Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Usaha peternakan ayam merupakan suatu usaha yang mempunyai risiko tinggi,
karena sewaktu-waktu dapat terjadi wabah penyakit menular. Oleh sebab itu, pengelolaannya
perlu dilakukan secara efisien dan professional. Penyakit infeksius yang disebabkan oleh
virus dan bakteri pada suatu peternakan ayam pedaging, petelur maupun pembibitan ayam
merupakan suatu permasalahan yang harus senantiasa diwaspadai, karena sedikit saja kontrol
terhadap penyakit berkurang, maka akan muncul wabah dalam suatu populasi yang akan
mengakibatkan kerugian ekonomi pada peternak. Dengan demikian, jika pada suatu
peternakan terdapat suatu kasus penyakit, penting untuk dilakukan nekropsi dengan tujuan
identifikasi penyebab penyakit dan perubahan patologis apa saja yang terjadi sehingga dapat
ditentukan solusi dari permasalahan yang sedang terjadi.
Kesehatan ternak adalah hal yang sangat penting untuk diketahui karena
kesehatan ternak berpengaruh terhadap pertumbuhan bobot badan, sistem reproduksi serta
hasil produksi dari ternak. Pemeriksaan kesehatan ternak (ayam) dapat dilakukan dari luar
maupun dari dalam. Pemeriksaan dari luar meliputi tingkah laku, keadaan fisik luar maupun
nafsu makan. Namun untuk lebih jelasnya perlu adanya pemeriksaan dari dalam dengan cara
membedah bangkai ternak (nekropsi) untuk melihat kelainan dan endoparasit yang terdapat
didalam organ.
Nekropsi merupakan pemeriksaan kondisi jaringan tubuh (ternak), baik di
permukaaan tubuh maupun di dalam tubuh yang dilakukan dengan cara membedah atau
membuka rongga tubuh. Pemeriksaan cara nekropsi atau “seksi” (pembedahan) ini sangat
penting dilakukan pada ternak unggas, karena perubahan atau kelainan tersebut terkadang
bersifat patognomonis untuk penyakit tertentu pada unggas. Pada unggas yang sudah mati
lebih dari 4 jam kurang akurat diperiksa, karena apabila kematian sudah terlalu lama maka
akan terjadi autolisis (pembusukan oleh mikroorganisme).

1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
1. Untuk mengetahui metode nekropsi
2. Untuk mengidentifikasi temuan patologis pada ayam sakit

1.3. Manfaat
Manfaat dari praktikum nekropsi ayam sakit yaitu mahasiswa mampu melakukan
nekropsi pada ayam sakit dan identifikasi perubahan patologis yang digunakan untuk
peneguhan diagnosa.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Nekropsi Pada Ayam
Menurut Fadilah dan Polana (2004), nekropsi harus dilakukan setiap hari jika ada
ayam yang mati atau ayam yang dimatikan karena dicurigai terjangkit suatu penyakit.
Tujuan dilakukannya nekropsi adalah untuk mendiagnosis atau mengidentifikasi suatu
penyakit yang menginfeksi ayam tersebut dan hasilnya akan dijadikan bahan pertimbangan
menentukan penyakit yang sedang menyerang suatu kawasan peternakan. Identifikasi
penyakit yang menyerang ayam dilakukan dengan cara melihat adanya perubahan di bagian
organ tubuh. Ayam yang dicurigai terkena penyakit harus dimatikan terlebih dahulu. Banyak
cara yang bisa dilakukan untuk mematikan ayam secara cepat tanpa menimbulkan
penderitaan pada ayam.
Prosedur yang harus dilaksanakan bila akan melakukan nekropsi ada 3 yaitu :
1. Melakukan anamnesisi selengkapnya, untuk memperoleh gambaran perjalanan penyakit
2. Melakukan pemeriksaan klinis, untuk mendapatkan gambaran penyakit yang lebih
objektif
3. Mempersiapakan sampel-sampel untuk pemeriksaan lebih lanjut, jika hasil pemeriksaan
belum meyakinkan
(Afianti, 2013).
Menurut Yuwanta (2004) bahwa pada prinsipnya, nekropsi mengeluarkan organ-
organ yang dihinggapi virus tertentu. Pada bedah bangkai, jika menggunakan ayam mati
(bangkai ayam) sebaiknya tidak menggunakan ayam yang mati lebih dari 6 jam, karena pada
ayam tersebut terdapat mikroorganisme yang mendeposisi tubuh dan ada proses autolisis
yaitu penghancuran sendiri organ-organ tubuh dan terjadi perubahan patologi anatomi. Ada
beberapa hal yang menjadi perhatian supaya hasil pemeriksaan menjadi akurat, antara lain
jenis penyakit, kondisi pasien, umur bangkai, jumlah sampel, dan tempaat pelaksanaan.
Selain itu, penilaian bedah bangkai berdasarkan perubahan-perubahan pada organ atau
jaringan yang diperiksa, yaitu ukuran organ pada ayam penderita, warna pada organ yang
diperiksa, tepi organ, bidang sayatan, dan konsistensi.

2.2. Penyakit Pada Ayam


2.2.1. Avian influenza (AI)
Avian influenza (AI) merupakan penyakit viral akut pada unggas yang
disebabkan oleh virus influenza type A subtipe H5 dan H7. Semua unggas dapat
terserang virus influenza A, tetapi wabah AI sering menyerang ayam dan kalkun.
Penyakit ini bersifat zoonosis dan angka kematian sangat tinggi karena dapat mencapai
100%. Penyebab avian influenza (AI) merupakan virus ss-RNA yang tergolong family
Orthomyxoviridae, dengan diameter 80-120 nm dan panjang 200-300 nm (Tabbu,
2000).
Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dari unggas terinfeksi dan unggas
peka melalui saluran pernapasan, konjungtiva, lendir dan feses; atau secara tidak
langsung melalui debu, pakan, air minum, petugas, peralatan kandang, sepatu, baju
dan kendaraan yang terkontaminasi virus AI serta ayam hidup yang terinfeksi. Unggas
air seperti itik dan entog dapat bertindak sebagai carrier (pembawa virus) tanpa
menujukkan gejala klinis. Unggas air biasanya berperan sebagai sumber penularan
terhadap suatu peternakan ayam atau kalkun. Penularan secara vertikal atau konginetal
belum diketahui, karena belum ada bukti ilmiah maupun empiris. Masa inkubasi
bervariasi dari beberapa jam sampai 3 (tiga) hari pada individual unggas terinfeksi
atau sampai 14 hari di dalam flok (Tabbu, 2000).
Gejala klinis yang terlihat pada ayam penderita HPAI antara lain adalah,
jengger, pial, kelopak mata, telapak kaki dan perut yang tidak ditumbuhi bulu terlihat
berwarna biru keunguan. Adanya perdarahan pada kaki berupa bintikbintik merah
(ptekhie) atau biasa disebut kerokan kaki. Keluarnya cairan dari mata dan hidung,
pembengkakan pada muka dan kepala, diare, batuk, bersin dan ngorok. Nafsu makan
menurun, penurunan produksi telur, kerabang telur lembek. Adanya gangguan syaraf,
tortikolis, lumpuh dan gemetaran. Kematian terjadi dengan cepat. Sementara itu pada
LPAI, kadang gejala klinis tidak terlihat dengan jelas (Tabbu, 2000).
Pada nekropsi (bedah bangkai) yang terlihat adalah perdarahan umum,
edema, hiperemi atau ptekhie pada hampir seluruh bagian tubuh, kondisi ini sangat
sulit dibedakan dari ND ganas. Selain itu ditemukan edema subkutan. Perubahan pada
nekropsi mungkin sangat bervariasi sejalan dengan umur, spesies, dan patogenisitas
virus. Beberapa ciri lesi tipikal dapat berupa, edema subkutan pada daerah kepala dan
leher, kongesti dan ptekhie konjunctiva, trakea dilapisi mukus atau hemorragik,
kongesti dan timbunan urat dalam ginjal, ptekhie pada proventrikulus, tembolok, usus,
lemak abdominal dan peritoneum. Ovarium pada ayam petelur terlihat hemorragik
atau nekrotik, kantung telur terisi dengan kuning telur yang ruptur sehingga sering
terlihat adanya peritonitis dan peradangan pada kantung udara. Sering pada ayam
muda yang mati perakut terlihat adanya dehidrasi dan kongesti otot yang parah
(Tabbu, 2000).
Spesimen yang diambil untuk uji serologi adalah serum, sedangkan untuk
uji virologi adalah swab hidung dan trakea, swab kloaka dan feses, paru, limpa,
pankreas dan otak. Baik jaringan organ segar maupun spesimen swab harus dikirim
dalam media transpor ke laboratorium. Pengiriman spesimen harus dijaga dalam
keadaan dingin dan dikirimkan ke Laboratorium Veteriner setempat (Tabbu, 2000).
2.2.2. Necrotic Enteritis (NE)
Radang usus nekrotik (Necrotic Enteritis/NE) disebabkan oleh Clostridium
perfringens tipe A dan C. Manifestasi penyakit ini pada dinding usus berupa luka
berdarah (lesi hemorrhangis)sampai kematian jaringan (nekrose) mukosa usus. NE
banyak ditemukan pada ternak unggas, khususnya pada ayam pedaging dan ayam
petelur. Akan tetapi kejadian penyakit ini sering kurang dikenali atau kurang
diperhatikan oleh peternak. Pasalnya, kejadian penyakit yang banyak ditemukan di
lapangan seringkali dalam bentuk subklinis, dengan tanda-tanda klinis diare, feed
conversion ratio (FCR)-nya jelek, dan pertumbuhannya juga kurang bagus. Pada NE
subklinis tidak menimbulkan kerugian yang nyata, seperti kematian dalam jumlah
besar, sehingga masalah tersebut kurang diperhitungkan oleh peternak. Secara normal,
kuman Cl. Perfringens memang sudah ada di dalam saluran pencernaan ayam sehat,
namun dalam keadaan tertentu, misalnya terjadi gangguan keseimbangan sistem
pencernaannya, kuman tersebut akan dapat berproliferasi (memperbanyak diri) dan
memproduksi toksin sehingga dapat menimbulkan penyakit (Natalia, 2004).
Gejala klinis NE yang terlihat berupa: depresi, penurunan nafsu makan, malas
bergerak, diare dan bulu kusam. Gejala klinis ini berlangsung singkat, karena
seringkali ayam mati mendadak. Dalam pemeriksaan bedah bangkai (secara Patologi
Anatomi) dijumpai kerusakan usus kecil, terutama di daerah jejenum dan ileum, tetapi
kelainan pada sekum dapat pula terjadi. Usus menjadi rapuh dan berisi gas. Lapisan
usus dilapisi oleh lapisan pseudomembran berwarna kuning kecoklatan atau hijau.
Bercak-bercak pendarahan dapat juga ditemui. Secara eksperimental, penebalan
mukosa duodenum dan jejenum dapat ditemui setelah 3 jam inokulasi. Setelah 5 jam
terjadi nekrosis mukosa usus, kemudian berkembang menjadi fibrinonekrotik yang
lebih parah dengan pembentukan membrane diptheric. Secara mikroskopis, terlihat
kolonisasi Cl. Perfringens pada epitel vili usus yang disertai nekrosa koagulatif dari
mukosa. Diagnosa NE didasarkan pada sejarah terjadinya penyakit, kematian hewan
yang mencolok, gejala klinis, kelainan patologik berupa kerusakan mukosa usus,
hepatitis dan isolasi agen penyebabnya. Sedangkan pada kasus NE subklinis, biasanya
tidak terjadi kematian ayam dalam jumlah yang mencolok, tetapi ditandai adanya diare
pada sejumlah ayam yang terserang, pertumbuhan yang tidak normal dan FCR yang
jelek. Dalam NE sub klinis terjadi peningkatan Cl. Perfringens pada usus ayam
(Natalia, 2004).
2.2.3. Newcastle Disease (ND)
Newcastle Disease (ND) adalah penyakit yang sangat menular, dengan
angka kematian yang tinggi, disebabkan oleh virus genus paramyxovirus dengan
famili paramyxoviridae. Nama lain untuk ND adalah tetelo, pseudovogolpest, sampar
ayam, Rhaniket, Pneumoencephalitis dan Tontaor furrens. Newcastle Disease
dipandang sebagai salah satu penyakit penting di bidang perunggasan. Kejadian wabah
penyakit ND seringkali terjadi pada kelompok ayam yang tidak memiliki kekebalan
atau pada kelompok yang memiliki kekebalan rendah akibat terlambat divaksinasi atau
karena kegagalan program vaksinasi (Pudjiatmoko, 2014).
Gejala klinis anak ayam dan ayam fase bertelur penderita ND dijelaskan
sebagai berikut (a) Pada anak ayam, ditemukan penderita mati tiba-tiba tanpa gejala
penyakit. Pernapasan sesak, batuk, lemah, napsu makan menurun, mencret dan
berkerumun. Terlihat gejala syarafi berupa paralisis total atau parsial. Penderita
mengalami tremor atau kejang otot, bergerak melingkar dan jatuh. Sayap terkulai dan
leher terputar (torticolis). Mortalitas pada penderita bervariasi. (b) pada ayam fase
produksi, umur 2 sampai dengan 3 minggu terlihat gejala gangguan pernapasan,
depresi dan napsu makan menurun, namun gejala syaraf jarang terlihat. Produksi telur
menurun secara mendadak. Morbiditas dapat mencapai 100%, sedangkan mortalitas
bisa mencapai 15%. Perubahan pasca mati pada unggas penderita antara lain, meliputi
ptechiae, berupa bintik-bintik perdarahan pada proventrikulus dan seca tonsil, eksudat
dan peradangan pada saluran pernapasan serta nekrosis pada usus (Pudjiatmoko,
2014).
2.2.4. Avian Coccidiosis
Avian Coccidiosis merupakan penyakit usus yang disebabkan oleh protozoa
parasit Genus Eimeria. Eimeria berkembang biak di saluran pencernaan dan
menyebabkan kerusakan jaringan. Koksidiosis pada ayam berlokasi pada dua tempat
yaitu di sekum (caecal coccidiosis) yang disebabkan oleh E. tenella dan di usus
(intestinal coccidiosis) yang disebabkan oleh delapan jenis lainnya (Rohayati, 2011).
Koksidiosis atau sering disebut berak darah adalah penyakit parasiter yang
menimbulkan gangguan terutama pada saluran pencernaan bagian aboral, angka
kesakitan dan kematian dapat mencapai 80-90%. Gejala klinis kosidiosis bervariasi
menurut spesies Eimeria yang menginfeksi ayam. Spesies Eimeria yang kurang
patogenik biasanya menyebabkan gejala klinis yang ringan atau tanpa gejala. Spesies
eimeria yang lebih patogenik dapat menyebabkan diare yang bersifat mukoid atau
hemoragik. Gejala diare biasanya akan diikuti oleh dehidrasi, bulu berdiri, anemia,
lesu, lemah, menekuk kepala dan leher serta mengantuk. Kerugian akibat koksidiosisi
adalah berat badan menurun, masa bertelur terlambat, penurunan produksi telur,
konversi ransum menjadi jelek (Rohayati, 2011).
Eimeria tenella merupakan salah satu koksidiosis sekal yang sering
ditemukan pada ayam-ayam muda. Anak-anak ayam paling peka umur 4 minggu, anak
ayam umur 1-2 minggu lebih tahan. Pada ayam yang tua mampu mengembangkan
imunitas sebagai akibat terjadinya infeksi sebeiumnya. Koksidiosis karena E. tenella
dapat bervariasi infeksinya, dari yang tidak terlihat sampai bentuk akut dan
mematikan, tergantung dosis infeksi oosista, galur koksidia, ras, umur ayam, status
gizi, agen-agen infeksi yang masuk bersamanya dan stress yang dialaminya. Bentuk
akut menciri dengan diare dan hemoragi sekal yang hebat. Pada trari ke tujuh setelah
infeksi, dincfing sekum berganti warna dari merah menjadi bercoreng-coreng karena
pembentukan oosista. Dinding tersebut terlihat sangat menebal. Kehilangan darah ke
dalam sekum menyebabkan anemia (Rohayati, 2011).
Dilakukan dengan cara menemukan koksidia-nya melalui pemeriksaan
feses. Diagnosa dapat dilakukan dengan melihat gejala klinis apabila infeksi berat
(diare berdarah). Nekropsi pada hewan yang mati, mukosa usus dikerok, bersama isi
usus dimasukkan I dalam NaCI fisiologis kemudian dilihat di bawah mikroskop.
Dilakukan sporulasi dengan memasukan feses ke dalam larutan Kalium Bikhromat 2,5
% dalam cawan petit. Kemudian diidentifikasi bentuk dan waktu sporulasi. Kerokan
epitel usus juga pertu ditakukan untuk menemukan koksidia dan titik-titik perdarahan.
Koksidiasis lebih banyak ditemukan daripada koksidiosis. Oosista dalam tinja tidak
dapat dipercaya begrtu saja untuk diagnosa, sebaliknya tidak adanya koksidia dalam
feses belum tentu dikatakan tidak ada koksidiosis, karena mungkin bam awal dari
suatu siklus (Rohayati, 2011).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
Hasil
No Organ Gambar
Pengamatan
Saluran Pencernaan
1. Paruh Normal

2. Esophagus - Normal
3. Crop - Normal
4. Proventikulus Normal

5. Ventrikulus Normal
6. Intestine Abnormal

7. Sekum Abnormal

8. Kolon - Abnormal
9. Rektum - Abnormal
Organ Asesori
1. Hepar Normal

2. Pankreas - Normal
Organ Limfoid
1. Seka Tonsil Normal

Saluran Respirasi
1. Trakea Normal

2. Paru-paru Normal

Saluran Urinari
1. Ginjal Normal

Saluran Sirkulasi
Jantung Normal

Organ Yang Abnormal


Ditemukan 1. cacing
Intestine
Raillietina sp. pada
intestine dan
intestine berwarna
merah diduga
enteritis

4.2. Pembahasan
4.2.1 Analisa Prosedur
Pertama ayam hidup diamati dan diperiksa gejala klinisnya. Selanjutnya,
didokumentasikan dan dicatat jika ada perubahan abmormal. Nekropsi dilakukan
dengan dislokasi foramen magnum ayam (Carlyle, 2012) dengan spuit 5 ml yang diisi
udara, setelah ayam mati lalu menggunakan gunting tajam-tajam yang dimulai dari
organ pencernaan mulut dipotong pada sudut lateral dan dilakukan inspeksi pada
rongga mulut. Dilanjutkan sayatan sepanjang leher sampai ke daerah pangkal dada.
Sayatan memanjang dilakukan pada oesophagus dan crop kemudian di inspeksi.
Dibuat sayatan memanjang pada laring dan trakea dan di inspeksi. Paruh bagian di
preparir dengan potongan melintang di dekat mata. Hal ini akan memungkinkan
pemeriksaan rongga hidung dan akan mengekspos ujung anterior sinus infraorbital.
Dilakukan sayatan lateral yang membujur melalui dinding setiap sinus dan diperiksa.
Bagian kulit longgar antara permukaan medial dari bagian paha dan perut dilakukan
insisi, hal ini bertujuan untuk mengispeksi kaki bagian lateral dan untuk
mendisartikulasi sendi pinggul. Dibuat sayatan memanjang melalui otot-otot dada di
setiap sisi dan di atas persimpangan costochondral. Ujung anterior setiap sayatan
harus memotong pada cerukan dada dan titik tengah dorso-ventral. Dengan gunting
tulang, dilakukan pemotongan melalui coracoid dan klavikula. Dibuat sayatan
melintang melalui bagian posterior dari otot-otot abdomen. dilanjutkan dengan
membuat insisi di bagian anterior melalui persimpangan costochondral. Dinding perut
ventral dan bagian dada dilepaskan, kemudian diamati kantung udara yang terkuak.
Setiap organ di preparir menggunakan prosedur steril dan diamati kelainan yang
mungkin ditemukan.
4.2.2 Analisa Hasil
Pada nekropsi ayam sakit kali ini ditemukan abnormalitas pada ayam antara lain
adanya discharge pada saluran pernapasan, adanya ascites pada hati, ginjal tampak
pucat dan terdapat bintik-bintik, dan pada paru-paru terdapat bintik kehitaman.
Berdasarkan temuan patologis tersebut, diagnosa penyakit dari ayam pada kelompok
kami adalah Infectious Bronchitis (IB).
Infectious Bronchitis (IB) adalah penyakit saluran pernafasan pada ayam yang
disebabkan oleh virus, bersifat akut dan sangat menular sehingga penyebarannya
dalam kelompok ayam sangat cepat sekali, dan ditandai dengan sesak nafas pada
ayam dan penurunan produksi yang tajam pada ayam petelur. Penyakit IB ini sangat
merugikan. Angka kematian pada ayam muda berkisar antara 0 – 40%, kematian
yang tertinggi pada ayam berumur kurang dari 6 minggu sedang derajat
pertumbuhannya sangat terlambat, sehingga penyakit ini sangat merugikan
peternakan ayam pedaging. Pada ayam dewasa angka kematiaanya berkisar antara 0
– 5%, dan mengakibatkan penurunan produksi telur yang sangat cepat. Penurunan
produksi telur ini dapat berlangsung dalam waktu yang cukup lama, bahkan ada
kalanya kelompok ayam yang bersangkutan tidak dapat kembali berproduksi
setingkat dengan produksi semula.
Etiologi: Penyakit IB disebabkan oleh virus IB yang termasuk ke dalam
famili Coronaviridaedan hanya memiliki satu genus, yaitu Coronavirus. Virus
IB berbentuk pleomorphic, memilikienvelop (selaput luar) dengan diameter 90
– 200 nm, serta memiliki asam inti berutas tunggal asam ribonukleat (RNA) dengan
berat molekul 8 x 106 Base pair (Bp). Virus IB mudah tumbuh dalam embrio
ayam, sedang dalam biakan jaringan hanya dapat tumbuh setelah mengalami
adaptasi. Bila berada di luar tubuh ayam virus IB akan segera in aktif, terutama bila
terkena panas atau sinar matahari. Berdasarkan sifat kimia dan fisiknya, virus IB
sangat labil dan sensitif terhadap bahan-bahan yang bersifat lipolitik (seperti ether
dan chlorofrom), panas, dan berbagai bahan disinfektan (Otsuki et al., 1979). Virus
IB umumnya dapat diinaktif dengan menempatkannya pada suhu 56°C selama 15
menit dan 45°C selama 90 menit. Virus lebih lama bertahan pada pH 11 daripada pH
3 (Alexander dan Collins, 1975). Ayam yang terinfeksi virus dalam organ dapat
terpelihara dengan baik dalam 50% glyserin NaCl physiologis. Sifat yang demikian
memungkinkan pengiriman sampel ke laboratorium tanpa pendingin (Hofstad, 1984).
Isolat virus IB dapat bertahan selama beberapa tahun bila disimpan pada suhu -30°C
(Hofstad, 1984).
Gejala Klinis: Pada ayam muda penyakit IB menyebar sangat cepat dan menulari
semua ayam dalam kelompok. Dari hidung keluar lendir, sesak nafas dan ngorok.
Mata terlihat selalu basah. Nafsu makan dan minum menurun. Anak ayam di bawah
umur tiga minggu yang terinfeksi penyakit IB memperlihatkan gejala, kesulitan
bernafas, ngorok, batuk batuk, bersin dan mata basah (Hofstad, 1984), serta
keterlambatan pertumbuhan bobot badan pada ayam broiler (Davelaar et al.,
1986). Pada ayam petelur dewasa penyakit IB menampakan gejala penurunan
produksi telur hingga mencapai 60% dalam kurun waktu 6 – 7 minggu dan selalu
disertai dengan penurunan mutu telur, seperti bentuk telur tak teratur, kerabang telur
lunak dan albumin telur cair.
Patologi anatomi pada ayam yang diduga terserang virus IB terlihat adanya cairan encer, agak
encer hingga kental di dalam trachea, saluran hidung dan sinus hidung, pada kantong udara
berwarna keruh atau mengandung eksudat berwarna kuning dan sedikit peradangan di sekitar
bronchi (Hofstad, 1984). Sementara itu, perubahan anatomi pada ayam yang terserang virus IB
yang bersifat nephrohepatic terlihat adanya pembengkakan dan berwarna pucat pada ginjal
dengan tubulus dan ureter berisi asam urat (Cumming, 1972). Pengukuhan diagnosis IB dengan
pemeriksaan sampel ayam atau organ, trachea, ginjal, dan ovarium yang diduga terserang IB,
dikirim ke laboratorium dalam keadaan segar untuk
pemeriksaan immuno- fluorescent (Chubb, 1986 dan Hawkes et al., 1983)
atauimmunoperoxidase (Nagi, 1990). Selain cara di atas pemeriksaan patologik anatomi dan
histopatologik, dikukuhkan dengan isolasi virus dan bila memungkinkan penentuan serotipe
virus IB (Cavanagh dan Nagi, 1997)