Anda di halaman 1dari 33

TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

SUPPOSITORIA
(checked by Yasinda, recheck andy)

I. DEFINISI
Suppositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal,
vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh. (FI IV, hal 16)

British Pharmacopeia menjelaskan supositoria adalah sediaan solid single dose. Bentuk, volume, dan
konsistensi supositoria cocok untuk penghantaran obat melalui rektal. Supositoria mengandung satu atau
lebih zat aktif yang terdispersi atau terlarut dalam basis yang cocok, yang dapat larut atau dapat terdispesi
dalam air atau meleleh pada suhu tubuh. Eksipien seperti diluent, adsorben, surfaktan, lubrikan,
antimikroba atau bahan pewarna yang diperbolehkan oleh badan yang berwenang, dapat ditambahkan jika
dibutuhkan (Pharmaceutical Compounding and Dispensing, 2008, hal.135)

II. TEORI SEDIAAN


Suppositoria dapat bertindak sebagai pelindung jaringan setempat, sebagai pembawa zat terapetik yang
bersifat lokal atau sistemik. Bahan dasar suppositoria yang umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin
tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilen glikol berbagai bobot molekul, dan ester
asam lemak polietilen glikol.

Bahan dasar suppositoria yang digunakan sangat berpengaruh pada pelepasan zat aktif. Lemak coklat
cepat meleleh pada suhu tubuh dan tidak tercampurkan dengan cairan tubuh, oleh karena itu menghambat
difusi obat yang larut dalam lemak pada tempat diobati. Polietilen glikol adalah bahan dasar yang sesuai
untuk beberapa antiseptik. Jika diharapkan bekerja secara sistemik, lebih baik menggunakan bentuk ionik
dari pada nonionik, agar diperoleh ketersediaan hayati yang maksimum. Meskipun obat bentuk nonionik
dapat dilepas dari bahan dasar yang dapat bercampur dengan air, seperti gelatin tergliserinasi dan
polietilen glikol, bahan dasar ini cenderung sangat lambat larut sehingga menghambat pelepasan. Bahan
pembawa berminyak seperti lemak coklat jarang digunakan dalam sediaan vagina, karena membentuk
residu yang tidak dapat diserap, Sedangkan gelatin tergliserinasi jarang digunakan melalui rektal karena
disolusinya lambat. Lemak coklat dan penggantinya (lemak keras) lebih baik untuk menghilangkan iritasi,
seperti pada sediaan untuk hemoroid internal. (FI ed.IV hal 16)

Ovula adalah sediaan padat yang dimasukkan ke dalam vagina untuk pengobatan lokal dan harus hancur
dalam sedikit cairan. Dalam pembuatan ovula, banyak digunakan basis kombinasi PEG dengan berbagai
berat molekul. Pada basis ini sering juga ditambahkan surfaktan dan bahan pengawet seperti turunan
paraben. Umumnya pH ovula diatur sampai pH asam (sekitar 4,5) agar sesuai dengan pH vagina.
Keasaman ini akan mengurangi pertumbuhan mikroorganisme patogen (Modul Praktikum Teknologi
Solid, hal 41).Ovula umumnya berbentuk bulat telur dan pada kemasannya dapat disertai alat bantu untuk
memasukkan ovula ke dalam vagina jika ditujukan untuk penggunaan pada bagian dalam vagina. Berat
ovula kira-kira 3-5 gram (Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rd ed., hal 564.)

Tablet vagina atau tablet insert ini tidak memiliki basis lemak atau wax (lilin) dan tidak meleleh pada
pemanasan. Absorbsi sediaan vaginal terjadi secara pasif melalui mukosa. Proses absorbsi dipengaruhi
oleh fisiologi, pH, dan kelarutan dan konstanta partisi obat. Permukaan vagina dilapisi oleh lapisan air
(aqueous film) yang volume, pH dan komposisinya dipengaruhi oleh umur, siklus menstruasi, dan
lokasi. pH vagina meningkat secara gradien yaitu pH 4 untuk anterior formix dan pH 5 di dekat cervix.
Pada umumnya ovula digunakan untuk efek lokal. Tapi beberapa penelitian menunjukkan ada beberapa
obat yang dapat berdifusi melalui mukosa dan masuk dalam peredaran darah. Sebagai contoh, kadar
propanolol dalam plasma untuk sediaan ovula lebih besar dibandingkan dengan rute oral pada dosis yang

1
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

sama (Husa’s, Pharmaceutical Dispensing 5th, hal. 117 --> belum di cek, ebooknya berbayar, gak ada
google preview di google book)

Suppositoria uretra disebut juga bougies, berbentuk pensil. Bobot untuk pria sekitar 4 g dengan panjang
100-150 mm, sedangkan bobot untuk wanita 2 g dengan panjang 60-75 mm (Lachman, Theory and
Practice of Industrial Pharmacy 3rd ed., hal 564)

Macam-macam Suppositoria dari FI IV:


a. Suppositoria Lemak Coklat
Suppositoria dengan bahan dasar lemak coklat dapat dibuat dengan mencampur bahan obat yang
dihaluskan ke dalam minyak padat pada suhu kamar dan massa yang dihasilkan dibuat dalam bentuk
sesuai, atau dibuat dengan minyak dalam keadaan lebur dan membiarkan suspensi yang dihasilkan
menjadi dingin di dalam cetakan. Sejumlah zat pengeras yang sesuai dapat ditambahkan untuk
mencegah kecenderungan beberapa obat, (seperti kloralhidrat dan fenol) melunakkan bahan dasar.
Yang penting, suppositoria meleleh pada suhu tubuh.

Suppositoria dengan bahan lemak coklat harus disimpan dalam wadah tertutup baik, sebaiknya pada
suhu dibawah 30o (suhu kamar terkendali).
Perkiraan bobot suppositoria yang dibuat dengan lemak coklat, dijelaskan dibawah ini. Suppositoria
yang dibuat dari bahan dasar lain, bobotnya lebih berat dari pada bobot yang disebutkan dibawah ini.
Suppositoria rektal. Suppositoria rektal untuk dewasa berbentuk lonjong pada satu atau kedua
ujungnya dan biasanya berbobot lebih kurang 2 g.
Suppositoria vaginal. Umumnya berbentuk bulat atau bulat telur dan berbobot lebih kurang 5 g,
dibuat dari zat pembawa yang larut dalam air atau yang dapat bercampur dalam air, seperti polietilen
glikol atau gelatin tergliserinasi.
b. Pengganti Lemak Coklat
Suppositoria dengan bahan dasar jenis lemak, dapat dibuat dari berbagai minyak nabati, seperti
minyak kelapa atau minyak kelapa sawit yang dimodifikasi dengan esterifikasi, hidrogenasi, dan
fraksionasi hingga diperoleh berbagai komposisi dan suhu lebur (misalnya minyak nabati
terhidrogenasi dan lemak padat). Produk ini dapat dirancang sedemikian hingga dapat mengurangi
terjadinya ketengikan. Selain itu sifat yang diinginkan seperti interval yang sempit antara suhu
melebur dan suhu memadat dan jarak lebur juga dapat dirancang untuk penyesuaian berbagai
formulasi dan keadaan iklim.
c. Suppositoria Gelatin Tergliserinasi
Bahan obat dapat dicampur ke dalam bahan dasar gelatin tergliserinasi, dengan menambahkan
sejumlah tertentu kepada bahan pembawa yang terdiri dari lebih kurang 70 bagian gliserin, 20 bagian
gelatin dan 10 bagian air. Suppositoria ini harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, sebaiknya
pada suhu dibawah 35o.
d. Suppositoria dengan Bahan Dasar Polietilen Glikol
Beberapa kombinasi polietilen glikol mempunyai suhu lebur lebih tinggi dari suhu badan ketika
digunakan sebagai bahan dasar suppositoria. Karena pelepasan dari bahan dasar lebih ditentukan oleh
disolusi daripada pelelehan, maka masalah dalam pembuatan dan penyimpanan jauh lebih sedikit
dibanding masalah yang disebabkan oleh jenis pembawa yang melebur. Tetapi polietilen glikol
dengan kadar tinggi dapat memperpanjang waktu disolusi sehingga menghambat pelepasan.
Pada etiket suppositoria polietilen glikol harus tertera petunjuk “basahi dengan air sebelum
digunakan”, meskipun dapat disimpan tanpa pendinginan, suppositoria ini harus dikemas dalam
wadah tertutup rapat.

2
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

e. Suppositoria dengan Bahan Dasar Surfaktan


Beberapa surfaktan nonionik dengan sifat kimia mendekati polietilen glikol dapat digunakan sebagai
bahan pembawa suppositoria. Contoh surfaktan ini adalah ester asam lemak polioksietilen sorbitan
dan polioksietilen stearat. Surfaktan ini dapat digunakan dalam bentuk tunggal atau kombinasi
dengan pembawa suppositoria lain untuk memperoleh rentang suhu lebur yang lebar dan
konsistensi yang sesuai. Salah satu keuntungan utama pembawa ini adalah dapat terdispersi dalam
air. Tetapi harus hati-hati dalam penggunaan surfaktan karena dapat meningkatkan kecepatan
absorbsi obat atau dapat berinteraksi dengan molekul obat yang menyebabkan penurunan aktivitas
terapetik.
f. Suppositoria Kempa atau Suppositoria Sisipan Suppositoria vaginal dapat dibuat dengan cara
mengempa massa serbuk menjadi bentuk yang sesuai. Dapat juga dengan cara pengkapsulan dalam
gelatin lunak.
(FI IV hal 16-17)
A. TUJUAN PENGGUNAAN
Efek obat bergantung pada sifat obat, konsentrasi obat, dan laju absorbsinya.
1. Efek Lokal
Suppositoria rektal secara utama digunakan untuk pengobatan konstipasi dan hemorrhoid
(wasir) dan cacingan (slide bu heni). Namun, penggunaan suppositoria rektal, vagina, dan uretra
secara lokal ialah sebagai berikut:
Emolient
Astringen
Antibiotik
Hormon
Steroid
Anestetik lokal
Laksatif (rektal)
Analgesik
2. Efek Sistemik
Analgesik, antipiretik
Antispasmodik
Sedatif dan hipnotik
Tranquilizer (penenang)
Antibiotik
Suppositoria rektal juga digunakan secara sistemik dalam kondisi tidak memungkinkan untuk
administrasi oral, seperti selama mual dan muntah atau pada paralytic ileus.
(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rd ed., hal 565)

Tujuan penggunaan (ovula):


Biasanya digunakan untuk lokal dengan efek sebagai antiseptik, kontrasepsi, anastetik lokal, dan
pengobatan penyakit infeksi seperti trichomonal, bakteri dan monilial. (Husa’s, Pharmaceutical
Dispensing 5th, hal. 117 --> belum di cek, ebooknya berbayar, gak ada google preview di google
book)

B. KEKURANGAN DAN KELEBIHAN SUPPOSITORIA


Kelebihan Suppositoria
 Dapat digunakan untuk pasien yang tidak bisa diberikan melalui rute oral karena gangguan
saluran cerna seperti mual dan post operasi, pasien dalam keadaan tidak sadar, atau pada saat
3
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

pembedahan, untuk pasien bayi dan anak-anak (sulit menelan, penolakan atau ketakutan
injeksi), lansia, dan gangguan mental

Zat aktif tidak sesuai melalui rute oral, misal karena efek samping pada saluran cerna, tidak stabil
pada pH saluran cerna, terurai secara enzimatik di saluran cerna, memiliki rasa dan bau yang
kurang menyenangkan, atau mengalami First Pass Effect (FPE) sehingga kadar obat dalam darah
lebih tinggi terutama untuk obat-obat yang mengalami first pass metabolism secara intensif
setelah pemberian oral
 Sesuai untuk obat dosis besar dimana untuk pemberian oral sering menyulitkan (kemampuan
menelan)

Kekurangan Suppositoria
 Daerah absorbsinya lebih kecil, variasi intra dan inter-subject besar, misalnya pada kondisi diare
atau gangguan saluran cerna lain dapat mengganggu penghantaran obat (Josef Tukker, Rectal
and vaginal drug delivery)
 Laju dan lamanya absorpsi obat dipengaruhi oleh isi rektum (ada tidaknya feses)
 Meningkatkan efek samping lokal sepert proctitis (Josef Tukker, Rectal and vaginal drug
delivery)
 Produksi skala besar di Industri cukup sulit dan sulit mencapai shelf-life yang diinginkan (kondisi
penyimpanan supositoria harus dijaga) (Josef Tukker, Rectal and vaginal drug delivery)
 Absorbsi hanya melalui difusi pasif
 Pemakaian kurang praktis (perlu arahan spesialis/ahli untuk petunjuk penggunaannya)
 Tidak dapat digunakan untuk zat-zat yang rusak oleh pH di rektum (materi kuliah)

C. KARAKTERISTIK DOSIS
Pada umumnya, untuk pemberian rektal dosis yang diberikan adalah 1,5-2 kali atau lebih dari dosis
oral, kecuali untuk obat yang sangat poten. Koreksi dosis tergantung pada kecepatan pelepasan obat
dari suppo. Oleh karena itu, basis suppo dan jumlah obat harus ditentukan secara bersamaan karena
pembawa dapat mengubah kecepatan absorbsi obat, maka jumlah obat dalam sediaan suppo bergantung
pada pembawa dan bentuk fisik dan kimia dari obat. Bobot suppo rektal untuk orang dewasa sekitar
2 gramdan biasanya menyerupai bentuk torpedo, sedangkan untuk anak-anak sekitar 1 gram. Ovula
memiliki berat 3-5 g.
(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rded ,hal 564).

D. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ABSORBSI REKTAL


PEMBERIAN PER REKTAL
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINETIKA PRE DISPOSISI ZA
 Penghancuran Sediaan
 Suhu rektum kurang lebih 37 oC, suppo melebur 32,6-37,6 oC (optimum: 36,5 oC).
 Jarak lebur maksimal 10 menit.
 Setelah peleburan, suppo akan menjadi massa kental yang melapisi permukaan mukosa, hal
yang berpengaruh pada massa tsb antara lain : konsistensi (massa yg lebih lunak--pelepasan
lebih cepat), kekentalan setelah peleburan (kekentalan meningkat--laju pelepasan ZA
menurun), dan kemampuan pecah (zat pembawa kental--memperlambat pelepasan, untuk
meningkatkan pelepasan suppo lemak dapat ditambah surfaktan HLB 4-9).
 Transfer ZA dalam cairan rektum
 Sifat ZA dalam suppo (ZA teremulsi tidak memberikan efek ke pelepasan karena ZA terlarut
dalam air yg teremulsi dalam fase lemak, ZA yg lipofil menggunakan basis hidrofil)
4
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

 kelarutan ZA
 koefisien partisi dalam fase lemak dan cairan rektum
 ukuran partikel ZA ( partikel kecil--kekentalan meningkat---transfer ZA menurun)

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINETIKA PENYERAPAN ZA YG AKAN DIBERIKAN PER


REKTUM
 kedudukan suppo setelah pemakaian (akan mempengaruhi kedudukannya terhadap pembuluh
darah vena hemoroid sehingga mempengaruhi ada tidaknya metabolisme di hati)
 waktu tinggal suppo dalam rektum (ada tidaknya penolakan dari pasien mempengaruhi jumlah yg
diserap)
 pH cairan rektum (penyerapan terjadi dalam mekanisme transpor pasif yang tergantung pada
koefisien partisi, pKa ZA, dan pH cairan rektum)
 konsentrasi ZA dalam cairan rektum (semakin tinggi konsentrasi ZA-laju penyerapan ZA
menurun).

FAKTOR PATOLOGIS YANG MEMPENGARUHI PENYERAPAN MELALUI REKTUM


 pasien demam---penyerapan lebih baik bila ZA dalam basis lemak
 pasien gangguan transisi saluran cerna dan diare, penderita wasir--tidak boleh pengobatan
sistemik rektum. Untuk penderita wasir, salep untuk pengobatan lokal lebih dipilih.
 harus diberikan setelah rektum dibersihkan
 lebih disukai pada subjek berpuasa.
(Farmasetika 2 Biofarmasi, hal 415-420 --> gak punya ebook dan bukunya. Hati-hati, kalau mau
ngutip dari sini )

Dosis obat yang digunakan melalui rektum mungkin lebih besar atau lebih kecil daripada obat yang
dipakai secara oral, tergantung kepada faktor-faktor seperti keadaan tubuh pasien, sifat fisika kimia
obat, dan kemampuan obat melewati penghalang fisiologi untuk absorbsi dan sifat basis suppositoria
serta kemampuannya melepaskan obat supaya siap untuk diabsorbsi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi absorbsi obat dalam rektum pada pemberian obat dalam bentuk suppositoria yaitu :

i) Faktor fisiologis
Faktor fisiologi yang mempengaruhi absorbsi obat antara lain isi (kandungan) usus besar, rute
sirkulasi darah dan sistem limfatik, pH dan kurangya kapasitas dapar cairan rektal, kondisi
patologi lain sepertidiare, obstruksi kolon karena pertumbuhan tumor, dan dehidrasi jaringan
(Ansel, Pharmaceutical Dosage Forms and Drug Delivery Systems, 9th ed., hlm 314).

Cairan rektal memiliki kapasitas dapar yang rendah, sehingga pH cairan rektal sangat dipengaruhi
pH zat aktif yang melarut. Bila diatur pH kritis untuk memperoleh efisiensi absorbsi yang
optimal, maka dibutuhkan penambahan dapar ke dalam formula. Selaput lendir bisa menghambat
absorbsi terutama bila selaput lendir tersebut kental dan tebal. Penempatan suppositoria di dalam
rektum, bila terlalu dalam akan menuju vena hemoroidal atas.

Makin banyak pembuluh darah di sekitar suppositoria maka absorbsi obat akan semakin cepat.
Tetapi luas permukaan absorpsi terbatas di daerah kolon dan tidak ada perbedaan luas permukaan
yang mencolok di daerah kolon, baik di pinggir, di tengah maupun di dalam daerah kolon.
Setelah obat diabsorbsi dari usus halus, obat dialirkan melalui vena porta hepatika ke hati. Hati
memetabolisme obat tersebut dan memodifikasinya sehingga mengurangi efek obat. Absorbsi
melalui vena hemoroidal bawah yang mengelilingi kolon dan rektum akan langsung memasuki
5
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

vena cava inferior dan tidak melewati hati, sedangkan vena hemoroidal atas tersambung ke vena
porta yang berujung ke hati. Obat yang diadministrasikan secara rektal akan diabsorpsi lebih dari
setengahnya (50-70%) secara langsung ke peredaran darah. Sirkulasi limfatik juga membantu
dalam mengalihkan obat yg telah diabsorpsi dari hati. Rektal tidak mempunyai daya kapasitas
dapar. Menurut Schanker, asam dan basa lemah lebih cepat diabsorbsi daripada asam/basa kuat
dan yang terionisasi kuat lainnya. Sebelum diabsorpsi, obat mengalami difusi di mukosa rektal
tempat absorpsi terjadi. Difusi ini dipengaruhi oleh sifat obat, adanya surfaktan atau kelarutan
dalam air atau minyak dari obat, jumlah dan sifat kimia dari cairan, serta adanya bahan padat (ada
tidaknya feses dalam rektum). Kondisi membran anorektal yg diselimuti dengan mukus (lendir)
juga dapat menghambat absorpsi.

Keterangan : yang warna merah, itu gak tau ngutip dari mana. yang ada di Lachman yang warna
hitam.

ii) Karakteristik fisikokimia obat


Faktor fisikokimia obat yang mempengaruhi absorbsi obat antara lain koefisien partisi zat aktif
dalam lemak dan air, ukuran partikel zat aktif yang terdispersi, kemampuan basis meleleh,
melunak atau terlarut pada suhu tubuh, kemampuan basis melepaskan senyawa aktif dan
karakteristik hidrofilik dan hidrofobik basis (Ansel, Pharmaceutical Dosage Forms and Drug
Delivery Systems, 9th ed., hlm 315).

Koefisien partisi lemak-air dari zat aktif berpengaruh pada kecepatan absorpsi obat. Obat larut air
dan garam tidak larut dalam minyak lebih dipilih dalam basis larut lemak. Untuk basis larut air,
garam larut air merupakan salah satu pilihan supaya absorpsi lebih cepat karena obat akan
dilepaskan bersama dengan melarutnya pembawa. Kecepatan absorpsi dipengaruhi oleh partisi
obat yg terlarut dari basis yg meleleh. Faktor2 yg mempengaruhi pelepasan obat dari suppo yaitu
kecepatan obat berdifusi ke permukaan suppo, ukuran partikel dari obat yg tersuspensi, dan
adanya surfaktan. Konsentrasi juga menentukan kecepatan pelepasan obat dari basis suppo.
Setelah obat dilepaskan, obat yg larut lemak dan terdisosiasi lebih cepat diabsorpsi.

Derajat ionisasi juga menentukan kecepatan absorpsi. Obat yg terionisasi tidak mudah diabsorpsi,
sehingga penggunaan larutan dapar atau garam dapat meningkatkan absorpsi dengan cara
mengubah pH daerah anorektal sehingga konsentrasi obat yg tidak terionisasi meningkat.

iii) Karakteristik fisikokimia basis dan adjuvant (zat tambahan khusus)


Misalnya surfaktan, dapat mengubah tegangan permukaan selaput mukosa pada rektal sehingga
absorbsi zat berkhasiat menjadi lebih baik. Surfaktan dapat memperbesar kelarutan suatu zat
berkhasiat sehingga diabsorbsi lebih cepat, tapi juga dapat membentuk suatu kompleks senyawa
baru yang lambat diabsorbsi.
Penambahan zat yang dapat menurunkan kisaran leleh dapat mempercepat absorpsi. Adjuvant
dalam formula dapat mempengaruhi absorpsi melalui perubahan sifat reologi basis dalam suhu
tubuh atau mempengaruhi kelarutan obat dalam bentuk sediaan.
(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rd ed,hal 565-568)

III. FORMULASI SUPPOSITORIA


A. METODE PEMBUATAN(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rded, 580)
Keterangan : yang warna merah, itu gak tau ngutip dari mana. yang ada di Lachman yang warna item

Suppo dapat dibuat dengan beberapa metode yaitu pencetakan dengan tangan, pencetakan kompresi, dan
6
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

pencetakan dengan penuangan dan kompresi dengan mesin pencetak otomatis


PENCETAKAN DENGAN TANGAN (MANUAL)
Pencetakan dengan tangan (manual) merupakan metode paling sederhana, praktis dan ekonomis
untuk memproduksi sejumlah kecil suppositoria. Caranya dengan menggerus bahan pembawa / basis
sedikit demi sedikit dengan zat aktif, di dalam mortir hingga homogen. Kemudian massa
suppositoria yang mengandung zat aktif digulung menjadi bentuk silinder lalu dipotong-potong
sesuai diameter dan panjangnya. Zat aktif dicampurkan dalam bentuk serbuk halus atau dilarutkan
dalam air. Untuk mencegah melekatnya bahan pembawa pada tangan, dapat digunakan talk.

1. PENCETAKAN DENGAN KOMPRESI / CETAK KEMPA / COLD COMPRESSION


Pada pencetakan dengan kompresi, suppositoria dibuat dengan mencetak massa yang dingin ke
dalam cetakan dengan bentuk yang diinginkan. Alat kompresi ini terdapat dalam berbagai kapasitas
yaitu 1,2 dan 5 g. Dengan metode kompresi, dihasilkan suppositoria yang lebih baik dibandingkan
cara pertama, karena metode ini dapat mencegah sedimentasi padatan yang larut dalam bahan
pembawa suppositoria. Umumnya metode ini digunakan dalam skala besar produksi dan digunakan
untuk membuat suppositoria dengan pembawa lemak coklat / oleum cacao *bener sih, cuman gak
ada kutipan seperti itu di lachman*.Beberapa basis yang dapat digunakan adalah campuran PEG
1450 – heksametriol-1,2,6 6% dan 12% polietilen oksida 4000. Salah satu kekurangan yang paling
umum dalam penggunaan teknik pencetakan dengan kompresi untuk jenis basis supositoria berupa
lemak adalah penjerapan udara. Inklusi udara ini tidak dapat dihindarkan dan membuat bobot
supositoria sulit dikontrol (bervariasi) dan dapat mengoksidasi baik basis maupun zat aktif.

2. PENCETAKAN DENGAN PENUANGAN / CETAK TUANG / FUSION

(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rded, 580)

(Howard C. Ansel, Ansel’s Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System, 9th edition,
2011, page 318)

7
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

Penyiapan supositoria dengan cetak tuang:


1. Lelehkan basis
2. Inkorporasikan zat aktif ke dalam lelehan basis
3. Tung lelehan ke dalam cetakan, tutup cetakan
4. Biarkan lelehan dingin dan beku hingga menjadi suppositoria
5. Keluarkan supositoria dari cetakan
*oleum cacao, gelatin tergliserinasi, PEG adalah salah satu contoh basis yang cocok untuk
penyiapan supositoria dengan cara cetak tuang

Metode pencetakan dengan penuangan sering juga digunakan untuk pembuatan skala industri.
Teknik ini juga sering disebut sebagai teknik pelelehan. Cara ini dapat dipakai untuk membuat
suppositoria dengan hampir semua pembawa. Cetakannya dapat digunakan untuk membuat 6 - 600
suppositoria. Pada dasarnya langkah-langkah dalam metode ini ialah melelehkan bahan pembawa
dalam penangas air hingga homogen, membasahi cetakan dengan lubrikan untuk mencegah
melekatnya suppositoria pada dinding cetakan, menuang hasil leburan menjadi suppo, selanjutnya
pendinginan bertahap (pada awalnya di suhu kamar, lalu pada lemari pendingin bersuhu 7-10 0C, lalu
melepaskan suppo dari cetakan).

Basis yang sesuai untuk pembuatan dengan cara pencetakan adalah oleum cacao, gelatin
tergliserinasi, dan PEG. Cetakan yang umum digunakan sekarang terbuat dari baja tahan karat,
aluminium, tembaga atau plastik (Howard C. Ansel, Ansel’s Pharmaceutical Dosage Form and Drug
Delivery System, 9th edition, 2011, hlm. 318).

Cetakan yang dipisah dalam sekat-sekat, umumnya dapat dibuka secara membujur. Pada waktu
leburan dituangkan cetakan ditutup dan kemudian dibuka lagi saat akan mengeluarkan suppositoria
yang sudah dingin. Tergantung pada formulasinya, cetakan suppo mungkin memerlukan lubrikan
sebelum leburan dimasukkan ke dalamnya, supaya memudahkan terlepasnya suppo dari cetakan.
Bahan-bahan yang mungkin menimbulkan iritasi terhadap membran mukosa seharusnya tidak
digunakan sebagai lubrikan.

Lubrikasi jarang dibutuhkan jika digunakan basis oleum cacao, PEG.


(Howard C. Ansel, Ansel’s Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System, 9th edition,
2011, page 319)

Metode yang sering digunakan pada pembuatan suppositoria baik skala kecil maupun skala industri
adalah pencetakan dengan penuangan (Howard C. Ansel, Ansel’s Pharmaceutical Dosage Form and
Drug Delivery System, 9th edition, 2011, page 318)

8
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

B. PENDEKATAN FORMULASI
1. Apakah pembuatan suppositoria untuk tujuan sistemik atau lokal?
2. Di mana lokasi pemberian suppositoria? Rektal, vaginal, atau uretral?
3. Bagaimana efek yang diinginkan? Cepat atau lambat?

1. Suppositoria untuk tujuan sistemik


 Basis yang digunakan tersedia dan ekonomis.
 Zat aktif harus terdispersi baik dalam basis dan dapat lepas dengan baik (pada kecepatan yang
diinginkan) dalam cairan tubuh.
 Jika zat aktif larut air, gunakan basis lemak dengan kadar air rendah.
 Jika zat aktif larut lemak, gunakan basis larut air. Dapat ditambahkan surfaktan untuk
mempertinggi kelarutannya.
 Untuk meningkatkan homogenitas zat aktif dalam basis sebaiknya digunakan pelarut yang
melarutkan zat aktif atau zat aktif dihaluskan (digerus) sebelum dicampur dengan basis yang
meleleh.
 Zat aktif yang larut sedikit dalam air atau pelarut lain yang tercampur dalam basis, dilarutkan
dulu sebelum dicampur dengan basis.
 Zat aktif yang langsung dapat dicampur dengan basis, terlebih dahulu digerus halus sehingga 100
% dapat melewati ayakan 100 mesh.

2. Suppositoria untuk efek lokal


 Untuk hemoroid, anestetika lokal dan antiseptik (tidak untuk diabsorbsi).
 Basis tidak diabsorpsi, melebur dan melepaskan obat secara perlahan-lahan.
 Basis harus dapat melepas sejumlah obat yang memadai dalam 1/2 jam, dan meleleh seluruhnya
dengan melepas semua obat antara 4-6 jam agar terjadi efek lokal dalam kisaran waktu tersebut.
Supositoria yang tidak meleleh dalam waktu 6 jam pada uji leleh supositoria, kemungkinan tidak
dapat melepaskan obat dan menyebabkan rasa yang tidak nyaman bagi pasien.
 Pilih basis untuk efek lokal
 Obat harus didistribusikan secara homogen dalam basis suppositoria.
(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rd ed, 582-583)

C. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM FORMULASI

1. Pemilihan Obat / Zat Aktif


Suatu zat aktif dapat dberikan dalam bentuk suppositoria jika:
a. Dapat diabsorpsi dengan cukup melalui mukosa rektal untuk mencapai kadar terapeutik dalam
darah (absorpsi dapat ditingkatkan dengan bahan pembantu).
b. Absorpsi zat aktif melalui rute oral buruk atau menyebabkan iritasi mukosa saluran pencernaan,
atau zat aktif berupa antibiotik yang dapat mengganggu keseimbangan flora normal usus.
c. Zat aktif berupa polipeptida kecil yang dapat mengalami proses enzimatis pada saluran
pencernaan bagian atas (sehingga tidak berguna jika diberikan melalui rute oral).
d. Zat aktif tidak tahan terhadap pH saluran pencernaan bagian atas.
e. Zat aktif digunakan untuk terapi lokal gangguan di rektum atau vagina.

Sifat dari zat aktif yang mempengaruhi pengembangan produk suppositoria:


a. Sifat fisik
 Zat aktif dapat berupa cairan, pasta atau solida.
 Penurunan ukuran partikel dapat meningkatkan bioavailabilitas obat (melalui peningkatan
9
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

luas permukaan) dan meningkatkan kinetika disolusi pada ampula rektal.


 Penurunan ukuran partikel dapat menyebabkan pengentalan campuran zat aktif/eksipien,
yang menyebabkan aliran menjadi jelek saat pengisian suppositoria ke cetakan, dan juga
memperlambat resorpsi zat aktif.
 Adanya zat aktif berupa kristal kasar (baik karena kondisi zat aktif saat ditambahkan ke
dalam basis atau karena pembentukan kristal) dapat menyebabkan iritasi permukaan mukosa
rektal yang sensitif.
b. Densitas bulk
Jika terdapat perbedaan yang signifikan antara densitas zat aktif dengan eksipien,diperlukan
perlakuan khusus untuk mencapai homogenitas produk. Usaha yang dapat dilakukan untuk
mengatasi hal ini yaitu dengan menurunkan ukuran partikel atau meningkatkan viskositas produk.
Peningkatan viskositas produk dapat dicapai dengan penambahan bahan pengental, atau dengan
menurunkan suhu campuran agar mendekati titik solidifikasi sehingga fluiditasnya turun.
c. Kelarutan (solubilitas)
 Peningkatan kelarutan zat aktif dalam basis meningkatkan homogenitas produk, tetapi
menyulitkan / mengurangi pelepasan zat aktif jika terjadi kecenderungan yang besar dari zat
aktif untuk tetap berada dalam basis.
 Afinitas zat aktif terhadap basis/eksipien dapat diatur dengan derajat misibilitas dari kedua
komponen suppositoria.
( Bagian ini entah dapat dari mana, belum ketemu pustakanya)

2. Pemilihan Basis
Basis suppositoria mempunyai peranan penting dalam pelepasan obat yang dikandungnya. Salah satu
syarat utama basis suppositoria adalah selalu padat dalam suhu ruangan tetapi segera melunak,
melebur atau melarut pada suhu tubuh sehingga obat yang dikandungnya dapat tersedia sepenuhnya,
segera setelah pemakaian (Howard C. Ansel, Ansel’s Pharmaceutical Dosage Form and Drug
Delivery System, 9th edition, 2011, page 315)

Peran utama basis suppositoria:


a. Menjadikan zat aktif tertentu dapat dibuat dalam bentuk suppositoria yang tepat dengan
karakteristik fisikokimia zat aktif dan keinginan formulator
b. Basis digunakan untuk mengatur penghantaran pengobatan pada tempat absorpsinya.

Karakteristik basis yang menentukan selama produksi:


a. Kontraksi
Sedikit kontraksi pada saat pendinginan volume suppositoria diinginkan untuk memudahkan
pengeluaran dari cetakan.
Pengaruh kontraksi adalah penyusutan volume massa supositoria dan bentuk fisik supositoria
yang tidak bagus. Dapat dihindari dengan menambahkan sejumlah berlebih massa supositoria
ke dalam pencetakan -> *kata2nya gak persis kek di lachman, tapi intinya gitu lah.
LiatLiebermann, H. A., L. Lachman, 1986, The Teory and Practice of Industrial Pharmacy,
3rd ed, hal 584)
b. Ke-inert-an (inertness)
Tidak boleh ada interaksi kimia antara basis dengan bahan aktif.
c. Pemadatan
Interval antara titik leleh dengan titik solidifikasi harus optimal: jika terlalu pendek maka
penuangan lelehan ke dalam cetakan akan sulit; jika terlalu panjang, waktu pemadatan
menjadi lama sehingga kemungkinan terjadi pengendapan semakin besar.

10
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

Basis dengan rentang titik leleh-titik pemadatan yang rendah (titik leleh 34o, titik pemadatan
32o) -> basis yang cocok digunakan untuk sediaan farmasi (Liebermann, H. A., L. Lachman,
1986, The Teory and Practice of Industrial Pharmacy, 3rd ed, hal 577)

d. Viskositas
Jika viskositas tidak cukup, komponen terdispersi dari campuran akan membentuk sedimen,
mengganggu integritas dari produk akhir.

(Liebermann, H. A., L. Lachman, 1986, The Teory and Practice of Industrial Pharmacy, 3rd
ed, hal 584)

Karakteristik basis yang menentukan selama penyimpanan:


a. Ketidakmurnian (Impurity)
Kontaminasi bakteri / fungi harus diminimalisir dengan basis yang non-nutritif dengan
kandungan air minimal.
b. Pelunakan (softening)
Suppositoria harus diformulasi agar tidak melunak atau meleleh selama transportasi atau
penyimpanan.
c. Stabilitas
Bahan yang dipilih tidak teroksidasi saat terpapar udara, kelembapan atau cahaya.

Karakteristik basis yang menentukan selama penggunaan:


a. Pelepasan
Pemilihan basis yang tepat memberikan penghantaran bahan aktif yang optimal ke tempat
target.
b. Toleransi
Suppositoria akhir toksisitasnya harus minimal, dan tidak menyebabkan iritasi jaringan
mukosa rektal yang sensitif.

11
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

Kriteria pemilihan basis berdasarkan karakteristik fisikokimianya:


a. Jarak lebur
Spesifikasi suhu lebur basis suppositoria (terutama basis lemak) dinyatakan dalam jarak lebur
daripada suatu titik lebur. Hal ini karena terdapat suatu rentang suhu antara bentuk stabil dan
tidak stabil, suatu hasil dari polimorfisme bahan tersebut. Penambahan cairan ke dalam basis
umumnya cenderung menurunkan suhu leleh suppositoria, sehingga disarankan penggunaan
basis dengan suhu leleh lebih tinggi. Sedangkan, penambahan sejumlah besar serbuk fine akan
meningkatkan viskositas produk, sehingga diperlukan basis dengan suhu leleh yang lebih
rendah.
b. Bilangan iodin
Rancidifikasi (oksidasi) basis suppositoria dapat menjadi masalah. Karena sensitivitas dari
jaringan mukosa rektal, dan potensinya terpapar lelehan basis suppositoria, maka antioksidan
berpotensi mengiritasi tidak dianjurkan digunakan dalam suppositoria. Untuk mencegah
penggunaan antioksidan, sebaiknya digunakan basis dengan bilangan iodin < 3 (dan lebih
diutamakan < 1).

(Liebermann, H. A., L. Lachman, 1986, The Teory and Practice of Industrial Pharmacy, 3rd
ed, hal 585)

c. Indeks hidroksil
Bahan yang memiliki indeks hidroksil rendah juga memberikan stabilitas yang lebih baik
dalam kasus dimana zat aktif sensitif terhadap adanya radikal hidroksil.

Menurut Farmakope Indonesia IV, basis suppositoria yang umum digunakan adalah lemak coklat, gelatin
tergliserinasi, minyak nabati terhidrogenasi, campuran polietilenglikol (PEG) dengan berbagai bobot
molekul dan ester asam lemak polietilen glikol. Basis suppositoria yang digunakan sangat berpengaruh
pada pelepasan zat terapeutik (FI IV,hal.16).

Yang perlu diperhatikan untuk basis suppositoria adalah :


 Asal dan komposisi kimia
 Jarak lebur/leleh
 Solid-Fat Index (SFI)
 Bilangan hidroksil
12
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

 Titik pemadatan
 Bilangan penyabunan (saponifikasi)
 Bilangan iodida
 Bilangan air (jumlah air yang dapat diserap dalam 100 g lemak)
 Bilangan asam
(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rded, hal 568-569)

Syarat basis yang ideal antara lain :


 melebur pada temperatur rektal 36o namun basis dengan rentang titik leleh yang lebar dapat pula
digunakan untuk campuran eutektikum
 tidak toksik, tidak menimbulkan iritasi dan sensitisasi
 dapat bercampur (kompatibel) dengan berbagai obat
 tidak punya bentuk metastabil
 mudah dilepas dari cetakan
 memiliki sifat pembasahan dan emulsifikasi
 bilangan airnya tinggi
 stabil secara fisika dan kimia selama penyimpanan (warna, bau, dan kecepatan pelepasan obat
tidak berubah)
 dapat dibentuk dengan tangan, mesin, kompresi atau ekstrusi

Jika basis adalah lemak, ada persyaratan tambahan sebagai berikut :


Bilangan asam < 0,2
Bilangan penyabunan 200 - 245
Bilangan iodine < 7
Interval antara titik lebur dan titik pemadatan kecil (kurva SFI tajam)
(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rded, hal 575

13
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

Tipe basis suppositoria berdasarkan karakteristik fisik yaitu(Howard C. Ansel, Ansel’s Pharmaceutical
Dosage Form and Drug Delivery System, 9th edition, 2011, page 316)
1. Basis suppositoria yang meleleh (Basis berlemak)
Basis berlemak merupakan basis yang paling banyak digunakan, terdiri dari oleum cacao, dan
macam-macam asam lemak yang dihidrogenasi dari minyak nabati seperti minyak palem dan minyak
biji kapas.
Menurut USP, oleum cacao merupakan :
 Lemak yang diperoleh dari biji Theobroma cacao yang dipanggang.
 Secara kimia adalah trigliserida yang terdiri dari oleapalmitostearin dan oleo distearin
 Pada suhu kamar, berwarna kekuning-kuningan sampai putih padat sedikit redup, beraroma
coklat
 Melebur pada 30-36oC (86°F to 97°F)(Howard C. Ansel, Ansel’s Pharmaceutical Dosage Form
and Drug Delivery System, 9th edition, 2011, page 316)
 Titik leleh :31-34 oC
 Kelarutan : mudah larut dalam kloroform, eter, petroleum eter, larut dalam etanol panas, sedikit
larut dalam etanol 95%
 Stabilitas dan penyimpanan : pemanasan diatas 36 oC menyebabkan pembentukan kristal
metastabil. Oleum cacao disimpan di suhu < 25 oC (HOPE ,6th ed, hal. 725)
 Bilangan iod 34 - 38
 Bilangan asam 4
 Mudah tengik dan meleleh, harus disimpan di tempat sejuk dan kering terhindar dari cahaya.
 Bentuk polimorfisa (Lachman,Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rd ed, hal 575)
1. Bentuk α melebur pada 24°C diperoleh dengan pendinginan secara tiba-tiba sampai 0oC.

14
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

2. Bentuk β’ diperoleh dari cairan oleum cacao yang diaduk pada suhu 18-23 0 C titik
leburnya 28-31 oC
3. Bentuk stabil β diperoleh dari bentuk β’, didinginkan perlahan pada suhu kamar, melebur
pada 34-35 0C diikuti dengan kontraksi volume
4. Bentuk γ melebur pada suhu 18oC, diperoleh dengan menuangkan oleum cacao suhu 20oC
sebelum dipadatkan ke dalam wadah yang didinginkan pada suhu yang sangat dingin.

Pembentukan polimorfisa ini tergantung dari derajat pemanasan, proses pendinginan dan keadaan
selama proses. Pembentukan kristal non stabil dapat dihindari dengan cara :(Lachman,Theory
and Practice of Industrial Pharmacy 3rd ed,hal 576)
o Jika massa tidak melebur sempurna, sisa-sisa krsital mencegah pembentukan krsital non
stabil.
o Sejumlah kristal stabil ditambahkan ke dalam leburan untuk mempercepat perubahan dari
bentuk non stabil ke bentuk stabil. (istilahnya“seeding”).
o Leburan yang dipadatkan(teks asli: The solidified melt) dijaga pada temperatur 28-32 0C
selama 1 jam atau 1 hari.
 Hal-hal yang harus diperhatikan : (Lachman,Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rd
ed,hal 576)
 Gunakan panas minimal pada proses peleburan (< 40o C) *gak ada di lachman*
 Jangan memperlama proses pemanasan
 Jika melekat pada cetakan, gunakan lubrikan
 Titik pemadatan oleum cacao terletak 12-13 oC di bawah titik leburnya sehingga dapat
dimanfaatkan dalam pembuatan suppo (menjaga suppo tetap cair tanpa berubah bentuk
tidak stabil)
Oleum cacao tidak mengandung emulsifier sehingga hanya mampu mengabsorpsi air 20-
30 g air/100 g oleum cacao. Penambahan emulgator seperti tween 61 sebanyak 5-10 %
akan meningkatkan absorpsi air sehingga menjaga zat-zat yang tidak larut tetap
terdispersi/ tersuspensi dalam oleum cacao.
Kestabilan suspensi dapat ditingkatkan dengan penambahan bahan- bahan seperti Al-
monostearat atau silika yang memberikan leburan oleum cacao bersifat tiksotropik. Ada
kemungkinan penambahan bahan2 tersebut dapat menimbulkan masalah selama
penyimpanan sehingga disarankan untuk dilakukan uji stabilitas jangka panjang.
 Untuk obat- obat yang dapat menurunkan titik lebur oleum cacao seperti minyak atsiri,
creosote, fenol, kloralhidrat digunakan campuran malam atau spermaceti (lemak ikan
paus)

2. Basis suppositoria larut air dan basis yang bercampur dengan air
Basis yang penting dari kelompok ini adalah basis gelatin tergliserinasi dan basis polietilen glikol.

Basis gelatin tergliserinasi terlalu lunak untuk dimasukkan dalam rektal sehingga hanya digunakan
melalui vagina (umum) dan uretra. Basis ini melarut dan bercampur dengan cairan tubuh lebih lambat
dibandingkan dengan oleum cacao sehingga cocok untuk sediaan lepas lambat. Basis ini menyerap air
karena gliserin yang higroskopis. Oleh karena itu, saat akan dipakai, suppo harus dibasahi terlebih
dahulu dengan air.
Glycerinated gelatin suppositories may be prepared by dissolving granular gelatin (20%) in glycerin (70%)
and adding water or a solution or suspension of the medication (10%)
(Howard C. Ansel, Ansel’s Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System, 9th edition,
2011, page 317-318)

15
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

Polietilen glikol (PEG) merupakan polimer dari etilen oksida dan air, dibuat menjadi bermacam-
macam panjang rantai, berat molekul dan sifat fisik. Polietilen glikol tersedia dalam berbagai macam
berat molekul mulai dari 200 sampai 8000. PEG yang umum digunakan adalah PEG 200, 400, 600,
1000, 1500, 1540, 3350, 4000, 6000 dan 8000. Pemberian nomor menunjukkan berat molekul rata-rata
dari masing-masing polimernya. Polietilen glikol yang memiliki berat molekul rata-rata 200, 400, 600
berupa cairan bening tidak berwarna dan yang mempunyai berat molekul rata-rata lebih dari 1000
berupa lilin putih, padat dan kekerasannya bertambah dengan bertambahnya berat molekul. Basis
polietilen glikol dapat dicampur dalam berbagai perbandingan dengan cara melebur, dengan memakai
dua jenis PEG atau lebih untuk memperoleh basis suppo dengan konsistensi dan karakteristik yang
diinginkan. (Howard C. Ansel, Ansel’s Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System, 9th
edition, 2011, page 317)

Contoh formula basis (Lachman,Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rd ed, hal 578)
a. PEG 1000 96%, PEG 4000 4%
b. PEG 1000 75%, PEG 4000 25%

Basis a) memiliki titik leleh rendah, sehingga membutuhkan tempat dingin untuk penyimpanan,
terutama pada musim panas. Basis ini berguna jika kita ingin disintegrasi yang cepat. Sedangkan basis
b) lebih tahan panas daripada basis a) sehingga dapat disimpan pada suhu yang lebih tinggi. Basis ini
berguna jika kita ingin pelepasan zat yang lambat. (Lachman, Theory and Practice of Industrial
Pharmacy 3rd ed, hal 578)

Suppositoria dengan polietilen glikol tidak melebur ketika terkena suhu tubuh, tetapi perlahan-lahan
melarut dalam cairan tubuh. Oleh karena itu basis ini tidak perlu diformulasi supaya melebur pada
suhu tubuh. Jadi boleh saja dalam pengerjaannya, penyiapan suppositoria menggunakan campuran
PEG yang mempunyai titik lebur lebih tinggi daripada suhu tubuh.

Keuntungannya, bahan ini memungkinkan pelepasan obat secara lambat dari basisnya, selain itu
dalam hal penyimpanan dapat dilakukan di luar lemari es dan tidak rusak bila terkena udara hangat.
Untuk suppo dengan basis PEG yang mengandung air <20%, maka dalam penggunaannya harus
dibasahi dulu dengan air untuk mencegah iritasi membran mukosa setelah insersi suppo ke dalam
rektal.
(Howard C. Ansel, Ansel’s Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System, 9th edition,
2011, page 317)

PEG Titik Leleh (°C)


1000 37 – 40
1500 44 – 48
1540 40 – 48
2000 45 – 50
3000 48 – 54
4000 50 – 58
6000 55 – 63
8000 60 - 63
20000 60-63
(HOPE, 6thed, hal 518-519)

Keuntungan basis PEG :


 Stabil dan inert

16
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

 Polimer PEG tidak mudah terurai


 Mempunyai rentang titik leleh dan kelarutan yang luas sehingga memungkinkan formula suppo
dengan berbagai derajat kestabilan panas dan laju disolusi yang berbeda
 Tidak mendukung pertumbuhan jamur
(Teori dan Praktek Industri Farmasi, hal 1174 ->ga pny bukunya)

Kerugian basis PEG:


 Secara kimia lebih reaktif daripada basis lemak
 Dibutuhkan perhatian lebih untuk mencegah kontraksi volume yang membuat bentuk suppo rusak
 Kecepatan pelepasan obat larut air menurun dengan meningkatnya jumlah PEG dengan BM tinggi
 Cendrung lebih mengiritasi mukosa daripada basis lemak
(HOPE 5thed, hal 545)

Kombinasi jenis PEG dapat digunakan sbg basis suppo dan memberikan keuntungan dibandingkan
basis lemak sbb.:
 Titik lebur suppo dapat meningkat sehingga lebih tahan terhadap suhu ruangan yang hangat
 Pelepasan obat tidak tergantung dari titik lelehnya
 Stabilitas fisik dalam penyimpanan lebih baik
 Sediaan suppo akan segera bercampur dengan cairan rektal
(HOPE 5th ed, hal 545)

3.Basis surfaktan
Surfaktan tertentu disarankan sebagai basis hidrofilik sehingga dapat digunakan tanpa penambahan zat
tambahan lain. Surfaktan juga dapat dikombinasikan dengan basis lain. Basis ini dapat digunakan
untuk memformulasi obat yang larut air dan larut lemak.
Keuntungan :
 Dapat disimpan pada suhu tinggi
 Mudah penanganannya
 Dapat bercampur dengan obat
 Tidak mendukung pertumbuhan mikroba
 Nontoksik dan tidak mensensitisasi
(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rd ed,hal 575- 578)

3. Pemilihan bahan pembantu yang dapat meningkatkan homogenitas produk, kelarutan, dll
Bahan pembantu digunakan untuk:
a. Meningkatkan penggabungan (inkorporasi) dari serbuk zat aktif
Peningkatan jumlah serbuk zat aktif dapat mengganggu integritas suppositoria dengan
menyebabkan peningkatan viskositas lelehan, sehingga menghambat alirannya ke dalam
cetakan. Ajuvan yang digunakan untuk mengatasi hal ini yaitu: Mg karbonat, minyak netral
(gliserida asam lemak jenuh C-8 hingga C-12 dengan viskositas rendah) 10 % dari bobot
suppositoria, dan air (1 – 2 %).
b. Meningkatkan hidrofilisitas
Penambahan bahan peningkat hidrofilisitas digunakan untuk mempercepat disolusi
suppositoria di rektum, sehingga meningkatkan absorpsi, jika digunakan dengan konsentrasi
rendah. Tetapi, jika digunakan dalam konsentrasi besar, bahan ini malah menurunkan
absorpsi. Bahan peningkat hidrofilisitas juga dapat menyebabkan iritasi lokal.
Contoh bahan ini yaitu:
1. surfaktan anionik, misalnya: garam empedu, Ca oleat, setil stearil alkohol plus 10 %

17
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

Na alkil sulfat, Na dioktilsulfosuksinat, Na lauril sulfat (1 %), Na stearat (1 %), dan


trietanol amin stearat (3 – 5 %);
2. surfaktan nonionik dan amfoterik, misalnya: ester asam lemak dari sorbitan (Span &
Arlacel), ester asam lemak dari sorbitan teretoksilasi (Tween), ester dan eter
teretoksilasi (polietilenglikol 400 miristat, Myrj, eter polietilenglikol dari alkohol
lemak), minyak natural termodifikasi (Labrafil M2273, Cremophor EL, lesitin,
kolesterol);
3. gliserida parsial, misalnya: mono- dan digliserida mengandung asam lemak
tergliserolisasi (Atmul 84), mono- dan digliserida (gliserin monostearat dan gliserin
monooleat), monogliserida asam stearat dan palmitat, mono- dan digliserida dari asam
palmitat dan stearat.
c. Meningkatkan viskositas
Pengaturan viskositas dari lelehan suppositoria selama pendinginan merupakan titik kritis
untuk mencegah sedimentasi. Bahan yang digunakan yaitu: asam lemak dan derivatnya (Al
monostearat, gliseril monostearat, & asam stearat), alkohol lemak (setil, miristat dan stearil
alkohol), serbuk inert (bentonit & silika koloidal).
d. Mengubah suhu leleh
Contoh bahan yang digunakan: asam lemak dan derivatnya (gliserol stearat dan asam
stearat), alkohol lemak (setil alkohol dan setil stearat alkohol), hidrokarbon (parafin), dan
malam (malam lebah, setil alkohol, dan malam carnauba).
e. Meningkatkan kekuatan mekanis
Pecahnya suppositoria merupakan masalah yang ditemui saat digunakan basis sintetik.
Untuk mengatasinya dapat ditambahkan ajuvan seperti: polisorbat, minyak jarak (castor
oil), monogliserida asam lemak, gliserin, dan propilenglikol.
f. Mengubah penampilan
Pewarna dapat digunakan untuk berbagai alasan seperti psikologis, menjamin keseragaman
(uniformitas) warna produk dari lot ke lot, untuk membedakan produk, dan
menyembunyikan kerusakan saat pembuatan seperti eksudasi atau kristalisasi permukaan.
Bahan hidrosolubel, liposolubel dan insolubel serat tidak bersifat mengiritasi mukosa dapat
digunakan untuk mewarnai suppositoria.
g. Melindungi dari degradasi
Agen antifungi dan antimikroba digunakan jka suppositoria mengandung bahan asal tanaman
atau air. Digunakan asam sorbat atau garamnya jika pH larutan zat aktif kurang dari 6.
p-hidroksibenzoat atau garam natriumnya juga dapat digunakan. Tetapi, potensi bahan-bahan
ini menyebabkan iritasi rektal perlu dipertimbangkan.
Antioksidan seperti BHT, BHA, tokoferol dan asam askorbat digunakan untuk mencegah
ketengikan (rancidity) pada formulasi suppositoria yang menggunakan lemak coklat (cocoa
butter).
Sequestering agents seperti asam sitrat dan kombinasi antioksidan digunakan untuk
mengkompleks logam yang mengkatalisis reaksi redoks. Contohnya: campuran tiga bagian
BHT, BHA, dan propilgalat dengan satu bagian asam sitrat memberikan hasil memuaskan
pada penggunaan 0,01 %.
h. Mengubah absorpsi
Pada kasus di mana absorpsi obat di rektal amat terbatas, perlu ditambahkan bahan untuk
meningkatkan uptake obat tersebut. Sejumlah bahan telah digunakan untuk meningkatkan
bioavailabilitas dari zat aktif dalam suppositoria. Sebagai contoh, penambahan enzim
depolimerisasi (mukopolisakarase) telah dipelajari untuk meningkatkan penetrasi beberapa
zat aktif.

18
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

(Lieberman, Pharmaceutical Dosage Forms: Disperse Systems Volume 2, hal 537-554 -->
halaman ebooknya gak nyampe halaman segitu. Halaman 520an udah index)

IV. PERHITUNGAN S U P P O S I T O R I A

Dosis Replacement
Jika dosis zat aktif yang digunakan < 100 mg (untuk bobot suppo 2 g) atau kurang dari 5% bobot suppo,
atau jika BJ zat aktif dan basis sama / mendekati (<5% berbeda) maka volume yang ditempati oleh
serbuk tidak berubah secara bermakna sehingga tidak perlu dipertimbangkan.

Jika bobot suppo yang akan dibuat < 2 g maka volume serbuk harus diperhitungkan.
Faktor kerapatan (densitas) dari basis dan serbuk harus diketahui.(Slide kuliah bu Heni)

Berikut adalah cara perhitungan jumlah basis yang dapat digunakan oleh sejumlah bahan obat ataupun
bahan pembantu :

1. Density Factor (Robert E. King, Dispensing of Medication, 9th , hal. 96 --> don’t have either ebook
or book)
Merupakan jumlah gram zat aktif yang setara dengan 1 g basis.
Contoh :
a. Akan dibuat 12 buah suppo yang mengandung aspirin @ 300 mg dan dibuat dalam cetakan suppo
2 g dengan basis oleum cacao
Maka perhitungan basis oleum cacao yang dibutuhkan untuk suppo tersebut sbb:
 Aspirin yang dibutuhkan (dibuat dengan ditambah 1 buah suppo untuk cadangan)
= 13 x 0,3 g = 3,9 g
 Faktor densitas untuk aspirin
= 1,1 → 3,9 / 1,1 = 3,55 → 3,9 g aspirin setara dengan 3,55 g oleum cacao.
 Oleum cacao teoritis yang dibutuhkan untuk membuat suppo (basis saja tanpa ZA)
= 13 x 2 g = 26 g
 Oleum cacao sebenarnya yang dibutuhkan untuk membuat suppo
= 26 g – 3,55 g = 22,45 g

b. R/ Aminofilin 10 % Density factor aminofilin 1,1

Fenobarbital 1% Density factor fenobarbital 0,81


mf Suppositoria no VI @2g

Jawab :
Jika diminta membuat 6 buah Suppositoria yang mengandung 10% aminofilin dan 1%
fenobarbital maka umumnya dibuat berlebih, misalnya 8 buah. Langkah pengerjaan :
1. Buat dan timbang 8 Suppositoria yang terbuat dari oleum cacao saja, misal diperoleh bobot
total 8 Suppositoria adalah 16, 8 g.
Maka bobot rata-rata 1 Suppositoria adalah 16,8 / 8 = 2,1g
2. Zat aktif ditimbang :
Aminofilin : 10% x 8 x 2,1 g = 1,68 g
Fenobarbital : 1% x 8 x 2,1 g = 0,168 g
3. Dihitung kesetaraan zat aktif dengan oleum cacao :
Aminofilin menggantikan : 1,68 / 1,1 = 1,53 g oleum cacao
Fenobarbital menggantikan : 0,168 / 0,81 = 0,207 g oleum cacao
19
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

4. Jumlah total oleum cacao yang ditimbang : 16,8 g – (1,53+0,21) = 15,06 g


5. Buat 8 Suppositoria yang terdiri dari oleum cacao dan bahan obat kemudian lakukan evaluasi
terhadapnya dan serahkan 6 Suppositoria yang baik.

2. Replacement Factor (Lachman Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rded, hal 585)/ Nilai
Tukar (IMO, hal 161)
Replacement factor [faktor penggantian dosis (f)] adalah jumlah basis yang dapat digantikan oleh
bahan obat. Nilai tukar dimaksudkan untuk mengetahui berat lemak (oleum cacao) yang mempunyai
besar volume yang sama dengan 1 gram bahan aktif obat. Nilai f untuk oleum cacao dianggap 1.

Jika f = 0,81 berarti bahwa 0,81 g basis dapat digantikan oleh 1 g bahan obat. f dapat diturunkan dari
persamaan berikut :
(E - G)
f = 100 x ------------ + 1
(G x X)
E : Berat Suppositoria yang hanya terdiri dari basis
G : Berat Suppositoria x% zat aktif
G.X : Jumlah bahan obat dalam Suppositoria

Contoh :
Suppositoria mengandung 100 mg fenobarbital, menggunakan oleum cacao sebagai basis.
Bobot suppo mengandung 100% ol.cacao = 2 g
Berapa bobot suppo yang mengandung 100 mg fenobarbital ?

Jawab :
Karena mengandung 100 mg fenobarbital dalam sekitar 2 g, maka % fenobarbital dalam sediaan
suppo adalah (100 / 2000) mg x 100% = 5%
Bilangan pengganti fenobarbital, f = 0,81
(E − G)
f = 100 x +1
(G x X)
(2 − G)
0,81 = 100 x +1
(G x 5)
200 − 100G
−0,19 =
5G
−0,19 G = 40 − 20G
19,81 G = 40
G = 2,019

Jadi bobot suppo dengan 100 mg fenobarbital = 2,019 g


Dalam perhitungan apabila diketahui maka f dapat langsung dikalikan dengan jumlah bahan obat.
Obat-obat yang umum dibuat dalam sediaan Suppositoria, bila dibandingkan dengan oleum cacao
yang memiliki f = 1, memiliki faktor pengganti seperti dalam tabel berikut ini :
Bahan aktif Faktor pengganti
Asam borat 0,67
Fenobarbital 0,81
Hg protein ringan 0,61
Balsam Peru 0,83
Bismuth subgallat 0,37
20

2
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

Bismuth subnitrat 0,33


Camphora 1,49
Malam putih atau malam kuning 1,0
Spermaseti 1,0
Kloral hidrat 0,67
Kinin hidroklorida 0,83
Serbuk daun digitalis 0,61
Ichthammol 0,91
Minyak jarak 1,0
Fenol 0,9
Prokain hidroklorida 0,8
Resorsin 0,71
Salol 0,71
Sulfanilamida 0,6
Sulfatiazol 0,62
Teofilin Na asetat 0,6
Zink oksida 0,15 - 0,25
(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3 rd ed, hal 585)
Untuk bahan aktif larutan nilai tukarnya adalah 1.(IMO, hal 164)

3. Displacement Value
Adalah jumlah zat aktif yang dapat menggantikan oleum cacao.
Contoh perhitungan :
 Buat dan timbang 6 Suppo oleum cacao tanpa bahan obat, misalnya diperoleh bobot 6,0
g.
 Buat Suppositoria dengan 40 % zat aktif diperoleh bobot 8,8 g
Jumlah Oleum Cacao : 60% x 8,8 = 5,28
Jumlah Zat Aktif : 40% x 8,8 = 3,52
Jadi jumlah oleum cacao yang dapat digantikan oleh 3,52 g zat aktif adalah :
(6,0-5,28) g = 0,72 g
3,52
Displacement value zat aktif adalah : = 4,89 ≈ 5
0,72
5 g Zat aktif dapat menggantikan 1 g oleum cacao

4. Metoda Paddock (Penetapan Bilangan Pengganti)


Bilangan pengganti adalah bilangan yang menyatakan jumlah basis yang digantikan oleh zat
aktif, dikarenakan perbedaan BJ antara zat aktif dan basis.
Misal, akan dibuat suppo dengan 10% zat aktif, cara penetapan bilangan pengganti :
a. Suppo basis :
 buat basis suppo dan tuang dalam cetakan
 biarkan suppo basis di suhu kamar sampai memadat sempurna
 sempurnakan pemadatan pada suhu dingin (4oC) selama 30 menit
 keluarkan suppo basis dari cetakan dan tibang, misalnya didapat 2 gram
b. Suppo dengan 10% zat aktif :
 buat lelehan basis suppo (90%)
 timbang 10% zat aktif dan masukkan ke dalam lelehan basis suppo yang sudah turun
suhunya sampai nilai tertentu bergantung stabilitas zat aktif
 aduk sampai zat aktif terdispersi rata dalam basis
 tuang ke dalam campuran dan biarkan memadat seperti pada prosedur a.
 keluarkan suppo dan timbang, misalnya didapat 2,2 gram
21
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

c. Perhitungan :
 bobot suppo 100% basis = 2 g
 bobot suppo 10% zat aktif = 2,2 g
Jadi bobot zat aktif dalam suppo = 0,1 x 2,2 = 0,22 g
Bobot basis dalam suppo 10% zat aktif = 2,2 – 0,22 = 1,98 g
Bobot basis yang digantikan oleh 0,22 g zat aktif = 2 – 1,98 = 0,02 g basis
Bobot basis yang digantikan oleh 1 g zat aktif = 0,02 / 0,22 = 0,09 g basis
Jadi bilangan pengganti zat aktif = 0,09

V. PROSEDUR PEMBUATAN
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan Suppositoria, sbb:
1. Penyiapan cetakan
1. Cetakan dikalibrasi, caranya : Siapkan cetakan suppo dengan kondisi kering dan bersih. Buat
lelehan basis suppo 6-12 suppo. Tuang lelehan, dinginkan dan rapikan. Keluarkan suppo dari
cetakan dan timbang. Hitung bobot rata-rata suppo. Bobot rata-rata ini sebagai nilai kalibrasi
untuk cetakan tertentu.
2. Cetakan sebaiknya dilubrikasi. Cetakan yang baru masih memiliki permukaan yang mengkilat
dan dapat melepaskan suppositoria secara cepat, tetapi setelah beberapa kali pemakaian dapat
timbul goresan yang dapat menghambat pelepasan suppositoria dari cetakan. Penggunaan
lubrikan sesedikit mungkin untuk melapisi semua bagian cetakan tertutup, jika berlebihan dapat
menyebabkan deformasi suppo, jika kurang dapat menyebabkan kesulitan pengeluaran suppo dari
cetakan.
3. Lubrikan yang digunakan tidak bercampur (immisibel) dengan basis. Untuk basis larut air,
digunakan minyak mineral (contoh : parafin cair). Untuk basis larut lemak, digunakan gliserin,
air, air-gliserin, atau PEG 400.
4. Teknik lain untuk memudahkan pengeluaran suppositoria akhir dari cetakan adalah dengan
mendinginkan cetakan sebentar di freezer setelah suppositoria membeku pada suhu kamar.
Kontraksi tambahan dapat melepaskan suppositoria lebih mudah dari permukaan logam.

2. Pembuatan Basis Suppo


1. Pemanasan berlebihan harus dihindari dan basis yang telah dilelehkan dituang ke dalam cetakan
pada suhu sedikit di atas titik pembekuan untuk:
2. mencegah kristalisasi basis yang dapat menyebabkan suppositoria retak.
3. mencegah presipitasi obat yang tidak larut dalam basis ke ujung suppositoria dan mencegah
patahnya suppositoria.
4. Suhu pelehan basis oleum cacao 34-35oC, jika dipanaskan melebihi suhu ini menyebabkan
pembentukan bentuk α (tidak stabil), jika dipanaskan kurang dari suhu ini menyebabkan ol.cacao
sulit ditangani dan lengket di cetakan.
5. PEG merupakan basis yang sangat stabil pada suhu tinggi, pelelehan biasanya pada suhu 60oC.

3. Penyiapan Zat Aktif


1. Zat aktif sebaiknya digerus menjadi ukuran yang homogen, halus, dan dapat menjamin distribusi
yang merata dalam basis.
2. Maksimum zat aktif / zat tambahan lain yang boleh dimasukkan ke dalam basis adalah 30%.
Lebih dari 30% menyebabkan kerapuhan suppo.

4. Pencampuran dan Penuangan


1. Zat aktif dapat langsung dicampurkan ke dalam lelehan basis, atau dibasahkan dulu sebelum

22
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

dimasukkan.
2. Waktu pencampuran harus diperhatikan sampai diperoleh distribusi zat aktif yang homogen.
Pencampuran yang terlalu lama dapat menyebabkan penguraian zat aktif atau basis.
3. Campuran dalam lelehan kemudian dituang pada suhu kamar sampai cetakan terpenuhi sempurna
agar tidak terjadi lapisan-lapisan dalam suppo. Cetakan dingin tidak digunakan karena
menyebabkan fraktur. Hindarkan gelembung udara terjerat dalam lelehan.

5. Pendinginan dan Penyempurnaan


1. Lelehan dibiarkan dalam suhu kamar 15-30 menit diikuti dengan pendinginan tambahan di lemari
es selama 30 menit.

Pembuatan dan penuangan Suppositoria dengan cara leburan :


1. Cetakan suppositoria disiapkan, cetakan harus bersih dan kering.
2. Lubrikan dioleskan ke dalam cetakan, kemudian cetakan ditelungkupkan agar tidak terjadi
penumpukan lubrikan dalam cetakan.
3. Lelehkan basis di dalam mangkok porselin berbibir di atas penangas air pada suhu yang sesuai
(suhu serendah mungkin). Untuk basis oleum cacao , pelelehan dilakukan terhadap sebagian
oleum cacao terlebih dahulu. Setelah oleum cacao sedikit meleleh, sisa oleum cacao
ditambahkan ke dalam mangkok porselen tersebut secara geometris dengan memperhatikan
konsistensi lelehan.
4. Tambahkan zat aktif secara geometris hingga homogen (untuk basis oleum cacao pencampuran
basis dengan zat aktif sebaiknya dilakukan dengan cepat agar tidak terjadi pendinginan selama
proses pencampuran zat aktif dengan basis)
(Pengadukan dilakukan sewajarnya. Jika pengadukan terlalu cepat kemungkinan udara akan
terjerap di dalam cairan.)
5. Lelehan kemudian diisikan ke dalam cetakan (suhu cetakan sebaiknya sama dengan lelehan)
dengan bantuan batang pengaduk.
6. Penuangan dilakukan secara kontinu agar suppositoria tidak pecah akibat terjadinya lapisan-
lapisan.
7. Penuangan dilakukan secara berlebih pada permukaan cetakan untuk menghindari terjadinya
penurunan volume akibat pemadatan suppositoria. (Saat menuang ke dalam cetakan, sebaiknya
cetakan diisi berlebih (sedikit luber) karena saat dingin akan terjadi kontraksi volume. Dan
penuangan dilakukan menggunakan batang pengaduk dan disentuh pada dinding cetakan agar
udara tidak terjebak.)
8. Campuran dibiarkan memadat pada suhu kamar, kurang lebih 15 menit.
9. Campuran dimasukkan ke dalam lemari pendingin (suhu 8-10oC) selama 10 menit, kemudian
dimasukkan ke dalam frezer selama 5 menit.
10. Setelah memadat kelebihan massa dipotong, kemudian suppositoria dikeluarkan dari cetakan.

Masalah dalam Pembuatan atau produksi

Masalah Penyebab Solusi


Supositoria pecah, Kontraksi eksipien yang sangat Gunakan eksipien yang
pitting, & retak kuat mengkristal lebih lambat

Terlalu besarnya perbedaan Kurangi perbedaannya


23
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

suhu saat dituang dengan suhu dengan menurunkan suhu


pendinginan penuangan jika
memungkinkan atau
meningkatkan suhu
pendinginan atau keduanya
Supositoria menempel Cetakan yang tidak tepat Gunakan peralatan yang
pada cetakan atau ada gelembung/lubang sesuai
pada supo Misalnya jarum

Supo terlalu cepat


dikeluarkan dari cetakan Perpanjang lama pencetakan

Kontraksi eksipen yang


lemah sekali Gunakan eksipien yang
mengkristal dengan cepat
Pendinginan yang tidak
cukup Turunkan suhu pendinginan

Pengentalan masa Zat aktif dalam bentuk Gunakan massa yang


sebelum dituang padat larut sebagian pada mengandung zat anti
saat panas dalam eksipien; kristalisasi.
proporsi serbuk zat aktif
halus yang besar
Kurangnya Kurangnya pengadukan Perbaikan teknik
homogenitas
supositoria Suhu penuangan yang Kurangi suhu penuangan jika
terlalu tinggi mungkin

Pendinginan terlalu Naikkan suhu pendinginan


lambat atau lemah jika mungkin
Supositoria kurang Masuknya udara Periksa tingkat pengadukan
padat atau kurang dan tipe alat, pemanasan
keras cetakan supo (hangat), saat
bahan supo dimasukan dapat
dibantu dengan jarum untuk
mengurangi gelembung
udara.

Eksipien yang tidak tepat


Gunakan eksipien dengan
resistensi mekanikal yang
tinggi
Anomali atau Eksipien meleh pada suhu Penurunan suhu pelelehan,
keanehan pada diatas 60 ˚C dan cek sifat zat aktif
permukaan supo ; fat
bloom, pemutihan
Eksudasi/penetesan Komposisi eksipien yang Reformulasi larutan cair;
tidak tepat gunakan eksipien yang
mengandung emulsifier
24
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

(Lieberman, Pharmaceutical Dosage Form: Disperse Systems, Vol. 2, hal 560)

Masalah Akibat Kelarutan

Fase Fisik PADAT CAIR


Zat Aktif
Kelarutan Larut Tidak Larut Larut Tidak Larut
dalam
eksipien
Masalah Peningkatan Peningkatan Penurunan Larutan cair
yang titik leleh viskositas Titik leleh Gliserin,
mungkin campuran glikol, PEG
muncul Ekstrak
alkohol
Rekristalisasi Migrasi Perubahan Eksudasi
Kristalisasi Ukuran kristalisasi non air
gliserida partikel yang gliserida
sulit
(Lieberman, Pharmaceutical Dosage Form: Disperse Systems, Vol. 2, hal 561)

HAL-HAL YANG HARUS DIINGAT


 Telaah alasan penggunaan basis: kondisi pasien demam lebih baik gunakan basis lemak,
keuntungan dan kerugian basis, OTT, mekanisme penghancuran basis melarut, meleleh, melunak),
kompensasi efek zat aktif terhadap basis
 Untuk basis yang meleleh, kalau pakai peningkat titik leleh harus dihitung titik leleh basis setelah
penambahan peningkat titik leleh dengan perhitungan fraksi titik leleh, usahakan mendekati 35 °C.
 Peningkat titik leleh juga dapat digunakan sebagai peningkat viskositas lelehan suppo.
 Tidak perlu menggunakan pengawet karena basis tidak mengandung air, bukan media yang baik
untuk pertumbuhan mikroba.
 Antioksidan seperti BHT, BHA, tokoferol, asam askorbat digunakan untuk mencegah ketengikan
pada formulasi suppo yang menggunakan basis lemak. Tapi diperhatikan juga kalau BHT dan BHA
berpotensi sebagai iritan.
 Surfaktan dapat ditambahkan untuk mempertinggi kelarutan zat aktif larut lemak pada basis larut
air.
 Zat aktif yang larut air, dapat dilarutkan dengan sesedikit air atau pelarut lain yang dapat bercampur
dengan basis, dilarutkan dulu sebelum dicampur dengan basis.
 Zat aktif yang langsung dapat bercampur dengan basis terlebih dahulu digerus halus.
(ga tau pustakanya dari mana, ngutip dari guideline supo apt 2009)

VI. PENGEMASAN D A N PENYIMPANAN


A. PENGEMASAN
1. Suppositoria gliserin dan gelatin umumnya dikemas dalam wadah gelas ditutup rapat untuk
mencegah perubahan kelembapan suppositoria.
2. Suppo yang diolah dengan basis oleum cacao biasanya dibungkus secara individual terpisah satu
sama lain atau dipisahkan satu sama lainnya kotak berkompartemen untuk mencegah terjadinya
kontak antar suppo tersebut dan mencegah adhesi sesamanya.
Suppo dengan kandungan obat yang peka terhadap cahaya dibungkus satu persatu dalam bahan
25
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

tidak tembus cahaya (opaque) seperti lembaran logam (alufoil). Sebenarnya kebanyakan
suppositoria yang terdapat di pasaran dibungkus dengan alufoil atau bahan plastik satu per satu.
Beberapa di antaranya dikemas dalam strip kontinu berisi suppositoria yang dipisahkan dengan
merobek lubang-lubang yang terdapat di antara suppositoria tersebut. Suppo ini biasa juga
dikemas dalam kotak dorong (slide box) atau dalam kotak plastik
(Howard C. Ansel, Ansel’s Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System, 9th edition,
2011, page 327)

Suppo yang berbasis gliserin dan gelatin tergliserinasi sebaiknya dikemas dalam wadah botol bermulut
lebar dan tertutup rapat. Suppo berbasis oleum cacao dan polimer PEG biasanya masing-masing suppo
dikemas dalam kotak kardus yang dilapisi bahan kedap air dan diberi sekat. Suppo dapat dikemas
rapat dengan kertas logam atau wadah berlapis kertas lilin. Suppo yang mengandung bahan mudah
menguap seperti fenol dan mentol harus dikemas dalam wadah kaca yang tertutup rapat. (HUSA’S
Pharmaceutical dispensing, ed. 5, hal. 126)

Labelling
Label sediaan harus mengandung:
1. Nama dan jumlah senyawa aktif yang terkandung.
2. Sediaan tidak boleh ditelan.
3. Tanggal sediaan tidak boleh digunakan lagi.
4. Kondisi penyimpanan sediaan.
(BP 2002, hal.1895)
Petunjuk penyimpanan dalam ruangan dingin disampaikan kepada pasien. (HUSA’S
Pharmaceutical dispensing, ed. 5, hal. 126)

B. PENYIMPANAN
Sediaan suppositoria/ovula umumnya dipengaruhi panas, maka perlu dijaga dalam tempat dingin.
 Suppo yang basisnya oleum cacao harus disimpan di bawah 30 0C (86°F) dan akan lebih baik
apabila disimpan di dalam refrigerator (2°C to 8°C, or 36°F to 46°F).
 Suppo yang basisnya gelatin gliserin dapat disimpan pada controlled room temperature (20°C
to 25°C, or 68°F to 77°F)
 Suppo dengan basis polietilen glikol mungkin dapat disimpan pada suhu ruang biasa
Suppo yang disimpan dalam lingkungan yang kelembapan nisbinya tinggi mungkin akan
menarik uap air dan cenderung menjadi seperti spon, sebaliknya bila disimpan dalam tempat yang
kering sekali mungkin akan kehilangan kelembapannya sehingga akan menjadi rapuh.
(Howard C. Ansel, Ansel’s Pharmaceutical Dosage Form and Drug Delivery System, 9th edition,
2011, page 327)

VII.EVALUASI SEDIAAN AKHIR


A. EVALUASI FISIK

1. Uji Penampilan/homogenitas suppo/ovula (Liebermann, Pharmaceutical dosage forms:Disperse


system vol 2, hal 552)
 Tujuan : Melihat ada atau tidaknya distribusi zat aktif yang tidak merata, keretakan, lubang,
eksudasi cairan dan pengembangan lemak.
 Prinsip : Mengetahui distribusi zat berkhasiat di dalam basis suppo/ovula.

26
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

 Prosedur : Suppo dibelah secara longitudinal kemudian diamati secara visual pada bagian internal
dan bagian eksternal.Penampakan permukaan serta warna dapat digunakan untuk mengevaluasi
ketidakadaan:
 celah
 lubang
 eksudasi
 pengembangan lemak
 migrasi senyawa aktif
 Penafsiran hasil : Bagian internal dan eksternal dari suppo/ovula menunjukkan penampakan yang
seragam/homogen.
 Penampakan permukaan serta warna dapat digunakan untuk mengevaluasi ketidakadaan: celah,
lubang, pengembangan lemak, migrasi senyawa aktif.
2. Keragaman bobot suppositoria/ovula (European Pharmacopeia, 5th, uniformity of mass of single dose
preparations 2.9.5, hal. 233) Untuk suppo/ovula dengan massa berapapun
 Tujuan : Memastikan suppo yang dihasilkan memiliki rentang bobot yang tidak berbeda jauh.
 Prinsip : Penentuan standar deviasi dari bobot rata-rata suppo/ovula.
 Prosedur : Timbang masing-masing suppo sebanyak 20, diambil secara acak. Lalu tentukan bobot
rata-rata dan % deviasinya
 Penafsiran hasil : Tidak lebih dari 2 suppo yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-rata lebih
dari % deviasi, yaitu 5 % dan tidak ada yang menyimpang hingga 10 %.

3. Waktu hancur (BP 2008, A285; FI IV hal 1087-1088)


 Tujuan: Untuk menetapkan waktu hancur atau menjadi lunaknya suatu sediaan suppositoria dalam
waktu yang ditetapkan apabila dimasukkan dalam suatu cairan media pada kondisi percobaan yang
ditetapkan.
Uji ini perlu dilakukan terhadap suppo kecuali suppo yang ditujukan untuk pelepasan termodifikasi
atau kerja lokal diperlama
 Prinsip : penetapan waktu hancur suppo yang diletakkan dalam wadah berisi air sebanyak 4 Liter
dengan suhu 36-37oC yang dilengkapi dgn suatu pengaduk lambat & alat penopang.Suppo yang
digunakan untuk uji ini sebanyak 3 buah. Suppo diletakkan di bagian bawah ‘perforated disc’ pada
alat, kemudian dimasukkan ke silinder yang ada pada alat. Setiap 10 menit balikkan tiap
’perforated disc’ tanpa mengeluarkannya dari air.
 Alat : Uji waktu hancur untuk suppo.
 Penafsiran hasil : suppo dinyatakan hancur sempurna bila :
- Terlarut sempurna
- Terdispersi menjadi komponen bagian lemak cair yang dapat berkumpul pada permukaan (bahan
lemak meleleh), tenggelam di dasar (serbuk tidak larut) atau terlarut (komponen mudah larut)
atau dapat terdistribusi di satu atau lebih cara ini.
- Menjadi lunak dibarengi perubahan bentuk, tanpa terpisah sempurna menjadi komponennya,
massa tidak lagi memiliki inti padatan yang membuatnya tahan terhadap tekanan dari pengaduk
kaca.
 Syarat waktu hancur : 30 menit untuk suppo basis lemak dan tidak lebih dari 60 menit untuk suppo
basis larut air.

4. Waktu Pelunakan suppositoria basis lemak = uji penetrasi (2.9.22 Softening Time Determination of
Lipophilic Suppositories) (EP 5th, p. 256)

27
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

 Tujuan dan prinsip: Pengujian ini bertujuan untuk menentukan lamanya waktu yang dibutuhkan
suppositoria untuk bertahan hingga melunak dalam air dalam kondisi yang ditentukan (defined),
ditunjukkan dengan tidak adanya lagi penahanan saat diberikan beban.

(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rd ed,hal 586)

 Prosedur:
alat A

Alat B:

Penafsiran hasil :kalo liat di EP-nya langsung, gak ada kriteria penafsiran hasil ujinya (gak ada
ketentuan syarat berapa lama waktu pelunakan basis -->kalo TS yang dulu di-adopt dari waktu
hancur)
suppo dinyatakan hancur sempurna bila :
- Larut sempurna
- Terdispersi menjadi komponen bagian lemak cair yang dapat berkumpul pada permukaan (bahan
lemak meleleh), tenggelam di dasar (serbuk tidak larut) atau terlarut (komponen mudah larut)
atau dapat terdistribusi di satu atau lebih cara ini.
- Menjadi lunak dibarengi perubahan bentuk, tanpa terpisah sempurna menjadi komponennya,
massa tidak lagi memiliki inti padatan yang membuatnya tahan terhadap tekanan dari pengaduk
kaca.
 Syarat waktu hancur : 30 menit untuk suppo basis lemak dan tidak lebih dari 60 menit untuk suppo
basis larut air.

5. Uji ketegaran (BP 2008, A426 ; Lachman, hal 586-58)


 Tujuan : Menentukan ketegaran suppo melalui jumlah beban yang diperlukan untuk
menghancurkan suppo. Tes ini didasarkan untuk suppo dan ovula berbasis lemak. Uji ini tidak
sesuai untuk sediaan yang memiliki bahan pembantu hidrofilik, seperti campuran gelatin-gliserol.
 Prosedur: Cek apakah alat yang digunakan sudah dalam keadaan vertikal atau belum. Alat
dipanaskan sampai suhunya 25 oC. Sediaan yang akan diuji telah diletakkan dalam suhu yang
sesuai dengan suhu yang akan digunakan minimal 24 jam. Tempatkan sediaan di antara kedua
penjepit dengan bagian ujung menghadap ke atas.
Tunggu selama 1 menit dan tambahkan lempeng 200 g pertama. Tunggu lagi selama 1 menit dan
tambahkan lempeng berikutnya. Hal tersebut diulang dengan cara yang sama sampai sediaan
28
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

hancur. Massa yang dibutuhkan untuk menghancurkan sediaan dihitung berdasarkan jumlah massa
yang dibutuhkan untuk menghancurkan sediaan (termasuk massa awal yang terdapat pada alat).
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
 Apabila sediaan hancur dalam 20 detik setelah pemberian lempeng terakhir maka massa
yang terakhir ini tidak masuk dalam perhitungan.
 Apabila sediaan hancur dalam waktu antara 20 dan 40 detik setelah pemberian lempeng
terakhir maka massa yang dimasukkan ke dalam perhitungan hanya setengah dari massa
yang digunakan, misal 100 g.
 Apabila sediaan belum hancur dalam waktu lebih dari 40 detik setelah pemberian lempeng
terakhir maka seluruh massa lempeng terakhir dimasukkan ke dalam perhitungan.
Setiap pengukuran menggunakan 10 sediaan dan pastikan tidak terdapat residu sediaan sebelum
setiap pengukuran.
 Penafsiran hasil: suppositoria semakin tegar jika beban yang diperlukan semakin besar.

6. Penentuan titik leleh (hanya untuk basis lemak saja) gak tau sumber aslinya dari mana, dikutip
dari modul praktikum
Prosedur: Dengan menggunakan 3 suppositoria/ovula. Sekeping suppositoria/ovula dimasukkan dalam
pipa yang kedua ujungnya berlubang dan pipa tersebut dimasukkan ke dalam chamber kosong yang
sebagian terendam dalam air. Pasang termometer utama dan termometer pembantu pada lubang yang
telah disediakan untuk mencatat suhu leleh suppositoria/ovula yang diuji. Panaskan air dalam
chamber dengan pemanas elektrik. Suhu yang dicatat pada pada saat kepingan suppositoria/ovula yang
berada di dalam pipa tepat menetes. Titik leleh suppositoria/ovula :
Tr = T + 0,00015 N (N.t)
Keterangan :
Tr : titik leleh suppositoria/ovula yang telah dikoreksi
T : suhu yang tercatat pada termometer utama
t : suhu yang tercatat pada termometer pembantu
N : jumlah skala termometer pembantu terhitung dari permukaan penangas pada saat kepingan
suppositoria/ovula tepat menetes

7. Keseragaman sediaan  keseragaman kandungan (FI IV Suplemen I, <911> hal)


 Tujuan: Untuk menentukan kadar zat aktif dalam masing-masing suppositoria.
 Penafsiran hasil : Kadar zat aktif dalam 10 satuan suppo harus berada dalam rentang 85.0 – 115.0%
dari yang tertera pada etiket dan variasi tidak besar (RSD < 6%).
 Prosedur: 30 suppositoria/ovula diambil secara acak, kemudian dilakukan penentuan kadar
terhadap 10 suppo. Kecuali dinyatakan lain persyaratan keseragaman dosis dipenuhi jika kadar ZA
dalam masing-masing 10 satuan sediaan terletak antara 85,0%-115,0% dari yang tertera pada etiket
dan simpangan baku relatif kurang dari atau sama dengan 6,0%.
Jika satu satuan berada di luar rentang tersebut, tetapi dalam rentang 75,0%-125,0% dari yang
tertera dalam etiket, atau simpangan baku relatiof lebih besar dari 6,0%, atau jika kedua kondisi
tidak dipenuhi, dilakukan uji 20 satuan tambahan. Persyaratan dipenuhi jika tidak lebih dari satu
satuan dari 30 terletak diluar rentang 85,0-%-115,0% dari yang tertera pada etiket dan tidak ada
satuan terletak di luar rentang 75,0%-125,0% dari yang tertera pada etiket dan simpangan baku
relatif dari 30 satuan sediaan tidak lebih dari 7,8% (FI ed IV hal 999-1000)

8. Uji penetrasi (Lachman, pharmaceutical dosage form, hal 552-553) (bisa juga di E.P yang softening
time) (bila perlu)
 Tujuan: Untuk menentukan waktu melunak atau melarut suppositoria/ovula.
29
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

 Prosedur: Alat yang digunakan mempunyai tiga tabung uji yang dicelupkan dalam wadah penangas
air suling dengan suhu 37C. Pada tabung uji ini diamati waktu yang diperlukan oleh batang
penetrasi untuk menembus suppositoria/ovula. Waktu pelunakan atau pelarutan suppositoria/ovula
adalah rata-rata dari 3 penentuan yang dilakukan.

9. Uji Disolusi (Abdou, Dissolution, Bioavaibility and Bioequivalence, TA A 673;Leon Lachman, 1990,
hal587)
 Tujuan : mengetahui kecepatan pelepasan zat aktif dari sediaan suppo secara in vitro.
 Tidak ada alat khusus untuk uji disolusi sediaan suppo.
 Pada umumnya alat uji disolusi dan prosedurnya mengikuti alat uji dan prosedur disolusi sediaan
tablet.
 Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi disolusi dari sediaan suppo : pengaruh surfaktan dan
kelarutan, pengaruh viskositas, zat tambahan dan ukuran partikel zat aktif.
 Hanya dilakukan untuk suppo atau ovula dengan tujuan pemakaian sistemik

(Lachman, Theory and Practice of Industrial Pharmacy 3rd ed,hal 587)

B. EVALUASI KIMIA (mengacu pada bab analisis)


1. Identifikasi
(metode utama, prinsip, prosedur)

2. Penetapan Kadar
(metode utama, prinsip, prosedur)

Prosedur evaluasi kimia harus mengacu terlebih dahulu pada data monografi sediaan (di buku FI IV
atau buku resmi lainnya).

C. EVALUASI BIOLOGI
1. Uji potensi antibiotik (untuk zat aktifnya antibiotik) (FI IV <131>, hal 891-899)
Jangan lupa masukkan ke jumlah sediaan yang akan dibuat bila zat aktif antibiotik.

VIII.CONTOH FORMULA DI PUSTAKA


1. Suppositoria aminofilin ( Fornas P 21, HC Ansel,593 )
30
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

2. Suppositoria aspirin (HC Ansel, 593)


3. Suppositoria bibaza / anusol ( Fornas P 50 )
4. Suppositoria bisakodil ( BP 2009 hal. 8130; Fornas P 51 )
5. Suppositoria klorpromazin ( BP 2009 hal. 8323)
6. Suppositoria etamifilin ( BP 2001)
7. Suppositoria flurbiprofen ( BP 2009 hal. 8914)
8. Suppositoria gliserol ( BP 2009 hal. 8994)
9. Suppositoria indometasin ( BP 2009 hal. 9134)
10. Suppositoria metronidazol ( BP 2009 hal. 9428)
11. Suppositoria morfin ( BP 2009 hal. 9478)
12. Suppositoria naproxen ( BP 2002 hal. 1895)
13. Suppositoria parasetamol ( BP 2002 hal. 1895)
14. Suppositoria pentazosin ( BP 2002 hal. 1895)

IX. FORMULA DI PUSTAKA


1. Suppositoria Aminofilin (Fornas hal 21)
Aminofilin 250 mg
Suppo dasar yang cocok q.s.

2. Suppositoria Anusol/Bibaza (Fornas hal 50)


Bismuth subgallas 75 mg
Balsamum Peruvianum 125 mg
Acidum Boricum 360 mg
Zincocydum 360 mg
Ultramarinum 3,4 mg
Cera flava 100 mg
Oleum Cacao hingga 2,6 mg

3. Suppositoria Bisakodil (Fornas hal 51)


Bisakodil 10 mg
Suppo dasar yang cocok q.s

NOTE: Jika tidak dinyatakan lain, sebagai suppo dasar digunakan lemak coklat dan untuk
memperoleh massa suppo yang baik, sebagian lemak coklat dapat diganti dengan malam putih
dalam jumlah yang sesuai. Suppo yang dibuat dengan menggunakan suppo dasar lemak coklat
berbobot antara 1-2 g (Fornas hal 333)

4. Suppositoria Bismuth Subgalat (BPC 1973 hal. 796-798)


Bismuth Subgalat 200 mg
Resorsinol 60 mg
ZnO 120 mg
Castor oil 60 mg
Theobroma oil/basis lemak lain hingga 1 g
Bilangan Pengganti (BP): 1 g theobroma oil setara dengan 3 g bismuth subgalat
“ 5 g ZnO
“ 1 g Castor oil
“ 1,5 g resorsinol

31
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

5. Suppositoria Chlorpromazine (BPC 1973 hal. 796-798)


Chlorpromazine 100 mg
Minyak nabati terhidrogenasi/basis yang cocok

6. Suppositoria Cinchocaine (BPC 1973 hal. 796-798)


Cinchocaine Hidroklorida 11 mg
Theobroma oil/basis lemak
BP 1 g Theobroma Oul setara dengan 1,5 g Chonchocaine Hidroklorida

7. Suppositoria Hamamelis (BPC 1973 hal. 796-798)


Ekstrak kering Hamamelis 200 mg
Theobroma oil/basis lemak yang cocok
BP: 1 g theobroma oil setara dengan 1,5 g ekstrak kering Hamamelis

8. Suppositoria Hamamelis dan ZnO (BPC 1973 hal. 796-798)


Ekstrak kering Hamamelis 200 mg
ZnO 600 mg
Theobroma oil / basis lemak yang cocok hingga 2 g

9. Suppositoria Hidrokortison (BPC 1973 hal. 796-798)


Hidrokortison/Hidrokortisaon asetat 25 mg
Theobroma oil/basis lemak yang cocok
BP : 1 g Theobroma oil setara dengan 1,5 g hidrokortison / hidrokortison asetat

10. Suppositoria Morphine (BPC 1973 hal. 796-798)


Morfin hidroklorida/morfin sulfat 15 atau 30 atau 60 mg
Theobroma oil / basis lemak yang cocok

NOTE: Theobroma oil dapat diganti dengan basis lain yang cocok seperti palm kemel oil
terfraksionasi atau minyak nabati terhidrogenasi lain yang cocok, dimana titik leleh suppo tidak
lebihdari 370C. Jika suppo digunakan pada negara tropis dan subtropis, titik leleh basis dapat
ditingkatkan dengan penambahan white beeswax atau basis yang memiliki titik leleh lebih tinggi.
Penggunaan suppo gliserol sebagai basis terbatas karena gelatin inkompatibel dengan tanin. (BPC
1973 hal. 795).
A. Analgesik, antipiretik (Lachman Pharmaceutical Dosage forms Disperse system hal 563)
11. Aspirin 500 mg
Novata B 1500 mg

12. Parasetamol 200 mg


Kodein Fosfat 20 mg
Aspirin 150 mg
Witepsol H35 hingga 2000 mg

B. Bronkopulmonari, Antitusif(Lachman Pharmaceutical Dosage forms Disperse system hal 563)


13. Prophythenazone 1250 mg
Theofilin 310 mg
Kafein 625 mg
Efedrin HCl 310 mg
Atropin metilbromida 1 mg
32
TEORI SEDIAAN APT ITB AGUSTUS 2013/2014 SUPPOSITORIA/OVULA

Witepsol H15 hingga 2000 mg


14. Theofilin 400 mg
Fenobarbital 20 mg
Suppocire AML 1580 mg

C. Antibiotik (Lachman Pharmaceutical Dosage forms Disperse system hal 563)


15. Teramycin 200 mg
Suppocire M 1800 mg

D. Kardiovaskular (Lachman Pharmaceutical Dosage forms Disperse system hal 563)


16. Serbuk daun Digitalis 50 mg
Theobromin Sodium Salisilat 250 mg
Witepsol S55 hingga 2000 mg

17. Phenylethylbarbituric acid 50 mg


Ekstrak Beladon 40 mg
Laktosa 40 mg
Gliserol 78% 80 mg
Witepsol hingga 2000 mg

E. Antihemorrhoidal (Lachman Pharmaceutical Dosage forms Disperse system hal 563)


18. Benzokain 50 mg
Metanol 20 mg
Resorcin 10 mg
ZnO 300 mg
Hamamelis (ekstrak cair) 50 mg
Witepsol hingga 2000 mg

19. Anhydrous Bismuth Oxide 23 mg


Resorsinol 23 mg
Bismuth subgalat 53 mg
Bismuth oxyiodide 1 mg
ZnO 278 mg
Asam borat 477 mg
Peruvian balsam 46 mg
Suppocire 1899 mg

FORMULA DI HUSA’S PHARMACEUTICAL DISPENSING, ED.5. HAL. 126 :


20. Asam asetilsalisilat 1,0 mg
Na fenobarbital 0,1 mg
PEG hingga 3,0 mg

21. Asam asetilsalisilat 0,4 mg (untuk anak-anak)


Ekstrak Beladona 0,03 mg
PEG qs

22. Aminofilin 0,5 mg


Amobarbital 30 mg
PEG qs
33