Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN

IMPELEMENTASI REVOLUSI KERJA

Budaya Papan Senyum

DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP


PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

Disusun Oleh :

AHMAD YANI, A. Ma
NIP. 19660508 199003 1 008

DIKLAT REVOLUSI MENTAL ANGKATAN VIII


BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA
PROVINSI KALIMANTAN TENGAH
TAHUN 2018
DAFTAR ISI

HALAMAN
DAFTAR ISI ............................................................................................................ i
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
1.1. LATAR BELAKANG .............................................................................. 1
1.2. PERMASALAHAN ................................................................................. 2
1.3. TUJUAN................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 4
2.1. REVOLUSI MENTAL UNTUK PELAYANAN PUBLIK ..................... 4
2.2. STRUKTUR KURIKULUM REVOLUSI MENTAL ............................. 9
2.3. BUDAYA KERJA APARATUR NEGARA ......................................... 10
2.4. BUDAYA 3S (SENYUM, SAPA, SALAM) ......................................... 11
BAB III HASIL ..................................................................................................... 14
3.1. PENERAPAN PAPAN SENYUM DI LINGKUNGAN
DINAS PERPUSTAKAAN DAN ARSIP ................................................ 14
BAB IV PENUTUP .............................................................................................. 16
4.1. KESIMPULAN ...................................................................................... 16
4.2. SARAN................................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 17

i|Page
DAFTAR GAMBAR

HALAMAN
Gambar 3.1. Budaya Kerja Papan Senyum…………………………………. 15
Gambar 3.2. X-Banner……………………………………………………… 15

ii | P a g e
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Dinas Perpustakaan dan Arsip berdiri berdasarkan SK Menteri PP
dan K Nomor : 134774/S tanggal 22 Desember 1958. Pada waktu itu diberi
nama Perpustakaan Negara Departemen PP dan K, kemudian berubah nama
menjadi Perpustakaan Wilayah Depdikbud Provinsi Kalimantan Tengah
mulai tahun 1979-1990 masih berada di bawah Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan. Selanjutnya melalui Keppres Nomor : 11 Tahun 1989
Perpustakaan Wilayah berkembang menjadi Perpustakaan Daerah
Kalimantan Tengah dan merupakan Lembaga Pemerintah Non Departemen.
Setelah itu berubah lagi menjadi Perpustakaan Nasional Provinsi
Kalimantan Tengah Tipe B. Sejalan dengan dinamika Otonomi Daerah
Perpustakaan Nasional Provinsi Kalimantan Tengah berubah namanya
menjadi Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Provinsi Kalimantan
Tengah berdasarkan Keputusan Gubernur Kalimantan Tengah Nomor : 33
Tahun 2001, dan pada tahun 2016 berubah menjadi Dinas Perpustakaan dan
Arsip Provinsi Kalimantan Tengah, Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi
kalimantan tengah Nomor : 4 Tahun 2016 Tentang pembentukan dan
susunan Perangkat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah.
Budaya kerja aparatur negara adalah sikap dan perilaku individu
aparatur negara yang didasari atas nilai-nilai yang diyakini kebenarannya
dan telah menjadi sifat serta kebiasaan dalam melaksanakan tugas dan
pekerjaan sehari-hari. Dengan demikian, budaya kerja adalah perwujudan
dari gejala dalam pada lapisan kognisi individu yang memengaruhi caranya
berpikir, memandang, merasa, dan berperilaku ketika para pegawai
berinteraksi dengan lingkungannya, baik di dalam maupun di luar
organisasi.
Terdapat tiga unsur penting untuk menata kembali budaya kerja
aparatur negara. Ketiga unsur ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling
berinteraksi ketika organisasi melakukan aktivitas tugas dan membina

1|Page
dinamika internalnya. Ketiga unsur itu adalah nilai-nilai, institusi/sistem
kerja, dan SDM aparatur negara. Prosesnya dimulai dari kesepakatan atas
nilai-nilai yang diyakini sebagai pilihan acuan. Nilai-nilai ini selanjutnya
diinternalisasikan dalam setiap SDM aparatur negara dan diterapkan dalam
aktivitas tugas dan dinamika organisasi.
Semua orang menginginkan dan membutuhkan hubungan yang
harmonis dengan orang lain. Komunikasi dapat diawali dari suatu
sapaan,senyuman dan ucapan salam sehingga menciptakan good rapport
tahap awal terbentuknya komunikasi dengan orang lain. Pengantar pesan
bahagia (happy messengers) di otak kita akan bekerja, jika menerima
stimulus membahagiakan seperti senyuman dan sapaan.
Sarana Papan Seyum sangat diperlukan untuk membiasakan
staf/bawahan memberikan senyum kepada atasannya dan sebaliknya atasan
juga memberikan senyum diwaktu masuk ruang kerja kepada staf/bawahan
pada Bagian Umum dan Kepegawaian, maka perlu diadakan papan senyum
tersebut untuk membiasakan senyum sehari-hari, dan juga memberikan
budaya 3S (senyum, salam dan sapa) merupakan budaya baik yang ada pada
semua ASN, seyum juga dapat mengurangi stress, Sapa merupakan
penghormatan kita terhadap orang lain ketika orang lain kita sapa, maka
mereka merasa dihormati. Sebaiknya orang lain juga akan menghormati
kita. Sapa akan membawa kebaikan. Selain itu salam terbukti dapat
membuat orang saling menyayangi. Untuk itu kita harus terapkan budaya
senyum, salam dan sapa kepada teman-teman dilingkungan Dinas
Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalimantan Tengah teruma di Subag
Umum dan Kepegawaian ataupun kepada orang lain.

1.2. PERMASALAHAN
1. Bagaimana Meningkatnya kesadaran staf/bawahan kepada atasan ?
2. Bagaimana Terwujudnya kebersamaan dan harmonisasi staf dan atasan
dalam organisasi ?
3. Bagaimana Terwujudnya peningkatan kinerja dalam pelaksanaan tugas
sehari-hari ?

2|Page
1.3. TUJUAN
1. Peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia Aparatur Sipil Negara.
2. Peningkatan perilaku pelayanan public yang cepat, transparan,
akuntable, dan responsive.
3. Meningkatnya hubungan kerja yang harmonis antara atasan dan staf
dalam melaksanakan tugas dan aktifitas pekerjaan.
4. Terciptanya Budaya kerja yang menyenangkan dan responsive dalam
setiap aktifitas pekerjaan.

3|Page
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. REVOLUSI MENTAL UNTUK PELAYANAN PUBLIK


Dalam perjalanan sejarah Indonesia, gagasan Revolusi Mental tidak
bisa dipisahkan dari Presiden Soekarno. Sebagai pencetus dan
pengonsepnya, gagasan Revolusi mental dikumandangkan Bung Karno
pada tahun 1957. Seokarno memandang saat itu revolusi nasional Indonesia
sedang “mandek” padahal tujuan revolusi belum tercapai. Ada beberapa
faktor yang menyebabkan revolusi nasional Indonesia mandek, yakni :
a. Penurunan semangat dan jiwa revolusioner para pelaku revolusi baik
rakyat maupun pimpinan nasional;
b. Pemimpin politik masa itu masih mengidap penyakit warisan kolonial
seperti “hollands denken” atau gaya berpikir penjajah Belanda;
c. Penyelewengan di bidang ekonomi, politik dan kebudayaan.
Dalam pidato Kenegaraan 17 Agustus 1945, Bung Karno
mengatakan : “Revolusi Mental merupakan satu gerakan untuk
menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati
putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang
menyala – nyala.”
70 (tujuh puluh) tahun kemudian, Presiden Republik Indonesia ke 7
(tujuh) Joko Widodo saat Pidato Kenegaraan tanggal 14 Agustus 2015
berpendapat : “Untuk lebih memperkokoh kedaulatan, meningkatkan daya
saing dan mempererat persatuan bangsa kita perlu melakukan Revolusi
Mental.”. Joko Widodo menyerukan untuk memulai Gerakan Nasional
Revolusi Mental untuk mengubah kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru,
demi mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berdikari dan berkepribadian.
Untuk mewujudkan itu semua, maka terbitlah Instruksi Presiden
Nomor 2 tahun 2015 tentang Struktur RPJMN 2015 – 2019 dan disusul
kemudian dengan terbitnya Instruksi Presiden Nomor 12 tahun 2016 tentang
Gerakan Nasional Revolusi Mental.

4|Page
Setelah mengetahui sekilas tentang sejarah lahirnya Gerakan
Nasional Revolusi Mental, tentu kita bertanya – tanya, apa itu Gerakan
Nasional Revolusi Mental ? Gerakan Nasional Revolusi Mental merupakan
suatu gerakan seluruh masyarakat (pemerintah dan rakyat) dengan cara yang
cepat untuk mengangkat kembali nilai – nilai strategis yang diperlukan oleh
Bangsa dan Negara untuk mampu menciptakan Ketertiban dan
Kesejahteraan rakyat sehingga dapat memenangkan persaingan di era
globalisasi.
Revolusi Mental mengubah cara pandang, pikiran, sikap dan
perilaku yang berorientasi pada kemajuan dan kemodernan, sehingga
Indonesia menjadi Bangsa besar dan mampu berkompetisi dengan Bangsa
– bangsa lain di dunia.
Karlina Supeli (2015 : 6 ) mendefinisikan Revolusi Mental sebagai
merupakan transformasi etos, yaitu perubahan mendasar dalam mentalitas,
semangat dan moralitas yang menjelma ke dalam perilaku dan tindakan
sehari – hari.
Sementara itu, Haryatmoko (2015), memaknai revolusi mental
sebagai perubahan mendasar ‘mindset’ (pola pikir) masyarakat dan
penguasa di dalam kehidupan berbangsa. Revolusi Mental tidak cukup
mengandalkan niat baik, namun harus memperhitungkan perubahan
struktural dalam interaksi masyarakat.
Instruksi Presiden Nomor 12 tahun 2016 tentang Gerakan Nasional
Revolusi Mental memuat tentang 5 (lima) pedoman Gerakan Nasional
Revolusi Mental yang meliputi :
a. Program Gerakan Indonesia Melayani. Pelaksanaan program ini
dikoordinir oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi, kementeriaan ini bertanggung jawab atas
terwujudnya perilaku sumber daya manusia Aparatur Sipil Negara
(ASN) yang melayani;
b. Program Gerakan Indonesia Bersih. Pelaksanaan program ini
dikoordinir oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman,

5|Page
kementeriaan ini bertanggung jawab atas terwujudnya perilaku
masyarakat Indonesia yang bersih;
c. Program Gerakan Indonesia Tertib. Pelaksanaan program ini
dikoordinir oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan
Keamanaan, kementerian ini bertanggung jawab atas terwujudnya
perilaku masyarakat Indonesia yang tertib;
d. Program Gerakan Indonesia Mandiri. Pelaksanaan program ini
dikoordinir oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian,
kementerian ini bertanggung jawab atas terwujudnya perilaku
masyarakat Indonesia yang mandiri;
e. Program Gerakan Indonesia Bersatu. Pelaksanaan program ini
dikoordinir oleh Menteri Dalam Negeri, kementerian ini bertanggung
jawab atas terwujudnya perilaku masyarakat Indonesia yang bersatu.
Koordinator masing – masing program, menyampaikan hasil
pelaksanaan Program Gerakan Nasional Revolusi Mental kepada Menteri
Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan paling sedikit
4 (empat) bulan sekali dalam setahun atau sewaktu – waktu apabila
diperlukan.
Sebagaimana yang diamanatkan oleh Instruksi Presiden Nomor 12
tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental, bahwasanya ada 5
(lima) Program Gerakan Nasional Revolusi Mental. Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi diberikan amanat
untuk melaksanakan Program Gerakan Indonesia Melayani, program ini
difokuskan kepada :
1. Peningkatan kapasitas Sumber Daya manusia Aparatur Sipil Negara;
2. Peningkatan penegakan disiplin Aparatur Pemerintah dan Penegak
Hukum;
3. Penyempurnaan standar pelayanan dan sistem pelayanan yang inovatif
(e-government);
4. Penyempurnaan sistem manajemen kinerja (performance based
management system) Aparatur Sipil Negara;

6|Page
5. Peningkatan perilaku pelayanan publik yang cepat, transparan,
akuntabel, dan responsif;
6. Penyempurnaan peraturan Perundang – undangan (deregulasi);
7. Penyederhanaan pelayanan birokrasi (debirokratisasi);
8. Peningkatan penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang
pelayanan publik;
9. Peningkatan penegakan hukum dan aturan di bidang pelayanan publik;
10. Penerapan sistem penghargaan dan sanksi beserta keteladanan pimpinan.
Untuk melaksanakan program – program tersebut, maka
kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
melalui Lembaga Administrasi Negara mengeluarkan Peraturan Kepala
Lembaga Administrasi Negara Nomor 6 Tahun 2017 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pelatihan Revolusi Mental Untuk Pelayanan Publik.
Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) didirikan untuk
memberikan pelayanan kepada rakyat. Dalam Pembukaan Undang- Undang
Dasar Negara 1945, para founding fathers telah menyatakan bahwa
pendirian negara dimaksudkan untuk melindungi tumpah darah rakyat,
memajukan kesejahteraan umum, dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Namun setelah lebih dari 70 (tujuh puluh) tahun Indonesia
merdeka, kewajiban negara untuk memberikan pelayanan publik terbaik
kepada rakyat belum sepenuhnya dapat dirasakan secara merata bagi
seluruh rakyat Indonesia. Tingkat pendidikan dan kualitas kesehatan
masih rendah, tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran masih tinggi,
kondisi tenaga kerja yang belum memiliki daya saing tinggi, serta
fasilitas pelayanan publik yang belum memadai merupakan fenomena
yang dijumpai di beberapa tempat di Indonesia.
Pelayanan yang diberikan oleh negara yang belum berkualitas ini
kemudian muncul sebagai peringkat pelayanan publik yang rendah bagi
bangsa Indonesia dalam percaturan global. Dalam berbagai indeks kinerja
birokrasi di tingkat internasional, NKRI masih dikenal sebagai bangsa yang
peringkatnya tinggi dalam hal-hal yang buruk, dan rendah dalam hal-hal
yang baik. Hingga saat ini, Indonesia masih dikenal sebagai bangsa

7|Page
yang menempati ranking yang tinggi dalam hal korupsi, polusi,
kemiskinan, pengangguran dan lain-lain; dan menempati ranking yang
rendah dalam hal kesehatan, kesejahteraan, daya saing bangsa, kemudahan
berusaha, tingkat inovasi, dan lain-lain.
Kondisi di atas tidak dapat dibiarkan berkelanjutan, namun harus
diubah secara revolusioner, untuk mengejar ketertinggalan dalam pelayanan
publik dari negara-negara lain. Untuk mewujudkan perubahan yang cepat
ini, pemerintah menerbitkan kebijakan Gerakan Nasional Revolusi
Mental sebagaimana diamanatkan oleh Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun
2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental. Melalui Gerakan
Nasional ini, diharapkan akan terwujud manusia Indonesia yang baru,
yaitu manusia Indonesia yang memiliki cara pandang, cara pikir, dan cara
kerja yang berlandaskan integritas, etos kerja dan gotong royong dalam
memberikan pelayanan publik.
Untuk melakukan percepatan perubahan seperti diuraikan di atas,
Aparatur Sipil Negara (ASN) memainkan peranan yang signifikan.
ASN memiliki kewenangan untuk merumuskan, mengimplementasikan
dan mengevaluasi kebijakan yang bertujuan meningkatkan kualitas
pelayanan publik. Untuk menghasilkan ASN yang memiliki kapasitas
seperti tersebut dapat dilakukan melalui Pelatihan bagi ASN, Lembaga
Administrasi Negara (LAN) sebagai Instansi Pembina Diklat mengeluarkan
kebijakan Pelatihan Revolusi Mental untuk Pelayanan Publik.
Dalam Pelatihan Revolusi Mental untuk Pelayanan Publik ini, ASN
akan diarahkan untuk memiliki kompetensi dalam melakukan revolusi cara
pandang, cara pikir dan cara kerja dalam memberikan pelayanan. Dengan
Pelatihan Revolusi Mental untuk Pelayanan Publik ini, diharapkan
kewajiban negara dalam memberikan pelayanan publik yang berkualitas
pada rakyat dapat tercapai.

8|Page
Kompetensi yang dibangun dalam pelatihan Revolusi Mental untuk
pelayanan publik adalah kemampuan dalam :
1. Mengubah cara pandang terhadap permasalahan pelayanan publik di
instansi;
2. Mengubah cara pikir dalam menyelesaikan permasalahan pelayanan
publik di instansi;
3. Mengubah cara kerja untuk mempercepat terwujudnya ASN yang
mampu memberikan pelayanan publik yang berkualitas.

2.2. STRUKTUR KURIKULUM REVOLUSI MENTAL


Pelatihan Revolusi Mental untuk Pelayanan Publik di desain
sistematis untuk mengkolaborasikan tempat pelatihan dan tempat kerja
sebagai suatu kesatuan pembelajaran. Revolusi mental yang dialami
peserta tidak hanya terjadi di ruang pelatihan, namun tetap berlanjut di
tempat kerja sehingga peserta mampu meningkatkan kualitas pelayanan
publik sesuai bidang tugasnya masing-masing di instansinya.
Untuk mencapai kompetensi tersebut, maka struktur Pelatihan
Revolusi Mental untuk Pelayanan Publik terbagi menjadi 3 (tiga) agenda
yaitu agenda Revolusi Cara Pandang, agenda Revolusi Cara Pikir, dan
agenda Revolusi Cara Kerja.
a. Agenda Revolusi Cara Pandang
Agenda pembelajaran Revolusi Cara Pandang dimaksudkan
untuk membekali ASN dengan kemampuan untuk mengubah cara
pandang mereka menjadi ASN yang memiliki optimisme dan
kesungguhan dalam membangun birokrasi pemerintahan dalam
memberikan pelayanan publik yang berkualitas. Materi pelatihan dalam
agenda ini adalah :
1. Kebijakan Revolusi Mental;
2. Revolusi Budaya Kerja Birokrasi.
3. Agenda Revolusi Cara Pikir

9|Page
b. Agenda Revolusi Cara Pikir
Agenda pembelajaran Revolusi Cara Pikir dimaksudkan untuk
membekali ASN dengan kemampuan teknis dalam mengubah sistem
dan mekanisme pelayanan publik menjadi lebih solutif, inovatif, dan
berorientasi hasil. Materi pelatihan dalam agenda ini adalah :
1. Inovasi Sektor Publik; dan
2. Strategi Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik.
3. Agenda Revolusi Cara Kerja
c. Agenda Revolusi Cara Kerja
Agenda Revolusi Cara Kerja adalah agenda pembelajaran yang
disediakan agar ASN mampu menuangkan kompetensi yang diperoleh
dari agenda Revolusi Cara Pandang dan agenda Revolusi Cara Pikir ke
dalam program Revolusi Cara Kerja yang kongkrit dalam pelayanan
publik di instansinya. Melalui agenda Revolusi Cara Kerja ini, peserta
akan merancang revolusi cara kerja untuk mewujudkan perubahan
yang inovatif dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik di
instansinya. Materi pelatihan dalam agenda ini adalah :
1. Rancangan Revolusi Cara Kerja; dan
2. Seminar Rancangan Revolusi Cara Kerja.

2.3. BUDAYA KERJA APARATUR NEGARA


Budaya kerja aparatur negara adalah sikap dan perilaku individu
aparatur negara yang didasari atas nilai-nilai yang diyakini kebenarannya
dan telah menjadi sifat serta kebiasaan dalam melaksanakan tugas dan
pekerjaan sehari-hari. Dengan demikian, budaya kerja adalah perwujudan
dari gejala dalam pada lapisan kognisi individu yang memengaruhi caranya
berpikir, memandang, merasa, dan berperilaku ketika para pegawai
berinteraksi dengan lingkungannya, baik di dalam maupun di luar
organisasi.

10 | P a g e
Terdapat tiga unsur penting untuk menata kembali budaya kerja
aparatur negara. Ketiga unsur ini tidak berdiri sendiri, tetapi saling
berinteraksi ketika organisasi melakukan aktivitas tugas dan membina
dinamika internalnya. Ketiga unsur itu adalah nilai-nilai, institusi/sistem
kerja, dan SDM aparatur negara. Prosesnya dimulai dari kesepakatan atas
nilai-nilai yang diyakini sebagai pilihan acuan. Nilai-nilai ini selanjutnya
diinternalisasikan dalam setiap SDM aparatur negara dan diterapkan dalam
aktivitas tugas dan dinamika organisasi.

2.4. BUDAYA 3S (SENYUM, SAPA, SALAM)


Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan
orang lain dalam kehidupannya. Cara manusia berhubungan dengan orang
lain disebut komunikasi. komunikasi mengacu pada tindakan, oleh satu
orang atau lebih, yang mengirim dan menerima pesan, terjadi dalam suatu
konteks tertentu, mempunyai pengaruh tertentu, dan ada kesempatan untuk
melakukan umpan balik. Komunikasi Mencakup Dimensi Isi Dan
Hubungan. Dimensi isi mengurai masalah isi pesan yang ingin disampaikan,
sedangkan dimensi hubungan memiliki makna yang lebih jauh lagi,
seseorang berkomunikasi dengan orang lain bukan hanya agar pesan
tersampaikan, namun juga membina hubungan baik dengan orang lain.
Permasalahan sering muncul dalam komunikasi, dan yang paling
sulit untuk diselesaikan adalah menyangkut dimensi hubungan. Semua
orang ingin membina hubungan baik dengan orang lain dan berlangsung
lama. Pepatah mengatakan memiliki satu orang musuh terlalu banyak, dan
memiliki seribu teman masih terlalu sedikit. Pepatah ini memiliki makna
agar kita sebanyak mungkin dapat membina hubungan baik dengan orang
lain.
Kemampuan berkomunikasi juga merupakan satu karakteristik
utama yang dimiliki oleh seseorang yang berhasil. Oleh karena itu dalam
berbagai bidang pekerjaan dan pergaulan, kemampuan berkomunikasi,
terutama sampai membina hubungan baik dengan orang lain, sangat penting
diajarkan sedini mungkin pada setiap orang.

11 | P a g e
Sapaan merupakan bentuk komunikasi awal kita dengan orang lain.
Lebih komplit lagi ketika kita mengucapkan salam, sapaan dan sambil
tersenyum, hal yang nampaknya sepele, namun mempunyai dampak yang
luar biasa. Perbuatan tersebut mampu menyembuhkan kekesalan,
kegundahan, dan bahkan kesedihan.
Otak manusia mempunyai pengantar pesan sedih (sad messengers)
dan pengantar pesan bahagia (happy messengers). Bila dalam keadaan
tertekan dan sedih, otak akan menerima pesan sedih. Sebaliknya dalam
keadaan senang dan gembira, otak akan menerima pesan bahagia. Pesan
bahagia ini ada tiga macam yaitu serotinin, norodrenalin, dan doparmine.
Serotinin dalam otak mengatur jam biologis kita agar bekerja sebagaimana
mestinya. Serotininlah yang membuat kita tertidur pada jam tidur. Pesan
bahagia “serotinin” membuat kita dapat tidur dengan nyenyak. Sebaliknya
kondisi tertekan membuat kita tidak dapat tidur, sehingga serotinin tidak
bekerja sebagaimana mestinya. Norodrenalin membuat tubuh merasa segar.
Norodrenalin bekerja ketika pikiran kita membayangkan hal-hal yang
membahagiakan, sehingga membuat kita bersemangat. Dopamine bekerja
untuk membuat kita menikmati hidup dan mengurangi rasa sakit. Dopamine
sering disebut sebagai pembunuh alami rasa sakit “natural pain killer”.
Itulah alasan mengapa hanya seulas senyum, sapaan dan salam bisa
menyembuhkan kekesalan, kegundahan, dan bahkan kesedihan (Setiawan,
2010).
Dalam kajian psikologipun, khususnya dalam kajian psikoterapi kita
mengenal ”rapport”, makna rapport akan mempengaruhi hubungan klien-
terapis selanjutnya. Ketika kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya
terserah anda. Ketika rapport yang dibina pada awal pertemuan klien
dengan terapis bagus, maka kemungkinan besar hubungan akan berjalan
lancar, dan sebaliknya, ketika terapis tidak mampu membuat rapport yang
baik dengan klien, dapat dipastikan proses terapi mengalami hambatan
untuk langgeng. Senyum, sapa dan salam merupakan salah satu bentuk
”good rapport” yang mudah dan penting untuk dilakukan.

12 | P a g e
Keterampilan berkomunikasi, khususnya mampu membina
hubungan baik dengan orang lain, penting untuk dibentuk sedini mungkin.
Karena makna dan implikasinya bisabermanfaat dan terbawa hingga
dewasa, membangun kepribadian yang positif terhadap orang lain dalam
menyelesaikan permasalahan yang akan dihadapi kelak.
Keterampilan untuk selalu mengucapakan senyum, sapa dan salam,
kemudian berlanjut membentuk hubungan yang langgeng dengan orang
lain, orang lain pun akan memberikan judge pada kita bahwa kita adalah
seorang yang ramah dan suka berteman dengan siapa saja, mempengaruhi
konsep diri kita menjadi konsep diri yang positif, yang pada akhirnya
membentuk kepribadian kita menjadi pribadi yang suka berteman dan tidak
menyukai kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan, karena telah
tertanam bahwa berteman sangat penting dalam kehidupan.

13 | P a g e
BAB III
HASIL

3.1. PENERAPAN PAPAN SENYUM DI LINGKUNGAN DINAS


PERPUSTAKAAN DAN ARSIP
Penerapa Papan Senyum di Lingkungan Dinas Perpustakaan dan
Arsip merupakan implementasi dari Diklat Revolusi Mental. Budaya Papan
Senyum yang diimplementasikan merupakan hasil adaptasi Budaya 3S
(Senyum, Sapa, Salam). Yang mana Senyum, Sapa dan Salam merupakan
cara manusia untuk berkomunikasi, karena manusia merupakan makhluk
sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Cara
manusia berhubungan dengan orang lain disebut komunikasi. komunikasi
mengacu pada tindakan, oleh satu orang atau lebih, yang mengirim dan
menerima pesan, terjadi dalam suatu konteks tertentu, mempunyai pengaruh
tertentu, dan ada kesempatan untuk melakukan umpan balik. Komunikasi
Mencakup Dimensi Isi Dan Hubungan. Dimensi isi mengurai masalah isi
pesan yang ingin disampaikan, sedangkan dimensi hubungan memiliki
makna yang lebih jauh lagi, seseorang berkomunikasi dengan orang lain
bukan hanya agar pesan tersampaikan, namun juga membina hubungan baik
dengan orang lain.
Pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalimantan Tengah
setelah diterapkan Budaya Papan Senyum di lingkungan sekretaris terdapat
perubahan yang cukup baik yaitu dimana saat ini seluruh pegawai dan staf
mulai mebiasakan diri untuk mengucapkan salam dan sapa baik kepada
atasan ataupun terhadap sesama pegawai atau staf saat bertemu pada pagi
hari, siang hari dan saat akan pulang dari kantor.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menerapkan Budaya Papan
senyum di lingkungan Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Kalimantan
Tengah adalah dengan membuat Papan Senyum dimana pada Papan
Senyum tersebut terdapat indikator yang harus dilaksanakan oleh setiap
pegawai dan staf dan juga pembuatan X-Banner yang berisikan pesan
Datang Tepat Waktu, Tersenyum, Sapa dan Salam, dan Bermuka Ramah.

14 | P a g e
Gambar 3.1. Budaya Kerja Papan Senyum

Gambar 3.2. X-Banner

Akan tetapi perubahan yang diharapkan tidak dapat berjalan


maksimal dikarenakan masih adanya pegawai dan staf yang belum
menyadari dan belum terbiasa akan mengucapkan salam dan sapa, karena
memang Budaya 3S (salam, senyum, sapa) tidak semua dapat menerapkan
karena faktor kebiasan dilingkungan tempat tinggal atau lingkungan
pertemanan pegawai dan staf itu sendiri.

15 | P a g e
BAB IV
PENUTUP

4.1. KESIMPULAN
Untuk menjadikan Seorang ASN dalam memberikan layanan
kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat, berdaya guna,
berhasil guna dan santun , maka diperlukan suatu terobosan. Terobosan
tersebut bisa melalui pendidikan dan pelatihan Revolusi Mental untuk
Pelayanan publik.
Kompetensi yang dibangun dalam pelatihan Revolusi Mental untuk
pelayanan publik adalah kemampuan dalam :
a. Mengubah cara pandang terhadap permasalahan pelayanan publik di
instansi;
b. Mengubah cara pikir dalam menyelesaikan permasalahan pelayanan
publik di instansi;
c. Mengubah cara kerja untuk mempercepat terwujudnya ASN yang
mampu memberikan pelayanan publik yang berkualitas
Dengan mengikuti pelatihan tersebut maka seorang ASN dalam
memberikan pelayanan publik tidak lagi memberikan pelayanan dengan
muka judes, tidak pernah senyum, lambat, berbelit – belit yang ujung-
ujungnya minta “ongkos”.
Dan diharapkan kedepannya dengan diberlakukannya Budaya Papan
Senyum di lingkunga Lingkungan Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi
Kalimantan Tengah, dapat membuat pelayanan publik menjadi lebih baik.

4.2. SARAN
Agar seorang ASN dalam memberikan layanan kepada publik secara
jujur, tanggap, cepat, tepat, akurat, berdaya guna, berhasil guna dan santun
bisa terwujud, maka disarankan kepada para pimpinan lembaga Pendidikan
dan Pelatihan untuk memprogramkan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan
Revolusi Mental untuk pelayanan publik.

16 | P a g e
DAFTAR PUSTAKA

Gunawan, Adi W. 2005. Hypnosis – The Art of Subconscious Communication.


Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Jamil Salmi. 2005. Violence and Democratic Society: Hooliganisme dan


Masyarakat Demokrasi. Yogyakarta: Pilar Media

Kementerian PAN-RI, Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur Negara,


Jakarta. 2002.

17 | P a g e