Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

“ASPHALT CONCRETE”

Disusun Oleh :

Ryan Oki Fandianto

(2016410007)

Aldi Hasby Ash Shiddiq

(2016410009)

PROGAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS Dr. SOETOMO SURABAYA

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga saya dapat
menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.
Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi
pembaca dalam mengetahui lebih lanjut mengenai Asphalt Concrete.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini agar kedepannya
dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat
kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan
yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Surabaya, 27 September 2017

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................................................................... i


DAFTAR ISI .......................................................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ........................................................................................................................................... 1
1.2 Tujuan......................................................................................................................................................... 1

1.3 Manfaat....................................................................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................................................... 3


2.1 Beton Aspal ............................................................................................................................................... 3
2.2 Campuran Beton Aspal (AC WC) .............................................................................................................. 5
2.3 Bahan Pengikat (Aspal) .............................................................................................................................. 8

2.4 Gradasi Campuran Beton Aspal ................................................................................................................ 9


2.5 Persyaratan Campuran Beton Aspal ......................................................................................................... 11
2.6 Proses Pembuatan Aspal .......................................................................................................................... 12

2.7 Pengarunh Lingkungan Terhadap Kinerja Campuran Beraspal .............................................................. 15


2.8 Rancangan Campuran Aspal Beton .......................................................................................................... 16
2.9 Kekuatan Aspal Beton .............................................................................................................................. 18

BAB III PENUTUP .......................................................................................................................................... 23


3.1 Kesimpulan ............................................................................................................................................... 23
3.2 Kritik dan Saran........................................................................................................................................ 23
Daftar pustaka................................................................................................................................................. 24

3
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Jalan merupakan fasilitas yang sangat penting untuk menunjang aktivitas manusia.
Sebagaimana sifat manusia yang selalu berpindah demi mencukupi kebutuhan hidup dan
berkomunikasi dengan sesama. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut maka pembangunan jalan
memerlukan perencanaan yang sebaik mungkin sehingga diperoleh kenyamanan, keamanan, dan
juga ekonomis dalam pelaksanaan salah satunya dengan merencanakan lapis Asphalt Concrete-
Wearing Course (AC-WC). Perkembangan teknik jalan raya tersebut bersamaan dengan
berkembangnya teknologi yang ditemukan oleh manusia itu sendiri.
Perkerasan lentur merupakan salah satu jenis perkerasan selain perkerasan kaku dan
komposit. Perkerasan lentur terdiri dari beberapa lapis tanah dasar, lapis pondasi bawah, lapis
pondasi atas dan lapis permukaan. Lapisan permukaan berupa campuran aspal dengan agregat
kasar dan agregat halus, dimana proses penyatuannya dilakukan pada suhu panas tertentu dengan
perbandingan aspal, agregat kasar, dan agregat halus yang sudah ditentukan melalui mix
design. Salah satu upaya untuk meningkatkan kinerja perkerasan lentur lapis permukaan adalah
dengan memberikan bahan tambah pada campuran perkerasan
tersebut.

1.2 TUJUAN
1. Tujuan umum.
Tujuan yang ingin dicapai dalam tugas ini adalah untuk mengetahui proses pembuatan
dan material yang digunakan untuk membuat asphalt concrete.

4
1.3 MANFAAT
Adapun beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari tugas tersebut,
diantaranya yaitu:
a) Mengetahui jenis material yang dibutukan untuk pembuatan asphalt
concrete.
b) Mengetahui proses pembuatan asphalt concrete.
c) Mengetahui dampak pengaruh asphalt concrete terhadap lingkungan.
d) Mengetahui aplikasi design asphalt concrete.
e) Mengetahui kapasitas atau kekuatan asphalt concrete.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 BETON ASPAL


Beton aspal merupakan salah satu jenis dari lapis perkerasan
konstruksi perkerasan lentur. Jenis perkerasan ini merupakan campuran
merata antara agregat dan aspal sebagai bahan pengikat pada suhu tertentu.
Konstruksi perkerasan lentur terdiri dari lapisan lapisan yang diletakkan
diatas tanah dasar yang telah dipadatkan. Lapisan lapisan tersebut
berfungsi untuk menerima beban lalu lintas dan menyebarkannya ke
lapisan dibawahnya. Adapun susunan lapis konstruksi perkerasan lentur
terdiri dari :
a. Lapis permukaan (surface course)
b. Lapis pondasi atas (base course)
c. Lapis pondasi bawah (subbase course)
d. Lapisan tanah dasar (subgrade)

Susunan konstruksi perkerasan jalan dapat dilihat, pada gambar 1.

6
Berdasarkan gambar diatas maka lapisan yang paling berat menerima beban
adalah lapisan surface course yang kemudian didistribusikan kelapisan
dibawahnya. Atau dapat dicari dengan menggunakan persamaan berikut:

Dimana : P = Beban dan A = Luas Penampang Daerah Tekanan

Jenis lapisan aspal betoncampuran panas, terbagi menjadi 3yaitu:


A. Laston sebagai lapisan aus,
dikenal dengan nama AC-WC (AsphaltConcrete – Wearing Course) dengantebal
minimum AC – WC adalah 4cm. Lapisan ini adalah lapisan yangberhubungan
langsung dengan bankendaraan dan dirancang untuktahan terhadap perubahan
cuaca,gaya geser, tekanan roda bankendaraan serta memberikan lapiskedap air
untuk lapisan dibawahnya.

B. Laston sebagai lapisan pengikat,


dikenal dengan nama AC-BC (Asphalt Concrete – Binder Course) dengan tebal
minimum AC – BC adalah 5 cm. Lapisan ini untuk membentuk lapis pondasi jika
digunakan pada pekerjaan peningkatan atau pemeliharaan jalan.

C. Laston sebagai lapisan pondasi,


dikenal dengan nama AC-Base (Asphalt Concrete-Base) dengan tebal minimum
AC-Base adalah 6 cm. Lapisan ini tidak berhubungan langsung dengan cuaca
tetapi memerlukan stabilitas untuk memikul beban lalu lintas yang dilimpahkan
melalui roda kendaraan.

7
2.2 Campuran Beton Aspal (AC WC)
A. Persyaratan Sifat Agregat
Secara umum bahan penyusunan beton aspal terdiri dari agregat kasar, agregat
halus, bahan pengisi dan aspal sebagai bahan pengikat. Dimana bahan bahan
tersebut sebelum digunakan harus diperiksa di laboratorium. Agregat yang akan
dipergunakan sebagai material campuran perkerasan jalan haruslah memenuhi
persyaratan sifat dan gradasi agregat seperti yang ditetapkan didalam buku
spesifikasi pekerjaan jalan atau ditetapkan badan yang berwenang. Menurut
Rancangan Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan, Divisi Vuntuk
Campuran Beraspal Panas Dep. PU, Edisi April 2007 memberikan persyaratan
untuk agregat sebagaberikut :

 Agregat Kasar
Fraksi agregat kasar untuk rancangan adalah agregat yang tertahan saringan No. 8
(2,36 mm) dan haruslah bersih, keras, awet dan bebas dari lempung atau bahan
yang tidak dikehendaki lainnya dan memenuhi ketentuan yang diberikan dalam
Tabel 1.

 Agregat Halus
Agregat halus adalah agregat yang lolos saringan No. 8 (2,36 mm), yang harus
memenuhi persyaratan agregat halus sebagai
berikut:
1).Agregat halus dari sumber bahan manapun harus terdiri dari pasir atau
pengayakan batu pecah dan terdiri dari bahan yang lolos ayakan No. 8 (2,36 mm)
sesuai SNI 03-68192002.

2).Fraksi agregat halus pecah mesin dan pasir harus ditumbuk


terpisah dari agregat kasar.

3).Pasir boleh digunakan dalam campuran beraspal. Presentase maksimum yang


diisyaratkan untuk Beton Aspal (AC) adalah 10%.

8
4).Agregat halus harus merupakanbahan yang bersih, keras, bebadari lempung
atau bahan yangtidak dikehendaki lainnya. Batupecah halus harus diperolehdari
batu yang memenuhketentuan mutu. Agar dapamemenuhi persyaratan
yangditentukan batu pecah harudiproduksi dari batu yang bersih

5).Agregat pecah halus dan pasir harus ditumpuk terpisah dan harus dipasok ke
instalasi pencampuran aspal dengan menggunakan pemasok penampung dingin
(Cold bin Feeds) yang terpisah sedemikian rupa sehingga rasio agregat pecah
halus dan pasir dapat dikontrol dengan baik.

6). Agregat halus harus mempunyai ketentuan seperti ditunjukkan pada tabel 2.

 Bahan Pengisi (filler)


Debu batu (stonedust) dan bahan pengisi yang ditambahkan harus kering dan
bebas dari gumpalan gumpalan dan bila diuji dengan penyaringan sesuai SNI
03-41421996 harus mengandung bahan yang lolos saringan No.200 (75
micron) tidak kurang dari 75 % dari yang lolos saringan No. 30 (600 micron)
dan mempunyai sifat non plastis serta harus memenuhi gradasi sesuai tabel 3.

9
2.3 Bahan Pengikat (Aspal)
a. Pengertian aspal Aspal didefinisikan sebagai material berwarna hitam atau
coklat tua, pada temperatur ruang berbentuk padat sampai agak padat. Jika
dipanaskan sampai suatu temperature tertentu aspal dapat menjadi lunak/cair
sehingga dapat membungkus partikel agregat pada waktu pembuatan aspal beton
atau dapat masuk ke dalam pori-pori yang ada pada penyemprotan/penyiraman
pada perkerasan macadam maupun pelaburan.

Jika temperatur mulai turun, aspal akan mengeras dan mengikatagregat pada
tempatnya (sifat termoplastis). (Silvia Sukirman,1999).

b. Jenis aspal Berdasarkan tempat diperolehnya aspal dibedakan atas :


a). Aspal Alam
b). Aspal Buatan

10
Aspal jenis ini diperoleh dari hasil destilasi atau penyulingan minyak bumi
sehingga sering disebut aspal minyak dan aspal inilah yang umum digunakan yang
berasal dari bahan baku minyak bumi dengan kandungan paraffin yang rendah.
Adapun jenis – jenis aspal minyak adalah sebagai berikut :

a). Aspal Keras / Panas (Asphalt Cement, AC), adalah aspal yang digunakan
dalam keadaan cair dan panas serta penyimpanannya dalam bentuk padat pada
temperatur ruang antara 25°C - 30°C. AC dengan penetrasi rendah dipakai untuk
daerah yang memiliki cuaca panas atau volume lalu lintasnya tinggi, sedangkan
AC dengan penetrasi tinggi dipakai untuk daerah dingin atau untuk volume lalu
lintasnya rendah. Di Indonesia umumnya dipakai penetrasi 60/70 dan 80/100.

b). Aspal Dingin / Cair (Cutback Asphalt), adalah aspal yang digunakan dalam
keadaan cair pada suhu ruang. Aspal ini dibuat dengan mencampur aspal keras /
panas (AC) dengan bahan pencair hasil penyulingan minyak bumi yang berbentuk
cair dalam temperatur ruang seperti minyaktanah, bensin atau solar. Terdiri dari :
 RC (Rapid Curing Cut Back) :
AC + gasoline/premium
 MC (Medium Curing Cut Back) :
AC + kerosene/minyak tanah
 SC (Slow Curing Cut Back) : AC
+ diesel oil/solar

c). Aspal Emulsi (Emultion Asphalt), adalah aspal yang lebih cair dari aspal cair
yaitu campuran aspal, air dan bahan pengemulsi. Memiliki sifat dapat menembus
pori-pori halus dalam batuan yang tidak dapat dilalui aspal cair biasa karena sifat
pelarut yang membawa aspal dalam emulsi lebih mempunyai daya Tarik terhadap
batuan yang lebih baik dibanding aspal cair. Digunakan dalam keadaan dingin dan
panas digunakan campuran dingin atau penyemprotan dingin.
Aspal keras (AC) dengan penetrasi rendah digunakan didaerah bercuaca panas
atau lalu lintas dengan volume tinggi, sedangkan aspal semen penetrasi tinggi

11
digunakan untuk daerah bercuaca dingin atau lalu lintas dengan volume rendah.
Pada penelitian ini akan digunakan aspal cement Penetrasi 60/70. Selain itu aspal
untuk lapis beton harus memenuhi beberapa syarat sebagaimana tercantum pada
tabel 4.

2.4 Gradasi Campuran Beton Aspal


Gradasi agregat merupakan salah satu sifat yang sangat menentukan kinerja/daya
tahan jalan. Setiap jenis perkerasan jalan mempunyai gradasi agregat tertentu yang
dapat dilihat didalam setiap spesifikasi material perkerasan jalan. Gradasi agregat
gabungan untuk campuran beraspal panas ditunjukan pada tabel dibawah ini.
Gradasiagregat gabungan Laston harus beradadidalam batas – batas titik
kontrol(control point) dan harus berada diluardaerah larangan dan sebagai
manayang ditunjukan pada tabel 5

12
Catatan :
1. Untuk HRS-WC dan HRS-Base, harus dijaga kesenjangannya, dimana
paling sedikit 80% dari butiran yang lolos saringan No. 8 harus juga lolos
saringan No. 30 (0,600 mm).
2. Untuk AC, digunakan titik kontrol gradasi agregat, berfungsi sebagai batas
rentang utama yang harus ditempati oleh gradasi-gradasi tersebut. Batas-
batas gradasi ditentukan pada saringan ukuran nominal maksimum,
saringan menengah (2,36 mm) dan saringan terkecil (0,075 mm).

13
2.5 Persyaratan Campuran Beton Aspal
Campuran untuk lapis beton aspal pada dasarnya terdiri dari agregat kasar,
agregat halus, bahan pengisi dan aspal. Masing – masing fraksi agregat terlebih
dahulu harus diperiksa gradasinya dan selanjutnya digabungkan menurut
perbandingan yang menghasilkan agregat campuran yang memenuhi spesifikasi
gradasi. Spesifikasi umum dari campuran beton aspal dapat dilihat pada tabel 6.

14
2.6 Proses Pembuatan Aspal Beton

1. Persiapan Bahan Baku


Bahan Baku Batu Pecah/Agregat. Agregat adalah bahan utama yang digunakan
untuk lapisan permukaan perkerasan jalan atau beton, agregat ini diperoleh dari
hasil penambangan batu-batuan pada sungai-sungai yang ada di Aceh Tamiang
dan daerah lainya, kemudian batu–batuan tersebut diproses melalui mesin
perengkahan Stone Crusher yang menghasilkan beberap jenis agregat sesuai
dengan yang di inginkan. dalam perkerjaan kosntruksi menurut standar SNI
(Satandar Nasional Indonesia) tentang penggunaan agregat yang diproduksi
adalah agregat dengan ukuran 1, 1/2, ¾ inch, dan abu batu pada umumnya, yang
selanjunya disimpan di gudang untuk dijadikan stock dan sebagian di simpan pada
bin-bin penampung bahan baku untuk pembuatan aspal beton pada unit AMP
(Aspal Mixing Plant).

2. Bahan Baku Aspal


Aspal ialah bahan baku yang digunakan untuk mengikat antara agregat yang satu
dengan yang lainya atau juga sebagai katalis agar agregat dapat menjadi satu
padu, kuat, keras dan tahan terhadap perubahan cuaca. Jenis aspal yang digunakan
ialah aspal emulsi yang diperoleh dari hasil penyulingan minyak bumi. diimpor
dari berbagai produsen yang ada di dalam maupun luar negeri

3. Filler.
Filler adalah bahan penambah pada proses pencampuran atara agregat dengan
aspal yang berfungsi untuk menutup pori-pori yang ada pada permukaan aspal
beton yang disebabkan karena kurangnya campuran dari gradasi agregat pada unit
timbangan. Bahan pengisi yang ditambahkan terdiri atas debu batu kapur
(limestone dust), kapur padam (hydrated lime),

15
4. Bin dingin
Bin dingin (coold bin) adalah bak tempat menampung material agregat dari tiap-
tiap fraksi mulai dari agregat halus sampai agregat kasar yang diperlukan dalam
memproduksi campuran aspal panas (hot mix). Bagian pertama dari AMP (Aspal
Mixing Plant) adalah bin dingin, yaitu tempat penyimpanan fraksi agregat kasar,
agregat sedang, agregat halus dan pasir. Bin dingin harus terdiri dari minimum 3
sampai 5 bak penampung (bin). Masing-masing bin berisi agregat dengan gradasi
tertentu. Agregat-agregat tersebut harus terpisah satu sama lain, untuk menjaga
keaslian gradasi dari masing masing bin sesuai dengan rencana campuran kerja
(RCK). Untuk memisahkannya, dapat dipasang pelat baja pemisah antara bin.
Dengan demikian maka loader (alat pengangkut) yang digunakan mengisi
masing-masing bin harus mempunyai bak (bucket) yang lebih kecil dari mulut
pemisah masing-masing bin. Jika pemisah tidak ada maka pengisian masing-
masing bin tidak boleh berlebih yang dapat berakibat tercampurnya agregat

5. Proses Pengeringan Agregat Pada Unit Dryer


Agregat yang diperoleh dari hasil penambangan dan telah diproses di unit stone
crusher yang kemudian disimpan pada bin-bin dingin (Cool bin) yang sesuai
dengan ukuran masing-masing selanjutnya disuplai atau diangkut menuju dryer
dengan menggunakan belkonveyor untuk dikeringkan dengan unit dryer tujuannya
untuk menghilangkan kadar air, kadar air harus seminim mungkin karena kalau
tidak akan berpengaruh pada pencampuran aspal nantinya. Proses pengeringan
pada dryer adalah dengan cara membakar agregat di dalam kilen yang berputar
dengan suhu ±1500 C proses pembakaran dengan menggunakan bahan bakar solar
lama pembakaran ini belangsung selama ± 45 detik dengan kapasitas ± 80
ton/jam.
6. Pengumpul Debu (dust collector).
Alat pengumpul debu (dust collector) harus berfungsi sebagai alat pengontrol
polusi udara di lingkungan lokasi AMP (aspal mixing plant). Gas buang yang
keluar dari sistem pengering ditambah dengan dorongan kipas pengeluar (exhaust
fan) akan dialirkan ke pengumpul debu. Alat pengumpul debu yang tidak

16
berfungsi dengan baik akan menyebabkan terjadinya polusi udara, dan ini terlihat
jelas dari adanya kotoran atau debu di pohon-pohon atau atap rumah di sekitar
lokasi AMP (Aspal Mixing Plant). Pada PT. Bahtera Karang Raya yang digunakan
adalah sistem pengumpul debu jenis basah (wet scrubber dust collector), debu
yang terbawa gas buangan disemprot dengan air, sehingga partikel berat akan
terjatuh ke bawah dan gas yang telah bersih keluar dari cerobong asap. Partikel
berat tersebut kemudian dialirkan ke bak penampung (bak air). Jika pada bak air
penampung terlihat jelaga yang mengambang dengan jumlah yang cukup banyak,
maka hal ini menunjukkan terjadi pembakaran yang tidak sempurna pada
pengering (dryer). Untuk mencegah hal yang tidak diinginkan maka dilakukan
koreksi atau perbaikan pada pengering (dryer).

7. Proses Pemisahan Agregat Pada Hot Screen.


Agregat yang panas yang telah melalui proses pembakaran dari dryer selanjutnnya
di bawa oleh hot elevator menuju ke atas tower untuk di lakukan pemisahan pada
hot screen, peroses pemisahan agregat ini adalah dengan cara gravitasi agregat
dijatuhkan pada ayakan/screen yang dirancang sedikit miring agar dapat
mengayak atau memisahkan agregat sesuai dengan ukurannya masing-masing.
Pada screen dilengkapi alat bantu yaitu vibrator yang berfungsi untuk
menggetarkan ayakan agar terjadi ayakan yang optimal. Agregat yang telah
disaring/dipisahkan berdasarkan ukurannya kemudian masuk pada unit hot bin
guna untuk menampung sementara agregat yang akan masuk pada timbangan.

8. Bin panas (hot binn)


Bin panas (hot bin) dipasang pada AMP (aspal mixing plant) jenis takaran
(batch). Pada AMP (aspal mixing plant) jenis takaran umumnya akan terdapat 4
bin yang dilengkapi dengan pembatas yang rapat dan kuat dan tidak boleh
berlubang serta mempunyai tinggi yang tepat sehingga mampu menampung
agregat panas dalam berbagai ukuran fraksi yang telah dipisah-pisahkan melalui
unit ayakan panas. Pada bagian bawah dari tiap bin panas harus dipasang saluran
pipa untuk membuang agregat yang berlebih dari tiap bin panas yang dapat

17
dioperasikan secara manual atau otomatis. Jika agregat halus masih menyisakan
kadar air (pengering kurang baik) setelah pemanasan, maka agregat yang sangat
halus (debu) akan menempel dan menggumpal pada dinding bin panas dan akan
jatuh setelah cukup berat. Hal tersebut dapat menyebabkan perubahan gradasi
agregat, yaitu penambahan material yang lolos saringan No. 2000.

9. Timbangan
Timbangan adalah alat yang digunakan untuk menakar/menimbang jumlah
masing-masing agregat sesuai dengan komposisi yang telah ditentukan, proses
penimbanga dilakukan dengan sistem komputerisasi/otomatis. sebelum timbangan
digunakan timbangan telebih dahulu dikalibrasi agar hasil timbangan dapat akurat
biasanya timbangan dikalibrasi dengan bobot teringanya 10 kg, ini dikarenakan
berat jenis dari agregat yang terlalu tinggi sehingga timbangan tidak akan akurat/
tidak dapat membaca apabila agregat yang ditimbang di bawah 10 kg.

2.7. Pengaruh Lingkungan terhadap Kinerja Campuran Beraspal


Kinerja struktur perkerasan jalan, yang merupakan suatu struktur yang
tidak terlindung, sangat dipengaruhi oleh kondisi klimatik lokasi dimana jalan
tersebut dibangun. Kondisi klimatik ini memberikan pengaruh jangka panjang
tidak saja pada kinerja struktur perkerasan jalan tetapi juga pada respon struktur
perkerasan tersebut terhadap beban (Ullitdz, 1987). Kondisi klimatik yang sangat
mempengaruhi kinerja struktur perkerasan adalah kelembaban dan temperatur.
Menurut Ullitdz (1987), kelembaban udara akan mempengaruhi kinerja tanah
dasar dan lapis pondasi, sedangkan temperatur akan mempengaruhi kinerja
lapisan yang menggunakan material dengan bahan pengikat aspal atau semen.
Pendapat ini memperkuat hasil studi yang dilakukan oleh Hugo et al (1985) yang
membuktikan bahwa kelembaban dan temperatur sangat mempengaruhi kinerja
perkerasan beraspal. Studi yang dilakukan oleh Glenn et al (1981) di California
juga menunjukkan bahwa pengaruh temperatur dan kelembaban di danau, di
gunung, dan di lembah terhadap penuaan aspal relatif sama, tetapi pengaruh

18
temperatur dan kelembaban terhadap penuaan aspal tersebut sangat jauh berbeda
dengan yang terjadi di gurun pasir.
Pada temperatur tinggi, umur kelelahan suatu perkerasan jalan
menurun drastis sebagai akibat peningkatan regangan tarik yang terjadi.
Sementara itu, kekuatan atau stabilitas lapis beraspal akan menurun bila
temperatur meningkat, karena adanya penurunan modulus kekakuan campuran
beraspal. Penurunan kekuatan ini selanjutnya akan meningkatkan kecenderungan
terjadinya deformasi permanen dan alur pada lapis ini. Selain itu, akibat
temperatur yang tinggi pada struktur perkerasan beraspal akan terjadi pengalihan
tegangan secara berlebihan ke lapisan bawah struktur perkerasan, yang pada
akhirnya akan memberikan kontribusi pada distorsi lapisanlapisan tersebut.
Campuran beraspal merupakan campuran yang peka terhadap
temperatur dan waktu pembebanan. Oleh sebab itu campuran beraspal akan
melunak pada temperatur tinggi dan atau pada waktu mengalami pembebanan
yang relatif lama (Monismith, 1981). Hal ini menunjukkan bahwa kinerja
campuran beraspal sangat dipengaruhi oleh temperatur dan waktu pembebanan.

2.8 RANCANGAN CAMPURAN ASPAL BETON

Metode rancangan campuran Aspal Beton yang digunakan adalah


rancangan campuran aspal panas (hot mix) yaitu suatu campuran yang yang terdiri
dari komponen-komponen agregat yang merupakan komponen terbesar dalam
campuran dan bahan pengikatnya aspal dimana cara pencampurannya melalui
prosespemanasan.
Perencanaan Campuran Aspal Beton yang digunakan adalah berdasarkan metode
Marshall, dengan metode ini kita dapat menentukan jumlah pemakaian aspal yang
tepat sehingga dapat menghasilkan komposisi yang baik antara agregat dan aspal
sesuai dengan persyaratan teknis perkerasan jalan yang ditentukan.
Langkah-langkah dalam Mix Design Aspal Beton :

19
A.Penentuan Komposisi Agregat Dalam Campuran
Dari hasil pemeriksaan gradasi/analisa saringan agregat dibuat grafik yang
didasarkan pada persen lolos untuk masing-masing nomor saringan yang
digunakan. Selanjutnya untuk mendapatkan prosentase masing-masing fraksi
agregat (chipping, pasir dan abu batu) dalam campuran dipakai Metode Grafis
Diagonal, dimana prosedurnya sebagai berikut :
• Diketahui gradasi ideal yang akan digunakan dari persyaratan gradasi yang
ditentukan.
• Digambar empat persegi panjang dengan ukuran (10 x 20) cm.
• Dibuat garis diagonal dari ujung kiri bawah keujung kanan atas.
• Sisi vertikal menyatakan persen lolos saringan dengan skala 0 dibawah dan 100
diatas.
• Dengan melihat spefikasi ideal, tiap-tiap nilai ideal tersebut diletakkan pada
garis diagonal berupa titik.
• Dari tiap titik pada diagonal ditarik garis vertikal untuk menempatkan nomor-
nomor saringan.
• Digambar grafik gradasi dari masing-masing fraksi yang akan dicampur.
• Untuk menentukan prosentase agregat kasar, dilihat dari jarak antara grafik
gradasi kasar terhadap tepi bawah dan jarak grafik sedang terhadap tepi atas yang
harus sama, pada suatu garis lurus.
• Pada garis tersebut, ditarik garis vertikal yang memotong garis diagonal.
Kemudian dari titik potong ini ditarik garis horisontal yang memotong garis tepi,
sehingga didapat prosentase agregat kasar yang diperlukan.
• langkah 8 dan 9 diulangi untuk mendapatkan prosentase agregat halus dan bahan
pengisi. Setelah diperoleh komposisi dari setiap jenis fraksi agregat, dibuat suatu
tabel hasil analisa gabungan agregat, dimana prosentase masing-masing fraksi
yang akan digunakan diperoleh dari hasil perkalian dengan prosentase lolos untuk
masing-masing nomor saringannya. Kemudian dijumlahkan untuk masing-masing
nomor saringan lalu dilihat apakah gradasi tersebut sudah memenuhi spesifikasi
yang diisyaratkan sesuai jenis campuran yang akan dibuat.
Hasil penggabungan agregat diusahakan mendekati “ideal spec”, jika melalui

20
grafik diagonal belum bagus maka digunakan metode coba-coba (Trial and Error)
yaitu menentukan terlebih dahulu prosentase dari masing-masing agregat (tanpa
mengubah persen lolos) kemudian hasil penggabungan agregat diperoleh melalui
perkalian prosentase dengan persen lolos dari agregat.
Selanjutnya hasil perkalian tersebut masing-masing dijumlahkan dan dilihat
apakah hasilnya mendekati nilai “ideal spec”. Selanjutnya dibuat grafik
penggabungan agregat dan grafik spesifikasinya, setelah itu dihitung berat
masing-masing fraksi yaitu prosentase fraksi dikali dengan kapasitas mould.
Berat masing-masing fraksi campuran ini, dibagi-bagi lagi berdasarkan ukuran
saringan sesuai dengan prosentase tertahan agregatnya yang akan digunakan untuk
pembuatan bricket uji.

2.9 Kekuatan Aspal Beton

Berdasarkan bahan yang digunakan dan kebutuhan desain konstruksi jalan aspal
Beton mempunyai beberapa jenis Antara Lain :

1. Asphalt Traeted Base ( ATB ) dengan tebal minimum 5 cm digunakan sebagai


lapis pondasi atas konstruksi jalan dengan lalu lintas berat /Tinggi.

2. Binder Course ( BC ) dengan tebal minimum 4 cm biasanya digunakan sebagai


lapis kedua sebelum wearing course.

3. Wearing Course ( AC ) / Laston dengan tebal penggelaran minimum 4 Cm


digunakan sebagai lapis permukaan jalan dengan lalu lintas berat.

4. Hot Roller Sheet ( HRS ) / Lataston / laston 3 dengan tebal penggelaran


minimum 3 s/d 4 cm digunakan sebagai lapis permukaan konstruksi jalan dengan
lalu lintas sedang.

5. Fine Grade ( FG ) dengan tebal minimum 2,8 cm maks 3 cm bisanya digunakan


untuk jalan perumahan dengan beban rendah.

21
6. Sand Sheet dengan tebal Maximum 2,8 cm biasanya digunakan untuk jalan
perumahan dan perparkiran.

Kelebihan Aspal Beton

1. Lapisan konstruksi Aspal beton tidak peka terhadap air, (kedap air )

2. Dapat dilalui kendaraan setelah pelaksanaan penghamparan .

3. Mempunyai sifat flexible sehingga mempunyai kenyamanan bagi pengendara.

4. Waktu pekerjaan yang relatif sangat cepat sehingga terciptanya efesiensi waktu.

5. Stabilitas yang tinggi sehingga dapat menahan beban lalu lintas tanpa terjadinya
deformasi.

6. Tahan lama terhadap gesekan lalu lintas dan cuaca.

7. Pemeliharaan yang relative mudah dan murah.

8. Ekonomis.

PENGENDALIAN SUHU ASPAL

Sifat Aspal dan Batasan Suhu

Kandungan utama aspal adalah senyawa karbon jenuh dan tak jenuh, alifatik dan
aromatik yang mempunyai atom karbon sampai 150 per molekul. Atom-atom
selain hidrogen dan karbon yang juga menyusun aspal adalah nitrogen, oksigen,
belerang dan beberapa atom lain. Secara kuantitatif, biasanya 80% massa aspal
adalah karbon, 10% hidrogen, 6% belerang, dan sisanya oksigen dan nitrogen,
serta sejumlah renik besi, nikel dan vanadium. Massa molekul aspal bervariasi,
dari beberapa ratus sampai beberapa ribu. Senyawa-senyawa ini sering dikelaskan
atas aspalten (yang massa molekulnya kecil) dan malten (yang massa molekulnya
besar). Biasanya aspal mengandung 5% sampai 25% aspalten. Sebagian besar

22
senyawa di aspal adalah senyawa polar. Akibat kepolaran molekul dalam aspal,
molekul satu dengan lainnya dapat membentuk jejaring atau kluster seperti
polimer dengan massa sampai ratusan ribu.

Adhesi antara aspal dan batu agregatnya juga sangat bergantung dari kepolaran
molekul-molekul dalam aspal. Polimer yang terbentuk dalam aspal adalah polimer
yang termoplastik, yakni melunak ketika dipanaskan dan mengeras kembali
setelah didinginkan.

Sifat penting inilah yang sebaiknya harus dimanfaatkan dalam pengolahan hotmix
untuk jalan. Pada rentang suhu tertentu, aspal dapat bersifat viskoelastik. Artinya
aspal dapat menunjukkan sifat seperti cairan kental dan dapat dengan mudah
berubah bentuk.

Sebagai contoh; pada rentang suhu 85-150 derajat Celcius, umumnya aspal cukup
encer dan di dalam proses pengolahan berperilaku seolah pelumas atau pelincir di
antara butiran kerikil atau agregat dalam campuran aspal panas (hotmix).

Jadi sebenarnya, adonan atau campuran aspal panas dan batu agregat harus diolah
pada rentang suhu ini. Pada suhu tertentu campuran aspal ini harus segera
digelar/dihampar dipermukaan jalan yang hendak dilapisi untuk selanjutnya
dipadatkan dengan jumlah lintasan alat penggilas yang memadai.

Penggilasan untuk pemadatan harus sudah selesai dikerjakan sebelum aspal


mendingin di bawah 85 derajat C atau sesuai jenis aspalnya, penghamparan dan
penggilasan aspal akan sulit dilakukan. Dan jika penggilasan masih diteruskan di
bawah suhu ini, maka sesama batu agregat di dalam campuran aspal sudah mulai
melekat dan tidak mampu lagi bergerak mencari tempat untuk saling mengunci
(interlocking).

Jika terus digilas, maka sesama batu agregat akan saling menindas dan
kemungkinan pecah, dan atau akan terjadi permukaan lapis atas perkerasan aspal
akan kasar berbentuk agregat tidak rata.

23
Indikasi Adanya Oplosan Aspal Akibat kurangnya pengawasan, bagi pelaksana
nakal, ada peluang untuk menghindari risiko anjloknya suhu aspal dan berakibat
sulit penghamparan dan pemadatan, campuran tetap terkesan hitam merata walau
kurang aspal dan sambil mengirit aspal/bitumen; ditengarai telah memicu
terjadinya pengoplosan aspal bitumen. Sebenarnya kadar bitumen ini dapat
terlihat pada laporan kadar aspal ekstraksi sesuai lazimnya standar pengujian
untuk pendukung pembayaran pekerjaan aspal.

Pengaspalan pada saat hujan atau pada temperatur aspal yang rendah di bawah
persyaratan, permukaan aspalnya akan terlihat seperti ini; jika habis hujan lokasi
tersebut tampak lebih lambat kering (tetap basah/lembab) tidak kedap air sehingga
masih banyak menyerap air.

Walaupun lapis perkerasan aspal ini akan tampak lebih tebal (lihat sketsa), namun
dipastikan kerapatan (kepadatannya) tidak dapat memenuhi persyaratan
spesifikasi, lokasi seperti ini tidak dapat dibayar sebelum dibongkar dan
diperbaiki.

Penggilasan di Bawah Suhu

Penggilasan untuk pemadatan dimaksudkan untuk meningkatkan kontak antar-


agregat dengan aspal dan saling mengunci antara agregat (interlocking),
mengoptimumkan lubang-lubang udara dalam bagian perkerasan jalan, dan
memuluskan lapis permukaan jalan (surfacing).

Peningkatan kontak antar-agregat dan aspal akan meningkatkan kestabilan dan


kekuatan lapis perkerasan jalan. Lubang udara (void) dalam lapis perkerasan aspal
harus optimum. Karena kalau terlalu banyak lubang udara akan menyediakan
tempat merembesnya air dan mengurangi kekuatan ikatan. Namun demikian,
kalau tidak ada lubang udara sama sekali lapis perkerasan jalan akan mudah
pecah/retak akibat sukarnya lapis perkerasan aspal memuai disaat cuaca terik
matahari kemudian hari.

24
Air dapat menurunkan usia layanan perkerasan jalan aspal. Akibat air merembes
masuk ke dalam badan jalan, lapis pondasi jalan melemah dan mengakibatkan
permukaan perkerasan aspal juga dapat bergelombang selain itu ikatan antara
agregat pada lapis perkerasan aspal menjadi mudah lepas lepas. Selain niat baik
dan kemampuan penyelenggara jalan, faktor penting menuju pekerjaan jalan aspal
berkualitas, antara lain;

a. Ketepatan perencanaan sesuai kondisi lapangan; perlunya perbaikan kerusakan


perkerasan sebelumnya, lapis pondasi dan drainase, prediksivolume dan beban
lalulintas. Semua negara kecuali Qatar, konstruksi jalannya didesain dengan
batasan muatan sumbu terberat. Di Indonesia jalan umumnya masih didesain
maksimal dengan Muatan Sumbu Terberat (MST) 8,2 ton, kecuali jalan tol MST
10 ton.

b. Kualitas bahan-bahan yang sebenarnya digunakan; karakteristik setiap material


sendiri (pasir, batu split, aspal) dan setelah menjadi campuran.

c. Terpenuhinya persyaratan pelaksanaan di lapangan; hal ini biasanya diawali


apakah terpilih penyedia jasa yang mampu dan berkompeten.

25
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari hasil makalah yang telah dibuat dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1) Untuk membuat aspal beton dibutuhkan beberapa bahan pokok diantaranya
yaitu :
 Agregat kasar
 Agregat halus
 Bahan pengisi (Filler)
 Bahan pengikat (Aspal)
2) Untuk mencapai kualitas asphalt concret yang baik pelaksanaan harus
mengikuti prosedur dan persyaratan (rujukan SNI)

1.2 3.2 Kritik dan Saran


Kritik dan saran sangat saya harapkan dalam makalah ini, segala kekurangan yang
ada dalam makalah ini mungkin karena kelalaian atau ketidaktahuan saya dalam
penyusunannya. Segala hal yang tidak relevan, kekurangan dalam pengetikan atau
bahkan ketidakjelasan dalam makalah ini merupakan proses saya dalam
memperlajari bidang studi ini dan diharapkan saya yang menulis ataupun bagi
pembaca dapat mengambil manfaat dari makalah ini.

26
DAFTAR PUSTAKA

-------------, 1996, Hot Mix Asphalt Materials, Mixture Design and Construction,
Second Edition, NAPA Research and Education Foundation Lanham, Maryland,
USA.

AASHTO, 1993, Guide for Design of Pavement Structures, Published by the


American Association of State Highway and Transportation Officials,
Washington, D.C,

Departemen Pekerjaan Umum, 2007, Rancangan Spesifikasi Umum Bidang Jalan


dan Jembatan Divisi VI Perkerasan Beraspal, Edisi April 2007, Departemen
Pekerjaan Umum, Jakarta

http://prawiramukti.blogspot.co.id/2015/05/proses-pembuatan-aspal-jalan-
asphalt.html

https://id.scribd.com/document/256225745/Rancangan-Campuran-Aspal-Beton

http://rajaaspal.com/aspal/berbagai-macam-jenis-aspal-beton-atau-hotmix/

27

Beri Nilai