelarut yang tepat pada waktu akan diberikan, atau dapat
dibuat dalam bentuk suspensi partikel obat dalam pembawa dimana obat tidak larut. (Ansel Ed 4
,1989, HAL. 405*).

Larutan Terkonstitusi (FI IV hal 12) Pada sediaan steril yang akan dibuat larutan terkonstitusi
diberi nama sesuai bentuknya ....... steril atau ..... untuk injeksi. Karena sediaan dikonstitusikan
oleh tenaga medik segera pada saat digunakan, uji dan ketentuan tentang larutan yang
dikonstitusi untuk pemberian tidak dimasukkan dalam masing-masing monografi padatan kering
atau cairan pekat steril. Untuk menjamin mutu sediaan injeksi sebagaimana diberikan, uji yang
tidak merusak sediaan injeksi seperti berikut ini dilakukan untuk memperlihatkan kesesuaian
larutan terkonstitusi pada saat sebelum digunakan.
Untuk evaluasi injeksi kering, disamping dilakukan uji sterilitas, efektivitas pengawet, dll,
dilakukan juga evaluasi kesempurnaan dan kejernihan melarut sebagai berikut :

EVALUASI KESEMPURNAAN DAN KEJERNIHAN MELARUT


Rekonstitusikan larutan seperti tertera pada etiket untuk sediaan steril kering.
• Padatan melarut sempurna, tidak terlihat meninggalkan sisa yang tidak melarut
• Kejernihan larutan terkonstitusi tidak kurang jernih secara signifikan dari volume sama
pengencer atau air murni dalam wadah serupa dan diperiksa dengan cara yang sama.
• Larutan tidak mengandung partikel bahan asing yang dapat dilihat secara visual.

39
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

LAMPIRAN EVALUASI SEDIAAN STERIL

EVALUASI FISIK
1. UJI KEJERNIHAN DAN WARNA (Goeswin Agoes, Larutan Parenteral hal 201-202*)
Setiap larutan obat suntik harus jernih dan bebas dari kotoran sehingga diperlukan uji kejernihan
secara visual.
Prosedur : wadah-wadah kemasan akhir diperiksa satu persatu dengan menyinari wadah dari
samping dengan latar belakang sehelai papan yang separuhnya di cat bewarna hitam dan separuh
lagi dicat berwarna putih. Latar belakang hitam dipakai untuk menyelidiki kotoran yang
berwarna muda,sedangkan berlatar putih untuk kotoran-kotoran berwarna gelap.
Penafsiran : memenuhi syarat jika tidak ditemukan kotoran dalam larutan.

2. PENETAPAN pH (Suplemen I FI IV <1071> hal 1572-1573)


Tujuan: Menetapkan pH suatu sediaan larutan
Harga pH adalah harga yang diberikan oleh alat potensiometrik(pH meter) yang sesuai yang
telah dibakukan sebagaimana mestinya, yang mampu mengukur harga pH sampai 0,02 unit pH
menggunakan elektrode indikator yang peka, elektrode kaca, dan elektrode pembanding yang
sesuai.(Suplemen I FI IV hal 1572)

Cara pengerjaan: Larutan dapar untuk pembakuan Buat menurut petunjuk sesuai Tabel. Simpan
dalam wadah tahan bahan kimia, tertutup rapat, sebaiknya dari kaca tipe I atau botol polietilen
dengan tutup rapat atau tabung yang menyerap karbon dioksida (kapur soda). Larutan segar
sebaiknya dibuat dengan interval tidak lebih dari 3 bulan. Tabel berikut menujukkan pH dari
larutan dapar sebagai fungsi dari suhu. Petunjuk ini digunakan untuk pembuatan larutan dapar
dengan kadar molal sebagaimana disebutkan. Untuk memudahkan, petunjuk diberikan dengan
pengenceran hingga volume 1000 ml, bukan dengan menyebutkan penggunaan 1000 g pelarut
yang merupakan dasar sistem molalitas dari kadar larutan. Jumlah yang disebutkan tidak dapat
secara sederhana diperhitungkankan tanpa informasi tambahan.

Kalium tetraoksalat 0,05 m Larutkan 12,61 g KH3(C2O4)2.2H2O dalam air hingga 1000 ml.
o
Kalium biftalat 0,05 m Larutkan 10,12 g KHC8H4O4, yang telah dikeringkan pada suhu 110
selama 1 jam, dalam air hingga 1000 ml.
Ekuimolal fosfat 0,05 m Larutkan 3,53 g Na2HPO4 dan 3,39 g KH2PO4, masing-masing telah
o
dikeringkan pada suhu 120 selama 2 jam, dalam air hingga 1000 ml.
Natrium tetraborat 0,01 m Lrutkan 3,80 g Na2B4O7.10H2O dalam air hingga 1000 ml. Lindungi
dari penyerapan karbondioksida.
o
Kalsium hidroksida jenuh pada suhu 25 Kocok kalsium hidroksida P berlebih dengan air dan
enaptuangkan pada suhu 25 sebelum digunakan. Lindungi dari penyerapan karbondioksida.

Karena adanya variasi dalam sifat maupun cara kerja pH meter, tidak praktis untuk memberikan
petunjuk yang dapat diterapkan secara umum untuk penetapan pH secara potensiometrik. Prinsip
umum yang harus diikuti dalam melakukan petunjuk yang terdapat pada masing-masing alat oleh
pabrik akan diuraikan pada paragraf berikut. Sebelum digunakan, periksa elektrode, dan

40
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

jembatan garam jika ada. Jika perlu, isi lagi larutan jembatan garam dan perhatikan petunjuk lain
yang diberikan oleh pabrik alat atau pabrik elektrode. Untuk pembakuan pH meter, pilih 2
larutan dapar untuk pembakuan yang mempunyai perbedaan pH tidak lebih dari 4 unit dan
sedemikian rupa sehingga pH larutan uji diharapkan terletak diantaranya. Isi sel dengan salah
satu Larutan dapar untuk pembakuan pada suhu yang larutan ujinya akan diukur.Pasang kendali
suhu pada suhu larutan, dan atur kontrol kalibrasi untuk membuat pH identik dengan yang
tercantum dalam Tabel. Bilas elektrode dan sel beberapa kali dengan Larutan dapar untuk
pembakuan yang kedua, kemudian isi sel dengan larutan tersebut pada suhu yang sama dengan
larutan uji. pH dari larutan dapar kedua ± 0,07 unit pH dari harga yang tertera dalam Tabel. Jika
penyimpangan terlihat lebih besar, periksa elektrode dan jika terdapat kesalahan, supaya diganti.
Atur ”kemiringan” atau ”suhu” hingga pH sesuai dengan yang tertera pada Tabel. Ulangi
pembakuan hingga kedua larutan dapar untuk pembakuan memberikan harga pH tidak lebih dari
0,02 unit pH dari harga yang tertera pada Tabel, tanpa pengaturan lebih lanjut dari pengendali.
Jika sistem telah berfungsi dengan baik, bilas elektrode dan sel beberapa kali dengan larutan uji,
isi sel dengan sedikit larutan uji dan baca harga pH. Gunakan air bebas karbon dioksida P untuk
pelarutan atau pengenceran larutan uji pada penetapan pH. Pada semua pengukuran pH,
diperlukan waktu yang cukup untuk mencapai kestabilan. Jika hanya diperlukan harga pH
perkiraan dapat digunakan indikator dan kertas indikator.

Untuk pemilihan dapar dan komposisi Larutan dapar untuk pembakuan seperti yang tertera pada
uji dan penetapan kadar dalam kompendia (lihat Larutan dapar pada Pereaksi, indikator dan
Larutan)

Tabel harga pH larutan dapar untuk pembakuan (Suplemen I FI IV hal 1573)


Kalium Kalium Natrium Kalsium
Ekimolal
Suhu tetraoksalat biftalat tetraborat hidroksida
fosfat
(ºC) (0,05 m) (0,05 m) (0,01 m) jenuh pada
(0,05 m)
suhu 25 ºC
10 1,67 4,00 6,92 9,33 13,00
15 1,67 4,00 6,90 9,28 12,81
20 1,68 4,00 6,88 9,23 12,63
25 1,68 4,01 6,86 9,18 12,45
30 1,68 4,02 6,85 9,14 12,29
35 1,69 4,02 6,84 9,10 12,13
40 1,69 4,04 6,84 9,07 11,98
45 1,70 4,05 6,83 9,04 11,84
50 1,71 4,06 6,83 9,01 11,71
55 1,72 4,08 6,83 8,99 11,57
60 1,72 4,09 6,84 8,96 11,45

3. PENETAPAN VOLUME INJEKSI dalam WADAH (FI IV <1131> hal 1044)


Tujuan: Menentukan volume injeksi dalam wadah untuk memastikan volume injeksi yang

41
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

digunakan tepat/ sesuai dengan yang tertera pada penandaan.


Cara Pengerjaan: Pilih satu atau lebih wadah, bila volume 10 ml atau lebih, 3 wadah atau lebih
bila volume lebih dari 3 ml dan kurang dari 10 ml, atau 5 wadah atau lebih bila volume 3 ml atau
kurang. Ambil isi tiap wadah dengan alat suntik hipodermik kering berukuran tidak lebih dari 3
kali volume yang akan diukur dan dilengkapi dengan jarum suntik nomor 21, panjang tidak
kurang dari 2,5 cm. Keluarkan gelembung udara dari dalam jarum dan alat suntik dan pindahkan
isi dalam alat suntik, tanpa mengosongkan bagian jarum, kedalam gelas ukur kering volume
tertentu yang telah dibakukan sehingga volume yang diukur memenuhi sekurang-kurangnya 40%
volume dari kapasitas tertera (garis-garis penunjuk volume gelas ukur menunjuk volume yang
ditampung, bukan yang dituang). Cara lain, isi alat suntik dapat dipindahkan kedalam gelas piala
kering yang telah ditara, volume dalam ml diperoleh dari hasil perhitungan berat dalam g dibagi
bobot jenis cairan. Isi dari dua atau tiga wadah 1 ml atau 2 ml dapat digabungkan untuk
pengukuran dengan menggunakan jarum suntik kering terpisah untuk mengambil isi tiap wadah.
Isi dari wadah 10 ml atau lebih dapat ditentukan dengan membuka wadah, memindahkan isi
secara langsung ke dalam gelas ukur atau gelas piala yang telah ditara.

Volume tidak kurang dari volume yang tertera pada wadah bila diuji satu persatu, atau bila
wadah volume 1 ml dan 2 ml, tidak kurang dari jumlah volume wadah yang tertera pada etiket
bila isi digabung.

Volume tertera dalam Kelebihan volume yang dianjurkan


penandaan (ml)
Untuk cairan encer Untuk cairan kental
(ml) (ml)
0,5 0,10 0,12
1,0 0,10 0,15
2,0 0,15 0,25
5,0 0,30 0,50
10,0 0,50 0,70
20,0 0,60 0,90
30,0 0,80 1,20
50,0 atau lebih 2% 3%

Bila dalam wadah dosis ganda berisi beberapa dosis volume tertera, lakukan penentuan seperti di
atas dengan sejumlah alat suntik terpisah sejumlah dosis tertera. Volume tiap alat suntik yang
diambil tidak kurang dari dosis yang tertera.
Untuk injeksi mengandung minyak, bila perlu hangatkan wadah dan segera kocok baik-baik
o
sebelum memindahkan isi. Dinginkan hingga suhu 25 C sebelum pengukuran volume.

4. UJI KEBOCORAN (Goeswin Agoes, Larutan Parenteral hal 191-192*)


Tujuan: memeriksa keutuhan kemasan untuk menjaga sterilitas dan volume serta kestabilan
sediaan.
42
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

Cara Pengerjaan :
a. Wadah-wadah takaran tunggal yang masih panas, setelah selesai disterilkan dimasukkan
kedalam larutan biru metilen 0,1%. Jika ada wadah-wadah yang bocor maka larutan biru
metilen akan masuk kedalamnya karena perbedaan tekanan diluar dan di dalam wadah
tersebut. Cara ini tidak dapat dipakai untuk larutan-larutan yang sudah berwarna dan
ampul yang berwarna cokelat.
b. Wadah-wadah takaran tunggal disterilkan terbalik yaitu dengan ujungnya dibawah. Ini juga
digunakan pada pembuatan dalam skala kecil. Jika ada kebocoran maka larutan ini dari dalam
wadah akan keluar, dan wadah menjadi kosong.
c. Wadah-wadah yang tidak dapat disterilkan, kebocorannya harus diperiksa dengan
memasukkan wadah-wadah tersebut dalam eksikator, yang kemudian divakumkan. Jika ada
kebocoran larutan akan diserap keluar. Harus dijaga agar jangan sampai larutan yang telah
keluar, diisap kembali jika vakum dihilangkan.

5. BAHAN PARTIKULAT DALAM INJEKSI (Suplemen I FI IV <751> hal 1533-1543)


Tujuan : menghitung partikel asing subvisibel dalam rentang ukuran tertentu dalam sediaan
injeksi.
Bahan partikulat berupa zat asing yang bergerak dan asalnya tidak tertentu, kecuali gelembung
gas yang tidak dapat dikuantitasi dengan analisis kimia karena jumlah materinya yang kecil dan
komposisi yang heterogen. Larutan injeksi, termasuk larutan yang dikonstitusikan dari zat padat
steril untuk penggunaan parenteral, harus bebas dari partikel yang dapat diamati pada
pemeriksaan visual.

Keterangan :
- Penetapan bahan partikulat dilakukan dengan dua macam uji yaitu secara pengaburan cahaya
dan secara mikroskopik.
- Pada uji bahan partikulat dalam injeksi ini terdapat dua tahap pendekatan uji. Larutan uji
injeksi mula-mula diuji dengan prosedur pengaburan cahaya (tahap 1). Jika tidak memenuhi
batas yang ditetapkan, larutan uji harus memenuhi prosedur mikroskopik (tahap 2) dengan
batas-batas tersendiri.
- Jika larutan uji, karena alasan teknis, tidak dapat diuji secara penghaburan cahaya, dapat
digunakan uji mikroskopik saja. Dalam tiap kasus diperlukan dokumentasi yang
menunjukkan bahwa prosedur pengaburan cahaya tidak mampu menguji larutan injeksi, atau
memberikan hasil yang tidak absah. Diharapkan bahwa sebagian besar sediaan tertentu
memerlukan uji pengaburan cahaya yang diikuti dengan uji mikroskopik, untuk memastikan
kesesuaian terhadap persyaratan.
- Tidak semua formulasi injeksi dapat diamati partikelnya dengan salah satu atau kedua cara
uji. Tiap produk yang bukan larutan sempurna, yang kejernihan dan viskositasnya
menyerupai air, dapat menghasilkan data yang menyimpang pada pemeriksaan dengan
metode penghitungan pengaburan cahaya. Bahan demikian dapat diperiksa dengan metode
mikroskopik. Contoh : emulsi, koloid, dan sediaan liposomal. Demikian pula, produk yang
menghasilkan udara atau gelembung gas jika dimasukkan ke dalam sensor, misalnya formula
dapar bikarbonat, juga memerlukan uji mikroskopik. Jika terjadi keraguan pada penerapan
metode uji, sebagai acuan digunakan metode yang tertera pada masing-masing monografi.
43
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

- Pada beberapa keadaan, viskositas bahan uji mungkin cukup tinggi, sehingga menghalangi
pemeriksaan dengan kedua metode uji. Dalam hal ini dapat dibuat pengenceran kuantitatif
seperlunya dengan pengencer yang sesuai untuk menurunkan viskositas, sehingga
pemeriksaan dapat dilakukan.
- Pada uji yang akan diuraikan, untuk injeksi volume besar dan injeksi volume kecil, hasil
yang diperoleh dari pengamatan unit tersendiri atau kelompok unit terhadap bahan partikulat,
tidak dapat diekstrapolasikan dengan pasti pada unit lain yang tidak diuji. Harus dilakukan
rancangan pengambilan sampel yang memenuhi syarat secara statistik berdasarkan sejumlah
faktor operasional yang diketahui, jika akan ditarik kesimpulan yang absah dari data yang
akan diamati, untuk menentukan bahan partikulat pada sekelompok besar unit. Rancangan
pengambilan sampel harus didasarkan atas pertimbangan volume produk, banyaknya partikel
yang secara historis ditemukan dibandingkan dengan batas yang ditentukan, distribusi ukuran
partikel-partikel yang ada, dan variabilitas banyaknya partikel antar unit

A. Uji Hitung Partikel Secara Hamburan Cahaya (Suplemen I FI IV Hal 1533-1538)


Baku pembanding Hitung Partikel PBFI
Uji ini dapat digunakan untuk injeksi volume besar yang menurut etiket berisi lebih dari 100 ml,
kecuali dinyatakan lain pada masing-masing monografi. Pada uji ini dihitung partikel
tersuspensi, padat ataupun cair. Uji ini juga dapat digunakan untuk injeksi volume kecil dosis
tunggal atau dosis ganda yang menurut etiket berisi 100 ml atau kurang, dalam larutan atau
dalam larutan yang dikonstitusikan dari zat padat steril, jika uji bahan partikulat dipersyaratkan
pada masing-masing monografi. Sediaan yang dalam masing-masing monografinya
mempersyaratkan penandaan bahwa sediaan tersebut dapat digunakan dengan penyaringan akhir,
dikecualikan dari persyaratan ini.
Alat Uji : terdiri dari sistem elektronik, penghitung partikel yang ada dalam cairan, yang
memanfaatkan sensor pengaburan cahaya beserta perangkat pengumpan sampel yang sesuai.
Lingkungan Uji : lakukan uji dalam lingkungan yang tidak melepaskan bahan partikulat dalam
jumlah yang bermakna. Sampel-sampel harus dibersihkan sedemikian rupa sehingga tingkat
petambahan partikel tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap hasil uji. Sebaiknya bahan
uji, alat gelas, penutup, dan peralatan lain yang diperlukan, dipersiapkan dalam lingkungan yang
terlindungi oleh penyaring udara partikulat berefisiensi tinggi (HEPA), dan selama penyiapan
sampel digunakan pakaian serta sarung tangan yang tidak melepaskan partikel.
Bersihkan alat gelas, penutup dan peralatan lain yang diperlukan, sebaiknya dengan cara
merendam dan menyikat dalam larutan detergen nonionik hangat. Bilas dengan air mengalir, dan
bilas ulang dengan air suling atau air deionisasi tersaring yang mengalir. Untuk membantu
pembersihan dapat digunakan pelarut organik. [Catatan Langkah-langkah ini merupakan salah
satu cara membersihkan peralatan; cara lain, peralatan bebas partikel dapat diperoleh dari
produsen tertentu] Akhirnya, bilas peralatan dengan air suling atau air deionisasi yang tersaring,
menggunakan alat penyemprot manual bertekanan dengan penyaring akhir atau sumber lain air
tersaring yang sesuai, seperti air suling atau air deionisasi yang dialirkan melalui penyaring
ddengan porositas 1,2 µm atau lebih kecil.
Untuk mengumpulkan hasil perhitungan blanko, gunakan bejana bersih dengan jenis volume
yang setara dengan bejana yang digunakan pada uji. Tuang 50 ml air suling atau air deionisasi
yang tersaring ke dalam bejana, dan aduk sampel air dalam alat gelas yang bersih tersebut
44
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

dengan cara membolak-balikan atau menggoyang. [Catatan Volume yang lebih kecil dapat
digunakan, disesuaikan dengan bahan yang akan dihitung] Awaudarakan dengan cara sonikasi
(pada 80 sampai 120 watt) selama kurang 30 detik atau dengan cara mendiamkannya. Goyang
bejana berisi sampel air secara manual atau aduk secara mekanis agar partikel tersuspensi. Ambil
dan lakukan penghitungan partikel berturut-turut terhadap tiga sampel dengan volume masing-
masing tidak kurang ari 5 ml, abaikan penghitungan pertama. Jika terdapat lebih dari 10 partikel
berukuran 10 um atau lebih besar, dalam gabungan sampel 10 ml, maka lingkungan tidak sesuai
untuk analisis partikel : air suling atau air deionisasi yang tersaring dan alat gelas tidak
dipersiapkan dengan baik atau alat penghitung memberikan hasil yang palsu. Dalam hal ini,
ulangi langkah-langkah persiapan sampai kondisi analisis sesuai untuk uji.

Prosedur Uji
Persiapan Uji : Siapkan bahan uji dengan urutan sebagai berikut. Di luar lapisan penutup,
lepaskan penutup luar, pita segel, dan semua etiket kertas yang dapat terlepas. Bilas bagian luar
wadah dengan air suling atau air deionisasi yang tersaring seperti yang tertera pada Lingkungan
Uji. Lindungi wadah dari cemaran sekitarnya hingga analisis selesai dilakukan. Keluarkan isi
wadah yang diuji dengan cara yang mempunyai kemungkinan paling kecil menghasilkan partikel
yang dapat masuk ke dalam sampel. Isi wadah yang penutupnya dapat dilepas, dapat dikeluarkan
langsung dengan cara membuka penutupnya. Alat pengambil sampel yang mempunyai jarum
yang dapat menembus penutup dapat pula digunakan. Sampel dari produk yang dikemas dalam
wadah plastik lentur dapat diambil dengan cara memotong mulut atau salah satu sudut wadah
dengan pisau atau gunting bersih yang sesuai.
Produk kering atau beku kering dapat dikonstitusikan dengan cara membuka penutupnya untuk
menambahkan pengencer atau dengan cara menyuntikkan pengencer dengan alat suntik
hipodermik dengan penyaring alat suntik berukuran 1,2 µm atau lebih kecil. Jika bahan uji harus
digabung, buka penutupnya dan tuang isinya ke dalam wadah bersih.
Suatu bets atau kelompok unit yang diwakili oleh bahan uji memenuhi atau melampaui batas,
ditentukan oleh banyaknya bahan uji yang cukup untuk menghasilkan penilaian yang andal
secara statistik. Jika volume wadah kurang dari 25 ml, lakukan uji dengan cara menggabungkan
volume dari 10 unit atau lebih. Unit injeksi tunggal volume kecil dapat diuji tersendiri, jika
volume unit individualnya 25 mL atau lebih. Untuk injeksi volume besar, lakukan uji terhadap
tiap unit individual. Untuk injeksi volume besar atau injeksi volume kecil dengan volume unit
individual 25 mL atau lebih, dapat diuji kurang dari 10 unit, berdasarkan ketentuan rencana
pengambilan contoh yang sesuai.
Penetapan produk : Bergantung kepada bentuk sediaan yang diuji, lakukan menurut petunjuk
kelompok yang sesuai di bawah ini :
1. Sediaan Cair
Volume dalam wadah kurang dari 25 ml. Siapkan wadah seperti tertera pada Persiapan Uji.
Campur dan suspensikan bahan artikulat dalam tiap unit dengan membalikkan 20 kali.
[Catatan Karena beberapa produk volumenya kecil, diperlukan pengocokan lebih kuat
supaya partikel tersuspensi dengan baik.] Ke dalam suatu wadah yang bersih, masukkan isi
dari 10 unit atau lebih, untuk memperoleh volume tidak kurang dari 20 ml. Awaudarakan
larutan gabungan dengan cara sonikasi selama kurang 30 detik atau dengan cara mendiamkan
larutan sampai bebas gelembung udara. Aduk isi wadah perlahan-lahan secara manual atau
45
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

mekanis, jaga jangan sampai gelembung udara atau cemaran masuk. Ambil sekurang-
kurangnya tiga alikot, masing masing tidak kurang dari 5 ml, tuang ke dalam sensor
penghitung hamburan cahaya. Abaikan data pertama. [Catatan Untuk beberapa produk,
suatu gabungan dari 15 unit atau lebih diperlukan untuk memperoleh volume gabungan
yang cukup untuk tiga alikot sampel dengan volume 5 ml. Alikot sampel yang lebih kecil
(yaitu kurang dari 5 ml) dapat digunakan jika hasil penetapan yang diperoleh dengan alikot
kecil divalidasi dan hasil penilaiannya menunjukkan kesesuaian bets yang setara dengan
hasil yang diperoleh dengan volume alikot 5ml]
Volume dalam wadah 25 ml atau lebih. . Siapkan wadah seperti tertera pada Persiapan Uji.
Campur dan suspensikan bahan partikulat dalam tiap unit dengan membalikkan 20 kali.
Awaudarakan larutan gabungan dengan cara sonikasi selama kurang 30 detik atau dengan
cara mendiamkan larutan sampai bebas gelembung udara. Lepaskan penutup unit atau buka
wadah dengan cara lain, sehingga alat penghitung dapat ditempatkan di tengah larutan. Aduk
isi wadah perlahan-lahan secara manual atau mekanis. Ambil tidak kurang dari tiga alikot,
masing-masing volume tidak kurang dari 5 ml, tuang ke dalam sensor penghitung hamburan
cahaya. Abaikan data pertama.
2. Sediaan Kering atau Beku Kering
Siapkan wadah seperti tertera pada Persiapan Uji. Buka tiap wadah, jaga agar penutup atau
proses membuka tidak mencemari. Konstitusikan seperti tertera pada Persiapan Uji,
menggunakan sejumlah volume air yang telah disaring dan ditetapkan, atau pengencer yang
sesuai dan telah disaring jika air tidak sesuai untuk digunakan. Tutup kembali, dan kocok
wadah secara manual secukupnya untuk memastikan pelarutan obat. [Catatan Untuk
beberapa produk kering atau beku kering, wadah perlu didiamkan beberapa saat, kemudian
dikocok lagi untuk menyempurnakan pelarutan] Setelah obat dalam sampel terkonstitusi
larut sempurna, campur dan suspensikan bahan partikulat yang ada pada tiap unit dengan
cara membalikkannya 20 kali, sebelum analisis. Lanjutkan menurut petunjuk untuk volume
unit seperti yang tertera pada Sediaan cair, dan lakukan analisis dengan mengambil
sekurang-kurangnya tiga alikot, masing-masing volume tidak kurang dari 5 ml dan tuang ke
dalam sensor penghitung hamburan cahaya. Abaikan data bagian pertama.
3. Produk yang Dikemas dalam Dua Bagian yang Mengandung Produk Obat dan Pelarut dalam
Bagian Terpisah
Siapkan unit-unit yang diuji seperti yang tertera pada Persiapan Uji. Campur tiap unit
menurut petunjuk pada etiket dengan perlakuan dan pengocokan sedemikian untuk
memastikan pencampuran komponen yang terpisah dan pelarutan obat. Awaudarakan unit
yang diuji dengan cara sonikasi atau dengan cara mendiamkan larutan sampai bebas
gelembung udara. Lanjutkan menurut petunjuk untuk volume unit se[erti yang tertera pda
Sediaan Cair, dan lakukan analisis dengan mengambil sekurang-kurangnya 3 alikot, masing-
masing volume tidak kurang dari 5 mL, tuang ke dalam sensor penghitung hamburan cahaya.
Abakan data bagian pertama.
4. Produk dengan etiket ”Kemasan Ruahan untuk Farmasi Tidak untuk Infus Langsung”
Lakukan seperti yang tertera pada Sediaan Cair dengan volume 25 ml atau lebih. Hitung
hasil uji pada bagian yang setara dengan dosis maksmum yang tertera pada etiket. Misalnya,
jika volume kemasan ruahan total 100 ml, dan volume dosis maksimum 10 ml, maka hasil
hitung partikel hamburan cahaya rata-rata per ml harus dikalikan 10 untuk memperoleh hasil
46
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

uji berdasarkan dosis maksimum 10 ml. [Catatan Untuk perhitungan hasil uji, bagian dosis
maksimum ini dianggap setara dengan isi satu wadah penuh]

Perhitungan
1. Contoh Gabungan (Injeksi Volume Kecil)
Rata-ratakan hasil hitung dari dua atau lebih bagian alikot yang dianalisis. Hitung jumlah
partikel tiap wadah dengan rumus :

P adalah hasil rata-rata hitung partikel yang diperoleh dari bagian yang dianalisis; VT adalah
volume contoh gabungan, dalam ml; VA adalah volume, dalam ml, dari tiap bagian yang
dianalisis; n adalah jumlah wadah yang digabung
2. Contoh Individual (Injeksi Volume Kecil)
Rata-ratakan hasil hitung yang diperoleh dari bagian alikot 5 mL atau lebih dari tiap unit
terpisah yang dianalisis, dan hitung jumlah partikel dalam tiap wadah dengan rumus :

P adalah hasil rata-rata hitung partikel yang diperoleh dari bagian yang dianalisis; V adalah
volume, dalam ml, dari unit yang diuji; VA adalah volume, dalam ml, dari tiap bagian yang
dianalisis.
3. Contoh Unit Individual (Injeksi Volume Besar)
Rata-ratakan hasil hitung yang diperoleh dari dua atau lebih bagian alikot bervolume 5 ml
yang diambil dari unit larutan. Hitung jumlah partikel dalam tiap ml injeksi yang digunakan
dengan rumus:

P adalah hasil rata-rata hitung partikel untuk contoh individual 5 ml atau lebih; V adalah
volume, dalam ml, dari bagian yang digunakan.

Untuk semua jenis produk, jika bahan yang diuji diencerkan untuk menurunkan viskositas,
faktor pengenceran harus diperhitungkan dalam perhitungan hasil akhir.

Interpretasi : Injeksi memenuhi persyaratan uji, jika menurut perhitungan jumlah partikel yang
ada dalam tiap unit tertentu yang diuji atau tiap contoh gabungan yang diuji tidak melebihi nilai
yang sesuai yang tercantum pada Tabel I. Jika rata-rata jumlah partikel melebihi batas, uji
sediaan dengan Uji hitung partikel secara mikroskopik.

47
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

B. UJI HITUNG PARTIKEL SECARA MIKROSKOPIK (Suplemen I FI IV Hal 1539-


1543)
Uji bahan partikulat secara mikroskopik dapat diterapkan pada injeksi volume besar dan injeksi
volume kecil. Uji ini menghitung bahan partikulat subvisibel, pada dasarnya padat, dalam
produk ini atas dasar hitungan per volume atau per wadah, setelah pengumpulannya pada
penyaring membran mikropori.

Keterangan:
Beberapa sediaan tidak dapat diuji menggunakan hamburan cahaya. Dalam kasus demikian,
monografi hanya menyebut cara penetapan mikroskopik ini. Larutan yang dikecualikan dari
analisis secara penetapan mikroskopik disebutkan dalam masing-masing monografi. Contoh,
larutan yang tidak mudah disaring karena viskositas yang tinggi (misalnya larutan dekstrosa
pekat, amilum atau dekstran). Pada cara penetapan mikroskopik, jangan mengukur atau
menghitung bahan amorf, semi cair, atau yang tidak jelas bentuknya yang tampak seperti bercak
atau pemudaran warna pada permukaan membran. Bahan itu hanya sedikit atau tidak timbul
pada permukaan dan berbentuk seperti gelatin atau selaput. Oleh karena dalam larutan bahan
tersebut terdiri atas unit-unit berukuran 1 µm atau lebih kecil, hanya dapat dihitung setelah
terjadi agregasi atau deformasi pada membran analitik, interpretasi penghitungan dapat
dilakukan dengan menguji sampel larutan secara hitung partikel hamburan cahaya.

Alat Uji
Alat yang dipakai untuk menghitung partikel secara mikroskopik terdiri atas :
1. Mikroskop
2. Lampu penerang
3. Diameter Lingkaran Gratikul
4. Mikrometer
5. Peralatan penyaringan

Lingkungan Uji
Gunakan lemari laminar atau lemari laminar bertutup lain, dengan kapasitas cukup untuk
mencakup luas daerah penyiapan analisis, dan mengandung udara yang disaring dengan
penyaring HEPA, dengan jumlah partikel tidak lebih dari 100 (0,5 µm atau lebih besar) per
28316,85 cm kubik (1 kaki kubik). Untuk penetapan blanko, tuang 50 ml air suling atau air
deionisasi yang telah disaring ke dalam corong penyaring. Vakum, dan alirkan air seluruhnya
melalui penyaring membran. Lepaskan membran dari dasar corong penyaring, dan letakkan di
atas secarik pita perekat dua sisi dalam keping petri atau cawan petri. Setelah membran dibiarkan
kering, amati dengan mikroskop pada perbesaran 100x. Jika pada daerah permukaan
penyaringan terdapat tidak lebih dari 20 partikel berukuran10 µm atau lebih besar dari 5 partikel
berukuran 25 µm atau lebih besar, maka tingkat partikel blanko cukup rendah untuk pelaksanaan
penetapan mikroskopik

Sepanjang pelaksanaan prosedur ini, dianjurkan menggunakan sarung tangan bebas serbuk dan
alat gelas serta peralatan yang sangat bersih. Sebelum melakukan uji, bersihkan permukaan kerja
dalam lemari laminar bertutup dengan pelarut yang sesuai. Alat gelas dan peralatan harus dibilas
48
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

berturut-turut dengan larutan detergen bebas residu yang hangat, air panas, air suling atau air
deionasi yang telah disaring, dan isopropanol. [Catatan Sebelum digunakan, alirkan air suling
atau air deionisasi dan isopropanol melalui penyaring dengan porositas 1,2 µm atau lebih
kecil.] Lakukan pembilasan di dalam lemari laminar bertutup yang dilengkapi penyaring HEPA.
Biarkan alat gelas dan peralatan penyaring mengering di dalam lemari tersebut, sebelum
melakukan kegiatan lain. Sebaiknya lemari HEPA yang digunakan ditempatkan di ruang
terpisah, dilengkapi dengan udara berAC yang disaring dan bertekanan positif terhadap daerah
sekitarnya.

Prosedur Uji
Persiapan Uji : Lakukan seperti yang tertera pada Persiapan Uji dalam Uji hitung partikel secara
hamburan cahaya, mulai dari ”Siapkan bahan uji dengan urutan sebagai berikut.” sampai dengan
”Untuk Injeksi volume besar, unit individualnya yang diuji”. Untuk injeksi volume kecil berisi
25 ml atau lebih diuji tersendiri, dan untuk injeksi volume besar, seluruh volume unit diuji.
Untuk injeksi volume besar atau injeksi volume kecil dengan volume unit individual 25 ml atau
lebih, dapat diuji kurang dari 10 unit, berdasarkan ketentuan rencana pengambilan contoh yang
sesuai.
Penetapan Produk : Bergantung kepada bentuk sediaan yang diuji, lakukan menurut petunjuk
untuk kelompok yang sesuai di bawah ini:
a. Sediaan Cair
Campur unit-unit yang akan diuji dengan cara membalikkan 20 kali. Buka unit-unit tersebut
dengan cara yang menghasilkan sesedikit mungkin partikel yang berasal dari lingkungan.
Untuk produk kurang dari 25 ml, buka dan gabung isi 10 unit atau lebih di dalam wadah
bersih. Saring unit injeksi volume besar secara individual. Unit injeksi volume kecil yang
volumenya 25 ml atau lebih dapat disaring secara individual.
Pindahkan seluruh volume gabungan larutan atau unit tunggal ke dalam corong penyaring,
dan vakum. Jika volume larutan yang akan disaring melebihi volume corong penyaringan,
tambahkan bagian larutan secara bertahap sampai seluruh volume tersaring. Jika akan
digunakan prosedur hitung parsial (lihat prosedur hitung parsial dalam perhitungan
partikel), jangan biarkan volume cairan pada corong penyaringan turun di bawah setengah
volume corong diantara tiap penambahan volume. [Catatan Gunakan corong penyaring yang
sesuai denan volume larutan, jika akan menggunakan prosedur hitung parsial. Hal ini perlu
untuk memastikan penyebaran merata partikel-partikel pada membran analitik.]
Setelah penambahan larutan terakhir, bilas dinding corong dengan cara mengarahkan aliran
air suling atau deionisasi yang telah disaring bertekanan rendah dengan gerak melingkari
dinding corong, dan membilas corong dihentikan sebelum volume turun di bawah
seperempat volume corong. Pertahankan vakum hingga cairan di corong tidak bersisa.
Angkat corong penyaring dari dasar penyaring sambil mempertahankan vakum, kemudian
hentikan vakum, dan angkat membran penyaring dengan pinset tumpul. Tempatkan
penyaring di dalam cawan Petri atau wadah sejenis, lekatkan dengan pita perekat dua sisi,
dan tandai dengan identitas contoh. Biarkan penyaring mengering di udara dalam lemari
laminar bertutup dengan penutup yang sedikit terbuka.

49
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

b. Sediaan Kering dan Beku Kering


Untuk menguji vial serbuk kering atau wadah sejenis berisi serbuk obat, konstitusikan bahan
dengan pelarut sesuai, menggunakan metode yang paling sedikit memungkinkan masuknya
cemaran dari luar, seperti yang tertera pada Persiapan Uji dalam Uji hitung partikel secara
haburan cahaya. Menggunakan gabungan larutan dari 10 unit atau lebih, atau sejumlah unit
individual yang diinginkan, lakukan seperti yang tertera pada Sediaan Cair.

c. Produk yang dikemas dalam Dua Bagian yang Mengandung Produk Obat dan Pelarut
dalam Bagian Terpisah
Siapkan tiap unit seperti yag tertera pada etiket, kocok secukupnya untuk memastikan
pencampuran menyeluruh komponen-komponen yang terpisah, kemudian lakukan seperti
yang tertera pada Sediaan cair.

d. Kemasan Ruahan Obat atau Wadah Dosis Ganda


Untuk Produk Beretiket ”Kemasan Ruahan Obat Tidak untuk Infus Langsung” atau untuk
wadah dosis-ganda, lakukan seperti yang tertera pada Sediaan cair, saring volume unit
seluruhnya.
Hitung hasil uji untuk bagian yang sama dengan dosis maksimum seperti yang tertera pada
etiket. Anggap bagian ini setara dengan isi satu wadah penuh. Misalnya, jika volume
kemasan ruahan total 100 ml, dan dosis maksimum tercantum 10 ml, maka hasil uji hitung
volume unit total secara mikroskopik harus dikalikan 0,1 untuk memperoleh hasil uji untuk
volume dosis 10 mL. [Catatan Untuk perhitungan hasil uji, anggap bagian ini setara dengan
isi satu wadah penuh]

Perhitungan Partikel
Uji secara mikroskopik yang diuraikan di bagian ini bersifat fleksibel, yaitu dapat menghitung
partikel per ml, contoh yang mengandung 1 partikel per ml maupun yang lebih banyak partikel
per ml. Metode ini dapat digunakan dengan cara menghitung semua partikel pada permukaan
membran analisis atau dengan cara menghitung hanya partikel-partikel pada sebagian permukaan
membran.
Prosedur Penghitungan Total : pada pelaksanaan penghitungan total, bidang pandang gratikul
(GFOV) yaitu lingkaran besar gratikul diabaikan, dan digunakan benang silang vertikal. Telusuri
seluruh membran dari kiri ke kanan pada jalur yang berdampingan dengan jalur sebelumnya.
Ulangi prosedur ini dengan gerak dari kiri ke kanan dan kembali ke kiri sampai semua partikel
pada membran terhitung. Catat banyaknya semua partikel berukuran 10 µm atau lebih besar dan
banyaknya partikel berukuran 25 µm atau lebih besar. Untuk injeksi volume besar, hitung
banyaknya partikel per ml untuk unit yang diuji dengan rumus :

P adalah banyaknya semua partikel yang terhitung; V adalah volume larutan, dalam ml
Untuk injeksi volume kecil, hitungan banyaknya partikel per wadah dengan rumus :

50
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

P adalah banyaknya semua partikel yang terhitung; dan n adalah banyaknya unit yang digabung
(n=1, jika digunakan unit individual)

Prosedur Hitung Parsial : Jika akan dilaksanakan penghitungan parsial partikel pada membran,
pelaksana analisis pertama-tama harus memastikan bahwa partikel-partikel pada membran
tersebar secara merata. Hal ini dilakukan dengan mengamati secara cepat adanya gumpalan
partikel. Gumpalan tersebut tidak boleh ada satupun. Hitung partikel 10 µm atau lebih besar
dalam satu GFOV di tepi dan di tengah membran daerah penyaringan. Banyaknya partikel ≥ 10
µm atau lebih besar di GFOV dengan hasil hitung partikel total tertinggi tidak lebih dari dua kali
banyaknya partikel di GFOV dengan hasil hitung terendah. Buang penyaring yang tidak
memenuhi kriteria ini dan siapkan yang lain jika akan digunakan prosedur hitung parsial atau
dengan alternatif, analisis membran dengan metode penghitungan total.
Pada penghitungan parsial, banyaknya GFOV yang dihitung biasanya berjumlah 20. Jika hasil
yang diinginkan mempunyai rentang keyakinan yang lebih keccil, dapat dihitung sejumlah
bidang yang lebih besar dengan jumlah partikel yang lebih banyak. Hitung semua partikel
dengan diameter lingkar 10 µm atau lebih besar dan 25 µm atau lebih besar di dalam GFOV dan
yang menyentuh sisi kanan lingkaran GFOV. Partikel di luar GFOV tidak diperhitungkan.
Abaikan partikel yang menyentuh sisi kiri lingkaran GFOV. Garis pemisah antara sisi kanan dan
sisi kiri lingkaran GFOV adalah garis silang vertikal. [Catatan Ambil kesimpulan terbaik
mengenai ukuran partikel tanpa mengubah perbesaran atau penerangan mikroskop]
Untuk melakukan penghitungan parsial partikel pada membran, dimulai dari tepi tengah kanan
daerah penyaringan dan mulailah penghitungan pada GFOV yang bersekatan. Jika telah dicapai
tepi kiri daerah penyaringan, pindahlah satu GFOV ke arah atas penyaring dan lanjutkan
penghitungan GFOV ke arah berlawanan. Perpindahan dari GFOV yang satu ke GFOC bekutnya
dapat dilakukan dengan dua cara. Metode pertama menetapkan suatu patokan (partikel atau
ketidakteraturan pada permukaan penyaring) dan bergeser satu GFOV dengan patokan tersebut
sebagai acuan. Metode kedua menggunakan alat pengatur pada meja objek mikroskop untuk
bergeser 1 mm antar GFOV. Untuk membantu metode kedua, tempatkan pengatur posisi x dan y
di meja objek mikroskop pada angka bulat pada posisi awal di tepi kanan tengah daerah
penyaringan, maka GFOV berikutnya dicapai dengan pergeseran pengatur posisi x sebanyak satu
satuan bulat. Jika bagian atas dari daerah penyaringan tercapai sebelum diperoleh jumlah GFOV
yang diinginkan, mulailah lagi di tepi tengah kanan penyaring satu GFOV di bawah yang
pertama. Geserlah ke arah bawah membran, jika telah dicapai ujung baris GFOV. Lanjutkan
seperti sebelumnya hingga diperoleh jumlah GFOV yang cukup.
Untuk Injeksi volume besar, jika digunakan prosedur penghitungan parsial untuk rentang ukuran
≥ 10 um dan ≥ 25 um, hitung banyaknya partikel per ml dengan rumus :

P adalah banyaknya partikel terhitung; AT adalah luas derah penyaringan membran, dalam mm2;
AP adalah luas daerah parsial yang dihitung, dalam mm2, didasarkan atas banyaknya bidang
gratikul yang dihitung; dan V adalam volume larutan yang disaring, dalam ml. Untuk gabungan
larutan (unit injeksi volume kecil yang mengandung kurang dari 25 ml) atau unit tunggal injeksi
volume kecil, hitung banyaknya partikel per unit dengan rumus
51
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

N adalah jumlah unit yang dihitung (n=1, jika digunakan unit individual) dan arti lambang lain
seperti telah disebutkan di atas.
Untuk semua jenis produk, jika bahan uji diencerkan untuk mengurangi viskositas, faktor
pengenceran harus diperhitungkan pada perhitungan hasil akhir.

Interpretasi : Injeksi memenuhi persyaratan uji, jika banyaknya partikel yang ada (secara nyata
atau menurut perhitungan) dalam tiap unit tertentu yang diuji atau tiap sampel gabungan yang
diuji tidak melebihi nilai yang sesuai yang tercantum pada tabel 2 dibawah ini.

Hasil Hitung Partikel Metode Mikroskopik

≥ 10µm ≥ 25 µm
injeksi volume kecil 3000 300 per wadah
injeksi volume besar 12 2 per ml

EVALUASI BIOLOGI
1. UJI EFEKTIVITAS PENGAWET ANTI MIKROBA <61> (FI IV, hal. 854-855)
Tujuan: Menunjukan efektivitas pengawet antimikroba yang ditambahkan pada sediaan dosis
ganda yang dibuat dengan dasar atau bahan pembawa air seperti produk-produk parenteral,
telinga, hidung, dan mata yang dicantumkan pada etiket produk yang bersangkutan.

Cara Pengerjaan: Jika wadah sediaan dapat ditembus secara aseptik menggunakan jarum suntik
melalui sumbat karet, lakukan pengujian pada 5 wadah asli sediaan. Jika wadah sediaan tidak
dapat ditembus secara aseptik, pindahkan 20 ml sampel ke dalam masing-masing 5 tabung
bakteriologik tertutup, berukuran sesuai dan steril. Inokulasi masing-masing wadah atau tabung
dengan salah satu mikroba baku, menggunakan perbandingan 0,10 ml inokula setara dengan 20
ml sediaan, dan campur. Mikroba uji dengan jumlah yang sesuai harus ditambahkan sedemikian
rupa hingga jumlah mikroba di dalam sediaan uji segera setelah inokulasi adalah antara 100.000
dan 1.000.000 per ml. Tetapkan jumlah mikroba viabel di dalam tiap suspensi inokula, dan
hitung angka awal mikroba tiap ml sediaan yang diuji dengan metode lempeng. Inkubasi wadah
atau tabung yang telah diinokulasi pada suhu 20-25º. Amati wadah atau tabung pada hari ke-7,
14, 21, dan 28 setelah inokulasi. Cata tiap perubahan yang terlihat dan tetapkan jumlah mikroba
viabel pada selang waktu tersebut dengan metode lempeng. Dengan menggunakan bilangan
teoritis mikroba pada awal pengujian, hitung perubahan kadar dalam persen tiap mikroba selama
pengujian.

Penafsiran hasil suatu pengawet dinyatakan efektif dalam contoh yang diuji jika:
a. Jumlah bakteri viabel pada hari ke-14 berkurang hingga tidak > 0,1 % dari jumlah awal.
b. Jumlah kapang atau khamir viabel selama 14 hari adalah tetap atau kurang dari jumlah
awal.
52
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

c. Jumlah tiap mikroba uji selama hari tersisa dari 28 hari pengujian adalah tetap atau <
bilangan yang disebut pada a dan b.

2. UJI KANDUNGAN ZAT ANTIMIKROBA (FI IV <441> HAL 939-942)


Tujuan: untuk menunjukkan bahwa zat yang tertera memang ada tetapi tidak lebih dari 20% dari
jumlah yang tertera pada etiket.Cara Pengerjaan:

Benzil Alkohol
Larutan Baku internal Larutkan lebih kurang 380 mg fenol P dalam 10 ml metanol P dalam
labu tentukur 200-ml, tambahkan air sampai tanda.
Larutan baku Timbang saksama lebih kurang 180 mg benzil alkohol P, larutkan dalam 20,0 ml
metanol P dalam labu tentukur 100-ml. Tambahkan Larutan baku internal sampai tanda.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang 5 µl) Larutan baku
dan larutan uji, gunakan parameter operasional kromatograf gas seperti yang tertera pada Tabel
Parameter Operasional Kromatografi Gas (lihat FI IV hal. 940). Ukur luas puncak benzil alkohol
dan fenol Larutan baku, tandai masing-masing dengan P1 dan P2, dan luas puncak p1 dan p2
dari Larutan uji. Hitng jumlah dalam mg C7H8O, per ml zat uji yang digunakan dengan rumus

C adalah kadar benzil alkohol dalam mg per ml Larutan baku,


V adalah volume zat uji dalam ml tiap 100 ml Larutan uji.

Klorobutanol
Larutan baku internal Larutkan lebih kurang 140 mg benzaldehida P dalam 10 ml metanol P
dalam labu tentukur 100-ml, goyang sampai larut, dan encerkan dengan air sampai tanda.
Larutan baku Timbang saksama lebih kurang 125 mg klorobutanol P, masukkan ke dalam labu
tentukur 25-ml. Tambahkan 2 ml metanol P, goyang sampai larut. Encerkan dengan air sampai
tanda. Pipet 5 ml larutan ini dan 5,0 ml Larutan baku internal, masukkan ke dalam labu tentukur
25ml, campur hingga kadar klorobutanol lebih kurang 2,5 mg per ml.
Larutan uji Ukur saksama sejumlah volume zat uji, jika perlu encerkan dengan metanol P
hingga mengandung klorobutanol tidak lebih dari 5,0 mg per ml. Campur 3,0 ml larutan ini
dengan 3,0 ml Larutan baku internal.
Sistem kromatografi Lakukan seperti yang tertera pada Kromatografi <931> [Catatan Lihat
Tabel Parameter Operasional Kromatografi Gas]. Pertahankan suhu injektor dan detektor
masing-masing pada suhu 180 o dan 220 o. Lakukan kromatografi terhadap Larutan baku, rekam
respons puncak seperti yang tertera pada Prosedur: resolusi, R, antara puncak benzaldehida dan
klorobutanol tidak kurang dari 2,0 dan simpangan baku relatif pada penyuntikan ulang tidak
lebih dari 2,0 %.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang 1 µl) Larutan baku dan
Larutan uji ke dalam kromatograf, ukur respons puncak utama. Waktu retensi relatif
benzaldehida dan klorobutanol masing-masing lebih kurang 0,8 dan 1,0. Hitung jumlah dalam
mg C4H7Cl3O, per ml zat uji yang digunakan dengan rumus :

53
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

C adalah kadar klorobutanol dihitung terhadap zat anhidrat dalam mg per ml Larutan baku ; L
adalah jumlah klorobutanol yang tertera pada etiket dalam mg per ml zat uji; D adalah kadar
klorobutanol dalam mg per ml Larutan uji dihitung terhadap volume zat uji yang telah
diencerkan; Ru dan Rs berturut-turut adalah perbandingan puncak klorobutanol dan benzaldehida
dalam Larutan uji dan Larutan baku.

Fenol
Larutan baku internal Pipet 1 ml benzil alkohol P, masukkan ke dalam labu tentukur 500-
ml,tambahkan metanol P sampai tanda.
Larutan baku Timbang saksama lebih kurang 75 mg fenol P, larutkan dalam 7,5 ml metanol
P dalam labu tentukur 100-ml. Tambahkan 20,0 ml Larutan baku internal dan tambahkan air
sampai tanda.
Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang 3 µl) Larutan baku
dan Larutan uji gunakan parameter operasional kromatograf gas seperti yang tertera pada
Tabel Operasional Kromatografi Gas (lihat FI IV hal 940). Ukur luas puncak fenol dan benzil
alkohol dari Larutan baku, tandai masing-masing dengan P1 dan P2, dan puncak P1 dan P2
dari Larutan uji. Hitung jumlah dalam mg C6H6O, dalam per ml zat uji yang digunakan
dengan rumus

C adalah kadar fenol dalam mg per ml Larutan baku; V adalah volume zat uji dalam ml per 100
ml Larutan uji.

Metilparaben dan Propilparaben


Larutan baku internal Timbang lebih kurang 200 mg benzofenon P, masukkan ke dalam labu
tentukur 250-ml, tambahkan eter P sampai tanda.
Larutan baku Timbang saksama masing-masing 100 mg metilparaben P dan 10 mg
propilparaben P, masukkan ke dalam labu tentukur 200-ml, tambahkan Larutan baku internal
sampai tanda. Pipet 10 ml larutan ini, masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 25 ml dan lanjutkan
seperti yang tertera pada Larutan uji, mulai dari ”Tambahkan 3 ml piridina P......”
Larutan uji Pipet 10 ml zat uji dan 10 ml Larutan baku internal, masukkan ke dalam corong
pisah kecil. Kocok kuat-kuat, biarkan lapisan memisah, dan pindahkan lapisan eter ke dalam
labu kecil melalui corong yang berisi natrium sulfat anhidrat P. Ekstraksi lapisan air 2 kali, tiap
kali dengan 10 ml eter P, saring ekstrak melalui natrium sulfat anhidrat P. Uapkan kumpulan
ekstrak dengan aliran udara kering hingga volume lebih kurang 10 ml, dan masukkan residu ke
dalam labu Erlenmeyer 25 ml. Tambahkan 3 ml piridina P, uapkan eter hingga sempurna dan
didihkan di atas lempeng panas hingga volume lebih kurang 1 ml. Dinginkan, dan tambahakn 1
ml zat sililasi yang sesuai, seperti heksametildisilzana P yang sebelumnya telah ditambahkan
trimetilklorosilana P, bis(trimetilsilin)asetamida P, atau bis(trimetilsilin)trifluoroasetamida P.
Campur, dan biarkan tidak kurang dari 15 menit.

54
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

Prosedur Suntikkan secara terpisah sejumlah volume sama (lebih kurang 2 μl) larutan baku dan
larutan uji masing-masing yang telah disilanisasi, gunakan parameter operasional kromatografi
gas seperti yang tertera pada tabel (lihat hal 940). Ukur luas puncak metil paraben, propil
paraben dan benzofenon larutan baku, tandai masing-masing dengan P1, P2, dan P3 dan luas
puncak p1, p2, dan p3 dari larutan uji. Hitung jumlah dalam mikroba C3H8O3, per ml zat uji
dengan rumus:

Lihat rumus hal 941


CM adalah kadar metil paraben dalam μg/ml larutan baku; V adalah volume zat uji dalam ml.
Dengan cara yang sama, hitung jumlah dalam μg propil paraben, C10H12O3, per ml zat uji dengan
rumus

Lihat rumus hal 941


Cp adalah kadar propil paraben dalam μg/ml larutan baku. Etil paraben dan butil paraben dapat
ditetapkan dengan cara yang sama.

3. UJI STERILITAS (Suplemen I FI IV <71> hal 1512-1519)


Tujuan: untuk menetapkan apakah bahan Farmakope yang harus steril memenuhi syarat
berkenaan dengan uji sterilitas seperti yang tertera dalam masing-masing monografi

Bahan Farmakope diuji menggunakan metode Penyaringan membran seperti yang tertera pada
Uji sterilitas produk, jika sifat produk memungkinkan. Jika metode penyaringan membran tidak
sesuai, gunakan Prosedur inokulasi langsung pada media uji seperti yang tertera pada Uji
sterilitas produk. Semua alat kesehatan kecuali alat dengan lumen yang bertuliskan steril pada
etiketnya diuji dengan Prosedur inokulasi langsung pada media uji.

Prosedur aseptik harus dipastikan untuk menjamin interpretasi hasil yang tepat, maka personel
penguji yang terlatih dan terampil merupakan hal yang penting. Pengujian sterilitas dilakukan
pada kondisi aseptik. Untuk memperoleh kondisi demikian, lingkungan pengujian harus
disesuaikan dengan cara dimana uji sterilitas dilakukan. Tindakan pencegahan harus diambil
untuk menghindari kontaminasi yang akan mempengaruhi pengamatan mikroba yang terlihat
pada pengujian. Kondisi pekerjaan pengujian dipantau secara teratur dengan mengambil
sejumlah sampel dari daerah pengujian dan melakukan pengendalian yang sesuai.

Prosedur farmakope ini didesain bukan untuk menjamin bahwa satu bets produk adalah steril
atau, telah disterilkan. Hal ini terutama harus disertai dengan validasi proses sterilisasi atau
prosedur proses aseptik. Jika terbukti bahwa kontaminasi mikroba dalam bahan dibuktikan
menggunakan metode farmakope yang sesuai, maka hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa
bahan tersebut tidak memenuhi syarat uji sterilitas, walaupun diperoleh hasil yang berbeda
menggunakan prosedur alternatif. Untuk informasi tambahan pada uji sterilitas lihat Sterilisasi
dan Jaminan Sterilitas Bahan Kompendia <1371>.

Media
55
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

Media harus memenuhi syarat Uji fertilitas aerob, anaerob dan jamur. Media disterilisasi
menggunakan proses yang telah divalidasi. Media berikut adalah media yang sesuai untuk uji
sterilitas. Media tioglikolat cair terutama digunakan untuk pertumbuhan bakteri anaerob,
termasuk juga untuk mendeteksi bakteri aerob. Soybean-casein digest medium sesuai untuk
pertumbuhan jamur maupun bakteri. Media yang digunakan antara lain : media tioglikolat cair,
media tioglikolat alternatif, saybean-casein digest medium, media untuk golongan penisillin atau
golongan sefalosporin (cara pembuatan lihat suplemen I FI IV hal 1513).

Uji Kesesuaian
Media yang digunakan sesuai dengan uji di bawah ini. Pengujian dilakukan sebelum atau
bersamaan dengan pengujian produk.
1. Sterilitas
Pastikan sterilitas tiap bets media yang telah disterilkan dengan cara menginkubasi sebagian
dari media pada suhu yang sesuai selama 14 hari. Tidak boleh ada pertumbuhan mikroba.
2. Uji Fertilitas untuk Aerob, Anaerob dan Jamur
Lakukan uji fertilitas terhadap tiap lot media siap pakai dan tiap bets dari media yang dibuat
menggunakan media kering atau dari bahan-bahannya. Galur mikroba yang sesuai dapat
diliat pada Tabel 1.
Inokulasikan sejumlah Media tioglikolat cair dengan sejumlah kecil (tidak lebih dari 100
koloni) mikroba berikut, menggunakan sejumlah media terpisah untuk setiap spesies
mikroba: Clostridium sporogenes, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus aureus.
Inokulasikan sejumlah Media tioglikolat alternatif dengan sejumlah kecil (tidak lebih dari
100 koloni) Clostridium sporogenes. Inokulasikan sejumlah Soybean-casein digest medium
dengan sejumlah kecil (tidak lebih dari 100 koloni) mikroba, menggunakan sejumlah media
terpisah untuk setiap spesies mikroba berikut: Aspergillus niger, Bacillus subtilis dan
Candida albicans. Inkubasi tidak lebih dari 3 hari untuk bakteri dan tidak lebih dari 5 hari
untuk jamur.
56
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

Media dapat digunakan apabila terlihat pertumbuhan mikroba dengan jelas.


3. Penyimpanan : Jika media yang telah dibuat disimpan dalam wadah tidak tersegel dapat
digunakan dalam waktu sebulan, dengan ketentuan bahwa media diuji fertilitas setiap 2 minggu
selama penggunaan dan indikator warna masih memenuhi syarat. Jika disimpan dalam wadah
tertutup rapat, media dapat disimpan selama 1 tahun, dengan ketentuan bahwa media diuji
fertilitas setiap 3 bulan selama penggunaan dan indikator warna masih memenuhi syarat.

Cairan Pengencer dan Pembilas untuk Penyaringan Membran


Meliputi cairan A, cairan D, dan cairan K (prosedur pembuatan dapat dilihat pada suplemen I FI
IV Hal 1514)

Uji validasi
Lakukan uji seperti yang tertera pada Uji untuk sterilitas produk menggunakan metode yang
persis sama, kecuali untuk modifikasi berikut ini :
Penyaringan Membran
Setelah isi wadah atau isi beberapa wadah yang diuji disaring melalui membrane, tambahkan
inokulum dari sejumlah kecil mikroba viable (tidak lebih dari 100 koloni) ke dalam pengencer
steril terakhir yang digunakan untuk membilas penyaring.

Inokulasi langsung
Setelah isi wadah atau isi beberapa wadah yang diuji (untuk benang bedah dan alat-alat bedah
untuk penggunaan dokter hewan : helaian) dimasukkan ke dalam media kultur, tambahkan
inokulum sejumlah kecil mikroba viable (tidak lebih dari 100 koloni) ke dalam media.
Pada kedua cara di atas, gunakan mikroba yang sama seperti yang tertera pada Uji fertilitas
untuk aerob, anaerob dan jamur. Lakukan uji fertilitas sebagai kontrol positif. Inkubasi semua
wadah yang berisi media selama tidak lebih dari 5 hari.
Jika setelah masa inkubasi terlihat pertumbuhan mikroba dengan jelas, secara visual bandingkan
dengan tabung yang tidak berisi contoh, atau berisi contoh yang tidak mempunyai aktivitas
antimikroba pada kondisi uji atau aktivitasnya telah dihilangkan dengan sempurna. Uji sterilitas
kemudian dapat dilakukan tanpa modifikasi lebih lanjut.
Jika tidak terlihat pertumbuhan mikroba dengan jelas pada tabung yang berisi contoh, secara
visual bandingkan dengan tabung yang tidak berisi contoh atau contoh yang mempunyai
aktivitas antimikroba yang tidak dapat dihilangkan pada kondisi pengujian. Modifikasi kondisi
untuk menghilangkan daya aktivitas antimikroba dan ulangi uji validasi.
Validasi dilakukan: a) jika uji untuk sterilitas harus dilakukan pada contoh baru dan b) apabila
ada perubahan yang dilakukan pada kondisi pengujian. Validasi dapat dilakukan secara simultan
dengan Uji sterilitas produk.

Uji Sterilitas Produk


Jumlah Bahan yang Diuji
Kecuali dinyatakan lain pada bab ini atau dalam masing-masing monografi, jumlah bahan uji
seperti yang tertera pada Tabel 3. Jika isi tiap bahan mencukupi (lihat Tabel 2) isi bahan dapat
dibagi sama banyak yang ditambahkan pada media yang sesuai. [Catatan Lakukan uji sterilitas
menggunakan dua atau lebih media yang sesuai]. Jika isi bahan tidak cukup untuk masing-
57
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

masing media, gunakan jumlah dua kali dari yang tertera pada Tabel 3.
Pengujian terhadap sampel uji dapat dilakukan menggunakan tehnik Penyaringan membran atau
Inokulasi langsung pada media. Gunakan juga kontrol negatif yang sesuai. Tehnik Penyaringan
membran digunakan apabila sifat contoh sesuai. Misalnya untuk sediaan yang mengandung air
dan dapat disaring, sediaan yang beralkohol atau berminyak, dan sediaan yang dapat dicampur
dengan atau yang larut dalam pelarut air atau minyak, dengan ketentuan bahwa pelarut tidak
mempunyai efek antimikroba pada kondisi pengujian tersebut.

4. UJI PIROGEN <231> (FI IV, hal. 908-909)


Tujuan: untuk membatasi resiko reaksi demam pada tingkat yang dapat diterima oleh pasien
pada pemberian sediaan injeksi

Cara Pengerjaan:
Lakukan pengujian dalam ruang terpisah yang khusus untuk uji pirogen dan dengan kondisi
lingkungan ynag sama dengan ruang pemeliharaan, bebas dari keributan yang menyebabkan
kegelisahan. Kelinci tidak diberi makan selama waktu pengujian. Apabila pengujian
menggunakan termistor, masukkan kelinci ke dalam kotak penyekap sedemikian rupa sehingga
kelinci tertahan dengan letak leher yang longgar sehingga dapat duduk dengan bebas. Tidak
lebih dari 30 menit sebelum penyuntikan larutan uji, tentukan ”suhu awal” masing-masing
kelinci yang merupakan dasar untuk menentukan kenaikan suhu.

o o.
Beda suhu tiap kelinci tidak boleh lebih dari 1 dan suhu awal setiap kelinci tidak boleh > 39,8

Kecuali dinyatakan lain pada masing-masing monografi, suntikan 10 ml per kg bobot badan,
melalui vena tepi telinga 3 ekor kelinci dan penyuntikan dilakukan dalam waktu 10 menit.
Larutan uji berupa sediaan yang bila perlu dikonstitusi seperti yang tertera pada etiket maupun
bahan uji yang diperlakukan seperti yang tertera pada masing-masing monografi dan disuntikan
dengan dosis seperti yang tertera. Untuk uji pirogen alat atau perangkat injeksi, gunakan sebagai
larutan uji hasil cucian atau bilasan dari permukaan alat yang berhubungan langsung dengan
sediaan parenteral, tempat penyuntikan atau jaringan tubuh pasien. Semua larutan harus bebas
dari kontaminasi. Hangatkan larutan pada suhu 37±2º sebelum penyuntikan. Rekam suhu
berturut-turut antara jam ke-1 dan ke-3 setelah penyuntikan dengan selang waktu 30 menit.

Penafsiran hasil Setiap penurunan suhu dianggap nol. Sediaan memenuhi syarat apabila tak
seekor kelinci pun menunjukan kenaikan suhu 0,5º atau lebih lanjutkan pengujian dengan
mengunakan 5 ekor kelinci. Jika tidak lebih dari 3 ekor dari 8 ekor kelinci masing-masing
menunjukan kenaikan suhu 0,5º atau lebih dan jumlah kenaikan suhu maksimum 8 ekor kelinci
dan tidak > 3,3º sediaan dinyatakan memenuhi syarat bebas pirogen.

5. PENETAPAN POTENSI ANTIBIOTIK SECARA MIKROBIOLOGI (Suplemen FI


IV<131> hal 1519-1527)
Tujuan : untuk mengetahui aktivitas (potensi) antibiotik secara mikrobiologi.
Aktivitas (potensi) antibiotik dapat ditunjukkan pada kondisi yang sesuai dengan efek daya
hambatnya terhadap mikroba. Terdapat dua metode yang umum digunakan dalam penetapan
58
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

potensi antibiotik yaitu penetapan dengan lempeng-silinder atau ”cawan” dan penetapan dengan
cara ”tabung” atau turbidimetri. Metode pertama berdasarkan difusi antibiotik dari silinder yang
dipasang tegak lurus pada lapisan agar padat dalam cawan petri atau cawan, sehingga mikroba
yang ditambahkan dihambat petumbuhannya pada daerah berupa lingkaran atau ”zona” di
sekeliling silinder yang berisi larutan antibiotik. Metode turbidimetri berdasarkan atas hambatan
pertumbuhan biakan mikroba dalam larutan serba sama antibiotik, dalam media cair yang dapat
menumbuhkan mikroba dengan cepat bila tidak terdapat antibiotik.

Penyiapan sampel
Dari informasi yang ada untuk penyiapan sediaan yang akan diuji (sampel), berikan potensi
perkiraan tiap satuan bobot atau volume dan berdasarkan perkiraan ini, pada hari penetapan buat
larutan persediaan serta enceran larutan uji seperti yang tertera untuk setiap antibiotik dengan
pengencer akhir yang sama seperti baku pembanding. Penetapan menggunakan 5 tingkat dosis
baku, memerlukan hanya 1 tingkat dosis sampel pada kadar perkiraan sama dengan tingkat dosis
tengah baku.
Biakan mikroba uji yang akan digunakan untuk uji dipelihara pada media agar miring dengan
kondisi inkubasi yang sesuai (Tabel 3 di Suplemen FI IV hal 1525) dan dipindahkan setiap
minggu pada agar miring yang baru. Untuk persiapan penetapan, lepaskan biakan segar mikroba
dari agar miring atau biakan lain dalam 3 ml natrium klorida P dan butiran kaca steril.
Inokulasikan ke permukaan 250 ml media agar dengan jumlah tertentu bergantung pada mikroba
yang digunakan (tabel 3) dalam sebuah botol Roux, kecuali untuk Enterococcus hirae dan
Staphylococcus aureus dibiakkan di media cair. Sebarkan suspensi secara merata ke atas
permukaan agar dengan bantuan butiran kaca steril dan inkubasikan pada suhu yang ditetapkan
selama waktu tertentu. Pada akhir periode inkubasi, buat suspensi persediaan dengan
mengumpulkan biakan ke dalam 50 ml larutan natrium klorida 0,9% steril. Tetapkan dengan
percobaan, jumlah suspensi persediaan yang akan digunakan sebagai inokula dimulai dengan
volume yang tertera pada Tabel 3 di Suplemen FI IV hal 1525 dengan ketentuan-ketentuan
tertentu bergantung pada jenis percobaan.

Cara Pengujian
Metode Lempeng Silinder : Untuk mempersiapkan penetapan menggunakan cawan petri, tuang
21 mL media ke dalam masing-masing sejumlah cawan yang diperlukan, dan biarkan memadat
sebagai lapisan dasar yang licin dengan ketebalan seragam. Tambahkan 4 mL lapisan inokula,
putarkan cawan untuk menyebar ratakan inokula pada permukaan dan biarkan memadat.
Letakkan 6 buah silinder pada permukaan yang telah diinokulasikemudian tutup cawan untuk
mencegah kontaminasi. Setelah itu, masukkan larutan antibiotik dan inkubasi pada suhu 32°
hingga 35° atau pada suhu yang sesuai bergantung pada antibiotik masing-masing yang diuji.
Inkubasi selama 16-18 jam. Setelah itu, ambil silinder, ukur dan catat diameter tiap hambatan
pertumbuhan hingga mendekati 0,1 mm. Pada penetapan 1 tingkat dosis dengan kurva baku, buat
pengenceran dengan 5 timgkat dosis baku (S1 sampai S5) dan satu tingkat dosis uji (U3) yang
sesuai dengan S3 kurva baku, seperti yang tertera pada Pemyiapan Baku dan Penyiapan Sampel
Uji. Untuk memperoleh kurva baku, isi silinder selang-seling pada tiap 3 cawan dengan dosis
tengah baku (S3) dan tiap silinder dari 9 silinder sisanya dengan satu dari empat pengenceran
larutan baku. Lakukan hal yang sama untuk 3 pengenceran lainnya. Untuk tiap sediaan uji, isi
59
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

silinder selang seling pada tiap 3 cawan dengan dosis tengah baku (S3) dan 9 silinder sisa dengan
enceran larutan uji yang sebanding (U3)

Metode Turbidimetri : Pada hari penetapan, siapkan dosis yang diperlukan dengan
mengencerkan larutan persediaaan baku dan tiap larutan uji. Tambahkan 1 ml tiap dosis pada
masing-masing tabung reaksi yang telah disiapkan dan tempatkan 3 replikat tabung dengan
posisi secara acak pada rak tabung. Secara bersamaan letakkan pada tiap rak 1 tabung atau 2
tabung kontrol yang berisi 1 ml pengencer tanpa antibiotik. Setelah selesai semua pengisian
larutan tambahkan 9,0 ml inokula ke dalam tiap tabung pada rak dan setelah lengkap pengisian
rak segera ditempatkan dalam inkubator atau tangas air dengan suhu yang dipertahankan pada
36° sampai 37,5°. Inkubasi tabung selama 4 sampai 5 jam. Setelah inkubasi, tambahkan 0,5 ml
larutan formaldehida encer ke dalam tiap tabung. Ambil satu rak sekaligus dan ukur transmitan
atau serapannya dengan spektrofotometer yang sesuai pada 530 nm atau 580 nm. Pada penetapan
1 tingkat dosis dengan kurva baku (S1 sampai S5) dan satu tingkat dosis larutan uji (U3) dari tiap
sediaan sama dengan 20 sediaan uji yang sama dengan S3 baku. Buat juga satu S3 tambahan
sebagai uji pertumbuhan. Tambahkan 1 ml masing-masing larutan uji pada 3 tabung dan 1 ml
pengencer bebas antibiotik pada 6 tabung sebagai kontrol. Letakkan secara acak satu set lengkap
termasuk 2 tabung kontrol pada satu rak tabung. Tambahkan 9,0 ml inokula, inokulasikan,
tambahkan 0,5 ml formaldehida encer dan akhiri penetapan. Tetapkan masa inkubasi yang pasti
dengan mengamati pertumbuhan pada kadar rujukan (dosis tengah) pengenceran baku (S3)

Cara Perhitungan
Untuk menghitung potensi dari data yang diperoleh dengan metode lempeng silider atau
turbidimetri lakukan seperti yang tertera pada Potensi hasil interpolasi dari kurva baku seperti
yang tertera pada Desain dan Analisis Penetapan Hayati <81> pada FI IV, menggunakan
metode garis lurus transformasi log dengan prosedur penyesuaian kuadrat terkecil dan uji
linieritas. Bila sejumlah penetapan dari bahan uji yang sama dilakukan menggunakan kurva baku
yang sama, hitung koefisien variasi dari hasil semua penetapan bahan uji. Bila lebih dari satu
penetapan dilakukan untuk bahan uji dengan kurva baku yang berbeda, buat rata-rata dari dua
atau lebih nilai potensi.

6. UJI ENDOTOKSIN BAKTERI (Suplemen I FI IV <201>, hal 1527-1532)


Tujuan : mendeteksi dan atau mengkuantisasi endotoksin bakteri yang mungkin terdapat dalam
sampel uji
Pengujian Endotoksi bakteri dilakukan menggunakan Limulus Amebocyte Lysate (LAL) yang
diperoleh dari ekstrak air amebosit dari kepiting ladam kuda (Limulus polyphemus atau
Tachypleus tridentatus) dan dibuat khusus sebagai pereaksi LAL. Terdapat dua tipe teknik uji,
teknik pembentukan jendal gel dan teknik fotometrik. Teknik fotometrik mencakup metode
turbidimetri yang didasarkan pada pembentukan kekeruhan setelah penguaraian substrat endogen
dan metode kromogenik yang didasarkan pada pembentukan warna setelah terjadi penguraian
kompleks kromogen-peptida sintetik. Pada teknik pembentukan Jendal Gel penetapan titik akhir
reaksi dilakukan dengan membandingkan langsung enceran dari zat uji dengan enceran
endotoksin baku, dan jumlah endotoksin dinyatakan dalam unit Endotoksin FI. Kedua uji ini
memerlukan pembuatan kurva regresi baku dan kandungan endotoksin dari zat uji ditetapkan
60
Teori Sediaan Apoteker Januari 2014/2015 INJEKSI

dengan interpolasi dari kurva tersebut. Prosedur meliputi inkubasi selama waktu yang telah
ditetapkan dari endotoksin yang bereaksi dan larutan kontrol dengan peraksi LAL, dan
pembacaan serapan cahaya pada panjang gelombang yang sesuai, pengukuran titik akhir pada
prosedur secara turbidimetri, pembacaan dilakukan segera pada akhir masa inkubasi. Pengukuran
titik akhir pada prosedur kolorimetri, reaksi dihentikan pada akhir dari waktu yang telah
ditetapkan, dengan penambahan zat pemutus-reaksi-enzim, sebelum pengukuran, pada penetapan
kadar secara kinetik (turbidimetri dan kolorimetri), serapan diukur selama periode reaksi dan
dari pengukuran tersebut ditetapkan nilai kecepatan reaksi.
Sebelum melakukan pengujian terlebih dahulu harus dipersiapkan alat dan alat gelas yang telah
didepirogenasi, baku pembanding dan baku kontrol endotoksin, dan juga melakukan penetapan
Pengenceran Maksimum yang Absah (PMA) yaitu pengenceran maksimum yang diperbolehkan
dari suatu sampel agar endotoksin dapat ditetapkan.

Uji Endotoksin Cara Jendal Gel


Cara jendal gel mendeteksi atau mengkuantitasi endotoksin berdasarkan pembentukan jendal
dari pereaksi LAL dengan adanya endotoksin. Konsentrasi endotoksin yang dibutuhkan untuk
menjendalkan lisat pada kondisi standar, dinyatakan sebagai kepekaan pereaksi LAL yang tertera
pada etiket. Untuk memastikan presisi dan keabsahan pengujian, perlu dilakukan uji konfirmasi
kepekaan pereaksi LAL yang tercantum pada etiket dan uji faktor pengganggu. Jika disebutkan
dalam monografi, dilakukan pula Uji Batas Jendal Gel.
Pada pengerjaan pengujian penetapan kadar endotiksin dengan cara Jendal Gel digunakan pula
kontrol negatif dan kontrol positif. Jika pengujian dilakukan dengan mengencerkan larutan uji,
kadar endotoksin dihitung dengan mengalikannya dengan faktor pengenceran. Bahan memenuhi
syarat jika kadar endotoksin kurang dari nilai yang dinyatakan dalam masing-masing monografi.

Uji Endotoksin Cara Fotometrik


Uji endotoksin dengan cara fotometrik dilakukan berdasarkan metode turbidimetri yang
mengukur peningkatan kekeruhan larutan. Berdasarkan prinsip pengujian yang digunakan,
teknik diklasifikasikan menjadi turbidimetri titik akhir dan turbidimetri kinetik. Cara turbidimetri
titik akhir didasarkan pada hubungan kuantitatif antara kadar endotoksin dan kekeruhan
(serapan atau transmisi) dari campuran reaksi pada akhir masa inkubasi. Cara turbidimetri
kinetik dapat dilakukan dengan dua cara : mengukur waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
nilai serapan yang telah ditetapkan atau kecepatan pembentukan kekeruhan. Metode kromogenik
mengukur kromofor yang dilepaskan dari peptide kromogenik yang sesuai, yang dihasilkan dari
reaksi antara endotoksin dengan pereaksi LAL. Berdasarkan prinsip pengujian yang digunakan,
teknik ini diklasifikasikan sebagai teknik kromogenik titik akhir atau kromogenik kinetik. Cara
kromogenik titik akhir didasarkan pada hubungan kuantitatif antara kadar endotoksin dan
pelepasan kromofor pada akhir masa inkubasi. Cara kromogenik kinetik dapat dilakukan dengan
mengukur waktu yang dibutuhkan untuk mencapai nilai serapan yang telah ditentukan atau
kecepatan pembentukan warna. Pada uji endotoksin secara fotometrik ini terlebih dahulu
dilakukan verifikasi criteria kurva baku dan uji faktor pengganggu cara fotometrik.sediaan uji
memenuhi syarat jika rata-rata kadar endotoksin larutan uji, setelah koreksi pengenceran dan
kadar lebih kecil dari batas endotoksin yang disyaratkan.

61