Anda di halaman 1dari 22

TEORI SEDIAAN – Suspensi

SUSPENSI KERING (REKONSTITUSI)

(checked by Yenni)

I. PENDAHULUAN

A. Definisi

 FI IV , 1995 (hal. 17)


Suspensi adalah sediaan cair yang mengandung partikel padat tidak larut yang terdispersi dalam fasa cair.
Beberapa suspensi dapat langsung digunakan, sedangkan yang lain berupa campuran padat yang harus
direkonstitukan terlebih dahulu dengan pembawa yang sesuai segera sebelum digunakan.
 USP 36-NF 31
Suspensi rekonstitusi adalah campuran serbuk/granul kering yang membutuhkan penambahan air/pelarut
yang sesuai sebelum digunakan. Campuran serbuk atau granul tersebut harus homogen dan mudah
didispersi ketika ditambahkan pembawanya. (engga punya USP 36)
 BP 2009 Vol III (Oral Powders, General Monographs, hal 6536)
Serbuk dan granul untuk larutan dan suspensi oral : Serbuk oral adalah sediaan yang mengandung zat
padat longgar (loose), partikel kering yang bervariasi dalam derajat kehalusannya. Dapat mengandung satu
atau lebih zat aktif, dengan atau tanpa bahan pembantu, dan jika perlu, zat warna yang diizinkan serta zat
pemberi rasa. Disuspensikan dalam air atau pembawa lain sebelum diberikan oral. Setelah di suspensikan,
spesifikasi sediaan tersebut mengikuti spesifikasi suspensi oral.

 Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hal 243:


Suatu suspensi rekonstitusi adalah campuran kering yang perlu didispersikan dengan air pada saat akan
digunakan, dan harus mencantumkan “ ... untuk suspensi oral” sesuai USP. Bentuk suspensi ini digunakan
terutama untuk obat yang mempunyai stabilitas rendah di dalam pelarut air. Waktu simpan sediaan yang
telah direkonstitusi lebih pendek dibandingkan saat masih berada dalam bentuk keringnya.

 Ansel, Pharmaceutical Dosage 2011 (hal 377)


Suspensi rekonsitusi adalah campuran serbuk yang mengandung zat aktif, zat pesuspensi dan zat
pendispersi yang akan di larutkan dan didispersikan dengan sejumlah pembawa yang sesuai, umumnya air.

B. Alasan Pembuatan Sediaan Suspensi Kering

(Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm 244)


Sediaan suspensi kering sering digunakan ketika stabilitas fisika/kimia dari zat aktif tidak begitu baik dalam
pembawa air. Selain itu, untuk menghindari masalah stabilitas fisik seperti meningkatnya kelarutan zat akibat
terjadinya perubahan pH. Perubahan pH tersebut dapat diakibatkan dari degradasi kimia, komposisi yang tidak
kompatibel, perubahan viskositas, perubahan bentuk polimorf serbuk, pertumbuhan kristal dan caking. Seperti
contoh, antibiotik mempunyai stabilitas yang terbatas di dalam pelarut air dan jika penggunaannya ditujukan

1
TEORI SEDIAAN – Suspensi

untuk anak-anak maka dibuat menjadi suspensi rekonstitusi. Contoh lain adalah Penisilin yang berada dalam
campuran serbuk memiliki waktu simpan selama 2 tahun, setelah direkonstitusi waktu simpan menjadi 14 hari.
NB: kata2nya tidak ada di dalam buku

C. Keuntungan Sedian Suspensi Rekonstitusi

Keuntungan dari suspensi kering adalah untuk menjaga stabilitas kimiawi zat aktif sampai sebelum di
rekonstitusi dengan medium pendispersinya. Kestabilan zat aktif dapat dipertahankan karena kontak zat padat
dengan medium pendispersi dapat dipersingkat dengan mendispersikan zat padat dalam medium pendispersi
hanya pada saat akan digunakan. Selain itu, bobot suspensi rekons lebih ringan daripada suspensi biasa
karena tidak ada pelarutnya, ongkos transportasi juga jadi lebih murah.

D. Syarat Karakteristik Sediaan Suspensi Rekonstitusi

(Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hal 244)


Karakteristik yang perlu dicapai dalam pembuatan suspensi kering adalah :

1. Pencampuran serbuk untuk rekonstitusi harus menghasilkan konsentrasi yang homogen untuk masing-
masing bahan baku.
2. Saat serbuk di rekonstitusi harus terdispersi seluruhnya dengan cepat pada fasa pembawanya (air).
3. Suspensi rekonstitusi harus mudah didispersi ulang dan dituang oleh pasien agar menghasilkan dosis yang
tepat.
4. Produk akhir harus memiliki penampilan, bau dan rasa yang dapat diterim oleh pasien.

E. Jenis Sediaan Suspensi Rekonstitusi

(Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm 249)


Ada 3 jenis sediaan suspensi rekonstitusi, yaitu :
1. Campuran serbuk
Sediaan dalam bentuk ini dibuat dengan mencampurkan bahan baku dalam bentuk serbuknya. Campuran
serbuk merupakan cara pembuatan yang paling mudah dan sederhana. Proses pencampuran dilakukan
secara bertahap bila ada komponen dengan jumlah kecil dalam campuran. Penting untuk diperhatikan, alat
pencampur yang digunakan harus mampu mendapatkan campuran yang homogen dengan cepat, mudah
dibersihkan dan lebih baik dalam sistem tertutup.
Keuntungan formulasi bentuk campuran serbuk :
• Alat yang dibutuhkan sederhana, hemat energi, dan tidak banyak
• Jarang menimbulkan masalah stabilitas dan kimia karena tidak digunakannya pelarut dan pemanasan
saat proses pencampuran.
• Kadar kelembaban yang rendah mudah dicapai

2
TEORI SEDIAAN – Suspensi

Kerugian formulasi bentuk campuran serbuk :


• Sulit untuk menjamin distribusi obat yang homogen ke dalam campuran.
• Kemungkinan adanya ketidakseragaman ukuran partikel antara zat aktif dengan eksipien (seperti
suspending agent dan pemanis yan ukurannya lebih besar). Variasi ukuran partikel dalam campuran
serbuk yang terlalu jauh berbeda dapat menyebabkan pemisahan dalam bentuk lapisan dengan
berbagai ukuran.
• Aliran serbuk kurang baik. Aliran yang tidak baik dapat menimbulkan pemisahan campuran serbuk.
• Terjadi kehilangan zat aktif selama proses pencampuran. Selama pencampuan, terjadi penurunan bobot
campuran bulk sehingga ditambahkan eksipien untuk mencapai bobot yang diinginkan. Karena itu,
kandungan zat aktif dalam campuran bulk berkurang.

2. Granulasi
Pembuatan biasanya dilakukan dengan granulasi basah, terutama ditujukan untuk memperbaiki sifat aliran
serbuk dan mengurangi volume sediaan yang voluminous dalam wadah. Granulasi dilakukan dengan
menggunakan air atau larutan pengikat dalam air. Dapat juga digunakan pelarut non-air untuk bahan yang
terhidrolisis. Pembuatan dapat dilakukan dengan mencampurkan secara kering bersama bahan baku lain
atau dilarutkan/disuspensikan dalam larutan penggranulasi.
Proses granulasi basah dilakukan dengan cara mencampurkan bahan padat dengan cairan penggranulasi
dalam mixer. Massa basah yang terbentuk kemudian di ayak dengan pengayak vibrator, granulator, atau di
giling sebelum dikeringkan. Tetapi umumnya di lakukan dengan pengayakan. Granul yang terbentuk dapat
dikeringkan dalam oven atau fluid bed drier. Granul yang telah dikeringkan kemudian diayak untuk
memisahkan agregat yang terbentuk.
Keuntungan cara granulasi :
a. Memiliki penampilan yang lebih baik daripada campuran serbuk.
b. Memiliki sifat aliran yang lebih baik.
c. Masalah pemisahan jarang terjadi
d. Tidak terlalu banyak menimbulkan debu selama pengisian.

Kerugian cara granulasi :


a. Melibatkan proses yang lebih panjang, peralatan yang lebih banyak dan energi lebih besar.
b. Adanya panas dan kontak dengan pelarut dapat menyebabkan terjadinya risiko instabilitas ZA
c. Sulit untuk menghilangkan sesepora cairan penggranulasi dari bagian dalam granul dimana dengan
adanya sisa tersebut kemungkinan dapat menurunkan stabilitas produk.
d. Eksipien yang ditambahkan harus stabil terhadap proses granulasi.
e. Keseragaman granulasi adalah penting karena jika fines atau partikel ukuran kecil terlalu banyak akan
memicu segregasi.

3
TEORI SEDIAAN – Suspensi

3. Campuran antara granul dan serbuk


Metode ini digunakan untuk mengatasi kerugian cara granulasi. Pada tahap awal dibuat granul dari
beberapa komponen, kemudian setelah dikeringkan dicampur dengan komponen sisa yang berupa serbuk.
Untuk menjaga keseragaman, ukuran partikel dari setiap komponen harus dikendalikan.

Keuntungan cara ini :


a. Dibutuhkan energi dan peralatan yang lebih sedikit untuk granulasi .
b. Komponen yang peka terhadap panas seperti zat aktif atau flavor, dapat ditambahkan sesudah
pengeringan granul untuk mencegah pengaruh panas.

Kerugian dari cara ini :


a. Meningkatnya resiko ketidakseragaman/homogen.
b. Campuran granul dengan non-granul harus dipastikan tidak terpisah menjadi beberapa lapisan yang
berbeda ukuran partikel

F. Hal Penting dalam Pembuatan Suspensi Rekonstitusi

(Pharm.Dosage Forms: Disperse System, 1989, Vol 2, hlm 251)


1. Gunakan pengaduk yang efisien. Evaluasi kinerja proses dari bets pada alat skala pilot. Jadi, bukan
menggunakan peralatan laboratorium.
2. Tentukan waktu pengadukan yang sesuai.
3. Hindari pengumpulan panas dan kelembaban selama pengadukan.
4. Batasi variasi suhu dan kelembaban. Umumnya adalah 70 ⁰C dengan RH ≤ 40%.
5. Bets yang sudah selesai diolah harus terlindung dari kelembaban. Simpan dalam wadah tertutup rapat
yang dilengkapi dengan kantong pengering silika gel.
6. Untuk menguji keseragaman bets sampel diambil pada bagian atas, tengah, dan bawah dari campuran
kering.

Masalah potensial akibat terjadinya perubahan sifat aliran dari campuran bahan kering, yaitu dapat
menyebabkan demixing, segregasi, dan penyerapan kelembaban selama pengolahan atau pada produk jadi.
Aliran yang tidak baik atau caking sering terjadi apabila individu partikel bergabung. Penyebabnya antara lain :
− Tidak stabil terhadap suhu tinggi
− Muatan permukaan
− Variasi kelembaban relatif
− Kristalisasi
− Pemampatan karena berat serbuk

4
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

Dari slide Bu Ninet (Teknologi Sediaan Farmasi)


Titik kritis pembuatan suspensi rekonstitusi
1. Bahan pensuspensi mudah dikembangkan
2. Proses pencampuran serbuk
3. Proses penambahan bahan pewarna, odoris
4. Kadar air granul atau serbuk
5. Pemilihan metode pencampuran kering

(Ansell, Pharmaceutical Dosage 2011, hal 393)


Botol yang digunakan umumnya lebih besar dan di dalam botol jangan ada sudut mati karena dapat
menyebabkan ketidakhomogenan.

II. FORMULA

A. Formulasi Umum Suspensi Rekonstitusi

(Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 245)


Aspek formulasi yang harus diperhatikan dalam merancang bentuk sediaan suspensi:
 ukuran partikel
 pemakaian zat pembasah (jika diperlukan)
 suspensi yang akan dibentuk (flokulasi/deflokulasi)
Kriteria pemilihan komponen didasarkan pada kesesuaian untuk rekonstitusi dan jenis bentuk fisik campuran
serbuk yang diinginkan.

Tabel 1. Eksipien yang umum digunakan untuk Suspensi Rekonstitusi

Sering Jarang
Suspending agent Anticaking Agent
Wetting Agent Flocculating Agent
Sweetener Solid diluent
Pengawet Antifoaming agent
Perasa Granule binder
Pewarna Granule Disintegrant
Lubrikan
Antioksidan

Di dalam mengembangkan formulasi, bahan yang digunakan sebaiknya seminimal mungkin karena makin
banyak bahan akan makin menimbulkan masalah seperti masalah inkompatibilitas akan meningkat atau
energi yang lebih besar dengan makin banyaknya bahan yang dicampurkan. Oleh karena itu, sedapat

5
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

mungkin eksipien yang digunakan adalah yang benar-benar dibutuhkan dalam formulasi. Sangat dianjurkan
menggunakan eksipien yang dapat berfungsi lebih dari satu macam saja. Semua eksipien harus sesegera
mungkin terdispersi pada saat direkonstitusi.
Suspensi rekons umumnya mengandung zat aktif, pewarna (FD&C dyes), perasa, pemanis (sukrosa atau Na
sakarin), stablizing agents (citric acid, sodium sitrat), supending agent (guar gum, xanthan gum, , CMC,
Mikrokristalin selulosa, polivinilpirolidon, bentonit), pengawet (metil paraben, Na benzoate).
(Ansell, Pharmaceutical Dosage Forms 2011, hal. 376)

B. Komponen dalam Suspensi Rekonstitusi

1. Zat aktif
Zat aktif dengan kelarutan yang relatif kecil di dalam fasa pendispersi. Sifat partikel yang harus
diperhatikan adalah ukuran partikel dan sifat permukaan padat-cair (hidrofob/hidrofil). Biasanya ZA
berupa antibiotik untuk penggunaan pada anak-anak.

2. Bahan Pensuspensi
(Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm.247)
Bahan ini digunakan untuk memodifikasi viskositas dan menstabilkan zat yang tidak larut dalam medium
pendispersi. Bahan pensuspensi yang digunakan harus mudah terdispersi dan mengembang dengan
pengocokan secara manual selama rekonstitusi. Jika ia membutuhkan hidrasi, suhu tinggi atau
pengadukan dengan kecepatan tinggi untuk pengembangannya maka tidak dapat digunakan. Bahan
pensuspensi yang tidak disarankan diantaranya adalah agar, karbomer, metilselulosa dan Alumunium
magnesium silikat.

Beberapa bahan pensuspensi bersifat ionik dengan tujuan untuk menghindari inkompatibilitas kimiawi
dengan bahan lain. Bahan pensuspensi berupa polimer dapat menghasilkan viskositas yang sangat baik
pada pH optimum kelarutannya. Bahan ini juga harus stabil terhadap pH sistem selama waktu simpan
produk. Kombinasi mikrokristalin selulosa dan natrium karboksimetilselulosa umum digunakan sebagai
bahan pensuspensi, dan merupakan anionik sehingga tidak cocok digunakan dengan bahan baku yang
bersifat kationik

Bahan pensuspensi yang berasal dari gom alami umumnya bersifat anionik. Tragakan akan
menghasilkan campuran yang sangat kental dan digunakan untuk mensuspensikan partikel yang padat.
Alginat akan menghasilkan larutan yang kental. Iota-karagenan akan menghasilkan dispersi tiksotropik.
Tetapi, kelemahan penggunaan produk alami ini adalah terjadinya variasi antar bets seperti perbedaan
dalam warna, kekentalan, kekuatan gel, dan kecepatan hidrasi. Xantan gum umum digunakan untuk

6
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

suspensi rekonstitusi karena memiliki keseragaman yang baik untuk tiap bets dan tidak rentan
kontaminasi mikroba. Kekentalannya tidak bergantung pada pH dan suhu.

Bahan pensuspensi yang sering digunakan dalam suspensi rekonstitusi antara lain
Nama Zat Muatan Listrik
Akasia -
CMC Na -
Iota karagen -
Mikrokristalin selulosa dengan CMC Na -
Povidon 0
Propilenglikol alginat -
Silikon dioksida, koloidal 0
Na starch glycolate -
Tragakan -
Xanthan gum -

3. Pemanis
(Pharm.Dosage Forms : Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 248)
Obat umumnya pahit dan rasanya tidak enak. Untuk mengatasi hal ini sukrosa selain digunakan sebagai
pemanis, berperan pula sebagai peningkat viskositas dan diluent pada campuran kering. Sukrosa dapat
pula dihaluskan untuk meningkatkan luas permukaan dan dapat pula digunakan sebagai pembawa
untuk komponen fasa cair misalnya minyak atsiri. Pemanis lain yang dapat digunakan: manitol,
aspartam, dekstrosa, dan Na sakarin. Aspartam cukup stabil tetapi tidak tahan panas. Sakarin memiliki
potensi karsinogenik.

4. Wetting agent
(Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm 248.)
Untuk mempermudah pembasahan ZA yang bersifat hidrofob, digunakan wetting agent pada
konsentrasi efektif terkecil. Surfaktan umum digunakan sebagai wetting agent untuk zat yang bersifat
hidrofob . Wetting agent yang berlebihan akan mengakibatkan pembentukan busa dan rasa yang tidak
menyenangkan. Yang lazim digunakan adalah Polysorbate 80, merupakan surfaktan non ionik dan
secara kimia kompatibel dengan eksipien/ZA kationik dan anionik. Konsentrasi yang biasa digunakan
adalah ≤ 0,1%. Zat lain yang lazim digunakan adalah Na lauril sulfat, merupakan surfaktan anionik dan
inkompatibel dengan ZA kationik.

5. Bahan Lain
(Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 248)
a. Dapar

7
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

Dapar digunakan untuk mencapai pH yang optimum dari semua bahan yang ditambahkan. pH
suspensi diatur untuk memastikan bahwa obat tetap berada dalam keadaan tidak larut. Selain itu
juga untuk stabilitas dari bahan pensuspensi dan perhatikan pula efektivitas pengawet.
Dapar yang lazim digunakan adalah dapar sitrat
b. Pengawet
Suspending agent dan pemanis adalah media petumbuhan mikroba yang baik, karena itu
dibutuhkan pengawet. Tetapi pengawet dengan kelarutan rendah pada suhu kamar seperti asam
sorbat dan senyawa paraben tidak boleh digunakan. Pengawet yang umum digunakan adalah
sukrosa (konsentrasi 60% w/w), natrium benzoat, natrium propionat. Natrium benzoat cukup efektif
dalam pH asam dimana molekul tidak mengalami ionisasi.
c. Perasa
Digunakan secukupnya untuk meningkatkan keberterimaan pasien, penting sekali untuk anak-
anak. Harus dilihat peraturan Menkes terutama zat yang boleh digunakan.
d. Pewarna
Pewarna digunakan untuk meningkatkan estetika. Penggunaan pewarna ini harus diperhatikan,
karena dapat terjadi inkompatibilitas dengan zat lain karena faktor muatan ion, misalnya FD&C Red
No.3 yang merupakan garam dinatrium, merupakan senyawa anionik dan inkompatibel dengan
wetting agent kationik.
e. Anti caking
Masalah umum yang terjadi dalam campuran kering adalah aliran yang jelek dan caking,yang
disebabkan oleh aglomerasi serbuk akibat menyerap lembab. Bahan antcaking seperti silika gel
amorf, dapat menarik kelembaban dari campuran kering untuk mempermudah aliran serbuk dan
mencegah caking. Selain itu bahan ini akan memisahkan partikel kering untuk mencegah
penyatuan, juga berfungsi sebagai isolator termal, menghalangi dan mengisolasi kondisi muatan
statis dan secara kimia bersifat inert.

C. Contoh Formula Suspensi Rekonstitusi

(Pharm.Dosage Forms : Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 257-258)

1. Sulfametazin
Suspensi rekonstitusi ini mengandung 250 mg ampisilin tiap 5 ml. Volume sedimentasi setelah 10 hari,
30 ⁰C = 0.95.
Bahan baku Kadar Fungsi
Sulfamethazine 5% Zat aktif
Sukrosa 60 % Solid diluent dan
pemanis

8
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

Na alginat 1,75 % Agen pensuspensi


Na benzoat 0,88 % Pengawet
Asam Sitrat 0,4 % Pengatur pH (5.0)
Na sitrat 0,2 % Pengatur pH (5.0)
Tween 80 0,08 % Pembasah

2. Ampisilin Trihidrat
Suspensi rekonstitusi ini mengandung 250 mg ampisilin tiap 5 ml. Ampisilin dapat membuat pH larutan
menjadi rendah sehingga dapat mengkatalisis terjadinya degradasi. pH sediaan perlu dijaga pada pH
4,85 untuk stabilitas. Volume sedimentasi setelah 10 hari, 30 ⁰C = 0.97.
Bahan baku Kadar Fungsi
Ampisilin trihidrat 5,77 % Zat aktif
Sukrosa 60 % Solid diluent dan pemanis
Na alginat 1,5 % Agen pensuspensi
Na benzoat 0,2 % Pengawer
Tween 80 0,08 % Pembasah
Asam sitrat 0,051 % Pengatur pH (4.85)

3. Eritromisin Stearat
Suspensi rekonstitusi ini mengandung 250 mg eritromisin tiap 5 ml. Umumnya bentuk garam etilsuksinat
lebih sering digunakan daripada garam stearat untuk suspensi rekonstitusi. Dengan pH 7.0-8.0 setelah
direkonstitusi. Volume sedimentasi setelah 10 hari = 0.84.
Bahan baku Kadar Fungsi
Eritromisin stearat 6,94 % Zat aktif
Sukrosa 60 % Solid diluent dan pemanis
Na alginat 1,5 % Agen pensuspensi
Na benzoat 0,2 % Pengawet
Tween 80 0,12 % Pembasah

4. Tetrasiklin Hidroklorida
Suspensi rekonstitusi ini mengandung 250 mg tetrasiklin tiap 5 ml. Volume sedimentasi setelah 10 hari =
0.95.
Bahan baku Kadar Fungsi
Tetrasiklin HCl 5,41 % Zat aktif
Sukrosa 60 % Solid diluent dan pemanis

9
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

Sterculia gum 1% Agen pensuspensi


Na bikarbonat 0,76 % Pengatur pH (5.0)
Na benzoat 0,2 % Pengawet
Tween 80 0,08 % Pembasah

III. PEMBUATAN SEDIAAN SUSPENSI REKONSTITUSI

A. Prosedur Pembuatan Suspensi Rekonstitusi

(Modul praktikum Tek. Sediaan Likuid & Semisolid, 2007, hal 26)
1. Cara tanpa granulasi :
 Botol dicuci, dikeringkan, dan ditara sesuai dengan volume sediaan yang akan dibuat
 Zat aktif dan eksipien yang diperlukan ditimbang dan diayak dengan mesh 30
 Dilakukan pencampuran bahan hingga homogen dengan mixing selama kurang kebih 10 menit
 Dilakukan pengisian botol/kemasan primer sesuai hasil perhitungan
 Dilakukan penandaan, beri etiket, brosur, sendok, dan kemasan sekunder
 Evaluasi sediaan

2. Cara Granulasi :
 Botol ditara sesuai dengan volume yang akan dibuat dan dikeringkan.
 Masing-masing zat ditimbang sejumlah yang dibutuhkan.
 Masing-masing zat dihaluskan (jika perlu).
 Campurkan massa yang akan digranulasi dalam alat pencampur (mixer) sampai homogen (5-
10menit). (ZA dapat dicampur dengan bahan lainnya sebelum dibasahi dengan cairan pengikat
atau ZA dilarutkan/ disuspensikan dalam cairan pengikat)
 Tambahkan larutan pengikat atau pelarut pengikat (bila pengikat sudah dicampurkan dalam
keadaan kering) sedikit demi sedikit, aduk sehingga diperoleh massa yang dapat digranulasi
 Masa granulasi diayak untuk mendapatkan granul lalu dikeringkan di lemari pengering 60-70o C
atau di angin-anginkan di ruangan (ket: PILIH, disesuaikan dengan cairan pengikat yang
digunakan. Kalo air di lemari pengering, kalo alkohol dianginkan)
 Dilakukan penentuan kandungan lembab granul menggunakan alat moisture balance (syarat :
kadar air kurang dari 2%).
 Massa granul ditimbang dan dimasukkan ke dalam botol yang telah ditara.
 Dilakukan penandaan, beri etiket, brosur, sendok dan kemasan sekunder
 Evaluasi sediaan

10
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

3. Cara gabungan
 Tahapan awal sama seperti diatas, dilanjutkan penambahan fines ke dalam massa granul yang
telah dikeringkan, yaitu zat aktif (jika tidak tahan panas), dan atau suspending agent, dan atau
adsorban (bila campuran granul higroskopis), lalu dihomogenkan dengan alat pencampur sekitar
5-10 menit
 Bila diperlukan pembasah untuk zat yang hidrofob, maka ditambahkan bahan pembasah dengan
cara disemprotkan ke dalam masa granul.
 Campuran masa granul dan fines ditimbang dan dimasukkan ke dalam botol yang telah ditara.
 Dilakukan penandaan, beri etiket, brosur, sendok dan kemasan sekunder
 Evaluasi sediaan

B. Perhitungan

Akan dibuat sediaan suspensi kering …… dengan volume a mL per botol. Kekuatan sediaan yang dibuat
adalah m mg/5mL, dengan jumlah X botol, dengan metoda ……..
Jumlah sediaan yang akan dibuat X botol @ a mL.

Untuk keperluan pengujian mutu dibutuhkan tambahan beberapa botol. Dari seluruh uji, terdapat uji yang
membutuhkan 30 botol dan tidak destruktif (volume terpindahkan) sehingga bisa digunakan untuk uji evaluasi
yang lain. Jadi jumlah suspensi kering yang akan dibuat adalah X + 30 = Y botol

Volume tiap botol dilebihkan 3% untuk menjamin ketepatan volume sediaan setelah dituang dari botol.
Persentase penambahan volume mengacu pada FI IV <1261>, hal 1089.
Volume sediaan tiap botol = a ml + (3 % x a ml) = b ml
Total volume sediaan yang akan dibuat : Y botol x b ml/botol = c ml

Untuk mencegah kehilangan selama pembuatan maka total sediaan dilebihkan 10 % , sehingga volume total
yang dibuat = c ml + (10% x c) ml = d ml.
→ bukan merupakan sesuatu yang pasti, hanya panduan umum saja (menurut bu Jessie).Tetapi menurut Bu
Ninet hal tsb tidak perlu. Sebaiknya memang tidak dilebihkan tapi dibulatkan saja.

NB : pembuatan dengan metode tanpa granulasi, tidak perlu dilebihkan 10%


(tapi tetap diserahkan kepada masing-masing orang sesuai interpretasi masing-masing untuk melebihkan
atau tidak)
Jumlah botol final secara teoritis :
Jika melebihkan 10% maka : d ml / b ml/botol = Z botol,
Jika tidak maka cukup Y botol
11
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

C. Penimbangan

Formula yang akan dibuat : Tiap 5 ml mengandung :


R/ zat aktif m mg
Zat tambahan 1 n%
Dll

Penimbangan : (untuk mudahnya, diurutkan berdasarkan formula sediaan)


No. Bahan yang ditimbang Untuk volume 5 ml Untuk volume b ml Untuk volume d ml
m mg x b ml m mg x d ml
1. Zat aktif m mg
5 ml 5 ml
2. Zat tambahan 1 n % x 5 ml n % x b ml n % x d ml
3. Dll

Contoh bila menggunakan metoda semi granulasi,


Formula :
Eritromisin stearat
(setara dengan eritromisin 250 mg) 346,91 mg*)

Sukrosa 20 %
Nipagin 0,18 %
Nipasol 0,02 %
Flavour 0.02 %
PVP 1%
Etanol Qs
Aerosil 0,8 %
CMC Na FSH 0,5 %
Aquadest untuk rekonstitusi Ad 5 ml
*) BM eritromisin stearat = 1018,4
BM eritromisin = 733,9
250 mg eritromisin ~ (1018,4/733,9) x 250 mg = 346,91 mg eritromisin stearat

Misalkan akan dibuat sediaan sirup kering eritromisin stearat dengan kekuatan sediaan yang setara dengan
eritromisin 250 mg/ 5ml, dengan volume per botol 60 ml.
Jumlah yang akan dibuat 45 botol (sudah termasuk jumlah yang diserahkan dan jumlah untuk evaluasi).
Maka :
Volume tiap botol = 60 mL + (60 x 3%) = 61,8 mL
Untuk 45 botol = 45 x 61,8 mL = 2781 mL

12
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

Untuk mencegah kehilangan selama pembuatan maka total sediaan dilebihkan 10 % sehingga volume total
yang dibuat = 2781 ml + (10% x 2781) ml = 3059,1 ml dibulatkan 3060 ml.
Jumlah sediaan yang akan dibuat adalah : 3060 ml / 61,8 ml/botol = 49,51 botol

Penimbangan
Bahan Formula Untuk 5 ml Untuk 3060 ml
Eritromisin stearat 346,91 mg 346,91 mg 212,31 g
Sukrosa 20 % 1g 612 g
Nipagin 0,18 % 0,009 g 5,51 g
Nipasol 0,02 % 0,001 g 0,612 g
Flavour 0.02 % 0,001 g 0,612 g
Etanol Qs Qs Qs
Aquadest untuk rekonstitusi Ad 5 ml Ad 5 ml 3060 ml
Fasa Luar :
CMC Na FSH 0,5 %
Aerosil 0,8 %

Bahan-bahan yang akan digranulasi adalah eritromisin stearat, sukrosa, nipagin, nipasol, flavour. Jadi
jumlahnya:
(212.31+612 + 5,51 + 0,612 + 0,612) g = 831,044g
Maka jumlah PVP yang digunakan :
1% x 831,044 g = 8,31 g
Total massa yang digranulasi : (831,044 g + 8,31 g) = 839,354 g
Misal : Setelah granul dikeringkan, diperoleh bobot granul menjadi 810 g dengan kadar air 1%. Maka :
0,99 × 810 × 49,51
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙 𝑠𝑢𝑠𝑝𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ = = 47,30 𝑏𝑜𝑡𝑜𝑙
839,354

Perhitungan jumlah fines yang ditambahkan :


(bobot CMC Na FSH di ambil dari VOLUME sejumlah botol yang akan dibuat, volume dihitung dari jumlah
botol suspensi yang diperoleh, BUKAN dari jumlah botol teoritis)
CMC Na FSH (0,5%) dari total volume sediaan = 0,5% x (61.8 mL x 47,30 botol) = 14.62 g
Aerosil (0,8%) dari massa granul yang dihasilkan = 0,8 % x 810 g = 6,48 g
Total bobot = granul + fines = 810 g + 14,62 g + 6,48 g = 831,1 g
Bobot sediaan yg dimasukkan pada tiap botol = 831,78 / 47,30 botol = 17,57 g

13
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

D. Catatan Untuk Suspensi Rekonstitusi

Pada etiket serbuk untuk suspensi jadi harus juga tertera : (Fornas ed. 2, Th.1978 hal 333) Pada etiket
suspensi harus tertera “KOCOK DAHULU SEBELUM DIGUNAKAN”

1. Volume cairan pembawa yang diperlukan


2. Sebelum digunakan, dilarutkan dalam cairan pembawa yang tertera pada etiket.
3. Ditambahkan waktu simpan (hari) yang disarankan setelah direkonstitusi dengan pembawa

IV. EVALUASI SEDIAAN SUSPENSI REKONSTITUSI

A. Pengawasan Selama Proses (Evaluasi IPC) Pembuatan Suspensi Rekonstitusi Tanpa Granulasi

ZA + EKSIPIEN
Masing-masing diayak mesh 30 dan di timbang sesuai resep

Cek IPC =
Pencampuran dlm mixer 1. sifat aliran
± 10 menit 2. homogenitas
3. distribusi ukuran
partikel

timbang dan masukkan ke dalam botol sediaan

1. Homogenitas
(Merujuk ke Evaluasi Sediaan Akhir)

2. Distribusi ukuran partikel


(Merujuk ke Evaluasi Sediaan Akhir)

3. Kecepatan aliran
[The theory and practice of Industrial Pharmacy, 3 ed, hal. 317]
Tujuan : menjamin keseragaman pengisian ke dalam wadah yang dapat mempengaruhi variasi isi/bobot
serbuk/granul dalam botol dan dosis.

Prinsip : penetapan jumlah granul yang mengalir melalui alat selama waktu tertentu (metode corong)
Prosedur : sejumlah granul dimasukkan ke dalam corong dengan ukuran tertentu& corong digetarkan.
Baca waktu yg diperlukan untuk mengalirkan seluruh granul keluar dari corong.
Penafsiran hasil : aliran granul baik jika waktu yang diperlukan untuk mengalirkan 4 g granul adalah 1
detik.

14
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

B. Pengawasan Selama Proses Pembuatan Suspensi Rekonstitusi dengan Granulasi

ZA + EXIPIEN Pencampuran dlm mixer


Masing-masing diayak mesh 30 dan
di timbang sesuai perhitungan
± 10 menit

IPC Keringkan dengan 60- Add pengikat lalu


700C atau dianginkan granulasi dengan mesh
10

+ fines
+ pembasah bila perlu Pencampuran dlm mixer massa sediaan
(dengan cara ± 10 menit (granul +fine)
disemprotkan)

IPC =
homogenitas
Distribusi ukuran partikel

1. Penetapan kandungan lembab / kadar air


Tujuan : Mengontrol kandungan lembab granul sehingga dapat mengantisipasi masalah yang terjadi
selama proses pembuatan suspensi.
Prinsip : kelembaban granul diukur dengan pemanasan (gravimetri). alat akan menentukan secara
otomatis persentase massa yang hilang (air, komponen yang mudah menguap) selama pemanasan
pada suhu tertentu (70°C)

Prosedur : sejumlah granul ditimbang lalu dimasukkan dalam alat moisture balance yang akan
memanaskan granul pada suhu 60-70oC. Alat tersebut akan membaca kandungan lembab dari bobot
yang berubah setelah pemanasan.

Penafsiran Hasil : Kadar lembab yang baik <2%

2. Distribusi ukuran partikel


(merujuk ke Evaluasi Sediaan Akhir)

3. Homogenitas
(merujuk ke Evaluasi Sediaan Akhir)

4. Kecepatan aliran
(merujuk ke IPC metode tanpa granulasi)

15
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

C. Evaluasi Sediaan Akhir


a. Evaluasi Fisika

Berdasarkan Pharm Dosage Form, Disperse System vol II 1989, hal 255 dan 303 yang harus dilakukan
adalah :
1. Organoleptik
Tujuan: Memeriksa kesesuaian warna, bau, rasa dan melihat pemisahan fase pada suspensi di
mana sedapat mungkin mendekati dengan spesifikasi sediaan yang telah ditentukan selama
formulasi.
Prinsip: pemeriksaan bau, rasa, warna dan pemisahan fase menggunakan panca indera.
Penafsiran hasil: warna, bau dan rasa memenuhi spesifikasi formulasi yaitu ……. (SESUAIKAN
DENGAN Spec. Sediaan yang dibuat)

2. Penentuan volume sedimentasi


(Teori dan Praktek Farmasi Industri Lachman, 3rded. Hal 1011-1013)
Tujuan : Melihat kestabilan suspensi yang dihasilkan
Prinsip : Perbandingan antara volume akhir (Vu) sedimen dengan volume asal (Vo) sebelum terjadi
pengendapan
Prosedur :
a. Sediaan dimasukkan ke dalam tabung sedimentasi yang berskala.
b. Volume yang diisikan merupakan volume awal (Vo)
c. Setelah beberapa waktu/hari diamati volume akhir dengan terjadinya sedimentasi. Volume
terakhir tersebut diukur (Vu).
d. Hitung volume sedimentasi (F)
e. Buat kurva/grafik antara F (sumbu Y) terhadap waktu (sumbu X)

Vo F= Vu/Vo

Vu

Penafsiran Hasil : Semakin besar nilai Vu atau nilai F=1 atau mendekati 1, semakin baik
suspendibilitasnya dan kurva yang terbentuk antara F terhadap waktu membentuk garis yang
horisontal atau sedikit curam. Bila F>1 terjadi flok sangat longgar sehingga volume akhir lebih
besar dari volume awal. Maka perlu ditambahkan zat tambahan.

16
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

F terbaik

baik

jelek(terjadi caking)

3. Penentuan waktu rekonstitusi


Tujuan : menjamin sediaan mudah direkonstitusikan dengan pengocokan sedang
Prinsip : menentukan waktu yang diperlukan sejak air dimasukkan dalam botol sampai serbuk
terdispersi sempurna
Penafsiran Hasil : waktu rekonstitusi yang baik kurang dari 30 detik

4. Penentuan viskositas dan sifat aliran


[Modul Praktikum Farmasi Fisik 2002, hlm 1-18 ; Modul praktikum Farmasi Fisik 2008, hlm. 10-11]
Tujuan : menentukan viskositas dan rheologi cairan newton maupun non newton
Prinsip : menggunakan viskosimeter Brookfield RV pada beberapa harga kecepatan geser untuk
mengukur viskositas dan sifat aliran dari sediaan. Sifat aliran diketahui dengan memplot kurva ppm
terhadap usaha yg digunakan untuk memutar spindel.
Prosedur :
a. Penyiapan sampel
Sampel yang akan diukur ditempatkan pada gelas piala dengan permukaan rata (sedapat
mungkin penuh) dan tidak boleh ada gelembung udara didalamnya
b. Orientasi spindel
Jenis spindel : TA, TB, TC, TD, TE, TF (diurut dari yang besar sampai yang kecil). Semakin
kental sampel yang akan diuji, gunakan spindel yang semakin kecil. Salah satu spindel dipilih,
dicoba pada 4 kecepatan (rpm) yaitu 0.5 ; 1; 2.5; dan 5 RPM. Jika masing-masing RPM
memberikan harga diantara 30-80 maka spindel dapat digunakan, jika diluar rentang harga
tersebut maka spindel diganti dengan yang lain
c. Pengukuran
 Dilakukan pada suhu kamar
 Pembacaan skala dilakukan pada rentang waktu tertentu misalnya 2 menit. Setiap formula
dapat dilakukan 2-3 x pengukuran. Pembacaan dilakukan dengan menyatakan jenis
spindel dan kecepatan putarnya
d. Cara kerja :
 Suspensi dikocok lalu dimasukkan ke dalam beker gelas sebanyak + 400-500 ml.

17
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

 Spindel dipasang pada gantungan spindel.


 Spindel diturunkan sedemikian rupa sehingga batas spindel tercelup ke dalam cairan
yang akan diukur viskositasnya.
 Stop kontak dipasang.
 Motor dinyalakan sambil menekan tombol.
 Spindel dibiarkan berputar dan dilihat jarum merah pada skala.
 Dibaca angka yang ditunjukkan oleh jarum tersebut. Untuk menghitung viskositas, maka
angka pembacaan tersebut dikalikan dengan suatu faktor yang dapat dilihat pada tabel
yang terdapat pada brosur alat.
 Dengan mengubah-ubah RPM, maka didapat viskositas pada berbagai RPM.
 Untuk mengetahui sifat aliran, dibuat kurva antara RPM dan usaha yang dibutuhkan
untuk memutar spindel. Usaha dapat dihitung dengan mengalikan angka yang terbaca
pada skala dengan 7,187 dyne cm (untuk viskometer Brookfield tipe RV)

Penafsiran hasil : Dibuat kurva antara kecepatan geser (rpm) dan usaha (dyne cm) yang
dibutuhkan untuk memutar spindel.Usaha dihitung dengan mengalikan angka yang terbaca pada
skala dengan 7,187 dyne cm

5. Penentuan homogenitas
(Goeswin Agoes, teknologi farmasi liquida dan semisolid, 127)
Tujuan : Menjamin distribusi bahan aktif yang homogen
Prinsip : Homogenitas dapat ditentukan berdasarkan jumlah partikel maupun distribusi ukuran
partikelnya dengan pengambilan sampel pada berbagai tempat (ditentukan menggunakan mikroskop
untuk hasil yang lebih akurat).
Jika sulit dilakukan atau membutuhkan waktu yang lama, homogenitas dapat ditentukan secara visual,
prosedurnya adalah sebagai berikut :
- Sampel diambil pada bagian atas, tengah, atau bawah setelah suspensi dikocok terlebih dahulu.
- Sampel diteteskan pada kaca objek kemudian diratakan dengan kaca objek lain sehingga terbentuk
lapisan tipis.
- Susunan partikel yang terbentuk atau ketidakhomogenan diamati secara visual.
Penafsiran hasil : suspensi yang homogen akan memperlihatkan jumlah atau distribusi ukuran partikel
yang relatif hampir sama pada berbagai tempat pengambilan sampel.

18
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

6. Penentuan pH

(FI IV <1071 >, hal 1039)

Tujuan : mengetahui pH sediaan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan


Prinsip : pengukuran pH cairan uji menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi
Penafsiran hasil : pH sesuai dengan spesifikasi formulasi sediaan yaitu ...... (Sesuaikan!!)

7. Distribusi ukuran partikel zat yang terdispersi


(Martin ’Physical Pharmacy’ hal 430-431, Pharmaceutical Dosage Form, Dispersed system, vol. 1 (hlm.
20), vol2 (hlm. 220))
Tujuan : menentukan distribusi ukuran partikel
Prinsip: Menghitung frekuensi ukuran partikel dengan menggunakan mikroskop dan membuat plot
antara frekuensi ukuran terhadap range ukuran partikel
Prosedur :
- suspensi (yang sebelumnya diencerkan ataupun tidak) diteteskan pada slide (semacam objek glass).
Kemudian besarnya akomodasi mikroskop diatur sehingga partikel terlihat dengan jelas.
- Frekuensi ukuran yang diperoleh diplot terhadap range ukuran partikel sehingga diperoleh kurva
distribusi ukuran partikel.
- Jumlah partikel yang harus dihitung untuk memperoleh data yang baik adalah antara 300-500
partikel. Yang penting jumlah partikel yang ditentukan harus cukup sehingga diperoleh data yang
representatif. British standard bahkan menetapkan pengukuran terhadap 625 partikel.
- Jika distribusi ukuran partikel luas, dianjurkan untuk menentukan ukuran partikel dengan jumlah yang
lebih besar lagi. Sedangkan, jika distribusi ukuran partikel sempit, 200 partikel sudah mencukupi.
- Untuk memudahkan pengerjaan dan perhitungan akan lebih baik bila dilakukan pemotretan. Metode
ini membutuhkan ketelitian, konsentrasi dan waktu yang cukup lama. Jika partikel yang ada dalam
larutan lebih dari satu macam, sebaiknya tidak digunakan metode ini.
Penafsiran hasil : Distribusi ukuran yang baik adalah yang menghasilkan kurva distribusi normal

Ket: F = frekuensi, Z = ukuran partikel

19
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

8. Penentuan redispersibilitas
(Teori dan Praktek Farmasi Industri Lachman, 3rded. Hal 1011-1013; Lieberman, Disperse system vol 2
hal 304)

Tujuan : Untuk menentukan kemampuan partikel untuk di disperse ulang setelah membentuk suatu
masa caking akibat masa partikel yang ter deflokulasi
Prinsip : mengocok sediaan dalam wadah atau dengan pengocok mekanik (pengocokan mekanik
hasilnya lebih reprodusibel). Suspensi yang sudah terdapat sedimen ditempatkan dalam tabung 100 mL,
pengocokan diputar 360o dengan kecepatan 20 rpm, titik akhir pengocokan jika pada dasar tabung
sudah tidak terdapat endapan.
Penafsiran hasil : Kemampuan redispersi baik bila suspensi telah terdispersi sempurna dengan
pengocokan tangan maksimum 30 detik.

9. Berat jenis sediaan


(FI IV <981 >, hal 1030)
Tujuan : Menjamin sediaan memiliki bobot jenis untuk spesifikasi produk yang akan dibuat
Prinsip: Membandingkan bobot zat uji di udara terhadap bobot air dengan volume dan suhu yang sama
Prosedur dan Penafsiran Hasil :
1. Piknometer bersih dan kering yg telah dikalibrasi ditimbang bobotnya sebagai W0
2. Piknometer yg telah diisi air pd suhu 25C ditimbang bobotnya sebagai W1
3. Piknometer yg telah diisi larutan uji/sediaan pada suhu 25C ditimbang bobotnya sebagai W2
4. Bobot jenis larutan uji/sediaan dapat dihitung dg rumus :
dt = w3 – w1
w2 – w1
Keterangan : dt = bobot jenis pada suhu t
w1 = bobot piknometer kosong
w2 = bobot piknometer + air suling
w3 = bobot piknometer + cairan(Panduan Praktikum DSSO, hal.10)

10. Penentuan volume terpindahkan


(FI IV <1261 > hal 1089)
Tujuan: Sebagai jaminan bahwa larutan oral yang dikemas dalam wadah dosis ganda, dengan volume
yang tertera di etiket tidak lebih dari 250 ml, jika dipindahkan dari wadah asli akan memberikan volume
sediaan seperti tertera di etiket.
Prinsip : mengukur kesesuaian volume sediaan dengan yang tertulis pada etiket jika dipindahkan dari
wadah asli
Prosedur :

20
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

- Dipilih tidak kurang dari 30 wadah/botol


- Perlakuan awal : 10 botol dipilih dan dikocok satu per satu
- Isi botol dituang perlahan untuk menghindari pembentukan gelembung udara ke dalam gelas ukur
berkapasitas tidak lebih dari 2,5 kali volume yg diukur dan telah dikalibrasi.
- Didiamkan selama  30 menit, jika telah bebas gelembung udara, volume dapat diukur

Penafsiran hasil:
 Volume rata-rata campuran larutan atau sirup yang diperoleh dari 10 wadah tidak kurang dari 100%, dan
 Tidak satupun volume wadah kurang dari 95% dari volume pada etiket.
 Jika A adalah volume rata-rata kurang dari 100% dari yang tertera pada etiket akan tetapi tidak satu
wadah pun volumenya kurang dari 95% atau B adalah tidak lebih dari 1 wadah, volume kurang dari 95%
tetapi tidak kurang dari 90% volume tertera pada etiket  dilakukan uji tambahan terhadap 20 wadah
tambahan.
Persyaratan: Volume rata-rata larutan atau sirup yang diperoleh dari 30 wadah tidak kurang dari 100%
dari yang tertera di etiket, dan tidak lebih dari 1 dari 30 wadah volume kurang dari 95% tetapi tidak
kurang dari 90% dari yang tertera di etiket

b. Evalusi Kimia
1. Penetapan kadar (dalam monografi zat aktif masing-masing)
2. Identifikasi (dalam monografi zat aktif masing-masing)

c. Evaluasi Biologi

1. Penetapan potensi antibiotika


(Suplemen FI IV <131>, hal 1519-1527)
Tujuan : untuk memastikan aktivitas antibiotik tidak berubah selama proses pembuatan dan
menunjukkan daya hambat antibiotik terhadap mikroba.
Prinsip : Pengukuran hambatan pertumbuhan biakan mikroba oleh antibiotik dalam sediaan yang
ditambahkan ke dalam media padat atau cair yang mengandung biakan mikroba berdasarkan
metode lempeng atau metode turbidimetri.
Penafsiran hasil :
Potensi antibiotik ditentukan dengan menggunakan metode garis lurus transformasi log dengan
prosedur penyesuaian kuadrat terkecil dan uji linieritas (FI IV,hal 899). Harga KHM yang makin
rendah, makin kuat potensinya. Pada Umumnya antibiotik yang berpotensi tinggi mempunyai KHM
yang rendah dan diameter hambat yang besar

21
TEORI SEDIAAN APOTEKER AGUSTUS 2013-2014 SUSPENSI REKONS

2. Pengujian efektivitas pengawet antimikroba


(FI IV <61>, hal 854-855)
Tujuan: Menunjukkan efektifitas pengawet antimikroba yang ditambahkan pada sediaan dosis
ganda yang dibuat dengan dasar atau bahan pembawa berair seperti produk parenteral, telinga,
hidung, dan mata yang dicantumkan pada etiket produk yang bersangkutan.
Prinsip: Pengurangan jumlah mikroba yang dimasukkan ke dalam sediaan yang mengandung
pengawet dalam selang waktu tertentu dapat digunakan sebagai parameter efektifitas pengawet
dalam sediaan. Inokulasi mikroba pada sediaan dengan cara menginkubasi tabung bakteri biologik
(Candida Albicans, Aspergillus Niger, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa dan
Staphylococcus aureus) yang berisi sampel dari inokula pada suhu 20-25C dalam media
Soybean-Casein Digest Agar.
Prosedur : Inokulasi menggunakan jarum suntik melalui sumbat karet secara aseptik ke dalam 5
wadah asli sediaan. Jika wadah tidak dapat ditembus secara aseptik maka dipindahkan 20ml
sampel masing2 ke dalam 5 tabung bakteriologik bertutup steril lalu diinokulasi menggunakan
perbandingan 0,10 ml inokula setara dg 20 ml sediaan lalu dicampur, kemudian diinkubasi pd suhu
20˚C atau 25˚C lalu amati.
Syarat/penafsiran hasil:
Suatu pengawet dinyatakan efektif di dalam contoh yang diuji, jika:
a. Jumlah bakteri viabel pada hari ke-14 berkurang hingga tidak lebih dari 0,1% dari jumlah awal.
b. Jumlah kapang dan khamir viabel selama 14 hari pertama adalah tetap atau kurang dari jumlah
awal.
c. Jumlah tiap mikroba uji selama hari tersisa dari 28 hari pengujian adalah tetap atau kurang dari
bilangan yang disebut pada a dan b.

22