Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu sumber informasi dari pihak eksternal dalam menilai kinerja perusahaan
adalah laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses
pencatatan transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama tahun buku bersangkutan.
Laporan Keuangan merupakan media komunikasi yang digunakan untuk
menghubungkan pihak-pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan. Pentingnya laporan
keuangan juga diungkapkan bahwa laporan keuangan merupakan sarana untuk
mempertanggungjawabkan apa yang dilakukan oleh manajer atas sumber daya pemilik. Salah
satu parameter penting dalam laporan keuangan yang digunakan untuk mengukur kinerja
manajemen adalah laba.
Laporan keuangan dibuat oleh manajemen dengan tujuan untuk
mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya oleh para pemilik
perusahaan. Disamping itu laporan keuangan juga digunakan untuk memenuhi tujuan-tujuan
lain yaitu sebagai laporan kepada pihak diluar perusahaan. Kinerja manajemen perusahaan
tersebut tercermin pada laba yang terkandung dalam laporan laba rugi. Oleh karena itu proses
penyusunan laporan keuangan dipengaruhi oleh faktor faktor tertentu yang dapat menentukan
kualitas laporan keuangan. Manajemen perusahaan dapat memberikan kebijakan dalam
penyusunan laporan keuangan tersebut untuk mencapai tujuan tertentu. Scott (2000:296)
didalam bukunya yang berjudul “Financial Accounting Theory” mengatakan bahwa pilihan
kebijakan akuntansi yang dilakukan manajer untuk tujuan spesifik itulah disebut dengan
manajemen laba.
Manajemen laba, akhir-akhir ini merupakan sebuah fenomena umum yang terjadi di
sejumlah perusahaan. Praktik yang dilakukan untuk mempengaruhi angka laba dapat terjadi
secara legal maupun tidak legal. Praktik legal dalam manajemen laba berarti usaha untuk
mempengaruhi angka laba tidak bertentangan dengan aturan pelaporan keuangan dalam
PABU, khususnya dalam Standar Akuntansi, yaitu dengan cara memanfaatkan peluang untuk
membuat estimasi akuntansi, melakukan perubahan metode akuntansi, dan menggeser
periode pendapatan atau biaya.

[Earnings Management] 1
Adapun manajemen laba yang dilakukan secara illegal (disebut juga dengan financial
fraud), dilakukan dengan cara-cara yang tidak diperbolehkan oleh PABU, yaitu dengan cara
melaporkan transaksi-transaksi pendapatan atau biaya secara fiktif dengan cara menambah
(mark up) atau mengurangi (mark down) nilai transaksi, atau mungkin dengan tidak
melaporkan sejumlah transaksi, sehingga akan menghasilkan laba pada nilai/tingkat tertentu
yang dikehendaki.
Penurunan kualitas laporan keuangan merupakan dampak utama yang diakibatkan
dari adanya manajemen laba, di samping dampak-dampak lainnya. Setiawati dan Na’im
(2000) menyatakan bahwa manajemen laba merupakan salah satu faktor yang dapat
mengurangi kredibilitas laporan keuangan. Manajemen laba menambah bias dalam laporan
keuangan dan dapat mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba
hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa. Begitu juga menurut Widarto
(2004:33) yang menyatakan bahwa dalam pandangan orang awam, manajemen laba dianggap
tidak etis, bahkan merupakan bentuk dari manipulasi informasi sehingga menyesatkan.

A. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep laba dalam akuntansi?
2. Bagaimana konsep manajemen laba?
3. Apa faktor-faktor penyebab munculnya manajemen laba?
4. Apa motivasi manajer dalam melakukan manajemen laba?
5. Bagaimana terjadinya manajemen laba melalui manipulasi akuntansi?
6. Bagaimana pola yang dilakukan dalam praktik manajemen laba?
7. Bagaimana teknik yang digunakan dalam praktik manajemen laba?
8. Apa saja hal baik dan buruk yang disebabkan oleh manajemen laba?

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep laba dalam akuntansi
2. Untuk mengetahui konsep manajemen laba
3. Untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan munculnya manajemen laba
4. Untuk mengetahui motivasi manajer dalam melakukan manajemen laba
5. Untuk mengetahui bagaimana terjadinya manajemen laba melalui manipulasi
akuntansi
6. Untuk mengetahui pola yang dilakukan dalam praktik manajemen laba

[Earnings Management] 2
7. Untuk mengetahui teknik yang digunakan dalam praktik manajemen laba
8. Untuk mengetahui baik dan buruknya yang disebabkan oleh manajemen laba

[Earnings Management] 3
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Laba Akuntansi


Pengertian laba yang dianut oleh struktur akuntansi adalah laba akuntansi yang
merupakan selisih antara pengukuran pendapatan dan biaya. Besar kecilnya laba sebagai
kenaikan aktiva sangat tergantung pada ketepatan pengukuran pendapatan dan biaya. Jadi
dalam hal ini laba hanya merupakan angka artikulasi dan tidak dapat didefinisikan
tersendiri secara ekonomik seperti halnya aktiva dan atau hutang.
Laba akuntansi adalah perbedaan antara revenue yang direalisasi yang timbul dari
transaksi pada periode tertentu dihadapkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada
periode tersebut.
Untuk menghitung laba ini, masing-masing orang atau perusahaan dapat
menentukan rumus perhitungan labanya tersendiri. Laba merupakan informasi penting
dalam suatu laporan keuangan. Angka ini penting untuk :
a. Perhitungan pajak, berfungsi sebagai dasar pengenaan pajak yang akan diterima
Negara.
b. Untuk menghitung deviden yang kan dibagikan kepada pemilik dan yang kan ditahan
dalam perusahaan.
c. Sebagai pedoman dalam menentukan kebijaksanaan investasi dan pengambilan
keputusan.
d. Menjadi dasar dalam peramalan laba maupun kejadian ekonomi perusahaan lainnya di
masa yang akan datang.
e. Sebagai dasar dalam perhitungan dan penilaian efisiensi.
f. Untuk menilai prestasi atau kinerja perusahaan/segmen perusahaan divisi.

B. Konsep Manajemen Laba


Manajemen laba adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh pihak manajemen
yang menaikkan atau menurunkan laba yang dilaporkan dari unit yang menjadi tanggung
jawabnya yang tidak mempunyai hubungan dengan kenaikkan atau penurunan
profitabilitas perusahaan untuk jangka panjang. Dengan demikian, manajemen laba dapat
diartikan sebagai suatu tindakan manajemen dalam mempengaruhi laba yang dilaporkan
dan memberikan manfaat ekonomi yang keliru kepada perusahaan, sehingga dalam
jangka panjang hal tersebut akan sangat menggangu bahkan membahayakan perusahaan.
[Earnings Management] 4
Definisi manajemen laba menjadi dua, yaitu:
a. Definisi sempit. manajemen laba dalam hal ini hanya berkaitan dengan pemilihan
metode akuntansi. Earnings management dalam artian sempit ini didefinisikan
sebagai perilaku manajemen untuk “bermain” dengan komponen discretionary
accruals dalam menentukan besarnya earnings.
b. Definisi luas. manajemen laba merupakan tindakan manajer untuk meningkatkan
(mengurangi) laba yang dilaporkan saat ini atas suatu unit dimana manajer
bertanggung jawab, tanpa mengakibatkan peningkatan (penurunan) profitabilitas
ekonomi jangka panjang unit tersebut.
Manajemen laba sebagai suatu intervensi dengan maksud tertentu terhadap proses
pelaporan keuangan eksternal dengan sengaja memperoleh beberapa keuntungan pribadi.
Manajemen laba terjadi ketika manajer menggunakan judgment dalam pelaporan
keuangan dan penyusunan transaksi untuk merubah laporan keuangan, sehingga
menyesatkan stakeholder tentang kinerja ekonomi perusahaan atau untuk mempengaruhi
hasil yang berhubungan dengan kontrak yang tergantung pada angka akuntansi yang
dilaporkan. Manajemen laba merupakan pemilihan kebijakan akuntansi untuk mencapai
tujuan khusus.
Tujuan manajemen laba adalah memanipulasi besaran laba yang dilaporkan
kepada para pemegang saham dan mempengaruhi hasil perjanjian yang bergantung pada
angka-angka akuntansi yang dilaporkan. Fischer dan Rosenzweig (1995) memandang
earnings management sebagai serangkaian langkah yang dilakukan manajer untuk
meningkatkan atau menurunkan jumlah laba yang dilaporkan dalam tahun berjalan yang
merupakan tanggung jawabnya tanpa menyebabkan penurunan atau peningkatan
keuntungan yang dicapai suatu badan usaha dalam jangka panjang.
Ada tiga sasaran yang dapat dicapai oleh manajer dalam melakukan manajemen
laba meliputi: minimalisasi biaya politik (political cost minimization), maksimalisasi
kesejahteraan manager (manager wealth maximization), dan minimalisasi kas pendanaan
(minimization of financing cost).

C. Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Manajemen Laba:

Ada tiga faktor yang bisa dikaitkan dengan munculnya praktek manajemen
laba yaitu:

[Earnings Management] 5
1. Manajemen Akrual (accruals management). Faktor ini biasanya berkaitan dengan
segala aktivitas yang dapat mempengaruhi aliran kas dan juga keuntungan yang
secara pribadi merupakan wewenang dari para manajer (managers discretion).
2. Penerapan Suatu Kebijaksanaan Akuntansi yang Wajib. Faktor ini berkaitan
dengan keputusan manajer untuk menerapkan suatu kebijaksanaan akuntansi yang
wajib diterapkan oleh perusahaan yaitu antara menerapkannya lebih awal dari
waktu yang ditetapkan atau menundanya sampai saat berlakunya kebijaksanaan
tersebut.
3. Perubahan Aktiva Secara Sukarela. Faktor ini biasanya berkaitan dengan upaya
manajer untuk mengganti atau merubah suatu metode akuntansi tertentu diantara
sekian banyak metode yang dapat dipilih yang tersedia dan diakui oleh badan
akuntansi yang ada (Generally Accepted Accounting Principles).

D. Motivasi Manajemen Laba


Sugiri (2005) menyatakan bahwa salah satu motivasi manajemen laba adalah
mengelabui kinerja ekonomi yang sebenarnya, dan itu dapat terjadi karena terdapat
ketidaksimetrian informasi antara manajemen dan para pemegang saham suatu badan
usaha. Motivasi manajemen laba lainnya adalah mempengaruhi penghasilan (telah diatur
dalam kontrak) yang bergantung pada angka-angka akuntansi yang dilaporkan dengan
asumsi bahwa manajemen memiliki kepentingan pribadi dan kompensasinya didasarkan
pada laba akuntansi.
Faktor-faktor yang memotivasi pihak manajemen untuk melakukan manajemen
laba adalah sebagai berikut:
a. Program Bonus (Bonus Plan).
Adanya asimetri informasi mengenai keuangan perusahaan menyebabkan
pihak manajemen dapat mengatur laba bersih untuk memaksimalkan bonus mereka.
Pada motivasi ini, diasumsikan bahwa manajer meningkatkan keuntungan yang
dilaporkan dalam upaya untuk memaksimalkan imbalan bonus yang akan diterima.
Manajer pada perusahaan yang menerapkan program bonus lebih cenderung
untuk menggunakan metode atau prosedur-prosedur akuntansi yang akan menaikkan
laba saat ini dengan memindahkan laba periode mendatang ke periode berjalan.
b. Kontrak Utang (Debt Covenant).
Semakin dekat suatu perusahaan ke waktub pelanggaran kontrak utang,
manajemen akan cenderung memilih metode akuntansi yang dapat ‘memindahkan’
[Earnings Management] 6
laba periode mendatang ke periode berjalan, yang bertujuan untuk mengurangi
kemungkinan perusahaan mengalami technical defauld (kegagalan dalam pelunasan
hutang).
c. Motivasi Politis (political motivation).
Perusahaan besar yang menguasai hajat hidup orang banyak akan cenderung
menurunkan labanya untuk mengurangi visibilitasnya, misalnya dengan menggunakan
praktik atau prosedur akuntansi, khususnya selama periode kemakmuran tinggi.
d. Motivasi Pajak (taxation motivation).
Salah satu insentif yang dapat memicu manajer untuk melakukan rekayasa
laba adalah keinginan untuk meminimalkan pajak atau total pajak yang harus
dibayarkan perusahaan. Hal ini karena laba sering dijadikan landasan untuk
mengambil keputusan, menyusun kontrak maupun penilaian kinerja suatu manajer.
e. Pergantian CEO (Chief Executive Officer).
Banyak motivasi yng timbul disekitar waktu penggantian CEO. Contohnya,
CEO yang mendekati masa pensiun (tugas akhirnya) akan melakukan strategi
memaksimalkan laba untuk meningkatkan bonusnya.
f. IPO (Initial Public Offering).
Perusahaan yang baru pertama kali menawarkan sahamnya dipasar modal
belum memiliki harga pasar, sehingga terdapat masalah bagaimana menetapkan nilai
saham yang ditawarkan. Oleh karena itu, informasi seperti laba bersih dapat
digunakan sebagai sinyal kepada calon investor tentang nilai perusahaan, sehingga
manajemen perusahaan yang akan go public cenderung melakukan manajemen laba
untuk memperoleh harga lebih tinggi atas sahamnya.

E. Terjadinya Manajemen Laba melalui Manipulasi Akuntansi


Manajemen laba yang dilakukan manajemen biasanya dilakukan melalui
manipulasi akuntansi. Manipulasi akuntansi merujuk pada pengubahan catatan akuntansi
secara sengaja dari yang seharusnya untuk memperoleh posisi atau kondisi keuangan
tertentu dengan tujuan akhir berupa perubahan sikap pemangku kepentingan sesuai
dengan yang diinginkan pihak manajemen. Manipulasi akuntansi tidak memiliki dampak
terhadap aliran kas atau factor ekonomik real lainnya.

[Earnings Management] 7
a. Manipulasi yang melanggar PABU
Mencakup pelanggaran nyata terhadap PABU dalam konteks pendekatan
akuntansi berbasis aturan. Macam-macam pelanggaran ini antara lain: transaksi fiktif
dengan cara menambah (mark up) atau mengurangi (mark down) nilai transaksi, atau
mungkin dengan tidak melaporkan sejumlah transaksi, percepatan pengakuan
pendapatan dengan mengubah tanggal menjadi lebih awal, pengakuan biaya sebagai
asset, dll.

b. Manipulasi yang selaras dengan PABU


Memanipulasi laba dengan menggunakan fleksibilitas yang diperbolehkan
GAAP (Generally Accepted Accounting Principles). Manipulasi ini dikelompokkan
menjadi 3 kelompok yaitu:
1) Pemilihan metode
Cara ini meliputi pengubahan metode yang sebelumnya digunakan ke
metode lain yang lebih menguntungkan. Misalnya pengubahan metode alokasi
depresiasi dan aliran biaya pada sediaan. Hal ini dimungkinkan dengan adanya
berbagai alternatif yang tersedia di PABU. Namun demikian, cara ini tidak terlalu
efektif untuk memanipulasi laba. Pertama, pemilihan metoda harus diungkap
dalam catatan laporan keuangan sehingga tidak terlalu sulit bagi pihak‐pihak yang
berkepentingan untuk mendeteksi apa yang terjadi (i.e. manipulasi akuntansi bila
terjadi). Kedua, cara ini tidak dapat seringsering digunakan karena pengubahan
metode yang terlalu sering tentu akan menimbulkan kecurigaan.
2) Pengubahan unsur‐unsur estimasi
Managemen menggunakan metode ini untuk memanipulasi laba dengan
mengubah estimasi akuntansi. Ini dilakukan dengan mengubah unsur‐unsur
estimasi seperti pada umur ekonomis dan nilai sisa pada aset jangka panjang,

[Earnings Management] 8
perkiraan piutang tak tertagih, asset impairments. Manipulasi laba semacam ini
sangat sulit dideteksi oleh investor secara umum.
3) Penstrukturan transaksi
Penstrukturan transaksi, secara akuntansi, dilakukan dengan menyesuaikan
unsur‐unsur transaksi. Contoh yang umum untuk cara ini adalah penstrukturan
sewa guna usaha (i.e. capital atau operating lease), investasi saham/ekuitas (i.e.
dikonsolidasi atau tidak dikonsolidasi).

F. Pola Manajemen Laba


Pola manajemen laba dapat dilakukan dengan cara:
a. Taking a Bath (Penurunan Laba Secara Besar-Besaran)
Hal ini terjadi selama periode pada saat terjadinya reorgenerasi, termasuk
adanya pergantian pimpinan baru. Jika manajer merasa harus melaporkan kerugian,
maka ia akan melaporkan dalam jumlah yang besar. Dengan tindakan ini manajer
berharap dapat meningkatkan laba yang akan datang dan kesalahan atas kerugian
perusahaan dapat dilimpahkan kepada manajer lama. Konsekuensinya, mereka akan
menghapus asset, menyediakan biaya yang diharapkan di masa mendatang, dan secara
umum akan meningkatkan probabilitas keuntungan yang dilaporkan di masa datang.
b. Income Minimization.
Pola ini mirip dengan taking a bath tetapi lebih halus. Cara ini dilakukan pada
saat profitabilitas perusahaan sangat tinggi, sehingga jika periode yang akan datang
diperkirakan laba turun drastis dapat diatasi dengan mengambil laba periode
sebelumnya.
c. Income Maximization.
Dilakukan pada saat laba menurun. Tindakan atas income maximization
bertujuan untuk melaporkan net income yang tinggi untuk tujuan bonus yang besar.
Pola ini dilakukan oleh perusahaan yang melakukan pelaggaran perjanjian hutang.
Pola ini dapat dilakukan dengan mengakui pendapatan terlebih dahulu, dan menunda
pengakuan beban.
d. Income Smoothing
Dilakukan perusahaan dengan cara meratakan laba yang dilaporkan sehingga
dapat mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan dan dapat meningkatkan

[Earnings Management] 9
kemampuan investor untuk memprediksi aliran kas di masa yang akan datang. karena
pada umumnya investor lebih menyukai aliran laba yang relatif stabil.
Perataan laba dapat dihasilkan dari hal-lah berikut ini:
1) Natural income smoothing, yaitu proses pembentukan laba secara inheren
menghasilkan suatu stream earnings yang relatif merata, seperti yang terjadi pada
utilitas publik (Eckel, 1981).
2) Intentional income smoothing, yaitu yang disebabkan oleh tindakan manajemen.
yang dapat digolongkan ke dalam dua hal di bawah ini.
3) Real income smoothing (RIS), yang merupakan respons manajer terhadap
perubahan kondisi perekonomian. Hasil investigasinya menunjukkan hasil bahwa
RIS mempengaruhi aliran kas perusahaan.
4) Artificial income smoothing (AIS), yaitu upaya manajer untuk secara "artifisial"
mengurangi variabilitas laba. Hasil investigasinya menunjukkan hasil bahwa AIS
tidak memiliki dampak langsung terhadap aliran kas perusahaan.

G. Teknik Manajemen Laba

Ada tiga cara yang dapat digunakan untuk melakukan manajemen laba pada laporan
keuangan yaitu:

1. Memanfaatkan peluang untuk membuat estimasi akuntansi


Cara ini merupakan cara manajer untuk mempengaruhi laba melalui judgement
terhadap estimasi akuntansi antara lain: estimasi tingkat piutang tak tertagih, estimasi
kurun waktu depresiasi aktiva tetap atau amortisasi aktiva tak berwujud, estimasi
biaya garansi, dan lain-lain.
2. Mengubah metode akuntansi
Perubahan metoda akuntansi yang digunakan untuk mencatat suatu transaksi, contoh:
mengubah metoda depresiasi aktiva tetap, dari metoda depresiasi angka tahun ke
metoda depresiasi garis lurus.
3. Menggeser perioda biaya atau pendapatan
Beberapa orang menyebutkan rekayasa jenis ini sebagai manipulasi keputusan
operasional. Contoh: rekayasa perioda biaya atau pendapatan antara lain:
mempercepat atau menundapengeluaran untuk penelitian sampai perioda akuntansi
berikutnya, mempercepat atau menunda pengeluaran promosi sampai perioda

[Earnings Management] 10
akuntansi berikutnya, mengatur saat penjualan aktiva tetap yang sudah tidak dipakai,
dan lain-lain.

H. Baik dan Buruknya Manajemen Laba

Mulford (2010) menyatakan bahwa untuk dapat menilai baik dan buruknya
manajemen laba tergantung pada sifat langkah-langkah manajemen laba yang dilakukan dan
tujuan dari manajemen laba tersebut. Langkah-langkah manajemen laba bisa berada dalam
rentang mulai dari yang paling hati-hati dengan menggunakan fleksibilitas dalam batasan
SAK, menggunakan fleksibilitas yang hampir di luar batasan SAK, sampai pada melanggar
SAK dengan membuat laporan keuangan bermuatan kecurangan.

Ada berbagai pandangan mengenai manajemen laba itu sendiri, biasanya akademisi
berpendapat bahwa manajemen laba itu tidak buruk dengan mengasumsikan bahwa laporan
keuangan telah mengungkapkan seluruh manajemen laba yang dilakukan, atau dengan kata
lain manajemen laba yang baik adalah manajemen laba yang masih dalam batasan aturan
SAK dan diungkapkan secara penuh mengenai dampaknya terhadap kinerja keuangan tahun
berjalan dan yang akan datang.

Sedangkan manajemen laba yang buruk adalah menyajikan kinerja keuangan yang
menyesatkan pembacanya dengan tidak mengungkapkan seluruhnya maupun sebagian
mengenai dampaknya terhadap kinerja keuangan dan biasanya dilakukan secara tersembunyi.

[Earnings Management] 11
BAB III

SIMPULAN

Laba akuntansi adalah perbedaan antara revenue yang direalisasi yang timbul dari
transaksi pada periode tertentu dihadapkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan pada
periode tersebut. Laba merupakan informasi penting dalam suatu laporan keuangan. Angka
ini penting untuk :
a. Perhitungan pajak, berfungsi sebagai dasar pengenaan pajak yang akan diterima
Negara.
b. Untuk menghitung deviden yang kan dibagikan kepada pemilik dan yang kan
ditahan dalam perusahaan.
c. Sebagai pedoman dalam menentukan kebijaksanaan investasi dan pengambilan
keputusan.
d. Menjadi dasar dalam peramalan laba maupun kejadian ekonomi perusahaan
lainnya di masa yang akan datang.
e. Sebagai dasar dalam perhitungan dan penilaian efisiensi.
f. Untuk menilai prestasi atau kinerja perusahaan/segmen perusahaan divisi.
Manajemen laba adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh pihak manajemen yang
menaikkan atau menurunkan laba yang dilaporkan dari unit yang menjadi tanggung jawabnya
yang tidak mempunyai hubungan dengan kenaikkan atau penurunan profitabilitas perusahaan
untuk jangka panjang.

[Earnings Management] 12
DAFTAR PUSTAKA

Goel, Sandeep. (2016). The Earnings Management Motivation: Acrcrual Accounting vs. Cash
Accounting. Journal of Bussines and Finance, 1-21.

https://www.scribd.com/document/318806221/174041578-MAKALAH-Manajemen-Laba

https://www.google.com/amp/s/istanafeli.wordpress.com/2016/12/14/manajemen-laba-
earning-management/amp/

https://mikoedoankz.wordpress.com/2013/11/14/manajemen-laba/

http://marketplus.co.id/2017/06/baik-buruknya-manajemen-laba/

[Earnings Management] 13
LAMPIRAN

Akuntansi Australasia, Jurnal Bisnis dan Keuangan

Motivasi Manajemen Laba: Akuntansi Akrual vs


Akuntansi Kas

Dr. Sandeep Goel

Institusi Pengembangan Manajemen, Gurgon, India, sandeep@mdi.ac.id

Abstrak

Dasar akuntansi akrual selalu mendapat perhatian di antara praktisi perusahaan manajemen
laba. Ada penelitian yang luas pada manajemen laba, dengan fokus pada bahaya laba.
Makalah ini memberikan kontribusi untuk literatur dengan menunjukkan kecenderungan
pasar untuk basis akrual dengan termotivasi oleh keinginan untuk manajemen laba. Ini
analisis kinerja unit sampel sehubungan dengan akrual-indikator vs cash-indikator dan
besarnya kegunaan mereka pada harga saham di India. Di India, model kepemilikan
perusahaan adalah Promotor Didominasi Pemegang Saham Model (PDSHM) yang membuat
studi ini unik dalam menyoroti motivasi manajemen laba. Unit menunjukkan preferensi pasar
untuk nomor akrual dan motivasi untuk manajemen laba yang jelas dalam perilaku harga
saham mereka. Saya berharap studi ini meningkatkan persepsi investor dari keandalan kinerja
perusahaan, yang diukur dengan pendapatan. Hal ini berguna bagi para pengguna akuntansi
keuangan dan keuangan perusahaan secara global untuk merasionalisasi motivasi di balik
manipulasi laba oleh manajemen.

Kata kunci
Akrual basis, kas basis, indikator akuntansi, harga saham, manajemen laba

[Earnings Management] 14
I. Pendahuluan

Tujuan dari laporan keuangan selalu melaporkan kepada berbagai pemangku


kepentingan untuk membantu evaluasi kinerja manajemen. Di sinilah sistem akrual
mengasumsikan kepentingan tinggi. Hal ini dianggap unggul daripada orang lain meskipun itu
telah terus-menerus ditantang oleh akuntansi arus kas. Tantangan oleh akuntansi arus kas lebih
pada pentingnya dan efektivitas akuntansi akrual dan pergeseran ke arah pendekatan arus kas
dalam analisis keamanan (Hawkins & Campbell, 1978). Pertanyaan tentang keunggulan
akuntansi akrual lebih akuntansi arus kas yang bersangkutan dengan tujuan dan sifat
pelaporan keuangan, yaitu sistem akrual lebih disukai untuk tujuannya manajemen Laba.
Yang mengatakan, manajemen laba adalah strategi yang dapat digunakan oleh manajemen
perusahaan untuk sengaja memanipulasi pendapatan perusahaan untuk memenuhi target yang
telah ditentukan. Praktek ini dilakukan dengan bantuan akuntansi akrual. (2012) studi Goel ini
mengevaluasi implikasi dari akrual diskresioner untuk manajemen laba di perusahaan
perusahaan India. Analisisnya menunjukkan adanya akrual terkait manajemen laba di unit
dipelajari.

Dengan demikian, tujuan utama dari diskusi ini adalah untuk menguji secara empiris
manfaat relatif dari indikator akuntansi dari kedua akrual dan arus kas akuntansi dalam hal
ketekunan dan variabilitas mereka untuk perilaku saham berkaitan dengan manajemen laba.

India melihat dua penipuan perusahaan besar yaitu Satyam dan Kingfisher pada tahun 2009
dan 2012 masing-masing. Ini tidak hanya menyebabkan kerugian finansial bagi pemegang
saham tetapi juga terganggu status quo seluruh sistem keuangan. Insiden setiap penipuan
tersebut membuka mempertanyakan efektivitas kerangka tata kelola dan kualitas laba yang
dilaporkan. Hal ini membutuhkan perubahan dalam rezim peraturan. India memiliki proses
transformasi dalam bentuk baru Companies Act, 2013 setelah jeda 57 tahun sejak berusia
Companies Act, 1956. Ini akan bertindak sebagai titik acuan global dan merupakan kunci
untuk relevansi studi ini.

Di AS ada model pemegang saham tata kelola perusahaan. Negara-negara seperti


Jepang memiliki model yang terkoordinasi. Tapi, di India perusahaan saksi Promotor
Didominasi Pemegang Saham Model (PDSHM) dengan kontrol yang kuat dari promotor. Di
sektor swasta, sebagian besar perusahaan adalah bisnis milik keluarga dengan pemegang
saham terbesar memegang lebih dari 50%. Ini panggilan untuk perhatian khusus untuk
motivasi manajemen laba dan deteksi yang pada tahap awal.

[Earnings Management] 15
Namun, sudah ada studi terbatas yang dieksplorasi kualitas laba dalam konteks India.
Studi ini mengevaluasi kualitas laba yang dilaporkan perusahaan India yang beroperasi secara
global. Para pembuat kebijakan di India telah diubah klausul 49 dari properti Perjanjian untuk
menanamkan praktik tata suara antara perusahaan India. Hal ini membuat penelitian ini
penting dan tepat waktu. Juga, sebuah penelitian terbaru oleh (Pathak et al, 2014)
menekankan bahwa setiap negara memiliki 'nya standar sendiri, peraturan dan budaya', dan
ada kebutuhan untuk mengeksplorasi manajemen laba - dalam konteks tertentu.

Makalah ini memberikan kontribusi untuk literatur dengan mempelajari respon pasar
terhadap dasar akuntansi untuk mendeteksi manajemen laba di perusahaan India. Efek ini
telah diperiksa dengan bantuan indikator akuntansi di perusahaan perusahaan yang dipilih.
Selanjutnya, variabilitas dan ketekunan mereka sudah diperiksa untuk menguji tingkat bukti
manajemen laba.

Sisa kertas ini disusun sebagai berikut. Bagian selanjutnya menyajikan tinjauan
literatur rinci konsep terkait untuk mengembangkan prediksi kita tentang manajemen laba.
Bagian selanjutnya menjelaskan prosedur pemilihan sampel, metodologi penelitian dan
statistik deskriptif. Bagian 4 menyajikan hasil analisis dengan bagian 5 menyimpulkan kertas.
Bagian 6 dan 7 menyajikan keterbatasan penelitian dan implikasi untuk penelitian masa
depan.

II. Literatur

Definisi manajemen laba

Manajemen Laba oleh perusahaan telah lama didokumentasikan dalam literatur


akademik. Manajemen laba yang dilaporkan merupakan perhatian akuntansi utama baik untuk
akademisi serta industri (Dechow & Skinner, 2000).

Watts dan Zimmerman (1978) menyatakan bahwa manajemen laba terjadi ketika
manajer memiliki perilaku diskresioner berhubungan dengan angka akuntansi dengan atau
tanpa batas dan perilaku ini dapat diadopsi untuk memaksimalkan nilai perusahaan. Banyak
survei telah diterbitkan pada topik (Barnea et al, 1976;. Imhoff, 1977; Ronen & Sadan, 1981;
Healy & Whalen, 1999; Dechow & Skinner, 2000; Stolowy & Breton, 2004). (Pengirim,
1989) mengatakan bahwa manajemen laba adalah “. . . intervensi tujuan dalam proses
pelaporan keuangan eksternal, dengan maksud memperoleh beberapa keuntungan pribadi. .
.”(Healy & Whalen, 1999, p.368) menjelaskan bahwa manajemen laba terjadi ketika manajer

[Earnings Management] 16
menggunakan kebijaksanaan untuk memanipulasi informasi keuangan“. . . baik menyesatkan
beberapa stakeholder tentang kinerja ekonomi yang mendasari perusahaan atau untuk
mempengaruhi hasil kontrak yang tergantung pada angka akuntansi yang dilaporkan.”Dalam
baris ini, García Lara et al. (2005) membuktikan bahwa manajemen laba adalah sengaja
dilakukan dalam praktek manajemen, oportunistik dan / atau pendidikan, dengan tujuan untuk
melaporkan hasil yang diinginkan, berbeda dari yang nyata. Scott (2009) menentukan
manajemen laba sebagai “pilihan kebijakan atau tindakan yang dapat mempengaruhi laba
untuk mencapai tujuan tertentu akuntansi.

Konsisten antara definisi ini adalah gagasan dari manipulasi yang disengaja dari
angka yang dilaporkan oleh manajemen. Singkatnya, manajemen laba merupakan 'manajemen
akrual', yaitu penggunaan akrual untuk mencapai target yang telah ditentukan.

Motivasi manajemen laba

(Burgstahler et al., 1997) memberikan bukti sistematis bahwa perusahaan


meningkatkan laba yang dilaporkan untuk mencapai berbagai insentif. Meluasnya penggunaan
informasi akuntansi oleh investor dan analis keuangan untuk membantu nilai saham dapat
menciptakan insentif bagi manajer untuk memanipulasi laba dalam upaya untuk
mempengaruhi kinerja harga saham jangka pendek. Timbul pertanyaan - Apakah perusahaan
mengelola laba untuk tujuan pasar saham? (DeAngelo, 1988) melaporkan bahwa laba
informasi penting untuk penilaian di buyout manajemen dan hipotesis para manajer
perusahaan buyout memiliki insentif untuk "mengecilkan" laba.

Temuan menunjukkan bahwa perusahaan melaporkan positif (pendapatan meningkat)


akrual tak terduga sebelum penawaran ekuitas berpengalaman (Teoh, Welch, & Wong 1998b),
umum perdana menawarkan (Teoh, Welch, & Wong 1998a, Teoh, Wong, & Rao 1998) .Lain
Sebelum studi tentang manajemen laba akrual (AEM) sekitar US IPO memberi hasil beragam
(Ducharme, Malatesta, & Sefcik, 2001; Darrough & Rangan 2005; Ball & Shivakumar, 2008;
Penagihan & Lewis, 2010).

Secara keseluruhan, kekayaan bukti efek pasar saham angka pendapatan jelas
menunjukkan bahwa, meskipun ada kekhawatiran tentang manajemen laba, investor melihat
penghasilan sebagai data nilai-relevan yang lebih informatif dari data yang arus kas. Temuan
ini telah direplikasi selama jangka waktu dan di banyak negara. Hal ini menunjukkan bahwa
investor tidak melihat manajemen laba sebagai begitu meresap untuk membuat data

[Earnings Management] 17
pendapatan tidak dapat diandalkan. Penafsiran ini dikonfirmasi oleh temuan Dechow (1994)
bahwa pendapatan saat ini adalah prediktor yang lebih baik dari arus kas masa depan daripada
arus kas saat ini.

Link manajemen laba dengan insider trading didokumentasikan oleh (Beneish &
Vargus, 2002), (Park & Park, 004) dan (Cheng & Warfield, 2005). Penelitian lain
mendokumentasikan hubungan antara manajemen laba dan kompensasi saham melalui opsi
saham (Baker et al, 2003), (Bartov & Mohanram, 2004), (Kwon & Yin, 2006).

(Graham et al., 2005) berpendapat bahwa manajer lebih suka manajemen laba riil
manajemen laba berbasis akrual-to karena manipulasi akrual lebih mungkin untuk diteliti oleh
auditor eksternal dan badan pengawas sementara kegiatan nyata manipulasi memiliki
kesempatan yang lebih rendah dari yang terdeteksi. Selain itu, (Cohen, Dey, & Lys, 2008)
menemukan bahwa perusahaan beralih dari akrual berbasis dengan manajemen laba nyata
setelah berlalunya Sarbanes-Oxley Act (SOX) pada tahun 2002.

Literatur terbaru menunjukkan bahwa strategi manajemen mungkin laba pada saat
penerbitan SEO dan pengaturan lainnya tidak hanya terbatas pada berlebihan akrual, tetapi
bisa termasuk manipulasi kegiatan nyata (Cohen & Zarowin, 2010, Zang, 2011, Badertscher,
2011).

Selanjutnya, jalan penelitian dalam manajemen laba adalah investigasi driver untuk
pilihan satu praktek atas yang lain dan untuk menjelaskan alasan seperti IPO atau situasi
kesulitan keuangan (Cohenet al, 2008;. Campa & Camacho-Minano 2015) .

Metode manajemen laba

Dalam manajemen laba, isu mengukur efek dari penggunaan manajer kebijaksanaan
akuntansi dalam metode akuntansi pilihan tidak bisa dihindari. Ada dua teknik umum dikenal
untuk memanipulasi laba: manipulasi akrual atau kegiatan nyata manipulasi (Schipper, 1989).
Teoh, Wong, dan Rao (1998) memeriksa perkiraan depresiasi dan ketentuan utang buruk
sekitarnya penawaran umum perdana. Mereka menemukan bahwa, pada sampel cocok dari
perusahaan non-IPO, perusahaan sampel lebih mungkin untuk memiliki kebijakan penyusutan
pendapatan meningkat dan tunjangan utang buruk di tahun IPO dan selama beberapa tahun
kemudian. Beneish (2001) membahas analisis untuk pencaharian meningkatkan manajemen
laba, pendapatan menurun manajemen laba dan konteks tertentu, misalnya lembaga keuangan
dengan kendala regulasi.

[Earnings Management] 18
(Cohen & Zarowin, 2010) berfokus pada tiga isu: apakah manajer memanipulasi laba
baik melalui akrual dan kegiatan nyata; bagaimana tradeoff perusahaan antara akrual dan
manajemen laba riil, dan konsekuensi ekonomi dari akrual dan pendapatan riil manajemen
sekitar SEO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan menggunakan
kedua AEM dan REM sekitar SEO, dan perusahaan-perusahaan ini mengungguli rekan-rekan
industri mereka dalam periode sebelum SEO dan underperform rekan-rekan mereka mengikuti
SEO.

(Zang, 2011) mengusulkan bahwa tingkat relatif terhadap yang manajer terlibat dalam
manipulasi aktivitas nyata versus akrual manipulasi mencerminkan biaya yang berkaitan
dengan strategi baik.

Penelitian difokuskan pada manipulasi akrual merupakan bagian paling penting dalam
literatur sebelumnya. Studi telah terutama digunakan manipulasi akrual sebagai proxy untuk
manajemen laba, total akrual dapat dibagi di diskresioner dan non akrual diskresioner dalam
model yang paling sering diajukan oleh penelitian sebelumnya (yaitu Healy, 1985; DeAngelo,
1986; Jones, 1991; Dechow . et al, 1995; Kothari, Leone & Wasley, 2005).

Meskipun, model akrual agregat telah banyak dikritik (yaitu Kothari et al, 2005;.
Ibrahim, 2009), dan meskipun mereka memiliki beberapa keterbatasan, mereka masih tetap
yang paling digunakan oleh para peneliti di daerah ini (Ibrahim, 2009).

Daerah Gap

Artikel review ini terutama difokuskan pada pilihan akuntansi, dalam bentuk akrual,
dilakukan oleh manajemen untuk merancang laba. Secara keseluruhan, ada sangat sedikit
bukti manajemen laba untuk alasan motivasi, menunjukkan bahwa ini merupakan daerah
yang subur untuk penelitian masa depan. Seperti disebutkan di bagian pendahuluan,
penelitian ini menguji pengaruh indikator akuntansi pada harga saham dan menemukan
motivasi untuk manajemen laba untuk menyelidiki dan menguji tepat waktu.

III. Desain Penelitian

Hipotesis

Hipotesis tersirat adalah bahwa data akuntansi berasal dari salah sebuah sistem
akuntansi akrual atau sistem akuntansi arus kas.

[Earnings Management] 19
Indikator akuntansi yang paling disukai oleh pasar dan / atau tercermin dalam harga
pasar akan menunjukkan kurang variabilitas dan ketekunan tinggi dari nomor lain. Alasannya
adalah bahwa sifat hubungan antara angka akuntansi yang berasal dan perilaku harga
keamanan menunjukkan metode yang pasar merasakan menjadi yang paling terkait dengan
informasi yang digunakan dalam menetapkan harga keseimbangan. Jadi, metode yang
menghasilkan angka akuntansi memiliki asosiasi dengan harga keamanan, dengan variabilitas
setidaknya dan ketekunan tertinggi, adalah yang paling konsisten dengan informasi yang
menghasilkan penentuan efisien harga keamanan. Dengan demikian, hipotesis untuk diskusi
ini adalah:

Ha -Indikator akuntansi yang berasal dari sistem akrual paling disukai oleh pasar.

Bukti pada sifat asosiasi juga penting terlepas dari efisiensi pasar. Ini merupakan faktor
penting dalam kebijakan akuntansi setiap terlepas dari sifat pandangan pembuat kebijakan
tentang isu-isu lain, termasuk efisiensi pasar.

Tujuan dari studi

Penelitian ini secara khusus bertujuan berikut:

 Untuk menguji manfaat relatif dari indikator akuntansi berasal dari salah sebuah
sistem akuntansi akrual atau arus kas dalam hal variabilitas dan ketekunan untuk
harga saham, dan

 Untuk menguji motivasi untuk perilaku akrual dan menyoroti keberadaan manajemen
laba di usaha ini untuk regulasi yang diperlukan.

Metodologi penelitian studi

Berikut metodologi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini.

Contoh Desain &Pendekatan

Penelitian ini meliputi perusahaan yang terdaftar swasta di India, tidak termasuk
usaha pemerintah dan bank & lembaga keuangan karena mekanisme regulasi yang berbeda

[Earnings Management] 20
mereka. Perusahaan telah dipilih oleh kinerja mereka dalam hal mendapatkan keuntungan
(kinerja PAT) untuk tahun 2007-08 per ET Oktober 2007 Survey, di pilih secara. ua kriteria
yang digunakan untuk pemilihan perusahaan di sampel akhir. Pertama, perusahaan harus di
sektor swasta. Kedua, akuntansi dan data pasar, baik yang tersedia untuk penelitian. Dari atas
dua puluh lima perusahaan korporasi yang dipertimbangkan untuk sampel, hanya dua belas
bertemu kebutuhan sampling. Mereka berkontribusi bagian penting dari ukuran pasar India
dan konstituen dari BSE Sensex seperti Dow Jones dari NYSE. Oleh karena itu, 'kasus
berdasarkan pendekatan penelitian telah diikuti di sini. Daftar perusahaan-perusahaan ini
muncul dalam Lampiran I.

Periode Studi

Periode yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah lima tahun, mulai dari 2003-
04 untuk 2007-08. Ini telah diambil sebagai:

a) itu bermakna untuk memfokuskan perhatian pada praktik manajemen laba dari
perusahaan yang dipilih dan mendeteksi berbagai daerah abu-abu berkaitan dengan
manajemen akrual, sekitar resesi global.

b) lebih lanjut, jangka waktu lima tahun sudah cukup untuk menunjukkan jangka pendek
dan perubahan jangka panjang dan membiarkan kesimpulan yang valid.

Data Digunakan

Untuk tujuan penelitian ini, data utama yang digunakan adalah sekunder di alam tetap
sifat penelitian. Penelitian ini mempekerjakan kedua akuntansi dan data pasar. Data akuntansi
diperoleh dari laporan tahunan unit dan catatan lain seperti untuk periode yang relevan. Data
pasar untuk unit diperoleh dari situs BSE.

Alat / Teknik Digunakan

Indeks manajemen Laba, dikembangkan secara khusus untuk mendeteksi motivasi


akrual dalam konteks manajemen laba, telah digunakan dalam penelitian ini.

[Earnings Management] 21
Indeks Akuntansi

Tiga indeks akuntansi semi tingkat pengembalian yang digunakan untuk


perbandingan manfaat relatif dari akrual dan akuntansi kas.

a. Sebuah arus kas per / rasio harga saham saham digunakan untuk mewakili kas
accounting- berasal Indeks akuntansi semi tingkat pengembalian.

b. Sebuah ekuitas umum per / rasio harga saham saham digunakan untuk mewakili
akrual accounting-berasal dan neraca berorientasi Indeks akuntansi semi tingkat
pengembalian.

c. Sebuah laba per / rasio harga saham saham digunakan untuk mewakili akrual
accounting-berasal dan pendapatan pernyataan berorientasi Indeks akuntansi semi
tingkat pengembalian.

Arus kas per harga / saham saham keamanan i untuk periode waktu t, didefinisikan sebagai:

CFPi, t = CFOi, t / CSOi, t

Pi, t

Dimana,

Pi, t = Harga keamanan i di akhir periode t disesuaikan dengan perubahan modal seperti stock
split dan dividen saham.

CFOi, t = Arus kas dari operasi dihitung dengan menyesuaikan laba bersih untuk biaya non
tunai (kredit) dan untuk perubahan dalam giro, perusahaan i pada periode t.

CSOi, t = Saham biasa beredar dari perusahaan i pada periode t.

Ekuitas umum per harga / saham saham keamanan i untuk periode waktu t didefinisikan
sebagai:

CEPi, t = CEi, t / CSOi, t

Pi, t

Dimana,

CEPi, t = ekuitas umum dari perusahaan i pada akhir periode t. Ekuitas umum merupakan
saham biasa ditambah laba ditahan.

[Earnings Management] 22
Laba per harga / saham saham keamanan i untuk periode waktu t, didefinisikan sebagai:

EPSPi, t =EPS i, t

Pi, t

Dimana,

EPSi, t = Laba per saham (primer), tidak termasuk pos luar biasa, perusahaan i untuk periode
t. EPS merupakan pendapatan utama per sosok saham seperti yang dilaporkan oleh
perusahaan. Masing-masing dari angka-angka ini, CFPi,t, CEPi, t, dan EPSPi, t merupakan
angka yang berasal baik dari akrual atau sistem akuntansi arus kas dan terkait dengan harga
saham dan yang manfaat akan dievaluasi dalam hal variabilitas dan ketekunan. Mereka
mewakili indeks akuntansi semi tingkat pengembalian yang berasal baik dari akrual atau
sistem akuntansi arus kas (Barley & Levy, 1979, hal. 307).

Indikator akuntansi berasal dari sistem akuntansi akrual termasuk kedua


keseimbanganjumlah sheet berorientasi dan jumlah laporan yang berorientasi laba. Indikator
juga memiliki dua karakteristik dasar. Pertama, mereka dihitung per nomor saham, dan
kedua, mereka rasio yang dominator adalah harga pasar saham. Karakteristik pertama
digunakan untuk memeriksa perbandingan antara indikator dan perusahaan. Karakteristik
kedua digunakan untuk memastikan bahwa indikator mencerminkan kinerja baik berbasis
akuntansi dan nomor berbasis pasar. Argumen kedua untuk membagi datum berdasarkan
accounting- dengan harga pasar saham mencerminkan keyakinan bahwa datum akuntansi
harus dievaluasi dalam hal dampak pada hubungan nya dengan harga pasar.

Alat statistik

Alat statistik telah digunakan untuk menguji hasil, termasuk analisis korelasi -
koefisien korelasi Rank Spearman, bar chart, grafik (time series), dan statistik deskriptif.

IV. Hasil dan Pembahasan

Keragaman Indikator Akuntansi yang Berasal

Tiga indikator akuntansi, yaitu arus kas per saham harga / saham (CFP), ekuitas

[Earnings Management] 23
umum per saham harga / saham (CEP), dan laba per harga / saham saham (EPSP ), dihitung
untuk perusahaan sampel untuk tahun 2003-04 untuk 2007-08. Indeks ini dari tingkat
pengembalian yang digunakan untuk perbandingan manfaat relatif dari akrual dan kas
akuntansi.

Sarana, standar deviasi, dan koefisien variasi dari angka-angka ini disajikan pada
Tabel 1 dan mencari 1. Selain itu, tabel ini termasuk peringkat koefisien variasi angka
indikator akuntansi yang berasal.

Tabel 1 CEP, EPSP, dan CFP ini Berarti, Standard Deviasi, dan Koefisien Variasi
untuk Perusahaan Contoh, 2003-04 untuk 2007-08

Catatan: 1.SD singkatan standar deviasi.


2. R singkatan Peringkat

Gambar 1 Keragaman Indikator Akuntansi untuk Perusahaan Contoh, 2003-04 untuk

Catatan: CEP, EPSP dan CFP menunjukkan rata-rata koefisien variasi di sini.

[Earnings Management] 24
Pemeriksaan Tabel 1 menunjukkan perbedaan yang pasti dalam variabilitas angka-
angka ini. Variabilitas nomor CFP melebihi variabilitas CEP dan nomor EPSP. Lebih
tepatnya, koefisien variasi dari nomor CFP ini lebih tinggi dari orang-orang dari CEP dan
nomor EPSP dalam tujuh kasus .suatu koefisien variasi dari nomor CEP lebih tinggi daripada
angka EPSP dan CFP dalam tiga kasus. Koefisien variasi dari nomor EPSP lebih tinggi dari
orang-orang dari CEP dan nomor CFP hanya dalam dua kasus. Perbedaan itu, dalam banyak
kasus, menonjol.

Untuk kasus-kasus di mana variabilitas CEP dan nomor EPSP melebihi orang-orang
dari nomor CFP, perbedaan baik kecil atau tidak menunjukkan pola tertentu. Variabilitas
nomor CFP, yang diukur dengan koefisien mereka variasi, berkisar dari tinggi 523,07 untuk
Sterlite Industries yang rendah dari 19,87 untuk Grasim Industries. Alasan utama untuk
variasi tinggi seperti di Sterlite dapat dikaitkan dengan CFP negatif dalam 2004- 05 dan
2006-07. Jika kita mengecualikan variabilitas Sterlite secara total koefisien CFP, bahkan
kemudian jumlah variabilitas CFP ini masih yang tertinggi di 41,36 di antara ketiga variabel.

Variabilitas rata-rata dari CEP adalah 32,92 dan EPSP adalah 35,94. Variabilitas
nomor CEP berkisar dari tinggi 58,31 untuk L & T yang rendah dari 14,18 untuk Grasim.
Akhirnya, variabilitas nomor EPSP berkisar dari tinggi 62,47 untuk Sterlite yang rendah dari
21,22 untuk Tata Steel.

Jadi, variabilitas jumlah CFP melebihi variabilitas CEP dan nomor EPSP, baik dalam
derajat dan jumlah perusahaan. Hal ini menunjukkan preferensi pasar rendah untuk uang
tunai berdasarkan indikator.

Berikutnya, hubungan antara distribusi dari variabel CEP, EPSP dan CFP diperiksa
dengan menghitung urutan peringkat koefisien korelasi Spearman antara distribusi ini.
Korelasi dihitung antara CEP dan variabel EPSP sama dengan 0,76 yang signifikan pada
0,01. Juga, korelasi dihitung antara CEP dan variabel CFP sama dengan 0,68 yang signifikan
pada 0,05. Akhirnya, koefisien korelasi yang dihitung antara EPSP dan variabel CFP sama
dengan 0,85 yang signifikan pada tingkat 0,01. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa
terlepas dari perbedaan variabilitas EPSP, CEP, dan nomor CFP, ada beberapa korelasi antara
mereka. Hubungan ini menjadi cukup untuk masalah harga.

Pertanyaan utama yang diciptakan oleh hasil ini mengacu pada alasan yang mungkin
(s) bahwa variabilitas nomor akuntansi berbasis kas (CFP) melebihi untuk sebagian besar
perusahaan dalam sampel orang-orang dari nomor laporan berorientasi laba ( EPSP) dan
angka berorientasi neraca (CEP). Dengan kata lain, indikator berdasarkan kas menunjukkan

[Earnings Management] 25
lebih variabilitas dari indikator berbasis akrual. Hal ini menunjukkan preferensi pasar untuk
indikator berbasis akrual dalam harga saham.
Salah satu alasan mungkin berasal dari fakta bahwa angka EPSP menunjukkan
potensi penghasilan perusahaan dan didasarkan pada data akuntansi, yang lebih mungkin
obyek discretionary perataan laba akuntansi, dan proses smoothing yang melekat dalam
definisi akuntansi laba. Ini dapat dinyatakan pertama bahwa perataan laba lebih mudah dan
lebih menguntungkan dengan angka pendapatan dari data akuntansi arus kas, dan kedua,
bahwa manajer mungkin memiliki insentif yang lebih besar dalam memperlancar angka
pendapatan mengingat hubungan yang lebih kuat antara laba akuntansi dan struktur
penghargaan perusahaan .Akibatnya, pasar mencerminkan “melaporkan tinggi” angka
pendapatan yang mungkin berbeda dari “sebenarnya” satu, yang dapat menjelaskan
variabilitas arus kas - berdasarkan nomor.
Alasan kedua mungkin bahwa pasar, melampirkan lebih penting untuk posisi neraca
setelah laporan laba rugi dan kemudian arus kas. Keunggulan neraca atas data arus kas
mungkin karena respon pasar yang selektif baik karena keakraban yang lebih tinggi dengan
data neraca dari data arus kas atau pada dasarnya karena fiksasi neraca dan minat kuat dalam
posisi keuangan dari perusahaan.

Persistensi Indikator Akuntansi Berasal


Persistensi angka indikator akuntansi berasal ditentukan dengan memeriksa korelasi
peringkat median antara jumlah indikator akuntansi pada tahun pembentukan dan nomor
yang sama di tahun kemudian. Tabel 2 dan Gambar 2 dan Tabel 1, 2 dan 3 di Appendix II
menunjukkan berturut-turut korelasi rank median dari CEP semua perusahaan sampel, EPSP
dan CFP dengan CEP, EPSP dan CFP di tahun kemudian.

Tabel 2
Korelasi Median Akuntansi Indeks Contoh Perusahaan, 2003-04 untuk 2007-08
2003- 2004- 2005- 2006- 2007-
04 05 06 07 08
CEP dengan CEP di tahun-tahun berikutnya 1,00 1,00 1,00 1,00 0,70

EPSP dengan EPSP di berikutnya tahun 1,00 1,00 1,00 1,00 0.50
CFP dengan CFP di tahun-tahun berikutnya 1,00 1,00 0,41 0,71 0,58

[Earnings Management] 26
Gambar 2 Persistensi Akuntansi Indeks Perusahaan Contoh, 2003-04 untuk 2007-08

Korelasi median dari angka CEP ditunjukkan pada Tabel 1 (Lampiran II) tetap sama
pada 1,00 untuk tiga tahun ke depan setelah pembentukan. Pada tahun lalu, menurun hingga
0,70. Juga, korelasinya telah secara signifikan tinggi pada 0,01 dan 0,05 tingkat masing-
masing, yang lagi-lagi memverifikasi fakta persistensi.
Korelasi median dari angka EPSP ditunjukkan pada Tabel 2 (Lampiran II) tetap sama
pada 1,00 untuk tiga tahun ke depan setelah pembentukan. Pada tahun lalu, menurun menjadi
0,50. Seperti CEP, korelasinya juga telah secara signifikan tinggi pada 0,01 dan 0,05 tingkat
masing-masing, yang memverifikasi persistensi.
Korelasi median dari angka CFP ditunjukkan pada Tabel 3 (Lampiran II)
menunjukkan tren fluktuatif dibandingkan dengan variabel lain. Tetap di 1,00 untuk tahun
depan setelah pembentukan. Kemudian, menurunkan 1,00-0,41 tahun 2005-06, meningkat
menjadi 0,71 di 2006-07 dan kemudian lagi menurun ke 0,58 pada tahun lalu pembentukan
(2007-08). Tingkat korelasi relatif rendah. Jadi, itu menunjukkan kurang persistensi.
Hasilnya menunjukkan persistensi yang baik di nomor EPSP dan CEP dan persistensi
rendah di angka CFP. Sekali lagi pertanyaan utama mengacu pada alasan yang mungkin (s)
bahwa kegigihan laporan laba rugi berorientasi (EPSP) dan neraca-berorientasi (CEP) nomor
akrual melebihi dari jumlah akuntansi akuntansi arus kas berbasis nomor (CFP). Dua alasan
yang diberikan untuk hasil variabilitas mungkin berlaku untuk hasil ketekunan, yaitu,
hipotesis perataan laba dan hipotesis respon pasar selektif.
Variabilitas yang tinggi CFP, seperti yang ditunjukkan dalam diskusi sebelumnya,
selanjutnya diverifikasi oleh korelasi rank median di sini. Berdasarkan Indikator akrual , yaitu
EPSP dan CEP telah menunjukkan kurang variabilitas dan tingkat tinggi persistensi. Jadi,
respon pasar lebih menguntungkan untuk indikator berbasis akrual.

V. Kesimpulan
Karakteristik utama dari fungsi keuangan adalah fungsi pengawasan. Laporan
keuangan membantu evaluasi pengawasan manajemen kepada pengguna akhir. Jelas bahwa

[Earnings Management] 27
system akrual menemukan bantuan untuk pelaporan dibandingkan dengan orang lain karena
fakta ini. Terdapat perbedaan yang pasti dalam variabilitas indikator akuntansi sampel
perusahaan, yaitu. Arus kas per saham/harga saham (CFP), ekuitas umum per saham/ harga
saham (CEP), dan laba per saham/ harga saham (EPSP). Variabilitas jumlah CFP melebihi
varibilitas angka CEP dan EPSP dalam tujuh kasus. Variabilitas angka CEP lebih tinggi
daripada angka EPSP dan CFP dalam tiga kasus. Varibilitas angka EPSP lebih tinggi
daripada angka CEP dan CFP hanya dalam dua kasus. Variaabilitasjumlah CFP melebihi
varibilitas angka CEP dan EPSP, baik dalam tingkat dan jumlah perusahaan.
Jadi indicator berbasis kas menunjukan varibilitas lebih dari indicator berbasis akrual.
Ini menunjukan preferensi pasar unutuk indicator berbasis akrual dalam penentuan harga
sekuritas. Selanjutnya, EPSP menunjukan potensi penghasilan perusahaan dan manjemen
laba lebih mudah dan lebih menguntungkan dengan angka pendapatan dari pada data
akuntansi arus ka. Akibatnya, EPSP menemukan bantuan dari pasar.
Tetapi, terlepas dari perbedaan variabilitas angka EPSP, CEP dan CFP hubungan
yang signifikan ditemukan diantara mereka, karena jelad dalam hasil korelasi peringkat. Ini
menunjukan bahwa semua indikator ini saling mempengaruhi secara langsung atau tidak
langsung dalam penentuan harga saham.
Persistensi nomor indikator akuntansi yang diturunkan ditentukan dengan memeriksa
korelasi peringkat median antara nomor indikator akuntansi di tahun pembentukan dan nomor
yang sama ditahun- tahun berikutnya. Hasilnya menunjukan persistensi yang baik dalam
angka EPSP dan CEP dan persistensi rendah dalam angka-angka CFP. Sekali lagi
memverifikasi persistensi laporan laba-rugi berorientasi (EPSP) dan jumlah akrual yang
berorientasi pada neraca (CEP) daripada angka berdasarkan arus kas (CFP).
Jelas bahwa angka-angka akuntansi berbasis akrual yang berorientasi pada laporan
laba rugi dan neraca menunjukan varibilitas yang lebih rendah dan persistensi yang lebih
tinggi daripada angka-angka berdasarkan akuntansi arus kas. Jadi, dapat disimpulkan bhawa
sinyal pasar saham lebih menguntungkan untuk angka akrual daripada angka berbasis kas.
Karena, perusahaan sangat dipengaruhi motivasipasar saham, karena itu mereka cenderung
mengikuti akuntansi akrual untuk melaksanakan pilihan manajemen laba. Hasilnya konsisten
dengan penelitian sebelumnya tentang kualitas pendapatan. Dengan demikian, ini
menyerukan peraturan audit forensic yan g efektif untuk kepentingan para pemangku
kepentingan secara luas.

VI. BATASAN DARI STUDI


Ada beberapa keterbatasan dalam penelitian ini yang dapat dikategorikan sebagai
berikut:
Penelitian ini terbatas hanya pada dua belas perusahaan korporat penghasil
keuntungan terbesar di sector swastadi india dari 25 perusahaan terpilih, meninggalkan semua
perusahaan lain karena ketidaktersediaan data. PSU dan bank & lrmbaga keuangan harus
dikeluarkan karena mekanisme pengaturan mereka yang berbeda. Meskipun perusahaan yang
dipilih merupakan ukuran signifikan kapitalisasi pasar BSE untuk kelengkapan data, ukuran

[Earnings Management] 28
masih dapat diperpanjang untuk studi lebih lanjut berkenaan dengan hasil tingkat negara dan
jangkauan global untuk manajemen laba.
Jangka waktu dalam penelitian ini adalah lima tahun (2003-4 hingga 2007-8) untuk
menyoroti motivasi manajemen laba. Periode ini paling cocok untuk menunjukan efek dari
resesi global gerhadap praktik manajemen laba di india. Peneliti mungkin ingin ingin
memeilih ruang lingkup manajemen laba dapat diperikas lbih lanjut, selain perilaku harga
saham, untuk parameter motivasi lainnya dalam meningkatnya kesadaraan investor dalam
angka-angka yang di laporkan akrual.

VII. IMPLIKASI UNTUK PENELITAN MASA DEPAN


Temuan penelitian ini penting bagi pembuat standard an regulator karena perusahaan
sampel adalah penyususn sensex BSE. Ini menyoroti perlunya peraturan yang efektif untuk
mendeteksi manajemen laba. Ada kebutuhan yang kuat untuk memiliki kebijakan yang
terdefinisi dengan baik dan mekanisme pengaturan sehubungan dengan mencegah dan
mendeteksi praktik manajemen laba pada tahap awal.
Badan penetapan satndar dapat memepertimbangkan atribut asset dan kewajiban serta
perubahan didalamnya juga dengan proses pengukuran pendapatan yang mendasar.
Singkatnya bukti-bukti mendukung pandangan pendapatan / biaya dan asset / liabilitas laba,
daripada pandangan arus kas laba.
Temuan penelitian in signifikan dengan tidak hanya untuk organisasi yang berfungsi
di india tetapi juga untuk perusahaan lain secara global sebagai perusahaan sampel adalah
perusahaan multinasional.

[Earnings Management] 29
Referensi
American Accounting Association. (1969). Committee on External Reporting. An Eval-
uation of External Reporting Practices. A Report of the 1966-68 Committee on
External Reporting, The Accounting Review (Supplement), pp. 79-123 .
Ashton, R. (1976). Cash Flow Accounting: A Review and Critique, Journal of
BusinessFinance and Accounting (Winter), pp. 63-81.
http://dx.doi.org/10.1111/j.1468-5957.1976.tb00693.x
Badertscher, BA (2011). Overvaluation and the Choice of Alternative Earnings Management
Mechanisms, The Accounting Review, 86 (5), 1491–1518.
http://dx.doi.org/10.2308/accr-10092
Baker, T., Collins, D., & Reitenga, A. (2003). Stock Option Compensation and Earnings
Management incentives, Journal of Accounting, Auditing and Finance, 18(4),
557-582
Ball, R., Shivakumar, L. (2008). Earnings quality at initial public offerings, Journal of
Accounting and Economics 45, 324-349.
http://dx.doi.org/10.1016/j.jacceco.2007.12.001
Barley, B., and H. Levy. (1979). On the Variability of Accounting Income Numbers, Journal
of Accounting Research (Autumn), pp. 305-315.
http://dx.doi.org/10.2307/2490506
Barnea, A., J. Ronen, S. Sadan. (1976). Classificatory smoothing of income
withextraordinary items, Accounting Review 51,110-122.
Barton. AD (1974). Expectations and achievements in income theory, The Accounting
Review (October): 664-681.
Bartov, E. & Mohanram, P. (2004). Private Information, Earnings Manipulations, and
Executive Stock- Option Exercises, The Accounting Review, 79, 889-920
http://dx.doi.org/10.2308/accr.2004.79.4.889
Beaver, W., C. Eger, S. Ryan, and M. Wolfson. (1989). Financial reporting, supplemental
disclosures and bank share prices, Journal of Accounting Research (Autumn):
157-178.
http://dx.doi.org/10.2307/2491230
Beneish, MD (1997). Detecting GAAP violation: Implications for assessing earnings
management among firms with extreme financial performance, Journal of
Accounting and Public Policy 16: 271-309.
--------------------. (1998). Discussion of: Are accruals during initial public offerings
opportunistic? Review of Accounting Studies 3: 209-221.
---------------------.(2001).Earnings Management: A Perspective, Managerial Finance,
Emerald Group Publishing Limited, Vol.27, No.12.

[Earnings Management] 30
http://dx.doi.org/10.1016/S0278-4254(97)00023-9
Beneish, M.,D. & Vargus, ME (2002). Insider Trading, Earnings Quality and Accrual
Mispricing, The Accounting Review, 77(4), 755-791.
http://dx.doi.org/10.2308/accr.2002.77.4.755
Billing, MB, Lewis, MF(2010). Opportunism and the related consequences in the IPO setting,
Working paper, New York University.
Burgstahler, D., and I. Dichev. (1997). Earnings management to avoid earnings decreases and
losses, Journal of Accounting and Economics, University of Washington, Vol. 24,
No. 1.: 99-126.
------------------, and -------------. (1998). Incentives to manage earnings to avoid earnings
decreases and losses: Evidence from quarterly earnings, Working paper, University of
Washington.
-----------------, and M. Eames. (1998). Management of earnings and analysts forecasts,
Working paper, University of Washington.
Campa, D., and Camacho-Miñano, MM (2015). The impact of SME's pre-bankruptcy
financial distress on earnings management tools, International Review of
Financial Analysis, 42, 222-234.
http://dx.doi.org/10.1016/j.irfa.2015.07.004
Cheng, Q., Warfield, TD (2005). Equity Incentives and Earnings Management, The
Accounting Review, 80(2),441-476
http://dx.doi.org/10.2308/accr.2005.80.2.441
Cohen, DA, Dey, A., & Lys, T. (2008). Real and accrual-based earnings management in the
pre- and post-sarbanes-oxley periods, The Accounting Review, 83(3), 757-787.
http://dx.doi.org/10.2308/accr.2008.83.3.757
Cohen, DA, Zarowin, P. (2010). Accrual-based and real earnings management activities
around seasonal equity offerings, Journal of Accounting and Economics 50: 2-19.
http://dx.doi.org/10.1016/j.jacceco.2010.01.002
Collins, DW, and SP Hribar. (1999). Errors in Estimating Accruals: Implications for
Empirical Research, Working Paper, University of Iowa. Darrough, M., Rangan,
S., (2005). Do insiders manipulate earnings when they sell their shares in an initial
public offering? Journal of Accounting Research 43, 1- 33.
http://dx.doi.org/10.1111/j.1475-679x.2004.00161.x
DeAngelo E., H. DeAngelo, and D. Skinner. (1994). Accounting choices of troubled
companies, Journal of Accounting and Economics 17 (January): 113-143.
http://dx.doi.org/10.1016/0165-4101(94)90007-8
De Angelo, L., (1986). Accounting numbers as market valuation substitutes: A study of
management buyouts of public stockholders, The Accounting Review,61. 400-
420. DeAngelo, LE (1988). Managerial competition, information costs, and

[Earnings Management] 31
corporate governance: The use of accounting performance measures in proxy
contests, Journal of Accounting and Economics 10: 3-36.
http://dx.doi.org/10.1016/0165-4101(88)90021-3
Dechow, PM (1994). Accounting earnings and cash flow as measures of firm performance:
The role of accounting accruals, Journal of Accounting and Economics 17: 3-42.
http://dx.doi.org/10.1016/0165-4101(94)90016-7
------------, and RG Sloan.(1991). Executive incentives and the horizon problem: An
empirical investigation, Journal of Accounting and Economics 14: 51- 89.
http://dx.doi.org/10.1016/0167-7187(91)90058-S
-------------,------------------, and AP Sweeney. (1996). Causes and consequences of earnings
manipulation: An analysis of firms subject to enforcement actions by the SEC,
Contemporary Accounting Research 13 (1): 1-36.
...............,.................., and ................(1995). Detecting earnings Management, The
Accounting Review,70(2), 193-225.
Dechow, P. M , RG Sloan and AP Hutton.(1996). Causes and Consequences of Earnings
Manipulation: An Analysis of Firms Subject to Enforcement Actions by the SEC,
Contemporary Accounting Research, Vol. 13, No. 2. Spring.
http://dx.doi.org/10.1111/j.1911-3846.1996.tb00489.
Dechow, PM and CM Schrand. (2004). Earnings Quality, Research Foundation of CFA
Institute Monograph.
--------------, DJ Skinner. (2000). Earnings management: Reconciling the views of accounting
academics, practitioners, and regulators, Accounting Horizons 14,235-250.
http://dx.doi.org/10.2308/acch.2000.14.2.235
----------------, and J. Jiambalvo. (1994). Debt covenant effects and the manipulation of
accruals, Journal of Accounting and Economics 17 (January): 145-176.
DuCharme, LL, Malatesta, PH, Sefcik, SE (2001). Earnings management: IPO valuation and
subsequent performance, Journal of Accounting, Auditing & Finance 16, 269-296.
Economic Times Survey. (2007). The Economic Times, October, New Delhi, India.
García Lara, JM, García Osma, B., and Mora, A. (2005). The effect of earnings management
on the asymmetric timeliness of earnings, Journal of Business Finance &
Accounting,32(3-4), 691-726. http://dx.doi.org/10.1111/j.0306-686X.2005.00610.x
Glover Jonathan, etal.(1998) .Earnings Management and the Revelation Principle, Review of
Accounting Studies, Springer Science + Business Media BV, Vol.3, No.1-2.
Goel, Sandeep. (2012). Demystifying earnings management through accruals management:
An Indian Corporate Study, Vikalpa, IIM Ahemadabad, India.
Goel, Sandeep. (2014). The quality of reported numbers by the management: A Case Testing
of Earnings Management in Corporate India, Journal of Financial Crime, 21,3:
355-376. http://dx.doi.org/10.1108/JFC-02-2013-0011
Graham, JR, Harvey, CR, & Rajgopal, S. (2005). The economic implications of corporate
[Earnings Management] 32
financial reporting, Journal of Accounting and Economics, 40(1), 3-73.
http://dx.doi.org/10.1016/j.jacceco.2005.01.002
Hanna, JR (1974). Accounting Income Models: An Application and Evaluation. Special
Study No. 8. Toronto: Society of Management Accountants. Healy, PM (1985).
The effect of bonus schemes on accounting decisions, Journal of Accounting and
Economics 7: 85-107. http://dx.doi.org/10.1016/0165-4101(85)90029-1
----------, and KG Palepu. (1990). Effectiveness of accounting-based dividend covenants,
Journal of Accounting and Economics 12 (1-3): 97-124.
http://dx.doi.org/10.1016/0165-4101(90)90043-4
-----------, and JM Wahlen.(1999). A review of the earnings management literature and its
implications for Standard Setting, Accounting Horizons 4,368; 13,365.
-----------, S. Kang, and K. Palepu. (1987). The effect of accounting procedure changes on
CEOs' cash salary and bonus compensation, Journal of Accounting and Economics
9: 7-34. http://dx.doi.org/10.1016/0165-4101(87)90015-2
Hicks, BE (1980). The Cash Flow Basis of Accounting, Working Paper No. 13.Sudbury,
Ontario: Laurentian University.
Hirst, DE, and PE Hopkins. (1998). Comprehensive income reporting and analysts' valuation
judgments, Journal of Accounting Research (Supplement): 47-75.
http://dx.doi.org/10.2307/2491306
Ibrahim, SS (2009). The usefulness of measures of consistency of discretionary components
of accruals in the detection of earnings management, Journal of Business Finance &
Accounting, 36(9-10), 1087-1116. http://dx.doi.org/10.1111/j.1468-
5957.2009.02171.x
Imhoff, EA(1977).Income smoothing – a case for doubt, Accounting Journal Spring, 85-100.
Jones, JJ (1991). Earnings management during import relief investigations, Journal of
Accounting Research 29: 193-228. http://dx.doi.org/10.2307/2491047
Kothari, SP, Leone, AJ, and Wasley, CE (2005). Performance matched discretionaryaccrual
measures, Journal of Accounting and Economics, 39(1),163-197.
http://dx.doi.org/10.1016/j.jacceco.2004.11.002
Kwon, SS & Yin, QJ (2006). Executive Compensation, Investment Opportunities and
Earnings Management : High-Tech Firms Versus Low-Tech Firms, Journal of
Accounting, Auditing and Finance, 21(2), 119-148
Lawson, GH (1971). Cash-Flow Accounting I & II. Accountant (October 28 and November
4), pp. 20-31.
Leuz, C.,et al.(2003).Earnings management and investor protection: An international
comparison, Journal of Financial Economics 69,505-527.
http://dx.doi.org/10.1016/S0304-405X(03)00121-1
----------, etal. (2003). Earnings Management and Investor Protection: An International
Comparison, Journal of Financial Economics, 69.

[Earnings Management] 33
McNichols, M., and P. Wilson. (1988). Evidence of earnings management from the provision
for bad debts, Journal of Accounting Research 26 (Supplement): 1-31.
http://dx.doi.org/10.2307/2491176
Miller, Paul BW and Paul R. Bahnson. (2002). Quality Financial Reporting, New York:
McGraw –Hill.
Modigliani, F.etal.(1958).The Cost of Capital, Corporation Finance and The Theory of
Investment, American Economic Review, Vol. 48, June.
PN Healy and JN Wahlen.(1999). A Review of the Earnings Management Literatureand Its
Implications for Standard Setting, Accounting Horizons 4, p. 368.
http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.156445
Park, MS & Park, T. (2004). Insider sales and earnings management, Journal ofAccounting
and Public Policy, 23(5),381-411.
http://dx.doi.org/10.1016/j.jaccpubpol.2004.07.003
Pathak, J., Karim, K., Suh, S. and Zhang, Z. 2014, 'Do audit committee and characteristicsof
board of Directors Influence Earnings Management?', Working Paper.
Peasnell, KV, PF Pope, and S. Young. (1999). Outside directors, board effectiveness, and
abnormal accruals, Working paper, Lancaster University.
----------------, etal.(2000).Accrual Management To Meet Earnings Targets: UK Evidence
Pre-and Post-Cadbury, The British Accounting Review, Academic Press, December,
Vol.32, No.4, pp. 415-445(31).
Ronen, J., and S. Sadan. (1981). Smoothing Income Numbers: Objectives, Means and
Implications, Reading, MA: Addison-Wesley.
Rugman, AM (1980). Internalization as a general theory of foreign direct investment: A
reappraisal of the literature, Journal of Economic Literature 116: 365-375.
Schipper, K. (1989). Commentary: Earnings management, Accounting Horizons (December):
91-102.

Scholes, M., GP Wilson, and M. Wolfson. (1990). Tax planning, regulatory capital planning,
and financial reporting strategy for commercial banks, Review of Financial Studies
3: 625-650. http://dx.doi.org/10.1093/rfs/3.4.625
Scott, WR (2009). Financial accounting theory. Fifth ed. Prentice Hall, Upper Saddle River,
New Jersey.
Stolowy, Herve ,Gaetan. Breton. (2000). A Review of Research on Accounts Manipulation.
Presented at the 23rd Annual Congress of the European Accounting Association,
Munich, Germany, March 29-31.
Stolowy, H., G. Breton. (2004). Accounts manipulation: A Literature Review and Proposed

[Earnings Management] 34
Conceptual Framework, Review of accounting and Finance3,5- 65.
http://dx.doi.org/10.1108/eb043395
Teoh, SH, I. Welch, and TJ Wong. (1998a). Earnings management and the post-issue
performance of seasoned equity offerings, Journal of Financial Economics (October)
50: 63-99. http://dx.doi.org/10.1016/S0304-405X(98)00032-4
------------, ------------, and -------------. (1998b). Earnings management and the long- term
market performance of initial public offerings, Journal of Finance (December) 53:
1935-1974.
-----------, TJ Wong, and G. Rao. (1998). Are accruals during initial public offerings
opportunistic? Review of Accounting Studies 3, pp.173-208.
Warfield, TD, JJ Wild, and KL Wild. (1997). Managerial ownership, accounting choices, and
informativeness of earnings, Journal of Accounting and Economics 20,61-91.
http://dx.doi.org/10.1016/0165-4101(94)00393-J
Watts, RL, and Zimmerman, JL (1978). Towards a positive theory of the determination of
accounting standards, The Accounting Review,53(1), 112- 134.
Wilson, P. (1986). The Relative Information Content of Accruals and Cash Flows: Com-
bined Evidence at the Earnings Announcement and Annual Report Release Date,
Journal of Accounting Research (September), 165-200.
http://dx.doi.org/10.2307/2490736
Xie, H. (1998). Are discretionary accruals mispriced? A re-examination, Unpublished
dissertation, University of Iowa.
Zang, Amy Y. (2011). Evidence on the Tradeoff between Real Manipulation and Accrual
Manipulation, The Accounting Review, 87 (2), 675-703.
http://dx.doi.org/10.2308/accr-10196

Lampiran I
Indeks perusahaan yang Termasuk ke dalam Penelitian

S.NO. COMPANY PAT (2007)


Rs. Crore
1 Reliance Industries Ltd 12,075
2 Sterlite Industries Ltd 4,386
3 Tata Consultancy Services Ltd 4,213
4 Tata Steel Ltd 4,177
5 Bharti Airtel Ltd 4,062
6 Infosys Technologies Ltd 3,856

[Earnings Management] 35
7 Wipro Ltd 2,942
8 ITC Ltd 2,755
9 Hindalco Ltd 2,687
10 Larsen and Toubro Ltd 2,251
11 Tata Motors Ltd 2,170
12 Grasim Industries Ltd 1,968
Source: ET 500, The Economic Times, New Delhi, October, 2007.

[Earnings Management] 36
Lampiran II
Peringkat Korelasi Indeks Akuntansi Perusahaan

Table 1
Peringkat Korelasi dari Semua Sampel Perusahaan CEPs dengan CEPs di tahun-tahun
berikutnya, 2003-04 to 2007-08

Tahun Dasar Tahun Setelah Tahun Dasar


1 2 3 4 5
2003-04 1.00 0.91 0.86 0.70 0.39
2004-05 1.00 0.97 0.87 0.70
2005-06 1.00 0.93 0.72
2006-07 1.00
Korelasi
1.00 1.00 1.00 1.00 0.70
Median

Table 2
Peringkat Korelasi dari Semua Sampel Perusahaan EPSs dengan EPSs di tahun-tahun
berikutnya, 2003-04 to 2007-08
Tahun Setelah Tahun Dasar
Tahun Dasar
1 2 3 4 5
2003-04 1.00 0.89 0.70 0.67 0.46
2004-05 1.00 0.82 0.80 0.50
2005-06 1.00 0.89 0.82
2006-07 1.00 0.80
2007-08 1.00
Korelasi
1.00 1.00 1.00 1.00 0.50
Median

Table 3
Rank Correlations of All the Sample Companies' CFPs with CFPs in Subsequent Years,
2003-04 to 207-08

[Earnings Management] 37
Tahun Setelah Tahun Dasar
Tahun Dasar
1 2 3 4 5
2003-04 1.00 0.66 0.33 0.65 0.65
2004-05 1.00 0.41 0.88 0.68
2005-06 1.00 0.41 0.61
2006-07 1.00 0.75
2007-08 1.00
Korelasi 1.00 1.00 0.41 0.71 0.58
Median

[Earnings Management] 38