Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN MEKONIUM ASPIRASI SINDROM

DI RUANG BAYI
RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN
Tanggal 2 April – 7 April 2018

Oleh :
Khairus Sadiq, S.Kep
NIM 1730913310073

PROGRAM PROFESI NERS ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2018
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN MEKONIUM ASPIRASI SINDROM


DI RUANG BAYI
RSUD DR. H. MOCH. ANSARI SALEH BANJARMASIN
Tanggal 2 April – 7 April 2018

Oleh :
Khairus Sadiq, S.Kep
NIM 1730913310073

Banjarmasin, 2 April 2018


Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Emmelia Astika F. D., S.Kep, Ns,. M.Kep Siti Rusmalina, S.Kep, Ns


NIK.1990 2011 1 098 NIP. 19751104 200803 2001
LAPORAN PENDAHULUAN
MEKONIUM ASPIRASI SINDROM

A. Definisi
Sindroma aspirasi mekonium (SAM) merupakan sekumpulan gejala yang
diakibatkan oleh terhisapnya cairan amnion mekonial ke dalam saluran
pernapasan bayi. Sindroma aspirasi mekonium adalah salah satu penyebab yang
paling sering menyebabkan kegagalan pernapasan pada bayi baru lahir aterm
maupun post-term. Kandungan mekonium antara lain adalah sekresi
gastrointestinal, hepar, dan pankreas janin, debris seluler, cairan amnion, serta
lanugo. Cairan amnion mekonial terdapat sekitar 10- 15% dari semua jumlah
kelahiran cukup bulan (aterm), tetapi SAM terjadi pada 4-10% dari bayi-bayi ini,
dan sepertiga diantaranya membutuhkan bantuan ventilator. Adanya mekonium
pada cairan amnion jarang dijumpai pada kelahiran preterm. Resiko SAM dan
kegagalan pernapasan yang terkaitmeningkat ketika mekoniumnya kental dan
apabila diikuti dengan asfiksia perinatal (1).
B. Etiologi
Etiologi terjadinya sindroma aspirasi mekonium adalah cairan amnion yang
mengandung mekonium terinhalasi oleh bayi. Mekonium dapat keluar
(intrauterin) bila terjadi stres / kegawatan intrauterin. Mekonium yang terhirup
bisa menyebabkan penyumbatan parsial ataupun total pada saluran pernafasan,
sehingga terjadi gangguan pernafasan dan gangguan pertukaran udara di paru-
paru. Selain itu, mekonium juga berakibat pada iritasi dan peradangan pada
saluran udara, menyebabkan suatu pneumonia kimiawi (2).
efek
mediator
inflamasi (sitokin,
eikosanoid) disfungsi
dan edema
surfaktan
alveolar dan
parenkimal

perubahan daya
elastis paru kebocoran
(peningkatan protein ke
resisten, dalam jalan
penurunan nafas
kompli ens)

SAM
toksisitas
sumbatan langsung
jalan nafas oleh unsur
mekonium

efek hipoksemia vasokonstriksi


dalam intra uterin pulmoner oleh
(perubahan bentuk karena
vaskuler pulmonal, perubahan komponen
perubahan reaktivitas mekonium
parenkimal paru) pembuluh
darah paru

Bagan 2.1 Etiologi Sindroma Aspirasi Mekonium (Clark, 2010)

C. Faktor Resiko
Faktor resiko yang terkait kejadian SAM antara lain :
1. kehamilan post-term
2. pre-eklampsia, eklampsia
3. diabetes mellitus pada ibu
4. bayi kecil masa kehamilan (KMK)
5. ibu yang perokok berat
6. penderita penyakit paru kronikatau penyakit kardiovaskular.
D. Patofisiologi
SAM seringkali dihubungkan dengan suatu keadaan yang kita sebut fetal
distress. Pada keadaan ini, janin yang mengalami distres akan menderita hipoksia
(kurangnya oksigen di dalam jaringan). Hipoksia jaringan menyebabkan
terjadinya peningkatan aktivitas usus disertai dengan melemasnya spinkter anal.
Maka lepaslah mekonium ke dalam cairan amnion. Asfiksia dan berbagai bentuk
stres intrauterin dapat meningkatkan peristaltik usus janin disertai relaksasi
sfinkter ani eksterna sehingga terjadi pengeluaran mekoneum ke cairan amnion.
Saat bayi dengan asfiksia menarik napas (gasping) baik in utero atau selama
persalinan, terjadi aspirasi cairan amnion yang bercampur mekoneum ke dalam
saluran napas. Mekoneum yang tebal menyebabkan obstruksi jalan napas,
sehingga terjadi gawat napas.
Sindroma ini biasanya terjadi pada infant full-term. Mekonium ditemukan
pada cairan amnion dari 10% dari keseluruhan neonatus, mengindikasikan
beberapa tingkatan aspiksia dalam kandungan. Aspiksia mengakibatkan
peningkatan peristaltik intestinal karena kurangnya oksigenasi aliran darah
membuat relaksasi otot spincter anal sehingga mekonium keluar. Mekonium
tersebut terhisap saat janin dalam kandungan.
Aspirasi mekonium menyebabkan obstruksi jalan nafas komplit atau partial
dan vasospasme pulmonary. Partikel garam dalam mekonium bekerja seperti
detergen, mengakibatkan luka bakar kimia pada jaringan paru. Jika kondisi
berkelanjutan akan terjadi pneumothoraks, hipertensi pulmonal persisten dan
pneumonia karena bakteri, dengan intervensi yang adekuat, gangguan ini akan
membaik dalam beberapa hari, tetapi angka kematian mencapai 28% dari seluruh
kejadian. Prognosis tergantung dari jumlah mekonium yang teraspirasi, derajat
infiltrasi paru dan tindakan suctioning yang cukup. Suctioning termasuk aspirasi
dari nasofaring selama kelahiran dan juga suctioning langsung pada trachea
melalui selang endotracheal setelah kelahiran jika mekonium ditemukan.
Pathway :
Fetal Distres

Hipoksemia

Penurunan O2 dalam jaringan

Pernafasan bayi terganggu : terengah-engah

Gangguan pertukaran gas Peningkatan aktifitas usus dan melemasnya


spinkter anal

Mekonium akan keluar dan bercampur dengan amnion

Janin menarik nafas : mekonium mengisi jalan nafas

Obtruksi jalan nafas Bersihan jalan nafas tidak efektif

Ketidakefektifan pola nafas Resiko


Infeksi

E. Manifestasi Klinis
Mekonium yang kental teraspirasi ke dalam paru, mengakibatkan obstruksi
jalan napas kecil yang dapat menimbulkan kegawatan pernapasan dalam beberapa
jam pertama setelah kelahiran dengan gejala :
1. takipnea
2. retraksi
3. stridor
4. sianosis pada bayi dengan kasus berat.

Obstruksi parsial pada beberapa jalan napas dapat menimbulkan


pneumothoraks atau pneumomediastinum, atau keduanya. Pada kondisi gawat
nafas, dapat terjadi distensi dada yang berat yang membaik dalam 72 jam, akan
tetapi bila dalam perjalanan penyakitnya bayi memerlukan bantuan ventilasi,
keadaan ini dapat menjadi berat dan kemungkinan mortalitasnya tinggi. Takipnea
dapat menetap selama beberapa hari atau bahkan beberapa minggu. Foto
radiografi dada bersifat khas ditandai dengan bercak-bercak infiltrat, corakan
kedua lapangan paru kasar, diameter anteroposterior bertambah, dan diafragma
mendatar. Foto x-ray dada normal pada bayi dengan hipoksia berat dan tidak
adanya malformasi jantung mengesankan diagnosis sirkulasi jantung persisten.
PO2 arteri dapat rendah pada penyakit lain, dan jika terjadi hipoksia, biasanya ada
asidosis metabolik.

F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada kasus aspirasi meconium sindrom
adalah :
1. Displasia bronkopulmoner
2. Pneumotoraks
3. Aspirasi pnemonia

Bayi yang menderita SAM berat mempunyai kemungkin lebih besar untuk
menderita mengi (wheezing) dan infeksi paru dalam tahun pertama kehidupannya.
Tapi sejalan dengan perkembangan usia, ia bisa meregenerasi jaringan paru baru,
dengan demikian, prognosis jangka panjang tetap baik.

Bayi yang menderita SAM sangat berat mungkin akan menderita penyakit
paru kronik, bahkan mungkin juga menderita abnormalitas perkembangan dan
juga ketulian. Pada kasus yang jarang terjadi, SAM dapat menimbulkan kematian.
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Rontgen dada untuk menemukan adanya atelektasis, peningkatan diameter
antero posterior, hiperinflation, flatened diaphragm akibat obstruksi dan
terdapatnya pneumothorax (gambaran infiltrat kasar dan iregular pada paru)
2. Analisa gas darah untuk mengidentifikasi acidosis metabolik atau respiratorik
dengan penurunan PO2 dan peningkatan tingkat PCO2.
3. Terdapat beberapa pemeriksaan penunjangyang dapat dilakukan pada pasien
prematur dengan keadaan klinis gawat napas seperti pemeriksaan darah tepi
dengan hitung jenis, pengukuran glukosa secara serial, elektrolit, pengukuran
bilirubin serial serta analisa gas darah bila terdapat kecurigaan distres
pernapasan dan pemeriksaan CRP atau kultur biakan jika diperlukan.7
Pemeriksaan penunjang tersebut bertujuan untuk mengetahui penyebab
terjadinya gawat napas pada neonatus. Gawat napas ditandai dengan adanya
apneu, sianosis, kesulitan bernapas (gasping), dan retraksi dada yang berat.
Evaluasi gawat napas juga dapat dilakukan dengan menggunakan skor Down.
Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien ini masih belum lengkap karena
belum dilakukan pemeriksaan analisa gas darah, kultur darah dan tidak
dilakukan pemeriksaan glukosa serial dikarenakan kurangnya sarana dan
perbedaan prosedur.
H. Penatalaksanaan
Tergantung pada berat ringannya keadaan bayi, mungkin saja bayi akan
dikirim ke unit perawatan intensif neonatal (NICU). Tata laksana yang dilakukan
biasanya meliputi :
1. Umum
Jaga agar bayi tetap merasa hangat dan nyaman, dan berikan oksigen.
2. Farmakoterapi
Obat yang diberikan, antara lain antibiotika. Antibiotika diberikan untuk
mencegah terjadinya komplikasi berupa infeksi ventilasi mekanik.
3. Fisioterapi
Yang dilakukan adalah fisioterapi dada. Dilakukan penepukan pada dada
dengan maksud untuk melepaskan lendir yang kental.
4. Pada SAM berat dapat juga dilakukan :
a. pemberian terapi surfaktan
b. pemakaian ventilator khusus untuk memasukkan udara beroksigen tinggi
ke dalam paru bayi
c. penambahan nitrit oksida (nitric oxide) ke dalam oksigen yang terdapat di
dalam ventilator. Penambahan ini berguna untuk melebarkan pembuluh
darah sehingga lebih banyak darah dan oksigen yang sampai ke paru bayi.
Bila salah satu atau kombinasi dari ke tiga terapi tersebut tidak berhasil,
patut dipertimbangkan untuk menggunakan extra corporeal membrane
oxygenation (ECMO). Pada terapi ini, jantung dan paru buatan akan
mengambil alih sementara aliran darah dalam tubuh bayi. Sayangnya, alat
ini memang cukup langka.
5. Pedoman penatalaksanaan bayi yang terpapar mekonium menurut The
American Academy of Pediatrics Neonatal Resuscitation Program (NRP)
Steering Committee adalah
a. jika bayi tidak bugar (tonus otot yang lemah dan usaha napas yang kurang
maupun tidak ada) dilakukan suction trakea langsung setelah kelahiran.
Suction dilakukan selama tidak lebih dari 5 detik. Jika tidak didapatkan
cairan mekonial, jangan ulangi intubasi dan suction. Sebaliknya, jika
didapatkan cairan mekonial tanpa adanya bradikardi, lakukan reintubasi
dan suction. Jika bradikardi, lakukan ventilasi tekanan positif dan
rencanakan suction ulang setelah beberapa waktu
b. apabila bayi bugar (usaha napas yang cukup, menangis, tonus otot cukup,
dan warna kulit yang baik), bersihkan sekresi dan mekonium dari mulut
lalu hidung menggunakan bulb syringe atau selang suction yang besar.
Pada kondisi apapun, langkah-langkah resusitasi berikutnya harus
mencakup pengeringan, reposisi, dan pemberian oksigen sesuai kebutuhan
(6).
I. Asuhan Keperawatan
1. PENGKAJIAN
a. Riwayat antenatal ibu
Stress intra uterin
b. Status infant saat lahir
1) full-term, preterm, atau kecil masa kehamilan
2) apgar skor dibawah 5
3) terdapat mekonium pada cairan amnion
4) suctioning, rescucitasi atau pemberian therapi oksigen
c. Pulmonarry
1) disstress pernafasan dengan gasping, takipnea (lebih dari 60 x
pernafasan per menit), grunting, retraksi, dan nasal flaring
2) peningkatan suara nafas dengan crakles, tergantung dari jumlah
mekonium dalam paru
3) cyanosis
4) barrel chest dengan peningkatan dengan peningkatan diameter antero
posterior (AP)
2. Pemeriksaan Penunjang
a. Rontqen dada untuk menemukan adanya atelektasis, peningkatan diameter
antero posterior, hiperinflation, flatened diaphragma dan terdapatnya
pneumothorax
b. Analisa gas darah untuk mengidentifikasi acidosis metabolik atau
respiratorik dengan penurunan PO2 dan peningkatan tingkat PCO2.
3. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif
b. Ketidakefektifan pola nafas
c. Gangguan pertukaran gas
d. Resiko infeksi
4. Rencana Tindakan Keperawatan

Dx
No NOC NIC
Keperawatan
1. Bersihan NOC : NIC :
Jalan nafas 1. Respiratory status : Airway suction
tidak efektif Ventilation 1. Pastikan
2. Respiratory status : kebutuhan oral /
Airway patency tracheal suctioning
3. Aspiration Control 2. Auskultasi suara
nafas sebelum dan
sesudah
Kriteria Hasil : suctioning.
3. Informasikan pada
1. Mendemonstrasikan klien dan keluarga
batuk efektif dan tentang suctioning
suara nafas yang 4. Minta klien nafas
bersih, tidak ada dalam sebelum
sianosis dan dyspneu suction dilakukan.
(mampu 5. Berikan O2 dengan
mengeluarkan menggunakan
sputum, mampu nasal untuk
bernafas dengan memfasilitasi
mudah, tidak ada suksion
pursed lips) nasotrakeal
2. Menunjukkan jalan 6. Gunakan alat yang
nafas yang paten steril sitiap
(klien tidak merasa melakukan
tercekik, irama tindakan
nafas, frekuensi 7. Anjurkan pasien
pernafasan dalam untuk istirahat dan
rentang normal, napas dalam
tidak ada suara nafas setelah kateter
abnormal) dikeluarkan dari
3. Mampu nasotrakeal
mengidentifikasikan 8. Monitor status
dan mencegah factor oksigen pasien
yang dapat 9. Ajarkan keluarga
menghambat jalan bagaimana cara
nafas melakukan suksion
10. Hentikan suksion
dan berikan
oksigen apabila
pasien
menunjukkan
bradikardi,
peningkatan
saturasi O2, dll.

Airway Management
1. Buka jalan nafas,
guanakan teknik
chin lift atau jaw
thrust bila perlu
2. Posisikan pasien
untuk
memaksimalkan
ventilasi
3. Identifikasi pasien
perlunya
pemasangan alat
jalan nafas buatan
4. Pasang mayo bila
perlu
5. Lakukan fisioterapi
dada jika perlu
6. Keluarkan sekret
dengan batuk atau
suction
7. Auskultasi suara
nafas, catat adanya
suara tambahan
8. Lakukan suction
pada mayo
9. Berikan
bronkodilator bila
perlu
10. Berikan pelembab
udara Kassa basah
NaCl Lembab
11. Atur intake untuk
cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
12. Monitor respirasi
dan status O2

2. Ketidak NOC : NIC :


efektifan Status Pernapasan Monitor Pernapasan
pola napas
Setelah dilakukan 1. Monitor kecepatan,
tindakan keperawatan irama, kedalaman
selama 1x20 menit, bayi dan kesulitan
tidak mengalami masalah bernapas
dalam pola napas dengan 2. Monitor suara napas
kriteria hasil: tambahan
3. Monitor pola napas
1. Frekuensi 4. Monitor saturasi
pernafasan dari oksigen
skala 4 (deviasi 5. Kaji perlunya
ringan dari kisaran penyedotan pada
normal) ke skala 5 jalan napas dengan
(tidak ada deviasi auskultasi suara
dari kisaran normal) napas ronki di paru
2. Irama napas dari 6. Berikan resusitasi
skala 4 (deviasi jika diperlukan
ringan dari kisaran 7. Berikan bantuan
normal) ke skala 5 terapi napas jika
(tidak ada deviasi diperlukan
dari kisaran normal)
3. Saturasi oksigen
skala 4 (deviasi Pengaturan posisi
ringan dari kisaran
normal) ke skala 5 8. Posisikan bayi
(tidak ada deviasi untuk mengurangi
dari kisaran normal) dyspnea
4. Retraksi dinding 9. Monitor status
dada skala 4 (deviasi oksigenasi sebelum
ringan dari kisaran dan setelah
normal) ke skala 5 perubahan posisi
(tidak ada deviasi
dari kisaran normal)
Manajemen Obat
Suara auskultasi nafas
skala 4 (deviasi ringan 10. Tentukan obat apa
dari kisaran normal) ke yang diperlukan,
skala 5 (tidak ada deviasi dan kelola menurut
dari kisaran normal) resep
11. Monitor bayi
mengenai efek
terapeutik obat
12. Monitor efek
samping obat

3. Gangguan NOC : NIC :


pertukaran 1. Respiratory Status : Airway Management
gas Gas exchange 1. Buka jalan nafas,
2. Respiratory Status : guanakan teknik
ventilation chin lift atau jaw
3. Vital Sign Status thrust bila perlu
Kriteria Hasil : 2. Posisikan pasien
untuk
1. Mendemonstrasikan memaksimalkan
peningkatan ventilasi
ventilasi dan 3. Identifikasi pasien
oksigenasi yang perlunya
adekuat pemasangan alat
2. Memelihara jalan nafas buatan
kebersihan paru 4. Pasang mayo bila
paru dan bebas dari perlu
tanda tanda distress 5. Lakukan
pernafasan fisioterapi dada
4. Mendemonstrasika jika perlu
n batuk efektif dan 6. Keluarkan sekret
suara nafas yang dengan batuk atau
bersih, tidak ada suction
sianosis dan 7. Auskultasi suara
dyspneu (mampu nafas, catat adanya
mengeluarkan suara tambahan
sputum, mampu 8. Lakukan suction
bernafas dengan pada mayo
mudah, tidak ada 9. Berikan
pursed lips) bronkodilator bila
5. Tanda tanda vital perlu
dalam rentang 10. Barikan pelembab
normal udara
11. Atur intake untuk
cairan
mengoptimalkan
keseimbangan.
12. Monitor respirasi
dan status O2

Respiratory
Monitoring
1. Monitor rata – rata,
kedalaman, irama
dan usaha respirasi
2. Catat pergerakan
dada,amati
kesimetrisan,
penggunaan otot
tambahan, retraksi
otot
supraclavicular dan
intercostal
3. Monitor suara
nafas, seperti
dengkur
4. Monitor pola nafas
: bradipena,
takipenia,
kussmaul,
hiperventilasi,
cheyne stokes, biot
5. Catat lokasi trakea
6. Monitor kelelahan
otot diagfragma
(gerakan
paradoksis)
7. Auskultasi suara
nafas, catat area
penurunan / tidak
adanya ventilasi
dan suara
tambahan
8. Tentukan
kebutuhan suction
dengan
mengauskultasi
crakles dan ronkhi
pada jalan napas
utama
9. auskultasi suara
paru setelah
tindakan untuk
mengetahui
hasilnya

4. Risiko infeksi NOC : NIC :

1. Immune Status Infection Control


2. Knowledge : (Kontrol infeksi)
Infection control
3. Risk control 1. Bersihkan
Kriteria Hasil : lingkungan setelah
dipakai pasien lain
1. Klien bebas dari 2. Pertahankan teknik
tanda dan gejala isolasi
infeksi 3. Batasi pengunjung
2. Mendeskripsikan bila perlu
proses penularan 4. Instruksikan pada
penyakit, factor pengunjung untuk
yang mencuci tangan
mempengaruhi saat berkunjung
penularan serta dan setelah
penatalaksanaanny berkunjung
a, meninggalkan
3. Menunjukkan pasien
kemampuan untuk 5. Gunakan sabun
mencegah antimikrobia untuk
timbulnya infeksi cuci tangan
4. Jumlah leukosit 6. Cuci tangan setiap
dalam batas sebelum dan
normal sesudah tindakan
5. Menunjukkan kperawtan
perilaku hidup 7. Gunakan baju,
sehat sarung tangan
sebagai alat
pelindung
8. Pertahankan
lingkungan aseptik
selama
pemasangan alat
9. Ganti letak IV
perifer dan line
central dan
dressing sesuai
dengan petunjuk
umum
10. Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan
infeksi kandung
kencing
11. Tingktkan intake
nutrisi
12. Berikan terapi
antibiotik bila
perlu

Infection Protection
(proteksi terhadap
infeksi)

1. Monitor tanda dan


gejala infeksi
sistemik dan lokal
2. Monitor hitung
granulosit, WBC
3. Monitor
kerentanan
terhadap infeksi
4. Batasi pengunjung
5. Saring pengunjung
terhadap penyakit
menular
6. Partahankan teknik
aspesis pada pasien
yang beresiko
7. Pertahankan teknik
isolasi k/p
8. Berikan perawatan
kuliat pada area
epidema
9. Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap
kemerahan, panas,
drainase
10. Ispeksi kondisi
luka / insisi bedah
11. Dorong masukkan
nutrisi yang cukup
12. Dorong masukan
cairan
13. Dorong istirahat
14. Instruksikan pasien
untuk minum
antibiotik sesuai
resep
15. Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan
gejala infeksi
16. Ajarkan cara
menghindari
infeksi
17. Laporkan
kecurigaan infeksi
18. Laporkan kultur
positif
DAFTAR PUSTAKA

1. Arvin BK,Nelson. 2000. Ilmu kesehatan anak. Volume ke-1. Edisi ke-15. EGC :
Jakarta.
2. Clark MB. Meconium aspiration syndrome [internet]. USA: Clark and
Associates; 2010. Dalam : http://emedicine.medscape.com/article/9 74110-
overview.
3. Putra TR & Mutiara H. 2017. Sindrom Aspirasi Mekonium. Fakultas Kedokteran.
Universitas Lampung. Jurnal Kedokteran : Volume 7 : Nomor 1 : Januari 2017.
Dalam
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/medula/article/download/750/pdf
diakses Sabtu 31 Maret 2018 pukul 15.15 Wita
4. NANDA Internasional NURSING DIAGNOSES Definition & Classification
2012-2014. . United States of America, Blackwell Publishing. 2012.
5. Mansjoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran.Jakarta : Media Aesculapius
FKUI
6. Kattwinkel J, Perlman JM, Aziz K, Colby C, Fairchild K, GallagherJ,et
al.Neonatal resuscitation: 2010 American heart association guidelines for
cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care. Ped. 2011;
128(1):176
7. Maryanti, Dwi, dkk. 2011. Penatalaksanaan Pada Bayi Risiko Tinggi. Jakarta :
Rineka Cipta.