Anda di halaman 1dari 16

BAB I

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Nn. N
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 16 tahun
Agama : Islam
Alamat : Jl. Tanjung Rayano !4.A
No.RM :25 48 99
Tgl.Pemeriksaan : 24 04 2018
Tempat Pemeriksaan : RS.Pelamonia

B. ANAMNESIS
1. Keluhan Utama : Nyeri pada kelopak mata
2. Anamnesis Terpimpin:
Seorang perempuan datang ke RS.pelamonia dengan keluhan benjolan
pada kelopak mata bawah yang sudah dirasakan sejak 6 hari yang lalu. Pasien
merasakan benjolannya muncul tiba-tiba dan semakinl lama semakin membesar.
Benjolan terasa nyeri berwarna merah dan terasa mengganjal. Serta terasa nyeri
bila disentuh. Penurunan penglihatan tidak ada. Kotoran mata tidak ada. Riwayat
trauma mata tidak ada.

3. Riwayat penyakit sistemik :


Tidak ada.

4. Riwayat alergi :
Tidak ada.

5. Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak Ada

1
6. Riwayat Pemakaian Kacamata :
Tidak Ada

7. Riwayat Pengobatan :
Tidak ada

C. STATUS GENERAL
Kesadaran : Kuantitatif = GCS 15, composmentis
Kualitatif = baik, tidak berubah
Nadi : 86 x/menit
Pernapasan : 20 x/menit

D. STATUS LOKALISASI OFTALMOLOGIS


1. Pemeriksaan Inspeksi
OD OS

Edema (+) Benjolan (+) Edema (-)


Palpebra
dan tampak pus Benjolan (-)

Silia Sekret (-) Sekret (-)


Apparatus Lakrimalis Lakrimasi (-) Lakrimasi (-)
Konjungtiva Hiperemis (+) Hiperemis (-)
Bola Mata Normal Normal
Mekanisme Muskular Normal ke segala arah, Normal ke segala arah
Kornea Jernih Jernih
Bilik Mata Depan Kesan normal Kesan normal
Iris Cokelat Cokelat
Pupil Kesan bulat Kesan bulat
Lensa Jernih Jernih

2
2. Pemeriksaan Palpasi
Palpasi OD OS
TIO Tn Tn
Nyeri Tekan Ada Tidak ada
Massa Tumor Tidak Tidak ada
Glandula pre-aurikuler Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran

3. Tonometri
Tidak dilakukan pemeriksaan tonometri
4. Visus
VOD : 6/6 (tidak dikoreksi)
VOS : 6/6 (tidak dikoreksi)
5. Pemeriksaan Slit Lamp
SLOD: Palpebra edem (+), benjolan SLOS: Palpebra edem (-),silia:
(+) tampk pus silia : secret (-), secret (-), konjungtiva hiperemis
konjungtiva hiperemis (+), kornea (-), kornea jernih, bilik mata
jernih, bilik mata depan normal, iris depan normal, iris coklat pupil
coklat pupil bulat,lensa jernih. bulat, lensa jernih

Gambar 1 foto OD palpebra inferioir dengan hordeolum eksternum

6. Pemeriksaan Funduskopi
Tidak dilakukan pemeriksaan funduskopi.

3
E. RESUME
Seorang perempuan datang ke RS.pelamonia dengan keluhan benjolan pada
kelopak mata yang sudah dirasakan sejak 6 hari yang lalu. Pasien merasakan
benjolannya muncul tiba-tiba dan semakin lama semakin membesar. Benjolan terasa
nyeri berwarna merah dan terasa mengganjal. Serta terasa nyeri bila disentuh.
Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan inspeksi palpebra OD tampak
benjolan, adanya edema dan terdapat pus. konjungtiva hiperemis (+) pada oculi
dextra. Visus OD 6/6, OS 6/6. Pada pemeriksaan Slit lamp OD didapatkan palpebra
inferior edem (+) benjolan pada palpebra inferior dan terdapat pus.

F. DIAGNOSIS KERJA

Oculi Dextra Hordeolum Eksternum

G. DIAGNOSIS BANDING
- Kalazion
- Blefaritis
- Karsinoma palpebra

H. TERAPI
Medikamentosa
- Cendo Xytrol EO (zalf mata) 3 dd qs
- Dicloxacilin 4x 500 mg
- Asam mefenamat 3x500 mg

I. PROGNOSIS
Quo ad vitam : bonam
Quo ad sanationam : dubia ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad cosmeticum : dubia ad bonam

4
J. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium,
pasien ini didiagnosis dengan hordeolum eksternum OD. Dimana dari hasil anamnesa
didapatkan bahwa pasien mengeluhkan benjolan di kelopak mata bawah kanan sejak
6 hari yang lalu yang awalnya kecil, semakin lama semakin membesar. Benjolan
terasa nyeri berwarna merah, kelopak mata kanan bawah mengalami edem, serta
terasa mengganjal,
Salah satu penyakit yang dapat menimbulkan gejala pembengkakan pada
kelopak mata adalah infeksi seperti hordeolum. Sesuai dengan teori bahwa hordeolum
merupakan infeksi yang terjadi pada kelopak mata, yang ditandai dengan gejala
radang pada kelopak mata seperti bengkak, mengganjal dengan rasa sakit, merah, dan
nyeri bila ditekan. Pada hordeolum juga sering terjadinya abses yang diawali oleh
pembentukan pus oleh Staphylococcus yang akhirnya dapat pecah dan dapat memicu
infeksi sekunder.
Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan inspeksi palpebra OD tampak
benjolan, tampak edem, dan terdapat pus. Visus OD 6/6, OS 6/6. Pada pemeriksaan
Slit lamp OD didapatkan benjolan pada palpebra inferior, terdapat edem, dan terdapat
pus. Pembengkakan yang terjadi pada kulit keopak mata menunjukkan bahwa
hordeolum yang terjadi adalah hiordeolum eksternum. Hordeolum eksternum,
merupakan infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll yang akan menunjukkan penonjolan
terutama ke daerah kulit kelopak dan nanah.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi dan Fisiologi Kelopak Mata

Gambar 2. Anatomi Palpebra

Palpebra atau kelopak mata adalah lipatan tipis kulit, otot, dan jaringan fibrosa
yang berfungsi melindungi struktur-struktur jaringan mata, serta mengeluarkan
sekresi kelenjar yang membentuk film air mata disepan kornea. Palpebra merupakan
alat menutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata terhadap trauma, trauma
sinar, dan pengeringan bola mata.1,2
Palpebra mempunyai lapisan kulit yang tipis pada bagian depan sedangkan
dibagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal.
Palpebra terdiri beberapa bagian, yaitu :
1. Kelenjar
Seperti kelenjar sebasea, kelenjar Moll atau kelenjar keringat, kelenjar Zeis pada
pangkal rambut, dan kelenjar Meibom pada tarsus.
2. Otot
Seperti M. orbikularis okuli yang berjalan melingkar didalam kelopak mata atas dan
bawah, dan terletak dibawah kulit kelopak. Pada tepi margo palpebra terdapat otot
orbikularis okuli yang disebut M.Rioland. M.orbikularis okuli berfungsi menutup bola

6
mata yang dipersarafi oleh N.fasial. M.levator palpebra yang berorigo pada annulus
foramen orbita dan berinsersi pada tarsus atas dengan sebagian menembus
M.orbikularis okulli menuju kulit kelopak bagian tengah. Bagian kulit tempat insersi
M.levator palpebra terlihat sebagai sulkus palpebra. Otot ini dipersarafi oleh N.III
yang berfungsi untuk mengangkat kelopak mata atau membuka mata.2
3. Tarsus
Didalam kelopak mata terdapat tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan kelenjar
didalamnya atau kelenjar Meibom yang bermuara pada margo palpebra.2
4. Septum orbita
Septum orbita merupakan jaringan fibrosis yang berasal dari rima orbita merupakan
pembatas isi orbita dengan palpebra superior.3

Gambar 3 Bagian-bagian Palpebra

Margo palpebra dipisahkan oleh garis abu-abu (batas mukokutan) menjadi


margo anterior dan posterior. Margo anterior terdiri dari bulu mata, glandula Zeiss
dan Moll.Glandula Zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara
dalam folikel rambut pada dasar bulu mata.Glandula Moll adalah modifikasi kelenjar
keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata.Margo posterior
berhubungan dengan bola mata, dan sepanjang margo ini terdapat muara-muara kecil
dari kelenjar sebasesa yang telah dimodifikasi (glandula Meibom atau tarsal). 1,2

7
Punktum lakrimalis terletak pada ujung medial dari margo posterior palpebra.
Punktum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui kanalikulus ke
sakus lakrimalis. 1,2
Fisura palpebrae adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang
dibuka.Fisura ini berakhir di kantus medialis dan lateralis. Kantus lateralis kira-kira
0,5 cm dari margo lateral orbita dan membentuk sudut tajam. Septum orbital adalah
fascia di belakang bagian muskularis orbikularis yang terletak di antara margo orbita
dan tarsus dan berfungsi sebagai pemisah antara palpebra orbita. Septum orbitale
superius menyatu dengan tendo dari levator palpebra superior dan tarsus superior;
septum orbitale inferius menyatu dengan tarsus inferior. 1,2
Pembuluh darah yang memperdarahi palpebrae adalah a. Palpebra. Persarafan
sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V, sedang kelopak
mata bawah oleh cabang kedua nervus V. 1,2

B . HORDEOLUM EKSTERNUM
1. DEFINISI
Hordeolum adalah salah satu penyakit yang cukup sering terjadi pada kelopak
mata.Secara klinis kelainan ini sering sulit dibedakan dengan kalazion akut.
Hordeolum merupakan infeksi lokal atau peradangan supuratif kelenjar kelopak mata.
Bila kelenjar Meibom yang terkena disebut hordeolum internum, sedangkan bila
kelenjar Zeiss atau Moll yang terkena maka disebut hordeolum eksternum.Hordeolum
adalah infeksi kelenjar pada palpebra.Bila kelenjarMeibom yang terkena, timbul
pembengkakan besar yang disebut hordeolum interna. Sedangkan hordeolum eksterna
yang lebih kecil dan superfisial adalah infeksi kelenjar Zeiss atau Moll. Data
epidemiologi internasional menyebutkan bahwa hordeolum merupakan jenis penyakit
infeksi kelopak mata yang paling sering ditemukan pada praktek kedokteran. insidensi
tidak tergantung pada ras dan jenis kelamin.3
2. KLASIFIKASI
Dikenal 2 bentuk hordeolum, yaitu hordeolum internum dan eksternum.
Penjelasannya adalah sebagai berikut :
a. Hordeolum eksternum
Hordeolum eksternum merupakan infeksi pada kelenjar Zeiss atau Moll
dengan penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak.Pada hordeolum eksternum,

8
nanah dapat keluar dari pangkal rambut. Tonjolannya ke arah kulit, ikut dengan
pergerakkan kulit dan mengalami supurasi, memecah sendiri ke arah kulit.2

Gambar 4. Hordeolum Eksternum


b. Hordeolum internum
Hordeolum internum merupakan infeksi kelenjar Meibom yang terletak di
dalam tarsus dengan penonjolan terutama ke daerah kulit konjungtiva
tarsal.Hordeolum internum biasanya berukuran lebih besar dibandingkan hordeolum
eksternum. Pada hordeolum internum, benjolan menonjol ke arah konjungtiva dan
tidak ikut bergerak dengan pergerakan kulit, serta jarang mengalami supurasi dan
tidak memecah sendiri.2

Gambar 5. Hordeolum Internum


3. ETIOLOGI
Staphylococcus aureus adalah agen infeksi pada 90-95% kasus hordeolum.2
4. FAKTOR RESIKO
Faktor resiko hordeolum adalah sebagai berikut :

a. Penyakit kronik.

b. Kesehatan atau daya tahan tubuh yang buruk.

c. Peradangan kelopak mata kronik, seperti Blefaritis.

9
d. Diabetes.

e. Hiperlipidemia, termasuk hiperkolesterolemia.

f. Riwayat hordeolum sebelumnya.

g. Higiene dan lingkungan yang tidak bersih.

h. Kondisi kulit seperti dermatitis seboroik.2

5. PATOGENESIS

Patogenesis terjadinya hordeolum eksterna diawali dengan pembentukan


nanah dalam lumen kelenjar oleh infeksi Staphylococcus aureus. Biasanya mengenai
kelenjar Zeis dan Moll.Selanjutnya terjadi pengecilan lumendan statis hasil sekresi
kelenjar. Statis ini akan mencetuskan infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus.
Terjadi pembentukan nanah dalam lumen kelenjar. Secara histologis akan tampak
gambaran abses, dengan ditemukannya PMN dan debris nekrotik. Hordeolum interna
terjadi akibat adanya infeksi sekunder kelenjar Meibom di lempeng tarsal.4,5

6. MANIFESTASI KLINIK

a. Gejala

1) Pembengkakan.

2) Rasa nyeri pada kelopak mata.

3) Perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata.

b. Tanda

1) Eritema.

2) Edema.

3) Nyeri bila ditekan di dekat pangkal bulu mata.

4) Seperti gambaran absces kecil.6

10
7. PENATALAKSANAAN
Biasanya hordeolum dapat sembuh sendiri dalam waktu 5-7 hari.
a. Non farmakologi

1) Kompres hangat 4-6 kali sehari selama 15 menit tiap kalinya untukmembantu
drainase. Lakukan dengan mata tertutup.

2) Bersihkan kelopak mata dengan air bersih atau pun dengan sabun atau sampo
yang tidak menimbulkan iritasi, seperti sabun bayi. Hal ini dapat mempercepat
proses penyembuhan. Lakukan dengan mata tertutup.

3) Jangan menekan atau menusuk hordeolum, hal ini dapat menimbulkan infeksi
yang lebih serius.

4) Hindari pemakaian make-up pada mata, karena kemungkinan hal itu menjadi
penyebab infeksi.

5) Jangan memakai lensa kontak karena dapat menyebarkan infeksi ke kornea.

b. Farmakologi

Antibiotik diindikasikan bila dengan kompres hangat selama 24 jam tidak ada
perbaikan dan bila proses peradangan menyebar ke sekitar daerah hordeolum.
1) Antibiotik topikal
Bacitracin atau tobramicin salep mata diberikan setiap 4 jam selama 7-10 hari.
Dapat juga diberikan eritromisin salep mata untuk kasus hordeolum eksterna dan
hordeolum interna yang ringan. 6
2) Antibiotik sistemik
Antibiotik sistemik yang diberikan eritromisin 250 mg atau 125-250 mg,
dikloksasin 4 kali sehari, dapat juga diberi tetrasiklin. 6
Diberikan bila terdapat tanda-tanda bakterimia atau terdapat tanda pembesaran
kelenjar limfe di preauricular. Pada kasus hordeolum internum dengan kasus yang
sedang sampai berat. Dapat diberikan cephalexin atau dicloxacilin 500 mg per oral
4 kali sehari selama 7 hari. Bila alergi penisilin atau cephalosporin dapat diberikan
clindamycin 300 mg oral 4 kali sehari selama 7 hari atau klaritromycin 500 mg 2
kali sehari selama 7 hari.6

11
c. Pembedahan
Bila dengan pengobatan tidak berespon dengan baik, maka prosedur pembedahan
mungkin diperlukan untuk membuat drainase pada hordeolum.Pada insisi hordeolum
terlebih dahulu diberikan anestesi topikal dengan pantokain tetes mata. Dilakukan
anestesi filtrasi dengan prokain atau lidokain di daerah hordeolum dan dilakukan
insisi yang bila :

1) Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak lurus pada
margo palpebra. Pada hordeolum internum insisi sebaiknya dilakukan pada
konjungtiva tarsal, tegak lurus margo palpebra untuk menghindari banyaknya
kelenjar-kelenjar yang tersayat.

2) Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra. Pada


hordeolum eksternum dimana didapatkan fluktuasi yang menandakan adanya
abses, insisi dilakukan dari arah luar. Dalam hal ini insisi dibuat horizontal sejajar
dengan margo palpebra. Kemudian diberi salep mata dan bebat mata.

Setelah dilakukan insisi, dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi jaringan
meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberikan salep antibiotik.6

8. KOMPLIKASI
Komplikasi hordeolum adalah mata kering, simblefaron, abses, atau selulitis
palpebra yang merupakan radang jaringan ikat jarang palpebra di depan septum orbita
dan abses palpebra.6
9. PENCEGAHAN
Pencegahan hordeolum dapat dilakukan dengan cara berikut :
a. Menjaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan sebelum menyentuh
wajah agar hordeolum tidak mudah berulang.
b. Mengusap kelopak mata dengan lembut menggunakan washlap hangat untuk
membersihkan ekskresi kelenjar lemak.
c. Menjaga kebersihan peralatan make-up mata agar tidak terkontaminasi oleh
kuman.
d. Menggunakan kacamata pelindung jika bepergian di daerah berdebu.6

12
10. PROGNOSIS
Prognosis umumnya baik, karena proses peradangan pada hordeolum bisa
mengalami penyembuhan dengan sendirinya, asalkan kebersihan daerah mata
tetap dijaga dan dilakukan kompres hangat pada mata yang sakit serta terapi
yang sesuai.6
C. Kalazion
Kalazion merupakan peradangan kelenjar Meibom yang tersumbat. Pada
kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom dengan infeksi ringan yang
mengakibatkan peradangan kronis kelenjar tersebut.
Kalazion akan memberikan gejala adanya benjolan pada kelopak, tidak
hiperemi, tidak ada nyeri tekan dan adanya pseudoptosis. Kelenjar preurikel tidak
membesar. Kadang-kadang mengakibatkan perubahan bentuk bola mata akibat
tekanannya sehingga terjadi kelainan refraksi pada mata tersebut. Terkadang
kalazion sembuh atau hilang dengan sendirinya akibat diabsorpsi. 7,8
Biopsi diindikasikan pada kalazion-berulang karena tampilan karsinoma
kelenjar meibom dapat mirip tampilan kalazion. Eksisi bedah dilakukan melalui
insisis vertikal kedalam kelenjar tarsal dari permukaan konjungtiva, diikuti kuretase
materi gelatinosadan epitel kelenjarnya dengan hati-hati. Penyuntikan steroid
intaralesi saja mungkin dapat bermanfaat untuk lesi kecil; tindakan ini
dikombinasikan dengan tindakan bedah pada kasus-kasus sulit. 7

Gambar 6 Kalazion

13
D. Blefaritis
Blefaritis adalah radang pada kelopak mata atau tepi kelopak. Blefaritis dapat
disebabkan infeksi dan alergi berjalan kronis ataupun menhun. Blefaritis alergi dapat
terjadi akibat debu, asap, bahan kimia iritatif, dan bahan kosmetik. Infeksi kelopak
mata disebabkan kuman Streptococcus alfa atau beta, pneumococcus dan
pseudomonas. Gejala umum pada blefaritis adalah kelopak mata merah, bengkak,
nyeri, eksudat lengket dan epiforia. 7,8
Biasanya blefaritis sebelum diobati dibersihkannya dengan garam fisiologis
hangat, dan kemudian diberikan antibiotik yang sesuai. Penyulit blefaritis yang
dapat timbul adalah konjungtivitis, keratitis, hordeolum, kalazion, dan madarosis. 11

Gambar 7 Blefaritis

E. Karsinoma palpebra

Gambar 8 Adenocarsinoma palpebra superior

14
Salah satu karsinoma palpebra yang paling sering terjadi adalah karsinoma sel
basal, yang merupakan keganasan yang berasal dari sel nonkeratosis yang berasal
dari lapisan basal epidermis. Paling sering mengenai pinggir bawah palpebra (50-
60%) dan dekat kantus medial (25-30%), jarang mengenai palpebra superior (15%).
Berupa benjolan yang transparan, bagian sentral benjolan tersebut mencekung dan
halus. Tumbuh lambat dan disertai ulserasi dan menyebabkan kerusakan hebat
disekitarnya. Umumnya ditemukan didaerah berambut dan jarang bermetastase. 7,10
Pemilihan tatalaksana KSB dipertimbangkan berdasarkan lokasi anatomis dan
gambaran histopatologi. Secara garis besar, terapi KSB dikelompokkan menjadi
teknik bedah dan non-bedah.12

Gambar 9 Karsinoma sel basal palpebra

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Pearce, E. 2010. Anatomi dan Fisiologi Untuk Paramedis. Jakarta : PT Gramedia


2. Ilyas S, Yulianti SR. 2011. Ilmu Penyakit Mata Edisi Keempat. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI
3. Vaughan, D.G. Oftalmologi Umum, Edisi 14, Cetakan I, Widya Medika, Jakarta,
2000
4. Michael ED. Hordeolum. 2009. Available from : http://translate.google.
co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://emedicine.medscape. com /
article/1213080-overview
5. Michael JB. Hordeolum. 2010. Available from :
http://translate.google.co.id/translate?hl=id&langpair=en|id&u=http://emedicine.med
scape. com/ article/798940-overview
6. Sidarta I, SR Yulianti. Ilmu Penyakit Mata, Cetakan IV, Balai PenerbitFK UI, Jakarta
2011
7. Vaughan, DG. 2012. Oftalmologi Umum. Jakarta : Widya Medika
8. Ilyas S, Yulianti SR. 2011. Ilmu Penyakit Mata Edisi Keempat. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI
9. Reisa R, Usak J, dkk. Sistem Pakar Untuk Diagnosis Penyakit Mata. JSIKA; 2013 :
2(2)
10. Yanoff M, Sassani JW. 2002. Ocular Pathology Sixth Edition. Piledelphia : Mosby
Elseveir
11. Sidharta I.Ilmu Penyakit Mata. FK UI, Jakarta:2009
12. http://www.kalbemed.com/PortalsDiagnosis/TatalaksanaKarsinomaSelBasal.pdf

16